Anda di halaman 1dari 40

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian

Apendiksitis adalah radang apendiks, suatu tambahan seperti kantung yang tak

berfungsi terletak pada bagian inferior dzri sekum. Penyebab yang paling umum

dari apendisitis adalah abstruksi lumen oleh feses yang akhirnya merusak suplai

aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi (Wilson & Goldman,

1989).

Apendiksitis merupakan penyakit prototip yang berlanjut melalui peradangan,

obstruksi dan iskemia di dalam jangka waktu bervariasi (Sabiston, 1995).

Apendiksitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran

bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen

darurat (Smeltzer, 2001).

Appendicitis merupakan peradangan yang terjadi pada appendicitis

vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering.

Appendicitis disebut juga umbai cacing. Istilah usus buntu yang selama ini

dekenal dan digunakan masyarakat kurang tepat, karena yang merupakan usus

buntu sebenarnya adalah sekum. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti apa

fungsi apendiks sebenarnya. Appendicitis akut adalah radang apendiks. Ini dapat

disebabkan kerena infeksi atau obstruksi pada apendiks. Obstruksi meyebabkan

apendiks menjadi bengkak dan mudah diinfeksi oleh bakteri. Jika diagnosis
lambat ditegakkan, dapat terjadi rupture pada apendiks. Sehingga akibatnya

terjadi Peritonitis atau terbentuknya abses disekitar apendiks ( Mansjoer et.al.,

2005;Sjamsuhidajat et.al., 2005;Yopi Simargi et al., 2008 ).

B. Etiologi

1. Menurut Mansjoer,2000

a. Hiperflasia folikel limfoid.

b. Fekalit.

c. Benda asing.

d. Striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya.

e. Neoplasma.

2. Menrut Syamsu hidayat, 2004

a. Fekalit/massa fekal padat karena konsumsi diet rendah serat.

b. Tumor apendiks.

c. Cacing ascaris.

d. Erosi mukosa apendiks karena parasit E. Histolytica.

e. Hiperplasia jaringan limfe.

3. Menurut Maekum, 2000

a. Fekolit

b. Parasit

c. Hiperplasia limfoid

d. Stenosis fibrosis akibat radang sebelumnya

e. Tumor karsinoid
Appendicitis umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai

faktor pencetus. Diantaranya adalah obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks.

Obstruksi ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras (fekalit),

hyperplasia jaringan limfoid, tumor apendiks, benda asing dalam tubuh dan cacing

askaris dapat pula menyebabkan terjadinya sumbatan. Namun, diantara penyebab

obstruksi lumen yang telah disebutkan di atas, fekalit dan hyperplasia jaringan limfoid

merupakan penyebab obstruksi yang paling sering terjadi. Penyebab lain yang diduga

menimbulkan apendisitis adalah ulserasi mukosa apendiks oleh parasit E. histolytica.

Adanya obstruksi mengakibatkan mucin atau cairan mucosa yang diproduksi tidak dapat

keluar dari apendiks, hal ini akan semakin meningkatkan tekanan intraluminal sehingga

menyebabkan tekanan intra mucosa juga semakin tinggi. Tekanan yang tinggi akan

menyebabkan infiltrasi kuman ke dinding apendiks sehingga terjadi peradangan supuratif

yang menghasilkan pus atau nanah pada dinding apendiks. Selain infeksi, appendicitis

juga dapat disebabkan oleh penyebaran infeksi dari organ lain yang kemudian menyebar

secara Hematogen ke apendiks (Mansjoer et.al., 2005 ; Sjamsuhidajat et.al., 2005 ; Yopi

Simargi et al., 2008 ).

C. Patofisiologi

1. Proses Perjalanan Penyakit

Apendiksitis biasa disebabkan oleh adanya penyumbatan lumen apendiks oleh

hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat

peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Feses yang terperangkap dalam lumen apendiks

akan menyebabkan obstruksi dan akan mengalami penyerapan air dan terbentuklah
fekolit yang akhirnya sebagai kausa sumbatan. Obstruksi yang terjadi tersebut

menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Semakin lama

mukus semakin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan

sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan tersebut akan

menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi

mukus. Pada saat ini terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.

Sumbatan menyebabkan nyeri sekitar umbilicus dan epigastrium, nausea, muntah. invasi

kuman E Coli dan spesibakteroides dari lumen ke lapisan mukosa, submukosa, lapisan

muskularisa, dan akhirnya ke peritoneum parietalis terjadilah peritonitis lokal kanan

bawah.Suhu tubuh mulai naik.Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus

meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan

bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai

peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di area kanan bawah. Keadaan ini

yang kemudian disebut dengan apendisitis supuratif akut.

Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark diding apendiks yang diikuti

dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang

telah rapuh pecah, akan menyebabkan apendisitis perforasi.

Bila proses tersebut berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak

ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis.

Peradangan apendiks tersebut akan menyebabkan abses atau bahkan menghilang.

Pada anak-anak karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding
apendiks lebih tipis. Keadaan demikian ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih

kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah

terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.

Tahapan Peradangan Apendisitis

1. Apendisitis akuta (sederhana, tanpa perforasi)

2. Apendisitis akuta perforate ( termasuk apendisitis gangrenosa, karena dinding

apendiks sebenarnya sudah terjadi mikroperforasi)

2. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis menurut Mansjoer, 2000 :

Keluhan apendiks biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilicus atau periumbilikus yang

berhubungan dengan muntah. Dalam 2-12 jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah,

yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. Terdapat juga keluhan

anoreksia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi,

tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual, dan muntah. Pada permulaan timbulnya penyakit

belum ada keluhan abdomen yang menetap. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen

bawah akan semakin progresif, dan denghan pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan

satu titik dengan nyeri maksimal. Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat

membantu menentukan lokasi nyeri. Nyeri lepas dan spasme biasanya juga muncul. Bila

tanda Rovsing, psoas, dan obturatorpositif, akan semakin meyakinkan diagnosa klinis.
Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri dari : Mual, muntah dan

nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di

perut sebelah atas atau di sekitar pusar, lalu timbul mual dan muntah. Setelah beberapa

jam, rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah. Jika dokter

menekan daerah ini, penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan,

nyeri bisa bertambah tajam. Demam bisa mencapai 37,8-38,8° Celsius.

Pada bayi dan anak-anak, nyerinya bersifat menyeluruh, di semua bagian perut. Pada orang

tua dan wanita hamil, nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak

terlalu terasa. Bila usus buntu pecah, nyeri dan demam bisa menjadi berat. Infeksi yang

bertambah buruk bisa menyebabkan syok.

3. Komplikasi

Menurut Hartman, dikutip dari Nelson, 1994 :

o Perforasi.

o Peritonitis.

o Infeksi luka.

o Abses intra abdomen.

o Obstruksi intestinum.
Menurut Mansjoer, 2000 :

Apendiksitis adalah penyakit yang jarang mereda dengan spontan, tetapi peyakit ini tidak

dapat diramalkan dan mempunyai kecenderungan menjadi progresif dan mengalami

perforasi. Karena perforasi jarang terjadi dalam 8 jam pertama, observasi aman untuk

dilakukan dalam masa tersebut.

Tanda-tanda perforasi meliputi meningkatnya nyeri, spasme otot dinding perut kuadran

kanan bawah dengan tanda peritonitis umum atau abses yang terlokalisasi, ileus, demam,

malaise, leukositosis semakin jelas. Bila perforasi dengan peritonitis umum atau

pembentukan abses telah terjadi sejak klien pertam akali datang, diagnosis dapat

ditegakkan dengan pasti.

Bila terjadi peritonitis umum terapi spesifik yang dilakukan adalah operasi untuk menutup

asal perforasi. Sedangkan tindakan lain sebagai penunjang : tirah baring dalam posisi

fowler medium, pemasangan NGT, puasa, koreksi cairan dan elektrolit, pemberian

penenang, pemberian antibiotik berspektrum luas dilanjutkan dengan pemberian antibiotik

yang sesuai dengan kultur, transfusi utnuk mengatasi anemia, dan penanganan syok septik

secara intensif, bila ada.

Bila terbentuk abses apendiks akan teraba massa di kuadran kanan bawah yang cenderung

menggelembung ke arah rektum atau vagina. Terapi dini dapat diberikan kombinasi
antibiotik (misalnya ampisilin, gentamisin, metronidazol, atau klindamisin). Dengan

sediaan ini abses akan segera menghilang, dan apendiktomi dapat dilakaukan 6-12 minggu

kemudian. Pada abses yang tetap progresif harus segera dilakukan drainase. Abses daerah

pelvis yang menonjol ke arah rektum atau vagina dengan fruktuasi positif juga perlu

dibuatkan drainase.

Tromboflebitis supuratif dari sistem portal jarang terjadi tetapi merupakan komplikasi yang

letal. Hal ini harus dicurigai bila ditemukan demam sepsis, menggigil, hepatomegali, dan

ikterus setelah terjadi perforasi apendiks. Pada keadaan ini diindikasikan pemberian

antibiotik kombinasi dengan drainase. Komplikasi lain yang terjadi ialah abses subfrenikus

dan fokal sepsis intraabdominal lain. Obstruksi intestinal juga dapat terjadi akibat

perlengketan.

D. Penatalaksaan Medis

Penatalaksanaan apendiksitis menurur Mansjoer, 2000 :

1. Sebelum operasi

o Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi

o Pemasangan kateter untuk control produksi urin.

o Rehidrasi

o Antibiotic dengan spectrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara intravena.

o Obat-obatan penurun panas, phenergan sebagai anti menggigil, largaktil untuk

membuka pembuluh – pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi

tercapai.
o Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi.

2. Operasi

o Apendiktomi.

o Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforasi bebas,maka abdomen

dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika.

o Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV,massanya mungkin mengecil,atau

abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari.

Apendiktomi dilakukan bila abses dilakukan operasi elektif sesudah 6 minggu

sampai 3 bulan.

3. Pasca operasi

o Observasi TTV.

o Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan lambung

dapat dicegah.

o Baringkan pasien dalam posisi semi fowler.

o Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selama pasien

dipuasakan.

o Bila tindakan operasilebih besar, misalnya pada perforasi, puasa dilanjutkan

sampai fungsi usus kembali normal.


o Berikan minum mulai15ml/jam selama 4-5 jam lalu naikan menjadi 30 ml/jam.

Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya diberikan makanan

lunak.

o Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur

selama 2x30 menit.

o Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar.

o Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.

Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif yang ditandai

dengan :

o Keadaan umum klien masih terlihat sakit, suhu tubuh masih tinggi

o Pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas terdapat

tanda-tanda peritonitis

o Laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat pergeseran

ke kiri.

Sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan segera setelah klien dipersiapkan, karena

dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. Persiapan dan pembedahan

harus dilakukan sebaik-baiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tiggi daripada

pembedahan pada apendisitis sederhana tanpa perforasi.

Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang telah mereda ditandai dengan :
o Umumnya klien berusia 5 tahun atau lebih.

o Keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit, suhu tubuh tidak tinggi

lagi.

o Pemeriksaan lokal abdomen tidak terdapat tanda-tanda peritonitis dan hanya

teraba massa dengan jelas dan nyeri tekan ringan.

o Laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal.

Tindakan yang dilakukan sebaiknya konservatif dengan pemberian antibiotik dan

istirahat di tempat tidur. Tindakan bedah apabila dilakukan lebih sulit dan perdarahan

lebih banyak, lebih-lebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak

serangan sakit perut.Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses

dengan atau tanpa peritonitis umum.

E. Pengkajian Keperawatan

Menurut Betz, Cecily, 2000 :

o Sakit, kram di daerah periumbilikus menjalar ke kuadran kanan bawah


o Anoreksia
o Mual
o Muntah,(tanda awal yang umum, kuramg umum pada anak yang lebih besar).
o Demam ringan di awal penyakit dapat naik tajam pada peritonotis.
o Nyeri lepas.
o Bising usus menurun atau tidak ada sama sekali.
o Konstipasi.
o Diare.
o Disuria.
o Iritabilitas.
o Gejala berkembang cepat, kondisi dapat didiagnosis dalam 4 sampai 6 jam
setelah munculnya gejala pertama.
Manifestasi klinis menurut Mansjoer, 2000 :

Keluhan apendiks biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilicus atau

periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2-12 jam nyeri akan beralih

ke kuadran kanan bawah, yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk.

Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi.

Biasanya juga terdapat konstipasi, tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual, dan

muntah. Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang

menetap. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen bawah akan semakin progresif,

dan denghan pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan nyeri

maksimal. Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat membantu menentukan

lokasi nyeri. Nyeri lepas dan spasme biasanya juga muncul. Bila tanda Rovsing,

psoas, dan obturatorpositif, akan semakin meyakinkan diagnosa klinis.

Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri dari : Mual, muntah

dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Nyeri bisa secara mendadak

dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar pusar, lalu timbul mual dan muntah.

Setelah beberapa jam, rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian

bawah. Jika dokter menekan daerah ini, penderita merasakan nyeri tumpul dan jika

penekanan ini dilepaskan, nyeri bisa bertambah tajam. Demam bisa mencapai 37,8-

38,8° Celsius.
F. Pengakajian keperawatan

Pemeriksaan menurut Betz (2002), Catzel(1995), Hartman(1994), antara lain :

1. Anamnesa

Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese, ada 4 hal yang penting adalah :

o Nyeri mula-mula di epigastrium (nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian

menjalar ke perut kanan bawah.

o Muntah oleh karena nyeri viseral.

o Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus).

o Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita nampak sakit,

menghindarkan pergerakan, di perut terasa nyeri.

Pemeriksaan fisik

 Inspeksi : pada apendisitis akut sering ditemukan adanya abdominal swelling, sehingga

pada pemeriksaan jenis ini biasa ditemukan distensi perut.

 Palpasi : pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan terasa nyeri. Dan bila

tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci

diagnosis dari apendisitis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada

perut kanan bawah. Ini disebut tanda Rovsing ( Rovsing Sign ). Dan apabila tekanan di
perut kiri bawah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan bawah. Ini disebut

tanda Blumberg ( Blumberg Sign ).

 Pemeriksaan colok dubur : pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis, untuk

menentukan letak apendiks, apabila letaknya sulit diketahui. Jika saat dilakukan

pemeriksaan ini dan terasa nyeri, maka kemungkinan apendiks yang meradang terletak

didaerah pelvis. Pemeriksaan ini merupakan kunci diagnosis pada apendiksitis pelvika.

 Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator : pemeriksaan ini juga dilakukan untuk

mengetauhi letak apendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan otot

psoas lewat hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan,

kemudian paha kanan ditahan. Bila apendiks yang meradang menempel di m. psoas

mayor, maka tindakan tersebut akan menimbulakan nyeri. Sedagkan pada uji obturator

dilakukan gerakan flexsi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Bila

apendiks yang meradang kontak dengan m.abturator internus yang

merupakan dinding panggul kecil, maka tindakan ini akan kenimbulkan nyeri.

Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis pelvika (Simpson et.al.,2006; Sjamsuhidajat

et.al., 2005 ; Zeller et.al., 2007).

Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologi pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa

apendisitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan

gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara
dan cairan. Kadang ada fecolit (sumbatan). pada keadaan perforasi ditemukan adanya

udara bebas dalam diafragma.

Laboratorium

Pemeriksaan darah : lekosit ringan umumnya pada apendisitis sederhana lebih dari

13000/mm3 umumnya pada apendisitis perforasi. Tidak adanya lekositosis tidak

menyingkirkan apendisitis. Hitung jenis: terdapat pergeseran ke kiri. Pemeriksaan urin :

sediment dapat normal atau terdapat lekosit dan eritrosit lebih dari normal bila apendiks

yang meradang menempel pada ureter atau vesika. Pemeriksaan laboratorium Leukosit

meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme

yangmenyerang.

Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi lagi. Hb

(hemoglobin) nampak normal. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan

apendisitis infiltrat. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.

Pemeriksaan Penunjang

 Laboratorium : terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan tes protein reaktif (CRP). Pada

pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.000 – 20.000/ml (

leukositosis ) dan neutrofil diatas 75 %, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum

yang meningkat 16
 Radiologi : terdiri dari pemeriksaan radiologis, ultrasonografi dan CT-scan. Pada

pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi

inflamasi pada apendiks. Sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang

menyilang dengan apendikalit serta perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi

serta adanya pelebaran sekum ( Mittal et.al.,2005; Zeller et.al., 2007).

• Rontgen foto polos, tidak spesifik, secara umum tidak cost effective. Kurang dari 5% pasien

akan terlihat adanya gambaran opak fekalith yang nampak di kuadran kanan bawah abdomen.

•USG : pada kasus appendicitis akut akan nampak adanya : adanya struktur yang aperistaltik,

blind-ended, keluar dari dasar caecum. Dinding apendiks nampak jelas, dapat dibedakan,

diameter luar lebih dari 6mm, adanya gambaran “target”, adanya appendicolith, adanya timbunan

cairan periappendicular, nampak lemak pericecal echogenic prominent.

• CT scan : diameter appendix akan nampak lebih dari 6mm, ada penebalan dinding appendiks,

setelah pemberian kontras akan nampak enhancement gambaran dinding appendix. CT scan juga

dapat menampakkan gambaran perubahan inflamasi periappendicular, termasuk diantaranya

inflammatory fat stranding, phlegmon, free fluid, free air bubbles, abscess, dan adenopathy

CT-Scan mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90 – 100% dan 96 – 97%,

serta akurasi 94 – 100%.

Ct-Scan sangat baik untuk mendeteksi apendiks dengan abses atau flegmon

Perbandingan pemeriksaan penunjanng apendisitis akut:

Ultrasonografi CT-Scan
Sensitivitas 85% 90 – 100%

Spesifisitas 92% 95 - 97%

Akurasi 90 – 94% 94 – 100%

Keuntungan Aman Lebih akurat

relatif tidak mahal Mengidentifikasi abses

dan flegmon lebih baik

Dapat mendignosis kelainanMengidentifikasi

lain pada wanita apendiks normal lebih

baik

Baik untuk anak-anak

Kerugian Tergantung operator Mahal

Sulit secara tehnik Radiasi ion

Nyeri Kontras

Sulit di RS daerah Sulit di RS daerah

Histopatologi

Pemeriksaan histopatologi adalah standar emas (gold standard) untuk diagnosis apendisitis

akut. Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai gambaran histopatologi apendisitis akut.

Perbedaan ini didasarkan pada kenyataan bahwa belum adanya kriteria gambaran histopatologi

apendisitis akut secara universal dan tidak ada gambaran histopatologi apendisitis akut pada

orang yang tidak dilakukan opersi Riber et al, pernah meneliti variasi diagnosis histopatologi

apendisitis akut (Yopi Simargi et al., 2008 ).

Definisi histopatologi apendisitis akut:


Sel granulosit pada mukosa dengan ulserasi fokal atau difus di

1 lapisan epitel.

2 Abses pada kripte dengan sel granulosit dilapisan epitel.

Sel granulosit dalam lumen apendiks dengan infiltrasi ke dalam

3 lapisan epitel.

Sel granulosit diatas lapisan serosa apendiks dengan abses

4 apendikuler,

dengan atau tanpa terlibatnya lapisan mukusa.

Sel granulosit pada lapisan serosa atau muskuler tanpa abses

5 mukosa dan

keterlibatan lapisan mukosa, bukan apendisitis akut tetapi

periapendisitis.

G. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh

inflamasi.

2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah .


H. Perencanaan Dan Pelaksanaan Keperawatan Keperawatan

1. Persiapan umum operasi

Hal yang bisa dilakukan oleh perawat ketika klien masuk ruang perawat sebelum
operasi :

a. Memperkenalkan klien dan kerabat dekatnya tentang fasilitas rumah sakit untuk
mengurangi rasa cemas klien dan kerabatnya (orientasi lingkungan).

b. Mengukur tanda-tanda vital.

c. Mengukur berat badan dan tinggi badan.

d. Kolaborasi pemeriksaan laboratorium yang penting (Ht, Serum Glukosa, Urinalisa).

e. Wawancara.

2. Persiapan klien malam sebelum operasi

Empat hal yang perlu diperhatikan pada malam hari sebelum operasi :

a. Persiapan kulit

kulit merupakan pertahanan pertama terhadap masuknya bibit penyakit. Karena

operasi merusak integritas kulit maka akan menyebabkan resiko terjadinya ifeksi.

Beberapa ahli bedah lebih menyukai mencukur rambut karena bisa mengganggu

prosedur operasi.

b. Persiapan saluran cerna

Persiapan kasus yang dilakukan pada saluran cerna berguna untuk :

1. Mengurangi kemungkinan bentuk dan aspirasi selama anestasi.

2. Mengurangi kemungkinan obstruksi usus.

3. Mencegah infeksi faeses saat operasi.


Untuk mencegah tiga hal tersebut dilakukan :

1. Puasa dan pembatasan makan dan minum.

2. Pemberian enema jika perlu.

3. Memasang tube intestine atau gaster jika perlu.

4. Jika klien menerimaanastesi umum tidak boleh makan dan minum selama 8 – 10 jam

sebelum operasi : mencegah aspirasi gaster. Selang gastro intestinal diberikan malam

sebelum atau pagi sebelum operasi untuk mengeluarkan cairan intestinal atau gester.

c. Persiapan untuk anastesi

Ahli anastesi selalu berkunjunng pada pasien pada malam sebelum operasi untuk

melekukan pemeriksaan lengkap kardiovaskuler dan neurologis. Hal ini akan

menunjukkan tipe anastesi yang akan digunakan selama operasi.

d. Meningkatkan istirahat dan tidur

Klien pre operasi akan istirahat cukup sebelum operasi bila tidak ada gangguan fisik,

tenaga mentalnya dan diberi sedasi yang cukup.

3. Persiapan pagi hari sebelum operasi klien dibangunkan 1 (satu) jam sebelum obat-obatan

pre operasi :

1. Mencatat tanda-tanda vital

2. Cek gelang identitas klien

3. Cek persiapan kulit dilaksanakan dengan baik


4. Cek kembali instruksi khusus seperti pemasangan infus

5. Yakinkan bahwa klien tidak makan dalam 8 jam terakhir

6. Anjurkan klien untuk buang air kecil

7. Perawatan mulut jika perlu

8. Bantu klien menggunakan baju RS dan penutup kepala

9. Hilangkan cat kuku agar mudah dalam mengecek tanda-tanda hipoksia lebih mudah.

4. Interpesi pre operasi

1. Obsevasi tanda-tanda vital

2. Kaji intake dan output cairan

3. Auskultasi bising usus

4. Kaji status nyeri : skala, lokasi, karakteristik

5. Ajarkan tehnik relaksasi

6. Beri cairan intervena

7. kaji tingkat ansietas

8. Beri informasi tentang proses penyakit dan tindakan

5. Intervensi post operasi

1. Observasi tanda-tanda vital

2. Kaji skala nyeri : Karakteristik, skala, lokasi

3. Kaji keadaan luka


4. Anjurkan untuk mengubah posisi seperti miring ke kanan, ke kiri dan duduk.

5. Kaji status nutrisi

6. Auskultasi bising usus

7. Beri informasi perawatan luka dan penyakitnya.

I. Evaluasi Keperawatan

a. Gangguan rasa nyaman teratasi

b. Tidak terjadi infeksi

c. Gangguan nutrisi teratasi

d. Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan teratasi

Klien memahami tentang perawatan dan penyakitnya

e. Tidak terjadi penurunan berat badan

f. Tanda-tanda vital dalam batas normal


BAB III

TINJAUAN KASUS

Pada Bab ini penulis melaporkan kasus yang ditemui penulis dilahan praktek

yaitu Rumah Sakit CiptoMangunkusumo, Jakarta. Dimana pengkajian dilkukan pada

tanggal 02 Juni 20I0.

A. Pengkajian Keperawatan

1. Identitas klien

Nama klien Nn.D, dengan jenis kelemin perempuan, berusia 20 tahun, belum

menikah, beragama Islam dari suku jawa, saat ini kuliah di sebuah umiversitas

swasta di Jakarta, alamat Bekasi, Jawa Barat. Sumber informasi diperoleh dari

klien, keluarga, dan status pasien.

2. Resume

Menurut klien dan keluarga, satu hari sebelum masuk Rumah Sakit klien

mengeluhnyeri perut bagian kanan bawah, nyeri menyebar disebelah atas /

sekitaer pusar, mual dan muntah, nyeri tekan perut dikanan bawah. Suhu pasien

febris hingga 38 derajat, leukosit I4,800 u/l, pada tanggal Juni 20I0 dilakukan

appendiktomi pukul 0I.25


3. Riwayat keperawatan

Dari hasil pengkajian dengan klien diperoleh data bahwa saat ini klien mengeluh

nyeri pada luka operasi, klien tampak meringis dan lemah. Menurt klien

sebelumya belum pernah mengalami operasi appendiktomidan dikluarga tidak ada

yang mengalami penyakit sama denga klien. Menurut klien , tidak penha memiliki

alergi tidak ada alergi terhadap obat – obatan, makanan ataupun antibiotic

tertentu. Riwayat kesehatan keluarga akan digambarkan dan dijabarka oleh

penulis dengan genogram.

Riwayat psikokososial klien dan spioritual klien antara lain: klien memiliki orang

terdekat yaitu ibu klien, system komunikasi yang digunakan dengan komunikasi

terbuka dimana klien selalu menceritak apapun yang klien keluhkan kepada

ibunya. Di dalam keluarga pengambilan keputusan dilakukan denga system

musyawarahdan pengambilan keputusa dilakukan oleh ayah klien. Mekanisme

koping yang digunakan klien dalam menerima kondisi penyakitnya dengann cara

diam dan tampak stress, klien berharap bisa cepat sembuh dan dapat beraktifitas

seperti semula. Klien merasakan banyak mengalamai perubahan selam sakit

dibandingkan ketika klien sehat antara lain:dari pola nutrisi< klien mengatakan

nafsu makan berkurang serta frekuensi makan yang menurun. Sebelum sakit klien

makam 3X sehari dengan nafsu makan yang baik tidak ada mual ataupun muntah .

setelah sakit klien mengalami penurunan nafsu maka denga frekuensi makan yang

tidak menentu , kadang hanya I X sehari makan dan tidak habis satu porsi seta

serimh mual dan muntah ketika makan. Dari pola eliminasi klien juga mengalami

beberapa perubahan antara lain ;sebelum sakit biasanya klien BAK 4-5 X sehari (
tidak ada keluhan, warna jerih) dan BAB dengan frekuensi 1 X sehari setiap

pagi( tidak mengalami konstipasi, warna biasa, bau khas ), selama sakit klien

jarang BAK ( hanya 2X sehari) dan belum BAB sejak masuk rumah sakit. Selain

itu untuk personal Higiene, klien juga mengalami beberapa perubah, sebelum

sakit klien mandi dan gosokgigi 2Xsehari serta gugi rambut 2-3 Xseminggu.

Selam sakit klien hanya membersihakn dirinya dengan dlap / deseke oleh

ibumnya itupun hanya 1 X sehari. Klien tetap melakukan oral hygine sendiri.

Sejak masuk rumah sakit klien belum pernah keramas.klien juga mengalami

perubahan dalam pola tidur, sebelum sakit klien biasanya tidur malam 6 jam dan

memiliki kebiasaan tidut disiang hari namun semenjak masuk rumahsakit klien

banyak tidur namun tidak nyenyak sering terbangun karena suara – suara berisikdi

sekita bed klien.

4. Pengkajian Fisik

Dari hasil pengkajian disapatkan bahwa berat badan klien sebelum sakit 55 kg dan

setelah sakit 50kg, dengan tinngi badan 155 cm. darihasil observasi tanda – tanda

vital diperoleh Tekanan darah klien 120/70 mmHg, Nadi 85X/menit, frekuensi

nafas 20-22X/ mnt, dan suhu tubuh 37, derajat dengan keadaan umum sakit

sedang serta tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening.dalam pengkajian

system penglihatan tidak ditemukan masalah, klien tidak menggunakan alat bantu

penglihatan seperti kacamata ataupun lensa kontak.


5. Data penunjang

6. Penatalaksanaan

Therapi obat – obatan yang diberika kepada klien antara lain ; Ceftazidime 2X1gr

( antibiotic), Tramal 3X1 ampul, rantin 2X 1 ampul dan Transamin 3X500 mg.b

sedangakan therapy parenteral yang diberikan antara lain Asering 1 kolf/ 24 jam

dan Kaen Mg 3 1 kolf / 4 jam.. klien tidak diberika terapi enteral, karena post

operasi klien dipuasakan selam 6 jam hingga peristaltic perbaikan, rengana kakan

diberika diet nertahap.

7. Data focus

Penulis menemuka berapa data sunjektif dan objektif yang kemudian akn

dijadikan dasar dalam penetapan diagnose keperawatan. Data subjektif yang

diperoleh antaralain; klien mengeluh nyeri diarea luka post opersi, klien

mengatakan slake nyeri 7 ketika penulis menunjukkna nilai skala nyeri. Dari data

objektif diperoleh data antara lain terdapat luka post appendiktomi, kondisi luka

tampak masih basah , klien tampak lemah, TD 120/70, Nadi 85 X/mnt, hasil

laboratorium antara lain Hb = 0,1, Ht= 31,2 %, leukosit 5.800, albumin = 3.30,

natrium = 34 kalium=3,6, klien tampak meringis, klien masih dipuasakan, diet

bertahap sampai peristaltic perbaikan , klien tampak lemah, balance cairan

cm=1800 Ck= 1600, klien muntah dengsn volume 150 cc. Tampak terpasang

Aserimg 1 kolf, kaen Mg 3 1 kolf/ 24 jam.

8. Analisa data
Dari serangkaian pengkajian yang dilakukan diperoleh data focus yang kemudian

dirumuskan dalam analisa data antara lain; masalah keperawatan nyeri

berhubungan dengan luka post operasi. Dengan data objektif yang dipeoleh

klien mengeluh nyeri diarea luka post opersi, klien mengatakan slake nyeri 7

ketika penulis menunjukkna nilai skala nyeri. Dari data objektif diperoleh data

antara lain terdapat luka post appendiktomi, kondisi luka tampak masih basah ,

klien tampak lemah, TD 120/70, Nadi 85 X/mnt, hasil laboratorium antara lain

Hb = 0,1, Ht= 31,2 %, leukosit 5.800, albumin = 3.30, natrium = 34 kalium=3,6,

klien tampak meringis. Masalah keperawatan kedua yaitu kuranganya volume

cairan berhubunga dengan pembatasan cairan pasca operasi. Dengan data

objektif yang diperoleh , klien mengatakan haus dan bibirnya terasa kering karena

harus puasa sebelum dan sesudah operasi. Dan dari data objektif diperoleh data

antara lain klien masih dipuasakan, diet bertahap sampai peristaltic perbaikan ,

klien tampak lemah, balance cairan cm=1800 Ck= 1600, klien muntah dengsn

volume 150 cc. Tampak terpasang Aserimg 1 kolf, kaen Mg 3 1 kolf/ 24 jam.

9. Diagnosa Kepeawatan

Setelah dilakuakan analisa data diperoleh diagnosa keperawatan antaralain

Nyeri berhubungan dengan luka post operasi. Dengan data objektif yang

dipeoleh klien mengeluh nyeri diarea luka post opersi, klien mengatakan slake

nyeri 7 ketika penulis menunjukkna nilai skala nyeri. Dari data objektif diperoleh

data antara lain terdapat luka post appendiktomi, kondisi luka tampak masih

basah , klien tampak lemah, TD 120/70, Nadi 85 X/mnt, hasil laboratorium

antara lain Hb = 0,1, Ht= 31,2 %, leukosit 5.800, albumin = 3.30, natrium = 34
kalium=3,6, klien tampak meringis. Diagnosa keperawatan kedua yaitu

kuranganya volume cairan berhubunga dengan pembatasan cairan pasca

operasi. Dengan data objektif yang diperoleh , klien mengatakan haus dan

bibirnya terasa kering karena harus puasa sebelum dan sesudah operasi. Dan dari

data objektif diperoleh data antara lain klien masih dipuasakan, diet bertahap

sampai peristaltic perbaikan , klien tampak lemah, balance cairan cm=1800 Ck=

1600, klien muntah dengsn volume 150 cc. Tampak terpasang Aserimg 1 kolf,

kaen Mg 3 1 kolf/ 24 jam.

10. Perencanaan Keperawatan

Pada tahap ini penulis akan menguraiakan rencana asuhan keperawatan yang

disususn berdasarkan prioritas utama yang terdapat didalam skala penyusunan ,

masalah kesehatan yang diperoleh andalah sebagai berikut :

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka post operasi

Tujuan umum

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam rasa nyaman

nyeri teratasi.

Kriteria Hasil

Rasa nyaman nyeri teratasi, gejala – gejala yang menunjukkan nyeri

teratasi, tampak rileks.

Rencana Keperawatan :Obsevasi tanda-tanda vital, Kaji skala nyeri :

Karakteristik, skala, lokasi Kaji keadaan luka, Anjurkan untuk mengubah

posisi seperti miring ke kanan, ke kiri dan duduk,Kaji intake dan output

cairan,Auskultasi bising usus, Kaji status nyeri : skala, lokasi,


karakteristik,Ajarkan tehnik relaksasi.Beri cairan intervena kaji tingkat

ansietas, Beri informasi tentang proses penyakit dan tindakan

2. Kuranganya volume cairan berhubunga dengan pembatasan cairan pasca

operasi

Tujuan Umum

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama1 X 24 jam kebutuhan

cairan terpenuhi

Kriteria Hasil

Tidak tampak tanda – tanda dehidrasi, turgor kulit lembab.

Rencana Keperawatan

Kaji tanda – tanda vital, kaji tingkat kebutuhan cairan , berikan asupan

enteral dan pareteralsesuai kebutuhan klien, observasi balance cairan,

auskultasi bising usus, .kolaborasi pemberian obat- obbatan antipiretik,dan

anti emetic.

11. Implementasi

Implementasi dilakukan berdasarkan rencana keperawatan yang disususn

berdasarkan kebutuhan prioritas klien. Adapun implementasi yang dilakukan

untuk mengatasi masalah kesehatan yang dilakukan pada Nn. D antara lain

sebagai berikut:

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka post operasi


Tanggal pada diagnose ini dilkukan tindakan antara laian,

mengobdervasi tanda – tanda vital, mengobsevasi tanda-tanda vital,

mengkaji skala nyeri : Karakteristik, skala, lokasi Kaji keadaan luka,

menganjurkan untuk mengubah posisi seperti miring ke kanan, ke kiri dan

duduk,menkaji intake dan output cairan, mengauskultasi Auskultasi bising

usus, ,memberi informasi tentang proses penyakit dan tindakan.

2. Kuranganya volume cairan berhubunga dengan pembatasan cairan pasca

operasi.

Tanggal : :

mengkaji tanda – tanda vital, mengkaji tingkat kebutuhan cairan ,

memberikan asupan enteral dan pareteralsesuai kebutuhan klien,meng

observasi balance cairan, mengauskultasi bising usus, .mengkolaborasi

pemberian obat- obbatan antipiretik,dan anti emetic.

12. Evaluasi Keperawatan

a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka post operasi

Subjektif ; klien mengatakan nyeri sudah berkurang, klien mengatakan

sudah merasa nyaman, klien mengatak sudah dapat bergerak miring

kanan dan kiri secara perlahan.

Objektif: klien tampak tenang, tidak tampak tanda – tanda nyeri, posisi

tidur klien tampak nyaman.

A: masalah teratasi sebagian

P: Observasi kardiovaskuler, observasi tanda – tanda nyeri yang

ditimbulkan
b. Kuranganya volume cairan berhubungan dengan pembatasan cairan

pasca operasi.

Subjektif: kliem memgatan badabya sudah tidak terasa panan, klien

mengatakan tidak merasa haus,

Objektif: klien tampak tenang, turgor kulit tampaklembab, nukosa klien

tidak tampak kering

B. Diagnosa Keperawatan

C. Perencanaan, Pelaksanaan, Evaluasi Keperawatan


BAB IV

PEMBAHASAN

Dalam BAB ini penulis memaparka kesenjangan anatara teori dengan praktek , faaaktor

pendukung, dan factor pengambat dalam memberikan asuhan keperawatam . asuhan keperawatan

diatas menggunakan pendekatan proses kepearwatan meliputi pengkajian, diagnose keperawatan

, perencanaan imlpementasi dan evaluasi.

A. Pengkajian

Pasa tahap pengkajian ini penulis mengawali sengan memnbina hibungan saling percaya

dengan klien dan keluarga Nn. D, menyampaikan tujuan kemudian nenbuat kontrak

untuk melakukan pengkajian pada keluarga.

Pengkajaian yang dilakukan dengan metode wawancara, observasi, dan peneriksaan

fisik. Dari hasil pengkajian diperoleh masalah kepaerawatan yang sedang terjadi pada nn. D

yaitu gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka post operasi appediktoni dan

Kuranganya volume cairan berhubungan dengan pembatasan cairan pasca operasi. Faktor

yang mempengaruhi nasalah kesehatan tersebut adalah faktor ekonomi dan pola hidup klien.

Untuk faktor ekonomi klien nerupakan keluarga yang kurang mampu mencukupi kebutuhan

keluarga sedangkan untuk faktor pola hidup klien terbiasa dengan pola makam dan pola hidip

yang tidak terlalu memperhatikan masalah kesehatan diman setiap keluhan yang dirasakan

dianggap diasa saja. Tidak pernah segera neneriksakannya ke dokter ataupun pelayanan

kesehatan yang laian,. Factor pencetus tersebut sangatlah mempengaruhi terhadap kesehatan

Nn. D.
Factor yang mendukung pada data pengkajian adalah kerjasama yang baik dari Nn.

D dimana Nn. D dan keluarga sangatlah kooperatif, saat menjawab pertanyaan dari penulis.

Dalam hal ini terlihat adanya motifasi Nn. D untuk mangatasi masalah kesehatannya.

Factor penghambat dalam pengkajian Nn. D tampak bicara pelan karena nenahan

nyeri posdt operasi. Sehingga pengkajian tidak bisa dilakukan dengan cepat.

A. Diagnosa keperawatan

Dari data yang didapat pada pengkajian penulis menemukan dua diagnosa

keperwatan actual berdasarkan hasil tersebut maka penulis dapat merumuskan dianosa

keperawatan berdasarkan Hirarki Maslow. Diagnosa keperawatan sebagai berikut, gangguan

rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka post operasi appediktoni dan Kuranganya

volume cairan berhubungan dengan pembatasan cairan pasca operasi .

B. Perencanaan

Untuk mengatasi masalah keperawaan yang ditemukan pada Nn.D penulis menyusun

rencana keperawatan yaitu menentukan prioritas masalah.

Pada diagnosa keperawatan pertama penulis merencanakan untuk melakukan

monitoring tanda-tanda vital : TD, N, S, P, observasi pergerakan paru, auskultasi bunyi paru,

mengajarkan tekhnik relaksasi, batuk efektif, serta kolaborasi pemberian terapi oksigenisasi

dan inhalasi.

Pada diagnosa kedua penulis merencanakan mengidentifikasi tingkat kecemasan

klien, beri lingkungan yang nyaman pada klien, beri kesempatan pada klien untuk

mengekspresikan keadaan dan perasaannya. Instuksikan klien untuk melakukan tekhnik

relaksasi.
Pada diagnosa ketiga penulis merencanakan melakukan penididikan kesehatan

tentang asma, mengajarkan pada klien untuk mengidentifikasi kemungkinan terjadi serangan

asma tiba-tiba.

C. Implementasi

Pada tahap pelaksanaanini penulis melakukan tindakan sesuai dengan perencanaan

yang telah disusun oleh penulis berdasarkan data focus.

Penulis melaksanakan tindakan keperawatan pada tanggal 18 juni 2010 sampai

dengan 20 juni 2010. Dima tindakan yan dilakukan berdasarkan rencana tindakan yang telah

penulis buat yaitu memonitoring TTV: TD, N, S, P. mengobservasi pergerakan,

pengembangan paru serta bunyi paru. Kolaborasi pemberian terapi inhalasi. Mengkaji tingkat

kecemasan klien dan memberi pendidikan kesehatan tentang asma..

Factor pendukung selama penulis melakukan tindakan keperawatan adanya

kerjasama yan baik. Ny.F sangat kooperatif,. Sehingga proses asuhan keperawatan dapat

berjalan dengan langar. Sedangkan factor penghambat karena Ny.F mengalami sesak napas

dan frekuensi napas cepat sehingga tindakan keperawatan dilakukan agak memakan banyak

waktu.

1.

B. Diagnosa Keperawatan

C. Perencanaan

D. Implementasi

E. Evaluasi
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan

ridho- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan maklah ilmiah dengan judul “ Asuhan

Keperawatan Klien Nn. D dengan appendicitis di Rumah sakit…………………..”

Makalah ini merupakan salah datu syarat dalammenyelesaikan pendidikan . dalam

penyusnan maklah ini penulis menyadari ada kekurangan baik dari segi isi ataua cara penulisan ,

namun berkat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat

menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang tidak terhingga kepada

pihak-pihak yang secara langsung telah membantu penulis dalam menyelesaikan maklah ini,

kepada yang terhormat :

1. Ibu

2. L

3. L

4. L

5. L

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini msih banyak kekuranga dan jauh dari

kata sempurna , hal ini karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis dalam

menyusunya. Untuk itu penulis mengharapkan krikit dan saran yang bersifat membangun dan
untuk perbaikan makalah ini. Semoga makalah ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua

khususnya profesi keperawtan.

Jakarta, Juni 2010

penulis
Pemeriksaan

Pemeriksaan menurut Betz (2002), Catzel(1995), Hartman(1994), antara lain :

1. Anamnesa

Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese, ada 4 hal yang penting adalah :
o Nyeri mula-mula di epigastrium (nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian
menjalar ke perut kanan bawah.
o Muntah oleh karena nyeri viseral.
o Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus).
o Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita nampak sakit,
menghindarkan pergerakan, di perut terasa nyeri.

2. Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologi pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa
apendisitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan
gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara
dan cairan. Kadang ada fecolit (sumbatan). pada keadaan perforasi ditemukan adanya
udara bebas dalam diafragma.

3. Laboratorium

Pemeriksaan darah : lekosit ringan umumnya pada apendisitis sederhana lebih dari
13000/mm3 umumnya pada apendisitis perforasi. Tidak adanya lekositosis tidak
menyingkirkan apendisitis. Hitung jenis: terdapat pergeseran ke kiri. Pemeriksaan urin :
sediment dapat normal atau terdapat lekosit dan eritrosit lebih dari normal bila apendiks
yang meradang menempel pada ureter atau vesika. Pemeriksaan laboratorium Leukosit
meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme
yang menyerang.

Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi lagi. Hb
(hemoglobin) nampak normal. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan
apendisitis infiltrat. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.
Penatalaksanaan

Penatalaksanaan apendiksitis menurur Mansjoer, 2000 :

4. Sebelum operasi
o Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi
o Pemasangan kateter untuk control produksi urin.
o Rehidrasi
o Antibiotic dengan spectrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara intravena.
o Obat-obatan penurun panas, phenergan sebagai anti menggigil, largaktil untuk
membuka pembuluh – pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi
tercapai.
o Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi.

5. Operasi
o Apendiktomi.
o Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforasi bebas,maka abdomen
dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika.
o Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV,massanya mungkin mengecil,atau
abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari.
Apendiktomi dilakukan bila abses dilakukan operasi elektif sesudah 6 minggu
sampai 3 bulan.

6. Pasca operasi
o Observasi TTV.
o Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan lambung
dapat dicegah.
o Baringkan pasien dalam posisi semi fowler.
o Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selama pasien
dipuasakan.
o Bila tindakan operasilebih besar, misalnya pada perforasi, puasa dilanjutkan
sampai fungsi usus kembali normal.
o Berikan minum mulai15ml/jam selama 4-5 jam lalu naikan menjadi 30 ml/jam.
Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya diberikan makanan
lunak.
o Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur
selama 2x30 menit.
o Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar.
o Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.
Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif yang ditandai
dengan :

o Keadaan umum klien masih terlihat sakit, suhu tubuh masih tinggi
o Pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas terdapat
tanda-tanda peritonitis
o Laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat pergeseran
ke kiri.

Sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan segera setelah klien dipersiapkan, karena


dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. Persiapan dan pembedahan
harus dilakukan sebaik-baiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tiggi daripada
pembedahan pada apendisitis sederhana tanpa perforasi.

Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang telah mereda ditandai dengan :

o Umumnya klien berusia 5 tahun atau lebih.


o Keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit, suhu tubuh tidak tinggi
lagi.
o Pemeriksaan lokal abdomen tidak terdapat tanda-tanda peritonitis dan hanya
teraba massa dengan jelas dan nyeri tekan ringan.
o Laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal.

Tindakan yang dilakukan sebaiknya konservatif dengan pemberian antibiotik dan


istirahat di tempat tidur. Tindakan bedah apabila dilakukan lebih sulit dan perdarahan
lebih banyak, lebih-lebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak
serangan sakit perut.Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses
dengan atau tanpa peritonitis umum.