Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Infeksi nosokomial merupakan salah satu penyebab meningkatnya angka
kesakitan (morbidity) dan angka kematian (mortality) di rumah sakit. Infeksi
nosokomial dapat menjadi masalah kesehatan baru, baik di negara berkembang
maupun di negara maju. Oleh karena itu rumah sakit dituntut untuk dapat
memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar yang sudah
ditentukan dan harus diterapkan oleh semua kalangan petugas kesehatan.
Penelitian yang dilakukan National Nosokomial Infections Surveillance
(NNIS) dan Centers of Disease Control and Prevention’s (CDC’s) pada tahun
2002 melaporkan bahwa 5 sampai 6 kasus infeksi nosokomial dari setiap 100
kunjungan ke rumah sakit. Diperkirakan 2 juta kasus infeksi nosokomial terjadi
setiap tahun di Amerika Serikat.
Penelitian di berbagai universitas di Amerika Serikat menyebutkan bahwa
pasien yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) mempunyai kecenderungan
terkena infeksi nosokomial 5-8 kali lebih tinggi dari pada pasien yang dirawat
diruang rawat biasa. Infeksi nosokomial banyak terjadi di ICU pada kasus pasca
bedah dan kasus dengan pemasangan infus dan kateter yang tidak sesuai dengan
prosedur standar pencegahan dan pengendalian infeksi yang diterapkan di
rumah sakit.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Depkes RI bersama WHO di
rumah sakit propinsi/kabupaten/kota disimpulkan bahwa Komite Pencegahan
dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit (KPPIRS) selama ini belum berfungsi
optimal sebagaimana yang diharapkan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa Definisi dan Batasan Infeksi Nosokomial?
2. Apa Penyebab Infeksi Nosokomial?

1
3. Bagaimana Pencegahan Infeksi Nosokomial?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui Definisi dan Batasan Infeksi Nosokomial
2. Mengetahui Penyebab Infeksi Nosokomial
3. Mengetahui Pencegahan Infeksi Nosokomial

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi dan Batasan Infeksi Nosokomial

2.1.1 Definisi Infeksi Nosokomial

Nosokomial berasal dari bahasa Yunani, dari kata nosos yang artinya
penyakit, dan komeo yang artinya merawat. Nosokomion berarti tempat untuk
merawat/Rumah Sakit. Jadi infeksi nosokomial dapat diartikan sebagai infeksi yang
diperoleh atau terjadi di Rumah Sakit (Darmadi, 2008).

Infeksi nosokomial atau disebut juga Hospital Acquired Infection (HAI)


adalah infeksi yang didapatkan dan berkembang selama pasien di rawat di rumah
sakit (WHO, 2004). Sumber lain mendefinisikan infeksi nosokomial merupakan
infeksi yang terjadi di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan setelah dirawat
2x24 jam. Sebelum dirawat, pasien tidak memiliki gejala tersebut dan tidak dalam
masa inkubasi. Infeksi nosokomial bukan merupakan dampak dari infeksi penyakit
yang telah dideritanya. Pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan penunggu
pasien merupakan kelompok yang paling berisiko terjadinya infeksi nosokomial,
karena infeksi ini dapat menular dari pasien ke petugas kesehatan, dari pasien ke
pengunjung atau keluarga ataupun dari petugas ke pasien (Husain, 2008).

Menurut Breathnach (2005) Infeksi nosokomial adalah suatu infeksi yang


terjadi di rumah sakit yang berasal dari alat-alat medis, prosedur medis atau
pemberian terapi.

2.1.2 Batasan Infeksi Nosokomial

Batasan infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat oleh penderita,


ketika penderita dalam proses asuhan keperawatan di rumah sakit. Siregar (2004)

3
mengatakan bahwa, suatu infeksi pada penderita baru bisa dinyatakan sebagai
infeksi nosokomial apabila memenuhi beberapa kriteria/batasan tentu diantaranya:

1. Pada waktu penderita mulai dirawat di Rumah Sakit tidak didapatkan tanda-
tanda klinik dari infeksi tersebut.
2. Pada waktu penderita mulai dirawat di Rumah Sakit, tidak sedang dalam
masa inkubasi dari infeksi tersebut.
3. Tanda tanda klinik infeksi tersebut timbul sekurang-kurangnya setelah

3x24 jam sejak mulai perawatan.

4. Infeksi tersebut bukan merupakan sisa dari infeksi sebelumnya.

5. Bila saat mulai dirawat di Rumah Sakit sudah ada tanda-tanda infeksi, dan
terbukti infeksi tersebut didapat penderita ketika dirawat di Rumah Sakit
yang sama pada waktu yang lalu, serta belum pernah dilaporkan sebagai
infeksi nosokomial.

2.2 Penyebab Infeksi Nosokomial


2.2.1 Agen infeksi

Pasien akan terpapar berbagai macam mikroorganisme selama


dirawat di rumah sakit. Kontak antara pasien dan berbagai macam
mikroorganisme ini tidak selalu menimbulkan gejala klinis karena
banyaknya faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi
nosokomial. Kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada karakteristik
mikroorganisme, resistensi terhadap zat-zat antibiotika, tingkat virulensi,
dan banyaknya materi infeksius (Ducel, G, 2002).
Semua mikroorganisme termasuk bakteri, virus, jamur, dan parasit
dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Infeksi ini dapat disebabkan oleh
mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau
disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection).

4
Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih disebabkan karena
faktor eksternal, yaitu melalui makanan dan udara dan benda atau bahan-
bahan yang tidak steril. Penyakit yang didapat dari rumah sakit saat ini
kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu ada
pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit
pada orang normal (Ducel, 2001).

1. Bakteri

Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia


yang sehat. Keberadaan bakteri sangat penting dalam melindungi tubuh dari
datangnya bakteri pathogen. Tetapi dalam beberapa kasus dapat
menyebabkan infeksi jika manusia tersebut mempunyai toleransi yang
rendah terhadap mikroorganisme.

Tabel 2.1. Bakteri Penyebab Infeksi Nosokomial


(Tortora et al., 1995)
Bakteri Persentase(%)
Enterobacteriaceae >40
S. aureus 11
Enterococcus 10
P. aeruginosa 9

2. Virus

Banyak kemungkinan infeksi nosokomial disebabkan oleh berbagai


virus, termasuk virus hepatitis B dan C dengan media penularan dari
transfuse, dialysis, suntikan dan endoskopi. Virus lain yang sering
menyebabkan infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus, Ebola, influenza

5
virus, herpes simplex virus, dan varicella-zoster virus, juga dapat ditularkan
(Wenzel,
2002).

3. Parasit dan Jamur

Beberapa parasit seperti Giardia lamblia dapat menular dengan


mudah ke orang dewasa maupun anak-anak. Banyak jamur dan parasit dapat
timbul selama pemberian obat antibiotika bakteri dan obat
immunosupresan.

Tabel 2.2. Mikroorganisma Penyebab Infeksi Nosokomial


(Tortora et al., 2001)
Mikroorganisme Persentase(%)

S. aureus, Staphylococci koagulase negatif, 34


Enterococci
E. coli, P. aeruginosa, Enterobacter spp., & K. 32 pneumonia
C. difficile 17

Fungi (kebanyakan C. Albicans) 10

Bakteri Gram negatif lain (Acinetobacter, 7


Citrobacter,Haemophilus)

2.2.2 Faktor alat

Dari suatu penelitian klinis, infeksi nosokomial terutama disebabkan


infeksi dari kateter urin, infeksi jarum infus, infeksi saluran nafas, infeksi
kulit, infeksi dari luka operasi dan septicemia. Pemakaian infus dan kateter
urin yang tidak terganti-ganti.di ruang penyakit dalam, diperkirakan 20-25
% pasien memerlukan terapi infuse. Komplikasi kanulasi intravena ini dapat
berupa gangguan mekanis, fisis dan kimiawi.

6
2.2.3 Respon dan toleransi tubuh pasien

Faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat toleransi dan respon


tubuh pasien dalam hal ini adalah umur, status imunitas penderita, penyakit
yang diderita, obesitas dan malnutrisi, orang yang menggunakan obat-
obatan immunosupresan dan steroid serta intervensi yang dilakukan pada
tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi (Babb, JR. Liffe, AJ, 1995).
Usia muda dan usia tua berhubungan dengan penurunan resistensi
tubuh terhadap infeksi kondisi ini lebih diperberat bila penderita menderita
penyakit kronis seperti tumor, anemia, leukemia, diabetes mellitus, gagal
ginjal, SLE dan AIDS. Keadaan-keadaan ini akan meningkatkan toleransi
tubuh terhadap infeksi dari kuman yang semula bersifat opportunistik. Obat-
obatan yang bersifat immunosupresif dapat menurunkan pertahanan tubuh
terhadap infeksi. Banyaknya prosedur pemeriksaan penunjang dan terapi
seperti biopsi, endoskopi, kateterisasi, intubasi dan tindakan pembedahan
juga meningkatkan resiko infeksi (Babb, JR. Liffe, AJ, 1995).
Menurut Purwandari 2006, bayi mempunyai pertahanan yang lemah
terhadap infeksi, lahir mempunyai antibodi dari ibu, sedangkan sistem
imunnya masih imatur. Dewasa muda sistem imun telah memberikan
pertahanan pada bakteri yang menginvasi. Pada usia lanjut, karena fungsi
dan organ tubuh mengalami penurunan, sistem imun juga mengalami
perubahan. Peningkatan infeksi nosokomial juga sesuai dengan umur
dimana pada usia >65 tahun kejadian infeksi tiga kali lebih sering daripada
usia muda (Purwandari, 2006).

2.3 Pencegahan Infeksi Nosokomial


Pencegahan dari infeksi nosokomial ini diperlukan suatu rencana yang
terintegrasi, monitoring dan program yang termasuk :

7
i) Membatasi transmisi organisme dari atau antara pasien dengan cara
mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan, tindakan septik dan aseptik,
sterilisasi dan disinfektan.
ii) Mengontrol resiko penularan dari lingkungan.
iii) Melindungi pasien dengan penggunaan antibiotika yang adekuat, nutrisi
yang cukup, dan vaksinasi.
iv) Membatasi resiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur invasif.
v) Pengawasan infeksi, identifikasi penyakit dan
mengontrol penyebarannya.

Terdapat berbagai pencegahan yang perlu dilakukan untuk mencegah


infeksi nosokomial. Diantaranya adalah dikontaminasi tangan dimana transmisi
penyakit melalui tangan dapat diminimalisasi dengan menjaga hiegene dari
tangan. Tetapi pada kenyataannya, hal ini sulit dilakukan dengan benar, karena
banyaknya alasan seperti kurangnya peralatan, alergi produk pencuci tangan,
sedikitnya pengetahuan mengenai pentingnya hal ini, dan waktu mencuci
tangan yang lama. Penggunaan sarung tangan sangat dianjurkan apabila
melakukan tindakan atau pemeriksaan pada pasien dengan yang dirawat di
rumah sakit (Louisiana, 2002).
Simonsen et al (1999) menyimpulkan bahwa lebih dari 50% suntikan yang
dilakukan di negara berkembang tidak aman contohnya adalah jarum, tabung
atau keduanya yang dipakai secara berulang-ulang. Untuk mencegah
penyebaran infeksi melalui jarum suntik maka diperlukan, penggunaan jarum
yang steril dan penggunaan alat suntik yang disposabel. Masker digunakan
sebagai pelindung terhadap penyakit yang ditularkan melalui udara. Sarung
tangan, sebaiknya digunakan terutama ketika menyentuh darah, cairan tubuh,
feses maupun urine. Sarung tangan harus selalu diganti untuk setiap pasiennya,
baju khusus juga harus dipakai untuk melindungi kulit dan pakaian selama kita
melakukan suatu tindakan untuk mencegah percikan darah, cairan tubuh, urin
dan feses (Louisiana, 2002).

8
Pembersihan yang rutin sangat penting untuk meyakinkan bahwa rumah
sakit sangat bersih dan benar-benar bersih dari debu, minyak dan kotoran.
Administrasi rumah sakit harus ada waktu yang teratur untuk membersihkan
dinding, lantai, tempat tidur, pintu, jendela, tirai, kamar mandi, dan alat-alat
medis yang telah dipakai berkali-kali.
Usahakan pemakaian penyaring udara, terutama bagi penderita dengan
status imun yang rendah atau bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit
melalui udara. Kamar dengan pengaturan udara yang baik boleh menurunkan
resiko terjadinya penularan tuberkulosis. Selain itu, rumah sakit harus
membangun suatu fasilitas penyaring air dan menjaga kebersihan pemprosesan
serta filternya untuk mencegah terjadinya pertumbuhan bakteri.
Toilet rumah sakit juga harus dijaga, terutama pada unit perawatan pasien
diare untuk mencegah terjadinya infeksi antar pasien. Permukaan toilet harus
selalu bersih dan diberi disinfektan (Wenzel, 2002).
Penyebaran dari infeksi nosokomial juga dapat dicegah dengan membuat
suatu pemisahan pasien. Ruang isolasi sangat diperlukan terutama untuk
penyakit yang penularannya melalui udara, contohnya tuberkulosis, dan SARS,
yang mengakibatkan kontaminasi berat. Penularan yang melibatkan virus,
seperti HIV serta pasien yang mempunyai resistensi rendah seperti leukemia
juga perlu diisolasi agar terhindar dari infeksi. Ruang isolasi ini harus selalu
tertutup dengan ventilasi udara yang menuju keluar (Babb, JR. Liffe, AJ, 1995).
Yang perlu diperhatikan dalam pencegahan infeksi nosokomial luka operasi
adalah harus melakukan pemeriksaan terhadap pasien operasi sebelum pasien
masuk/dirawat di rumah sakit yaitu dengan memperbaikan keadaan pasien,
misalnya gizi. Sebelum operasi, pasien operasi dilakukan dengan benar sesuai
dengan prosedur, misalnya pasien harus puasa, desinfeksi daerah operasi dan
lain-lain. Pada waktu operasi semua petugas harus mematuhi peraturan kamar
operasi yaitu bekerja sesuai SOP (standard operating procedure) yaitu dengan
perhatikan waktu/lama operasi. Seterusnya, pasca operasi harus diperhatikan
perawatan alat-alat bantu yang terpasang sesudah operasi seperti kateter, infus
dan lain-lain (Farida Betty, 1999).

9
Betty (2012) mengatakan bahwa, dalam mengendalikan infeksi nosokomial
di rumah sakit, ada tiga hal yang perlu ada dalam program pengendalian infeksi
nosokomial di rumah sakit, diantaranya :

1. Adanya sistem surveilan yang mantap

Surveilan suatu penyakit adalah tindakan pengamatan yang sitemik, dan


dilakukan terus menerus terhadap penyakit tersebut yang terjadi pada suatu
populasi tertentu dengan tujuan untuk dapat melakukan pencegahan, dan
pengendalian. Jadi tujuan dari surveilain adalah untuk menurunkan resiko
terjadinya infeksi nosokomial. Peralatan ditegaskan disini bahwa keberhasilan
pengendalian infeksi nosokomial bukanlah ditentukan oleh canggihnya
peralatan yang ada, tetapi ditentukan oleh kesempurnaan perilaku petugas
dalam melaksanakan perawatan penderita secara benar. Dalam pelaksanaan
surveilan ini perawat sebagai petugas lapangan di garis paling depan
mempunyai peran yang sangat menentukan.

2. Adanya peraturan yang jelas, dan tegas serta dapat dilaksanakan dengan tujuan
untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi.

Adanya peraturan yang jelas, dan tegas serta dapat dilaksanakan merupakan
hal yang sangat penting. Peraturan-peraturan ini merupakan standar yang harus
dijalankan setelah dimengerti semua petugas. Standar ini meliputi standar
diagnosis ataupun standar pelaksanaan tugas. Dalam pelaksanaan dan
pengawasan pelaksanaan peraturan ini, peran perawat sangat besar sekali.

3. Adanya program pendidikan yang terus menerus bagi semua petugas rumah
sakit dengan tujuan mengembalikan sikap mental yang benar dalam merawat
penderita.

Keberhasilan program ini ditentukan oleh perilaku petugas dalam


melaksanakan perawatan yang sempurna kepada penderita. Perubahan perilaku

10
inilah yang memerlukan proses belajar, dan mengajar yang terus menerus.
Program pendidikan hendaknya tidak hanya ditekankan pada aspek perawatan
yang baik saja, tetapi kiranya juga aspek epidemiologi dari infeksi nosokomial.

Betty (2012) mengatakan bahwa, pencegahan dari infeksi nosokomial ini


diperlukan suatu rencana yang terintegrasi, monitoring, dan program. Program
yang termasuk diantaranya :

1. Membatasi transmisi organism dari atau antar pasien dengan cara mencuci
tangan, dan penggunaan sarung tangan, tindakan dan aseptic, sterilisasi dan
disinfeksi.
2. Mengontrol resiko penularan dari lingkungan.
3. Melindungi pasien dengan penggunaan antibiotika yang adekuat, nutrisi yang
cukup, dan vaksinasi.
4. Membatasi resiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur invasif.

5. Pengawasan infeksi, identifikasi, dan mengontrol penyebarannya.

6. Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit.

7. Mengecek dengan menginspeksi bahwa prosedur pengendalian infeksi, dan


aseptic telah dilaksanakan sesuai dengan kebijakan rumah sakit.
8. Menghubungkan antara laboratorium dan staf ruang dengan member informasi
pada kepala bagian dan memberikan nasihat tentang masalah pengendalian
infeksi.
9. Melakukan kerjasama dengan staf kesehatan okupasi (occupational health staf)
dalam pemeliharaan rekaman infeksi staf medis, perawat, catering, domestic,
dan berbagai golongan staf lainnya yang terinfeksi.
10. Melakukan kerjasama dengan, dan member petunjuk kepeda perawat
komunitas tentang berbagai masalah infeksi.

11
11. Memberi informasi segera melelui telepon tentang penyakit yang harus
diberitahukan kepada petugas kesehatan masyarakat.
12. Memberitahu berbagai rumah sakit lain dan praktisi lain yang berkepentingan
ketika pasien yang terinfeksi dibebaskan dari rumah sakit atau di pindahkan ke
tempat lain.
13. Melakukan partisipasi dalam edukasi dan demonstrasi praktik tentang teknik
pengendalian infeksi kepada staf medis, perawat domestic, catering, pembantu,
dan staf lainnya.
14. Memberitahu perawat tentang masalah dan kesulitan praktis dalam
melaksanakanprosedur rutin yang berkaitan dengan aspek perawatan
pengendalian infeksi.

15. Menghadiri berbagai komite relavan yang biasanya mengendalikan infeksi dari
berbagai komite prosedur perawatan.
16. Melakukan perundingan dengan pimpinan pelayanan steril tentang infeksi
tertentu dalam rumah sakit.

Upaya-upaya yang Dilakukan untuk Mencegah Terjadinya Infeksi


Nosokomial

Bentuk upaya pencegahan yang dilakukan antara lain :

a. Cuci Tangan

Cuci tangan adalah cara pencegahan infeksi yang paling penting. Cuci tangan
harus selalu dilakukan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan. Walaupun
memakai sarung tangan atau alat pelindung lainnya. Untuk mengetahui kapan
sebaiknya perawat melakukan cuci tangan dan bagaimana cara mencuci tangan
yang benar, berikut ini akan dijelaskan mengenai tujuan mencuci tangan, dan
prosedur standar dari mencuci tangan.

1. Tujuan

12
a) Menekan pertumbuhan bakteri pada tangan

b) Menurunkan jumlah kuman yang tumbuh dibawah sarung tangan

2. Indikasi

a) Sebelum dan sesudah kontak dengan pasien, sebelum dan sesudah


melakukan tindakan pada pasien, seperti mengganti, membalut, kontak
dengan pasien selama pemeriksaan harian atau mengerjakan pekerjaan
rutin seperti membenahi tempat tidur
b) Sebelum dan sesudah membuang wadah sputum, secret ataupun darah

c) Sebelum dan sesudah menangani peralatan pada pasien seperti infus set,
kateter, kantung drain urin, tindakan operatif kecil dan peralatan
pernafasan.
d) Sebelum dan sesudah ke kamar mandi

e) Sebelum dan sesudah makan

f) Sebelum dan sesudah membuang ingus/membersihkan hidung

g) Pada saat tangan tampak kotor

h) Sebelum dan sesudah bertugas di sarana kesehatan

3. Prosedur Standar

a) Basahi tangan setinggi pertengahan lengan bawah dengan air mengalir

b) Taruh sabun dibagian tengah tangan yang telah basah

c) Buat busa secukupnya

d) Gosok kedua tangan termasuk kuku dan sela jari selama 10-15 detik
e) Bilas kembali dengan air sampai bersih

13
f) Keringkan tangan dengan handuk atau kertas bersih atau tisu atau
handuk katun sekali pakai
g) Matikan keran dengan kertas atau tissue

h) Pada cuci tangan aseptic diikuti larangan menyentuh permukaan tidak


steril dan penggunaan sarung tangan dan waktu untuk mencuci tangan
antara 5-10 menit

b. Dekontaminasi

Menurut depkes (1998) dekontaminasi adalah menghilangkan mikroorganisme


patogen dan kotoran dari suatu benda sehingga aman untuk pengelolaan
selanjutnya. Agar seorang perawat dapat melakukan proses dekontaminasi dengan
benar, maka perawat tersebut haruslah mengetahui tujuan dari dekontaminasi,
indikasi dari proses dekontaminasi, dan prosedur standar dari dekontaminasi.

1. Tujuan Dekontaminasi

a) Mencegah penyebaran infeksi melalui alat kesehatan atau suatu


permukaan benda
b) Mematikan mikroorganisme, misalnya HIV, HBV, dan kotoran lain
yang tidak tampak
c) Mempersiapkan permukaan alat untuk kontak langsung
dengan desinfektan atau bahan sterilisasi
d) Melindungi petugas dan pasien

2. Indikasi

a) Langkah pertama bagi alat kesehatan bekas pakai sebelum dicuci dan
proses lebih lanjut
b) Langkah pertama pada penanganan tumpahan darah/cairan tubuh

14
c) Langkah pertama pada dekontaminasi meja/permukaan lain yang
mungkin tercemar darah/cairan tubuh lain
d) Langkah pertama pada sarana kesehatan yang tidak memiliki
insenerator yaitu sebelum alat tersebut dikubur dengan cara kapurisasi
3. Prosedur Standar

a) Cuci tangan

b) Pakai sarung tangan, masker, kaca mata/pelindung wajah

c) Rendam alat kesehatan segera setelah dipakai dalam larutan desinfektan


selama 10 menit
d) Segera bilas dengan air sampai bersih

e) Lanjutkan dengan pembersihan

f) Buka sarung tangan, masukkan dalam wadah sementara menunggu


dekontaminasi sarung tangan dan proses selanjutnya
g) Cuci tangan

15
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Infeksi nosokomial atau disebut juga Hospital Acquired Infection (HAI)
adalah infeksi yang didapatkan dan berkembang selama pasien di rawat di
rumah sakit. Penyebab Infeksi Nosokomial bisa berupa Agen infeksi seperti
bakteri, virus, parasite dan jamur juga penyebab lainnya. Pencegahan yang
dapat dilakukan, yaitu : (1). Membatasi transmisi organisme dari atau antara
pasien dengan cara mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan,
tindakan septik dan aseptik, sterilisasi dan disinfektan. (2). Mengontrol
resiko penularan dari lingkungan. (3). Melindungi pasien dengan
penggunaan antibiotika yang adekuat, nutrisi yang cukup, dan vaksinasi.
(4). Membatasi resiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur
invasif. (5). Pengawasan infeksi, identifikasi penyakit dan mengontrol
penyebarannya.

16
DAFTAR PUSTAKA

Rosdahl, Caroline B dan Mary T. Kowalsky.2002.Buku Ajar Keperawatan Dasar


Vol. 2. Jakarta: EGC
Liza Salawati. April 2012. Pengendalian Infeksi Nosokomial Di Ruang Intensive
Care Unit Rumah Sakit. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala. 12 (1)
Smeltzer, Suzzane C. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

17