Anda di halaman 1dari 11

UNDANG-UNDANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

Pesatnya perkembangan dalam teknologi komunikasi yang terjadi,

terkhususnya internet menyebabkan kejahatan baru di bidang itu juga muncul,

misalnya kejahatan manipulasi data, spionase, sabotase, provokasi, money

laudering, hacking, pencurian software maupun perusakan hardware dan berbagai

macam lainnya. Dalam dunia cyber sendiri ada hal yang perlu segera mendapat

perhatian dalam masalah penggunaan media internet ini, sebelum lebih jauh

terlanjur menjadi hutan belantara yang tidak bertuan. Sehingga untuk mengatasi

hal tersebut pelu dibuat suatu perundangan yang mengatur agar tidak menjadi

suatu hutan belantara yang tidak bertuan. Dalam prosesnya telah dilihat

banyaknya perdebatan mengenai perlu tidaknya aturan yang khusus mengatur

tentang cybercrime ini.

Presiden mengeluarkan Undang-undang ini untuk kepentingan dan

kesejahteraan rakyat Indonesia dan luar Indonesia. Dalam pasal-pasal yang

menjelaskan memberikan rasa aman dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Semakin berkembangnya kejahatan dalam masyarakat, sehingga hukum tjuga

harus berkembang agar fungsinya sebagai pemberi rasa aman dapat terpenuhi,

dengan adanya Undang-undang ini maka diharapkan masyarakat takut untuk

melakuakan kesalahan, karena dijelaskan pada pada ayat (1), bertanggung jawab

atas segala kerugian dan konsekuensi yang timbul, tetapi dalam Undang-Undang

ITE pihak yang bertanggung jawab atas segala akibat hukum dalam pelaksanaan

Transaksi Elektronik. Menjamin kepastian hukum di bidang informasi dan

transaksi elektronik. Jaminan tersebut penting, mengingat perkembangan


teknologi informasi telah mengakibatkan perubahan-perubahan di bidang

ekonomi dan sosial. Perkembangan teknologi informasi telah memudahkan kita

mencari dan mengakses informasi dalam dan melalui sistem komputer serta

membantu kita untuk menyebarluaskan atau melakukan tukar-menukar informasi

dengan cepat. Jumlah informasi yang tersedia di internet semakin bertambah terus

tidak dipengaruhi oleh perbedaan jarak dan waktu.

Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau yang biasa

disingkat UU ITE merupakan Undang-Undang (UU) yang didalamnya mengatur

segala hal tentang teknologi informasi yang berlaku di Indonesia. UU ini mulai

dirancang pada tahun 2003 oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi

(Kominfo) yang saat itu dijabat oleh Syamsul Mu’arif. Kemudian UU ITE terus

digodog hingga akhirnya lahirlah Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11

Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang diresmikan secara

langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Panjang sekali perjalanan

UU ITE hingga akhirnya dapat bergulir sebagai konstitusi yang mengatur arus

internet yang ada di Indonesia ini.

Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang Undang

nomor 11 tahun 2008 atau UU ITE adalah UU yang mengatur tentang informasi

serta transaksi elektronik, atau teknologi informasi secara umum. UU ini memiliki

yurisdiksi yang berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum

sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, baik yang berada di wilayah

hukum Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat
hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia

dan merugikan kepentingan Indonesia.

Cakupan UU ITE dapat dilihat dari struktur UU ITE, yaitu :

 BAB I : Ketentuan UMUM

 BAB II : Asas dan Tujuan

 BAB III : Informasi, Dokumentasi, dan Tanda Tangan Elektronik

 BAB IV : Penyelenggara Sertifikasi Elektronik dan Sistem Elektronik

 BAB V : Transaksi Elektronik

 BAB VI : Nama Domain, HAKI, dan Perlindungan Hak Pribadi

 BAB VII : Perbuatan Yang Dilarang

 BAB VIII : Penyelesaian Sengketa

 BAB IX : Peran Pemerintah dan Peran Masyarakat

 BAB X : Penyidikan

 BAB XI : Ketentuan Pidana

 BAB XII : Ketentuan Peralihan

 BAB XIII : Ketentuan Penutup

Awal mula dirumuskan undang-undang ini adalah demi menjaga stabilitas

arus internet Indonesia dari hal-hal yang dapat merusak serta melindungi hak-hak

para pengguna Internet. Namun dalam berbagai kajian yang membahas UU ITE

secara mendalam, telah ditemukan beberapa kejanggalan yang ada dalam UU ITE

serta dirasa perlu dilakukan sebuah revisi. Banyak sekali kasus-kasus yang terjadi

akibat imbas dari UU ITE yang banyak dipertanyakan oleh para ahli. Sehingga

akhirnya terjadilah revisi UU ITE pada bulan oktober 2016 dengan terdapat
setidaknya 4 hal yang berubah. Namun dari revisi tersebut pun dirasa para ahli

masih belum dapat menjaga stabilitas internet Indonesia serta perlu diadakan

kajian lebih lanjut. Oleh karena itu sebagai rakyat Indonesia hendaknya ikut aktif

mengawal jalannya konstitusi yang ada ini sehingga tidak terjadi yang namanya

kesewenang-wenangan dari para pemangku jabatan.

UU ITE mulai dirancang pada bulan maret 2003 oleh kementerian Negara

komunikasi dan informasi (Kominfo), pada mulanya RUU ITE diberi nama

Undang-Undang Informasi Komunikasi Dan Transaksi Elektronik oleh

Departemen Perhubungan, Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan,

serta bekerja sama dengan Tim dari universitas yang ada di Indonesia yaitu

Universitas Padjajaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan

Universitas Indonesia (UI). Pada tanggal 5 september 2005 secara resmi Presiden

Susilo Bamgbang Yudhoyono menyampaikan RUU ITE kepada DPR melalui

surat No.R/70/Pres/9/2005. Dan menunjuk Dr.Sofyan A Djalil (Menteri

Komunikasi dan Informatika) dan Mohammad Andi Mattalata (Menteri Hukum

dan Hak Asasi Manusia) sebagai wakil pemerintah dalam pembahasan bersama

dengan DPR RI. Dalam rangka pembahasan RUU ITE Departerment Komunikasi

dan Informasi membentuk Tim Antar Departemen (TAD). Melalui Keputusan

Menteri Komunikasi dan Informatika No. 83/KEP/M.KOMINFO/10/2005 tanggal

24 Oktober 2005 yang kemudian disempurnakan dengan Keputusan Menteri No.:

10/KEP/M.Kominfo/01/2007 tanggal 23 Januari 2007. Bank Indonesia masuk

dalam Tim Antar Departemen (TAD) sebagai Pengarah (Gubernur Bank

Indonesia), Nara Sumber (Deputi Gubernur yang membidangi Sistem


Pembayaran), sekaligus merangkap sebagai anggota bersama-sama dengan

instansi/departemen terkait. Tugas Tim Antar Departemen antara lain adalah

menyiapkan bahan, referensi, dan tanggapan dalam pelaksanaan pembahasan

RUU ITE, dan mengikuti pembahasan RUU ITE di DPR RI. Dewan Perwakilam

Rakyat (DPR) merespon surat Presiden No.R/70/Pres/9/2005. Dan membentuk

Panitia Khusus (Pansus) RUU ITE yang beranggotakan 50 orang dari 10

(sepuluh) Fraksi di DPR RI.

Dalam rangka menyusun Daftar Inventaris Masalah (DIM) atas draft RUU

ITE yang disampaikan Pemerintah tersebut, Pansus RUU ITE menyelenggarakan

13 kali Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan berbagai pihak, antara lain

perbankan,Lembaga Sandi Negara, operator telekomunikasi,aparat penegak

hukum dan kalangan akademisi.Akhirnya pada bulan Desember 2006 Pansus DPR

RI menetapkan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) sebanyak 287 DIM RUU ITE

yang berasal dari 10 Fraksi yang tergabung dalam Pansus RUU ITE DPR RI.

Tanggal 24 Januari 2007 sampai dengan 6 Juni 2007 pansus DPR RI dengan

pemerintah yang diwakili oleh Dr.Sofyan A Djalil (Menteri Komunikasi dan

Informatika) dan Mohammad Andi Mattalata (Menteri Hukum dan Hak Asasi

Manusia) membahas DIM RUU ITE.Tanggal 29 Juni 2007 sampai dengan 31

Januari 2008 pembahasan RUU ITE dalam tahapan pembentukan dunia kerja

(panja). Sedangkan pembahasan RUU ITE tahap Tim Perumus (Timus) dan Tim

Sinkronisasi (Timsin) yang berlangsung sejak tanggal 13 Februari 2008 sampai

dengan 13 Maret 2008. 18 Maret 2008 merupakan naskah akhir UU ITE dibawa

ke tingkat II sebagai pengambilan keputusan.25 Maret 2008, 10 Fraksi menyetujui


RUU ITE ditetapkan menjadi Undang-Undang. Selanjutnya Presiden Susilo

Bambang Yudhoyono menandatangani naskah UU ITE menjadi Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi

Elektronik, dan dimuat dalam Lembaran Negara Nomor 58 Tahun 2008. UU ITE

atau Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik akhirnya resmi

dilakukan revisi pada tanggal 27 oktober 2016 serta langsung berlaku 30 hari

setelah kesepakatan tersebut, yaitu pada tanggal 28 November 2016. Hal ini

sendiri disebabkan karena seluruh fraksi di Komisi I DPR telah menyatakan

persetujuannya untuk membahas revisi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008

tersebut. Dari persetujuan ini nantinya DPR akan membentuk Panitia Kerja untuk

membahas secara rinci isi revisi tersebut.

Secara umum, materi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik

(UU ITE) dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu pengaturan mengenai informasi

dan transaksi elektronik dan pengaturan mengenai perbuatan yang dilarang.

Pengaturan mengenai informasi dan transaksi elektronik mengacu pada beberapa

instrumen internasional, seperti UNCITRAL Model Law on eCommerce dan

UNCITRAL Model Law on eSignature. Bagian ini dimaksudkan untuk

mengakomodir kebutuhan para pelaku bisnis di internet dan masyarakat umumnya

guna mendapatkan kepastian hukum dalam melakukan transaksi elektronik.

Berikut beberapa materi yang diatur, antara lain:

1. Pengakuan informasi/dokumen elektronik sebagai alat bukti hukum yang

sah (Pasal 5 dan Pasal 6 UU ITE);

2. Tanda tangan elektronik (Pasal 11 dan Pasal 12 UU ITE);


3. Penyelenggaraan sertifikasi elektronik (certification authority, Pasal 13

dan Pasal 14 UU ITE); dan

4. Penyelenggaraan sistem elektronik (Pasal 15 dan Pasal 16 UU ITE)

5. Perbuatan yang dilarang (cybercrimes). Beberapa cybercrimes yang diatur

dalam UU ITE, antara lain:

a. Konten ilegal, yang terdiri dari, antara lain: kesusilaan, perjudian,

penghinaan/pencemaran nama baik, pengancaman dan pemerasan

(Pasal 27, Pasal 28, dan Pasal 29 UU ITE);

b. Akses ilegal (Pasal 30);

c. Intersepsi ilegal (Pasal 31);

d. Gangguan terhadap data (data interference, Pasal 32 UU ITE);

e. Gangguan terhadap sistem (system interference, Pasal 33 UU ITE);

f. Penyalahgunaan alat dan perangkat (misuse of device, Pasal 34 UU

ITE)

Penyusunan materi UU ITE tidak terlepas dari dua naskah akademis yang

disusun oleh dua institusi pendidikan yakni Universitas Padjadjaran (Unpad)

dan Universitas Indonesia (UI). Tim Unpad ditunjuk oleh Departemen

Komunikasi dan Informasi sedangkan Tim UI oleh Departemen Perindustrian dan

Perdagangan. Pada penyusunannya, Tim Unpad bekerjasama dengan para pakar

di Institut Teknologi Bandung yang kemudian menamai naskah akademisnya

dengan RUU Pemanfaatan Teknologi Informasi (RUU PTI). Sedangkan tim UI

menamai naskah akademisnya dengan RUU Informasi Elektronik dan Transaksi

Elektronik. Kedua naskah akademis tersebut pada akhirnya digabung dan


disesuaikan kembali oleh tim yang dipimpin Prof. Ahmad M Ramli SH (atas

nama pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono), sehingga namanya menjadi

Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana disahkan oleh

DPR di tahun 2008.

Seiring dengan berjalannya waktu banyak sekali kasus-kasus yang terjadi

akibat imbas UU ITE yang dirasa para ahli perlu banyak perbaikan. Sehingga

akhirnya pada tanggal 27 Oktober 2016 yang lalu, pemerintah dan Dewan

Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyepakati revisi terhadap Undang-Undang

Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Revisi tersebut pun langsung berlaku tiga puluh hari setelah kesepakatan tersebut,

yaitu pada tanggal 28 November 2016 kemari. Setidaknya ada 4 perubahan yang

terjadi pada revisi UU ITE kali ini, yaitu :

1. Penambahan pasal hak untuk dilupakan, yakni pasal 26. Pasal itu

menjelaskan seseorang boleh mengajukan penghapusan berita terkait

dirinya pada masa lalu yang sudah selesai, namun diangkat kembali. Salah

satunya seorang tersangka yang terbukti tidak bersalah di pengadilan,

maka dia berhak mengajukan ke pengadilan agar pemberitaan tersangka

dirinya agar dihapus.

2. Durasi hukuman penjara terkait pencemaran nama baik, penghinaan dan

sebagainya dikurangi menjadi di bawah lima tahun. Dengan demikian,

berdasarkan Pasal 21 KUHAP, tersangka selama masa penyidikan tak

boleh ditahan karena hanya disangka melakukan tindak pidana ringan

yang ancaman hukumannya penjara di bawah lima tahun.


3. Tafsir atas Pasal 5 terkait dokumen elektronik sebagai bukti hukum yang

sah di pengadilan. UU ITE yang baru mengikuti putusan Mahkamah

Konstitusi yang menyatakan dokumen elektronik yang diperoleh melalui

penyadapan (intersepsi) tanpa seizin pengadilan tidak sah sebagai bukti.

4. Penambahan ayat baru dalam Pasal 40. Pada ayat tersebut, pemerintah

berhak menghapus dokumen elektronik yang terbukti menyebarkan

informasi yang melanggar undang-undang. Informasi yang dimaksud

terkait pornografi, SARA, terorisme, pencemaran nama baik, dan lainnya.

Jika situs yang menyediakan informasi melanggar undang-undang

merupakan perusahaan media, maka akan mengikuti mekanisme di Dewan

Pers. Namun, bila situs yang menyediakan informasi tersebut tak berbadan

hukum dan tak terdaftar sebagai perusahaan media (nonpers), pemerintah

dapat langsung memblokirnya.

KASUS

NUR CAHAYA Binti ABDUL HAMID telah terbukti bersalah melakukan

tindak pidana "Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan

berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam

Transaksi Elektronik" sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 45 A

ayat (1) UU RI NO 19 TAHUN 2016 tentang perubahan atas UU RI NOMOR 11

TAHUN 2008 tentang informasi dan Transaksi Elektronik jo. Pasal 28 ayat 1 UU

RI NOMOR 11 TAHUN 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Nur Cahaya Binti Abdul Hamid

dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun; Menetapkan masa penangkapan dan
penahanan yang telah dijalani oleh Terdakwa, dikurangkan seluruhnya dari pidana

yang dijatuhkan; Menetapkan Terdakwa tetap ditahan; Menyatakan barang bukti

berupa : 1 (satu) lembar Kwitansi tertanggal 06 Mei 2018 untuk pembayaran

arisan sebesar Rp. 4.000.000,- (empat juta rupiah) dari ARIYANTI kepada NUR

CAHAYA; 1 (satu) lembar kwitansi tertanggal 06 Mei 2018 untuk pembayaran

arisan sebesar Rp. 6000.000,- (enam juta rupiah) dari ARIYANTI kepada NR

CAHAYA.;

Melalui akun Facebook miliknya dengan nama akun NUR CAHAYA pada

sekitar bulan Desember 2017 mengajak teman- teman yang ada di akun facebook

milik Terdakwa untuk ikut bergabung arisan Online dengan prosedur/mekanisme

para anggota arisan menyetor sejumlah uang kepada Terdakwa dan nantinya akan

mendapatkan keuntungan sebesar 50% (lima puluh persen) s.d. 100%(seratus

persen) dari jumlah uang yang disetorkannya dan keuntungan tersebut didapat

dikarenakan uang tersebut akan Terdakwa kelola di Koperasi yang ada di Jakarta

dan untuk para anggota arisan akan mendapatkan arisan tersebut secara

bergantian.

Setelah mendapat banyak peserta arisan online termasuk diantaranya Saksi

Meika Rosita, Desi Marlina, Ariyanti yang ikut arisan online Terdakwa

selanjutnya Terdakwa membuka arisan online tersebut dari bulan maret 2018

sampai dengan bulan mei 2018, Saksi korban Ariyanti mengikuti arisan online

karena tertarik dengan keuntungan yang di status akun Facebook milik Terdakwa

lalu ikut arisan online Terdakwa Nur Cahaya dan telah menyetorkan uang dengan

total Rp. 16.300.000,- dan Saksi korban Ariyanti baru mendapatkan arisan dengan
total sebesar Rp. 7.200.000,- sehingga Saksi korban Ariyanti berusaha menagih

kepada Terdakwa uang arisan yang didapat sejumlah Rp. 9.100.000, (sembilan

juta seratus ribu rupiah) tetapi belum dibayar Terdakwa kemudian Saksi Ariyanti .

melaporkan kepada pihak POLRESTA Jambi, setelah dilaporkan Terdakwa

memberikan uang sejumlah Rp. 4.000.000,- (empat juta rupiah) untuk membayar

kekurangan dari arisan yang didapat Saksi korban Ariyanti. Perbuatan tersebut

mengakibatkan Saksi korban Ariyanti mengalami kerugian Rp. 5.100.000,- (lima

juta seratus ribu rupiah).