Anda di halaman 1dari 22

KONSELING MENYUSUI

No dokumen : SOP/80/PKM.SDW/I/2018

No revisi :0
SOP Tanggal terbit : 18 Januari 2018

Halaman : 1/2

UPTD
EDI KUSNADI, SKM
PUSKESMAS
SINDANGWANGI NIP.196503181987031016
1. Pengertian Konseling dalam upaya untuk memberikan informasi dan membantu
menyelesaikan masalah yang dihadapi ibu dalam proses menyusui
2. Tujuan 1. Sebagai kerangka acuan dalam melakukan konseling menyusui
2. Meningkatkan pengetahuan ibu dalam proses menyusui
3. Membantu menyelesaikan masalah menyusui pada ibu menyusui yang
dihadapi
3. Kebijakan 1. Undang-undang no. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air
Susu Ibu Eksklusif
3. Rencana Aksi Pembinaan Gizi Tahun 2014
4. Referensi -

5. Alat dan Paket Peragaan laktasi,botol untuk menampung susu


Bahan

6.Prosedur/ 1. Petugas menerima pasien yang mempunyai masalah dalam menyusui


Langkah-langkah
yang dirujuk dari BP Umum, Poliklinik MTBS, Poliklinik KIA, Posyandu
dan klien umum
2. Petugas melakukan wawancara untuk mencari faktor penyebab
masalah pasien
3. Mengetahui dan menetapkan faktor-faktor penyebab masalah pasien
dalam proses menyusui
4. Bila diperlukan tindakan dan intervensi lebih lanjut pasien dapat dirujuk
kembali ke poliklinik yang merujuk Rumah Sakit (apabila menolak
dirujuk pasien dan atau keluarga pasien harus menandatangani
Blangko Penolakan)
5. Petugas memberikan penyuluhan terkait faktor gizi yang menjadi
kemungkinan penyebab masalah pada pasien dengan metode
Konsultasi, Informasi, dan Edukasi (KIE)
6. Memberikan brosur gizi terkait masalah pasien (bila perlu)
7. Petugas bersama pasien menetapkan jadwal kunjungan rumah pasien
(bila perlu)
8. Data pasien dicatat dlam Buku Register Kunjungan Klinik Gizi
9. Laporan Kunjungan Klinik Gizi dilaporkan secara rutin ke Dinas
Kesehatan
7. Dokumen 1. Buku Pedoman Konseling Menyusui
Pendukung 2. Modul WHO Konseling Menyusui
3. Format Konseling Menyusui
4. Buku Pedoman Klinik Gizi
5. Buku Register Kunjungan Klinik Gizi

8..Unit Terkait Poskesdes,Posyandu, Pustu, BPA, BPU,KIA


BULAN PENIMBANGAN BALITA
No : SOP/81/PKM.SDW/I/2018
dokumen
No revisi :0
SOP
Tanggal : 18 Januari 2018
terbit
Halaman : 1/2

UPTD
PUSKESMAS EDI KUSNADI, SKM
SINDANGWANGI
NIP.196503181987031016
1. Pengertian Bulan dimana dilakukan pengukuran antropometri (penimbangan berat
badan,dan pengukuran tinggi badan/Panjang badan)terhadap seluruh
balita yang ada di wilayah puskesmas
2. Tujuan 1. Memperoleh gambaran data status gizi seluruh balita di wilayah kerja
secara berkala
2.Memperoleh data balita gizi buruk berdasarkan nama dan
alamat,kelompok umur,jenis kelamin dan status ekonomi
3. Kebijakan Peraturan Menkes no 741/Mekes/PER/VII/2008 tentang SPM Bidang
Kesehatan di Kab/Kota
4. Referensi Buku Juklak Perbaikan Gizi yang diterbitkan oleh seksi gizi Dinas
Kesehatan Kabupaten Bogor Tahun 2015

5. Alat dan Pengukur tinggi Badan(Microtoice),Panjang Badan,Dacin,standar WHO 2005


Bahan

6.Prosedur/Lan 1.Persiapan
gkah-langkah
-membuat jadwal posyandu
-Sosialisasi lintas program dan Lintas sektor
-Menyiapkan form pencatatan dan pelaporan BPB
-Menyiapkan sarana dan prasarana di posyandu
(dacin,microtoice,alat ukur panjang badan)
-Penyiapan standar WHO 2005
2.Pelaksanaan
-Memantau dan membina pelaksanaan penimbangan berat badan
dan pengukuran panjang / tinggi badan pada hari buka posyandu
-Menentukan status balita berdasarkan standart WHO 2005
-Membuat rekap dan mengolah data hasil pengukuran
- merekap data balita gizi buruk
-Memvalidasi data balita gizi buruk
-Membuat laporan hasil
3.Evaluasi
-Tersedianya data status Gizi (BB/U,BB/PB/TB,TB/U Atau PB/U)
- Tersedianya data balita gizi buruk berdasarkan nama
alamat,kelompok umur,jens kelamin dan status ekonomi

7. Dokumen Standar WHO 2005


Pendukung Form Pencatatan & Pelaporan BPB

8..Unit Terkait Kader,Bidan Desa,Ket,Penggerak PKK desa,Linsek


PENATALAKSANAAN MENYUSUI
No dokumen : SOP/82./PKM.SDW/I/2018

No revisi :0
SOP
Tanggal terbit : 18 Januari 2018

Halaman : 1/2

UPTD EDI KUSNADI, SKM


PUSKESMAS NIP.196503181987031016
SINDANGWANGI

1. Pengertian Teknik menyusui yang benar adalah cara memberi ASI kepada bayi dengan
pelekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar
2. Tujuan Persiapan ASI
Persiapan memberi asi dilakukan bersamaan dengan kehamilan.persiapan
memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan :
1.Membersihkan puting susu dengan air atau minyak sehingga epitel yang
lepas tidak menumpuk
2.Puting susu ditarik-tarik setiap mandi,sehingga menonjol untuk
memudahkan isapan bayi
3. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan
jalan operasi
3. Kebijakan 1. Undang-undang no. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air
Susu Ibu Eksklusif
3. Rencana Aksi Pembinaan Gizi Tahun 2014
4. Referensi 1. Buku Pedoman Konseling Menyusui
2. Modul WHO Konseling Menyusui

5. Alat dan Lembar balik Menyusui


Bahan

6.Prosedur/Lan 1.Cuci tangan bersih dengan sabun


gkah-langkah
2.Atur posisi bayi
a Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh
tubuh bayi
b. Lengan ibu pada belakang bahu bayi ,tidak pada dasar
kepala,leher tidak menengadah
c.hadapkan bayi ke dada ibu,sehingga hidung bayi berhadapan
dengan puting susu,sedangkan telinga dan lengan bayi terletak pada
satu garis lurus.
d.Dekatkan badan bayi ke badan ibu ( Menempel pada perut Ibu)
3.Pegang payudara kanan dengan tangan kiri,dan sebaiknya.ibu jari pada
ibu berada diatas puting,sedangkan empat jari lain di bawah puting.jangan
menjepit puting dengan jari telunjuk dan jari tengah ,karena posisi puting
dalam mulut bayi yg tidak benar mengakibatkan ASI yg keluar tidak lancar
4.Beri rangsangan bayi untuk membuka mulut dgn cara menyentuhkan puting
susu pada pipi atau sudut mulut bayi terbuka lebar,cepat masukkan puting ke
mulut bayi.usahakan aerola dapat masuk ke dalam mulut bayi .dagu bayi
menempel payudara ,hidung dekat dengan payudara,tetapi lubang hidung
jangan sampai tertutup payudara
5.Setelah selesai pada satu payudara.lepaskan dgn menggunakan jari
kelingking ibu yg bersih.Jari dimasukkan dalam sudut mulut bayi,cara lain
adalah dengan menekan dagu bayi ke bawah atau menutup lubang hidung
bayi,jangan menarik puting untuk melepasnya.
6.Susui bayi dengan dua payudara secara bergantian
7,Sendawakan bayi dengan cara :
Menyandarkan bayi di pundak ibu lalu ditepuk –tepuk punggungnya pelan2.
Bayi ditengkurapkan di pangkuan ibu sambil di gosok2 punggungnya
7. Dokumen Buku Pedoman Konseling Menyusui
Pendukung Modul WHO Konseling Menyusui
Format Konseling Menyusui
Buku Pedoman Klinik Gizi
Buku Register Kunjungan Klinik Gizi

8..Unit Terkait Kader,Bidan Desa,Tenaga Pelaksana Gizi,Ket,Penggerak PKK desa,Linsek


PENGELOLAAN SARANA DAN
OBAT GIZI
No dokumen : SOP/83/PKM.SDW/I/2018

No revisi :0
SOP
Tanggal terbit : 18 Januari 2018

Halaman : 1/2

UPTD EDI KUSNADI, SKM


PUSKESMAS NIP.196503181987031016
SINDANGWANGI
1. Pengertian Sarana dan obat gizi adalah alat dan bahan penunjang dalam
mengoptimalisasikan kegitan pelayanan gizi, terdiri dari :
1. Sarana / alat gizi : Dacin, Timbangan ibu Hamil, Alat Ukur Panjang/Tinggi
Badan, KMS, Iodina Test, Food Model,APE, balok SKDN, Poster, leaflet
2. Obat Gizi : Vitamin A 100.000 IU, Vitamin A 200.000 IU dan Tablet
Tambah Darah,

2. Tujuan Terpenuhinya kebutuhan sarana/obat gizi di tingkat puskesmas

3. Kebijakan -Undang-undang no 36 tahun 2009 tentang Kesehatan


-Undang-undang no 23 tahun 2014 tentang Kesehatan

4. Referensi Buku Juklak Perbaikan Gizi yang diterbitkan oleh seksi gizi Dias Kesehatan
Kabupaten Bogor Tahun 2015

5. Alat dan
Bahan

6.Prosedur/Lan TINGKAT PUSKESMAS


gkah-langkah A. Persiapan/Perencanaan :
 Menyiapkan data sasaran
 Menghitung/menginventariskebutuhan memperhitungkan stok
 Mengajukan surat permintaan kebutuhan ke seksi gizi dinas kesehatan
 Menyiapkan tempat penyimpanan
B. Pelaksanaan
 Sarana/obat diterima oleh bendahara barang/obat dan dicatat di buku
penerimaan sarana dan kartu sarana
 Sarana/obat dikeluarkan oleh bendahara barang/obat dan dicatat di
buku pengeluaran sarana/obat dan kartu sarana
 Pengelola gizi menerima sarana/obat dan dicatat di kartu persediaan
sesuai jenis saran/obat
 Membuat alokasi sarana/obat sesuai permintaan/sasaran
C. Monitoring,Pelaporan dan Evaluasi
Sarana/obat dilaporkan secara berkala setiap 6 bulan sekali dengan
menggunakan format laporan mutasi sarana

TINGKAT DESA
A. Persiapan/Perencanaan :
 Menyiapkan data sasaran
 Menghitung/menginventaris kebutuhan memperhitungkan stok
 Mengajukan permintaan kebutuhan ke pengelola gizi puskesmas
B. Pelaksanaan
 Sarana/obat diterima oleh bidan desa dan dicatat di buku penerimaan
sarana dan kartu sarana
 Sarana/obat dikeluarkan oleh bidan desa dan dicatat di buku
pengeluaran sarana/obat
 Bidan desa menerima sarana/obat dan dicatat di buku bantu
 Membuat alokasi sarana/obat sesuai permintaan/sasaran dari kader
C. Monitoring,Pelaporan dan Evaluasi

 Sarana/obat dilaporkan secara berkala setiap 6 bulan sekali dengan


menggunakan format laporan mutasi sarana tk desa.

7 Unsur 1. Tenaga Pelaksana Gizi


Pelaksana 2. Pembina Desa
3. Kader Posyandu
4. Petugas terkait Bendahara barang, bendahara obat

8.Unit Terkait Poskesdes,Posyandu, Pustu, BPA, BPU,KIA,Farmasi


TATA LANSANA DIET GIZI BURUK
No dokumen : SOP/84/PKM.SDW/I/2018

No revisi :0
SOP
Tanggal terbit : 18 Januari 2018

Halaman : 1/2

UPTD EDI KUSNADI, SKM


PUSKESMAS NIP.196503181987031016
SINDANGWANGI
1. Pengertian Gizi buruk adalah Keadaan gizi anak yang ditandai dengan satu atau lebih
tanda berikut:Sangat kurus,edema minimal pada kedua punggung kaki indeks
BB menurut TB/PB
(BB/TB) <-3 SD,lingkar lengan atas < 11.4cm(ntuk anak usia 6 -59 bulan) dan
atau dengan tanda klinis marasmus, kwasiorkor dan marasmuk-kwasiorkor.
2. Tujuan Meningkatkan status gizi anak gizi buruk

3. Kebijakan -Undang-undang no 36 tahun 2009 tentang Kesehatan


-PP MENKES RI NO 75 TH 2013.Ttg AKG yang dianjurkan bagi bangsa
indonesia
- Kep Men Kes RI No 1995/Menkes/SK/XII/2010 Ttg Standar Antromometri
penilaian Status Gizi Anak

4. Referensi Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas Th 2014


Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk Th 2014
Buku Pedoman Tata laksana gizi buruk Jilid 1 & 2 Th 2014
Buku Pedoman Tata Laksana KEP pd anak di Puskesmas & Rumah Tangga
Th 2014
Pedoman Gizi Seimbang Th 2014

5. Alat dan Formula 75 & Formula 100


Bahan

6.Prosedur/Lan TATALAKSANA DIET ANAK GIZI BURUK


gkah-langkah I. PRINSIP PEMBERIAN MAKAN
1. Memenuhi energi, protein dan zat gizi lainnya
2. Pemberian diberikan secara bertahap
3. Tidak memberatkan usus dan organ tubuh lainnya
4. Mencapai berat badan normal
5. Porsi kecil dan sering
6. Jenis makanan : a. F 75
b. F 100
c. Makanan lumat
d. Makanan lembek
e. Makanan padat
II. INDIKASI PENGATURAN MAKANAN
1. Tahap stabilitasi
a. Syarat diit :
- Energi : 80 – 100 kkal/kg BB/hari
- Protein : 1 – 1,5 gr/kg BB/hari
- Cairan : 130 ml/kg BB/hari ( jika ada odema berat 100
ml/kg BB/hari )
b. Jenis diit : Formula 75
c. Waktu pemberian : Hari ke 1 -3 atau 7 ( tergantung kondisi anak )
d. Indikasi perubahan :
- Odema menghilang
- Nafsu makan meningkat ( dapat menghabiskan F 75 sesuai Porsi
yg dianjurkan / minimal ½ - ¾ Porsi

2. Tahap rehabilitasi
a. Syarat dii : - Energi : 100 – 150 kkal/kg BB/hari
- Protein 2 – 3 gr/kg BB/hari
- Cairan : 150 ml/kg BB/hari
b. Jenis diit : - Formula 100
- Makanan lumat ( bubur saring )
c. Waktu pemberian : - Minggu ke 2 sampai ke 6
d. Indikasi perubahan
- Kenaikan BB > 5gr/kg BB/hari dan arah grafik naik
- Nafsu makan membaik
- Anak tidak rewel dan ceria
- Aktifitas motorik bertambah
- Keluhan sakit berkurang
3. Tahap lanjutan
a. Syarat diit
- Energi : 150 – 220 kkal/gr BB/hari
- Protein : 3 -4 gr/kg BB/hari
- Cairan : 1150 – 200 ml/kg BB/hari
b. Jenis diit
- Dibedakan menurut kelompok umur ( < 2 tahun dan >= 2
Tahun )
- Berangsur menuju ke makanan anak balita sehat ( besar porsi
Macam makanan, frekuensi pemberian )
7. Diagram Alir

8.Unsur 1. Dokter
Pelaksana 2. Tenaga Pelaksana Gizi
3. Perawat
4. Bidan
5. Promkes
DISTRIBUSI TABLET FE
No dokumen : SOP/85/PKM.SDW/I/2018

SOP No revisi :0
Tanggal terbit : 18 Januari 2018

Halaman : 1/2

EDI KUSNADI, SKM


UPTD
PUSKESMAS NIP.196503181987031016
SINDANGWANGI
1. Pengertian Distribusi tablet Fe adalah pemberian tablet Fe untuk
ibu hamil sebanyak minimal 90 tablet.

Semua ibu hamil mendapatkan tablet tambahan darah


2. Tujuan minimal 90 tablet.

3. Kebijakan Merupakan upaya pencegahan terhadap masalah gizi


(anemia).

4. Referensi : Buku Pedoman Distribusi Tablet Fe.

5.Alat & Bahan : Buku KIA,Tablet FE


6. Prosedur1. 7 Diagram Alir
I . Langkah-langkah

 Melakukan registrasi untuk ibu Pengelola


hamil Obat
 Melakukan pengajuan/permintaan
tablet fe dengan berkoordinasi
dengan petugas obat melalui bon
tambahan obat. Petugas Gizi
 Menyiapkan tablet Fe
 Mendistribusikan tablet Fe
 Memantau jumlah tablet tambah
darah yang diberikan
 Mencatat dan melaporkan hasil Bidan Desa
distribusi tablet Fe
 Mengevaluasi hasil pemberian
tablet Fe (cakupannya)

8. Unit terkait Bidan Desa ,Pengelola Obat


INFOKES/SOSIALISASI/PENYULUHAN
PROGRAM GIZI
No dokumen : SOP/85/PKM.SDW/I/2018
No revisi :0
SOP Tanggal terbit : 18 Januari 2018
Halaman :½

UPTD EDI KUSNADI, SKM


PUSKESMAS NIP. 19650318 198703 1 016
SINDANGWANGI

1. Pengertian : Infokes/sosialisasi gizi adalah suatu proses untuk


menyamakan persepsi dalam menjelaskan
informasi program gizi.

2. Tujuan : Semua sasaran memperoleh kejelasan tentang


informasi program-program gizi.

3. Kebijakan : Terselenggaranya tindaklanjut penyampaian


informasi untuk menyamakan persepsi kegiatan
program gizi.

4. Referensi : Hasil rapat/pertemuan di tingkat Kabupaten dan


Buku Pedoman yang terbaru.

5.
PROSEDUR/Langk : I. Langkah-langkah
ah – langkah
1. Menyiapkan bahan rapat/sosialisasi
2. Menjelaskan/sosialisasi program gizi
3. Membuat kesepakatan dan tindak lanjut
4. Membuat notulen
5. Membuat hasil rapat
6. Memberikan umpan balik

: Semua sasaran stakeholder baik lintas program


7. Ruang Lingkup
maupun lintas sektor terkait.

8. alat dan bahan : Materi, Handout,Referensi terkait dan terkini

9. Dokumen : Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Program


Terkait Rutin.
10. Formulir yang : Buku Pedoman SPM
dipergunakan

11. Unit Terkait : Lintas sektor dan lintas program.


MONITORING GARAM BERYODIUM
No dokumen : SOP/86/PKM.SDW/I/2018
No revisi :0
SOP Tanggal terbit : 18 Januari 2018
Halaman :½

EDI KUSNADI, SKM


UPTD
NIP. 19650318 198703 1 016
PUSKESMAS
SINDANGWANGI

1. Pengertian : Monitoring garam adalah kegiatan yang dilakukan


secara berkala minimal setiap tahun sekali melalui
pemeriksaan garam (NaCl) baik jenis maupun mutu
yang dikonsumsi oleh rumah tangga.

2. Tujuan : Sebagai acuan petugas gizi Puskesmas dalam


melaksanakan monitoring garam tingkat rumah
tangga di wilayahnya minimal sekali setahun.
3. Kebijakan
: Monitoring garam adalah proses kegiatan yang
dilakukan secara berkala pada keadaan (baik jenis
maupun mutu,dll ) garam (NaCl) yang dikonsumsi
oleh rumah tangga.

: Buku Petunjuk Monitoring Garam Tingkat Rumah


4. Referensi Tangga.

5.PROSEDUR/Lan A Persiapan :
gkah – langkah 1. Metode pemantauan dilakukan dengan cara
Survey Cepat dan pengambilan sampelnya
dilakukan dengan metode sampel kluster
2. Wawancara dilakukan kepada ibu rumah
tangga
B Pelaksanaan :
1. Petugas memeriksa garam kepada ibu
rumah tangga yg menjadi sampel
Dgn cara meneteskan 2 tetes yodium tes
pada garam
2. Perubahan warna garam setelah ditetesin
yodium tes
Ungu Pekat : Garam mengandung
cukup yodium
Ungu Pucat :Garam tidak mengandung
cukup yodium
Putih Tidak Berubah : garam tidak
mengandung yodium
3.Penentuan warna pada pemetaan :
- Warna Hitam : Apabila hasil pengujian
garam yg kurang dan tidak
Beryodium > 30 %
- warna Merah : Apabila hasil pengujian
garam yang kurang dan tidak
Beryodium 20 – 29,9 %
- Warna Kuning : Apabila hasil
pengujian garam yang kurang dan tidak
Beryodium 5 19,9 %
- Warna Hijau : Apabila hasil pengujian
garam yang kurang dan tidak
Beryodium < 5 %
C. Waktu pelaksanaan Kegiatan Pemantauan
Garam Yodium : Bulan Februari dan Agustus 2013
D.Monitoring & Evaluasi
1. Monitoring Dan Evaluasi
2. Pencatatan dan Pelaporan

Pemetaan: Rumah tangga dari populasi posyandu


terpilih.

6.Alat dan bahan : Garam dapur, Iodina tes

7.Dokumen  Register sasaran


Terkait  Laporan hasil monitoring garam tingkat
rumah tangga
 Leaflet, poster

: Formulir Laporan Hasil Monitoring Garam Tingkat


8Formulir yang Rumah Tangga.
dipergunakan

: Bidan Desa,Kader Posyandu


9.Unit Terkait
.
PELACAKAN KASUS GIZI BURUK
No dokumen : SOP/87/PKM.SDW/I/2018
No revisi :0
SOP Tanggal : 18 Januari 2018
terbit
Halaman :½

UPTD EDI KUSNADI, SKM


PUSKESMAS NIP. 19650318 198703 1 016
SINDANGWANGI

Pengertian  Inap Balita Gizi Buruk (BB/TB atau BB/PB<- 3 SD ) dengan atau
tanpa gejala klinis.
 Balita gizi buruk (BB/U <-3 SD dengan tanda klinis
 Balita Gizi buruk Pasca Rawat
Tujuan Meningkatkan berat badan dan status gizi balita melalui tata laksana Gizi
Buruk

3. Kebijakan -1. Buku Penanganan SKD/KLB Gizi Buruk Depkes RI tahun 2008
2. Buku WHO Antropometri tahun 2005 Depkes RI tahun 2010
3. Balita Gizi Buruk Pasca Rawat Inap

4. Referensi Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas Th 2014


Petunjuk teknis kegiatan Gizi tahun2015
Pedoman Gizi Seimbang Th 2014

5. Alat dan Format W1


Bahan

6.Prosedur/Lan A Persiapan :
gkah-langkah
1. Mempersiapkan data gizi buruk yang ada dan ditangani (berdasarkan
laporan kronologis,LSM,Media ,Desa )
2. Lead
B Pelaksanaan :
1. Validasi Hasil Berat Badan danTinggi Badan Balita Gizi Buruk untuk
penentuan kasus
2. Mengunjungi Rumah Kasus
3. Wawancara dan Mengisi format kronologis temuan kasus dengan
melakukan pengukuran antropometri,wawancara identitas kasus
sesuai dengan format kronologis dengan konseling.
4. Pemberian PMT sesuai dengan tatalaksana gizi buruk /sesuai
tahapan.
C Monitoring & Evaluasi
1. Pencatatan & Pelaporan /Memantau hasil pertumbuhan &
Perkembangan TB/BB kasus dengan melaporkan perkembangan BB
dan status Gizi
2. Merujuk kasus dengan kegawat darurstan medis atau dengan
penyakit yang beresiko ke RS/Membuat surat Pernyataan untuk kasus
yang tidak mau dirujuk.
7.Unsur : Dokter,TPG,Promkes,Surveilen,Kesling,Tokoh Masyarakat,PKK
Pelaksana desa,Kader,LSM,
PELACAKAN KASUS GIZI BURUK
No dokumen : SOP/88/PKM.SDW/I/2018
SOP No revisi :0
Tanggal terbit : 18 Januari 2018
Halaman :½

UPTD EDI KUSNADI, SKM


PUSKESMAS NIP. 19650318 198703 1 016
SINDANGWANGI

1. Pengertian
Vitamin A merupakan zat gizi yg penting (asensial) bagi manusia tentang zat gizi
ini tidak dapat dibuat oleh tubuh.sehingga harus dipenuhi dari luar tubuh .prinsip
dasar untuk mencegah dan menanggulangi masalah KVA adalah menyediakan vit
A yg cukup untuk tubuh
2. Tujuan
Menurunkan prevalensi dan mencegah kekurangan vitamin A pada anak balita

3. Kebijakan -Undang-undang no 36 tahun 2009 tentang Kesehatan

4. Referensi Buku Pedoman Distribusi Vitamin A.

Petunjuk teknis kegiatan Gizi tahun2015

5. Alat dan Kapsul Vit A 100.000 IU


Bahan
Kapsul Vitamin A 200.000 IU

6.Prosedur/Lan 1. Penentuan jumlah sasaran


gkah-langkah
A. Tingkat posyandu
- Anak balita dasar penentuan jumlah sasaran adalah registrasi di seluruh wilayah
kerja posyandu.Registrasi dilakukan sebulan memjelang bulan kapsul vitamin A
olek kader posyandu /PKK
Ibu nifas Jumlah sasaran ditentukan berdasarkan jumlah ibu bersalin .Angka
tersebut dapat diperoleh dari registrasi sasaran dan laporan persalinan oleh
tenaga kesehatan dan dukun bayi.
B. Tingkat Puskesmas
- Anak balita : Petugas puskesmas dibantu oleh kader dan bidan desa
mengumpulkan hasil registrasi di posyandu hasil registrasi tersebut dijumlahkan
hasil yang diperoleh merupakan jumlah sasatanuntuk tingkat puskesmas atau
kecamatanyang kemudian dikirim di tingkat kabupaten
- Ibu nifas : petugas puskesmas mengumpulkan hasil registrasi sasaran KIA tiap
desa ,laporan persalinan oleh nakes dan dukun bayiserta kohor ibu yg ada di
puskesmas hasil perolehan merupakan jumlah sasaran untuk puskesmas.
2. Pengadaanm kapssul vitsmin A
Di posyandu/tempat lain yg sudah disepakati.Kapsul vitamin A sudahharus
tersedia dalam jumlah yang cukup sebelum bulan pembagian kapsul
a. Jumlah sasaran ,ditentukan berdasarkan registrasi ditingkat posyandu
b. Stok kapsul dan penggunaannya dalam memesan kapsul harus
memperhatikan stok yg masih ada.dalam penggunaannya hendaknya
menggunakan sistim fifo
c. Kemasan untuk pengiriman ke posyandu hendaknya tetap dalam kemasan
botol ( jangan dibuka) dan sisanya tetap disimpan dalam botol di
posyandu/tempat yg disepakati
d. D jalur pengiriman pengiriman ke posyandu/tempat lain yg disepakati
dilakukan menjelang bulan kapsul vitamin dilakukan oleh tenaga
puskesmas dibantu bidan desa dan kader
e. Penyimpanan kapsul agar tidak cepat rusak penyimpanan harus tetap
dalam botol kemasan yang ditutup rapat dan disimpan di tempat teduh

7.Unsur : Kader,Bidan desa


Pelaksana

8.DOKUMEN Laporan Vitamin A di Posyandu


PENDUKUNG
Laporan Vitamin A di puskesmas
Laporan Vitamin A di tk Dinas kesehatan
DIET PADA KASUS HIPERTENSI
No dokumen : SOP/89/PKM.SDW/I/2018
SOP No revisi :0
Tanggal terbit : 18 Januari 2018
Halaman :1/1

UPTD
PUSKESMAS EDI KUSNADI, SKM
SINDANGWANGI NIP. 19650318 198703 1 016

Pengertian Petugas gizi melakukan konsultasi gizi dan memberikan diet rendah garam
kepada pasien hipertensi

Tujuan Memberikan kosultasi gizi pada pasien hipertensi

Kebijakan Pasien memperoleh pelayanan gizi sesuai dengan protap gizi sebagai standar
pelayanan gizi

Prosedur PROTAP DIET PADA PENYAKIT TEKANAN DARAH TINGGI ( HIPERTENSI )

1. Baca catatan medik pengunjung


2. Lakukan riwayat gizi dan Anamnesa Diet
3. Buat rencana diet sehari sesuai dengan hasil anamnesis diet dan pola
kebiasaan makan
Pasien
4. Jika dokter tidak menentukan diet, maka pasien untuk sementara diberikan
diet rendah
Garam III ( RG III )
5. Isilah leaflet Rg
6. Berikan penjelasan diet ;
a. Jika diet RG III ( 2 gr garam dapur = ½ sendok teh ). Beri penjelasan
bahwa 2 jenis
masakan dapat diberikan garam , yaitu 1 Jenis Masakan siang hari dan 1
Jenis masakan
malam hari sedangkan yang lainnya tidak boleh.
b. Bila diet RG II ( 1 gr garam dapur = ¼ gram teh ) hanya 1 jenis masakan
yg diberi garam
untuk siang atau malam .
c. Bila diet RG I , semua hidangan tidak boleh diberikan garam dapur
7. Tunjukan dan berikan leafet diet RG, jelaskan kelompok bahan makanan yg
rendah garam , bahan makanan yang boleh dimakan dan yg tidak boleh
dimakan dan makanan yg dibatasi
8. Beri kesempatan pasien untuk bertanya
9. Buat kesepakatan dengan pasien untuk berkunjung 2 minggu kemudian
untuk evaluasi asupan makan, BB dan tekanan darah
10. Catat pada kartu status jenis diet dan hasil konseling
DIET PADA KASUS GIZI LEBIH
(OBESITAS)
No dokumen : SOP/90/PKM.SDW/I/2018
SOP No revisi :0
Tanggal terbit : 18 Januari 2018
Halaman : 1/1

UPTD EDI KUSNADI, SKM


PUSKESMAS NIP. 19650318 198703 1 016
SINDANGWANGI

Pengertian Petugas gizi melakukan konsultasi gizi dan memberikan diet RENDAH ENERGI
kepada pasien OBERITAS ( KEGEMUKAN )

Tujuan Memberikan kosultasi gizi pada pasien OBESITAS

Kebijakan Pasien memperoleh pelayanan gizi sesuai dengan protap gizi sebagai standar
pelayanan gizi

Prosedur PROTAP DIET PADA GIZI LEBIH ( OBESITAS )

1. Baca catatan medik pengunjung , Timbang BB pengunjung


2. Lakukan riwayat gizi, Anamnesa Diet dan pola makan
3. Buat rencana diet sehari sesuai dengan hasil anamnesis diet dan pola
kebiasaan makan pasien
4. Jika dokter tidak mementukan diet, maka pasien untuk sementara diberikan
diet rendah Kalori dengan energi yg di berikan 85 % - 90 % dari hasil anamnesis
diet.
5. Bila diet permintaan dokter adalah
a. Diet Rendah Enrgi I artinya energi yang diberikan adalah 1200 kal
b Diet Rendah Enrgi II artinya energi yang diberikan adalah 1500 kal
. C. Diet Rendah Enrgi III artinya energi yang diberikan adalah 1700 kal
6. Tulis perencanaan diet yang diminta pada leafet
7. Jelaskan diet sesuai dengan permintaan , pembagian makan dalam sehari,
daftar penukar dan food model
8. Diskusikan dengan pasien pengganti bahan makanan samapai pasien dapat
memahami termasuk penjelasan makanan yg dapat dimakan
9. Anjurkan banyak maknan yg dapat memberikan rasa kenyang serti sayuran
dan buah buahan
10. Sarankan untuk mencatat makanan sehari hari baik jenis maupun jumlahnya
11. untuk mempercepat penurunan BB, disarankan untul melakukan olah raga
sacara teratur 3 kali seminggu salama 30 menit1
12.. Beri kesempatan pasien untuk bertanya
13 Buat kesepakatan dengan pasien untuk berkunjung 2 minggu kemudian
untuk/ evaluasi asupan makan, BB
10. Catat pada kartu status jenis diet dan hasil konseling
DISTRIBUSI MP-ASI
No dokumen : SOP/91/PKM.SDW/I/2018
SOP No revisi :0
Tanggal terbit : 18 Januari 2018
Halaman : 1/2

UPTD EDI KUSNADI, SKM


PUSKESMAS NIP. 19650318 198703 1 016
SINDANGWANGI

Pengertian Serangkaian kegiatan yang terdiri dari :


1.Pemberian makanan bergizi di samping Air Susu Ibu ( ASI ) kepada bayi
umur 6 -11 bulan dalam bentuk MP ASI bubuk atau tepung
2.Pemberian makanan bergizi disamping ASI (ASI) kepada bayi usia 12-24
bulan dalam bentuk MP-ASI padat
3. Pemberian makanan bergizi Kepada ibu hamil dgn KEK Lila < 23,5 Usia
Kehamilan Trimester IV.
Tujuan Untuk Menanggulangi dan mencegah terjadinya gizi buruk dan gizi kurang
sekaligus mempertahankan status gizi baik pada bayi ( 6-11 bulan) dan anak
(12-24 bulan )

Prosedur 3. Menyiapkan data jumlah sarana ,membuat rencana kebutuhan


serta rencana distribusi MP-ASI kepada sasaran.
4. Mendistribusikan MP-ASI Kepada sasaran melalui bantuan
kader posyandu atau bidan desa.
5. Melakukan Pemantauan BB dan TB/PB sasaran di posyandu
setiap bulannya selama 3 bulan berturut-turut.
6. Melakukan penentuan status gizi sasaran setelah dilaksanakan
pemberian MP – ASI Selama 90 hari.
7. Memperoleh hasil status gizi sasaran berdasarkan standar
8. Membuat pencatatan berupa hasil komunikasi selama 90 hari
perkembangan BB,Penilaian status gizi awal dan akhir sasaran
serta format laporan tingkat puskesmas..
9. Pelaporan Kegiatan MP-ASI Tingkat Puskesmas Ke Dinas
Kesehatan.
Unsur Bidan Desa dan kader Posyandu
Pelaksana
Dokumen Pedoman Pelaksanaan pendistribusian dan pengelolaan MP ASI
Pendukung