Anda di halaman 1dari 6

PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN

BERPIKIR KREATIF DAN PENGUASAAN KONSEP SISWA PADA MATERI


LARUTAN PENYANGGA

Wiwin Wulandari, Liliasari, F.M. Titin Supriyanti


Jurusan Pendidikan Kimia, FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia

ABSTRACT

The purposes of this research are to increase creative thinking skills and concept mastery of
students in the material buffer solution using Problem Based Learning (PBL) model. The method
which is used quasi experiment method with one group pretest –posttest design. The research
subjects were 31 students in grade XI school stubs on one of the main international school in the
town of Cimahi, West Java. The techniques of data collection are done through a written test like 12
essay question, student worksheets, student questionnaires and teacher interviews. The data is
analyzed by statistical tests using SPSS version 16.00 and a descriptive analysis. The results
showed that the learning process according with 5 stages in the PBL model; over all creative
thinking skills and concept mastery increased significantly with the average N-gain = 0.61;
indicators of creative thinking skills that experienced the highest increasing is “elaboration”, N-gain
= 0,70; label concepts that experienced the highest increasing is the calculation of pH buffer
solution, N-gain=0.86 and PBL model got a positive response from teachers and students.

Keywords: buffer solution, creative thinking skills, concepts mastery, problem based learning

PENDAHULUAN masalah secara kreatif.


Adanya tuntutan era globalisasi yang Salah satu hal yang dapat dijadikan
semakin maju dan kompleks, proses alasan rendahnya kualitas pendidikan di
pendidikan sains harus mempersiapkan Indonesia adalah lemahnya proses
peserta didik yang berkualitas yaitu peserta pembelajaran. Otak siswa dipaksa untuk
didik yang sadar sains (scientific literacy), mengingat dan menimbun berbagai informasi
memiliki nilai, sikap dan keterampilan tanpa dituntut memahami informasi yang
berpikir tingkat tinggi (higher order thinking diingatnya itu. Akibatnya ketika anak didik
skills) sehingga akan muncul sumber daya lulus dari sekolah, mereka pintar secara
manusia yang dapat berpikir kritis, berpikir teoritis tetapi mereka miskin aplikasi.
kreatif, membuat keputusan, dan Pendidikan di sekolah terlalu menjajah otak
memecahkan masalah [1]. mereka untuk menghafal bahan ajar. Fungsi
dari pendidikan adalah untuk membantu siswa
Salah satu keterampilan berpikir tingkat
dalam mengkonstruksi pengetahuan sendiri
tinggi yang dapat dikembangkan adalah
tentang dunia dibandingkan hanya pasif
berpikir kreatif. Keterampilan berpikir kreatif
menerima informasi [2].
merupakan salah satu modal dasar yang harus
dimiliki dalam menghadapi era globalisasi ini. Berdasarkan hasil observasi di salah satu
Keterampilan berpikir kreatif dapat diajarkan SMA Negeri di kota Cimahi dan Bandung,
di sekolah dengan melatih pola/kebiasaan bahwa berpikir kreatif merupakan suatu hal
berpikir (habits of mind). Pola berpikir yang yang jarang sekali diperhatikan dalam
dimaksud adalah kecakapan menggali dan pembelajaran kimia, padahal belajar IPA sarat
merumuskan informasi, mengolah, akan kegiatan berpikir, salah satu berpikir
mengambil keputusan serta memecahkan yang dapat dikembangkan adalah berpikir
116
Wiwin Wulandari, Liliasari, F.M. Titin Supriyanti, Problem Based Learning untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir
Kreatif dan Penguasaan Konsep Siswa pada Materi Larutan Penyangga 117

tingkat tinggi[1]. Kegiatan pembelajaran Based Learning untuk Meningkatkan


didominasi oleh guru yang menyampaikan Keterampilan Berpikir Kreatif dan
materi pembelajaran dengan metode ceramah. Penguasaan Konsep Siswa pada Materi
Sementara itu, siswa hanya memperhatikan Larutan Penyangga”.
dan cenderung pasif tanpa banyak terlibat
dalam kegiatan pembelajaran serta lebih
METODE PENELITIAN
banyak berperan sebagai penerima informasi
dari guru. Metode penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode quasi experiment
Salah satu model pembelajaran yang
(eksperimen semu) dengan desain penelitian
dapat mengatasi permasalahan tersebut adalah
yang digunakan adalah one group pretest-
penerapan model PBL [3]. PBL merupakan
posttest design. Subjek penelitian ini sebanyak
suatu model yang mengkolaborasikan
31 siswa di salah satu RSBI di kota Cimahi.
problem solving dan penemuan konsep secara
Instrumen yang digunakan adalah soal uraian
mandiri. Model ini dirasakan tepat karena
bebas, lembar kerja siswa, angket, pedoman
keterampilan berpikir kreatif akan muncul
wawancara dan lembar observasi PBL.
apabila didukung oleh suasana belajar yang
berpusat pada siswa, sehingga siswa bebas
mengemukakan gagasan-gagasan yang timbul
HASIL DAN PEMBAHASAN
dari dalam dirinya serta lingkungan belajar
yang mendukung peran aktif siswa pada 1. Karakteristik Model Problem Based
pembelajaran tersebut. Tahapan PBL sangat Learning (PBL)
mendukung untuk pencapaian keterampilan Model PBL yang dilaksanakan sesuai
berpikir kreatif siswa dan telah banyak teruji tahapan PBL. Tahap orientasi masalah, siswa
di berbagai negara [3]. dikelompokkan untuk merumuskan masalah
Selain keterampilan berpikir kreatif yang dari artikel permasalahan tentang larutan
dikembangkan, penguasaan konsep tidak bisa penyangga, KBK yang dikembangkan adalah
dipisahkan dalam proses pembelajaran karena fluency dan flexibility; tahap
penguasaan konsep merupakan tujuan inti dari mengorganisasikan siswa untuk belajar, siswa
suatu pembelajaran [4]. Siswa selama merancang suatu percobaan, KBK yang
mengikuti sintaks PBL sangat aktif dan dikembangkan adalah fluency, elaboration,
memenuhi rasa ingin tahunya untuk dan originality; tahap penyelidikan individu,
menyelesaikan masalah, sehingga siswa dapat siswa melakukan percobaan, KBK yang
terlibat aktif dalam proses perolehan dikembangkan adalah fluency, elaboration
informasi dan membangun pengetahuan dan flexibility; tahap mengembangkan dan
mereka sendiri, yang artinya siswa dapat menyajikan hasil karya, siswa
membangun konsepnya sendiri atau dikenal mempresentasikan hasil karya, KBK yang
sebagai teori konstruktivisme [5]. dikembangkan adalah fluency dan originality;
tahap menganalisis dan mengevaluasi proses
Tidak semua topik pembelajaran kimia
pemecahan masalah, siswa melakukan diskusi
dapat disampaikan dengan model
kelas, KBK yang dikembangkan adalah
pembelajaran PBL. Bahan kajian larutan
fluency. Setiap tahapan PBL mengembangkan
penyangga dirasa tepat menggunakan model
keterampilan berpikir kreatif (KBK) dan
PBL karena konsep larutan penyangga sangat
penguasaan konsep.
dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat
menjadi “problem” dalam tahapan 2. Peningkatan Keterampilan Berpikir
pembelajaran PBL, yang akan Kreatif Siswa
mengembangkan keterampilan berpikir kreatif a. Peningkatan Keterampilan Berpikir Kreatif
dan penguasaan konsep, karena dalam proses Siswa secara Keseluruhan
PBL, siswa sendiri yang akan menemukan
konsep dan membangunnya. Keterampilan berpikir kreatif siswa
secara keseluruhan meningkat secara
Berdasarkan latar belakang tersebut,
maka judul penelitian ini adalah “Problem
118 Jurnal Pengajaran MIPA, Volume 16, Nomor 2, Oktober 2011, hlm. 116-121

signifikan, dengan N-gain sebesar 0,61, yaitu Pada soal pretes-postes menghasilkan N-
kategori sedang. gain sebesar 0,38, kategori sedang.
Peningkatan ini didukung dengan
Peningakatan ini terjadi karena PBL tidak ketercapaian indikator flexibility pada LKS
dirancang untuk membantu guru memberikan 78% yang artinya lebih dari separuh siswa
informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa, dikelas menguasai keterampilan berpikir
melainkan membantu siswa untuk kreatif pada indikator flexibility. Peningkatan
mengembangkan keterampilan berpikir, flexibility pada soal pretes dan postes adalah
pemecahan masalah, dan keterampilan terrendah diantara indikator lain, walaupun
intelektual [3]. Salah satu langkah untuk masih dalam rentang kategori sedang. Hal ini
mengajarkan berpikir kreatif dan terjadi karena siswa kurang mampu
meningkatkan daya berpikir kreatif pada menggolongkan komponen penyangga
siswa adalah memberikan ruang bagi para kedalam penyangga asam atau basa dan
siswa untuk mengekspresikan daya berpikir menafsirkan grafik titrasi asam-basa.
kreatif mereka. Salah satu rancangan model Kesulitan siswa dalam berpikir luwes dalam
pembelajaran yang menciptakan ruang untuk menggolongkan hal-hal menuju kategori
siswa berpikir secara kreatif adalah PBL [6]. berbeda, karena siswa masih mengalami
kebingungan dalam memahami asam/basa
b. Peningkatan Keterampilan Berpikir Kreatif
konjugasi dengan garam, karena pengetahuan
Siswa pada Masing-masing Indikator
prasyarat mereka tentang asam basa Bronsted-
1) Keterampilan Berpikir Lancar (Fluency) Lowry tidak cukup difahami dalam proses
penyelesaian masalah.
Siswa yang memiliki keterampilan
berpikir lancar akan memberikan jawaban Kemudian kesulitan siswa dalam
yang lengkap dan semakin banyak jawaban menafsirkan grafik adalah ketika proses PBL,
yang diberikan, maka semakin lancar siswa siswa diajarkan untuk berpikir luwes dengan
tersebut dalam berpikir. Pada soal pretes- menafsirkan suatu artikel permasalahan pada
postes menghasilkan N-gain sebesar 0,67, LKS, tetapi pada soal siswa harus
kategori sedang. Peningkatan ini didukung menafsirkan grafik. Siswa cukup mudah
oleh ketercapaian indikator fluency pada LKS dalam menafsirkan masalah dari artikel
96,5 % yang artinya hampir seluruh siswa permasalahan yang berupa cerita. Oleh sebab
dikelas menguasai keterampilan berpikir itu, ketika siswa harus berpikir luwes untuk
kreatif pada indikator fluency. Data tersebut menafsirkan grafik bukan cerita pada soal,
menunjukan bahwa siswa telah mampu siswa cukup kebingungan karena siswa
berpikir divergen yaitu menghasilkan kurang tidak terbiasa membaca grafik dan
pemikiran dengan banyak gagasan [7]. menafsirkannya, karena proses pembelajaran
yang biasa mereka lakukan tidak terlalu
Hal ini terjadi karena ketika proses PBL menekankan menyelesaikan soal yang
berlangsung, siswa sangat antusias dalam mengharuskan membaca grafik.
mencari masalah dari artikel permasalahan
dan mencoba mencari penyelesaian dari 3) Keterampilan Berpikir Merinci
masalah tersebut dengan langsung melakukan (Elaboration)
koneksi internet di kelas. Hal ini didukung Pada soal pretes-postes, peningkatan
dari hasil wawancara guru, bahwa siswa di keterampilan berpikir kreatif yang paling
sekolah tempat penelitian merupakan siswa tinggi terjadi pada indikator elaboration yaitu
pilihan dengan hasil seleksi yang ketat sebagai enghasilkan N-gain 0,70. Peningkatan ini
tahapan penerimaan siswa baru di sekolah didukung oleh ketercapaian indikator
RSBI dengan fasilitas yang mendukung elaboration pada LKS yaitu 86%, yang
proses pembelajaran. Disamping itu, hampir artinya hampir seluruh siswa memiliki
seluruh tahapan PBL yang dilakukan lebih keterampilan berpikir kreatif indikator
banyak mengembangkan keterampilan elaboration. Hal ini terjadi karena ketika
berpikir lancar. proses PBL, siswa menemukan penyelesaian
2) Keterampilan Berpikir Luwes (Flexibility) masalah dari artikel permasalahan dan hanya
mengetahui rumus larutan penyangga saja,
Wiwin Wulandari, Liliasari, F.M. Titin Supriyanti, Problem Based Learning untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir
Kreatif dan Penguasaan Konsep Siswa pada Materi Larutan Penyangga 119

tetapi siswa mempunyai motivasi yang tinggi kurang percaya diri akan hasil pemikiran
dan pemikiran bahwa kimia identik dengan sendiri sehingga siswa akan mencari
hitungan. Hal ini sejalan dengan hasil persamaan dengan kelompok lain atau buku
wawancara kepada beberapa siswa dan untuk menguatkan kepercayaan dirinya akan
penyebaran angket, mereka cenderung lebih kebenaran rancangan percobaan yang
suka menjawab soal hitungan dibandingkan dibuatnya. Oleh sebab itu, peningkatan
bacaan karena pembelajaran yang mereka indikator keterampilan berpikir kreatif pada
biasa lakukan adalah mengerjakan latihan soal soal pretes dan postes menjadi cukup rendah
dibandingkan memahami aplikasi atau diantara indikator lain. Data tersebut didukung
bacaan-bacaan yang bersifat mengingat. juga dari hasil angket siswa, bahwa 82,76%
yang artinya hampir seluruh siswa dikelas
Berdasarkan persentase pada LKS
belum pernah merancang prosedur percobaan
keterampilan berpikir kreatif siswa
sendiri.
elaboration, hampir seluruh siswa menguasai
keterampilan berpikir kreatif indikator
elaboration. Hal tersebut ditunjukkan dengan 3. Peningkatan Penguasaan Konsep
siswa dapat membuat prosedur praktikum
a. Penguasaan Konsep Secara Keseluruhan
untuk menyelesaikan masalah, siswa dapat
memerinci tujuan, alat dan bahan, langkah- Data peningkatan penguasaan konsep
langkah percobaan, tabel pengamatan, analisis secara keseluruhan sama dengan peningkatan
data dan kesimpulan. Hal ini menunjukan keterampilan berpikir kreatif siswa, karena
bahwa siswa telah faham dalam membuat instrumen soal yang digunakan adalah sama.
suatu prosedur percobaan, karena Soal tersebut disusun berdasarkan indikator
pembelajaran biasanya siswa selalu membuat keterampilan berpikir kreatif yang disesuikan
jurnal praktikum sebelum memasuki dengan konsep larutan penyangga.
laboratorium. Hal tersebut yang mendukung Hal ini membuktikan model PBL dapat
dalam peningkatan keterampilan berpikir meningkatkan penguasaan konsep siswa
kreatif siswa indikator elaboration bahwa secara signifikan. Peningkatan ini terjadi
siswa terlatih untuk merinci jawaban dengan karena tahapan PBL ini menunjang siswa
melakukan hal-hal detail seperti dalam dalam membangun konsepnya sendiri atau
mengerjakan soal hitungan ataupun dikenal sebagai teori konstruktivisme
merancang suatu percobaan. sehingga penguasaan konsep siswa akan lebih
4) Keterampilan Berpikir Orisinal terkuasai karena siswa sendiri yang
(Originality) menemukan konsep dan membangunnya [3].
Piaget yang mengemukakan bahwa siswa
Pada soal pretes-postes menghasilkan N-
yang secara aktif terlibat dalam proses
gain sebesar 0,48,kategori sedang.
perolehan informasi dan membangun
Peningkatan ini didukung oleh ketercapaian
pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan
indikator originality pada LKS 50% yang
tidak statis tetapi secara terus menerus tumbuh
artinya hanya separuh siswa di kelas
dan membangun pengetahuan awal mereka
menguasai keterampilan berpikir orisinal. Hal
sendiri [8].
ini menunjukkan pembelajaran untuk
meningkatkan indikator originality cukup Seperti halnya Piaget, Vygotsky
sulit, karena pada soal LKS merupakan mengemukakan bahwa pembangunan konsep
penguasaan indikator terrendah. Siswa telah terjadi pada saat individu berhadapan dengan
terbiasa dengan pembelajaran yang mendikte pengalaman baru dan menantang. Ketika
siswa kepada buku, sehingga ide-ide mereka mereka berusaha untuk memecahkan masalah
tidak bisa berkembang. yang dimunculkan oleh pengalaman ini,
mereka berupaya mendapatkan pemahaman
Hal ini terbukti dari rancangan percobaan
dengan cara mengaitkan pengetahuan baru
yang dibuat siswa ketika proses pembelajaran
dengan pengetahuan awal yang telah
berlangsung tidak jauh berbeda dengan buku
dimilikinya dan membangun konsep baru [8].
sumber ataupun internet dengan penyusunan
kalimat yang tidak jauh berbeda. Siswa
120 Jurnal Pengajaran MIPA, Volume 16, Nomor 2, Oktober 2011, hlm. 116-121

Bruner mengatakan bahwa belajar pemikiran apakah asam/basa konjugasi


penemuan akan memiliki efek transfer yang memiliki fungsi yang sama atau tidak dengan
lebih baik artinya konsep-konsep yang telah garam pada komponen larutan penyangga.
dimiliki akan lebih mudah diterapkan pada Akhirnya, mereka tertukar dalam
situasi-situasi baru. Hal ini sesuai dengan memasangkan antara asam dengan basa
penerapan model PBL yang dilakukan, karena konjugasinya, basa dengan asam konjugasinya
sintaks PBL lebih menitikberatkan dan asam/basa dengan garamnya. Oleh sebab
pembelajaran student centered (berpusat pada itu, cukup banyak siswa yang mengalami
siswa) dan konsep yang diperolehnya berasal kesulitan dalam mengerjakan soal tersebut.
dari proses dalam menyelesaikan masalah Hal tersebut yang menyebabkan peningkatan
tersebut. penguasaan konsep pada label konsep 4 dan 5
yaitu komponen larutan penyangga dan
b. Peningkatan Penguasaan Konsep pada
golongan larutan penyangga menjadi paling
Masing-masing Label Konsep
rendah diantara label konsep yang lain yaitu
Label konsep larutan penyangga dibagi 0,28 dan 0,17.
menjadi 9 label konsep. Tujuh label konsep
menyatakan peningkatan pada kategori sedang
dan tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa KESIMPULAN
siswa setelah mengalami pembelajaran PBL
1. Karakteristik model PBL yang diterapkan
terjadi peningkatan pada hampir seluruh label
pada proses pembelajaran meliputi 5
konsep larutan penyangga.
tahap, yaitu orientasi siswa pada masalah,
Hal ini terjadi karena artikel siswa dikelompokkan untuk merumuskan
permasalahan yang digunakan dan cara masalah dari artikel permasalahan
penyelidikan siswa dalam menyelesaikan tentang larutan penyangga;
masalah pada proses pembelajaran PBL, lebih mengorganisasikan siswa untuk belajar,
menguasai label konsep pada pengertian, sifat, merancang suatu percobaan;
fungsi, prinsip kerja, aplikasi dan kapasitas penyelidikan individu/kelompok,
larutan penyangga. Tetapi data penelitian melakukan suatu percobaan di
menunjukkan bahwa konsep yang paling laboratorium; mengembangkan dan
dikuasai oleh siswa adalah perhitungan menyajikan hasil karya, presentasi;
larutan penyangga, yaitu menghasilkan N- menganalisis dan mengevaluasi proses
gain sebesar 0,86. Berdasarkan hasil pemecahan masalah, melakukan diskusi
wawancara dengan siswa, mereka kelas.
mengidentikkan kimia dengan mata pelajaran
hitungan, sehingga siswa lebih suka 2. Penerapan model Problem Based
mengerjakan soal hitungan dibandingkan Learning terbukti meningkatkan
dengan soal bacaan, karena proses keterampilan berpikir kreatif siswa pada
pembelajaran yang biasa dilakukan siswa materi larutan penyangga secara
adalah dengan latihan soal dan metode signifikan, dengan rata-rata N-gain=0,61.
ceramah, sedangkan untuk aplikasi serta
materi yang bersifat bacaan, siswa 3. Profil peningkatan keterampilan berpikir
membacanya sendiri dan mereka akan cepat kreatif siswa pada materi larutan
lupa. penyangga menunjukkan indikator
elaboration memiliki peningkatan yang
Kemudian untuk 2 konsep lainnya, yaitu
paling tinggi dengan N-gain=0,70,
mengenai komponen dan golongan larutan
kemudian fluency, originality dan
penyangga merupakan penguasaan konsep
flexibility dengan N-gain secara
yang paling rendah. Hal ini terjadi karena
berurutan yaitu 0,64, 0,48 dan 0,36.
pengetahuan prasyarat siswa yaitu materi
asam basa Bronsted-Lowry tidak cukup
4. Penerapan model Problem Based
dipahami, sehingga siswa masih bingung
Learning terbukti meningkatkan
dalam penggunaan istilah asam-basa
penguasaan konsep kimia pada materi
konjugasi dengan garam dan membuat
Wiwin Wulandari, Liliasari, F.M. Titin Supriyanti, Problem Based Learning untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir
Kreatif dan Penguasaan Konsep Siswa pada Materi Larutan Penyangga 121

larutan penyangga secara signifikan, 5. Ibu Ekowati Puji Rahayu, S.Pd, selaku
dengan rata-rata N-gain=0,61. Label guru kimia SMAN 2 Cimahi yang telah
konsep yang mengalami peningkatan memberikan dukungan moril selama
paling tinggi adalah perhitungan pH peneliti melakukan penelitian.
larutan penyangga dengan N-gain=0,86
dan paling rendah adalah golongan
larutan penyangga dengan N-gain=0,17. DAFTAR PUSTAKA
Liliasari, (2005). Membangun keterampilan
5. Tanggapan siswa dan guru mengenai berpikir manusia Indonesia melalui
Problem Based Learning yang diterapkan pendidikan sains. Pidato Pengukuhan
sangat positif yaitu dapat meningkatkan Guru Besar Tetap dalam Ilmu
keterampilan berpikir kreatif dan Pendidikan IPA. Universitas Pendidikan
penguasaan konsep siswa pada materi Indonesia.
larutan penyangga.
Mc Donnell,Claire.et al. (2007). Developing
practical chemistry skills by means of
UCAPAN TERIMAKASIH student driven problem based learning
mini-projects. Journal of Chemistry
1. Ibu Prof. Dr. Liliasari, M.Pd., selaku
Education Research and Practice, vol
dosen pembimbing I yang telah bersedia
8(2), p.130-139.
meluangkan waktu untuk membimbing,
memotivasi, mengoreksi, dan Tan, Oon Seng. (2009). Problem Based
mengarahkan penulis. Learning and Creativity. Singapore:
Cengage Learning Asia Pte Ltd
2. Ibu Titin Supriyanti, M.Si., selaku dosen Dahar, R. (1989). Teori-teori Belajar. Jakarta:
pembimbing II yang juga telah bersedia Erlangga.
meluangkan waktu untuk membimbing,
memberikan saran, dan petunjuk pada Amir, M.Taufiq. (2009). Inovasi Pendidikan
penulis. Melalui Problem Based Learning.
Jakarta : Prenada Media Group.
3. Bapak Budiman Anwar, M.Si, selaku Filsaime, D.K. (2008). Menguak Rahasia
dosen pembimbing akademik yang telah Kritis dan Kreatif. Jakarta: Prestasi
memberikan bimbingan dan arahan Pustaka Publisher
selama mengikuti perkuliahan di Jurusan
Pendidikan Kimia. Munandar,S.C.U.(1999). Mengembangkan
Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah.
4. Bapak Dr. Ijang Rohman, M.Si selaku Jakarta: Gramedia Widiasarana
Ketua Jurusan Pendidikan Kimia, Bapak Indonesia.
Yayan Sunarya, M.Si selaku sekretaris
Jurusan Pendidikan Kimia yang telah Ibrahim , M dan M. Nur. (2005).
memberikan bantuan dan petunjuk dalam Pembelajaran Berdasarkan Masalah.
penelitian ini. Surabaya: UNESA-University Press.