Anda di halaman 1dari 13

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran umum tempat penelitian

Puskesmas Pudakpayung merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas

Kesehatan Kota Semarang yang menyelenggarakan pembangunan

kesehatan di suatu wilayah kerja dan merupakan ujung tombak pelayanan

kesehatan pemerintah yang berfungsi memberikan pelayanan kesehatan

dasar bagi masyarakat.

Puskesmas Pudakpayung terletak di bagian selatan Kota

Semarang, berbatasan langsung dengan Kabupaten Semarang, yang

berlokasi di Kecamatan Banyumanik dan mempunyai wilayah kerja yang

mencakup 2 kelurahan yaitu Kelurahan Pudakpayung dan Gedawang.

Adapun data wilayah Puskesmas Pudakpayung adalah sebagai berikut :

1) Sebelah Utara = Kelurahan Banyumanaik

2) Sebelah Selatan = Kabupaten Semarang

3) Sebelah Timur = Kelurahan Padangsari

4) Sebelah Barat = Kecamatan Gunungpati

Sesuai strategi Dinas Kesehatan Kota Semarang, Puskesmas

Pudakpayung mempunyai 6 (enam) kegiatan pokok yang terdiri dari :

1) Upaya Promosi Kesehatan

2) Upaya Kesehatan Lingkungan

3) Upaya Kesehatan Ibu dan Anak

4) Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

5) Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular

6) Upaya Pengobatan
B. Hasil penelitian

1. Analisa Univariat

a. Umur

Tabel 4.1.
Distribusi frekuensi umur ibu hamil menurut faktor resiko
kehamilan di Puskesmas Pudakpayung Semarang tahun 2017
Persentase
Umur Frekuensi
(%)
Tidak beresiko 28 59.6
Beresiko 19 40.4
Total 47 100.0
Sumber : data primer

Berdasarkan tabel 4.1. di atas maka dapat diketahui

bahwa ibu hamil di Puskesmas Pudakpayung Semarang tahun

2017 sebagian besar mempunyai umur tidak beresiko sebanyak

28 responden (59,6%) dan sebagian kecil mempunyai umur

beresiko sebanyaka 19 responden (40,4%).

b. Lila

Tabel 4.2.
Distribusi frekuensi LILA ibu hamil menurut faktor resiko
kehamilan di Puskesmas Pudakpayung Semarang tahun 2017
Persentase
LILA Frekuensi
(%)
Normal 37 78.7
Beresiko 10 21.3
Total 47 100.0
Sumber : data primer

Berdasarkan tabel 4.2. di atas maka dapat diketahui

bahwa ibu hamil di Puskesmas Pudakpayung Semarang tahun

2017 sebagian besar mempunyai LILA normal sebanyak 37

responden (78,7%) dan sebgaan kecil mempunyai lila beresiko

sebanyak 10 responden (21,3%).


c. Berat badan

Tabel 4.3.
Distribusi frekuensi berat badan ibu hamil menurut faktor resiko
kehamilan di Puskesmas Pudakpayung Semarang tahun 2017
Persentase
Berat badan Frekuensi
(%)
Normal 45 95.7
Beresiko 2 4.3
Total 47 100.0
Sumber : data primer

Berdasarkan tabel 4.3. di atas maka dapat diketahui

bahwa ibu hamil di Puskesmas Pudakpayung Semarang tahun

2017 sebagian besar mempunyai berat badan normal sebanyak

45 respondne (95,7%) dan sebagian kecil mempunyai berat badan

beresiko sebanyak 2 responden (4,3%).

d. Status HB

Tabel 4.4.
Distribusi frekuensi Status HB ibu hamil menurut faktor resiko
kehamilan di Puskesmas Pudakpayung Semarang tahun 2017
Persentase
Status HB Frekuensi
(%)
anemia 14 29.8
tidak anemia 33 70.2
Total 47 100.0
Sumber : data primer

Berdasarkan tabel 4.4. di atas maka dapat diketahui

bahwa ibu hamil di Puskesmas Pudakpayung Semarang tahun

2017 sebagian besar mempunyai status HB Tidak Anemia

sebanyak 33 responden (70,2%) dan sebagian kecil mempunyai

status HB anemia sebanyak 14 responden (29,8%).


e. Status tekanan darah

Tabel 4.5.
Distribusi frekuensi tekanan darah ibu hamil menurut faktor resiko
kehamilan di Puskesmas Pudakpayung Semarang tahun 2017
Persentase
Status HB Frekuensi
(%)
Normal 32 68.1
Beresiko 15 31.9
Total 47 100.0
Sumber : data primer

Berdasarkan tabel 4.5. di atas maka dapat diketahui

bahwa ibu hamil di Puskesmas Pudakpayung Semarang tahun

2017 sebagian besar mempunyai tekanan darah normal sebanyak

32 responden responden (68,1%) dan sebagian kecil mempunyai

tekanan darah beresiko sebanyak 15 responden (31,9%).

f. Pengetahuan

Tabel 4.6.
Distribusi frekuensi pengetahuan ibu hamil menurut faktor resiko
kehamilan di Puskesmas Pudakpayung Semarang tahun 2017

Benar Salah
No Pernyataan
F % F %
1 Resko tinggi kehamilan adalah suatu kehamilan 46 98% 1 2%
dimana jiwa dan kesehatan ibu atau bayi dapat
terancam
2 Resiko tinggi kehamilan adalah suatu kehamilan 42 89% 5 11%
dimana jiwa dan kesehatan kehamilan beresiko
adalah segala sesuatu yang berhubungan
dengan meningkatnya kesakitan dan kematian
ibu hamil dan atau janin
3 Usia 20 sampai 30 tahun adalah usia yang tepat 43 91% 4 9%
dan aman bagi ibu untuk hamil.
4 Ibu hamil pertama kali dengan usia lebih dari 35 38 81% 9 19%
tahun tidak akan mengalami kesulitan dan resiko
pada saat kehamilan serta melahirkan
5 Jarak kehamilan yang baik adalah 2-4 tahun 35 74% 12 26%
6 Ibu yang menderita kurang darah (anemia) dapat 42 89% 5 11%
melahirkan bayi prematur
7 HB ibu hamil yang baik yaitu 7 gr- 9 gr 25 53% 22 47%
8 Berat badan ibu kurang dari 45 kg pada trimester 45 96% 2 4%
II dapat membahayakan janin dalam
kandunganya
9 Ibu hamil yang memiliki tinggi badan kurang dari 39 83% 8 17%
145cm tidak termasuk dalam faktor resiko pada
ibu hamil
10 Tekanan darah tinggi selama kehamilan 42 89% 5 11%
menyebabkan kematian ibu dan atau janin
11 Usia kehamilan yang lebih dari 42 minggu tidak 36 77% 11 23%
termasuk kehamilan beresiko
12 Bengkak pada kaki, tangan dan wajah tidak 31 66% 16 34%
termasuk tanda bahaya kehamilan
13 Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan 44 94% 3 6%
minimal 4 kali pemeriksaan
14 Ibu dengan pendarahan saat hamil muda baik 39 83% 8 17%
sedikit maupun banyak merupakan tanda –
tanda resiko tinggi kehamilan
15 Jumlah anak kurang dari 4 termasuk resiko tinggi 39 83% 8 17%
kehamilan
16 Ibu melakukan pemeriksaan kehamilan hanya 41 87% 6 13%
bila ada keluhan
17 Kunjungan ibu hamil adalah kontak langsung 42 89% 5 11%
antara ibu hamil dengan tenaga kesehatan untuk
mendapatkan pemeriksaan kehamilan
18 Ibu yang mempunyai riwayat keguguran 3 kali 36 77% 11 23%
atau lebih berturut-turut pada kehamilan tida
termasuk faktor resiko tinggi kehamilan
19 Apabila ketuban sudah pecah sendiri sebelum 40 85% 7 15%
ibu mengalami tanda persalinan, janin dam ibu
akan mudah terinfeksi
20 Ibu melakukan pemeriksaan kehamilan 39 83% 8 17%
sebaknya sebulan sekali

Tabel 4.6.
Distribusi frekuensi pengetahuan ibu hamil menurut faktor resiko
kehamilan di Puskesmas Pudakpayung Semarang tahun 2017

Persentase
Status HB Frekuensi
(%)
tinggi 26 55.3
rendah 21 44.7
Total 47 100.0
Sumber : data primer

Berdasarkan tabel 4.6. di atas maka dapat diketahui

bahwa ibu hamil di Puskesmas Pudakpayung Semarang tahun

2017 sebagian besar mempunyai pengetahuan tinggi sebanyak 26

responden responden (55,3%) dan sebagian kecil mempunyai

pengetahuan rendah sebanyak 21 responden (44,7%).


2. Analisa bivariat

Sebelum dilakukan analisa bivariat terlebih dahulu dilakukan uji

normalitas untuk menentukan alat ukur yang akan digunakan dalam

analisa bivariat. Hasil uji normalitas Perbedaan pengetahuan ibu hamil

menurut faktor resiko kehamilan di Puskesmas Pudakpayung Semarang

didapatkan nilai p value 0,007< 0,05, sehingga dapat disimpulkan data

berdistribusi tidak normal sehingga menggunakan uji Mann-Whitney Test

dengan hasil sebagai berikut :

a. Perbedaan pengetahuan umur berdasarkan status lila

Tabel 4.7 Tabel Uji Korelasi Mann-Whitney Test

Variabel Mean rank p_value


Perbedaan pengetahuan ibu hamil menurut 9.07 0,223
status LILA 12.20

Berdasarkan analisa bivariat dengan menggunakan uji Mann-

Whitney Test maka didapatkan p value sebesar 0,223< 0,05 maka

dapat disimpulkan bahwa tidak ada Perbedaan pengetahuan ibu

hamil resiko kehamilan antara umur dengan status LILA pada ibu

hamil di Puskesmas Pudakpayung Semarang

b. Perbedaan pengetahuan umur berdasarkan berat badan

Tabel 4.8 Tabel Uji Korelasi Mann-Whitney Test

Variabel Mean rank p_value


Perbedaan pengetahuan ibu hamil menurut 8.57 0,872
status berat badan 8.00

Berdasarkan analisa bivariat dengan menggunakan uji Mann-

Whitney Test maka didapatkan p value sebesar 0,872< 0,05 maka

dapat disimpulkan bahwa tidak ada Perbedaan pengetahuan ibu

hamil resiko kehamilan antara umur dengan status berat badan pada

ibu hamil di Puskesmas Pudakpayung Semarang


c. Perbedaan pengetahuan umur berdasarkan status Hb

Tabel 4.9 Tabel Uji Korelasi Mann-Whitney Test

Variabel Mean rank p_value


Perbedaan pengetahuan ibu hamil menurut 13.25 0,847
status Hb 12.68

Berdasarkan analisa bivariat dengan menggunakan uji Mann-

Whitney Test maka didapatkan p value sebesar 0,847< 0,05 maka

dapat disimpulkan bahwa tidak ada Perbedaan pengetahuan ibu

hamil resiko kehamilan antara umur dengan status kadar Hb pada

ibu hamil di Puskesmas Pudakpayung Semarang

d. Perbedaan pengetahuan umur dengan tekanan darah

Tabel 4.9 Tabel Uji Korelasi Mann-Whitney Test

Variabel Mean rank p_value


Perbedaan pengetahuan ibu hamil menurut 15.14 0,930
status tekanan darah 14.87

Berdasarkan analisa bivariat dengan menggunakan uji Mann-

Whitney Test maka didapatkan p value sebesar 0,930< 0,05 maka

dapat disimpulkan bahwa tidak ada Perbedaan pengetahuan ibu

hamil resiko kehamilan antara umur dengan status tekanan darah

pada ibu hamil di Puskesmas Pudakpayung Semarang


BAB V

PEMBAHASAN

a. Perbedaan pengetahuan umur berdasarkan status lila

Berdasarkan analisa bivariat dengan menggunakan uji Mann-Whitney

Test maka didapatkan p value sebesar 0,223< 0,05 maka dapat disimpulkan

bahwa tidak ada Perbedaan pengetahuan ibu hamil resiko kehamilan antara

umur dengan status LILA pada ibu hamil di Puskesmas Pudakpayung

Semarang..

Umur adalah hal yang sangat diperhatikan dalam kehamilan seorang

ibu, karena angka kesakitan ataupun angka kematian pada ibu hamil dapat

berhubungan dengan umur. Umur ibu yang tepat untuk aman dan sehat

untuk hamil dan melahirkan adalah pada umur 20-30 tahun, Remaja atau ibu

hamil dengan umur <20 tahun sering kali mengalami permasalahan dan

penyulit pada kehamilanya, karena belum matangnya alat reproduksi

sehingga belum siap untuk hamil. Keadaan tersebut dapat diperparah

apabila ada tekanan (stress) psikologi. Dan pada umur >dari 35 tahun ,

adalah umur dimana status kesehatan ibu mulai menurun sehingga

dikhawatirkan akan mengalami penyulit dalam persalinanya, persalinan

berlangsung lama,sehingga kemungkinan mendapatkan anak yang cacat

lebih tinggi.(17)

Ibu hamil yang mengalami kurangnya LILA dari 23,5 cm bisa

mempengaruhi pada janin yang di kandungnya, dan dapat mengakibatkan

anak yang dilahirkan mempunyai berat badan lahir rendah, dan mampu
menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin terhambat sehingga

akan mempengaruhi kecerdasan anak di masa yang akan datang.(11)

Penelitian lainnya yang sejalan adalah penelitian Yani Maidelwita,

2010 di Puskesmas Nanggalo Padang tentang faktor-faktor yang

berhubungan dengan kehamilan resiko tinggi menyatakan bahwaada

hubungan antara pengetahuan dengan kehamilannya resiko tinggi.

b. Perbedaan pengetahuan umur berdasarkan berat badan

Berdasarkan analisa bivariat dengan menggunakan uji Mann-Whitney

Test maka didapatkan p value sebesar 0,872< 0,05 maka dapat disimpulkan

bahwa tidak ada Perbedaan pengetahuan ibu hamil resiko kehamilan antara

umur dengan status berat badan pada ibu hamil di Puskesmas Pudakpayung

Semarang.

Berat badan ibu adalah salah satu status kesehatan ibu hamil, karena

janin akan mengambil atau menyerap energi dan asupan yang ada di dalam

tubuh si ibu untuk proses perkembangan janin tersebut. Apabila berat badan

ibu hamil kurang dari 45kg akan berakibat berat bayi kurang pada janin yang

di lahirkanya.

Apabila seorang ibu hamil memiliki pengetahuan yang lebih

tentang resiko tinggi kehamilan maka kemungkinan besar ibu akan berpikir

untuk menentukan sikap, berperilaku untuk mencegah, menghindari atau

mengatasi masalah resiko kehamilan tersebut. Dan ibu memiliki kesadaran

untuk melakukan kunjungan antenatal untuk memeriksakan kehamilannya,

sehingga apabila terjadi resiko pada masa kehamilan tersebut dapat

ditangani secara dini dan tepat oleh tenaga kesehatan. Hal ini juga

dimaksudkan untuk dapat membantu menurunkan angka kematian ibu


yang cukup tinggi di Indonesia dan diharapkan pada tahun 2010 angka

kematian ibu bisa menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup (Depkes,

2010).

Faktor yang mempengaruhi BBL pada ibu hamil meliputi umur ibu

hamil, Jarak Kehamilan/Kelahiran, paritas, Kadar Hemoglobin (Hb), status

gizi ibu hamil, Penyakit Saat Kehamilan,. Faktor yang berpengaruh pada

lingkar lengan atas kurang dari normal mampu terjadinya berat bayi lahir

rendah (BBLR) salah satunya disebabkan karena faktor pengetahuan .

pengetahuan yang kurang baik terhadap konsumsi nutrisi saat hamil akan

berpengaruh pada perkembangan lingkar lengan atas dengan berat badan

bayi lahir (BBL) . lingkar lengan atas pada ibu hamil dapat menpengaruhi

proses pertumbuhan janin, abortus, kematian neonatal, cacat bawaan,

anemia pada bayi, lahir dengan berat badan rendah (BBLR), ibu dengan

status gizi kurang sebelum hamil mempunyai resiko 4,27 kali untuk

melahirkan bayi BBLR di bandingkan dengan ibu yang mempunyai status

gizi baik (normal Joeharno, 2008). lingkar lengan atas yang kurang

merupakan ukuran dari kurangnya nutrisi pada ibu hamil yang

menyebabkan resiko dan komplikasi pada ibu pada saat hamil maupun

bersalin antara lain : anemia, berat badan ibu tidak bertambah secara

normal. mudah terkena penyakit infeksi, persalinan sulit dan lama, persalinan

sebelum waktunya, dan pendarahan setelah persalinan. lingkar lengan atas

pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin, abortus,

kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, lahir dengan berat

badan rendah (BBLR), ibu dengan status gizi kurang sebelum hamil
mempunyai resiko 4,27 kali untuk melahirkan bayi BBLR di bandingkan

dengan ibu yang mempunyai status gizi baik (normal) (Joeharno,2008).

c. Perbedaan pengetahuan umur berdasarkan status Hb

Berdasarkan analisa bivariat dengan menggunakan uji Mann-Whitney

Test maka didapatkan p value sebesar 0,847< 0,05 maka dapat disimpulkan

bahwa tidak ada Perbedaan pengetahuan ibu hamil resiko kehamilan antara

umur dengan status kadar Hb pada ibu hamil di Puskesmas Pudakpayung

Semarang.

Anemia pada ibu hamil yaitu keadaan dimana ibu hamil mengalami

defisiensi zat besi dalam darahnya, menurut WHO kejadian anemia pada ibu

hamil berkisar antara 205 sampai 89% dengan menentukan Hb 11 gr%

sebagai dasaranya.(7)

Anemia sering terjadi akibat defisiensi zat besi karena pada ibu hamil

terjadi peningkatan kebutuhan zat besi dua kali lipat akibat peningkatan

volume darah tanpa ekspansi volume plasma, untuk memenuhi kebutuhan

ibu dan pertumbuhan janin (Fatimah, St., et al, 2011). Dampak anemia

pada janin antara lain abortus, terjadi kematian intauterin, prematuritas,

berat badan lahir rendah, cacat bawaan dan mudah infeksi. Pada ibu, saat

kehamilan dapat mengakibatkan abortus, persalinan prematuritas,

ancaman dekompensasi kordis dan ketuban pecah dini. Pada saat

persalinan dapat mengakibatkan gangguan his, retensio plasenta dan

perdarahan post partum karena atonia uteri.7

Menurut Notoatmodjo (2007) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang anemia dalam kehamilan antara lain

kurangnya informasi dari tenaga kesehatan kepada ibu hamil, kurang jelasnya

informasi yang disampaikan oleh tenaga kesehatan kepada ibu hamil, kurangnya
kemampuan ibu hamil untuk memahami informasi yang diberikan. Peningkatan

pengetahuan tentang anemia dapat diperoleh melalui saran informasi baik

elektronik (televisi, radio) maupun media cetak (koran, majalah) dan juga dapat

diperoleh melalui penyuluhan-penyuluhan tentang kesehatan untuk ibu-ibu agar

terhindar dari suatu penyakit terutama anemia pada ibu hamil yang dilakukan oleh

petugas kesehatan maupun kader kesehatan. Dalam hal ini sesuai dengan

pernyataan Notoatmodjo (2007), bahwa pengetahuan tidak hanya diperoleh dari

pendidikan formal tetapi juga dari pendidikan informal.

Menurut teori Lawrence Green dalam (Notoatmodjo, 2010), pengetahuan

seseorang tentang kesehatan merupakan salah satu faktor presdidposisi yang

mempengaruhi perilaku seseorang, jadi jika ibu hamil tidak mendapatkan informasi

atau penyuluhan tentang anemia maka dapat berpengaruh dalam bagaimana ibu

hamil tersebut menghindarkan dirinya dari anemia. Pengetahuan merupakan faktor

yang penting untuk terbentuknya perilaku seseorang, karena dari pengalaman

dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih

langgeng dari perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Dengan

meningkatnya pengetahuan ibu hamil tentang anemia diharapkan akan terjadi

perubahan perilaku ke arah yang mendukung kesehatan (Notoatmodjo, 2010).

d. Perbedaan pengetahuan umur berdasarkan tekanan darah

Berdasarkan analisa bivariat dengan menggunakan uji Mann-Whitney

Test maka didapatkan p value sebesar 0,930< 0,05 maka dapat disimpulkan

bahwa tidak ada Perbedaan pengetahuan ibu hamil resiko kehamilan antara

umur dengan status tekanan darah pada ibu hamil di Puskesmas

Pudakpayung Semarang.

Berat badan ibu adalah salah satu status kesehatan ibu hamil, karena

janin akan mengambil atau menyerap energi dan asupan yang ada di dalam

tubuh si ibu untuk proses perkembangan janin tersebut. Apabila berat badan
ibu hamil kurang dari 45kg akan berakibat berat bayi kurang pada janin yang

di lahirkanya.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan terjadinya

peningkatan tekanan darah, hingga hal ini dapat membuat adanaya tekanan

dan merusak dinding arteri di pembuluh darah.(18) Seseorang dikatakan

mengalami hipertensi jika tekanan darahnya di atas 140/90 mmHg

(maksudnya adalah 140 mmHg tekanan sistolik dan 90 mmHg tekanan

diastolik). Hipertensi dalam masa kehamilan adalah adanya tekanan darah

lebih dari 140 / 90 pada masa kehamilan.

Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang resiko tinggi kehamilan

yaitu Derajat mengenai semua hal yang diketahui ibu tentang resiko

tinggi kehamilan meliputi pengertian, macam- macam resiko tinggi, bahaya

dan pencegahan resiko tinggi kehamilan. Pandangan seseorang tentang

kesehatan secara umum baik menyangkut pentingnya memelihara

kesehatan tubuh, pemahaman terhadap makna dan manfaat kesehatan bagi

kehidupan secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh

terhadap kepatuhan seseorang terhadap saran atau nasehat dari tenaga

kesehatan. Orang yang memiliki persepsi negatif tentang kesehatan

memiliki kecenderungan tingkat kepatuhannya rendah. Sebaliknya orang

yang memiliki persepsi yang positif terhadap kesehatan akan cenderung

lebih patuh terhadap apa yang disarankan oleh tenaga kesehatan,

termasuk kepatuhan kunjungan ketempat pelayanan kesehatan untuk

Antenatal care.