Anda di halaman 1dari 48

01_001-PENDAHULUAN.

book Page i Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

BAGAIMANA CARA MENGGUNAKAN BUKU PEDOMAN INI IN


INFORMASI UMUM. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . IN-1
INFORMASI IDENTIFIKASI
IDENTIFIKASI KENDARAAN DAN NOMOR SERI . . . . . . . . . . . . . . . . . IN-4
INSTRUKSI PERBAIKAN
LANGKAH PENCEGAHAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . IN-6
MENGANGKAT KENDARAAN DAN LOKASI PENOPANG . . . . . . . . . . IN-20
BAGAIMANA CARA TROUBLESHOOT SISTEM YANG DIKON-
TROL ECU
INFORMASI UMUM. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . IN-24
BAGAIMANA MELANJUTKAN DENGAN TROUBLESHOOTING. . . . . . IN-24
PROSEDUR PEMERIKSAAN SIRKUIT ELEKTRONIK. . . . . . . . . . . . . . IN-32
ISTILAH
SINGKATAN YANG DIPAKAI DALAM BUKU PEDOMAN INI. . . . . . . . . IN-38
DAFTAR ISTILAH DARI SAE DAN DAIHATSU . . . . . . . . . . . . . . . . ........ N-43
01_001-PENDAHULUAN.book Page ii Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN
01_001-PENDAHULUAN.book Page 1 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA MENGGUNAKAN BUKU PEDOMAN INI IN–1

BAGAIMANA CARA MENGGUNA-


KAN BUKU PEDOMAN INI
INFORMASI UMUM
1. PENJELASAN UMUM IN
(a) Pedoman ini ditulis sesuai dengan SAE J2008.
(1) Diagnosis
(2) Membongkar/Memasang, Mengganti, Pembong-
karan / Pemasangan Kembali, Memeriksa dan
Menyetel.
(3) Pemeriksaan Akhir
(b) Prosedur berikut ini telah dihilangkan dari buku
pedoman ini. Namun begitu, prosedur tersebut
harus dilakukan.
(1) Gunakan dongkrak atau lift untuk melakukan
pekerjaan.
(2) Bersihkan semua part yang dibongkar.
(3) Lakukan pemeriksaan secara visual
2. INDEKS
(a) INDEKS menurut abjad di akhir buku pedoman ini
disediakan sebagai referensi untuk membantu Anda
menemukan item yang akan diperbaiki.
3. PERSIAPAN
(a) Penggunakan peralatan khusus (SST-Special Ser-
vice Tools) dan bahan khusus (SSM-Special Service
Materials) yang mungkin diperlukan, tergantung
prosedur perbaikannya. Pastikan untuk mengguna-
kan SST dan SSM kapan saja diperlukan dan ikuti
prosedur kerja yang semestinya. Daftar SST dan
SSM terdapat dalam bab "Persiapan" pada buku
pedoman ini.
4. PROSEDUR PERBAIKAN
(a) Gambar komponen diletakkan di bawah judul yang
diperlukan.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 2 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN–2 PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA MENGGUNAKAN BUKU PEDOMAN INI

(b) Part yang tidak dapat digunakan kembali, area


penggunaan grease, part yang berpelapis dan
momen spesifikasi tertulis dalam gambar kompo-
nen.
Berikut adalah gambar contoh

IN Contoh: FILTER CAP CLEVIS PIN

FLOAT RESERVOIR TANK KLIP


GASKET

GROMMET WASHER

SLOTTED
12 (120, 9) CLEVIS
SPRING PIN

LOCK NUT

15 (155, 11)
PUSH ROD BOOT
CYLINDER
PISTON
SNAP RING

N*m (kgf*cm, ft.*lbf) : Momen Spesifikasi Part sekali pakai


N017080E13

(c) Momen spesifikasi, area penggunaan grease, dan


part yang tidak dapat digunakan kembali dijelaskan
sebagai hal yang penting dalam prosedur ini.
PETUNJUK:
Ada beberapa kasus yang hanya dapat dijelaskan
dengan menggunakan gambar. Dalam kasus ini,
momen, oli dan informasi lainnya dijelaskan dalam
gambar.
(d) Hanya item dengan poin kunci yang dijelaskan di
dalam teks. Apa yang harus dikerjakan dan detail
lainnya dijelaskan menggunakan gambar di sebelah
teksnya. Keduanya, teks dan gambar disertakan
dengan nilai standar dan perhatian.
Gambar Apa dan dimana yang dikerjakan
Tugas utama Pekerjaan apa yang akan dilakukan
Bagaimana cara melakukan tugas itu
Teks penjelasan Termasuk memiliki informasi seperti spesifikasi dan peringatan, yang
ditulis dalam teks tercetak tebal.

(e) Terkadang digunakan gambar kendaraan dengan


model serupa. Dalam kasus ini, detail minor terka-
dang bisa berbeda dari kendaraan yang seben-
arnya.
(f) Prosedur disajikan dalam format selangkah demi
selangkah.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 3 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA MENGGUNAKAN BUKU PEDOMAN INI IN–3

5. SPESIFIKASI SERVIS
(a) SPESIFIKASI selalu ditampilkan dalam teks cetak
tebal dalam buku pedoman ini. Spesifikasi juga
dapat ditemukan dalam bab "Spesifikasi Servis"
sebagai referensi.
6. DEFINISI ISTILAH
PERINGATAN Kemungkinan cidera untuk Anda dan orang lain.
IN
PERHATIAN Kemunginan rusak komponen yang sedang diperbaiki.
PETUNJUK Memberikan informasi tambahan untuk membantu Anda melakukan perbaikan.

7. SATUAN SISTEM INTERNASIONAL


(a) Satuan yang digunakan manual ini mengikuti stan-
dar satuan sistem internasional (SI UNIT). Satuan
dari sistem metrik dan sistem Inggris juga disedia-
kan.
Contohnya sebagai berikut.
Momen:30 N*m (310 kgf*cm, 22 ft.*lbf)
01_001-PENDAHULUAN.book Page 4 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN–4 PENDAHULUAN – INFORMASI IDENTIFIKASI

INFORMASI IDENTIFIKASI
IDENTIFIKASI KENDARAAN DAN
NOMOR SERI
1. NOMOR IDENTIFIKASI KENDARAAN
IN (a) Nomor identifikasi kendaraan dicapkan pada plat
nomor pabrikan.
B149403

(b) Nomor identifikasi kendaraan dicapkan pada bodi


kendaraan, seperti tampak dalam gambar.

B149404

2. NOMOR SERI MESIN


(a) Nomor seri mesin dicapkan pada blok silinder,
seperti tampak dalam gambar.
A:
EJ-VE
A B:
K3-VE, 3SZ-VE

B158666E01
01_001-PENDAHULUAN.book Page 5 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – INFORMASI IDENTIFIKASI IN–5

3. NOMOR SERI TRANSAXLE


(a) Nomor seri mesin dicapkan pada rumahan seperti
tampak dalam gambar.
A:
A4Q
B:
M5S IN
A

B
D101219E01
01_001-PENDAHULUAN.book Page 6 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN–6 PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN

INSTRUKSI PERBAIKAN
LANGKAH PENCEGAHAN
1. PETUNJUK PERBAIKAN DASAR
(a) PETUNJUK PADA SAAT BEKERJA
IN
2

3
6
4
B149406E01

• Pakailah selalu seragam yang bersih.


1 Penampilan
• Harus memakai topi dan sepatu keamanan.
2 Persiapkan tutup gril, tutup fender, tutup tempat duduk, dan karpet lantai sebelum memu-
Perlindungan kendaraan
lai pekerjaan.
• Apabila bekerja dengan 2 orang atau lebih, pastikan untuk memeriksa keselamatan
satu dengan lainnya.
• Apabila bekerja dengan mesin hidup, pastikan untuk menyediakan ventilasiuntuk
pembuangan asap di dalam bengkel.
• Bila bekerja dengan temperatur tinggi, tekanan tinggi, berputar, bergerak, atau part
3 Pekerjaan yang aman
yang bergetar, kenakan peralatan keselamatan yang cocok dan hati-hati jangan sam-
pai melukai diri Anda dan orang lain.
• Bila mendongkrak kendaraan, pastikan untuk menopang pada lokasi tertentu dengan
stand pengaman.
• Ketika mengangkat kendaraan, gunakan perlengkapan keamanan yang tepat.
Sebelum memulai pekerjaan, siapkan tool stand, SST, alat ukur, oli, dan part untuk peng-
4 Persiapan tool dan alat ukur.
gantian.
• Lakukan diagnosa dengan memahami secara cermat prosedur yang benar dan pro-
blem yang dilaporkan.
• Sebelum membongkar part, periksa kondisi keseluruhan rakitan secara umum dan
terhadap perubahan bentuk dan kerusakan.
Melepas dan memasang,
• Apabila struktirnya rumit, buatlah catatan. Contohnya, catat jumlah sambungan keli-
5 membongkar dan merakit
strikan, baut, atau selang yang dilepas. Beri tanda pemasangan untuk memudahkan
kembali
pemasangan kembali komponen itu dalam posisi semula. Tandai sementara selang-
selang dan fitingnya jika diperlukan.
• Bersihkan dan cuci komponen yang dilepas jika diperlukan dan rakit semuanya
setelah diperiksa dengan seksama.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 7 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN IN–7

• Tempatkan part yang dilepas dalam kotak terpisah untuk mencegah bercampur den-
gan part yang baru atau mengotori part baru.
• Untuk part yang tidak bisa digunakan lagi seperti gasket, O-ring dan mur pengunci
6 Part yang dilepas sendiri, ganti semua dengan yang baru seperti diinstruksikan dalam buku/CD pedo-
man ini.
• Jika diperlukan, kumpulkan kumpulkan part-part yang dilepas untukdiperlihatkan
kepada pelanggan.

(b) MENDONGKRAK DAN MENOPANG KENDARAAN IN


(1) Berati-hatilah ketika mendongkrak dan meno-
pang kendaraan. Pastikan mengangkat dan
menopang kendaraan pada lokasi yang tepat.
(c) PART YANG BERPELAPIS
(1) Part yang berpelapis adalah baut dan mur yang
dilapisi dengan seal lock adhesive di pabrik.
(2) Bila part berpelapis ini dikencangkan kembali,
dikendorkan atau bergerak dalam segala arah,
part ini harus dilapisi kembali dengan adhesive
yang ditentukan.
(3) Pada saat menggunakan kembali part berlapis,
Seal Lock Adhesive bersihkan adhesive lama dan keringkan part itu
Z011554E03 dengan udara bertekanan. Kemudian gunakan
seal lock adhesive baru yang ditentukan pada
part tersebut.
(4) Beberapa agent seal lock lambat mengeras.
Anda harus menunggu sampai seal lock adhe-
sive itu mengeras.
(d) GASKET
(1) Apabila diperlukan, gunakan sealer pada gasket
untuk mencegah kebocoran.
(e) BAUT, MUR DAN SKRUP
(1) Ikuti dengan hati-hati seluruh spesifikasi untuk
momen pengencangan. Gunakan selalu kunci
momen.
(f) FUSE-FUSE
SALAH BENAR (1) Ketika memeriksa fuse, periksa bahwa kabel
dari fuse itu tidak putus.

V035007E01
01_001-PENDAHULUAN.book Page 8 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN–8 PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN

(2) Ketika mengganti fuse, pastikan bahwa fuse


baru itu mempunyai rating amper yang tepat.
Jangan melebihi rating atau menggunakan fuse
dengan rating lebih rendah.
Gambar Simbol Nama Part Singkatan

IN

FUSE FUSE

FUSE ARUS MENENGAH M-FUSE

FUSE ARUS TINGGI H-FUSE

FUSIBLE LINK FL
01_001-PENDAHULUAN.book Page 9 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN IN–9

Gambar Simbol Nama Part Singkatan

CIRCUIT BREAKER CB
IN

(g) KLIP
(1) Metode pelepasan dan pemasangan klip khusus
yang digunakan pada part bodi kendaraan diper-
lihatkan dalam tabel di bawah ini.
PETUNJUK:
Jika klip rusak selama prosedur kerja, gantilah
selalu klip yang rusak dengan klip baru.
Bentuk (Contoh) Gambar Prosedur

1. Lepas klip dengan pembuka klip atau


tang.

1. Lepas klip dengan pembuka klip atau


obeng.

1. Lepas klip dengan scaper untuk mence-


gah kerusakan panel.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 10 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN–10 PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN

Bentuk (Contoh) Gambar Prosedur

IN 1. Lepas klip dengan menekan pin bagian


tengah dan ungkit ke luar shell-nya.

1. Lepas klip dengan mengendorkan ulir pin


tengah dan ungkit ke luar shell-nya.

1. Lepas klip dengan mengungkit pin ke luar


dan ungkit ke luar shell-nya.

(h) CLAW
(1) Metode pelepasan dan pemasangan claw khu-
sus yang digunakan pada part bodi kendaraan
diperlihatkan dalam tabel di bawah ini.
PETUNJUK:
Jika claw rusak selama prosedur kerja, gantilah
selalu claw yang rusak itu dengan tutup atau
cover baru.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 11 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN IN–11

Bentuk (Contoh) Gambar Prosedur

1. Gunakan obeng, lepaskan claw dan


lepas tutup atau cover-nya.
IN

1. Gunakan obeng, lepaskan claw dan


lepas tutup atau cover-nya.

1. Gunakan obeng, lepaskan claw dan


lepas tutup atau cover-nya.

(i) PELEPASAN DAN PEMASANGAN SELANG


VAKUM
SALAH BENAR (1) Untuk melepaskan selang vakum, tarik dan pun-
tir dari ujung selang. Jangan menarik dari
bagian tengah selang karena dapat menyebab-
kan kerusakan.

D031750E01
01_001-PENDAHULUAN.book Page 12 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN–12 PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN

(2) Pada saat melepas selang vakum, gunakan


label untuk mengenali dimana selang tersebut
harus dipasang kembali.
(3) Setelah menyelesaikan pemasangan selang
yang terkait dengan reparasi, periksa ulang
bahwa selang vakum telah dihubungkan dengan
IN benar. Label di bagian bawah kap mesin mem-
perlihatkan layout yang benar.
(4) Ketika menggunakan vacuum gauge, jangan
D025064E01 memaksa memasukkan selang pada konektor
yang terlalu besar. Jika selang itu retak, hal itu
akan membocorkan udara. Gunakan step-down
adapter bila diperlukan.
(j) MOMEN SAAT MENGGUNAKAN KUNCI MOMEN
L1 L2 DENGAN ALAT TAMBAHAN

D002612E02

(1) Gunakan rumus di bawah ini untuk menghitung


L1 L2 nilai momen khusus dari situasi dimana SST
atau alat tambahan dikombinasikan dengan
kunci momen.
Rumus:
T' = L2/(L1 + L2) * T
Pembacaan kunci momen {N*m
T'
(kgf*cm, ft.*lbf)}
T Momen {N*m (kgf*cm, ft.*lbf)}
D001201E01
Panjang SST atau alat tambahan {cm
L1
(in.)}
L2 Panjang kunci momen {cm (in.)}

PERHATIAN:
Jika alat tambahan atau SST dikombinasikan
dengan kunci momen dan kunci tersebut
digunakan untuk mengencangkan ke momen
spesifikasi dalam buku pedoman ini, maka
momen yang sebenarnya akan berlebihan
dan part itu akan rusak.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 13 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN IN–13

2. UNTUK KENDARAAN YANG DILENGKAPI DENGAN


SRS AIRBAG
AVANZA/XENIA telah dilengkapi dengan Supplemental
Restraint System (SRS).
PERINGATAN:
Kesalahan dalam menangani pekerjaan servis dalam
urutan yang benar dapat menyebabkan SRS meng- IN
gembung secara tak terduga selama servis dan juga
menyebabkan luka serius. Oleh karena itu, jika mem-
buat kesalahan ketika melakukan servis SRS, hal itu
bisa jadi akan menyebabkan SRS tidak bekerja
semestinya. Sebelum melakukan servis (termasuk
pembongkaran atau pemasangan part, pemeriksaan
atau penggantian), pastikan untuk membaca item
berikut ini dengan seksama.
(a) PERHATIAN UMUM
(1) Karena malfungsi dari SRS sulit dipastikan,
maka Diagnostic Trouble Codes (DTC) menjadi
sumber informasi sangat penting saat troubles-
hooting. Bila melakukan troubleshooting SRS,
periksa selalu DTC sebelum melepaskan hubun-
gan baterai.
(2) Pekerjaan harus dimulai paling tidak 90 detik
setelah switch pengapian diputar ke posisi off
dan setelah kabel dilepas dari terminal negatif (-
) baterai.
SRS dilengkapi dengan sumber daya cadangan.
Bila pekerjaan dimulai dalam waktu 90 detik
setelah memutar switch mesin ke off dan mele-
pas kabel dari terminal negatif (-) baterai, SRS
bisa mengembung.
Ketika kabel telah dilepas dari terminal negatif (-
) baterai, sistem memori jam dan audio akan
terhapus. Sebelum memulai pekerjaan, buatlah
catatan seting setiap sistem memori. Ketika
pekerjaan sudah selesai, setel ulang jam dan
sistem audio seperti sebelumnya.
PERINGATAN:
Jangan pernah menggunakan sumber daya
cadangan (baterai atau lainnya) untuk meng-
hindari penghapusan sistem memory. Catu
daya cadangan bisa memberi power pada
SRS dan dapat menyebabkan SRS itu meng-
gembung.
(3) Dalam tabrakan kecil dimana SRS tidak meng-
gembung, steering pad dan airbag assembly
penumpang depan, sebaiknya diperiksa sebe-
lum kendaraan itu digunakan lebih lanjut.
(4) Jangan pernah memakai part SRS dari kendar-
aan lain. Bila mengganti part, gunakan part baru.
(5) Sebelum mereparasi, lepas sensor airbag
assembly agar sensor tidak terkena benturan
saat reparsi.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 14 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN–14 PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN

(6) Jangana pernah membongkar dan mencoba


mereparasi semua sensor airbag assemblies,
dan seluruh airbag assembly.
1. Steering pad
2. Airbag assembly penumpang depan
(7) Ganti sensor airbag assembly dan airbag
IN assembly jika: 1) rusak akibat dari terjatuh, 2)
retak, bengkok, atau tampak cacat lain pada
case, brakket atau konektornya.
(8) Jangan mengenai secara langsung sensor air-
bag assembly, atau airbag assembly ke udara
panas atau nyala api.
(9) Gunakan voltmeter / ohmmeter dengan tahanan
tinggi (minimum 10 kΩ) untuk troubleshooting
sirkuit kelistrikan.
(10)Label informasi tertempel pada komponen SRS.
Ikuti perintah pada label tersebut.
(11)Setelah pekerjaan perbaikan selesai, periksa
lampu peringatan SRS.
(b) KABEL SPIRAL
(1) Steering wheel harus masuk secara tepat pada
stering column dengan kabel spiral pada posisi
netral, agar kabel tidak terlepas dan terjadi
gangguan lain. Lihat kembali pada informasi
seputar pemasangan steering wheel yang
benar.
(c) STEERING PAD
Tanda
(1) Tempatkan selalu steering pad yang telah dile-
B149461E01 pas atau yang baru menghadap ke atas seperti
tampak pada gambar. Meletakkan tombol horn
dengan permukaan pad menghadap ke bawah
dapat menyebabkan kecelakaan serius jika air-
bag itu menggembung. Juga, jangan menempat-
kan apapun pada bagian atas tombol horn.

Contoh:

BENAR SALAH

D025096E03
01_001-PENDAHULUAN.book Page 15 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN IN–15

(2) Jangan pernah mengukur tahanan dari airbag


squib. Hal ini dapat menyebabkan airbag meng-
gembung, yang dapat menyebabkan kecela-
kaan serius.

Contoh:
IN

Z013950E02

(3) Grease atau detergent jenis apapun tidak boleh


digunakan untuk tombol horn.
(4) Simpan tombol horn assembly dalam tempat
dimana temperatur sekitar di bawah 93°C
(200°F), tanpa kelembaban yang tinggi dan tem-
pat itu tidak terdapat noise kelistrikan.
(5) Bila menggunakan las listrilk dimanapun pada
kendaraan, lepaskan konektor ECU airbag (4
pin). Konektor ini berisi pegas pendek. Langkah
ini untuk mengurangi kemungkinan airbag
menggembung karena arus masuk ke kabel
pencetusnya.
(6) Saat membuang kendaraan atau tombol horn
assembly itu sendiri, airbag hendaknya digem-
bungkan menggunakan SST sebelum dibuang.
Aktifkan airbag pada tempat yang aman jauh
dari noise kelistrikan.
(d) AIRBAG ASSEMBLY PENUMPANG DEPAN
(1) Tempatkan selalu airbag assembly tempat
duduk depan dengan permukaan pad ke atas
seperti tampak pada gambar. Meletakkan airbag
assembly dengan peletup airbag menghadap ke
arah bawah dapat mengakibatkan kecelakaan
serius bila air bag itu menggembung.

Contoh:

BENAR SALAH

D027522E02
01_001-PENDAHULUAN.book Page 16 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN–16 PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN

(2) Jangan pernah mengukur tahanan dari airbag


squib. Hal ini dapat menyebabkan airbag meng-
gembung, yang dapat menyebabkan kecela-
kaan serius.

Contoh:
IN

Z013951E02

(3) Grease atau detergent jenis apapun tidak boleh


digunakan untuk airbag assembly tempat duduk
depan.
(4) Simpan airbag assembly dalam tempat dimana
temperatur sekitar di bawah 93°C (200°F), tanpa
kelembaban yang tinggi dan tempat itu tidak ter-
dapat noise kelistrikan.
(5) Bila menggunakan las listrilk dimanapun pada
kendaraan, lepaskan konektor ECU airbag (4
pin). Konektor ini berisi pegas pendek. Langkah
ini untuk mengurangi kemungkinan airbag
menggembung karena arus masuk ke kabel
pencetusnya.
(6) Saat membuang kendaraan atau airbag assem-
bly itu sendiri, airbag hendaknya digembungkan
menggunakan SST sebelum dibuang. Aktifkan
pada tempat yang aman, jauh dari noise kelistri-
kan.
(e) SENSOR AIRBAG ASSEMBLY
(1) Jangan pernah menggunakan airbag sensor
assembly yang pernah terlibat kecelakaan
dimana SRS-nya telah menggembung.
(2) Konektor ke sensor airbag assembly hendaknya
dihubungkan atau dilepaskan dengan sensor
ditempatkan di lantai. Bila konektor dihubungkan
atau dilepaskan saat sensor airbag assembly
tidak ditaruh di lantai, maka SRS dapat menjadi
aktif.
(3) Perkerjaan harus dimulai minimal 90 detik
setelah switch pengapian diputar ke posisi off
dan kabel dilepas dari terminal negatif (-)
baterai, meski hanya mengendorkan baut set
dari sensor airbag assembly.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 17 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN IN–17

(f) KONEKTOR DAN WIRE HARNESS


(1) Wire harness SRS terintegrasi dengan wire har-
ness panel instrument assembly. Semua konek-
tor dalam sistem menggunakan standar warna
kuning. Bila wire harness SRS benar-benar
telah dilepas atau konektor telah rusak, perbaiki
atau ganti wire harness tersebut. IN
3. KONTROL ELEKTRONIK
Kabel Negatif (-)
(a) PELEPASAN DAN PEMASANGAN TERMINAL
BATERAI
PERHATIAN:
Sistem tertentu perlu diinisialisasi setelah dile-
Terminal Negatif (-) paskan dan dihubungkan kembali kabel dari ter-
Baterai minal negatif (-) baterai.
(1) Sebelum melakukan pekerjaan kelistrikan,
lepaskan kabel dari terminal negatif (-) baterai
D033608E02 untuk mencegah komponen dan kabel menjadi
rusak oleh short circuit yang tidak sengaja.
(2) Pada saat melepas kabel, putar switch penga-
pian dan switch dimmer headlight ke OFF dan
kendorkan mur kabel secara menyeluruh. Laku-
kan cara kerja ini tanpa memuntir atau menca-
but kabel itu. Kemudian lepas kabel tersebut.
(3) Setting jam, setting radio, sistem memory audio,
DTC dan data lain akan terhapus bila kabel dile-
pas dari terminal negatif (-) baterai. Sebelum
melepas kabel baterai, catat semua data yang
diperlukan.
(4) Ketika menghubungkan kembali kabel ke termi-
nal baterai, hubungkan kabel dengan sudut 45°
seperti terlihat dalam gambar.
(5) Ketika terminal negatif baterai dihubungkan
kembali, pastikan untuk melakukan inisialisasi
ISC (lihat langkah (c)).

45° 45°
B149407E01

(b) MENANGANI PART-PART ELEKTRONIK


(1) Jangan membuka penutup atau case ECU
kecuali sangat diperlukan. Bila terminal IC ter-
sentuh, IC bisa menjadi tidak berfungsi oleh
listrik statik.
(2) Jangan menarik kabel ketika melepas konektor
elektronik. Tarik pada bagian konektornya itu
SALAH
sendiri.
(3) Hati-hati jangan menjatuhkan komponen elek-
D031751E01 tronik, seperti sensor atau relay. Bila komponen
tersebut jatuh ke permukaan yang keras, kom-
ponen itu harus diganti.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 18 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN–18 PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN

(4) Ketika membersihkan mesin dengan steam, lin-


dungi komponen elektronik, saringan udara dan
komponen yang berhubungan dengan emisi dari
air.
(5) Jangan menggunakan kunci impact untuk mele-
pas atau memasang switch temperatur atau
IN sensor temperatur.
(6) Ketika mengukur tahanan pada konektor kabel,
selipkan tester probe dengan hati-hati untuk
mencegah terminal itu bengkok.
(c) INISIALISASI ISC TIPE STEPPER MOTOR
AVANZA/XENIA menggunakan ISC tipe stepper
motor. Ketika mengganti throttle body atau ECU,
atau menghubungkan kembali terminala negatif (-)
baterai, lakukan inisialisasi ISC menggunakan pro-
sedur berikut ini:
PETUNJUK:
Lakukan berkut ini tanpa menginjak pedal akselera-
tor.
(1) Putar switch pengapian ke ON (jangan menghi-
dupkan mesin) dan tunggu selama 5 detik.
(2) Putar switch pengapian ke OFF, dan tunggu
kira-kira selama 15 detik.
(3) Putar switch pengapian ke ON dan hidupkan
mesin.
4. PEMBONGKARAN DAN PEMASANGAN PART KON-
TROL BAHAN BAKAR
(a) TEMPAT UNTUK LEPAS DAN MEMASANG PART
SISTEM BAHAN BAKAR
(1) Bekerjalah di tempat dengan ventilasi udara
yang baik yang tidak terdapat pengelasan,
gerenda, bor, motor listrik, kompor atau sumber
api lainnya.
(2) Jangan pernah bekerja di tempat tertutup atau
dekat ruang tertutup karena uap bahan bakar
bisa mengumpul di tempat tersebut.
(b) LEPAS DAN MEMASANG PART SISTEM BAHAN
BAKAR
(1) Siapkan pemadam api sebelum memulai
bekerja.
(2) Untuk mencegah listrik statik, pasang kabel
masa pada fuel changer, kendaraan dan tangki
bahan bakar, dan jangan menyemprot area seki-
tarnya dengan air. Hati-hati saat melakukan
pekerjaan dalam area ini, karena lantai kerja
menjadi licin. Jangan membersihkan tumpahan
bensin dengan air, karena cara ini akan
menyebabkan bensin menyebar, dan kemung-
kinan dapat menimbulkan bahaya kebakaran.
(3) Hindari penggunaan motor listrik, lampu kerja
dan peralatan listrik lain yang dapat menimbul-
kan bunga api atau temperatur tinggi.
(4) Hindari penggunaan palu besi karena dapat
menimbulkan bunga api.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 19 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN IN–19

(5) Buanglah kain yang mengandung bahan bakar,


pisahkan menggunakan tempat tahan api.
5. PELEPASAN DAN PEMASANGAN PART SALURAN
MASUK MESIN
(a) Bila partikel besi masuk ke dalam part sistem inlet,
partikel ini dapat merusak mesin.
(b) Ketika melepas dan memasang part sistem inlet, IN
tutupi bagian terbuka dari part dan mesin yang dile-
pas. Gunakan pita karet atau bahan yang sesuai
lainnya.
(c) Ketika memasang part sistem inlet, periksa bahwa
D001563E01 tidak terdapat partikel logam masuk ke mesin atau
part yang dipasang.
6. MENANGANI KLEM SELANG
Klem Tipe Pegas
(a) Sebelum melepas selang, periksa posisi klem
sehingga selang itu dapat dipasang kembali pada
posisi yang sama.
(b) Ganti klem yang berubah bentuk atau penyok den-
gan yang baru.
(c) Bila menggunakan kembali selang lama, pasang
Track Klem klem pada bagain yang ada jejak klem pada selang.
(d) Untuk klem tipe pegas, Anda bisa melebarkan
B107182E01 ujungnya sedikit setelah pemasangan dengan men-
dorong ke arah tanda panah seperti tampak pada
gambar.
7. UNTUK KENDARAAN YANG DILENGKAPI DENGAN
SISTIM KOMUNIKASI MOBILE
(a) Pasang antena sejauh mungkin dari ECU dan sen-
sor dari sistem elektronik kendaran bila memungkin-
kan.
(b) Pasang antena feeder minimal sejauh 20 cm (7,87
in.) dari ECU dan sensor dari sistem elektronik ken-
daraan. Untuk lokasi detail dari ECU dan sensor,
dapat dilihat pada bab komponen yang digunakan.
D020025E01 (c) Jaga sedapat mungkin agar antena dan feeder ter-
pisah sejauh mungkin dari wiring lainnya. Ini akan
mencegah sinyal dari peralatan komunikasi mem-
pengaruhi peralatan kendaraan dan begitu juga
sebaliknya.
(d) Perika bahwa antena dan feeder disetel dengan
benar.
(e) Jangan memasang sistem komunikasi mobile den-
gan kekuatan besar.
8. UNTUK KENDARAAN YANG DILENGKAPI DENGAN
CATALYTIC CONVERTER
PERINGATAN:
Jika terdapat bensin tak terbakar atau uap bensin
dalam jumlah besar mengalir ke dalam converter, hal
ini dapat menyebabkan converter menjadi terlalu
panas dan menimbulkan bahaya kebakaran. Untuk
mencegah hal ini, perhatikan langkah pencegahan
berikut ini.
(a) Gunakan hanya bensin tanpa timbal.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 20 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN–20 PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN

(b) Hindari mesin berputar idle lebih dari 20 menit.


(c) Hindari melakukan tes jumper percikan api listrik
yang tidak perlu.
(1) Lakukan tes loncatan percikan api hanya bila
diperlukan secara mutlak. Lakukan tes ini sece-
pat mungkin.
IN (2) Pada saat melakukan tes, jangan memacu
mesin.
(d) Hindari pengukuran kompresi mesin dalam waktu
lama. Pengukuran kompresi mesin harus dilakukan
secepat mungkin.
(e) Jangan memacu mesin bila tangki bahan bakar
mendekati kosong. Hal ini dapat menyebabkan
mesin mengalami kesalahan pembakaran (misfire)
dan menimbulkan beban tambahan pada converter.

MENGANGKAT KENDARAAN DAN


LOKASI PENOPANG
1. PERHATIAN SEPUTAR KONDISI KENDARAAN SAAT
KENDARAAN ITU DIDONGKRAK
(a) Kendaraan harus tanpa beban sebelum mendong-
krak/lift-up kendaraan itu. Jangan pernah mendong-
krak/lift up kendaraan dengan muatan berat.
(b) Ketika membongkar part berat seperti mesin dan
transaxle, maka titik berat kendaraan akan berpin-
dah. Untuk menstabilkan kendraaan, tempatkan
bobot balans pada tempat di mana beban itu tidak
menggelinding atau berpindah, atau gunakan mis-
sion jack untuk menahan penumpu dongkrak.
2. PEHATIAN UNTUK PENGGUNAAN 4 POST LIFT
(a) Ikuti garis besar prosedur keamanan dalam manual
petunjuk lift.
(b) Gunakan tindakan pencegahan awal untuk mence-
gah free wheel beam dari kecacatan ban dan roda.
(c) Gunakan ganjal ban, amankan kendaraan.
3. PEHATIAN PENGGUNAAN DONGKRAK DAN
SAFETY STAND
(a) Bekerjalah di tempat yang rata dan gunakan ganjal
ban setiap saat.
(b) Gunakan stand pengaman dengan rubber attach-
ment seperti terlihat pada gambar
(c) Pasangkan dongkrak dan rigid rack ke tempat yang
sesuai pada kendaraan. Dongkrak tidak dapat digu-
nakan tanpa rigid rack.
(d) Bila mendongkrak roda depan, bebaskan rem parkir
dan tempatkan stoper roda hanya di belakang roda
belakang. Bila mendongkrak roda belakang, tem-
patkan stoper roda hanya di depan roda depan.
B149408 (e) Ketika mendongkrak hanya roda depan atau roda
belakangnya saja, tempatkan ganjal roda pada sisi
sebelah roda yang menyentuh tanah.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 21 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN IN–21

(f) Ketika merendahkan kendaraan dengan roda


depan didongkrak, bebaskan rem parkir dan ganjal
roda hanya di sebelah depan dari roda belakang-
nya. Ketika menurunkan kendaraan dengan roda
belakang didongkrak, tempatkan ganjal roda hanya
di belakang roda depannya.
PERHATIAN: IN
Pakailah titik pendongkrakan yang benar. Jan-
gan menggunakan bagian lain dari kendaraan
sebagai titik pendongkrakan.

725 mm

: POSISI DONGKRAK
Titil Dongkrak
: POSISI PENOPANG, POSISI
DONGKRAK PANTOGRAPH

: TITIK BERAT KENDARAAN


(kondisi over load)

B149436E01

4. PEHATIAN PENGGUNAAN LIFT TIPE SWING ARM


(a) Berikut garis besar prosedur keamanan dalam buku
petunjuk ini.
(b) Gunakan cradle dengan rubber attachment seperti
terlihat pada gambar
(c) Ketika menggunakan lift, bagian tengahnya sedapat
semungkin sebagai penutup titik berat kendaraan
itu. (L menjadi pendek.)
(d) Atur kendaraan pada cradle se-level mungkin.
Kemudian sesuaikan alur dari cradle untuk lokasi
penumpu yang aman.
PERHATIAN:
Jangan mengangkat kendaraan terlalu tinggi
karena kendaraan dapat menjadi tak stabil.
(e) Pastikan mengunci swing arm selama bekerja.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 22 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN–22 PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN

(f) Angkat kendaraan ke atas lantai dan guncangkan


untuk memastikan kendaraan itu telah stabil.
5. PEHATIAN UNTUK PENGGUNAAN LIFT TIPE PLATE
(a) Berikut garis besar prosedur keamanan dalam buku
petunjuk ini.
(b) Gunakan plate lift tambahan.
IN (c) Referensi ke tabel di bawah untuk menentukan
bagaimana cara mengatur mobil yang benar.
Posisi pengesetan kanan • Letakkan kendaraan di tengah lift.
dan kiri.
Posisi pengesetan depan • Luruskan sudut bawah attachments dengan ujung cushion gum dari plate (A dan C).
dan belakang. • Luruskan sudut atas salah satu dari attachments (B) dengan notch samping depan rocker flange.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 23 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – INSTRUKSI PERBAIKAN IN–23

(d) Angkat kendaraan dari lantai, dan guncangkan


untuk meyakinkan stabilitasnya.

Titik Angkat

IN
Lift Tipe Swing

: TITIK BERAT KENDARAAN


(kondisi tanpa beban) Attachment Karet

Lift Tipe Plat Dimensi Attachment

85 mm (3,35 in.)

70 mm (2.76 in.)

B
A Attachment C 100 mm (3.94 in.)
200 mm (7.87 in.)

B149437E01
01_001-PENDAHULUAN.book Page 24 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA TROUBLESHOOT SISTEM YANG DIKONTROL


IN–24 ECU

BAGAIMANA CARA TROUBLES-


HOOT SISTEM YANG DIKONTROL
ECU
IN INFORMASI UMUM
Banyak sekali sistem yang dikontrol ECU telah digunakan
dalam AVANZA/XENIA. Pada umumnya, sistem yang dikon-
trol ECU itu dianggap sangat rumit, membutuhkan pengeta-
huan teknis tingkat tinggi untuk troubleshoot. Namun,
sebagian besar prosedur pemeriksaan problem hanya meli-
batkan pemeriksaan sirkuit sistem kontrol ECU itu satu per
satu. Pemahaman yang memadai atas pengetahuan tentang
sistem dan pengetahuan dasar tentang kelistrikan cukup
untuk melakukan troubleshooting yang efektif, diagnosis
yang akurat dan reparasi yang diperlukan.
UNTUK MENGGUNAKAN INTELLIGENT TESTER
• Sebelum menggunakan intelligent tester, baca buku pedo-
man operator secara lengkap.
• Bila tester tidak dapat berkomunikasi dengan sistem yang
dikontrol ECU saat tester dihubungkan ke DLC3 dengan
switch mesin on (IG) dan tester telah diputar ke ON, ini
adalah problem pada sisi kendaraan atau sisi tester.
(a)Bila komunikasi normal ketika tester dihubungkan ke
kendaraan lain, periksa diagnosis data link line (Bus (+)
line) atau sirkuit power ECU dari kendaraan.
(b)Bila komunikasi tetap tidak memungkinkan saat tester
dihubungkan ke kendaraan lain, kemungkinan besar
problemnya terdapat pada tester itu sendiiri. Lakukan
Self Test yang garis besar prosedurnya terdapat dalam
buku pedoman pengoperasian tester.

BAGAIMANA MELANJUTKAN DEN-


GAN TROUBLESHOOTING
1. ALIRAN KERJA
PETUNJUK:
Lakukan troubleshooting sesuai dengan prosedur di
bawah ini. Berikut ini adalah garis besar prosedur dasar
troubleshooting. Pastikan prosedur troubleshooting
untuk sirkuit yang sedang Anda kerjakan sebelum
memulai troubleshooting.

1 KENDARAAN DIBAWA KE BENGKEL

SELAN-
JUTNYA
01_001-PENDAHULUAN.book Page 25 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA TROUBLESHOOT SISTEM YANG DIKONTROL


ECU IN–25

2 PERIKSA VOLTASE BATERAI

Voltase standar:
11 sampai 14 V
Bila voltase di bawah 11 V, isi kembali baterai atau ganti
baterai sebelum melanjutkan.
IN
SELAN-
JUTNYA

3 KONFIRMASI GEJALA DAN PERIKSA DTC (DAN FREEZE FRAME DATA)

(a) Pemeriksa secara visual wire harnesses, konektor dan


fuse dari open dan short circuits..
(b) Panaskan mesin sampai pada temperatur kerja normal.
(c) Konfirmasi gejala problem dan kondisinya, dan periksa
DTC.
Hasil
Hasil Lanjutkan ke
DTC ditampilkan A
Tidak terdapat output DTC B

B Ke langkah 6

4 BAGAN DTC

(a) Periksa hasil yang diperoleh pada langkah 4.Kemudian


carai output DTC dalam bagan DTC. Lihat pada kolom
"Area Trouble" untuk daftar sirkuit dan / atau part yang
potensial malfungsi.

SELAN-
JUTNYA Ke langkah 7

5 BAGAN GEJALA PROBLEM

(a) Periksa hasil yang diperoleh pada langkah 4.Kemudian


cari gejala problem dalam tabel gejala problem. Lihat
pada kolom "Area yang Diduga" untuk daftar sirkuit dan /
atau part yang potensial malfungsi.
SELAN-
JUTNYA

6 PEMERIKSAAN SIRKUIT ATAU PEMERIKSAAN PART

(a) Konfirmasi sirkuit atau part yang malfungsi.


01_001-PENDAHULUAN.book Page 26 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA TROUBLESHOOT SISTEM YANG DIKONTROL


IN–26 ECU

SELAN-
JUTNYA

7 SETEL, PERBAIKI ATAU GANTI

IN (a) Setel, reparasi atau ganti sirkuit atau part yang malfungsi
SELAN-
JUTNYA

8 TES KONFIRMASI

(a) Setelah penyetelan, perbaikan atau penggantian, konfir-


masi bahwa malfungsi tidak ada lagi. Jika malfungsi
tidak berulang, lakukan tes konfirmasi dalam kondisi
yang sama dan lingkungan yang sama ketika malfungsi
itu terjadi pertama kali.
SELAN-
JUTNYA

SELESAI
2. ANALISA PROBLEM PELANGGAN
PETUNJUK:
• Dalam troubleshooting, konfirmasikan apakah gejala
problem itu telah teridentifikasi dengan akurat. Pra-
sangka harus dibuang agar dapat membuat kepu-
tusan akurat. Untuk memahami dengan jelas apakah
gejala problem itu, sangat penting untuk bertanya
kepada pelanggan seputar problem dan kondisi pada
saat malfungsi itu muncul.
• Kumpulkan informasi sebanyak mungkin untuk refe-
rensi. Problem masa lalu yang tampaknya tak terkait
dapat juga membantu dalam beberapa kasus.
• Lima Item berikut adalah point penting dalam analisis
problem.
Apa Model kendaraan, nama sistem
Kapan Tanggal, waktu, frekwensi kejadian
Di mana Kondisi jalan
Kondisinya seperti apa? Kondisi running, kondisi mengemudi, cuaca
Bagaimana terjadinya? Gejala problem

3. KONFIRMASI GEJALA DAN DIAGNOSTIC TROUBLE


CODE
PETUNJUK:
Sistem diagnostik dalam AVANZA / XENIA memiliki
beberpa fungsi berikut.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 27 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA TROUBLESHOOT SISTEM YANG DIKONTROL


ECU IN–27

• Fungsi pertama adalah memeriksa Diagnostic


Trouble Code (DTC). DTC adalah kode yang tersim-
pan dalam memory ECU bilamana terjadi malfungsi
dalam sirkuit sinyal sampai ECU. Dalam pemeriksaan
DTC, malfungsi DTC pada waktu sebelumnya dapat
diperiksa oleh teknisi selama troubleshooting.
• Fungsi lainnya adalah Input Signal Check, untuk IN
memeriksa apakah sinyal dari berbagai switch telah
dikirim ke ECU dengan benar. Dengan memakai
fungsi ini, area problem dapat dipersempit dan trou-
bleshooting menjadi lebih efektif. Fungsi diagnostik
telah digabungkan dalam sistem berikut dalam
AVANZA / XENIA.
Mode Peme-
Periksaan riksaan/Test
Periksa DTC Freeze-frame Parameter
Sistem DTC (Check Sensor (Peme- Data List Active Test
(Mode Normal) Data Customize
Mode) riksaan Sinyal
Input)
SISTEM SFI
{ - { - { { -
3SZ-VE
SISTEM SFI
{ - { - { { -
EJ-VE
SISTEM SFI
{ - { - { { -
K3-VE
SISTEM
TRANSMISI
{ - - - { { -
OTOMATIS
A4Q
SISTEM AIR-
BAG (dengan/
{ { - - - - -
Airbag Penum-
pang Depan
SISTEM AIR-
BAG (Tanpa/
{ { - - - - -
Airbag Penum-
pang Depan
SISTEM
ENGINE { - - - - - -
IMMOBILISER

• Dalam pemeriksaan DTC, adalah sangat penting


untuk menentukan apakah problem yang ditunjukkan
oleh DTC adalah: 1) masih terjadi, atau 2) terjadi
pada waktu lalu tetapi telah kembali normal. Sebagai
tambahan, DTC harus dibandingkan dengan gejala
problem untuk mengetahui jika problem tersebut ada
hubungannya. Untuk alasan ini, DTC harus diperiksa
sebelum dan sesudah konfirmasi gejala (sebagai con-
toh, apakah masih terdapat gejala problem atau tidak)
untuk menentukan kondisi sistem saat ini, seperti
ditunjukkan dalam bagan di bawah ini.
• Jangan melewatkan pemeriksaan DTC. Kesalahan
pemeriksaan DTC dapat tergantung pada kasusnya,
akan menghasilkan troubleshooting yang tidak perlu
untuk sistem yang bekerja normal atau mengarah ke
perbaikan yang sebenarnya tidak terkait dengan pro-
blem. Ikuti prosedur yang tercantum dalam bagan
dengan urutan yang benar.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 28 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA TROUBLESHOOT SISTEM YANG DIKONTROL


IN–28 ECU

• Bagan berikut ini memperlihatkan bagaimana cara


melakukan troubleshooting dengan menggunakan
pemeriksaan DTC. Petunjuk dari bagan ini akan
menunjukkan bagaimana melakukan salah satu trou-
bleshooting DTC atau troubleshooting dari setiap
gejala problem.
IN
1 PERIKSA DTC

SELAN-
JUTNYA

2 BUAT CATATAN DTC YANG DITAMPILAN DAN KEMUDIAN HAPUS MEMORI

SELAN-
JUTNYA

3 KONFIRMASI GEJALA

Hasil:
Hasil Lanjutkan ke
Tidak ada gejala A
Ada gejala B

a Lanjutkan ke langkah 5

4 TES SIMULASI MENGGUNAKAN METODE SIMULASI GEJALA

SELAN-
JUTNYA

5 PERIKSA DTC

Hasil:
Hasil Lanjutkan ke
Tidak terdapat output DTC A
DTC ditampilkan B

B Troubleshooting pada problem yang


ditunjukkan oleh DTC

A
01_001-PENDAHULUAN.book Page 29 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA TROUBLESHOOT SISTEM YANG DIKONTROL


ECU IN–29

6 KONFIRMASI GEJALA

Hasil:
Hasil Lanjutkan ke
Ada gejala A
IN
Tidak ada gejala B

Jika DTC telah ditampilkan pada awal pemeriksaan DTC,


problem itu mungkin terjadi pada wire harness atau konektor
dalam sirkuit di waktu yang lalu. Periksa wire harness dan
konektor.IN-32
B Sistem normal

TROUBLESHOOTING PADA SETIAP GEJALA PROBLEM


Problem masih terjadi di tempat selain dari sirkuit diagnostic
(DTC yang ditampilkan leboh dulu adalah saah satu dari pro-
blem yang telah lalu atau problem sekunder )
4. SIMULASI GEJALA
PETUNJUK:
Kebanyakan kasus kesulitan dalam troubleshooting ada-
lah ketika tidak terjadi gejala problem. Dalam kasus
seperti ini, harus dilakukan analisis problem dengan cer-
mat. Harus dilakukan simulasi pada kondisi dan lingkun-
gan yang sama atau serupa dimana problem itu terjadi
pada kendaraan pelanggan. Tidak peduli seberapa
hebatnya keterampilan atau pengalaman yang dimiliki
teknisi, troubleshooting tanpa mengkonfirmasi gejala
problem akan cenderung mengabaikan perbaikan yang
penting dan terjadi kesalah atau kelambatan.
Sebagai contoh
Untuk problem yang terjadi hanya pada saat mesin
dingin atau hasil dari getaran yang disebabkan oleh
jalan selama pengendaraan, maka problem itu tidak
akan pernah dapat ditentukan bila gejalanya diperiksa
saat mobil berhenti atau kendaraan dengan mesin
yang telah dipanaskan. Getaran, panas atau rembe-
san air tentu sulit direproduksi lagi. Test simulasi
gejala di bawah ini sebagai pengganti efektif untuk
kondisi tersebut dan dapat diterapkan pada mobil
yang berhenti. Point penting dalam tes simulasi gejala
01_001-PENDAHULUAN.book Page 30 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA TROUBLESHOOT SISTEM YANG DIKONTROL


IN–30 ECU

ini adalah: Dalam tes simulasi gejala, gejala problem


seperti daerah problem atau part-nya harus dipasti-
kan dengan baik. Pertama, persempit kemungkinan
sirkuit problem sesuai dengan gejalanya. Kemudian,
hubungkan tester dan lakukan tes simulasi gejala,
putuskan apakah sirkuit yang diuji itu rusak atau nor-
IN mal. Juga, pastikan gejala problem pada saat yang
sama. Lihatlah pada tabel gejala problem untuk setiap
sistem guna mempersempit kemungkinan penyebab-
nya.
(a) METODA GETARAN: Apabila kemungkinan mal-
Getarkan Perlahan fungsi itu terjadi akibat getaran.
(1) PART DAN SENSOR
Berikan getaran ringan dengan jari pada bagian
sensor yang diduga sebagai penyebab problem,
dan periksa apakah terjadi malfungsi atau tidak.
PERHATIAN:
Memberikan getaran kuat pada relay dapat
membuka hubungan relay
(2) KONEKTOR
Goyangkan sedikit konektor secara vertikal dan
horizontal.
Goncang Perlahan (3) WIRE HARNESS
Goyangkan sedikit wire harness secara vertikal
dan horizontal.
PETUNJUK:
Joint konektor dan titik tumpu getaran adalah
Getarkan daerah yang harus diperiksa dengan seksama.
Perlahan (b) METODA PANAS: Apabila diduga malfungsi itu ter-
jadi ketika area yang dipertanyakan dipanaskan.
B071602E01 (1) Panaskan dengan hair dryer atau alat yang seje-
nis pada komponen yang mungkin menyebab-
kan malfungsi. Periksa apakah terjadi malfungsi.
PERHATIAN:
• Jangan memanaskan lebih dari 60°C
(140°F). Temperatur yang berlebihan dapat
merusak komponen.
• Jangan memanaskan langsung pada
bagaian dalam ECU.
(c) METODA PENYIRAMAN AIR: Apabila malfungsi itu
diduga terjadi pada saat hujan atau dalam kelemba-
ban tinggi.
(1) Siramkan air pada kendaraan dan periksa apa-
kah terjadi malfungsi.
PERHATIAN:
• Jangan menyiram air langsung ke dalam
ruang mesin. Ubahlah temperatur dan
tingkat kelembaban secara tidak langsung
D025085E02 dengan menyemprotkan air pada bagian
depan radiator.
• Jangan menyiramkan air langsung ke
komponen elektronik.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 31 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA TROUBLESHOOT SISTEM YANG DIKONTROL


ECU IN–31

PETUNJUK:
Bila kendaraan mempunyai atau memilki pro-
blem kebocoran air, kebocoran itu bisa merusak
ECU atau sambungannya. Lihat adanya tanda
korosi atau short circuit. Lakukan dengan tinda-
kan khusus selama tes kebocoran air.
(d) METODA BEBAN KELISTRIKAN YANG TINGGI: IN
ON Apabila malfungsi itu diduga terjadi ketika beban
listrik berlebihan.
(1) Hidupkan blower heater, headlight, defogger
kaca belakang, dan semua beban listrik. Periksa
apakah terjadi pengulangan malfungsi.
5. BAGAN DIAGNOSTIC TROUBLE CODE
Carilah output Diagnostic Trouble Codes (DTC) (dari
pemeriksan DTC) dalam bab yang sesui dari Bagan Dia-
B002389E01 gnostic Trouble Code. Gunakan bagan itu untuk menen-
tukan area trouble dan prosedur pemeriksaan yang
benar. Penjelasan dari setiap kolom bagan itu adalah
sebagai berikut.
Item Penjelasan
No. DTC Menunjukkan diagnostic trouble code
Item Deteksi Menunjukkan sistem atau detail dari problem.
Area Gangguan Menunjukkan area yang dicurigai terdapat problem.
Menunjukkan halaman dimana prosedur pemeriksaan untuk setiap
Lihat halaman sirkuit dapat ditemukan, atau memberikan petunjuk pemeriksaan dan
perbaikan.

6. TABEL GEJALA PROBLEM


Ketika kode "Normal" ditampilkan selama pemeriksaan
DTC tetapi problem itu tetap saja muncul,gunakan Tabel
Gejala Problem. Area yang dicurigai (sirkuit atau part)
untuk setiap gejala problem terdapat dalam tabel. Area
yang dicurigai telah didaftar sesuai urutan kemungki-
nannya. Di bawah ini adalah penjelasan dari setiap
kolom bagan itu.
PETUNJUK:
Dalam beberapa kasus, problem tidak terdeteksi oleh
sistem diagnostic, meski gejalanya muncul terlebih
dahulu. Hal ini menujukkan bahwa problem terjadi di luar
area yang dideteksi oleh sistem diagnostic atau problem
terjadi pada sistem yang berbeda.
Item Penjelasan
Gejala Problem -
Pemeriksaan Sirkuit, Urutan Pemeriksaan Menunjukkan urutan dimana sirkuit tersebut perlu diperiksa
Sirkuit atau Nama Part Menunjukkan sirkuit atau part yang membutuhkan pemeriksaan
Lihat halaman Menunjukkan halaman dimana bagan setiap sirkuit berada

7. PEMERIKSAAN SIRKUIT
Di bawah ini adalah penjelasan area utama dari setiap
pemeriksaan sirkuit.
Item Penjelasan
Peran utama, cara kerja sirkuit dan bagian komponennya dijelaskan di
Penjelasan Sirkuit
sini.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 32 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA TROUBLESHOOT SISTEM YANG DIKONTROL


IN–32 ECU

Item Penjelasan
Menunjukkan diagnostic trouble codes, seting dari diagnostic trouble
Nomor Diagnostic Trouble Code dan item Deteksi
code dan area yang dicurigai ada problem
Ini memperlihatkan wiring diagram dari sirkuit. Gunakan diagram ini
bersama dengan WIRING DIAGRAM KELISTRIKAN untuk mema-
hami sitrkuit secara lengkap. Warna kabel ditunjukkan dengan kode
abjad.
IN B = Black (Hitam)
L = Blue (Biru)
R = Red (Merah)
BR = Brown (Coklat)
LG = Light Green (Hijau Muda)
Wiring diagram V = Violet (Ungu)
G = Green(Hijau)
O = Orange (Jingga)
W = White (Putih)
GR = Gray (Abu-abu)
P = Pink (Merah Jambu)
Y = Yellow (Kuning)
SB = Sky Blue (Biru Langit)
Huruf pertama menunjukkan warna dasar kabel dan huruf kedua
menunjukkan warna strip.
Prosedur Pemeriksaan Gunakan prosedur pemeriksaan ini untuk menentukan apakah sirkuit
itu normal atau abnormal. Bila abnormal, gunakan prosedur pemerik-
saan untuk menentukan apakah problem itu terdapat pada sensor,
aktuator, wire harnesses atau ECU.
Konektor yang sedang diperiksa dihubungkan. Hubungan tester ditun-
jukkan oleh (+) atau (-) setelah nama terminal. Konektor yang sedang
Menunjukkan kondisi konektor dari ECU selama pemeriksaan
diperiksa tidak dihubungkan. Pemeriksaan antara konektor dan masa
bodi, informasi seputar masa bodi tidak diperlihatkan dalam gambar.

PROSEDUR PEMERIKSAAN SIRKUIT


ELEKTRONIK
1. PEMERIKSAAN DASAR
(a) KETIKA MENGUKUR TAHANAN PART ELEKTRO-
NIK
(1) Kecuali yang telah ditetapkan, semua pengu-
kuran tahanan harus dilakukan pada temperatur
ruang 20°C (68°F). Pengukuran tahanan bisa
jadi tidak akurat bila diukur pada temperatur
tinggi, misalnya diukur segera setelah kendar-
aan baru menyelesaikan perjalanan. Pengu-
kuran hendaknya dilakukan setelah mesin
dingin.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 33 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA TROUBLESHOOT SISTEM YANG DIKONTROL


ECU IN–33

(b) MENANGANI KONEKTOR


(1) Saat melepaskan konektor, pertama genggam-
lah separo pasangan konektor yang mengait
dengan erat untuk membebaskan kuncinya,
kemudian tekan claw penguncinya, lantas pisah-
kan konektor itu.
(2) Bila melepaskan konektor, jangan menarik har- IN
ness-nya. Genggam konektor langsung dan
pisahkan.
(3) Sebelum menghubungkan konektor, periksa
apakah konektor itu tidak berubah bentuk, cacat,
SALAH kendor atau terminalnya rusak.
(4) Ketika menghubungkan konektor, tekan dengan
kuat hingga mengunci dengan suara "klick" .
SALAH (5) Jika memeriksa konektor dengan DAIHATSU elec-
trical tester, periksa konektor dari sisi belakang
(sisi harness) menggunakan mini test lead.
PERHATIAN:
• Karena konektor kedap air (waterproof)
BENAR
tidak dapat diperiksa dari sisi belakang,
D032092E01 periksa konektor itu dengan cara
menghubungkan dengan sub-harness.
• Jangan merusakkan terminal dengan
menggerakan jarum tester yang dimasuk-
kan.
(c) MEMERIKSA KONEKTOR
Kendorkan Inti Kabel
Serutan
(1) Pemeriksaan saat konektor dilepaskan: Geng-
gamlah konektor bersama-sama untuk meng-
konfirmasi apakah kedua konektor itu telah
terhubung penuh dan terkunci.
(2) Pemeriksaan saat konektor dilepaskan: Periksa
Terminal dengan menarik wire harness secara perlahan
Deformasi
dari bagian belakang konektor. Carilah terminal
Tarik Perlahan yang tidak mengait, terminal yang terlepas,
D025087E03 kurang mengkerut atau kabel konduktor yang
patah. Periksa secara visual dari korosi, seperti
logam atau benda asing lain dan air, juga
kebengkokan, keropos, panas berlebihan, kon-
taminasi, atau perubahan bentuk terminal.
PERHATIAN:
Bila memeriksa terminal betina berlapis
emas, selalu gunakan terminal jantan berla-
pis emas juga.
(3) Pemeriksaan tekanan kontak terminal: Siapkan
terminal laki cadangan. Sisipkan ke dalam termi-
nal perempuan, dan periksa dari ketidak longga-
ran tekanan ketika disisipkan dan setelah
dikaitkan secara penuh.
PERHATIAN:
Bila memeriksa terminal betina berlapis
emas, selalu gunakan terminal jantan berla-
pis emas juga.
D025088E02
01_001-PENDAHULUAN.book Page 34 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA TROUBLESHOOT SISTEM YANG DIKONTROL


IN–34 ECU

(d) METODE PERBAIKAN TERMINAL KONEKTOR


SALAH
(1) Jika terdapat benda asing pada terminal, bersih-
BENAR
kan titik kontaknya menggunakan peniup udara
(air gun) atau kain. Jangan mengosok titik kon-
tak itu dengan amplas karena lapisannya bisa
habis.
IN (2) Bila tekanan kontaknya abnormal, ganti terminal
betina. Bila terminal jantannya berlapis emas
(warna emas) gunakan terminal betina berlapis
D032093E01 emas; jika terminal tersebut berlapis perak
(warna perak), gunakan termnal betina berlapis
perak juga.
(3) Terminal yang rusak, berubah bentuk, atau
korosi harus diganti. Jika terminal tidak men-
gunci pada rumahnya, maka rumah terminal itu
harus diganti.
(e) PENANGANAN WIRE HARNESS
SALAH SALAH
(1) Bila melepas wire harness, periksa kabel dan
klem sebelum melanjutkan sehingga dapat
ditempatkan kembali dalam posisi semula.
(2) Jangan memilin, menarik atau mengendorkan
wire harness lebih dari yang diperlukan.
(3) jangan membuat wire harness bersentuhan den-
gan part bertemperatur tinggi, berputar, berge-
SALAH rak, bergetar atau part yang bersudut tajam.
D032094E01 Hindari kontak dengan pinggir panel, ujung
sekrup atau item tajam lainnya.
(4) Bila memasang komponen, jangan menjepit
wire harness.
(5) Jangan memotong atau mematahkan tutup dari
wire harness. Jika terpotong atau patah, ganti
wire harness itu atau reparasi dengan selotip
vinyl.
2. PEMERIKSAAN DARI OPEN CIRCUIT
Gambar.1 ECU (a) Untuk open circuit dalam wire harness dalam Gam-
C OPEN B A bar 1, periksa tahanan atau voltase,seperti dijelas-
kan di bawah ini.
1 1 1 1
2 2 2 2

SENSOR

Z017004E02
01_001-PENDAHULUAN.book Page 35 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA TROUBLESHOOT SISTEM YANG DIKONTROL


ECU IN–35

(b) Periksa tahanan.


Gambar.2
(1) Lepaskan konektor A dan C dan ukur tahanan
ECU antar keduanya..
Tahanan standar (Gambar 2)
Hubungan Tester Kondisi Spesifikasi
1 1 1
Terminal 1 konektor A - Terminal 1 10 kΩ atau lebih
2 2 2 konektor C IN
A Terminal 2 konektor A - Terminal 2 Di bawah 1 Ω
SENSOR C B
konektor C
Z017005E02
PETUNJUK:
Ukurlah tahanan sambil mengguncangkan
secara perlahan wire harness itu dalam arah
vertikal dan horisontal. Jika hasilnya cocok den-
gan contoh di atas, open circuit berada antara
terminal 1 konektor A dan konektor C.
(2) Lepaskan konektor B dan ukur tahanan antara
Gambar 3 konektor.
ECU Tahanan standar (Gambar 3)
SENSOR Hubungan Tester Kondisi Spesifikasi
Terminal 1 konektor A - Terminal 1 Di bawah 1 Ω
konektor B1
Terminal 1 konektor B2 - Terminal 1 10 kΩ atau lebih
1 1 1 1 konektor C
2 2 2 2
C B2 B1 A
B004722E03
Bila hasilnya cocok dengan contoh di atas, open
circuit berada antara terminal 1 konektor B2 dan
terminal 1 konektor C.
(c) Periksa voltase.
Gambar.4 (1) Dalam sirkuit dimana terdapat votase yang digu-
nakan untuk terminal konektor ECU, open circuit
ECU
dapat diperiksa melalui pemeriksaan voltase.
5V
SENSOR 0 V Dengan setiapkonektor masih tetap ter-
5V 1 hubung,ukurlah voltase antara masa bodi dan
1 1
2 2 2 2 terminal itu (sesui keperluan): 1) konektor A ter-
minal 1, 2) konektor B terminal 1, dan 3) konek-
C B A torf C terminal 1.
Z017007E02 Voltase standar (Gambar.4)
Hubungan Tester Kondisi Spesifikasi
Konektor A Terminal 1 - Masa bodi 5V
Konektor B Terminal 1 - Masa bodi 5V
Konektor C Terminal 1 - Masa bodi Di bawah 1 V

Bila hasilnya cocok dengan contoh di atas, open


circuit berada dalam wire harness antara termi-
nal 1 konektor B dan terminal 1 konektor C.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 36 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA TROUBLESHOOT SISTEM YANG DIKONTROL


IN–36 ECU

3. PEMERIKSAAN DARI SHORT CIRCUIT


Gambar.5 ECU
SHORT (a) Bila wire harness ground shorted (Gambar. 5), tan-
dai tempatnya dengan melakukan pemeriksaan
1 1 1 tahanan dengan masa bodi (bawah).
2 2 2

IN C B A

Z017008E02

(b) Periksa tahanan dengan masa bodi.


Gambar.6 (1) Lepaskan konektor A dan C dan ukur taha-
nannya..
ECU Tahanan standar (Gambar 6)
SENSOR
Hubungan Tester Kondisi Spesifikasi
1 1 1 Konektor A Terminal 1 - Masa bodi Di bawah 1 Ω
2 2 2 Konektor A Terminal 2 - Masa bodi 10 kΩ atau lebih
C B A
PETUNJUK:
Z017009E02 Ukurlah tahanan sambil mengguncangkan
secara perlahan wire harness itu dalam arah
vertikal dan horisontal. Jika hasilnya sesui den-
gan contoh di atas, short circuit berada antara
terminal 1 konektor A dan konektor C terminal 1.
(2) Lepaskan konektor B dan ukur tahanannya.
Gambar. 7 Tahanan standar (Gambar 7)
Hubungan Tester Kondisi Spesifikasi

ECU Konektor A Terminal 1 - Masa bodi 10 kΩ atau lebih


SENSOR Konektor B2 Terminal 1 - Masa bodi Di bawah 1 Ω
1 1 1 1 Bila hasilnya cocok dengan contoh di atas,
2 2 2 2 hubungan pendek berada antara terminal 1
C B2 B1 A konektor B2 dan terminal 1 konektor C.
Z017808E02
4. PERIKSA DAN GANTI ECU
PERHATIAN:
• Konektor tidak boleh dilepaskan dari ECU. Laku-
kan pemeriksaan dari bagian belakang konektor
pada sisi wire harness.
• Bila tidak ada kondisi pengukuran spesific, laku-
kan pemeriksaan dengan mesin mati dan switch
pengapian ON.
• Periksa bahwa konektor sudah berada pada tem-
patnya. Periksa dari kekendoran, karat, atau
kabelnya putus.
01_001-PENDAHULUAN.book Page 37 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – BAGAIMANA CARA TROUBLESHOOT SISTEM YANG DIKONTROL


ECU IN–37

(a) Pertama, periksa sirkuit masa dari ECU. Jika ter-


Contoh: dapat kelainan, perbaikilah. Jika normal, mungkin
ada kelainan pada ECU. Untuk sementara ganti
Masa ECU dengan yang berfungsi normal dan periksa
apakah gejala itu muncul. Jika gejala trouble itu
menghilang, ganti ECU aslinya.
(1) Ukur tahanan antara terminal ground ECU dan IN
bodi masa.
Tahanan standar:
IN00383E02 Di bawah 1 Ω

(2) Lepaskan konektor ECU. Periksa terminal masa


Sisi ECU pada sisi ECU dan sisi wire harness dari
kebengkokan, korosi atau benda asing lain.
Selanjutnya, periksa tekanan kontak dari termi-
Sisi Wire Harness Masa nal perempuannya.
Sisi W/H

Masa

IN00384E03
01_001-PENDAHULUAN.book Page 38 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN–38 PENDAHULUAN – ISTILAH

ISTILAH
SINGKATAN YANG DIPAKAI DALAM
BUKU PEDOMAN INI
IN Singkatan Arti
ABS Anti-Lock Brake System
A/C Air Conditioner
AC Alternating Current (Arus Bolak-Balik)
ACC Accessory (Aksesori)
ACIS Acoustic Control Induction System (Sistem Induksi Pengontrol Akui-
stik)
ACM Active Control Engine Mount (Engine Monting Kontrol Aktif)
ACSD Automatic Cold Start Device (Peralatan Start Dingin Otomatis)
A.D.D Automatic Disconnecting Differential (Pelepas Differensial Otomatis)
A/F Air-Fuel Ratio (Rasio Udara-Bahan Bakar)
AHC Active Height Control Suspension (Suspensi Kontrol Ketinggian Aktif)
ALR Automatic Locking Retractor (Retraktor Pengunci Otomatis)
ALT Alternator
AMP Amplifier
ANT Antenna
APPROX. (SEKITAR) Approximately (Sekitar)
ASSY Assembly (Rakitan)
A/T, ATM Transmisi(Transaxle) Otomatis
ATF Automatic Transmission Fluid (Fluida Transmisi Otomatis)
AUTO Automatic (Otomatis)
AUX Auxiliary (Alat bantu)
AVG Average (Rata-rata)
AVS Adaptive Variable Suspension (Suspensi Variabel Adaptif)
B+ Battery Voltage
BA Brake Assist
BACS Boost Altitude Compensation System (Sistem Kompensasi Pengua-
tan Ketinggian)
BAT Baterai
BDC Bottom Dead Center (Titik Mati Bawah)
B/L Bi-Level (Dua Tingkat)
B/S Bore-Stroke Ratio (Rasio Diameter-Langkah)
BTDC Before Top Dead Center (Sebelum Titik Mati Atas)
BVSV Bimetallic Vacuum Switching Valve (Katup Swiching Vakum Bimetalik)
CAN Controller Area Network (Jaringan Area Terkontrol)
CB Circuit Breaker (Pemutus Sirkuit)
CCo Catalytic Converter For Oxidation (Konverter Katalitik untuk Oksidasi)
CCV Canister Closed Valve (Katup Pentup Canister)
CD Compact Disc (Cakram Kompak)
CF Cornering Force (Gaya Belok)
CG Center Of Gravity (Titik Berat)
CH Channel
CKD Complete Knock Down (Terurai Secara Lengkap)
COMB. Combination (Kombinasi)
CPE Coupe
01_001-PENDAHULUAN.book Page 39 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – ISTILAH IN–39

Singkatan Arti
CPS Combustion Pressure Sensor (Sensor Tekanan Pembakaran)
CPU Central Processing Unit (Unit Pengolahan Pusat)
CRS Child Restraint System (Sistem Perlindungan Anak)
CTR Tengah
C/V Check Valve
CV Control Valve (Katup Kontrol)
IN
CW Curb Weight (Berat Kotor)
DC Direct Current (Arus Searah)
DEF Defogger
DFL Deflector
DIFF. Differensial
DIFF. LOCK Differential Lock (Pengunci Differensial)
D/INJ Direct Injection (Injeksi Langsung)
DLC Data Link Connector (Konektor Penghubung Data)
DLI Distributorless Ignition (Pengapian Tanpa Distributor)
DOHC Double Overhead Camshaft
DP Dash Pot
DS Dead Soak (Terendam Mati)
DSP Digital Signal Processor (Prosesor Sinyal Digital)
DTC Diagnostic Trouble Code (Kode Diagnosa Masalah)
DVD Digital Versatible Disc
EBD Electric Brake Force Distribution (Distribusi Tenaga Pengereman
Secara Elektronik)
EC Electrochromic
ECAM Engine Control And Measurement System (Sistem Kontrol dan Pen-
gukuran Mesin)
ECD Electronically Controlled Diesel (Diesel Dikontrol Secara Elektronik)
ECDY Eddy Current Dynamometer (Dynamometer Arus Eddy)
ECT Electronic Controlled Automatic Transmission (Transmisi Otomatis
yang Dikontrol Secara Elektronik)
ECU Electronic Control Unit (Unit Kontrol Elektronik)
ED Electro-Deposited Coating (Pelapisan dengan Endapan Elektro)
EDU Electronic Driving Unit (Unit Pengendali Elektronik)
EDIC Electric Diesel Injection Control (Kontrol Injeksi Diesel secara`Elektro-
nik)
EFI Electronic Fuel Injection (Injeksi Bahan Bakar Elektronik)
E/G Mesin
EGR Exhaust Gas Recirculation (Sirkulasi Ulang Gas Buang)
EGR-VM EGR-Vacuum Modulator
ELR Emergency Locking Retractor (Retraktor Pengunci Darurat)
EPS Electric Power Steering (Power Steering Elektrik)
ENG Mesin
ES Easy & Smooth (Mudah & Halus)
ESA Electronic Spark Advance (Pengajuan Pengapian Elektronik)
ETCS-i Electronic Throttle Control System-intelligent
EVAP Evaporative Emission Control (Kontrol Emisi Penguapan)
EVP Evaporator
E-VRV Electric Vacuum Regulating Valve (Katup Pengatur Vakum Elektrik)
EX Knalpot
FE Fuel Economy (Penghematan Bahan Bakar)
01_001-PENDAHULUAN.book Page 40 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN–40 PENDAHULUAN – ISTILAH

Singkatan Arti
FF Front-Engine-Front-Wheel-Drive (Mesin Depan-Penggerak Roda
Depan)
F/G Gauge Bahan Bakar
FIPG Formed In Place Gasket (Gasket yang Dibentuk Di Tempat)
FL Fusible Link
IN F/P Fuel Pump (Pompa Bahan Bakar)
FPU Fuel Pressure Up (Menaikkan Tekanan Bahan Bakar)
FR Depan
F/W Flywheel
FW/D Flywheel Damper
FWD Front-Wheel-Drive (Penggerak Roda Depan)
GAS Gasoline (Bensin)
GND Masa
GPS Global Positioning System
GSA Gear Shift Actuator (Aktuator Pemindah Roda Gigi)
HAC High Altitude Compensator (Kompensator Ketinggian)
H/B Hatchback
H-FUSE High Current Fuse (Fuse Arus Tinggi)
HI Tinggi
HID High Intensity Discharge (Headlight)
HPU Hydraulic Power Unit (Unit Tenaga Hidrolik)
HSG Rumah
HT Hard Top
HV Hybrid Vehicle (Kendaraan Hibrid)
HWS Heated Windshield System (Sistem Pemanas Kaca Depan)
IC Integrated Circuit
IDI Indirect Diesel Injection (Diesel Injeksi Tidak Langsung)
IFS Independent Front Suspension (Suspensi Depan Independent)
IG Pengapian
IIA Integrated Ignition Assembly
DALAM Intake (Manifold, Valve)
INT Intermittent (Terputus-putus)
I/P Instrument Panel (Panel Instrumen)
IRS Independent Rear Suspension (Suspensi Belakang Independent)
ISC Idle Speed Control (Kontrol Putaran Idle)
J/B Junction Block
J/C Junction Connector
KD Kick-Down
LAN Local Area Network (Jaringan Area Lokal)
LB Liftback
LCD Liquid Crystal Display
LED Light Emitting Diode
LH Left-Hand (Sebelah Kiri)
LHD Left-Hand Drive (Kemudi Sebelah Kiri)
L/H/W Length, Height, Width (Panjang, Tinggi, Lebar)
LLC Long-Life Coolant
LNG Liquified Natural Gas
LO Rendah
LPG Liquified Petroleum Gas
01_001-PENDAHULUAN.book Page 41 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – ISTILAH IN–41

Singkatan Arti
LSD Limited Slip Differential (Differensial Pembatas Slip)
LSP & BV Load Sensing Proportioning and Bypass Valve (Katup Pengindra dan
Bypass Proporsi Beban)
LSPV Load Sensing Proportioning Valve (Katup Pengindra Proporsi Beban)
MAP Manifold Absolute Pressure (Tekanan Absolut Manifold)
MAX. Maksimum IN
MIC Microphone
MIL Malfunction Indicator Light (Lampu Indikator Malfungsi)
MIN. Minimum
MG1 Motor Generator No. 1
MG2 Motor Generator No. 2
MMT Multi-mode Manual Transmission
MP Multipurpose (Serba Guna)
MPI Multipoint Electronic Injection
MPX Multiplex Communication System (Sistem Komunikasi Multiplex)
M/T, MTM Manual Transmission (Transaxle) (Transmisi/Transaxle Manual)
MT Mount
MTG Mounting
N Netral
NA Natural Aspiration
NO. Nomor
O2S Oxygen Sensor (Sensor Oksigen)
OC Oxidation Catalyst (Katalis Oksidasi)
OCV Oil Control Valve
O/D Overdrive
OEM Original Equipment Manufacturing
OHC Overhead Camshaft
OHV Overhead Valve
OPT Option (Pilihan)
ORVR On-board Refueling Vapor Recovery
O/S Oversize
P & BV Proportioning and Bypass Valve (Katup Proporsional dan Bypass)
PBD Power Back Door (Power Pintu Bagasi)
PCS Power Control System (Sistem Kontrol Tenaga)
PCV Positive Crankcase Ventilation
PKB Parking Brake (Rem Parkir)
PPS Progressive Power Steering
PROM Programmable Read Only Memory (Memori Yang Hanya Dapat
Dibaca Bisa Diprogram)
PS Power steering
PSD Power Slide Door
PTO Power Take-Off
PZEV Partial Zero Emission Vehicle (Kendaraan dengan Emisi Nol Seba-
gian)
P/W Power Window
R&P Rack and Pinion
RAM Random Access Memory (Akses Memori Secara Acak)
R/B Relay Block
RBS Recirculating Ball Type Steering (Steering Tipe Recirculating Ball)
R/F Reinforcement (Penguatan)
01_001-PENDAHULUAN.book Page 42 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN–42 PENDAHULUAN – ISTILAH

Singkatan Arti
RFS Rigid Front Suspension (Suspensi Depan Rigid)
RH Right-Hand (Sebelah Kanan)
RHD Right-Hand Drive (Kemudi Sebelah Kanan)
RLY Relay
ROM Read Only Memory (Memory yang Hanya Bisa Dibaca)
IN RR Belakang
RRS Rigid Rear Suspension (Suspensi Belakang Rigid)
RSE Rear Seat Entertainment
RWD Rear-Wheel Drive (Penggerak Roda Belakang)
SC Supercharger
SCV Swirl Control Valve
SDN Sedan
SEN Sensor
SICS Starting Injection Control System (SistemKontrol Injeksi Starting)
SOC State Of Charge (Peraturan Setempat)
SOHC Single Overhead Camshaft
SPEC Spesifikasi
SPI Single Point Injection (Injeksi Lubang Tunggal))
SRS Supplemental Restraint System
SSM Special Service Materials
SST Special Service Tools
STD Standar
STJ Cold-Start Fuel Injection (Injeksi Bahan Bakar Start Dingin)
SW Switch
SYS Sistem
T/A Transaxle
TACH Tachometer
TBI Throttle Body Electronic Fuel Injection
TC Turbocharger
TCCS TOYOTA Computer-Controlled System
TCV Timing Control Valve
TDC Top Dead Center (Titik Mati Atas)
TEMP. Temperatur
TFT TOYOTA Free-Tronic
TIS Total Information System For Vehicle Development (Sistem Informasi
Total Untuk Pengembangan Kendaraan)
T/M Transmisi
TMC TOYOTA Motor Corporation
TMMIN PT. TOYOTA Motor Manufacturing Indonesia
TMMK TOYOTA Motor Manufacturing Kentucky, Inc.
TMT TOYOTA Motor Thailand Co. Ltd.
TRAC/TRC Traction Control System (Sistem Kontrol Traksi)
TURBO Turbocharge
TWC Three-Way Catalyst (Katalis Tiga Jalur)
U/D Underdrive
U/S Undersize
VCV Vacuum Control Valve (Katup Kontrol Vakum)
VENT Ventilator
VIM Vehicle Interface Module
01_001-PENDAHULUAN.book Page 43 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – ISTILAH IN–43

Singkatan Arti
VGRS Variable Gear Ratio Steering
VIN Nomor Identifikasi Kendaraan
VPS Variable Power Steering
VSC Vehicle Stability Control (Kontrol Stabilitas Kendaraan)
VSV Vacuum Switching Valve (Katup Swiching Vakum)
VTV Vacuum Transmitting Valve (Katup Penerus Vakum)
IN
VVT-i Variable Valve Timing-intelligent
W/ With (Dengan)
WGN Wagon
W/H Wire Harness
W/O Without (Tanpa)
1ST First (Pertama)
2ND (Kedua) Second (Kedua)
2WD Two Wheel Drive Vehicle (4 x 2) (Kendaraan Penggerak Roda Dua)
3RD Third (Ketiga)
4TH (Ke empat) Fourth (Ke empat)
4WD Four Wheel Drive Vehicle (4 x 4) (Kendaraan Penggerak Empat
Roda)
4WS Four Wheel Steering System (Sistem Kemudi Empat Roda)
5TH Fifth (Kelima)

DAFTAR ISTILAH DARI SAE DAN


DAIHATSU
Daftar kata ini adalah untuk seluruh istilah SAE-J1930 dan
singkatan yang digunakan dalam manual ini ditambah den-
gan rekomendasi SAE, maupun daftar kata yang setara den-
gan istilah pada DAIHATSU
SAE ISTILAH DAIHATSU
ISTILAH SAE
SINGKATAN ( )-SINGKATAN
A/C Air Conditioning Air Conditioner
ACL Air Cleaner (Saringan Udara) Air Cleaner, A/CL (Saringan Udara, A/CL)
AIR Secondary Air Injection (Injeksi Udara Sekunder) Air Injection (AI) (Injeksi Udara)
AP Accelerator Pedal (Pedal Akselerator) -
B+ Battery Positive Voltage (Voltase Positif Baterai) +B, Battery Voltage (Voltase Baterai)
BARO Barometric Pressure (Tekanan Baromatik) HAC
CAC Charge Air Cooler (Pendingin Udara Pengisian) Intercooler
CARB Carburetor (Karburator) Carburetor (Karburator)
CFI Continuous Fuel Injection (Injeksi Bahan Bakar Kontinu) -
CKP Crankshaft Position (Posisi Crankshaft) Crank Angle (Sudut Engkol)
CL Closed Loop (Loop Tertutup) Closed Loop (Loop Tertutup)
CMP Camshaft Position (Posisi Camshaft) Cam Angle (Sudut Cam)
CPP Clutch Pedal Position (Posisi Pedal Kopling) -
CTOX Continuous Trap Oxidizer (Perangkap Oksidasi Kontinu) -
CTP Closed Throttle Position (Posisi Throttle Tertutup) LL ON, Idle ON
DFI Direct Fuel Injection (Injeksi Bahan Bakar Langsung) Direct Injection (DI./INJ) (Injeksi Langsung)
DI Distributor Ignition (Pengapian Distributor) -
OBD II Diagnostic Connector (Konektor Diagnosa
DLC3 Data Link Connector 3 (Konektor Penggabung Data 3)
OBD II)
DTC Diagnostic Trouble Code (Kode Diagnosa Masalah) Diagnostic Trouble Code (Kode Diagnosa Masalah)
01_001-PENDAHULUAN.book Page 44 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN–44 PENDAHULUAN – ISTILAH

SAE ISTILAH DAIHATSU


ISTILAH SAE
SINGKATAN ( )-SINGKATAN
DTM Diagnostic Test Mode (Mode Tes Diagnosa) -
ECL Engine Coolant Level (Level Cairan Pendingin Mesin) -
ECM Engine Control Module (Modul Kontrol Mesin) ECU Mesin (Electronic Control Unit)
Engine Coolant Temperature (Temperatur Cairan Pendin- Coolant Temperature, Water Temperature (THW)
IN ECT
gin Mesin) (Temperatur Cairan Pendingin, Temperatur Air)
Electrically Erasable Programmable Read Only
Memory (EEPROM) (Memori Yang Hanya Bisa
Electrically Erasable Programmable Read Only Memory
Dibaca Bisa Diprogram Bisa Dihapus Secara Elek-
EEPROM (Memori Yang Hanya Dapat Dibaca Bisa Diprogram Bisa
trik), Erasable Programmable Read Only Memory
Dihapus Secara Elektrik)
(EPROM) (Memori Yang hanya Bisa Dibaca Bisa
Diprogram Bisa Dihapus)
Early Fuel Evaporation (penguapan Bahan Bakar Lebih Cold Mixture Heater (CMH) (Pemanas Campuran Din-
EFE
Awal) gin), Heat Control Valve (HCV) (Katup Kontrol Panas)
Exhaust Gas Recirculation (EGR) (Sirkulasi Ulang
EGR Exhaust Gas Recirculation (Sirkulasi Ulang Gas Buang)
Gas Buang)
Distributorless Ignition (DLI) (Pengapian Tanpa Distri-
EI Electronic Ignition (Pengapian Elektronik)
butor)
EM Engine Modification (Modifikasi Mesin) Engine Modification (EM) (Modifikasi Mesin)
Erasable Programmable Read Only Memory (Memori Programmable Read Only Memory (PROM) (Memori
EPROM
Yang Hanya Dapat Dibaca Bisa Diprogram Bisa Dihapus) Yang Hanya Dapat Dibaca Bisa Diprogram)
Evaporative Emission Control (EVAP)(Kontrol Emisi
EVAP Evaporative Emission (Emisi Penguapan)
Penguapan)
FC Fan Control (Kontrol Fan) -
Flash Electrically Erasable Programmable Read Only
FEEPROM Memory (Memori Yang Hanya Dapat Dibaca Bisa Dipro- -
gram Bisa Dihapus Secara Elektrik dengan Sekilas)
Flash Erasable Programmable Read Only Memory
FEPROM (Memori Yang Hanya Dapat Dibaca Bisa Diprogram Bisa -
Dihapus dengan Sekilas)
FF Flexible Fuel (Bahan Bakar Fleksibel) -
FP Fuel Pump (Pompa Bahan Bakar) Fuel Pump (Pompa Bahan Bakar)
GEN Generator Alternator
GND Masa Ground (GND) (Masa)
Heated Oxygen Sensor (Sensor Oksigen Yang Dipa-
HO2S Sensor Oksigen yang Dipanaskan
naskan)(HO 2s)
IAC Idle Air Control (Kontrol Udara Idle) Idle Speed Control (ISC) (Kontrol Putaran Idle)
Intake or Inlet Air Temperature (Temperatur Udara
IAT Temperatur Udara Masuk
Masuk atau Intake)
ICM Ignition Control Module (Modul Kontrol Pengapian) -
Indirect Fuel Injection (Injeksi Bahan Bakar Tidak Langs-
IFI Indirect Injection (IDL) (Injeksi Tidak Langsung)
ung)
IFS Inertia Fuel-Shutoff (Pemutus Kelembaman Bahan Bakar) -
ISC Idle Speed Control (Kontrol Putaran Idle) -
KS Sensor Knock Sensor Knock
MAF Mass Airflow (Massa Aliran Udara) Air Flow Meter (Meter/Pengukur Aliran Udara)
Manifold Pressure Intake Vacuum (Vakum Saluran
MAP Manifold Absolute Pressure (Tekanan Absolut Manifold)
Masuk Tekanan Manifold)
Electric Bleed Air Control Valve (EBCV) (Katup Kon-
trol Pembuangan Udara Secara Elektrik)
Mixture Control Valve (MCV) (Katup Kontrol Cam-
MC Mixture Control (Kontrol Campuran)
puran)
Electric Air Control Valve (EACV) (Katup Kontrol
Udara secara Elektrik)
Manifold Differential Pressure (Perbedaan Tekanan Mani-
MDP -
fold)
01_001-PENDAHULUAN.book Page 45 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

PENDAHULUAN – ISTILAH IN–45

SAE ISTILAH DAIHATSU


ISTILAH SAE
SINGKATAN ( )-SINGKATAN
Electronic Fuel Injection (EFI) (Injeksi Bahan Bakar
MFI Multiport Fuel Injection (Injeksi Bahan Bakar Multipoint)
Elektronik)
MIL Malfunction Indicator Light (Lampu Indikator Malfungsi) Check Engine Light (Lampu Engine Check)
Manifold Surface Temperature (Temperatur Permukaan
MST -
Manifold)
IN
MVZ Manifold Vacuum Zone (Zona Vakum Manifold) -
Non-Volatile Random Access Memory (Memory Diakses
NVRAM -
Secara Acak Tidak Berubah)
O2S Oxygen Sensor (Sensor Oksigen) Oxygen Sensor, O (Sensor Oksigen)2 Sensor (O2S)
On-Board Diagnostic System (Sistem Diagnostik di
OBD On-Board Diagnostic (Diagnostik di Tempat)
Tempat)
Oxidation Catalytic Converter (Katalitik Konverter Oksi- Oxidation Catalytic Convert (OC), CCo (Konverter
OC
dasi) Katalis Oksidasi)
OL Open Loop (Loop Terbuka) Open Loop (Loop Terbuka)
Pulsed Secondary Air Injection (Pulsa Injeksi Udara
PAIR Air Suction (AS) (Hisapan Udara)
Sekunder)
Powertrain Control Module (Modul Kontrol Pemindah Ten-
PCM -
aga)
PNP Park/Neutral Position (Posisi Parkir/Netral) -
Programmable Read Only Memory (Memori Yang Hanya
PROM -
Dapat Dibaca Bisa Diprogram)
PSP Power Steering Pressure (Tekanan Power Steering) -
Diesel Particulate Filter (DPF) (Filter Utama Diesel)
PTOX Periodic Trap Oxidizer (Perangkap Oksidasi Periodik) Diesel Particulate Trap (DPT) (Perangkap Utama Die-
sel)
Random Access Memory (RAM) (Akses Memori
RAM Random Access Memory (Akses Memori Secara Acak)
Secara Acak)
RM Relay Module (Modul Relay) -
Read Only Memory (ROM) (Memory yang Hanya Bisa
ROM Read Only Memory (Memory yang Hanya Bisa Dibaca)
Dibaca)
RPM Engine Speed Engine Speed
SC Supercharger Supercharger
SCB Supercharger Bypass (Bypass Supercharger) E-ABV
Electronic Fuel Injection (EFI) (Injeksi Bahan Bakar
Sequential Multiport Fuel Injection (Injeksi Bahan Bakar
SFI Elektronik), Sequential Injection (Injeksi Bahan Beru-
Multiport Berurutan)
rutan)
SPL Smoke Puff Limiter (Pembatas Kepulan Asap) -
SRI Service Reminder Indicator (Indikator Pengingat Servis) -
SRT System Readiness Test (Tes Kesiapan Sistem) -
ST Scan Tool (Alat Scan) -
TB Throttle Body Throttle Body
Throttle Body Fuel Injection (> Throttle Body Injeksi Single Point Injection (Injeksi Lubang Tunggal))
TBI
Bahan Bakar) Central Fuel Injection (Ci) (Injeksi Bahan Bakar Pusat)
TC Turbocharger Turbocharger
TCC Torque Converter Clutch (Kopling Torque Converter) Torque Converter
TCM Transmission Control Module (Modul Kontrol Transmisi) Transmission ECU, ECT ECU
TP Throttle Position (Posisi throttle) Throttle Position (Posisi throttle)
TR Transmission Range (Range Transmisi) -
Bimetallic Vacuum Switching Valve (Katup Swiching
Vakum Bimetalik)
TVV Thermal Vacuum Valve (Katup Vakum Thermal)
Thermostatic Vacuum Switching Valve (TVSV) (Katup
Swiching Vakum Thermostatik)
01_001-PENDAHULUAN.book Page 46 Tuesday, July 18, 2006 1:33 AM

IN–46 PENDAHULUAN – ISTILAH

SAE ISTILAH DAIHATSU


ISTILAH SAE
SINGKATAN ( )-SINGKATAN
Three-Way Catalytic (TWC) (Katalis Tiga Jalur)
Three-Way Catalytic Converter (Konverter Katalitik Tiga
TWC Manifold Converter (Konverter Manifold)
Jalur)
CCRO
Three-Way + Oxidation Catalytic Converter (Tiga Jalur +
TWC+OC CCR + CCo
Konveter Katalitik Oksidasi)
IN VAF Volume Airflow (Volume Aliran Udara) Air Flow Meter (Meter/Pengukur Aliran Udara)
VR Voltage Regulator ( Regulator Voltase) Voltage Regulator ( Regulator Voltase)
VSS Sensor Kecepatan Kendaraan Sensor Kecepatan Kendaraan
WOT Wide Open Throttle (Throttle Terbuka Lebar) Full Throttle (Throttle Membuka Penuh)
Warm Up Oxidation Catalytic Converter (Pemanasan
WU-OC -
Okssidasi Katalitik Konverter Tiga Jalur)
Warm Up Three-Way Catalytic Converter (Pemanasan
WU-TWC -
Katalitik Konveter Tiga Jalur)
3GR Third Gear (Roda Gigi Ketiga) -
4GR Fourth Gear (Roda Gigi Keempat) -