Anda di halaman 1dari 9

1840 Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol. 11, No.

1, 2017, halaman 1840-1848

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY MELALUI


KEGIATAN PRAKTIKUM PADA MATERI STOIKIOMETRI LARUTAN

Cahyo Fajar Handayani*, Wisnu Sunarto dan Sri Susilogati Sumarti


Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Semarang
Gedung D6 Lantai 2 Kampus Sekaran Gunungpati Semarang, 50229, Telp. (024)8508035
Email: cahyofajarhandayani@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran


guided discovery melalui kegiatan praktikum terhadap hasil belajar kimia. Desain yang
digunakan adalah postest-only control group design. Pada kelas eksperimen menggunakan
model pembelajaran guided discovery melalui kegiatan praktikum dan kelompok kontrol
menggunakan metode ceramah dan diskusi melalui kegiatan praktikum. Pengumpulan data
menggunakan tes, angket, dan observasi. Analisis data menggunakan statistik parametrik,
karena data berdistribusi normal. Uji t digunakan untuk menentukan perbedaan rata-rata data
hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil
belajar aspek kognitif kelompok eksperimen memiliki rata-rata 83,20 dan kelompok kontrol
memiliki rata-rata 75,52. Pada uji pengaruh antar variabel diperoleh harga rb sebesar 0,57
maka penerapan model pembelajaran guided discovery melalui kegiatan praktikum mempunyai
pengaruh sedang terhadap hasil belajar kognitif siswa. Besarnya pengaruh model pembelajaran
tersebut terhadap hasil belajar kognitif siswa adalah 32,85%. Analisis deskriptif untuk data hasil
belajar afektif dan psikomotorik menunjukkan bahwa hasil belajar aspek afektif kelompok
eksperimen memiliki rata-rata 3,16 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata 3,02, sedangkan
hasil belajar aspek psikomotorik kelompok eksperimen memiliki rata-rata 3,22 dan kelompok
kontrol memiliki rata-rata 3,09. Simpulan dari penelitian ini adalah penerapan metode guided
discovery melalui kegiatan praktikum berpengaruh positif terhadap hasil belajar baik aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa pada materi stoikiometri larutan.

Kata Kunci: guided discovery, kegiatan praktikum, stoikiometri larutan

ABSTRACT

This experiment aims to determine the effect of applying guided discovery learning model
through practicum activities on chemistry learning outcomes. The design used is postest-only
control group design. In the experimental class using the guided discovery learning model
through practicum and control group activities using lecture and discussion methods through
practicum activities. Data collection are using tests, questionnaires, and observations. Data
analysis uses parametric statistics, because data is normally distributed. The t test is used to
determine the average difference between experimental class data and control class. The
results showed that the cognitive aspect learning outcomes of the experimental group had an
average of 83.20 and the control group had an average of 75.52. In the test of influence
between variables obtained rb price of 0.57 then the application of guided discovery learning
model through practicum activities have a moderate effect on student cognitive learning
outcomes. The amount of influence of the learning model on the students' cognitive learning
outcomes is 32.85%. Descriptive analysis for affective and psychomotor learning result data
showed that the learning result of affective aspect of experimental group had an average of 3.16
and control group had 3.02 average, while the experimental group psychomotor learning result
had an average of 3.22 and The control group had an average of 3.09. The conclusion of this
research is the application of guided discovery method through practicum activity has a positive
effect to the learning result of both cognitive, affective, and psychomotor aspects of students on
the stoichiometric material of the solution.

Keywords: guided discovery, practicum activity, stoichiometry of solution


Cahyo Fajar Handayani, dkk., Penerapan Model Pembelajaran Guided Discovery …. 1841

PENDAHULUAN praktikum juga jarang dilaksanakan karena


Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam praktikum membutuhkan waktu yang lebih
(IPA) menjadi wahana bagi peserta didik panjang sehingga dianggap kurang efektif
untuk mempelajari diri sendiri dan alam dan hanya dilaksanakan pada materi-materi
sekitar, serta prospek pengembangan lebih tertentu saja dan tidak semua materi yang
lanjut dalam menerapkannya di dalam dapat dilaksanakan dengan proses
kehidupan sehari-hari. Pembelajaran Ilmu praktikum tidak dilaksanakan oleh guru
Pengetahuan Alam (IPA) sebaiknya namun hanya diberikan konsepnya saja di
dilaksanakan secara inkuiri ilmiah untuk dalam kelas.
menumbuhkan kemampuan berpikir, Metode guided discovery
bekerja, dan bersikap ilmiah serta merupakan metode yang inovatif dan perlu
mengkomunikasikannya sebagai aspek dikembangkan oleh guru di mana dalam
penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran ini, siswa diajak untuk
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di menemukan sendiri konsep dari materi yang
SMA/MA menekankan pada pemberian dipelajari (Nbina, 2013). Menurut Shulman
pengalaman belajar secara langsung dan Keisler dalam pembelajaran discovery
melalui penggunaan dan pengembangan terbimbing umumnya lebih efektif dari pada
ketrampilan proses dan sikap ilmiah discovery murni karena beberapa siswa
Hasil studi pendahuluan yang tidak mempelajari aturan atau prinsip
dilakukan di SMA Negeri 1 Purwantoro dengan discovery murni, melainkan dengan
dmenunjukkan bahwa pada pelajaran kimia discovery terbimbing (Mayer, 2004). Model
khususnya stoikiometri larutan belum seperti guided discovery lebih efektif dalam
yang diharapkan, ketuntasan klasikal kurang pembelajaran IPA, karena model ini
dari 50%. Hal tersebut didukung pula oleh membantu siswa bertemu dengan dua
hasil observasi yang telah dilaksanakan di kriteria penting dalam pembelajaran aktif
sekolah tersebut di bulan Januari 2015 lalu. yaitu membangun pengetahuan untuk
Hasil wawancara yang dilaksanakan pada membuat pengertian dari informasi baru dan
siswa kelas XI IPA mengenai minatnya mengintegrasikan informasi baru sampai
terhadap pembelajaran kimia, sebagian ditemukan pengetahuan yang tepat.
siswa berpendapat bahwa kimia merupakan Guided discovery terdiri dari dua
pelajaran yang sulit. Hasil observasi strategi yaitu belajar secara mandiri dan
menemukan bahwa laboratorium kurang bekerja dalam kelompok kerja dapat
difungsikan untuk kegiatan pembelajaran. berguna untuk membuat belajar lebih efisien
Pelajaran hanya terfokus pada konsep dan bagi semua siswa (Khasnis dan Manjunath,
materi yang diajarkan di kelas yang kurang 2011). Urutan masalah yang tersusun
menarik perhatian siswa dan cenderung secara hati-hati bahkan terstruktur dalam
membosankan sehingga membuat siswa guided discovery ini dirancang untuk
sulit untuk mempelajari kima. Kegiatan membawa siswa dikelola langkah demi
1842 Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol. 11, No. 1, 2017, halaman 1840-1848

langkah melalui materi, sehingga mereka larutan dan untuk mengetahui besarnya
mampu membangun konsep-konsep pengaruh penerapan model pembelajaran
matematika dalam siklus dari bawah keatas guided discovery melalui kegiatan
(pendekatan), bukannya menerima dari atas praktikum terhadap hasil belajar kimia siswa
kebawah atau sering disebut dengan pada materi stoikiometri larutan.
metode ceramah (dan kemudian berharap
untuk mendekonstruksi dan memahami METODE
dengan memecahkan masalah). Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI
Peranan guru dalam menggunakan IPA SMA 1 Purwantoro pada tanggal
metode guided discovery, yaitu mengajukan Januari sampai Juni 2015. Sampel diambil
suatu masalah kemudian membimbing dua dari empat kelas sebagai kelas
siswa untuk menemukan penyelesaian dari eksperimen dan kelas kontrol. Pengambilan
persoalan itu dengan lembar kerja siswa. sampel dilakukan dengan menggunakan
Siswa dalam metode guided discovery teknik cluster random sampling yaitu sampel
dilibatkan dalam menjawab pertanyaan yang diambil secara acak dari populasi yang
diajukan oleh guru. Siswa melakukan memiliki homogenitas yang sama.
penemuan, sedangkan guru membimbing Variabel bebas dalam penelitian ini
mereka ke arah yang tepat dan benar. Guru adalah model pembelajaran. Variabel terikat
dalam pelaksanaan metode guided dalam penelitian ini adalah hasil belajar
discovery, perlu memiliki keterampilan siswa. Variabel kontrol yaitu guru mata
membimbing diantaranya mendiagnosis pelajaran kimia dan kurikulum KTSP. Pada
kesulitan-kesulitan dan memberikan kelompok eksperimen, pembelajaran
bantuan dalam memecahkan masalah yang menerapkan model pembelajaran guided
mereka hadapi. Seorang guru harus discovery melalui kegiatan praktikum
berusaha untuk menggunakan pendekatan sedangkan pada kelompok kontrol
guided discovery untuk melibatkan siswa pembelajaran menerapkan metode ceramah
dalam kegiatan pemecahan masalah, dan diskusi melalui kegiatan praktikum.
belajar mandiri, berpikir kritis dan Desain penelitian yang digunakan
pemahaman, dan belajar kreatif. Kegiatan adalah postest-only control group design.
belajar tidak hanya menggunakan Metode pengumpulan data dilakukan
kemampuan menghafal, sehingga konsep dengan metode tes, observasi dan angket.
dan prinsip yang didapat mudah di ingat Metode tes digunakan untuk menilai hasil
lebih lama oleh siswa (Akinbobola dan belajar kognitif siswa. Metode observasi
Afolabi, 2012). digunakan untuk menilai aspek afektif dan
Tujuan dari penelitian ini adalah psikomotrik siswa, sedangkan angket
untuk mengetahui pengaruh penerapan digunakan untuk mengetahui tanggapan
model pembelajaran guided discovery siswa terhadap model pembelajaran guided
melalui kegiatan praktikum terhadap hasil discovery melalui kegiatan praktikum. Data
belajar kimia siswa pada materi stoikiometri penelitian hasil belajar kognitif dianalisis
Cahyo Fajar Handayani, dkk., Penerapan Model Pembelajaran Guided Discovery …. 1843
menggunakan statistik parametrik karena HASIL DAN PEMBAHASAN
data beristribusi normal. Uji t digunakan Ranah psikomotorik berkenaan
untuk mengethui apakah hasil belajar dengan hasil belajar keterampilan dan
kognitif siswa kelompok eksperimen kemampuan bertindak. Kemampuan
berbeda atau tidak berbeda ddari kelompok psikomotor melibatkan gerak adaptif
kontrol. Koefisien korelasi biserial digunakan (adaptive movement) atau gerak terlatih dan
untuk menentukan hubungan antar variabel keterampilan komunikasi berkesinambungan
bebas.Penentuan koefisien determinasi (nondiscursive communication). Ranah
digunakan untuk mengetahui besarnya psikomotorik dinilai melalui kegiatan
pengaruh anatr variabel. Data penelitian praktikum. Hasil obervasi psikomotorik siswa
hasil belajar afektif dan psikomotorik dapat dilihat pada Tabel 1.
menggunakan analisis deskriptif.

Tabel 1. Rata-rata hasil belajar aspek psikomotorik kelas eksperimen dan kelas kontrol
Eksperimen Kontrol
Aspek
Mean Kategori Mean Kategori
Menyiapkan rancangan prosedur praktikum Sangat
3,63 3,69 Sangat tinggi
tinggi
Menyiapkan format laporan sementara 3,09 Tinggi 2,68 Tinggi
Ketepatan menjalankan praktikum 3,11 Tinggi 3,13 Tinggi
Ketepatan waktu dalam menyelesaikan praktikum 3,32 Tinggi 3,07 Tinggi
Membuat laporan sementara 3,05 Tinggi 3,05 Tinggi
Merevisi kesalahan hasil analisis 3,28 Tinggi 3,04 Tinggi
Kebersihan alat dan tempat 3,23 Tinggi 3,09 Tinggi
Mengembalikan alat-alat praktikum 3,04 Tinggi 2,93 Tinggi
ratanya 3,09 yang berarti penguasaannya
Tabel 1 menunjukkan bahwa dalam
tinggi. Rerata nilai aspek psikomotorik siswa
mempersiapkan rancangan prosedur baik
pada kelompok eksperimen mencapai
pada kelas eksperimen maupun kelas
80,5% dan kelompok kontrol 77,2%.
kontrol diperoleh hasil yang sangat tinggi,
Persentase skor baik pada kelompok
karena rancangan prosedur ini sudah
eksperimen maupun kelompok kontrol
dipersiapkan siswa sebelum kegiatan
termasuk dalam kriteria baik.Pendekatan ini
praktikum dilaksanakan. Pada aspek lain
memiliki pengaruh positif terhadap
diketahui bahwa pada kelas eksperimen
keberhasilan akademik siswa dan
maupun kontrol memiliki kategori tinggi. Hal
mengembangkan keterampilan proses
tersebut disebabkan karena siswa
ilmiah serta sikap ilmiah mereka. Hal ini
melaksanakan kegiatan praktikum dengan
ditunjukan bahwa ketuntasan belajar, sikap
sungguh-sungguh. Hasil analisis dan keterampilan dalam praktikum
menunjukkan bahwa rata-rata keseluruhan
memberikan pengaruh positif dalam
penguasaan siswa tiap aspek pada kelas
pembelajaran menggunakan modul IPA
eksperimen 3,22 yang berarti penguasaanya
tinggi, sedangkan pada kelas kontrol rata-
1844 Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol. 11, No. 1, 2017, halaman 1840-1848

terpadu berbasis discovery (Septianu, proses latihan mengetahui secara langsung.


2014). Hal inilah yang menyebabkan unggulnya
Keunggulan kelompok eksperimen aspek ketrampilan dalam persiapan alat dan
terlihat pada aspek ketrampilan dalam bahan, pemanfaatan waktu saat praktikum,
persiapan alat dan bahan, kebersihan, dan pelaporan hasil pemecahan masalah.
pemanfaatan waktu saat praktikum, dan Namun di balik itu semua, siswa masih perlu
pelaporan hasil pemecahan masalah. Pada banyak dibimbing kembali dalam
kelompok eksperimen menunjukan melaksanakan kegiatan tersebut karena
terjadinya proses belajar yang baik karena masih ada siswa yang belum mampu secara
respon positif sangat diperlukan untuk maksimal dalam mempersiapkan alat dan
memperlancar keberlangsungan proses bahan dan cara menitrasi larutan (Udo,
belajar mengajar. Respon positif tersebut 2010).
membuat siswa lebih nyaman dan rileks Respon positif siswa terhadap
dalam mengikuti proses pembelajaran kegiatan praktikum menunjukkan sikap yang
sehingga memudahkan siswa memahami baik. Ranah afektif berkenaan dengan sikap
suatu materi. Hal tersebut karena dalam yang terdiri dari penerimaan jawaban atau
pembelajaran guided discovery siswa reaksi, dan penilaian. Penilaian aspek afektif
diberikan kebebasan untuk merancang dilakukan dengan metode observasi yang
percobaan dan menentukan data yang dilakukan melalui pengamatan terhadap
dibutuhkan dalam memecahkan masalah. peserta didik selama pembelajaran
Pendekatan penemuan melibatkan siswa berlangsung dan/ atau di luar kegiatan
dalam kegiatan eksperimen sederhana pembelajaran. Hasil obervasi afektif siswa
(terstruktur atau tidak terstruktur) dengan dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 2. Rata-rata nilai afektif


Eksperimen Kontrol
Aspek
Mean Kategori Mean Kategori
Aktivitas siswa dalam pembelajaran 3,48 Sangat Tinggi 2,84 Tinggi
Kerja kelompok aktif dan terarah 3,32 Tinggi 3,30 Tinggi
Presentasi kelompok 3,00 Tinggi 2,96 Tinggi
Respon positif terhadap kelompok yang 2,94 Tinggi 2,96 Tinggi
presentasi
Menyelesaikan tugas secara kelompok 3,04 Tinggi 3,04 Tinggi
banyaknya. Penilaian aspek afektif secara
Tabel 2 menunjukkan bahwa umum menunjukan kelompok eksperimen
aktivitas siswa kelas eksperimen dalam lebih baik daripada kelompok kontrol. Hal ini
pembelajaran sangat tinggi karenaa siswa berarti penerapan guided discovery melalui
tertantang untuk melaksanakan diskusi kegiatan praktikum tidak hanya berpengaruh
secara mandiri dan sungguh-sungguh untuk pada hasil belajar psikomotorik saja, tetapi
mendapatkan informasi sebanyak- pada aspek afektif juga. Rata-rata
Cahyo Fajar Handayani, dkk., Penerapan Model Pembelajaran Guided Discovery …. 1845
keseluruhan penguasaan siswa tiap aspek Pada metode ini siswa terlibat
pada kelas eksperimen 3,16 yang berarti secara maksimal dalam proses kegiatan
penguasaanya tinggi. Sedangkan pada belajar, siswa belajar untuk
kelas kontrol rata-ratanya 3,02 yang berarti mengembangkan sikap percaya pada diri
penguasaannya tinggi. Rerata nilai aspek siswa tentang apa yang ditemukan dalam
afektif siswa pada kelompok eksperimen proses guided discovery. Adanya penemuan
mencapai 78,9% dan kelompok kontrol yang harus dilakukan oleh siswa yang
mencapai 75,5%. Persentase skor kelompok dilakukan selama pembelajaran pada
eksperimen dan kelompok kontrol termasuk kelompok eksperimen mendorong siswa
dalam kriteria baik. untuk aktif dan berfikir secara mandiri dan
Pada kelompok eksperimen siswa tidak bergantung pada guru. Hal tersebut
cenderung lebih aktif, hal ini terlihat jelas karena belajar merupakan proses aktif siswa
pada aspek aktivitas siswa dalam untuk mempelajari dan memahami konsep-
pembelajaran, diskusi kelompok dan konsep yang dikembangkan melalui
tanggung jawab dalam mengerjakan tugas, bimbingan. Akan tetapi, respon positif siswa
serta penyampaian pendapat. Tingginya terhadap kelompok yang presentasi masih
aspek afektif pada kelompok eksperimen harus dipancing lagi karena sebagian siswa
dikarenakan penciptaan lingkungan yang harus diberi dorongan atau imbalan nialai
baru di dalam kelas melalui metode guided lebih untuk mau memberi respon.
discovery. Hal ini sejalan dengan hasil Pada pertemuan terakhir
penelitian Arifiani (2012) bahwa secara dilaksanakan tes akhir (post test) pada
umum hasil penilaian ranah afektif kelompok kedua kelas objek penelitian untuk
eksperimen lebih baik daripada kelompok mengetahui hasil belajar kognitif siswa. Nilai
kontrol. Tetapi terdapat perbedaan yang dari post test inilah yang digunakan untuk
paling menonjol, yaitu pada ranah afektif analisis hipotesis. Terlebih dahulu dilakukan
yang terletak pada yaitu kesiapan siswa uji normalitas dan uji kesamaan dua varians
dalam menjawab pertanyaan dan keaktifan data nilai post test pada kedua kelompok
siswa dalam menanggapi pendapat. Hal ini sebelum melakukan uji hipotesis. Hasil
disebabkan karena pada pembelajaran perhitungan uji normalitas dapat disimpulkan
kolaborasi Guided Discovery-Experiential bahwa data kelompok eksperimen dan
Learning berbantuan LKS siswa dituntut kelompok kontrol berdistribusi normal
untuk aktif dalam menemukan konsep sehingga uji selanjutnya menggunakan
melalui kerjasama dengan teman lain, statistik parametrik. Uji kesamaan dua
mengkomunikasikan penemuan konsepnya varians diperoleh data memiliki varians yang
tersebut kepada orang lain, sehingga rata- sama, sehingga pengujian yang digunakan
rata keaktifan siswa pada kelas eksperimen untuk mengetahui adanya perbedaan rata-
tersebar merata pada semua siswa (Arifiani, rata hasil belajar antara kelas
2012). eksperimendan kontrol yaitu uji t.
1846 Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol. 11, No. 1, 2017, halaman 1840-1848

Perhitungan uji t menggunakan dengan menggunkan 25 soal pilihan


nilaiposstestmateri stoikiometri larutan. Data ganda.Hasil posttest hasil belajar kognitif
nilai posstest kelas eksperimen dan dapat dilihat pada Tabel 3.
kontroldiperoleh melalui metode tes tertulis

Tabel 3. Hasil belajar kognitif siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol
Kelas
Komponen Kelas Kontrol
Eksperimen
Banyak siswa 25 25
Nilai tertinggi 96 92
Nilai terendah 64 56
Rata-rata nilai 83,20 75,52
koefisien determinasi (KD) ini diperoleh dari
Dari data Tabel 3 didapatkan bahwa
rb2 x 100% sebesar 32,85%. Hasil
rata-rata nilai kognitif kelas eksperimen lebih
perhitungan tersebut menunjukkan bahwa
tinggi daripada nilai kognitif kelas kontrol. penerapan guided discovery melalui
Hasil uji t ditentukan oleh rata-rata nilai
kegiatan praktikum berpengaruh terhadap
tersebut yang diperoleh nilai thitung lebih
hasil belajar siswa. Aspek pengetahuan
besar dari t(1-α)(n1+n2-2) dengan dk = 50 dan
memiliki persentase tertinggi yaitu sebesar
taraf signifikan 5%, terlihat bahwa untuk tes
55 %, hal ini menunjukkan bahwa Modul IPA
akhir Thitung> TTabel, dapat disimpulkan bahwa
berbasis Guided Discovery Learning
Ha diterima yang berarti rata-rata hasil
(GUDEL) mampu meningkatkan aspek
belajar kimia kelompok eksperimen lebih
kognitif siswa secara signifikans,
baik dari rata-rata hasil belajar kimia
dibandingkan dengan aspek sikap dan
kelompok kontrol.
keterampilan. Hal tersebut disebabkan
Koefisien korelasi biserial (rb) dan karena model pembelajaran guided
koefisien determinasi (KD) digunakan untuk discovery melalui kegiatan praktikum
mengetahui adanya pengaruh dan besarnya
melibatkan siswa secara langsung dalam
pengaruh pembelajaran dengan guided
proses pembelajaran, sehingga membuat
discovery melalui kegiatan praktikum
siswa lebih percaya atas kebenaran atau
terhadap hasil belajar kimia meteri
kesimpulan berdasarkan percobaannya
stoikiometri larutan. Hasil perhitungan
sendiri daripada hanya menerima kata guru
diperoleh besarnya koefisien korelasi
atau buku (Riandari, 2014).
biserial hasil belajar siswa (rb) sebesar 0,57. Metode guided discovery melatih
Jika disesuaikan dengan pedoman
siswa secara langsung terlibat aktif dalam
pemberian interprestasi terhadap koefisien
proses pembelajaran, sehingga mendorong
korelasi (Sugiyono, 2010) maka dapat
siswa untuk lebih aktif, antusias dan menjadi
dikatakan bahwa pengaruh guided discovery
daya tarik bagi siswa. Praktikum kimia yang
melalui kegiatan praktikum berpengaruh
dimaksimalkan pelaksanaannya dirasa tepat
sedang terhadap hasil belajar kimia. Harga untuk diterapkan dengan metode guided
Cahyo Fajar Handayani, dkk., Penerapan Model Pembelajaran Guided Discovery …. 1847
discovery, sebab melalui kegiatan praktikum dengan teori yang sebenarnya. Guru
dapat menggali keterampilan dan hanyalah berperan sebagai diagnoser,
kemampuan berfikir ilmiah dengan fasilitator dan dinamisator sehingga
membuktikan suatu teori yang telah ada. pembelajaran tersebut mendorong siswa
Proses pembelajaran dilaboratorium mampu untuk lebih memahami materi yang
mengasah ketiga ranah kecerdasan siswa, dipelajari. Selain itu, dalam pembelajaran
yaitu kognitif, afetif, dan psikomotorik. Siswa guided discovery secara otomatis informasi
dapat memperoleh pemahaman yang lebih yang diperoleh siswa dapat bertahan lama
bermakna mengenai fenomena alam yang karena mereka menemukan sendiri dan
dipelajari secara teoritis melalui kegiatan memahami konsep tersebut dibandingkan
praktikum, karena laboratorium adalah dengan siswa yang hanya menerima konsep
tempat untuk melakukan berbagai dan menghapalkan konsep (model
manipulasi percobaan, baik bersifat pembelajaran ceramah dan diskusi melalui
pembuktian (verificative) maupun penemuan kegiatan praktikumpada kelompok kontrol).
(discovery) (Wiratama, 2014). Metode guided discovery juga
Perbedaan hasil kemampuan menumbuhkan rasa keingintahuan siswa,
kognitif post test antara kelas eksperimen sehingga menumbuhkan berfikir kritis dan
dan kelas kontrol ini karena pada kelas kreatif siswa untuk mengetahui lebih dalam
kontrol siswa ada yang belum memahami mengenai materi yang dipelajarinya. Adanya
mengenai titrasi asam basa sebab pernah praktikum yang merupakan bagian yang
meninggalkan pelajaran sebelumnya untuk tidak terpisahkan dalam pembelajaran
mengikuti perlombaan dan ada siswa yang guided discovery mendorong siswa untuk
tidak mau bekerja secara maksimal dalam lebih aktif dan antusias dalam mengikuti
kelompoknya sehingga proses belajar siswa pembelajaran. Hal tersebut secara otomatis
secara aktif dikelas juga kurang maksimal menjadi daya tarik bagi siswa yang dapat
dan pada kelas eksperimen menerapkan dijadikan sebagai dasar peningkatan
metode yang mencakup kegiatan untuk motivasi belajar untuk memahami konsep
melatih kemampuan pemahaman dan lebih baik karena motivasi yang tinggi akan
pemecahan masalah siswa yaitu metode berpengaruh terhadap proses belajar siswa
guided discovery. Metode guided discovery mempelajari suatu materi. Motivasi tersebut
merupakan pembelajaran yang terjadi diperoleh karena selama proses
melalui penemuan, dimana siswa secara pembelajaran siswa berperan sebagai
langsung terlibat aktif dalam proses-proses penyelidik, siswa diberikan kesempatan
menemukan suatu konsep atau teori yang untuk mengalami dan melakukan sendiri,
terjadi selama proses pembelajaran. Siswa mengikuti proses suatu objek, menganalisis,
dalam pembelajaran ini seolah-olah membuktikan dan menarik kesimpulan
berperan sebagai seorang penyelidik yang tentang suatu objek. Berdasarkan kegiatan
dibantu dan diarahkan oleh guru sehingga praktikum siswa juga lebih mudah
teori atau konsep yang ditemukan sesuai memahami materi.
1848 Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol. 11, No. 1, 2017, halaman 1840-1848

SIMPULAN learning? the case for guided


methods of instruction, American
Penerapan metode guided Psychological Association, Vol. 59,
No. 1, Hal. 14-19.
discovery melalui kegiatan praktikum
berpengaruh positif terhadap hasil belajar Nbina, J.B., 2013, The relative effectiveness
of guided discovery and
baik aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik
demonstration teaching methods on
siswa pada materi stoikiometri larutan dan achievement of chemistry students
of different levels of scientific
besarnya pengaruh penerapan metode
literacy, Journal of Research in
guided discovery melalui kegiatan praktikum Educatio an Society, Vol. 4, No. 1,
Hal. 1-8.
terhadap hasil belajar kognitif siswa pada
materi pokok kelarutan dan hasil kali Riandari, H., 2014, Upaya peningkatan hasil
kelarutan adalah 31,52 %, terhadap hasil belajar siswa kelas VIII melalui
modul IPA berbasis guided
belajar afektif siswa sebesar 78,90% dan discovery learning (GUDEL) di SMP
Negeri 26 Surakarta tahun pelajaran
terhadap hasil belajar psikomotorik siswa
2014/2015, Journal Systems, Vol. 1,
adalah 80,5%. No. 1, Hal. 1-9.

Septianu, E., 2014, Pengembangan modul


DAFTAR PUSTAKA IPA terpadu tema perubahan zat
Akinbobola, A.O. dan Afolabi, F.O., 2012, berbasis discovery untuk
Constructivist practices through meningkatkan keterampilan generik
guided discovery approach: the dan hasil belajar siswa. Unnes
effect on students’ cognitive Science Education Journal, Vol. 3,
achievement in nigerian senior No. 3, Hal. 653-61.
secondary school physics. Eurasian
Journal of Physics and Chemistry Sugiyono, 2010, Metode Penelitian
Journal, Vol. 2, No. 1, Hal. 16-25. Pendidikan, Bandung: Alfabeta.

Arifiani, R., 2012, Pengaruh pembelajaran Udo, M.E., 2010, Effect of guided discovery,
kolaborasi guided discovery- student-centred demonstration and
berbantuan lembar kerja siswa the expository instructional
experiential learning, Chemistry in strategies on students performance
Education, Vol. 2, No. 1, Hal. 129- in chemistry, An International Multi-
35. Disciplinary Journal, Vol. 4, No. 4,
Hal. 389-98.
Khasnis, B.Y. dan Manjunath, A., 2011,
Guided discovery method a remedial Wiratama, G.L., 2014, Pengelolaan
measure in mathematics, laboratorium kimia pada SMA negeri
International Reffered Research di kota Singaraja, e-Journal
Journal, Vol. 2, No. 2, Hal. 21-31. Undhiksa, Vol. 3, No. 2, Hal. 425-36.

Mayer, R.E., 2004, Should there be a three-


strike rule againts pure discovery