Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH FITOTERAPI

TERAPI HERBAL PADA OBESITAS


Semester VI

Di Susun Oleh :
1. Cahyani Safitri (F220165078)
2. Dewi Yuliana (F220165079)
3. Emaral Ratna (F220165080)
Kelas III.C Farmasi

PROGAM STUDI STRATA 1 FARMASI


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS
JL. Ganesha No. 1 Purwosari Telp/Faks (0291) 437218 Kudus 59316
Tahun 2018/2019
A. Pendahuluan
Obesitas adalah suatu kondisi dimana perbandingan berat badan dan tinggi badan
melebihi standar yang ditentukan. Obesitas merupakan peningkatan total lemak tubuh,
yaitu apabila ditemukan kelebihan berat badan ˃ 20% pada pria dan 25% pada wanita
karena lemak (Ganong, 2012). Meningkatnya obesitas tak lepas dari gaya hidup, seperti
menurunnya aktivitas fisik. Faktor genetik juga menentukan mekanisme pengaturan
berat badan melalui pengaruh hormon dan neural (Limanan & Prijanti, 2013).
Obesitas telah menjadi masalah epidemi global diseluruh dunia dan cenderung
meningkat tajam. Menurut data dari WHO prevalensi obesitas di negara maju dan
negara berkembang telah meningkat tiga kali lipat. Obesitas dinyatakan sebagai salah
satu dari sepuluh masalah kesehatan utama di dunia dan kelima teratas di negara
berkembang seperti di Indonesia (Pujiati, 2010).
Berdasarkan data dari World health Organisation (WHO) obesitas merupakan risiko
bagi kematian global terkemuka. Sekitar 3,4 juta orang dewasa meninggal setiap tahun
sebagai akibat dari kelebihan berat badan atau obesitas. Pada tahun 2008 lebih dari 1,4
miliar orang dewasa mengalami obesitas. Dari jumlah tersebut 200 juta orang laki –
laki dan hampir 300 juta orang wanita mengalami obesitas (WHO, 2014).
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2010, angka
overweight dan obesitas pada penduduk usia di atas 18 tahun tercatat sebanyak 27,1%.
Prevalensi obesitas pun lebih tinggi di daerah perkotaan dibanding dengan pedesaan.
Berdasarkan jenis kelamin prevalensi obesitas pada perempuan lebih tinggi (32,9%)
dibanding laki-laki (19,7%) (Riskesdas, 2010).
B. Etiologi
Penyebab obesitas sangatlah kompleks. Meskipun gen berperan penting dalam
menentukan asupan makanan dan metabolisme energi, gaya hidup dan faktor
lingkungan dapat berperan dominan pada banyak orang dengan obesitas. Diduga bahwa
sebagian besar obesitas disebabkan oleh karena interaksi antara faktor genetik dan
faktor lingkungan, antara lain aktifitas, gaya hidup, sosial ekonomi dan nutrisional
(Guyton, 2007).
a. Genetik
Obesitas jelas menurun dalam keluarga. Namun peran genetik yang pasti untuk
menimbulkan obesitas masih sulit ditentukan, karena anggota keluarga umumnya
memiliki kebiasaan makan dan pola aktivitas fisik yang sama. Akan tetapi, bukti
terkini menunjukkan bahwa 20-25% kasus obesitas dapat disebabkan faktor
genetik.
Gen dapat berperan dalam obesitas dengan menyebabkan kelainan satu atau lebih
jaras yang mengatur pusat makan danpengeluaran energi serta penyimpanan lemak.
Penyebab monogenik (gen tunggal) dari obesitas adalah mutasi MCR-4, yaitu
penyebab monogenik tersering untuk obesitas yang ditemukan sejauh ini, defisiensi
leptin kongenital, yang diakibatkan mutasi gen, yang sangat jarang dijumpai dan
mutasi reseptor leptin, yang juga jarang ditemui.
Semua bentuk penyebab monogenik tersebut hanya terjadi pada sejumlah kecil
persentase dari seluruh kasus obesitas. Banyak variasi gen sepertinya berinterakasi
dengan faktor lingkungan untuk mempengaruhi jumlah dan distribusi lemak
(Guyton, 2007)
b. Aktivitas fisik
Gaya hidup tidak aktif dapat dikatakan sebagai penyebab utama obesitas. Hal ini
didasari oleh aktivitas fisik dan latihan fisik yang teratur dapat meningkatkan massa
otot dan mengurangi massa lemak tubuh, sedangkan aktivitas fisik yang tidak
adekuat dapat menyebabkan pengurangan massa otot dan peningkatan adipositas.
Oleh karena itu pada orang obesitas, peningkatan aktivitas fisik dipercaya dapat
meningkatkan pengeluaran energi melebihi asupan makanan, yang berimbas
penurunan berat badan (Guyton, 2007).
Tingkat pengeluaran energi tubuh sangat peka terhadap pengendalian berat tubuh.
Pengeluaran energi tergantung dari dua faktor:
1) tingkat aktivitas dan olahraga secara umum
2) angka metabolisme basal atau tingkat energi yang dibutuhkan untuk
mempertahankan fungsi minimal tubuh.
Dari kedua faktor tersebut metabolisme basal memiliki tanggung jawab duapertiga
dari pengeluaran energi orang normal. Meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi
sepertiga pengeluaran energi seseorang dengan berat normal, tapi bagi orang yang
memiliki kelebihan berat badan aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting.
Pada saat berolahraga kalori terbakar, makin banyak berolahraga maka semakin
banyak kalori yang hilang. Kalori secara tidak langsung mempengaruhi sistem
metabolisme basal. Orang yang duduk bekerja seharian akan mengalami penurunn
metabolisme basal tubuhnya. Kekurangan aktifitas gerak akan menyebabkan suatu
siklus yang hebat, obesitas membuat kegiatan olahraga menjadi sangat sulit dan
kurang dapat dinikmati dan kurangnya olahraga secara tidak langsung akan
mempengaruhi turunnya metabolisme basal tubuh orang tersebut. Jadi olahraga
sangat penting dalam penurunan berat badan tidak saja karena dapat membakar
kalori, melainkan juga karena dapat membantu mengatur berfungsinya metabolisme
normal (Guyton, 2007).
c. Perilaku makan
Faktor lain penyebab obesitas adalah perilaku makan yang tidak baik. Perilaku
makan yang tidak baik disebabkan oleh beberapa sebab, diantaranya adalah karena
lingkungan dan sosial. Hal ini terbukti dengan meningkatnya prevalensi obesitas di
negara maju. Sebab lain yang menyebabkan perilaku makan tidak baik adalah
psikologis, dimana perilaku makan agaknya dijadikan sebagai sarana penyaluran
stress. Perilaku makan yang tidak baik pada masa kanak-kanak sehingga terjadi
kelebihan nutrisi juga memiliki kontribusi dalam obesitas, hal ini didasarkan karena
kecepatan pembentukan sel-sel lemak yang baru terutama meningkat pada tahun-
tahun pertama kehidupan, dan makin besar kecepatan penyimpanan lemak, makin
besar pula jumlah sel lemak. Oleh karena itu, obesitas pada kanak-kanak cenderung
mengakibatkan obesitas pada dewasanya nanti (Guyton, 2007).
d. Neurogenik
Telah dibuktikan bahwa lesi di nukleus ventromedial hipotalamus dapat
menyebabkan seekor binatang makan secara berlebihan dan menjadi obesitas.
Orang dengan tumor hipofisis yang menginvasi hipotalamus seringkali mengalami
obesitas yang progresif. Hal ini memperlihatkan bahwa, obesitas pada manusia juga
dapat timbul akibat kerusakan pada hipotalamus. Dua bagian hipotalamus yang
mempengaruhi penyerapan makan yaitu hipotalamus lateral (HL) yang
menggerakkan nafsu makan (awal atau pusat makan) dan hipotalamus ventromedial
(HVM) yang bertugas menintangi nafsu makan (pemberhentian atau pusat
kenyang). Dan hasil penelitian didapatkan bahwa bila HL rusak/hancur maka
individu menolak untuk makan atau minum, dan akan mati kecuali bila dipaksa
diberi makan dan minum (diberi infus). Sedangkan bila kerusakan terjadi pada
bagian HVM, maka seseorang akan menjadi rakus dan kegemukan. Dibuktikan
bahwa lesi pada hipotalamus bagian ventromedial dapat menyebabkan seekor
binatang makan secara berlebihan dan obesitas, serta terjadi perubahan yang nyata
pada neurotransmiter di hipotalamus berupa peningkatan oreksigenik seperti NPY
dan penurunan pembentukan zat anoreksigenik seperti leptin dan α-MSH pada
hewan obesitas yang dibatasi makannya (Guyton, 2007) .
e. Hormonal
Dari segi hormonal terdapat leptin, insulin, kortisol, dan peptida usus. Leptin adalah
sitokin yang menyerupai polipeptida yang dihasilkan oleh adiposit yang bekerja
melalui aktivasi reseptor hipotalamus. Injeksi leptin akan mengakibatkan penurunan
jumlah makanan yang dikonsumsi. Insulin adalah anabolik hormon, insulin
diketahui berhubungan langsung dalam penyimpanan dan penggunaan energi pada
sel adiposa. Kortisol adalah glukokortikoid yang bekerja dalam mobilisasi asam
lemak yang tersimpan pada trigliserida, hepatic glukoneogenesis, dan proteolisis
(Wilborn et al, 2005).
f. Dampak penyakit lain
Faktor terakhir penyebab obesitas adalah karena dampak/sindroma dari penyakit
lain. Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan obesitas adalah hypogonadism,
Cushing syndrome, hypothyroidism, insulinoma, craniophryngioma dan gangguan
lain pada hipotalamus. Beberapa anggapan menyatakan bahwa berat badan
seseorang diregulasi baik oleh endokrin dan komponenen neural. Berdasarkan
anggapan itu maka sedikit saja kekacauan pada regulasi ini akan mempunyai efek
pada berat badan (Flier et al, 2005).
C. Tanda dan Gejala
Obesitas dapat terjadi pada setiap umur dan gambaran klinis obesitas dapat bervariasi
dari yang ringan sampai dengan yang berat sekali. Menurut Soedibyo (1986), gejala
klinis umum yang menderita obesitas adalah sebagai berikut :
1. Pertumbuhan berjalan dengan cepat atau pesat disertai adanya ketidakseimbangan
antara peningkatan berat badan yang berlebihan dibandingkan dengan tinggi
badannya.
2. Jaringan lemak bawah kulit menebal sehingga tebal lipatan kulit lebih daripada
yang normal dan kulit nampak lebih kencang.
3. Kepala nampak relatif lebih kecil dibandingkan dengan tubuhnya atau dibandingkan
dengan dadanya (pada bayi).
4. Bentuk pipi lebih tembem, hidung dan mulut tampak relatif lebih kecil, mungkin
disertai dengan bentuk dagunya yang berganda (dagu ganda).
5. Pada dada terjadi pembesaran payudara yang dapat meresahkan bila terjadi pada
anak laki - laki.
6. Perut membesar menyerupai bandul lonceng, dan kadang disertai garis – garis putih
atau ungu (striae).
7. Kelamin luar pada anak wanita tidak jelas ada kelainan, akan tetapi pada anak laki -
laki tampak relatif kecil.
8. Pubertas pada anak laki - laki terjadi lebih awal dan akibatnya pertumbuhan
kerangka lebih cepat berakhir sehingga tingginya pada masa dewasa relatif lebih
pendek.
9. Lingkar lengan atas dan paha lebih besar dari normal, tangan relatif lebih kecil dari
jari - jari bentuknya meruncing.
10. Dapat terjadi gangguan psikologis berupa : gangguan emosi, sukar bergaul, senang
menyendiri dan sebagainya.
11. Pada kegemukan yang berat mungkin terjadi gangguan jantung dan paru yang
disebut Sindroma Pickwickian dengan gejala sesak napas, sianosis, pembesaran
jantung dan kadang - kadang penurunan kesadaran.
D. Pembahasan Jurnal
E. Contoh Produk Obat Herbal

Nomer izin BPOM : BPOM TI124347171.


Komposisi: Toi-toi bunga, Mawar 5%, Melati 5%, Bunga jeruk mekar (neroli) 5 %,
Hawthorn 10%, Buah Mulberry 20%, Daun Lotus 25%, Cassia seed 30%.
1. Hawthorn Berry memiliki sifat anti radikal bebas , sehingga mampu “menangkap”
radikal bebas dalam dinding pembuluh darah untuk mengurangi deposit kolesterol.
Hawthorn Berry adalah stabilizer tekanan terbaik, meningkatkan ketika rendah dan
menurunkan ketika itu terlalu tinggi, jadi merupakan efek menguntungkan untuk
tekanan darah.
2. Cassia seed untuk mengobati masalah-masalah yang berkaitan dengan hati, ginjal,
ususSlimming Capsule dan penglihatan. Hal ini juga digunakan untuk menurunkan
berat badan.
3. Daun lotus atau daun teratai sering dipakai dalam pengobatan tradisional Cina.
Berdasarkan konsep pengobatan tradisionalCina, daun teratai dikaitkan dengan Hati
dan meridian Limpa. Fungsi utama dari daun teratai adalah untuk menghentikan
pendarahan dan memperkuat darah.
4. Mulberry memiliki kandungan vitamin c yang tinggi sehingga mampu menjaga
kulit tetap kencang. Kandungan air yang tinggi yang terdapat dalam mulberry relatif
rendah kalori.
5. Jeruk mekar memiliki khasiat untuk menenangkan pada sistem saraf serta
meredakan ketegangan dan kecemasan, dan mampu meningkatkan sirkulasi.
6. Toi-toi bunga adalah bunga teh kecantikan yang bermanfaat untuk melembabkan
kulit dan juga dapat mengurangi lemak di perut.
7. Melati mampu menghilangkan dan membersihkan racun dalam tubuh serta dapat
menurunkan berat badan. Dan membantu menyembuhkan sesak nafas, sakit kepala,
demam.
8. Mawar bermanfaat untuk mengurangi stres, mempercantik kulit, menjaga
kesegaran tubuh serta menjaga daya tahan tubuh.
Khasiat Slimming Capsule :
1. Kaya unsur pembuang lemak, mampu secara cepat menghilangkan lemak berlebih
di dalam tubuh dan dibuang keluar.
2. Menambah kemampuan kerja usus, membersihkan usus, toksin dan sampah,
mengeluarkan lemak yang diserap usus serta meregulasi berbagai fungsi organ
tubuh.
3. Mengontrol berat badan, membuang lemak berlebih, mempertahankan bentuk tubuh
yang indah.
4. Menjaga proporsi tubuh ideal.
5. Membuang lemak berlebih di bagian perut, pinggang dan lengan.
6. Meningkatkan metabolisme energi sel, mengurangi siklus metabolisme sel lemak,
membantu menghilangkan racun berbahaya pada sel.
7. Menghambat penyerapan lemak dari makanan pada usus, pada dasarnya mengontrol
rebound, kulit tidak keriput setelah penurunan berat badan.
8. Mempercepat penggunaan sel lemak untuk mempercepat menghasilkan energi
mitokondria, mempercepat pembakaran lemak.
9. Esensi dari bahan alami, dalam masuk ke sel tubuh manusia melalui selaput sel ke
dalam sel, mempercepat penghancuran trigliserida dan kolesterol.
Keunggulan Obat Alami Obesitas Slimming Capsule :
1. Tidak mengeringkan rahim (wanita), tidak menyebabkan ketergantungan (yo-yo
effect), dapat di hentikan penggunaannya sewaktu-waktu.
2. Tidak Diare, Mulas, Gemetaran, Sakit Kepala, dsb. Aman bagi penderita maag.
3. Menurunkan berat badan secara efektif, aman dikonsumsi jangka panjang bagi
wanita maupun pria dan tidak menimbulkan efek samping berbahaya bagi
kesehatan tubuh.
Anjuran :
1. Perbanyak minum air putih.
2. Hindari makanan dan minuman yang mengandung kafein seperti: kopi, teh, coklat,
dll.
3. Ibu hamil dan menyusui DILARANG minum Green World Slimming capsule
4. Bagi pengidap penyakit akut atau masih dibawah pengobatan dokter. Silahkan
konsultasi dulu ke dokter.
5. Penurunan Berat Badan: 4-8 kg/bulan tergantung berat badan awal, keteraturan
minum & pola makan dan metabolisme tubuh masing -masing.
6. Meski anda diet, anda harus tetap makan teratur.
Cara pemakaian :
Minum 1-2 kapsul setelah makan pagi. Mulai minum 1 kapsul terlebih dahulu, apabila
tubuh telah terbiasa bisa minum sekali 2 kapsul. Tidak boleh minum lebih dari 2 kapsul
sehari, dan hanya diminum di pagi hari setelah sarapan. Maksimal minum jam 11 pagi
dan perbanyak minum air putih.
PHARMACY, Vol.14 No. 02 Desember 2017 p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X

AKTIVITAS ANTIOBESITAS EKSTRAK DAUN KATUK (Sauropus


androgynus L.Merr) PADA MODEL MENCIT OBESITAS

ANTIOBESITY ACTIVITY OF KATUK LEAF EXTRACT (Sauropus


androgynus L.Merr) IN MICE MODELS OF OBESITY

Patonah, Elis Susilawati, Ahmad Riduan

Laboratorium Farmakologi, Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Jl.


Soekarno Hatta No. 754 Cibiru, Bandung Email: patonah@stfb.ac.id
(Patonah); elis.susilawati@stfb.ac.id (Elis Susilawati);
arydhwan@gmail.com (Ahmad Riduan)

ABSTRAK

Obesitas merupakan suatu kondisi terjadinya akumulasi lemak yang berlebih dalam
tubuh. Obesitas merupakan faktor resiko hipertensi, diabetes mellitus, gangguan
jantung, dan penyakit pembuluh darah lainnya. Upaya menurunkan obesitas dapat
menurunkan resiko penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
aktifitas antiobesitas ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus L.Merr) pada model
mencit swiss Webster obesitas. Sebanyak 30 ekor mencit dikelompokkan secara acak
menjadi 6 kelompok yaitu kelompok normal (menerima pembawa obat), induksi
(menerima pembawa obat), pembanding (menerima orlistat 15,6 mg/k), dan 3 kelompok
menerima ekstrak daun katuk dosis 100, 200, 400 mg/kg. Semua kelompok (kecuali
kelompok normal) diinduksi obesitas dengan fruktosa dan makanan tinggi lemak selama
21 hari. Parameter yang diukur adalah bobot badan, indeks makanan, indeks feses,
indeks organ, dan indeks lemak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan dalam penurunan bobot badan antara kelompok hewan yang
menerima ekstrak daun katuk terhadap kelompok induksi (p<0,05). Disimpulkan bahwa
ekstrak daun katuk mempunyai aktivitas antiobesitas, dan ekstrak terbaik dalam
menurunkan bobot badan adalah ekstrak daun katuk 400 mg/kg.

Kata kunci: antiobesitas, daun katuk, fruktosa, makanan tinggi lemak, Sauropus
androgynus L.Merr.

ABSTRACT

Obesity is a condition an over-accumulating of lipids in the body. The weight over than
20% from normal weight is called obese. The main cause of obesity is the unbalance
intakes and outputs of lipids in the body. Obesity is a risk factor for hypertension,
diabetes, heart failure and other vascular diseases. The purpose of this study was to
determine the activity of katuk leaves extracts (Sauropus androgynus L.Merr) as
antiobesity on Swiss Webster mice models of obesity. A total of 30 mice were randomly

137
PHARMACY, Vol.14 No. 02 Desember 2017 p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X

divided into 6 groups and 5 mice contains each group, normal, induction, the comparator
(orlistat 15.6 mg/kg), katuk leaves extract 100, 200, and 400 mg/kg. Parameters
measured were body weight, food index, feces index, organ index, and fat index. Results
showed that there were significant differences in weight loss parameters between
treatment groups were given the katuk leaves extract compare to the control group
(p<0.05). Based on the results, it can be concluded that the katuk leaves extract has
antiobesity activity and the best extract as antiobesity was katuk leaves extract dose of
400 mg/kg.

Key words: antiobesity katuk leaves, fructose, high fat diet, Sauropus androgynus
L.Merr.

138
PHARMACY, Vol.14 No. 02 Desember 2017 p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X

Pendahuluan 18,1%; dari 14,8% menjadi 32,9% untuk


Obesitas didefinisikan sebagai tahun 2007-2013 (Riskesdas, 2013).
keadaan dengan akumulasi lemak yang Overweight dan obesitas yang
tidak normal atau berlebih di jaringan dibiarkan, memiliki dampak kesehatan
adiposa sehingga dapat mengganggu yang cukup serius. Resiko menderita
Kesehatan (Soegondo, 2006). penyakit degeneratif akan meningkat
Peningkatan jumlah lemak tersebut secara progresif seiring dengan
disebabkan oleh peningkatan jumlah sel peningkatan IMT. IMT yang meningkat
lemak, penambahan isi lemak pada merupakan faktor resiko utama penyakit-
masing-masing sel lemak, atau gabungan penyakit kronis seperti kardiovaskular
keduanya (Rahmatullah, 2000). (penyakit jantung dan stroke), diabetes
Kelebihan bobot badan atau Overweight mellitus (yang saat ini sudah menjadi
didefinisikan sebagai Indeks Masa Tubuh epidemi global), gangguan otot dan
(IMT) yang lebih besar daripada 25 tulang (paling sering adalah
kg/m2, dimana BMI > 30 kg/m³ disebut osteoarthritis), dan beberapa penyakit
sebagai obesitas (Dipiro dkk., 2008). keganasan (Sunyer Deu dkk., 2016).

Meningkatnya prevalensi Berdasarkan uraian di atas, perlu


obesitas merupakan masalah kesehatan dilakukan upaya untuk menurunkan
utama di seluruh dunia. Sekitar 2,8 juta prevalensi obesitas untuk mencegah
orang dewasa meninggal setiap tahun terjadinya resiko penyakit degeneratif.
terkait dengan kelebihan bobot badan Salah satu obat yang telah digunakan
dan obesitas. Secara keseluruhan lebih dan diresepkan dokter sebagai
dari 10% dari populasi orang dewasa di antiobesitas adalah orlistat. Orlistat
dunia menderita obesitas, dan hampir bekerja dengan cara menghambat enzim
300 juta adalah wanita (WHO, 2013).Di lipase di saluran pencernaan sehingga
Indonesia, angka obesitas terus absorpsi lemak yang berasal dari
meningkat. Pada laki-laki dewasa terjadi hidrolisis trigliserida dihambat. Lipase
peningkatan dari 13,9% pada tahun 2007 adalah enzim yang berperan sebagai
menjadi 19,7% pada tahun 2013. katalis reaksi hidrolisis trigliserida
Sedangkan pada wanita dewasa terjadi menjadi asam-asam lemak bebas dan
kenaikan yang sangat ekstrim mencapai

139
PHARMACY, Vol.14 No. 02 Desember 2017 p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X

gliserol yang akan diabsorpsi oleh tubuh, penelitian menyebutkan bahwa daun
sehingga terjadi obesitas. Penghambatan katuk mengandung saponin dan tanin
hidrolisis trigliserida melalui inhibisi yang memiliki efek sebagai pelangsing
enzim lipase ini dapat menurunkan dan atau anti obesitas. Jus daun katuk
mencegah prevalensi obesitas. Oleh diyakini cukup efektif untuk menurunkan
karena itu, obat-obat yang dapat bobot badan, obat tekanan darah tinggi,
menghambat enzim lipase dalam hiperlipidemia dan konstipasi (Bunawan
pencernaan sangat bermanfaat sebagai dkk., 2015).
antiobesitas (Han dkk., 2005;, Sharma Daun katuk banyak mengandung
dkk., 2005). flavonoid telah dilaporkan memiliki efek
Penggunaan orlistat dalam antioksidan (Andarwulan dkk,, 2010,
jangka waktu tertentu dapat Arista, 2013), meningkatkan sistem imun
menurunkan bobot badan. Namun atau imunostimulan (4). Aktivitas
penggunaan orlistat masih terbatas antioksidan dan imunostimulan daun
karena selain harganya yang relatif mahal katuk sangat berkaitan sebagai
juga beberapa efek sampingnya terhadap antiobesitas karena keadaan obesitas
saluran percernaan, fungsi ginjal dan sering disertai dengan oksidasi stress dan
liver. Sehingga banyak masyarakat yang rentan mengalami berbagai penyakit
lebih memilih herbal untuk menjaga degeneratif (Fernández-Sánchez dkk.,
kesehatannya. 2011).

Salah satu upaya pencegahan Studi pada kelinci yang


obesitas dapat dilakukan dengan menerima suplementasi daun katuk
memanfaatkan bahan alam di Indonesia dalam pakannya mengalami penurunan
antara lain daun katuk Sauropus kadar glukosa darah dan kolesterol total.
androgynus L.Merr. Daun katuk Kandungan aktif fitosterol dan alkaloid
(Sauropus androgynus (L.) Merr) daun katuk diduga berperan dalam
merupakan jenis tanaman yang sudah aktivitas farmakologinya (Akbar dkk.,
banyak dimanfaatkan oleh masyarakat 2013). Hasil penelitian pada ayam
Indonesia untuk terapi atau pengobatan menunjukkan bahwa pemberian daun
berbagai macam penyakit. Bagian katuk secara drastis menurunkan (30-
tanaman katuk yang digunakan berupa 50%) lemak perut, dan juga menurunkan
daun yang masih muda. Akhir akhir ini penimbunan lemak di berbagai tempat

140
PHARMACY, Vol.14 No. 02 Desember 2017 p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X

seperti paha, leher, usus, daging, telur retroperitoneal, perirenal dan


dan lain-lain (Santoso, 2014). epididimal.
Daun katuk kaya akan saponin
dan tannin (Agrawal dkk., 2014), diduga Metode Penelitian
sebagai suatu senyawa yang berperan Ekstraksi Simplisia
menurunkan bobot badan dan lemak Daun katuk (Sauropus
tubuh. Diketahui tannin secara umum androgynus (L.) Merr) diperoleh dari
mengganggu berbagai Aspekdalam perkebunan Manoko Lembang, Bandung
proses pencernaan, sementara saponin dan determinasi tanaman dilakukan di
meningkatkan permeabilitas sel mukosa Laboratorium Taksonomi Tumbuhan
usus halus, yang menyebabkan Jurusan Biologi FMIPA UNPAD
penghambatan transpor aktif zat gizi dan (Universitas Padjajaran) no identifikasi
juga kesempatan pengambilan zat gizi 104/HB/01/2016. Daun katuk yang telah
oleh saluran pencernaan menjadi dikeringkan (di bawah sinar matahari
terhambat. Selain itu, tannin dan selama 3 hari) diekstraksi dengan
saponin cenderung menurunkan nafsu metode maserasi menggunakan etanol
makan yang juga memberikan kontribusi 96% pada suhu ruangan selama 3x24
kepada penurunan bobot badan. jam. Setiap 24 jam disaring, kemudian
Banyaknya senyawa aktif yang pelarut diganti dengan yang baru.
terkandung dalam Daun katuk Ekstrak yang diperoleh, dicampurkan
meningkatkan potensinya sebagai dan dipekatkan dengan menggunakan
alternatif terapi berbagai penyakit alat Rotary evaporator.
khususnya obesitas. Penelitian ini Standarisasi Ekstrak
bertujuan untuk Mengetahui aktivitas Karakterisasi ekstrak meliputi uji
antiobesitas ekstrak Daun katuk parameter spesifik (kadar sari larut air
(Sauropus androgynus (L.) Merr) pada dan kadar sari larut etanol), dan
model mencit obesitas yang diinduksi parameter non spesifik (kadar abu total
dengan makanan tinggi fruktosa dan dan kadar abu tidak larut asam) menurut
lemak. Parameter yang diukur adalah metode Materia Medika Indonesia
bobot badan, indeks organ, indeks feses, (Farmakope Herbal Indonesia, 2013).
indeks makanan, dan Bobotlemak

141
PHARMACY, Vol.14 No. 02 Desember 2017 p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X

Penapisan Fitokimia Pembuatan Makanan Penginduksi


Obesitas
Penapisan fitokimia meliputi
Pembuatan penginduksi yaitu:
pemeriksaan terhadap golongan fenol,
1. Larutan fruktosa 66%. Fruktosa
alkaloid, flavanoid, saponin, tannin,
sebanyak 66 gram dilarutkan dalam
kuinon, steroid, dan triterpenoid
100 mL aquadest hingga homogen.
menggunakan metode Materia Medika
Indonesia (Ditjen POM Depkes RI, 2000). 2. Komposisi makanan tinggi lemak

Pembuatan Sediaan Uji dicantumkan dalam Tabel 2. Lemak


sapi dipanaskan hingga mencair
Ekstrak etanol 96% daun katuk
kemudian dicampurkan dengan
(Sauropus Androgynus L. Merr)
semua tepung (Tabel 2) diuleni
disuspensikan dalam CMC 0,5%. Dosis
hingga menjadi adonan yang merata
ekstrak yang digunakan adalah 100, 200,
kemudian dibentuk memanjang dan
dan 400 mg/kg.
dikeringkan di bawah lampu pijar 40
Pembuatan Makanan untuk Kelompok
Normal watt selama 3 hari. Makanan yang

Komposisi makanan normal (%) telah dikeringkan disimpan dalam

yang digunakan, ditunjukkan pada Tabel wadah kedap udara.


1.

Tabel 1. Komposisi makanan rendah lemak (normal)


No Bahan Berat (%)
1. Tepung jagung 25
2. Tepung ikan 16
3. Tepung kacang hijau 14
4. Tepung terigu 41
5. Minyak sayur 4
Total 100

Tabel 2. Komposisi makanan tinggi lemak


No Bahan Berat (%)
1. Tepung jagung 25
2. Tepung ikan 16
3. Tepung kacang hijau 14
4. Tepung terigu 13
5. Lemak Sapi 32
Total 100

142
PHARMACY, Vol.14 No. 02 Desember 2017 p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X

Penyiapan Hewan Uji orlistat (Xenical Roche) 15,6 mg/kg.


Hewan yang digunakan dalam Pengobatan dilakukan selama 14 hari.
penelitian ini adalah mencit galur Swiss Bobot makanan dan sisa makanan
Webster. Penelitian ini telah mendapat ditimbang setiap hari, bobot harian
persetujuan Komisi Etik Penelitian mencit ditimbang 3 kali seminggu, dan
Kesehatan Fakultas Kedokteran UNPAD bobot feses ditimbang 2 kali seminggu.
no 524/UN6.C1.3.2/KEPK/PN/2016. Hari terakhir Perlakuan, hewan
Sebelum pengujian, Mencit dalam dikorbankan dengan menggunakan
penelitian ini diadaptasi selama 7 hari anestesi eter dan dibedah bagian
dalam kandang yang baik untuk perutnya menggunakan gunting bedah
menyesuaikan dengan lingkungan dan dan diisolasi organ hati, limfa, ginjal dan
diberi makan dengan pakan normal dan testis untuk analisis indeks organ. Lemak
minum yang cukup serta siklus terang yang menempel pada bagian
gelap 12 jam. retroperitoneal, epididimal dan perirenal
Pengujian Efek Antiobesitas dipisahkan secara hati-hati untuk analisis
Sebanyak 30 ekor mencit galur indeks lemak.
Swiss Webster dikelompokkan menjadi 6 Analisis Statistik
kelompok terdiri dari masing-masing 5 Parameter yang diukur pada
ekor mencit. Semua kelompok (kecuali penelitian ini adalah bobot badan, bobot
kelompok I diberi pakan normal) feses, bobot organ, bobot lemak pada
diinduksi fruktosa 66% dalam air minum bagian retroperitoneal, epididimal dan
dan pakan tinggi lemak selama 21 hari. perirenal ditampilkan dalam bentuk
Setelah pemberian induksi yang indeks (dibandingkan dengan bobot
bertujuan agar mencit mengalami badannya). Sedangkan bobot sisa
obesitas dengan bobot >20% dari bobot makanan dibandingkan dengan bobot
awal (ditampilkan pada Tabel 4 sebagai makanan yang diberikan di awal. Data
data t0). Kemudian dilakukan pemberian hasil penelitian dianalisis secara statistik
obat uji yaitu ekstrak etanol daun katuk menggunakan SPSS dengan signifikansi
dosis 100, 200, dan 400 mg/kg dan p<0,05.

143
PHARMACY, Vol.14 No. 02 Desember 2017 p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X

Tabel 3. Kelompok perlakuan pada mencit


Kelompok Induksi (21 hari) Obat uji (14 hari)
Kelompok 1 Pakan normal Suspensi CMC-Na 0,5%
Kelompok 2 Menerima Induksi (Fruktosa dan Suspensi CMC-Na 0,5%
Pakan Tinggi Lemak)
Kelompok 3 Menerima Induksi (Fruktosa dan Orlistat 15,6 mg/kg
Pakan Tinggi Lemak)
Kelompok 4 Menerima Induksi (Fruktosa dan ekstrak daun katuk dosis 100 mg/kg
Pakan Tinggi Lemak)
Kelompok 5 Menerima Induksi (Fruktosa dan ekstrak daun katuk dosis 200 mg/kg
Pakan Tinggi Lemak)
Kelompok 6 Menerima Induksi (Fruktosa dan ekstrak daun katuk dosis 400 mg/kg
Pakan Tinggi Lemak)

Hasil dan Pembahasan

Pemberian induksi makanan berkaitan erat dengan peningkatan kadar


tinggi lemak dan fruktosa bertujuan trigliserida (Waspadji, 2003). Pemberian
untuk mendapatkan model mencit pakan tinggi lemak, akan menyebabkan
obesitas. Kelompok uji yang diinduksi akumulasi lemak di bawah kulit dan
fruktosa dan makanan tinggi lemak berkontribusi pada peningkatan berat
mengalami peningkatan bobot badan badan mencit. Konsumsi fruktosa
yang signifikan selama fase induksi 21 berlebih dapat mengakibatkan resistensi
hari (data t0 pada Tabel 4). Hasil insulin, gangguan toleransi glukosa,
penelitian ini sejalan dengan penelitian hiperinsulinemia, hypertriacyl-
sebelumnya yang melaporkan bahwa glycerolemia, dan hipertensi pada model
pemberian fruktosa dapat meningkatkan hewan (Elliott dkk., 2002).
bobot badan. Telah diketahui bahwa Selanjutnya pengujian ekstrak
fruktosa adalah salah satu jenis daun katuk (Sauropus androgynus
karbohidrat merupakan bahan dasar L.Merr) dilakukan pada kelompok hewan
pembentukan trigliserida sehingga obesitas (kelompok 3-6) untuk
kelebihan asupan karbohidrat akan mengetahui aktivitas daun katuk dalam
disimpan dalam bentuk lemak di bawah menurunkan bobot badan. Hasil analisis
kulit. Bila asupan karbohidrat yang bobot badan menunjukkan bahwa
berlebihan ini berlangsung lama, pemberian ekstrak berpengaruh
mengakibatkan terjadinya obesitas yang terhadap bobot badan hewan uji.
Berdasarkan hasil uji statistik

144
PHARMACY, Vol.14 No. 02 Desember 2017 p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X

menunjukkan bahwa terdapat badan sebanding dengan kelompok


perbedaan yang signifikan bobot badan pembanding (orlistat). Berdasarkan uji
pada kelompok induksi (kelompok 3) statistika Duncan, ekstrak daun katuk
dibandingkan dengan kelompok normal dosis 400 mg/kg memiliki aktivitas
dan kelompok hewan yang menerima penurunan bobot badan mencit lebih
obat uji (Tabel 4). mendekati pembanding (orlistat)
Pada minggu pertama terapi dibandingkan ekstrak dosis 100 mg/kg
menunjukkan adanya penurunan bobot dan 200 mg/kg (Tabel 4).
badan pada kelompok pembanding dan Pengamatan indeks makan
kelompok ekstrak uji namun belum bertujuan untuk mengetahui pengaruh
signifikan jika dibandingkan terhadap ekstrak uji terhadap nafsu makan.
bobot badan sebelum terapi (minggu ke- Kelompok induksi memiliki indeks makan
0). Pada minggu kedua terapi dapat yang tinggi dibandingkan terhadap
dilihat bahwa bobot badan kelompok kelompok normal, pembanding dan
pembanding tidak berbeda signifikan kelompok uji. Pada kelompok yang
(sig>0,05) dengan kelompok yang menerima ekstrak dosis 200 dan 400
menerima ekstrak dosis 100 dan 400 mg/kg menunjukkan indeks makanan
mg/kg. Hal ini menunjukan kelompok uji yang lebih rendah dibandingkan dengan
tersebut mengalami penurunan bobot seluruh kelompok perlakuan (Tabel 5).

Tabel 4. Profil bobot badan mencit rata-rata setelah pemberian obat uji selama 2 minggu
Minggu Ke-
Kelompok
0 1 2
Normal 30,77 ± 1,37 30,83 ± 1,04 29,65 ± 0,79
Induksi 40,02 ± 2,21 39,80 ± 2,16 40,00 ± 1,77
Pembanding (Orlistat) 37,00 ± 0,78 34,02 ± 0,85 31,37 ± 0,95
Ekstrak 100 mg/kg 38,85 ± 0,73 35,82 ± 1,01 33,31 ± 1,70
Ekstrak 200 mg/kg 40,22 ± 1,42 37,00 ± 0,36 35,17 ± 0,35
Ekstrak 400 mg/kg 38,63 ± 1,29 35,94 ± 1,92 32,60 ± 2,05
Keterangan: Minggu ke-0 artinya bobot badan minggu ke-0 awal terapi, setelah induksi
selama 3 minggu (dalam 3 minggu hewan uji kelompok 2-6 mencapai bobot badan >
20% dari bobot awal). Minggu ke1 dan 2: bobot badan setelah pemberian obat uji
selama 1 dan 2 minggu. Ekstrak = ekstrak daun katuk.

145
PHARMACY, Vol.14 No. 02 Desember 2017 p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X

Tabel 5. Efek pemberian ekstrak daun katuk terhadap rata-rata indeks makan (%)
Minggu Ke-
Kelompok
1 2 3
Normal 6,72 ± 0,10* 8,28 ± 0,09* 7,52 ± 0,08*
Induksi 13,2 ± 0,10 15,12 ± 0,05 13,68 ± 0,06
Pembanding (Orlistat) 9,52 ± 0,09* 9,92 ± 0,10* 10,32 ± 0,06*
Ekstrak 100 mg/kg 8,12 ± 0,15* 6,88 ± 0,06* 6,92 ± 0,15*
Ekstrak 200 mg/kg 5,52 ± 0,10* 4,88 ± 0,07* 4,28 ± 0,11*
Ekstrak 400 mg/kg 5,72 ± 0,13* 4,64 ± 0,22* 4,00 ± 0,28*
*berbeda signifikan (p<0,05) dengan kelompok induksi. Ekstrak = ekstrak daun katuk

Hasil analisis statistik indeks Pengamatan indeks feses


makanan pada semua kelompok dilakukan berdasarkan pada mekanisme
menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kerja dari obat yang dapat menurunkan
daun katuk memiliki perbedaan bobot badan dengan sifat menghambat
bermakna. Pada minggu pertama hasil penimbunan lemak di jaringan adiposa
uji statistik menunjukkan bahwa karena lemak berkurang dan
kelompok ekstrak daun katuk 100, 200, dikeluarkan bersama feses yang
dan 400 mg/kg memiliki perbedaan akhirnya memengaruhi penurunan
yang nyata (Sig<0,05) terhadap bobot badan. Indeks feses kelompok
kelompok induksi. Hal ini berarti bahwa pembanding cenderung lebih tinggi
ekstrak daun katuk menurunkan asupan dibandingkan dengan kelompok lainnya
makanan hewan uji sehingga dikarenakan mekanisme kerja obat
berpengaruh terhadap bobot badannya. orlistat sebagai antiobesitas
Indeks makan antara kelompok uji menghambat absorpsi lemak di usus,
ekstrak 200 dengan 400 mg/kg tidak sehingga lemak ikut terbuang bersama
berbeda signifikan (Sig>0.05) dan feses dan mengakibatkan konsistensi
berbeda signifikan terhadap kelompok feses lembek dan berminyak serta
ekstrak 100 mg/kg yang artinya menambah bobot feses (Tabel 6).
kelompok ekstrak 100 mg/kg tidak Berdasarkan hasil uji analisis
mempengaruhi asupan makanan hewan statistik Anova (p<0,05) pada tabel 6
uji. terlihat bahwa pemberian ekstrak
berpengaruh terhadap indeks feses jika

146
PHARMACY, Vol.14 No. 02 Desember 2017 p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X

dibandingkan dengan kelompok normal. perbedaan yang signifikan dengan


Indeks feses menunjukkan perbedaan kelompok ekstrak 200 dan 400 mg/kg
signifikan (p<0,05) antara kelompok artinya ekstrak tersebut berpengaruh
normal dan kelompok induksi terhadap indeks feses. Berdasarkan uji
dibandingkan terhadap kelompok statistik kelompok ekstrak yang
pembanding dan kelompok uji ekstrak pengaruhnya mendekati pembanding
daun katuk. Pada kelompok adalah ekstrak 400 mg/kg.
pembanding tidak menunjukkan

Tabel 6. Efek ekstrak daun katuk terhadap rata-rata indeks feses (%)
Minggu ke-
Kelompok
1 2 3
Normal 1,27 ± 0,16 1,79± 0,25 1,74 ± 0,25
Induksi 2,22 ± 0,17* 2,54± 0,18* 2,59 ± 0,14*
Pembanding (Orlistat) 3,85 ± 0,48* 4,44± 0,29* 4,98 ± 0,26*
Ekstrak 100 mg/kg 3,60 ± 0,20* 3,57± 0,25* 3,67 ± 0,13*
Ekstrak 200 mg/kg 3,62 ± 0,25* 3,86± 0,30* 3,78 ± 0,29*
Ekstrak 400 mg/kg 3,78 ± 0,32* 4,18± 0,31* 4,42 ± 0,26*
*berbeda signifikan (p<0,05) dengan kelompok normal. Ekstrak = ekstrak daun katuk

Setelah fase terapi selama 2 rerata indeks organ hati pada kelompok
minggu, hewan uji dikorbankan dan induksi lebih rendah daripada kelompok
diisolasi organ serta lemak normal. Dari hasil uji statistik
retroperitoneal, epididimal dan menggunakan uji LSD, terdapat
perirenal. Analisis organ didasarkan perbedaan bermakna pula antara
pada distribusi lemak dan diukur pada kelompok induksi dengan kelompok
pengurangan bobot organ meliputi ekstrak 200 mg/kg, namun ekstrak
organ hati, ginjal, limpa, dan testikel. tersebut tidak berbeda bermakna
Indeks organ diperoleh dengan dengan kelompok normal (p>0,05),
cara membagi bobot organ dengan sehingga dapat dikatakan ekstrak
bobot badan hewan uji. Data indeks mempengaruhi bobot hati yaitu lebih
organ hati, terdapat perbedaan kepada meningkatkan organ hati
signifikan (p<0,05) antara kelompok sehingga menjadi normal kembali.
normal dengan kelompok induksi, yaitu

147
PHARMACY, Vol.14 No. 02 Desember 2017 p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X

Pada indeks organ ginjal, tidak ada perbedaan yang nyata


terdapat perbedaan signifikan (p<0,05) (p>0,05) antara kelompok induksi
antara kelompok induksi dengan dengan kelompok ekstrak, sehingga
kelompok normal, artinya induksi pemberian ekstrak uji tidak
berpengaruh terhadap indeks organ mempengaruhi bobot organ ginjal.
ginjal. Berdasarkan uji statistik LSD,

Tabel 7. Efek pemberian ekstrak daun katuk selama 14 hari terhadap rata-rata indeks
organ (%)
Organ
Kelompok
Hati Ginjal Limpa Testikel
Normal 7,59± 0,48* 2,00 ± 0.10* 1,16 ± 0,10 0,76± 0.05*
Induksi 5,80± 0,20 1,58 ± 0,11 1,13 ± 0,14 0,62± 0,03
Pembanding (Orlistat) 5,42± 0,30* 1,74 ±0,02* 0,95 ± 0,03* 0,77± 0,02*
Ekstrak 100 mg/kg 6,63± 0,19* 1,68 ± 0,05* 1,11 ± 0,12 0,86± 0,03*
Ekstrak 200 mg/kg 7,49±0,27* 1,71 ± 0,03* 1,10 ± 0,03 0,93± 0,03*
Ekstrak 400 mg/kg 6,59±0,09* 1,10 ±0,05* 1,10 ±0,03 0,83± 0,04*
*berbeda signifikan (sig<0,05) dengan kelompok induksi. Ekstrak = ekstrak daun katuk

Pada indeks organ testis terlihat kelompok ekstrak 200 mg/kg


bahwa indeks organ testis pada meningkatkan indeks organ testis. Hasil
kelompok induksi lebih rendah daripada uji terhadap indeks organ limpa,
normal yaitu memperkecil organ testis. terdapat perbedaan signifikan (p<0,05)
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa antara kelompok induksi dengan
tidak ada perbedaan indeks organ testis pembanding, namun tidak ada
antara kelompok normal, pembanding perbedaan signifikan antara kelompok
dan kelompok ekstrak dosis 100 dan induksi, normal, dan ekstrak. Hal ini
400 mg/kg. Hal ini menunjukkan bahwa berarti ekstrak tidak berpengaruh
pemberian ekstrak uji dosis 100 dan 400 terhadap indeks organ limpa. Pengujian
mg/kg memperbaiki indeks organ yang bobot lemak visceral dilakukan diakhir
sebanding dengan kelompok normal. setelah hewan uji dikorbankan dan
Sedangkan indeks organ testis dibedah, lemak visceral yang ditimbang
kelompok ekstrak 200 mg/kg berbeda antara lain lemak retroperitonial, lemak
signifikan (p<0,05) dengan kelompok epididimal dan lemak perirenal.
normal yaitu lebih tinggi artinya

148
PHARMACY, Vol.14 No. 02 Desember 2017 p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X

Tabel 8. Efek ekstrak daun katuk terhadap indeks lemak (%)


Lemak
Kelompok
Retroperitonial Epididimal Perirenal
Normal 0,37 ± 0,00* 0,03 ± 0,02* 0,10 ± 0,04*
Induksi 1,80 ± 0,02 0,97 ± 0,05 0,18 ± 0,00
Pembanding 0,29 ± 0,01* 0,44 ± 0,02* 0,10 ± 0,00*
Ekstrak 100 mg/kg 0,50 ± 0,01* 0,79 ± 0,05* 0,13 ± 0,01*
Ekstrak 200 mg/kg 0,25 ± 0,01* 0,08 ± 0,00* 0,11 ± 0,02*
Ekstrak 400 mg/kg 0,09 ± 0,01* 0,78 ± 0,00* 0,12 ± 0,01*
*berbeda signifikan (sig<0,05) dengan kelompok induksi

Pada indeks lemak antara kelompok ekstrak uji


retroperitonial, kelompok induksi dibandingkan terhadap kelompok
memberikan perbedaan signifikan induksi. Indeks lemak epididimal pada
antara kelompok normal dengan semua kelompok ekstrak lebih rendah daripada
kelompok ekstrak, hal ini menunjukkan kelompok induksi sehingga ekstrak uji
bahwa kelompok induksi memiliki mempengaruhi lemak epididimal
distribusi lemak yang lebih besar yang dengan menurunkan bobot lemak
terakumulasi pada rongga perut. Hasil epididimal tersebut.
uji statistik Bonferroni, ekstrak dosis Hasil uji statistik bahwa ekstrak
200 dan 400 mg/kg memiliki perbedaan 200 mg/kg menunjukkan tidak berbeda
yang nyata (p<0,05) lebih rendah nyata dengan kelompok normal, artinya
daripada kelompok induksi, artinya indeks lemak epididimal kelompok yang
ekstrak tersebut memiliki potensi dalam menerima ekstrak dosis 200 mg/kg
mengurangi deposit lemak tersebut sebanding kelompok normal,
retroperitonial. lebih baik daripada kelompok yang
Hasil uji indeks lemak menerima ektrak 100 dan 400 mg/kg.
epididimal menunjukkan perbedaan Hasil indeks lemak perirenal, terdapat
yang signifikan dibndingkan terhadap perbedaan signifikan antara kelompok
kelompok induksi. Hal ini menunjukkan normal dan ekstrak terhadap kelompok
bahwa induksi pakan tinggi lemak dan induksi. Hal ini menunjukkan bahwa
karbohidrat meningkatkan indeks lemak ekstrak uji mempengaruhi lemak
epididimal. Hasil penelitian perirenal (menurunkan lemak perirenal
menunjukkan terdapat perbedaan

149
PHARMACY, Vol.14 No. 02 Desember 2017 p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X

yang sebanding dengan kelompok daun katuk terbaik dalam menurunkan


normal). bobot badan adalah 400 mg/kg.
Hasil penelitian ini, daun katuk
sebagai antiobesitas sejalan dengan Daftar Pustaka
penelitian yang dilakukan oleh Agrawal, S.K., Karthikeyan, V.,
Warditiani dkk., tahun 2014, bahwa Parthiban, P., Nandhini, R. 2014.
Multivitamin plant:
daun katuk memiliki efek sebagai pharmacognostical
antihiperlipidemia. Selain itu, daun standardization and
phytochemical profile of its
katuk telah dibuktikan memiliki efek leaves. Journal of Pharmacy
Research, 8(7):920-925.
imunostimulator dengan mempengaruhi
aktivitas fagositosis makrofag (Santoso Akbar, M., Sjofjan, O., Minarti, S. 2013.
dkk., 2013). Kandungan flavonoid dalam Cholesterol, glucose and blood
cells count of rabbit doe fed
daun katuk dapat menurunkan bobot katuk (Sauropus androgynus L.
badan (Yu, dkk., 2006), melalui Merr) leaf meal as
supplementation. Animal
mekanisme kerja Production, 15(3):166-172.
menurunkan intake makanan,
Al Shukor, N., Raes, K., Smagghe, G.,
menurunkan akumulasi lipid di hati (Al Camp, J.V. 2015. Flavonoids:
Shukor dkk., 2015). evidence for inhibitory effects
against obesity and their
possible mechanisms of action.
Kesimpulan Flavonoids and Antioxidants of
Recent Progress in Medicinal
Hasil penelitian ini dapat Plants Studium Press LLC, 40:
496-514.
disimpulkan bahwa ekstrak daun katuk
mempunyai aktivitas antiobesitas. Andarwulan, N., Batari, R., Sandrasari,
A., Bolling, B., Wijaya, H. 2010.
Ekstrak daun katuk dapat menurunkan
Flavonoid content and
bobot badan dan indeks makan, antioxidant activity of
meningkatkan bobot feses dan vegetables from Indonesia.
Food Chemistry, 121(4):1231-
konsistensinya yang sebanding dengan 1235.
orlistat, menurunkan indeks lemak
Arista, M. 2013. Aktivitas antioksidan
retroperitoneal, mempengaruhi indeks ekstrak etanol 80% dan 96%
organ dengan meningkatkan bobot daun katuk (Sauropus
androgynus (L.) Merr.).
organ hati dan testis. Dosis ekstrak Calyptra, 2(2):1-16.

150
PHARMACY, Vol.14 No. 02 Desember 2017 p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X

Badan Penelitian dan Pengembangan Bunawan, H., Bunawan, S.N., Baharum,


Kesehatan. 2013. Riset S.N., Noor, N.M. 2015. Sauropus
Kesehatan Dasar (Riskesdas Androgynus (L.) Merr. induced
2010). Jakarta: Kementerian bronchiolitis obliterans: from
Kesehatan Republik Indonesia. botanical studies to toxicology.
Evidence-Based Complementary
Kementrian Kesehatan Republik and Alternative Medicine.
Indonesia. 2013. Farmakope 2015(ID 714158):1-7.
Herbal Indonesia Suplemen III.
Jakarta: Kementrian Kesehatan Han, L.K., Zheng, Y.N., Yoshikawa, M.,
Republik Indonesia. Okuda, H., Kimura, Y. 2005.
Anti-obesity effects of
Departemen Kesehatan Republik chikusetsusaponins isolated
Indonesia. 1989. Materia from Panax japonicus rhizomes.
Medika Indonesia. Jilid 5. BMC Complementary and
Jakarta: Departemen Kesehatan Alternative Medicine, 5(9):1-10.
Republik Indonesia.
NCD Risk Factor Collaboration. 2016.
Depkes RI. 2000. Parameter Standar Trends in adult body-mass index
Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. in 200 countries from 1975 to
Cetakan Pertama. Jakarta: 2014: a pooled analysis of 1698
Direktorat Jenderal population-based measurement
Pengawasan Obat dan studies with 19· 2 million
Makanan. participants. The Lancet,
387(10026):1377-1396.
Dipiro, J.T., Talbert, L.R., Yee, G.C.,
Matzke, G.R., Wells, B.G., Rahmatullah, P. 2000. Faal paru pada
Posey, L.M. 2008. obesitas. Maj. Kedokteran
Pharmacotherapy: A Indonesia, 50(5):224-30.
Pathophysiologic Approach.
Seventh Edition. New York: Mc- Santoso, T.A., Diniatik, Kusuma, A.M.
Graw Hill. 2013. Efek imunostimulator
ekstrak etanol daun katuk
Elliott, S.S., Keim, N.L. Stern, J.S., Teff, K., (Sauropus androgynus L Merr)
Havel, P.J. 2002. Fructose, terhadap aktivitas fagositosis
weight gain, and the insulin makrofag. Jurnal Pharmacy,
resistance syndrome. American 10(01):63-70.
Journal Clinical Nutrition,
76(5):911-922. Santoso, U. 2014. Manfaat Daun Katuk
Bagi Kesehatan Manusia dan
Fernández-Sánchez, A., Madrigal- Produktivitas Ternak.
Santillán, E., Morales-González, www.uripsantoso.wordpress.co
J.A. 2011. Inflammation, m. Diakses 28 November 2015.
oxidative stress, and obesity.
International Journal of Sharma, N., Sharma, V.K., Seo, S.Y. 2005.
Molecular Sciences, 12(5):3117- Screening of some medicinal
3132. plants for anti-lipase

151
PHARMACY, Vol.14 No. 02 Desember 2017 p-ISSN 1693-3591; e-ISSN 2579-910X

activity. Journal of Warditiani, N.K., Susanti, N.M.P.,


ethnopharmacology, 97(3):453- Widjaja, I.N.K., Budiman, I.N.A.
456. 2014: Ethanol Extracts of
Sauropusandrogynus (L) Merr.
Soegondo, S. 2006. Penyuluhan sebagai Activity Antihyperlipidemia of
Komponen Terapi Diabetes dan High Fat Diet- Fed Rats,
Penatalaksanaan Terpadu. Proceeding on International
Jakarta: Fakultas Kedokteran Conference of Pharmaceutical
Universitas Indonesia. Care, Malang.

Sunyer Deu, J., & NCD Risk Factor Waspadji, S. 2003. Pengkajian Status
Collaboration. 2016. Trends in Gizi. Jakarta: RSCM.
adult body-mass index in 200
countries from 1975 to 2014: a Yu, S.F., Shun, C.T., Chen, T.M. and.
pooled analysis of 1698 Chen, Y.H. 2006. 3-0-b-D-
population-based measurement glucosyl-(1÷6)-b-D-glucosyl-
studies with 19· 2 million kaempferol isolated from
participants. Lancet, 387 Sauropus androgenus reduces
(10026):1377-1396. bodyweight gain in wistar rats.
Biol. Pharm. Bull., 29:2510-
2513.

152