Anda di halaman 1dari 97

Universitas Sumatera Utara

Repositori Institusi USU http://repositori.usu.ac.id


Departemen Perpustakaan dan Sains Informasi Skripsi Sarjana

2018

Kegiatan Preservasi dan Konservasi


Bahan Pustaka pada Perpustakaan
Universitas HKBP Nomensen Medan

Rajaguk-Guk, Ervina Rutami

http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/3987
Downloaded from Repositori Institusi USU, Univsersitas Sumatera Utara
KEGIATAN PRESERVASI DAN KONSERVASI BAHAN PUSTAKA PADA
PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS HKBP NOMENSEN MEDAN

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Studi Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Sosial (S.Sos) dalam Bidang Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi

OLEH:

ERVINA RUTAMI RAJAGUK-GUK

160723017

DEPARTEMEN ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

MEDAN

2018

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERNYATAAN ORISINALITAS

Karya ini adalah karya orisinil dan belum perah disajikan sebagai tulisan

untuk memperoleh suatu klarifikasi tertentu atau dimuat pada media publikasi

lain.

Penulis membedakan dengan jelas antara pendapat atau gagasan penulis

dengan pendapat atau gagasan yang bukan dari penulis dengan mencantumkan

tanda kutip pada karya ini.

Medan, April 2018

Ervina Rutami Raja Guk-guk

Nim. 160723017

iii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRAK

Ervina Rutami Rajaguk-guk (160723017), 2018. Kegiatan Preservasi dan


Konservasi Bahan Pustaka Pada Perpustakaan Universitas HKBP
Nomensen Medan. Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah : (1) Mengetahui
faktor penyebab kerusakan bahan pustaka, (2) Mengetahui upaya apa yang
dilakukan untuk mencegah kerusakan bahan pustaka, (3) Mengetahui kendala apa
saja yang dihadapi dalam perawatan bahan pustaka.
Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah
penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Instrumen penelitian yang
digunakan adalah metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab kerusakan bahan
pustaka pada Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan adalah : Faktor
biologi, faktor fisika, faktor kimia, faktor bencana alam dan faktor manusia.
Pencegahan yang dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah pada
bahan pustaka ialah : Membersihkan debu dengan kemuceng dan vacuum cleaner,
member kapur barus di setiap rak dan memberi tata tertib kepada pengguna
perpustakaan. Adapun kendala yang dihadapi dalam kegiatan preservasi dan
konservasi bahan pustaka antara lain : Anggaran dana yang kurang memadai,
ruangan yang kurang memadai dan keterbatasan waktu yang dimiliki oleh
pustakawan. Ada beberapa saran yang diberikan oleh peneliti antara lain : (1)
Untuk mencegah kerusakan bahan pustaka sebaiknya perpustakaan menambah
AC untuk menjaga suhu ruangan agar tetap stabil sehungga buku tidak cepat
mengalami kerusakan yang disebabkan oleh ultraviolet, pemasangan gorden dan
filter pada lampu untuk mengurangi radiasi sinar. (2) Mengadakan pengadaan rak
buku yang mengalami kerusakan agar koleksi tidak ikut rusak, serta menyediakan
ruangan khusus untuk perawatan bahan pustaka.

Kata kunci: Perawatan Bahan pustaka, Pelestarian Bahan Pustaka

iv
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena

telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga peneliti dapat

menyelesaikan skripsi yang berjudul “Kegiatan Preservasi dan Konservasi Bahan

Pustaka Pada Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan”. Skripsi ini

diselesaikan sebagai salah satu persyaratan untuk meraih gelar Sarjana Sosial

(S.Sos) dalam bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi pada Fakultas Ilmu

Budaya Universitas Sumatera Utara.

Peneliti menyampaikan rasa hormat dan mengucapkan banyak terimakasih

yang sedalam-dalamnya kepada kedua orang tua saya tercinta Jon Lindung

Rajagukguk dan ibu saya Nelly Sembiring, karena telah membesarkan, mendidik

serta selalu setia mendoakan dan memberikan dukungan moril dan materil kepada

penulis. Buat adik-adik peneliti Rony Hotman Rajagukguk, Albet Rajagukguk dan

Elisabet Rajagukguk yang juga ikut serta dalam mendoakan dan memberikan

dukungan kepada peneliti. Peneliti juga ingin mengucapkan terima kasih kepada

pihak yang telah membantu keberhasilan penyususan skripsi ini baik secara

langsung maupun tidak langsung. Peneliti mengucapka terima kasih yang sebesar-

besarnya kepada :

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Ishak S.S, M.Hum. Selaku Ketua Program Studi Ilmu

Perpustakaan dan Informasi Universitas Sumatera Utara.

v
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3. Ibu Dra. Zurni Zahara Samosir M.Si. Selaku dosen pembimbing yang

telah memberikan bimbingan dengan penuh kesabaran dan motivasi

kepada peneliti, serta meluangkan waktu sehingga peneliti dapat

menyelesaikan skripsi ini.

4. Ibu Dra. Zaslina Zainuddin, M.Pd. Selaku dosen penguji I, dan Bapak

Ishak S.S, M.Hum selaku penguji II yang telah banyak memberikan

masukan dan saran sehingga skripsi ini dapat selesai.

5. Kepada staff pegawai dan pustakawan Universitas HKBP Nomensen

Medan, yang telah banyak membantu peneliti dalam memberikan data

dan informasi yang dibutuhkan penulis dalam penulisan skripsi ini.

6. Kepada yang teristimewa Vanderoy Pardosi Am.Tem yang telah

memberikan dukungan dan semangat kepada peneliti dalam

menyelesaikan skripsi ini.

Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan

dalam berbagai hal, baik dari segi penulisan, penyajian, serta penguraian isinya.

Untuk itu peneliti mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi

kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata peneliti berharap semoga skripsi dapat

bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkannya.

Medan, April 2018


Peneliti,

Ervina Rutami Rajagukguk


Nim. 160723017

vi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... ii
PERNYATAAN ORISINALITAS ...................................................................... iii
ABSTRAK ........................................................................................................... ivv
KATA PENGANTAR ........................................................................................... v
DAFTAR ISI ........................................................................................................ vii
DAFTAR TABEL .................................................................................................. x
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 5
1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................................... 5
1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................................ 5
1.5 Ruang Lingkup.............................................................................................. 6
BAB II KAJIAN TEORITIS ................................................................................ 7
2.1 Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi ................................................... 7
2.1.1 Tujuan dan Fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi ............................... 8
2.1.2.Tujuan Perpustakaan Perguruan Tinggi .................................................. 8
2.1.3. Fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi.................................................. 9
2.2 Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka .................................................. 11
2.2.1 Pengertian Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka .......................... 12
2.2.2 Tujuan Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka ................................ 13
2.2.3 Fungsi Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka ............................... 14
2.2.4 Unsur Perawatan dan Pelestarian .......................................................... 16
2.3 Faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka ............................................... 17
2.3.1 Penanganan Kerusakan Pada Bahan Pustaka ....................................... 26
2.3.2 Pelestarian Kandungan Informasi ........................................................ 32
BAB III METODE PENELITIAN ..................................................................... 34
3.1 Metode Penelitian ....................................................................................... 34
3.2 Lokasi Penelitian ......................................................................................... 34
3.3 Informan ...................................................................................................... 35
3.4 Instrumen Penelitian ................................................................................... 35
3.5 Jenis dan Sumber Data ................................................................................ 36
3.6 Teknik Pengumpulan Data.......................................................................... 36
3.7 Analisis Data ................................................................................................ 38
3.7.1 Pengumpulan Data ............................................................................... 38
3.7.2 Reduksi Data ........................................................................................ 39
3.7.3 Penyajian Data...................................................................................... 39
3.7.4 Verifikasi Data dan Penarikan Kesimpulan ......................................... 39
3.8 Keabsahan Data ........................................................................................... 40
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................. 42

vii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4.1 Karateristik Informan ................................................................................... 42
4.2 Kategori........................................................................................................ 43
4.2.1 Kondisi Bahan Pustaka........................................................................ 43
4.2.2 Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka. ......................................... 44
4.2.3 Faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka ....................................... 45
4.2.4 Tindakan Pencegahan Kerusakan Bahan Pustaka ............................... 47
4.2.5 Perawatan Bahan Pustaka..................................................................... 48
4.2.6 Perbaikan (Restorasi) Bahan Pustaka ................................................... 49
4.2.7 Kegiatan Dalam Penerapan Preservasi dan Konservasi Bahan Pustak 51
4.2.8 Kegiatan Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka............................ 52
4.3 Rangkuman Penelitian ................................................................................ 53
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN............................................................... 55
5.1 Kesimpulan ................................................................................................. 56
5.2 Saran ........................................................................................................... 57
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 61
LAMPIRAN ....................................................................................................... 62

viii
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Informan ............................................................................................... 42


Tabel 4.2 Rangkuman Hasil Penelitian ................................................................. 54

ix
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerusakan Bahan Pustaka Yang di Sebabkan Oleh Faktor Biologi
(jamur) .............................................................................................. 20
Gambar 2.2 Kerusakan Bahan Pustaka Yang di Sebabkan Oleh Faktor Biologi
(serangga). ........................................................................................ 20
Gambar 2.3 Kerusakan Bahan Pustaka Yang di Sebabkan Oleh Faktor Fisika
(debu) ................................................................................................ 21
Gambar 2.4 Kerusakan Bahan Pustaka Yang di Sebabkan Oleh Faktor Fisika
(suhu dan kelembapan) ..................................................................... 21
Gambar 2.5 Kerusakan Bahan Pustaka Yang di Sebabkan Oleh Faktor Kimia
(pencemaran) .................................................................................... 23
Gambar 2.6 Kerusakan Bahan Pustaka Yang di Sebabkan Oleh Faktor Bencana
Alam ................................................................................................ 24
Gambar 2.7 Kerusakan Bahan Pustaka Yang di Sebabkan Oleh Faktor Bencana
Alam ................................................................................................ 24
Gambar 2.8 Kerusakan Bahan Pustaka Yang di Sebabkan Oleh Faktor Manusia
......................................................................................................... 25
Gambar 2.9 Mencegah Kerusakan Bahan Pustaka Yang di Sebabkan Oleh
Faktor Biologi .................................................................................. 27
Gambar 2.10 Mencegah Kerusakan Bahan Pustaka Yang di Sebabkan Oleh
Faktor Kimia .................................................................................... 28
Gambar 2.11 Mencegah Kerusakan Bahan Pustaka Yang di Sebabkan Oleh
Faktor Fisika ................................................................................... 28
Gambar 4.1 Kerusakan Pada Tulang Punggung Bahan Pustaka ......................... 44
Gambar 4.2 Kerusakan Pada Sampul Bahan Pustaka.......................................... 46
Gambar 4.3 Kerusakan Pada Halaman Bahan Pustaka ....................................... 46
Gambar 4.4 Kerusakan Pada Jilid Bahan Pustaka ............................................... 47
Gambar 4.5 Bahan Pustaka Yang di Kumpulkan Untuk di Perbaiki................... 50
Gambar 4.6 Bahan Pustaka Yang di Kumpulkan Untuk di Perbaiki................... 50
Gambar 4.7 Bahan Pustaka Yang Belum Terlalu Rusak di Perbaiki Untuk
Mencegah Kerusakan Yang Lebih Parah ........................................ 51

x
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR LAMPIRAN

Lampira I Pedoman Wawancara..................................................................... 62


Lampiran II Hasil Transkip Wawancara ........................................................... 65
Gambaran Umum Perpustakaan Universitas HKBP NOMENSEN Medan .......... 74

xi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pada umumnya perpustakaan memiliki koleksi bahan pustaka yang terbuat

dari kertas yang merupakan bahan yang mudah terbakar, mudah sobek dan mudah

terkena noda. Cepat atau lambat proses kerusakan kertas tergantung pada mutu

kertas, iklim daerah serta perawatannya menyebabkan bahan pustaka harus

dilestarikan karena informasi yang terdapat didalamnya merupakan nilai yang

sangat berharga.

Sehingga bahan pustaka harus dijaga agar informasi bahan pustaka terus

dapat dimanfaatkan pengguna perpustakaan secara efektif dan efisien. Untuk

menjaga agar bahan pustaka tidak rusak baik dari segi fisik atau isinya, maka

perpustakaan perlu melakukan kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka.

Perpustakaan mengemban tugas sebagai penyedia bahan pustaka yang harus terus

dikembangkan, pengembangan inilah yang berpengaruh terhadap kebutuhan

pemustaka yang terus melonjak. Pengembangan bahan pustaka juga terus

berpengaruh terhadap banyaknya bahan pustaka yang dikoleksi, tentunya dari

tahun ke tahun koleksi akan terus berkembang.

Semakin banyaknya bahan pustaka yang dikoleksi oleh perpustakaan

tentunya membawa dampak dalam tatanan perpustakaan, maka dari itu

perpustakaan harus terus berinovasi untuk menyajikan layanan prima kepada

pemustakanya. Selain menyimpan dan mengembangkan koleksi, perpustakaan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


juga mempunyai tugas untuk memelihara bahan pustaka yang ada. Banyaknya

kerusakan bahan pustaka sangat jelas membawa dampak kepada kepuasan

pemustaka itu sendiri, dampak tersebut dapat berupa buku yang rusak, warna

tulisan yang sudah buram sehingga efek dari dampak tersebut pemustaka menjadi

enggan untuk berkunjung keperpustakaan. Seiring itulah, maka preservasi dan

konservasi bahan pustaka menjadi keharusan dan bahkan kewajiban, baik itu dari

praktisi atau staff perpustakaan, staff bidang pelestarian dan juga dari kalangan

lainnya.

Preservasi dan konservasi bahan pustaka mencakup unsur-unsur keuangan

dan cara menyimpan, tenaga kerja yang diperlukan, kebijaksanaan serta teknik

dan metode yang diterapkan untuk melestarikan bahan pustaka dan informasi

yang terdapat didalamnya. Pemeliharaan bahan pustaka bukanlah hal baru bagi

pustakawan, namun tugas pelestarian bukanlah tugas yang mudah dimana terdapat

berbagai faktor yang dapat menimbulkan terjadinya kerusakan terhadap bahan

pustaka baik dari faktor fisik pada bahan pustaka maupun faktor luar pada bahan

pustaka itu sendiri. Kerusakan yang disebabkan oleh faktor fisik antara lain

kualitas kertas, tinta, lem, dan teknis penjilidan yang kurang baik. Sedangkan

kerusakan yang disebabkan oleh faktor luar dari bahan pustaka seperti

kelembapan udara, jamur, polusi udara, serangga dan manusia. Dengan adanya

preservasi dan konservasi pada bahan pustaka yang baik diharapkan bahan

pustaka dapat berumur lebih panjang, sehingga dapat digunakan oleh generasi

yang akan datang. Preservasi dan konservasi bertujuan untuk melestarikan

kandungan informasi bahan pustaka dengan alih bentuk menggunakan media lain

2
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
atau melestarikan bentuk aslinya selengkap mungkin untuk dapat digunakan

secara optimal.Adapun kebijakan preservasi dan konservasi bahan pustaka

menyangkut tenaga ahli yang dibutuhkan, biaya yang cukup besar serta

perlengkapan dan bahan-bahan yang sulit untuk diperoleh.

Kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka merupakan suatu hal

yang sangat penting, tetapi kesadaran yang masih rendah untuk melestarikan

bahan pustaka bahkan dikalangan pustakawan yang pada umumnya tidak pernah

mendapatkan pendidikan formal tentang usaha pelestarian serta terdapatnya

beberapa kendala dalam melakukan kegiatan kerja preservasi dan konservasi

bahan pustaka yang dapat menghambat kelancaran pelestarian bahan pustaka. Hal

ini bertujuan untuk menunjukkan dan mewujudkan eksistensi kegiatan kerja

preservasi dan konservasi bahan pustaka yang dilakukan guna menyelamatkan

koleksi pustaka yang ada.

Sampai desember tahun 2017 Perpustakaan Universitas HKBP

Nommensen (UHN) memiliki : Koleksi Tercetak seperti Buku sebanyak 35.368

Judul, 58.960 Eksemplar ; Tugas Akhir (Skripsi) 5000 Judul, 5000 Eksemplar ;

Majalah 35 Judul berlangganan ; Jurnal Tercetak 55 Judul berlangganan ; CDR

876 Keping. Perpustaaan Universitas HKBP Nomensen Medan mengalami

berbagai kesulitan dalam melakukan preservasi dan konservasi bahan pustaka.

Dalam melakukan kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka

diperlukan adanya alat dan bahan untuk melakukan kegiatan preservasi dan

konservasi. Berdasarkan observasi awal, peneliti menemukan bahwa

Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan memiliki koleksi tercetak

3
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
yang sudah tua dan rusak, berdebu, banyaknya serangga di dalam rak,ruangan

koleksi sempit, kurangnya sirkulasi udara. Hal ini disebabkan, kurangnya fasilitas

perlengkapan dan peralatan yang digunakan dalam ruang koleksi, tidak memiliki

pengatur suhu udara dalam ruangan , waktu pencegahan (fumigasi) yang tidak

menentu. Menurut hasil wawancara dari observasi awal ditemukan bahwa

pelaksanaan kegiatan pelestarian, belum maksimal, karena tindakan pelestarian

dalam pencegahan kerusakan bahan pustaka belum terlaksana sepenuhnya dan ini

juga dipengaruhi kurangnya peralatan dan perlengkapan yang disediakan, jadi

lebih memfokuskan perbaikan koleksinya saja.

Sehubungan dengan masalah yang ada pada pelestarian bahan pustaka di

Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan maka perlu diketahui

bagaimana kebijakan yang dimiliki oleh pustakawan maupun pihak perpustakaan

itu sendiri. Berdasarkan paparan diatas peneliti terlebih dahulu akan memberikan

batasan-batasan yang lebih spesifik dari permasalahan yang akan di teliti. Pada

pembahasan ini peneliti akan memfokuskan pada kegiatan preservasi dan

konservasi bahan pustaka yang akan di gunakan untuk menganalisis permasalahan

yang terkait dengan strategi pustakawan yang digunakan dalam pelestarian bahan

pustaka di Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan. Berdasarkan

uraian diatas peneliti tertarik mengangkat judul “Kegiatan Preservasi dan

Konservasi Bahan Pustaka Pada Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen

Medan”.

4
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latarbelakang yang telah dipaparkan peneliti, maka

penulis merumuskan masalah yang akan dibahas yaitu:

Bagaimana kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka yang dilakukan

pustakawan di Perpustakaan Uiversitas HKBP Nomensen Medan?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah, tujuan dari penelitian ini adalah untuk

mengetahui bagaimana kegiatan kerja preservasi dan konservasi bahan pustaka di

Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan?.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang ingin dicapai dari hasil penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Bagi Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan, diharapkan

dapat dijadikan bahan masukan dalam meningkatkan kualitas kegiatan

kerja preservasi dan konservasi bahan pustaka.

2. Peneliti, sebagai salah satu upaya menambah wawasan peneliti dalam

bidang preservasi dan konservasi.

3. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dilanjutkan sebagai

referensi dan bahan acuan dalam melakukan penelitian di bidang

preservasi dan konservasi bahan pustaka.

5
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1.5 Ruang Lingkup

Sesuai dengan masalah yang dikemukakan di atas, maka peneliti

membatasi ruang lingkup untuk dijadikan pedoman penulisan. Dalam hal ini

penulis membahas hanya berkaitan dengan kegiatan preservasi dan konservasi

bahan pustaka yang dilakukan pustakawan yaitu pelestarian, faktor-faktor

kerusakan, tindakan pencegahan, perawatan, perbaikan (restorasi) dan kebijakan

pelestarian.

6
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB II

KAJIAN TEORITIS

2.1 Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi

Perpustakaan Perguruan Tinggi merupakan perpustakaan yang terdapat

dilingkungan lembaga pendidikan tinggi seperti: universitas, institute, sekolah

tinggi, akademi dan lembaga perguruan tinggi lainnya. Perpustakaan Perguruan

Tinggi dibentuk untuk memenuhi kebutuhan informasi sivitas akademika

perguruan tinggi yang bersangkutan, yaitu masyarakat universitas yang terkait.

Menurut Sjahrial-Pamunjak (2005: 5), “ Perpustakaan perguruan tinggi


adalah perpustakaan yang tergabung dalam lingkungan lembaga
pendidikan tinggi, baik yang berpa perpustakaan universitas, perpustaan
fakultas, perpustakaan akademi, dan perpustakaan sekolah tinggi”.

Dalam buku Perpustakaan Perguruan Tinggi: Buku pedoman (2004: 3)


“Perpustakaan perguruan tinggi merupakan unsur penunjang perguruan
tinggi, yang bersama-sama dengan unsure lainnya, berperan serta dalam
melaksanakan tercapainya visi dan misi perguruan tinggnya”.

Menurut Hasugian (2009: 79) “ Perpustakaan perguruan tinggi adalah

perpustakaan yang dikelola oleh perguruan tinggi dengan tujuan membantu

tercapainya tujuan perguruan tinggi”.

Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa perpustakaan

perguruan tinggi adalah perpustakaan yang berada di bawah naungan perguruan

tinggi yang turut membantu dalam pelaksanaan pendidikan, pengajaran, penelitian

dan pengabdian kepada masyarakat guna pencapaian tujuan perguruan tinggi.

7
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2.1.1 Tujuan dan Fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi

Perpustakaan perguruan tinggi memiliki peranan yang sangat penting

dalam perguruan tinggi, bahkan perpustakaan perguruan tinggi dapat dianggap

sebagai jantung perguruan tinggi. Sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi

yaitu pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Perpustakaan perguruan tinggi mempunyai tujuan dan fungsi yang disesuaikan

dengan tempatnya bernaung.

2.1.2 Tujuan Perpustakaan Perguruan Tinggi

Menurut Sjahrial-Pamuntjak (2000: 5) “ Tujuan perpustakaan perguruan

tinggi adalah membantu perguruan tinggi dalam menjalankan program

pengajaran”.

Sedangkan menurut Hasugian (2009: 80) “Tujuan perpustakaan perguruan


tinggi diindonesia adalah untuk memberikan layanan informasi untuk
kegiatan belajar, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam
rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi”.

Selain tujuan tersebut diatas, perpustakaan perguruan tinggi sebagai unsur

penunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi merumuskan tujuan sebagai berikut:

1. Mengadakan dan merawat buku, jurnal, dan bahan perpustakaaan

lainnya untuk dipakai oleh dosen, mahasiswa, dan staff lainnya

sebagai kelancaran program pengajaran dan penelitian di perguruan

tinggi.

2. Mengusahakan, menyimpan, dan merawat bahan perpustakaan yang

bernilai sejarah yang memiliki kandungan informasi lokal, dan yang

8
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dihasilkan oleh sivitas akademika, untuk dimanfaatkan kembali

sebagai sumber pembelajaran (learning resources).

3. Menyediakan sarana temu kembali untuk menunjang pemakaian bahan

perpustakaan.

4. Menyediakan tenaga yang professional serta penuh dedikasi untuk

melayani kebutuhan pengguna perpustakaan, dan bila perlu mampu

memberikan pelatihan cara penggunaan bahan perpustakaan itu

sendiri yang dapat di pergunakan dan di manfaatkan oleh pengguna.

5. Bekerja sama dengan perpustakaan lain untuk mengembangkan

program perpustakaan.

Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa penyelenggaraan

perpustakaan perguruan tinggi bertujuan untuk mendukung, memperlancar dan

mempertinggi kualitas pelaksanaan kegiatan perguruan tinggi dengan melakukan

kegiatan layanan informasi, pemanfaatan informasi serta penyebarluasan informai

tersebut dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

2.1.3 Fungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi

Menurut Sutarno (2006: 72) “fungsi atau fungsi-fungsi perpustakaan


adalah suatu tugas atau jabatan yang harus dilakukan di dalam
perpustakaan tersebut. Pada prisnsipnya sebuah perpustakaan mempunyai
tiga kegiatan utama yaitu menghimpun, memelihara, dan memberdayakan
semua koleksi bahan pustaka”.

Hal ini sesuai dengan pendapat Murjopranoto yang dikutip oleh Supsiloani
(2006: 32), fungsi perpustakaan antara lain sebagai berikut:
1.Untuk mempertinggi kebudayaan.
2.Untuk menambah pengetahuan.
3.Untuk dokumentasi.
4.Untuk penerengan (misalnya peraturan pemerintah, perundang-
undangan).

9
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
5.Untuk memungkinkan research (penelitian) bahan-bahan yang
berguna, misalnya laporan, statistic, peta) dan lain-lainnya.
6.Untuk rekreasi (hiburan) dengan menyediakan buku-buku cerita .
7.Untuk memberi inspirasi.

Berdasarkan penjabaran perpustakaan di atas dapat diketahui ,

perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai sarana pemenuhan informasi bagi

masyarakat perguruan tinggi, tetapi perpustakaan juga berperan untuk

mengembangkan pendidikan, minat, dan bakat, dan juga sebagai fasilitator,

mediator dan motivator bagi pengguna informasi.

Hal ini sesuai dengan Sutarno (2006: 72), beberapa peran perpustakaan
antara lain adalah:
1.Secara umum perpustakaan merupakan sumber informasi pendidikan,
penelitian, preservasi dan pelestari khasanah budaya bangsa serta
tempat rekreasi yang sehat, murah, dan tentu saja memeberikan dampak
bagus. .
2.Perpustaan merupakan media atau jembatan yang berfungsi
memnghubungkan antara sember informasi dan ilmu pengetahuan yang
terkandung dalam koleksi perpustakaan dengan para pemakainya.
3.Perpustakaan mempunyai peranan sebagai sarana untuk menjalankan
danmengembangkan komunikasi antara sesame pemakai dan antara
penyelenggara perpustakaan dengan masyarakat yang dilayani.
4.Perpustakaan dapat pula berperan sebagai lembaga untuk
mengembangkan minat baca, kegemaran membaca, kebiasaan membaca,
dan budaya baca melalui penyediaan berbagai bahan bacaan yang sesuai
dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat.
5.Perpustakaan dapat berperan aktif sebagai fasilitator, mediator dan
motivator bagi mereka yang ingin mencari, memanfaatkan dan dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya.
6.Perpustakaan merupakan agen perubahan, agen pembangunan, dan agen
kebudayaan umat manusia.
7.Perpustakaan berperan sebagai lembaga pendidikan non formal anggota
masyarakat dan pengunjung perpustakaan. Mereka dapat belajar secara
mandiri (otodidak).
8.Petugas perpustakaan dapat berperan sebagai pembimbing dan
memberikan konsultasi kepada pemakai atau melakukan pendidikan
pemakai (user education).
9.Perpustakaan berperan dalam menghimpun dan melestarikan koleksi
bahan pustaka agar tetap dalam keadaan baik, semua hasil karya umat
manusia yang tak ternilai harganya.

10
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
10.Perpustakaan dapat berperan sebagai ukuran (barometer) atas kemajuan
masyarakat yang dilihat dari intensitas kunjungan dan pemakaian
perpustakaan.
11.Secara tidak langsung, perpustakaan mempunyai peran dalam
mengurangi dan mencegah kenakalan remaja seperti tawuran, penyalah
gunaan obat-obatan terlarang, dan tindak indisipliner.

Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa perpustakaan perguruan

tinggi memiliki fungsi informasi, riset, rekreasi, publikasi, deposit, interpretasi,

bagi masyarakat pemakai. Selain itu, perpustakaan juga berperan sebagai lembaga

untuk mengembangkan minat baca, fasilitator, dan sebagai lembaga pendidikan

nonformal bagi masyarakat dan pengunjung perpustakaan.

2.2 Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka

Preservasi merupakan kegiatan yang terencana dan dikelola untuk

memastikan bahwa suatu aset, baik itu kekayaan sumber daya alam, ataupun

benda-benda bersejarah agar tetap terjaga dan dapat dipakai selama mungkin.

Dalam kaitannya preservasi bahan pustaka, defenisi preservasi kurang lebih

memiliki makna yang sama namun dalam konteks yang berbeda. Preservasi bahan

pustaka merupakan suatu usaha yang dilakukan secara terencana dan terkelola

untuk memastikan bahan-bahan pustaka dapat terpelihara dengan baik agar tetap

dapat dipakai selama mungkin.

Sedangakan konservasi merupakan usaha untuk mempertahankan

(pengawetan) yang memiliki kebijakan khusus untuk mempertahankan sebuah

aset, dalam hal kepustakaan adalah bahan-bahan pustaka. Dalam konservasi aset

pustaka, terdapat pula suatu kegiatan yang disebut dengan retorasi. Retorasi dalam

kaitannya dengan preservasi dan konservasi bahan pustaka adalah sebuah usaha

terhadap perbaikan-perbaikan terhadap koleksi-koleksi bahan pustaka yang telah

11
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
usang atau rusak agar dapat difungsikan kembali dan dapat digunakan untuk

jangka waktu yang lebih lama.

2.2.1 Pengertian Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka

Menurut Sutarno N.S (2008: 174) “ Preservasi adalah suatu kegiatan

dibidang perpustakaan untuk memelihara dan merawat koleksi bahan pustaka”.

Menurut Wndy Smith (2009: 217) “ Preservasi dan konservasi adalah

semua kegiatan yang bertujuan untuk memperpanjang umur bahan pustaka dan

informasi yang ada didalam bahan pustaka tersebut”.

Menurut Lasa (2009: 287) “ Preservasi yaitu semua unsur pengelolaan,


keuangan, penyimpanan, alat-alat bantu, ketenagakerjaan, maupun metode
yang digunakan untuk melestarikan bahan pustaka, arsip, maupun
informasi yang dikandungnya”.

Sedangakan menurut Lasa HS (2009: 180) “ Konservasi dapat diartikan


sebagai kegiatan dan kebijakan yang mencakup dan melindungi bahan
pustaka dari kerusakan. Kegiatan ini mencakup metode dan teknik yang
digunakan dan dilakukan oleh teknisi. Kegiatan konservasi yang biasanya
dilakukan oleh desifikasi, inkapsulasi, atau laminasi, membuat film mikro,
penyimpanan dalam bentuk digital atau elektronik, penggunaan prosedur
kimia atau fisika dalam pemeliharaan dan penyimpanan bahan pustaka
untuk menjaga keawetan”.

Dari uraian diatas, dapat diketahui bahwa preservasi dan konservasi bukan

hanya kegiatan untuk merawat, melestarikan, dan memperbaiki atau melestarikan

saja, tetapi didalamnya juga terdapat unsur pengelolaan dalam hal penggunaan

teknik, metode atau proses, keuangan, ketenagakerjaan, dan lain-lain. Pada

dasarnya preservasi atau pelestarian bertujuan untuk melestarikan informasi yang

terkandung dalam bahan pustaka agar dapat dipertahankan keutuhannya.

Sedangkan koservasi atau pengawetan lebih kecara atau teknik, proses, atau

12
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
metode yang digunakan untuk melindungi bahan pustaka agar tidak mudah rusak

dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang.

2.2.2 Tujuan Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka

Tujuan utama preservasi dan konservasi bahan pustaka adalah

mengusahakan agar koleksi bahan pustaka selalu sedia dan siap pakai, hal ini

dapat dilakukan dengan melestarikan bentuk fisik bahan pustaka, melestarikan

kandungan informasi kedalam media lain (alih media) seperti microfilm,

mikrofish, foto reproduksi, dan fotokopy, atau melestarikan kedua-duanya, yaitu

bentuk fisik dan kandungan informasi.

Ada beberapa tujuan yang harus dicapai terkait dengan kegiatan kerja preservasi

dan konservasi bahan pustaka di perpustakaan:

1.Menyelamatkan nilai informasi yang terkandung didalam setiap bahan


pustaka.
2.Menyelamatkan bentuk fisik bahan pustaka.
3.Mengatasi kendala kekurangan ruang (space).
4.Mempercepat proses temu balik atau penelusuran dan perolehan
informasi.
5.Menjaga keindahan dan kerapian bahan pustaka.

Menurut Mardyantini (2007: 54) “Perpustakaan sebagai pusat informasi

dan penyebar informasi, mempunyai tugas dan kewajiban untuk menjaga

keutuhan dan kelestarian bahan-bahan perpustakaan yang dimiliki”.

Departemen Pendidikan (2004: 63) “Tujuan dari perawatan bahan pustaka


yaitu mencegah keruskan bahan pustaka, melindungi bahan pustaka,
memperbaiki bahan pustaka yang masih layak dipakai, disimpan dan
masih bermanfaat, dan melestarikan isi dari bahan pustaka yang masih
bermanfaat”.

13
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dengan kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka yang baik,

diharapkan bahan pustaka dapat berumur dengan panjang,membantu

melaksanakan kegiatan pelestarian bahan pustaka,menunjang layanan jasa

perpustakaan dan layanan informasi dalam upaya penyediaan koleksi bahan

pustaka dalam keadaan bersih, utuh layak serta membantu menyelamatkan fisik

bahan pustaka dan kandungan informasi yang terdapat didalamnya.

2.2.3 Fungsi Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka

Fungsi preservasi dan konservasi adalah untuk menjaga agar koleksi

perpustakaan tidak diganggu oleh tangan jahil, serangga yang iseng, atau jamur

yang merajalela pada buku-buku yang ditempatkan pada ruang yang lembab.

Preservasi adalah sebuah kegiatan yang terencana dan terkelola untuk

memastikan bahan-bahan pustaka dapat terpelihara dengan baik agar dapat tetap

di gunakan selama mungkin. Sedangkan konservasi adalah sebuah usaha untuk

mempertahankan (pengawetan) yang memiliki kebijakan khusus untuk

mempertahankan bahan pustaka.

Menurut Martoadmodjo (1993: 6-7) “Pelestarian memiliki beberapa fungsi

sebagai berikut:

a. Fungsi Melindungi
Bahan pustaka dilindungi dari manusia, serangga-serangga, jamur,
panas matahari, air dan sebagainya. Dengan pelestarian yang baik
serangga dan binatang kecil tidak akan menyentuh dokumen. Manusia
tidak akan salah dalam menangani dan memakai bahan pustaka, jamur
tidak akan sempat tumbuh, dan sinar matahari serta kelembaban udara
di perpustakaan mudah dikontrol.
b. Fungsi Pengawetan
Dengan dirawat secara baik, bahan pustaka menjadi awet, lebih lama
dipakai, dan diharapkan lebih banyak pembaca dapat mempergunakan
bahan pustaka tersebut.

14
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
c. Fungsi Kesehatan
Dengan pelestarian yang baik, bahan pustaka menjadi bersih, bebas dari
debu, jamur, binatang perusak, sumber dan sarang dari berbagai
penyakit sehingga pemakai maupun pustakawan menjadi tetap sehat.
Pembaca lebih bergairah membaca dan memakai perpustakaan.
d. Fungsi Pendidikan
Pemakai dan pustakawan sendiri harus belajar bagaimana memakai dan
merawat dokumen. Mereka harus menjaga disiplin, tidak membawa
makanan dan minuman ke dalam perpustakaan, tidak mengotori
perpustakaan. Mendidik pemakai dan pustakawan sendiri untuk
berdisiplintinggi dan menghargai kebersihan.
e. Fungsi Kesabaran
Fungsi ini menguji pustakawan untuk bersikap lebih sabar dengan cara
menambal buku berlubang, membersihkan kotoran binatang kecil dan
tahi buku dengan baik. Semua itu ibarat merawat bahan pustaka seperti
merawat bayi.
f. Fungsi Sosial
Pelestarian ini tidak bisa dikerjakan oleh seorang diri. Pustakawan harus
mengikut sertakan pembaca perpustakaan untuk merawat bahan pustaka
dan perpustakaan.
g. Fungsi Ekonomi
Dengan pelestarian yang baik, bahan pustaka menjadi lebih awet.
Keuangan dapat dihemat.
h. Fungsi Keindahan
Dengan pelestarian yang baik, penataan buku yang rapi, perpustakaan
tampak menjadi makin indah, sehingga menambah daya tarik
pembacanya.

Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa, setiap perpustakaan

sudah seharusnya melakukan kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka

agar bahan pustaka selalu dapat bertahan lebih lama dan dapat digunakan dalam

jangka waktu yang lama, serta bahan pustaka yang tersedia dalam keadaan baik,

menarik dan layak dibaca oleh para pengunjung perpustakaan karena bahan

pustaka yang sudah rusak atau usang, kurang menyenangkan bagi para pemakai

dan kurang menarik saat dibaca.

15
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2.2.4 Unsur Perawatan dan Pelestarian

Bahan pustaka meruapakan unsur penting di dalam perpustakaan, sehingga

kita harus melestarikannya. Pelestarian disini adalah mengusahakan agar bahan

pustaka tidak cepat mengalami kerusakan.

Menurut Sutarno (2004: 3) “ Pengelolaan pelestarian bahan pustaka


melibatkan berbagai komponen seperti sumber daya manusia, koleksi,
peralatan, sarana dan prasarana, metode dan uang. Dalam konsep
manajemen istilah tersebut dikenal dengan tools of manajement atau
sarana manajemen”.

Di dalam kegiatan perawatan dan pelestarian bahan pustaka banyak hal

yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah unsur perawatan dan pelestarian

bahan pustaka.

Menurut Martoadamodjo (1993: 7) ada empat unsur yang penting yang

perlu diperhatikan dalam perawatan dan pelestarian bahan pustaka, yaitu:

1.Manajemennya
Perlu diperhatikan siapa yang jawab didalam pekerjaan pelestarian ini.
Bagaimana prosedur pelestarian yang harus diikuti Bahan pustaka yang
akan diperbaiki harus dicatat dengan baik, apa saja jenis kerusakannya,
apa saja alat bahan kimia yang diperlukan, siapa dan bagaimana cara
mengerjakannya.
2.Tenaga
Kegiatan ini dilakukan oleh pustakawan atau memang orang yang ahli
dan mempunyai keterampilan khusus dalam kegiatan ini sehingga
kegiatan perawatan dan pelestarian bahan pustaka menjadi lancar dalam
melakukan,perawatannya.
3.Laboratorium
Setiap perpustaka an sebaiknya mempunyai ruangan khusus atau
laboratorium yang khusus untuk merawat dan melestarikan bahan
pustaka pustaka dan dilengkapi dengan peralatannya.
4..Dana
Dana merupakan salah satu unsur yang terpenting bagi kegiatan
perawatan dan pelestarian bahan pustaka, selalu diperlukannya dana yang

16
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
tersusun dengan baik, sehingga kegiatan ini tidak akan mengalami
kendala.

Unsur terpenting yang harus selalu di perhatikan dalam suatu kegiatan

perawatan dan pelestarian bahan pustaka yaitu: manajemennya, tenaga yang

memang ahli dalam kegiatan perawatan dan pelestarian bahan pustaka,

laboratorium atau ruangan khusus dalam melakukan kegiatan paerawatan dan

pelestarian bahan pustaka dan unsure dana. Jika tidak ada keempat unsur tersebut

maka kegiatan perawatan dan pelsestarian bahan pustaka tidak akan berjalan

dengan lancer dan optimal.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat diketahui bahwa unsur pelestarian

bahan pustaka meruapakan kegiatan pelestarian yang mencakup semua aspek

usaha melestarikan semua bahan pustaka, yang termasuk didalamnya kebijakan

pengolahan, sumberdaya manusia, metode dan dan tehnik penyimpanannya agar

semua koleksi yang terdapat pada perpustakaan dapat dilestarikan dengan baik.

2.3 Faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka

Mengetahui macam-macam perusak bahan pustaka adalah sama

pentingnya dengan memiliki bahan pustaka tersebut, begitu pula dengan cara-cara

memperbaiki bahan pustaka yang telah rusak. Jenis perusak bahan pustaka

tergantung pada keadaan iklim dan lingkungannya. Jenis perusak bahan pustaka

yang daerahnya beriklim tropis berbeda dengan daerah yang dingin, begitupun

juga dari cara penanggulangannya.

Bahan pustaka mengandung bahan yang mudah mengalami kerusakan

seperti: mudah terbakar, mudah sobek, mudah terkena noda dan sebagainya.

17
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Perlahan- lahan proses kerusakan tersebut pastinya akan terjadi dan tidak dapat

dihindari. Cepat dan lambatnya kerusakan suatu bahan pustaka tergantung dari

mutu bahan pustaka dan pengaruh luar seperti : lingkungan, kondisi penyimpanan,

dan prosedur penanganan.

Menurut Darmono (2007: 91) kerusakan bahan pustaka secara garis besar

dapat di sebabkan oleh beberapa factor yaitu:

1. Faktor`Biologi

Mahluk hidup seperti jamur, serangga, dan binatang pengerat merupakan

musuh utama bagi bahan pustaka. Sumber makanan bagi mahluk seperti jamur,

serangga, binatang pengerat dan lainnya adalah selulosa, perekat, dan protein yang

terdapat pada bahan pustaka. Berikut ini jenis-jenis mahluk yang menyebabkan

bahan pustaka menjadi rusak.

1. Binatang Pengerat
Tikus juga merupakan binatang perusak buku yang cukup sulit
diberantas. Mereka biasanya memakan buku-buku yang disimpan dalam
gudang dan kadang-kadang kertas disobek-sobek dan dikumpulkan dan
dijadikan sarang. Tindakan pencegahan untuk melindungi kertas dari
serangan tikus adalah tempat penyimpanan harus bersih dan kering serta
selalu dikontrol secara berkala. Lubang-lubang yang memungkinkan
tikus dapat masukharus ditutup dengan rapat.
2. Serangga
Serangga sangat berbahaya bagi buku dan merupakan ancaman yang
paling potensial, terutama di negara-negara yang beriklim tropis seperti
Indonesia. Serangga seperti Silverfish, kecoa, rayap, kutu buku,
merupakan serangga pemusnah buku yang sudah umum dikenal orang.
3.Silverfish
Berbadan ramping, tidak bersayap, serangga dewasa mempunyai
panjang 12 mm, berwarna abu-abu mutiara. Serangga ini lebih aktif di
malam hari, dapat dijumpai disetiap tempat dalam gedung, lebih
menyenangi sudut-sudut yang gelap dan lembab. Makanannya adalah
lem / perekat-perekat yang terdapat pada sampul buku sehingga merusak
jilid dan sampul buku. Telurnya diletakkan di tempat gelap di belakang
buku pada tumpukan kertas di lemari kaca. Setelah dua minggu apabila
kondisi lingkungan memungkinkan, telur akan menetas.

18
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4. Kecoa
Terdapat lebih dari 1.000 jenis kecoa di seluruh dunia, tetapi yang
dijumpai di perpustakaan biasanya hanya 5 macam. Kecoa bewarna
coklat kehitaman, muncul dan mencari makanan pada malam hari.
Makanan kecoa adalah kanji dan pereka perekat sampul buku yang
dimakannya hingga habis serta kain-kain pada punggung buku, dan
jarang menembus masuk ke dalam buku. Kecoa mengeluarkan cairan
pekat berwarna hitam yang membentuk noda dan sulit untuk
dihilangkan.
5.Rayap
Rayap merupakan perusak yang paling berbahaya karena dapat
menghabiskan buku dalam waktu singkat. Hidup beriklim tropis dan
subtropis. Binatang ini berbadan lunak dan bewarna putih pucat, karena
bentuknya seperti semut,maka binatang ini juga disebut semut putih
(white ant), ada dua jenis rayap, yaitu rayap kering yang hidup dalam
kayu (wood dwellers) dan rayap basah yang hidup dalam tanah
(subteranian), mereka hidup berkelompok dalam koloni yang
terorganisasi dengan rapi. Rayap subteranian membuat sarang dalam
tanah dan akan keluar ke atas permukaan tanah untuk mencari makan
melalui jalan yang mereka buat, kadang-kadang dapat menembus
dinding tembok dan lantai bangunan. Masuk ke dalam rak-rak kayu
memakannya sampai habis dan masuk kedalam buku-bukunya.
6.Kutu Buku (book lice)
Binatang ini sangat kecil, berwarna abu-abu putih, badannya lunak dan
kepalany relatif besar serta giginya sangat kuat. Makanannya adalah
perekat, glu dan kertas-kertas yang ditumbuhi jamur. Bentuk larva dan
bentuk dewasa tidak dapat dibedakan, tetapi bentuk dewasa mempunyai
warna yang lebih terang. Binatang ini meletakka telurnya di atas atau di
dalam punggung buku. Spesies yang umum adalah Lipocelis
Divinatorius.
7.Jamur
Jamur (fungi) merupakan mikroorganisme yang tidak berklorofil. Fungsi
memproduksi beberapa macam asam organic seperti asam oksalat, asam
fumoric, sitrat, dan menyebabkan asam pada kertas dan akhirnya kertas
menjadi rapuh.

19
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 2.1 Kerusakan bahan pustaka yang di sebabkan oleh faktor biologi
( jamur)
sumber:https://www.google.co.id/search?q=keruskan+bahan+pustaka+menurut+faktor&tbm=isch&tbs=rimg:_1

Gambar 2.2 Kerusakan bahan pustaka yang di sebabkan oleh faktor biologi
( serangga)
sumber:https://www.google.co.id/search?q=keruskan+bahan+pustaka+menurut+faktor&tbm=isch&tbs=rimg:_1

2. Faktor’Fisika

Selain faktor biologi seperti serangga, mikroorganisme, tikus dan

sebagainya, ada lagi perusak bahan pustaka yang hebat, yaitu faktor fisika,

misalnya debu, cahaya, suhu dan kelembaban. Jenis perusak bahan pustaka ini

tidak boleh diabaikan, karena benar-benar bisa membawa kerusakan yang besar.

20
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1.Debu
Debu dapat masuk secara mudah kedalam ruang perpustakaan melalui
pintu jendela atau lubang-lubang angin perpustakaan. Apabila debu
melekat pada kertas, maka akan terjadi reaksi kimia yang meninggikan
tingkat keasaman pada kertas. Akibatnya kertas menjadi rapuh dan cepat
rusak. Di samping itu, apabila keadaan ruang perpustakaan lembab,
debu yang bercampur dengan air lembab itu akan menimbulkan jamur
pada buku. Debu dari jalan yang mengandung belerang atau debu dari
knalpot kendaraan memiliki daya rusak yang paling tinggi.
2.Suhu dan Kelembapan
Kerusakan kertas yang diakibatkan oleh suhu yang terlalu tinggi dapat
menyebabkanperekat pada jilidan buku menjadi kering, sedangkan
jilidannya sendiri menjadi longgar. Di samping itu, suhu yang tinggi itu
dapat mengakibatkan kertas menjadi rapuh, warna kertas menjadi
kuning. Sebaliknya, apabila lembab nisbi terlalu tinggi, buku akan
menjadi lembab. Sebab akibatnya, buku mudah diserang jamur, rayap,
kecoa, kutu buku, dan ikan perak. Udara lembab yang dibarengi dengan
suhu udara yang cukup tinggi menyebabkan asam yang ada pada kertas
terhidroksi, bereaksi dengan partikel logam dan memutuskan rantai
ikatan kimia selulosa. Kelembaban dan suhu udara yang ideal
bagiperpustakaan dan arsip adalah 45-60% RH dan 20-24 derajat celcius.
Karena itu hindarilah sumber kelembaban tersebut. Jika kelembaban itu
disebabkan oleh air hujan atau banjir, keringkanlah tempat-tempat
tersebut. Kertas yang basah lembab tidak boleh dijemur, tetapi harus
dianginkan pelan-pelan menurut tingkat kebasahannya.
3.Cahaya
Kertas yang kepanasan akan rusak berubah warna menjadi kuning dan
rapuh akhirnya rusak. Hindarilah sinar ultra violet (sinar matahari) yang
masuk langsung ke perpustakaan. Kerusakan yang terjadi karena
pengaruh sinar ultra adalah memudarnya tulisan, sampul buku, dan
bahan cetak. Selain itu kertas juga akan menjadi rapuh. Proses kerusakan
akan dipercepat dengan adanya uap air dan oksigen dalam udara,
sehingga menimbulkan perubahan warna. Buku menjadi kuning
kecoklatan dan kadar kekuatan serta pada kertas menurun.Untuk
menghindarinya hendaknya diusahakan kain gorden sehingga panas atau
sinar yang masuk ke perpustakaan bisa di atur, sinar alami cukup bagus,
tetapi tidak bisa dikontrol dengan mudah. Karena itu di Negara maju,
penerangan perpustakaan menggantungkan pada sinar listrik karena
mudah dikontrol. Lampu pada ruang rak buku hanya dinyalakan pada
saat diperlukan. Jika tidak ruang rak tersebut gelap. Hal ini juga bisa
menghemat listrik. Tetapi AC selalu dihidupkan, sehingga kebersihan,
kelembaban dan temperatur bisa terkontrol.

21
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 2.3 Kerusakan bahan pustaka yang di sebabkan oleh faktor fisika
( debu)
sumber:https://www.google.co.id/search?q=keruskan+bahan+pustaka+menurut+faktor&tbm=isch&tbs=rimg:_1

Gambar 2.4 Kerusakan bahan pustaka yang di sebabkan oleh faktor fisika
( suhu dan kelembapan)
sumber:https://www.google.co.id/search?q=keruskan+bahan+pustaka+menurut+faktor&tbm=isch&tbs=rimg:_1

3. Faktor Kimia

Kekuatan kertas pasti akan menurun secara perlahan karena disebabkan

oleh pencemaran, tinta dan asam.

1. Pencemaran
Debu atau asap yang timbul akubat proses pembakaran dapat
mengandung karbon, dimana karbon ini dapat menyebabkan pelapukan
pada bahan pustaka.

22
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2. Tinta
Penggunaan tinta berkualitas rendah pada bahan pustaka atau kertas
akan sangat merugikan apabila terkena air atau terkena kelembapan
udara.
3. Asam
Kualitas kertas pada bahan pustaka sangat penting, jika kualitas kertas
pada bahan pustaka ini rendah maka dapat merusak bahan pustaka.
Kertas atau bahan pustaka yang tidak mengandung asam merupakan
kertas yang berkualitas baik.

Gambar 2.5 Kerusakan bahan pustaka yang di sebabkan oleh faktor kimia
( pencemaran)
sumber:https://www.google.co.id/search?q=keruskan+bahan+pustaka+menurut+faktor&tbm=isch&tbs=rimg:_1

4. Faktor Bencana Alam

Bencana alam seperti kebanjiran, gempa bumi, kehujanan, kebakaran,

kerusuhan, dan kesalahan penanganan seperti salah meletakkan buku. Kerusakan

yang terjadi karena kebanjiran dan kehujanan dapat dapat menimbulkan noda.

Sedangkan kebakaran dapat memusnahkan bahan pustaka dalam waktu sekejap.

23
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 2.6 Kerusakan bahan pustaka yang di sebabkan oleh faktor bencana alam
sumber:https://www.google.co.id/search?q=keruskan+bahan+pustaka+menurut+faktor&tbm=isch&tbs=rimg:_1

Gambar 2.7 Kerusakan bahan pustaka yang di sebabkan oleh faktor bencana alam
sumber:https://www.google.co.id/search?q=keruskan+bahan+pustaka+menurut+faktor&tbm=isch&tbs=rimg:_1

5. Faktor Manusia

Keterlibatan manusia merupakan factor penyebab kerusakan bahan

pustaka yang Keterlibatan tersebut dapat dilakukan secara langsung seperti:

pencurian, pengerusakan dan penanganan yang kurang hati-hati atau karena

kerusakan yang secara tidak langsung seperti: memproduksi kertas dengan

kualitas yang rendah, mutu jilidan yang rendah, salah penanganan, penyimpanan,

pemakaian buku yang berlebihan dan tidak adanya penyuluhan kepada staff dan

pengunjung perpustakaan.

24
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 2.8 Kerusakan bahan pustaka yang di sebabkan oleh faktor manusia
sumber:https://www.google.co.id/search?q=keruskan+bahan+pustaka+menurut+faktor&tbm=isch&tbs=rimg:_1

Macam-macam factor perusak bahan pustaka sebelum diperbaiki perlu

adanya pemisahan untuk setiap jenis dan kondisi bahan pustaka.

Menurut Tim Teknis Program Pelestarian Bahan Pustaka dalam Wariyanti,

( 2010: 11) bahwa kondisi bahan pustaka dapat dapat dikelompokkan sebagai

berikut:

1.Bahan pustaka yang masih baik, artinya buku masih dalam kondisi utuh,
belum berubah warna, bersih, dan belum berpenyakit.
2.Bahan pustaka yang berpenyakit, artinya buku yang telah di serang
serangga, mengandung asam, timbul noda coklat.
3.Bahan pustaka rusak, artinya buku dalam kondisi rusak dengan berbagai
kerusaskan yang memerlukan tindakan perbaikan atau restorasi
yang sepadan dengan tingakt atau kondisi kerusakan. Bahan pustaka
yang rusak terdiri dari tiga kelompok yaitu: bahan pustaka yang rusak
ringan,bahan pustaka yang rusak sedang, dan bahan pustaka yang rusak
parah.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat diketahui faktor-faktor penyebab

terjadinya kerusakan pada bahan pustaka dapat datang dari berbagai faktor, maka

dari itu kondisi lingkungan yang ideal bagi suatu perpustakaan yaitu dengan

memiliki temperature dan kelembapan yang terkontrol, udara bersih dengan

sirkulasi yang sempurna, bebas dari jamur, serangga dan binatang pengerat.

25
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Pemeliharaan dengan cara membersihkan bahan pustaka dan ruangan yang teratur,

dapat membantu menguraki resiko kerusakan pada bahan pustaka.

2.3.1 Penanganan Kerusakan Pada Bahan Pustaka

Penanganan kerusakan bahan pustaka yang dimaksudkan disini meliputi

kegiatan pencegahan kerusakan pada bahan pustaka, perawatan bahan pustaka dan

cara memperbaiki bahan pustaka yang rusak agar tetap dapat di pakai oleh

pengunjung perpustakaan.

Melakukan pencegahan kerusakan bahan pustaka yang dilakukan sejak

dini merupakan tindakan yang lebih baik dan lebih tepat dari pada melakukan

kegiatan perbaikan bahan pustaka yang sudah rusak. Menurut Yusuf dalam

Hasanah (2010: 3) Dalam perawatan bahan pustaka ada dua tindakan, yaitu:

1. Tindakan Preventif
Tindakan Preventif ini adalah untuk mencegah sebelum bahan atau
koleksi perpustakaan termasuk segala fasilitas, perabotan dan
perlengkapannya mengalami kerusakan.
2. Tindakan Kuratif
Dalam Perpustakaan tindakan kuratif mempunyai arti perawatan,
perbaikan atau pengobatan akan suatu yang sudah terlanjur rusak.
Contoh : buku yang jilidnya rusak, lembarannya rusak sebagian, atau
sobek sebagian.

Menurut Soraya (2013: 12) “Pencegahan kerusakan bahan pustaka

termasuk dalam tindakan preventif. Pencegahan kerusakan bahan pustaka yang

disebabkan oleh factor-faktor penyebab kerusakan bahan pustaka dapat dilakukan

dengan cara sebagai berikut:

1. Mencegah Kerusakan Karena Faktor Biologi

Membersihkan bahan pustaka secara berkala, memebersihkan tempat

penyimpanan bahan pustaka, menurunkan kelembapan udara dan memberikan

26
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ruang yang lebih dalam penyusunan bahan pustaka pada rak, memelihara

kebersihan ruangan, tidak meninggalkan sisa makanan didalam ruangan dan

menggunakan pembasmi tikus, cara ini adalah cara yang digunakan untuk

mencegah tumbuh dan berkembangnya jamur, serangga dan binatang lain yang

dapat merusak bahan pustaka.

Gambar 2.9 Mencegah kerusakan bahan pustaka karena faktor biologi


sumber:https://www.google.co.id/search?q=keruskan+bahan+pustaka+menurut+faktor&tbm=isch&tbs=rimg:_1

2. Mencegah Kerusakan Karena Faktor Fisika

a. Mencegah kerusakan karena pengaruh temperature dan kelembapan


udara, dapat memasang AC selama 24 jam adalah cara untuk
mendapatkan temperature dan kelembapan udara yang baik.
b. Mencegah kerusakan karena pengaruh cuaca
Untuk Mencegah Kerusakan bahan pustaka kaera sinar ultra violet
dapat dilakukan dengan cara menggunakan atau memasang gorden atau
di saring dengan filter untuk mengurangi radiasi ultra violet yang
masuk.
c. Mencegah kerusakan karena pencemaran udara atau debu
Perusakan bahan pustaka karena pencemaran udara dapat di kurangi
dengan cara sebagai berikut: menggunakan AC, di perpustakaan agar di
pasang alat pembersih udara ( air Cleaner ), menyimpan bahan pustaka
dalam kotak pelindung.

27
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 2.10 Mencegah kerusakan bahan pustaka karena faktor fisika
sumber:https://www.google.co.id/search?q=keruskan+bahan+pustaka+menurut+faktor&tbm=isch&tbs=rimg:_1

3. Melaksanakan Penyuluhan Kepada Staff dan Pengunjung Perpustakaan

Staff dan pengunjung perpustakaan perlu diberikan penyuluhan tentang

bagaimana cara membawa atau memindahkan bahan pustaka, mengolah,

memperbaiki bahan pustaka dengan cara melalui bahan pelatihan media cetak

seperti: brosur, poster, pamphlet, serta media elektronik. Kegiatan penyuluhan

tentang tindakan pencegahan untuk pengunjung perpustakaan dapat diberikan

melalui pendidikan pemakai yang diselenggarakan perpustakaan yang

bersangkutan.

4. Kesiapan Menghadapi Bencana

Bencana biasanya datang tak terduga dan diluar kemampuan manusia

untuk dapat mengetahui kapan peristiwa itu terjadi. Untuk meminimalkan bencana

yang akan terjadi perlu diadakannya perencanaan untuk menghadapi bencana,

perencanaan tersebut seperti: mengurangi rasa panic pada staff dan dapat

memberikan jalan keluar untuk mengatasinya, menyediakan stok bahan dan

peralatan yang akan digunakan dalam keadaan darurat, membuat daftar lembaga

yang harus dihubungi jika dalam keadaan darurat.

28
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
5. Penyempurnaan Sarana dan Prasarana Perpustakaan

Penyempurnaan sarana dan prasarana perpustakaan dapat dilakukan

dengan cara sebagai berikut:

a. Penataan dan Penyimpanan


Tempat penyimpanan bahan pustaka harus terbuat dari bahan yang tidak
mudah terbakar dan ukuran yang lebar sehingga tidak ada bahan pustaka
yang menonjol. Rak atau tempat penyimpanan bahan pustaka
diusahakan agar di letakkan pada ruangandengan ventilasi yang baik
dan jaraknya cukup untuk mengambil dan mengembalikan bahan
pustaka secara leluasa.
b. Kebersihan
Membersihkan ruangan dan bahan pustaka secara teratur dan pengaturan
suhu dan kelembapan udara merupakan pekerjaan penting untuk
merawat bahan pustaka agar tidak cepat mengalami kerusakan,
pemeriksaan secara berkala pada bahan pustaka dan fasilitas
penyimpanan.
c. Penanganan
Penanganan bahan pustaka yang benar adalah program pelestarian yang
murah. Dengan cara melatih para staff perpustakaan dan pengunjung
perpustakaan dapat menghemat dana untuk memperbaiki dan merawat
koleksi serta dapat mengurangi kerusakan oleh salah penanganan yang
disebabkan oleh para pengunjung perpustakaan dan staff pustakawan.

Pencegahan kerusakan bahan pustaka merupakan salah satu hal yang

terpenting, setiap perpustakaan wajib melakukan pencegaha dari kerusakan bahan

pustaka mengingat bahwa bahan perpustakaan merupakan salah satu unsur yang

terpenting yang terdapat pada suatu perpustakaan. Bahan pustaka yang diharapkan

agar tidak mengalami kerusakan karena lebih baik mencegah dari pada

memperbaiki. Bahan pustaka yang masih bagus dapat di cegah kerusakannya yang

diakibatkan oleh factor perusak bahan pustaka.

Selanjutnya, selain melakukan pencegahan, menjaga bahan pustaka agar

tidak mengalami kerusakan juga dapat dilakukan dengan cara melakukan

perawatan. Perawatan bahan pustaka menurut Soraya (2010: 26) yaitu:

29
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1. Pembasmian
Kerusakan bahan pustaka yang ditimbulkan oleh serangga dan jamur
dapat dilakukan dengan cara pembaasmian. Ada beberapa metode
pembasmian, yaitu: dengan suntikan, dengan penyemprotan, dengan
vacuum, dengan freezing, menggunaan gas inert dan dengan fumigasi.
2. Pembersihan (cleaning)
Apabila bahan pustaka sudah kotor akibat debu, maka bahan pustaka
tersebut harus dibersihkan dengan cara yang benar. Cara pembersihan
bahan pustaka yaitu: membersihkan debu dengan vacuum cleaner,
dengan kuas, dan kerat karna penghapus.
3. Deasidifikasi
Deasidifikasi merupakan cara yang digunakan untuk menetralkan asam
yang dapat merusak kertas, untuk menghilangkannya dapat dilakukan
dengan cara nenutihkan kertas dari pengaruh asam dari luar. Basa atau
bahan yang bersifat alkalin dapat menetralkan asam pada kertas.
4. Memutihkan kertas
Pengaruh factor kimia dan udara dapat menyebabkan noda dan warna
kuning kecoklatan pada kertas, untuk menghilangkannya dapat
dilakukan dengan cara memutihkan kertas. bahan yang digunakan untuk
memutihkan kertas yaitu: Sodium chloride, potassium permanganate,
dan hydrogen peroksida.
5. Menghilangkan Noda dan Sellotape
a. Menghilangkan Noda
Untuk menghilangkan noda yang terdapat pada bahan pustaka
dapat diuji dengan pelarut organic.
b. Menghilangkan Sellotape
Sellotape yang digunakan untuk perekat pada bahan pustaka
sebaiknya dihilangkan, karna bahan perekat pada sellotape
tersebut bersifat asam dan bahan pustaka atau kertas dapat
berubah warna menjadi kuning kecoklatan. Cara menghilangkan
sellotape adalah dengan menggunakan benzene dan pelarut
organic.
6. Penyiangan
Penyiangan merupakan proses pengeluaran bahan pustaka dari koleksi
suatu perpustakaan. Penyiangan ini dilakukan jika bahan pustaka
tersebut sudah rusak parah. Bahan pustaka yang sudah tidak dipakai
dikeluarkan dari koleksi, selanjutnya diberikan kepada perpustakaan
yang memerlukan atau menerima bahan pustaka tersebut Laza (2007:
163).

Selain melakukan pencegahan terhadap factor penyebab kerusakan bahan

pustaka, untuk menjaga bahan pustaka agar tidak cepat mengalami kerusakan juga

dapat di lakukan dengan cara melakukan perawatan terhadap bahan pustaka yang

30
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ada. Perawatan bahan pustaka tersebut dapat dilakukan dengan cara melakukan

pembasmian, pembersihan, deasidifikasi, pemutihan kertas, menghilangkan noda

dan sellotape dan dengan cara melakukan penyiangan terhadap bahan pustaka

yang sudah rusak, seperti bahan pustaka yang berpenyakit sehingga tidak menular

ke bahan pustaka yang masih bagus.

Setelah dilakukannya perawatan bahan pustaka, untuk memulihkan bentuk

dan kekuatan bahan pustaka perlu diadakannya perbaikan bahan pustaka.

Menurut Soraya (2010: 31) jenis perbaikan bahan pustaka seperti:

1. Menambal
Bagian bahan pustaka yang rusak dapat ditambal atau di tutup dengan
tissue jepang, kertas hand made, bubur kertas atau tissue berperekat.
Perekat yang digunakan adalah CMC (Caerboxyl methyl cellulose) atau
MC (Methyl Cellulose).
2. Menyambung
Untuk merekatkan bagian bahan pustaka atau kertas yang robek atau
patah karena lipatan dapat dilakukan dengan cara menyambung bahan
pustaka atau kertas yang robek tersebut. Menyambung kertas atau bahan
pustaka dapat dilakukan dengan menggunakan Jappanesses tissueatau
hand made paper.
3. Lining
Lining merupakan teknik memperkuat kertas atau bahan pustaka dengan
cara pelapisan bagian belakang bahan pustaka dengan bahan penguat.
Proses ini dilakukan untuk jenis gambar, peta atau bahan pustaka lain
yang bergambar. Bahan yang digunakan adalah Japanese tissue dengan
perekat yang diguanakan adalah CMC (Caerboxyl MethlyCellulose)
atau MC (Methyl Cellulose).
4. Laminasi
Tindakan laminasi ini diguanakan untuk bahan pustaka yang sudah
rusak atau tidak dapat diperbaiki lagi, seperti menambal dan
menyambung sehimgga bahan pustaka menjadi kuat.
5. Enkapsulasi
Kertas atau bahan pustaka yang akan dienkapsulasi berupa lembaran
yang sudah rapuh. Proses enkapsulasi ini menggunakan plastic polyester
dengan cara dilapisi dan direkatkan dengan menggunakan double side
tape.
6. Perbaikan Jilidan
Beberapa jenis pekerjaan perbaikan bahan pustaka yang dapat dilakukan
yaitu: memperkuat engsel buku yang longgar, mengganti lembar

31
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
pelindung yang sobek, menempel linen baru pada punggung sampul
buku asli, perbaikan buku dengan menggunakan sampul buku asli,
memperbaiki kembali sampul buku dan perbaikan sampul buku.

Perbaikan bahan pustaka dilakukan untuk membenahi kondisi fisik dari

bahan pustaka agar bahan pustaka yang rusak ringan tidak bertambah parah

sedangkan bahan pustaka yang sudah rusak parah dapat digunakan kembali oleh

para pengunjung. Sedangkan untuk bahan pustaka yang dianggap penting tetapi

bahan pustaka tersebut rusak dapat dipakai kembali karena sudah diperbaiki.

Perbaikan bahan pustaka dapat dilakukan dengan cara menambal, menyambung,

lining, enkapsulasi, dan perbaikan jilidan.

2.3.2 Pelestarian Kandungan Informasi

Pelestarian kandungan informasi ini bertujuan untuk melestarikan fisik asli

bahan pustaka dan informasi yang terkandung. Pelestarian kandungan informasi

dilakukan dengan cara alih media. Menurut Soraya (2010: 20) kegiatan alih

media yang biasa digunakan yaitu:

1. Fotokopi
Kegiatan fotokopi ini hanya dilakukan apabila tidak tersedia untuk
mikro, digital dan terbatasnya alat baca. Kegiatan fotokopi dari bahan
pustaka yang asli tidak digunakan untuk kepentingan pengguna, tetapi
diguanakan untuk menggantikan bahan pustaka yang tingkat
penggunaanya tinggi.
2. Fotografi
Kegiatan fotografi ini merupakan teknik pembuatan gambar tetap
dengan menggunakan cahaya. Ada beberapa tahapan yang digunakan
dalam pelaksanaan fotografi atau refrografi diperpustakaan.
3. Digital
Image digital adalah “fotografi elektronik” yang di scan dari bahan
pustaka. Dalam menampilkan informasi dan lay out sebuah digital
image lebih akurat dan merupakan presentase dari aslinya termasuk tipe
permukaan, annotasi dan ilustrasi.

32
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4. Bentuk Mikro
Mikrofilm ini dapat disimpan dalam kotak yang sesuai dan ruangan
penyimpanan yang ideal, maka microfilm ini dapat digunakan selama
500 tahun. Langkah-langkah dalam proses alih media bentuk mikro
yaitu: penelusuran, registrasi, persiapan, pemotretan, penduplikasian,
pencucian, control kualitas dan penyimpanan.

Dengan pelestarian yang baik dan benar, diharapkan agar bahan pustaka

yang ada diperpustakaan dapat berumur lebih panjang dan para pustakawan

ataupun staff tidak perlu lagi membeli bahan pustaka yang sama dan bahan

pustaka yang masih bagus ataupun yang sudah rusak tetapi bahan pustaka tersebut

asih sangat pentig maka perlu diadakannya pelestarian terhadap bahan pustaka

tersebut dengan cara alih media dan melestarikan nilai informasi yang terkandung

yang terdapat pada bahan pustaka tersebut.

33
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang dirancang untuk melihat dan

mengungkap fakta-fakta yang berkaitan dengan kegiatan Preservasi dan

Konservasi bahan pustaka pada Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen

Medan. Sukmadinata (2006) menyatakan bahwa “penelitian deskriftif merupakan

suatu bentuk penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena-

fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia.

Fenomena itu sendiri dapat berupa bentuk, aktivitas, perubahan, karakteristik,

hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena

lainnya”.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif – deskriptif, mengingat

terdapatnya variable yang membutuhkan interpretasi untuk mengetahui secara

langsung terhadap informan. Pendekatan kualitatif – deskriptif dipandang lebih

tepat dalam penelitian ini, karena berkaitan dengan tujuan penelitian yang ingin

menggambarkan kajian kegiatan kerja Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka

di Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini di lakukan di Perpustakaan Universitas HKBP

Nomensen Medan JL. Perintis Kemerdekaan No.23, Perintis, Medan.

34
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3.3 Informan

Pada penelitian ini yang dimaksud informan adalah orang yang dianggap

benar-benar mengetahui dengan baik tentang masalah yang diteliti dan bersedia

untuk memberikan informasi kepada peneliti. Menurut Arikunto dan safruddin

( 2010: 188) “ Informan adalah orang yang memeberikan informasi”.

Dalam melakukan penelitian, terlebih dahulu melakukan pemilihan

informan. Terdapat criteria dalam menentukan informan. Teknik penentuan

informan dilakukan secara purposive sampling. Menurut Suwarno (2006: 154) “

Puposive sampling adalah teknik penentuan informan yang mencakup orang-

orang yang diseleksi atas dasar kriteria tertentu”. Pada penelitian ini, informan

berjumlah 3 orang yaitu pustakawan bagian perawatan dan perbaikan bahan

pustaka Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan.

3.4 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat yang dibutuhkan untuk mengumpulkan

data yang dibutuhkan untuk semua penelitian. Menurut Arikunto (2002: 136)

“ Instrumen penelitian adalah mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah

dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cepat, lengkap dan sistematis sehingga

lebih mudah diolah”.

Pada penelitian ini digunakan instrumen penelitian adalah peneliti sendiri

dengan menggunakan:

35
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
a. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara ini berisi hal-hal pokok yang akan ditanyakan

sebagai pemancing percakapan. Pedoman ini bersifat fleksibel, tidak

mengikat, hanya sebagai pembuka dan mengarah kepada pembicaraan.

b. Daftar Checklist

Daftar checklist adalah suatu daftar yang memuat item-item prnyataan

tentang aspek-aspek yang akan diteliti.

c. Perekam Suara

Selain alat tulis sebagai alat bantu peneliti juga menggunakan perekam

suara karena pada dasarnya pengamatan dan ingatan manusia sangat

terbatas.

3.5 Jenis dan Sumber Data

Data yang dikumpulkan dari penelitian ini berasal dari dua sumber, yaitu:

a. Data primer, yaitu data yang secara langsung diperoleh oleh peneliti dari

hasil wawancara dan observasi.

b. Data sekunder, yaitu data yang bersumber dari buku, jurnal, majalah,

laporan tahunan dan dokumentasi lain yang berhubungan dengan

masalah penelitian serta data yang diperoleh melalui website atau

internet.

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Menurut Rochaety (2007: 37) menyatakan bahwa “ Untuk pengumpulan

data dapat menggunakan kuesioner, wawancara, observasi dan lain sebagainya.

36
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Keterampilan dalam melakukan pengumpulan data ini dituntut untuk menjamin

keabsahan dan keterandalan data yang dikumpulkan”.

Dalam melakukan proses data, peneliti melakukan tiga metode, diantaranya:

Pertama, Wawancara. Dalam penelitian ini digunakan wawancara

langsung mendalam ( in-depth interview ), metode ini merupakan metode primer

dalam penelitian ini. Wawancara ini pertama-tama dilakukan untuk mengetahui

secara mendalam masing-masing informan mengenai kegiatan preservasi dan

konservasi bahan pustaka yang sudah tersususun dalam panduan wawancara.

Wawancara mendalam dilakukan sedemikian rupa sehingga memberikan

keleluasaan kepada informan untuk memberikan jawaban dan informasi

sebanyak-banyaknya dan memungkinkan peneliti untuk mengembagkan dan

memperdalam pertanyaan sesuai dengan jawaban informan.

Kegiatan dalam penelitian ini meliputi:

1. Pembuatan pedoman wawancara

2. Pelaksanaan wawancara

3. Transkip hasil wawancara

4. Pengelompokan data berdasarkan pertanyaan dan pernyataan, dan

5. Analisis data.

Kedua, Observasi. Metode ini merupakan pengamatan dan pencatatan

secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki oleh peneliti.

Observasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang

kondisi lapangan baik pada saat pra-penelitian maupun pada saat penelitian

sedang berlangsung, juga pengamatan terhadap perilaku informasinya sebagai

37
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
data pendukung. Dalam pengumpulan data ini observasi yang dilakukan didukung

dengan dokumen-dokumen terhadap perilaku informan. Dalam observasi ini,

diterapkan suatu catatan lapangan (field notes).

Ketiga, Dokumentasi. Metode ini dilakukan dalam mengamati data-data

tercatat (record) yang kemudian digunakan sebagai data mengenai suatu hal

meliputi lokasi penelitian, profil perpustakaan tempat penelitian, Profil kegiatan

Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka dan struktur organisasi. Data yang

diperoleh melalui kedua metode ini berfungsi untuk memperkuat data hasil

wawancara dan pengamatan.

3.7 Analisis Data

Analisis data digunakan untuk memperoleh data yang benar dan akurat,

dalam analisis data diorganisasikan dan diolah untuk menjawab permasalahan

penelitian. Menurut Patton yang dikutip oleh Moleong (2002: 103) “ Analisis data

adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola,

kategori, dan satuan uraian dasar”. Adapun alur kegiatan dalam menganalisis data

dalam penelitian kualitatif antara lain: pengumpulan data, reduksi data, penyajian

data, verifikasi data, dan penarikan kesimpulan.

3.7.1 Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan

wawancara, observasi, dan studi kepustakaan.

38
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3.7.2 Reduksi Data

Menurut Miles dan Huberman yang dikutip oleh Sugiyono (2012: 16)

“ Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada

penyederhanaan, keabsahan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari

catatan-catatan tertulis dilapangan”. Data yang direduksi antara lain seluruh data

mengenai permasalahn penelitian.

Data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih spesifik dan

mempermudah peneliti melakukan pengumpulan data selanjutnya serta mencari

data tambahan jika diperlukan. Semakin lama peneliti berada dilapangan maka

jumlah data yang diperoleh akan semakin banyak, semakin kompleks, dan rumit.

Oleh karena itu, reduksi data perlu dilakukan sehingga data tidak bertumpuk dan

tidak mempersulit analisis selanjutnya.

3.7.3 Penyajian Data

Pada proses ini, peneliti menyusun data yang relevan, sehingga menjadi

informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu dengan cara

menampilkan dan memuat hubungan antar variabel agar peneliti dan pembaca

laporan penelitian mengerti yang sedang terjadi dan yang perlu ditindak lanjuti

untuk mencapai tujuan penelitian.

3.7.4 Verifikasi Data dan Penarikan Kesimpulan

Tahap ini merupakan tahap penarikan kesimpulan dari semua data yang

telah diperoleh sebagai hasil dari penelitian. Penarikan kesimpulan dari verifikasi

data adalah usaha untuk mencari atau memahami makna/arti, keteraturan, pola-

39
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
pola penjelasan, alur sebab akibat atau proposisi. Sebelum melakukan penarikan

kesimpulan atau verifikasi dari kegiatan-kegiatan sebelumnya. Penarikan

kesimpulan berdasarkan hasil verifikasi data penelitian yang disajikan dalam

bentuk narasi. Penarikan kesimpulan merupakan tahap akhir dari kegiatan analisis

data.

3.8 Keabsahan Data

Untuk menjaga keabsahan data pada penelitian ini, maka penulis

menggunakan beberapa metode triangulasi, yaitu teknik yang dilakukan dengan

meminta penjelasan lebih lanjut. Data yang diperoleh dengan mencari informasi

lebih dari 1 orang.

Adapun teknik triangulasi yang digunakan pada penelitian ini adalah:

1. Triangulasi data

Menggunakan berbagai sumber data seperti hasil wawancara dan hasil

observasi.

2. Triangulasi Teori

Penggunaan berbagai teori yang berlainan untuk memastikan bahwa data yang

dikumpulkan sudah memenuhi syarat. Pada penelitian ini, berbagai teori telah

dijelaskan pada bab II untuk dipergunakan dan menguji terkumpulnya data

tersebut.

3. Triangulasi Metode

Penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal, seperti metode

wawancara yang ditunjang dengan metode observasi. Pada penelitian ini,

40
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
peneliti melakukan metode wawancara yang ditunjang dengan metode

observasi pada saat wawancara dilakukan.

41
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik Informan

Informan dalam penelitian ini adalah kepala dan staf bagian preservasi

dan konservasi koleksi bahan pustaka tercetak di Perpustakaan Universitas HKBP

Nomensen Medan. Adapun karakteristik dari para informan tersebut adalah

sebagai berikut:

4.1 Tabel informan

Sumber Golongan Status

I1 Iva Kepala Bag. Preservasi

Konservasi

I2 III/b Staf

I3 II/b Staf

Informan pertama I1, adalah responden yang berhasil diwawancarai dengan

perkenalan pendekatan terlebih dahulu, begitu juga dengan responden I2, I3 .

kemudian diminta waktu dan kesediaannya untuk diwawancarai, dengan

menjelaskan terlebih dahulu maksud dan tujuanpada penelitian dan dilakukan

melalui wawancara. Setelah perkenalan barulah dilakukan wawancara.

42
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Wawancara berlangsung secara informal, dimana wawancara dilakukan

dengan pedoman wawancara dan wawancara secara mendalam. Suasana dan

kondisi wawancara bersifat alamiah artinya adanya dan tidak dibuat-buat atau di

atur sedemikian rupa untuk tujuan tertentu. begitu juga dengan bahasa yang

digunakan tidak formal(informal).Wawancara dilakukan berulang jika peneliti

merasa ada perlu ditambahi atau dikurang jelas di wawancara sebelumnya. Untuk

informan selanjutnya, peneliti terus berusaha untuk mencari keterangan yang lebih

jelas dan lengkap.

4.2 Kategori

Setelah melakukan wawancara peneliti menyusun kerangka awal analisis

sebagai acuan dalam pedoman dalam melakukan wawancara, dalam memilih data

yang relavan. Dengan penelitian sehingga menghasilkan beberapa kategori

sebagai berikut:

4.2.1 Kondisi Bahan Pustaka

Untuk mengetahui koleksi bahan pustaka di Perpustakaan Universitas

HKBP Nomensen Medan maka peneliti mewawancarai informan . Berikut ini

petikan wawancara menegenai kondisi koleksi bahan pustaka:

I1 : Sejauh ini kondisi bahan pustaka atau buku-buku yang terdapat di ruang

baca sebagian ada yg mengalami kerusakan , mulai dari keruskan ringan

seperti adanya kerusakan pada halaman dan lembaran-lembaran buku yang

sudah sebagian sobek dan ada juga kerusakan yang berat seperti

kerusakanpada tulang punggung buku yang sudah lepas, lembaran- lembaran

43
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
buku yang sudah lengket akibat lembab sehingga buku tak bisa

dibaca.sebagiansudah lapuk dan berwarna hitam kecokletan.

Gambar 4.1 Kerusakan Pada Tulang Punggung Bahan Pustaka

I1 : Kondisi bahan pustaka kebanyakan kerusakan ringan, hal ini disebabkan

kerusakan yang dibuat oleh pemustaka sendiri, kebanyakan buku yang

dipinjam dengan keadaan rusak, atau banyak coretan dalam buku. Dan

sebagian besar koleksi bahan pustaka masih dalam kondisi baik.

Berdasarkan uraian di atas , maka dikatakan bahwa kondisi bahan

pustaka sebagian mengalami kerusakan dengan berbagai tingkat kerusakan

mulai dari kerusakan ringan sampai kerusakan berat seperti buku yang sudah

lengket dan tidak bisa dibaca akibat kelembaban udara. dan sebagaian lagi

masih dalam kondisi baik belum mengalami kerusakan.

4.2.2 Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka.

Preservasi dan konservasi bahan pustaka yang dilakukan oleh bagian

pelestarian bahan pustaka di Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen

Medan dapat dikutip melalui hasil wawancara informan I1, sebagai berikut:

44
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Pertanyaan: Bagaimana kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka?

I1 : preservasi dan konservasi bahan pustaka yang kami lakukan untuk

menjaga kondisi fisik buku yaitu dengan menjaga kebersihan ruangan dan

menegaskan kepada pengunjung agar bekerjasama dalam menjaga

kelestarian bahan pustaka.

I1 : pelestarian bahan pustaka yang kami lakukan menjaga informasi yang

terkandung di dalamnya masih sangat sederhana hanya membersihkan debu,

debu yang terdapat pada rak buku dengan menggunakan vacum cleaner untuk

mencegah kerusakan bahan pustaka, dan masih banyak lagi yang belum bisa

dilaksnakan karena kami belum mempunyai peralatanyang memadai untuk

mencegah kerusakan yang lebih intensif.

Dari uraian diatas , maka dapat dikatakan bahwa kegiatan preservasi

dan konservasi bahan pustaka masih sangat sederhana yaitu menghimbau

pengunjung agar turut menjaga kondisi fisik buku serta membersihkan buku

dan rak buku dengan menggunakan vacum cleaner.

4.2.3 Faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka

Dari hasil wawancara dengan informan , hal apa saja yang

mempengaruhi kerusakan bahan pustaka , ada beberapa faktor diantaranya

adalah manusia dan binatang pengerat . hal ini sesuai dengan kutipan dari

informan.

45
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Pertanyaan: apa saja faktor yang mempengaruhi penyebab kerusakan bahan

pustaka?

I1 : ada beberapa faktor yang mempengaruhi kerusakan bahn pustaka yang

terjadi di Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan misalnya

dimakan rayap atau hewan pengerat, jamur, dimakan usia, kerusakan akibat

tikus , serta ulah pembaca atau penggunjung yang kurang menjaga kondisi

buku.

Gambar 4.2 Kerusakan Pada Sampul Bahan Pustaka

Gambar 4.3 Kerusakan pada halaman bahan pustaka

46
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 4.4 Kerusakan pada jilid bahan pustaka

I1 : yang paling mempengaruhi kerusakan bahan pustaka akibat ruangan

terlalu panas dan kurangnya cahaya , karena dalam ruang baca tidak ada

pengatur suhu udara , sehingga buku-buku menjadi lembab. Dan cepat rusak.

Dari uraian diatas, banyak faktor yang mempengaruhi kerusakan

bahan pustaka yaitu faktor internal yakni kerusakan yang terjadi usia buku

dan faktor eksternal yaitu yaitu tikus, jamur dan binatang pengerat, debu dan

pengguna ( manusia).

4.2.4 Tindakan Pencegahan Kerusakan Bahan Pustaka

Tindakan atau usaha yang dilakukan untuk mecegah kerusakan bahan

pustaka atau disebut tindakan preventif , dapat dilihat dari hasil wawancara

dengan informan :

Pertanyaan: Ada 4 faktor yang mempengaruhi kerusakan bahan pustaka yaitu

kerusakan disebabkan oleh manusia, faaktor biologis, faktor kimia dan juga

47
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
faktor kerusakan disebabkan alam. Untuk mencegah kerusakan, tindakan atau

usaha apa saja yang pernah dilakukan?

I1 : Tindakan atau usaha yang kami lakukan dalam pencegahan kerusakan

bahan pustaka yaitu dengan menjaga kebersihan ruangan penyimpanan

agar debu tidak merusak bahan pustaka, kami lakukan dengan menggunakan

alat sederhana seperi kain lap dan kemoceng.

I1: Kami juga menghimbau kepada penggunjung atau pengguna untuk

bekerja sama dengan menjaga kebersihan ruang, dengan membuat poster atau

himbauan berupa rambu-rambu peringatan lainnya,

Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa usaha dan tindakan yang

dilakukan dalam mencegah kerusakan bahan pustaka masih sederhana, belum

memperhatikan faktor penting seperti pencahayaan ,suhu dan kelembaban

udara di ruangan dan ada beberapa beberapa rambu-rambu peringatan seperti

dilarang makan dan minum, dilarang merokok, dan menjaga kebersihan dalam

ruangan.

4.2.5 Perawatan Bahan Pustaka

Perawatan bahan pustaka merupakan bagian dari pelestarian bahan

pustaka yaitu salah satu tindakan dalam pencegahan keruskan bahan pustaka.

Perawatan yang dilakukan dapat dilihat dari hasil wawancara dengan

informan yaitu sebagai berikut:

48
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Pertanyaan: Ada beberapa bagian dari perawatan bahan pustaka yaitu

fumigasi atau pengasapan , pembersihan, penyiangan, deasidifikasi dan lain

sebagainya. Sejauh ini apa saja yang sudah di lakukan dari bagian perawatan

tersebut?

I1: perawatan yang sudah kami lakukan ialah pembersihan, penyiangan,

sejauh ini kami hanya fokus dalam perawatan fisik saja, pencegahan dari luar

merupakan tugas dan tanggung jawab pada bagian layanan,

Dari pendapat diatas dapat diketahui bahwa perawatan yg sudah

dilakukan sejauh ini adalah pembersihan dan penyiangan adapun fumigasi

dilakukan tetapi dilaksanakan oleh bagian layanan.

4.2.6 Perbaikan (Restorasi) Bahan Pustaka

Perbaikan atau restorasi merupakan tindakan kuratif, upaya yang

dilakukan dalam memperbaiki kerusakan bahan pustaka dapat dilihat dari

hasil wawancara dengan informan sebagai berikut:

Pertanyaan; Dalam perbaikan bahan pustaka, perbaikan apa saja yang

dilakukan dalam menjaga keutuhan dan nilai informasi dalam bahan pustaka

tersebut?

I1: Dalam perbaikan bahan pustaka, yang kami lakukan yaitu menambal

kertas dengan menggunakan kertas yg khusus, mengganti halaman yang sudah

sobek dengan cara menambalnya, jikalau sudah hilang harus diganti dengan

membuat fotokopinya, memperbaiki punggung buku, engsel dengan alat-alat

49
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
yang sederhana, menyambung dengan merekatkan kembali bagian kertas yang

sobek denganmenggunakan hand made paper.

Gambar 4.5 Bahan Pustaka yang dikumpulkan untuk di perbaiki

Gambar 4.6 Bahan Pustaka yang dikumpulkan untuk di perbaiki

I1: Ada beberapa perawatan bahan pustaka dengan cara memperkuat bahan

pustaka dengan melapisi bagian belakang buku, melaminasi buku yng sudah di

perbaiki,

50
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 4.7 Bahan Pustaka yang belum terlalu rusak di perbaiki untuk
mencegah kerusakan yang lebih parah

Berdasarkan uraian diatas dapat di jelaskan ada berbagai perbaikan

yang dilakukan yaitu, menambal buku, menyambung, dan mengganti halaman

yang sudah koyak, memperbaiki engsel dengan cara engkaptulasi serta

melaminasi buku yang sufah diperbaiki.

4.2.7 Kegiatan Dalam Penerapan Preservasi dan Konservasi Bahan


Pustaka

Kegiatan Preservasi yang digunakan dalam melaksanakan tindakan

dalam pelestarian bahan pustaka. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara dari

informan sebagai berikut:

Pertanyaan: Kegiatan apa saja yang dilakukan dalam upaya mencegah

kerusakan bahan pustaka dan tindakan-tindakan apa saja yang dilakukan?

I1: Ada beberapa tahapan yang kami lakukan dalam penerapan kegiatan

pelestarian bahan pustaka yaitu: (1) Petugas menyeleksi bahan pustaka yang

akan dilestarian bahan pustaka, (2) petugas akan mengirim bahan pustaka ke

51
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
unit pelestarian bahan pustaka(3) petugas menentukan jenis pelestarian

bahan pustaka sesuai dengan tingkat kerusakan bahan pustaka.(4) kemudian

setelah selesai petugas mengambil bahan pustaka dan meletakkannya dalam

rak buku.

Dari hasil wawancara diatas maka dapat diuraikan bahwa teknik yang

diguanakan dalam pelestaraian bahan pustak dilakukan dengan menggunakan 4

tahapan, dengan demikian petugas dalam layanan umum harus bekerja sama

dengan unit pelestarian.

4.2.8 Kegiatan Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka

Kegiatan dalam preservasi dan konservasi bahan pustaka adalah dengan

memulai melakukan tindakan awal untuk mengetahui cara pelaksanakan dalam

melestarikan bahan pustaka. Hal ini dapat di lihat dari hasil wawancara dari

informan sebagai berikut;

Pertanyaan: Dalam pelaksanaan kegiatan preservasi dan konservasi bahan

pustaka kebijakan apa yang dilakukan sebagai langkah awal dan

pelaksanaanya?

I1 : Agar kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka dapat berjalan

dengan baik awalnya yg kami lakukan ialah melalui proses perencanaan

dimulai dari survei,penelusuran, kondisi dan menentukan cara pelestarian

bahan pustaka yaitu melihat tingkat kerusakan pada buku, tindakan atau cara

untuk menanganinya dan alat digunakan, serta bahan-bahan yg perlu

disiapkan yang mendukung proses perbaikan.

52
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
I1: Dalam pelaksanakan kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka,

kita mengupayakan agar pengguna atau penggungjung agar mau peduli atau

kerja sama dalam menjaga kelestarian bahan pustaka , adapun sanksi yang

diberikan pada peminjam apabila diketahui buku yang dipinjam rusak atau

hilang, maka pengguna harus membayar denda atau mengganti buku dengan

memfotokopinya.

Berdasarkan uraian diatas maka kebijakan pelestarian disimpulkan

yakni langkah awal sebagai perencanaan yaitu survei, kondisi, menelusur

keadaan bahan pustaka, serta usaha apa yang akan dilakukan dalam pelestarian

bahan pustaka. Ada juga kebijakan yang diambil menjadi tindakan dalam

menjaga kelestraian bahan pustaka yaitu memberi sanksi apabila diketahui

bahan pustaka keadan rusak maka akan diberi sanksi berupa denda sesuai

ketentuan yang berlaku.

4.3 Rangkuman Penelitian

Berdasarkan hasil wawancara yang mendalam dengan para informan,

melalui proses analisis data yang menjadi keabsahan data, sehingga diperoleh

beberapa kategori kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka pada

Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan sebagai berikut:

53
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Tabel 4.2 Rangkuman Hasil Penelitian

NO Kategori Keterangan

1 Kondisi koleksi bahan sebagian mengalami kerusakan dengan

pustaka berbagai tingkat kerusakan mulai dari

kerusakan ringan sampai kerusakan berat

dan sebagaian lagi masih dalam kondisi

baik belum mengalami kerusakan

2. Kegiatan preservasi kegiatan pelestarian bahan pustaka masih

dan konservasi bahan sangat sederhana yaitu menghimbau

pustaka pengunjung agar turut menjaga kondisi

fisik buku serta membersihkan buku dan

rak buku dengan menggunakan vacumm

cleaner.

3 faktor penyebab faktor yang mempengaruhi kerusakan bahan

kerusakan bahan pustaka yaitu faktor internal yakni

pustaka kerusakan yang terjadi karena usia buku dan

faktor eksternal yaitu yaitu tikus, jamur dan

binatang penegerat, debu, cahaya,

kelembaban udara dan pengguna ( manusia).

4 Tindakan tindakan yang dilakukan dalam mencegah

pencegahan kerusakan bahan pustaka masih sederhana,

54
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kerusakan bahan belum memperhatikan faktor penting seperti

pustaka pencahayaan, suhu dan kelembaban udara di

ruangan dan ada beberapa rambu-rambu

peringatan seperti dilarang makan dan

minum, dilarang merokok, dan menjaga

kebersihan dalam ruangan.

5 perawatan bahan perawatan yang sudah dilakukan sejauh ini

pustaka adalah pembersihan dan penyiangan adapun

fumigasi dilakukan tetapi dilaksanakan oleh

bagian layanan.

6 Perbaikan (Restorasi) perbaikan yang dilakukan yaitu, menambal

bahan pustaka buku, menyambung, dan mengganti halaman

yang sudah koyak, memperbaiki engsel

dengan cara enkaptulasi serta melaminasi

buku yang sudah diperbaiki.

55
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Bab V merupakan bab terakhir dalam pembahasan skripsi ini yang di

dalamnya peneliti mengambil kesimpulan sesuai dengan tujuan penelitian.

Selanjutnya, peneliti juga mengajukan beberapa saran yang berhubungan dengan

masalah penelitian.

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan data yang diperoleh dari pembahasan tentang kegiatan

preservasi dan konservasi dalam pelestarian bahan pustaka di Perpustakaan

Universitas HKBP Nomensen Medan sebagai berikut;

1. Kegiatan yang dilakukan oleh pustakawan dalam pelestarian bahan

pustaka di Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan, terdapat

beberapa point yaitu kegiatan pelestarian, pencegahan kerusakan bahan

pustaka( tindakan preventif), perawatan bahan pustaka, perbaikan bahan

pustaka( tindakan kuratif) serta kebijakan yang digunakan.

2. Kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka di Perpustakaan

Universitas HKBP Nomensen Medan masih sangat sederhana yaitu

menghimbau pengunjung agar turut menjaga kondisi fisik buku serta

membersihkan buku dan rak buku dengan menggunakan vacumm cleaner.

3. Faktor-faktor penyebab kerusakan bahan pustaka di Perpustakaan

Universitas HKBP Nomensen Medan yaitu faktor internal yakni

56
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kerusakan yang terjadi karena usia buku dan faktor eksternal yaitu tikus,

jamur dan binatang pengerat, debu, cahaya, kelembaban udara dan

pengguna ( manusia).

4. Tindakan pencegahan kerusakan bahan pustaka di Perpustakaan

Universitas HKBP Nomensen Medan yang dilakukan dalam mencegah

kerusakan bahan pustaka masih terbilang sederhana, belum

memperhatikan faktor penting seperti pencahayaan, suhu dan kelembaban

udara di ruangan dan ada beberapa rambu-rambu peringatan seperti

dilarang makan dan minum, dilarang merokok, dan menjaga kebersihan

dalam ruangan

5. Perawatan bahan pustaka di Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen

Medan adalah pembersihan dan penyiangan, adapun fumigasi dilakukan

tetapi dilaksanakan oleh bagian layanan karena tidak mempunyai

peralatan sendiri

6. Perbaikan (Restorasi) bahan pustaka di Perpustakaan Universitas HKBP

Nomensen Medan adalah dengan, menambal buku, menyambung, dan

mengganti halaman yang sudah koyak, memperbaiki engsel dengan cara

engkaptulasi serta melaminasi buku yang sudah diperbaiki.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukan oleh peneliti diatas, untuk

meningkatkan dan memperbaiki dalam hal tindakan pustakawan terhadap

pelestarian kedepannya diharapkan menjadi sesuai dan terkonsep, peneliti

57
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
memberikan saran atau masukan untuk meningkatkan keberlanjutan upaya lebih

baik bagi pustakawan dan perpustakaan. Adapun saran dari peneliti yaitu:

1. Pustakawan dalam menerapkan kegiatannya mampu melaksanakan upaya

yang membangun untuk pelestarian itu sendiri dan tidak hanya bergelut

dalam masalah pelaksanaan teknis.

2. Kegiatan yang dilakukan pustakawan dalam melestarikan bahan pustaka

harus signifikan dalam merawat dan melestarikan bahan pustaka sesuai

dengan faktor pencegahannya, seperti tetap menjaga kebersihan ruang

baca dan rak buku, mengatur suhu udara dalam ruangan,dan melakukan

penyedotan debu (vacuum Cleaner).

3. Fasilitas ruang bahan pustaka harus memadai hal ini sangat penting dalam

menjaga dan mencegah kerusakan bahan pustaka seperti di sediakannya

ruangan khusus untuk melakukan kegiatan preservasi bahan pustaka,

melakukan pemasangan AC dimana hal ini dimaksudkan untuk menjaga

suhu ruangan sehingga koleksi bahan pustaka tidak cepat rusak,

melakukan pemasangan gorden untuk mengurangi masuknya sinar

matahari langsung ke bahan pustaka.

58
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. “Metodologi Penelitian”. Jakarta : PT. Rineka Cipta


------------. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta
: PT. Rineka Cipta.

Darmono. 2007. Perpustakaan sekolah: “Pendekatan Aspek Manajemen dan Tata


Kerja”. Jakarta : Grasindo.

Departemen Pendidikan. 2004. “Tujuan Dari Perawatan Bahan Pustaka”.


http://www.google.co.id/search?client=ucweb=tujuan+dari+perawatan+ba
han+pustaka=mobile-gws-serp. (diakses 10 November 2017).

Hasugian, Joner. 2009. Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi.


Medan : USU Pers.

Hasanah. 2010. “Tindakan Dalam Perawatan Bahan Pustaka”. Jakarta: Gramedia


Pustaka Utama.

Kusumah Wjaya. 2011. “Mengenal Penelitian Tindakan Kelas”. Jakarta : PT


Indeks.
www.konsistensi.com/2013/04/kuesioner-sebagai-teknik-pengumpulan
data.html?m=1. (diakses 15 Desember 2017).

Lasa HS. 2009. Preservasi dan Konservasi. Yogyakarta: Gama Media.

Martoatmodjo,karmidi. 1993. “Pelestaian Bahan Pustaka”. Jakarta: Universitas


Terbuka.

Mardyantini. 2007. “Perpustakaan Sebagai Pusat Informasi dan Penyebar


Informasi”. Jakarta: Universitas Terbuka.

Massofa. 2009. “Pelestarian, Macam Sifat Bahan Pustaka dan Latar Belakang
Sejarahnya”.
http://pustaka.uns.ac.id/2009/1203/opt=1001&menu=news&option=detail
&nid=9. (diakses 10 Januari 2018).

Moleong. 2002. “Analisis Data dalam Prosedur Penelitian”. Jakarta: Gramedia


Pustaka Utama.

Murjopranoto. 2006. “Fungsi Perpustakaan”.


http://www.eurekapendidikan.com/2014/11/fungsiperpustakaan.html?m=1.
(diakses 10 Januari 2018).

59
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi. 2004. Jakarta: Perpustakaan Nasional
RI.

Pendit, Putu Laxman. 2003. Penelitian Ilmu Perpustakaan dan Informasi


sebuah pengantar diskusi epistemology dan metodologi. Jakarta : Jurusan
Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Rossman, Gretchen, B. and Sharon F. Rallis 2003. Learning in the field, London
: SAGE Publications, Ltd.

Rochaety. 2007. “Teknik Pengumpulan Data”. Bandung: Alfabeta.

Sjahrizal-Pamuntjak, Rusina. 2000. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan,


Jakarta : Djambatan.

Soraya. 2013. “ Faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka”.


http://www.google.co.id/search?client=ucweb=faktor+penyebab+kerusaka
n+bahan+pustaka+menurut+para+ahli=mobile-gws-serp.(diakses10Januari
2018).

Sukmadinata. 2006. “ Metode Penelitian Deskriptif”.


http://ayo-nambahilmu.blogspot.co.id/2016/06/metodepenelitiandeskriptif-
jenis.html?m=1. (diakses 11 Januari 2018).

Sugiyono. 2012. “Cara Penggunaan Metode Dalam Penelitian”.


http://ayo-nambahilmu.blogspot.co.id/2016/06/metodepenelitiandeskriptif-
jenis.html?m=1. (diakses 11 Januari 2018).

Sukmadinata. 2010. “ Instrumen Dalam Sebuah Penelitian “.


http://www.eurekapendidikan.com/2014/11/intrumenpenelitian.html?m=1.
(diakses 14 Februari 2018).

Sutarno N.S. 2008. “ Preservasi dan konservasi adalah suatu kegiatan


dibidang-perpustakaan”.
http://any.web.id/preservasi-dan-konservasi-bahanpustaka.info.html?m=1.
(diakses 14 Februari 2018).

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif,


Kualitatif, Dan R&D. Bandung: CV Alfabeta.

Suwarno. 2006. “Tehnik Penelitian Deskriptif”. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Wariyanti. 2010. “Program Pelestarian Bahan Pustaka”. Jakarta: Kencana


http://any.web.id/program-pelestarian-bahan-pustaka.info.html?=1.
(diakses 14 Februari 2018).

60
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Wndy Smith. 2009. “Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka Dalam
Memperpanjang Umur Bahan Pustaka”. Bandung: CV Alfabeta.
http://any.web.id/preservasi-dan-konservasi-bahan-pustaka.info.html?=1.
(diakses 14 Februari 2018).

61
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LAMPIRAN I

PEDOMAN WAWANCARA

Informan : Kepala Bagian Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka

Kode :

Pertanyaan :

1. Berapakah jumlah (judul) koleksi perpustakaan yang ada di Perpustakaan

Universitas HKBP Nomensen saat ini?

2. Apa saja persiapan untuk melakukan proses preservasi dan konservasi bahan

pustaka di Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan?

3. Bagaimana kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka?

4. Apa saja faktor yang mempengaruhi penyebab kerusakan bahan pustaka?

5. Ada 4 faktor yang mempengaruhi kerusakan bahan pustaka yaitu kerusakan

disebabkan oleh manusia, faaktor biologis, faktor kimia dan juga faktor

kerusakan yang disebabkan oleh alam. Untuk mencegah kerusakan,

tindakan atau usaha apa saja yang pernah dilakukan?

6. Ada beberapa bagian dari perawatan bahan pustaka yaitu fumigasi atau

pengasapan , pembersihan, penyiangan, deasidifikasi dan lain sebagainya.

Sejauh ini apa saja yang sudah di lakukan dari bagian perawatan tersebut?

62
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
7. Dalam perbaikan bahan pustaka, perbaikan apa saja yang dilakukan dalam

menjaga keutuhan dan nilai informasi dalam bahan pustaka tersebut?

8. Kegiatan apa saja yang dilakukan dalam upaya mencegah kerusakan bahan

pustaka dan tindakan-tindakan apa saja yang dilakukan?

9. Dalam pelaksanaan kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka

kebijakan apa yang dilakukan sebagai langkah awal dan pelaksanaanya?

Informan : Staff Bagian Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka

Kode : I2

Pertanyaan :

1 .Jalur pendidikan atau pelatihan apa yang pernah atau harus diikuti untuk

dapat menguasai proses kegiatan preservasi dan konservasi pada

Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan?

2. Menurut pendapat saudara apa tujuan utama melakukan kegiatan preservasi

dan konservasi bahan pustaka pada Perpustakaan Universitas HKBP

Nomensen Medan?

3. Bahan pustaka apa saja yang paling penting untuk diselamatkan dan dijaga

keawetannya, sehingga sangat perlu dilaksanakannya kegiatan kerja

preservasi dan konservasi?

63
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Informan : Staff Bagian Preservasi dan Konservasi Bahan Pustaka

Kode : I3

Pertanyaan :

1. Apakah perpustakaan melakukan pembasmian serangga perusak bahan

pustaka (fumigasi), dan biasanya dilakukan berapa kali dalam setahun?

2. Dalam melakukan kegiatan preservasi dan konservasi, berapa bahan pustaka

yang dapat diselesaikan dalam sehari?

3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan setelah bahan pustaka selesai di

preservasi dan konservasi sehingga sudah tertata di ruang koleksi dan dapat

diakses oleh pengguna?

64
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LAMPIRAN II

HASIL TRANSKIP WAWANCARA

1. Wawancara dengan Informan 1

Hari/Tanggal : Kamis/ 1 Maret 2018

Waktu : 13:40 WIB

Informan : Kepala Bagian. Preservasi Konservasi Perpustakaan Universitas

HKBP Nomensen Medan

Lokasi : Bagian Pengolahan Bahan Pustaka Perpustakaan Universitas

HKBP Nomensen Medan.

Keterangan

P : Penulis

I1: Informan 1

P : Selamat siang buk!

I1: Selamat siang nak!

P : Maaf sebelumnya buk saya mengganggu waktunya. begini buk saya mau

meminta bantuan kepada ibuk untuk menjawab beberapa pertanyaan saya

sehubungan dengan judul penelitian saya tentang Kegiatan Preservasi dan

Konservasi Bahan Pustaka di Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen

Medan.

I1: Oh…silahkan nak apa yang bisa ibuk bantu?

65
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
P : Berapakah jumlah (judul) koleksi perpustakaan yang ada di Perpustakaan

Universitas HKBP Nomensen ya buk?

I1: Setiap tahunnya kami selalu menambah jumlah koleksi. Untuk jumlah koleksi

sampai dengan desember 2017 berjumlah Koleksi Tercetak seperti Buku

sebanyak 35.368 Judul, 58.960 Eksemplar ; Tugas Akhir (Skripsi) 5000 Judul,

5000 Eksemplar ; Majalah 35 Judul berlangganan ; Jurnal Tercetak 55 Judul

berlangganan ; CDR 876 Keping.

P :Apa saja persiapan untuk melakukan proses preservasi dan konservasi bahan

pustaka di Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan ya buk?

I1:Persiapan yang kami lakukan dalam melakukan kegiatan Preservasi dan

Konservasi sudah pasti untuk preservasi kami menyiapkan alat-alat yang kami

butuhkan seperti lem, gunting, kertas dan lain-lain untuk memperbaiki bahan

pustaka yang sudah rusak, sedangkan untuk konservasi kami lebih

memperhatikan hal-hal seperti kebersihan rak buku, dan memperhatikan bahan

pustaka mana saja yang sudah harus di perbaiki.

P : Bagaimana kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka nya ya buk?

I1 :Begini nak, preservasi dan konservasi bahan pustaka yang kami lakukan

untuk menjaga kondisi fisik buku yaitu dengan menjaga kebersihan

ruangan dan menegaskan kepada pengunjung agar bekerjasama dalam

menjaga kelestarian bahan pustaka. Pelestarian bahan pustaka yang kami

lakukan menjaga informasi yang terkandung di dalamnya masih sangat

sederhana hanya membersihkan debu, debu yang terdapat pada rak buku

dengan menggunakan vacum cleaner untuk mencegah kerusakan bahan

66
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
pustaka, dan masih banyak lagi yang belum bisa dilaksnakan karena kami

belum mempunyai peralatanyang memadai untuk mencegah kerusakan

yang lebih intensif.

P :Apa saja faktor yang mempengaruhi penyebab kerusakan bahan pustaka ya

buk?

I1 :Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kerusakan bahn pustaka yang

terjadi di Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan misalnya

dimakan rayap atau hewan pengerat, jamur, dimakan usia, kerusakan

akibat tikus , serta ulah pembaca atau penggunjung yang kurang menjaga

kondisi buku. yang paling mempengaruhi kerusakan bahan pustaka akibat

ruangan terlalu panas dan kurangnya cahaya , karena dalam ruang baca

tidak ada pengatur suhu udara , sehingga buku-buku menjadi lembab dan

cepat rusak.

P : Ada 4 faktor yang mempengaruhi kerusakan bahan pustaka yaitu kerusakan

disebabkan oleh manusia, faaktor biologis, faktor kimia dan juga faktor

kerusakan yang di disebabkan oleh alam. Untuk mencegah kerusakan,

tindakan atau usaha apa saja yang pernah dilakukan ya buk?

I1:Tindakan atau usaha yang kami lakukan dalam pencegahan kerusakan

bahan pustaka yaitu dengan menjaga kebersihan ruangan penyimpanan

agar debu tidak merusak bahan pustaka, kami lakukan dengan

menggunakan alat sederhana seperi kain lap dan kemoceng. Kami juga

menghimbau kepada penggunjung atau pengguna untuk bekerja sama

67
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dengan menjaga kebersihan ruang, dengan membuat poster atau himbauan

berupa rambu- rambu peringatan lainnya.

P :Ada beberapa bagian dari perawatan bahan pustaka yaitu fumigasi atau

pengasapan , pembersihan, penyiangan, deasidifikasi dan lain sebagainya.

Sejauh ini apa saja yang sudah di lakukan dari bagian perawatan tersebut ya

buk ?

I1 :Perawatan yang sudah kami lakukan ialah pembersihan, penyiangan,

sejauh ini kami hanya fokus dalam perawatan fisik saja, pencegahan dari

luar merupakan tugas dan tanggung jawab pada bagian layanan.

P :Dalam perbaikan bahan pustaka, perbaikan apa saja yang dilakukan dalam

menjaga keutuhan dan nilai informasi dalam bahan pustaka tersebut ya buk?

I1:Dalam perbaikan bahan pustaka, yang kami lakukan yaitu menambal

kertas dengan menggunakan kertas yg khusus, mengganti halaman yang

sudah sobek dengan cara menambalnya, jikalau sudah hilang harus diganti

dengan membuat fotokopinya, memperbaiki punggung buku, engsel

dengan alat-alat yang sederhana, menyambung dengan merekatkan

kembali bagian kertas yang sobek denganmenggunakan hand made paper.

P :Kegiatan apa saja yang dilakukan dalam upaya mencegah kerusakan bahan

pustaka dan tindakan-tindakan apa saja yang dilakukan ya buk ?

I1:Dalam beberapa tahapan yang kami lakukan dalam penerapan kegiatan

pelestarian bahan pustaka yaitu: (1) Petugas menyeleksi bahan pustaka

68
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
yang akan dilestarian bahan pustaka, (2) petugas akan mengirim bahan

pustaka ke unit pelestarian bahan pustaka(3) petugas menentukan jenis

pelestarian bahan pustaka sesuai dengan tingkat kerusakan bahan

pustaka.(4) kemudian setelah selesai petugas mengambil bahan pustaka dan

meletakkannya dalam rak buku.

P :Dalam pelaksanaan kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka

kebijakan apa yang dilakukan sebagai langkah awal dan pelaksanaanya ya

buk?

I1 :Dalam pelaksanakan kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka,

kita mengupayakan agar pengguna atau penggungjung agar mau peduli

atau kerja sama dalam menjaga kelestarian bahan pustaka , adapun sanksi

yang diberikan pada peminjam apabila diketahui buku yang dipinjam rusak

atau hilang, maka pengguna harus membayar denda atau mengganti buku

dengan memfotokopinya.

P :Begitu ya buk, terima kasih ya buk atas informasinya dan penjelasannya.

I1:Iya sama-sama nak, senang bisa membantu.

2. Wawancara dengan Informan 2

Hari/Tanggal : Kamis/ 1 Maret 2018

Waktu : 14:00 WIB

69
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Informan : Staff Bagian Preservasi Konservasi Perpustakaan Universitas

HKBP Nomensen Medan

Lokasi : Bagian Pengolahan Bahan Pustaka Perpustakaan Universitas

HKBP Nomensen Medan.

Keterangan

P : Penulis

I2: Informan 2

P : Selamat siang bu!

I2: Selamat siang nak!

P :Maaf buk mengganggu waktunya. Saya Ervina mahasiswa USU buk mau

meneliti disini tentang kegiatan preservasi dan konservasi di Perpustakaan

Universitas HKBP Nomensen Medan.

I2 :Iya nak, silahkan!

P :Jalur pendidikan atau pelatihan apa yang pernah atau harus diikuti untuk

dapat menguasai proses kegiatan preservasi dan konservasi pada

Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan?

I2: Kami melakukan peningkatan kualitas SDM melalui seminar , pelatihan,


magang,dll nak.
P :Menurut pendapat ibuk apa tujuan utama melakukan kegiatan preservasi

dan konservasi bahan pustaka pada Perpustakaan Universitas HKBP

Nomensen Medan?

70
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
I2:Menurut ibuk, tujuan utama dalam melakukan kegiatan preservasi dan

konservasi bahan pustaka di perpustakaan kami ini adalah agar tetap

terjaganya kandungan informasi yang terdapat pada bahan pustaka itu sendiri

nak, dan juga agar dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang juga.

P :Lalu bahan pustaka apa saja yang paling penting untuk diselamatkan dan dijaga

keawetannya, sehingga sangat perlu dilaksanakannya kegiatan kerja

preservasi dan konservasi?

I2:Begini nak, disini kami selaku pustakawan terutama pada bagian pelestarian

bahan pustaka, berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan seluruh

bahan pustaka yang ada di perpustakaan ini karena kami menganggap

semuanya penting dan memang harus di rawat dan dilestarikan.

P :Oh begitu ya buk, terimakasih ya buk untuk penjelasannya dan waktunya.

I2:Iya nak, sama-sama, ibu juga senang bisa membantu.

3. Wawancara dengan Informan 3

Hari/Tanggal : Kamis/ 1 Maret 2018

Waktu : 14:15 WIB

Informan : Staff Bagian Preservasi Konservasi Perpustakaan Universitas

HKBP Nomensen Medan

Lokasi : Bagian Pengolahan Bahan Pustaka Perpustakaan Universitas

HKBP Nomensen Medan.

71
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Keterangan

P : Penulis

I3: Informan 3

P : Selamat siang bu!

I3: Iya selamat siang nak!

P :Maaf mengganggu waktunya ya buk, begini buk saya Ervina mahasiswa USU

yang sedang melakukan penelitian disini. Topik penelitian saya tentang

kegiatan preservasi dan konservasi bahan pustaka pada perpustakaan HKBP

Nomensen ini buk.

I3:Oh iya, silahkan nak apa yang bisa ibuk bantu?

P :Apakah Perpustakaan melakukan pembasmian serangga perusak bahan pustaka

(fumigasi), dan biasanya dilakukan berapa kali dalam setahun ya buk?

I3:Iya nak, kami melakukan pembasmian serangga perusak bahan pustaka

biasanya kami melakukan fumigasi sebanyak tiga kali dalam setahun.

P :Berapa lama waktu yang dibutuhkan setelah bahan pustaka

selesai di preservasi sehingga sudah tertata di ruang koleksi dan dapat

diakses oleh pengguna ya buk ?

I3:Biasanya nak, setelah kami memilih bahan pustaka mana yang akan kami

perbaiki, kami akan langsung membawanya ke ruangan biasa yang kami

gunakan untuk memperbaiki bahan pustaka, waktunya tidak menentu nak

kadang bisa sampai sebulan untuk sampai ke rak dan dapat di gunakan

72
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kembali oleh mahasiswa tergantung tingkat kerusakan dari bahan pustaka nya

sendiri.

P :Oh begitu ya buk, terima kasih ya buk untuk bantuannya menjawab pertanyaan

saya dan untuk informasinya ya buk.

I3:Iya nak, sama-sama. Semoga sukses ya.

73
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS HKBP

NOMENSEN MEDAN

1. Sejarah Singkat Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan

Universitas HKBP Nommensen didirikan oleh Huria Kristen Batak

Protestan (HKBP) sebuah gereja Protestan pada 7 Oktober 1954 di P. Siantar,

kemudian pada Tahun 1962 Universitas HKBP Nommensen berdiri di Medan.

Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen (UHN) terbentuk sejak berdirinya

UHN di Medan pada Tahun 1962. Lokas Perpustakaan berada dalam lingkungan

Kampus UHN Jalan Sutomo No. 4A Medan.

Dalam sejarah perkembangannya perpustakaan tersebut mengalami beberapa

pergantian kepemimpinan sebagai berikut :

1. Tahun 1962 s.d 1997 Kepala Perpustakaan dijabat oleh Drs. F.M.
Naiborhu
2. Tahun 1997 s.d 1999 dijabat oleh Tiara K. Pasaribu
3. Tahun 1999 s.d 2000 dijabat oleh Drs. Nalom Siagian, M.Si
4. Tahun 2000 s.d Juni 2008 dijabat oleh Dra. Santi Sitorus
5. Tahun 2008 s.d sekarang dijabat Tiarma P. Siagian, S.Sos

Kemudian sejak tahun 2008 Perpustakaan melakukan perubahan yang sangat

signifikan yaitu merubah Sistem Layanan Tertutup (Close Acces) menjadi Sistem

Layanan Terbuka (Open Acces). Dan pada Desember 2011 Perpustakaan UHN

mengadakan Seminar Nasional yang bertajuk “Repository” yang merupakan

74
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Seminar Perpustakaan yang pertama sekali diselenggarakan oleh Lembaga Swasta

di Sumatera Utara.

Pada Tahun 2013 Perpustakaan UHN terpilih menjadi Perpustakaan Perguruan

Tinggi Swasta (PTS) Terbaik Tingkat Sumatera Utara. Dan pada akhir Tahun

2013 Perpustakaan UHN Terakreditasi Kategori “A” oleh Perpustakaan Nasional.

Dan merupakan Perpustakaan Perguruan Tinggi Swasta Pertama yang mendapat

Akreditasi A di Luar Pulau Jawa.

Untuk mendapatkan pelayanan pada pengguna pada tiap fakultas dibuka

Perpustakaan Mini yang dikelola oleh masing-masing fakultas dan berkoordinasi

dengan Perpustakaan Induk. Perpustakaan cabang yang pertama sekali berdiri

adalah Perpustakaan Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Pematangsiantar

bersamaan dengan berdirinya Perpustakaan Induk Medan.

2. Visi dan Misi

Dalam rangka mendukung visi dan misi Perpustakaan Universitas HKBP

Nomensen Medan yang salah satu misinya adalah Menyediakan informasi yang

tepat bagi pengguna perpustakaan Universitas HKBP Nommensen demi

tercapainya fungsi Perguruan Tinggi, maka Perpustakaan Universitas HKBP

Nomensen Medan mempunyai tugas untuk terus mengembangkan dan menjaga

segala sesuatu yang berkaitan dengan perpustakaan.

Untuk menyelenggarakan tugasnya, Perpustakaan Universitas HKBP

Nomensen Medan berpedoman kepada Visi dan Misi nya yakni:

75
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Visi :

Menjadi Perpustakaan Perguruan Tinggi Terbaikdan terkemuka di

Indonesia dalam pelaksanaan pendidikan, penelitian dan kepengabdian kepada

masyarakat untuk menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu, berakhlak

yang tanggap terhadap tantangan lokal dan global.

Misi :

1. Menggunakan cara-cara inovatif dan kreatif dalam pelayanan dengan member

kesempatan luas bagi berkembangnya inspirasi, inisiatif dan partisipasi civitas

academicanya.

2. Menyediakan informasi yang tepat bagi pengguna perpustakaan Universitas

HKBP Nommensen demi tercapainya fungsi Perguruan Tinggi.

3. Struktur Organisasi

Struktur organisasi Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan

meliputi kepala prpustakaan, pustakawan layanan teknis dan layanan pengguna.

Rincian struktur organisasi Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan

dapat dilihat pada bagan berikut:

76
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Kepala
Perpustakaan

Wakil Kepala
Perpustakaan

Sistem Informasi dan Pelayanan


Database Perpustakaan

Administrasi
Perpustakaan Pengadaan Layanan Sirkulasi dan
dan Referensi dan Keanggotaan
Pengolahan Terbitan berkala
Bahan Pustaka

Gambar 1 Struktur Organisasi Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan

4. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia penelola Pepustakaan HKBP Nomensen Medan

menurut jenjang pendidikannya adalah sebagai berikut:

 Jumlah tenaga pengelolah perpustakaan : 16 Orang

 Jumlah tenaga menurut jenjang pendidikan

a. SMA/SMK : 9 Orang

b. SMA + diklat perpustakaan : 1 Orang

c. D3 Perpustakaan : 1 Orang

77
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
d. S1 Perpustakaan : 2 Orang

e. S1 Non Perpustakaan : 3 Orang

5. Tata Tertib Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen Medan

A. Tata Tertib Pengunjung

Setiap anggota perpustakaan harus mematuhi peraturan yang ada di

perpustakaan yaitu sebagai berikut :

1. Setiap pengunjung perpustakaan harus terlebih dahulu menitipkan tas dan

sebagaianya pada tempat penitipan tas (Loker) yang telah disediakan

sebelum memasuki area koleksi buku.

2. Selama berada diruang perpustakaan pengguna dilarang :

- Merokok, makan dan minum

- Mencoret, merobek atau merusak bahan pustaka. Apabila terjadi

kerusakan bahan pustaka akan dikenakan sanksi menggati buku baru.

- Memindahkan bahan pustaka dari dari rak no classnya ke rak lain.

- Membuat keributan yang mengganggu pembaca lain.

- Membuang sampah sembarangan.

- Memakai sandal dan celana pendek.

- Memakai topi atau helm.

3. Berpakaian yang sopan/rapi

4. Pengguna harus melaporkan buku yang akan dipinjam untuk di masukkan

ke sistem peminjaman.

5. Menjaga agar KTM tidak digunakan orang lain.

78
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
6. Mengembalikan pinjaman bahan pustaka tanpa melewati batas tanggal

pengemablian bahan pustaka.

7. Membayar denda keterlambatan sesuai dengan tariff denda yang berlaku.

8. Mahasiswa yang masih memiliki kewajibannya di perpustakaan (masih

memiliki pinjaman di perpustakaan) tidak dapat mendaftar untuk

mengikuti meja hijau.

B. Jam Buka Perpustakaan

Senin s/d Kamis


Pukul : 07.30 – 19.00 WIB

Sabtu
Pukul : 07.30 – 12.45 WIB

6. Keanggotaan
Semua mahasiswa yang telah terdaftar sebagai mahasiswa Universitas

HKBP Nommensen telah otomatis menjadi anggota perpustakaan. Kartu Tanda

Mahasiswa (KTM) sekaligus berfungsi menjadi kartu anggota perpustakaan.

Sedangkan untuk Dosen dan Pegawai administrasi kartu anggota perpustakaan

diterbitkan oleh Perpustakaan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi

staff yang bertugas di Perpustakaan.

79
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Tabel 1 kategori anggota dan jumlah pinjaman

Jenis

Kategori Koleksi Umum KPS

Mahasiswa
4 Eks/ Minggu 2 Eks/ Hari

Dosen dan Staff


Administrasi 4 Eks/ Minggu 2 Eks/ Hari

Tamu
- -

7. Koleksi Perpustakaan

Sampai saat ini tahun 2017 Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen

(UHN) memiliki penambahan jumlah koleksi. Rincian uraiannya sebagai berikut:

Tabel 2 Jumlah Koleksi pada Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen

Medan tahun 2017

No Koleksi Jumlah

Judul Eksemplar

1. Tercetak 35.368 58.960

2. Tugas Akhir (Skripsi) 5000 5000

3. Majalah 35 -

4. Jurnal Tercetak 55 -

5. CDR 876 Keping -

80
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
8. Prosedur Pencarian Bahan Pustaka

Mulai

Lakukan pencarian melalui OPAC Berdasarkan


: Judul, - Pengarang, -Subjek

Buku tidak terdapat pada


Ditemukan koleksi Perpustakaan. Anda
boleh mengisi formulir
usulan pembelian buku
Perhatikan

Sedang dipinjam?
Tersedia
Sedang diperbaiki?

Catat nomor panggil buku

Bawa buku kebagian sirkulasi peminjaman


untuk diproses lebih lanjut
Cari buku di rak sesuai dengan

Selesai
Minta bantuan
Ditemukan

10. Pengolahan Bahan Pustaka

Sistem pengolahan bahan pustaka yang diterapkan di Perpustakaan

Universitas HKBP Nomensen Medan adalah:

1. Penentuan klasifikasi bahan pustaka : DDC

2. Pengolahan majalah baru : Daftar majalah

81
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3. Sistem temu kembali : OPAC

4. Kelengkapan Fisik

 Kantong / Kartu Buku

 Slip tanggal kembali

 Label punggung buku

 Barcode

11. Ruang / Gedung Perpustakaan

Ruangan atau gedung perpustakaan merupakan unsur utama dalam

penyelenggaraan perpustakaan. Perpustakaan Universitas HKBP Nomensen

Medan memiliki ruangan sendiri berukuran 720 m 2. Ruangan perpustakaan dibagi

dalam area berikut:

1. R. Kepala Perpustakaan : 16 m2

2. R. Baca Umum : 210 m2

3. Loker : 12 m2

4. R. Pengolahan : 20 m2

5. R. Terbitan Berkala + Internet : 20 m2

6. R. Dokumentasi Batak : 36 m2

7. R. Sirkulasi : 12 m2

8. R. Koleksi : 320 m2

9. R. Referensi : 50 m2

82
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
10. R. Administrasi : 12 m2

11. R. Fotokopi : 12 m2

83
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LAMPIRAN III

84
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA