Anda di halaman 1dari 2

Kisah ini tentang kali pertama aku akan merasakan dunia yang baru.

Dunia yang
dirindukan banyak orang setelah masa perkuliahan berakhir. Masa itu lebih terkenal dengan
sebutan pre-klinik yang akan beranjak pada dunia klinik. Idaman tiap hati untuk dapat bersegera
mengabdikan diri pada masyarakat. Berseragam putih melayani dan mengobati orang-orang
yang datang dan disebut sebagai pasien. Bukan hanya kami yang menanti, namun orang tua di
rumah tengah tersenyum manis dan ramai bercerita seru tentang anak masing-masing. “Dokter
Muda” cukup menarik perhatian banyak orang yang menyangka kami tlah menjadi dokter yang
seutuhnya. Cukup jelas ini adalah awal yang baru bagiku, menjadi seorang “Dokter Muda”.

Hari itu dengan bangga kami berpakaian rapi, berjas putih yang masih anyar duduk paling
depan mengikuti tiap instruksi yang diberikan, layaknya anak baru di lingkungan yang baru. Surat
pengantar rumahsakit telah disebar dan menunjukkan namaku ada dalam rentetan table yang
menunjukkan akan melaksanakan tugas di rumahsakit daerah kabupaten pare-pare. RSUD Andi
Makassau dengan bagian anak yang amat terkenal akan menjadi rumahku tiga bulan selanjutnya.

Tidak tahu menahu tentang lokasi dan keadaan disana, bermodal nekat bertanya pada
kakak yang senasib mendapat lokasi yang sama, menghilangkan rasa malu untuk meminta
tebengan agar dapat sampai dengan selamat disana. Hingga saat ini tidak akan aku lupakan
kebaikan hati dari kak azizah noor. Kedekatanku dengannya berawal karena kami lahir dari
organisasi yang sama. Dengan murah hati kakak memberikan saya tumpangan agar sampai
dengan selamat ke tempat tujuan. Uniknya kawanku Ishaq pun turut meminta tolong agar bisa
mengambil tempat tumpangan agar bisa sampai ke tujuan. Lagi-lagi kakak berbaik hati ingin
menampung kami.

Hari keberangkatan tiba, aku dan Ishaq menunggu kedatangan kak azizah di mesjid
kampus. Terlihat seperti anak-anak yang terusir, kami membawa barang bawaan seadaanya.
Lebih tepat seperlunya, bagiku satu koper besar, satu tas genggam dan satu dus berisi printer dll
cukup memenuhi kebutuhan hidup di daerah selama tiga bulan. Hampir dua jam kami menanti,
akhirnya yang dinanti tiba. Ternyata kak azizah datang bersama orang tuanya. Jujur dalam lubuk
hati yang paling dalam, kami buang rasa malu kami untuk menumpang di kendaraan kak azizah
agar segera sampai di daerah tujuan. Sepanjang perjalanan kami sangat amat segan terhadap
orang tua kak azizah. Terlebih saat kami mengetahui beliau adalah dokter pembimbing di salah
satu rumahsakit mitra fakultas kami. Ditambah lagi ketika kami mengetahui ibunda kak azizah
adalah sosok pembimbing yang amat disegani. Sepintas aku menyesal ikut menumpang di
kendaraan kak azizah. Lagi-lagi aku dan Ishaq menguatkan niat untuk tetap menikmati perjalanan
yang cukup hening walau sesekali kami ditawari makanan, tentu kami terima. Tertawa sejenak
lalu hening kembali. Tepat menjelang petang kami tiba di asrama para dokter muda dengan
selamat.

Ada suatu tindakan yang tlah kulakukan dan menurut teman-teman adalah kesalahan
terbesar yang kulakukan ketika pertama kali menginjak asrama.

RSUD Andi Makassau

Pare-pare, 15 Januari - 26 Maret 2018