Anda di halaman 1dari 4

RINGKASAN SEMINAR USULAN SKRIPSI dan sebesar 37,18 % dalam kondisi cukup.

Sisanya sebesar 30,4 %


dalam kondisi tidak baik. Sedangkan pada tahun 2017, tercatat 6,39 %
Judul : Pemetaan Sebaran Terumbu Karang dalam kondisi sangat baik, sebesar 23,4 % masih dalam kondisi baik,
Menggunakan Citra Landsat 8 di Perairan sebesar 35,06% dalam kondisi cukup dan sebesar 35,15 % kondisi tidak
Gosong Senggora Kabupaten Kotawaringin Barat baik (Giyanto et al., 2017). Perubahan kondisi terumbu karang tersebut
Provinsi Kalimantan Tengah dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan aktivitas manusia. Oleh
Nama/ NIM : Achmad Badawi / G1F114001 karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui luas dan sebaran
Pembimbing : Dr. Muhammad Syahdan S.Pi, M.Si terumbu karang.
Hamdani S.Pi, M.Si Gosong Senggora di Kabupaten Kotawaringin Barat Provinsi
Hari/ Tanggal: Rabu / 26 September 2018 Kalimantan Tengah merupakan lokasi wisata yang memiliki ekosistem
Waktu : 10.00 WITA s/d selesai terumbu karang dengan luas 100 Ha dan yang diusulkan akan menjadi
Tempat : Ruang Seminar Gedung 2 Lt. 2 FPK ULM Kawasan Konservasi Nasional ialah seluas 6 Ha (Berita Sampit, 2018).
Namun, kondisi terumbu karang di Gosong Senggora pada saat ini
PENDAHULUAN mengalami kerusakan. Kerusakan terumbu karang tersebut disebabkan
Latar Belakang oleh faktor alam dan faktor antropogenik. Faktor alam yaitu terjadinya
perubahan iklim yang mengakibatkan pemutihan karang. Sedangkan
Terumbu Karang merupakan ekosistem perairan tropis yang faktor antropogenik yaitu penangkapan yang berlebih dan merusak,
bermanfaat sangat penting bagi organisme. Seperti sebagai benteng pencemaran yang berasal dari aliran sungai dan pencemaran atau
yang melindungi pantai dari hempasan ombak, sebagai tempat tinggal, kerusakan yang berasal dari laut itu sendiri.
memijah, mencari makan dan tempat berlindung. Selain itu, terumbu Dari uraian diatas, maka diperlukan pemetaan ekosistem
karang bermanfaaat langung kepada manusia seperti tempat mencari terumbu karang dengan menggunakan metode penginderaan jauh (citra
makan, mata pencaharian, bahan obat-obatan dan bahan lainnya. satelit landsat 8). Metode penginderaan jauh merupakan metode yang
Terumbu karang merupakan salah satu potensi sumber daya laut dapat mengetahui sebaran, luasan dan kategori substrat paparan karang.
di Indonesia yang patut diperhitungkan. Oleh karena itu, pemetaan Untuk mengetahui hal tersebut diperlukan sebuah citra. Selanjutnya,
sebaran dan luasan terumbu karang sangatlah dibutuhkan dalam hal hal yang dilakukan adalah melakukan interprestasi pada citra.
pengembangan potensi sumber daya laut dan pesisir. Mengingat Interprestasi citra ialah proses pengkajian citra melalui proses
terumbu karang yang semakin lama semakin memprihatinkan dan indentifikasi dan penilaian mengenai objek yang tampak pada citra.
harusnya menjadi sorotan berbagai pihak. Akan tetapi citra tidak dapat diamati secara langsung, karena
Luas terumbu karang Indonesia saat ini adalah 50.000 km2 atau dipengaruhi oleh serapan dan hamburan pada lapisan permukaan air.
16,5 % dari luasan terumbu karang dunia, yaitu seluas 255.300 km2. Oleh karena itu, diperlukan algoritma Lyzenga (1978) untuk
Berdasarkan hasil penelitian Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI, mengembangkan teknik pengabungan informasi dari beberapa saluran
kondisi terumbu karang pada tahun 2013 hingga tahun 2017 di perairan spektral untuk menghasilkan indeks pemisah kedalam (dept-invariant-
Indonesia mengalami penurunan. Pada tahun 2013, tercatat 5,29 % index) dari material penutup dasar perairan.
dalam kondisi sangat baik, sebesar 27,14 % masih dalam kondisi baik,

1
Rumusan Masalah yang ada di Gosong Senggora Kecamatan Kumai Kabupaten
Kotawaringin Barat Provinsi Kalimantan Barat.
Perairan Gosong Senggora merupakan kawasan fishing ground
dan kawasan yang akan dijadikan kawasan konservasi nasional. Para Ruang Lingkup Penelitian
nelayan dari Teluk Kumai, Kubu dan Teluk Bogam menjadikan tempat
tersebut sebagai tempat peristirahatan sebelum mencari ikan, aktivitas Ruang Lingkup pada penelitian terumbu karang di perairan
labuh jangkar dan penangkapan ikan. Dari aktivitas tersebut Gosong Senggora yaitu (a). Analisis citra landsat 8 tahun 2017 untuk
memberikan pengaruh dan dampak terhadap ekosistem terumbu mengetahui sebaran, luasan dan menentukan klasifikasi kategori
karang. Selain itu, terjadinya pemutihan terumbu karang pada tahun substrat terumbu karang. (b). Data GCP untuk melihat tingkat ke
2015 yang disebabkan meningkatnya suhu air laut (El Nino) dan akurasian hasil analisis citra.
pengarauh sedimentasi yang berasal dari sungai-sungai di sekitarnya.
Akumulasi dari faktor antropogenik dan tropogenik memberikan METODOLOGI PENELITIAN
potensi dampak perubahan luas paparan, sebaran dan kategori substrat
pada ekosistem terumbu karang. Waktu dan Lokasi
Berdasarkan permasalahan di atas maka perlu dilakukan Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – November 2018
pemetaan ekosistem terumbu karang dengan menggunakan citra satelit. di Perairan Gosong Senggora Kabupaten Kotawaringin Barat Provinsi
Sehingga diketahui sebaran dan luasan. Selain itu, dapat diketahui Kalimantan Tengah (Gambar 1). Jangka waktu penelitian ini meliputi
kategori substrat yang terkoreksi dengan Ground Control Point (GCP) tahap persiapan, pengambilan data lapangan, pengolahan data hasil
yang dapat memberikan informasi spasial yang lebih baik. Informasi lapangan serta penyusunan laporan akhir.
spasial berbentuk peta terumbu karang yang dapat digunakan untuk
pengambilan keputusan dalam menentukan kebijakan dan pengelolaan
eksosistem terumbu karang di perairan Gosong Sengora Kabupaten
Kotawaringin Barat Provinsi Kalimantan Tengah.
Berdasarkan urairan diatas, maka penting mengetahui :
1. Seberapa besar luas paparan dan sebaran terumbu karang ?
2. Bagaimana kategori substrat pada terumbu karang di Gosong
Senggora ?
Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari penelitian ini adalah
1. Mengetahui luas paparan dan sebaran teurmbu karang
2. Menentukan klasifikasi kategori substrat berdasarkan analisis
Lyzenga yang terkoreksi dengan Ground Control Point ( GCP).
Kegunaan dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat
sebagai bahan informasi tentang sebaran dan luasan terumbu karang Gambar 1. Peta lokasi penelitian

2
Alat dan Bahan Metode Pengolahan Data
Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat Pra Pengolahan Data Citra Satelit
pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Pada pra pengolahan data citra, hal yang perlu dilakukan ialah
koreksi geometrik dan koreksi radiometrik. Koreksi tersebut bertujuan
Tabel 1. Alat dan bahan pada saat pengambilan data di lapangan,
untuk mengatasi gangguan yang terjadi pada citra.
No Nama Alat dan Bahan Kegunaan
1. Alat selam dasar Untuk pengamatan bawah air a) Koreksi Geometrik
2. Sabak dan Pensil Untuk mencatat data Koreksi geometrik dilakukan untuk mengasosiasikan piksel
3. Kamera bawah air Untuk mengambil gambar pada citra satelit dengan lokasi sebenarnya di permukaan bumi. Lokasi
4. Kapal motor Alat transportasi tersebut dilambangkan dengan titik-titik yang diukur langsung pada
GPS (Global Positioning objek yang mudah dikenali pada citra. Titik koreksi ini dikenal dengan
5. Untuk menentukan titik koordinat
System) sebutan titik kontrol lapangan atau GCP. Setiap GCP akan
6. Peta lokasi penelitian Untuk gambaran lokasi penelitian mengasosiasikan suatu posisi pada citra satelit pada posisi sebenarnya
di permukaan bumi (Guntur et al., 2012).
Tabel 2. Alat dan bahan yang digunakan pada saat pengolahan data
No Nama Alat dan Bahan Kegunaan b) Koreksi Radiometrik
1. Perangkat komputer Untuk mengolah data Koreksi radiometrik adalah proses untuk meniadakan gangguan
2 Microsoft Excel Untuk mengolah data. (noise) yang terjadi akibat pengaruh atmosfer maupun karena pengaruh
3. ENVI 5.0 Untuk menganalisis citra satelit sistematik perekaman citra. Metode yang dilakukan untuk melakukan
Untuk membuat peta luasan koreksi radiometrik adalah metode Dark Object Substraction (DOS).
4. ArcGIS 10.5
terumbu karang DOS mengasumsikan bahwa nilai digital objek tergelap di permukaan
5. Citra Landsat 8 Sebagai sumber data bumi haruslah nol. (Ekadinata et al., 1998 dalam Guntur et al., 2012).

Metode Pengambilan Data Pengolahan Data Citra


Data citra diperoleh dari download di internet dengan alamat Pengolahan data citra mencakup pemotongan (cropping) citra
http// www.glovis.usgs.gov//. Citra yang digunakan merupakan citra yang bertujuan untuk memfokuskan pengolahan citra pada satu daerah
satelit Landsat 8 pada path 120,dan row 62 bulan Juli tahun 2017. saja. Kemudian melakukan masking untuk menghilangkan nilai digital
Sedangkan pengambilan data GCP yaitu dengan cara menandai titik dari daratan dan hanya menampilkan nilai digital dari daerah laut.
koordinat menggunakan GPS dan data gambaran umum kawasan Setelah melakukan masking, dilakukan proses penajaman citra untuk
terumbu karang pengambilannya menggunakan metode manta taw meningkatkan mutu citra yang lebih baik. Setelah itu maka akan
dengan cara snorkeling di daerah pengamatan. dilakukan proses klasifikasi menggunakan pendekatan algoritma
Lyzenga. Pengolahan ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi
objek dibawah permukaan air, karena informasi yang didapatkan dari

3
citra awal masih tercampur dengan informasi lain seperti kedalaman air Uji Akurasi
dan kekeruhan.
Uji ini dilakukan untuk mengetahui tingkat akurasi sebaran
Metode Lyzengga (1978) menurunkan persamaan yang disebut
terumbu karang, dari hasil pengolahan citra dengan kondisi yang ada di
Exponential Attenuation Model, seperti pada persamaan berikut:
lapangan :
𝑘𝑖
𝑌 = (ln 𝑏𝑎𝑛𝑑 1) + ( × ln 𝑏𝑎𝑛𝑑 2) 𝐽𝐾𝐼
𝑘𝑗 𝐾𝐼 = × 100%
𝑘𝑖 𝐽𝑆𝐿
= 𝑎 + √𝑎2 + 1 Keterangan:
𝑘𝑗
(𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑛𝑑 1 − 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑛𝑑 2) KI = Ketepatan Interprestasi
𝑎= JKI = Jumlah Kebenaran Insterprestasi
( 2 × 𝑐𝑜𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑛𝑑 1 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑛𝑑 2)
Ki/kj = Rasio koefesien kanal biru dan kanal hijau. JSL = Jumlah Sampel Lapangan
Pada uji ketelitian ini, digunakan teknik Purposive Sampling.
Analisis Data
Layout Peta
Interpretasi Citra
Layout peta merupakan proses terakhir dari pengolahan data
Interpretasi citra yaitu dengan cara mengindentifikasi dan citra. Citra yang telah diolah ditampilkan dalam bentuk peta. Layout
menilai objek yang tampak pada citra dari hasil perhitungan Lyzenga. peta dilakukan dengan cara menambahkan atribut berupa judul peta,
Objek -objek dapat dibedakan dengan jelas sebagai objek karang, pasir skala peta, arah mata angin, koordinat atau grid, diagram peta, legenda
dan substrat. Pengklasifikasian objek tersebut menggunakan metode peta, tahun pembuatan, dan penerbitan peta.
Maksimum Likehood. Metode Maksimum Likehood merupakan metode
yang mempertimbangkan kemiripan spectral objek maksimum,
sehingga jika suatu pixel memiliki kedekatan spektral dengan spektral DAFTAR PUSTAKA
maksimum, suatu objek yang dominan dimasukan menjadi satu kelas Giyanto, Abrar M, Hadi TA, Budiyanto A, Hafizt M, Salatalohy A,
dan jika nilai spektralnya jauh dari maksimum akan dimasukan ke kelas Iswari M. 2017. Status Terumbu Karang Indonesia 2017.
lain (Guntur et al., 2012). Jakarta: LIPI Press.
Guntur, M.S, Dita Prasetyo, Wawan. 2012. Pemetaan Terumbu Karang
Perhitungan Luas Terumbu Karang Teori, Metode, dan Praktik. Bogor. Ghalia Indonesia.
Rumus yang digunakan untuk menghitung luas terumbu karang Hamdani. 2018. Cakep !!! Gosong Senggora Kumai Bakal Dijadikan
yaitu: Kawasan Wisata Konservasi Nasional. Berita Sampit. co. id (11
Luas (Ha) = (jumlah pixel) x (resolusi spasial per pixel) x 0,0001 Januari 2018)
Keterangan: Lyzenga, D. R. (1978). Passive Remote Sensing Techniques for
Nilai 0,0001 merupakan konversi dari m2 (persegi) ke Ha (hektar). Mapping WaterDepth and Bottom Features. Applied Optics,
379–383.