Anda di halaman 1dari 7

MACAM-MACAM MODEL ATAU GAYA PEMBELAJARAN DALAM PENJAS

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Jatmika Yoga Permana

07601241039

PJKR A

PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2010

A. Macam-macam Bentuk atau Model Pembelajaran Penjas

1. Model Pendidikan Gerak (Movement Education)

a. Sejarah

Model pendidikan gerak manusia mulai berkembang di Amerika Serikat sejak tahun 1960-an, yang
pelaksanaannya didasarkan pada karya Rudolph Laban. Kerangka kerja program Laban ini meliputi
konsep kesadaran tubuh (apa yang dilakukan tubuh), konsep usaha (bagaimana tubuh bergerak), konsep
ruang (di mana tubuh bergerak), dan konsep keterhubungan (hubungan apa yang terjadi). Masing-
masing konsep tersebut, merupakan panduan untuk dimanfaatkan manakala anak harus bergerak,
sehingga gerakan anak bermakna dalam keseluruhan konsep tersebut.

b. Tujuan

Tujuan dan kegiatan belajar dirancang dengan memanfaatkan pendekatan gaya mengajar pemecahan
masalah, penemuan terbimbing, dan eksploratori (Logsdon et al., 1984). Menurutnya, dalam model
pendidikan gerak ini, siswa akan didorong untuk mampu menganalisis tahapan gerakan ketika
menggiring bola basket (misalnya) dan menemukan posisi yang tepat ketika berada dalam permainan.
Steinhardt (1992), mengutip Nichols, telah mengusulkan suatu kurikulum terpadu (integrated
curriculum) yang mengajarkan pada siswa hubungan antara gerak yang dipelajari dengan berbagai
kegiatan pendidikan jasmani. Model pendidikan gerak juga untuk mengeksplorasi kemampuan gerak si
anak.

c. Contoh Cara Pengajarannya

Anak-anak diminta meneliti pengaruh perkembangan teknologi dan waktu luang dalam abad 21
dikaitkan dengan peranan olahraga (Jewet, et. al; 1995). Mereka mengungkap dan mendiskusikan
perbedaan perbedaan antara pengalaman langsung dari aktivitas gerak dengan pengalaman yang hanya
teralami melalui menonton video atau komputer. Anak-anak diminta menyelidiki konflik dalam situasi
olahraga dan mempraktekkan proses negosiasi serta strategi pencarian resolusi masalahnya. Mereka
juga mendiskusikan konsep komunitas dan hubungannya dengan berbagai bentuk olahraga dan dansa.

d. Penilaian Terhadap Model Pendidikan Gerak

Menurut saya, model pendidikan gerak pas diterapkan pada pendidikan penjas saat ini. Karena model
pendidikan gerak memberi penekanan pada penerimaan diri dan kemajuan individual dalam
pengembangan keterampilan gerak. Akan tetapi model tersebut tidak menekankan pada kompetisi dan
kemenangan. Sayangnya kecenderungan di Indonesia, penggunaan model ini tidak menyebabkan anak
dibekali dengan pengalaman berolahraga yang sebenarnya, karena programnya amat terbatas.

e. Negara Penganut Model Pendidikan Gerak

Inggris, Amerika Serikat, Indonesia, dll.

2. Model Pendidikan Kebugaran (Fitness Education)

a. Sejarah

Model pendidikan gerak manusia mulai berkembang di Amerika Serikat sejak tahun 1960-an, yang
pelaksanaannya didasarkan pada karya Rudolph Laban. Kerangka kerja program Laban ini meliputi
konsep kesadaran tubuh (apa yang dilakukan tubuh), konsep usaha (bagaimana tubuh bergerak), konsep
ruang (di mana tubuh bergerak), dan konsep keterhubungan (hubungan apa yang terjadi). Masing-
masing konsep tersebut, merupakan panduan untuk dimanfaatkan manakala anak harus bergerak,
sehingga gerakan anak bermakna dalam keseluruhan konsep tersebut.
b. Tujuan

Tujuan dan kegiatan belajar dirancang dengan memanfaatkan pendekatan gaya mengajar pemecahan
masalah, penemuan terbimbing, dan eksploratori (Logsdon et al., 1984). Menurutnya, dalam model
pendidikan gerak ini, siswa akan didorong untuk mampu menganalisis tahapan gerakan ketika
menggiring bola basket (misalnya) dan menemukan posisi yang tepat ketika berada dalam permainan.
Steinhardt (1992), mengutip Nichols, telah mengusulkan suatu kurikulum terpadu (integrated
curriculum) yang mengajarkan pada siswa hubungan antara gerak yang dipelajari dengan berbagai
kegiatan pendidikan jasmani. Model pendidikan gerak juga untuk mengeksplorasi kemampuan gerak si
anak.

c. Contoh Cara Pengajarannya

Anak-anak diminta meneliti pengaruh perkembangan teknologi dan waktu luang dalam abad 21
dikaitkan dengan peranan olahraga (Jewet, et. al; 1995). Mereka mengungkap dan mendiskusikan
perbedaan perbedaan antara pengalaman langsung dari aktivitas gerak dengan pengalaman yang hanya
teralami melalui menonton video atau komputer. Anak-anak diminta menyelidiki konflik dalam situasi
olahraga dan mempraktekkan proses negosiasi serta strategi pencarian resolusi masalahnya. Mereka
juga mendiskusikan konsep komunitas dan hubungannya dengan berbagai bentuk olahraga dan dansa.

d. Penilaian Terhadap Model Pendidikan Gerak

Menurut saya, model pendidikan gerak pas diterapkan pada pendidikan penjas saat ini. Karena model
pendidikan gerak memberi penekanan pada penerimaan diri dan kemajuan individual dalam
pengembangan keterampilan gerak. Akan tetapi model tersebut tidak menekankan pada kompetisi dan
kemenangan. Sayangnya kecenderungan di Indonesia, penggunaan model ini tidak menyebabkan anak
dibekali dengan pengalaman berolahraga yang sebenarnya, karena programnya amat terbatas.

e. Negara Penganut Model Pendidikan Gerak

Inggris, Amerika Serikat, Indonesia, dll.

3. Model Pembelajaran kooperatif

Menurut Slavin pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok,
siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok -kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk
memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Model pembelajaran kooperatif adalah model
pembelajaran dengan setting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota
kelompok sebagai wadah siswa bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial
dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu
dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain. Jadi
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara
siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri: 1) untuk
menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif, 2) kelompok dibentuk
dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah, 3) jika dalam kelas terdapat
siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan
agar dalam tiap kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula, dan 4)
penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan.

Dalam pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk
mencapai suatu tujuan bersama. Menurut Ibrahim dkk. siswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai
jika dan hanya jika siswa lainnya juga mencapai tujuan tersebut. Untuk itu setiap anggota berkelompok
bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran
kooperatif didorong untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama dan mereka harus
mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya.

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan


pembelajaran penting. Menurut Depdiknas tujuan pertama pembelajaran kooperatif, yaitu
meningkatkan hasil akademik, dengan meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademiknya.
Siswa yang lebih mampu akan menjadi nara sumber bagi siswa yang kurang mampu, yang memiliki
orientasi dan bahasa yang sama. Sedangkan tujuan yang kedua, pembelajaran kooperatif memberi
peluang agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai perbedaan latar
belajar. Perbedaan tersebut antara lain perbedaan suku, agama, kemampuan akademik, dan tingkat
sosial. Tujuan penting ketiga dari pembelajaran kooperatif ialah untuk mengembangkan keterampilan
sosial siswa. Keterampilan sosial yang dimaksud antara lain, berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai
pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja
dalam kelompok dan sebagainya.

Menurut Ibrahim, dkk. pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang positif untuk siswa yang hasil
belajarnya rendah sehingga mampu memberikan peningkatan hasil belajar yang signifikan. Cooper
mengungkapkan keuntungan dari metode pembelajaran kooperatif, antara lain: 1) siswa mempunyai
tanggung jawab dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran, 2) siswa dapat mengembangkan
keterampilan berpikir tingkat tinggi, 3) meningkatkan ingatan siswa, dan 4) meningkatkan kepuasan
siswa terhadap materi pembelajaran.

Menurut Ibrahim, unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif sebagai berikut: 1) siswa dalam kelompok
haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama, 2) siswa bertanggung jawab
atas segala sesuatu didalam kelompoknya, 3) siswa haruslah melihat bahwa semua anggota didalam
kelompoknya memiliki tujuan yang sama, 4) siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang
sama di antara anggota kelompoknya, 5) siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan penghargaan
yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok, 6) siswa berbagi kepemimpinan dan mereka
membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya, dan 7) siswa akan diminta
mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
4. Model Pembelajaran Role Playing

Tujuan pendidikan di sekolah harus mampu mendukung kompetensi tamatan sekolah, yaitu
pengetahuan, nilai, sikap, dan kemampuan untuk mendekatkan dirinya dengan lingkungan alam, sosial,
budaya, dan kebutuhan daerah. Sementara itu, kondisi pendidikan di negara kita dewasa ini, lebih
diwarnai oleh pendekatan yang menitikberatkan pada model belajar konvensional seperti
ceramah,sehingga kurang mampu merangsang siswa untuk terlibat aktif dalam proses belajar mengajar
(Suwarma, 1991; Jarolimek, 1967). Suasana belajar seperti itu, menjauhkan peran pendidikan IPS dalam
upaya mempersiapkan warga negara yang baik dan memasyarakat (Djahiri, 1993)

Di sekolah saat ini, ada indikasi bahwa pola pembelajaran bersifatteacher centered. Kecenderungan
pembelajaran demikian, mengakibatkan lemahnya pengembangan potensi diri siswa dalam
pembelajaran sehingga prestasi belajar yang dicapai tidak optimal. Kesan menonjolnya verbalisme
dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas masih terlalu kuat. Hasil penelitian Rofi’uddin
(1990) tentang interaksi kelas di sekolah dasar menunjukkan bahwa 95% interaksi kelas dikuasai oleh
guru. Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan oleh guru dalam interaksi kelas berupa pertanyaan-
pertanyaan dalam kategori kognisi rendah.

Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat dikembangkan untuk memenuhi tuntutan tersebut
adalah model belajar role playing. Menurut Zuhaerini (1983), model ini digunakan apabila pelajaran
dimaksudkan untuk: (a) menerangkan suatu peristiwa yang didalamnya menyangkut orang banyak, dan
berdasarkan pertimbangan didaktik lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan, karena akan lebih
jelas dan dapat dihayati oleh anak; (b) melatih anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan masalah-
masalah sosial-psikologis; dan (c) melatih anak-anak agar mereka dapat bergaul dan memberi
kemungkinan bagi pemahaman terhadap orang lain beserta masalahnya.

Sementara itu, Davies (1987) mengemukakan bahwa penggunaan role playing dapat membantu siswa
dalam mencapai tujuan-tujuan afektif. Esensi role playing, menurut Chesler dan Fox (1966) adalah the
involvement of participant and observers in a real problem situation and the desire for resolution and
understanding that this involvement engender.

Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa penggunaan model ini dalam rangka mencapai tujuan
pembelajaran yang telah direncanakan. Ada empat asumsi yang mendasari model ini memiliki
kedudukan yangsejajar dengan model-model pengajaran lainnya. Keempat asumsi tersebut ialah:
Pertama, secara implisit bermain peran mendukung suatu situasi belajar berdasarkan pengalaman
dengan menekankan dimensi “di sini dan kini” (here and now) sebagai isi pengajaran. Kedua, bermain
peran memberikan kemungkinan kepada para siswa untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang
tak dapat mereka kenali tanpa bercermin kepada orang lain. Ketiga, model ini mengasumsikan bahwa
emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf kesadaran untuk kemudian ditingkatkan melalui proses
kelompok. Keempat, model mengajar ini mengasumsikan bahwa proses-proses psikologis yang
tersembunyi (covert) berupa sikap-sikap nilai-nilai, perasaan-perasaan dan sistem keyakinan dapat
diangkat ke taraf kesadaran melalui kombinasi pemeranan secara spontan dan analisisnya.

Untuk dapat mengukur sejauhmana bermain peran memberikan manfaat kepada pemeran dan
pengamatnya ditentukan oleh tiga hal, yakni (1) kualitas pemeranan; (2) analisis yang dilakukan melalui
diskusi setelah pemeranan; (3) persepsi siswa terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan
situasi nyata dalam kehidupan. Pembelajaran dengan model role playing dilaksanakan menjadi
beberapa tahap, yaitu sebagai berikut: (1) tahap memotivasi kelompok; (2) memilih pemeran; (3)
menyiapkan pengamat; (4) menyiapkan tahap-tahap permainan peran; (5) pemeranan; (6) diskusi dan
evaluasi; (7) pemeranan ulang; (8) diskusi dan evaluasi kedua; (9) membagi pengalaman dan menarik
generalisasi.

Kemampuan guru dalam performa pembelajaran merupakan seperangkat perilaku nyata guru pada
waktu memberikan pelajaran kepada siswanya (Johnson, dalam Natawidjaya, 1996). Menurut Sunaryo
(1989) dan Suciati (1994), performansi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran mencakup tiga
aspek, yaitu membuka pelajaran, melaksanakan pelajaran, dan menutup pelajaran.

Membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan suasana kesiapan mental
dan menumbuhkan perhatian siswa terhadap hal-hal yang akan dipelajari. Dasar kesiapan mental yang
dimaksud, menurut Sumaatmadja (1984) antara lain minat, dorongan untuk mengetahui kenyataan, dan
dorongan untuk menemukan sendiri gejala-gejala kehidupan. Menurut pendapat Connel (1988),
kesiapan belajar siswa meliputi kesiapan afektif dan kesiapan kognitif. Sedangkan menurut Bruner
(dalam Maxim, 1987), kesiapan merupakan peristiwa yang timbul dari lingkungan belajar yang kaya dan
bermakna, dihadapkan kepada guru yang mendorong siswa dalam berbagai peristiwa belajar yang
menggugah.

Berdasarkan kutipan pendapat di atas, aktivitas membuka pelajaran pada hakikatnya merupakan upaya
guru menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan, dan membuat keterkaitan.
Menarik perhatian siswa dapat dilakukan antara lain dengan gaya mengajar, penggunaan alat-bantu
mengajar, dan pola interaksi yang bervariasi. Kemampuan melaksanakan proses pengajaran menunjuk
kepada sejumlah aktivitas yang dilakukan oleh guru ketika ia menyajikan bahan pelajaran. Pada tahap ini
berlangsung interaksi antara guru dengan siswa, antarsiswa, dan antara siswa dengan kelompok
belajarnya.

Selanjutnya, Oregon (1977) mengemukakan pula mengenai cakupan pelaksanaan pengajaran seperti
aspek tujuan pengajaran yang dikehendaki, bahan pelajaran yang disajikan, siswa yang belajar, metode
mengajar yang digunakan, guru yang mengajar, dan alokasi waktu dalam mengajar.

Kemampuan mengakhiri atau menutup pelajaran merupakan kegiatan guru baik pada akhir jam
pelajaran maupun pada setiap penggalan kegiatan belajar mengajar. Kegiatan ini dilakukan dengan
maksud agar siswa memperoleh gambaran yang utuh mengenai pokok-pokok materi yang dipelajarinya.
Menutup pelajaran secara umum terdiri atas kegiatan-kegiatan meninjau kembali dan mengevaluasi.
Meninjau kembali pelajaran mencakup kegiatan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan,
sedangkan mengevaluasi pelajaran merupakan kegiatan untuk mengetahui adanya pengembangan
wawasan siswa setelah pelajaran atau penggal kegiatan belajar berakhir.

Daftar Pustaka

http://ipotes.wordpress.com/2008/05/10/metode-pembelajaran-kooperatif/

http://ahsinsaefi.blogspot.com/

http://mahardhikazifana.com/family-education-pendidikan-keluarga/model-role-playing-dalam-
aktivitas-pembelajaran.html