Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN KELAMIN


VAGINITIS

OLEH
ALVIAN ADITYA PERMATA ARIFIN
(P17221171013)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


KEPERAWATAN LAWANG
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas limpahan-
Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari bahwa dengan
selesainya tugas ini tidak terlepas dari berbagai belah pihak terutama Dosen. Olehnya itu terimah
kasih kami ucapkan yang setinggi-tinggi kepada Beliau.

Sebagai manusia biasa tentulah dalam penyusunan tugas ini terdapat berbagai kekurangan, baik
yang disadari maupun yang tidak disadari untuk itu penyusun dengan lapang dada siap menerima
kritikan dan saran dari berbagai belah pihak yang telah membaca tugas ini, demi penyempurnaan
dalam tulisan ini.

Akhir kata semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan, khususnya
bagi penyusun.

Lawang, Desember 2018

penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Vaginitis adalah diagnosis masalah ginekologis yang paling sering terjadi di pelayanan
primer. Pada sekitar 90% dari perempuan yang terkena, kondisi ini disebabkan oleh vaginosis
bakterial, kandidiasis atau trikomoniasis vulvovaginal. Vaginitis terjadi ketika flora vagina telah
terganggu oleh adanya mikroorganisma patogen atau perubahan lingkunang vagina yang
memungkinkan mikroorganisma patogen berkembang biak/berproliferasi. Pemeriksaan untuk
vaginitis meliputi penilaian risiko dan pemeriksaan fisik, dengan fokus perhatian pemeriksaan
pada adanya dan karakteristik dari discharge vagina. Pemeriksaan laboratorium diantaranya:
metode sediaan basah garam fisiologis (Wet Mount) dan KOH, pemeriksaan PH discharge
vagina dan "whiff" test. Pengobatan untuk vaginosis bacterial dan trikomoniosis adalah
metronidazol, sementara untuk kandidias vaginal, pilihan pertama adalah obat anti jamur topical.

Vaginitis adalah maslah ginekologis yang paling banyak dihadapi oleh dokter yang
member pelayanan terhadap perempuan. Pembuatan diagnosis yang akurat bias sangat sulit yang
menyebabkan upaya pengobatan juga kompleks. Terlebih lagi, adanya obat yang dijual bebas
menaikkan kemungkinan pemberian pengobatan yang tidak sesuai untuk vaginitis.

B.Tujuan

1.Tujuan Umum

a. Diharapkan tenaga kesehatan mampu mengumpulkan semua data fokus yang di butuhkan
baik melalui anamnesa maupun pemeriksaan untuk menilai keadaan klien secara menyeluruh.

b. Diharapkan tenaga kesehatan menginterpretasikan data dengan tepat untuk


mengidentifikasi diagnosa atau masalah dan kebutuhan.

c. Diharapkan tenaga kesehatan mampu mengidentifikasi diagnosa dan masalah


potensia/mungkin timbul agar dapat diantisipasi penangananya
d. Diharapkan tenaga kesehatan mampu menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera
sehinga tindakan dapat segera direncanakan untuk dilakukan tindakan konsultasi atau kolaborasi
dengan tenaga kesehatan lain sesuai dengan kondisi klien

e. Diharapkan tenaga kesehatan mampu menyusun rencana asuhan secara menyeluruh


dengan tepat dan rasional sesuai langkah-langkah sebelumnya

f. Diharapkan tenaga ksehatan mampu melaksanakan asuhan yang telah direncanakan dengan
memperhatikan efisiensi dan tindakan yang aman.

g. Diharapkan tenaga kesehatan mampu melakukan evisiensi pelaksanaan rencana asuhan.

2.Tujuan Khusus

Diharapkan tenaga kesehatan mampu melaksanakan Asuhan dengan Menggunakan SOAP yang
meliput:

a) Mampu melakukan anamnesa subyektif dengan pengumpulan data pada ibu post partum
dengan Vaginitis

b) Mampu Melakukan pemeriksaan Obyektif terhadap ibu post partum dengan Vaginitis

c) Mampu Melakukan dan menentukan diagnosa terhadap ibu post partum dengan Vaginitis

d) Mampu melakukan dan menentukan perencanaan dan mempu mengefaluasi ibu post partum
dengan vaginitis.

e) Mampu menyari penyebab dan cara mengatasi dari penyakit vaginitis. C.

C. Manfaat

1. Bagi Penulis Dapat menerapkan ilmu yang telah di dapat dimeja perkuliahan,terutama yang
berhubungan dengan asuhan kebidanan pada ibu nifas vaginitis.

2. Bagi Lahan Dapat mengefaluasi kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan asuhan


kebidanan pada ibu nifas dengan Vaginitis
BAB II

PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN

Kebanyakan wanita pemberitahuan dari waktu ke waktu bahwa mereka memiliki cairan
dari vagina. Ini adalah proses normal yang menjaga daerah mukosa vagina lembab. Tetapi tidak
hanya itu daerah vagina yang lembab bisa berubah menjadi sarang berkumpulnya bakteri-
bakteri,jamur serta virus yang bisa dengan mudah hidup di daerah tersebut dan bisa
menimbulkan penyakit,seperti yang terdapat di daerah vagina yang biasa di sebut sebagai
vaginitis. Vaginitis (colpitis) adalah infeksi pada vagina yang disebabkan oleh berbagai bakteri,
parasit atau jamur (Manuaba. 2001). Vaginitis adalah suatu peradangan pada lapisan vagina.

Vaginitis dapat terjadi secara langsung pada luka vagina atau melalui luka perineum,
permukaan mokusa membengkak dan kemerahan, terjadi ulkus dan getah mengandung nanah
yang keluar dari daerah ulkus. Vaginitis di sebabkan oleh jamur dan bakteri akibat tidak
bersihnya genetalia,gejala pada vaginitis biasanya di sertai keluar cairan vagina atau keputihan
yang abnormal,di katakan abnormal karena keputihan tersebut sangat berlebihan berbau dan
terjadi iritasi di sekitar vagina,vaginitis bisa juga di sebabkan bawaan pada saat bersalin karena
kurangnya keseterilan dari alat atau dari henskun si penolong yang kurang seteril. Sedangkan
Vaginosis bakterialis diketahui kemudian sebagai infeksi superfisial pada vagina yang menyertai
keadaan menghilangnya laktobasili yang normal dan disertai oleh pertumbuhan berlebihan dari
mikroorganisme lain dalam konsentrasi yang tinggi.

• Vaginosis bakterial didefinisikan sebagai suatu keadaan abnormal pada ekosistem vagina
yang dikarakterisasi oleh pergantian konsentrasiLactobacillus yang tinggi sebagai flora normal
vagina oleh konsentrasi bakteri anaerob yang tinggi, terutama Bacteroides sp., Mobilincus
sp.,Gardnerella vaginalis, dan Mycoplasma hominis Jadi vaginosis bakterial bukan suatu infeksi
yang disebabkan oleh satu organisme, tetapi timbul akibat perubahan kimiawi dan pertumbuhan
berlebih dari bakteri yang berkolonisasi di vagina.
• Vaginosis Bakterial memperlihatkan bukti bahwa penyakit ini terjadi akibat pertumbuhan
hebat bakteri normal vagina. Gangguan keseimbangan pertumbuhan bakteri ini menyebabkan
terjadinya fluor albus yang sangat berbau.

• Vaginosis Bakterial adalah penyebab utama dari fluor albus akan tetapi jarang tanpa disertai
keluhan lain. Vaginosis bakterial terjadi akibat digantinya mikroflora vagina normal yang
“healthy” ( terutama dari jenisLactobacillus jensenii dan Lactobacillus crispatus ) oleh
sekelompok mikroorganisme.

• Bakterial vaginosis adalah sindrom klinik akibat pergantian Lactobacillus Spp penghasil
hidrogen peroksida (H2O2) yang merupakan flora normal vagina dengan bakteri anaerob dalam
konsentrasi tinggi (contoh : Bacteroides Spp, Mobilincus Spp, Gardnerella vaginalis, dan
Mycoplasma hominis). Jadi, bakterial vaginosis bukan suatu infeksi yang disebabkan oleh suatu
organisme, tetapi timbul akibat perubahan kimiawi dan pertumbuhan berlebih dari bakteri yang
berkolonisasi di vagina.

B. ANATOMI FISIOLOGI

1. Vulva

• Vulva merupakan suatu daerah yang menyelubungi vagina. Vulva terdiri atas mons pubis,
labia (labia mayora dan labia minora), klitoris, daerah ujung luar vagina dan saluran kemih.

• Mons pubis : gundukan jaringan lemak yang terdapat dibagian bawah perut, Daerah ini
dapat dikenali dengan mudah karena tertutup oleh rambut pubis. Rambut ini akan tumbuh saat
seorang gadis beranjak dewasa.

• Labia: Lipatan berbentuk seperti bibir yang terletak di dasar mons pubis.Terdiri dari dua
bibir, yaitu labium mayora (bibir luar) merupakan bibir yang tebal dan besar dan labium minora
(bibir dalam), merupakan bibir yang tipis yang menjaga jalan masuk ke vagina.

• Klitoris : merupakan organ kecil yang terletak pada pertemuan antara ke dua labia minora
dan dasar mons pubis. Ukurannya sebesar kacang polong, penuh dengan sel syaraf sensorik dan
pembuluh darah. Organ mungil ini sangat sensitif dan berperan besar dalam fungsi seksual
2. Vagina

Vagina merupakan saluran yang elastis, panjangnya sekitar 8-10 cm, dan berakhir pada rahim.
Vagina dilalui oleh darah pada saat menstruasi dan merupakan jalan lahir. Karena terbentuk dari
otot, vagina bisa melebar dan menyempit. Kemampuan ini sangat hebat, terbukti pada saat
melahirkan vagina bisa melebar seukuran bayi yang melewatinya. Pada bagian ujung yang
terbuka, vagina ditutupi oleh sebuah selaput tipis yang dikenal dengan istilahselaput dara.
Bentuknya bisa berbeda-beda antara tiap wanita. Selaput ini akan robek pada saat bersanggama,
kecelakaan, masturbasi/onani yang terlalu dalam, olah raga dsb.

Ekosistem vagina normal sangat kompleks, flora bakterial yang predominan adalah laktobasili
(95%) ,disamping itu terdapat pula sejumlah kecil (5%) variasi yang luas dari bakteri erobik
maupun anerobik. Ekosistem vagina yang normal mengandung 105 sampai 106 /gr dari sekresi
vagina; sedangkan pada vaginosis bakterialis terjadi peningkatan sangat besar yaitu mencapai
109 – 1011/gram sekresi.

Bakteri yang normal di vagina :

Genus Laktobasilus merupakan kuman yang mampu memproduksi sejumlah asam laktat dari
karbohidrat sederhana, dengan demikian menciptakan suasana asam yang mampu mematikan
kuman lain yang tidak berspora.Secara morfologik, kuman ini berbentuk batang positif Gram,
dan tidak bergerak. Pada isolasi primer bersifat mikroaerofilik, atau anaerob (tumbuh baik pada
keadaan sedikit sekali oksigen atau tanpa oksigen). Bakteri ini pada dasarnya bersifat non
patogen (tidak berbahaya).

Sekret normal vagina :

- Berwarna jernih atau putih keruh

- Berwarna kekuningan ketika mengering di pakaian

- pH < 5,0

- terdiri dari sel-sel epitel yang matur

- sejumlah normal leukosit


- tanpa adanya jamur Trichomonas dan tanpa clue cell\

C. ETIOLOGI

Bakteri yang menyebabkan vaginosis bakterialis adalah :

• Gardnerella vaginalis

• Bakteri batang anerob gram negatif yang termasuk dalam genera

- Prevotella

- Porphyromonas dan Bacteroides

- Peptostreptococcus sp

- Mycoplasma hominis

- Ureaplasma urealyticum dan seringkali Mobiluncus sp

Bakteri anerob inilah yang memproduksi ensim-ensim yang menimbulkan bau amis tajam pada
keadaan vaginosis bakterialis, (Thomason 1991).

• Bacteroides sp.

• Mycoplasma hominis

Faktor resiko terjadinya Vaginosis Baterial :

1. Pasangan seksual yang baru

2. Merokok

3. AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)

4. Pembilasan vagina yang terlampau sering, menyebabkan menurunnya jumlah laktobaksil


penghasil hidrogen peroksida yang menyebabkan pertumbuhan berlebihan dari bakteri lain
khususnya yang berasal dari bakteri anerobik.
5. Vagina yang terlalu sering dalam keadaan lembab dan jarang mengganti celana dalam.

D. PATOFISIOLOGI

Ekosistem seimbang pada vagina didominasi oleh bakteri Lactobacillus yang menghasilkan asam
organik, seperti :

Asam laktat, seperti organic acid lanilla

a) Berfungsi untuk memelihara pH dibawah 4,5 (antara 3,8 - 4,2), dimana merupakan tempat
yang tidak sesuai bagi pertumbuhan bakteri khususnya mikroorganisme yang patogen bagi
vagina.

a. Peroksida (H2O2)

b) Merupakan mekanisme Lactobacillus untuk hidup dominan daripada bakteri obligat


anaerob.

a. Bakteriosin

c) Suatu protein dengan berat molekul rendah yang menghambat pertumbuhan banyak bakteri
khususnya Gardnerella vaginalis.

Bila keseimbangan mikroorganisme berubah, maka organisme yang berpotensi patogen, yang
merupakan bagian flora normal, misalnya C. albicans pada kasus infeksi monolia serta G.
vaginalis dan bakteri anaerob pada kasus vaginitis non spesifik.

Berproliferasi sampai suatu konsentrasi yang berhubungan dengan gejala. Pada mekanisme
lainnya, organisme ditularkan melalui hubungan seksual dan bukan merupakan bagian flora
normal seperti Trichomonas vaginalis dan Nisseria gonorrhoea dapat menimbulkan gejala .
Gejala yang timbul bila hospes meningkatkan respon peradangan terhadap organisme yang
menginfeksi dengan menarik leukosit serta melepaskan prostaglandin dan komponen respon
peradangan lainnya. Gejala ketidaknyamanan dan pruritus vagina berasal dari respon peradangan
vagina lokal terhadap infeksi T. vaginalis atau C. albicans. Organisme tertentu yang menarik
leukosit, termasuk T. vaginalis, menghasilkan secret purulen. Diantara wanita dengan vaginitis
non spesifik. Baunya disebabkan oleh terdapatnya amina dibentuk sebagai hasil metabolisme
bakteri anaerob. Histamin dapat menimbulkan ketidaknyamanan oleh efek vasodilatasi local.
Produk lainnya dapat merusak sel-sel epitel dengan cara sama dengan infeksi lainnya.

E. TANDA DAN GEJALA

1. Fluor albus yang amat berbau (bau amis)

2. Cairan vagina yang berlebih

3. Cairan vagina pada vaginosis bakterial biasanya encer (seperti susu encer) dan berwarna
keabu-abuan dan umumnya keluar pasca sanggama sehingga sering mengakibatkan masalah
dalam hubungan seksual terutama pada pria.

4. Disuria

5. Gatal sekitar vulva dan terasa seperti terbakar

6. Iritasi vagina

7. Namun terkadang tidak menunjukkan gejala sama sekali.

8. Dapat juga timbul kemerahan dan edema pada vulva

9. Nyeri abdomen

F. TES DIAGNOSTIK

1. Diagnosis vaginosis bakterialis ditegakkan bila 3 kriteria terpenuhi dari 5 kriteria dibawah
ini (Majeroni,1998):

• Cairan vagina yang homogen (jumlah dan warnanya dapat bervariasi

• PH vagina > 4.5, dengan menggunakan phenaphthazine paper(nitrazine paper).

• Uji Amin (+)


Uji Amin (KOH whiff test) : Pemberian setetes KOH 10% pada sekret vagina diatas gelas objek
akan menghasilkan bau amis yang karakteristik ( fishy / musty odor ), bau amis muncul sebagai
akibat pelepasan amin dan asam organik hasil alkalisasi bakteri anaerob

• Terdapat “clue cell” ( sel epitel vagina yang diliputi oleh coccobacillusyang padat)

> 20% pada preparat basah atau pewarnaan Gram.

Cara pemeriksaannya :

Pemeriksaan preparat basah;dilakukan dengan meneteskan satu atau dua tetes cairan NaCl 0,9%
pada sekret vagina diatas objek glass kemudian ditutupi dengan coverslip. Dan dilakukan
pemeriksaan mikroskopik menggunakan kekuatan tinggi (400 kali) untuk melihat clue cells,
yang merupakan sel epitel vagina yang diselubungi dengan bakteri (terutama Gardnerella
vaginalis).Pemeriksaan preparat basah mempunyai sensitifitas 60% dan spesifitas 98% untuk
mendeteksi bakterial vaginosis. Clue cells adalah penanda bakterial vaginosis.

• Tidak adanya / berkurangnya laktobasil pada pewarnaan Gram.

- Skoring jumlah bakteri yang normal pada vagina atau vaginosis bakterial dengan

- Kriteria diagnosis vaginosis bakterial berdasarkan pewarnan Gram :

• derajat 1: normal, di dominasi oleh Lactobacillus

• derajat 2: intermediate, jumlah Lactobacillus berkurang

• derajat 3: abnormal, tidak ditemukan Lactobacillus atau hanya ditemukan beberapa kuman
tersebut, disertai dengan bertambahnya jumlah Gardnerella vaginalis atau lainnya.

2. Uji H2O2 :

Pemberian setetes H2O2 (hidrogen peroksida) pada sekret vagina diatas gelas objek akan segera
membentuk gelembung busa ( foaming bubbles) karena adanya sel darah putih yang karakteristik
untuk trikomoniasis atau pada vaginitis deskuamatif, sedangkan pada vaginosis bakterialis atau
kandidiasis vulvovaginal tidak bereaksi.

G. PENATALAKSANAAN
1. Pengobatan Topikal:

- Clindamycin (krim vagina) 5 gram waktu tidur, selama 7 hari

- Metronidazol gel 5 gram bid waktu tidur selama 7 hari.

- Tetrasiklin intravagina 100 mg, 1 x sehari.

- Triple sulfonamide cream (Sulfactamid 2,86%, Sulfabenzamid 3,7% dan Sulfatiazol


3,42%), 2 x sehari selama 10 hari, tapi akhir-akhir ini dilaporkan angka penyembuhannya
hanya 15 – 45 %.

2. Pengobatan Oral :

- Metronidazol 500 mg selama 7 hari atau 2 gram dosis tunggal, keberhasilan


penyembuhan lebih dari 90%. Metronidazol dapat menyebabkan mual dan urin menjadi
gelap. Jika pengobatan ini gagal, maka diberikan ampisilin oral (atau amoksisilin) yang
merupakan pilihan kedua dari pengobatan,keberhasilan penyembuhan sekitar 66%.

- Clindamycin 300 mg bid selama 7 hari, kaberhasilan penyembuhan sekitar 94%.

Aman diberikan pada wanita hamil. Sejumlah kecil klindamisin dapat menembus ASI,
oleh karena itu sebaiknya menggunakan pengobatan intravagina untuk perempuan menyusui.

- Amoksilav (500 mg amoksisilin dan 125 mg asam klavulanat) 3 x sehari selama 7 hari.
Cukup efektif untuk wanita hamil dan intoleransi terhadap metronidazol.

- Tetrasiklin 250 mg, 4 x sehari selama 5 hari.

- Doksisiklin 100 mg, 2 x sehari selama 5 hari.

- Eritromisin 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari.

- Cefaleksia 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari.


BAB 3

Konsep Asuhan Keperawatan

Pengkajian

1. Identitas pasien : Ny.N

2. Anamnesis :

o Keluhan utama :

• Ibu mengatakan mengalami yang sangat banyak dan merasa sangat gatal di daerah
vaginanyadan disertai nyeri perut bagian bawah

• Igu mengatakan habis melahirkan anaknya yang pertama seminggu yang lalu ,dan ibu
mengatakan tidak pernah keguguran

o Keluhan tambahan : tidak ada

o Riwayat penyakit : pernah mengalami penyakit pada kelaminnya atau tidak?

o Adanya keputihan: ada

o Banyaknya cairan vagina yang keluar:sangat banyak

o Bau : mengeluarkan bau yang tak tidak sedap dan gatal serta nyeri

o Konsistensinya:tidak ada

o Warna : berwarna kuning kehijauan kental

3. Pemeriksaan Fisik

Inspeksi : cairan vagina yang keluar meliputi, warna, konsistensi, jumlah dan baunya.

4. Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksan pH dengan phenaphthazine paper (nitrazine paper).

b. Uji Amin (KOH whiff test)


c. preparat basah atau pewarnaan Gram

d. Uji H2O2

A. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan banyaknya sekret yang keluar pada vagina
dan adanya rasa gatal.

2. Resiko infeksi berhubungan dengan banyaknya bakteri yang berkembang dalam vagina.

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyebab dan


prognosis penyakit.

B. Rencana Tindakan Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan banyaknya sekret yang keluar pada vagina
dan adanya rasa gatal.

Tujuan : rasa nyaman meningkat dan rasa gatal berkurang atau hilang.

Intervensi :

a. Amati sekret yang keluar dari vagina (warna, konsistensi, jumlah, dan baunya ).

Rasional : sekret vagina dapat menandakan suatu kelainan atau keabnormalan yang
terjadi pada vagina.

b. Mengganti celana dalam pasien jika lembab ataupun kotor, sebaiknya untuk sering
diganti.

Rasional : jika celana dalam lembab atau kotor dapat meningkatkan pertumbuhan
bakteri yang abnormal dalam vagina.

c. Menjelaskan pada pasien untuk mengeringkan bagian genital bila basah atau sehabis
BAK atau BAB, misal mengelap dengan tissue atau handuk yang bersih ataupun dengan
dikeringkan memakai hairdryer.

Rasional : untuk menjaga bagian genital tetap kering.


d. Berikan obat topikal sesuai indikasi, misal :

- Clindamycin (krim vagina)

- Metronidazol gel

- Tetrasiklin intravagina

- Triple sulfonamide cream

2. Resiko infeksi berhubungan dengan banyaknya bakteri yang berkembang dalam vagina.

Tujuan : agar tidak terjadi infeksi lebih lanjut.

Intervensi :

a. Bersihkan alat genetalia dengan teknik aseptik.

Rasional : agar alat genetalia terjaga kebersihannya dan tidak mengganggu ekosistem
normal pada vagina.

b. Lakukan pemeriksaan sekret vagina yang diamati dengan preparat basah atau pewarnaan
Gram.

Rasional : untuk mengetahui jumlah bakteri abnormal yang berkembang dalam vagina.

c. Berikan antibiotik oral sesuai indikasi, misal :

o Metronidazol

o Clindamycin

o Amoksilav

o Tetrasiklin

o Cefaleksia

o Eritromisin

o Doksisiklin
C. IMPLEMENTASI

Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik.
Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan kepada perawat
untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Adapun tujuan dari pelaksanaan adalah
membantu klien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan meliputi peningkatan kesehatan
atau pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dari fasilitas yang dimiliki. Perencanaan
tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik jika klien mempunyai keinginan
untuk berpartisiasi dalam pelaksanaan tindakan keperawatan. Selama

perawatan atau pelaksanaan perawat terus melakukan pengumpulan data dan memilih tindakan
perawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien. dan meprioritaskannya. Semua tindakan
keperawatan dicatat ke dalam format yang telah ditetapkan institusi. Penatalaksanaan bisa
dilakukan dengan cara seperti berikut:

a) Menjelaskan pada klien tentang beberapa penyebab terjadinya keputihan adalah


jamur/bakteri (karena kurang bersih dalam menjaga kebersihan daerah kelamin), atau adanya
penyakit lain (tumor).

b) Menjelaskan kepada klien bahwa keputihan dapat terjadi itu secara normal atau tidak
normal. Keputihan yang normal yaitu keputihan yang terjadi pada saat sebelum menstruasi, pada
saat hamil, tetapi menjadi tidak normal jika pengeluaran lendir secara berlebihan dan terus
menerus, berbau dan biasanya menimbulkan rasa gatal.

c) Menjelaskan kepada klien tentang beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah
terjadinya kekambuhan dari keputihan adalah:

• Menjaga kebersihan daerah genitalia dengan baik (cebok dari arah depan kebelakang
dengan menggunakan sabun).

• Mengganti celana dalam, gunakan celana dalam yang katun dan tipis serta mudah
menyerap keringat.

• Anjurkan kepada suami untuk ikut kontrol serta meminum obat yang diberikan dokter agar
tidak terjadi saling menularkan penyakit.
d) Menganjurkan kepada klien untuk kontrol secara rutin dan menghabiskan obat yang
diberikan dokter meskipun keluhan sudah berkurang.

e) Menganjurkan pada klien untuk menjelaskan kembali apa yang telah dijelaskan oleh
petugas. E.

D. EVALUASI

1.Tingkat kenyamanan pasien kembali seperti sebelum sakit

2.Pola seksualitas dapat berfungsi secara normal

3.Tidak terjadi inveksi

4.Klien mengerti mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan

BAB IV

PENUTUP
A. KESIMPULAN

Vaginitas adalah peradangan yang terjadi karena perubahan keseimbangan normal bakteri
yang hidup disana. Tanda atau gejala paling umum adalah munculnya cairan yang berwarna
putih keruh keabuan dan berbusa serta menimbulkan bau kurang sedap. Vulvitis adalah suatu
peradangan pada vulva ( organ kelamin luar wanita ). Sedang vulvovaginitis adalah peradangan
pada vulva dan vagina. Vagina dikatakan tidak normal apabila jumlah cairan yang keluar sangat
banyak, baunya menyengat atau disertai gatal-gatal dan nyeri. Cairan yang keluar secara tidak
normal memiliki tekstur lebih kental dibandingkan cairan yang normal dan cairan vagina atau
keputihan yang tidak normal cenderung berwarna kuning seperti warna keju, kuning kehijauan
bahkan kemerahan.

Sebenarnya di dalam vagina terdapat 95 % bakteri baik dan 5 % bakteri jahat atau bakteri
pathogen. Agar ekosisterm di dalam vagina tetap seimbang, dibutuhkan tingkat keasaman ( pH
balance ) pada kisaran 3,8 – 4,2. Dengan tingkat keasaman tersebut, laktobasilus akan subur dan
bakteri pathogen mati.

B. SARAN

Penulis menyadari bahwa makalah jauh dari kata sempurna, maka dari itu bagi pembaca yang
mempunyai kritik dan saran yang bersifat membangun kesempurnaan makalah ini sangat penulis
harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

Bobak.(2004).Buku ajar keperawatan maternitas.Edisi 4.Jakarta :ECG


Manuaba, Ida Bagus.(2001).Ilmu kebidanan, Penyakit kandungan, dan keluarga berencana untuk
pendidikan bidan, Jakarta:ECG

Padjajaran, Universitas.(1981). Ginekologi. Bandung:Elstar Offset

Sinklair,C.C.R.,Webb,J.B.(1992)>Segi praktis ilmu kebidanan dan kandungan untuk


pemula.Jakarta:Binarupa Aksara.