Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum ke-5 Hari,Tanggal : Senin, 25 Februari 2019

Mikrobiologi Nutrisi Tempat Praktikum : Laboratorium Biokimia,


Fisiologi dan Mikrobiologi
Nutrisi
Asisten : Robin Chandra /D24150057

TEKNIK COUNTING PROTOZOA

Mutiara Rizky Raisa


D24160002
Kelompok 3

DEPARTEMEN NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2019
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ruminansia merupakan ternak yang mempunyai keistimewaan pada alat


pencernaannya, dikatakan istimewa karena ruminansia memiliki rumen yang
digunakan sebagai wadah fermentasi yang digunakan untuk membantu pencernaan
pakan yang berserat kasar tinggi dan berkualitas rendah. Rumen merupakan bagian
perut terbesar yang mempunyai tekstur seperi handuk yang berfungsi dalam
pencampuran, pengadukan, pencernaan dan pengaliran digesta ke organ pencernaan
berikutnya. Di dalam rumen terjadi proses fermentasi, sintetis sel mikroba, sintetis
vitamin B dan vitamin K. Ternak ruminansia memiliki perut yang terdiri dari empat
bagian yaitu rumen, retikulum, omasum dan abomasum (Usman 2013).
Kondisi rumen mememiliki peranan penting dalam proses pencernaan agar
dapat di peroleh proses pencernaan yang optimal, hal ini karena dalam proses
pencernaan tidak terlepas dari peran mikroba rumen yang membantu dalam proses
pencernaan serta memberi ketersediaan zat makanan dan energi bagi ternak
ruminansia. Cairan rumen selain mengandung mikroba rumen, mengandung zat-zat
makanan hasil perombakan mikroba rumen, enzim, vitamin-vitamin dan mineral-
mineral yang larut dalam cairan rumen (Budiansyah 2011). Proses fermentatif yang
terjadi didalam rumen dibantu oleh mikroorganisme, terutama bakteri anaerob dan
protozoa. Mikroba yang terdapat didalam cairan rumen ada empat macam yaitu
bakteri, protozoa, jamur dan virus. Populasi terbesar mikroba didalam rumen adalah
bakteri sedangkan protozoa memiliki jumlah yang sedikit dibandingkan bakteri.
Protozoa memiliki ukuran tubuh yang lebih besar sehingga total biomasanya
hampir sama dengan bakteri, jumlah protozoa didalam rumen sangat beragam
menurut jenis makanan, umur dan jenis hewan yang menjadi inangnya. Interaksi
yang terjadi antara bakteri dan protozoa di dalam rumen bersifat kompetitif.
Protozoa memangsa bakteri yang terdapat pada cairan rumen untuk dicerna sebagai
sumber asam amino bagi pertumbuhannya, sehingga protozoa perlu dihilangkan
daari rumen (defanuasi) agar jumlah bakteri dalam rumen meningkat. Minyak salah
satu bahan yang memiliki peran sebagai agen defaunasi protozoa dalam rumen,
apabila dicampurkan pada ransum akan meningkatkan kandungan energi dalam
ransum tersebut (Puspitaning 2012). Oleh karena itu praktikum ini dilakukan untuk
mengetahui penambahan minyak yang menekan populasi mikroba di dalam rumen.

Tujuan

Praktikum ini betujuan mengetahui cara perhitungan populasi protozoa total


pada rumen.
TINJAUAN PUSTAKA

Mikroba Rumen

Rumen adalah alat pencernaan khas pada ruminansia yang memiliki


mikroba kompleks sehingga dapat membantu proses fermentasi pakan. Didalam
rumen terdapat cairan rumen yang kaya akan selulase, amilase, protease, xilanase
dan lain-lain. Cairan rumen berfungsi sebagai sumber enzim (Budiansyah et al.
2010). Cairan rumen memiliki sifat dapat mempertahankan pH yang konstan ketika
adanya penambahan larutan asam dan larutan basa. pH rumen merupakan saalah
satu faktor yang mempengaruhi populasi mikroba di dalam rumen. pH normal pada
cairan rumen ini sekitar 6,8-6,9 karena rumen mempunyai kondisi anaerobik
dengan suhu rata-rata 380- 420C (Purbowati et al. 2014). Cairan rumen dapat
dimanfaatkan sebagai aktivator, yaitu mempercepat pertumbuhan mikroorganisme
dekomposer dan pengomposan. Kandungan rumen memiliki protein, karbohidrat,
mineral dan vitamin yang dapat dibutuhkan oleh mikroorganisme (Church 1979).
Mikroba yang terdapat didalam cairan rumen ada empat macam yaitu bakteri,
protozoa, jamur dan virus. Mikroba rumen memiliki hubungan simbiosis
mutualisme dengan ruminansia (Puspitaning 2012).

Protozoa Rumen

Protozoa merupakan salah satu mikroba yang hidup secara anaerob dalam
rumen dan ikut mempengaruhi fermentasi rumen. Keberadaan protozoa dalam
rumen sering mengganggu ekosistem bakteri, karena mempunyai sifat memangsa
bakteri dan secara negatif mempengaruhi proses pencernaan serat pakan (Masruroh
et al. 2013). Keberadaan protozoa memiliki peranan positif yaitu mampu menjaga
pH rumen agar tetap normal, untuk metabolismne selulosa dan pati serta mencegah
asidosis. Protozoa dalam cairan rumen umumnya pada kisaran suhu optimum 160
C-240 C dapat bertahan hidup dan suhu maksimumnya antara 360 C- 400 C (Muslim
et al. 2014). Populasi protozoa dalam jumlah yang besar di dalam rumen dapat
menurunkan kadar protein mikrobial yang tersedia untuk dicerna di dalam usus
halus. (Hidayat et al. 2005).

TBFS (Trypan Blue Formalin Saline)

Trypan Blue Formalin Salin (TBFS) yaitu larutan yang biasa dipakai dalam
teknik pewarnaan. Larutan TBFS terdiri dari 100 ml formaldehid 35%, 2 g triphan
blue, 9g NaCl, dan 900 ml air (Hvelplund 1991). Jika diberikan larutan ini protozoa
yang ingin diamati otomatis akan mati dan berwarna biru.

Fungsi dan Manfaat Protozoa

Dengan memanfaatkan protozoa, selain menekan biaya juga mengurangi


dampak pencemaran perairan di pembuangan akhir bila dibandingkan dengan
penggunaan bahan kimia. Protozoa meningkatkan mineralisasi dan penyerapan N
tanaman melalui rantai makanan. Diperkirakan masukan C tahunan oleh aktivitas
protozoa berkisar dari 10-22%. Rata-rata 70% respirasi binatang berasal dari
protozoa. Hal ini terjadi karena protozoa berukuran sangat kecil sehingga butuh
makanan lebih banyak untuk memenuhi kebutuhannya (Anderson 1988). Protozoa
dapat beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan lingkungan dibandingkan dengan
eukariotik lainnya karena membrane eksternal yang lunak secara langsung
berhubungan dengan lingkungan dan laju pertumbuhannya lebih cepat. Pada
kondisi lingkungan yang cocok, waktu generasi protozoa tanah berkisar beberapa
jam sampai beberapa hari (Lousier dan Bamforth 1990). Pada kondisi lingkungan
yang tidak cocok, protozoa aktif berubah menjadi kista, yaitu suatu tahap dorman
dimana protozoa tersebut tidak aktif dan tidak bergerak.

Populasi Protozoa

Bagian cair dari isi rumen sekitar 8-10% dari berat sapi yang dipuasakan
sebelum dipotong (Gohl 1981). Mikroba didalam cairan rumen dibagi menjadi
empat jenis yaitu bakteri,virus,fungi dan protista. Dari keempat jenis mikroba
tersebut, bakteri mempunyai jenis dan populasi tertinggi. Cacahan sel pergram isi
rumen mencapai 1010 –1011, sedangkan populasi tertinggi kedua yaitu protozoa
yang mencapai 105 -106. Banyaknya protozoa dalam rumen dipengaruhi oleh
ransum dan meliputi sekitar 40% dari total nitrogen mikroba rumen (Hungate
1966).

MATERI DAN METODE

Materi

Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu mikroskop, kaca preparat,
counting chamber, cover glass, syringe, dan botol film. Bahan yang digunakan
yaitu cairan rumen, dan larutan TBFS.

Metode

Langkah pertama yang dilakukan yaitu alat dan bahan disiapkan. Ambil 5ml
cairan rumen. Cairan rumen diteteskan diatas kaca preparat sebanyak 1 tetes,
kemudian amati dengan mikroskop lensa 10 kali perbesaran. Cairan rumen diambil
sebanyak 1 ml dan dimasukan larutan Trifan Blue Formalin Saline (TBFS)
sebanyak 5 ml ke dalam botol film. Dihomogenkan didiamkan sejenak kemudian
diambil dan diteteskan sedikit ke dalam counting chamber dengan menggunakan
syringe kemudian tutup dengan cover glass. Setelah itu, amati dibawah mikroskop
dan hitung populasi protozoa.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Teknik counting chamber digunakan dalam menghitung protozoa di setiap


kotaknya.. Berikut hasil pengamatan perhitungan populasi jumlah protozoa rumen
dengan counting chamber.

Gambar 1 Protozoa rumen Gambar 2 Protozoa rumen


sebelum diberi cairan TBFS setelah diberi cairan TBFS
perbesaran 10 kali. perbesaran 10 kali.

Tabel 1 Rata-rata Populasi Protozoa Tiap Kelompok


Kelompok Populasi Protozoa Populasi protozoa Rata-rata
(kg CFU/ml) (log.ml-1)
1 6,0652 6,2075
2 6,0288 6,0287 5,8628
3 5,3521 5,3522

Pembahasan

Protozoa merupakan salah satu mikroba yang hidup secara anaerob dalam
rumen dan ikut mempengaruhi fermentasi rumen. Keberadaan protozoa dalam
rumen sering mengganggu ekosistem bakteri, karena mempunyai sifat memangsa
bakteri dan secara negatif mempengaruhi proses pencernaan serat pakan (Masruroh
et al. 2013). Kondisi rumen mememiliki peranan penting dalam proses pencernaan
agar dapat di peroleh proses pencernaan yang optimal. Proses fermentatif yang
terjadi didalam rumen dibantu oleh mikroorganisme, terutama bakteri anaerob dan
protozoa. Protozoa memiliki sifat anaerob yaitu memakan atau memangsa bakteri
yang bermanfaat dalam mencerna serat kasar didalam rumen sehingga membuat
jumlah bakteri dan jumlah total protein dalam rumen menurun (Purbowati et al.
2014). Menurut Soulsby (1982) protozoa dibagi menjadi empat kelas. Kelas
mastigophora dengan memiliki satu atau lebih flagella, kelas sarcodina memiliki
pseudopodium dan beberapa yang memiliki flagella, kelas sporozoa yang tidak
memiliki organel penggerak, dan kelas ciliate yang memiliki silia yang digunakan
untuk bergerak dan memiliki dua tipe nucleus (mikro dan makro). Sedangkan
menurut Levine (1990) mengkasifikasikan protozoa menjadi lima kelompok utama
yaitu filum sarcomastigophora yang memiliki flagella dan tidak membentuk spora.
Filum apicompelxa yang memiliki komplek apical, tidak memiliki silia maupun
flagella, seringkali terdapat kista dan bersifat parasit. Filum microspora yang
memiliki spora, parasite pada invertebrate dan vertebrata. Filum myxospora yang
memiliki spora, parasite pada vertebrata saja. Filum ciliophora yang memiliki silia,
dan hamper semua jenisnya hidup bebas.
Hasil yang didapatkan dapat dilihat pada gambar 1 saat diamati protozoa
masih bergerak-gerak dan masih berbentuk seperti gelembung-gelembung kecil.
Sedangkan pada gambar 2 banyak dari beberapa protozoa mati dan terisi dengan
warna dari larutan TBFS yang telah diberikan, dilihat juga bahwa protozoa lebih
renggang dan kotoran lebih sedikit. Larutan TBFS digunakan agar protozoa leboh
mudah dihitung dan mewarnai protozoa yang ada dalam larutan. Pada perhitungan
table 1 dilihat bahwa rata-rata dari perhitungan seluruh kelas yaitu sebesar 5,8628
atau sekitar 0,8185 x 106 yang sesuai dengan literature Hungate (1966) yaitu jumlah
protozoa didalam rumen pada kondisi normal sekitar 106 sel/ml cairan rumen. Hal
tersebut dipengaruhi oleh ransum dan meliputi sekitar 40% dari total nitrogen
mikroba rumen.

SIMPULAN

Hasil yang diperoleh adalah jumlah protozoa didalam rumen pada kondisi
normal sekitar 106 sel/ml cairan rumen, hal tersebut dipengaruhi oleh ransum dan
meliputi sekitar 40% dari total nitrogen. Populasi protozoa dalam rumen perlu
dikurangi karena jika kelebihan populasi protozoa akan menyebabkan gas metan
meningkat dan merugikan fungsi kerja rumen.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson JM. 1988. Spatiotemporal effects of invertebrates on soil processes. Biol


Fertil Soils 6: 216-227.
Budiansyah A, Resmi, Nahrowi, Wiryawan KG, Suhartono MT, Widyastuti Y.
2011. Karakteristik endapan cairan rumen sapi asal rumah potong hewan
sebagai feed supplement. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan. 14(1): 1-13.
Budiansyah A, Resmi, Wiryawan KG, Soehartonod MT, Widyastutie Y, Ramlic
N. 2010. Isolasi dan karakterisasi enzim karbohidrase cairan rumen sapi asal
rumah potong hewan. Media Peternakan. 33(1):36-43.
Gohl, B. O. 1981. Tropical Feed. Feed Information. Summaries and Nutritive
Value. Rome(ID): FAO.
Hidayat UT, Budi Ayuningsih, Mansyur. 2005. Fermentability and Digestibility of
Rice Straw and Cane Top Ammoniated Based Complete Rations (in Vitro).
Jurnal Ilmu Ternak. 5(2): 64–69.
Hungate, R. E. 1966. The Rumen Microbial Ecosystem. Elsvier Applied science.
London and New York
Hvelplund,T. 1991. Volatile Fatty Acids and Protein Production in The Rumen. In
: J.P.Jouvany (Ed), Rumen Microbial Metabolism and Ruminant Digestion
Inra: Paris.
Levine ND. 1990. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner, penerjemah : Gatut
Ashadi, Wardianto, editor. Yogyakarta. Terjemahan dari Textbook of
Veterinary Parasitologi. 1-21;5013-5017;302-303;184-199;152-176.
Lousier JD dan SS Bamforth. 1990. Soil Protozoa. In D.L. Dindal. Soil Biology
Guide (Ed). New York : A Wiley Intersci.
Masruroh S, Prayitno CH, Suwarno. 2013. Populasi protozoa dan produksi gas total
dari rumen kambing perah yang pakannya di suplementasi ekstrak herbal
secara in vitro. Jurnal Ilmiah Peternakan. 1(2): 420-429.
Muslim G, JE Sihombing S, Fauziah A, Abrar, A Fariani. 2014. Aktivitas Proporsi
Berbagai Cairan Rumen dalam Mengatasi Tannin dengan Tehnik In Vitro.
Jurnal Peternakan Sriwijaya. 3(1): 25-36.
Purbowati E, Rianto E, Dilaga WS, Lestari CMS, Adiwinarti R. 2014. Karakteristik
cairan rumen, jenis, dan jumlah mikrobia dalam rumen sapi jawa dan
peranakan ongole. Buletin Peternakan. 38(1): 21-26.
Puspitaning IR. 2012. Populasi protozoa dan karakteristik fermentasi rumen dengan
pemberian daun kersen (Mauntingia calabura) secara in vitro [skripsi].
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Soulsby EJL. 1982. Helminth, Anthtopods, and protozoa of Domesticated Animals.
7th ed : 6-15;23-34;189-194. London :Bailliere, Tindall.
Usman Y. 2013. Pemberian pakan serat sisa tanaman pertanian (jerami, kacang
tanah, jerami jagung, pucuk tebu) terhadap evolusi Ph, H-NH3 dan VFA di
dalam rumen sapi. Agripet. 13(2): 53-58.
Wijayakusuma MH. 2000. Ensiklopedi Milenium Tumbuhan Berkhasiat Obat
Inonesia. Jakarta (ID): Prestasi Insan Indonesia.
LAMPIRAN