Anda di halaman 1dari 101

EilsTEMoLoGr

A nAD Pii RTENGAHAN


.s.;'::
-;-{hn..
]t'"
,
#\( 1i
EplsTEtr,toLoGr

KALAM
Annn PEnTENGAHAN

Wardani
Pengontor:
Prof, Dn H. Machasin, M.A.
LKiS
PENGANTAR REDAKSI

EPISTEMOLOGI KALAM ABAD PERTENGAHAN Mu'tazilah sebagai sebuah aliran teologi rasionalis sempat
Wardani mengalami kejayaan pada masa Dinasti Abbasiyah, khususnya
o Wardani pada era pemerintahan Harun ar-Ra syrd (766 809 M.), dan men-
-
capai puncaknya pada era pemerintahan al-Makmun (813-833
xviii + 180 halaman; 74,5 xTl cm
Islam
1. Teologi
M.)-di mana faham Mu'tazilah sempat menjadi ideologi resmi
negara. Tetapi, pada era al-Mutawakkil
ISBN: 979-9492-85-8 - sebagai pengganti dari
khdifah al-Ma'mun-Mu'tazitah tidak lagi mendapat bmpat da-
Editor: AhmadSahidah lam pemerintahan karena statusnya sebagai ideologi negara akhir-
Rancang samPul Nuruddin
nya dihapus (856 M.). Pada saatitulah popularitas Mtltazilah mulai
Seting/LaYouf: Santo
meredup dan bahkan tenggelam setelah digeser oleh ideologi
Penerbit: tradisionalis Sunni. Kelompok Sunni yang sebelumnya (selama
LKiS YogYakarta era Harun ar-Rasyid dan al-Ma'mun) merasa dikebiri dan dipe-
Salakan Iiaru No. 1 Sewon Bantul cundangi, akhimya melakukan serangan balik dengan berusaha
Jl. Parangtritis Km. 4,4 Yogyakarta
Telp. / Faks. (o27 4) 419924
menggusur dan menyingkirkan kelompok Mu'tazilah.
e-mail: elkis@indosat.net-id Era Dinasti Buwaih pada abad ke-4 H. merupakan era di
m€ula kelompok Mu'tazilah berusaha bangkit kembali, dan men-
Cetakan I: Februari 2003
coba menepis tuduhan-tuduhan miring yang dilontarkan kelom-
pok Sururi kepadanya dengan menyusnn argumen-argumen rasio-
Percetakan dan Distribusi: nal. Benturan pemikiran dan kebgangan teologis (kakm) antara
LKiS YogYakarta
kedua kelompok tersebut terus berlanjut, dan bahkan menyeret
Salakan Baru No. 1 Sewon Bantul
Jl. Parangtritis Km. 4,4
Yogyakarta pada persoalan politik. Masing-masing kelompok berusaha men-
Telp. / Faks. (027 4) 419924 dekat pada kekuasaan untuk mendapatkan legitimasi-nya-di
e-mail: elkis@indosat.net'id samping juga untuk menyebarkan paham teologinya.
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Pengantar Redaksi

Al-Qadhi'Abd al-JabbAr merupakan tokoh Mu'tazilah gene- Hadirnya buku ini diharapkan bisa menjadi teman dialog
rasi kedua yang hidup pada era Dinasti Buwaih' Dalam hidup- yang baik bagi para pembaca. Jika sebelumnya kami telah mener-
nya, ia banyak terlibat dalam berbagai perdebatary baik antar- bitkan buku yang juga mengkaji tokoh'Abd al-Jabber, (Al-Q6.dhi
' Abd al-l abbdr, Mutasyabbih Al-Qur' an: D alih Rnsiotnlitas AI-Qur' an,
,"ru-u tokoh Mu'tazilah (antara kelompok Mu'tazilah cabang
Bashrah dan Mu'tazilah cabang Baghdad) mauPun perdebatan karya Prof. Dr. Machasin), maka kehadiran buku ini adalah se-
dengan kelompok di luar Mtrltazilah.'Abd al-Jabbar berusaha mem- bagai kelanjutan dan sekaligus pembanding bagi buku-buku yang
ban!-un struktur pemikiran rasional kal6m. Meskipun Mu'tazilah telah terbit sebelumnya.
dikenal sebagai tokoh rasionalis yang lebih mengedepankan rasio
('aqt) daripada teks (wahyu) dalam mencari kebenaran, namun
Abd al-Jabbar bukanlah "rasionalis mumi" yang hanya meng-
andalkan rasio dan mengesampingkan wahyu'
Buku ini adalah suatu kajian terhadap epistemologiknl6m
abad pertengaha+ khususnya epistemolo $kalfun-ny a'Abd al-Jabbdr.
Kajian ini, tentu saja berbeda denganbanyak kajian lainnyayang
r"ti"g kali lebih terfokus pada pembahasan tmtang tasio (aqt) darr
persoalan kebebasan manusia dalam Islam. Dalam buku ini, pe-
u"*ruh" mengelaborasi dan melakukan kuji* kritis terha-
""ri"
dap epistemolo$kalilm'Abd al-Jabbar sekaligus konsep etikanya.
'Abd al-jabbAr, yang berangkat dari kerangka teologis, men-
definisikan pengetahuan (ilm, ma'rifah) sebagai suatu keyakinan
(conaiction)yang diverifikasi dengan dua standar: korespondensi
i, al6 mi huaiih)dan
afektivitas psikis (sukfin an-nnfs). Kedua standar
iersebut, dalam perspektif epistemologis, lebih dikenal sebagai
unsur objektivitis ilmu pengetahuan yang terkait dengan fakta,
baik fakta empiris-sensual maupun akal budi rasional. Interko-
neksitas keduanya menunjukkan bahwa pengetahuan, menurut
,Abd al-|abbar, dibangun atas dasar tolak ukur kebenaran kores-
pondensi dan koherensi. Oleh karena itu, epistemologi'Abd al-
jabbar pada substansinya merupakan kritik atas realisme model
Abu al-basim al-Balkhi dan beberapa tokoh Asy'ariyatu semisal
al-Juwaini yang menganggap ilmu sebagai fakta-fakta an sich,
dan juga kritik itas pemikiran epistemologi model Abu al-Huzail
al-'Allaf tentang ilmu sebagai keyakinan subjektif mumi'
MENILAI KEMBALI SIKAP
TERHADAP WARISAN SEJARAH
Oleh Prof. Dr. H. Machasiry M.A.
Dosen Program Pascasarjana
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tidak dapat diingkari bahwa manusia dibentuk oleh seja-


rah bangsanya dan menanggung beban-bebannya, di samping
menikmati nasib baik". Kata "bangsa" ini dapat diperluas mak-
nanya sehingga mencakup pengertian keluarga suku, agama, dan
hal-hal lain yang memberikan pengertian kelompok manusia.
Kadang-kadang pewarisan dan penerimaan peninggalan kelom-
pok kepada anggota-anggotanya ini berlangsung sangat panjang,
melewati waktu berabad-abad. Demikianlah terasakan bahwa
kebencian kaum Atrlussunnah kepada kaum Mu'tazilah yang ber-
asal dari pertikaian pada awal abad ke-3 Fhjriah/ paruh pertama
abad ke-9 Masehi belum mudah untuk dilupakan pada abad
ke-21 ini. Dalam banyak hal, sebenamya sikap seperti ini merugi-
kan karena banyak dari apa yang dihasilkan oleh usaha manusia
muslim pada masa lalu tidak lagi dapat diketahui dan selanjut-
nya dimanfaatkan untuk perenc.rnaan kehidupan masa depan.
Buku yang ada di tangan pembaca ini merupakan kelanjutan
dari usaha-usaha yang selama ini telah dilakukan untuk mem-
buka kembali khazanah masa lampalryan& karena sikap yang
disebutkan di atas, telah terkubur dalam lamunan kealpaan.
Penulis buku ini mengajak pembacanya untuk melihat bahwa
Menilai Kembali Sikapterhadap Warisan Selarah xl
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan

Demikian pula pembicaraan mengenai subjek pengetahuan


dalam kerja tokoh kebangkitan kedua kaum Mu'tazilah pembi-
dan " ala(' yang dipergunakannya dalam aktivitas pengetahuan
c.rraan mengenai keabsahan pengetahuan manusia mengenai hal-
serta untuk apa ia mengetahui. Selain itu,latar belakang teologis
hal yang diyakini, dilakukan dengan sangat intensif. 'Abd al-
dari pembicaraan'Abd al-JabbAr mengenai pengetahuan itu dan
Jabbdr, seorang tokoh Mu'tazilah yang bermadzhab Syafi'i tokoh-tokoh sezaman y.rng berbicara mengenai topik yang sarna,
sebagaimana para tokoh Mu'tazilah yang lain, berusaha dengan
sedikit banyak dibicarakan dalam buku ini.
sangat keras unfuk menerangkan bahwa pengetahuan manusia
mengenai hal-hal yang gaib adalah sangat mungkin, melalui se- Yang menjadi persoalan bagi orang modern sekarang ada-
buah analogi antara yang gaib itu dengan yang hadir di hadap lah apakah pemaparan yang dibuat pada abad ke-12 Masehi itu
annya. masih relevan. Apakah syarat-syarat validitas pengetahuan yang
dibuat'Abd al-Jabbdr itu memenuhi persyaratan validitas pe-
Tentu saja kehadiran'Abd al-Jabbdr sebagai pemikir ber-
ngetahuan zaman ini? Kalau jawabannya ya, apakah itu dapat
madzhab Syafi'i akan diterima dengan ramah di Indonesia,
disumbangkan sebagai suatu pemikiran Islam, tentunya dengan
namun pemikir art knliltn-nya yang berkecenderungan Mu' tazilah
menghilangkan sikap kebencian terhadap kemu'tazilahan pe-
akan menimbulkan resistensi dari sebagian besar umat Islam
miliknya? Kalau tidak, pelajaran apa yang didapat daripada-
yang menganut paham Asy'ariyah dan Maturidiyah. Meskipun
nya?
tidak sekeras yang dialami oleh penolakan umatlslam terhadap
pemikiran Mu'tazilah Dr. Harun Nasutiory yang mengusung Akhimya, selamat rnenjelajahi khazanah pemikiran Islam
pemikiran ini ke dalam wacana keislaman di tanah air beberapa abad tengah yang kaya dengan percobaan-percobaan untuk
tahun yang lalu. Namun, kontroversi semacam ini akan kembali memperkuat dasar-dasar keimanan dan selanjutanya mengam-
menempatkan persoalan teologi pada diskursus yang diperde- bil bagian-bagian yang dapat dipakai untuk merekayasa masa
batkan, bukan disucikan. depan yang lebih baik. Kebijaksanaan adalah milik yang hil*g
dari orang beriman. Karenanya, di mana pun ia temukan, ia
Sudah barang tentu bahwa untuk menjelaskan itu semua
akan mengambitrya kembali. Apalagi kalau kebijaksanaan itu
diperlukan perbincangan mengenai hakikat pengetahuan, asal-
di temukan pada orang beriman juga.
muasalnya, dan cara kerjanya. Penting diingat di sini bahwa
kata ilmu yang dipergunakan oleh'Abd al-Jabbdr kemungkinan
berbeda dengan pengertian ilmu yang dipergunakan dalam
Yogyakarta, 2'1, Maret 2002
bahasa Indonesia sekarang. Suy*g hal ini belum cukup dibicara-
kan dalam buku ini, namun kiranya perlu diingat bahwa ada
perbedaan itu. Meskipun demikian, sebenarnya tidak terlalu
sukar bagi pembaca untuk menangkap dari buku ini bahw ayilrg
dimaksud dengan ilmu oleh'Abd al-Jabbdr bukantah sekum-
pulan teori mengenai objek tertentu yang tersusun secara siste-
matis, melainkan keyakinan mengenai suatu objek yang me-
muaskan jiwa pemiliknya. Yang terakhir ini dibicarakan dengan
cukup jelas dalam buku ini.
PENGANTAR PENULIS

Alhamdulillah, penulis panjatkan kepada Allah SWT., katena


tesisini selesai sesuai dengan target waktu yang telah ditentu-
kan. Sebagai suatu kajian filsafat melalui karya teologi Islam
berbahasa klasik, kendala dan tantangan yang dihadapi cukup
banyak. Tidak hanya basis pengetahuan filsafat, khususnya epis-
temolo$i sebagai salah satu cabang filsafat ilmrl tetapi kemampuan
dalam memahami style bahasa Arab klasik adalah suatu hal yang
niscaya. Kesulitan tersebut diperumit dengan penggunaan term-
term telcris knl6rn' AH.al-JabbAr sendiri. Meskipun demikian, ken-
dala dan tantangan tersebut, akhimya dapat ditundukkan di bawah
kesungguhan, doa, dan bimbingan. Oleh karena itu, dalam ke-
sempatan ini, dengan rasa tulus penulis menyamPaikan terima
kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada nama-
nama berikut:
Pertama,ucapan terima kasih saya sampaikankepada Bapak
Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah, baik dalam kapasitasnya sebagai
dosen Pascasarjana, terutama di konsentrasi filsafat Islam, seba-
gai ketua program studi Agama dan Filsafat, nurupun sebagai $.
Direktur Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga. Seminar-seminar
kelas bersama beliau, terutama pada mata kuliah filsafat Islam,
telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi penulis
tesis ini, khususnya perkenalan dengan epistemolo$bayhni, burhini,
dan 'irf6ni yang ditawarkan al-Jdbiri.
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan

Bapak Dr. H. Machasin, M.A., yang dalam posisi gandanya,


sebagai dosen Pascasarjana dalam mata kuliah ilmtKahmyang
banyak membekati penulis dengan pengetahuan tentang karakter
metode kal6m l,rJasik, penasihat akademik, dan sekaligus Pem-
bimbing tesis, blah banyak memberikan sumbangan yang sangat DAFTAR ISI
berarti bagi penulis tesis dan penyelesaian studi. Beliau juga
berkenan meminjamkan kepada penulis beberapa koleksi langka
karya'Abd al-Jabbdr.
Kepada semua rekan di konsentrasi filsafat Islam melalui
diskusi-diskusi nonformal bersama mereka dan rekan-rekan serta
bapak-bapak asal lGlimantan Selatan yang memberikan bantuan
moral dan materiil, juga disampaikan terima kasih. Ucapan teri- Pengantar Redaksi ) v
ma kasih secara khusus saya sampaikan kepada Bapak Prof. Dr.
Pengantar:
H. M. Zurkani |ahia di Banjarmasin yang telah banyak memberi-
Prof. DR. H. Machasin, M.A. > ix
kan banfuan finansial dan dorongan moral untuk penyelesaian
studi ini. Penganlar Penulis ) xiii
I-astbut notleast,ayah dan ibu, Anwar dan Airmas, dengan Daftar Isi ) xv
segala doa merekayanghrlus di sepanjang malam, selalu menjadi
sumber kekuatan penulis untuk menyelesaikan studi. Tentu saja, PENDAHULUAN > 1
saya juga tidak melupakan kesediaan LKiS untuk menerbitkan
tesis ini menjadi buku yang bisa diapresiasi peminat keilmuan BAB I: 'ABD AL-JABBAR DAN KONDISI PEMIKIRAT{
keislaman kritis. EPISTEMOLOGI DALAM ISLAM > 19
JogSa,26 Agustus 2002 A.'Abd al-Jabbdr: Biografi dan Karya ) 19
1. Biografi ) L9
Wardani
2. Karya-karya ) 23
B. Konteks Sosio.Historis dan Kultural ) 28

C. Peta Perkembangan Pemikiran Epistemologi


dalam Islam ) 34
D. Epistemologi dalam Wacana Kal6m: Keterkaitan
Ilmu, Keyakinan, dan Kebebasan ) 39
1. Fase Murji'ah ) 41
2. Fase Mu'tazllahl 42
3. Fase Kultdbiyyah dan Asy'ariyyah ) 46
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Daflar lsi xvil
xvt

BAB II: KONSTRUKSI PEMIKIRAN EPISTEMOLOGI C. Etika dalam Konteks Humanisme: Relevansi Etika
'ABD AI-JABBAR > 49 'Abd al-JabbAr Bagi Pengembangan Epistemologi
Moral > 1.M
A. Pengertian Pengetahuan ) 49
1. Definisi dan Problematika Terminologis I 49 PENUTUP > 155
2. Mn'nA Sebagai Substansi Pengetahuan ) 54
DAFIAR PUSTAKA >
3. lnterrelasi Pengetahuan dan Keyakinan ) 58
76'1.

INDEKS > 772


B. Tolak-ukur Kebenaran (Validitas): Antara
O$ektivitas dan Subjektivitas I 67 DAFTAR RIWAYAT HIDTIP > 180
1. Unsur Koresponde nsi ( al6 md luwa bih) *bagar
Kriteria "Objektif ' > 68
2. Unsur Afektivitas (sulcfin an-nafs) Sebagai
Kriteria "subiektif ' > 74
C. Sumber-sumber Pengetahuan )
80
1. KonseP'Aql'180
2. Pengetahuan Dunia Ekstemal 88)
3. Otoritas Khabar > 92'
4. Wahyu dan floblerrntika Pengetahuan hhdtif > %
D. Klasifikasi Pengetahuan ) 100
1. Titik-tolak Sebagai Dasar Klasifikasi > 100
2 KlasifikasiPengetahuan: Dharfut danMitusbD \m
E. Bagunan Metode-metode "Keilmuan": Rasional-
EmPirik > 108
1. Prinsipprinsip Dasar Metodologis > 108
2. Metode Nalar Rasional > 111
3. Metode Pengamatan EmPiris > 720
F. Kritik terhadap Skeptisisme > 122

BAB III: IMPLIKASI PEMIKIRAN EPISTEMOLOGI


,ABD ALJABBAR TERHADAP PEMIKIRAN
ETIKANIYA > 129
A. Etika "Kritis": Sintesis Antara Esensialisme dan
Realisme > 129
B. Dimensi Objektif dan Subjektif dalam Etika ) 132
PENDAHULUAN

Paruh kedua abad ke-19 merupakan kurun


waktu di mana
kalangan intelektual Eropa dalam kajian
{initls
kiran Mu'tazilah semakin *"r,g,rut Heinrich
tentanfpemi
Steiner dari Zun.ch,
misalnya, pada suatu penerbitan karya_karya
tentang Mu,tazilah
menyebuttokoh teologi ini sebagai tn"yrZr_ti*n
lidr 19!5:
Islam.l Hal ini disebabkan karenl dalam
rf
p"or", Lhborasi per_
tama disiplin kalilm,yang oleh William
Montgomery Watt dalam
lslamic.Philosophy and Theology: An
Extenied Suraey, disebut
sebagai "gelombang pertama Hellenisme,,
nism), adalah Mu'tazilah yang paling frst (the ri", _

intens dalam "jUrtt


pror",
hansmisi keilmuwan yunani rc aaam-aiskusi
doktrin irtu*.,
oleh karena itu, Josef van Ess daram Logtc in
the crassical Isramic
tyr-1f mis alnya, membantah ke simpul an pengama
l:^u.I
'Abdullathif ta.,
al-Baghdddi ilmuwan musfiL y*j
rnasa-masa awal Dinasti Ayyubiyah f"a"
(w. 629/ f i3t l.,gz))aJ*u
^ialrf
lidak ada di antara fuqaha yang."irp tertarik
dengan logika,
Dikutip dari wiiliam Monbomeryrvatt,
tsranic phitosophy and Theotogy. An Extended
(Edinburgh: Edinbuqh Univeaity pess,
1992),htm. i6: '
'- su'ey,
tNd.

JosefvanEss,'TheLogical structureofrsramicTheorogy',daramrssaJ.
togyof IslanicStudies,(tr4,onfeal:McGiil-tnOonesA Bouilail(ed.),AnAntho_
fnffl6iuedpientprojecd 1992), htm.21. Tutban
ini sebenamya merupakan sarah satu
bagian yang oit roit.l ,Lng dari karyanya, .Logic in the
Clasical lslamic Culture' te6ebut.
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Pendahuluan

al-Miwardi (w. 450/1058), penulis al-AWfun as-Sulthiniy- secara sistematis dan filosofis persoalan-persoalan sepefii being
dengan
Al4hazali,4 misalnya' &alam Al-Qisthhs and reality (al-wuj,frd wa al-foqtqah; beinf dan kenyataan), seperti
y ah,"sebagupengecualian
pada AbtHasyim dan'Abd al-]abbAr (keduanya Mu'tazili) serta
tuttofr*- di al-Mttshtasyf1berupaya meyakinkan bahwa silo-
"ot-t
Al-Qur'an un- Ibn Taymiyyah (Salafi), kausalitas (as-sabab wa al-musabbab),
glsme model Aristotelian memilikibasis normatif
seperti pada al-GhazAli, Ibn Rusyd, dan'Abd al-Jabbdr, materi
t* p".y*pulan hukum, meskipun van Ess, akhirnya' berkesim- dan bentuk (matter andform; al-middahwa ash-shfrrah), substansi
pola. Uut*u pada praktiknya, tokoh-tokoh seperti al-]uwayni'
kembali (al-jawhnr), aksiden (al-'arailh), atom (jawhar fard),t bori kebrsem-
i-Baydhawi, fulf"tt ua-Oin ar-Rdzi, dan al-iji sebenamya
pa- bunyian dan lompatan (al-lamttnwa ath-thafraft), seperti pada an-
menerapkan logika kaum Stoa's Akan tetapi, bahwa elaborasi
ling jelas dalaniharmonisasi rasionalitas pemikiran Y"iT !"8r
Nazhzhdm dan Mu'ammar,lo dan sebagainya. Untuk model lite-
ratw kaldm klasik yang sarat dengan bahasan filsafat, al-Jdbiri
p"il"tutut -penjelasan doktrin agama, seperti juga diaerdebatkan
menyebut at-Mnwdqif f 'lt* al-Kal6m-nya 'Adhud ad-Din al-iji
iutu- diskusi antara AbO Bisyr MattA (870-940 M)' seorang fie-
nerjemahbuku-bukufitsafat,danAbOsa'idas-Sirafr(893-979
(1291,
-7355) -untuk sekadar contoh- sebagai karya ensiklope-
dis masalah-masalah kalilrn dan filsafat.1l
M)ientang logika danbahasa,6 dalam teologi Mu'tazilah adalah
faita nistorit y*g hampir-untuk tidak mengatakan sama se- Terjadinya inbraksi filsafat dan doktrin, sebagaimana diurai-
kali-tak terbantah. kan di atas, berkaitan dengan rasionalisme teologi (theological
rationalism) yang kebangkitannya diawali dengan kemunculan
IGrena persentuhannya dengan arus pemikirurr ryuf Yrr1n-
Mu'tazilah sebagai aliran lal6m (skoLastisisme Islam) rasional di
dan keinginan para teologislam untuk mempertahankT-1tk}h
literatur-litetatw kal6mwa- pertengahan abad ke-8 M.12 Kecuafi faktor religio-politis, penga-
atas dasa-r logika rasional tersebu!
ruh Yahudi dan Kristerv serta pemikiran Yunani juga menjadi
sik_ dalam Grangka apologi-dialektis - secara tak terhindarkan
daya yang mendorong terjadinya akselerasi proses kemunculan-
juga memp"rrouliut isu-iru filsafat' Isu-isu tersebut dari segi
hanya diletakkan dalam bahasan dialektis nya. Menurut Majid Fat hry dalam A Hi story of Islamic Philosophy,
-Etoaotogis tidak Dari segi kebanyakan sumber-sumber otoritatif klasik menyatakan bahwa
(baydnt), tapi juga diskursif-demonstratit (burh6nQ'
metafisis isu pertama yang menjadi kontroversi teologis adalah persoalan
*ut"tt, isu-isu yang dibahas membentang dari isu-i1u
hingga ger- kebebasan/ ketidakbebasan manusi a (free will and predestination) .
(m0 waril /ba'd ath-thabfah), etis (falsafah al-akhl6q)
solalan logika (mantliq),dan epistemologi ilmu (*"b@!t
al t{m'
Oleh
aau ibisttmilHjiyyat alJulfim, adu* butlusa Arab modem)' I Kata being biasanya diterjemahkan dengan'ada'. Meskipun merupakan upaya mendekatkan
karena itu, menurut Mu\ammaa AUia aLJdbiri/ hadisi
baydni
makna, penerjemahan teaebutkunrg tepat. Kata being, menurut Heidegger, adalah sama dengan
klasik telah membahas 'is' dalam bahasa lnggris sehingga kurang tepat ditedemahkan dengan 'ada'. Uraian detil ten-
yang telahmengakar dalam wacanaknlkn
tang ini dapat dilihat dalam Lilartin Heidegger, Being and fime: A Tnnslation of Sein und Ziet,lei.
John Shmbaugh, (New York State Univensity of Neur York Press, '1996), hlm. 4.
(yang disebut sebagai 'logika
Karyanya yang lain yang memuat argumen to9'll d.9.h1fl c
(Cako: D6r aLMa'rifah' t't')' Lihat ibrd., teruhma pasal ke-S dan ke{, hlm. 175 dsl
fahatui af-'f afisifan'i aadan Ui'yar aLllm,
hlm' 50'
l0 Tenbngteorikum0ndan fiafrah,lihat misalnya, HaryAustynWolFon, IiePhilosophyof trcKdan,
5
Josep van Ess, The Logicat Structure of lstamicTheology,
to Medieval tslanic Philosophy, (cambridge: cam- (Cambridge: Harvard University Press, 1976), hlm. 495-517.
6
unaidalam oliver Leaman, An tntroduction
bridge University Press, 1985), hlm. 19. " Muhammad'Abid alJdbiri, Bunyaf at-'Aql at-'Arabi..., hlm. 504-506.
I Bunyat at''Aql at-'Anbi: Dirdsah Tafifi1yyah
Lihai unian tengkap tentang hal ini dalam bukunya, ''l Lihat Majid Fakhry A Hidory of lslanb Philosophy, (London, Longman, dan New York Columbia
aLMarkaz ats-Tsaqan al-
iiqdW iirhin
n at-Mirifah fi ats-Tsaqilfat it-'Arabiyyah,(Beirut: Univeaity Press, 1983), hlm. 324.
'Arabi,1993).
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Pendahuluan

Tokoh-tokoh pertama antara lain: Ma'bad al-Juhani (w. 699), sangat kurang.l8 Karya monumentalnya, al-Mughnt
f Abw6b at-
Ghayldn ad-Dimasyqi (w. 7 43),W itshil ibn'AthA' (w. 7 48), Y0nus yangterdiri atas 20 jilid, misalnya baru ditemu-
Tawfuid roa al-' Adl
al-Aswdri, dan'Amr ibn'Ubayd (w.762).13 Heinrich Steiner, se- kan oleh tim inelektual Mesir yang dipimpin oleh Dr. Khalil Nami
bagaimana dikemukakan, menyebut para teolog Mu'tazilah se- dan Prof. Fu'dd Sayyid, di Perpustakaan al-Mutawakkitiyyah di
bagaithe free-thinkers of Islam (pemikir bebas Islam). Oleh Fazlur Shan'A (Yaman) pada tahun 1950-1951.1e
Rahman pelabelan tersebut diberi catatan secara historis, bahwa Kurun waktu paruh kedua abad ke-20 agal.orya masih belum
pada perkembangan awalrrya Mu'tazilah bukanlah kalangan ra- menuniul(kan perkembangan Li^ y*g seinrbang erhadap karya-
sionalis murni, meski mereka mengklaimbahwa rasio adalah sum- nya yang berjumlah 61 buah (menurut catatan Dr. Ahmad Fu,ad
ber kebenaran moral yang sama tingkatannya dengan wahyu.' al-Ahw6ni), 20 padahal al-Mughnt,menurut Dr. Ibrdhim Madkffr,
Hasan al-Bashri (w .110H,/ 7?3 M), tokoh perbama di Bashrab misal- merupakan "karya ensiklopedis yang tak sebanding dengan karya-
nya, tegas Rahmaru membangun penolakan penafsiran deter- karya sebelumnya di bidang ilnu knl6m, yang memuat materi
ministik dalam Islam dan menegaskan tanggung jawab manusia persoalan yang kay a".21 Bahkan, alHakim al-Jusyami mencatat
atas dasar motif kesalehan, bukan pemikiran filosofis-speku- bahwa'Abd al-|abbdr telah menulis seratus ribu lembar, dan al-
latif.ls Di samping itu, doktrin deterministik yang diperangi Asnawi, sebagaimana dikutip oleh penulis Lis6n al-Mtz6n, men-
Mu'razilah di kandangnya sendiri juga segera terbentuk menjadi jelaskan bahwa karya-karya'Abd al-Jabbdr mencapai empat ratus
doktrin sistematis melalui Jahm ibn Shafwdn (128 H/746 W-16 ribu lembar.z
Atas dasar ini, penyebutan oleh Ismail Raji al-Faruqi terhadap
Proyek yang disebut sebagai ifoa' at-turifs (menghidupkan
Mu'tazilah sebagai philosophers of IslamlT harus dirunut ke bela-
khazanah intelektual klasik) meminjam istilah Hassan flanafiE
kang, di mana tokoh-tokohnya bersentuhan dengan pemikiran -
dalam DirdsAt Falsafyyah
filsafat secara intens dan kemunculannya sebagai teologi dialek- -selama ini agaknya menurut penulis,
bergerak dalam mninstream ktnzanah inblektual Sunni. Kekaya-
tika-apologetis antaraliran.
an intelektual Mu'tazilah dan Syilah masih memerlukan apresiasi
Salah satu tokoh Mu'tazilah yang menonjol adalah'Abd al- akademis. Jika di kalangan Ast' *yulr,adalah al-Ghazdli (w. 111)
Jabbdr (935- 1025). Meskipun reputasi keilmuannya memperoleh
apresiasiyangtinggi dari tokoh-tokohsemasurnya, semisal Shahib 'E william Montgomery watl lslanic Philosophy, hlm. 106. watt menyatakan bahwa sfy/e argu-
men dalam tulisan-tulMn Abd alJabbar sama dengan karya-karya kal6m kalangan Asy'arlyyin,
ibn'Abbdd (938-995), tokoh Dinasti Buwayh, perhatian aka- semisal aLBiqilldni dan alJuwayni. Pandangan-pandangan kalan yang berbeda dikemuiaian
demis kalangan intetektual belakangan brhadap khazanah inte- dengan menyebut tokoh dan penolakannya. 'AM alJabbdr juga menyebut beberapa nama filsuf.
Akan tetapi, rnenurut Watl tak ada indikasi diadopsinya ide-ide filsafat tersebut meiebihi dari apa
lektud keilmuannya, menurutWilliam Montgomery Watt, masih yarB tehh dilakukan kalargan Asy'ariyyah. Namun, watthmpaknya masih meragukan kesimpulan-
nya ifu sehingga dikatakannya,'Mudl furfrerstudy, however, still required.,

i3 lbd., hlm.47.
E /brd., Ahmad Fu'6d alAlrwdni,
Tashdif, dalam (pseudo)'Abd alJabMr, syufial-ushltal-Khansah,
(Cairo: Makhbah Wahbah, 1965), htm.5.
ra FazlurRahman,/slam,(ChicagodanLondon: UniversityofChicagoPress, l9T9)'hlm. 141.
x lbd.,hlm.20-23,
r5 lbid., hlm.87.
h lbrdhinrMadk0r,'Muqaddimah',dalam'AbdalJabbilr,Al-MughnifrAbw6bat-Tawfiidwaat:Adl,Juz
16 /bid., hlm.88.
Xlll, (Cairo: WizArat ab-Tsaqdfah wa al-lsy6d al{awmi, t.t.).
17 lsmail Raji al-Faruqi, Self in Mu'tallah Though(, dalam lntemationalPhilosophicalQuaftedy,
The 2 Lilutlebihlanjut Abdal-lGfmljbndn,'Muqaddimah',dahm(pseudo)'AbdaHabbar,slada,-usrd/
Vol. Vl. 1966, hlm.366-388. DikutipdariBudhy Munawar-Rahman, Frlsafallslam, hlm.322. Banding-
al-Khamnh,hlm.19-23.
kandenganuraianAhmadAmin, Dhuh?tal-lsl6m,Cet.Vlll,Juzlll,(Caio: Makhbatan-Nafldhatal- n
h.), h|m.204. HassanHanaf,DirdsitFalsafiyyah,(Cairo:MakhbatAngloal-Mishriyyah,19g7),h|m.143.
Mishriyyah, t.
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan
Pendahuluan

danFala ad-Dtn ar-RAzi (w. 1209) yang merupakan "pembela garis rch" (Limildzd Ghhba Mabfoets al-Insdnwa at-TilriWtf Turdtsini al-
depan" pandangan-pandangan Asy'ariyyah, karen kemaPanan- Qadtm ?) dalam kajian filsafa! Hassan lanafi menyatakan bahwa
nya dalam basis filsafag maka tidak berlebihan jika harus dikata- sejak al-Kindi hingga al-FirAbi kajian filsafat Islam masih belum
,Abd al-Jabbdr menempati posisi yang sama di kalang-
kan bahwa memiliki struktur (bunyah) bahasan yang baku, hingga Ibn Sina
.r 14g'tazilah. Bahkan, tak hanya tokoh Asy'ariyyah, seperti al- meletakkarurya dalam tiga wilayah kajian: logika (manthtq), hstka
Baydhdwi (w. 1308 atau 1316) yang sistematika bologinya diu^g- (thabf iyy ah), dan metafis *a (ililhiyy ah). Perkembangan pemikiran
gup f"ttut aensi Mujtazili, atau al-Juwayni (w' 1085) yang da- Eropa abad tengah dan modem, akhirnya mengembangkannya
Iu* rc*"p teologinya tentang perbuatanmanusia menekankan menjadi: teori bntang pengetahuan (knowledge, mn'ifah), yar;rg
pada hubungan kiusalitas (yang berbeda dengan pandangal ka ada (being, z,rujfrd), dan tentang ruLai (aalues, qtmali. Tiga obiek
iuttgut Asy'ariyyah pada umumnya),2a Fakhr ad-Din ar-Rdzi' kajian filsafat tersebut, menurut Hassan Hanafi, semula merupa-
tokoh Asy'ariyyah yang relatif lebih banyak menyrta rytlutiurt kan tiga kajian utam a kalim: nazhaiyy at aI-' ilm (ilmu), nazhniyy at
akademis, der,gat';teoltgi filosofis"-ny a Qthilosophical theology)E al-wujtid (fuing), danililhiyyalr (ketuhanan), di samping sam'iyyiltE
dalam kuji* Coldziher, juga dipengaruhi oleh doktrin-doktrin Dari sinilah, antara lain, signifikansi kajian tentang epistemologi
Multazilah.26 'Abd al-Jabbdr melalui karya-karya kaldm-nya bisa dipahami.
Realitas ini dengan sangat jelas menunjukkan bahwa kajian Dalam konteks ini, adalah bpat jika Hany Austryn Wolfson me-
tentang aliran teologi aPa Pun meniscayakan pengkaiian aliran nyebut isu-isu yang dielaborasi dalam literatur-litenitr kalhm
teologilain. Di samping itu,'Abd al-Jabbdr tidak hanya memPe- klasik sebagai the philosophy of the kal6m;30 bahasan tentang ke-
.guruhi wacana teologi Mu'tazilah kurun sesudalurya, tapi juga tuhanan telah merambah isu-isu filsafat. Pengkajian bntang epis-
t"-otogi Sunni dan Syilah.27 Meskipun pada masa'Abd al-Jabbdr
temologi'Abd al-JabbAr juga merupakan kontribusi bagi upaya
*u.* bologi didominasi oleh pemikir-pemikir tradisional, br- pemetaan struktur bangunan pemikiran klasik tentang itu.
utama esy'ariyyah dan Maturidiyyuh.Namun, metode yang di- George F. Hourani, dalam Is lamic Rationalisn: the Ethics of ' Ab d
terapkan dan isu-isu yang diperdebatkan dari segi karakeristik- al-labbdr, telah mengkaji etika filosofis (rasional),Abd aLI;bbar.
nya adalah Mu'tazili-28 Kajian Hourani sampai pada kesimpulan bahwa meskipun tidak
Isu-isu yang diperbincangkan oleh 'Abd aI-Jabbdr, karena di bawah tema tersendiri, dari persoalan-persoalan yang dibica-
rakan, dapat dibangun sistem pemikiran etikanya yang bukan
karya-karyanya merupakan karya dalam bidang teologi Islam'
tidak sama, menurutrya, dengan "infuisionisme,, hrggris modem.31
tidak dibahas di tawatr tema-tema filsafat. Akan tetapi, ketika
mempertanyakan,,absennya wacarna tentang manusia dan seja-
E Hassan Hanali, Didsdt Falsafiyyah, hlm. 130.
21 Lihat asy-Syah nstAni, Kitilb at-ltital wa at-Nihat, Cel-ll, (Cairo: Maktabah Anglo al-Mishriyyah; tt)' r Lihat kembali catatan kaki nomor 9.
hlm.90. 31
Lihat George F. Hourani, /s/amlc R ationalisn: he Eth'rc of 'AM alJabb64 (oxfod: clarendon press,
5 lstilah "teologifilosofis dikemukakan oleh MurEda A. Muhib ad-Din, "PhilosophicalTheology
of Fakhr
1971), hlm. 144-146; william Montgomery watt, tslanic philosophy,hlm. 107. MenurutJonathan
Hamdard tslamicus, Vol. XVll dan )CX, 1994.
adoin ar-Rizi in atTabir al-Kabif, d alam Hanbon, intubionisme adalah "$elheorythatalthough ethbalgeneralizations are nottrue bydefini-
n William Mon$omeryWatt, lslamrbPhilosophy' hlm. 108.
tion, lhose of them which are hue can be seen to be true by any person wifr necessary insighf.
Menurutnya, dalam konteks epistemologis, intuisionisme sulit untuk diterima, meskijuga iulit
27 Lihat Rk*rard c. Martin, Ma* R. Woodward, dan Dewi s. Atnaja, Defenden 0f Reason in lslam: u-ntuk
ditolak. LihatJonathan Hanison, "lntuitionism", dalam paul Edwards (ed.), The Encyctipedia
Mulazilisn fton Medieval schootto Modern synbo{ (oxford: oneworld, 1997),
hlm. 36. of phi-
/osophy, Vol. lll, (New York Macmillan publishing co., lnc & The Free press dan London:
collier
d lbtd., hlm.35. Macrnillan Publishers, '1972), hlm. 72-74; Beerling et. al., tnleiding tot de wetenschapleer, ler1.
Pendahuluan
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan

basan manusia (yang agaknya menjadi arus umum perhatian ka-


Atas dasar asumsi bahwa sistem pemikiran (system of
thought)
interrelasi- langan intelektual terhadap Mu'tazilah), misalnya Al-'Aqlrna al-
seseor.rng yang utuh (integrated) -setidaknya ada
fluriyyah: Dirdsahf Fikr al-Qddltt'Abd al-labbdr al-Mu'tazil4 oleh
antara tJ*"p dengan konsep epistemologl maka kesim-
"titu 'Abd as-Sattdr ar-Rdwi (1976) dan AlJAql'ind al-Mu'tazilah:
pulan Hourani tersebut menimbulkan pertanyaan: bagaimana- Tashazrwur alr Aql 'ind al-QAdht ' Abd al-labbdr, oleh Husni Zaynah
i-h ,eUert-ya struktur bangunan pemikiran'Abd al-JabbAr ten- (1978). Kedua, kajian tentang etika, misalnya Islamic Rationalism:
lainnya
tang episte*ttogt serta keterkaitannya dengan konsep the Ethics of 'Abd al-labbhr, oleh George F. Hourani (1977). Kajian
mem-
(teritama konsep etikanya). Pertanyaan tersebut sekaligus Fauzan Saleb The Problem of Eail in lslnmic Tluology: A Study on the
pertanyakan bagaimani identifikasi Hourani sebagai intuisio-
Concept of aI-QaWin al-Qfuiltri 'Abd al-labbir al-flamadzilnf s Thought
li"-" i"ggti" mJdem atas etika'Abd al-JabbAr yang hidup dalam (1992), sebuah tesis di McGill University,33 tampaknya merupa-
tradili b"tpikit Mujtazilah. kan pengembangan lebih mendalam dengan terfokus pada kon-
Berdasarkan uraianyang telah dikemukakan' kaiian
ini akan sep " jahatf buruk" (the concept of eoil) dari kajian etika rasional-
menginvestigasi iawaban utut dou permasalahan pokok sebagai filosofis Hourani tersebut. Ketiga,kajian tentan gtakltf sebagai ba-
U"tif"t faglimanat konsep epistemologi'Abd-al-labbAr? Ba- gian dari persoalan teologis, yaitu kajian'Abd al-Karim'Utsmdn,
tersebut
gaimana iniptitasi konsep epistemologi'Abd al-Jabbdr Nazhariyyat at-TaHrt 416' al-Q6dhi' Abd al-labbdr al-Kalilmiyyah
terhadap konseP etikanYa? (1977). Pengembangan lebih mendalam dari kajian ini dilaku-
des- kan o19h Ali Ya'qub Matondang dengan disertasi doktoralnya
Pertanyaan pertama memerlukan uraian yang bersifat
epistemologinya mela- di Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Iakarta, Konsep Takltf
k iptif dan sistematis tentang pemikiran Menurut al-Qddht 'Abd al-labbilr dnn Impliknsinya terhadnp Tanggung
hitrya-karyanya. Pertanyaan kedua menuntut uraian yang ber-
I awab Mnnusia (1997). Disertasi doktoral'Abd al-Karim'Ustndn,
sifat analids dengan meniusuri relasi antarkonsep (epistemolo-
QAdht al-Qfidlwh 'Abd al-labbdr (1967) merupakan bahasan yang
gr dan etika).
luas dan umum tentang'Abd al-Jabbdr serta posisi pemikiran-
nya dalam tradisi pemikiran Mu'tazilah. Keempat, kajian tentang
Survei Literatur Al-Qu1an dan eksegesisnya seperti artikel yang dihrlis oleh Marie
men- Bernand (19U),I-a Mdthode d'exdgDse coranique de 'Abd Gabbar d
IGjian-kaiian brhadap pernikiran'Abd al-Jabbar belum
objek kajian tersen- traoerse son Mutasabih.s Kajian penting tentang metode burpikit
jadikan-pemikiran epistemologinya sebagai
o$ek dan struktur argumen teologi 'Abd al-Jabbdr dengan brfokus pada
diri yang sistematis dat -et dilam' Atas dasar tema atau
kaj# ying dibahas, kajian_kajian tersebut selama ini dapat di- persoalan ayat mutasyilbihfrt, sebagaimana terefleksi dalam kar-
ya khususnya, Mutasyilbih Al-Qur'6n, dilakukan oleh Machasin
p"Lk; se;agai berikut32 pertama,kajian tentang akal dan kebe-
(1994) dengan disertasi doktoralnya sebagaimana disebutkan,
dengan menerapkan tidak hanya pendekatan kritis-historis,
.Penganbr Filsafat llmu", (Yogyakarh: Tiana Wacana, 1970),
Soejono Soemaqono dengan judul
hlm.4&-50. 3 (Monteal: McGill Univenity, 1992).
r pemehan ini sebagian besar didasarkan atas survei literatur yang telah dilakukan oleh. Matfiasin s Marie Bemand sebenamya juga menulis artikel tentang konsep ilmu menurut Mu'tazilah, yang se-
,Abi di Pasca-
o.lar;ruoroi alJabbir dan Ayat€yat Mubsyabihat AlQuian', disertasi doKoral bagai atrikel tenfu masih terbab, 'La Notion de 'llm chez Les Premiers Mu'tallites', dalam studra
o,l.n.ilrNirn.nXariiagayogiakariitrrisa),d.ndit rbiftandenganiudul,lroadj'Alaalanoer'
-ifiai(a'in hlm. 5-7.
/s/amlca, No.36 (1972),2342dan No.37 (1973), htm.27-56.
el_aunni datin iastonaftbs A/-eur,an, (yogyakarta: LKIS, 2000),
Pendahuluan 11
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan
10

tampak dari pe- temologi Islam klasik. Dalam karyanya, Bunyat aI:AqI al:Arabt:
tetapi juga pendekatan filologis' Sebagaimana
D ir 6sah TafuIfliyy ah N aqdiyy ah Ii N uzham al- Mn' ifah
*"t"". titt uaup kaiian-kaiian selama ini tentang pemikiran-pe- f ats-Tsaqfrfat
al:Arabiwah (Struktur Nalar Arab: Studi Anditis-IGitis Atas Epis-
*itirutt'AH al-Jabbar atas dasar objek kaiian' sebagaimana di- temologi dalam Kultur Arab)36, al-JAbiri mengungkapkan tradisi
kemukakan, pemikiran epistemologinya hampir -iita
Ufat<-
{i-
intelek- baydnt dalam pemikiran Arab (baca: Islam) klasik, yang antara
katakan sami sekali -" aised' dariperhatian kalangan
lain dalam bidang kal6m ercfleksi dalam karya-karya'Abd al-
*ut. fuliun yang dilakukan'Abd as-Sattdr ar-Rdwi' Husni
F' Hourani, tidak memfokuskan Jabbdr, sebagai tokoh Mu'tazilah generasi alftir. Ketika memba-
Zuyr,ufr,
^u"i*-G"o"g" |11"* al'drirnya' berlrenti has perbedaanyang substansial dalam dataran epistemologis an-
ta;'iannya pada episeniologi sebagai oyeknya'
pengetahuan tara silogisme fiqtr, nahwu, dankal.6m, al-Jdbiri mengatakan bahwa
pada rasio dan proses nal 1*"1-'lsebagai sumber
"' lain yang di- illah dalan oblek-obiek yang dapat dijangka u rusio ( aqliyydt), y au;tg
atas dasar kebenaran koherensi. Persoal,an-persoalan
dan menda- dalam fiqh dan nahwu hanya sampai pada tingkatzhann,dalam
elaborasi oleh'Abd al-Jabbdr secara filosofis, kritis,
meruPakan mata rantai rlmu kalfrm sudah menunjukkan tingkat "ilmlf'. Datam konbks
lam, seperti bagaimana proses nalar, y-ang
(mu dr ak)' y.arrg ini, berbeda dengan fiqh dan nahwu, persoalan-persoalan mebdo
JJ ptot t po,iit a" nart (ifu 6k) Erhadap objekny a
posisi ba- logis kurang memperoleh bahasan yang memadai dalam ilmu
menihasilkan pengetahuan yang valid dan di mana knlim.Al-labiri hanya menunjuk karya'Abd al-Jabbdr yang mem-
dalam bangun-
hasai tentang kausalitas (as-sabab wa al,musabbab)
misalnya merupakan bahas analogi model lsfr syhid bi asy-sydhid 'ald al-ghi'rb (menunjuk
an pemikiran episbmologi'Abd f-Ifbdr'
yang abstrak atas dasar yang konkret),37 sehingga kajian al-Jdbiri
persoalan-persoalan yang luput dari perhatian'
lebih tepat disebut sebagai "pemetaan" strukfur pemikiran Arab
Kajian Machasin sesungguhnya telah mengungkapkan-me- dari segi baydn, 'irfhn, dxrburhhn. Sebagai sebuah pemetautr, kujl
todeberpikirdanstrukturu'g.'*"'''usional,Abdal-Jabbdr.Kaji- an al-Jdbiri tidak merupakan kajian sistematis dan mendalam
an brsedut, antara liain: *"rnbultt *"tode
penyimpulan akal' sya- tentang pemikiran epistemologi'Abd al-Jabir, ymgsesungguh-
dithtah' daltl' dan' mad-
rat nalar (nazhar) dan persoalan hubungan nya hanya menjadi bagian dari struktur tersebut Di samping itu,
i,nipt*"t p"""";ukan, subjek dan gbielcnVa)' Namun' karena tun-
per-
pada tingkat lebih umum, allabtui menghadapi kritikan-kritik-
tutir objek kajian yang menjadi fokusnya maka singgungan an yang sangat fundamental dari tokoh semisal Hasan Hanafis
dtt"U"t a*"mukakan hanya dalam konteks
soalan episte-ologis tentang apa yang ia maksud dengan kritik "nalar Arab", yarrg
ffautu" p"ndeLtan rasional'Abd al-|abbdr dalam menyikapi tampaknya sangat ambigu.
iyuvuyut iutasydbihhf. Bahasan tentang epistemologt-'fq "L
JutUatltgudikemukakanolehMachasindalamartikel"Episte- tetap
*otogi',{Ud al-Jabbdr bin Ahmad al-Hamadzanf'3s yang s Karya tersebut merupakan salah safu dari tiga karyanya dalam proyek 'Kritik Nalar Arab' (Nagd al
memerlukan ekplorasi lebih mendalam' 'Aql al-'Anbf) disamping Takwin al-'Aql al-'Anbi (Formasi NalarArab) dan at-,Aqt as-Siydsi al-'Anhi
(Nalar Politik Arab).
Adalah Mulammad Abid alJabui, pemikir Islamkontem- 17 Lihat
ibid, hlm.'155-158.
pemikir Islam
porer asal Muroko, y*g Paling Tel:njol di antara $ Lihat Hasan Hanafi, Dir6silFalsaliryah, hlm.93. Kritikterhadap al-Jdbirijuga dilonbrkan oleh Geoqe
pemikiran epis-
iontemporer lairrnya dalam pengkaiian bangunan Tharabisi tentang pendefinisian'akal" dengan menisbahkan kepada pandangan Andre Lalande,
yang dianggap oleh Tharabisi sebagai 'salah alamaf. LihatAhmad Baso, "posmodemisme Sebagai
Kritik lslam'(Konfibusi Metodologis'Kritik Nalar'Muhammad Abed alJabiri), dalam Muhammad
No. 45, (Yogyakarta: lnstitutAgama lshm Negeri
ffirrrsfudies, Abed alJabiri, Post-Tndisionalisme lslam, terj. Ahmad Baso, (Yogyakarb:Lrff,2000), hlm. n<xi.
Sunan Kalijaga' 1991)' hlm.3$-51'
Epistemologi Kalam Abad Pe(engahan Pendahuluan
13

Kajian yang sama, tapi sangat terbatas uraiannya, dilakukan Konskuksi Teoretik
oleh Marie Bernand dalam artikebrya (No. 35 dan 36) di Studi
Islamica, "La Notion de'Ilm Chez les Pemiers Mu'tazilites".3e Dalan An Arulysis of Knowledge md Valuntion, C.I. l,ewis me_
nyatakan, "All knowledge is knowledge of someone; and ulti-
Kajian yang agak mendalam dilakukan oleh J.R.T.M. Peters
mately no one can have any ground for his belief which does not
(7976) dengan kary artya, God's Created Spee&: A Study in the Speat-
lie within his own experience" .42 Pemyataan ini berkaitan dengan
latiae Theology of the Mu'tazili Qddhi al-Q'frdhah Abfi al-flasan bin
apa yang disebut sebagai pembenaran epistemik secara ,,inbr-
Ahmad al-Hamadzini.& Elaborasi pemikiran'Abd al-Jabbdr bntang
nal" dan "eksbmal". Meski memiliki asumsi yang berbeda in-
epistemologi yang diletakkan di bawah tema logdc (logika) seba-
brnalisme dan ekstemalisme memiliki konsepsi umum tentang
gai bagian inbgral dari pemikir arr" hlsafa{' -nya meruPakan indi-
justifikasi, yaitu berupaya membedakan antara pengetahuan dari
kasi yang sangat jelas bagi kesimpulan Peters tentang rasio se-
keyakinan yang benar, yang bukan merupakan pengetahuan.
bagai sumber safu-satunya pengetahuan atas dasar koherensi,
Kedua model justifikasi tersebut dijelaskan sebagai berikut
sebuah kesimpulan yang perlu dikaji ,tl*g karena urgumen-ar-
gumen sebagaimana dikemukakan di atas. Uraian Peters tentang Pertnma, di dalam relasi antara keyakinan dan pengetahuan,
beberapa aspek epistemologis'Abd d-JabbAr tampalorya bertolak
intemalisme mengasurrsikan bahwa dengan merefleksikan ke-
dari analisis istilah-istilah kunci ('ey-terms) brtentu, *petltUthti4 sadarannya sendiri, seseorang dapat memformulasikan seperang-
kat prinsip epistemik yang memungkinkannya untuk mengetahui
syalrk, dharfiti, dansebagainya yang tak lebih dari "pendefinisi-
an-pendefinisian" (pendekatan definisional).al Kritik metodologis apakah keyakinannya bisa dijustifikasi. Justifikasi epistemik in-
saya adalah bahwa pendekatan melalui kata-kata kunci yang tam-
temalistik bertolak dan states of mind.ag
pak kaku dan ketat tersebut dengan sendirinya menutuP ruang Kedua,ek-sbmalisme yang menguji kebenaran keyakinan de.
bagi telaah hubungan logis antarkonseP, yang mengasumsikan ngan "justifikasi ekstemal". Dalam konteks itu, justifikasi ber-
uraian tentang proses diperolehnya pengetahuan sahih. Di sam- kaitan dengan dua hal, yaitu (1) bori reliabilitas justifikasi ekster-
ping itu, uraian Peters tentang "logika" 'Abd al-JabbAr tidak me- nal yang mengandaikan proses keilmuan sebagai ,,proses yang
lampaui maksudnya untuk sekadar menjelaskan dasar-dasar reliabel", dan (2) teori penyebaban (causation) bahwa suattt pro-
argumen rasional sebagai basis bagi apa yang disebutnya sebagai posls adalah benar jika menyebabkan kita yakin akan kebenaran-
"bologi spekulatif " (spatlatftrc theology) 'Abd al-Jabbdr. nya. Dalam hal kedua, sebab diart*an sebagai: ,'A adalah sebab
bagSB" atau "A adalah faktor kausal bagi 8". Baik bori reliabilitas
Pemetaan terhadap kajian-kajian terdahulu tentang pemi-
maupun teori penyebaban harus dikombinasikan.44
kiran-pemikiran'Abd al-Jabbdr serta kritik-kritik materi mau-
pun metodologi elah menjelaskan posisi kajian penulis di antara Kedua tipe justifikasi epistemik tersebuttentu saja bertolak
kajian-kajian tersebut, serta yang menjadi wilayah telaaharnya. dari anggapanbahwa proses keilmuan secara epistemologis bu-
kanlah proses yang sama sekati terpisah antara kesadaran inter-
s Lihat lebih hnjut dalam Studia lslamra, (Paft: G.P Maisonneuve-Larose), No. 36, (1972), hlm' 23- nal subjek dan realitas eksternal obiek di luamya. Oleh karena
42 dan N0.37 (1973), hlm,27-56.
itu, proses keilmuan dalam theoitical frameworkjustifikasi epis-
{ (Leiden: E.J. Brill, 1976).
11 lstilah 'pendekatan definisional" dikemukakan oleh Rob Fisher dalam, 'Philosophical Approaches",
'? Rodedck M. Chisholm, Theory of Knowledge, (New Jersey: prentice Hall, lnc., lggg), hlm. 75.
dalam Peter Conn olly (ed.), Approaches to StudyofRe/igrbn, (London dan New York Cassel, 1999)' $ tbid.,76-77.
hlm. '113. Buku initelah diteriemahkan ke dalam bahasa lndonesia dan diterbitkan oleh [KiS. u lbid.,hlm.7744.
Pendahuluan 15
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan

sekunder, berupa kajian-kajian terdahulu yang dilakukan selama


temik secara substansial adalah mencari justikasi ("pembenaran ini (tentang aspek yang berbeda dari tokoh yang sama/ sebagai-
yang harus dipahami dalam konteks epistemologis) secara inter- mana dikemukakan dalam survei literafur), seperti God's Created
nal maupun eksternal, Spee ch-ny a Peters, Islamic Rationalism-nya Hourani, artikel Marie
Bemand,'1L,a Notion de'Ilm Chez les Pemiers Mu'tazilites" , dan
Metode dan Pendekatan sebagainya. Literatur-literatur filsafat ilmu, terutama aspek epis-
temologi, ensiklopedi-ensiklopedi filsafat, dan jumal-jurnal fil-
Secara kategorikal, penelitian ini dapat dikategorikan se-
safat yang membahas epistemologi secara teoretis sebagai "ke-
bagai penelitian kepustakaan (library researdt) model penelitian rangka berpikir".
Uuiaya; ide-ide serta gagasan sebagai produk berpikir manusia'
Penelitian ini menerapkan metode historis dengan pende-
Dalam kategorisasi Anton Bakker,as penelitian ini merupakan pe-
katan sistematis-filosofis atas dasar interrelasi dan interdepen-
nelitian msarat model historis-faktual mengenai tokoh, dengan
densi keduanya. Penelitian menjadi bisa dipertanyakan ( question-
pemikiran'Abd al-Jabbdr sebagai objek materiilrrya, dan U9*uO
able) temuannya seandainya hanya bertumpu atas pendekatan
epistemologi sebagai bagian dari seluruh kerangka peltkilan
sistematis, sehingga temuan konsep bersifat ahistoris.
ersebut seblagai obiek formal. Uraian yang dikemukakan be-rsifat
deskriptif-anutitit. Ot"tt t*ena itu, di samping untuk mengkons- Metode historis (histoical method) diterapkan karena akan
truk pemikiran epistemologi'Abd al-Jabbar secara jelas dan se- melihat pemikiran suatu tokoh yang bergerak dalam fase-fase
bagi penelitian ko*"p (coiceptual inqutry), k'aiiandiarahkan pula perkeinbangan pemikirannya. Dalam konbks itu, metode historis
,".--u-*"ndalampadakajiananalitisdenganmelaluiaPalang dioperasionalisasikan dalam dua tataran: (1) secara eksternal,
disebut oleh vincent Brummer dalam Theotogy and Philosophicnl yaitu kondisi sosio-historis dan iklim intelektual masa yang me-
Inrytiry : An Intr ofuiction rebagai' analis;t" konseptual" (concep tual lingkupinya, termasuk arus perkembangan wacana keilmuan bi-
anatyis\. Dengan demikian, konsep sebagai struktur kompleks tlang teologi dan filsafa! (2) secara intemal; pemikiran'Abd ai-
yani mesd diungkap elemen-elemennya mengasumsikan anali- Jabbdr direlasikan dengan biografi, pendidikan, serta pengaruh
sis tlntang bagaimana hubungan antarelemen tersebut'46 pemikiran tokoh teologi atau filsafat lainnya.
Datapenelitiandigalidariduatingkat'Pertamndataprimer' Unfuk mempertahankan unsur koherensi intemal konsep
berupa karya-karya'Abd al-Jabbdr. Di antar a t'ary a-karyanya an- yang digali dari pemikiran-pemikiran'Abd al-JabbAr yang ter-
tara iain: ai-tvUglmt 7 Abwdb at-Tawlid wa al: Adl, Y ol. X1I tentang scbar dalam berbagai karya dalam kurun waktu yang berbeda,
'an-Naz.har wa at-trria'arif ' (nalar spekulatif dan ilmu pengetahu- metode historis dioperasionalisasikan dalam bentuk konfirmasi
an), adalah karyanya yang secara kritis dan mendalam meng- antarpemikiran yang brartikulasi dalam satu karya dengan karya
ungkapkan pu^itit* al-Jabbdr; merupakan lainnya, sehingga dapat disusun "konstruk pemikiran yang sis-
"pistemologi'Abd
kafanya yang paling representatif untuk kajian ini, di samping tt'matis-logis".
turyu-tuty*ytyut g luit , at-lJshfrl al-Khnmsah lnayill).tu-tyta2Va- Sebagaimana dikemukakan, penelitian ini menerapkan pen-
bih At-Qur'6"; al-tvt"bttlrbi at-Takttf, dan sebagainya' Kedua,
data
tlt'katan sistematis=filosofis.a7 Sebagai sebuah pendekatan (syste-
6 LihatAnton Baker,MetodologiPenetitianFitsafat,((qyakarta:
Kanisius, 1999), hlm.61--66.

6
" "System" dalam konteks lilsafat mempunyai dua pengertian: (1 ) kumpulan sesuatu yang dipadu-
VincentBrummer,TheotogyandPhilosophicatlnquiry:Antntroduction,(NewYorkTheMacmillan kan pada suatu keseluruhan yang konsisten atas dasar adanya intenelasi (interaksi, interdepen-
Press, Ltd., 198'l), hlm.73.
Pendahuluan
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan 17
16
diartikan sebagai suafu sis- Ruang Lingkup Kajian
mntic approach), " system" tersebut
dan "sisbm klasifikasil')'
tem berpikir (*it"d;4istem logika" Epistemologi dalam pengertian "filsafat pengetahuan" me-
Dalam penelitian #, p"**tt1:n"11ti"an'Abd al-Jabbdr di- rupakan salah satu cabang filsafat. Oleh karena itu, filsafatilmu
sistemberpikir "epis-
konstruk secara siste-#atis danlogis dalam menjadi bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang
temologi'/. secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah).48
at-
Ketika mengelaborasi pemikiran epistemologi'e;b{ pe-
Epistemologi dalam kajian ini bukan dalam ruang lingkup yang
dari
l"UUir; aiUaiaingkan ain aqgtan setiap bagian lebih luas sebagai cabang filsafat, tapi sebagai salah satu aspek
"t". i"tgu" P"Tli?" tokoh-tokoh terGntu bahasan filsafat ilmu (di samping aspek ontologis dan aksiologis)
-itiru*yu tersebutL"tuoi peisoalan itu' Dalam pengertian
de- yang secara esensial membahas secara kritis: bagaimana proses
yang berbicuru;ogu
"komparatif-kon- yang memungkinkan diperolehnya pengetahuan, prosedur, tolak
mikian, penelitian ini me""iuptu" p"ndekatan
tertentu' bukan konseP se- ukur kebenarannya, dan sarana/teknik memperoleh.yu.
trastif" dalam tataran konsepkonsep
cara utuh dari satu tokoh' Hal
itu terutama untuk memperjelas Sebagaimana dikemukakan Brian Carr dan D.f. O/connor
sendiri' sekaligus meli-
pemikiran epistemologit'O!1 al-labbal dalam Introfuction to the Theory of lfuowledgqn kaiian ini akan mmg-
hat hubungan historis"pemikiran
antartokoh (pengaruh atau di- ungkapkan bangunan epistemologi'Abd al-JabbAr dari empat
pengaruhi). isu utama: (1) hakikat "mengetahui" secara umum, yang brkait
operasional dengan analisis terhadap konsepkonsep semisal keyakirnn dan
Penelitian dilakukan dengan langkah-langkah
kebenaran; (2) sumber dan cara memperoleh pengetahuan; (3) apa
sebagai berikut:
'Abd al-Jabbir sebagai yang dapat diketahui, dan (a) kritik terhadap skeptisisme.
. a. Menentukan pemikiran epistemologi
objek kajian;
serta hipotesis se- Kontribusi Keilmuan
b. Merumuskan masalah-masalah penelitian
bagai jawaban sementara; Ada beberapa hal yang perlu diungkapkan di sini untuk
kajian deskriptif-
c. Melakukan verifikasi dangan melakukan menegaskan kembali sumbangan dari kajian terhadap pemikir
analitismelaluistudiliteratr(metodehistoris)mengenaipe- Mu'tazilah ini, di antaranya:
mikiran 'Abd al-iabJAr dengan metode historis 1. Kajian ini membantah klaim eksklusif selama ini bahwa ber-
"pirt"*oiogi
dan pendekart titf,*"*-fi1osofis'
serta mengkomparasikan
pikir filosofis-kritis hanya menjadi frame berpikir kalangan
dan mengkontraskannya dengan
pemikiran tokoh lain;
me- { Jujun S. Surhsutnntn,FllsafatllnuSebuahPengantar,(Jakarta:SinarHarapan,
epistemologi'Abd al-JabbAr dengan
d. Analisis pemikiran o
1984), hlm.32-33.
etikanya; Epistemology, tre heory witr knowledge in a number ways. First and
of knowledge, is concemed
lihat impikasinya terhadap konsep foremost it seeks to give an account of he nature of knowing in genenl, ...A second mncem of
dikemu-
e. Mengambil simpulan atas dasar uraian-uraianyang epistemology is wi$ he sources of knowledge, wih fie investigation of tre nature and varieg of
modes of aquiring knowledge...The third concem, with he scope of knowledge, is dearly related to
kakan. he oher two... The fourft concem of epistemology has been, and for many still is, to defend our
aksioma, dsb ) criteria forknowledge againstthe attac*of skepticism. Lihat, Brian Candan D.J. O'connor, ,nfoduc-
b.gi.n-b.gir-*yr: p)kumpulan sesuatu- (obiek, ide, aruran'
densi, inteftoneksil tion to the Theory of l*towledge, (Sussex/ Great Britain: The Harvester Press Limited, 1982), hlm.
ioireren'(interensi, generalisasi) atas dasar prinsip nsional
yang disusun dalam suat, utanai'ya'ng 1-2. Lihatjuga Rodericft M. Chisholm, Tharyof (aowldge, (NewJersey: Prentice Hall, lnc., 1989),
erg;|;; D,U- ary of Phitosophv' (New York:
atau bisa dipahami (skema, n1",r1,6:'i'#ffiii. hlm. 1.
287'
Sames anU'HoUte Books, 1931), hlm
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan

filsafat dari
filsuf; suatu klaim yang kemudian menyisihkan
tataran kehiduPan Praksis'
klasik dalam bidang
Kujiun ir,i menelaah seorang tokoh Islam
Islam. DalanJkonel<s iWA' at-tur6ts' kajian i*
"pit*^.f"gt
;;t"dt kJntribusi bagi upaya konstruksidari pemikiran epis- BAB I
i"*"f"gi Islam klasik, dan sebagai bagian upaya Peme- ,ABD
taannya.
AL.JABBAR DAN
3. Kajian tentang dimensi-dimensi filsafat dalam
kal6m takhrarrya KONDISI PEMIKIRAN EPISTEMOLOGI
pemikiran Islam sebagai pro-
-u",*;"f,ka" sisi historisitasmetodologis dalan-Lurli1z DALAM ISLAM
duk sejarah. femuurr-temuan ll ittn'
(rethink-
*"n;uai rig"ifikat bagi upaya-T"*ultu"ti kembali ung-
;tgi d.k; Ishm dJam pendekatan filsafat' Dengan
df', [ain, pendekatan filufut sebagai alat dialektika-apo-
*nlhi&as*terhadap aliran lain- dengan mgmahami
Gos dapat drpr-oyek- A. 'Abd al-jabbAr : Biografi dan Karya
struktur dasar bangunan ^"todotogisnya-
pendekatan terse-
,it* ,".uta praksil bagi dialektika sosia! kemanusiaan 1. Bibgrafi
but diaplikasituo s"Uu[ai sotusi problematika
kon@mPorer' Nama lengkaprrya adalah'AM al-Jabbar ibn Ahmad ibn Khalil
yang dihadapkan kepada kal.6rn
posisi'Abd ibn'AbdillAh al-Hamadzdni al-Asddabddi, yang dikenal dengan
Tentu saja kontribusi ini semakin meneguhkan gelar kehormatarr'Imhd ad-Dtn, al-Q6dhi, atau Qhdhi al-Q,frdhah.l
Islam yang ballak menyerap-keilmuan
JabbAr sebagai pemikir Berdasarkan keterangan, ia meninggal pada 4'l..4,415, atau 416 H
dari luar, yan gar*rggup*aininealnsebigai bid'{' lA*g tidak' di usia 90 tahun, J.R.T.M. Peters dalam God's Created Speechme-
lagi terbelenggu oleh
dia telah *"*uhuiiU^utt*a kal6m ndai nyebutkan bahwa'Abd al-Jabbdr lahir pada 320 H/932M.2
Jogmuti"*", tetapi juga bisa dikridk dan digugat' Tetapi,'Abd al-Jabbdr sendiri dalam karya-karyanya menyata-
kanbahwa ia memulai pendidikannya dari Muhammad Almad
ibn'Umar az-Za'baqi al-Basi, seorang mufoildits yang wafat
pada tahun 333 H. Dengan asumsi bahwa'Abd al-Jabbdr me-
mulai pendidikannya pada usia puluhan tahun,'Abd al-Karim
'Utsmdn berkesimpulan bahwa'Abd al-]abbdr lahir antara tahun

Tij ad-Din AbO Nasyr'Abd al-Wahhib ibn 'Ali ibn 'Abd aLKAfi as-Subki, Thabaqdt asy-Syitf iyyah
al-Kubr6, Juz V eds. Malm0d Muhammad at-Taniji dan 'Abd al-Fattd! Mulammad aLHuk,
(Cairo: MaKabah'lsa al€ebi at-ttalabiwa Syuraki'ih, 1967/1386), hlm. 97-98.
J.R.T.M. Peters, Godb Creafed Speech: AStudy inthe SpeculativeTheology of the Mu'tailliQitdi
al-QudhatAbu al-flasan bin Ahnad al-Hamadzani, (Leiden: E.J. Brill, 1976), hlm.9.
20 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan 'Abd al-JabbAr dan Kondisi pemikiran Epistemologi
dalam lslam 21

320 dan 325:H.t Asadaba4 yang diperkirakan sebagai Empat


ke' laraskan kecenderungan sistem berpikir tradisionalis asy-sydfi,i
lahirannya, adalah sebuah kota sebelah barat-daya kota Hamadzan dalam bidang fiqh dengan sistem berpikir rasional Mdtazilan,
di lran. yang pada figur lain umumnya diselaraskan dengan fiqh Hanafi
yang sama-sama rasional. Fiqh asy-sydf i umumnya berafiliasi
secara sederhana kita dapat membagi perjalanan intelektual
dengan teologi Asy'ariyyah sebagaimana yang menjadi kecen_
'Abdal-Jabbdrkepadaduafase;f.aselp20/325H-346H),fase
derungan sebagian kalangan ortodoks di abad ke-10 dan ke-11
perkembangan awalnya di Qazwin, Asadabad, dan Isfahan yang M.
Menurut al-Jusyami (w. 1101). 'Abd al-Jabbdr semula hidup da-
tisa disebut fase "Surrni", untuk tidak menyebutnya sebagai fase
lam tradisi kal6m As1/ariyyah sebelum ke Mu'tazilah. Fakta ini-
ortodoksi, dan fase ll (346/957-n'afat I4\5/1024D disebut se-
lah yang, menurut Madelung, menghubungkan secara logis da_
bagai fase "Vrrf tazil|', untuk tidak menyebutrya sebagT f?:"
lam afiliasi fiqh asy-sydf i-teologi Mu'tazilahs meskipuritidak
heLrodoksi,y-gbisa dibedakan kepada dua, yaitu fase ketika bersifat ketat, seperti fuqaha flanafi di lGurasan dan Asia Tengah
berada di Buttttuh aut di Baghdad (346/ 957 -369 / 97O)yangme-
yang tidak semu.rnya simpati dengan kal6mMu'tazrlahJ
rupakan masa-masa awal konversinya dari teologi Asy'ari ke
trrtu,tariur, dan proses intemalisasi doktrin, dan fase ketika ber- Pada tahun wH/9s1-lv! ia pergike Flamadzdnunt'kmem-
adad'iRamahurmuzdandiRayy(369/970-475/1024)sebagai pelajari hadits danmufofiditsfrn, seperti AbO Muhammad,Abd
masa produktif - setelah di Baghdad-bug'Abd al-]abbdr' ar-Rahmdn al-Jalldb dan Abfi Bakr Muhammad ibn zakariyd,.
Setelah itu, ia melanjutkan studinya ke ilnfunan
Fase I: Sunni (320/325-346H1
Di Qazwin, kota kecil dekat Asadabad, di usia tujuh tahun Fase II: Mu'tazili (346/957 -4t1lt}24)
'Abdal-JabbdrmemulaipendidikanrryadenganbelajarAlQu/an Sekitar tahun U6 H / 9ST H,ia pindah ke Bashrah, awal suatu
di Kuttab, sebuah lembaga pendidikan ketika itu. Ia kemudian perfembangan yang sangat penting dalam kehidupan intelek_
mempelajari hadits dari beberapa mufozdditsfin tetkenal, seperti tualnya, di mana ia pertama kali bersentuhan dengan kal6m
Zrbayribn'Abd al-Wdhid (w.347 H/958 M) dan AbO al-flasan Mu'tazilah dan Abff Ishdq ibn'A
W asy,seorang ulama yang per_
ibn salamah al-Qaththdn (w. 345 H/956 M). Di samping hadits, b"tuj- dengan AbO'AIiibn Khailad, murid eb0 Hasyiilibn
ltal-Jubbd'i,
'Abd al-Jabbir, pada fase ini, juga mempelajari fiqh, ush0l A;{ttu tokoh Mu'tazilah yang kelak sangat dominan dalam
dankatim (Asy ariyyah). Agaknya madzhab asy-Sydfii dalam sistem berpikir'Abd al-Jabbdr. pertemuan,aba a_labUAr dengan
bidang fiqlt'-meskipun reputasi ilmiahnya kemudian menun- tokoh ini dan pergumulan yang dalam terhadap isu-isu konlo-
lukkainya sebagai penentang terkuat kalangan tradisionalis versial teologis dengan kalangan Mu'tazilah Bashrah menjadi
'(mufudditsttn;_uaa[ bisa dilepaskan dari latar belakang pendi-
titik tolak konversinya dari teologi Asy'ariyyah ke Mu,tazil'ah.z
dikan ,ya. Adalah suatu hal yang unik bahwa 'Abd al-jabbdr me- Madelung dengan berdasarkan informasi Syarfo aI-' LIyfin menje_
rupakan figur sejarah yang telah menginternalisasi dan menye-
Ridad c. lr,'lartin, [&rk R. woodrvard, dan Drvis. Afnala , Defendersof Reasw in lslam: Mu,tazilisn
,Abd
aLKarim,Usmin,'Muqaddimah", dalam (Pseudo)'Abd alJabbat syanaLush1lal-l<hansah, lron Medieval Eclnolto Modem sno.f,o/, (oxford: oneworrd pubrication, 1997),
hrm. 50.
tC.ir, ff.n
U.nW.hbah,i96S),hlm. 13; FauzanSaleh,TheProblemofEvilinlslamicTheology: lbid.,hlm.32.
);aili; ffiConcept oiapQabih in al-Qidi 'Abd alJabbar aLHamadhani's Thoughf ' Iesis, td,
Muhammad 'Amarah, 'Q6dhi at-Qudh6h 'AM alJabb6r al-Hamadzinf (pengantar), ,Abd
(Monfeal: McGill University, 1992)' hlm.'t0. datam
aUabbar,'al-MukhtasharfiUs0l ad-Din; datamMuhammad,Amm6rahied), Ras|,ilaf,Adt
T6f ad-Din as-Subki, Ihabag6l asy-Sydft'Weh al-Kubre,nlm'
97-98' wa
at-Tawf;id,(Cairo: Dirasy-Syur0q, 1988), htm. 25.
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan 'AM alJabbir dan Kondisi pemlkiran Epistemologi dalam lslam 23

laskan bahwa'Abd al-Jabbdr juga belajar pada penentang Abff tahun 375/ 977, ia diangkat sebagai e6dhi at-eudhnh
@hief magts-
Hdsyim, AbO Ahmad ibn Abi'Allan (*. 1018), tapi segera kembali trate), s.oat't' jabatan prestisius yang pernah diberikan Dinisti
ke Bahsyamiyah, pengikut AbO HAsyim. Bahsyamiyah merupa- Abbasiyah kepada hakim ketua di Baghdad dan Dinasti Fati-
kan kelompok Mu'tazilah aliran Bashrahyang menarik garis per- pada era selanjutnya. Jabatan ini rebih banyak terkait de-
^iyuh
ngan pengaturan kebijakan politik dalam bidang peradilan
bedaan tajam dengan aliran Baghdad.s agama
yang berweweftrng mengangkat dan memberhentikan ha"kim_
'Abd al-Jabbdr menjadi murid AbO'AbdillAh al-Bashri, to- hakim, Iika pengangkatan'Abd al-Jabbdr sebagai
koh Mu'tazilah penganut madzhab Hanaff, ketika di Baghdad' e6dht at_eudhkh
tampak bersifat politis-teorogis, pemberhentiannya dari
Menurut seor.rng biografer,'Abd al-JabbAr ketika itu mengkha- tersebut olehamir Fakhr ad-Dawlah, dan menggantikannya de-
labatan
watirkan afiliasinya dengan madzhab asy-Sydfi'i dalam bidang ngan Abo al-Hisan 'Ali ibn ' Abd, al-' Aziz,*uriiUduk
fiqh dan berkeinginan mempelajari fiqh Hanafi. AbO'Abdilah id;.;;
al-BasM yang menjadi penasihatnya menyarankan untuk tetap -hinggaKegiatan-kegiatan ilmiahnya di Rayy mengisi kehidupannya
meninggal pada 415 H/1024(S)M.
menjadi tokoh madzhab asy-Sydf i.e Di Baghdad, di bawah pe-
ngawasan AbO'AHilah al-Bashrt, ia mulai mendiktekan kurya-
nya. Ketika berada di Ramahurmuz ia mendiktek'anmagnum apus-
2. Karya-karya
ny a, al - Mtt ghnt f Afuadb a t-T awfutil w a al: Adl (20 jilid)10 dan rn"14d 'Abd al-Jabbdr adalah seorang ensiklope drs (mawsr2.,i). Tulis_
pertemuannya dengan 'Abdulldh ar-Ramdhutmuzi, murid al- an-tulisannya, yffigmenurut al-HAkim al-Jusyami, dalam Syarfo
Jubbd'i, ia tak hanya memahami pandangan bologis AbO Hfuyim, al-'Uyfrn, mencapai tidak kurang dari empat ribu lembar,t, ti'dak
tetapi juga pandangan teologis al-]ubbd'i. hanya mewarnaiarus debatteologis kont"ks
-urur,yu, tetapi juga
rnengisi lembaranlembarankarya fiqlu usul al_fiqh, tafsir, i"dL
Reputasi keilmuan'Abd al-Jabbdr sebagai pengajar dut Pu- isu-isu debat (al-j adaliyydt wa an-nuqfid),kriuk doktrin agama lain,
nulis segera menyebar di kota-kota Iran yang berada di bawah dan nasihat-nasihat.
kontrol kekuasaan Dinasti Buwayh, di mana knl6m Mu'taztlah
masih dominan. Ia kemudian diundang oleh ash-ShAhib ibn Sebagian besar karya-karya ,Abd al-Jabbdr tidak ada lagi,
'Abbad Q26H/938 M-385 H/995M),aizier (wazir) terkenal tidak ditemukan, atau masih tersimpan di beberapa pelpustakain
Buwayh masa pemerintah Mu'ayyid ad-Dawlah, ke Rayy (salah atau museum dalam benfuk manuskrip,lengkap atau hanya
be_
satu kota besar Buwayh yang sekarang merupakan daerah-dae-
rah pinggiran kota Teheran). Tidak ada data sejarah yang jelas myrylin rneniadi pegawaistaf wazir. Lihat George F. Hounni, /s/amrb R ationalins:the
ryla Ethics
tentang posisi apa yang ditempati'Abd al-Jabbdr.l1 Pada sekitar of 'lMaLlM*,(0xbrd:chrendon prcss, i97r), hrm.-6; RirJrad r/ailin, r/a*wooorao, oan oris.
Afrnai1a, Defenders of Reason, hlm. 51.

s Richard C. Martin, Mark Woodward, dan Dwi S. Atmaja, Defenden of Reason, hlm. 51' '2 sebagian penulis biogafi'AM.alJabb6rmenghubungkannya
dengan pemyataannya sehubungan
derBantematian sahabatrya, rbn AbMd, yang dianggap mengindilasikan
e ku"r'g roia,t .ni. t,iirrr
lbrd,derganmengutipJoelL.KnaemerdabmHumanismintheRenaissarreoflslarn,hlm. 178-191. afvaffl.tah1laoorang yang dihormatinya, atau kurang fah/[unang menja gadan'ar+r'ayiniwsi-
r0 Muhammad 'Ammdnh, Qhdhi al-Qudhdh'Abd al-Jabbiribn Ahnad al-Hanadzdni hlm' 26; 'Abd sinya sebagai QddhiaKludhih, Agaknya bertolak dari lieyakinan teotogis Mu'tazitatr, ,lOOiUabnar
alJabbdt At-Mughni fi Abw?tb at-Tawhid wa at''Adt, Juz XX, ed' lbrihim Madkor ef'aL, (Cairo: belomelhrtentanglbn'Abbid, {.c,}ii
)t ,'r.+.r.4i&l .l.tt6.i.,,uiri16.litl .iin.ilU.
Wiz6nat ats-Tsaq-dfah wa al-lnsydd al-Qawmi dan al-Mu'assasat al-Mishriyah li at-Ta'ffwa at-Tar- alAh,ir,Al-Kdnilfrat-Tdrikh,JuztX,(BeirutDArTsidirdanD6rBeirut, 1966),htm.ir.e;rgkrl
jamah wa atr-Thibd'ah wa an-Nasyr, '196G-1969)' hlm.256-258. dengan George F. Hounni, /s/amic Rafrbnalbm, hlm. 6.
1r Karena kecenderungan keilmuan lbn 'Abb6d, 'Abd alJabbar mungkin-menurut perkinan George 13
Dikutip dari Madrasin, AleadiAbd al-Jabbar, Mdasyabih Al-eur'an: Dalih Rasionalitas At_eur,an,
F. Houran'r+Jiberiwewenang oleh Dinasti Buwayh untuk mengajarfiqh dan teologi.
'Abd alJabb6r (Yogyakarta: tXiS,2000), htm. 19.
'AM alJabb6r dan Kondisi Pemikiran Epistemologidalam lslam 25
Pertengahan
Epistemologi Kalam Abad
24
Informasi lV. Komentar-komentar 1. Syahal-Mufiith td.
sebagian telah diterbitkan'
rupa fragmen-fragmeo dan eneg:tr:tr# (asy-Syunlt) 2. Syafu Kasyf al-A'rddh'an al-l'rddh bs.M
X;tillf "li*"'""i't'"oiehbeberaPaf
Brockelmann dalam G
3.Tahdzib asy-Syart td.
r.furit,"uuit oleh C' Schifthtms; 4.Takmilat asy-Syafi' bs.M
Literutur;Fuat Sezgin ;;; Geschichte des Atabischen
God's Created 5. Syad al-Jawdmi' bs.M
Peters dalam
'Abd al-Karim'Utsman' ]'R'T'M' 6. Syakal-Maqdmdt td.
Speech; mauPun Yang lainnYa' 7. Syafual-Ard'' td.
kategorisasi'Abd
Karya-karya'Abd al-]abbdr' berdasarkan 8. Ta'liq Naqd al-M a' ifah td.

ar-RArvi aJ"^ wa at-Huriyyah lan' kr:iot:gr-


as-SattAr 'i;AqI Martin' Mark R' V. Persoalan Debat 1. Adab al-Jadal bs.M
Ri[ard-C'
sasi penulis*v^;;il;;dt": dalamD efendersof Reasoninlslam'
(At-Jadallyydf) 2. Al-'Umdah fi al-Jadalwa al- td.
woodward, a*p*ii. et "aja MunAzhanh
d"p"t diielaskan dengan tabel berikut 3. Al-Khilflf wa al-Wifdq td.
4. Md Yajlz fi at-TazAyud wa md 16 td.

6n bs.M Yaj0z
1. (BaYdn) MutasYdbih Al-Qu/
t. llmu-ilmu Al-Qur'an td 5. Al-Khilflf bayn asy-Syaykhayn td.
(al-Ulim 2. Tanzih Al'Qur' dn' an al'Mathd'in
td.
3, At-Tafsir al-Kabir Vl. Kritkan-kritikan 1. Naqd al-lmdmah td.
995 M
4. Tatsblt Dat6'il an-Nubuwwah 2. Naqd al-Luma' sb.M
td. 3. Nagd al-Bad6'i' td.
1. l$eb at-lJshlt al-l(hamsah
ll. lsu-isu Teologis H. 4. Syafial-Arl'' rd.
2. At-Mughni fi Abwdb at-Tawf;id wa -380
(at-UshiltYYah) 5. Ar-Radd'A16 an-Nashdrd td.
al-'Adl
bi at-Taklif td.
3. At-Ma1ml'fi al-Mubfth Vll. Permasalahan dan
bs.M
4. Syafu at-lJshlt al-l$amsah Jawaban 1. AbMasl'il al-Wdndah'Ale Abi td.
td.
5. At-Mukhtashar al-Husnd al-Husayn
(At-Mukhtasar fi Ushll ad-Din) 2. Al-M as6'il al-Wdidah' A16 td.
Ahl td.
6. Ush0l ad-Din'Atd Madzhab al-Jubb6'iyayn
at-Tawfiid wa al-'Adl 3. Mas6'ilAbi Rasyid td.
970/1-995
7.Ziydddt al'Ushfll 4. Al-Ajwibat ar-Rdziyy\t td.
sb.M
S.Taqrib al-Ushil 5. At-Tarmiyyah td.
td.
9. Takmitat SYafr al-U sh0l 6. Al-Qdsydniyydt td.
rd.
7. Al-Klfiyy1t td.

1. Al-llimid
bs.M L A[-MishiWdt td.
lll. Persoalan Skisme bs.M 9. An-Naisdbfiriyydt td.
2. At-Tairid
td. 10.A|-Khawdizmiyy1tt td.
3. Al-Jumal
td
4. Al-l(hlfir
al-Fi'l td.
5. Ad-Daw6'i wa ash-Shawlfif
26 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan 'AM alJabbdr dan Kondisi pemikkan
Epistemologi dalam lslam

11.41-'Askariyydt [sic, al-Murdd] Ii ar-R6'id)ts daram bidang hadits yang


disebut
12.A1-Makkiyydt dalam kategorisasi'Abd as-sattzir ar-Rawi
di atas sebagai karya
13.A\-Muqaddimdt' 'Abd al-Jabbdr. IGtiga,,Abd al_Karim,Utsmdn
dalam f?"-g""""
syarfo al-IJshtil al-Khamsah
-dengan meruj * pada Kt6b ot- t iuryot
wa al-Amat Ibn al-Murradhd_menyebutkan
69 juduf t"";;*_
paknya menjadi rujukan Mufuammad ,Ammarah
antar al-Mu*ttashar
;i;o*'g_
1. Kfteb al-'Umad
f Llshfi.t ad.-Dtn. Karya-karya yang tiait ai-
,UfrmAr_fiir,ar,(z,1inU"al_eur,an,
2. Ushhl al-Fiqh
3. N ashifiat al-Mutafaqqihah
f
S1|adltrs:(1)ar_Adiltahf
(3) al-flibnahwa at-fl1kt.m,
@) Mas,akh"f A_CnoyUon, (Si i_Ur",
4. Majmi'al-'Ahd wa at-Taminu', dan(6) al_Mujdt.ro
Di samping perbedaan tingkat
5. An-Nihdyah temuan atau investigasi naskah-naskah
asli, jiga id""fifik rit_
6. Al-Hudhd katu semisal dengan perbandingan
antarnaskat, s$Iebahasa, darr
m.uatlnnya menjadi persoalan yang
7. Al-'Uqild
,:\i - sangat penting dalam kon_
8. Syad al-'Uqhd
9. Al-Mabsttth
*:qnensan
al-ushfrl al-Khamsah. {1'T T,1.fu iry"uha.,
Richard C. Martin et.ar.,t7 dengan u"iir"t
Ivrrt r"*i"I"""
10. Al-lkhtiydrdt dari paparan Daniel Gimaret,,Ics Ushfil
ut_ff,u-Ju a" qidh,
'Abd.Al-Gabbdr et Leurs Commentairs,,
yang dimuat itu*
!:ybt- lslryologiques tentang temuannya terhadap manuskrip
Keterangan: KtAb al-ushfil al-Khamsalr darim koleksi
manuskrip di vatikan rr
menyimpulkan bahwa: (1) ,Abd al_Jabbar
Td: tidak atau belum ditemukan data; sb.M: penulisan se- pemah menulis sebuah
co.Wndium (uraian ringkas) teologi
belum al-Mughnt; bs.M: penulisan bersamaan dengan penulisan yurrg air.bu t Kitdb ot_UJ,nt
ul-Khamsah; (2) 'Abd it-;ubba, t"uo'.raiur,
al-Mughni; dan tanda " : karya yang juga dimasukkan dalam kate- menulis komentar
$v1'b) terhadap karyanya tersebutyang hingga kini
gori lain.
(3) Beberap a ta, Itq (superkomeitar)
m"tlit"-
Deskripsi yang dikemukakan melalui kajian-kajian intensif 1.191 -
f abb6r brsebut dituris oreh rrrranataim
llas ry *2, iai- a_
lgawdm ad-Dn Manakdim
tampak masih sangat problematis karena adanya perbedaan yang Ahmad ibn al-flusaynlb"-Alt Haryir"
al_flusayni Syasdiw),
sangat signifikan dalam jumlah karya-karya yang dianggap se- seorang Mu" t z,ah zaydiyah.
HaI yang sama juga dilakican otetr
bagai karya-karya 'Abd al-Jabbdr. Pertama, Fuat Sezgrn dalam al-Farrazadhi (wafat akhir abad 6-z
C*schichtedesArabischenS&ift tumsmenyebu&anL3karya,ymg
i1 ouiuri proses ia""in-
di antaranya tidak disebut di atas adalah Kitdb ad-Dars yang ber- 'i Dikulip
dari Fauzan Saleh, Tl:re prilbn
of Evil in tstanb Theology..., hlm. 31.
sama Kitdb an-Nihiyah dikatakan sebagai bagi an dart al-Mu'tanud 'o Muhammad hmmirah, 'Q6dhi arQudh.h 'Abd arJabbdr
ibn Ahmad ar-Hamadzanr (penganb4,
datam Muhammad Ammirah (ed.),
al-Bashri.la kdua,Brockelmann menyebut Rishlah f 'IIm al-Kmiya' nasan at,ni wa n i-li6a,
zt_eo.
dan al-Amhlt (Nizhfrm al-Qaw6' id [sic, al-F aw6' id] wa Taqrtb al-Marhd
'' t' Martin, r/ark R' woodwad, dan Dwi ^.
ffi*r- s. Arnaia , Defe*ers of Reason on lsran,hrm.
r'LihatDanierGimaret'Lesush0rAH(hamsadueidhiAbdAr-GabbaretLeuncommenbin,,daram
11 Fuat Annares rsrannrogiques, No, xv
Sezgin, Geschrchle des A rabischen Schrifftums, Band Vol. l, (Leiden: E.J. Brill, 1967), hlm. (rnstitut Fnncais
45-96; Maciasin , At-e6di Abd at_JaOOar..,
d'nJ*6ir
' -"--'* orientare Du caire, 1g7g), hrm.
6244226. rrfm. 21.
-
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan 'Abd al-Jabb6r dan Kondisi Pemikiran Epistemologi dalam lslam
28 29

kasi naskah, Gimaret membandingkan antara KitAb al-UshfiI al- Mu'tazilah dengan Asy' anyyah,Hanbaliyyah yang literalis, atau
Khnmsahyang ditemukannya dengan Syarfo al-Ushhl aLKhamsah Maturidiyyah. Kondisi ini memberikan corak dialektis terhadap
(edit 'Abd al-Karim'Utsmdn) yang dianggap sebagai karya'Abd karya-karyanya. Jika masa al-MutawaLkil (232 24T H/ UT _ 961
-
M) merupakan masa kemunduran Mu,tazilatg berkuasanya
al-JabbAr dengan meletakan margin karya pertarna nomor halam-
an dan baris yang sesuai dengan karya kedua. Gimaret, akhirnya,
Dinasti Buwayh pada abad ke4 H merupakan kebangkitan kedua
berkesimpulan bahwa Syarfuyang ditulis sendiri oleh'Abd al- Mu'tazilah yang berafiliasi dengan syfah.2r Di alcrir auaa ke,9 IvI,
Mu'tazilah disibukkan dengan upaya-upaya menepis kritik-kritik
Jabbdr terhadap conpendium-nya itu telah hilang, dan Syarft
aI-
yang ditujukan kepadanya oleh- dalam istilah Richard c. Martin
Ushhl aLKhnmvhyangdiedit oleh'Abd al-Karim 'UtsmAn dan di-
terbitkan pada 1965 sebagai karya'Abd al-Jabbdr sesungguhnya kanan (tradisionalis) dan kalangan ktri (mutfolilah,
_-kalangan
adalah Ta'ltq 'al6 syarfu al-lJshfil al-Khnmsalr oleh Minakdim' filsuf, dan intelektual non-muslim).2 Di Bashrah; misalnya, al_
Ungkapan Mdnakdim tsumma q6la rafuimahullilh yang merujuk Iahizh (w.868/9 M) menulis Fadhilah al-Mu'tazilah untuk mem-
kepada'Abd al-Jabbtu merupakan indikasi lain'le bangkitkan kembali citra Mu'tazilah yang tenggelam pasca-
Mutawakkil (dan pada masa aleddir Bilah p8ir:411lts^J}9lr_
1031 M berikutnya Mu'tazilah dianggap al-i,tiq6d al_qilitiiyang
B. Konteks Sosio-Historis dan Kultural terlarang).8 Al-Mutawakkil (w. 910 M), yur,g p"-ih dituduh
'Abd al-labbAr hidup pada masa Dinasti Buwayh, yaitu di- sebagai atheis (mulfoid)karena kritilnya terhadap Al-eu1an, kitab
nasti yang dibangun oleh Bani Buwayh dari suku Dailam di pegu- suci Qinnya, rasul, dan agama wahyu, menolaknya dalam Fadht_
Luet al-Mu' tazilah. T etapi, intensitas ketegangan doktrinal
nungan t"O"Uft barat-daya laut Kaspia. Mereka sendiri meng- tersebut
klaim (meskipun, sebagaimana dinyatakan al-Biruni, tak memi- agaknya menurun pada masa Dinasti Buwayh. Khatq At-eur,6n
tiki dasar yang cukup) sebagai keturunan raja Sasanid Bahram Gur,
yang merupakan patron sastera dan ilmu pengetahuan' 2r Afiliasi atau
aliansi antara syi'ah dan.Mu'tazilah disebabkan karena adanya hubungan teologis
antana keduanya: op,ttana, Mu'hzilah menempat<an pada tiga trabaqah: perlam4-imam-imam
Sejak teriadinya polarisasi Syfah-Sunni yang menemukan mereka yang juga diakui oleh kalangan syi'ah. 'Abd alJabb6r sendiri
memanganggapnya sebagai
bentuk finalrrya, menurutWilliam Montgomery Watt, antara 850 generasi awal Mu'hzilah yarq menanamkan londasi keadilan dan penginglaranGrtraiap
predis_
ytlsi.(/"adl wa inktu ar-iabfl. Kedua, daram konterc di atas, Dinasti Buwaih merupakan penganut
doktrinal
- 950 two sejarahkahmmerupakan sejarah keteganganwaktu antara
sytah Zailiyyah (kemudian beqeser ke sylah lmimiyyah) yarB sebenamy. t ..o borogi, .irbn
dan politis dengan intensitas berbeda antarkurun Mu'hzilah karena mengakui lima prinsip dasar (al-lJshll ai-khimsatr) llu;taziAn. eerOeO-aan yang
lerjadi hanya padaprwlan juz'iyydt(partikular, cabang), terubma pada masalah
kepemimpinan
s lbrcl. pebm{ercamaandengantahunbrbitnyaartikelGimaret(1976}{eskimenyahkanbalwa (al-ftr6mah). Aliansi anhra sg'ah dan Mu'hzilah, menurut ieteangan
asysyahnstani, terFdisemula
ketika Zayd ibn 'Al? ibn al-llusayn mempelajari prinsipprinsip ilaran [,,tu;tazitat pada
AM al"lGfm,ubn€n sebenanmya merggunakan vesi Manakdim, bhpicenderurg mengarBgap Mshil ibn
penoalan yang sulit unfuk 'Atll'. Lihat, Muhammad 'Ammdrah, 'eddhi aLeudhih ...', hl;. 27.; Asy-syahrastani,
nya sebagaikarya'Abd alJabbirsendiri. Namun, h rneninggallon suatu At-Mitat
wa an-l'lifial, cel ll, Juz t, ed. Arrnad Fahmi Mulammad, (BeiM: Ddral(utu-b al-,ltmiyah,,l992l
oiiawau, yaitu uanwa a;Hikim apusyami dalam Syan al'Uyrin (hlm. 368Fmeski membuat kale'
1413)' hlm. 22: Joel L. r\raemer, Humanism rh rhe Renaissance of rsram:
gori tertentu tentang komentar (sya{) dan menyebutnya sebagai syarhal-ush'l al-Khanlah- Tne cuttiiat nevuat
13. duftrythetuyirlAge, (Lekten:E.J. Briil, i986), hlm. z2.'AbdauabMrsendiri-<Jemikhn tr,tdnakdim-
iidak menyebut buru inidatam karegori sya{. LihatJ.R.T.M. Peters, God\ Creded Speedt, hlm.
tllak.mengambil keputusan (tawagguf_ seperti sikap gurunya, Abr] Hisyim dan AbO ,Ali,
Kemungfrnan jawaban beragam atas persoalan itu tampak akan menjadi spekulasi. Oleh karena tentang
gebenamya menielaskan-yang karena tgnJu- sahabat Rasuhllah yang paling ubma. setelah menulis syafral-ushll at-Khansah,
itu, ataJdasar'bahwa Sya[ al-Ush 0t al-Khamsah Rbo itJaobar
(hlm. 56- bertesimpulan bahwa 'Ali ibn Abi rhdlib adalah sahabat Rasulallah yang utama,
nya masih merepresentasikan secan kuat-pandangan 'Abd alJabbar, guru Minakdim seperti skap
W-ishil ibn 'Ahd'yarg diberi tabet.SyiT
5f, penulis menggunakan sebagai penopang penjelasan'Abd alJabbirsehubungan dengan kon- [pseudo] Abd dJabMc Slad aAjsh Ot afrcninsanim.
766-767.
sep epbtemologi melalui sumber-sumber primer.
E William i/ongomery Watl lslamic Ph:tlosophy And Theology An Ertended Suruey,
(Edinbuqh: " Ridard C. lvlartin, ilarft R. Woodead, dan Drvi S. Atnaja, Defenders of Reaso4 hlm.
29.
Edinbuqh Univenrty Press, 1992), hlm. 56'
a Muhammad Ammdrah,'Qddhial{udhih...', hlm. 26.
'AM al-Jabbir dan Kondisi Pemikiran Epistemologi dalam lslam
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan 31
30
menyusuP ke dimensi peradaban Islam. Joel Kraemer menyebut masa ini sebagai ,,re_
sebagai keyakinan teologis yu'lg P:Tuh mT:"l naissance Islam".28 Pada masa BuwayhJah, antara lain, lahir se_
memang
politik pada *uru Abbutiy"ft p1"-ft'futawakkil) jarawan Hildl as-Sabi, ahli geografi Istakhri.dan Ibn an-Nadim
ibn al-Hasan al-Buhhas
n"*"yn. lirrhu^*ud
ffi;;ilb*rt asy-Sydfi'i' dipaksa meng-
yang menyuswr al-Fihisf-nya pada 377 / 997
-g8;g, ahli matema-
gtO
i"i. *I), *orar,g hukim bermadzhab M)' tika Abff al-Wafd' al-Bazjarti, ahli perbintangan an-Nasawi, dan
ikuti paham fufu ta"ifJ*' gugu'ut' tUn'eUUad (326-385
fisikawan al-Majusi. 'Abd al-JabbAr tentu juga bersentuhan de-
Namuo Fakhr ud-D;;luh, aitr"DtnastBuwayh yang berkuasa
ngan pemikiran-pemikiran para filsuf Islam yang hidup pada
ketika itu, menolakttyu'tn masa Buwayh, semisal Ibn Miskawaih, filsuf dan sejaraw€rn se-
didasarkan pada dya faktor:
Penolakan tersebut' mungkin' kaligus bendahara Buwayh masa Adhud ad-Dawlatr, Ikhwdn
pertama,trauma*;u'uirnuta'ibuasiyahdengan'mifunah-nyadart' ash-Shafd' yang menulis risalah-risalah yang dikenal dengan
merupakan mayo-
pertimbangan po[tis bahwa kalingT-9unni RnsA'iI llhwdn ash-Shaft', dan lbn Sind (w. 1094. Tokoh yang juga

ffffi il"ilrkt kekuutu" poriti"t'E Kedua'menurut Watt' ik tak kurang pentingnya dan rival Ibn'AbbAd, AbO HayyAn at-
teologi Islam cen-
Lliti-Ulr". awal Barat tentang perkembangan Taw\idi (w.399/1009), penulis Kitdb al-Imt6, uta al-Mu;6nasah,
k"rit;;i;
bahi i mutakaltii'finadalah Mu'tazilah gurunya/ Abt SulaimAn as-Sijistini (w.371,/981), seorang ahli
derung padu
hingga munculnya i:&;' tyq}l"k""gan iustru menuniuk- logika (al-manthiqi), dan Ytsuf al-'Amiri (w. 992M), penulis Kitab
kan bahwa mutakaltimtti abadke-9
M t"*iliki
poslsi do€matik al-I'l6mbi Mnn1qib al-Isl6m,juga produk masa Buwayh. Browne
di kalangan ahl al-fozdtts'26
yang mend"t"ti p"'itillko*"*uuf" merpatat bahwa AbO Nashr al-Fdrdbi meninggal pada 950 M
jika benar' menegaskan telah te{adi yang filsafatnya bntu memberikan pengaruh brhadap pemikiran
Kesimpulan Watt iersebu!
Iiberal" dan kelom-
"pencairan" t","gu"gu" t"!y5 1ra-dikal/ Hanbali' ortodoksi
sesudahnya. Beberapa pengkaji periode ini, seperti Ian Riclnrd
Literalisme Netbn dalam Al-Farabi and His Sdtoolmenggambarkan pemikiran
pok "konservatifT trJaisionalis'i' "mencekik"
Asy'ariyyah, p",tgtruh furli yan-e sebelumnya periode ini bersifat al-Farabist.a
"ta" perkembangan besar-be-
filsafaL akhimya melonggar sehingga Meskipun Dinasti Buwayh adalah penganut Syfah Zaidiyah
penge'tahuan dan filsafat' E'G'
saran terjadi dalam bid;g ilmu (yang menurut Netton kemudian bergeser ke Syf ah Im6miyah),s
PerJumengungkaP-kan hal ini'
Browne dalam rit *i i7tory of
been stifled by Turkish as-
"Philosophy *p"ti;rfy, *fttit.irad
as well as by the growing n
cendanry ur,a H*U#te fanaticism'
Lihat lebih lanjutJoelL. Kraemer, Phi,osophy inthe Renaissane of tstam: Abu sutayn1nas-siiistdni
27
one more revived" '"' and His cide, (Leiden: E.J. Brill, 1986). Karyanya yang lain adahh Humanisrn inhe Renaissane
strength of al-Ash ari's doctrines' of lslan: the cullunl Revival During the Buytd Age. Menurut Bemard leuris, kebarqkitan Dinasti
masa perkembangan ilmu Buwayh, sebuah Dinasti lnn sytah, di abad ke10 sesungguhnya menandai litik-balit datam sela-
Masa Dinasti Buwayh merupakan rah perdaban lslam abad tengah. Sytah selalu nerupakan lahan suburbagi badbi intelekfual flsaiat
cukup signlfitan dalam sejarah
pengetahuan a". t"ft"Lf ya"g dan misitisbrre yang menyambungkan keterputusan mata nanbi intelekfual di dunh lslam ketika
flsafat dibabat habb oleh kalangan ortodoksi (sunni, hadisionalis). Lihat Bemard Lwis, /s/am in
Hi$ory: ldeas, People, and Evenb in the Middle East, (chicago dan La salle, lllinois: open court
Publishing Company, 1993), hlm. 1't3.
2'ZuhdiJirullih, Al-Mu'tazitah'(8eirutal-Ahliyyahlian-NasyrwaalTawzt'1974)'hlm'210'
n Lihat lebih lanjut dalam lan Rk*ard Netton, Ar-Farabi and Hrb school, (London dan New york:
sLihatClaudeCahen,"Buwayhids'Buykts'dalamHA'R'Gibbet'al''(eds')'IheEncyclopaediaof
lslam, Vol. l, (Leid.t' r'i'Ei'n'itt
r-"tiJtt: t-uzac a co'' 1960)' hlm' 1350-1357' Roudedge, 1992); Oliver Leaman, 'lslamic Humanbm in he four$ tenfi centurf, dalam Seyyed
Hossein Nasrdan oliverLeaman (eds.), Hidwof lslanicphilovflty,parl l, (London dan NewVork:
26 William ltronbomery Watt lslamic Philosophy hlm' 57' Roudedge, 1996), hlm. 155.
27E.G.Bmwne,lieraryrr.stolyoseersla,vot'1,(Cambridge:CamblilgeUniversityPrcss,1956)'hlm' n lan Rbhard Nefton, Al-FaraN and H9School hlm. 28.
364.
'Abd al-JabbAr dan Kondisi pemikiran
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Epistemologi dalam lslam
32 33

tempat kebebasan' tokoh Mu'tazilah di Bashrah adalah Mu,ammar (sezaman


tradisi dan pandangan Sunni tetap diberikan dengan
yang, karena telah mengungkapkan konsepsi-konse"psi
Bahkan, Joel L. Kraemer mencatat perkembangan-perkembangan 9_niri4
altara filsafatYunani dengan cara yang sistemitir,
tJtotuiiu" politis bagi kebebasan berpendapat' Kra9m91 ad- -u*p"ngaruhi per_
kembangan Mu'tazilah belakangan. ,Ali Sami ar._ru"!fya,
iuir, -"r"t* perdebitan pada masa pemerintahan'Adhud *e_
AbO Sulaimdn as- nyebut Abfi al-Huzayl al-,AllAf, generasi sesudah
Dawlah antara AbO Bakar al-BAqilldni dan Mu,ammar,
teolog dan filsuf sebagai "filsuf pertama,, Mu,tazilah.e Ia menggunakan
Sili"aaoi,t sebuah perdebatan akademis antara konsep
ahli substansi dan aksiden Aristoteles dalam menjelaskan
;G;;""" terladi sebelumnya antara Abff Bisyr MattA' atomisme
seorang teolog yang mendominasi teologi Isram.3z c,enerasi Bishrah
i;ffi aan g,rru at-fArAbi, dan A$o Sa'id as-SirAff' yang berkuasa an- penting bagi pembentukan intelektua|Abd al-Jabbd"
yang sangat
irfi*.o'aaind ad-Dawlah, patron as-SijistAni' 'Ali al-Jubba'i dan puteranya, Abt Hasyim
uaiur, eu,i
ia g78M hingga 983 M menunjukkan toleransi yang khusus bagai asy-syaik].W (dua guru).
,yngdisebutnya se_
bagi non-mutli*, t"rutuma Kristen'33
dengan Di samping "\g*ungan teologis,, (theological enoironment),
'Abd al-Jabbdr bntu saja tidak bersentuhan langsung
"lingkungan filsafa(' meminjam istilah I.R.T.M. peters, dan ,,lingkungan filosofu,,
ide-ide filsafatYunani meski berada dalam di
berpikirnya' telulma atas, pemikiran'Abd al-Jabbir tentu harus Jiput
u-i dalam kon-
di atas. Pemikiran Yunani dan metodologi
teks ketidakpuasan
l"gtk" Aristoteles (al-mantht q aL Ansthi) y"",q 1ili ^tT:i Josef ilg" kritiknya _ seperti dituangkannya
teologr dalamNaqd al-Luma' 9.T
lrir, gs dikatakan sebagai bagian struktur logika -ttT'
dari
(kritik terhadap al-rttmi)
-tetnaaai eoro6
kecuali' diperoleh al-Asy'ari, al-KutlAbiyah (aliran fUn fuUaU;, aUn
(tlulogical strucnre of kimi'!*bgq)tanpa M'hammad
langsung dengan Hisyam ibn d-Hakam (Syfah), Khaswiyah.Toioh Aq/ariyyah
tokoh-tokoh a*ut tt't f tarilah yangGrsentuhan ter_
rambatan gelombang pertarna H![enisme
(the frst,waae of.Helle- penting yang semasa dengan,Abd al_|abbdr adalah
am gakr
karya-karya Yunani al-Bdqilldni (w. 403 H/1073 M).s pemikiran,Abd al_Jabbdr juga
U"ditiu Islam"melalui penglelahan
"iA
*uru Abbusiyah di Baghdad''Abd al-Jabbdr memang
meruPa- merupakan kritik terhalln,kelompok_kelompok luiru
r"p"it
kan tokoh Mu'tazilah cibang Basfuah'
Akan tetapi' menurut Per- as-hlib aihahabi'i (nah;irahs),ss azh-zhahriyyah (materialism
iy, n _
cabang Bashrah sfrfshthi' iyyaft (sofisme),ao dan lain-lain.
kiraan William tutontgomef Watt' Mu'tazilah
sejarah di banding ca-
lebih dahulu muncul i" p"t*"ttan dalam
cabang Baghdad r
lang g"ghaad." Oleh kaiena itu, berbeda dengan Alisdmi an-Nasysyet, Nasy'at at-Fikr ar-Farsafrfr at-tsr6n, Juz r, (cairo: Ddrar-Ma'drif,
19gr), hrm.
grasikan penye- 444. tugumenhsiyang dikemukakan.an-Nasysydr
yur,[ f"rJif, U"rorientasi praktis dengan menginte ait#n'ar
adatatr: 1t; [,lenurut peniraian loo

kekuasaan' ca-
Asy'af, pandarEan ar-'Aildf tenhng silatTuhan merepres.ntark
u.l*t t r*, iii oolri"ii.r
ilurJ^ prinsipprinsp atktrin ke dalam struktur
n
bahasan--sebagaimana pemahdinyatakan oreh ar-rihayy6th-+nerupakan
objer ti1fun nbr.iilt
teoretis dengan terfokus pada Menurutan-Nazhzhim, ar-'Ail6f mengkaji buku-bukufirsafatyunani; pdngd;hrr.ri*-
ffi ri*trut l"uinLrorientasi Di antara tang gnostsisrre;dan (5)Ar-Aldf semasa dengan upaya penerlemanan
(4t
nGailrr.ri
p"#tirur, dan perumusan prinsipprinsip tersebut'3s di Baghdad masa al-Ma,m0n.
hryr-r.iry,
rr William MonQomery Wa( tslamic philosophy,hlm.
:
53.
31 Joel L. Lraeme r,PhibsophyintreRenaissance of lslam' hlm' 76-79' r Konsfuksi pemikiran kal6m aLB6qiildni, yang semasa dengan
(cambridge: cambridge univer- Abd arJabbir, sena beberapa per_
o Lihat oliver Lea nun,lntodudbn to MedbvaltslamicPh/osophy, geseran dad Asy'ariyyah yang dianufrya akibat persentuhinnya
dengan ariran lr,lu'tazirarr, anba
sitY Press, 1985), hlm.8-10' lain, dapatdirihatdatam ilhamuddio penikjnn Katan
At&aqiirani: siudirenang eiiilinJm
! lan Ridrard Netton, At+anbi dnd Hissclrool'
hlm' 29' Perbdaannya dengan atAsy'ai, (ftgyakarta: Tian Wacana;
1gg7).
n Ashhdb ath-thabdi'adarah kelompok naturarb yang menegaskan
s William Mon$omeryWafr, lslarnbPlrilosophy'
hlm' 52' hukum kausalitas.natures. an
sich dan menegasikan sama sekari kemungkinin tlterrioaltan
!AhrnadAmin'DlrrtaalJsl*n,Juzlll,(Caio:lr,lalGbatan.Naldhahal-Mishriyyah,tt),h[n.15s.161. lindakan Tuhan Ji orri, ii.i.r.ir.
Pertengahan 'Abd alJabb6r dan Kondisi Pemikiran Epistemologi dalam ldam 35
Epistemologi Kalam Abad
34
itulah yang T"."gttithl kakan oleh Mulammad'Abid al-Jdbiri dalam tiga seri "kri6k
Konteks sosio-historis dan kultural nalar Arab" (naqd al:aql al:arabi), yaitu: Takwin al:Aql aI:Arabt;
dalam kesadaran @ ,rn*'
*aal-Jabbdr, suatu kondisi di mana Bunyat al:Aql al-'Arabt: Dirdsah Tafililiyyah Naqdiyah li Nuzhum
pergumulan;t;;wacarn teotogis dan filosofis'
teriadi aLMa' nfalt fi ats-Tuqdfat al-' Arabiyy ah; dart at: AqI as- Siydst aI: Atabt -
Uraian berikut lebih bersifat umum dan singkat untuk melihat
Epistemologi
C. Peta Perkembangan Pemikiran posisi epistemologi dalam wacana kal6m sefia interkoneksinya
dalam Islam dengan episteme model lain.
pemetaan kondisi pemikiran Sari Nusibeh dalam His tory of Islamic Philosophy memetakan
Pada bagian ini dikemukakan
y""g ;ahm Islam untuk melihat Posisi
b;;;;;;; aliran-aliran epistemologi dalam Islam kepada empat varian:42
epistemologi k'atfun yang meniadi
atau struktur epistemologi dalam Y3:*u Pertama, pendekatan konservatif. Model pendekatan terha-
Istam" adalah sesuatu yang
salah satu elemennya' "Ep:istemologi
-"i"";"af dap epistemologi ini mengasumsikan adanya dua domain kebe-
a1J5*t1t ilmiah yang di Barat
unik karena upu y*g nar.rn; (1) kebenaran melalui teks-teks wahyu dan (2) kebenaran
dalam Islam ditarik ke diskusi
dikaii secara filo'orcl'p"kulafrf a3
melalui nalar logika terhadap bks tersebut Kebenaran pertama
doktrin agama-teriadi tarik-
yang-kare" b",J"il;;;; Adalah suatu problema- merupakan kebenaran absolut karena bertolak dari anggapan
menarik "ilmiah-p'"-iliJJ "oti;r*iah'' bahwa ada kebenaran-kebenaran yang tak mungkin terjangkau
Islam dalamkontek's@a'
tika serius y*g did;;;;;;dalitas Islam dan pemeta- (elnated tntths)yang hanya menjadi wilayah keyakinan. Kebenar-
at-turdtsbahwa kalian terhaaup "pt*Tologi an kedua, karenanya, hanya merupakan kebenaran "pinggiran'.
aiUnttutt' kecuali hierarki ilmu
an struktur tersebutlJ-banyul Produk keilmuan dengan menerapkan pendekatan ini oleh Ibn
uPaya awal berupa simposium
versi Osman Bakar dan sebuah Khald0n, dalam al- Muqaddimah, dikategorikan sebagai kelompok
rslam and Epistemotffp"J"
r"u^i#,1999 oleh tlu Internationnl
untuk.membahas karya Mehdi
"ilmu-ilmu yang ditransmisikan" (al:ulfim an-naqliyyah), seperti
lnstitute of Islamic n*"in'(IIfI) tafsir, fiqh, ush0l al-fiqtu dan bahasa. Pendekatan model ini men-
Ha'iriYazdi,ruP;;;;i)'"jrpiut*tt"ry'""-y:::-i!:i:-y:I
-a rrr r' r'vL' Ltw L "iliP"oiut;u" yarr6 komprehensif
a dikemu- iadimainstrecrr pemikiran epistemologi di dunia Islam dan da-
IQnwledge by Presence'*' r-emetaarr yuttg lam ketegangan dengan disiplin lain merupakan kekuatan yang
semisal Ki6D mendominasi.aa
peters, God,s created speed,, nil.s. 0.r". rit raturliteratuf ka,am Asv'ariyyah,
tu'sver"-"v r-r-
ar-B'qirrini,'"il#.i*|i'--iilq^iH1o]HH:5l';H:[*ll;i"ilTf'
oleh aFBaqnant'. narurE)
at ranhidoreh
d-Tanhid mkonsepsiAristogbs,yailupanas, Kedua, pendekatan dialektis yang diterapkan oleh mutaknl-
ililri ;; il;"s*aoang kualp
dipahami sebagai empal ll: Iimfin. Meski masih terpusat pada teks sebagai kerangka rujukan

n'f *ffi};f*fr1;fu,ry,6ru,mrli$1t*
ar-tt*l'l1t^1Ti:::,#ffi
{ Sari Nusibeh,'Epistemologyr, dalam Oliver Leaman dan Seyyed Hossein Nasr (eds.), Hidory ol
tslam Philosophy,Bagian ll, hlm. 82H40. Bagaimana bansmisi kie'tde filsafat Yunani ke dalam
ua-narom), sva@ atushtil ;# rearitas reuenann (at-
pemikiran epbtemologi lslam yang direpresentasikan oleh lbn Sini, alfiribi, lbn Rusyd' al-Ghazili
dipetakan oleh Muharnmad Gall6b, Al-Ma'ritah 'ind Mufakkhi al-Muslimin, (cairo: adoir al-
Mishriyyah li atTa'lif wa alTariamah, ttt.).

$;{fi,l&rn*mlmmur*ffi
1969), hlm. 47. Sofir""l
'rcJttl#1ffi
oilttitittti'oaknva adalah skeptisisme ndilol'
tslambsocial sciences, Juz
XVI' No' 3'
., 'Every humanly athinable truh can be found in the revealed text or can be logically extrapolated
from truhs hat are found in trat text According to his vieriv, not every lruth is humanly athinable,
and it is fre marft of a believer to accept tnt one can only have faih in fte more elevated fuhs".
|r Lihat hporan simposium a,
o.#'"1o^raa,l Jouma.l
.of tndonesh oleh Ahsin
Lihat, Sari Nusibeh,Epistemology, hlm. 826.

Fa[, 1999, hrm. 81_1 20. BukliJ";;i'ffi;,t,r.manran


re oaram bahasa ( lbrd,hlm.826-{27.
1994)'
t4ohamad, (ganOurg: Mizan'
'Abd al-Jabbir dan Kondisi Pemikiran Epistemologidalam lslam
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan 37
36

(frame of referene),nalar deduktif kal6m


mampu mengajukan per- Epistemologi Ibn Sind lebih dekat dengan epistemologi knldm,
pada diskusi sedangkan epistemologi al-FArdbi lebih dekat dengan sistem neo-
;;"h"-'p";toalan sekitar teks yang zu{alr merambah Platonik. Akan tetapi dalamkonteks umum filsaf.ataersus disiptin
oleh pendekatan-per-
;.i;g; dan filosofis (yang tidak dilakukan isu-isu epistemologis tradisional, perbedaan-perbedaan epistemologi di antara
our" knka kat6m d"atam mendekati
"*"i. Nusibeh-"logika yang keduanya tidak tampak pada rincian yang relevan. Oleh karena
mendasarkan diri atas-dalam istilah
itu, sintesis ide Platonik dan Al-Qur'dn dielaborasi sebagianfilsuf
,,oik"berupa(1)hubunganlogis(interpretasidistingtifatashu-
unik (terminologt-ter- Islam irntuk meredakan ketegangan pendekatan filsafat uersus
i".g".k *at) aan (2) dunia wacaftryangditemukan pada disip konservatif untuk sampai pada formulasi bahwa kebenaran-
minologi khusrs yur,i,"tara umum tidak
Pen.ylmlan kebenaran bergradasi, bukan berdiferensiasi atau konflik. Pen-
tin tuit it"p" rl ma'ni, fufi\, mawdhtt't, sul€rn an-nafs)'
logika' dekatan ini mendapat bmpat pada pendekatan mistis.48
t*ta* a.nian"logSk'd'ltetki dikridk oleh "guru \e{ua"
dalam
ui-rataUilir"n ut!-syuntustAnfs harus dipahami Penger- kunpa| gtdekatan mistis. Pendekatan episbmologi ini men-
pergeseran secara p€r-
tian ini. Pendekatan dialektika merupakan tlasarkan pada pengalaman intuitif yang individual, yang meng-
ditempatkan pada
lahan dari teks ke nalar. Namun, teks masih hasilkan ilmu ludhtui (pengetahuan-diri yang presensial) seba-
ber-
p.t*f fundamental sehingga produkpendekatan ini masih wilayah
gaimana menjadi konsep as-Suhrdwardi dan Mulld Sadra, bukan
dalam
iifateksplanatif, bukan eGpl'oratif, dan berada al:ilm al-fuushfilt al-irtis6mt, yaitu pengetahuan yang diupayakan
*qt yyoidalam kaegorisasi-lUn fcfnUOn Sungguh pun-d"ttf1' melalui pengalaman tentang dunia eksternal yang representa-
pengkaii kontempor"", *u'u'u perlu untuk
memposisik*' yy* sionade melalui nalar diskursif. Asumsinya adalah bahwa peng-
persepsi' kebe-
dalam multi-perspektif (misalnya epistemologt' .rlaman intuitif akan mampu menyerapkan secara holistik objek
argumen demi
;;;; berkehendak, dan setagainyi) atas dasaresensi-eksistensi prcngetahuan yang dengan pendekatan lain hanya bisa ditangkap
argumen. Diskusi tentang P""yutuutt' identitas' secara ftagmental. Karena tidak dapat dideskripsikan atau dive-
iU"-Sit a dalam .ushtah f al-Falsafa! al- rifikasi secara ilmiah, Nuseibeh menganggap pendekatan ini se-
lsJUugaimar,a dielaborasf
ifff fi-p"t merupakan bentuk analogis dalam wacana episte- bagai penyimpangan s dilihat dari perspektif umumnya (epis-
mologi.6 tcmologi positivis yang melihat reguleritas, interpretatif yang me-
lihat makna, atau konstruktivis yang melihat dialektika materi
Ketiga,pendekatan filsafat ataufatsafah' Pendekatan.episte-
(boily of dan pikiran). Meski demikian, pendekatan mistis ingin menjem-
mologi iii
m"rdusarkan "bangunan pengetahuannya"-
lntani ketegangan klasik filsafat-ortodoksi karena "kehadiran"
sebagai karangka Y"k-
knowtedge\atas sejumlah ide-ide filsafat
o$ek petualangan rasio se'
an. Oleh karena itu, ilmu merupakan
" lbn Sini (370FBf4A/1037) hidup pada masa Dinasti Samaniyah di Bukhara dan kemungkinan
hingga aktivitasnya bersifat eksploratif' mengenal ile.ile kaldm Mu'hzilah ketika berftunjung ke Rayy dan Hamazan masa Dinasti Buwayh
konsep epis- pada pernedntahan Syars ad-Dawlah, pandangannya, sebagaimana pandangan mebfisika al-Kindi
Di kalangan filsuf Islam, terdapat perbedaan yang sangat Mu'tazili, dipengaruhi oleh faktor historis dan kultural yang melingkupinya. Lihat
utama pemikiran epis-
Emologi. Tetapi secara umum, ada dua arus Muhammad Kimil al-Hun lbn Sin6: Haydtuhu, 'Ashruhu wa Falsafatuhu, (Beirut Ddr al-Kutub al-

direpresentasikan oleh Ibn SiM dan al-Farabi'


'llmiyyah, 1991), hlm. 10-15.
e*ofo[i nftdutyang { Sari Nusibeh, Eprbtemo/ogy, hlm.829 dan 835.
{
.5 . dij-rpsl r 6Li.ll r '(logika dan kal6m adalah sinonim)' Asy-syahrasUini'
AlMital lbrahim Kalin, 'Knortledge as Lighf, dalam The American Joumal of lslamic Socra/ SciencBs, Juz
XVl, No.3, Fall 1999, hlm.90.
wa a,-Nilal Juz l, hlm' 23.
"' Sari Nusibeh, Episfemo,ogy, hlm.830.
$ SariNusibeh' Epistemology, hlm '827-428'
38 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan 'Abd al-Jabb6r dan Kondisi Pemikiran Epistemologidalam lslam
39

epistemologis tersebut menunjukkan dimensi rasionalitas (ifti@rd bahwa epistemologi kalkm, meski menggunakan nalar logika, ma-
o7:6qil wa al-ma' qfiL bukan hanya ittiWid al:6if wa al-ma'rfifl .51 sih berkutat pada teks dan belum bersifat demonstratif (&rt rhfui\
Pemetaan tentang epistemologi Islam yang dilakukan oleh Meski demikian, dengan menyebutnya "pendekatan dialektis',
Nusibeh memiliki persamaan dan perbedaan dengan pemetaan sebagai pendekatan tersendiri, Nusibeh ingin menunjukkan telah
alJabiri. Pendekataan konservatif yffig, menurut Nusibetu lebih terjadinya pergeseran yang sangat signifikan dalam tingkat peng-
banyak diterapkan pada wilayah ilmu-ilmu yang ditransmisi- gunaan nalar "spekulatif" dari teksfualitas pendekatan konser-
kan(naqliyyah)danpendekatandialektispadadtsiplinkalirnada- vatif ke nalar. Oleh karena itu, menurut Nusibeh, berbeda dengan
lah apa yang diistilahkan oleh al-Jdbiri dengan "epistemologi al-Jdbiri yang sangat pesimis, meski terikat dengan teks, pende-
bayilnf ' (al-' aql al-bayfrni), y angtitik-tolaknya adalah teks-teks ke- kaankalilm telah menyentuh dan mengeksplorasi problema-pro-
aganuran. Pendekatan filsafat adalah sama dengan "epistemologi blema filosofis dan spekulatif dengan karakter distingtifnya yaitu
burhin{' (aI-' aql burhini), sedangkan pendekatan mistis semakna merespon persoalan-persoalan filosofis yang muncul karena asi-
dengan "epistemolo gS' irfdnf' . milasi kultural dengan menggunakan terminologi-terminologi
sendiri yang unik, semis al fofiL, sulcfin an-nafs, dan mn' n6. Karakter
Menurut al-Jdbiri, wacana-w acarra bayant y angberkembang distingtif itulah yang menjadikan knl6m tampak lebih orisinil di-
dalam sejarah Islam pada substansinya berpusat pada dua do- bandingkan filsafat Islam. Beberapa konsep kunci yang dibahas
main: "kaedah-kaedah interpretasi wacana" (qawdntn tafstr al- oleh al-]dbiri, semisal hubungan antara "ungkapan" (Iafzh) dan
Htithib), seperti dasar-dasar penafsiran ayat-ayat Al-Qu/an, yang "maltna", dasar (ashl) dan cabang (for), substansi dan aksiden,
fundamennya telah dirintis sejak masa Rasulallah dan para sa- dan beberapa prinsip dasar, misalnya infshil (keterputusan; dis-
habat dan'syarat-syarat produksi wac ana" (syurfrth int6j al-Ihithhb\ kontinuitas), tajwtz (keserbabolehan; keserbamungkinan), dan
yang baru muncul ketika terjadinya polarisasi kaum muslimin ntuqdrabahsz (upaya mendekatkan dalam analogr), adalah dalarn
menjadi kubu-kubu p"litik dan aliran-aliran teologis. Domain konbks penekanannya bahwa logska kalAm, fiqtr" maupun bahasa
pertama masih menunjukkan keterikatan kuatnya dengan teks, Arab sebagai epistemologi baydni ymg, karena hanya bersifat
sebagaimana pendekatan konservatif pada tafsir, sedangkan pada eksplanatif (baydni), sangat berbeda dengan logika filsafaL Karak-
domain kedua teks merambahpada persoalan logika, yaitu ten- ter apologetik kal6manpaknya memperoleh aksentuasi yang le-
tang bagaim.uvr memproduksi wac.rna sehingga berkaitan de- bih kuatpada pemetaan al-Jdbirf dibandingkan pemetaan Nusibeh.
ngan logika dalam bahasa danknlim, yang oleh Nusibeh disebut
dengan pendekatan dialektis.
D. Epistemologi dalam Wacana Kaldm:
Sama dengan aksentuasi yang diberikan Nusibeh ketika me-
Keterkaitan Ilmu, Keyakinan, dan Kebebasan
nyebut epistemologi ka l6m denganpendekatan dialektis, al-Jdbirt
dengan menyebutnya sebagai epistemolo gp bayhnt menekankan Berbeda dengan episbmologi sebagai wac€uul mumi filoso-
fis, wacana kal6m tenbng epistemolog ilmu bertolak, setidaknya,
5r Dimensi nsionalihs, teruhma, bisa dijelaskan dari relasi erat antara tiga hal ilmu pengetahuan (ma'ifah, 'ilm),
dengan pendekatan intu lfr $rtdni, dzawqf)lasawul
fabafi semisal pendekatan lsyriqi Suhr6wardi al-Maqtil, yang sesungguhnya juga mendasarkan keyakinan (tm6n), dan isu teologis tentang kebebasan manusia
pandangan atas logika teaendiri. Lihat'Ali Sdmi anj.lasysyar, ?nabhab al4iyis al-isyr6qf, dalam
Manflhii al-Bahts'id Mulakkiri al-lsliln wa lhisydf al-Manhaj al-Ilni fi al-'Alam al-tshmli (Cairo: Ddr
5, Muhammad'AbirJ alJibiri, Bunyat
al-Ma'drif, 1967), hlm. 344. al-'Aqt at-'Arabi..., hln. 239-249.
40 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan 'Abd al-Jabbdr dan Kondisi Pemikiran Epistemologi dalam lslam

(free-will atau predestination). Sejarah teologi Islam menunluttan


bahwa epistemologis3 menjadi problematika teologis yang kemu-
1. Fase Murji'ah
dian berkembang secara evolutif menjadi objek kajian yang men- lsu epistemologi menurut Nashr Hdmid Abfr Z ayd,u, sudah
dalam, baik secara langsung maupun tidak karena faktor inter- ada sejak munculnya aliran-aliran teologi dalam Islam, yaitu pada
nal dan ekstemal.il Agaknya, karena interaksi doktrin-filsafa! aliran Murji'ah. Aliran ini terbagi ke dalam dua kubu; penganul
isu epistemologi model kal6m mengalami perkembangan eksten- fabariyyah (kelompok Jahm ibn Shafwdn) dan penganut {ada-
sif dan elaboratif di kalangan Asy'ariyyah dan Mu'tazilah.'Adhud riyyah (kelompok Ghayldn ad-Dimasyqi). Meski sepakat tentang
ad-Dtur at-iii ltZ}t-1355), generasi Asy'ariyah, misalnya, pada pendefinisian iman sebagai pengetahuan tentang Allah (ma,ifit
tahap ke-2 (al-mawqif ats-tshni) dalam karyanya, al-Mawdqif f Alkh) dan kekafuan adalah ketidaktahuan tentang Allah (anna
'IIm al-I6l6rr,5s menunjukkan epistemologi sebagai objek kajian al-kufr billih huwa al-j ahl bih) sebagaimana dinyatakan oleh
Jahm,
mutakallimfin darr foukamd' (filsuf) sekaligus. "lntelektualisme tee perbedaan terjadi pada koruep kemampuan manusia untuk mem-
logrs" ini-dalam istilah A.J. Weruinck dalam Tlu Muslim Creed: peroleh pengetahuan karena perbedaan pandangan tentang ke-
Its Genesis and Histoicnl Deoelopmenf bebasan manusia. MenurutAb0 Zayd, ketika menyatakan bahwa
-seperti tergambar dalam
bentuk premis-premis logika lalfun yangnmenurutnya, membang- "keimanan kepada Allah adalah pengetahuan kedua,,, Ghayhn
kitkan kritik tajam al4hazdli terhadap intelektulisme ini (meski ad-Dimasyqi telah memunculkan problematika epistemologi da-
al-Ghazdli sendiri tak dapat melepaskan logika kal6m model lam kal6m (relasi pengetahuan-iman-kebebasan). Untuk mernbuat
Aristoteles) berkembang karena "akar-akar agama" terkait de- distingsi, pengetahuan pertama (pengetahuan tentang Allah yang
ngan "akar-akar pengetahuan".56 Pemerian berikut mengemuka- diyakini oleh kedua kubu Murji'ah tersebut) adalah pengetahuan
kan perkembangan historis epistemologi kalhm reiakfase Murji'ah yang oleh mutakalhmAn disebut pengetahuan dhnrfrri (immediate
hingga perkembangan terakhir masa'Abd al-Jabbdr. knowledge),$ sedangkan pengetahuan kedua adalah pengetahuan
yang diperoleh melalui proses nalar diskursif (an-nnzhar)yang di-
sebut pengetahuan perolehan (al:ilm al-muktasab, acquired knor.o-
Iedge). Dalam konteks ini, Ghayldn menganggap nalar tersebut
berada dalambatas kemampuan manusia. Dengan demikian, pada
s lDrd, hlm.20.
s Sub$ahasan ini lidak rnngemukakan faktor-fahor intemal dan esKemal kelahinn teologi lslam
(lraldm). Namun, dari sutsbahasan ini akan jehs bahwa faklor-faktor penyebab elatemal (flsafal
doktin Kristen, dan sebagainya), munrrulnya isu-isu teologi lslam secana perlahan, sepedi ite tenhng ' Nashr Himid Abizayd, Al-lttijdh al-'Aqli fi alrafsk: Dirisah fi eadhiyyat al-ttlajln fi Al-eur'an 'inda

tawallud, fiab', kebebasan manusia, kekuasan Tuhan, dan sebagainya sebenarnya beaentuhan al-Mulazilah,CeL lll, (Beirut al-Markazab-Tsaqifi at-'Anbiyyah ad-DdraLBaydhi,, 1996), htm" 47.
dengan bu epbtemologi. Berbeda dengan AbO Zayd tentang munwl wacana episiemologi dalam teologi, wensinc* be*e-
s simpulan bahwa sebelum 'Abd al-Qihir al-Baghd6d? (w. 429t1037t38), generasi Asy'ariyyah,
'Abd ar-Rafinnn ibn Almad aLlT, (yarq lebih dikenal dengan sebuhn aLlfl, At-Mawlqif fi Itm al-
Sa'adiyyah al-Faiy0mi (w. 942), lilsuf Yahudi yang menulis karya teologi Kitab aLAn6n6t wa al-
Kaldm, (tula?ah: Dir al-Biz li afr-ThiM'ah wa an-Nasyr wa alTawzl dan Beirut ,Alam al-Kutub,
ItiQrid6( adalah teolog (sekaligus lilsuf) pertama yang membahas sfuktur pengetahuan manusia.
ttr.), teruhma hlm. 140 dst A.J. Wensinck, The Muslin Creed, hlm. 250-251. Wensinck, tentu saja, keliru.
$ A.J. wensinck, Tln Muslin creed: lE Genesis ond Hisloricat Devebpcnt, (New Delhi: oriental :o .l/ecessaryknowledge (pengetahuan niscaya) sebagai terjemahan lnggris d ai al-'ilm at4harlri, men-
Books Reprint corporaton, t.ft.), hlm. 248 dan 250 dengan mengutip asy€yahrastani, al-itlilalwa jadi poblematis karena kata'necessaryr dabm bahasa lnggris filsafat berarti"berimplikasi secara
an-lVbal Juz l, hlm. 28. li|enurutsebagb,nmtakailinfrn, jelas asySyahrasftlni pengehhuan tentarB
logis', yang tenfu menunjukkan adanya aKivitas nalat diskursif. Hal ini berbeda dengan pengertian
Alhh, sifa[sifat-l.lya,nasul, dan fondasi keimanan lainnya adalah fondasi/akar (ash/). Oleh karena yang berkembang di kalangan nutakallin,n,lang antara lain dimaknai sebagai "sesuatu yang tak
itu, pengetahuan ( al+na'rifahl adalahfondasi, sedangkan kebatan adalah cabang
{far). Lihat asy- ada pilihan baginsio, sehin menerinnnya'. Atas dasar ini, immediate knowtedge adahh terjemahan
SyahnstAni, Al-Mrla/ wa an-Nifial, Juzl, hlm. 36. yang lebih tepat. Lihat, George F. Hourani, /s/amlc Rafionallsm, hlm. 20.
'Abd al-JabbAr dan Kondisi Pemikiran Epistemologi dalam
lslam 43
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan

dari fakta
berasal dari fakta empiris-inderawi (al-fozwdsslmaupun
fase awalrrya isu epistemologi
dalam wacana kal6m telah mere- akal budi-rasional (b"*Pu silogisme' qiy6s)'62
dan kebebasan manusia'se
lasikan pengetahua;;;;g"""it"an Isu tersebut semakin dipertajam dan dibahas
secara elabo-
(w' 230
ratif oleh generasi Mu'tazilah berikutnya' an-Nazhzhdm
2. Fase Mu'tazilah l{) dan Pembelaan teologis terhadap keadilan Tuhan
semakin jelas pada Abo
"fi*drt.
,r."*uk"a an-Nazhzham memenundukkan perbuatan- T$a1 di
Keterkaitan antara tiga hal di atas keterkaitan ke-
al-Asy'arimen- bawah kategori-kategori etika, terutama dalam
al-'A[af. i^tuiUoqAht al-Isl6miyytn'60
"t-*;/ hal-hal yang berada dalam adilanTuhandengan"doktrinash-shalilhwaal.ashlah.Penafianke-
jelaskan pembedaan uf'eUaf antara menodai konsep tautfid
diluar kemampuanma- kuasaan Tuhan atas apa yang dianggap
batas kemampuan manusia danberada dengan apa
pada pengetahrran yang Mu,tazilah diberikan pendasaran oleh an-Nazhzhdm
nusia. Pembedaan tersebut didasarkan (al-khaiiyyat al-muthla-
sendiri' menu- yang disebut sebagai "kebaikan absolut"
;A diperoleh manusia' Kemampuan manusia yang tampak merepresentasi-
rutnyo beras"l d",i Allalr Oengan
demikian' pemhdaan tersebut
ioti:' ""aoah paniangan teologis penafian yang buruk dalam
"dikotomisasij' kemampuan kan pengaruh ajaran Manu tentang
dimaksudkan sebagai solusi bagi
ile'ti demikian' al-'Alldf selalu dualisme (baik-buruk) dalam semesta'
manusia a* t"t"u?lu"-AUutt'
merupakan produk $ari akti- Tuhan tlse-
menvatakan bahwa pengetahuan Implikasi dari doktrin teologi tentang keesaan
ffiJ;ffi;;; k"idaan Allah - vang dianugerahkan men- but adiah munculnya konsep an-NazhzhAm
tentang kesatuan
an-
jadi kemampou" **osia-terkait
aengan Proses lgmqeroleh ,ir,autut makhluk hidup (tawfutd at-f'l al-hayawini)'KonseP
yang tampak kontradik- al-Farqbayn al-
Nazhzhdm dapat diielasian pudu t"Uputt
dalam
pengetahuan, suatu;;;u"g* To]"gis
Ut iot tutoar dari problema berikute
tif dengan doktrin ruium t'tri,tazila.. sefelamya
F ir 6q-ny a al-Ba ghdadi
ini, ia mengajukan aisti"gti pengetahuan-yang
mengambil P"ri,i ;;;;i"7"i-'tti
Ghavldn dan predestination
-
oJ.1)11,$lr
-
J&l iS.,p rrb 6-$Jr,O-6-r iS.;l t$
'.tr
r'll * tt 9d F
meniadi kategorisasi " qS.tJJtvl 1,.,l!|lYl iL+ u"'&
4r'lsrl
Jahm kepuau
- a,'u tutJgoi yang temud-ian .*tt*r4 rorluA'J
umummutaknttimtt;;;;h;dgetahuan:(1)pengetahuarrdhn-
dan argumen-argumen-
rfirt, yaritpengetahuan tentang AUah
#,,iil Affi;;"ilil;* l''i*' (tm ikhtivit wa iktis6b)' baik
pengakuan kekuasaan mudak-Nya' dan di sisi lain
*n*i.
Mu.otlltlt-|:l **tbuat sekatyang ketat pada

s al'?qli' hlm' 47'


perbuabn Tuhan drn 0,,'ngun-*nsJ;,1
ti'tiinn ar
?ll.,ly*1fff:t3:f1f"i*'ini:l*;
4g:j/taiid Fakhry''some Panadoxitur
Nashr HAmirJ Abn1ayd, At-lttijdh ffi?itili''l"# riitilniolJvo', non
rlq:

-- hlm.9$-

r,ff##i#ill;i4;#t'ffi#
1953,

" SffI lmplirntionsof hetvtu,tazititeviewlirreewiir,


calam nreMustinwofl,JuzXLlll,

Lihat'AnM6htta6al€hurabi' I&ildr
++'q$'lff-lwaNasfaflhn*|Giln'ldral-tltti/nfn'
u,
109.

ra'*$,,fi,iffi;j#Li,$r;#,
(Cairo: Malobah w. u.m#tii rtltntt*o
'in routt"t l*noin'itt')' nm' tz4' derBan mengutip s .Kebaikan tida_k halya benrti bahwa Tuhan-ditiniau
dari
aLAsv'af derEan
keterangan absolut (al-ktrayryyat at-muthlaqah)
dari Maqdt6tat-As/.o,olffi.rl, oiiiiarrrqti, rrrr.lo,..nsutip peapeKif etika wa nVul,eretaioi Jininl'JrrJr iirr,uri episiemolosi etika-merupakan sumber ke-
Mu hllah-hanya
rurran--dalam perspeKif teologi
redaksi berbeda' baikan sejati atau mutak, luga 6er,arti uatrwa
wa al-ashtah) sebagai manifestasi keadilan-Nya.
6r Kabgofisasib$ehrthmpakpoblematis Murf,1,1?npadaumumnyamengkategorikanpengeta- metakukan yang bair oan teroaiilJ-s htatilh
d'iskursildan "ilmiah'' AbO Zayd
huan tenhng Alhh dan aqumen€tgumennf se!,aOlleyeuhuan il Nashr H6mid AbnZayd, Allilijith al- Aqli'
hlm' 49'
doffiin a!'adl lva al'
p.oioro o.r.r pendasaran konsep Joistemologi iniatas
iuga rnelihat adany. tegls AbO Zayd' men'scayakan
Tuhan
lawhid Mu'hzilah' oi saiu slsi' keesaan "'ungguhnyt'
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan 'AM al-Jabbir dan Kondisi Pemikiran Epistemologi dalam lslam
44

nya, adalah bentuk generatif dari membuka mata yang diarahkan


Perbuatan manusia, termasuk dimensi pengetahuan dan ke-
hendak, adalah satu jenis, yaitu gerak dan diam' Diam itu sendiri'
ke objek yang dilihat. Berdasarkan penjelasan'Abd al-JabbAr
d,alam al-Mughnt, sebagai bentuk generatif, pencerapan inderawi
menurut an-Nazhzhdm, adalah gerak yang disebuhrya sebagai
" gerak perpe gangad' (fonakah i' timdd).uu Karena aksidensi adalah dalam pandangan an-Naz-hzhAm adalah hukum alam yang dicip
takan Tuhan. Atas dasar ini, pengetahuan sebagai bentuk genera-
gI*k, **"riu h*yu *ampu mengetahui aksidensi. Ini berbeda
tif dari aktivitas nalar (an-nazhar) juga merupakan bagian dari per-
I"r,gur, kekuasaan Tuhan yang mampu mengetahui aksidensi
buatan Tuhan melalui gerak hati (an-NaztrztrAm mendefinisikan pe
daniubstansi sekaligus. Di sini an-Nazhzhdm membuat pembe-
ngetahuan ilmiah sebagai "gerak hati" I qJfitl &lSJ- 4p i{-;- ]).
daan antara qudrahTuhan dan qudrahmanusia. selanjutnya, tin-
Fikrah ath-thab'66 juga mendasari argumen an-Naz-hzhAm tentang
dakan manusia yang pada esensinya adalah gerak diklasifikasi-
kan menjadi dua yaitu tindakan langswry(mubdsyi4 d* tindak-
eksistensi Tuhan. Dari penjelasan di atas, terdapat interrelasi kuat
antara pengetahuan dengan konsep al:adl wa at-tawfuid dalam
an geneiatif / denvanf (mutawallid).Kategori terakhir ini bertolak
e pis temolo gi kalQm arr-N azfizhdm.6T
dari ide tentang "penuliaran" tindakan yan g drsebttfkrah at-tawal-
Iud yangdalam sistem teologi Mu'tazilah menimbulkan diskusi Epistemologi alJahizh (w. 255 H) juga bertolak dari pan-
berkepanjangan karena keterkaitannya dengan tanggung jawab dangan teologis gurunya, arpNazhzlrAm. Meski demikiaru alJehizh
rnanusia.-An--Naztrzhdm memandang tindakan generatif secara memberi penekanan berikut (1) kemampuan m€rnusia sebagai
esensial bukan sebagai tindakan manusia -yang karenanya tidak conditio sine quanon bagS aktivitas nalar yang menjadi salah satu
bertanggung jawab atas tindakan itu-dengan mengemukakan sumlir pengetahuan ( iegi-yt- di,lt - iirF.lt ); (2) al-Jahizh
meruPa-
fkrah athahab' bahwa tindakan generatif sesungguhnya mengaitkan akal dan pengetahuan sebagai tuntutan eksistensi
kan manifestasi dari hukum alam fisika. Kekuasaan Tuha+ menu- manusia; (3) semua jenis pengetahuan bersifat dharfrfi dengan
rutnya, merepresentasikan diri dalam hukum alam tersebutyang pendasaran ata;sfkr ah ath- thab' dankorsep ash-shnl"6h wa al-ashlah.
tidak diasumsikan berlaku karena kekuatan eksternal di luar ke- Satu hal yang sangat fundamental adalah bahwa ia membuat
kuasaan-Nya. Manusia sendiri dengan kemampuannya untuk ber- gradasi pengetahuan dari objeknya yang empiris-inderawi
buat merupakan bagian dari hukum alam- Dengan argumen ini, atas tujuan utilitas ke pengetahuan yang objeknya abstrak-
an-Nazhzhdm ingrn menghadirkan dimensi kekuasaan Tuhan rasional-transendental atas dasar tujuan kebahagian abadi:
dalam tindakan manusia, dan meminimalisasi kecenderungan
unhrk "membaca" tindakanTuhan dalam skema-skema etika' J,tl t+yt &l l*l ,r.rJI,f .JiJ.Js.f l,l*I
(',|. iirJ r/pliiru)
(
du +, ui.j. 1$I +ril
Konsep teologis ini berimplikasi terhadap konsep episbmo-
logi. Proses penceraPan inderawi (idrdk) terhadap suatu objek, se'
bagai langkah awal dalam Proses memperoleh pengetahuan
ilmiah, adalah bentuk generatif dari gerak indera. Melihat, misal-
ffi Fiknh atlhab', meski menunjukkan adanya campurtangan Tuhan dalam tindakan manusia dan
semeb, juga menekankan dimensi pandangan nafunals(madzhab ath4habiiryin)yang kemudian
6 Gerak perpega Nan(hankah at-ftimM)adalah kecenderungan terusnenerus pada makhluk hitJup menjadi keyakinan an-Nazhzhimiyyah karena penegasannya teriadap kebenadaan hukum alam.
al- Lihat asy-Syahast6ni, KtAb al-Milalwa an-Ni!a/, Juz l, hlm. 50.
unfgf Uerdent sehingga merupakan genak dalam objek benangkuhn. Lihal, Muhammad AblJ
JAbifr, Binyd at-'Aqi*,nn0t..., hlm. 184. Lihat lebih laniut penjelasan tentarg
'gerak dan diam' 67 Nashr Hdmid AbnZayd, Al-Mijdh al-'Agli, hlm. 49-50.
dahm pandangan an].lazhzh6m dan nukallinhn dalam lbn Hazm, Kitdb al-Fbhal fi al-Milalwa
al' s /bid, hlm. 53.
Ahwd' wa a*Nifial,Cet l, Juz V (Beirut Dir al-Fik, t.tt.)' hlm. 5$-59'
'Abd al-Jabbir dan Kondisi Pemikiran Epistemologi
Epistemologi Kalam Abad Pe(engahan dalam lslam

Buwaytu representasi Mu' taziltterhadap pandangan Asy'ariyyah


3. Fase KtrllAbiyyah6e dan Asy'ariyyah
teologi Ibn al-BAqilldni, seperti terlihat dalam al-lnshhf d,an at-Tamhti-nya,
Salah seorang tokoh aliran KullAbiyyah-aliran sangat mencolok. Oleh karena ifu, pengetahuan tentang pemikir_
al-JabbAr-ada-
KullAb, yang bar,ylk mendapat kritik dari'Abd an al-BdqillAni menjadi penting untuk memahami pemikiran,Abd
(w.243 H), penu-lis Kt6b al-
lah al-Hdrits ibn Asad at-vu5asfui al-JabbAr yang, menurut asy-Syahrastdni, dalam hal epistemologi
Aqi,' karya pertama kalangan mut{alljryAn.yang sama-sama bermuara pada pemikiran Abo Hasyim (thartqah Abf
^.rupakan Al-Mulasibi, sebagai-
membahas akal secara i"uit to-ptehensif' Hdsyim).73
mana umumnya Asy'ariyyah, memandang
tindakll mlnlsia
uaufui tirriutur,f"f,ut . Teori kasb melihat tindak- Salah satu pandangan teologinya yang relevan dengan kon_
pJ"
"**r"Vu
an manusia tidak memiliki efek. Pandangan
teologi.ini berimpli- teks ini adalah upayanya untuk menyeimbangkan voruntarisme
UJp"i" rc*ep akal yang disebutnya sebagai ins{ng@hnrtzah) kasb Ast' ariyy ahdengan ide kebebasan qudr ahmanusia Mu' bT.tla}.

.r"rrn di.iot kurr-oten eUatr. Perbedaan ins tng(ghafizah).dengan dengan menyatakan adanya qudrah yang diberikan kepada
GF.J";(ma'if ah)adalahbahwa-yangpertama-(insting)me- lr1Tbu (i:rt*liJtt).^ Di samping itu, seperti pandangan
pengetahuan' sedangkan lanq ke- Mu'tazilah, al-Bdqillani dalam hal epistemologi tindakan moral
G;k"" potensi/inst**""ptoa"ft dari pengguna-an akal melalui (baik-buruk) memandang adanya keterkaitan kebaikan dengan
J"'" tp""g"tahuan) adalah
inf al-Muhasitrn mengemuka- rilai-nilai intrinsik atau objektif yang dikandungnya. Dengan pen-
;tri #ar. nertoiak dari konsepsi (1) i*99 ,ltrsaran jni, al-BAqilldni mendefinisikan ilmu dengan , *ur,gu_
i.ut tigu fase dalam Proses memperoleh pengetahuan:
proses penala1an,(an- t.rhui suatu oQek (yang diketahui) menurutrealitas objektifnya.
t"*p"u akal sebagai^potensi/ instrumen; (2)
tuzhar wa al-istidtfrt)erhadap dua objek,
yaitu obiek empiris ('iydn ( .+ .5l L,Jc. .1lsll iix)
(k'Iubar qdhir' reliable rep.ort');
zhfrhir, sound un ri d*'pemberitaan Al-Bdqilldni mengklasifikasikan ilmu berdasarkan objeknya
dtP"t-
0"" pl fase sesudah penataran,-V-1itu pengetahuan yang kcpada dua kategon: pertarna, pengetahuan yang objeknya eter-
oleh sebagai kesemPumaan akal'71 rral (abadi), yaitu pengetahuan bntang Tuhan. Kedua, pengeahu-
dengan eqisjemo' .rrr yang objeknya baru (mufodafs), yang mencakup dua
Tokoh Asy'ariyyah yang sangat concern hal: (L)
togi modet kabm d# su*u'ui"t'gutt'Abd
al-]abbir adalah Abo yang bersifat dharfriyang diperoleh melalui enam indera (panca
yan& menurutAJ' Wensinck berhak disebut
se- irrdera dan indera "rasa"),dan (2) yang bersifatkasbi ataunizhai.
ni.r A-OaqiUani jrnyurusaf
i"gJ"It;*""t^or.- atislam'(tLuKnttof,MuslimPhilo-
Dinasti
,6ivl."Karena konteks sosio_historis dan kultural masa
" Nashr Himid AblZayd, Al-lttijdh a/-tAg/i, hlm. 59.
" Argumen logika yang dikemukakan oleh al-Baqillani antara lain bahwa gudrah manusia tidak tetap.
elrlenurutPeten,GodbCreatedSpeec'r,hlm'20,sela.lSiniorisinalitasdankebaruanteologial. Jika qudrah beaifat tetap, bisa disimpulkan bahwa perbuatan tersebut tetap pada waKu yang
Jcan bertebihan. Kufldbiyyah adalah teohgi 9unn|11ts_f*efr sama dan bedainan, suafu kesimpulan yang keliru darisegi logika. ALB6qillini juga mengemuka-
Asy'ari sering tertaru citeranran
p"rkembangannya meniadl
barg dalam sejanat, o.r#i.r o.ng.n trorogi .l*ty.ri. Aun tet"pi,karena{ahor politik' terutama
lan teorilrlsmdan jawhanLihal,llhamuddin, pemikiran Kat6m At_Baqiilani htm. tOC. pergeseran
geLtb.ttg ;;;d'Ean lsiariyyair yaa agaknya dari Asy'ariyyah terjadi ketika dikatakannya: (1)
surutditengah
rrv , i& j 3 is-f cJS; 4g lr!.,;.-L if_,,E 4-{i gr^ :+l Ci-}r ! -{d dt .ll i} _r*l .rj l"
J i3.!trl i_oil .,f- 6l+Or{dt-dJ+l uld j,t i, *" (Zl ' ...iJJi)llr j+iiyt is}
Pasca8uwaYh. t.-.-'.
, dalam Husayn al-Q0tili {ed'),
al-?gl
n Lihatlebih laniut aLHafils ibn Asad at-Mulisibi,'Kitab-al-Aqf
1971/1391)' r Ulbl r l,el$ -I^: rlt o. tili OJ,SJf Ul di.il t.l osr 3 rJ rJ+: J.U tJ j-ti! &iI r,. -,
iaiahtn Al-Qul6n, Cet l, (Beirut Ddral-Fikr'
.irili.'.-1 (lJ.+.) :*l ,-r" t+.S
7r Nashr Hdmid AbnZaVd, Al-tttijilhal-'Agli' hlm' 52-53'
I ihat, AsysyahnastAni, al-Milat wa an-Nifial,l, htm. 84; Nashr Hdmid AbO Zayd,
At_nyan at_,nqn,
u A.J. Wensinck, The Mustin Creed, hlm'
250' hlm.54.
4B Epistemologi Kalam Abad Pertengahan

gS'isnla}rknsbt
Dalam konteks relasi isu epistemologi dengan teolo
me-
(bukan muktasab)yang digunakan 3l-B-agillAni sebenamya/
.r.rrut Mulammaa 'Atia at-Jabiri,75 adalah Penguatal
dgkF'
Asy'ariyyah tentang kasb y angtitik-tolaknya adalah
naht
911*
han" (af dl
terminologi umum mutakauiittn sebagai"perbuatan BAB II
aLqulAb).76

Dengan demikian, pada tingkat umum dapat dilihat-garis


KONSTRUKSI PEMIKIRAN
diametraiyang memis"hk"" epistemologi dalam Y"'ry yY* EPISTEMOLOGI'ABD AL.JABBAR
yutgt"lul"me"relasikannyadengandoktrinkarenabertolakdari
'uturL U* ah(top-down) iar' epistemologi dalam wacana filsafat
*iugui abstraLi filosoiis-spekulatif murni (bottom-up)'n
Tokoh Asy'ariyyah lairrnya yang mengintefr-1siryn 9*tutt
epistemologi dal"* *u.*u l"nlim drsamptng'lS:{
A.Pengertian Pengetahuan
f-n"t-
adalah Fakhr ad-Din
iji, *Uuguiiru"u disebutkan sebelumnya'
hanya 1. Definisi dan Problematika Terminologis
#-*" i*. 12@) dan'Abd alQahtu al-BaghdAdi' yang tidak
kritik sis-
tapi
m"ngemot^kan klasifikasi ilmu, juga melakukan Dalim teori pengetahuan atau epistemolo gr, adapembeda-
an yang taiam dan mendasar antara istilah "pengetahuan" Qotout-
ematis terhadaP skePtisisme'7E
ledge, non-ilmiah) dan "ilmu" (sciorce, pengetahuan il*iuh). Dalam
hubungan itu,'Abd al-]abbdr menggunakan tiga istilah, yaitu'ilm,
ma'ifah, dandirilyah, yang dianggapnya sinonim. Tiga istilah ter-
E Muhammad 'Abkl al-J6biri, Bunyaf at''Aqlal-'Arabi"',
hlm' 219' sebut digunakan dengan pengertian y€rng sama, tidak secara me-
76 Lihat misalnya, (Pseudo) Abd alJabMr, Syad al-Ush0lal-Xhamsah' hlm' 90' tafor maupun dengan perluasan makna.l Dengan demikian, isti-
lralhm
u Dianbra pefiedaan yang mendasardan bemifat umum anbra epistemologi dalam wacana lah-istilah tersebut dalam epistemologi'Abd al-Tabbdr - berbeda
denganepistemologidalamwacanafilsafatadahhpenggunaanbtilah.pengetahuandharati,dimana dengan epistemologi umumnya - tidak merepresentasikan struk-
di kalangan mereka sendiri, di
l,alargan nut*altirniln, y.ng taii.rd.pat perteoaan slgniftkan
Orf.i.ng dengan istilah 'pengetahuan biasa/ non' tur fundamental pembeda antara aspek ilmiah dan non-ilmiah
ran Of,irO,i;r",ing U"ttof.t
"tf"til"r,g.At nfii. global, pengetanuan dtraniri dalam waana kal6m'
ifrlrt' Vrng Oir.fsuOtan ofen Secara pengetahuan. Ini harus dilihat dari pendefinisian, kriteria dan hal-
yang berasaldarifakta empiris.(!iss1;
menurutalJ.biri, *no*rp ig. tingr"un, 1t1-pungruhuin
dari pemoenm'au Oin pi pnieutrtnlmelalui nalar' sepeniaksioma logika tenbrE hal yang lebih substansial daripada sekadar terminologi. Namun,
tZip"tB.eLutn dhaniridi kalangan fibuf bertolak
[,Jtil.riiung].ir.|t t iturpurny.'orit'iiiandio-nr.oinit.Term sebelum itu, perlu "dipotref' persoalan tersebut dalam konteks
tr"*fft.rbnh"g h'ubuttS.nt"O.iot iU.t, terlakete;ka'rtan premirkonklusidahmlogika'
O"tip,i.tlp (adh.4hafirdtal- pemikiran episbmologi Islam abad tengarh, di mana'Abd al-Jabbdr
Atas dasar ini, menurutauaoiri, Jiempat
prinsip oasardalam'kepastianlrc{,iV'€'
dari huwa) yang memperlakukan setiap
tqriytr,l t..i,ttnrsut lrt prinsip teOiian: @iuwWan.
t id,"f.g;mn,aorriyi'o"nilandyangiunoamintalpadanya,meskiketikaterjadiperubahan;
| 'Abd alJabbar ibn Ahmad ibn Khalil ibn 'Abdillih al-flamadzini al-Asiddbddi (selanlutrya disebul
menyimpulkan
teranglof bahwa tidak murgkin 'Abd alJabbdr), Al-Mughni fi Abw6b allawf;id wa al-'Adl, Xll, ed. lbrihim Madk0r, (Cairo: al-
tZip,i*ipdO.f a" ionr.Oilrl,iiipr,*ip,kefoayarU Lihat, Mulammad'Abid al-
l,jiii.ii*g i*tr.oinrseuag'ai[eoenann;oan (l)pnnsip kausalitas' Mu'assasatal-Mishriyyahal-Amnnh liatTa'ff wa alTarjamahwa at-TiM'ahwaan{.lasyrdan WizArat
Jebirt, dunyat at-'Aql al"Arabi.", hlm' 217-218)' as-Saqifah wa alJmyid al-Qawmi, t.fr.), hlm. '16. lde yang sama iuga ditemukan dalam ([Pseudo]
'Abd al-Jabbir, Syd d-llsh0lal-Khansdr, Cet I, ed. 'AM al-lGrfm 'Ubndn, (Caio: lr4akhbah Wahbah,
7s LihaturahnA.J.Wensinck, fheMustinCrced,hlm.25f-261;TarifKhalldi,ArabbHistaicalThottghl
Press' 1996)' hlm' 146-148' 1965/1384), h|m.310.
inlhe ClassicalPenod, (Camhi<tge: Cambridge University
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan
Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabbir i1
50

'alk
t,rnpiris (sydhid);dari konkret ke absbak (stidtdl bi asy-syhhid
bergumul. Survei FtanzRosenthal dalam l*rowledge Tiumphnnt
ul-ghi'ib).s
tenlng hal ini mencatat bahwa dalam perkembangan awalnya
isnlahT ilmberarti "pengetahuan agama dalam Pengertian legal- Problematika terminologi teknis knl6m pada'Abd al-Jabbdr
rlrrn pada umumnya sebenamya tidak berhenti
pada persoalan
tradisional" ,2 dansecara umum, sufisme sering mengadoPsidan
Dengan pe-
menyerap istilah-istilah yang berkembang dengan beberapa per- historis-kultural tentang evolusi perkembangannya'
baikan. Mn'ifah, dalam pengertian teknisnya, digunakan sebagai rrckanan yang sama, Bernand mencatat:
pengetahuan tgnostik)tentang Tuhan, yang digunakan secara ber- concemant
"Une mise au point terminologique est, tout d'abord' n6cessaire
,u**u-ru*u oleh kalangan sufi dan pemikir keagamaan lainnya les istilahes 'rlm (savoir) el ma'iia (connaissance)' On sera amen6 d
passer
yang menemukan basii esensial keimanan dalam pengetahuan constammentdel'un}l'autre,cetteoscillationprovenantdestextesm6mes
*oJul ini.3 Tidak ada perbedaan fundamental atau hakiki, bgas utitises'otriln'estpasfaitdedistinctionspecifiqueentre,ilmelma'ifa.Pr6cisons
qu'il y ait
Rosenthal, antara na'ifah dan'ilm dalam metafisika de 'savoit'-sans
stmplement que le mot 'ilm qui exprime la nolion

Islam fase-fase awal, dan masing-masing memiliki kesahihan di iamiis paraiL adcquation ,ntr. *r deux istilahes-designe le r6sultat cognitif
rationnel (nazhaf . comme,
lxtra-rnental auquel aboutit la d6marche de I'examen
kalangan sufi ketika itu. Meskipun Penggunaan istilah 'ilm tents en outre, le'jlm en islamologie a commun6ment Dieu pour obiet ou du moins pour

berlarijut dan penulis-penulis sufisme menempatkan pengetahu- uut Rnat, it revct une allure ie transcendance
intellectualis6e et a, pour collaire, la
propre ir la foi; si bien que I'on
an model ini di atas ma'ifah, agaknya karena evolusi perkem- notion de ceiltude intime ou conviclion (i'tiqrid)
malOm 6tant ce qui est connu
bangan bahasa dan semakin menguatrrya sufisme di dunia Islam peut souvent traduire llm par "science certaine'' le

,u..."ttitrOt er n'admet pas de doute en tant qu'd la limite' il


pada fase-fase sesudahnya, ma'ifah menjadi istilah yang meng-
bir connaissabte
ramdnedDieu''Tandisquelanotiondema'ifametplutotl'accentsurl,aspect
yang khas'a
iambarkan tentang esensi dari mistisisme suolectitimptiqudparlaconnaisance,cestleresultatdunazharentantqu'ilest
auquel 'ne s'aftache
tpfien.nOd par l'intellecl, c'est le savoir du suiet connaisnt
Rosenthal ingin mengatakan bahwa sebelum ma'ifah men- 6
iii'aucune conolation mystique ou gnostique"'
jadi istilah eksklusif sufisme yang perkembangannya sangat sig-
nifikan diberikan insprisai oleh gelombang-gelombang pelikiran Afu) Ab aFTawfid w a al: Adl' j:uz XIl " art-rtazhar
Al - Mu ghnt f
al_Ghazali (1058_1i11) dan,Abd al-Jabtdr (935-1025) berada wa al-ma'dlilf" (sprcutotion andknoznledge\ adalah karya {11g.Pa-
dalam fase sebelumnya dan dalam kultur-kalim dan filsafat ling representatif untuk mengkonstruksi epistemologi-'Abd
al-
Bashrah masa Buwayh, ishlahma'ifah dan'ilm digunakan secara IaUUar.
pi sini, pengetahuan didefinisikan sebagai berikut:
sinonim olehmutaknllimfin, sufi, maupun fuqaha' Bagi'Abd al- Bf ut O"'
lt
# 1r t,Je ls'il't 6l"J oil,Jno )r r.',r.'v :d'x C rr-l uF
larn (ghi'tb) hanya r1
Jabbdr sendiri, pengetahuan tentang dunia ,,lo Crr
i;.iO" .,i.r l.G .is-,..r; i * .r+ Ou.4r
-dimrrngkir,kan
indikasi dasar fakta-fakta riil yang i 't'1" ,Jts ,.'FI
olen idanya atas
.}r+):f g$ d,,J"tI OF"':si''-{+r "--lrtr
in Medieval lslam, (Leiden:
Franz Rosenfral, Knowbdge friunphant The corcept of Knowtedge kami (rai imahunullifi) lenpLS.F
"Apa yang dikatakan oleh syaikh-syaikh
E.J. Brill, 1970), hlm.164-165. jenis keyakinan (itrq64 conviction). Ketika
ngetahuan adjah bahwa ia merupakan
lbid., hlm.165-166. seperti realitas adanya,
tiyrrinrn tersebut berkaitan dengan suatu obiek tepat
bahkan, sebagaimana dinya-
,bd., hlm. 67-168. Penempalan seca nsFJiatpr na'ifahdan 'rilm, abu
atas, penempata n 'llm di abls na'ifatr oleh pemikir-pemikir lslam fase awal me- :l;',
takan Rosentral di
nguad<an tesis alJabiribahwa pengetahuan intuitif, tidaksebagaimana
diklaim obh para pendukung - ,

p5euOol 'abd alJabbir' Svad al- UsnOt 9t'Xna111n.' hlm' 52-60;


'Abd at-JabbAt' At-Muhith bi at-
al-'Anbi: Dir4sal aL'Ammah liatTa'lif wa
1i1niyy1n,fiakberada di ans nas6. uhat Muhamrnd 'Abkl al-Jdbiri, Bunpt al-'Aql Iaklif, ed.,UmarasSay'iO'nzmi,.fuzl, (Caino:al-Mu'assasatal-Mishriyyah
ianniiWai Uaqdyah ti Nuzhun at-Ma'rifah fi ats-TsaqAfat al-'Arabiyyah,Ce; lll, (Beirut al-Markaz al-lnba'wa an-Nasyr, t.tr.), hlm' 167-169'
ab-TsaqAfi al-'Arabi, 1993), hlm. 378.
52 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-JabbAr 53

dan berproses melalui suatu cara yang meniscayakan munculnya kepuasan (ke terlihat dalam kritik terhadap ide tentang etika yang didasarkan
tenangan) jiwa (suk0n an-nafs), itulah yang disebut sebagai pengetahuan, Ketika kualitas objektif yang sama sekali terlepas dari upaya konstruksi
keyakinan tersebut berkaitan dengan suatu o$ek yang tidak sesuai dengan realitas
subjektif manusia, pri-konsepsi, dan pendasaran-pendasaran lain
sebenamya, hal itu disebui sebagai ketidaktahuan(iahl, ignorance). Ketika keya-
kinan tersebut berkaitan dengan obiek sesuai dengan realitas adanya, namun
yang mendahuluinya.'Abd al-Jabbdr, dengan demikiary meng-
tidak meniscayakan kelenangan pikiran,tral itu tidak bisa dikategorikan sebagai gesei absolutisme ke relativisme sampai pada tingkat tertentu
pengetahuan maupun ketidaktahuan". (ya.g akan dielaborasi dalam uraian berikuQ.
.a d1tlt rl uitl OrLe.:iiqtit ed, # Kedua, pandangannya tentang Pengetahuan sebagai jenis (ge-
nus) keyakinan, menurutnya, memang merupakan representasi
" Pengetahu an adalah ma' ni y arrg meniscayakan kebnangan
pandangan Abfr al-Huzayl al-'AllAf (750-&10), berdasarkan ke-
jiwa subjek yang mengetahui terhadap objek yang diketahui".
i"rur,gur, ab1,Ali al-|ubbi'i (w. 915) dalam Mas6'il al-Kltil6f.Na-
Definisi yang dikemukakan'Abd al-Jabb6r, menurutry& me mun, pandangan al-'Alldf bahwa Pengetahuan meruPakan Pro-
rupakan kritik erhadap dua kuhrb ekstrem pandangan episbmo- ,", b".utgn*" ntasi (istidl6l) y*g substansinya adalah nalar dan
logi yang berkembang pada mas.rnya: berpikir - sebagai penopang ide tentang ilmu sebagai keyakinan -
Pertmna,k'rlikatas suafu pandangan berdasarkan kebrang-
*uiihb"tk ttaipada rasio subjekyang juga dikritiknya, sehingga
- hanya meniadi Lpistemologi su$ektivis yang berdiri pada posisi
an Abt alQAsim d-Ka'bi al-Ballfii (w.932), tokoh Mu'tazilah se-
ekstrerp atas potLi p"ttuma. A1-'Alldf, tegas'466 al-Jabbar, tidak
masanya dan penganut absolutismee etika dan epistemologi, da-
mampu melerai kedua model epistune tersebut'11
lam KitAb al-Maqdlit (Maqdl6t al-Islhmiyyin) -bahwa pengetahu-
an bukan merupakan keyakinan.lo Tetapi, kritik ersebut tampak- Kritiknya atas pelbagai pandangan epistemologf semisal
nya tidak hanya merupakan manifestasi kegelisahan akademis- sofisme yang skeptii ltfrtrtthd'tyyoh), relativis (as4fo6b at-tajdhu[),
nya terhadap suatu pandangan epistemologi yang bersifat komu- ptug*uti" yang materialis (azh-zhahiyyah) bertolak d ai dua mnin-
naf tetapi juga terhadap absolutisme AbO alQAsim, sebagaimana tt t"*ersebui Dengan demikian, agaknya, di samping justifikasi
teologis, karena posisinya sebagai teolog,'Abd al-JabbAr-mem-
lvlarie Bemand, 'La Nofron de 'llm Chez les Premies Mu'tazilites', dalam Studra ls/amba, 1973, No.
b*S* epistemologinya bertolak dari klaimnya sebagai"sinte-
36, hlm. 24-25. sis" dua iecenderungan umum aliran epistemologi di atas'
hM al-Jabbdr, Al-r\lu ghni ft Abwdb at-Tawf.id wa al-'Adl, Juz Xll, hlm. 25.
Berdasarkan kutipan di atas, pengetahuan memiliki arti: (1)
lbd, hlm. 13. Alasan 'AM alJabbAr mengemukakan definisi yang berbeda dan hanya menyebut
'difierentia specjfia' (klr6sfisnan), tidak besarna genus fiins), adalah bahwa berdasartan logika dan
eseruinya adalah *o'r|yang diperoleh subjek dengan rasio' (2)
kebrarpan Abfi 'Abdill6h, gurunya, 'dianbra tujuan definisiadalah menjelaskan obiek yang diberikan pengetahuan merupakan keyakinan (i'tiq6d) subjek yang kores-
batasan sehingga memisahkannya dari sesuafu yang lain sehingga definisi sesuatu harus spesifiK.
poniensial denganiealitas objek pengetahuan sebagaimana ada-
Disamping alasan logika, definisi pertatu(Fashlfrbaydn haqiqatal-'ilm wa alna'rifah'hln,13)ini
sebenamya berl€itan dengan aksenhrasi 'AM alJab$r tentang ma'n6 sebagai esensi ilmu, se
nya, dan (3) menirnbulkan kepuasan subjek terhadap aPa yang
dangkan definisi kedua (hlm. 25) lebih menekankan prosedur'ilmiah'. diperolehnya.
ke of 'Abd alJabb?tr, (Oxford: Clarendon Press,
Geoge F. Hourani, ,s,amic Rationalisn:
'Abd al-]abbir dalam definisi hrsebut menggunakan termi-
Ethics
1971), hlm. 64. Lihat kriliknya terhadapAb0 al{6sim, bahwa sesuatu yang iahat (evi{ gabi!) bukan
merupakan nilaiyarp berdirisendiriahs dasarsifatdan atn+ya, melainkaniuga sangatkondisbnal. nologi-terminologi teknis kalilmKasik,yang sebagian telah dikaji
Lihat lPseudo]'AM alJabbir, Syad al-Ushilal-l<hansatt, hlm. 3't0'
f0 'Abd alJabbir. Al-Mughnifr Abwdb d-Tawhldwa al''Adl, Juz Xll, hlm. 25. Bandingkan dengan Sya{ pengembangan dari ide AbO 'Ali al-
'r lbid. Setidaknya, epistemologi ilmu 'Abd alJabb6r merupakan
AIM ughni fi Abwtb at-Taw[id wa al-' Adl, Juz Xl l, hlm. 1 1 .
al-lJshil al-Khansah, hlm. 18&-189. Jubb6'i dan A'b0 Hdsyim. Liha{
54 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabbir

oleh para islamisis, semisalJ.R.T.M. Peters, Bernand, Madelung, Jabbdr adalah kesempumaan akal (kamill al: aql).tu J*a' aql adalah
]osef van Ess dalam kajiannya terhadap knthm al-iii, Frank, dan ilmu maka yang terakhir ini meniscayakan bahasan tentang apa
HattJt Austryn Wolfson. yang mungkin diketahai (ma'lfrm) yang penyikapannya di ka-
langan bayilniyytrn terefleksi dalam bahasan tentang wujfid. T eori
2. Ma'nk Sebagai Substansi Pengetahuan tentang wujttd di kalangan Mu'tazilah terbagi menjadi dga, yaitu
Ma' nh y angdigunakan dalam literatur-literatur Islam klasik (1) wu|frd sebagai segala sesuatu yang " ada dan tetap" (al-kk'in
sering dilihat dari pelbagai konteks bahasan; dari problematika ats-tshbit) yarrg berdasarkan teori atom Qawhar fard) terwujud me-
hubungan antara "makna" (ma'ni) dan "ungkapan' (lafzh)yarrg lalui proses pencipban sebagai pendapat AbO'Abdilldh al-Bashri
sebenamya sangat Aristotelian dalam kujiuo linguistik, jurispru- (w. 357 FI) dan tokoh-tokoh Mu'ta"ilah Baghdad lainnya; Q) wuj'frd
densi, tafsir ke hubungan antara ma'ni dengan realitas, sebagai sebagai sifatkebaruan (al-foud:frts)bahwa segala sesuatu tidak bisa
wacana fils afat,yangterdiri dari realitas empiris-inderawi (moldr- cliberikan sifat atau atribut, kecuali setelah sifat"ada" brwujud;
sr2saf) dan realitas akal budi-rasional (ma'qAffifl. Di samping pe- dan (3) menurut'Abd al-Jabbdr, wujfrd harus dijelaskan-untuk
ngertian ini, menurut'Ah Sami an-Nasysydr dalam Mknfrhij al' keluar dari kelemahan definisi logika-dengan menunjuk reali-
Bafuts'ind Mufakkir al-lsl6m,12 terminologi ma'ni dapat ditarik se- tasnya secara langsung (bi al-isydrah il6 al-mawjfidi0.t'
cara metafisis dan logis kepada dua domain: syakhsiyyah mu'ay- Sebagaimana dikemukakan, konteks sosio-historis dan kul-
yanah (sebagai entitas partikular), yaitu ma'nd yang ditarik dari tural'Abd al-Jabbdr, antara lain, dikelilingi oleh lingkungan fil-
beings empiris secara terpis ah dan syakhsiyy ah' ilmmalr (universal), safat Alfarabisme, suatu era yang-menurut Wolfsory17 dan ter-
yart'rr ma' nhyang menyangkut ide-ide universal dan abstrak. Dari lihat dari karya al-Fdrdbi Ktdb al-l6mi' Baym Ra'yay al-flalfimayn:
perspektif lo gjka, ma'nkbisa bersifat substansial (dzitiyyah nnuqaw- Aflathfrn al-I16hi wa AisthfithAffs- menandai adanya upaya harmo
wamah) atau akside nsial (' ar a dhiyy ah). nisasi pengetahuan doktrinal dan filsafat Pengetahuan filsafat
An-Nasysydr, dengan demikian, telah menunjukkan benang baru segera mempengaruhi sistem bologi Mu'tazilah, seperti bn-
merah ma'nd sebagai terminologi dalam iiteratur-literafur Islam tangnafy ash-shifit. Dalam kultur filsafatini, dari beberapa sum-
klasik deng an ma'nh sebagai terminologi khusus kal6m, yang juga ber, muncul teori ma'nh fiamak: ma'6ni) yang pertama kali dike-
menyangkut problematika serius dalam diskursus filsafat yaitu mukakan oleh Mu'ammar (wafat pertengahan abad ke-9 M), dut
hubungan antara "akal" danbeing,l3 meskipun dalam wilayah dikritik oleh Abfi Hdsyim dengan teonafowdl (twggal:fu,lD.
epistemologi bayifi kal6m ndak seserius itu. Terminolog1'aql- Keterangan paling awal tentang teori ma'nd Mu'ammar di-
sebagaimana dipahami oleh kalangan bayilniyyftn -didefinisi- kemukakan dalam al-Intishfu-nya al-Khayyith dan Mnqdlilt-nya
kan sebagai "ungkapan tentang sejumlah ilmu tertentu"
( i-.-r.rrucrru+.leij+" ).1a Ilmu dalam pandangan'Abd al- t5'Aql(dalamdlughniJuzXl,hlm.3T5)tidakdidefinbikandalamblihh-istihhtindakansecaraumum,
tetapidalam konteks laklif. Bandingkan,al-Mughnifi Abwdb d-Tafiidwa al-'Adl, JuzXll, hlm. 397-
398. R.M. Fnnk menerjemahlan kan6l al-'aqldengan 'aktualitas penuh akal". Lihat R.M. Fnnk,
12 'AliSAmi an-NasysyAr, Manilhij al-BafiE'ind Mutakh al-lsl6n wa lhisyhf al-Manhaj al-'llmi li al- 'Several Fundamental Assunptbns of tp Bashna Sdod of he Mu'bzihh', dalam Sludrb lslanba, No.
'Alan at-lsl6mi, (Cairo: Dir al-Md'arif, 1967), hlm. 38. 33, 1971, hlm.7-18.
13 Lihatlebih lanjutdalam Y0suf Kanam, Alngl waal-Wujhd,CeU ll, (Cairo: DAral-Ma'6rif, ttt.), yang
'0 Lihat (Pseudo) 'Abd alJabb6r, Syafual-lJshll al-Kharnnh,hlm. 175-177; Muhammad'Abid al-
telah menunjukkan kontinuilas pembahasan kedua konsep teaebutsejak pertembangan awal pada llbiri, Bunyat al-'Aql al-'Arabi..., Cet. lll, hlm. 223-225.
filsafatYunani, ftlsafat lslam, filsafat Eropa abad tengah, dan modem.
'/ HarryAusfynWolbon, IhePhilosophyof theKalam,(Cambridge: Harvard UnivenityPress, 1976),
11 'Abd alJabbdr, Al-Mughni fi Abwdb at-Tawf;id wa al-'Adl, JuzXl, hlm. 375. hlm. 148-149.
56 Epistemologi Kalam Abad pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabb6r 57

d-Asy'ad. Penjelasan Mu'ammar, seperti dikutip oleh al-KhayyAth kemukakan oleh Fakhr ad-Din ar-RAzi (w. 1209)20 yang tidak di-
dari Ibn al-Rdwandi adalah bahwa: (1) gerak disebabkan oleh kemukakan di sini. Teori ma' nhMri ammar,dengan demikian, men-
"rebab" dalam (inrcr cause) padatubuh manusia, seperti yang di- ielaskan bahwa segala sesuatu adalah berbeda, sedangkan aksi-
sebut Aristoteles sebagai gerak generatif dan perpindahan dalam den sekaligus berbeda dan sama karena apayangdisebutrya se-
kategori substansi; (2) terhadap pertanyaan mengapa suatu benda bagaima'nk. Ma'nd ini selalu ada pada benda hidup (body)yang
hidup (body) yang diam cenderung untuk bergerak, ia menjelas- dari dalam menjadi sebab munculnya gerak dan diam, serta aksi-
kan bahwa dalam gerak adama'n6; (3) terhadap pertanyaan ten- den-aksiden lainrrya.2l Agaknya, bertolak dari keterangan dan ana-
tang rnengapa dua benda hidup (body) yang diam d.rn suuna-sama lisis yang kurang lebih sama dengan Wolfsoru kesimpulan R.M.
memiliki m a'n6, salah satunya digerakkan olehma'nh pada waktu Frank tentang ma'nn adalah "the intrinsic causal determinant of
tertentu, sedangkan yang lain diam pada waktu tertientu dan thing's being-so: (e.9.) the actuality of the accident of motion in
mungkin akan bergerak pada waktu yang lain, jawaban yang di- the subject is immediate causal determinant of its being-in-mo-
kemukakan adalah bahwa hal itu disebabkan oleh serangkaian tion ... "2
ma'6ntyangtak terbatas. Gerak apa pun, dalam formulasi kesim-
pulan Ib'n ar-Rdwandi, disebabkan oleh seperangkat ma,6nt yang Atas dasar pandangan'Abd al-Jabbdr tentang keterkaitan
'aql danunjfrd serta teori ma'nh Mu'ammar, dapat dijelaskan se-
tidak terbatas.ls
bagai berikut pertamn, teort ma' nd harus dipahami dari kenyata-
Penjelasan al-Asy'ari dalarn Mnqdlilt-nya adalah bahwa teori an balrwa 'Abd al-Jabbdr bertolak dari pandangaruIya tentang
tna'ni Mu' arnmar yang dikemukakan sebagai penjelasan tentang ilmu sebagai bagian dari "pengalaman" yang ada dalam diri ma-
perbedaan pada benda dengan merujuk pada gerak digunakan nusia dengan mengatakan bahwa ilmu adalah jenis keyakinan
untuk menjelaskan apa yang dalam istilah-istilah filsafatyunani (ltiqdd).ts Oleh karena 7t:u, ma'nh tidak hanya dipahami sebagai
yang ditransfer ke bahasa Arab, perbe daau';r (klttilnf, differene), " ke aktualitas aksiden gerak yang lebih menekankan pada "proses",
lainan" @nayriyyan, otherness), perb.nbrngan (dhiddiyyah, antrariety), tetapi fuga dipahami sebagai "hasil" dari aktivitas internal ma-
atau persamaan yang di antaranya memasukan sebagai aksiden nusia (nalar dan pengamatan) dengan menghubungkan antara
predikat semisal "hidup-mati".1e 4l-Baghdddi dalam al-Farq darr keyakinan dan realitas objektifnya. Kedua, bertolak dari pema-
asy-Syahrastdni dalam aI-MilaI mengemukakan kesimpulan haman ini ju ga, ma'n6 merupakan hasil dari upaya manusia untuk
umum bahwa jumlah aksiden yang ada pada benda hidup (bodV) mengobservasi dan menalar serta menghubungkan antaramaiao-
tak terbatas. Hanya saja al-Baghdddi menjelaskan bahwa dengan
Eorrmn'ni, Mu'ammar ingin menjelaskan bagaimana gerak, rasa, rc lbrd, hlm. 153-156.
bau, dan aksiden lain menunfut keberadaan seperangkatma'n6 lbid., hlm.'157.
'?1
pada subjek aksiden tersebut. Hal itu, menurut penjelasan asy- z Dikutip dari Geoqe F. Hounani, lslanb Rationalisn, hlm. '18. Lihat juga Maciasin, 'Epistemologi
Syahrastiini, menyebabkan hubungan tak terputus (tasalsul) an- 'Abd al.labb6r Bin Ahmad al-HamadzAnf, dabm Al-Jani'ai, No. 45, (lnstitut Agama lslam Negeri
Sunan Kalijaga Yogyakarta, 991 ).
tara ma'6nt dan akside4. Mu'ammar dan pengikut bcori ma,n6 1

n Abd alJabMr nengatakan bahwa seseorang kadang-kadang menemukan dirinya berkeyaknan


disebut sebagai ashbib al-ma'6nt. Teort m.a'nd sebenarnya juga di- (nulaqidl ahu kadang-kadang menalar lnlzhirl. Dengan begitu, ia mengatakan proses tersebut
sebagai pengahman largsung nnnwia, yang diurgkapkannya dengan hase tajada nabah' . Lihal
rE lbrd, hlm. 149-'150. I
Al-Mughnifi Abwdb at-Tawf;id wa el-'Adl Juz Xll, hlm. 5; J.R.T.M. Petea, God's Crealed Speecfi:
Study in the Speculative Thalogy of the Mu'tazili Qadhi al-Qudhat Abf al-Hasan bin AhmN al-
le lbld., hlm. 15'1-153
Hamadani, (Lei'den: E.J. Brill, 1 976), hlm. 40--41.
58 Epistemologi Kalam Abad pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabbir

jfrddt dengan perangkat keilmuan ('aql) sebagatframe untuk me- 1',unakan oleh kalangan Stoa. Pengetahuan bukan
merupakan
lihat realitas. Dalam konteks terakhir inilah, dipahami bahwa produk dari suatu kerja metodologis yang sama sekali steril dari
seseorang yang melakukan penalaran (nhzhir) harus memil.iki konstruksi akal manusia terhadap realitas di hadaparmya yang
kesempurnaan akal (knmdl al:aql) dengan seperangkat keilmuan pada kadar yang berbeda bertolak dari kesadaran subjektif. Ada
tertentu. Albert N. Nader dalam bab "La Principe de raison keyakinan, pengetahuan a priori, pra'konsepsi, atau asumsi-
suffisante" dalam bukunya, Le Systeme philosophique des Mu,tazila .rsumsi dasar yang mendasari penilaiannya terhadap realitas'
(1956), menginterpretasikan ma'n6 sebagai prinsip Leibniz ten- Dalam perspektif epistemologi, pengetahuan tidak hanya ber-
tang alasan yang cukup (raison suffsante).2a Selain bertoiak dari kaitan dengan konsepkonsep semisal kebenaran/kesahihan dan
pemahaman tentang hubungan antara 'aql dart wu|frd yang se- reliabilitas, tetapi juga terkait dengan konsep keyakinan, pem-
sungguhnya menjelaskan terjadinya proses konstruksi akal dari buktian, dan sebagainya. Brian Carr dan D.J. C/connor dalam
dalam diri manusia dengan perangkat keilmuannya terhadap lntroduction to the Theory of lGowledge mengemukakan tiga teori
realitas, ma'ni dalam literafur teologi Islam klasik, menurut van dasar epistemologi tentang keyakinan, yaihr:
Ess, meski tidak bisa dipasfrkan dan tidak identik, adalah terje-
(1). Keyakinan sebagai sikaP mental y*g disebut sebagai teori
mahan dari kosa-kata Yunani (Stoa) le;grov (things)sebagai kon-
mentalistik, yang Pertama kali dikemukakan olehHume dalam
sepsi yang ada dalam pikiran kita tentang objek yang ditunjuk
Treatise. Hume mendefinisikan keyakinan sebagai "ide yang
yang harus sesuai/korespondensial dengan objek tersebut.r
hidup". Dengan intepretasi literal apa pun atas ungkapan "ide
3. Interrelasi Pengetahuan dan Keyakinan yang hidup" definisi tersebut hanya terbatas pada keyakinan
dalam pikiran Hume yang berbeda dengan keyakinan umum.
"All men have a corunon set of basic ideas which are the Namun, bisa dilihat bagaimana dengan filsafat pikirannya
starting point of knowledge, of good and evil and of God,s exist- sebagai ke-
ence", demikian terjemahan Cicero dari koinai ennoiai yang di- @hilosophy of mind) -Hume menafsirkan pemikiran
hadiran ide'ide tertentu ke dalam kesadaran (pandangan yang
2a Dikutip
dari Hary Austyn wolbon, rhe Philosophy of the Katan, h1m.167. Leibniz sebenamya juga denganversi tertentu dikemukakan Descartes) dan lebih
mengemukakan tiga prinsip, yaitu (1) prinsip yang terbaik/ sempuma (ffre beslof a/possib/e nacrlds), jauh menganggaPnya sebagai persepsi biasa.26 llmu, menurut
(2) prinsip non*onhadiksi, dan (3) prinsip dengan alasan cukup. prinsip terakhir menyahkan
bahwa
lidak ada yarq terjadi di alam semesh tanpa ada alasan kejadiannya; ada alasan rnengapa suatu
Hume, harus dipahami danthe science of menyang menelaah
objek adalah objek itu, bukan yang lain. lranusia tidak mungkin mampu menjelaskan semua alasan bagaimana proses b"tpikit manusia dan bagaimana ia mem-
dari suafu peristiwa atau objek. Akan tebpi, mengetahui aspek€spek tertenfu merupakan alasan
bentuk pandangan-pandangannya serta sampai pada keyakin-
arkup untuk menjelaskannya. Prinsip ini bertolak dari argumen bahwa karena tak ada dua hal yang
identik, pasti ada alasan unfuk itu, dan ahsan tenebut harus ada dalam (dan telah dimasukkan ke an tentang hakikat fenomena.2T Dalam Proses analisis kausal,
dalam) wujud hal ilu sendiri. Menurut Leibniz, alasan orkup bagi segala sesuatu dan bagi alam terjadi keterkaitan antara ptesent impression-idea-connectiod
semesh untukeksb haruseksb diluarnngkaian hktertringga dari perbtiwa-peristiwa yang mungkin.
Lihat Tim penulis Rosda, Kanus Filsafat, Cel l, (Bandung: penerbit Remaja Rosdakarya, ,l 995),
inferutsi. Dalam hal ini, keyakinan adalah bagian dari ide (y*g
hlm.281-282. hidup) yang hadir dalam konstruksi realitas's
6 Josef van Ess, 'The Logicd sruc{ure of lslamic Theology", dalam logrb rh classrba/ ls/am, hlm. 33.
TulMn iniadalah bagian daritulisan van Ess yang diterbitkan ulang dalam lssa J. Boullata (ed An
),
6 BrianCandanD.J.O'mnnor, lniloducfiontotheTheoryoftOrowledge,(Sussex/GreatBrihin:The
Antlnlogyof ldamic sfudies, (iiilonteal: McGill lndonesia lAlN Developmentproject, 1992). satu hal Harvester Press Limited, 1982), htm. 44.
yang menguafl<an kesimpulan ini adalah bahwa dalam alFashl (al-Frshal) lbn Hazm ketika men- 21 lbid.,hlm.212.
jelaskan teori mahd menulis: 'di dunia ini ada sesuatu (asyya' mawjadah) yang tak terbatas
..., tak
terhitung, dan tak terbatas." Kala asyy6'digunakan sebagai ganti dari ma dni. Lihat H.A. wofhon,
r LihatlebihlanjutRiiardH.PopkindanAurumsboll,Phihsc4/hyMadeSimple,(London:Heinemann'
The Philosophy of the Kalam, hlm. 1 55. 1981), h|m.209.
Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabbdr 61
60 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan

Pengetahuan sebagai genas keyakinan dikemukakan dalam


(2). Keyakinan sebagai kecenderungan prilaku, sebagaimana di-
at:llmad (kitab ushul fiqh) di samping juga dalam al-Mughni't2
kemukakan teori disposisional. Keyakinan adalah sesuatu
Inkonsisbnsi yang tampak dalam sy arfobar arrgkali bukan meruPa-
yang dirasakan oleh pikiran, yaitu yang membedakan antara
kan pendapui'eUd al-Jabbdr, melainkan komentar Mdnakdim'33
iau-iau pertimbangan dari fiksi imaginasi, dan yang meng-
'Abd al-labbAr mendeskripsikan keyaktnan (i' tiqdd) sebagaimana
ubah semua itu sebagaiprinsipprinsipyang mengatur semua
pengalaman langsung manusia yang sering digandengkan dengan
tindakan. C.s. Peirce, beberapa Penganut positivisme logis abad
."nerci atau nalar (nazha), sehingga keyakinan diukur dengan
ke-20, seperti Hans Reichenbach dan Rudolf Camap, serta
kualifikasi tertentu. Yang pertama membentuk basis pengetahu-
filsuf Inggris, Braithwaite dan Ryle, adalah pendukung teori "keilmuan"' Wal'au-
arv sedangkanyang kedua merupakan prosedur
disposisional. Meski begitu, Braitwhite meletakkan keyakinan
pun demikian, karena manusia tidak selalu menemukan diri-
sebagai self-knowtedge dalam tiga fase'2e
nya - dalam frase'Abd al-Jabbdr-yakin (mu' tnqtd),secara esensial
(3). Keyakinan sebagai keadaan rnental' Menurut Ramsey' keya- keyakinan bukan merupakan bagian integral dari esensi manusia.s
' '
ki; merupakan "peta realitas",ymrgberfungsi dalam ana- Oleh karena itu, aktivitas ilmiah sesungguhnya adalah upaya men-
logi. Pada Arnstrong, dibmukan penyamaan struktural antara cari hubungan logis antara keyakinan dengan objek pengetahuan
pemikiran dan realitas.3o atas dasar
;*bay' (illnh, caux) dengan kriteria dan prosedur ter-
tentu (wajh),35 sifat dan keadaan (bAD tertentu.36
Teori-teori di atas sebenarnya menempatkan keyakinan se-
bagai bagian dari kesadaran su$ektif yang terlibat dalam proses Apa hubungan antara keyakinan, objel dan subjeknya? Da-
'frmbac"aan" terhadap realitas, baik pada skeptisisme David lam interrelasi yang tampak di atas keyakinan an sich bukan me-
Firr*", t tuopun keraguan kritis Rene Descartes' Tentu saia dalam rupakan faktor satu-satunya yang menjadikan subjekyakin, kare-
kerangka jurtiruu"i ada hierarki di mana keyakinan di- na subjek mengamati suatu fenomena dulu, kemudian menarik
"pirtemik
ukur iari"pasti ", "ielas", "melewati batas keraguan rasional" kesimpulan atas dasar kualifikasi tertentu. seseorang, misatrya,
(beyond reasinable doubt\, hingga predikat "pasti salah"'31 melihat gerak pada pohon, kemudian menyimpulkan bahwa
pohon tersebut bergerak. Oleh karenaltu, i'tiqhd merupakan se-
Dengan kesimpulan bahwa "pengetahuan adalah bagian
suatu yang harus ada pada subjek, sehingga keberadaannya men-
dari jenisi' ti q1d"' Abd al-Jabbdr menghubungkan antara Penge-
jadikan subjek dalam keadaan @pl)yaktn' 'Abd al-Jabbdr sangat
tah; dan keyakinan. Pemerian singkat di atas membantah pe-
mahaman tentang prosedur "keilmuan" dalam pandangan'Abd
r,AMalJabbar, At-Mughnifi Abw6bat-Tawfiidwaal-'AdlJuzXll,hlm.25-29,"Fashlliannaal-'ilm
al-|abbir yang tampak problematis karena, dengan mendasarkan min jins al-i'tiqAd'.
atas keya-kinan, kontradiktif dengan asas kesementaraan dalam s Lihat(Pseudo) 'Abd alJabbar, Syafial-lJsh1lal'Khamsah, hlm 46'
simpulan. 3r J.R.T.M. Peters, 6od3 Cre ated speech, hlm. 41; 'Abd al-Jabbir, Al-Mughni ft Abwdb at-Tawfiid
Per-
wa al-'Adl, Juzxll, hlm. 9 menlelaskan persamaan dan perbedaan antan ltq6d dan nazhar.
aspek (wa1h).
samaannya adalah bahwa kedu.ny. terkait dengan objek dan mencakup seluruh
suatu kualitas,
Peftedaannya adalah batrwa yang pertamaterkait dengan keberadaan objekdengan
a Brian Can dan D.J. O'connor, lntroducibn, hlm. 50-51'
sedangkanyangkeduamerupakanupayauntukmengkonfirmasikandenganobjektentang
s lbid., hlm.57-59. keberadaan suatu kualitas.
!1 Roderir*M. Chisholm, IheoryofKnor+,ced9e, (NewJersey: Prentice-Hall, 1989), hlm. 16; KennehT' s Abd alJabbdr, A l-Mughni fi Abwilb alTawf;id w a al-' Adl, Juz Xll, hlm 43
O.ff.ghq TlnphttosophyoiKnowledge,disadaurolehPtl.ardonoHadidenganiudulEprbtenologi: $ lbid, hlm. 46.
iitsaiat Pengetahuan,'(Yogyakarta: Puslaka Kanisius, 1994), hlm 28--42'
62 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabb6r

jelas membantah pandangan tentang ilmu h.anya sebagai keya- si-afirmasi adalah dua hal yang tak terpisahkan (ada proses pe-
kinan.37 nyaringan oleh akal terhadap pelbagai fenomena untuk ditunjuk
sebagai fakta dan data). Dengan pendasaran ini,'Abd al-JabbAr
Atas dasar ini, penerjemahan {tiq6d dengan belief, menurut
membedakan antara keyakinan kritis sebagai bagian dari penge-
Peters, adalah keliru, karena kekeliruan dalam memahami teks-
tahuan dan keyakinan tidak kritis dalam hierarki berikut:
k,ks lalim'Abd al-Jabb ?r dan mutakattimfinlainnya. Peters, Vajda
Bernand, dan Frank menerjemahkan i'tiqdd dengan conaiction. a lahl (ketidaktahuan). Petersao membedakan antara jahl (ket-
Dengan pengertian yang sama van Ess menerjemahkan istilah daktahuan, ignorance)at sebagai tidak adanya ilmu sama sekali
tersebut dengan Uber zeugung (Jerman).s yang disebutnya sebagai "ketidaktahuan negatif " (einfache
Ignoranz) dan jahl sebagai keyakinan yang tidak koresponden-
Hubungan antara pengetahuan dan keyakinan adalah hu-
sial dengan realitas yang disebuturya sebagai "ketidaktahuan
bungan "negasi-afirmasi".'Abd al-JabbAr dengan sangat baik me.
positif " (komplexe Unzuissenheif). Dalam penggunaan umum-
ngartikulasikan hal ini dengan statement singkatnya, berikut ini:
nya dalam bahasa Arab, jahl rnerupakan ketidaktahuan ten-
,lA *f 6h t cjli h Jl,1i ti ! *i ,il.l t e+,j1,4 ,r.rl JfrY 1 l* cLJ ti& ir tang suatu objek tertentu sehingga tidak identik dengan "ke-
"l bodohan" yang setara dengan kategori pertama Peters. Ke-
,, ..t L.ill I! r... 1 )1 Lgx g4f gE l u$ ri +,!
tidaktahuan yang dimaksud oleh'Abd al-Jabbdr adalah "ke-
Oleh karena itu, pengetahuan dalam relasinya dengan ke- tidaktahuan positif".
yakinan tidak terlepas dari dua keadaan: (1) pengetahuan me-
b. Taqlid dantabkhit. Ketenangan pikiran (sukin an-nafs) ndak
negasikan apa yang oleh keyakinan diafirmasikan karena penge-
ada di dalamnya, tapi belum mengandung kebenaran atau
tahuan tidak mengafirmasikannya, atau (2) pengetahuan meng-
kesesuaian dengan realitas. Taqltd didefinisikan sebagai "me-
afirmasikan apa yang oleh keyakinan dinegasikan karena tuntut-
nerima pendapat orang lain tanpa didasari oleh argumen".42
an pengetahuan bahwa hal itu harus diafirmasikan. Terhadap
Taqltd digunakan oleh 'Abd al-Jabbdr sebagai istilah teknis
keyakinan tentang objek terentu, pengetahuan tidak terlepas dari
untuk keyakinan yang tidak kritis dengan mengikuti suatu
salah satunya. Namun, sebagai kerja metodologi keilmuan, nega-
aliran dan tradisi-tradisinya. Dalam pengertian ini, Peters me-
37 Abd
alJabbdr mengemukakan hal ini dalam bahasan tersendiri. Lihat, AM alJabbAr, Al-llughni fr
nyebutrya dengan "tradisionalisme".a3 Namun, membatasi
Abw6b at-Tawfiid wa al-'Adl, JuzXl| hlm. 47-53. taqltdhanya untuk "alira\" tentu saja keliru. 'Abd al-JabbAr
3' sendiri menggunakan istilah tersebut sebagai keyakinan yang
J.R.T.M. Peters, God's Creatd Speech, hlm. 42; Marie Bemand, La Notion de'lln Chez Les Pe
niers Mulazilites, hlm. 24. Hourani menerjemahkan itrigaddengan be/rbf Lihat, George F. Hourani,
tidak kritis, setidaknya, dalam pengertian berikut pertama,
lslanic Rationalisn, hlm. 17. Eelcf diterjemahkan dergan 'state of believing, conviction or accep
tance ftat certain fiings are fue or reaf . Atas dasar ini, trp./ref berkonotasi sebagai perrerimaan atau taqltdkepada pandangan individual atas dasar otoritas. Keti-
sikap menblyang terhifup dari rcalitas ahu kebenann di luardirinya, sehingga dbinonimkan dengan dakkritisan ini dibantahnya dengan argumen logika. "subjek
lbilh (keimanan). Berbeda dergan ini, onvfulfon lebih berkonotasisebagaisikap nrentalyang terbuka,
yang sama sekali tidak didasa*an pefiimbangan (salah satu penggunaannya 'to convict to prwe
yang diikuti pandangannya tidak terlepas dari dua kemung-
[a
personlguilty [conviXed by he addenef), sehingga disinonimkan dengan 'cerhinit/ dan'opinkm'.
Lihat Victoria Neufeld (ed.), Webiler's New WoN C,ollege Didionary, pSA: Macmitlan, lnc., 1996), { J.R.T.M. Peten, Godb Created Speech, hlm. 43.
hlm. 127 dan 305. Meski tidak kaku, ahs dasarmakna konohtifdi atas, befef diterjemahkan dengan
'kepercayan' abu 'keinunan', sedargkan urviiion diterjennhkan dengan 'keyakinan' sebagaimana '1 George F. Hourani, /slamic Rationalism, hlm. 17.
pengertian di atas. " Abd alJabbir, Syafial-Ushll al-Khamsah, hlm. 61.
s Abd alJabbdr, Al-Mufiith bi at-Takfrf,Juz l, hlm. 196.
€ J.R.T.M. Peters, God's Created Spech, hlm. 44.
64 Epistemologi Kalam Abd Pe(engahan Konstruksi Pemikiran Epislemologi'Abd al-Jabbir 65

kinan antara sebagai orang yang mengetahui tentang objeknya kiran yang semu) dan keharusan korespondensial dengan rea-
atau sebaliknya. Jika diterima pengandaian kemungkinan per- litas, yang dalam hal ini selalu menghadapi pelbagai kemung-
tama, permasalahan yang sangat mendasar adalah dengan pro- kinan keliru.aT
sedur apakah ilmu tersebut diperoleh. Dalam Syarfudikemu-
kakan statemen'Ali ibn Abi Thdlib r.a. yang berkaitan dengan Kritik'Abd al-Jabbdr terhadap taqltd sebagai keyakinan
persoalan validitas pengetahuan, bahwa kebenaran tidak bisa yang tidak kritis juga merupakan kritik Grhadap tnbfutt.Istilah
secara metodologis divalidasi dengan kribria-kriteria yang ber- ini diartikan sebagai keyakinan terhadap sesuatu yang tanpa
ada di luar diri, termasuk otoritas, tetapi kondisi objektif yang didasari oleh pertimbangan mendalam.as
berada di dalamnya. Kutipan brsebut terbaca sebagai berikut c. Zhann lstilah ini menjadi bagian dari tema bahasan hampir
semua kalang an bayhniyyfrn, baik mutakallimfin, ahli fiqtv mau-
& l+l .irl r 1116 / lI Ul dri dJ .irl,i* Oj; d 1..
Jl Lt I d tr}.i"ry ),rl pun ushul fuqh. Zhann oleh'Abd al-]abbdr didefinisikan de-
u dtlll.;U
ngan "sesuafu yang keberadaannya meniscayakan subjek men-
Dalam hal bahwa pengetahuan tidak bisa divalidasi de- jadi zhnnn."ae Abt'Ali al-lubbd'i dan AbO Hdsyim berbeda pan-
ngan sesuatu yang berada di luamya yang paralel dengan ide dangan tentang status zhnnn. Menurut al-JubbA'i, zhann me-
bahwa ilmu tidak bisa divalidasi dengan otoritas, dalam al- rupakan kategori sendiri di luar keyakinan, sedangkan me-
MufuitVs'Abd al-JabbAr menguatkannya dengan ide bahwa nurut AbO Hdsyim, zhnnn dikategorikan sebagai keyakinan
pengetahuan tidak bisa divalidasi dengan amal yang sesung- spesifik. Dalam Syarfu erlil'atupaya'Abd al-fabbdr untuk mem-
guhnya berada di luamya, suatu pandangan yang mengingat- pertemukan pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa
kan kita dengan perspektif hermeneutis bntang hal yang sama jika dihubungan dengan kriteria koresPondensial pengetahu-
bahwa mengkritik ide seseorang tidak sah secara metodologis an, zhnnn, bertolak dari prinsip "keserbabolehan" (at-tajwtz).
dengan mengkritik tindakan atau latar belakang kehidupan- Oleh karena itu, zhann menghadapi dua kemungkinan, yaitu
nya. Kedua , taqltdkepada suatu pandangan publik sebagai pan- menjadi keyakinan yang hnar dan korespondensial, atau se-
dangan mayoritas. Kuantitas sama sekali tidak menentukan baliknya.
kebenaran.a6 Ketiga, taqltd adalah keyakinan yang tidak kritis d. Ma'rifah atan'ilm yang menjadi tema sentral kajian ini. Ke-
karena dilihat dari dua kriteria: sulctin an-nnfs (ketenangan pi- duanya adalah keyakinan yang memenuhi dua kriteria pe-
ngetahuan valid yang ditentukan'Abd al-Jabbdr'
( [Pseudol Abd alJabbdr, Syad al l]shil
6
al-Khamsah, htm. 62.
Bertolak dari proses negasi-afirmasi yang menjadi asas
'AbdalJabbir, Al-Muhfthbiat-Taklif hlm. 15.
kerja metodologi "keilmuan" dan hierarki keyakinan sebagai-
Abd alJabMr sebenamya sama sekali Udak melihat adanya keterpisahan antara ilmu dan amal
(hlm. 16). Namun, hal ifu harus dipahami dalam konteks religius. Dalanr epistemologi, keduanya mana dikemukakary interrelasi ilmu dan keyakinan, di sam-
harus dipbahkan, baik dalam 'proses" keilmuan, karena amal sesungguhnya tidak pemah ada bnpa ping pemerian di atas, pada prinsipnya dapat dilihat dari dua
pergebhuan sebelumnya (hlm. 15), maupun dalam benfuk "poduK keilmuan yarg dalam halvalirjihs,
amal tidak menjadi tolak ukur bagi kebenanan ilmu. Berbeda dengan pandingan sufi umumnya yang
aspek:
melihat validitas ilmu membentang dari kebenaran kognitif (',,m) ke kebenaran afiektif (!dt situasi a7 LihatAMalJabbAr,Al-MughnifiAbwbbat-Tawbidwaa/-AdlJuzXll,hlm.25dan123-126,"Fashl
kedekatan Tuhan-hamba), 'Abd alJabbar secara lebih rasional membahsi kebenaran ilmu hanya
fi bayin fas6d attaqlid'.
pada tingkat kognitif.
4
{ Abd alJabbir, Syafial-llshllal-Khansah, hlm. 61--62.
J.R.T.M. Petea, God's Created Speech, hlm. 44.
s [Pseudo]'Abd alJabb6r, Syad al-Ushhl al'Khansah, hlm. 395
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabbdr 67

1). Keyakinan tidak hanya merupakan sikap mental (teori men- Tabel:I
talistik) atau kecenderungan prilaku (teori disposisional), te- Interrelasi Pengetahuan dan Keyakinan
tapi lebih dari itu, menjadi "peta realitas", suatu fase awal ke-
sadaran dari dalam akan realitas dan fakta. Hal ini, antara lain, Jenis keyakinan Korespondensi Afektivitas Bentuk Relasi

dapat dijelaskan dengan pandangan'Abd al-Jabbdr tentang ( cl*r.x ) lt.rrt-.* ) ( ,r.t! O-5- )

zhann. Meski dengan intensitas keyakinan yang berbeda, se- 1. Ketidaktahuan tidak ada ada distansial
perti dijelaskan oleh bayhniyyfin, fuqaha', danushfrIiyyfin, zhnnn
2. Taqlid /tabkhlt ? tidak ada distansial
disetarakan dengan keraguan (syalck),sebuah penggambaran
3. Zhann I syakk ? tidak ada instrumental-distansial
tentang terjadinya interaksi persepsi individual terhadap rea-
litas yang bertolak dari kegelisahan (khawfl yang oleh'Abd 4. 'llm I ma'ifah ada ada instrumental-distansial
al-JabbAr disebut sebagai bagian dari motif-mohf (ad-daw6,l
eksplorasi "ilmiah". Zhnnn sendiri tidak berangkat dari ke-
B. Tolak-ukur Kebenaran (Validitas): Antara
yakinan yang kosong btapi dari "sinyal" (amhrah sha$foill.so
Peters adalah benar ketika menerjemahkan zhann dengan
Objektivitas dan Subjektivitas
"asumsi".51 Relasi ini bisa disebut sebagai "relasi instrumen- Salah satu persoalan sentral dalam epistemologi adalah ba-
tal" yalr'rg terjadi dalam proses kerja "keilmuan". gaimana suatu pengetahuan diukur kebenarannya yang memun-
2). Sebagaiimplikasi dari proses negasi-afirmasi, ilmu meng- culkhn teori-teori tentang kebenaran (truth) pengetahuan: teori
ambil jarak dan mengkritisi pelbagai keyakinan sebagai pro kebenaran korespondensi, koherensi (Brand Blanshard), prag-
duk yang tidak kritis, sebagaimana dikemukakan. Relasi model matis (filsuf Amerika umumnya; William]ames, Charles Peirce,
ini disebut dengan "relasi distansial". John Dewey), semantik (Alfred Tarski), atau teonredundancy (F.P.
Ramsey).s2
Interrelasi pengetahuan dan keyakinan dalam pandangan
'Abd al-Jabbdr dapat dijelaskan dengan tabel berikut: Pengetahuan menurut'Abd al-Jabbdr memiliki kriteria yang
mandiri yang ditentukan oleh nilai-nilai intrinsik, sehingga tidak
dapat divalidasi dengan tindakan. Ilmu memiliki shifah danfofiI
tersendiri.s3 Definisi yang telah dikemukakan dapat memperjelas
hal ini bahwa keyakinan ({ tiqilQ menjadi pengetahuan yang sahih
iika memenuhi dua kriteria: pertama, kesesuaian keyakinan de-
s Lihatbi/.,hlm.TFT4.DisampirBitu,kegiahn'keitmuan',menunrtAbdal-Jabb6r,jugadirJasarkan ngan objeknya seperti apa adanya ('abmthuwabih), dartkedua,
pada apa yang disebuhyasebagaikhdthir(jamak:khawdfhir). LihatNasrHinid Ablzayd,At-lttij'h
al-'Aqli fi at-Tahir. Dhdsah ft Qadhiyyat at-Maj6z fr Al-eur'6n'iN at-Mulazilah, cet il, (Beirut al- 5'?
LihatRobertC. Solomon,lnfoducling Philonphy: ATextWith Readings, (NewYork: HarcourtBrace
Martaz aFTsaqifi al-'Anbi, 1996), hlm. 66--67. Di sini kh6lfrir disebut sebagai motif ekstemal,
Jovanovich, Publishers, 1985), hlm. 166 dst; Brian Candan D.J.O'connor, lntroductiontotheTheory
sedangkan syakk, termasuk di dalamnya ziann, disebut sebagai motif intemal. Apa yang dimaksud
of Knowledge,hlm. 16,f-185; PaulHoruvich,'Truth, theories ofl, dalamJonathan Dancydan Emest
'Abd alJabbdr dengan keraguan sebagai kondisi awal proses mempdroleh ilmu adalah penepsi/
Sosa(eds.),4 CompaniontoEpisteno/ogy, (Massachusetb: Blackwell, 1993), hlm. 509-515.
asumsi awal yang, karenanya, tidak kosong sama sekali dari penyikapan terhadap objek (khuluwv
alqddk'an al-akhdz wa at-fark). Lihat AM alJabbdr, r/-Mugh ni li Abwitb d-Tawf;id wa at-'Adl, Juz
s AMauabbar,Al-MughnifiAbwitbat-Tawfiidwaal-'Adl,JuzXll,hlm.36.Tentangterminologiteknis
Xll, hlm. 189-190. ini. Lihat HarryAustryn Wolbon, The Phibsophyof the Kalan, hlm. 193-234; SariNuseibeh, "Epis-
51 J.R.T.M. Peten, temology", dalam Oliver Leaman dan Seyyed Hossein Nasr, History of lslanic PhrTosophy, Part ll,
Godb Creafed Speech, 54 hlm. 45-.47.
(London dan NewYork Routledge, 1996), hlm.831--834.
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabb6r 69

keniscayaan ketenangan jiwa (sukfin an-nafs). Oleh George F. Kedua, meskimerupakan tolak-ukur pertama kebenaran,'Abd
Houranin kriteria pertama disebut sebagai kriteria objektif dan al-JabbAr melihat bahwa fakta-fakta empiris - meminjam istilah
kriteria kedua disebut sebagai kriteria subjektif. Kant-adalah dns Ding an sidt. Fakta-fakta brsebut baru sampai ke
level sense-data y ang dljadikan tolak-ukur kebenaran jika dikons-
1. Unsur Korespondensiss ('al6 mh huwa bih) truksi oleh akal. Oleh karena itu, nalar tidak hanya terjadi pada
Sebagai Kriteria "Objektif" argumen-argumen (an-nnzhar f al-adillah), tetapi juga pada objek-
Dalam epistemologi korespondensi (kesesuaian dengan rea- objek empiris (an+uzhar f al-a'y6n).se Di samping itu, argumen
litas) merupakan asas kebenaran pengetahuan. Realitas itu sen- sangat mendasar yang dikemukakannya adalah bahwa Penge-
diri bermuara dari dua hal, yaitu realitas fisikal (fakta empiris, tahuan dari akal-budi lebih jelas validitasnya karena bertolak dari
impression dalam terminologi Hume) atau non-fisikal (fakta akal- rnlar sebagai tindakan generatif (z utawallid\ y arrgdilakukan oleh
budi rasiornl). Yang dimakzud oleh'Abd al-Jabbdr adalah keduanya manusia sebagai agen tindakan, sedangkan pengetahuan emPiris
bahwa kebenaranada pada fakta-fakta empiris sebagaimana juga bertolak dari penginderaan terhadap sesuatu yang memang ada
pada fakta-fakta rasional. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut sejak semula tanpa pengkondisian (mubtada'an).ffi Idrdk sendiri,
baik terhadap objek empiris nuupun non€mPiris, bukanlah ma'nff7
Pertama, fakta empiris-sensual yang dicerap melalui alat-
yang meniscayakan pengetahuan dengan sendirinya.
alat indera (al-fonwdss) merupakan tolak-ukur pertama kebenaran.
Hal ini disebabkan, menurutnya, oleh ketergantungan nalar ra- Kgtiga, penekanan pada kebenaran fakta rasional tersebut
sional dalam prose s idrdk atas fakta-fakta empiris sederhana yang sama sekali tidak membawa'Abd al-Jabbdr kepada penegasian ke-
kebenarannya diterima oleh rasio secara aksiomatik, yang dise- benaran fakta empiris. Hal ini didasarkan pada pandangan'Abd
butnya sebagai badtfott al:aql.s6 Dalam kritiknya terhadap sofisme al-|abbdr ketika mengkritik pandangan relativis (aslfufrb at-tai6lwt)
(as- Sfifs thi' iyy al), buk an dalam pengertian skeptisisme episteme dan penganut sofume (as-Sttfsth6'iyyaft), bahwa rasionalisasi dari
logis,'Abd al-Jabbir menyatakan bahwa kebenaran sebagai se- suattt i'tiqhd tidak dapaf sama sekali, memPengaruhi kondisi
suatu yang tidak terbantah bertolak dari fakta-fakta empiris se- nyata objek yang diyakini.62
derhana, seperti pembedaan "hitam-putih", "tinggr-rendah", dan Bertolak dari pandangannya bahwa realitas empiris meru-
"besar-kecil" .57 "Ide-ide sederhana ditarik dari kesan sederhana",
pakan kriteria apa yang disebut pengetahuan yang valid, maka
demikian Hume.ss
s /bid., Juz Xll, hlm.97.
il Geoqe F. Hourani, ls/amic R ationalisn, hlm. 17 . m /bd., Juz Xll, hlm. 57. Lihat pembedaan oleh 'Abd alJabbirantara tindakan yang didasa*an pada
s Ungkapan 'korespondensi' (kesesuaian) sebenamya mencakup kesesuaian pengetahuan dengan 'sebab'dan"ibtidi''(Al-Muhilh,Juzl,hlm.391-392). Menurulnya,tindakangeneatif(mulawallrd)
realitas, baik realitas empirb maupun non+mpiris atas dasar bahwa beberapa penulis (lihat kem- dan largsung (mub6slr) masih berada dalam bahs kemampuan manusia, sebagaimana kritiknya
bali catahn kaki nomor 52) tidak menyebuhya sebagai teori tesendiri karena kebenanan ilmu di- terhadap pandangan thab-nya AbO 'Ubmdn alJihkiz yang berimplikasi, tegas 'Abd alJabbir, pada
asumsikan sebagai kebenaran korespondensial dengan pengertian itu. Jika yang dimaksud dengan penyamaan antara nalar dan pengetahuan dengan proses pencerapan inderawi, serh gerak dan
koespondensi derpan ealitas empiris, dalam kajian ini dbebut "teori korespndensf ahu" korespn- kecenderungan genk(ilinM1, Lihat'Abd alJabbdr, Al-Mughni fr Abwdb al-Tawf;idwa al-'Adl,Juz
densi dengan realitas empiris'. Xll, hlm. 316-323. Dengan pandangan tentang lindakan generatif (mulewalltd) sebagaitindakan
$ Abd alJabbir, Al-Mughni fi Abwib alTawfid wa al-'Adl Juz Xll, hlm. 54. manusia karena penelonannya pada pengetahuan sebagai hasil kreasi manusia, ia juga berbeda
s7 lbid., JuzXll, hlm. 42--43. derqan an{.lalr/ram dan al-'Ailaf. Lihal Nashr Himirl AbnZayd, Al'Miidh alr\g,i, hlm. 61. Parahase
yang sering digunakan untuk nalar sebagai tindakan generatif adalah 'an-Nazhar yuwallidu al-'ilm'.
s 'Acoding to Hurne, simple irJeas are dedved from simple impression. A simple idea would be some 61 lbid., Juz Xll, hlm. 93.
hing like red;hesimple impression would beseeing a red round image', RobertC. Solomon, /nfre
62 lbrd, Juz Xll, hlm. 17.
ducing Phibsophy, hlm. 144.
70 Konstruksi Pemikiran Epistemologi'AM al-Jabbir 71
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan

tolak-ukur kebenaran yang dikemukakan'Abcl al-Jabbdr bisa di kannya dengan premis minor dan mayor sebelumnya' Konklusi
jelaskan dengan teori kebenaran korespondensi (correspondcnce yang ditarik koheren dengan premis minor, dan premis minor
theory of tntth) bahwa suatu pengetahuan baru dianggap valid jika Loheren dengan premis mayor. Pengambilan kesimpulan itu
sesuai (correspond) dengan realitas empiris. Pandangannya ten- sendiri tak ragu lagi adalah proses nalar dan inteleks i (ta' ammul).
tang mawjfrd,sebagaimana dikemukakan, adalah bahwa pengeta- Ungkapan semisal "fa idzh shafuil hidzihi al-jumlah, fa 16 budda
huan tentangbeing harus dijelaskan dengan menunjuk langsung 1fa yajii\..."es fiika kalimat/pernyataan
ini benar maka pasti" ')
realitas objektifnya (bi al-isy 6r ah il6 al-mawi frdht). P enielasan ten- menggambarkan suatu proses inteleksi dan nalar dengan model
tang mawjftd, menurut'Abd al-Jabbdr, harus dengan contoh-con- koherensi. fika silogisme yang dikemukakan tersebut dengan asas
toh objek partikular (at-ta' rif bi al-mitsil),sebuah pandangan yang koherensi bertolak dari suatu premis mayor yang kebenarannya
sangat Aristotelian. aksiomatik, pertanyaan yang muncul sekarang: bagaimana'Abd
al-Jabbdr menjelaskan pendasarannya? Inilah yang memberi
Tetapi, fakta-fakta empiris brsebutbaru memiliki makna ha-
ruang bagi kebenaran korespondensi dengan realitas empiris da-
nya jika "dimaknai" (dikonstruksi oleh akal) sehingga kebenaran
lam epistemologi'Abd al-JabbAr' Kebenaran aksiomatik (badfufi
adalah kebenaran rasional yang mengasumsikan keharusan ada-
al: aqf),sebagaimana dikemukakan, bertolak dari fakta-fakta se-
nya konsistensi berpikir logik. Dengan kata lain, pandangan'Abd
derhana yang tak terbantah melalui pengamatan inderawi (al-
al-Jabbir dalam konteks itu dapat dijelaskan dengan teori kebe- tentang fakta-fakta seder-
fugssah). Dalam al-Mtthtth, pengetahuan
naran koherensi, bahwa suatu keyakinan (pernyataan, kalimat,
hana tersebut disebut sebagai fondasi argumen-argumen (ush'fi|
proposisi, dan sebagainya) adalah benar jika sesuai/konsisten
al-adillahJ yang sesungguhnya menjadi kriteria minimd kesem-
secara logis dengan pemyataan atau keyakinan lain yang benar.6
pumaan akal untuk takltf,6 seperti pengetahuan aksiomatik ten-
Teori koherensi menjadi alur yang cukup kuat dalam sistem ber-
tang ketidakmungkinan suatu benda fisik berada di dua tempat
pikir'Abd al-JabbAr dengan penekanarurya pada konsisitensi an- pada waktu y.rng sama, perbedaan dan persamaantrrya,6T hitam-
tara premis mayor (mujmal),premis minor (mufashshal), dankon-
prtih, manis-asam, dan panjang-lebar. Pengetahuan aksiomatik
kJusi (ta'ammull.la memiliki sistem b".pikit logika yang sangat
a*i rurcu-rukta empiris sederhana yang dharfiri tersebut harus
ketat. Sebuah logika model silogisme, untuk menyebutnya seba-
mendasari argumen-argumen atau premis-premis minor yang
gai contoh, dikemukakan untuk memperjelas hal ini:
dikemukakan berikutnya adalah untuk menghindari apa yang di-
a. Berbuat zalim adalah jahat (premis mayor) sebut dalam logika sebagai "nalar sirkular" (ciratlar teasoning\,
begging the question, petitio pin-
b. Perbuatan ini adalah zalim (premis minor) fatlacy of arguing in circle, fallacy of
-

apii (t atni, atar tasalsul al-adillah, yaitu pengambilan kesimputr-


b. jadi, perbuatan ini adalah jahat (konklusi)il
an berdasarkan statement-statement atau pengandaian-Peng-
Dari contoh di atas,'Abd al-Jabbdr menarik suatu konklusi
yang sahih secara logika karena ada koherensi yang menghubung- s Abd alJabbdr, A t-tulushni fr Atute/b at'Tawf;idwa d:Adl, JuzXll, hlm. 236-237.lGlawaiab+yaiibu
ying berbeda dalim konteks hukunr-{alam konteks lggika harus diteriemahkan dengan 'pasf
-(necessary).
a The coherence treory of futlr says hat a statement or belief is true if and only if it "mheres'or ties s Abd alJabbdr, A t-Muhilh biat'Taklit, Juz l, hlm. 15--17.
oher statemenb and beliefs.' Lihat Robert C. Solomon, lnlroducing Philosoptty, hlm. 166).
in wittr
67 Abd alJabbdr, Al-Mughni fi Abw6b at-Tawfld wa al-'Adl, ed. Muhammad 'Abd al-Halim an-Naliar
n GeoqeF.Hounani,lslamicRationa,,bm,hlm.35,denganmengutipdari'AbdalJabbir,Al-Mughnifi dan'Abd al-Halim an'Naliir, Juz Xl, hIm.382.
Abwdb al-Tawhid wa al-'Adl, JuzXlll, hlm. 305-306.
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd alJabbir

andaian yang justru masih dipertanyakan kebenararurya dan harus Jika ditanya:Apa dalil yang menuniukkan bahwa Dia (Allah) Hidup ? Diiarab:
dibuktikan, meski diasumsikan benar.68 Kaedah logika ini difor- Setiap subjek yang mungkin (sha!!) memiliki kemampuan dan mengetahui pasti
mulasikan'Abd al-JabbAn sebagai berikut: hidup.

,l;l, d ol',;51 dl dll dll,;(1 d J r"I ru.r OE cl r+l itrlr dr l+


ru dl ./ t$ yr Dalam kudpan di atas, bahwa Allah pasti Hidup meruPakan
oe ib)l g d! te ) t,4 grX hr 1s[r konklusi yang ditarik secara koheren dari premis mayor "sedap
subjek yang mungkin memiliki kemampuan dan mengetahui
Dalam contoh di atas, premis mayor "berbuat salah adalah
pasti hidup"z (secara implisi! premis minornya berbunyi: "Allah
iaha(' diperoleh dari: (1) observasi atau pengamatan terhadap ada adalah subjekyang mungkin memiliki kemampuan dan menge-
atau tidaknya aspek-aspekpimafacie satu per satu dari contoh-
tahui"). Premis mayor tersebut memaksa'Abd al-JabbAr untuk
contoh partikular bahwa semua kemungkinan yang menjadi tin-
membuktikan kebenarannya. Ada hal yang terkandung dalam
dakan tersebut baik tidak dengan pendekatan iilrdk, melalui per-
premis mayon (1) subjek yang memiliki kemamPuan/ dan (2)
sepsi sensual maupun pemahaman fakta-fakta empiris; dan (2)
subjek yang mengetahui. Untuk memvalidasi yang pertama, ia
komparasi dan pertimbangan beberapa aspek pima
facie ruIai mengatakan "karena setiap perbuatan dalam kenyataannya (asy-
yang ada suatu tindalen.To Dengan demikian, 'Abd al-fabbdr mem-
sy6hid) tidak terjadi, kecuali dari subjek yang memiliki kemam-
pertahankan kebenaran koherensi pada argumen logika sebagai
puan". Terhadap persoalan kedua, ia menunjuk contoh-contoh
tolak-ukur kebenaran ilmu. Namun, pada tingkatyang paling men-
partikular yang tak terbantah "karena perbuatan yang kokoh (al-
dasar, ia mendasarkanhal itu pada kebenaran korespondensi. Con-
toh lain yang dikemukakan'Abd at-Jabbdr yang dapat memperie- f'l al-mufukarr),73 seperti menulis dan membuat sesuatu, tidak
mungkin teriadi, kecuali dari subjek yang mengetahui". Fakta-
las hal ini adalah apa yang dikemukakannya dalam Kt6b ar-Llshat
fakta pima facie yang ditunjuknya terakhir ini yang digunakan
al-Khamuh, sebagaimana dikutip Machasin:n
untuk menopang nalar logika sebelumnya sebagai sesuatu yang
"aksiomatik" agar tidak E4adi petitio pincipi. Fakta-fakta empiris
a dan rasional keduanya diberi tempat dan dilibatkan dalam proses
contoh kekeliruan nalar nrodelfuiiadahh bahwa: Alam serEsb memilikipermulaan (premb mayo).
setiap yarq memiliki permulaan mesti ada subjek yang mengawali (penciptaan) (premis minori. inteleksi.
Jadi, alam semesta memilikisubjek yang memulai penciptaan (Tuhan) (ronklusij. Logita tene-
but adalah keliru karena bertolak dari premb, statement, atau pengandaian yang masihlipersoal- Dengan demikian, kesimpulannya tentang objek abstrak
kan. Lihat Pafick J. Hurley, r
bncise lntdudkm fo Logiq (califomia: wadsworfi publishing ftuhan) yang bertolak dari yang konkret,'Abd al-]abbir menarik
Company, 1985), hlm. Qf122; Peter A. Angetes, Didionary of phibsophy,(Nav york Bames &
Noble Books dan Division of Harper & Row, publishers, 19g'l), hlm. 97; Dagobert D. Runes, Drblro
kebenaran membentang dari teori kebenaran koherensi ke kebe-
nary of Philonphy, (Nw Jeney: Litdefietd, Adams & Co., 1971), htm. 108; The Liang Gie, Kamus naran korespondensi. Sebaliknya, jika dilihat dari contoh-contoh
togi/<a, (Yogyakarh: Penerbil Libedy dan Pusat Behjar ilmu Beryuna
[pBtBl, 199S), htm. 54. partikular konkret sebagai dasar kesimpulan, kebenaran mem-
B Abd alJabMr, A|Muhih biat-Takif, Juz t, htm. 17.
bentang dari bori kebenaran korespondensi ke koherensi.
n George F. Hourani, /slamrb Ratbna/lsrn, hlm. 36.
7' Madrasin, I/-Q di AM at.Jabbln
Mttasylbih Al-eur,dn: Datih Rasbnatitas At-eufan, (qyatab: Dengan demikian, fakta empiris diberi ruang dalam episte-
tKis, 2000), hlm. 67-68 dengan merButip 'AM alJabBr, Ktdb al-llsh0ta/-loramsah, Edisi Daniel mologi'AM al-Jabbdr bersama-sama dengan fakta akal budi se-
Gimarcl Annales lslano/ogrgues, No. XV (lnstitut Fnncais d'Ardeologie Orientaledu Caire, 1979),
hlm.82-83. Lihat juga Madrasin,'Understanding $e eu/in wifr LogicalAqumenb: Disarssion 12 lfid.
on 'Abd alJabMr's Reasoning', dalam Al-Jani'ah: Joumat of lstanic studies,Juz 3g, No. 2, hlm. ?3 Tenbng perbedaan anhra tindakan yang mul*amdan yang bukan muhkam, lihat 'AM aUabbar,
371.
Al-Mughnili Abwdb at-Tawhidwaal-'Adl, Juz Xl, h|m.372.
74 Epistemologi Kalam Abad pertengahan
Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabb6r

hingga kesahihan pengetahuan diukur melalui korespondensi de-


derawi atau dinalar secara rasional ke dalam kesadaran subjektif
ngan realitas empiris dan koherensi dengan asas-asas logik, meski
setelah kriteria-kriteria yang dianggap sah terpenuhi.
'Abd al-Jabbdr sangat menekankan bahwa pengetahuan adalah
hasil konstruksi akal terhadap fakta empiris tersebu! sebagai- Isilah nafs dalam ungk apan suWn an-nnfs merupakan termi-
mana kecenderungan kritisisme Kant kepada rasionalisme dalam nus tedmians, suatu problematika yang harus dipecahkan sebelum
wacana filsafat BataLTa investigasi lebih lanjut Istilah tersebut sebenarnya telah menjadi
diskusi di kalangan mutakallimtrn, sltfi, dan para filsuf Islam. Naf
2. Unsur Afektivitas (sukfrn an-nafsl Sebagai digunakan untuk menunjuk pada totalitas kesadaran manusia,
Kriteria "Subjektif" yirng mencakup pengertian qalb (hati)m sebagai substratanya de-
Validitas pengetahuan, menurut'Abd al-]abbdr, tidak hanya ngan aktivitas-aktivitas interiornya (af 6l al-qulfrb).n Dalam kon-
diukur melalui kriteria korespondensialnya dengan realitas em- sep tentang manusia, manusia dibentuk dari dua unsur utama,
piris dan rasional secara objektif, hpi juga diukur dengan kriteria yaitu bentuk (shttr ah) dan struktur (buny ah).80 Yang pertama tam-
afektivitas subjektif (sulcfin an-nafs). Dalam perspekstif filsafat pak lebih ditekankan pada aspek fisik, sedangkan yang kedua
ilmu, persoalan "mengetahui bahwa" tidak hanya disyaratkan bah- lebih ditekankan pada aspek psikis. Dalam literatur-literatur
wa pemyataan adalah benar, tetapi juga harus diyakini bahwa Islam klasik, berdasarkan keterangan al-ijt dalam at-Mnwdqif,
statemen ifu benar.7s istilah nafs mengacu pada aspek penyempurna terhadap aspek
fisik dan bersifat instrumental sebagai kemampuan menalar hal-
Kata sulctLn secara etimologis berarti lawan dari gerak. Kata
hal yang universal atau menarik kesimpulan rasional.sl Atas da-
sul6n dalam ungkapansuldn an-nnfsz6 digunakan secara metafor sar ini, istilahnaTt tentu lebih ditekankanpada aspekkedua, yang
(nuj 6z\ sebagai perbedaan atau keistimewaan yang didami dalam
sering disebutrya sebagai struktur hati (binyat al-qalb)82 yang me-
kesadaran kognitif atau keyakinan subjek tentang suatu o[ek se-
Elah proses memperoleh pengetahuan. Perubahan dalam kesadar- n Abd alJabber, A l-Mughni fi Abwdb at-Tawfiid wa al-'Adl Juz Xll, hlm. 22.

an kognitif tersebut dalam contoh'Abd al-Jabbdr adalah seperti 7e (Pseudo) 'Abd


alJabbdr, Syafi al-Ushll al-Khansah, hlm. 90. 'Abd alJabMr nembagi sepuluh
petuabn yarg berada dahm bahs kemampuan manusia(al-maqdflrillkcpada dua:('l) perbuabr
perubahan kesadaran kognitif dari keyakinan tentang keberada-
perhiatan arpgota fubuh, yaitu a/okwdn, kecenderungan untukgen( mengarang, suan, dan rasa
anZayddi rumah atas dasar beritake keyakinan tentanghalyang sakil dan (2) pe$uatan{erbuatan hati, yaifu keyakinan, keinginan, nsatidaksenang, keraguan
sama atas dasar penglihatan langsun g(musyahkdal).2 Dengan de- (zhann), dan nrenalar. Yang dinnksud dengan alalflen adalah bertumpuldan berpisah serb gerak
dan diam. Lihat Syafr al-U shal al-Kh amsah, hlm. 1 1'1.
mikian, sulcfin an-nnfs merupakan interiorisasi-meminjam ter- e /bd., Juz Xl, hlm. 363. 'AM alJabbir juga renyatakan bahwa meski manusitediri dari fuik dan roh
minologi psikologi-seluruh apa yang dicerap subjek secara in- (hlm. 335), esensi manusia adalah apa yang disebuhya sebagai'roh yang hk bersfuKur'(ar*?tr
al-basfrhaD), bukan temusun dari beberapa unsur [mural<kab] (hlm. 349).
7' /bld, Juz Xll, hlm. 58. rr Teksnya: hiya kamdl avwal li jbm hably 6liy min haitsu ya'qil algulliyytt wa yastanbith bi ar+al.
E LhatJolrn Hcpers,AnlrffiudkntoHtlbvphkatAnalysis, (London:Roudedge, 1996), hlm.20-21. Lihat, Adhud ad-Dinalifi, at-Mawdqif fi lln al-Kal6n,(Beirut 'Ahm al-Kutub, t.h.), hlm. 22$-230.
76 (Pseudo)AbdaLJabtEr,Sya[al-lJshllilKhannh,hlm.46-.4S.lstilahlainyangdigunakandengan Jika di kalangan filsuf lslam, akal dianggap sebagai organon atau instrumen berpikir, sebagairnna

pengertian yang sama adalah tsa/ ash shadr, insyirdh al-fiadr, dan huna'ninaf alqah. peten dalam dipahami filsuf Yunani, pada'Abd alJabblr konsep akal sangat pmblematis dan tidak dipahami
sebagai instumen berpikir. Aktivitas berpikir diungkapkan istilah umum nafs sebagai sesuatu yang
bukunya, God Oeated Speech, hlm. 49, menerjemahkannya dengan tranquility of soul(ketenarEan
jiwa)dandenganpengertianyangsamaMarieBemand mengandung dircnsi berpikir. Qalb dalam nalb sebagai alat untuk berpikir dan pusat kesadaran
dalamLaNotion...,hlm.24"menerjemah-
kannya dengan tranquillitl de l'6me.
dalam konsep Abd alJabbir mungkin sama dengan apa yang disebut lbn Sina, filsufsezamannya,
dengan quwd an-nah an-nethiqah (daya jiwa yang digunakan untuk berpikk). Lihat Jamfl Shalibd,
n (Pseudo) Abd alJabbdr, Syafial-Ushil al-Khamsah, hlm. 4647; At-Mughni fi Abw6b at-Tawfiid filfikh al-Falsafat al-'Arabiyyah,CeL ll, (Beirut Dar aLKutub al-Lubnani, 1973), hlm. 250.
wa al-'Adl, Juz Xll, hlm. 20-21.
u (Pseudo) Abd alJabbdr, Syad a/-Ushil al-Khamnh, hlm. 220.
76 Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabbdr 77
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan

nekankan dimerui akal manusia, meski beroperasi dalam totalitas naf e semisal kejelasan ketika seseorang melihat air, api, atau
kesadaran jiwa. bumi dengan penyikaparurya. Hal ini berjalan pada satu prin-
sip metodologi yang sama ('aI6 thariqah whfuidah), yang men-
Kriteria sukfin an-nafsyang dinilai sebagai kriteria yang ter- dasari verifikasi setelah itu. Proses inilah yang membedakan
lalu subjektif ini menimbulkan debat dan kritik s3 baik dari pe- antara ilnu dengan asumsi (zhann) atau kesimpulan a pioi
nentang Mu'tazilah maupun dari kalangan Mu'tazilah sendiri. (tabkhtt).8s
Isu-isu yang dimunculkan pada dasarnya sebagai berikut:
b. Stagnasi kegiatan keilmuan. Karena tolak-ukur yang bersifat
a. Unsur fundamental yang membedakan antara "ilmu" dan non- subjektif, sulcfrn an-nafs dikritik- demikian pengandaian'Abd
ilmu. Menurut Ab'0 'Utsman d-Jahizh, penentang penting 'Abd
al-Jabbdr- sebagai penyebab stagnasi bagi kegiatan keilmuan
al-Jabbdr dari tokoh Mu'tazilah sendiri, sulcfrnan-nafs menye-
(f'l al-ma'ifah). 'Abd al-JabbAr tidak menafikan kemungkinan
babkan kabumya batas antara pengetahuan dengan ketidak-
hal itu jika didasarkan adanya sesuatu yang tidak jelas atau
tahuan Qaht), sepern ketika melihat air pada fatamorgana. AbO
adanya motivasi-motivasi lain (ad-daw6' i).86
'Ali, gurunya, yang menekankan asas "non-kontradik-si" (nafy
aftaniqudh) dalam pengetahuan, juga mengajukan kritik yang c. Kritik yang sangat mendasar yang diajukan terhadap kriteria
sarna, meski memiliki segi-segi pandangan yang sama dengan ini adalah karena bertolak dari tolak-ukur su$ekfrf (ar-rujf iI6
'Abd al-Jabbdr. Menurufrtya, sukfrn an-rufs-unhrk memban- an-nafs), sukfin an-nafs berbenturan dengan "asas non-kontra-
tah kritik tersebut-merupakan keadaan terakhir yang telah dilgi", baik pada tingkat kesimpulan, sebagaimana ditegas-
dikondisikan oleh conditio sine qua non yangsahih: (1) subjek kan AbO'Ali, maupun pada tingkat metodologi, sebagaimana
yang melakukan persepsi inderawi maupun rasional (ldrdk) me- dikemukakan AbO Hasyim. Argumen yang dikemukakan oleh
miliki perangkat keilmuan sebagat ftame berpikimya ('dqil); 'Abd al-|abb6r untuk membantah kritik ini pada dasamya ada-
(2) ada beberapa'illah (sebab, cazse) yang menghubungkan an- lah sebagai berikut. Pertama, "asas nonkontradiksi" ilmu, me-
tara fenomena yang diamati, dan (3) tidak ada ketidakjelasan nurutnya, kadang-kadang merupakan sesuatu yang bisa di-
dalam proses tersebut Proses perpindahan dari pengamatan perdebatkan dan bisa dibantah.sT Kedua, berdasarkan rasio-
tersebut ke kesadaran su$ektif itu, menurutnya, adalah se- nalisasi itu, kembali ke kesadaran subjektif (ar-rujft' il6 an-nnfs),
suatu yang jelas dan dapat dipercaya serta aspek-a spk (wujtfih) membantahnya dengan tega s lgafonsy al-qawl' alayh), serta me-
yang menjadi kondisi terwujudnya pengetahuan harus rasio-
s 'AM alJabMr, Al-Mughni fr Abwdb at-Tutfrid wa al-'Adl Juz Xll, hlm. 34.
6
s MenurutG.Vaiia,"LaConnaissancedrezSaadia',dalamRevuedesEfudesJurves,No.126(1967),
lbd., hlm.36.

hlm. 135, dari kalangan filsuf, konsep alfiribi tentang pengetahuan yang valid dapat merupakan
r lbrd, hlm. 37.
kritik terhadap kriteria yang dikemukakan oleh 'Abd alJabbdr Hourani secana keliru memahami 87 Asas 'non*ontadilsf unfuk rn4ukur kebenaran ilmu lidak ditolak sepenuhnya, sebagai konsekuensi
sukdn an+ab sebagai "the deliberate and rational process whidl his mind goes through, contras- logb dari kritiknya teriadap sofsme. Lihat'Abd alJabbtr, Al-Mughni fi Abwdb at-Tawfijd wa al-'Adl,
ted with the unreflective process of he others". Lihat Lawrence V. Berman, "lslamic Rationalism: Juz XV ed. Mahm0d al-Khudayf dan Mahm0d Muhammad Qdsim, hlm. 109-110. Asas'non-
the Ehics of 'Abd alJabbdn Book Reviev/, dalam Stanford J. Shaw (ed ), Intemational Joumal ot konbadilsi'atau hukum penyangkalan sebenamya dikemukakan oleh Aristoteles sebagai prinsip
Middle EastSfudbs, Vol. Vll, (1976), hlm.59--87; George F. Hourani, lslamicRationalism, hlm. 18; obieKivitas, di samping hukum Uentika (semua yang benar harus sesuaidengan realihs objehifnya)
Machasin,'Epistennlogi...', hlm. 45; J.R,T.M. Peters, Godb Oeafed Speeci, hlm. 50. Hourani, dan hukum penyingkinn yang ketiga (bahwa anbra dua pemyataan yang berbnhngan tidak mungkin
dengan begitu, tidak sepenuhnya keliru, karena sukdn an-nafs (lihat penjelasan berikut) bukanlah ada pemyahan ketiga). Lihat lvtohammadHafra, Alam Pikiran Yunani,(Jalanf:Univeaitas lndonesia
kesadaran subjektif semata yang terlepas dari inteleksi. Tetapi kekeliruannya terletak pada [Ul]Press dan Tintamas, 1986), hlm. 124. Lihatluga Kritik kalargan nutakalfinAn brhadap prinsip
pengetahuan dalam konsep 'Abd alJabb6r yang tidak selalu benifat diskursif yang meniscaya- prinsip Arbtoteles dalam'Ali Simi an-Nasysydr, Manehij al-Babts,n lm. 143-155.
kan nalar.
Epislemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'AM al-Jabb6r

ngemukakan argumen-argumen penopang adalah suatu ke- nya, mencatat dalam sejarah tentang Pergeseran makna objek-
niscayaan.s tivitas dan subjektivitas. Selama beberapa abad sebelum Kant-
Konsep'Abd al-Jabbdr tentang ketenangan jiwa (sukfin an- dalam tulisan-tulisan kalangan Skolastik, Descartes, Spinoza,
rufs) dan prinsip "kembali ke kesadaran subjekti(' (ar-rujf iI6. Berkeley, dan lainnya-blah brjadivariasi ma-[ma: objektivitas di-
an-nafs) mendasari pandangannya tentang psikologi "keilmuan". reprensentasikan sebagai ide, representasi mental, atau isi suafu
Ketenangan jiwa merupakan kondisi final yang dialami subjek kesadaran. Descartes, khususnya, memaknai "subjektif" sebagai
yang melihat terpenuhinya kondisi-kondisi objektifnya. Kete- "realitas yang disebutolehpara filsuf sebagai aktual atau formal".
nangan jiwa hanya terjadi jika keyakinan ({tiqAQ terbentuk oleh Franz Brentano justru menafsirkan objektivitas (C*genstandlich'
syarat-syarat diperolehnya pengetahuan secara sahih.se Oleh ka- keit) sebagai sifat intrinsik dari sikap mental yang menekankan
rena itu, kebnangan jiwa mesti bertolak dari kondisi objektif yang sisi intensionalitasnya, yang mengilhami Husserl dan Alexius
rasional (ma'qfrl\. Keyakinan yang muncul dari proses nalar, mi- Meinong. Meski demikiary dalam ta!41an objektivitas-subjek-
salrya, meniscayakan ketenangan jiwa. Menurut'Abd al-JabbAr, tivitas epistemologis - tidak dalam tataran ontologis - tidak ada
ketenangan jiwa merupakan kondisi kognitif yang berbeda yang pemisahan yang ketat antara subjek dan objek. Konsep'Abd al-
dialami oleh subjek tentang keberadaan seseor.rng, misalnya, de- Jabbdr tentang ini juga harus dipahami dari sini.
ngan melihanrya (musyhhadah) sendfui.. Perubahan dalam kesa- "subjektivitas" kriteria ini-jika harus diberi label demi-
daran kognitif yang tidak dialami sebelumnya tersebut berbeda kian- tidak merupakan subjektivitas radikal, tidak hanya karena
dengan kesadaran serupa tentang hal yang sama yang diperoleh penolakinnya atas skeptisisme (as-Sttfsth6'iyyah) y*tg menjadi
hanya melalui berita. Dengan demikiary ketenangan jiwa terwu- afiliasinya, tetapi juga karena alasan berikut
jud jika ada kesesuaian, yang menjadi tolak-ukur objektif penge-
tahuan, antara keyakinan dengan realitas objektifnya.{ Secara Pertama, sukfin an-nnfs meski berpusat sebagai pertimbangan
psikologis, konsep sulcfin an-nafs merupakan proses penyerapan, akhir ('Abd al-Jabbdr menggunakan istilah fuuhn, bukan itsbdt
apropriasi, atau interiorisasi ke dalam kesadaran subjektif fakta- ataa tatsfit [penetapan]) pada kesadaran individu (al:ilim),e2 te-
fakta objektif di luamya, sehingga konsep tersebuttidak lagi me- tapi bertolak dari apa yang telah diketahui melalui "pembacaan"
rupakan tolak-ukur subjektif mumi. terhadap realias yang diketahui (al-ma'lfim)e3 dengan kualifikasi
yang dapat dipercaya dan sahih, menurubrya, sebagaimana di-
Dari pendefinisiartsukftn an-nafs dan kritik serta sanggahan- jelaskan: dalam kondisi tertentu (fo,61), ada hubungan kausal
nya yang telah dikemukakan di atas, pelabelan kriteria ini se- ('illah) antara fakta-fakta, tidak ada kesamaran, denganwajhyang
bagai "subjektivitas" tampak sangatproblematis, brutama jika di-
ma'qfr| dan sebagainya. Oleh karena ifu, "objektivitas" subjekti-
hubungkan dengan kontras subjektivitas-objektivitas dalam wa- vitas kriteria inisecara ringkas dijelaskan dengan hubungankau-
cana filsafat ilmu yang berkembang di Baral David Bell,er misal- sal ma'n6-suldn an-nafs-'ihn. Meskipun meruPakan bagian dari
keyakinan subjektif, mt'n6 baru diperoleh dari interaksi subjek
B /bd., JuzXll, hlm.38-39.
@ Machasin, "Epistemologi...', hlm. 44. e 'Abd alJabbar, Al-Mughni fi Abwdb at-Tawfiid wa al-'Adl, Juz Xll, hlm. 20.
$ lbrd., hlm,45.
s lbid., hlm. 30. Peters, God's Created Speecfi, hlm. 50, karena lerlalu menekankan pengetahuan
ei dalam konsep'Abd alJabbirsebagai pengalaman dalam (innerexperbne) manusia, secara keliru
DavirJ Bell, 'Objeclive/subjective', dalam Jona$an Dancl dan Emest Sosa (eds.), A C.ampanbn to
rnenganggap sukOn an+afs merupakan kriteria subjektif yang tidak memiliki hubungan langsung
Epistenology, hln, 312.
dengan apa yang dikehhui('rim, naldm).
80 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabbir B1

(baca: ide) dengan realitas yang diketahui sehingga sampai pada tilah, semisal reason danintellect di abad ke-18 dan sesudahnya,
tingkat memuaskan, atau sampai pada tingkat "alasan cukup" baik di Barat maupun di dunia Islam. Meskipun demikian, inte-
(raison suffsante) dalam istilah l€ibniz. lektual Barat dan Timur serta Para heresiografer sepakat bahwa
'aqlmenempati posisi sentral dalam epistemologi Mu'tazilah, baik
Kedun, berdasarkan keterkaitan ide dan realitas brsebu! pan- cabang Bashrah maupun Baghdad.
dangan'Abd al-Jabbdr ini akan diidentifikasi dengan dua arus
utama pandangan tentang subjektivitas dalam episbmologis, yaitu 'Abd al-|abbAr sebagai tokoh Mu'tazilah Basfuah, karena ber-
realisme episbmologis dan idealisme epistemologis. Realisme epis- tolak dari diskusi tentang takltf, mendefinisikan 'aql sebagai se-
temologis berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya perangkat ilmu tertentu sebagai kriteria kesempurnaan intelek-
dengan apayanglain dari saya. Sedangkan idealisme epistemo- tual.eT Pendefinisian tersebut agaknya merupakan representasi
logis berpendapatbahwa setiap tindakan mengetahui berakhir da- pandangan Ab0'All yang mendefinisikan 'aql dengan Penge-
lam suatu ide, yangmerupakan suatu peristiwa subjektif murni.e4 tahuan.s Atas dasar ini, Bemand berkesimpulanbahwa konsepsi
Meski menegaskan dengansulfin an-nafs tentang kesadaran seba- 'aql sebagai sesuatu yang diketahui merupakan karakter epis-
gai penghubung antara saya dan yang di luar saya,'Abd al-JabbAr temologi Mu'tazilah secara umum, suafu hal yang bertentangan
menolak apa yang ada di luar saya sebagai realitas final karena dengan konsep akal menurut filsuf yang dipandang sebagai
tidak sahihnya bertolak dari realitas empiris an sich (i'tim6d'al6 instrumen (organon'),e meski tidak sepenuhnya benar.
mujarrad al<oujfrd\.os Sebaliknya, meski bertolak dari pandangan 'Abd al-Jabbdr dengan tegas menolak konsep 'aql sebagai
tentang ilmu sebagai genus keyakinan dan berakhir pada suldn instrumen, substansi (jawhar), alat indera, atau kemampuan, ke-
an+wfs, dengan kriteria korespondensial ('al6 md huwa bih) pan- cuali atas dasar perluasan makna atau perumPamaan (tasybilt),
dangan'Abd al-fabbdr berbeda dengan idealisme. karena hal itu, menurutnya, berimplikasi pada terjadinya perubah-
an (bertambah-berkurang) pada' aql.roo Fondasi teologis yang men-
C. Sumber-sumber Pengetahuan dasari konsep ini adalah keyakinannya tentang kesamaan manu-
sia dalam kapasitas akal untuk memperoleh pengebhuan dharAi.lol
1. Konsep'Aql Dengan demikian, 'aqlidakmengandung kemampuan atau ka-
Islamisis di abad ke-20, pasitas mental sebagaimana kata "rasio" dimaknai.
tegas A. Kevin Reinhart% dalam
Before Rmelation, dengan mengutip W.C. Smith, sering keliru Di abad ke-1"9 kata "rasio", seperti dalam formulasi Adam
dalam memahami konsep 'aql di kalangan Mu'tazilah. Kesalah- Ferguson, misalnya, diartikan sebagai" . ..powers of discemment
pahaman tersebut juga disebabkan oleh kuatrya simbolisme is- or his intellectual faculties which under the appellation of
s Kenneh T. Gallagher, IhePhilosophyof ktowledge,sadunn P. Hardono Hadi, hlm.35.
$ (Pseudo) 'AM alJabMr, Syad allJshAt aLKhamsah,hlm, 205. ot 'Abd alJabMr, Al-Mughnl fr Abwdb at-Taftld wa al-'Adl, Juz Xl, hlm' 375.
s A. Kevin Reinha( Before Revelation: The fuudaies of Muslin MoratThoughf, (New yorlc State s Al-Asy'ari, Mqe.H *ldaniwfn va lkhtibf d-Mudrallin, cet ll, (cairo: Maktabat an-Naldhat al-
univenity of New York Press, 1995), hlm. '151. Di kalangan heresiografer Asy'ariyyah informasi MMdyyah, 1969/1389), hlm. 481481.
mengenai konsep Mu'tazilah tenhng 'ag, luga masih kurang. Di kalang an mutakallinan, al\aig s A. Kevin Reinharl.Beforc Re,relation, hlm. '151.
ibn Asad al-Mulisibi tampaknya merupakan omng pertama yang secara mendalam membahas fo'Abd dJabMr, At-ttlughni fr Abutffi at-lafrfd wa al-'Adl Juz Xl, hlm. 378-380.
tentang hakikat'agL Lihat karyanya, fiisilah fi Mi'iyyat al-'Aql', dalam Husayn aLQ0ff, (ed ) /C,-
rot ,bit; hlm.380.
'Aql wa Fahn Al-Qur'6n, Cel. l, (Beirut Ddr al-Fikr, 1971/1391).
r
82 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabbir

reason...refer to the objects around him either as they are subjects dibgaskan 'Abd al-Jabbdr, merupakan pobrsi manusia untuk mem-
of mere knowledge or as they are subjects of approbation or cen- peroleh pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang kewajiban
sure.//102 'Aqlmentpakanbasis bagi segala sesuatu yang diketahui. moralitas (at-tahsin wa at-taqbffu al:aqlt sebagai at-takltf al:aql\'to'
Akan tetapi, meskipun pengetahuan tersebut merupakan hasil Fakhry menyebut jenis intelek seperti itu dengan phronesis (ke-
dari kesempurnaan dan hasil interaksi terhadap dunia eksternal, bijaksanaan atau pemaharnan) Aristoteles yang berkaitan dengan
'aql tenfit tidak bisa dikatakan datang dari luar. Karena penekan- potensi manusia mengetahui kebaikanmoral, yang dalam konsep
an pada keyakinan teologis tentang kesamaan manusia dalam al-FArAbi disebut ta'aqqul.lM Kedua, intelek aktual (al:aql bi al-f'l)
kemampuan, 'aql merupakan potensi yang diciptakan Tuhan da- yang oleh al-FdrAbi sendiri disebut sebagai tingkat intelek yang
lam diri manusia. Dengan demikian, 'aqlbukanmerupakan upaya digunakan oleh para teolog dialektikus skolastik (tnutakallimfin)'
referensial kepada sesuatu yang sudah diketahui sepenuhnya, yang tekanannya pada fungsi proskriptif (penolakan) dan pre-
rnelainkan respon terhadap kondisi atau fenomena di sekeliling- skriptif (penentuan), yang sering diungkapkan dengan parafrase
nya. Oleh karena itu, 'aql bersifat perseptual, baik terhadaP se- in qdla q6'il(un\..., qilalahu, suatu model intelek kualitas afirmasi
suatu yang sesuai dengan compos mentis dan pengetahuan lang- positif dan dismissif (penolakan).10s Dua tingkatan intelek dalam
sung (dharfirQ maupun yang mennerlukan refleksi dan nalar koruep al-FdrAbi tersebut memiliki pengertian yang s:rma dengan
' aql dalampandangan'Abd al-jabbdr, yaitu sebagai potensi yang
{iktishbl. 'Aql sendiri yang merupakan seiumlah pengetahuan ber-
ada dalam lingkup yang terbatas. Tidak semua pengetahuan dimiliki oleh semua manusia karena fitrahnya dan intelek dalam
dapat diketahui'aql.Harrya sejumlah kecil yang diketahui oleh terapan para teolog yang masih secara kuat mengikatkan diri da-
manusia karena keutamaannya sebagai rnaktrluk yang berpikir- lam nalar bks. Pada tingkahn berikubrya (tiga sampai enam) dalart
konsep intelek al-Firdbi, nalar yang dilakukan oleh'aql adalair
Dengan uraian di atas, kita menarik dua garis kuat yang
nalar spekulatif-filosofis.'Abd al-Jabbdr tidak sampai pada kon-
ingin dihubungkan'Abd al-Jabblr. Pertama sebagaimana dike-
sep' aql srclrr,gai potensi nalar spekulatif-filosofis, karena keterkaitan
mukakan, dalam konteks takltf d.an kesempumaan akal (kamhl
kuatrya dengan teks-teks keagamaan"
al-'aql) tampak penekanannya bahwa manusia memilii<i potensi
yang sama. Kedua, 'Abd al-JabbAr masih berada dalam wilayah Atas dasar pemahaman'Abd al-fabbir tentang'aql sebagai
al:aql al-bay6nt. potensi yang dimiliki sernua rnanusia secara universal, FakJrry
mengidentikkannya dengan common sense. Reinhart rnenyebut
Atas dasar ini, dapat diidentifikasi adanya paralefitas konsep
'aql dalam konsep Mu'tazilah Bashrah ini sebagai common sense
' aql' Adal-]abbar dengan kons ep' aql dalam penjelasan al-Fdrdbi
dengan pengertian istilahyang kita maknai sehari-hari (nalar se-
(870-950), yang hidup sebelum masa'Abd al-JabbAr, dalam
hat) dan dalam pengertian common notion yang digunakan oleh
Fjsdlahf al:Aql. Dalam teori inteleksi, proses memperoleh pe-
ngetahuan dua tingkat pertama intelek di antara enarn intelek
Lihat, misalnya, 'AM alJabbir, tr l-Mughni fi Abw1b at-Tawfid wa al-'Adl, Juz Xl, hlm. 371 dst , "Fasl
dalam hierarki al-FdrAbi mendapatkan penekanan yang sama. '03
fi llajat al-Mukallaf ild al-'Aqlwa al-'llm li Yahsun Taklifuh". Bahasan lebih lanjut akan dikemukakan
Pertatna, intelek potens ial (al: aql bi al-qutuwah), sebagaimana juga pada bab lV.
ln lbrdhim Madk0r, AbO Nashr al-Fdr6bi fi az-ZikT aLAlfiWah li WafAfih 940 M, (Cairo: al-Hay'at al-
Mishriyyat aL'Ammah li al-Kitdb, 1983/1403), hlm. 201 .
1@
LihatG.J. Wamock,'Reason', dalam Paul Edwards (ed.),TheEncyclopedia ofPhilosophy Vol. Vll'
!6 lan Ridrard Nellon, Al-Farabiand His School, (New Yorkdan London, Routledge, 1992), hlm.4S-
(Nw York Macrnillan Publishing Co., lnc. & The Free Press dan London: Collier Macmillan Pub-
lisher, 1972), hlm. 83--85. 54.
T
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epislemologi'Abd al-JabbAr 85

Stoa dengan ungkapan koinai ennoiai. Ada pengetahuan-penge- itu, perbedaan tersebut lebih bersifat redaksional, bukan sub-
tahuan yang dapat diketahui oleh manusia normal secara umum stansial., meski pemaknaan 'aql sebagai seprangkat ilmu meniadi
dan oleh manusia matang (tidak sakit pikirary di bawah umur, perbedaan yang jelas dibandingkan konsep filsuf. Begitu jrgu p"-
dan sebagai^yu).tou Sejarah perkembangan pengerttan'aql di ka- nyebutan 'aql sebagai "alat indera" (al-fofissah) berkonotasi, me-
langan masyarakat Arab pra-Islam, rnenurut Toshihiko lzutsu, nurutnya, sangat fisikal, kecuali dengan pengertian di atas. Ia
juga masih rnengandung pengertian itu.107 mengungkapkan:
Dengan uraian di atas dapat dikonstruks pengertian'aql r-1.-i. i,q.;p oA iF k ,r"r.A! r,) rU. i la dL# d Jlr {.J- {4 :{'rlI ,/ ,.lr,l. tli
dalam pengertian sebagai berikuh per tama,' aql y angdimaksud, rl trLi d+-1J dr1l, && di dllll U C e--J clli5.6'r!11 dFI i,t$
sebagaimana tampak dari definisi yang dikemukakannya, adalah .fi el.;rll* ddr ,-r"r!t t1; al.)$;I uF lFLi"fu,,/-p$l
d t *r.:i 1.J. {,{i cllii . r. 3r iJ&}11 Jii[
1o .liltr ; tt rl, .-l-J
dengan sejumlah ilmu tertentu. Pengerfian ini ditegaskannya sen- ":..1
din. Kedua, rneski demikian,'Abd al-labbAr juga tidak menolak Keilua, ilmu-ilmu yang disebut dengan istilah 'aql ltd,ak
pengertian'aql sebagai sumber pengetahuan. Ambiguitas yang tam- diberikan batasan secara kuantitas, tetapi karakteristiknya. Dua
pak, sebagaimana dinyatakan Nashr F{Amid AbA Zayd,l$ adalah hal yang ingin dikondisikan'Abd al-Jabbdr, dari perspektif teo-
(1) antara' aql sebagai ilmu-ilmu (produk) dart' aql sebagai instru- logis sebagai alasan yang cukup untuk pembebanan (takltfl ka-
rnen berpikir rnanusia (proses), (2) 'aql dalam konsep 'Abd al- rena kesempumaan akal (kamdl al:aql) dan dari perspektif epis-
Iabbdr oleh AbO Zayd diartikan iebih sebagai pengetahuan-pe- temologis sebagaiframe-work. Dari perspektif terakhir ini, terjadi
ngetahuan dharfirt yarrs, menurut'Abd ai-Jabbdr, harus diguna- interkoneksi antarilmu sehingga sebagian ilmu bisa dijelaskan
kan unfuk memaharni masalah-masalah yang sebenarnya me- dengan iimu yang lain dalam suatu kesatuan kerja metodologi,
merlukan nalar diskursif, seperti kebaikan rnoralitas dan kewa- seperti interkoneksi ilmu cabang (fa/\ dengarrilmu induk (ashl),
Siban taklff. Ambiguitas yang tampak tersebut dapat dijelaskan atau antara konkret (al-jalty) dengan yang abstrak (al -HMfy).' AM
sebagai berikut al-Jabbdr menjelaskannya sebagai berikut
Fertama, 'Abd al-Jabbdr menolak penyebutan 'aql sebagai .:E l+ cl+Ir r-&I e[.,ist {rl "{ &-ri J: l4r,r-ii f
.rJ clL.[. lJ'jj dl dtr ei &l!lj
"insttrrmen" (6lah) t:erpiktr, karena is|j/iah Abh dari segi bahasa ber- tr g.ra1 rijal & !jl, L .,. -<t J ta- C*, t frLi (J. A^! d^J ul .Jl + }.,&ill (J.
konotasi sebagai sesuatu yang fuikat. Ia sama sekali tidak meno- r.;|t r'\tr ,ri r1.,,,+r f -Frr rrLJ .{l U OA ur .rrLJ .:r r- fL; L1 , Ll t^i
y d. qle .+1
y'r stj -!.AX l-&I C.+.#.1rr-rl ri \ti &)L! C.,l t+ ,Urt ui i r. ''r oti lru
lak jika istilah tersebut dianggap sebagai perluasan makna vang
I s3. d f-l O-rSu .F+.* \riJi. i tr.:^.f j qi., .terl-, d.J & Cl'r.--l d^I cJ^j
digunakan dengan pengertian sebagai sesuatu yang memung- lt
LtJdSel .Jr,st*I ,*e.;r!1511,rqt.,11, rir!.,1 t,,,.rL-)te. I! eyldr^e.-,
kinkan manusia memperoleh pengetahuan, sebagai "instnmen". ,r, .F FLI d J!-, Yl C!.r rt 1rl+J pLi,.l.'l k .J-l et rt uy tui'l ur +t'
Di kalangan filsuf, konsep reason atau intellecf sebenarnya juga
tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang fisikal.lD Oleh karena 'Aql, menurut'Abd al-fabbdr, dapat mengetahui objek-objek
yang sederhana maupun objekyang meniscayakan nalar yang lebih
rs.A. Kevin Reinharl, Before Revelalion,
hlm. 152-153.
kompleks. Pengetahuan tentang objek-objek yang kompleks di-
r07
l-ihat l€bih lanjut dalam Toshihiko lzubu, God and Man in the Koran, {New Hampshire: Ayer Com- barrgn'aql melalui pendasaran pada objek-objek yang sederhana
pany Publishers, lnc., 1987), hlm. 65--67,211, 214,rJan231.
fs NashrHdmid AblZayd, Al-lttijih a/-,Aqli, hlm.65.
rro
/bid, h|m.378.
1@ 'Abd alJabbdr, Al-Mughni
1" lbrd., hlm.379-380.
fi Abwdb atTawf;id wa al-'Adl, JtrzXl, htrn. 379.
B6 Epislemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabbdr 87

yang "aksiomatik". 'Aql semula mengetahui segala sesuafu me- Dalam hierarki argumen-argumen keagamaan,'Abd al-JabbAr
lalui fenomena fisikal, semisal ketidakmungkinan bertemunya pa- merrernpatkan ar gaman' aql pada tingkatan pertama sebelum wahyu.
radoks antara qadtm (abadi) dartmufoCats (baru), wujud dan bukan Dalam Syarfo se,nda}c.rya, ada dua alasan yang mendasarinya, yaitu
wujud, ketidakmungkinan berada pada dua tempat pada waktu bahwa Al-Qu1an sendiri, menurutnya, bukan merupakan argu-
yang sama, sifat keterpisahan atau keterkumpulan (persamaan men bagi dirinya (xlf-nident), kecuali jika dijelaskan rasionali-
dan perbedaan). Hal itu, tegasnya, merupakan sesuatu yang kon- tasnya melalui'aql.t" Hal ini berarti bahwa 'aql sebagai sumber
stan bahwa' aql dapat selalu mengetahui suatu objek disrtan (maw pengetahuan menjadi sangat penting dalam epistemologi'Abd
shfifl dengan suatu sifat atau tidak;112 suatu substansi dipahami al-Jabbdr dan Mu' tazilah umunmya. Sumber-sumber lain penge-
melalui aksiden-aksiden yang melekat padanya yang dapat di- tahuan baru menjadi sumber jika dikonstruksi oleh ' aql manusia.
kebhan'aqL Pengetahuan tentang fenomena fisikal sederhana ter- Dari uraian di atas, jelaslah bahwa konsep 'aql sebagai pe-
sebut, misalnya, menjadi fondasibagi pengetahuan dalam kesim- ngetahuan, atau pengetahuan-pengetahu an dharftrt, sebagaimana
pulan bahwa jism (realitas fisik yang tak "hidup" dalam penger- dinyatakan Abo. Zayd, harus dipahami sebagai titik-tolak bagi
ttan kal6m) dan aksiden-aksiden (a'rdd) adalah baru (mufudats). investigasi untuk memperoleh pengetahuan lain sehingga pada
Suatu premis yang dibangun tersebut menjadi basis bagi argu- dasamya konse p' aql *bagu " produk" (pengetahu an dharfiri) dart
men diskursif dan mendalam untuk membantahpandangan anthro- "instrumen" atau "proses" keduanya bisa dijelaskan. Dalam kon-
pomorfisme (muj assimah). Begptu juga' aql dapat mengetahui ke- teks pertama, Louis Gardet dan G. C. Anawatills menerjemahkan
adaan makhluk "hidup" sebagai pengetahuan sederhana ke pe- 'aql dalam kulfur Arab secara umum sebagai pengetahuan-penge-
ngetahuan yang lebih kompleks tentang keterkaitan manusia de- tahuan rasional pasti atau "prinsipprinsip awal" (les pincipes
ngan tindakan dan sifat-sifat khusus yang dimilikinya.rl3 Bahkan,
'aql merupakan sumber pengetahuan tentang persoalan teologi
at Peftama,'AbdalJabMrbertolakdaridistingsiyangdibuatryaantarayang'pokoK(aslr/)danyang
spekrrlatiFla dan kewajiban moral sebelum datangnya wahyu(qabl 'cabang" (far). Penqehhuan tentang Allah dengan argumen nsional, tegasnya, merupakan pokok,
zanrfid asy-sya/).11s 'AqI, misalnya, dapat mengkonstruksi suafu sehingga argumen akal menempati posisi awal. Oleh karena itu, menempalkan Al-Qu/an dalam

tindakan moral dalam pernyataan sintetis (moral assessment) atas pisi awal--yang tanpa penjelasan rasionalitasnya--+dalah benrgurnen dengan yang "cabang'
untuk menjelaskan yang 'pokok', suafu hal yang keliru. Kedua, Al-Qur'an statusnya sebagai hujjah
dasar kelayakan pujian atau celaan (istifuqdq al-maddhistifuqdq adz- jika dapatdipastikan atau dijehskan secara nasionalsebagaika/6mAlhh yang lvlahaadildan Bijaksana,

dzamm), suatu hal yang, menurut Reinhart, dapat mengantarkan tidak berdusta, dan tidak mungkin berdusta. Pengetahuan tentang ini merupakan cabang dari pe-
ngehhuan tenbng keesaan <lan keadilan(allawhidwa a/- adl)Allah. Lihal [Pseudo] Abd alJabbdr,
kita pada kesimpulan tentang epsitemologi moral Mu'tazilah se- Syafi al-U shi I al-Kiamsah, hlm. 88.
bagai "fenomsnnl".116 ilt 'Le'aglen tout cas se prendra en kalam comme l'ensemble des mnnaissances ntionelles ndrces-
saire €videntes de soi, disons, si I'on veut les principes premiens". Gardet dan Anawatj mencatat
bahwa btilah 'agF-yang berkaitan dergan pelbagaialiran pemikiran tentarp hakikat manusia-yang
/brd., h|m.383. bertembang dalam kaliim bukanlah istilah AlQufAn. Alinn emanasionisme di kalangan Sylah dan
'r2
113 pemikinn-pemikiran lain yang berkecenderungan ke arah itu berupaya menyatukan makna 'agl
lfid.
galb (hali), dan mh dalam suatu konsep utuh tentang penggambaran manusia sebagai wujud yang
rla lgnazGoldziher,lntrodudbntolslanicTheologyand[aw,terj.Andras&RuthHamori,(Newjersey:
hllup. Al€azAli (w. 1111 M) yarg "Sunni', tegas mereka, mempunyai andildalam halini. Lihat Louis
Princeton University Press, 1981), hlm. 95 dan 103. la mengungkapkon: 'We can not deny the GadetdanG.C. Anawati, lntoduclionalaThdologieMusulmane:EssaideTh6ologieConparie,
Mu'tazilites one saluhry consequence of theirwort: $ey were the ones who brought'aql, reason, to (Sorbonne: Libnire Philosophique J. Vrin, 1981), hlm. 345-364 (lV. La raison), terulama bahasan
bear upon questions of beliefl. 'B. en lslam'(hlm. 347). Gardetdan Anawati agaknya ingin menegaskan bahwa konsep 'aglsebagai
n5 lbrd., hlm. 91. Lihat lebih lanlut George F. Hourani, /slamic Ratbnalr.sm, bab ll. ilmu dhanfuiyang menunjukkan peqeseran dari konsep asionalitas konsep 'aql Al-Qur'an adalah
116
A. Kevin Reinhart" Before Revelailbn, hlm. 153. hasilpeoenfuhan Mu'tazilah dengan Sylah, sebagaimana pada'Abd alJabbArsendiri.
*t

88 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan


Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabbdr 89

rupakan sumber pengetahuan manusia' Hal ini dapat dipahami'


pf emiers)sebagaititik-tolak nalar a tau istidlal,sebagaimana dalam
antara lain, dari penekanannya pada hal-hal berikut
p"rrgut iLr* diskursif' Jika benar konsep 'aql menurrut'Abd-al-
tentu harus dipaha- bntang kesempumaan akal (knm6l
tama, kefik'amembahas
iabba, diterjemahkan dengancommon settse,lle Per

mi dengan pengertian ini. al:aql), 'Abd al-]abbdr menekankan bahwa ilmu' menuruhrya'
narus'aiuar,gun dari pengetahuan tentang realitas fisikal yang di-
,,fondasi ilmv' (ashl li al:ilm).lD Atas dasar- ini,
2" Pengetahuan Dunia Eksternal sebutnya sebagai
Dikalanganmutakatlimftn,sebagaimanadicatatal-Asy'ari pandangan pira pendukung teori hny'fi\! (ashfupb al-hny,ftl6)ta dt-
dalam Maqdlkt al-Islilmiyytn,setidaknya terjadi poiarisasi P"llg* tu.tth kur"t u pendasaran yang mereka pijak adalah sesuatu
yang abstrak dan tidak em pLn;is (gh6'ib ghayr fupdhir)'rzr "
Akcioma/
pat tentang kredibilitas pengetahuan inderawi menjadi tiga belas
pendapat Lrmasuk pendapat an-N azhzhdm, Bisyr al-Mu'tamir' irft pengetahuan harus bertolak dari realitas empiris diperkuat-
tokoh ilrt t'tazilah Aaghdad, al-Iskdfi, AbO al-flusayn ash-Shdlihfi' r,yu d"t gurr kutipan pandangan AbO Hdsyim, gurunya' dalam
dan Ahl an-N azhar (pendukung nalar).120 oi-n oghddaiVy af125 bahwa i dr 6k (persepsi), termasuk penginderaan'
*e.ripakan metode memperoleh pengetahuan, meskipun hal itu
Menurut'Abd al-labbdr, pengalaman tentang dunia ekster- bukan merupakan kondisi yang cukup untuk memvalidasi suatu
nal yang empiris dan sensual merupakan sumber pengetahuan pengetahuan. Oleh karena itu, meski tergantung pada kondisi
yut i t"[ terbantah. Istilah kunci yang digunaklnlya, mudrakit r"Upf. yu"g harus'6qil, pengetahuan tentang objek-objek empiris
yang di-
ia"i iara*1, sebenarnya digunakan untuk objek-objek Akan tetapi,
,"*.ri *"r,;adi kondisi yang harus ada(conditio sine qunnon)bagS
persepsi secara inderawi maupun secara rasional. keberadaan ilmu-ilmu lain, seperti ha6ya dalam formula "penge-
*uarhrat lebih ditekankan pada o$ek-o$ek empiris sensual se- tahuan tentan gmadtttl (objek yang dituniuk, siTntfed) tergantung
hingga mencakup pengertian musyhhadht (objek-objek yang {ili- pada pengetuhtt* tentang sf.at dilillah (penunjukkan)"'r26
natf bqet_objek empiris sensual {mudrak6t), sebagaimana dije-
laskan dalam }yarfolzl mencakup tujuh hal, yaitu wama, rasa' bau' rz 166 3116![fr, i l-Mughni fi Abwitb at-Tawf;idwa at''Adl, Juz Xll' hlm 67'
rasa dingin, Panas, rasa sakit, dan suara, yang sernuanya menjadi (form, bentuk), yang dalam
18 kE haylldberasal dari bahasa Yunani (rnatfer, nnateri) sebagai lawan
objek cerapan panca indera manusia. Pengalaman dunia ektemal- bahasa Arab umumnya disebut den gan mdddah alau 'unshur. lstilah tersebut mulai diteriemahkan
Gardet dil langan nutakkJimhn
impressioi dalam istilah Hume atau sensasi menurut Locke - me- ke dalam bahasa Arab pada abad ke38 dan ke4/'10. Menunrt Loub
genensi akhir Maturidiyyah untuk
btilah tenebut baru digunakan oleh kalangan Asy'ariyyah dan
perbedaan konsepsi terladi
membantah tesis kalangan Mulhidah. Di kalangan para filsuf sendiri,
1re
Dalam kulturArab umum, btilah'aqldiklasffikasikan secara hienarkis kepada ernpat macam: (1)al- pada AbO Bakr ar-RAzi, kalangan emanasionis sylah, atau pada
tentang istilah tersebut, sepedi
eqt it:Ni l* ^n sense) sebagai fifah atau potensi berpikn (2) at-'aql al'ilmi lndel berpikk lkhwan ash€hafi'. lbn sina, fibuf blam yang sennsa dengan
'AM alJabb6t mempunyai konsepoi-
dan (4). al'aqlal-falsaf' benda fisik (body) terdiri dari materi (hayulS)
deduksi, ind;ksi, dan penggabungin keduanya); (3). al'aglal-lbnni(estetik); berdasarkan penplasan Fakhrad-Din ar-Rizi-bahwa
; rjpa, riron, ba*n, Veirunff, datam Ma'in ziyadah (ed ), Al-Mawsl'at al'Falsaf t,4,3j.al'
lirt.l kilk nutakaltin1n adalah kritik terhadap hylemorphisme
dan bentuk iform). Oleh karena itu,
;iraniyyan,Cett,Vot. 1986), hlm.596--602. Konsep'aql 'AM lll, Narv Edition' (Leiden:
tt, (Cairo: Ma'had al-lnmd'al-'Arabi, Arbtoteles. Lihat Louis Gardet "Hay0l|t",dabmEncylopaedia of lslam,Juz
alJabb6r, setidaknya, sampai pada level kedua. Hil bertentangan dengan sasanan kritit'Abd alJabbAr
E.l. iltf, 1971), htm. 328-330. ini tampak
th LihatAb0 al-Hasan al-Asy'ari, Maqilldt al-lstilmiyyin, Juz ll, ed. Muhammad Mulyi ad-Din 'Abd al-
Dalamhalitu' hay0l6yang
bahwaashh6ba/-hay0l6adalahkelompokyangmenafikanrealitasfisik
41 1 ), hlm' 7$-82' (form), yaitu aspek elcstemal dari suatu realitas
flamid, (Beirut al-MalGbat al-'Ashriyyah, 1 990/1 Olpanami ogn,nOd aiJabMr barangkaliadalah bentuk
hlm. 92. Petea dan Hourani meneriemahkan fisik.
lpseudo) 'Abd alJabbdr, S}'ad al lJshll al-Khamsah,
rzr

rdrdkdenganpersepsi.Lih;t,eod's Createdspeech,hlm.g3; lslamicRatbnalism,hhn'20./dr6k 121'Abd alJabbar, Al-Mughni fr Abwitb alTawhid wa al'?dl, Juz Xl' hlm 383'
(manusiai,'masa3 (buah), lE 'AM alJabb6r, Al-Mughnifr Abw?tb at'Tawf;idwa al-tdl, juz Xll, hlm 60'
memiliki feberapa makna sesuai dengan konteks kalimat'dewasa "
alUsh6/ al-
dan"melihaf jiia disertai ungkapan'JLbashar" (penglihatan). Lihat lebih laniut Syart i5 /bid , Juz Xll, hlm. 6G-S1.
Khamsah, hlm.233-234.
F
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabb6r 91

IQdun, kelika menolak skeptisisme epistemologis yang meng- Lil l.r 1+ ig ! :i 1-5 a; lnF d J {-1,r.-al
r gl 9;o o ts;uit,/,r'itl 0t- d- tS
130 ij lL. ir..I ui }i
6. dill
anggap fakta-fakta empiris inderawi merupakan mimpi orang
tidur yang tidak rnemiliki realitas atau kebenaran, 'Abd al-JabbAr 'Abd al-Jabbtu sangat meyakini reliabilitas pengetahuan per*
memang menegaskan bahwa indera (baca: sensasi) hanya bisa me septual. Apa yang kita ketahui melalui persepsi inderawi selalu
laporkan bahwa suatu objek ada seperti realitas objektifnya ('al6mh n'rerupakan objek-objek partikular (rnufashshal),131 pengetahuan
huwa'alnyhlidzAtih), tidak memberikan keputus.rn apa Pm, YmB langsung (dharnq yang tidak mungkin dihilangkan dari kesa-
sesungguhrrya kembali ke subjek.127 Akan tetaPf ketika menjelas- daran manusia. Pengetahuan jenis ini tidak memerlukan bukti,
kan kesetaraan substans i (tamdtsul al-i awdhir) sehubungan dengan karena akhir dari suatu bukti merupakan upaya menghubungkan
penegasian tasyWt (penyerupaan) dan menyatakan bahwa idrdk proposisi yang harus dibuktikan dengan fakta yang perseptual
tidak mungkin mengetahui suatu objek sebagaimana adanya, (mudrak). Di samping itu, pendasaran teologis bagi reliabittas
fuudfrts (baru), maupun bergerak sekaligus, kecuali melalui sifat sumber pengetahuan ini adalah (1) pengetahuan perseptual, me-
paling khusus objek tersebut,'Abd al-Jabbdr menyatakan bahwa nurutnya, berbeda dengan pandangan tokoh-tokoh Mu'tazilah
kita kadang-kadang dalam proses idrdk dapatmengetahui bahwa lainnya, merupakan perbuatan Tuhan secara initiatif (ibtid6'an)
suatu objek adalah ada, meski idr6kndakterkait dengan sifat br- yang tidak rrennerlukan pengkondisian sebelumnya untuk mem-
sebut. Karena tidak mungkin diketahui tanpa keberadaan objek- perolehnya,l32 dan (2) pengetahuan yang sebenarnya rnerupakan
nya, si.fat brsebut baru diketah"i jiku keberadaan objeknya dike' pengetahuan prinsipil tentang dunia fisika, semisal penetapan
tahui sebelumnya.l4 Dengan penjelasan tersebut,'Abd al-Jabbdr aksiden-aksiden pada suatu objek dan kebaruannya, serta keter-
sebenamya ingin menyatakan bahwa ada dimensidimensi objek kumpulan dan keterpisahan, meruPakan prinsip argumen logika
yang tak tersentuh oleh indera manusia, sehingga selalu terjadi bagi doktrin tawfutd.133
reductio ad absurdum.Tetapi, hal itu tidak berarti bahwa pengalam-
Fersepsi sebagai pengalaman manusia dan sebagai sumber
anindera manusia sama sekali tidak bisa menyampaikan sesuatu
pengetahuan dapat drklasifikasikan kepada dua kategori:1s (L)
yang riil dari o$ek ke kesadaran kognitif kita.
persepsi terhadap fakta-fakta dunia ekstemal, di mana data mate'
IQtiga,ketika mengkritik pandangan relativis (aslfugb at-taj d- riil dipersepsi dengan panca indera, dan (2) persepsi inbrnal ma-
tat), dimana pandangan relativisme berimplikasi pada nusia, "menemukan dirinya" (waiad nafsah) dalam isfilah'AM al-
an prinsip "keserbabolehan" (at-taiwtzj bahwa apa yang dilihat se- Jabb6r, atau persepsi introspektif dalarn istilah Hourani.
Berbeda
bagai hitam mungkin menjadi putih, suatu pengandaian yang riengan yang perbama, kategori kedua sebenarnya merupakan tahap
kontradikfrf dengan kenyaban.'Abd al-Jabbdr berargumen bahwa awal pengetahuan rasional dari dalam diri manusia.
keyakinan subjek tidak akan berpengaruh terhadap keadaan Karena terjadi interrelasi keduanya, di sini dikemukakan
obiek.12e Oleh karena itu, 'Abd al-Jabbdr berkesimpulan: pemerian kategori kedua secara singkat. 'Abd al-jabbAr meng-
rs Jbrd . Juz Xll, hlm. 72.
rllbrd., hlm.66.
r27
lbid , Juz Xll, hlm. 55-56.
ra lbrd., Juz Xll, hlm. 6'162. to lbd, Juz Xll, hlm. 59.

is ibrd , Juz Xll, hlm. 48. Unian lebih lajut lentang hal ini dikemukakan dalam bahasan tentang kritik '3 Nashr Himkl AbiZayd, Al-lftijdh al-Aqli, hlm. 64
'Abd alJabbAr terhadap skeptisisme. ta Geoqe F. Hounni,lslanb,Rationaltsrn, hlm- 21.
92 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabb6r 93

anggap persepsi introspektif sebagai evidensi paling jelas bagi Menurut'Abd al-Jabbdr, khabar adalahsurnber pengetahuan,
kebenaran pengetahuan. Setiap manusia memiliki potensi untuk meski kebiasaan ('Adah, habitus) mempunyai andil dalam proses
memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya sendiri. Con- pertimbangan kebenarannya.l3T Bagian-bagian akhir dari juz XV
toh-contoh sederhana yang dikemukakan adalahbahwa kita me- al-MugJtnt memuat prinsip-prinsip dasar penolakannya terhadap
miliki kemampuan untuk bertindak; bahwa jiwa kita dalam ke- pandangan aliran yang disebutrya s ebagai as-Sumaniyyahls y ang
adaan puas (sukfin an-nafs), kita merasa sakit panas/ atau dingin, menafikan vaiiditas dan reliabilitas pengetahuan dari khabar.l3e
dan bahwa "berpikir merupakan otrservasi terhadap keadaan objek Elaborasi'Abd al-JabbAr akan menunjukkan karakter gandanya;
dan kornparasi anbra objek tersebut dengan o$ek lain, atau kom- teologis rasional dan juristik karena posisi al-q6dht atat qddhi al-
parasi antara suafu peristiwa dengan peristiwa lain", dan bahwa qudhhh yang pemah dijabatrya, di samping menuniukkan arus
nalar berbeda dengan keadaan (afowil\ pikiran lainnya, misalnya umum diskusi mufoadditsfin tentang masalah yang sama. Secara
perbedaan antara keyakinan dan kehendak. Atas dasar ini, per- epistemologis, khabar diklasifikasikan kepada tiga:
sepsi introspektif sebenarnya merupakan upaya mernfungsikan
Pertarna, Hwbar yangyartg meniscayakan pengetahuan lang-
'a4l untuk menyerapkan data pengalaman internal sehingga ter-
swtg (dharfrri). Ada dua karakteristik yang rnenjadi tolak-ukur-
jadi proses pemilahan dan perbandingan.
nya: (1) orang-orang yang mentransimisikannya harus membe-
3. Otoritas Khabar
ritakan apa yang diketahui secara pasti; dan (2) ]umlah orang
yang mentransrnisikan harus.lebih dari empat orang.1ao Karena
Menurut Muhammad 'Abid ai-Jabiri, epistemologi baydni,
alasan karakteristik pertama, pernberitaan berdasarkan dari se-
termasuk epistemologi knlfrm, bertolak dari "teks" yang identik
suatu yang diindera (mafosfis), orang yang mentransmisikan tidak
dengart Hubar sebagai otoritas (sulthah), yaitu warisan pemikiran
harus adalah mukmin.lal Dalam faktanya, khabar seperti itu me-
yang ditransmisikan oleh generasi belakang dari generasi terda-
merlukan pembuktian dengan suafu cara yang dapat memastikan
hulu. Sebagai karakter distingtif yang membedakan dari episte-
kebenarannya. Untuk mengetahui bahwa kota Makah memang
mologi Barat, problematika yang mendasar dari epistern'rlog
yang dilontarkan oleh wacana epistemologi Islarn tentan gklubar lY 'AM alJabbir Al-Mughni fi Abwitb at-Tawfiid wa al-'Adl, JuzXY, hlm. 395.
bukanlah problematika benar-salah secara logik, melainkan Pro' ts As-Sumaniyyah adalah suatu seKe di lndia yang menganut paham inkamasi (tandsukh) dan mem-
blematika "kemungkinan sahih" (ash shifofu)l3s dan "status" (41- bantah validitas pengetahuan melalui khabar. Lihat 'Abd alJabb?t, Al-Mughni li Abwab at-Tawfiid
wa al-'Adl, Juz Xll, hlm. 204; Majd ad-Din Muhammad ibn Ya'q0b al-Fayr0z6b6di, Al-QAnls al-
wadh). Hal itu karena khabar sebagai otoritas referensial terkait Muhith,ed. Y0suf asy-S,vaikh Muhammadal-BiqdT, (Beirut DAral-Fikr, 199t1415), hlm. 1087. P.
dengan problematika hubungan antara "ungkapan" (lafzh, dalarn Kausdalam Rlisla dqliStudiArientalr(xiv,356), deryan merujuk pada artikelawalH. H. Sdaeder,
perspektif bahasa dannafutuu) dan "makna" (.r,rtt'n6, dalam per- menganggap bahwa Sumaniyyah bukan merupakan seKe di lndia, melainkan generasi penganut
skeptesisme hellenistik" Wiiliarn Montgomery Waft menghubungkan as-Sumaniyyah dengan peno
spektif fiqh danknldm)"ls Oleh karena itu, epistemologi Islam abad lakan kesahihan pengetahuan dari khabar Lihat, William Montgomery Wall, Early lslam: Collecled
tengah menunjukkan keterkaitan antara khabar di satu sisi dan lrflbbs, (Edinburgh: Edinburgh Univenity Press, 1990), bahasan'The Logical Easb of Early Kaldm",
hlm. 108.
sumber-surnber pengetahuan di sisi yang lain"
i3 Lihat'AM alJabbdr, Al-Mughni fi AbwAb et Tawfiidwa al-'Adl, JuzXV, him.403;Juz Xll, hlrn. 74.
'AM alJabbdr, istilah si!a! di- t& lbid., JuzXV, hlm. 333.
'5 Dalam episternologi baydni mcdrel kalem, termasuk epistemologi
hdentkkan dengan btihh.istihhlbwdz, syakk,inkin,danibfiah I sihaf(dalam fiqh)sebagaisesuahl ta1
lbkl.,Juz XV, hlm.382. Dengan tidak adanya persyaralan'mukmin" pada pentransmisi,'Abd al-
yang mungkin, lidak mustahil, sah, dan semaknanya. Lihat (Pseudo) 'Abd alJabMr,Sya{ alUsh0l Jabbdr keluar dari arus umurn pemikiran nufiaddils1n yang menyepakati persyaratan itu. Jika di
al-lftamsah, h|m.394. kalangan ulama ushul al-fqh islilah khabarsering- atau selalu-{iidentikkan dengan'hadits', 'Abd
1$ Muharnmad AUiO aruanirl, Bunyatal-'Aqlal-'Arabi.., hlm. 116. alJabb6rtampaknya menggunakan istilah khabaruntuk pengertian yang lebih luas.
94 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabb6r 95

ada "adalah sama dengan" berada di sana dan mengalaminya disi-kondisi khususnya (afunhl) untuk kualifikasi sebagai khabar
secara langsung. Ungkapan "adalah sama dengan" merujuk ke- yang benar. 'Abd al-Jabbdr mengkategorikan khabar ini sebagai
pada apa yang disebut'Abd al-|abbdr dengan' ddah (kebiasaan). tawiltur muktasab, y aituberita yang keberurannya diketahui dengan
Melalui '6dah dlketahui bahwa di dunia ini ada kota yang nama- inferensi, tidak ada kesepakatan(tawAthu'), berdusta, atau keka-
nya Makah yang tidak kita lihat dan beritanya sampai kepada kita. cauern mental otang yang mentransmisikannya.la6 Kategorisasi
' Adah adalahapa yang diatur oleh Tuhan menjadi kebiasaan dalarn
Al-Qur'an sebagai khnbar yang kebenarannya diketahui dengan
kelompok manusia normal dan keberadaan umumnya.la2 Jumlah inferensi tampak problematis karena statusnya sebagai qath'iy
ernpat orang didasarkan pada wahyu (simd) dan persyaratan ke. al-wurfid.Barangkali, apa yang dimaksud oleh'Abd al-Jabbdr ada-
saksian (syahhdnh) dalam fiqh." Berdasarkan' 6dah, suatu khabar lah segi penunjukkannya (dil6lafu), seperti alasannya menempat-
tersebar jika memuatberita yang didasarkan pada pengetahuan kan Al-Qu1an sesudah 'aql dalam hierarki argumen.
langsung. Proses ini terjadi secara tawdtur (berulang-u1ang), dan
trQtiga, trpe khabar yang disampaikan oleh seseoran g (khabar
tawilfur rtu rendiri adalah kebasaan. Pengulangan itu sendiri mem-
al-wilfold)yang diketahui melalui persepi dan disampaikan ke be-
bentuk apa yang disebut sebagai "keteraturan peristiwa-peris-
berapa orang sesudahnya.
tiw a" (iththir hd al-foaw ddi ts).laa Dengan demikian, akhb 6r yang ke-
benararurya diketahui dengan pasti (pengetahuan langsung) men- Berbeda dengankhabar nutawdhr yang dianggap meniscaya-
cakup pengetahuan tentang kota tersebut atau informasi-infor- kan pengetahuan langsung (dharfrri), khnbar Perorangan belum
masi lain darinya. Pengetahuan yang diperoleh melalui khabar memenuhi kriteria korespondensi dan afektivitas. Ketika menyi-
tipe itri disebut denganal:ilm adh-dhnrfrrf dan pengetahuan dari kapi pandangan an-Nazhzhdm bahwa khabar perorang.rn me-
khnbar bersifat global (mujmal\.las mungkinkan diperolehnya pengetahluan dhnrfiri i*a diketahui
Kedua, npeklubaryang kebenarannya diketahui dengan in- " sebab" yang mendahuluinya, semisal pengetahuan tentang me-
ferensi (isfldl6lj. Tipe ini diklasifikasikan kepada tiga: (1) khabar ninggahrya seseorang yang didahului oleh sakit keras (sebab)
yang sumbemya diyakini tidak mungkin berdusta, yaitu ,'hnbar yang diketahui sebelumnya,'Abd al-Jabbdr menginterpretasikan
" rebab" dengan "tan da" (amdrah) atau indikasi.laT Dengan begitu,
Al-Qur'an dan sunnah; {2} khabar yang dinyatakanbenar {tashdtq)
oleh seseorang yang kita ketahui memiliki kredibiLitas yang cu- ia ingin menegaskan "sebab" bagikhabar sama stafusnya dengan
kup atau tak rnungkin berdusta; p) khnbaryarre harus diserhi kon- suatuHtabar(perorangan)bagpkhabar(perorcngan)laintasbahwa
khnbar al-w6!1id yang disertai indikasi kuat (amdrah) hanya men-
capai tingkat asumsi/ perkiraan (zhnnn) karena tidak didasarkan
ra /bid, Juz XV hlm. 182 dan 368.
perspesi (idrdk) dan bukti (daltl).1ae Karena tidak dipastikan sesuai
r{ Di kahngan mufaddrtsr?n kuantihs minimal raripada had'rb mutawdtir diperdeba0<an secara serius.
dengan kriteria korespondensi maupun afektivitas, khabar pev
Fandangan 'Abd alJabbir bahwa kuanitihs pentransrnisi adalah lebih dari empat orang secana
jelas menunjukkan bahwa ia mengikuti pendapal asy-Syaf i. Lihat Fatchur Rahman, lkhtishar orang.rn secara epistemologis tidak mencapai tingkat pengetahu-
Mustalahulfiadits, Cet. lX, (Bandung: PT. Alra'arif, t.th.), hlm. 79--80.
lsl-ihatMuhammad'AbidaHebif, Bunyatal-'Aqtat-'Arabi...,hlm. 119-l22.MenurutalJabiri,dalam
1s lbrd Juz XV, hlm. 338-339.
,
fawdlurada proses semakin bertambahnya kepercayaan(tazdyud quwwat ezfr-ziann) setiap pen-
1{?
bansmisi akan kandungan khabaryang sesungguhnya merupakan poses psikologis. An-Nadrdram, lbrd, Juz XV, hlm. 392.
menurut alJibiri, adalah tokoh pertama yang membahas faKor psikologis dalam khaDar, yaq rs lbrd., Juz XV hlm. 395.
kemudian dikut oleh al€haz6ti. 14s
lbrd , Juz XV hlm. 33? Juz Xll, hlm. 362-363; Tanf Khalidi, Arabic Hislorical Thought in the Classi'
ls 'AH alJabbdr, Al-Mughni fi Abwdb at-Taffid wa al-'Adl, JuzXY, hlm, 334. cal Peiod, (Cambridge: Cambidge University Press, 1996), hlm. 145.
F
96 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Episternologi'Abd al-Jabbir

an, meski dianggapvalid dari segShqh('ibddah) karena statusnya hanya terfokus pada problema pengetahuan intuitif dalam pan-
zhann atau ghalabat szh-zhnnn.lsa dangan'Abd al-]abbdr.

Khnbar sebagai sumber pengetahuan rnemiliki tiga kemung- Pandangan'Abd al-Jabbdr terartikulasikan dengan jelas da-
kinan kualifikasi.'Abd al-jabbdr mendefinisikan kLubar sebagai lam kritiknya terhadap a shfuftb al-ma'hnl, kelompok AbCr 'UtsmAn
pemyataan khusus (knldm rnaldsh'itsh) yang memiliki kemungkin- al-Jdhizh (al-Jahizhiyyah)1s dan Abfl'Ali al-Aswdri (w. perte-
an, yaitu (L) kualifikasi "benat"; (2) kualifikasi "salah"; atau (3) ngahan abad ke-9 M),ttu yang berdasarkan keterangan asy-
tidak dapat diberi kulifikasi "benar-salah".1s1 Berdasarkan pen- SyahrastAni,l56 mereduksi pengetahuan hanya kepada pengeta-
jelasan dalam Syorb kualifikasi khabar dapat dijelaskan dengan huan langsun g (dhsritn) yang diperoleh melalui thab' , yaltu me-
tabel berikut rs2 lalui pengetahuan intuitif yang dianugerahkan Tuhan. Berbeda
dengan konsep perbuatan manusia, rnenurut'Abd al-JabbAr,
Tabel 2: Kualifikasi khabar
yang bersifat indeistilahinistik bahwa pengehhuan adalah rnumi
hasil kreasi manusia, ashfofib al-ma' hif menganggap pengetahuan
Ktabar rnumi sebagai perbuatan Tuhan. Manusia hanya mempunyai
arrdil daiarn kehendak (iridah), Pandangan 'Abd ai-Jabbdr juga
terefleksi dalam kritiknya @rhadap kesatuan Tuhan dan rnanusia
(ittihrd) dan konsep semisalrrya.
Dalam kritiknya terhadap pengetahuan intuitit'Abd al-
Jabbar rnengemukakan argumen logika Abfi Hasyim sebagai beri-
langsung inferensi khabar perorangan kut Dengan pendasaran apa - demikian argumen Abfr Hdsyim -
mereka yang mengklaim kesahihan pengetahuan intuitif bahwa
mereka rnemperoleh intuisi; dengan nalar atau intuisi. Jika de-
4. Wahyu dan Problernatika Fengetahuan Intuitif ngan nalar" berarti bahwa mereka mengakui keabsahan nalar. Se-
Pengetahuan tidak hanya bersumber dari objek-objek rasio' baliknya, jika dengan intuisi, persoalan tersebut bisa diperdebat-
nal (ma' qfil6t\, pengalannan dunia eksternal perseptual-sensual kan lebih lanjut. or"*g yang berbeda pendapat dengan karni,
(mudrakit; mwsydhnd6t), otoritas, tetapi juga bersumber dari wahyu tegas Abfr HAsyim, tentang keabsahan nalar tidak menolak pen-
(mm'tyyht). Meskipun beghr, wahyu rnerupakan sumber pengeta- tingnya nalar" kecuali penetapan keyakinan yang memuaskan
huan yang sam't darr' aqlt,t'arenastatusnya bukan self-nidrnt dan iiwa. Berbeda dengan itu, intuisi sendiri adalah sesuatu yang di-
mernerlukan nalar dan inferensi. Peters rrrengemukakan uraian perdebatkan. Dengan demikian, jika mereka memberikan pen-
mendalam tentang hal ini.1s3 Oleh karena itu, pemerian berikut
rs Lihat'Abd aLJabbir, Al-Mughni fi Abwdb at-Tawfiid wa al-'Adl, JuzXll, hlm. 316-323.
rs Nama lengkapnya adalah'Amr ibn FA'id. Oleh',Abd alJabbdr, lbn al-Murtadhi (penulis a/-Munyah
rs (Pseudo)'Abd alJabMr, Sya{ alUsh1lal-Khamsah, hlm. 769. wa al-Amall, al-Hdkim Abti Sa'd alJusyami dalam Sya{ 'Uyun al-Masa'il al-A.swiiriditempatkan
15r pada tirqkatan ke$ diantara tokob-hkoh Mu'tazilah. Sebagaimana alJdhizh, al-AswAri nenEanggap
lbd, Juz XV, hlm. 319.
pengelahuan kila tenhng Tuhan bersifal dhanld Lihat (Pseudo) 'AM alJabbar, Syafial-Ushhlal-
152
lbid., hlm. 768-769. Khensah, hlm. 52 dan catatan kaki nomor 3.
'$ Lihat lebih laniut J.R.T.M. Peters, God's Oeated Speecfi, hlm. 95-102. ls Asy-Syahrastini, Kitdb al-Milalwa al-Ntlpl, Juz l, hlm. 65r$6.
F
9B Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabbit 99

dasaran ilham dengan ilham, berarti mereka menetapkan sesuafu e. Manusia sering mengalami keraguary kemudian melakukan
yang ditolak orang iain dengan suatu pendasaran yang juga di- penalaran dan inferensi (istidldl) sehingga mernperoleh insight.
tolak.lsz Kritik Abfr HAsyimpada prinsipnya bertolak dari metode Apakah perubahan dalam kesadaran kognitif kita tersebut
berpikir dalam argumen logika. Menetapkan justifikasi atau ra- bisa diklaim sebagai intuisi ? Jika"ya" ,Jahm ibn Shafwdn, tegas
sionalisasi terhadap sesuatu harus bertolak dari argumendi luar- 'Abd al-Jabbdr, tentunya diasumsikan valid untuk menyama-
nya yang statusnya lebih kuat. Pada justifikasi intuisi, argumen kan begitu saja antara gerakan-gerakan yang kita lakukan
yang dijadikan dasar sesungguhnya persoalan yang diperdebat- dengan gerakan urat nadi yang berada di luar sadar. Ashfub
kan itu sendiri. Jadi, terjadi nalar sirkular, fallacy of begging ques- al-ma' hif,menurutnya, tidak bisa membedakan antara sesuatu
tion, atau petitio pnncipi. yang berada dalam alam kesadaran manusia dan yang tidak.r52
Kritik I Ab4 al-]abbdr selaniutnya terhadap pengetahuan in- Dalam kritiknya terhadap " penya tu an" (i t tilpd) dalam dok-
tuitif adalah sebagii berikut trin trinitas maupun penyatuan Tuhan dan hamba dalam konsep
a. Pengetahuan bersumber dari nalar. Nalar dan pengetahuan sufisme, dinyatakan bahwa Tuhan bukan merupakan substansi
itu sendiri berada dalarn batas kemampuan manusia;1s8 (j awhar) maupun tubuh/ fisik (1ism). Istrlah muj frwar ah (persenya-
waan) hanya terjadi antara substansi dan fisik. Di samping itu,
b. Allah neenunjukkan dalil dan mendorong manusia untuk me-
mengasumsikan teriadrny a muj dwarah berarli bahwa Tuhan ber-
mikfukan ayat-ayat-Nya, serta mengecam orang yang berpa-
sifat baru (fugdits), tidak kekal (qadtm).163 Mujfrwarah juga berirn-
ling dari perintah tersebullse piikasi pada dua kemungkinan, yaitu (1) terjadi secara total, suatu
c. Orang-orang kafir dan aliran-aliran teologis, semisal Jabariyah pengandaian yang tak mungkin, karena akan terjadi pembagian-
dan Khasywiyah, jika diterirna pengandaian tentang intuisi pembagian yang banyak, atau (2) terjadi secara parsial, yang ber-
sebagai sesuatu yang sahih, tentu berhak untuk mengklaim arti dua substansi berada pada satu waktu di tempat berbeda,
dengan intuisi keyakinan-keyakinan mereka yang keliru.r60 sesuatu yang mustahil.l54 'Abd al-]abbAr juga berkesimpulan
'Abd al-Jabbar ingin menegaskan bahwa pengetahuart seha- bahwa substansi Tuhan dan substansi manusia tidak mungkin
rusnya merupakan sesuatu yang dapat diverifikasi, umurn, menyatu, karena dua alasan: (1) yang terjadi hanya keberadaan
tidak subjektif, dan tebuka untuk dibuktikan ulang. aksiden dalam substansi, atau (2) seperti perpindahan substansi
yang mengalami mujhwarah ke substansi lain, suatu hal yang tak
d. Dalam diri manusia terdapat pengetahuan-pengetahuan se-
rasional, karena perpindahan tidak terjadi, kecuali pada sesuatu
bagai bagian dari keyakinan (i'tiqdd) yang tidak dapat dihi-
yang tidak mengalarni tahnyy'uz (mengambil bentuk).16s
langkan dari kesadaran kita yang disebut sebagai al-'uh2m adh-
dlurfiiyyah. Mengklaim kognisi tersebut sebagai intuisi adalah Dalam al-MuUith, d*emukakan bahwa Dhirdr berpendapat
tidak benar. Menurut'Abd al-Jabbdr, kita tidak bisa membeda- bahwa manusia memiliki indera keenarn yang memungkinkan-
kan antara pengalaman biasa dengan infuisi.161 nya mengetahui Allah. Pandangan ini oleh'Abd al-Jabbdr ditolak
15i 'Abd alJabbir, Al-Mughni fr Abwitb alTawf;id wa al-'Adl, JuzXll, hlm. 344. 1m
lbid., JuzXV h|m.346.
's lbrd., JuzXll, hlm. 343 dan 261. 16 /brd., Juz
1s V ed. Mahmud Muhammad al-Khudhayri, hlm. 123.
lbd, Juz Xll, hlm. 344.
1n
ls /brd, lbrd., Juz V hlm. 134.
Juz Xll, hlm. 345.
16
161
lmd.
lbrd., Juz V hlm. 126.
?T

100 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epislemologi Abd al-Jabb6r 101

dengan Dalarn Syorb pengetahuan intuitif tentang Tuhan


tegas.166 an-Nazhzhdm. Di kalanganMu'tazilah sendiri, tidak ada kesepa-
ditotak dengan argumen "pengandaian" berbagai kemungkinan katan tentang klasifikasi ilmu, seperti ashh'\b al-ma'difyangneng-
keliru (at-tajwtz\ yang sering digunakan sebagai basis argumen anggap bahwa pengetahuan semua bersifat dhnrfiri.16e
dialektika A sy' ariyyah- Mu' tazilah.l 67
Epistemologi'Abd al-JabbAr dibangun atas dasar pandang-
Berdasarkan uraian di atas, infuisi bukan merupakan sum- an teologisnya. Karakter yang sangat jelas dari pendasaran itu
ber pengetahuan dalam koruep epistemologi'Abd al-Jabbdr. Di adalahbahwa klasifikasi ilmu didasarkan pada teorinya tentang
sarnping bertolak dari pandangan teologis, secara rasional intuisi taklif. Sendaknya, ada dua titik-tolak klasifikasi:
dikritik karena kaburnya batas antara kesadaran dan di luar ke-
Pertama, setelah mencapai kesempumaan ak al (kamal aI-' aql)
sadaran subjektivitas (sehingga tak dapat dibuktikani, serta apa
seorang muknllaf harus mengetahui ilmu/pengetahuan yang se-
yang diklaim sebagai intuisi, menurutnya, sebenamya masih meru-
benarnya tidak lepas dari klasifikasi berikut (1.) pengetahuan
pakan hasil proses nalar. Pengetahuan intuitif bertolak dari paham
tentang perbuatan-perbuatan yang dibebankan (takltfl, sifat dan
penyatuan Tuhan dan hamba yang,, menurutrya, berdasarkan pan-
cara yang harus dilakukan; (2) pengetahuan tentang subjek yang
dangannya tentang "kesetaraan substansi" (tamitsul al-iawdhir),
memberikan pembebanan (Allah SIVT., mukalliJ), sifat-sifat, dan
iika Tuhan diasumsikan sebagai substansi, tidak mungkin terjadi. kebijaksanaan-Nya; dan (3) pengetahuan tentang konsekuensi
perbuatan takltf tercebut.l7 o
D. Klasifikasi Pengetahuan
Kedua, apa yang harus diketahui pada dasamya dapat di-
1. Titik-tolak Sebagai Dasar Klasifikasi kategorikan secara kasar atas dasar pertimbangan: (1) pengetahu-
an yang dilihat dari aspek kondisi-kondisi (asbhh) yang memung-
Sebagai ahli hukum dan teolog, klasifikasi dan hierarki me-
kinkan diperolehnya pengetahuan, prosedur, atau hal-hal terkait
nurut 'Abd al-jabbAr sangat jelas merepresentasikan system of
lainnya, dan (2) pengetahuan dapat dilihat dari segi obiek-olrjek
thought kedua kalangan tersebut dan arus umum diskusi pada
yang diketahui.lTr
masa itu. Oleh karena itu, terdapat titik singgung, misalnya, an-
tara konsep epistemologi'Abd al-JabbAr dengan teolog semasa- D samping itu, atas dasar doktrin pokok Mu'tazilah tentang
nya, seperti al-Bdqill6ni, atau sesudahnya semisal'Abd al-Qdhir keesaan dan keadilan Tuhan (al-'adl wa at-tawfotd), menurut'Abd
al-Baghdadi (dalam Kt6b lIsIuiI ad-Dtn) dan Faklu ad-Dtn ar-RAzi al-Jabbdr, secara hierarkis ada kelompok pengetahuan-penge-
(dalam al-Mufutshshal) dari Asy'ariyah,l$ atau resPon terhadap tahuan tawbtd dengan semua pengetahuan awal yang rnenjadi
pandangan kalangan Mtrltazilah terdahulu, semisal al-JAhizh dan prasyaratny a (muqaddimht), sebagaimana dikemukakan, seperti
pengetahuan tentang kebaruan aksiden-aksiden (foudttts nl-a' rddit)
bial-Ialr/if Juz I, hlm. 209-210. merupakan prasyarat bagi pengetahuan tentang tawfuid dan ke-
'6 Lihat'Abd aUalttPir, Al-fuluhlth
rt (Pseudo) 'Abd alJabMr, Sytral-Udttl d-Khamsah, hlm. 259. Lihat juga Abd alJatrbir' Al lompok pengetahuan-pengetahuan al: adl dengan pengetahuan-
Mughnl fr Abw6b at-Tawf;td wa d:Adl, Juz lv ed., Muhammad Mustrali Eilmi dan Abo al-waftl' pengetahuan prasyarahrya, seperti pengetahuan tentang pahala
al-Ghanimi at-Taftlzini hlm. 38.
rs Tenhng khifikasi ilmu menurut'Abd aKldhir alSaghdidi dari As/adyyah, lihat karyanya, /(ildb
tm a/-Nttal 65-€6.
Ushilad{ii|l,C,eLlll, (Beirut Diral-Kutubal-'lkniyyah, 1981), hlm.8-9;A.J.Wensind<, TlF-Musfrm Lihat kembali asy-Syahrastini, KitAb al-Milal wa hlm.

Creed: lts Genesis and Hffoacal Wv*gnenf (New Delhi: Orienbl Books Repdnt Corporaton' 170
'Abd alJabbAr, Al-Muhith bi at-Takli,l Juz I, hlm. 18.
1979), hlm.251-263. 171
/brd., Juz l, hlm.20.
t
102 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-JabbAr 103

dan siksa.172 Dengan demikian, meski tidak dalam bahasan yang ngetahuan tentang keadaan kita ketika berkehendak, benci, ber-
sistematis dan eksplisit, klasifikasi dan hierarki "ilmu" yang di- keyakinary berasumsi, dan sebagahyu.'n Pengetahuan yang di-
susun oleh'Abd al-JabbAr adalah: (1) pada dasamya bertolak sebut'Abd al-Jabbdr ini merupakan kesadaran diri (self-conscious-
dari pandangan teologis, (2) pembedaan antara ilrnu induk dan ness) atau keadaan mental biasa yang berada pada level paling

cabang, meski tidak secara eksplist dan ketat, dan (3) pembedaan awal, tanpa nalar. 'Abd al-|abbAr sering mengungkapkan hal ini
antara proses metodologis. dengan frase "menemukan dirinya" (wa1 ad nnfsah).
Kedua, Pengetahuan dhnrfti yang diperoleh dengan cara
2. Klasifikasi Pengetahuan: Dharfiri d,an Mukt as ab atau "metode" (md labshul 'an thnrtq), seperti pengetahuan ten-
Meski tidak dalam bahasan yang sistematis, secara umum tang objek-obiek perseptual empiris (rnudrakit) tergantung pada
'Abd al-Jabbdr membagi ilmu/pengetahuan menjadi dua, yaitu persepsi (idrdk).l?8 Pengetahuan tentang objek yang dilihat tergan-
dhnritri danmuktasab. tung pada proses methat. ldrdk (prsepsi inderawi) merupakan
a. Pengetahu an dharfiri (langsung, immediate knowledgel.rT3
"metode" untuk mengetahui objek-objek perseptual dan empiris
Pengetahuan ini didefinisikan sebagai "pengetahuan yang brsebut Abd al-Jabbdr menyebutproses brsebut sebagai "metode",
muncul dalam diri kita, tetapi bukan dari upaya kita dan tidak meski, sebagaimana dijelaskan, tidak meniscayakan pengetahuan
mungkin untuk dihilangkan dengan cara apa pttrl".tzt Pendefi- diskursif, karena keterkaitannya dengan konstruksi rasio. Akan
nisian ini mernberikan aksentuasi pada ide bahwa pengetahuan tetapi, iika subjek yang mempersepsi adalah '6qil (compos mentis)
dan tidak ada ambiguitas pada objek yang dipersepsi, Tuhan men-
ini berada di luar kemampuan manusia(ibtid6'an)yangsering dibe-
dakan dengan pengetahuan sebagai hasil dari tindakan genera- ciptakan pengetahuan pada subjek tersebut.iTe
tif (mutawallid) maupun tindakan kokoh (mufl<am). Oleh karena Ketiga. Pengetahuan dharfirt yang diperoleh dengan "semi-
itu, pengetahuan langsung tidak dapat ditolak keberadaannya metode", atau, ntenurut Peters, bentuk analclgis dari suafu cara
atau diupayakan, serta tidak bertolak dari keinginan dan motif (mdyajimajrd aththariq). Pengetahuan kita tentang keadaan (lail)
manusia.lTs Dengan ungkapan lain, sabab (kondisi-kondisi) dan tergantung pada pengetahuan tentang esensi/ subj ek (dzit) y ang
musabbab (pengetahuan) berasal dari Tuhan, sehingga tidak men- berada di dalamnya.rs0 Fengetahuan tentang esensi (dzdt) rtu sen-
jadi bagian dari takltf.tT6 Pengetahu an dharfirt dapat diklasifikasi- diri bukanlah merupakan cara, melainkan merupakan kondisi
kan menjadi tiga subkategori: untuk memperoleh pengetahuan tentang keadaan subjek. Yang
dlurfifi yarrg diperoleh secara ibtid6' an
Fertama, Pengetahuan dimaksud'Abd al-|abbdr adalah interdepensi pengetahuan-pe-
tanpa pengkondisian, atau pengetahuan tentang diri, seperti pe- ngetahuan; suatu pengetahuan harus dijelaskan dengan penge-
tahuan lain. Berbeda dengan sub-kategori kedr.ra, pengetahuan
ini terwujud karena keterkaitanniscaya antara dua pengetahuan
n lud.
rn Berbeda dengan Hourani dalam islamic Rafionalism, hlm. 20, yang meneriemahkan al-'ilm adh- lu (Pseudo) 'Abd alJabbAr, Syafial-Ushil al-Ktamsah, hlm.50.

dhafii dengan'pengetahuan langsung' (inmediate knowledge), Peters, dalam God's Creafed 178
lbid.
Speectr, hlm.5F--54, rnenerjemahkannya dengan'pengetahuan pasti" (necessary knowhdgel. lru'Abd alJabber, al-Mughn|iuzXll hlm.59 J.R.T.M. Peters, God's Created Speech, hlm.54.
trr (pseudo) 'Abd alJabbir, Sya{ alushll al-Khansah,hlm.48. ls (Pseudo) 'Abd alJabbdr, Syad al-Ushilal-Khansi, hlm. 50. Al-'ilm bial{zetadahh pengetahuan
'Abd alJabbar, Al-Mughni fi Abwlb alTawhid wa al-?dl Juz Xll, hlm. 254. manusiatenhng keberadaannya, dan al-'ilm bi alddl adalah pengetahuan yang berhubungan dengan
'r
176
lbrd., Juz Xll, hlm. 256. keadaan (hdl) atau kesadaran. Lihat, Mulammad'Abid al-Jdbiri, Bunyatal-'Aqlal-'Arabi...,hlm.217 "
tr
Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabbir 105
104 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan

global (mujmal), sedangkan pengetahuan muktasab bersifat detil


tersebut. oleh karena itu, pengetahuan keada an (h6l) subiek tidak (mufashshat).18s Pengetahuan detil yang menjadi tolak-ukur kesem-
mungkin ada tanpa pengetahuan tentang subjek itu sendiri. Pada purnaan akal adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi perbedaan
sub-[ategori kedua, pengetahuan tentang objek-objek perseptual persepsi terhadapnya.ls6 Oleh karena itu, menurut Abfr Hdsyim,
ernpiris \rnudrnk6t) mungkin diperoleh melalui cara selain per- pengetahuan dhaririharus lebih jelas atau pasti dalam kesadaran
sepsi {idrdk).181 kognitif subjek.187
Sub-kategori pertama (pengetahuan yang diperoleh tanpa Di samping objek-objek perseptual (mudrakit) yang diketa-
pengkondisian) diklasifikasikan menjadi dua, yaitu pengetahu- hui melalui persepsi (iilrik), pengetahuan dhnrfiri iuga diperoleh
an-pengetahu an dhnrfrri, yang merupakan bagian dari tolak-ukur dengan "nalay'' awal - untuk tidak menyebutrya sebagai nalar dir
kesempuonaan akal (kamht at:aqt) dan yang bukan' Pengetahuan kursif dalam pengetahuan muktasab, yang diistilahkan Hourani
kitabahwa Zayd adalah orangyang pernah kita lihat sebelumnya sebagai "intuisi rasional" (rational intuition)l&B terhadap tindakan-
adalah contoh pengetahuan yang bukan sebagai tolak-ukur ke- tindakan moral, membedakan antara tindakan jahat dan baik atas
sempumaan akal, karena terhadap objek yang sama masih ter- dasar utilitas (manfaat dan sengsara), seperti berdusta, du* P"-
dapit perbedaan kernampuan untuk memastikannya oleh subjek- ngetahuan bahwa berbuat zalim adalah jahat yang bisa diketahui
u.rtl u{ yuttg berbecia.is2 Pengetahuan seba gai tolak-ukur kesem- melalui rasa sakil Pengetahuan tersebut adalah dlnrfin yang ada
purnaan akal, antara lain, rnencakup: (1) pengetahuan tentang secara ibtidi'anyang dimiliki oleh orang yang berakal bukan ka-
teadaan (w) ataukesadaran diri, seperti keadaan berkehendak rena keberadaannya sebelum diperolehnya pengetahuan PerseP
dan tidak suka; (2) tentang keadaan realitas fisik dari segi persa- tual, melainkan karena pengetahuan-pengetahuan yang menda-
f,naan dan perbedaan dan kemustahiian berada di dua tempat huluinya bukan merupakan cara untuk memperolehnya'18e Dengan
pada waktu yang sama; (3) tentang sebagian tindakan moralitas demikian, pengetahuan diperoleh melalui pemahaman langsung
jahat (muqabbafufitJ, yang baik (mufonssanfrt), dan kewajiban yang
brhadap pengalaman-pengalaman partikular. DaXam konEks epir
dikategorikan dalam bahasan tentang " keterkaitan tindakan dan temologi etika, hal itu sejajar dengan apa yang oleh C.D' Broad
pelaku; yang sesunggutlnya berkaitan dengan penilaian moral disebut sebagai Milder Form of Intuitionism about Ethical uniaersal
Qnoral assessments; abk6m al-fi'l);tl3 (4)
pengetahuan tentang moti-
ludgements.ls Pengetahu an dharfirt,sebagaimana tarnpak dalam
vasi-motivasi {daut6't} sebagai dasar bagi pernahaman tentang
luthf.t* Menurut 'Abd al-Jabbdr, pengetahuan dhnrfrri bersifat alJabbar, Al-Mughni fi Ahwitb alTawfiid wa al-'Adl, Juzxll, hlm. 46. Lihat juga Machasin, A/-Qadi
'Abd al-Jabbar..., hln.124-127 .

1s 'Abd alJabbdr, Al-Mughni fr Abwdb at'Tawfiid wa al- Adl' Juz Xll, hlm. 375
'rEt
,bid.
1e /bid, hlm. 356.
1e lbid., hlm. 51.
187
lbid., Juzxv,hlm. 352. Agaknya karena alasannya yang sarna, al-Baghdadi menyebut al-lIm adir
1s ,Abd al-Jabbir, Al-Mughni fi Abwab at-Tawhid wa al-AdJ, Juz Xl, h!m. 382-384; Syarbal-ushal al'
dhaniridengan ilmu/ pengetahuan yang kebenarannya mudah ditenma akal (badihi \, baik dalam
l$ramsah, hlm.51.
hal alirmasi sesuafu atau negasi, dan yang inderawi (!issi). Lihat al-BaqhdAdi , Kttttlt Ush4l ad-Din'
1il lbid, hlm. 385. trlhfadalah'ungkapan tentang sesuatu yang keberadaannya menyebabkan s+ hlm.8; A.J. Wensinc*, Ihe Mus/im Creed, hlm. 252; T.J. De Boer,'Nazhaf, dalarn C.E. Bosworth
kewaliban
seoiang memilih sikap untuk melaksanakan-atau rnenyebabkannya lebih dekat kepada- (ed.),The Encychpaedia of tslam, Vol. Vll, (Lieden dan New York: E.J. Brill' 1993)' hlm' 1052'
?dnf;n
dan #ninggatkan hal-hat yang jahaf. Lihat,'Abd al-Jabbir, Mutasy&bih Al-Qul6n, ed. r& George F. Haurani, lslamic Rafionalism, hlm. 21
Zaz0r, Dir al-Turits, t. th.), hlm, 45. Oleh karena itu, ft,'thf be*aitan dengan
Muhammal {eairo:
Al-Mugh ni fi Abw?tb at-Tawbid w a al-?dl, Juz Xll, hlm. 66.
pemahaman motivasilindakan dan upaya nemaharni hikrnah Tuhan, sebuah pendasaran Mu'tazilah 'e'Abd alJabbar,
'AM
Lagi doktin tawbid, ash-shaldh wa a!-ashlah, dan konsep terhait lain. Pengetahuan, menurut 1s George F. l-lounni, ls/amic Rationalism, hlm.?2.
dari lulhf Tuhan, yang dikhususkan kepada orang beriman. Lihai, 'Abd
al-iabbirr, merupakan bagian
F
106 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabb6r 107

klasifikasi di atas, juga diperoleh melalui kebiasaan ('6dah) dan kret, sebuah proses analogis yang tidak hanya menjadi wilayah
pengalaman/ percobaan (taj ibah).ler pengetahuan dharfiri, di mana obieknya merupakan fakta seder-
hana, sebagaimana dijelaskan di atas, juga menjadi dasar logika
Dari pemerian di atas,'Abd al-Jabbdr merunut secara logis
bagi pengetahuan muktasab y ang obleknya merupakan fakta yang
proses terjadinya pengetahuan. Pengetahuan manusia semula ber-
kompleks, sebagaimana pada istidlil bi asy -sy 6hid' ald aI- ghi' ib.
tolak dari pe ngetah:uan dharfiri y ang sangat mendasar; dari dalam
berupa kesadaran diri (self-consciousness),1e2 misalnya berkehen- b. Pengetahuan muktasab (acquireil knor.oledge).
dak dan lcre:nci (mh yafushul fnh mubtadd'an). Pada tingkat selan- Berbeda dengan pengetahuan dharitri, pengetahuan muk-
jutnya, manusia dapat memperoleh pen getahuan dharfri dengan tasab atau diskursif merupakan hasil aktivitas manusia melalui
memfungsikan organ inderawinya untuk menerima pengetahuan nalar atau refleksi (nazhnr) atau infererui (istidldl).1% Secara umum,
melalui rangsangan dunia luar atas fakta-fakta sederhana melalui pengetahuan diskursif dibedakan antara yang rasion al (' aqliyy dt)
idrkktanpamelibatkan proses inteleksi sistematis dan radikal (rnd dan revelatois (syar'iyydt atau sam'iyydt), seperti pengetahuan
yafushul 'an thartq). Pada tingkat lebih kreatif, pengetahuan ma- tentang Tuhan.les Sedangkan mengenai kondisi-kondisi, metode,
nusia sudah merupakan hasil dari upaya menghubungkan antara dan bagaimana operasionalisasinya dalam nalar akal budi
dua pengetahuan berbeda dan saling terkait, semisal pengetahu- maupun nalar atas fakta empiris dikemukakan dalam bahasan
an tentang @l (aksiden-aksiden pada subjek, seperti diam, ber- tersendiri. Dalam Syarb dijelaskan bahwa keyakinan menjadi
gerak, kualitas, kuantitas) diperoleh jika diketahui "wujud" sub pengetahuan (diskursif) karena beberapa hal: (1) berdasarkan
jek sebelumny a (mA yaji majrd athahaiq), karena aksiden-aksiden nalar atas dasar aspek (wajh) yang ditunjuk (2) mengingat nalar
tersebut bergantung pada wuiud. Dari konteks penentuan aksi- dan inferensi; dan (3) keyakinan muncul dari orang yang me-
den-aksiden (itsbdt al-a'rddh) ini pula, kita dapat menyimpulkan miliki pengetahuan tentang apa yang diyakininya. Abfi 'AbdillAh
bahwa terdapat distingsi antara (1) pengetahuan induk dan men- al-Bashri menambahkan dengan (4) pengetahuan yang diperoleh
dasar (ashl) dengan pengetahuan cabang (far), atau antara (2) dengan menghubungkan pengetahuan partikular dengan
pengetahuan-pengetahuan yang konkret dal-ma' 6if al-i aliyyah), kebenaran global; antara pengetahuan empiris dengan keben€u€rn
yang posisinya seperti pengetahuan induk dengan pengetahuan rasional, seperti rnodel deduksi, dan (5) mengingat dalitr.l%
abstrak yang mendekati posisi ilmu cabang.le3
Substarui epistemologi'Abd al-Jabbdr sesungguhnya adalah
Pengetahuan cabang bertolak dari pengetahuan induk seba-
pandangannya tentang pengetahuan muktasab. Oleh karena itu,
gaimana pengetahuan abstrak bertolak dari pengetahuan kon- pemerian tentang pengetahuan rnuktasab yang lebih mendalam
silAbdalJabMr Al-MughnifiAbw?tbat-Tawfiidwaal-ldlJuzXlll,hlm.6.Bandingkandenganal-
dikemukakan dalam sub-sub bab berikutnya, terutama bahasan
Baghdddi, ltf6b Ush0led-Din, hlm. 14, tentang al''uhn an-nazhariyyah.
tentang metodologi.
re K. Bertens membuatdistingsi antara pengenalan (ftnowledge) dan kesadann (consciousness). Ke
Klasifikasi pengetahuan menurut'Abd al-Jabhdr dapat
sadann dapat dibedakan antara kesadaran (conscrbusness) biasa yang dimiliki oleh semua makhluk
hidup dan kesadaran{iri (self+onsclousness) yang hanya dimiliki oleh manusia. Lihat K. Bertens,
dikonstruksi dalam tabel berikut:
Etfia, (Jakarta: PT Gnamedia Pustaka Uhma, 20@), hlm.52-53. Kesadaran dirimerupakan kondbi
awal bagi pengenalan manusia terhadap fenomena di luar alau di dalam dirinya, yang kemudian 1s /bid, hlm. 67--68.
disertai dengan proses penalaran.
1s'AM alJabb6r, Mutasylbih Al-QurEn, Juz I, hlm. 36,
r$ Lihat 'Abd alJabbdr, At-Mughni fi Abwilb at'Tawhid wa al-'Adl, Juz Xll, hlm. 154-155, dan lihat
t$ (Pseudo) AM alJabbdr, Syad a/-Ush1l al-Khamsah, him. 19'1-192.
kembali bahasan lentang konsep'aqL
108 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan
Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabbir

Tabel 3: Klasifikasi Fengetahuan


bisa diketahui, meski objeknya hanya satu.re8 Suatu objek yang
sama akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda tidak hanya
karena perbedaan perspektif, paradigma, atau conciptual frame-
rnork yang digunakan sebagai bagian dari perangkat metodologis,
tapi juga karena perbedaan aspek-aspek yang dapat diketahui
tentang objek tersebut. Objek itu sendiri adalah satu.
dengan cara semi+ara kesadaran diri 'aqlfuil syafiyydt
Atas dasar uraian di atas, berbeda dengan tokoh-tokoh
kesempumaan akal bukan kesempumaan akal
Mu'tazilah Baghdad,'Abd al-JabbAr menyatakan bahwa pengeta-
huan-pengetahuan pada dasamya tidak memiliki perbedaan fun-
damental karena perbedaan metode yang diterapkan, karena dalil
E. Bangunan Metode-metode "Keilmuan": (baca: metode rasional) setara tingkatkesahihannya dengan "in-
Rasional-Empirik strumen-instrumen"le dalam proses tindakan (baca: metode em-
pirik), sebagai sesuatu yang nyata. Ia merrconbhkan dengan nalar
1. Prinsip-prinsip Dasar Metodologis atas fenomena aksidensial yang berbeda bahwa orang yang me-
lakukan penalaran (nazhar) melalui sarana-sarana fisik sama de-
Sub-.bab ini mengemukakan pemerian tentang metode mem-
ngan orang yang melakukan penalaran melalui warna-warna
peroleh pengetahuan, isu terpenting dalam epistemologi. Sebe-
untuk mengenal Allah.200 Dengan demikian,'Abd al-)abbdr meng-
lum mengelaborasi konsep tersebut, dikemukakan prinsip-prin-
akui ada pluralisme metodologis bahwa keragaman ilmu penge-
sip dasar metodologis "keilmuan" 'Abd al-JabbAr.
tahuan menyebabkan keragaman metodologis, karena problema-
Pertama,karakter aktivitas keilmuan pada dasarnya adalah: problema yang berbeda menirayakan penerapan metodemetode
bersifat klarifikatif atau eksplanatif (tabayyun), bersifat verifikatif yang berbeda pula. F.S.C. Northrop dalam The Logic of the Scien-
dtafunqquq), atau aktivitas akal budi manusia (bashirah) untuk men- ca and the Hummrities merryatakan hul y*g sama, '1t is dre p'roblem
cari kejelasan (istibshir).1e7 Aktivitas keilmuan pada prinsipnya which determines the method. ...there will be as many different
adalah upaya pembuktian asumsi yang berbasis dalam istilah rientific methods as there are fundamentally differentproblem./'201
umum "keyakinan" (i' tiq 6d) melalui fakta-fakta objektif .
f$ 'Abd alJabbar, Al-Mughni li Abwdb at-Tawhid wa al-'Adl, Juzl, hlm. 191--192.
piuralisme metodologis. Ferbedaan pada pengetahu-
Kedua, is 'Abd alJabbir menggunakan istilah'instumen'(d/ah) hanya dalam pengertian fisikal, empiris atau
inderari, sebagainnna komentamya brhadap penyebuhn 'agldengan insfurnen (dlah) (lihat kembali
an-pengetahuan pada dasarnya disebabkan oleh perbedaan me-
uraian sebelumnya tenbng ini). Oleh karena itu, metode rasional sebagai suatu aklivitas berpikir
tode yang diterapkan yang tergantung pada dua hal: (1) objek pe- yarg absfak sama-sama diekuivaliditasnya derpan metode empirik melaluisemisal penginderaan.
ngetahuan, sehingga perbedaan objek yang dikaji meniscayakan m'Abd alJabbar, Al-Muhith bi at-Taklif, Juz l, hlm. 192. lrlenurut'Abd alJabb6r, keterkaitan antan
"instrumen'(ie/e[) dengan proses terjadinya tindakan sama dengan hubungan antan ma'eni
perbedaan metode yang diterapkan, cian (2) aspek-aspek (zaujfrh)
(kemampuan, pengetahuan, dan keinginan) dengan tindakan yang dimunolkannya, yaifu (1) sesuatl
pada suatu objek yang diketahui, sehingga perbedaan antarpe- yang harus ada sebelumnya dan tidak mesti bersamaan keberadaannya dengan tindakan, seperti
ngetahuan pada esensinya adalah karena perbedaan aspek yang busur panah ketika memanah; (2) sesuatu yang ada sebelumnya dan bersamaan tindakan, seperti
lidah ketika bertutur, atau (3) kebalikan dari yang pertama. Lihat [Pseudo] 'Abd alJabbdr, Sla{ al-
Ushil al-Khamsah, hlm. 409--410.
r1 Archie J. Bahm, 'What b 'Science'?", hlm. 13, (bagian yang diterbitkan ulang dari bukunya, Axblogy:
1e7 'Abd al-Jabbar, Al-Mughni fi Abwitb at-Tawhid wa al-'Adl Juz Xll, hlm. 16
The Scbnce of Values, (Albuqueque/New Mexico: World Books, 1980), hlm. 14--49.
110 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabb6r 111

Dengan pendasaran pada pluralisme metodr:logis tersebuf 2. Metode Nalar l{,asional2o6


metode-metode yang diterapkan pada semua ilmu pengetahuan
dalam pengertiannya yang sangat umum dapat dipetakan seba-
a. Istidlfrl bi asy-SyAhid' alh al-Ghh' ib
gai berikuh (1) metode habitus, ('Adnh, kebiasaan), upaya penhanr Metode rasional model ini sebenarnya dapat <lirnasukkan
feran, atau mirip hapalan yang ditransmisikan, sebagaimana yang dalam klasifikasi umum qiyds atau"deduksi".'Abd al-JabbAr mcn-
mendasari ilmu bahasa; (2) metode konsensus {muwddhn'Ah taa definisikan qiy d.s (analo gl) seba gai men ghu bu n gka n pc n gc tahuan
al+nuwhtha' ah) yxrgpada dasamya rnendekati metode istinbdth khusus / cabangffar) dengan pengetahuan pokok/ umun-r (ashl),207
baik analogi dalam bidang hukum (at-qiy6.s asy-syar'i) maupun
{3) metode ilmu yang mengandung unsur upaya pembiasaan se-
kaligus, seperti rnenghafal dan pengetahuan kredibelitas pentran- masalah-rnasalah yang diketahui dengan rasio (al-qiyas alt aqli).ror
misikltabar; (4) metode habitus yang hanya terkait dengan kelom- Dalam 9yarfo dijelaskan sebagai berikut:
pok profesi tertentu; (5) metode trial and error dan percobaan{taj-
ibah),yang disertai dengan indikasi dan hafalan, semisal kedok- d.I J..l cJi.I d;.l;ir! i'L+li {iJi td. l" # it-i.l jB'tl ,={+1.l" i, Li U lJ r:
tL Ji;.t *j$! Ulr rb U Lfi i[q,{ lll & r}i I rhl ,} S$ ei+,rl'J ,/.t*!S
l+
teran; dan (6) metode inferensi (istidlfrl\ danistinbdth.zo2
zos &I ../i.ld il+J.; tL! dF.I $I C+ lJL,
Ketiga, keniscayaan metodologis; pengetahuan tentang suafu
objek pada aspek yang sama dengan menerapkan metode yang Berdasarkan kutipan di atas, ada tiga macam pengetahuan:
sama/ menurut'Abd al-JabbAr, meniscayakan kesimpulan yang (1) pengetahuan rasional yang bersifat umum atau global, seperti
sama. Prinsip metodologis ini sering dinyatakan dalam bentuk pengetahuan tentang apa yang disebut sebagai perbuatan zalim
frase "atas dasar metode yang sama" {'aLd thariqahwkfuidnh).Pene- secara umum yang diketahui akal; (2) pengetahuan partikular
litian terhadap problema tertentu harus rnengikuti suatu prose- berdasarkan objeknya (bi' aynih),seperti pengetahuan bahwa per-
dul metodologis yang sama dan sampai pada kesimpulanyang buatan tertentu adalah zalinn atas dasar pertimbangan kejelekan
sama. Dari bahasan tentang "nalar menghasilkan pengetahuan" yang diketahui secara dharfi,rt; dan (3) pengetahuan analogis de-
{al-mzhar yuwallid al:ilm),203 bukan ketidakhhuan (jahl),2M prnsip ngan menghubungkan pengetahuan kedua dengan pengetahu-
keniscayaan metodologis yang menjadi isu sentral diformulasi- an pertama. Jadi, metode analogi merupakan metode yang valid,
kan sebagai berikut, (terjemahnya): yang disebut juga sebagai nalar rinci (an-nazhir al-mufashshalah)
dari pengetahuan global yang diketahui sebelumnya.
"...nalar terhadap bukti (dalil) suatu objek yang sama yang dilakukan oleh
semua orang terjadi dengan cara yang sama, sehingga dapat dipastikan bahwa Istilah istidlflIberlraitan dengan daltl. Olehkarena itu, istilah
apa yang dihasilkan dari proses tersebut tidak akan berbeda, karena jika benar terakhir ini akan dijelaskan lebih dahulu. Menurut van Ess, ada
bahwa cara tersebut rnenghasilkan pengetahuan bagi sebagian mereka, pasti
bahwa hal yang sama juga diperoleh oleh semua mereka.'ff m lstilah'metode nalar rasional" merupakan terjemahan dari istilah teknis'AM alJabbdrna zhar yang
sering juga diterjemahkan dengan "refleksi', "berpikir rasional atau diskursif, atau 'spekulatif.
Penjelasan rinci tenlaq nazhar lalah dikemukakan dalam J.R.T.M. peters, Godb creafed speech,
hlm. 57-€3; bntang perkembangannya sebagai terminotogi filsafat dan leologi, lihat T.J. De Boer,
e 'Abd alJabbar, Al-Mughnifi Abwdh d-Tawf;idwa d:Adl, JuzXVl, ed. Amin al-Kh0li, hlm. 307-308. 'Nazhaf, dalam C.E. Boswortr (ed.l, Encycbpaedia of tstam,yol. Vll, hlm. 105G-1052.
m Lihat ibid., Juz Xll, hlm. 67 fi. a7 lbrd, Juz XV hlm.
280 dan 320-321;J.R.T.M. Peters, Godb Crealed Speech, hlm.71.
s Lihat ibrd., Juz Xll, hlm. 104-115. ru /bid, Juz XV hlm. 280.
ru lbrd , Juz Xll, hlm. 1M; lihat juga Geoqe F. Hourani, ls/arnb Ralionalisn,hlm.24-25. m (Pseudo) 'Abd alJabbdr, Syad at-ushttat-Khansah, htm, 67.
Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabbdr 113
112 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan

al-JabbAr memandang dalfrIafr sebagai prinsip yang


'Abd
perbedaan mendasar pemaknaan daltl sebagai terminologS knlilrn
mendasari pengetahuaa nbukan dharfirt tentang segala hal selain
danfalsafah, van Ess mencatat2lo
yang sudah diketahui. Atas dasar ini, baik dalalah maupun dalil
'Now dali/ is not a proof in the Aristotelian sense of the word, an didefinisikan dengan (1-) sesuatu yang dapat mengantarkan orang
burh6n, aslhefal€sifa would have said; it is not a demonstration scheme, a yang menalamya kepada pengetahuan tentang yang lain, (2) jika
methodical set of argumentation like a syllogism, for instance, or an induclion; it orang yang membuatnya (tanda tersebut) menginginkan tujuan
is only a sign or an indication, in the literal sense of the word dalil We must be t mengimpl ikasikan
tersebut".21a Pernyataan bersyarat tersebu
clear about this, because the English word "proof (like the German word '8ewels")
is ambiguous insofar as it means not only the "sign" but also the whole argumen-
bahwa suatu tanda atau simbol-berdasarkan teori semiotika-
tation developed from it: the object one sees or the fact one observes and which adalah berm akna (meaningfuI) jika" dimaknai". Hanya saja,'Abd
one takes as a "proof for something to be proven, and the whole demonstration al-JabbAr menarik wewenang pemaknaan tersebut, dan dianggap
built up on this observation. The mutakallimhn, on the contrary, usually differenti- absalu ke pembuat tanda; wilayah pemaknaan yang menyempit-
ated between dalil, proof in the sense of a 'sign", and dal6la, proof in the sense of
scheme and a structure."
Akan tetapi, bagaimana orang lain dianggap sah memberi pe-
maknaan, sedangkan ia tidak mengetahui maksud sebenarnya
Berbeda dengan burhhn (bukti, demonstrasi logika) para pembuat tanda? Oleh karena itu, pembuatan tanda harus berada
filsuf, dalil di kalangan mutakallimftn pada umurnnya, berdasar- dalam pemaknaan yang umum dan tidak menyimpan& yang se-
kan kutipan di atas dan keterangan Kraemer tentang pandangan sungguhnya memberi wewenang orang lain untuk menafsirkan-
as-Sirdff terhadap rasio teolog Islam,211 tidak dibangun di atas nya. Dengan persyaratan pertama, turunnya salju pada masanya,
kriteria-kriteria formal yang ketat sebagaimana pada logika misalnya, karena tidak mengantarkan pada masalah kenabian
Aristobles. Tetapr, berbeda dengan van Ess, penulis menganggap Muhammad, tidak disebut sebagai dilAhlx. Berbeda dengan itu,
dnlfl-meski tidak terikat dengan aturan formal logika-masih Al-Qur'an dalam konteks tersebut bisa dikatakan sebagai daltl,
tepat dite4emahkan dengan "bukti" dalam pengertian sumber karena bisa mengantarkan pada pengetahuan tentang kenabian.
referensi formal (yu.g secara hierarkis: akal, Al-Qur'dn, sturnah, Dengan persyaratan kedua, jejak seorang pencuri, meski dapat
dan ijmA'),212 sedangkan "bukti" sebagai "tanda" (slgn) merupa- dijadikan "tarrda", tetapi tidak disebut sebagai "tanda", karena
kan terjemahan dari istilah lebih umum dill (yang lebih tepat tidak dimaksudkan untuk itu oleh pencuri.2ls
diterapkan dalam pengertian tidak ketat dalam Proses inferensi Dalam kerangka itu, salah satu metode penting dalam epis-
[istidl6l] dalam konteks ini). Diferensiasi mutakallimfin rmumny a temologi di kalangan mutakallimirn dan mendasari metode ra-
yang dimaksud di atas adalah antara yang penanda atau tanda sional'Abd al-JabbAr adalah "inferensi dari yang konkret ke yang
{d6ll, dalil, sign), oblek yang ditandai (madl,itl (alayhl, signifed), abstrak" (istidlill bi asy-sydhid 'al6 al-ghi'ib). Metode ini telah di-
penandaan (dnl6lah), dan proses inferensi (istidl6l).213 rintis oleh beberapa mutakalim sebelum 'Abd al-Jabb6.r, antara
tairu oleh AbO al-Husayn al-KhayyAtfu AbO'Ali dan Abfr HAsyim.
Abfr HAsyim sendiri menulis satu bahasan tentang itu dalam al-
2r0
Josef van Ess, TheLogical Strudureof IstanicTheology,hlm,26. 'Askaiyydt. Abfr HAsyim menyebut metode rasionai ini dengan
at Lihat Joel l-. Kraemer, Hunanism in fhe Reanaissanc€ of Islam: The Cuftural Revival duing the
BuyM Age,(Lieden: E.J. Brill, 1986), hlm. 113, catatan kaki 25. 211
(Pseudo) 'Abd al-JabbAr, Syakal-Ushil al-Khamsah, hlm. 87.
ztz (pssudo) 'AM alJabbdr, Syat al-Ushhl al-Khamsah, hlm. 88.
ets (pseudo)'Abd al-Jabbir, Syart alushlt al-Khamsah, hlm. 87--88.
2r3
Josef van Ess, Itre Logical Strudure...", hlm.26.
114 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabbir 115

"inferensi dari yang diketahui ke yang tidak diketahui" (istidlhl melalui perbuatan-perbuatan-Nya, misatrya, merupakan ben-
bi al-mn'lftm' al6 md tr6 yu'Iam), karena yang konkret adalah sesuatu tuk analogi dari pendasaran Pada kenyataan konkret bahwa
yang diketahui danyang abstrak adalah sesuatu yang belum di- perbuatan hanya terjadi dari manusia yang mamPu melaku-
ketahui. Yang abstrak tersebut tidak dapat diketahui tanpa peng- kannya. Kesamaan antara yang konkret dan abstrak adalah
kondisian, rnelainkan deng.rn thartqalal-ijr|' wa al-laaml yang oleh pada cara mengetahui pengambilan keputusan; kemampuan
'Abd al-JabbAr disebut dengan istidlil bi al-ma'lfim f mh baynand dipastikan secara logis karena keabsahan tindakan. Metode
'aI6 md huwa gh6'ib 'annd". Istidlill mungkin dilakukan jika ada ini mendasari pengetahuan tentang sifat-sifat Tuhan, terutama
hubungan (ta'alluq) antara dalfl danmadlfrl. Meski demikian, tidak tawbtd,salah satu pilar doktrin Mu'ta"ilah. Dalam fiqh metode
berarti bahw a " tanda" dalam hakikat dan esensinya harus sesuai ini disebut qiyds ad-dal6lah.
dengan yang ditandai sehingga daltl dart madlfrl harus berbeda
(2). Inferensi atau analogi atas dasar kesamaan dalam sebab
dalam esensi.216 Ta'alluq, hubungan antara ilalil danmadlfrl, seba-
('illah\.2le Misalnya: konklusi bahwa Allah tidak mungkin me-
gai fakta yang harus sama-sama diperhatikan harus dilihat dalam
iakukan yang jelek karena pengetahuan-Nya tentang kejelek-
aspek tertentu, wajh at-ta'alluq. Suatu ayat Al-Quy'an, misaLrya,
annya ditarik atas dasar sebab atau alasan yang sama bahwa
sebagai tanda atar daltl untuk perintah-perintah yang diderivasi
manusia juga tidak melakukan yang jelek jika telah mengeta-
darinya hanya mungkin diinferensi karena zrajh at-ta' alluq bahwa
hui kejelekannya. Metode inferensi model ini diterapkan untuk
Allah adalah bijaksana dan hanya memerintahkan perbuatan baik
pengetahuan tentang keadilan (al:adl) Allah. Asy'ariyyah
dan melarangyang jelek. Jika kita menginferensi dari benda yang
menerapkanrrya untuk menetapkan sifat-sifat AUah sebagai
bergerak bahwa ada gerak, hal itu karena ada hubungan antara
sesuatu tambahan atas zat. Dalam fiqh dan nafowu metode ini
keduanya secara pasn;' al6 waih al<nujftb.2l7 Perbedaan esensi daltl
disebut qiyhs al:illah.
dan madlfrl dan hubungan antara keduanya merupakan adaptasi
'Abd al-jabbar terhadap pandangan Abff Hdsyim dalam al-l6mi' (3). Atas dasar kesamaan pada sesuatu yang sepertr'illah. Berbeda
ash-Shnghir dan pandangan Abfi 'Ali tentang ketidakharusan men- dengan dua tipe di ahs, inferensi ini tidak didasarkan kesama-
dasarkan pengetahuan diskursif pada pengetahuan langsung. an'illahmaupwr daldlalr. Di satu sisi, keadaan "berkehendak",
'Abd al-Jabbdr menekankan pentingnya fondasi-fondasi daltl misalnya, dapat diketahui secara dharfii dalartkesadaran kita.
(usfrl al-adillnft) yang dijelaskan dalam Ta'ltq al:Umad untuk meng- Hal itu disebutbahwa kita telah "menetapkan" (fuuktn, judge-
counter Ibn' Abbad. Dengan methat hubungan tersebu! inferensi
2te '//lah adahh sebab ahu alasan yarB mendasarisuatu penehpan kesimpuhn ahu kualifikasi(!ukrn),
dari konkret ke abstrak, yang sebenarnya juga diterapkan dalam
sehingga keberadaannya menentukn kemungkinan penetapan kualilikasi tersebut ([Pseudo] 'AM
analogi fiqh dan nahwu, mencakup empat tip",ttt alJabbir, Syafral-lJshll al-Khansah, hlm. 273). 'lllah harus memenuhi knlena ath-thard wa al'
'al(s (ko+kstensivilas dan ko+ksklusivitas). Afh-lhard (ko+kstensivitas) berarti bahwa suatu 'ii,,afi
(1). Inferensi atau analogi atas dasar kesamaan dalam hal penun- mungkin diterapkan pada semua kasus-kasus partikularyang ditunjuk oleh dalil, dan harus mun'akrs,
jukan (dalAkih). Kesimpulan bahwa AUah adalah Mahakuasa kocksklusivitas dalam pengertian: menybihkan setiap kasus hin yang memiliki ',/aD yang dimaksud,
dan ketika 'ifiah tidak ada. kualifikasi tidak dapat ditetapkan. Gerak, misalnya, merupalcan 'r'it/ah pada
benda yang bergerak. Lihat, Josef van Ess, Ihe Logical Structure.., hlm.39; 9yafial-Ushfil al'
uo 'Abd alJabb6r Al-Muhfth bi Khansah, hlm. 205-206. An-Nasysylr menyebul kriteria pertama dengan 'the method of agre+
at-Taklff, Juz l, hlm. 169.
menf (ftrariq at-talezum fi al-wuqi) dan kriteria kedua dengan'method of differene" (thariq at-
2n lbki., hlm.55; Josef van Ess, Ihe Loglcal Structure, hlm. 27.
takhallutfral-wuq?).Lihat'AliSdmian-Nasysydr,Mandhfal-8aits,hlm. 110-113. Mesidalh{hard
rt 'Abd alJabb'r Al-Muhith bi at-Taklif, Juzl, hlm. 167-168; Muf;ammad 'Abid aHabiri, Bunyat al- (ko+kstensivitas) merupakan qae,l'iilah, temyata 'Abd alJabbir memandangnya tidak berlaku
'Aqlal-'Arabi..., hlm. 155-157; Machasin,AI-Qadi?bdalJabbar..., hlrn.62-$3. bagisernua illah. Lihat'AM alJabbar, A/-Mughni fi Abwab afTawbidwa al''Adl, JuzXY, hlm.357.
116 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan
Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabbir 117

ment) slfat atau atribut pada subjek berdasarkan kenyataan


orflreiov, rnadlfrl dari oqpeu6v atau olpalvop€vov, d,an dulfilnh atau
konkret dengan indikasi perbuatan-perbuatan yang dilaku- istidlill dari oqpeirois . anak kalirnat bersyarat yang scring
kan. Di sisi lain, kita mengetahui sahnya menetapkan hal yang
4igunakan "jika...(daltl). ... (madlfrl)"' dalam logika Stoa cliscbut
sama pada yang abstrak (Allah SVW.) sehingga dapat mena-
ouvppdvov dari ouvcrrvol untuk menghubungkan-z2r Istidlul hi
rik kesimpulan dengan menetapkan sifat atau atribut tersebut asy-syilhid'al| al-gf ib selain memperoleh inspirasi terminologi Al-
bahwa Allah berkehendak. Pada dunia konkret pengetahuan
Qur'an {'frlim al-gayb uta nl-syahhdah), juga sangat mungkin
tentang itu diperoleh secara dhnrfirt, sedangkan pada dunia merupakan terjemahan Arab versi Galen dalam On Medical Ex-
abstrak pengetahuan tersebut diperoleh dengan dal6lah. perience (yang semula terjemahan Hunayn ibn Ishaq) dari Al-
(4). Inferensi atas dasar bahwa pengambilen kesimpulam yang Mughnt f Abwfrb at-Tawhid tna al:Adl,Avoolopopbs '2n
sama pada dunia konkret untuk diterapkan pada dunia abs-
b. Penolakan terhadap Mafhfim al-Mukhfrlafah
trak dianggap lebih logis, /ang dalam fiqh disebut qiy6s al-awl6.
'Abd al-JabbAr menolak istidlil bi daltl al-khitdb atau yang
Zhnnn dan pengetahuan/ menurutnya, memiliki kredibilitas
lebih dikenal dengan maJhfrm al-mukhhlafah, yaltu menetapkan
sumber yang sama-sama diakui untuk mengetahui kebaikan
sesuafu yang tidak disebutkan dalamteks dengan nalar logis se-
tindakan-tindakan yang dasamya adalah utilitas (kemanfaat-
bagai kebalikan dari pengertian teks" Penolakan terhadap keab-
an dan kemudharatan).lika suatu tindakan dapat dinilai se-
sahan metode nalar teks tersebut diforrnulasikan'Abd al-JabbAr
cara moral betdasark an zhann, w.ara inferensial penilaian yang
dalam (BayAfl Mutasyilbih AI-Qur'6n: "menyebutkan sesuatu se-
sama berdasarkan pengetahuan secara logika adalah lebh valid.
cara khusus tidak menunjukkan penetapan negasi bagi yang lain"
Jika menyuguhkan makanan kepada seseorang yang atas
(takhshis asy-syai' bi adz-dzikr lh yadullu 'ald hukrn md 'adih atau,
dasar perkirakan (zhann) dianggap sebagai perbuatan baik,
seperti dalam Syarb takhshtsh asy-syai' bi adz-dzikr 16 yadullu 'alfr
melakukan hal yang sama atas dasar pengetahuan ('ilm) ada-
nafy md'AdAh). Oieh karena itu, metode tersebut tidak diterapkan
lah lebih logis untuk dikategorikan sebagai perbuatan baik.
dalam wilayah teolosi maupun hukum.D Malhfim al-mukhdlafah
Metode tersebut mempunyai kemiripan dengan metode in- atau daltl al-khithAb di kalangan Sydff iyyah meliputi: sifat, pem-
ferensi AbO Ya'lA al-Hanbaliyang mendasarkannya pada empat batasan (bashr|,syarat, tujuan (ghiyah), dan kuantitas.za Oleh ka-
haf yaitu' illah, batasan, pembenar (validasi), dan dalil Jika yang rena itu, dalam konteks metode tersebut al-JabbAr tidak se-
pertama disebut qiyhs al:illah, darr yang keempat disebut qiyds "dbd
cara konsisten dalam fiqh (asy-Sy6f i), tapi menunjukkan kon-
ad-dal6lah, maka yang kedua dan ketiga adalah apa yang disebut sistensinya dalann teologi (Mu'tazilah). Keinginannya untuk ber-
oleh'Abd al-Jabbdr sebagai "apayarrg berlaku seperti 'illah'.n0 pindah dari madzhab asy-SyAfi'i ke Hana{i, sebagaimana pernah
Kenyataan ini menunjukkan bahwa corak kalim pada umurn-
nya bersifat Mu'tazili dari segi metode, meski ada proses adopsi 2i Josefvan Ess, Ihelogical Strucfure.,., hln.27-28.
dan adaptasi. Bahkan, van Ess menarik metode inferensi mutakal- 2lbid., him.35.
limfin tersebut dari akar sejarah logika Stoa, tidak hanya dalam m Abd ai-Jabbir, Mutasyirbih Al"Qur'dn, Juzl, hlm. 48; (Pseudo) 'Abd al-Jabbir, Syafu al-Ushil al'
sistem, tapi juga dalam terminologi.Daltladalah terjemahan dari Klrarnsah, hlm. ??3; Machasin, Al-Qadi'Abd al-Jabbar, hlm. 83. Lihat penerapannya ketika me-
ngomentari O.S. Al-Baqarah (2): 2, lihat, Mvfasy.ibln, hlm.48) dan Q.S ALMulk (67): 3, lihat, Syad
ai-UshAi aLKhansah, hlrn. 356).
a Muhammad 'Ab,id alJ6biri, Bunyat al-'Aql al-'Arabi.., hlm. 157. 21 Lihat Muhammad 'Abid ai JAbiri, Bunyat al-'Aql al-'Arabi..., hlrn.61.
I

Konstruksi Pemikiran Epistemologi


Abd al-Jabb6r 11 I

Epistemologi Kalam Abad Pertengahan


118 ya i trt si k r-
silogisme dislungtif'zzz
sebagian teolog menyebutnya (seperti "baik "
disampaikan kepada gurunya'
AbO'AbdillAh al-Bashri' memiliki yans memp"'i;;t t"i;l# g:ngtif
gisme karena rtu'
tersebut' dua premis nya'"t Oleh
hubungan dengan p"ttotututt metode maupun.. .") untuk 'utu ut^" analogi ini' pada
meski'Abd al-|abba' dd"k menielaskan Prosesdi atas' metode ini
c. As'Sibr wa at-Taqstmw prinsipnya, sebagaimana terlihat
dari contoh
menyebut me- mernbatasi beberapa kemung-
'Abd al-|abbdr sendiri tidak secara eksplisit ierdiri dari dua l"^g;;h;itu
(1)
terutamaketika menolak p"*!"?lan/ penafian kemung-
tode ini. Tetapi, dari uraianteologisnya'
ia menerapkan metode ini kinan (futshr or o*'iiii )' iu" tzjt',**,:*gkah inilah mungkrn
pandangan teologis aliran alirarilain' kinan yang tidak rcg!'y'y1t!
untuk memperoleh pengetahu- dengan istilih al-itsbdt
wa an-nafy
sebagai metoau rurio,tut-u"Aogis
dan membagi) di- yang d.imaks.ta 'eui ui-Jabblr
an. As-Sibr wa at-taqstm (mempertentangkan
terapkan a".g* *J"y"i-"-*utt
tu*t'a kJmuttgkinan (A' B' c'" ') (afir-masi dan ne gasi)'230

sebagai solusi t"'nulJf tttatu


hf' kemudian mengeliminasi ke- d. Al'llz dm: Argumentum ail hominem
tinggal satu digunakan untuk membantah
mungkinan-t"-rrr.gtil* tersebut sehingga l*yu ter- Metode rasional ini umumnya de-
ilffi.'Abd al-]ibdr sering *""y"9lean kemungkinan paham teologis l"it;;;'" t*t"
s"ederhana menyebuhya
suatu
min "' (ndaklepas dari kemung- (b{Yu penerimaan terhadap
sebut biasanya dengan td y akiltt ngan "konsuk"u*i iogi'"
imm|(adakalanya' " atau ada- p"'[tp n1ut" 1pt^ungkinan) berkonsekuensi
kinan. . ), atau immi a' y ok':'''''*a
.
kemungkinan
kalanya. . .)' M"ttd; i"i eit"'uptt"'
misalnya' ketika membantah "ta'
secara logis pudu tJiu*'urr
m"""'ima suatu/beberapa kemung-
pandangan nUt urdast*
p""g:tahuan inferen-
tt*;' ;;"; sering diungkapkan u""gT'li1
"i-g"lkhi lu$o kinan lain yang rm
fiiGi;;iriaao-*"ri a*".ur,"i dengan inferensi pula dan lnzimn, alzama, d^^'";;l^;;ii''
o'1oii'.wt"nurut Peters' metode
asional
anoii i"t"s dengan dhnrfrtt Persoalan tersebut :;;;;o'h .o1 sur dum' Me tode r
;;;;"1i"". bntang AllahSWT' yang iu ga bi sa disebut E;; tesis lawanyang
o a.b
ingrn diban-
berimplikasi pada afakah p"rrg"Lhttun ini diterapk"t d"#;;;"guaop"i
p"ngetahuan muktasab' di akhirat konklusi-konklusi lo gis
di dunia me*putu'iUugt* a*i tah, kemudiut' m"'iu'it
daritesis tersebut
bahwa
Ia diketahui dengan *i'ktosob utut
itto'A't' 'Abd al-iabbdr mem- tf"t' lawan' baik karena alasan
yang tidak dapat iti"n*" bertentangan de-
al-Balkhi' bahwa pengetahuan
bantah pana*gu" Ab0 alQasim konklusi ter'"b"t ;;;;;J utt"
kut""u
ini: Dalam menerapkan metode
U" tsrtat dhnrfii dengan metode
tentang Allah SWT' ai "ntit"t ngan doktrin '"las-ielas
dri ilr "t";;;;; '""ai'i'"'
menggunakan istilah syubhah
atau
l-,iA ii 14 :ul .-, cd t'A 1 u)r
+ u s' r+rtr {ri dts ini,'Abdal-Jabbdr
J,,J':'ilr;i 6'G''o'.'ll
'{J.! +1J1,:{ t rvu'Ji''lJ'Ii
i" ')sl cr J'itl'':'l u' ketidakjelas* u"*t'"'i"g
menJ'ebut argumen-argumen
lawannya'232
.l .1. ..v-n r
dlb ,,i;-^t;Li*l
t:jT1'S 'r"Jvl Jri'i'J lrix el'J'r'r
-+l ,1 f)i,v'r+
iffi*]lj *'grur* :r'd
.

ircr' ;I* t'rJ u4s q1 tt'su -


;i )! i+ F,eF dl'ii' "'g[5rr oi .^lii, ;L i -s52; t ir.p z? 'Ali SAmi an-Na sysylr, Man€thij al-Bafts'
hlm' 114'
-' lo Logrb' hlm' 27'
2s Lihat Patick J' Hurley, A Concise tntrdudion
iniorisinal dari
'Ali Sdmi an-Nasysydr menganggaP meto{e pAli Sdmi al'Nasysyir, Mandhu al-Bafts' hlm 114'
(Pseudo) 'Abd al-Jabbar' Syafial'
kalangan *utot'atif*in, bukan
Jari togika Aristoteles' Namun' 23o
J.R.T.M. Petea' Godb
C"ut'O Sp'"tr'' hlm T3 Bandingkan
l,)shlt at-Khamsah, hlm 98'
Created Speech' hlm
74-76'
menyebuhya dengan ar Lihat lebih lanjut dalam J R'T M Peters' God's
6 ess' e*e1l1ffr9hre hlrn 394-396)
Peten dengan mengutip Josel van speecfr' hlm 72'
metode tagsim ahu qotffitilg;;j' J n'r'r"r' eteo' God's Creafed m bid.
58'
zs (Pseudo)'Abd alJabbdr, Syad al- tJshlt al-Khamsah' hlm
Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabb6r 121
120 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan

antara objek dan subiek cukup iauh, ( ) objek yang dilihat terlalu
3. Metode Fengamatan Empiris
kecrl (iqqah/lathtfah), (5) indera penglihatan yang tidak sehat.23s
Abd al-JabbAr sering menggunakan istilah musydhndahtn-
tuk pengamatan dengan indera. Istilah idrhk lebrh tepat diarti- 'Abd al-Jabbdr mengembangkan analisis lebih iauh dengan
menetapkan tiga hal, yaitu " *bab" ( illnli,"sebab langsung" (sahab),
kan sebagai persepsi, baik terhadap fakta-fakta empiris mauPun
rasional. Namun,'Abd al-Jabbdr menggun ak an idrdk lebih cen- dan "kondisi atau syata(' (syarth\. Menurut Anthony Keith Tuft,
derung dalam pengertian pengamatan inderawi. Oleh karena itu, tidak adanya sesuatu yang menghalangi penglihatan adalah yang
istilah terakhir ini mencakup pengertian ru'yah (pengamatan de- dimaksud'Abd al-Jabbdr dengan' illah. Berfungsinya organ peng-
ngan mata atau melihat)" jika idrdk disertai dengan katabashnr.
lihatan secara sehat tampaknya dapat diidentifikasi sebagai
"sebab langsurrg" (sabab). Identifikasi ini ditopang dengan analisis
Sebagaimana dikemukakan, menurut'Abd al-JabbAr, pengamat-
terhadap metode logika'Abd al-JabbAr. Suatu "sebab langsung"
an empiris, meski bukan merupakan mt'n6, adalah titik-tolak pe-
ngetahuan sebelum fakta yang diamati dikonstruksi oleh rasio.
(sabab),menurutnya, dapat diketahui melalui efeknya yang pasti
tidak ada atau terjadi jika ada sebab yang mendahuluinya. Keber-
Meski pengamatan inderawi terhadap fakta-fakta empiris dapat
adaan objek yang ingin dilihat disebut sebagai "syara{'.236 Pert-
dilakukan melalui semua panca indera, uraian yang dikemuka-
jelasan Anthony KeithTuftdalam konteks itu tidakbegitu akurat.
kannya lebih menekankan pengamatan melalui penglihatan
Dalam Sy arb penglihatan terhadap suatu objek adalah mungkin
(ru' yah)yang mungkin karena bersentuhan langsung dengan isu
jika ada dua haf yang disebuhrya sebagai " syata(' (1) syaratyang
teologis.
terkait dengan subjek, yaitu kesehatan indera penglihatan, dan
Kritik terhadap kalangan Asy'ariyyah tak ragu lagi tentang (2) yang terkait dengan objek, yaitu ada hubungan foukm (pene-
ru'yat All6h (melihat Allah) menjadi karakter yang kuat mewamai tapan posisi) antara objek dan subjek. Penetapan posisi objek bagi
bori'Abd al-|abbdr bntang "penglihatan' (uisual theory). Kithb at' subjek tersebut didiskusikan dalam teori visualny a tentang muq6-
Tawallud AbO Hdsyim tampaknya sangat memPengaruhi basis balah (oblekyang dilihat berhadapan dengan orang yang melihat-
argumen'Abd at-Jabbdr tentang itu.233 Ia memberikan ketentuan nya).u'
umum bahwa suatu objek dapat dffiat jika: (1) tidak ada yang
Berbeda dengan Atlah SWT., objek yang dapat dilihat de-
menghalangi pengliha tan (irtif6' al-mawdni' ); (2) organ penglihat-
ngan indera penglihatan harus menempati salah satu posisi, yaitu
an (fopssah) dalam keadaan seha! dan (3) objek yang ingin dilihat
(1) objek berhadapan dengan subjek (muqdbil); (2) sejajar dengan
harus ada.ry Yang menghalangi penglihatan bisa berupa: (1) dit -
objek yang berhadapan tersebut dengan subjek (f foil\al-muqdbil);
ding atau penghalang langsung @ijib) atau (2) posisi objekberada
atau (3) objek tersebut dianggap berhadapan dengan subjek.
di luar arah penglihatan tS jihah ghaqr mufopdzhh), yaitu tidak me-
Dalam Syarfuw kettea hal tersebut secara eksplisit disebut sebagai
nenrpati salah satu di antara 6ga posisi objek (dijelaskan dalarn
"syara{' . Posisi pertama adalah ketika objek yang dilihat berha-
uraian di bawah). Objek juga dianggap terhalang jika (3) jarak
e Anthony Keifi Tuft, Ihe Orpins, hlm. 2@-206; (Pseudo) 'Abd aLJabbdr, Syad alUsh 0l al-Khamsah,
hlm.257-258.
a Anthony Keifr Tut\ The Origins and Development of the Controversy Over Ru'ya in Medieval lslam
m /bid., hlm" 178-'t79.
and lts Relation lo hnlempwaryVisua/ Iheory, (Los Angeles: Univenity of Califomia, 1979), hlm. 87 (Pseudo) 'Abd alJabb6r, Syaft
a/- llsh[tl al-Khamsah, hlm. 250.
177. e /bid., h|m.249.
2a 'Abd alJabb6r, Mutasyitbih Al-Qur'6n, Juzl, hlm. 323.
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabb3t l.'l
122

dapan langsung dengan arah mata subjek yang


melihatrya' Posisi a. Sofisme (radikal) yang menafikan rcttlit,ts tl,ltr rt'tt1'.+,1+llrttirrr
kedua adallah sepurdposisi warna buku, misalnya'
di mana kua- dalambenfukapapun{ i;"elc )ri,Ji;i'r u ). I)'rl'rrtt Fl'|l:llita*i
de- ,Abd as-saldm dan Arnir, sebagaimana diktrtilr ( i,rt'rle.l rlirtr
litas aksidental yang iebenarnya secara inheren berhadapan
ngan subjek kuiena posisi buku itu sendiri berhadapan
dengan- Anawati, sofisme ini sama dengan nihilisme ('rniltt1t1iltl
t',iu. S"ut" objek dianggap berhadapan dengan subjek lf bulon b. sofisme yang diidentikkan dengan skeptisisme (alil asy srTrrA[)
bantuan
ai-muqdhit)iika kita, mGalnya, melihatw{ah kita dengan yang meragukan keberadaan realitas dalam segala st'sttaltt
hal ini, seperti teori visual
cermin. 'RLd alJabbdr menjelaskan (.;rrli.YJ6ri..r+.til.J"l;Y ). Apa yang dijelaskan oleh al-
23e
dengan cahay a (syu'6)
Euclidean tentang keterbalikan cennin BaghdAdi ersebut merujuk kepada agnostisism e (Id adnyyah) '
yurrg *u*untul li permukaan cermin secara terbalik (gan'akis)'
'Kl"til."
cahaya tersebut memantul terbalik, hal itu seperti
rnata c. Sofisme sebagai relativisme atau subjektivisme ('indiyyah)
melihat suatu objek secara langsung'24o kE ii$ol)l .." r.fiel l, .rih.i $ $t! tr # il .." fJ$elt1'{U ,ili','fiil )'
Ll slc,
241
( lrF
'Abd al-JabbAr, sebagaimana dikemukakan' menganggaP
penge-
metode empiris sebagai ko-ndisi awal untuk memperoleh Menurut William Montgomery Watt, tiga varian sofisme ter-
atas fe-
tahuan. trrtesti bukan-merupakan mL'n6, konstruksi akal sebutmerupakan pandangan filsafatYunani kuno yang muncul
bertolak dari pengarnatan pada awal ibad k + dan ke-5 SM, bukan penentang akif kal6m
nomena-fenomena empiris tentu harus
tersebut. y*g r"*u"a dengan para mutaknllimfin.' Inadiyyah, berdasarkan
Tu*ishkxicon Redhouse, adalah aliran Pyrrhonist (Pyrrho dari
HJn).LnadnWah@Hasy-syakk)lebihdekatkepadaaliran"Akademi
F. Kritik terhadaP SkePtisisnoe
Tengah".' Indiyy ahadalah aliran Protagoras (481 - 411 SM)' Tulis-
Literatur-literatur klasik kal6m, menurut Gardet dan an S"*to Empiricus bnfu saia memuat semua ifu.2a2 Apa yang di-
(pohsme)
Arnwati, banyak memuat kritik terhad ap Sfrfsthh'iyyah sebut sebagai "Akademi Platonisme" berafiliasi dengan skepti-
yang muncul iau* katy a-karyakalim, nrisalnya
al-Farq 'lanUshftl
sisme [lnho yang memPengaruhi masa Hellenisme akhir dan masa
aa-dnal-BaghdAdi , al-Fishallbtl gu'-, dan Syafu'al|'Aq6'id an-
Romawi.2a3 Masuknya pemikiran Hellenistik akhir memperoleh
N asafyyahieh at-taftaz6ni' Sebagai pandangan epistemologis' momentunrnya pada masa penerjemahan karya-karya Yunani se-
men-
uofi"ttu y*g bersikap skeptis terhadap realitas bercabang cara besar-besaran pada masa al-Ma'mOn. Mdtazilah merupakan
jadi beberap-i variant. Oleh karena itu, sebelum mengeksplorasi
teologi Islam yang secara intens dan pertama kali bersentuhan
model
kritik-kritik sistematis'Abd al-Jabbar, akan diidentifikasi dengan ide-ide tersebut"
sofisme/skeptisisme yang menjadi sasaran kritiknya' Al-
klasifikasi
Baghdaii dalam Kffib Ushil ad-Dtn mengemukakan
Sfifisth|'iyyah sebagai penielasan -tentang skeptisisme yang ber- 2ai
Al-Baghd6di, Klirb Ush}l ad-Din, hlm. 6; A.J. Wensict, The Muslin Creed, hlm. 251-242; Louis
Gardet dan M.M. Anawafr, lntrdudion a la Thfiologie Musu/mane, hlm' 376'
kembang seiring dengan perkemban gan knl6m: 24 William Montgomery Watt, Early lslam: Cotlecled Essays, (Edinburgh: Edinburgh University Press,

1990), hlm. 103-104, (pada bahasan 'The Logical Basic of Early Kaldm')'
ae An$ony Keith Tuft, Ihe Ongins, hlm' 232'
2{ Helmut Koestet, History, Cufture, and Religion of the Hettenistic Age, (New York dan Berlin: Walter
2{(Pseudo).AbdalJabbir,Syafial.lJshllat-Khamsalr,,hlm.24g.Lihatunaiandetildalam.Abdal. Ihe
Mustha€ HilmidanAbO al De Gruyter, 1987), hlm. 141-143. Lihat juga G.P. Kerferd,'sophisf, dalam Paul Edwards,
JabbAr, Al_Mughn enwao at_iaddwaal-,Adt,Juzly,d Mulammad
in Vll, hlm. 494--496.
Enc@topaedia of Phr'7osophy, Vol.
Wafi' al-Ghanimi atTaftazeni, hlm 64-69'
il
124 Epistemologi Kalam Abad pertengahan Konstruksi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabb6r 125

Kridk'Abd al-Jabbar terhadap sofisme dikemukakannya ke-


mendidik mereka (ta'dtb) adalah sikap yang paling tepat.2as Me-
tika mengkritisi pandangan bahwa realitas tergantung pada
data nurut AbO 'Ali dan AbCr Hdsyim, berdebat dengan kalangan sofis
inderawi (empirisisme), apa yang dibuktikan r".uru rlsionur
mu- adalah hal yang "mungkin" dalam pengertian sebagai aktivitas
lalui dalil (rasionalisme), dan pandangan bahwa rearitas adalah
akademis. Hal itu, tegas AbO'Ali, karena kalangan sofis hanya
apa yang dapat dilakukan (pragmatisme), serta pandangan
mate_ tidak mengetahui bahwa pengetahuan mereka adalah pengeta-
rialisme (zhahnyyah)f* Dua pasal pada XII al_Mulhni yang
luz huan yang diperoleh secara diskursif (iktisdb). Menurut Abfi
jelas merupakan kritik terhadap sofisme adarah
Fashrfibthiiqaznt Hdsyim, keyakinan kalangan sofisme, atas dasar kriteria sukfin
man y anfd al-fot q 6' i q (pasaltentang bantahan brhadappandangan
an-nafs, dapat diklasifikasikan sebagai "pengetahuan". Oleh
orang yang menafikan realitas) dan Fasht ibthil al-qawt bi inna
f karena itu, bantahan terhadap mereka harus dilakukan dengan
foaqtqat kull syay' md ya'taqiduh ar-mu' taqid (pasal tentang bantahan membuat distingsi antara pengetahuan yang dhnrfr.ri (langsung)
frhldap pendapat bahwa realitas segala sesuatu adahi apa yang dan yang inferensial.26'Abd al-|abbdr, yang tampak terpengaruh
diyakini setiap orang). Tampaknya tritit'Abd al-Jabba, *"--
oleh pandangan AbO Hdsyim, memulai kritiknya dengan meru-
pakan kritik atas dua moder sofisme di atas: (1) sofisme juk pada pengetahuan inderawi (mudrakit) yang mendasari pe-
sebagai
nihilisme ketika ia mendefinisikan karangurrrofi, sebagai kalang-
ngetahuan diskursif.
an menafikan realitas sama sekali ( ii;. .l+^iyl ,y dt orlit ) dr.r +.rrr-;-rl,
(2) sofisme sebagai relativisme ketika membantah pandangan Pengetahuan bertolak dari pengamatan inderawi, semisal pem-
bahwa realitas sesuatu adarah keyakinan subjektif. agnotisiJne bedaan hitam-putih, manis-asam, panjang-pendek, besar-kecil.
mungkin dikategorikan dalam nihilisme. Penolakan kalangan skepfis terhadap fenomena empiris tersebut
berarti penolakan terhadap apa yang sesungguhnya diketahui tan-
Pemerian yang akan dikemukakan dimulai dari yang paling panalar (dhnrfrri).2a7 Pengetahuan bertolak dari "asumsi" (zhann),
mendasar, yaitu kritik atas nihilisme. 'Abd al-)abbdr meilu*uti
sesuatu yang tidak secara jelas membedakan antara pengetahuan
kritiknya dengan mengutip pendapat Abfi aledsim al_Baftri (w.
dan perkiraan keliru seperti pada fatamorgana. Terhadap pan-
932) yang dikemukaka*ya daram Kit6b aI-Ar6' wa ad-Diy6)dt.
dangan ini,'Abd al-Jabb6r membedakan keduanya atas dasar kri-
Menurut al-Balkhi, berdebat dengan kalangan nihilis adalah hal
tena sukfin an-nafs yang tidak terpenuhi pada kekeliruan indera-
tidak diperlukan atau merupakan sikap yang keliru. Berdebat wi. Pada fatamorgana, menurutnya, persepsi inderawi sebenar-
hanya rnungkin jika didasarkan *grrro"r, dan
fengetahuan. Apa_ nya tidak salah. Akan btapi, kondisi-kondisi yang harus dipenuhi
kah mereka mengklaim adanya pengetahuurr-?
;iku *"r"ku pada suatu penginderaan yang menjadi dasar pengetahuan tidak
menafikan keberadaan pengetahuan, bantahan terhadap mereka
dipenuhi. Pengetahuan inderawi adalah fenomena yang tak bisa
tidak diperlukan. Sebaliknya, jika mereka bersikap ragrr, perta_
dibantah dan dijadikan dasar "aksiomatik" pengetahuan agar tak
nyaan mendasar yang dikemukakan: bagaimana *.*ti tut,,
terjadi apa yang disebut ad infinitum (iBbil md 16 nihiyah lahl.rnt
bahwa mereka bersikap ragu. oleh karena itu, menurut al-Balkhi,

2{ Penerjemahan 26'Abd
apa yang menjaditritik Abd alJabMr dengan ketiga aliran tersebut alJabbir Al-Mughni fr Abwlb alTawf;id w a at-'Adl,
tidak mengacu J uz Xl l, hlm. 4 1.
pada alinnaliran fibalat dalamsejarah yang
tentu muncuijluh sesudah,AM alJabMr Akan blpi, 2s /bld., hlm.42.
kritiknya sesungguhnya juga merupakan kritik terhadap ariran
tersebut, mesti sangat problematis 2at
untuk menyamakan begitu saja antan yang berkembang di dunia rsram lbid.,hlm.43.
o.n yangi.rkerb.ng oi
Barat. 20
/brd., hlm.45.
t
126 Epistemologi Kalam,Abad Pertengahan Konstruksi Pemikiran Episternologi'Abd al-Jabb6r 127

Kritik terhadap skeptisisme dalam bentuk relativisme ditu-


jukan oleh'Abd al-JabbAr terutama merujuk pada apa yang, ber- t/+j tArltq.[,/.r,U-. r+til-r,14$ drL.! O-f + -il)-.J &i q ,-{iblyl l.Jl S:...
y
dlhL .Jno1)l .t+ I ,.L.{ u"":+ l, sle rii'i ..rf ,,f .11o; irfu -lyYl;d- ur lr,,y nA i.il
dasarkan keterangan AbO 'Usm6n al-J6hizh, disebut seba ga asltfufib '
at-tajdhul (literal: "orang-orang yang berpura-pura tidak menge- ,u0.!rt,*d,l{
tahui") yang berpandangan bahwa "segala sesuatu tidak memi- 4). Seseorang tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa persepsi-
liki realitas pada dirinya sendiri atau pada reaiitas itu sendiri" nya sebelumnya tentang suatu hal adalah keliru atau sama
( t{iii- r t{..8 ,rr .tr^i}t liir ) cr). Relativisme identik dengan pandangan
sekali tidak mengetahuinya, karena by defntion persepsinya
tentang kebaikan atau kejelekan sesuatu secara subjektif (al- tersebut dianggap benar. Begrtu juga, ia tidak bisa berkesim-
istfusdn wa al-istiqb6fu). Berbeda dengan rihilisme, relativisme pulan persepsi-persepsi orang lain tentang objek yang sama
mengakui adanya realitas, meski tidak tergantungpada keadaan adalah keliru atau sama sekali tidak mengetahuinya.El
objek secara intrinsik, tetapi di luamya (subjek yang rnemper-
sepsi). Akan tetapi, secara substansial, keduanya tidak berbeda. Absurditas konsekuensi-konsekuensi tersebut, menurut
Kritik "Abd al-Jabbdr terhadap relativisme ini secara sistematis 'Abd al-jabbAr, dapat diketahui secara jelas. Jadi, dengan menun-
adalah dengan menujukkan kekeliruan-kekeliruan pandangan jukkan konsekuensi-konsekuensi logis dari relativisme, ditemu-
tersebut sebagai konsekuensi logisnya: kan sejumlah paradoksyang berdasarkancommon sense tidak da-
pat diterima.
1). Objek yang sama akan memiliki atribut yang bertentangan
ketika dua pertimbangan sufiektif tentangnya dikemukakan. 'Abd al-Jabbdr membedakan sikapnya antara persoalanhu-
kum dan teologi. Pada persoalan pertama, ia mengakui ada re-
2). Orang akan bisa mengubah keadaan objek hanya dengan lativitas pandangan madzhabmadzhab fiqh sehingga ia meneri-
rnengubah persepsi subjektifnya terhadap objek tersebut. ma formulasi yang beredar di kalangan ahli fiqh dan ushul al-
Bahkan, jika diterima pengandaian keliru itu, eksistensi dan fiqh: "setiap mujtahid adalah benar./2s2 Meski demikian, adanya
sifat Tuhan hanya tergantung semata pada keyakinarr kita relativitas pandangan, menurutrya, tidak menunjukkan bahwa
tentang-Nya. Formulasi yang menjadi konsep kunci dalam tidak ada realitas sama sekali yang bisa diketahui oleh semua
kritiknya terhadap relativisme adalah: "keyakinan seseor:rng orang. Jadi, pada persoalan ls tibsdn dan istiqbilfuada realitas yang
tidak berpengaruh terhadap keadaan objek yang diyakini" menghubungkannya secara inheren. Oleh karena ifu, seseorang
( $,i + t4.ill Ji3..l tt.*tiJ).24e tidak bisa mengatakanbahwa suatu kezaliman, yang kejahatan-
nya diketahui berdasarkan pengetahuannya, adalah baik.253
/Abd
3). lika tidak ada seseorang pun yang rnempersepsi suatu objek,
konsekuensi logisnya adalah bahwa o$ek tersebut tidak bisa al-Jabbdr, dengan b"grtu, ingin memberikan aksentuasi pada ke-
dikatakan ada atau tidak ada, abadi atau tidak abadi. Realitas adaan objektif dan intrinsik sebagai penentu realitas.
sesuatu tidak tergantung pada keyakinan subjektif, sebagai-
mana ilmu merupakan hasil inbrkoneksi antara "keyakinan",
afektivitas, dan korespondensi dengan objek. 'Abd al-]abbdr a /bid., hlm.49.
merrjelaskarurya sebagai berikut: 61 lbid., hlm. 47 George F. Hourani, ls/amic Rafionallsrn, h lm. 1 9;
;
-51
62 Abd alJabbAr, Al-Mughni fi Abwdb alTawfid wa al hdl, Juz Xll, hlm. 49

'?ae
/bid, hlm.48. a /bid , hlm. 50-51.
t

BAB III
IMPLIKASI PEMIKIRAN
EPrsrEMoLoGt'ABD AL-JABSAn
TERHADAP PEMIKIRAN ETIKANYA

A. Etika "Kritis": Sintesis Antara Esensialisme


dan Realisme
Bangunan pemikiran epistemologi'Abd al-JabbAr secara
substansial merupakankritik, antara lain, terhadap dua pandang-
an epistemologi, yaitu epistemologi Abff al-Huzayl al-'AllAf (w.
849), yang mereduksi pengetahuan menjadi kesadaran "keya-
kinan" subjektif semata, dan epistemologi Abfr alQdsim al-Balkhi
(w. 932) yang mereduksi pengetahuan sebagai fakta-fakta a n sich.
Dalam wilayah etika, model pertama muncul menjadi epistemo.
logi moral (etiku) esensialisme yang bersifat statis, ymg menjadi
target kritik Mu'tazilah aliran Bashrah, termasuk'Abd al-Jabbdr
sendiri. Al-Balkhi dan tokoh Mu'tazilah lainnya dengan pemikfu-
an epistemologi tersebut memapankan etika yang realis. Dengan
pengaruh sebagian tokoh-tokoh Mu'tazilah, beberapa tokoh
Asy'ariyyah, semisal al-Juwayni dan'Abd alQahir al-BaghdAdi
dengan mendefinisikan ilmu sebagai "pengetahuan tentang objek
sebagaimana adanya" (ma'ifat al-ma'Ifim 'al6 mhhuwa bih) yang
berimplikasi pada pembentukan realisme etika, sebenarnya juga
menjadi sasaran kritik'Abd al-JabbAr. Mu'tazilah Bashrah dalam
konteks kedua ini mengkritik ontologi etika aliran Baghdad yang
130 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan lmplikasi Pemikiran Epistemologi'Abd al-Jabb6rterhadap Pemikiran Etikanya 131

rigid. Kritik'Abd al-Jabbdr terhadap dua kecenderungan utama ini adalah baik sekarang". Kebaikan suatu tindakan tergantung
etika teologis masanya tersebut menjadi basis bagi etika "kritis"1 pada elemen-elemen yang membentuknya dan tak terpisahkan
yang dibangunnya. Kedua model kecenderungan etika (esensialis' darinya, unfuk mengatakanbahwa esensi moralitas tindakan ter-
me dan realisme) tersebut akan dijelaskan di sini dalam konteks gantung pada eksistensi tindakan. Reinhart mengidentifikasi
memperjelas posisi etika'Abd al-Jabbdr. nalar etika model ini sebagai esensialisme etika.2 Pertimbangan
moral {moraliudgement) remah-mata didasarkan atas ontologi tin-
Menurut A. Kevin Reinhar9 etika esensialisme al-'AllAf me-
dakan tanpa terkait dengan konteks di mana tindakan dilakukan
miliki karakter yang memandang ketidakmungkinan keterpisah-
sehingga dengan jelas menolak pandangan etika situasionalisme.
an kualitas-kualitas yang menjadikan sesuatu seperti wujudnya.
Tidak ada " ag)el" , menurut al-' Anef" yang dapat dikualifikasikan Al-Balkhi, figur Mu'tazilah Baghdad lairurya, al-]uwayni dan
"merah". Apel dan merah yang dikonsepsikan secara tak brpisalr- al-Baghdddi (Asy'ariyyah, yang sering dikategorikan sebagai ka-
kan. Suatu aksiden berada pada sejumlah atonn dasar sehingga langan voluntaris) bersifat realis dalam pengertian mempersepsi-
dasarlah yang menjadikan sesuatu sebagai "sebiji apel" dan aksi- kan nilai-nilai rnoral tindakan ketika dilakukan; hakikat tindakan
den-aksidenlah yang menjadikannya "agtel ini" yang rnemiliki merupakan titik-tolak studi mereka tentang teori etika.
hubungan yang tak terelakkan. Atas dasar pembedaan antara sub Dalam koruep epistemologt'AH al-Jabbdr, ada interkoneksi
strata (atom-atom yang menjadi bmpat bagi aksiden) dan aksi- antara dua dimensi ilmu, dimensi korespondensi dengan realitas
den, tidak ada esensi tanpa aksiden-aksiden dan tidak ada aksi-
{'al6 md huwa bih) atau dimensi objektif dan dimensi afektivitas
den tanpa atom yang ditempatinya. (sukfin an-naIs) yang terkait dengan kesadaran "keyakinan" atau
Teori di atas berimplikasi terhadap pemikiran etikanya' Da- dimensi subjektif ilmu. Ketika mengkritik konsepsi ilmu sebagai
Xam hal tindakan yang baik, menurutnya, tidak ada "tindakan" fakta-fakta an sichbnpakonstruksi rasio di dalamnya, ia sebenar-
yang bisa dikualifikasikan "baik". Yaog ada hanyalah "tindakan nya mengkritik realisrne etika. Sebaliknya, ketika menolak kon-
sepsi iknu sebagai kesadaran keyakinan subjektif yang tertutup,
ia sebenamya menolak eseruialisme etika yang statis tersebut.
' Richard B. Bnandt membuat dislingsi antara etika normat'f dan etika kritis (ahu mehetika). Yang
pel6ma lebih terfokus pada prinsipprinsip atau aksionnaksioma etika sebagaidasarpelimbangan Menurutnya, pertimbangan moral (moral judgement) adalah pro-
nilai moralitas tind alan (vatue judgemen$. Yang kedua membahas bagaimana lustl'fikasi' prinsip ses dinamis dan dialektis antara faktor-faktor intemal dan eks-
prinsip etika tesebut bisa merupakan nalar atau buKi yang sahih. Lihat Ridard B. Brandt, Efhical
Theory.TheProblensof NormativeaN CnilicalEfhrbs, (NewJensey:Prentice-Hall, lnc.' 1959), hlm.
brnal tindakan, objektif-subiektif, empiris-rasional, antara bori tin-
4-9.[,leskidemikian, penulb rnenggunakan btilah 'kritb'dalam konteks etika Kanlian bahwa realitas dakan secara teoretis dan konteks tindakan dalam wilayah prak-
empiris dalam nalat a posteioi diberikan tempat bersama-sama dengan realihs akal budi rasional
sis, atau fakta tindakan dan konstruksi rasio. Karena ada paraleli-
dalam nalar a pnon (meski kritisisme dianggap cenderung ke nsionalbme, sebagaimana yang kila
lihat juga pada'Abd alJabb6r). Rasionalitas'Abd alJabbdr, atau Mu'tazilah secan umum, dalam tas secara umum antara ide kritisisme etika dengan ide sintesis
'pembacaan' pengkaji sebelumnya, semisal George F Hourani, cenderung mereduksinya menjadi
model berpikir rasional a p4on, sedangkan realihs empiris dianggap sebagai dimensi yang hilang
? A. Kevin Reinhart, fufore Revelation: The Boundaries of Muslim Moral lhoughf, (New York: State
dalam epistemologi 'Abd alJabbdr. Sebagai kajian atas pemikiran tokoh dalam bingkaiteologisnya,
hntu saja penulbfuga lidak rnerpgunakan btihh'rnehetil '(ndfawq akmeqYyang dbinonimkan Univenity of New York Press, 1995), hlm. 141. Tetapi, Reinhart menggolongkan AbO al-Qesim al-
oleh Brandtdengan etika krilb.{alam pengertian yang dimaksudkan Mohammed Arkoun dalam A[ Ka'bi aLBalkhi(hlm. 142-143)sebagaiesensialb, sdatu halyang sangatdiragukan. Hal inidir1asarftan
pada kritik'AM al-JabMrtethadap definbiilmu yang sangat realis(empirb)yang dikonfaskan dengan
lsl6n: at-Akhldq wa as-sryiisatr, terj. Hdsyim ShAlih, (Paris: Uneso dan Beirut Markaz al-lnma' aL
Oawmi, 1990), hlm. 84, sebagai studi ahs pelbagai sfuKur bangun pemikiran etika dengan benda pandangan ilmu sebagai mumi kontruksi akal atau kesadamn'keyakinan' sublektif (esensialis).
di luarsistem-sistem itr dari segi perbedaan, persamaan, dan metode berpikit, dengan menggunakan Dengan perlimbangan ini, saya rnengkategorikan al-Balkhi sebagaiseorarg realis, atas dasarimplikasi
perangkat ganda logika, epistemologi, dan ontologi. epistemologi tersebut terhadap etika.

*1
132 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan lmplikasi Pemikiran Epistemologi 'Abd al-Jabbdr terhadap Pemikiran Etikanya 133

o$ektivitas dan subjektivitas etika, yang brakhir ini dikemuka- memiliki dimensi riil dan spesifik yang yang secara "obiekttf'
kan agak detil dalam uraian berikul membedakan antara suatu karya seni dengan lainnya, seperti da-
lam pertimbangan rasional. Menurut'Abd al-Jabbdr, pertimbang-
an estetis berpusat pada subjek yang melihatrya, bukan karena
B. Dimensi Objektif dan Subjektif dalam Etika
kualitas o$ektif, suatu hal fundamental y*g membedakannya
Dasar epistemologis' ali mi huwahld (korespondensial) ber- dengan pertimbangan moral yang didasarkan atas pengetahuan
implikasi pada maksim (maxim\3 etika bahwa nilai moralitas tin- tentang wajh (aspek) tindakan.s
dakan bersifat intrinsik dan objektif untuk mengatakan bahwa
IGitik juga diarahkan pada etika kalangan debr,mtuurs (Truibirah)
pengetahuan nilai tindakan melalui nalar rasional tidak ditentu-
dan voluntaris dari kalangan Asy'ariyah yang-merninjam kate-
kan oleh faktor-faktor di luar tindakan. Dalam konteks ini, objek-
gorisasi Majid Fakhr5f - menganut "moralitas skriptural" bahwa
tivitas adalah rasionalitas, rasio dapatmengetahui dengan kenis-
baik dan buruk dibatasi oleh perintah(amr) dan larangan Tuhan.
cayaan intuinf @ulran dzawqt dalamsufisme) baik dan buruk nitai
moralitas tindakan (al-mufoassanit wa al-muqabbafofif) secara inde- Klaim subjektivisme etis tersebut dibantah oleh'AM al-JabbAr
atas dasar bahwa ketika perintah atau larangan yang dianggap
penden dari wahyu. Atas dasar maxim tersebut,'Abd al-JabbAr
sebagai basis fundamental baik dan buruk, perbuatan apa Pun
mengkritik pertimbangan esbtis (aesthetic judgemutt) etika dengan
yang diperintahkan atau dilarang secara ipso facto sebagai kon-
analogi gambar yang tergantung pada faktor subjektif murni
(thnb) orang yang melihatrya.n Kritik epistemologis atas relati- sekuensi logisnya akan dinilai baik atau buruk tanpa memPer-
timbangkan orangyang memberikan perintah atau larangan (Iuhan
visme moral tersebut sebenamya merupakan implikasi dari kritik
atau yang lain). Absurditas "nalar" etika seperti itu tampak, me-
'Abd al-Jabbdr terhadap as-Sfrfsthh'iyyah (sofisme) dalam penger-
tian subjektivisme ('indiyyah) dalam konteks epistemologi yang nurutnya, ketika baik dan buruk ditarik secara keseluruhan se'
cara arbitrer. Oleh karena ifu, sebagaimanamaxim-nya, hanya atas
menyatakan, sebagaimana dikemukakan, bahwa pluralitas pan-
dasar kebaikan atau keburukan intrinsik, suatu tindakan akan
dangan etika sesuai dengan pola pikir subjek atau konteks di mana
menjadi objek yang sesuai dengan perintah atau larangan Tuhan.T
tindakan dilakukan sama sekali tidak menafikan adanya realitas
obiekfif, fundamental, dan umum yang berlaku di setiap ruang dan Nilai intrinsik dan objektif tindakan tergantung pada kela-
waktu. yakan suatu tindakan untuk dinilai sebagai "Erpui{'fba* (mn
yastafuiqqal-madfu)atan"tercela"/buruk(mdyastafuiqqadz.dzamm
Meski sebagian besar bangunan pemikirannya dipengaruhi
oleh Ab'0 Has5rim,'Abd al-Jabbdr tetap melakukan kritik erhadap
pernyataan gurunya tersebut bahwa pertimbangan estetik selalu
5 lbrd., Juz Vl: l, hlm.55.
5 Majid Fakhry EtiulThqriesinlslam, (Leiden: E.J. Bdll,'1991), hlm.32-33.
ls$lah maximalau maksi'n pertama kali dipergunakan oleh lmmanuelKant sebagai'subjeclive prin-
ciple of volitjon'. Sebagai prinsip subjektif, maxim, tenfu sala, mernpunyai pengertian lebih sempit
7 'AbdalJabbir, Al-Mughnifi Abwdbat-Tawfiidwaal-'AdlJuzVl: l,hlm. 102. lamenielaskan:

daripada prinsip. Lihat Howard J. Cuner, Ethhal Theoty and Moral Problems, (Belmont, CA:
,l i).1 6!utli.,.aSf-als,-rtl"l ,rryl+..rtdtt l{.rydligi jilL4.ralil:{JJi,,Jr.!,ltr
Wadsworft Publishing Company, 1 999), hlm. 20't q+ dl3 Jl6 dt .tSL t.., eirS o, .r.j , d^il eJ
-222. I r .qS O-,1r J .=,--, .gg U ri1 dJ i,t
'AM alJabbdr, AlMughnifr Abwdb at-Tawhid wa aL'Adl,Juz Vl, l, ed. lbrdhim Madk0rdan Ahmad Jcrr,p.";Sqdts4r:{Lit i-J,Jldi J+l .r+i lr o.lilb{*il{:tr.l+iJ -t+
Fu'6d aLAhwini, (Cairo: al-Mu'assasat al-Mishriyyat al-'Ammah li at-Ta'lif wa atTariamah wa afr- \rJ .fU- 4J
Thib6'ah wa an-Nasf dan Wizaratab-TsaqAfah wa al-lnsydd al-Qawmi, 1380-1389/1960-1969), Oleh karena itu, ia menyimpulkan bahwa keburukan tindakantidakterkaitdengan adanya larangan.
hlm. 19-22.
lmplikasi Pemikiran Epistemologi
'Abd al-Jabbar terhadap Pemikiran Etikanya 1 35
134 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan

tindakan dapat dihu-


idz6 infarada).8 Atas dasar ini, kezaliman adalah perbuatan jahat tindakan.l3 Menurut'Abd al-Jabbdr' suatu
satu wajh (segs'
karena kezaliman itu sendiri, berdusta adalah jahat karena dusta ;;;k"" dengan nilai karenaterjadi berdasarkan dalam contoh yang
itu sendiri, dan begitu juga mengingkai (kufr) nikmat. Contoh- a"t," niu-Wolt suatu tindikan' seperti
"#?l
;ein; dikemukakan "kezaliman adalah jahat'' aapal d1\ela$ul
contoh perbuatan tersebut adalah jahat karena " srta{' tindakan j Oleh ka-
yang melekat padanya.e Ia menolak penilaian tindakan yang di- ;;;; hngsung (dharfrAatau melah nalar diskursif'1a
eksternal suatu tin-
kaitkan dengan jins (genus) dalam pengertian bahwa tindakan ,"rru i*, kiL minyeb attnajhsebagai dimensi
tidak bisa dinilai dari kasus spesifik. suatu tindakan harus dinilai ;;il ^oral y*[ dapat d*"tur'"i secara langsung- D-alam qen-
r:on'oh pengetahuan o$ek-objek tersebut
g;Hf
dari keumumarurya. Sebagai contotv rasa sakit dalam konbks pe-' il;;;"# intel-eggnsl (karnhl
ristiwa tertentu tidak rnerupakan pijakan nalar yang cukup un- merupakan standar minimal bagi kemllnSan
al-Jabbdr bahwa setiap
tuk menyimpulkannya sebagai jahat.lo Begitu juga pengandaian nt-'aqi'1.Atas dasar ini dan statemen'Abd
memPllTlai fun-
moral tidak bisa bertolak dari keberadaan suatu tindakan secara nilai moral, terutama tindakan iahat(at-qawfu\,
(ashl dhnrfifil1
aksidental" keberadaan ma'nd - dalam hal mi irddah (keinginan) au*.. y*g blsa ditetaftui dengan nalar sederhana a:Pek.tin-
keragaman
subjek-kondisi su$ek 11 atau kecenderungan pribadi (thaV)"lz ;;;g;*""*luk ke realita' *uku dimensi
langsung tersebut dapa.t kia
dakan Ulrul'frh)yang diketahui secara
Sisilain dari dimensi objektivitas etika'Abd al-Jabbdr adalah sebut sebagai dimensi "fenomenal"
moralitas' karena terkait de-
kebrkaitan dalam pertimbangan moral sebagaimana juga berlaktr tT.u
dt aakan partikular' seperti pertimbang* 1*it
dalam epistemologi moral tokoh Mu'tazilah Bashrah secara ke- "g;fitta"L"
sebagai akibat dari tirlduku"' Pengetahuan tentang itu ber-
seluruhan, antara ernpat terrninologi teknis: wajh (1amak: wuifih), ""uto
sifat o$ektif.
mt'nn,'illah, dan shifah. Ada paralelitas pengerfrartma'ni dalam Frankl6 disebut
konteks epistemologi dan moral. Sebagaimana dijelaskan, dalam Dunia "fenomenaf itulah yang oleh R'M'
sebagai pengalaman sensual yang
meniadi fondasi semua penge-
konteks pertarna, ma' tfr menurut Frank diartikan sebagai aksiden pengalaman
;"; ,"hiiggu basis pertimbangan moral adalah
gerak (mengetahui) sedangkan menurut Nader rna'nd diartikan tidak sama sekali menye-
sebagai "alasan yang cukup" sehingga ia dianggap sebagar sub- dalam konteks intersuLjekfrf -untuk
moral merupakan bagi-
stansi ilmu. Dalam konteks moral, menurut Reinhart, istilah ini but "objektif" -manusia' Ferdmbangan
an pokok dari proses bu'pikit'"tutu
intrinsik dalam kesadaran
digunakan untuk menggambarkan sifat dasar ontologis kualitas
s 7--8, dan 26. Dalam bebenpa tempat dalam bukunya, Al-Mughni fr Abwdb at'
/brd., Juz Vl: l, hlm. ffiitasontologistindakanadalahmahd'duaistilahlain(.illahdan "apel merah', iika kemerahan dianggap
Tawffd wa at-'Adl,'Afr alJabbdr mengemukakan definisi negatif tentang 'yang baiK
(al-!asan) strrfatr) lebih merup.irn tu.i', .i.lO.n'iOif...ntoh
yang menyebabkannya menah dbebut shifalt'
yang-didrfrni$t an sebagai tindakan yang mengandung aspekaspek (wu.ph) keielekannya. Definisi sebagaikausatif, ku.l,t . t oGbut l"ah' Kualibs
'iu't 147'Nimun dalimAl-Mulrithbiatlakliled''Umar
ierseUut menuruhya, diadopsi dari gurunya, Abq Hdsyim' Namun, dalam banyak tempat dalam LihatA.KevinReinfrffr"e'fo;htue''ttn'hlm
,Azmi, (Caio: nfi,futssasai aitUisntyyan al nmmah li at-Ta'llf wa al-lnb6' wa an-Nasyr
karyanya brsebut ii rnenyabkan bahwa kebaikan suafu tindakan dapatdikebhui nrelalui safu aspek assayyid
1965)' Juz l' hlm' 235-236' 'i"ah dipandarE
it-i"lt*tn'
(uelr) ielralipun. pengertian ini, tegas Abd al-Jabbir, adalah upaya peyederhanaan oleh Abo Abdiilah dan ad-Ddr al-Misrrrivvan ri'ai-ilil-t
sepefii ma na nkan tetapi, bahwa istilah terakhir dianggap
ild.it11i o.ti pendefinisian Abg H6syim tersebut 'Abd alJabbar bbih cenderung pada pendapat sebagai kualitas pen.*u nif.idni.f"n, dahm
.i *r#rrurrn ntrtr diskursif tidak ditemukan perbedaan
kedua. Lihat rbid., Juz Vl: I, hlm. 71. sebagaidimensi int ra virg
e teks-teks'AM alJabbar''l.iri
lbid, JuzVl: I, hlm. 61.
10
1r 'AM alJabbit At-Muhithbiat'Taklif, Juz l, hlrn' 236'
FauzanSaleh,'ThePoblemofEvilinlshmicTheology:AStudyOnfreConceptofalQabilinaKladi
wa at-?d/, iuz Vl: i' hlm' 24'
,Abd
alJabbaraLHamadhani's Thoughf, Iesis. (Montreal McGilluniversity, 1992), hlm' 6G-61.
15 'AbdalJabbir , Al-Mughni fi Abw6b at-Tawfiid
rilAbd alJabbir, Al-Mughni fr Abwdb at-Tawfiid wa al-?d/, Juz Vl: l, hlm' 59'
16R.M.Frank,.SeveralFundarnenblAssumptionsofheBashraSdrooloftreMu'talla",dalamStudi

12 lbrd., hlm.21. is/amica, No. 33, 1971, hlm S'


T
136 Epistemologi Kalam Abad Perlengahan lmplikasi Pemikiran Epistemologi 'AM al-Jabbir terhadap Pemikiran Etikanya 137

manusia yang otonom. Otonomi dan kebebasan sesunggutrnya jiban" yang mengharuskan secara moral dalam kasus hipotetis
tidak terletak secara eksktrusif pada kausalitas efesien (qudrah), di atas untuk berkata jujur tanpa melihat konteks. 'Abd al-Jabbir,
tetapi dihubungkan dengan pengetahuan tentang tindakan dan dengan menyatakan bahwa kehendak berbuat jahat adalah iahat
pertimbangan aspekny a (wajh). pula, adalah seorang deontologis dalam batas pengertian di atas,
yang mengakui adanya dirnensi universal dan o$ektif dalam mcr
Dalam etika'AM al-Jabbdr, manusia diasumsikan dapat me-
ralitas yang berlaku umum, serta intrinsik. Akan tetapi, menu-
ngetahui pertimbangan awal tentang nilai suatu tindakan (pima
rutnya, dalam kasus hipotetis di atas, orang tersebut tidak dibe-
facie) sebehtm memberikan penilaian final nilai. Rasa sakig man-
narkan secara moral unfuk berdusta, tetapi harus dengan sin-
faat, dan mudharat merupakan bagian dari aspek tindakan untuk
pertimbangan moral. Prinsip "utilitarianisme" tersebut berkaitan
dirian (ta'idh) atau semisahya,t' sehingga berdusta atas dasar
pertimbangan manfaat dibenarkan secara mora1.20
dengan fakta atau realitas o$ektif yang dapat diketahui setiap
orang. Sebagai konsekuensi logis dari pandangan "utilitarianis- Dengan uraian di atas, objektivitas etika'Abd al-Jabbdr da-
me" tersebut seseorang berhak - unfuk menyatakan benar secara pat diidentifikasi dengan deontologi model William David Ross
moral-untuk mempertahankan diri meski harus dengeln mem- jujur
(1877
-1971), filsuf brggris. Menurutrya, meskipunberkata
bunuh orang lain yangmengancam jiwa atau hartanya, atau mem- merupakan kewajiban moral universal, intrinsik, dan berlaku
buntrh bukan untuk kepentingannya sendiri. Dalam al-Mughnt umurn, dalarn konteks di atas Ross berupaya mengatasi rigorisme
'Abd al-Jabbdr mengemukakan kasus dilema moral hipotetis deontologis Kantian dengan menyatakan bahwa berkata jujur
yang dengan mernberikan komentar analitis kita dapat lebih jauh merupakan kewajiban pima facie (pada pandangan awal) yang
mengkonstruk sistem etikanya. Seseorang bersembunyi di sebuah tidak berlaku lagi.2l
rumah karena menyelamatkan diri dari kejaran orangyang ingin
Kedua,kemajuan dalam etika model deontologis Kantian ter-
rnembunuhnya. Orang lain yang melihatnya masuk ke sebuah
sebut pada substansinya adalah karena dipertimbangkannya, se-
rumah, ketika ditanya oleh orang yang ingrn membunuhnya, di-
perti pada Ross dan'Abd al-JabbAr, etika teleologis-"utilitarian"
hadapkan pada dilema moral: berkata jujur sebagai suatu nilai
dalam deontologis. 'Abd al-Jabbdr memasukkan dimensi "utili-
moralitas dengan rnengorbankan jiwa orang lain atau menyela-
taian", pertimbangan manfaat dan bahaya, dalam formulasi
matkan jiwa orang lain dengan berdusta.
model Kantian bahwa "berdusta adalah jahat karena kedustaan
Dalam konteks di atas, kita melihat pandangan etika'Abd itu sendiri". Dengan pemerian di atas dalam konteks etika'Abd
al-Jabbar dari dua sisi: Pertama, dimensi moralitas universal model al-JabbAr, yang ingin ditekankan adalah bahwa ada dialektika
"Kantian" dapat diidentifikasi ketika dinyatakan "kehendak un- internal dalam sistem berpikimya secara dinamis antara dimensi
tuk berbuat jahat adalah jahat pula" (irhdah li al-qafu taqbufu Ii objektif dan subjektif dalam pertimbangan moraf atau antara
annahi irddahli al-qafu).l7 Etika Kant menetapkan maksim bahwa dimensi deontologis dan teleologis ("utilitarian").
kebaikan tindakan ditentukan oleh kehendak yang baik pula
(menurut'Abd al-|abb6r, kehendak berbuatbaik tidak selalu baik).18 re /brd Juz Vl: ll, h|m. 342.
,

Maksim Kant tersebut membawanya kepada formalisme "kewa- m lbrd., Juz Vl: I, hlm.24.
21 Lihat K. Bertens, Efika, (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2000), hlm. 259-260.
17 lbd., Juz Vl: ll, hlm. 342.
Lihat juga Theodore C. Denise, Sheldon P. Peterfreud, dan Nicholas P White, Great Traditions in
18 lbid., Juz Vl: ll, hlm. 10. Ethrcs, (Belmont, CA.: Wadsworth Publishing Company, 1999), hlm. 276-287.
q

Epistemologi Kalam Abad Pertengahan


lmplikasi Pemikiran Epislemologi 'Abd al-JabbAr terhadap Pemikiran Etikanya 139
138

Persoalan hubungan objektivitas dan sub;eklivitas dalam


Deontologis adalah objektif karena menetapkan maksim-
kajian etika Islam juga bertolak dari pembedaan anbara penda-
maksim etika yang ingin diberlakukan secara universal dengan
saran wahyu (subjektif) dan pendasaran rasio (obiektif). Etika
mengacu pada nilai-nilai intrinsik tindakan tanpa menghubung-
yang didasarkan pada pertirnbangan rasio dianggap be rsifat uni-
kannya dutru dengan konteks "subjektif" tindakan' Ketika mak-
versal, sedangkan etika wahyu bersifat parikular yang berkaitan
sim-maksim tersebut ingin dihubungkan dengan konteks dengan
dengan pengaturan tindakan-tindakan secara spesifik.22 Yang
asas utilitas, sebenamya terjadi uPaya "subjektif" unfuk menu-
perhma, menurut kategorisasi Majid Fakhry,'?3 disebut "moralitas
runkan formalisme deontologis tersebut ke tataran ruang, waktu,
skriptural" atau, setelah mengalami asimilasi kreatif dengan ele-
dan konteks tindakan khusus. Pengetahuan tentang aspek-aspek
men-elemen pemikiran Yunani, dan teologi Kristen di Damascus,
findakan, seperti rasa sakit dan manfaa! secara partikular, karena
Baghdad, dan di Timur Dekat menjadi "teori etika religius", se-
diketahui secara pasti (br adh-dharfirah) adalah bersifat faktual
perti pada al-Hasan al-Bashri, al-MAwardi, dan ar-Rdghib al-
dan objektif. Sebaliknya, pengetahuan yang lebih mendalarn dan
IshfahAni (w. 1108)- Sedangkan yang kedua melahirkan etika filo-
diskursif (bi iktisdb) dalam pertimbangan final (bukrn) nilai tin-
sofis. Tipe yang sangat problematis adalah etika teologis karena
dakan untuk ditarik yang universal karena bertolak dari kon-
bergerak bolak-balik di antara dua basis, yaitu rasio dan wahyu.
struksi rasio su$ek, lebih bersifat su$ektif' Hal ini dapat dijelas-
kan dalam bentuk tabel berikut: Kajian ahs etika teologis'Abd al-JabbAr telah dilakukan oleh
George F. Hourani dalam Islamic Rationalism: the Ethics of 'Abd al-
Tabel rft Struktur tindakan
labbdr.2a Sayangnya, kajian Hourani untuk rasionalitas etika teo-
logis'Abd al-Jabbdr bertolak dari kontras yang brlalu kaku antara
Partikular rasa sakit, dsb.)/ dasar'teleologis"
wahyu yang menjadi basis theistic subjectivism dan rasio yang
( iJJJ.bI+ menjadi basis rationalistic objectiaism, atan kontras antara "tradi-
Ma'nd
sionalisme" dan ""rasionalisme". Oliver lcaman dalam Anlntro-
duction to Medieual Islamic Philosoplni')s telah melakukan evaluasi
Manusia sebagaitujuan "Universal' ( qJ-ist{ ) kritis terhadap dua pembedaan yang kaku tersebut. Pada bebe-
(Dasar 'deontologis") rapa ayat yang dijadikan pijakan etika kalangan tradisionalis,
voluntaris, atau subjektivis-theistik kesirnpulan moral yang di-
tarik secara tak bisa dihindarkan melibatkan nalar terhadap teks
sehingga ada dirnensi rasionalitas dalam sistem etika teologi tra-
Uraian di atas telah menunjukkan interkoneksi yang tak ter-
disionalis, dan sebaliknya. Sebagai konsekuensi dari kenyataan
pisahkan antara objektivitas dan su$ektivitas. Keduanya dalam
ini, tentu tidak hanya ketidaktepatan mengkontraskan secara
uraian di atas lebih ditekankan pada proses berpikir empiris-
faktual (objekti$ dan konstruksi rasio manusia (subjektif), serta z Oliver Leaman, lntoduclion to Medieval lslamic Philosophy, (Cambridge: Cambridge University
deontologis yang ideal dan universal (objektif) dan teleologis-uti- Press, 1985), hlm. 140. Edisi bahasa lndonesia diteriemahkan oleh M. Arnin Abdullah, Pengantar
Filsahtlslan
litarian yang menghubungkan yang ideal tersebut dengan kon- r
Abad Perlengahan, (Jakarta: Rajawali Pers, 1989), hlm. 2'10.

Majid Fakhry EthicalTheories in /s/am, him. 6-8.


teks lokal tindakan (subjektif). Saya ingin menguraikanlebih men- 2a
{Oxford: Clarendon Press, 97 1 ).
dalam implikasi pemikiran episbmologi terhadap etika untuk me-
1

5 OliverLeamandalamAnlntroducliontoMedievallslamicPhilosophy,hlm. 123-165.
lihat pemaknaan lain objektivitas dan subjektivitas.
Y
140 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan lmplikasi Pemikiran Epistemologi 'Abd al-Jabb6rterhadap Pernikiran Etikanya 141

rigid antara rasio dan wahyu, atau antara rasionalisme dan tra- Apa yang disebut sebagai etika teologi rasional-objektif, di
disionalisme, karena keduanya lebih merupakan'"tendensi" ber- samping menegaskan potensi rasio berdasarkan utilitas (manfaat
pikir.26 Persoalan tipe "rasionalisrne" yang dilabelkan pada etika dan mudharat) untuk memahami moralitas tindakan (baik-buruk)
'Abd al-JabbAr harus diidentifikasi pada level tertentu atau gra- secara global qabl ururfid asy -sy ar', tetap mengandaikan informasi
dasi rasionalisme, terutama bagaimana ia menempatkan wahyu wahyu untuk menunjuk tindakan-tindakan moral dari baik-buruk
dalam sistem berpikirnya dalam hal etika. secara partikular dan nyata. Dalam kutipan dari Syarfu al-Ushfi'l
Meskipun ia menyatakan bahwa niiai tindakan sama sekali al-Klwmsahberikul2e dianalogikan pengetahuan rasio berhadap-
tidak ditentukan oleh perintah atau larangan, seperti kritiknya ter- an dengan wahyu tentang etika dengan seorang pasien secara
hadap katangan voluntaris, staternen tersebut harus dipahami instingtif atau dengan rasio sederhana (atau intuisi dalam term
bahwa substansi nilai tidak tergantung pada perintah atau larang- etika W.D. Ross) mengetahui secara global makanan-makanan
anyarig sesungguhnya berada di luar tindakan' Akan tetapi, hal yang membahayakan kesehatan. Akan tetapi, ia tidak mengeta-
itu sama sekali ddak menafikan bahwa nilai-nilai inkinsik tindakan hui rnakanan tertenfu dari semua jenis makanan yang berakibat
dituniukkan pula oleh wahyu di samping nalar rasional. Dengan langsung terhadap kesehatannya. Ada "intervensi" wahyu dalam
ungkapan lain, wahyu menyarnpaikan perintah atau larangan ter- pengalaman rasional manusia tentang moralitas, atau, sebalil.rryo
hadap tindakan-tindakan yang memiliki nilai intrinsik yang di- ada keterlibatan rasio dalam nalar teks.
akui oleh rasio. Oleh karena itu, bersama "independensi" penge-
tahuan rasional yang sering diberikan karaktersitik otonomi dan
ual &.i r,,.;,.ilt e )F e$ -. r'. rcFo .5& i ;j i 4 :,J* d+$ lJt at &!lr
pengesahan- diri (self-oalidating),wahyu dalarn sistem etika'Abd
"l j OA d j11, rSl ,l.ng-
,},$lf lJ ri.L.l * J.,r.+"l r.r+lrl J r+ L
,.+lr {p eprl
,AUpr,5lg fS.fiLi ll t hi J r(lri.l dlalJ s! - d dli rb 15 'ULi lq L
at-JabbAr dan tokoh-tokoh Mu'tazilah lain btap diberikan ruang,t 'l.tl
d,r,, X .clliS 0-A t",.g,'.r' rL! Ll-1l L 0# d-i; i ! J.rq L &i i-i i,! tjiJ',
'l'n+l, Jr
tidak seperti sistem etika sebagian filsuf naturalis di abad ke-9 .i$i[ u3,Jc uhi& lrte 0$J Y J dl'ill d dr sJL'3']tl
dan ke-10, semisal ar-RAzi (w. 925).4
,e#.+J dib,-ili,,l,r ,u-+ r,rb e+ J -l*u.yl q! irS y l,,J'i9 J S I .
r..
6 Lihat uraian detil tentang fadisioanlisme dan rasionalisme dalam teologi lslam dalam Binyamin j .li ct .t .rr'if, ct :.li L .U .tl 0)-$ irl
c,i ll .T'r.rr f': ul
t:
Abrahanrov, lslanh Theology : Traditionalkn and Rationalism, (Edinburgh: Edinburgh Univeaity
Press, 1998). Menuruhya (hlm. ix-x.), rasionalisme adalah 'lhe tendency to consider reason fte
"r*'ri
Lrl q Jr, 0! ,&L .ll' *rb l.Lr #r o* c,l ,+r ul+ ll cjyrp {li ,-F$
principal device or one of he principal devirxs to readr tre trutr in religion, and the preference of i.t- rt'it trr d )ue # iJ ttl.; d.lJ T! ldi.J .'t i:L+ .1;E L d}-Eyl oJ$! '.un'd'!3
reason to revelation and badition in dealing witr some treological matters, mainly when a mnflicl
arises between hem',
$J li f.J,Jf+ lJt+ ri l-ri-fS ,rli$ .r .1. ,i albtyd &J q ,fl,n'U e"* {tr"i' db-,
27 Karena wahyu dianggap sebagai bagian penting dalam epistemologi moral 'Abd alJabbAr, atau
,!i trA it lrli l1 .t$l .,i d.IS,ilLi clau-r ,tl# -r-F $ l, d*.-iir .t"'li" d uld ]hi
Mu'tazilah seqtra umum, adalah tepat jika kita menggunakan distingsi yang dilakukan oleh Majid ! 1,(i r0^ u.iil J qr.l -p, '$tJ u"jrl & 'Fl S i,l olli d$ ij"lc$ US J J.4 dhJ g+
Fakhry dalam Efhbal Theories, hlm. 3 antara: (a) nasionalis (mumi), yaifu kalangan Qadariyah dan .&.I dr +ll''( .di.li qili. ir+! l1:l ri .tjlil. c}'ir OA
'Yl
para teolog Mu'tallah di abad ke8 dan ke9 M, dan (b) semi nasionalis dan voluntaris Menurut
saya, istilah semi rasionalis-4nfuk membedakannya dengan rasionalis sebagai kecenderungan
berpikir di Ban[ adalah lebih tepat. lstilah yang tepat adalah 'rasionalis parsial", sebagaimana
digunakan Geoqe F. Hourani, 'Efiical Presuppositions of tre Qu/dn', dalam lhe Muslim World'
No.70 (1980), hlm. 25, catatan kaki nomor 10.
Fakhry Eflrical Theories in ls/am, hlm. 34. Bandingkan dengan George F. Hourani, lslamic Ratio
a Tesis bahwa wahyu (atau kenabian) iidak diberikan ruang dalam pertimbangan moral berdasarkan nallsm, hlm. 134.
sumber-sumber berbanesa Anb ditujukan kepada Brahmin(al-Bardhimahl. Lihat keterangan tenhng E (Pseudo)'Abd alJabb6r, Syafiat-lJshital-Khamsalr, versi Qawam ad-Din tr4anakdim, ed.'Abd al-
inidalam'Abd alJ abbAr, Al-Mughnili Abwdb at'Tawf;idwa al''Adl,JuzXlV' hlm. 160 dst.; Majid
Karim'UbmAn, (Cairo: Maktabah Wahbah, 1965i, hlm. 564-565.
Tr
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan lmplikasi Pemikiran Epistemologi 'Abd al-Jabbar terhadap Pemikiran Etikanya 143

Dalam ungkapan deontologi W. D. Ross, manusia memiliki intrinsik dan ekstrinsik pada tiga kategori tersebut, persoalan pen-
intuisi tentang kewajiban-kewajiban pima facie dalam pengertian ting dalam konteks objektivitas dan subjektivitas adalah mengapa
bahwa semua kewajiban tersebut diketahui secara langsung oleh 'Abd al-Jabbdr menyebut al-wdjibdf sebagai kategori tersendiri
kita. Akan tetapi, kita tidak memiliki intuisi tentang apa yang ter- di luar kate gon al-mufozssandt dan al-muqabbafofif ? Istilah tersebut
baik dalam suatu situasi konkret. Jika W. D. Ross rnenyelesaikan (al-wdjibdt) harus dipahami dari konteks etika wahyu, seperti isti-
problema ketidakmampuan intuisi manusia tersebut untuk me- lah al-qah6' ifu asy -syar' iyyah32 (perbuatan-perbuatan jelek yang di-
nentukanyang terbaik dari tindakan dengan mengembalikan ke ketahui melaluihukum agama), meski tetap ditemukan rasionali-
akal budi,3o'Abd al-Jabbdr sebagai moralis teolog yang bergerak tasnya.
bolak-balik antara rasio-wahyu menyelesaikan masalah serupa
Setidaknya, ada tiga sikap utama'Abd al-Jabbdr terhadap
yang diielaskan dalam Syarfutercebutdengan wahyu. Dalam ku-
wahyu sebagai dimensi su$ektivitas dalam pertimbangan etika.
tipan di atas, jelas bahwa wahyu diberikan ruang dalam sistem
Pertama, wahyu menunjukkan prinsipprinsip dasar yang sebe-
etika. Rasio secara instittgtif mengetahui kewajiban untuk me-
lumnya dapat diketahui oleh rasio, meskipun tidak menguatkan
ninggalkan yang tidak bermanfaat atau mengerjakan yang ber-
atau memvalidasinya. Fungsi wahyu tersebut karena alasan, (1)
manfaal Akan etapi, dalam konbks tindakan partikular dan sPe-
prinsipprinsip tersebut ditetapkan secara niscaya; (2) validitas
sifik, terutama yang berkaitan dengan kewajibana agama, rasio
wahyu yang tergantung pada nalar rasional tanp apetition of pin-
harus ditopang oleh wahyu. Karena fungsi afirmatif (penegasan)
ciple @etitio pnncipi) tidak dapat brgantung pada wahyu lain, dan
wahyu terhadap proposisi-proposisi rasio secara global Qumlahl,
akhimya, (3) untuk menegaskan validitasnya, wah1ru memerlu-
ide brsebutberimplikasi, setidal,nya pada dua hal: (1) etika wahyu
kan wahyu yang lain secara ad infnitum. Kedua, fungsi arbitrasi
mempunyai dimensi rasionalitas yang dapat diterima oleh akal,
antara wahyu atau bagian wahyu yang tampak kontradiktif.
atau dengan ungkapan lain, etika su$ektif memiliki dimensi ob
Ketiga, fungsi spesifikasi tindakan-tindakan secara partikular
jektif, dan (2) karena keterbatasan rasio, sebenarnya dalam per-
y.rng secara moral diperintahkan atau yang nilai kebaikannya
timbangan objekti{ rasio ada dimensi subjektif (wahyu).
diniscayakan oleh rasio, tapi hanya dalam term-term yang umum.
Dimensi objektivitas dan subjektivitas brsebutlebih jelas br-
Menurut'Abd al-Jabbdr, misi profetis berkaitan dengan pe-
lihat dalam klasifikasi tindakan moral yang dijelaskannya dalam
negasaan kewajiban tindakan-tindakan tertentu yang nilai ke-
al-Mufoith bi at-Takltf\l (1) perbuatan-perbuatan yang dianggap
baikannya telah diketahui rasio dalam bentuk konfirmasi(taqrtr)
baik (al-mufozssandt), (2) perbuatan-perbuatan yang dianggap
atau spesifikasi. Dengan garis pandangan ini, kewajiban "rasio.
buruk/jahat dal-muqabba@t), dan (3) kewajiban-kewajiban (al-
w6jibht). Tiga kategori perbuatan/ tindakan tersebut masing-ma-
nal" dapat ditipotogikan kepada tiga, yaitu (1) kewajiban atas
dasar nilai-nilai intrinsik; (2) kewajiban atas dasar kemahalembut-
sing dapat dibedakan kepada perbuatan yang dinilai karctn shifah
an Tuhan (l"W yang menegaskan atau mengkhususkan tindak-
intrinsik, seperti kezaliman dan berdusta, dan perbuatan yang
an tertentu; dan (3) kewaiiban atas dasar manfaat. Tipologi ini
dinilai atas dasar konsekuensi-konsekuensi yang diakibatkannya
secara jelas menunjukkan dua dasar piiakan sekaligus dalam per-
terhadap yang lain (ekstrinsik). Tidak hanya karena adanya nilai
timbangan moral. Tipe (1) dan (3) bertolak dari nalar rasional
$ objektif. Tipe (2) letrih merupakan pendasaran teologis yang
K. Bertens, Et;ka, hlm.260.
31 Abd alJabMr, Al-Muhith bi al-Taklif, Juz l, hlm. 234 dan 238. t2 lbid.,hlm.237.
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan lmplikasi Pemikiran Epistemologi 'AM al-Jabbir terhadap Pemikiran Etikanya 145

buatan atas dasar imperatif kategoris, yaitu keharusan (im pera ti $


subjektif, meski diberikan rasionalisasi doktrinal tr:ntang "kewa-
jiban" Tuhan berbuat yang baik dan terbaik (ash-shnlilfu wa al- tak bersyarat. Imperatif kategoris inilah yang mendasari distingsi
ashlafu) kepada manusia. Luthf dalam konteks etika mengimpli-
Kant antara kehendak otonom dan heteronom. Tindakan harus
kasikan adanya kewajiban-kewajiban yang tidak dapat diketahui dilakukan atas dasar kehendak otonom yang menentukan hukum
moral kepada dirinya sendiri,bukanatas dasar sesuatu yang ber-
secrira rasional yang dibebankan kepada manusia atas dasar ke-
33 ada di luamya (heteronom). Dengan ide tentang otonomi kehen-
rnahalernbutan-Nya.
dak tersebut, Kantmendasarkan konsep etikanya atas kehendak
Berdasarkan pemerian di atas, tidak ada garis pemisuh ya.g manusia.
secara jelas memisahkan antara pertirnbangan rasional dan skrip
"Etika kewajiban" Kant dikritik tidak hanya oleh etika ke-
tural. Sebagai dimensi objektif dan su$ektif, keduanya berinter-
bahagiaan (eudemonistik) y*g mendasarkan diri pada oirtue
aksi secara dialektis dan kreatif dalam suatu sistem etika teologis
(keutamaan) model Etika Nikomacheia (The Nicomachean Ethics)
yang berkecenderungan rasionatr. Sistem pemikiran etika 'Abd
AristoEles, tetapi juga oleh "etika nilai" (Max Scheler dan Nicolai
al-Jabbdr tersebut dibangun atas dasar fondasi epistemolop ten-
Hartmann). Kritik mendasar dari aliran etika terakhir ini adalah
tang unsur korespondensial('al6mdhuwa hrft) sebagai sisi objek-
s (sulchn an-nafs) sebagai sisi "sub bahwa kewajiban tanpa nilai adalah kosong. Menurut Hegel, Kant
tivitas ilmu dan unsur afektivita
jektivitas" ilmu. Objektivitas-subjektivitas tersebut dipahami se- tidak mampu menentukan secara positif apa yang menjadi ke-
bagai proses b"rpikir kreatif dan dialektis fakta dan kontruksi
wajiban orang. Alasdair Mclntyre, filsuf lrlandia, dalan After
Virture, dengan berbolak dari etika Aristoteles menyatakan bahwa
rasio, atau sebagai problematika hubungan akal-wahyu dalam
suatu etika di luar konteks suatu komunitas adalah kosong. De-
etika.
ngan demikian, etika deontologi Kantian dikritik karena forma-
lisme dan rigorisme yang kaku. William David Ross, pengikut
C. Etika dalam Konteks Humanisme: Relevansi deontologi Kantian, dengan "kewajiban-kewajiban pima facie"
Etika'Abd al-|abbAr Bagi Pengembangan untuk mengatasi dilema-dilema moral ketika terjadinya konflik
Epistemologi Moral antarkewajibaru tidak bisa mengatasi kelemahan epistemologi
moral, brutama bagaimana menunjukkan norrrul unfuk menentu-
Fada dasamya, ada dua arus utama penrikiran etika di mana
kan kewajiban apa yang berlaku di atas kewajiban pima facie
teori-teori etika lainnya berafiliasi.v Pertama, etika deontologis
lainnya.
(deon= kewajiban, apa yang harus dilakukan) yang berakar pada
etika Immanuel Kant (7724-78M) yutg mengukur baik-buruk Kedua, etika teleologis yang mengukur kriteria baik dan bu-
perbuatan dari motif pelaku tindakan' Perbuatan hanya bisa di- ruk dari konsekuensi(telos = tujuan) tindakan. Yang esensial da-
iebut baik jika didasari oleh kehendak baik pula. Du sollstl lam sistem etika ini adalah sifat tujuan yang mengarahkan hidup,
(Engkau harus melakukan begitu saja!) merupakan statemen pilihan sarana, etos, dan kegembiraan. Utilitarianisme (utilitas)
kunci etika Kantian yang mengharuskan dilakukannya suatu Per- yang mendasarkan pada formula Bentham the greatest happiness
of the greatest number, dan hedonisme (hidon€) adalah teleologis.
3 Fakhry Ethical Theoriesin ls/am, hlm' 34-35.
lVlajid
Seperti deontologis, sistem etika menghadapi kritik-kritik yang
il Uraian dan kitik tefiadap deontologb dan utilitarianisme berikut disadkan dad K' Bertens, Elika,
sangat penting untuk dipertimbangkan.
hlm. 246-261; Fnanz lr&gnb suseno, 13 Tokoh Etit€ seiak zanan Yunani sanpai Abad ke-19,
(Yogyakarta: Kanisius, 1997), hlm. 137-158'
Epistemologi Kalam Abad Perlengahan lmplikasi Pemikiran Epistemologi 'Abd al-Jabbir terhadap Pemikiran Etikanya 147

Dua sistem etika utama tersebu! menurut penulis, mesti di- nusia memiliki paraleiitas dengan pandangan etika, semisal da-
bangun berdasarkan konsepsi tentang hakikat manusia. Kele- lam persoalan: apakah dalam sistem etika teologis rasional yang
rnahan deontologis maupun teleologis adalah karena bertolak dianutnya, atau etika retgius dalam konteks lebih luas, manusia
dari pandangan parsial dan reduktif tentang manusia. Karena sebagai agent tindakan moral dipandang sebagai subjek yang
alasan objektivitas nonna etika yang ditarik ke ide-ide transen- otonom atau heteronom? Dengan mengelaborasi jawaban terha-
dental, universal dan formal kaku, deontologis telah mencerabut dap persoalan etika dalamframe Kantian tersebut, dimensi yang
hakikat manusia dari konteks tindakannya. Sebaliknya, teleologis humanis dalam etika 'Abd al-|abbdr dapat dikonstruk.
mereduksi manusia menjadi subjek materiil kosong dari kesa-
Konsep tentang keabsahan suatu tindakan (shifutt al-f'l),
daran traruendental yang sebenamya dalam kesadaran-diri (sef-
bahwa suatu tindakan benar-benar dilakukan, menurut'Abd al-
consciousness) tentang moralitas. Dengan demikian, ada interko-
neksi antara etika dan konsepsi tentang hakikat manusia yang Jabbdr, dikaitkan dengan manusia sebagai agen tindakan yang
"mampu" (qddir) dan sadar ('6lim). Tindakan tidak hanya dihu-
sebenarnya menjadi problem epistemologi moral.
bungkan dengan pengetahuan subjek tentang apa yang dilaku-
Menurut'Abd al-Jabbdr, manusia merupakan totalitas yang kan, tetapi juga dihubungkan dengan kehendak subjek. Dalam
terdiri dari struktur (binyah) fisik dan psikis.3s Dimensi fisik ber- debat teologis tentang kehendak dan tindakan, 'Abd al-Jabbdr
kaitan langsung dengan fenomena empiris, sedangkan dimensi menyatakan bahwa kehendak (ir6dah) mendahului tindakan. Per-
psikis memiliki kepekaan akan sesuatu yang ideal-transendental. nyataannya tersebut bukanlah tidak mendasari secara esensial
Ide dualitas hakikat manusia brsebut diartikulasikan dalan persoalan kehendak manusia. Suatu tindakan tidak dilihat se-
frame
epistemologis: ilmu sebagai kesadaran subjektif (sukfrn an-nafs) bagai tindakan insidental, tanpa diletakkan sebelumnya dalam
sebagai ruang bagi sesuatu yang transendental dan universal dan skema pertimbangan moral yang otonom yang didasari oleh pe-
ilmu sebagai fakta objektif ('al6 mi huwa bih) untuk melakukan ngetahuan, kehendak bebas, dan kemampuan dari subjek. Di
apropriasi ke dalam dirinya segala sesuatu yang berada ,li luar. samping itu, ia menolak definisi suatu tindakan (f 'l) sebagai "se-
Ide dualitas tersebut mendasari secara logis apa yang kita suatu yang ad,a (ki'in) yang sebelumnya tidak ada" dalam pe-
konstruk sebagai "etika humanis", yaifu etika kritis yang ber- ngertian dalam waktu (mufodats) atas dasar: (1) perbuatan dike-
upaya mengatasi kesenjangan antara fakta akal budi manusia tahui blah dilakukan seblah te4adi, dan (2) status aktual atau se-
dan fakta dunia fisik. Dalam konteks ketegangan deontologis- karang suatu tindakan seharusnya tidak dimasukkan dalam defi-
bleologis, etika kritis mensinbsiskanantara tesis deontologis bn- nisi. Pembatasan wakfu, menurutnya, hanya bersifat aksidental,
tang hakikat manusia untuk mengurangi pandangan reduktifnya bukan esensial.36 Tindakan harus didefinisikan atas dasar tujuan
yang hanya kepada fakta akal budi dan tesis teleologis-utilitari- yang terepresentasi oleh kemampuan dan kesadaran. Adalah
an karena reduksinya terhadap hakikat manusia kepada fakta kualitas tambahan (shtfah zi'idah) yang menentukan kualitas
dunia materiil. Ide'Abd al-Jabbdr tentang dualitas hakikat ma- moral tindakan yang bebas.
Dalam pengertian tersebut, etika'Abd al-Jabbdr memuat ide
s Abd alJabMr, Al-Mughnifr Abwdh alTawfiid wa at-,Adl Juz Xt, hlm. 310. Bahasan tentang hakikat
tentang kehendak yang otonom dalam pengertian Kantian. Akan
manusia menjadi penting tidak hanya dalam elika, tehpi juga dalam taklif. pandangan beberapa tetapi, kehendak yang otonom tidak merupakan kualifikasi yang
tokoh Mu'tazilah, semisal al-Aswdf, an-Nazhzhim, Dhirar, AbO al-Hudzayl al-Allif, AbO Hdsyim,
dan an-Najjdr, ditanggapi dengan cukup mendalam. $ Majid Fakhry EthicalTheoiesin /slam, hlm.32.
lr
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan lmpllkasi Pemikiran Epistemologi 'Abd al-Jabb6r lerhadap Pemikiran Etikanya

cukup untuk mengkategorikan suatu tindakan sebagai baik. Per- rakan humanisme sekular. Tanpa ingin mengkontraskannya se-
buatan yang baik adalah perbuatan yang dilandasi oleh kehendak cara kaku dan berseberangurn, humanisme sekular tampak lebih
baik yang otonom. Oleh karena itu, di luar kehendak, perbuatan bisa diperdebatkan dibandingkan humanisme reli giu s, scka I i pu n
memiliki kualitas intrinsik dan mandiri, seperti yang dinyatakan yang terakhir ini mungkin akan menjadi sistem etika yang di-
oleh Kant tentang objektivitas dan universalitas norma etika dan perdebatkan secata akut ketika rasionattas yang menjadi basis
oleh'Abd al-Jabbdr tentang kejelekan berdusta dan berbuat aniaya etika sangat diperlukan di tengah masyarakat yang multikultura L
(zhulm) atas dasar perbuatan itu sendiri. Meski demikian, fonna- Humanisme sekular seba gai autonomy theory dalam perkembang-
lisme danrigorisme otonomi kehendak Kantian dikritik, karena, annya di Barat digambarkan oleh Paul KurE dengan sangat pesi-
seperti dalam dilema moral pada kasus hipotetis yang dikemuka- mis sebagai the modern-day expression of classicnl atheism. Melalui
kan'Abd al-Jabbdr, moralitas kewajiban dan kehendak baik yang publikasinya, New Humnnist (Mei-Juni, 1933), Ameican Huma-
otonom untuk berkata jujur justru berkonsekuensi hrang humanis, nist Associafron (AHA) menyatakan "Ethics is autonomous and
untuk tidak mengatakan "ddak humanis" (orang lain menjadi sifuational, needing no theological or ideological sanction".37
korban karena alasan kewajiban kita). Moralitas Kant yang ber- Christopher P. Toumey menulis tentang itu dengan nada yang
tolak dari fakta akal budi manusia, kesadaran transendental, dan sama:s
nilai-nilai universal tidak memberikan solusi moral yang kreatif.
'The second way of defining Secular Humanism holds that atheism consti-
Dengan tetap mengakui adanya fakta tersebut sebagai nilai tutes a vacuum of ethical values, which is then filled by an attitude of extreme
yang objekfif,'Abd al-Jabbdr menarik formalisme objektivitas human autonomy: humanity must be its own supreme being since there is none
higher. Finally, autonomy is said to lead to anarchy be+ause each individual will
nilai secara teoretis tersebut ke dalam konteks tindakan. Dengan
live in a world of moral relativism and situation ethics, with no common standard
menyatakan bahwa berdusta dalam konteks di atas, atas dasar of morality. Thus secular humanism is thought to be a slippery slope from athe-
utilitas adalah baik, etika'Abd al-jabbdr adalah lebih humanis ism to aulonomy to anarchy.'
dibanding deontologi yang kaku. Dalam dilema moral ketil.a ter-
jadinya konflik antarkewajiban,'Abd al-Jabbdr dalam pertim- Memahami konsep otonomi kehendak Kantian yang men-
bangan moraLrya memiliki konsep tentang "prioritas" moral dasarkan diri atas universalisme norrna etika dengan otonomi
yang lebih mendesak bagi nilai kemanusiaan. Mempertahankan dalam humanisme sekular yang mendasarkan diri atas relativis-
hidup orang lain adalah lebih humanis, menurut'Abd al-Jabbdr, me etika, sebagaimana tampak dalam kutipan di atas, tentu saja
dibangdingkan mempertahankan etika kewajiban, menurut Kant, distortif" Tetapi, benang merah yang dapat ditarik adalah bahwa
yang pada substansinya juga untuk nilai kemanusiaan. Ada prin- otonomi kehendak manusia yang diinterpretasikan secara kaku
sip kebaikan tertinggi (epikeia) ketika terjadi dilema moral yang akan mereduksi secara besar-besaran humanitas manusia- Hete-
mengatasi formalisme etika. Sebagaimana legalitas tidak selalu ronomi, dalam pengertian adanya faktor-faktor ekstemal di luar
s<.ara de facfo memenuhi asas moralibs, formalisme etika pun bisa dirinya yang "memaksa" untuk bertindak tidak scsuai dengan
kehilangan basis fundamental, yaitu kemanusiaan itu sendiri. Suatu kehendak murni otonom, adalah dimensi moralitas yang hilang"
konsep tentang keadilan, misalnya, bisa jadi tidak memenuhi rasa Hebronomi dalam kasus hipotetis sebelumnya adalah dipertim-
keadilan.
37 Christopher P Toumey, "Evolution and Secular Humanism', dalam Joum alof the Ameican Academy

Dalam konteks humanisme dan perkembangan etika di of Religion,Al / 2, 1993, hlm. 286.
Baraf otonomi kehendak dalam etika menjadihnrd core dari ge- s lbid, h|m.284.
150 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan lmplikasi Pemikiran Epistemologi 'AM al-Jabbir terhadap Pemikiran Etikanya 151

bangkarnya utilitas dalam deontologi, atau konbks di mana suatu Persoalan lain yang esersial dan sering absen dari perhatian
tindakan/peristiwa terjadi bersama-sama nilai moral tindakan pengkaji etika dalam konteks otonomi-heteronomi dalam etika
tersebut yang sudah mapan dalam konstruksi akal. Dalam kon- Kant dan perkembangan humanisme sekular di Bara t adala h bah-
teks etika teologi, wahyu sebagai kebenaran absolut (dalam pan- wa karena bertolak dari rasionalitas murni, otonomi Kantian dan
dangan teolog) yang sesungguhnya di luar diri manusia "diper- humanisme sekular kehilangan dimensi conscience (l,atin: con-
timbangkan" bersama-sama rasio sebagai kebenaran relatif yang scientia) dalam pertimbangan moral. Istilah etika ini berasal dari
ada dalam kesadaran rasionalitas manusia. sare (rnengetahui) dan con- (bersama dengan) sehingga berarti
Atas dasaruraian di atas, dalamhalepistemologi moral, kon-
"turut mengetahui". Pengertian tersebut merujuk pada gejala
"penggandaan" seperti pada "bukan saja saya melihat pohon
kibusi etika'Abd al-JabbAr yang sangat signifikan adalah dalam
konteks ketegangan deontologis-teleologis. Tidak ada satu pun
ifu, tapi saya juga "turut mengetahui" bahwa sayalah yang me-
sistem etika yang map.rn yang tidak memiliki kelemahan. Oleh
lihat pohon itu. Dengan adanya keterkaitan dengan kesadaran
(consciousness), term tersebut menunjukkan ada fenomena hati
karena ifu, sebagaimana tesisnya tentang ilmu sebagai realitas
('al6 md huwa bih) dan afektivitas (sukfin an-nafs\, tuntutan nilai nurani. Karena integritas kesadaran manusia, adalah suafu ke-
humanitas meniscayakan etika ganda, yaitu sintesis pendekatan
keliruan untuk mengidentifikasi hati nurani sebagai perasazrn,
kehendak, atau rasio. Semuanya berlangsung secara simultan dan
teleologis dan pendekatan deontologis. Eudemonisme Aristoteles
menyatu. Ada tendensi kuat dalam filsafat untuk mengakui bah-
dipertimbangkan dalam pendekatan deontologis, dan sebaliknya.
gt io."lsalisme norrna etika pada deontologi memberikan fun- wa hati nurani secara khusus harus dikaitkan dengan rasio. Ke-
damen yang kukuh dari serangan relativisme etika yang dikritik tika melakukan penilaian, hati nurani bertolak dari suatu per-
oleh'Abd al-Jabb6r. Sebaliknya, ide moral model eudemonisme timbangan (judgement) atas dasar rasio praktis.
Aristoeles dianggap merrjadi unsur kreatif untuk membentuk elias- Berbeda dengan rasio teoretis sebagai pengetahuan (kog"tti|
tisitas dari kekakuan formalisme deontologis, seperti terefleksi yang memberikan jawaban atas pertanyaan "apayang dapatsaya
dalam kridk'Abd al-Jabbdr terhadap absolutisme realis Abff al- ketahui?", rasio praktis terarah pada tindakan manusia. Rasio
Qdsim al-Balkhi.3e Dengan pendekatan ganda tersebut, manusia teoretis bersifat abstrak, sedangkan rasio praktis bersifat "kon-
sebagai agen tindakan tidak sepenuhnya sebagai subjek yang oto kret" dalam pengertian mengatakan kepada kita apa yang harus
nom. Dalam pertimbangan moral, ia "dipaksa" unfuk keluar dari, dilakukan kini dan di sini. Putusan hati nurani dalam fiIsafat etika
meminjam distingsi Aristoteles, "kearifan teoretis" (sophia) ke dianggap sebagai norma moral subjektif yang "mengkonkretkan"
"kearifan praksis" Qthronesis). pengetahuan etis kita yang bersifat umum. Meskipun merupakan
suafu totalitas dari rasio, perasaan, dan kehendak, dan meski di-
3 Dalam konteks bahwa nilai monalitas tindakan dilenfukan oleh kehendak manusia dan nilai intrinsik anggap mernpunyai dasar rasionalibs, putusan hati nurani bukan
perbualan, 'Abd alJabMr menolak pandangan'ontologis'yang dikemukakan oleh Neo-Phtonis
lslam semisal alfirAbi dan lbn Sind, bahwa suatu tindakan adalah baik dari kualitas ontologisnya. merupakan suatu penalaran logis (reasoning).a0
Lihal, Al-Mughni ti Abwdb at-Tawffd wa al-'Adl, JuzYl: l, hlm. 6 dan Juz Vl: ll, hlm. 65 dst Menunrt
'Abd alJabb6r, suafu tindakan dinilaidari segi moralihs karena dilihat dari suatu aspek (wajh). Oleh Dalam epistemologi 'Abd al-Jabbdr, kata nafs pada frase
karena ifu, suafu llndakan yarp sama murgkin rnemiliki nihimoralihs yarg berbeda kaena perbedaan sukfin o-n-nnfs merupakan suatu totalitas Qumlah) kesadaran ma-
wajh dalan pergertian konlels lindakan. Sujud, misalnya, akan rnemiliki nilai moralitas berbeda
nusia yang tidak hanya mencakup pengertian qalb (ran)al sebagai
antara yang dilakukan tefiedap Tuhan dan lerhadap yang lain, meski slatus ontologisnya sama.
Dalam pengertian ini, etika'Abd alJabbirdapat disebutsebagaietika'situasional'dalam pengertian
nilai monlitas tindakan mempefiifungkan konteks tindakan, termasuk pertimbangan utilitas.
s K. Bertens, Efika, hlm. 5$-$0
152 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan lmplikasi Pemikiran Epistemoiogi 'Abd al-Jabbir terhadap Pemikiran Etikanya 153

sentral berpikia tetapi seluruh kesadaran subjektif. Karena lebih karena pendasaran rasionalitas yang tidak memberi ruang bagi
merupakan konstruksi rasio subjektif terhadap fakta di luamya yang transendental. Rasionalitas dan conscience bekerja dalam
dalam konteks, konsep tersebut paralel dengan consaence (hati proses dialektis dan dialogis, sebagaimana interkoneksi objekti-
nurani) dalam konteks etika dalam pengertian bahwa meski men- vitas-subjektivitas.
dasarkan atas rasionalitas, konstruksi rasio-dibandingkan de-
ngan "pembacaan" terhadap realitas-adalah lebih tepat untuk
disebut sebagai dimersi "subjektif", karena realitas ketika dikon-
struksi oleh rasio bukan lagi merupakan das Ding an sich.
Perbandingan dengan etika Kant akan memperjelas kontri-
busi etika'Abd al-Jabbdr yang hidup pada abad pertengahan
sejarah Islam bagi humanisme dalam konteks sekarang. Imperatif
kategoris Kant mengimplikasikan bahwa tindakan yang meski
dinilai baik secara rnoral menurut sistem etika lain tidak bisa di-
nilai baik jika didasarkart conscience (hati nurani), kecuali dida-
sarkan atas kehendak baik yang otonom dan atas dasar kewajib'
an. Respon "utilitarian" Abd al-Jabbdr terhadap kasus hipotetis
sebagaimana dikemukakan lebih memenuhi nilai humanitas ka-
rena secara epistemologis bertolak dari conscience, di samping
nilai intrinsik dari tindakan o$ektif. Oleh karena itu, berbeda de'
ngan Kant'Abd al-Jabbdr menganggap tindakan baik yang di-
dasarkan atas conscience adalah baik. Dalam konteks perkem-
bangan humanisme di Barat, conscience adalah elemen yang hi-
lang dalam episternologi moral humanisme sekular. Dimensi ter-
sebut adalah bagian integral yang harus diperhitungkan dalam
epistemologi moral sekarang ketika humanisme sekular sebagai
"otonomi kehendak yang tidak memerlukan sanksi bologis" dan
"penegasian keyakinan" (negation of personal belieflaz dikritik

al Lihat'AM alJabbdr, Al-Mughni ft Abw6b at-Tawf;id wa al-'Adl,iuzXll, hlm. 22. Menurut ketemngan
'AM alJabb6r, Mak ada perbedaan fundarnental antana konsep para filsuf dengan mutakallimin
bahwa manusia yang diungkap dengan nafs merupakan tohlitas. Dia mengungkapkan:

.dL,)t j pB 4 41 j pt5t O+1 1 rdi-ry| eJ -,p6l Or-+ iyK:.| d :cl+ir+l du r


ri14 0li.bJ, .{.{i tt.| ruJ "r
1 rLn J dS prJ.,p j, gt{a,J+l il11l .t,f.!.JS dl
j j
r-li.l gy r.ihili.fu.lj .u"iit d[i f)tSI ,JJ".+J
12 Christopher P. Toumey, 'Evolution. ...",hlm.282-284.
?r

PENUTUP

Seluruh bangunan pemikiran epistemologi,Abd al-Jabbir


menunjukkan bahwa ia bukanlah "rasionalis mulrri,, yang ber-
tolak hanya dari spekulasi nalar rasional. Beberapa isulah dan
konsep kunci yang digunakannya mendasari pemitirur,,,empi-
ris" -unfuk mengatakan tidak menafikan fakta dan metode em-
piris - bersama dasar rasionalismenya dalam membangun epis-
temologi baydnt modelknllm abad pertengahan Islam.
Dengan bertolak dari kerangka teologis, pengetahuan (,ilm,
ma'ifah, abudirdyah) didefinisikan sebagai jenis keyakinan (con-
viction)yang diverifikasi dengan dua standar: korespondensi atau
kesesuaian dengan realitas objektif ('aI6 mihuwa bih) danafektivi-
tas psikis (sukfin an-na[s). Kedua standar tersebuf dalam perspek_
tif epistemologis, disebut sebagai unsur objektivitas ilmu pe"ge-
tahuan yang terkait dengan fakta, baik fakta empiris **.tul
-u.r-
pun fakta akal budi rasionaf dan unsur subjektivitas yang ber_
kaitan dengan konstruksi rasio terhadap realitas. Interkoneksitas
keduanya menunjukkan bahwa ilmu, menurut,Abd al-Jabbdr,
dibangun atas dasar tolak-ukur kebenaran korespondensi dan ko-
herensi. Oleh karena itu, epistemologi'Abd al-JabbAr pada sub
stansinya merupakan kritik atas realisme model AbO al_e6sim
al-Balktri dan beberapa tokoh Asy'ariyyah, semisal al-Juwayni
(1028-1285), tentang ilmu sebagai fakta-fakta an sichdan kritik
t
156 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Penutup 157

atas pemikiran epistemologis model AbO al-Huzayl al-'AllAf ten- maknaan filsuf, terminologi kal6m tersebut merujuk pengertian
tang ilmu sebagai keyakinan subjektif murni. Meski menegaskan sebagai "proses berpikir" yang substansi maknanya sama dengan
inbrdepensi dua unsur tersebut, sebagaimana kritisisme Kantyang rasio sebagai instrumen(organon) berpikir di kalangan filsuf, dan
dianggap cenderung ke rasionalisme, 'Abd al-Jabber cenderung sebagai "produk berpikir" (seperangkat ilmu) yang menjadi prin-
menganggap ilmu sebagai hasil dari konstruksi akal terhadap sipprinsip dasar (les pincipes premiers) dalam proses investigasi
fakta sehingga tidak ada dns Ding an sidryartg" sberil" dari "reka- 'ilmiah".'Aql, menurut'Abd al-Jabbdr, merupakan sumber pe-
yasa" akal. Kritik atas episbmologi model al-'Alldf adalah bagian ngetahuan global tentang objek-objek fisik, atau sifat dan pene-
dari target kritiknya brha dap as-sftfsthi'iyyah (sofi.sme) dalam pe- tapan (bi jumal al-a'ydn wa al-awtsdf wa al-affim) bug persoalan
ngertian nihilisme (' inidiyyah), relativisme {' indiyyah, ashfoftb at- metafisika dan moral. Kedua, dunia eksternal yang berhubungan
tnj6hut), dan agnostisisme (li adnyyall. Kritik terhadap epistemo dengan fakta-fakta empiris-sensual. Pengetahuan tentang o$ek-
logi model al-Balkhi mendasari apa yang disebut sebagai skepti- o$ek tersebut merupakan standar minimal bagi kesempurna,u:r
sisme epistemologis sebagai bagian integral dari proses b"rpikir. akal (knmdl aI: aql) y angmenjadi tolak-ukur keabsahan nalar dan
Atas dasar hubungan kebenaran dan keyakinan (belief and taHtf. Ketiga, karena nalar teologis yang bertoiak dari nalar teks,
truth) dalanfilsafat ilmu, aktivitas "mengetahui" tidak hanya me' wahyu dan khabar menjadi bagian integral dari epistemologi
rupakan keadaan mental (teori mentalistik) tentang penghadir- bayfrni model kal6m. Meski demikian, keduanya harus "diverifi-
an ide-ide dari luar ke dalam kesadaran, tetapi merupakan "ak- kasi " atas dasar rasionalitas yang berimplikasi pada penempatan
fualitas mengetahui" (salah safu sisi pandangan "empiris" 'Abd wahyu di bawah akal dalam hierarki argumen keagamaan dan
al-Jabbdr) atas dasar alasan-alasan cukup (raison suffisante-nya penolakan Hnbar al-wdbid pada persoalan teologis. Dengan me-
I€ibniz). Inilah yang disebut ma'n6, sebagai substansi ilmu pe- nyatakan bahwa khabar adalah sumber pengetahuan, ia meng-
ngetahuan. Mn'nA dikonstruks sebagai proses mengetahui yang kritik kalangan yang disebut as-Sumaniyyah.
berada dalam interrelasi antara ilmu dan keyakinan. Dalam kon- Pengetahuan diklasifikasikan menjadi dua kategori:. pertama,
teks ini, interrelasi tersebut dipahami sebagai: (1) relasi instru- pengetahuan langsung (al:ilm ad-illurfin), yartu pengetahuan yang
mental, bagran dari keyakinan-keyakinan, misalnya zhann, yartg diperoleh tanpa nalar diskursif. Kedua, pengetahuan diskursif (al-
menjadi bagian dari kerja metodologis, dan (2) relasi distansial, ' ilm al-muktasab) y ang dtperoleh melalui proses n alar
Qnzhar) atlrrt
yaitu ilmu sebagai produk be.pikit yang mengkritisi produk ke- inferensi (istidl6l). 'Abd al-JabbAr merunut secara logik tahapan
yakinan yang tidak kritis, semisal taqltd dan tabklit. Dengan dis- dalam proses mengetahui manusia, semisal distingsi yang dibuat
tingsi ini, "mengetahui" adalah proses dinamis di mana terjadi antara kesadaran diri (self-consciousness) sebagai tahup awal me-
negasi dan afirmasi(nafu waitsbilt) atas dasar sebab ('illah), aspek ngetahui dan pemgetahuan (knowledge). Distingsi tersebut yang
atau kribria (uran, sifat, dan kondisi (!ril) erbntu. Keyakinan br- kemudian mendasari pandangannya tentang conscience morale
sebut dalam konteks epistemologis dipahami sebagai "peta rea- (kesadaran moral, hati nurani) dalam pertimbangan moral. Pe-
litas" bagi subjek. ngetahuan diskursif diperoleh melalui metode empiris dan rasio-
'Abd al-Jabbdr mengakui validitas pengetahuan yang ber- nal. Kerja metodologis pada hakikatnya adalah bersifat ekspla-
muara pada sumber-sumber berikut. Pertamn,'aql ataLu pengeta- nafrf, klarifikatif, atau verifikatif sebagai aktivitas rasio. Prinsip
huan rasional. Meski memiliki perbedaan tertentu dengan pe- prinsip yang mendasarinya adalah keniscayaan metodologis ('ali'
thaiqah wfrfuldah) dan pluralisme metodologi s. I drik,meski bukan
Y
Penutup 159
158 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan

merupakan ma'nA, adalah sesuafu yang niscaya dalam penelitian. logisnya, mengkonstruk bangunan pemikiran epistemologi
Pengamatan terhadap fenomena empiris-sensual secara dharni Islam dalam sejarah secara komprehensif meniscayakan eks-
merupakan fundamen bagi nalar rasional (nazhar). Metode empi- plorasi pemikiran teologis di dalamnya. Kajian terhadap epis-
ris brepresentasi secara ielas pada teorinya tentang ru'yah (uisual temologi'Abd al-jabbdr di abad tengah Islam yang telah di-
theory), lstidlill bi asy-sydhid' al6 al-ghi'ib (inferensi dari yang kon-
lakukan ini hanya merupakan safu fragmen dari bangunan
kret ke yang abstrak), as-sibr wa at-taqstm (silogisme disjungtif), besar pernikiran epistemologi Islam yang idealnya harus di-
danilzdm (argumentum adhominem) adalah metode rasional dalam hubungkan dalam suatu kontinuitas historis dan konseptual
memperoleh pengetahuan diskursif, yang dimaksudkan oleh yang terkait dengan pemikiran epistemologis tokoh-tokoh
'Abd al-|abbAr untuk kepentingan teologis. lain, baik dari Aq/ariyyah, semisal al-Juwayni, al-Bdqi116ni, dan
al-BaghdAdi yang berinteraksi langsung dengan Mu'tazilah
Dualitas pandangan epistemologis, objektivitas-subjektivi- dalam banyak konteks, maupun dari tokoh-tokoh Mu'tazilah
tas dan empirisme-rasionalisme, tersebut berimplikasi pada ba- pra-'Abd al-Jabbdr, semisal al-'Alldf dan an-Nazhzhdm untuk
ngunan pemikiran etikanya yang dapat kita konstruk sebagai memperoleh bangunan pemikiran Islam secara utuh tentang
"etika kritis", sistem etika yang mensintesiskan realisme atau ab "epistemologS kal6m" .
solutisme etika model al-Balkhi dan esensialisme model al-Alldf.
Obiektivitas dan subjektivitas dalam etika'Abd al-Jabbdr berim' 2. Sebagaimana dieksplorasi secara analitis dalam kajianini (bab
plikasi pula pada upaya mensintesiskan antara pemikiran etika IV), pemikiran (etika) teologis Islam, yang sering dilabeli se-
yang dapat diidentifikasi sebagai deontologi dan "utilitarianis- bagai basis eksklusivisme karena penekanannya pada truth
me" yang bleologis, dan upaya mempertimbangkan secara dia- clairz, memiliki implikasi pemikiranyang justru lebih menyen-
lektis dan dinamis antara etika wahyu dan etika rasio dalam epis- tuh dimensi humanitas. Oleh karena itu, sebagaimana kajian
bmologi moral. Dalam konbks humanisme, sistem etika yang ber- terhadap humanisme di abad tengah Islam yang berpusat
standar ganda tersebut menyediakan inbrpretasi kreatif terhadap pada ide-ide filosofis yang dilakukan oleh Joel L. Kraemer
universalisme norma etika ke dalam konbks tindakan secara parti- dalam Humanism in the Renaissance of lslam: the Cultural Re-
kular sehingga lebih menyentuh dimensi humanitas dibanding aiaal duing the Buyiil Age,1 atau hurnanisme Islam klasik yang
etika deontologis atau teleologis murni. berpusat pada isu-isu pendidikan yang dilakukan oleh George
Makdisi dalam The Rise of Humanism in the Classical Islam and
Dari model epistemologi semacam ini, pemikiran'Abd al- the Chistian West,2 kujiu. terhadap dimensi-dimensi yang hu-
Jabbar mempunyai implikasi sebagai berikut manis dalam teologi Islam bukanlah merupakan sesuatu yang
1. Meski memiliki sisi orisinalitas, filsafat Islam lebih banyak mustahil, terutama aliran Mu'tazilah yang blah menunjukkan
merupakan pengembangan dari proses asimilasi kultural de- kecenderungan kuatnya melakukan pendekatan antropologis
ngan elemen-elemen filsafatYunani, Persia, unsur Kristen, dan dan psikologis. Ekslusivisme knl6m bannekali disebabkan,
sebagainya. Berbeda dengan itu, karena karakter defensif dan antara lain, oleh reduksi sejarah tentang debat akrft falsafah-
apologetilnya, l@lhnleHhbanyak pemikiran- knlA?n, sebagaimana yang terjadi antara MattA dan as-Slrdfi,
nya dari dalam meski secara historis jugabersentuhan dengan yang terlalu ditekankan.
elemen-elemen di luarnya. Oleh karena itu, kalimmerupakan 1 (Leiden: E.J. Brill, 1986).
pemikiran Islam yang paling orisinal. Sebagai konsekuensi
'? (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1 990).
?T

DAFTAR PUSTAKA

'Abd al-]abbAr ibn Ahmad ibn Khdil ibn'Abdilldh al-HamadzAni


al-AsAdAbddi (disebut'Abd al-JabbAr). 1960 1 969. aI-
-
Mughnf f Abwdb at-Tmnhtd wa aI: AdL Diedit oleh lbrAhim
Madkfir. Cairo: al-Mu'assasah al-Mishriyyah al-Arnmah
li at-Ta'lif wa ath-Thibd'ah wa an-Nasyr dan Wizfuat
ats-TsaqAfah wa al-IrsyAd al-Qawmi.

.1979. Ktdb al-Ushfil al-Khamsah. Daniel Gimare! "Les


Ushfrl al-Hamsa du Qadi'Abd Al4abbAr et l,eurs Com-
mentaries". Dalam Antnles Islamolo giqaes, No. XV. Institut
Francais D'archeologie Orientale Du Caire.
t.t. al-Mubtthbi at-Takltf. Juz L Diedit oleh'[Jmar as-
Sayyid 'AzmL, Cairo: al-Mu'assash al-Mishriyyah al-
Ammah li at-Ta'lif wa al-InbA" wa an-Nasyr.
19ffi. al-Mukhtashar f UsltAl ad-D?n. Dalam Muhammad
'Ammdrah (ed.). Ras6'il al-'Adlwa at-Tawfoid. Cairo: DAr
asy-Syur0q.
t.t. MutasyAbilt AIQur' iln.Adftoleh'Adn6n Muhamrnad
Zaruir. Cairo: DAr at-Turdts.
(Pseudo)'Abd al-Jabbtu. 1965 / 7384. Syarfu al-Llshfrl al-Khamsah.
Cet. I. Versi Qawdm ad-Din Manakdim. Diedit oleh'Abd
al-Karim'UtsmAn. Cairo: Maktabah Wahbah.
162 Epistemologi Kalam Abad pertengahan
Daftar Pustaka
163

'Abd al-Karim'Utsmdn . 196i.,,Muqaddimah,,. Dalam (pseudo)


Angeles, Peter A. 198'1,. Dictionary of philosophy.
'Abd al-Jabbdr. Syarfoat-llshfil al_Khamsah. Cairo: Mak_ New york:
Barnes & Noble Books dan Division oi fiu.p",
tabat Wahbah. & Row,
Publishers.
'Abd ar-Rahman ibn Ahmad al-Iji. t.t. Al-Mawilqiff 'Ilm al-Kal6m.
Anton Baker. 1999. Metodorogi penelitian Filsafat yogyakarta:
Makah: Dfu al-Br6,2li ath-Thibd,ah wa an_Nasyr wa at_
Kanisius.
Tawzf dan Beirut'Alam al-Kutub.
Asy-syahra stani- 1992/ r41g At-MilaI wa an-Nifoar.
Abrahamov, Binyamin. 1998. Isramic Theology : Trailitionalism and " Cet. II. Diedir
oleh Almad Fahmi Mulammad. Beirut DAr al_Kutub
Rationalism. Edinburgh: Edinburgh University press.
al-'Ilmiyyah dan edisi Cairo: Maktabah Anglo al_
Abfi at-Hasan al-Asy'ari. 1969/7989.
waw al-rslfuniyfn Cer rI. Mishriyyah rt
Dedit oleh Mulammad Muhyi ad_Dtn,Abd al_Hamid. Bahm, Archie I. 1980. .What is ,Science,?,, Bagran
Beirut al-Maktabah at-,Ashriyy a1.,7gg} / 1411 dan edisi yang dibrbit_
kan ulang daribukunya, Axiology: lie Sience"EValues.
Cairo: Maktabah an-Nahdhah al_Mishriyyah.
Albuquerque/New Mexico: World Books.
Ahmad Amin. t-t. Dhufofi al-Ist6m. Cairo: Maktabah an-Nahdhah Beerling ef. aI. 1970. Inteiding tot de wetenschapleer.Diterjemahkan
al-Mishriyyah.
oleh Soejono Soemargono dengan judul 'pengantar
Ahmad Baso. 2000. "Postrnodemisme sebagai Kritik Islam (Kon- Filsafat IImu. y ogyakarta: Tiara Wacana.
tribusi Metodologis "Kritik Nalar,, Mulammad Abed Berman, Lawrence V.lg76.,,Islamic Rationalism:
al-Jebitri'. Dalam \{trhammad Abed at-}abiri, post Tra_ the Ethics of
'Abd al-Jabbdr: Book Review,,. Dalam Stanford].
disionalisme Islam. Diterjemahkan oleh Ahmad Baso. Shu*
(ed.). lnternationar rournal of Middre East
Yogyakarta: LKiS. studies. vol vn.
Bemand, Marie. "La Notion de,Ilm Chez Ies premiers
Al-Glrazah. Lt Mi'ydr al:llm. Cairo: Dar al-lvla,rifah. Mu,tazi_
Iibs". Dalarn Studia Islamica. No. 36 (1972) dan
No. 37
AlHarits ibn Asad at-Muhasibi.1971/1s97. Kit6b al:Aql Dalam (1e73).
Husap alQ0fili (ed.). Al:Aql un Fahm Al_eur'6n. Cet I. Bertens, K. 2000. Etika. Jakarta: penerbit pT.
Beirut Ddr al-Fikr. Gramedia pustaka
Utama.
'Ali Mushthafd al-Ghurabi. t.t. Tbrikh al-Fir6q at-Islfrmiyyah wa Brandt, Richard B. 19!?. EthiulTheory: The problems
N asy' at' IIm al-Kal6m' ind of Normatiae
al- Muslimin. Cat o: tr,laktabah and Citical Ethics. New Jersey: prentice_Hjf Inc.
wa Mathba'ah Mulammad,Ali Shabih wa AwlAdih.
Browne, E.G. 1959. U_r:r?rV History of persia.
'Ah Sami Nasysydr. 1967. Manihij al-Bafuts ,ind Mufakkir al_Isl6m Vol. I. Cambridge:
Cambridge University press.
wa Iktisydf al-Manhaj al: ilmt. Cairo: Dar al_Ma,drif.
Brummer, Vincent. 1981. Theology anit philosophical
Inquiry: An
1981.. Nasy'at al-Fikr al-Falsaf
f al-Istfun. Cairo: DAr Introduction New york: The Macmillan press,'Lti.
al-Ma'drif.
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Daftar Pustaka 165
1M

-l'996' "Filsafat Islam"' Dalam Frank, R.M. 1971. "Several Fundamental Assumptions of the
Budhy Munawar-Rahman.
Muhammad Wahyuni Nafis (ed.) - Rekorstruksi dan Rentng- Bashra School of the Mu'tazilah". Dalam Studialslamico.
an Religius Islam' Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina' No. 33.

Cahen, Claude. 1960. "Buwayhids, Buyids". Dalam H'A'R' Gibb Fuat Sezgin.1967. Geschichte des Arabischen Schifttum.s. l,eiden:
et.al. (ed.). The Encyclopaedia of lslam. Vol' I' Leiden: E'J' E.J. Brill. Band. Yol. l.
Brill dan London: Luzac & Co. G.J. Wamock.1972. "Reason." Dalam Paul Edwards (ed.). The
Carr, Brian dan D.J. 1982. O connot.Introduction to the TLuory of Encydapaediaof Philonplw. Vol. VIL NewYork Ntacmillan
Knowledge. Sussex/ Great Britain: The Harvester Press Publishing Co., Inc. & The Free Press dan [,ondon: Collier
Limited. Macmillan Publisher.

Chisholm, Roderick M. 1989. Theory of Knowledge' New Jersey: Gallagher, Kenneth T. 1994. The Philosophy of L*towledge. Disadur
Prentice Hall, hrc. olehP. Hardono Hadi dengan judulEpistemologi: Filsafat
P engetahuan Yogyakarta: Pustaka Kanisius.
Curzer, Howard !.7999. Ethical Theory and Moral Problems.
Belmont, CA: Wadsworth Publishing Company' Gardet, Louis. 1971. "HaytrlA". Dalam Encyclopaedia of lslam, Nr.a
Edition. Lieden: E.J. Brill.
De Boer, T.J. 1ggg. "Nazhar". Dalam C.E. Boswotth (ed'\' The
Encyclopaedia of lslam- Vol. VII. Leiden dan New York: . dan G. C. Anawati. 1981. Introiluction a Ia Theologie
E.J. Brill.
Musulmane: Essai de Th6ologie Comparda Sorbonne:
I-ibraire Philosophique J. Vrin.
Denise, Theodore C. et. aI.7999. Great Traditions in Ethia. Belmong
CA.: Wadsworth Publishing Company' Gimaret, Daniel. 7979. "I-es Ushill Al-Khamsa dt Qadhn'Abd al-
Jabbdr et Leurs Commentaries". Dalam Anrnles Islamo-
Fatchur Rahman. t.l. Ikhtishar Musthalafuul Hadtts. Cet. XIV. Iogtques. No. XV. InstitutFrancais d'Archeologie Orien-
Bandung: PT. Alma'arif. tale Du Caire.
Fauzan Saleh. 1gg2. The Problem of Euil in Islamic Theology: A shtdy Goldziher, Ignaz.l9ST.Introduction to Islamic Theology and law.
on the Concept of al-Qabfu in al-Qddi Abd al-labbdr al- Trans. Andras & Ruth Hamori. New jersey: Princeton
Hamadhani's Thought. Montreal: McGill University' University Press.
Fazlur Rahman. 7979.Islam. Chicago dan London: university Hasan $ana fr.1g87. Dirdsdh Falsafyyah.Cairo: Maktabah Anglo
of Chicago Press. al-Mishriyyah.
Fisher, Rob. 1999. "Philosophical Approaches"' Dalam Peter Harrisoru Jonathan. 1972.'Inbrlfionism". Dalam Paul Edwards
Corurolly (ed.'S' Approaches to Study of Relr3'lon' London
@d.). fhe Encyclopaedia of Philosophy. New York: Mac-
dan New York: Cassel' millan PublishingCo.,Inc &The Free Press dan l,ondon:
Franz Magnis-Suseno' 1997. 1,3 Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani Collier Macmillan Publishers.
Sampai Abad ke-19' Yogyakarta: Kanisius'
166 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Daftar Pustaka 167

Horwich, Paul. 1993. "Truth, theories of". Dalam Jonathan Danry Jujun S. Suriasumantri. 1984. Filsafat llmu: Sebuah Pengantar.
dan Ernest Sosa (ed.\. A Companion to Eptstemology. Mas- Jakarta: Sinar Harapan.
sachusetts: Blackwell.
Koester, HeLnut.L987. History, Culture, and Religion of the Hette-
Hospers, John. 1996. An Introduction to Philosophical Analysis. nistic Age. New York dan Berlin: Walter De Gruyter.
l,ondon: Routledge.
Kraemer, Joel L. 1986. Humanism in the Renaissance of Islam: The
Hourani, George F. t.t. lslamic Rationalism: the Ethics of 'Abd al- Cultural Rniaal iluing the BuytdAge. Leiden: E.J. Brill.
labbdr. Oxford: Clarendon Press.
7986. Philosophy in the Renaissance of Islam: Abu
1980. "Ethical Presuppositions of the Qu1an". Dalam Sulaymiln as-Sijistdni and His Circle.lciden: E.l. Brill.
The MuslimWorld. No. 70.
Leaman, Oliver. 1996. "Islarnic Humanism in the fourth/tenth
Hurley, Patrick J. 1985. A Concise Introduction to Logic. California: century". Dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver
Wadsworth Publishing Company. Leaman (eds.). History of Islamic Philosophy. London dan
New York: Routledge.
Ibn al-Atsir . 1966. Al-KhmiI f aFTArikh. Vol. IX. Beirur Ddr Shddir
dan Ddr Beirut. An lntroduction to Medimal Islamic Philosoplry.
7985.
Ibn Hazm. t.t. KitAb aLFishfrI f al-Milal wa al-Ahw6' wa an-Nifotl. Cambridge: Cambridge University Press. Edisi bahasa
Cet. I. Beirut Ddr al-Fikr. Indonesia dibrjemahkan oleh M. Amin Abdultah . 1989.
Dengan judtl Pengantar Filsafat lslam Abad Pertengahnn.
Ibrahim Kalin. Fall 1999. "Knowledge as Light". Dalam The
Jakarta: Rajawali Pers.
Americnn lournal of lslnmic Social Scimces. VoL L5. No. 3.
I€wis, Bernard. 1993.Islam in History: lileas, People, and Eoents in
IbrAlrim Madk0r. 1983 / 1.403. Abfi Nashr al-Fhrdbt f adz-Dzikrd al- the Middle Easf. Chicago dan La Salle, Illinois: Op"^
Alfyyah liwafdtih 940 M. Cairo: al-Hay'ah al-Mishriyyah Court Publishing Company.
al-'Ammah li al-KitAb.
Machasin. 1997. "Epistemologi'Abd al-Jabbdr Bin Almad al-
Ilhamuddin .7997 . Pemikiran Kalam al-Baqill"ani: Studi Tentang Per- FlamadzAnf'. Dalam Al-lami'ah: lournnl of Islamic Studies.
samafln dan Perbedaannya dengan al-Asy'ai. Yogyakarta: No. 45. Institut Agama Islam Negeri Sunan IGlijaga
Tiara Wacana. Yogyakarta.
Ismail Raji al-Faruqi.7966. "The Self in Mu'tazilah Thought". 2000. Al-Qadi'Abd al-Jabbdr dan Ayat-ayat Mutasya-
Dalam lnternational Philosophical Quarterly. Vol. VI. bihat Al-Qur'an". Disertasi doktoral di Pascasarjana
Izubu, Toshihiko. 1987. God and Mnnin the Koran New Hamp LAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1994), dan dibrbitkan
shire: Ayer Company Publishers, Inc. dengan judul. Al-Qadi 'Abd al-labb6r, Mutasyabih al-
Qur' an: D alih Rasi onalit as Al - Qur' an. Y o gy akarta : LKi S.
iamil Shalibe. 1973. Thrikh al-Falsafah aI-' Arabiyyah. Cet. II. Beirut:
Ddr al-Kutub al-Lubndni. 2000. "Understanding the Qur'dn With Logical Argu-
ments: Discussion on'Abd al-Jabbir's Reasoning".
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Daftar Pustaka
169

Dalam Al-l6mi'ah: lournal of lslamic Studies. Vol.3g. No. Muhammad Arkoun. 1990- at-Isl6m: ar-Akhlfr4 wa as-siydsah.
2. Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Dterjemahkan oleh Hasyim Shalih. paris: Unes- aur,
Yogyakarta. Beirut Markaz al-Inmd, aleawmi.
Majid Fakhry. A History of Islamic philosophy. London:
1,g8g. Murtadha A. Muhib ad-Dftr. 1gg4.'phirosophical Theorogy
Longman and New York Columbia University press. of
Fakhr ad-Din ar-Rdzi in at-Tafsti al_Kabir,,. Oliurr,
1953. "Some Paradoxical Implications of the Hamdard Islamiarc. Vol. XVII dan )O(
Mu'tazilite View of Free WilI". Dalam The MuslimWorld. Nashr HAmid Abfi Zayd . 1996. Al-tttijfrh aI-' AqIt at-Tafstr: Dirilsah
Vol. XUtr. f
f
Qadhiyyat al-Majfrzf Al-eur'6n'inil al_Muitazilah. CeL
Makdisi, George. 7990. The Rise of Humanism in the Classical Islam ru. Beirut al-Markaz ats-Tsaqffi al_,Arabi.
and the Cltistian Wesf. Edinburgh: Edinburgh Univer- Nettoru Ian Richard. 1992. Al-Fardbt anil His scltoot. New york
sity Press. dan Londoru Routledge.
799'1.. Ethicnl Theoies in Islam.Ieiden: E.I. Brill. Peters, j.R.T -M.1976. God's Createil speech: A stuily in
the speatla-
Majd ad-Drn Mu[ammad ibn Ya'q0b al-Fayr0zabadi. 1991. At- tiae Theology of the Mu'tazili e6dht at_eudhilt AU" ot_
Qhmfis al-Mufuith. Cairo: Ddr al-Kutub al-,Ilmiyyah. flasan bin Afumad al-Hamadz6nf. l,eiden: E.J. Brill.
Martin, Richard C. Mark R. Woodward dan Dwi S. Atrraja. 1997. Popkin, Richard H. dan Aurum stron. r9g'1.. philosophy Madc
Defenders of Reason in Islam: Mu'tazilism Simple. London: Heinemarn.
from Medinal
School to Modern Symbol. Oxford: Oneworld. Reinhart, A. Kevin. 1995. Before Reoelation: The Bounilaries of
Muhammad Hatta. 1986. Alam Pikiran Yunani.fakarta: Universi- Muslim Moral Thought. New york State University of
tas lrdonesia (UI) Press dan Tintamas. New York Press.
Mulammad Kdmil al-Hurr. t.t.Ibn Stn6: flayiltuh, 'Ashruh Rosenthal, Franz.l9T0. Knowledge Tiumphant: The Concept
wa of
Falsafatuh. Beirut DAr al-Kutub a1-'Ilmiyyah. Knowledge in Media:al Islam.I*iden: E.j. Brill.

Mulammad Ghaflab. t.t. Al-Mn'ifah'ind Mufakkir al-Muslimtn. Runes, Dagobert D. Dictiorury of philosophy. New Jersey:
!971,.
Cairo: DAr al-Mishriyyah li at-Ta'lif wa at-Tarjamah. Uttlefield, Adams & Co.
Muhammad'Abid Al-Jabtui. 1993. Bunyat al-' Aql aI: AraW: Dirilsah saliba, George .1993. "The Aslt'arites and the science of the stars,,.
Dalam Richard G. Hovannisian dan George Sabagh
Tafolfliyy ah N aqdiyyah Ii Nuzhfim aI-Ma' ifah
f ats-Tsaqilfah
(eds.). Religton and Culture in lvlediwal Islmn.
al-'Arabiyyaft. Beirut al-Markaz ats-Tsaqdft al-,Arabi. InsAngelis:
University of Cali:fornia press.
ly[trhammad'Ammdrah. 1 988. "Qddhi al-eudhah, Abd al-JabbAr
al-Hamadzdnf' (pengantar). Dalam,Abd al-Jabbdr, Al- Sari Nusibeh. "Episbmology',. Dalam Oliver Leaman dan Seyyed
Mukhtashar ft Ushfil ad-Dtn. Dalam Muhammad Hossein Nasr (eds.). 1996. History of lslamic phitosophy.
'AmmArah (ed.). Rns6'il al:Adlzna at-Tawhtd. Cairo: DAr London dan New york Routledge.
asy-Syur0q.
Epistemologi Kalam Abad Pertengahan Daflar Pustaka 171
170

Solomory Robert C. 1985. Introducting Philosophy: A Text With Early Islam: Collected Articles. 1990. Edinburgh:
Readings. New York: Harcourt Brace |ovanoviclu Pub- Edinburgh University Press.
lishers. Wensinck, A.J. 1979. The Muslim Creed: Its Genesis and Histoical
TAj ad-Din AbO Nasyr'Abd al-Wahhdb ibn'Ali ibn'Abd al- Daselopmenf. New Delhi: Oriental Books Reprint Cor-
Kafi as-Subki. 1967 /1386. Thabaqht asy-Sy6f iyy6h al- poration.
Kubr6. Vol. V. Diedit oleh Mahmod Mu\ammad at- Wolfsoru Huoy Austryn. The Philosophy of the Kntam.Cambridge:
Tanaji dan'Abd al-Fatt6h Mulammad al-Hulw' Cairo: Harvald University Press.
Maktabah'Isi al-Bdbi al-Halabi wa Syurakd'ih'
Yusuf Karam . tt Al: Aqkt:a al-ltrtuj fid. Cet III. Cairo: Dar alNda'arif.
Tarif Khalid i. 1996. Arabic Histoicnl Thought in tle classical Peiod.
Ziy ddah, Ma'in (e d.). 7986. al- Mautsfi' ah al-F alsafyy ah aI: Ar abiy -
Cambridge: Cambridge University Press.
yah. Cel.I. Vol. II. Cairo: Ma'had al-Inmd' al-'Arabi.
The Liang Gie. 1998. Kamus Logikn- Yogyakarta: Penerbit Liberly
dan Pusat Belajar Ilmu Berguna (PBIB).
Zuhdi Jdrull6h. 1974. Al-Mttt'tazikh. Beirut Al-Ahliyyah li an-
Nuryr wa at-Tawzf .
Tim penulis Rosda. 7995. Knnus Filsafat.Cet. I. Bandung: Penerbit
Remaja Rosdakarya.

Toumey, Christopher P.1993. "Evolution and Secular Human-


ism". Dalam lournal of the Ameican Acadnny of Religion'
Yol.r-N'/2.
Tuft, Anthony Keith. 7979. The Oigins and Dmeloryent of the
Controoersy Ooer "Ru'yA" in Medimal Islam and Its Rela-
tion to Contemporary Visunl Theory.Ios Angeles: Uni-
versity of Califomia.
van Ess, losef.7992. "The Logical Structure of Islamic Theo-
logy." Dalam Issa J. Boullata (ed.). An Anthology of
Islnmic Studies. Montreal McGill-Indonesia IAIN De-
velopment Project
Victoria, Neufeld (ed.). 7996. Webster's Nmt World College Dictio-
nary. USA: Macmillan, Lrc.
Watt, William Montgomery. 1990. Early lslam: Collected Essays'
Edinburgh: Edinburgh University Press.
lslamic Phitosophy and Theology: An Extended Suntey.
1992. Edinburgh: Edinburgh University Press.
lndeks 173

al-iii z, g, 40, 4g, s4,7s 'Amribn'Ubayd 4


al-IskAfi 88 Amstrong 50
al-Jdbiri 2, 3, 10, 1'1., 35,38, an-nazhar f al-adillah 69
39, 4, 49, 50, 55, 92, an-nazharfal-a'ydn 69
94, 103, 114, 1'1.6, 117 an-NazhzhAm 3, 33, 43, M,
INDEKS al-]dhizh 29, 43, 45, 76, 97, 45, 69, gg, 95, 101,
126 't46, 759
al-ldhizJtiyyah 97 AntonBakker 14
Al-Jami'ah: Journal of Islarric 'aql 35, 38, 55, 80, 86, 87,
Studies 72 8& 706, 109, 135, 156,
al-jrwhar 3 157
al-|uwayni 2, 5, 6, 129,13'1., 'aradhiyyah 54
155, 759 ashhib al-hayiln 89
al-kumfrn w a ath- thafr ah 3 ashhib al-ma'6if 97, 101
A AbO IshAqibn'Ayydsy 21 al-midilah w a ash-shfirah 3 ashhhb at-tajdhul 34, 53, 69,
Abt Muhammad 'Abd al- al-Mdwardi 2, 139 90, 726, 156
AHistory of IslamicPhilosoPhY 3 Rahman al-Jalab 21 al-muqabbahAt 732, 142, 143 ashl 40, 85, 87, 1,A6, 111, 135
aprioi 59, 77, 730 as-Sirlfr. 2, 32
Abt Sa'id al-Mutawakkil 29 ashl li al:ilm 89
A.KevinReinhart 80, 81, U, AbO Sulaimdn as-SijistAni 31, al-UshOI al-Khamsah 5, 14, 6, 29, 36,40,
asy-Syahrast/ini
86, 730, 137, L35 32 20, 24, 27, 29, 29, u, 45, 47, 56, 97, 101
A.j.Wensinck40, 41, 46, 48, ad-dsw6'i 77 48, 49, 5'1., 52, 55, 61, Asy'adyyah 5, 6, 20, 27,29,
100, 105 '6dah 93,94,706,770 63, &, 65, 72, 74, 75, 30, 33, 34, 40, 41, 46,
Abbasiyah 23,30,32 AdamFerguson 81 80, 87, gg, 92, 96, 97, 47, 49, 90, gg, 100,115,
'Abd as-SattAr ar-RAwi 9, 10, af 6l al-qulfrb 48, 75 100, 102, 103, 104,707, 120, 129, 131, 155, 159
24, 27 Ahl an-Nazhar 88 109, 111., 172, 113, 115, azh-Zhahriyah 53
'Abdullathlf al-BaghdAdi 1 Ahmad Fu'dd al-AhwAni 5 177, 119, 719, 12'1., 122
absolutisme 52, 53, 150, 158 Aksioma 89 al-wijibdt '1.42,'t43 B
AbO'Abdilah al-Bashri 22, 55, al: adl wa at-tswhid 45, 10'l' md huraa' alayh lidzhtih 90
' aI6

707, 118, 134 al:aradh 3 'al6mihuwabih 67, 68, 80, Baghdad 33, 55, 8'1., 88,'t09,
AbO Ahmad ibn Abi'AllAn 22 al-AswAri 4,97,746 129, 13'1., 132, 1.M,'1,46, 129, 139
AbO al-Hasan'Ali ibn'Abd al- L50, 155 Bahsyamiyah 22
al-Basi 19
'Aziz ?3 Alasdair Mclntyre 145 bashtrah 108
al-Baydhdwi 2, 6
AbO al-Husayn ash-Shdlilrl 88 al-Farabi 7, 31., 32, 35, 36, AlbertN. Nader 58 Bashrah 4, 20, 21, 22, 29,
AbO al-Qdsim al-Balkhl L18, 37, 55, 82, 83, 150 Alexius Meinong 79 32, 33, 50, 91, 93, 129,
124, 129, 150, 155 Alfred Tarski 67 134
Al4hazAli 2
AbO'AIi ibn Khalldd 21 al-Hdkimal-jusyami 5, ?3, 28 'AliibnAbiThahb 29, 64 bayhnt 2, 11., 38, 39, 92,155,
'1.57
AbO Bakar al-BAqillAni 32 al-Hdrits ibn Asad al-Muhnsibi 'Ali SAmi an-Nasysydr 38, 54,
Abt Bakr Muhammad ibn 77, 115, 119, 119 Before Reaelation 80, 81, M,
46, 80
Zakanyil 2l al-hswiss 43, 68 Amerika 67 86, 131,, 135
AbOBisyrMattA 2, 32
174 Epistemologi Kalam Abad Pe(engahan lndeks
lV5

being 3, 7, 54, 57, 70 27, 29 formalisme 136, L38, '1,45, Heteronomi 149
Bentham 145 dzlt 103 149, 150 histoical method 15
Berkeley 79 dzdtiyyahmuqmruamah 54 FranzBrentano 79 huilfits 55, 90, L01
Bisyr al-Mu'tamir 88 Franz Rosenthal 50 humanisme 148, '1,49, 'l,S'1.,
Braithwaite 60 E free will and pre ilestination 3
'1,52, 159, '1.59
Brand Blanshard 67 Fu'dd Sayyid 5 humanitas '1.49, 150, 't52,
E.G. Browne 30 FuatSezgin 24,26
BrianCarr 17, 59, 60, 67 159, 159
eksklusivisme 159 fuqaha 1, 50
bunyah 7, 75 Hume 59, 60,5& 88
epikeia 148
burhdni 2, 38, 39 Husni Zaynah 9, 1O
epistemologi 2, 7, 8, 10, 1'I.., G Husserl 79
c 12, 13, 14, 75, 76, 77,
18, 28, 34, 35, 36, 37, G. C. Anawati 87
C. Brockelmann 24 38, 39, 40, 4't, 42, 43, Gegenstandlichkeit 79 I
C.D. Broad 105 M, 45, 46, 47, 8, 49, George F. Hourani 7, 9, 10, Ibnal-Murtad}lra 27, 97
C.I. Lewis 13 51, 52, 53, ru, 59, 64, 22, 23, 47, 52, 57, 62, IbnKhaldfin 35,36
C.S. Peirce 60 67, 68, 7'L, 73, 79, 80, 63, 69, 70, 72, 76, g6, Ibn Rusyd 3, 35
conditio sine qua non 45, 76, 89 81, 85, 87, 90, 92, 93, 91, 105, 1L0, 127, 130, IbnSind 35, 37,89, 150
95, 100, L05, 107, 108, 139, 140, 14't IbnTaynriyyah 3
D 713, 7?2, 129, 130, 13't, ghn'ib ghayr hitlhir 89 Ibrdhim Madk0r 5, 22, 49,
132, 134, 138, 140, 1M, gharizah 46 83, 132
D.J. C/connor 17, 59, 60 745, 746, 154, 151,152, Ghayldn ad-Dimasyqi 4, 41 Idrdk 69,88, 103
ilalil 10, 175
155, 156, 157, 158, 159 ghayriyyah 56 Ignaz Goldziher 86
das Ding an sich 69, 752, 156 Esensialisme 129 ihya'at-turdts 5
DavidBell 78
Etika 106 H ikhflaf 56
defacto 748
etos 145 ililhiyyah 7
deontologi 137, 142, 745, H.A.R.cibb 30
'illah
Eudemonisme 150 6'1,, 76, 79, 115, 1't6,
748, 150, 1-58 hil36,39,64,103,156 'i,21,, lU, 135,
Hanaff 5, 21,, 22, 117 156
Descartes 59, 60, 79
F 'ilm 7, 37, 39, 41, 42, 49,
dhnrfii 12, 41, 42, 45, 8, Hanbaliyyah 29
50, 51, 52, 6'1, 64, 65,
7'1., 8'L, 82, W, 87, 9'l.., F.P. Ramsey 67 Hans Reichenbach 60
79, gg, 94, '1,02, 103,
93, 94, 95, 97, 10L, F.S.C. Northrop 109 Harry Austrlm Wolfson 3, Z, 105, 110, 1'1.6, "1,55, 157
702, 103, \04, 105,706, Fakhr ad-Dinar-Rdzi 2, 6, 48, il, 55, 59, 67 infshdl 39
107, 177, 173, 775, 116, 57, gg, 1oo Hasan al-Bashrl 4, 139
Lrggtis 3, 7, 8, 41, 60, 137
118, 125 falsafahal-akhldq 2 HasanHanafi 5,7, 1'1.
intuisionisme V, 8
ilhiildiyyah 56 far' 39, 40, 85, 87, 106, 11'1. FIAsyim ibn al-fubbd'i 21
hay'itl6 89
Iran 20, 22,31
dialektika-apologetis 4, 18 Fazlur Rahman 4
Irlandia 145
dililnh 70,89,95, 113 Filsafat 4, 8, 't4, 17, 58, 60, hedonisme 145
[slnmic Philosophy and Theology:
DinastiAyyubiyah 1 739 Heinrich Steiner 4
'1,, An Extended Surce 'I
diriyah 49, 155 Fiqh 21, 26 Hellenisme 32, 123
Ismail Raji al-Faruqi 4
DwiS.Atmaja 27, 22, 23,24, istibshilr 108
176 Epistemologi Kalam Abad Pertengahan lndeks
177

istiillill 46, 51, 53, 88, 94, Khabar 92,96 MarkR. Woodward 6, 2'L, 24, 42, 43, 45, 46, 47, 69,
9, 107, 110, 11L, 112, 46, 92, %, 94, 95,96,
lrhabar 27, 29 M, g't
113, 1'1.4, 177, 118, 157 . 110, 157 Maroko L0 Nazhar '1,4, 88, 105, 111
istiillil bi asy-sy khid' alk al-gh6' ib KhalilNami 5 Maturidiyyah 29 Nicolai Harturann 145
5'1,'/..07, 713 Khasywiyah 98 Max Scheler 145
istinbdth 77A khswf 66 McGillUniversity 9,20 o
iththirdil al-hmtidits 94 koinai ennoiai 58, U Mehdi Ha'iri Yazdi 34
i'tiqhd29, 5'1., 53, 60, 6't,62, Kristen 3, 32, 40, 139, 158 mistis 37, 38 otonom 136, '1.45, '147, 1,48,
67, 69, 78, 108 Moral 80, 13't, 132,1.& 1.49, 150, 752
iftiafrd 38,97, 99 L Mu'ammar 3,33, 55, 56, Sz
mudrak 10, 91 P
lafzh 39, il,92
I Leibniz 58,80, 156
mufashshal 70, 9't, 105, 111 Perpustakaan al-Mutawakki-
72, 19, 24, 28, mufoadditsfin 20, 2'1, 93, 94 liyyah
J.R.T.M. Peters Logic in the Classical Islamic Cul- 5
mufudats 47, 86,'1,47
33, 54, 57, 6'1., 62, 63, ture'1, petitio Wncipr 71, 73
65, 66, 76, 96, 103,711, mujassimah 86 positivisme 60
Louis Gardet 87, 89, 723 mujfrwarah 99
118, 119 yimafacie 72, 73, 136, 137,
mujmal 70,94, 105 '1,42, 145
Jabariyah 98 M muqirabah 39
Iahl 63
Murii'ah 40, 41
Jahn ibnShafwen 4, 4't, 99 Ma'bad al-]uhani 4
Machasin 8, 9, 10, 23, 27, Mutakallimfin 42 a
iawhar fard 3, 55
57, 72, 76,78, 105,714, Mutasydbih 9, 14, 24, 72, QAdM al-Qudhilt 9, 19, 21.,22,
Jerman 62
jism 47, 86, 99 117 l04', 107, 777, 720 23, 27, 29
madlfiI 1A, 112, mutasyibihit 9, 70 Qadtm 7
Joell-.Kraemer 22, 29, 31,32 1'1.4, 117
112, 159 mahsfrskt 54 Mu'tazilah 1, 2, 3, 4, 5, 6, qalb 74, 75, 87, 757
JohnDewey 67 majhz 74 8, 9, 11,, 20, 2L, 22,23, qiyas 43
3, 43, 26, 27, 29, 30, 32, 33,
Josef van Ess 1, 32, fu, 5& MajidFakhry 133,139,
712, 1'1.4, 175, 117, 118 '1.40, 7M, 147 37, 40, 4'L, 42, 43, 4, tt
ma'nd 36, 39, 52, 53, V,55, 47, 52, 55, 66, 76, 90,
R.M. Frank 55, 57, 135
K 56, 57, 58, 69, 79,92, 8't, 93, 96, 97, gg, g'1.,
reductio ad absurdum 90, 119
120, 7?2, 7U, 135,156, 97, 100, 104, 109, 110,
kal6m 1, 2, 3, 5, 7, 17, 18, 158 117, 723, 126, 127,129, redundancy 67
20, 2't, 22, 28, 33, U, 130, 13't, 134, 1,40, 146, relativisme 132, 't49, 150, 156
manthiq 2, 32 Richard C. Martin 6, 21, 22,
35, 36, 37, 38, 39, 40, ma'qfil 38, 78, 79 1.59
{1, 42, 45, 45, 8, 50, ma'qfrlilt il,96 mwnidha' alt wa al-mnndtha' ah 110
24, 27, 29
57, 53, il, 62, 86, 92, Marie Bernand 9, 12, 75, 52,
Rudolf Carnap 60
96, 112, 776, 722, 723, Ryle 60
62, 74 N
755, 757, 158, 159
Ma'ifah 2, 11., 25,35, 50, 55 nafs 36, 39, 75, 76, 79, 13'1,,
Kant 46, 69, 74, 79, 132, ma'ifah 7, 39, 4A, 46, 50,
S
736, 7M, 745, 748, 151, 1M, '146, 150, 151, 155
52, 155 Nashr FIAmid Ab{u Zayd Sari Nusibeh 35, 36
152, 156 41.,
178 Epistemologi Kalam Abad pertengahan
lndeks
179
self-eaident 87, 96 tashdtq 94
semantik 67 tasybth 8'L, 90
5, 6, 7, 28, 30, 32,3g,
%, 123, 139, 144, 15g
semiotika 113 tmpdtur 94, 95 123
Shahib ibn'Abbdd 4, 22
shfrrah 3, 75
telos 145
Y z
teologis 3, 9, 2-t, 22, 29, 29,
silogisme 2, 1'I.,, 49, 1SB 30, 33, U, 36, gg, gg, zhann 1'1,,
65, 66, TS, 77,94,
Yahudi 3,41
sim6' 94 40, 42, 43, M, 45, 53, Yaman 5 95, 96, 1-1.6, 125
skolastisisme 3 91, 92, 95, 97, %, gg, Zubayr ibn,Abd al_W6hid
Yunani 1, ? 3, 32, 39, 35, 20
SoejonoSoemargono 8 Zurich
100, 101, 102, 119, 119, il, 56, 59, 75, 77, gg, 1
speculatioe theology 12 120, 130, 139, .!,43,.1M,
Spinoza 79 '1,47, 152,
155, 757, 159,
Stoa 2,58, 59, U, 116, 117 159
sufisme 50,99, 132 thnbfiyyah 7
sfrfsthi'iyyah Sg, 1.g2, 156 thefree-thinlersof Islam 1, 4
sukfrn an-nafs 96, gg, 76, Zg, the philosophy of the kal6m T
13'1, '1.M, 746, 150, 15]-., theological rationalism 3
155 Toshihiko Izubu 84
sulthah 92 trinitas 99
Sunni 5, 6, 20, Zg, 90, g-]-., truthclaim 159
32, 46, g7
syahiilnh 94, 117 U
Syihid 711.
syalr* 12, 66, 67, 92, l2g Uberzeugung 62
Syarh al-'Uy0n 2'!,, Zg, 2g Universalisme 150
Syf"h 5, 6, 28, 29, g'1.,39 Ush0l al-Fiqh 26
systematic apyoach 15 Utilitarianisme 145
utilitarianisme 136, 7M, l1g
T
ta'ammul 70, 71
v
tabayyun 108 VincentBrummer 14
tabkhtt 63, 65, 67, 72, 156
tahaqquq 108 w
tahayyuz 9) W.C.Smith 80
tajribah 106, 110
W.D. Ross 141
tajwtz 39, 65, 90, 100, 119
utajh 61, 79, '1,07, 174, 733,
Takltf 9, 74, 24
tamfitsul al-jawdhir 90 100
lU, 135, 136, 150, 't56
WilliamJames 6Z
Taqlid 63, 67
William Montgomery W att 7, 4,
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Wardani, M.Ag lahir di Tembok Bahalang Kalimantan


Selatanpada tanggal 11 April 193 dari orang tua Anwar dan Airmas.
Pendidikannya dimulai dari Sekolah Dasar Negeri di Tembok
Bahalang, Batang Alai Selatan, Hulu Sungai (1980 1986), kemu-
-
dian MTsN di Barabai (1986- 1989), dan MAPK (sekarang MAKN)
di Martapura (L990-1993). Kemudian menempuh pendidikan
jenjang 91 di Fakultas Ushuluddiru Jurusan Tafsir-Hadits IAIN
Antasari Banjarmasin (1994-1998) dan menjadi wisudawan
terbaikl pada wisuda sarjana rc(VII danDies Natalis X)OOV IAIN
Antasari Banjarmasin. Sedangkan jenjang Magister (92) ia tem-
puh di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakart4 Program Studi Agama
dan Filsafat, Konsentrasi Filsafat Islam (1999-2001).
Aktivitasnya sekarang ini adalah sebagai dosen luar biasa
pada Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Banjarmasin pada mata
kuliah Metodologi Studi Islam, Madzahib at-Tafsir III, dan Se-
jarah Peradaban Islam, di samping juga sebagai staf pada per-
pustakaan Fakultas Ushuludin IAIN Antasari Banjarmasin.
Beberapa karya ilmiah yang telah diselesaikan antara lain:
"Konsep Masyarakat Ideal dalam AlQul'an" (skipsig7), "Kalam
Antroposentris: ltoyeksi Kalam Masa Depan", artikel Banjarmasin
Post, dan "Mistisisme dalam ltfihAd dan Wahda! al-Wujfrd",
artikel, Dinamik a B erita.
ehadiran karya ini sangat penting untuk me-
mahami pertikaian pemikiran para pemikir
lslam abad pertengahan tentang konsep dua-
lisme dalam meresPon masalah akal dan wahyu.
Tampaknya para sarjana skolastik ingin membawa
persoalan wahyu yang dianggaP mutlak ke wilayah
akal (rasio) yang nisbi. Tentu saia tarik ulur dua sudut
pandang telah menyeret Para ulama ke kubu yang
sangat ekstrem, meskipun ada sebagian yang men-
coba untuk menyelaraskan antara keduanya aPayang
kemudian disebut den gan middle of the road.

Tampaknya, persoalan ini masih saia menggelayuti


ranah pemikiran lslam hingga sekarang. Dengan buku
ini, diharapkan persoalan abad pertengahan tidak lagi
menguras energi umat lslam, dan beraniak me-
ngembangkan pemikiran yang lebih aktual dan ber-
kenaan masalah kemanusiaan.