Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional

yang bertujuan meningkatkan kesadaran kemauan dan kemampuan hidup

sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang

setinggi- setingginya. Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya

seluruh potensi bangsa Indonesia, baik masyarakat, swasta maupun

pemerintah.1

Dalam pencapaian Pembangunan Nasional, maka lingkungan yang

diharapkan pada masa depan yang akan datang adalah lingkungan yang

kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat yaitu lingkungan yang bebas dari

polusi dan sanitasi lingkungan yang memadai.1

Pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukannya

makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan,

atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses

alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang

menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi

sesuai dengan peruntukannya.2

Pencemaran terdiri dari pencemaran air, udara, dan tanah. Pencemaran

air merupakan pencemaran yang terjadi di lingkungan air, yang dapat

menimbulkan pencemaran air adalah limbah cair industri, Pb, insektisida

yang digunakan oleh petani, Hg, Co dan Zn.2

Pencemaran udara merupakan pencemaran yang terjadi di udara, pen-

1
2

cemaran udara biasanya terjadi karena polutan yang berbentuk gas ataupun

zat partikel. Contoh zat yang menimbulkan polusi adalah karbon dioksida,

CO2, NO2.2

Pencemaran tanah merupakan pencemaran yang terjadi di dalam

lingkungan tanah, contoh zat yang dapat menimbulkan pencemaran tanah

adalah sampah. Sampah merupakan salah satu sumber pencemaran

lingkungan. Pencemaran lingkungan timbul karena tidak seimbangnnya

produksi sampah dengan sistem pengolahan yang digunakan untuk

menurunkan daya dukung alam sebagai tempat pembuangannya.3

Faktor lain yang menyebabkan permasalahan tersebut adalah jumlah

penduduk, jenis aktivitas, dan tingkat konsumsi penduduk. Semakin besar

jumlah penduduk maka semakin besar volume sampah yang dihasilkan.

Jumlah sampah bertambah dengan laju yang cukup cepat, sedangkan dilain

pihak kemampuan dalam pengolahan sampah belum memadai.3

Sampah menurut WHO adalah sesuatu yang tidak digunakan lagi,

tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari

kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya.

Menurut prakiraan, volume sampah yang dihasilkan per orang rata-

rata sekitar 0,5 kg/ kapita/ hari, jadi untuk kota besar yang penduduknya 10

juta orang, sampah yang dihasilkan sekitar 5000 ton/ hari.4

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di

Indonesia produksi sampah mencapai 64 juta ton per tahun, dan komposisi

sampah terdiri dari sampah organik 60 %, plastik 15 %, kertas 10 %, lainnya

(metal, kaca, kain, kulit) 15%. Sementara, pengolahan sampah di Indonesia


3

yakni sebagian besar sampah dikirim ke TPA (69 %), 7,5 % kompos dan daur

ulang, pembakaran terbuka 5%, ditimbun 10% dan tidak ada perlakuan

8,5%.5

Sedangkan di Kabupaten Agam volume sampah meningkat setiap

hari sejak tiga tahun terakhir. Tercatat tahun 2014 total sampah yang

dihasilkan masyarakat Agam berkisar 1.350 mm kubik per hari, pada tahun

2015 jumlah tersebut mengalami fluktuatif menjadi 1.370 mm kubik per hari.

Sedangkan tahun 2016 jumlahnya mengalami lonjakan yang cukup signifikan

menjadi 1.550 mm kubik per hari. Meningkatnya jumlah produksi sampah di

Agam didukung oleh meningkatnya perekonomian masyarakat. Semakin

maju tumah tangga, semakin banyak sampah harian.6

Agar sampah tidak menjadi masalah, maka diperlukan pengolahan

sampah. Pengolahan sampah terdiri dari sanitary landfill, insenerasi,

komposting, dan menggunakan 3R ( reuse, reduce, recycle ).

Sampah anorganik dapat dilakukan dengan prinsip 3R ( reuse, reduce,

recycle ) dan untuk sampah organik dapat menggunakan metode komposting.

Komposting merupakan pemusnahan sampah dengan cara

memanfaatkan proses dekomposisi zat organik oleh kuman- kuman

pembusuk pada kondisi tertentu. Proses ini menghasilkan bahan berupa

kompos atau pupuk.7

Kompos padat yaitu kompos yang dibuat dalam bentuk padat yang

terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman atau hewan, yang

digunakan untuk menyuplai bahan organik serta memperbaiki sifat fisik,

kimia, dan biologi tanah.8


4

Kompos dapat terbentuk secara alami, tetapi membutuhkan waktu

yang cukup lama yaitu 2-3 bulan, bahkan ada yang mencapai 6-12 bulan.

Waktu pengomposan dapat dipercepat dengan penambahan aktivator sampah,

biasanya 2-3 bulan menjadi 2-3 minggu, tergantung bahan dasar yang

digunakan.9

Kompos adalah pupuk yang dibuat dari hasil penguraian aneka bahan

sampah organik, proses terbentuknya kompos dari bahan- bahan organik

dapat dipercepat oleh populasi berbagai mikroba dalam kondisi lingkungan

yang hangat, lembab aerobik dan anaerobik.10

Salah satu cara untuk mempercepat pengomposan dengan

penambahan aktivator yang bahannya dapat ditemukan dengan mudah seperti

nasi basi, keong emas, tape, bonggol pisang.11

Bonggol pisang merupakan salah satu aktivator yang dapat digunakan

dalam proses pengomposan dan bonggol pisang ini sendiri mudah didapatkan

serta sering dibiarkan begitu saja setelah buahnya diambil. Menurut

Munadjim, bonggol pisang mengandung gizi yang cukup tinggi dengan

komposisi yang lengkap, mengandung karbohidrat (66 %), protein, air, dan

mineral-mineral penting. Menurut Sukasa dkk, bonggol pisang mempunyai

kandungan pati 45,4 % dan kadar protein 4,35 %. Bonggol pisang

mengandung mikrobia pengurai bahan organik. Menurut Suhastyo, mikrobia

pengurai tersebut terletak pada bonggol pisang bagian luar maupun bagian

dalam. Jenis mikrobia yang telah teridentifikasi pada MOL (Micro Organism

Local) bonggol pisang antara lain Bacillus sp., Aeromonas sp., dan
5

Aspergillus nigger. Mikrobia inilah yang biasa mendekomposisi bahan

organik sehingga mempercepat proses penguraian.12

Pada penelitian Jumali Universitas Jambi (2016) yang memanfaatkan

Mol bonggol pisang sebagai starter kompos dengan menggunakan campuran

fases sapi potong dan kulit pinang terhadap kualitas kompos serta

pertumbuhan rumup gajah, didapatkan hasil yaitu bahwa bonggol pisang

dapat dijadikan sebagai pengurai dan dapat penyubur tanah serta

memperbaiki unsur hara tanah.13

Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik melakukan penelitian

dengan judul “Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Kompos

Menggunakan Aktivator MOL Bonggol Pisang”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas yang menjadi rumusan

permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pemanfaatan sampah

organik menjadi kompos menggunakan aktivator mol bonggol pisang.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan sampah organik

menjadi kompos menggunakan aktivator mol bonggol pisang.

2. Tujuan Khusus

1. Diketahuinya kadar C/N ratio pada kompos yang ditambahkan dengan

aktivator mol bonggol pisang dengan konsentrasi 25 ml, 50 ml dan

kontrol.
6

2. Diketahuinya kualitas fisik kompos (suhu dan kelembaban) yang

dihasilkan dalam proses pengomposan menggunakan aktivator mol

bonggol pisang.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai proses

pembuatan kompos serta pembuatan MOL (Micro Organism Local)

sendiri dengan bahan yang mudah dicari dan biaya yang murah serta

sebagai bahan masukan bagi penulis.

2. Bagi Masyarakat

Sebagai informasi bagi masyarakat untuk dapat memanfaatkan

sampah organik menjadi kompos dengan menggunakan aktivator mol

bonggol pisang

E. Ruang Lingkup Penelitian

Sesuai dengan tujuan penelitian, maka peneliti membatasi ruang

lingkup penelitian untuk mengetahui kadar C/N dari sampah organik yang

ditambahkan aktivator mol bonggol pisang dengan konsentrasi 25 ml, 50 ml

dan kontrol.
7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Sampah

1. Pengertian Sampah

Sampah menurut Notoatmodjo adalah sesuatu bahan atau benda padat

yang sudah tidak digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang.

Sampah juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak digunakan, tidak

dipakai dan tidak disenangi dan sesuatu yang dibuang yang berasal dari

kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya.

2. Sumber-sumber Sampah

Menurut Soekidjo Notoatmodjo sampah terdiri atas berbagai sumber

yakni :

a. Sampah yang berasal dari pemukiman (domestic wastes)

Sampah ini terdiri dari bahan- bahan padat sebagai hasil dari kegiatan

rumah tangga yang sudah dipakai dan dibuang baik yang sudah dimasak

atau yang belum, bekas pembungkus berupa kertas, plastik, daun dan lain-

lain. Pakaian- pakaian bekas, bahan-bahan bacaan perabotan rumah

tangga, daun-daun dari kebun atau taman.

b. Sampah yang berasal dari perkantoran

Sampah dari perkantoran baik perkantoran pendidikan, perdagangan,

departemen, perusahaan dan sebagainya. Sampah ini berupa kertas- kertas,

plastik, karbon, klip dan sebagainya. Umumnya sampah ini bersifat kering

dan mudah terbakar.

7
8

c. Sampah yang berasal dari pembersihan jalan yang umumnya terdiri dari

kertas- kertas, kardus- kardus, debu, batu- batuan, daun- daunan, onderdil

kendaraan yang jatuh, plastik dan sebagainya.

d. Sampah yang berasal dari industri (industrial wastes)

Sampah yang berasal dari kawasan industri termasuk segala jenis sampah

hasil pengepakan barang, logam, plastik, kayu, potongan tekstil, kaleng

dan kayu.

e. Sampah yang berasal dari pertanian/ perkebunan

Sampah yang berasal dari perkebunan atau pertanian, misalnya : jerami,

sisa sayur mayur, batang padi, batang jagung, ranting kayu yang patah,

dan sebagainya.

f. Sampah yang berasal dari pertambangan

Sampah yang berasal dari aktivitas pertambangan dan tergantung pada

jenis tambang yang dihasilkan, misalnya batu-batuan, pasir, abu sisa

pemabakaran dan lain-lain.

g. Sampah yang berasal dari peternakan dan perikanan

Sampah yang berasal dari peternakan berupa kotoran- kotoran ternak, sisa

makanan, bangkai binatang, dan sebagainya.

3. Jenis- jenis Sampah

Menurut Soekidjo Notoatmodjo sampah padat sampah dapat dibagi

menjadi berbagai jenis, yaitu :

a. Berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya, sampah dibagi

menjadi :

1) Sampah anorganik
9

Sampah anorganik adalah sampah yang umumnya tidak dapat

membusuk, misalnya : logam/ besi, pecahan gelas, plastik, dan

sebagainya.

2) Sampah organik

Sampah organik adalah sampah yang pada umumnya dapat

membusuk, misalnya : sisa-sisa makanan, daun-daunan, buah-buahan,

dan sebagainya.

b. Berdasarkan dapat dan tidak dapat dibakar

1) Sampah yang mudah terbakar, misalnya : kertas, karet, kayu, plastik,

kain bekas, dan sebagainya.

2) Sampah yang tidak dapat terbakar, misalnya : kaleng- kaleng bekas,

besi/logam bekas, pecahan gelas, kaca, dan sebagainya.

c. Berdasarkan karakteristik sampah

1) Garbage, yaitu jenis sampah adalah sampah hasil pengolahan atau

pembuatan makanan, yang umumnya mudah membusuk, dan berasal

dari rumah tangga, restoran, hotel, dan sebagainya.

2) Rubbish, yaitu sampah yang berasal dari perkantoran, perdagangan baik

yang mudah terbakar, seperti kertas, karton, plastik, dan sebagainya,

maupun yang tidak mudah terbakar, seperti kaleng bekas, klip, pecahan

kaca, gelas, dan sebagainya.

3) Ashes (abu), yaitu sisa pembakaran dari bahan- bahan yang mudah

terbakar, termasuk abu rokok.

4) Sampah jalanan (street sweeping), yaitu sampah yang berasal dari

pembersihan jalan, yang terdiri dari campuran bermacam-macam


10

sampah, daun-daunan, kertas, plastik, pecahan kaca, besi, debu dan

sebagainya.

5) Sampah industri, yaitu sampah yang berasal dari pabrik-pabrik.

6) Bangkai binatang (dead animal), yaitu bangkai binatang yang mati

karena alam, ditabrak kendaraan, atau dibuang oleh orang.

7) Bangkai kendaraan, yaitu bangkai mobil, sepeda motor, dan

sebagainya.

8) Sampah pembangunan, yaitu sampah dari proses pembangunan gedung,

rumah dan sebagainya, yang berupa puing-puing, potongan- potongan

kayu, besi beton, bambu, dan sebagainya.

4. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Sampah

Faktor- faktor yang mempengaruhi sampah menurut Budiman Chandra

sebagai berikut :

a. Jumlah penduduk

Jumlah penduduk bergantung pada aktivitas dan kepadatan

penduduk. Semakin padat penduduk, sampah semakin menumpuk karena

tempat atau ruang untuk menampung sampah kurang. Semakin meningkat

aktivitas penduduk, sampah yang dihasilkan semakin banyak, misalnya

pada aktivitas pembangunan, perdagangan, industri, dan sebagainya.

b. Sistem pengumpulan sampah atau pembuangan sampah yang dipakai.

Pegumpulan sampah dengan menggunakan gerobak lebih lambat

jika dibandingkan dengan truk.

c. Pengambilan bahan- bahan yang ada pada sampah untuk dipakai

kembali.Metode itu dilakukan karena bahan tersebut masih memiliki nilai


11

ekonomi bagi golongan tertentu. Frekuensi pengambilan dipengaruhi oleh

keadaan, jika harganya tinggi, sampah yang tertinggal sedikit.

d. Faktor geografis

Lokasi tempat pembuangan apakah didaerah pegunungan, lembah,

pantai, atau didaratan rendah.

e. Faktor waktu

Bergantung pada faktor harian, mingguan, bulanan, atau tahunan.

Jumlah sampah perhari bervariasi menurut waktu. Contoh, jumlah sampah

pada siang hari lebih banyak dari pada jumlah dipagi hari, sedangkan

sampah didaerah pedesaan tidak begitu bergantung pada faktor waktu.

f. Faktor sosial ekonomi dan budaya

Contoh, adat istiadat dan taraf hidup serta mental masyarakat.

g. Pada musim hujan sampah akan tersangkut pada selokan, pintu air, atau

penyaringan air limbah.

h. Kebiasaan masyarakat.

Contoh jika seseorang suka mengkonsumsi satu jenis makanan atau

tanaman, sampah makanan itu akan meningkat.

i. Kemajuan teknologi.

Akibat kemajuan teknologi, jumlah sampah dapat meningkat. Contoh:

plastik, kardus, rongsokan, AC, TV, kulkas, dan sebagainya.

j. Jenis sampah.

Makin maju tingkat kebudayaan suatu masyarakat, semakin kompleks

pula macam dan jenis sampahnya.


12

5. Pengelolaan Sampah

Menurut Soekidjo Notoatmodjo cara pengelolaan sampah ada dua

yaitu :

a. Pengumpulan dan pengangkutan sampah

Pengumpulan sampah adalah menjadi tanggung jawab dari

masing-masing rumah tangga atau institusi yang menghasilakan

sampah. Oleh karena itu harus dibangun dan diadakan tempat khusus

untuk mengumpulkan sampah. Kemudian dari masing- masing tempat

pengumpulan sampah tersebut harus diangkut ke tempat penampungan

sementara (TPS) sampah, dan selanjutnya ke tempat penampungan

akhir (TPA).

b. Pemusnahan dan pengolahan sampah

1) Ditanam (landfill), yaitu pemusnahan sampah dengan membuat

lubang di tanah kemudian sampah dimasukkan dan ditimbun

dengan tanah.

2) Dibakar (inceneration), yaitu memusnahkan sampah dengan jalan

membakar di dalam tungku pembakaran (incenerator).

3) Dijadikan pupuk (composting)

Yaitu pengolahan sampah menjadi pupuk (kompos),

khususnya untuk sampah organik daun-daunan, sisa makanan, dan

sampah lain yang dapat membusuk.


13

B. Kompos

1. Pengertian

Kompos adalah hasil dekomposisi bahan organik (sisa tumbuhan

maupun hewan) oleh mikroorganisme pengurai, yang berfungsi sebagai

pembenah tanah.

Kompos adalah hasil penguraian, pelapukan, dan pembusukan bahan

organik seperti kotoran hewan, daun maupun bahan organik lainnya. Bahan

kompos tersedia disekitar kita dalam berbagai bentuk. Beberapa contoh bahan

kompos adalah batang, daun, akar tanaman, serta segala sesuatu yang dapat

hancur. Banyak dari bahan tersebut menumpuk menjadi sampah yang

mengganggu kesehatan.

Menurut Indasah pupuk kompos adalah pupuk yang dibuat dari

sampah organik. Pembuatan kompos ini tidak perlu rumit, tidak perlu

memerlukan tempat yang luas serta tidak menghabiskan banyak biaya.

Kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sendiri, tidak perlu membeli.

Pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami

peguaraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang

memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos

adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat

terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi campuran bahan yang seimbang,

pemberian air yang cukup, mengatur aerasi dan penambahan aktivator

pengomposan. Sampah terdiri dari dua bagian yaitu organik dan anorganik.

Rata-rata persentase bahan organik sampah mencapai lebih kurang 80%,

sehingga pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai.


14

Kompos sangat berpotensi untuk dikembangkan mengingat semakin tingginya

jumlah sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir dan

menyebabkan polusi dan lepasnya gas metana ke udara. Melihat besarnya

sampah organik yang dihasilkan oleh masyarakat, terlihat potensi untuk

mengolah sampah organik menjadi pupuk organik demi kelestarian

lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Indasah kompos memperbaiki struktur tanah dengan

meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan

kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas

mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan

penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk

menyerap unsur hara dari tanah.

2. Manfaat Kompos

Manfaat kompos menurut Hery Soeryoko yaitu :

a. Pembenahan tanah

Kompos merupakan benda yang dapat membenahi (memperbaiki)

mutu tanah. Lahan yang rusak dan kehilangan kesuburannya dapat

diperbaiki dengan pengolahan lahan dengan kompos. Lahan yang telah

diperbaiki dengan kompos akan tampak gembur dan subur. Selain lahan

pertanian, beberapa tempat bekas penambangan sering menggunakan

kompos untuk memperbaiki lahan yang rusak parah.

b. Penyediaan makanan bagi tanaman

Selain memperbaiki kualitas tanah, kompos juga berfungsi

menyediakan makanan bagi tanaman. Kompos menjaga mikroorganisme


15

dalam tanah untuk berkembang biak. Mikroorganisme menghasilkan

kesuburan tanah. Lahan yang penuh dengan makanan menjadikan tanaman

yang tumbuh diatasnya subur. Lahan yang kaya akan kompos sangan

gembur sehingga akar tanaman berkembang dengan pesat. Akar yang

berkembang dengan pesat tersebut dapat menarik makanan yang telah

tersedia dalam kompos sebanyak-banyaknya.

3. Kelebihan pupuk kompos

Cara mengadaptasi kompos adalah dengan mengurangi jumlah

pupuk kimia dan menggantinya dengan pupuk kompos.

Kelebihan pupuk kompos menurut Hery Soeryoko yaitu :

a. Tidak adanya rasa khawatir bila harga pupuk kimia naik ataupun

hilang pasaran.

b. Mampu memperbaiki kualitas biologi tanah.

c. Mampu menambah daya ikat air.

d. Membuat tanah menjadi gembur.

e. Tanah berpasir menjadi tanah yang mempunyai daya ikat air.

f. Dapat diproduksi sendiri.

4. Ciri- ciri Kompos Padat

a. Berwarna coklat kehitam-hitaman.

b. Berbau seperti tanah.

c. Apabila diremas/dipegang tidak menempel di tangan.

5. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Proses Pengomposan

Beberapa faktor yang dapat mempegaruhi proses pengomposan

menurut Indasah yaitu :


16

a. Nilai C/N bahan

Semakin rendah nilai C/N bahan, waktu yang diperlukan untuk

pengomposan semakin meningkat.

b. Ukuran bahan

Bahan yang berukuran lebih kecil akan lebih cepat proses

pengomposannya karena semakin luas bahan yang tersentuh dengan

bakteri. Untuk itu, bahan organik perlu dicacah hingga berukuran 0,5-1

cm, sedangkan bahan yang tidak keras dicacah dengan ukuran agak besar,

sekitar 5 cm. Pecacahan bahan yang tidak keras sebaiknya tidak terlalu

kecil karena bahan yang terlalu hacur (banyak air) kurang baik

(kelembabannya tinggi).

c. Komposisi bahan

Pengomposan dari beberapa macam bahan akan lebih baik dan lebih

cepat. Pengomposan bahan organik dari tanaman akan lebih cepat bila

ditambah dengan kotoran hewan. Ada juga yang menambah bahan

makanan dan zat pertumbuhan yang dibutuhkan mikroorganisme sehingga

selain dari bahan organik, mikroorganisme juga mendapatkan bahan

tersebut dari luar.

d. Jumlah mikroorganisme

Biasanya dalam proses ini bekerja bakteri, fungi, Actinomycetes

dan protozoa. Sering ditambahkan pula mikroorganisme ke dalam bahan

yang akan dikomposkan. Dengan bertambahnya jumlah mikroorganisme,

diharapkan proses pengomposan akan lebih cepat.

e. Kelembaban dan Aerasi


17

Umumnya mikroorganisme tersebut dapat bekerja dengan

kelembaban sekitar 40-60 %. Kondisi tersebut perlu dijaga agar

mikroorganisme bekerja secara optimal. Kelembaban yang lebih rendah

atau lebih tinggi dapat menyebabkan mikroorganisme tidak berkembang

atau mati. Adapun kebutuhan aerasi tergantung dari proses

berlangsungnya pengomposan tersebut aerobik dan anaerobik.

f. Temperatur

Temperatur optimal sekitar 30-50 0C (hangat). Bila temperatur

terlalu tinggi mikroorganisme akan mati. Bila temperatur relatif rendah

mikroorganisme belum dapat bekerja atau dalam keadaan dorman.

Aktivitas mikroorganisme dalam proses pengomposan tersebut juga

menghasilkan panas sehingga untuk menjaga temperatur tetap optimal

sering dilakukan pembalikan. Namun, ada mikroba yang bekerja pada

temperatur yang lebih relatif tinggi,yaitu 80 0C, seperti Trichoderma

pseudikoningiidan Cytophaga sp. Kedua jenis mikroba ini digunakan

sebagai aktivator dalam proses pengomposan skala besar atau skala

industri, seperti pengomposan tandan kosong kelapa sawit.

g. Keasaman (pH)

Kesaman atau pH dalam tumpukan kompos juga mempegaruhi

aktivitas mikroorganisme. Kisaran Ph yang baik yaitu sekitar 6,5 – 7,5

(netral). Oleh karena itu, dalam proses pengomposan sering diberi

tambahan kapur atau abu dapur untuk menaikkan pH.

h. Kandungan hara
18

Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposan dan

biasanya terdapat dalam kompos-kompos peternakan. Hara ini akan

dimanfaatkan oleh mikroba selama proses pengomposan.

i. Kandungan bahan berbahaya

Beberapa bahan organik mungkin mengandung bahan-bahan yang

berbahaya bagi kehidupan mikroba. Logam-logam berat seperti Mg, Cu,

Zn, Nickel dan Cr adalah bahan yang termasuk kategori ini. Logam-

logam ini akan mengalami imobilisasi selama proses pengomposan.

j. Lama pengomposan

Lama waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan

yang dikomposkan, metode pengomposan yang dipergunakan dan dengan

atau tanpa penambahan aktivator pengomposan. Secara alami

pengomposan akan berlangsung dalam waktu beberapa minggu sampai 2

tahun hingga kompos benar-benar matang.

Tabel standar kualitas kompos yang baik menurut SNI 19-7030-2004

Parameter Satuan Minimum Maksimum


Kelembaban % - 50
0
Temperatur/ suhu C - Suhu tanah
Warna - - Kehitaman
Bau - - Berbau tanah
Ph 6,8 7,49
Nitrogen % 0,4 -
Kalium % 0,2 -
Posfor % 0,1 -
Rasio C/N - 10 20
19

6. Prinsip Pengomposan

Prinsip pengomposan menurut Hery Soeryoko yaitu :

Bahan organik tidak dapat langsung digunakan atau dimanfaatkan

oleh tanaman karena perbandingan C/N dalam bahan tersebut relatif tinggi

atau tidak sama dengan C/N tanah. Nilai C/N merupakan hasil

perbandingan antara karbohidrat dan nitrogen. Nilai C/N tanah sekitar 10-

12. Apabila bahan organik mempunyai kandungan C/N mendekati atau

sama dengan C/N tanah maka bahan tersebut dapat digunakan atau diserap

tanaman. Namun, umumnya bahan organik yang segar mempunyai C/N

yang tinggi seperti jerami padi 50-70, daun-daunan > 50 (tergantung

jenisnya), cabang tanaman 15-60 (tergantung jenisnya), kayu yang telah

tua dapat mencapai 400.

Prinsip pengomposan adalah menurunkan kadar C/N ratio bahan

organik hingga sama dengan C/N tanah (<20). Dengan semakin tingginya

C/N bahan maka proses pengomposan akan semakin lama karena C/N

harus diturunkan. Waktu yang diperlukan untuk menurunkan C/N tersebut

bermacam-macam dari 3 bulan hingga tahunan. Hal ini terlihat dari proses

pembuatan humus dari alam, dari bahan organik menjadi humus

diperlukan waktu bertahun-tahun (humus merupakan hasil proses lebih

lanjut dari pegomposan).Dalam proses pengomposan terjadi perubahan

seperti :

a. Karbohidrat, selulosa, hemiselulosa, lemak, dan lilin menjadi

CO2 dan air.

b. Zat putih telur menjadi amonia, CO2 dan air.


20

c. Peruraian senyawa organik menjadi seyawa yang dapat diserap

oleh tanaman.

Dengan perubahan tersebut kadar karbohidrat dapat akan hilang

atau turun dan seyawa N yang larut (amoni) meningkat. Dengan demikian,

C/N semakin rendah dan relatif stabil mendekati C/N tanah.

7. Cara Pembuatan Kompos Secara Umum

1. Persiapan bahan

Bahan yang dipersiapkan adalah sampah-sampah organik berupa

sampah sayur-sayuran. Untuk bahan tertentu berukuran besar atau

panjang, agar bahan mudah terdekomposisi sebaiknya dihaluskan dengan

cara dicincang dengan ukuran 1,5-3 cm.

2. Persiapan alat

Alat-alat yang diperlukan antara lain : tempat pembuatan kompos,

sekop, cangkul garpu, ember, plastik penutup/terpal, thermometer, dan

timbangan.

3. Penyusunan bahan baku

Susunan kompos berdasarkan ketersediaan bahan baku. Sebaiknya

bahan yang mengandung karbon lebih tinggi terlebih dahulu, diletakkan

paling bawah sebagai alas.

4. Mencampur kompos

Setelah bahan disusun lengkap, kemudian setahap demi setahap

bahan dicampur rata, sambil dilihat kelembabannya, apabila kurang

lembab tambahkan air sambil ditambahkan bahan aktivator. Campurkan

dengan air sebanyak sesuai dengan ketentuan.


21

5. Mengukur temperatur

Pengukuran temperatur/suhu dilakukan setiap hari. Pengukuran

temperatur/suhu dilakukan untuk mengetahui apakah pencampuran sudah

baik dan benar, apakah komposisinya sudah seimbang dan seterusnya.

6. Penyaringan

Setelah kompos matang ditandai dengan perubahan warna,

penyusutan, perubahan bau dan suhu maka saring kompos, guna untuk

mendapatkan kompos yang benar-benar baik, yang telah terpisah dari

bahan-bahan yang masih kasar atau belum sempurna menjadi kompos.

C. Aktivator dalam Pembuatan Kompos

Proses pengomposan dapat dipercepat dengan bantuan aktivator.

Beberapa jenis aktivator seringkali ditambahkan pada saat pembuatan kompos

karena ada beberapa hal yang menyebabkan gagalnya pengomposan. Misalnya

karena tumpukan bahan organik terlalu sedikit sehingga beberapa aktivator

untuk terjadinya pengomposan tidak terjadi secara alamiah. Pengomposan

secara alamiah biasanya terjadi pada gundukan bahan organik 1 m3. Aktivator

terdiri atas dua kategori, yaitu aktivator abiotik dan biotik (bioaktivator).

Beberapa aktivator yang ada di pasaran dan digunakan utuk membuat

kompos adalah EM4, Dectro, Orgadec, Stardec, Fi-Up Plus, dan Harmoni.

Selain aktivator yang dibuat di pasaran juga ada aktivator dapat dibuat sendiri.

Aktivator buatan sendiri ini biasa disebut dengan MOL (Micro Organism

Lokal). Bahan yang digunakan untuk membuatnya bisa bermacam-macam,

tergantung selera, kebutuhan dan ketersediaan bahan di lingkungan.


22

1. Aktivator MOL Bonggol Pisang

a. Pengertian

MOL (Micro Organism Local) merupakan cairan yang terbuat dari

bahan organik alami. Larutan MOL mengadung unsur hara mikro dan

makro serta mikroba. Adanya mikroba dalam larutan MOL berpotensi

sebagai perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan dan agen

pengendali penyakit maupun hama tanaman.11

Bonggol pisang merupakan salah satu aktivator yang dapat

digunakan dalam proses pengomposan dan bonggol pisang ini sendiri

mudah didapatkan serta sering dibiarkan begitu saja setelah buahnya

diambil. Menurut Munadjim, bonggol pisang mengandung gizi yang

cukup tinggi dengan komposisi yang lengkap, mengandung karbohidrat

(66 %), protein, air, dan mineral-mineral penting. Menurut Sukasa dkk,

bonggol pisang mempunyai kandungan pati 45,4 % dan kadar protein 4,35

%. Menurut Suhastyo, bonggol pisang mengandung mikrobia pengurai

bahan organik. Mikrobia pengurai tersebut terletak pada bonggol pisang

bagian luar maupun bagian dalam. Jenis mikrobia yang telah

teridentifikasi pada MOL bonggol pisang antara lain Bacillus sp.,

Aeromonas sp., dan Aspergillus nigger. Mikrobia inilah yang biasa

mendekomposisi bahan organik sehingga mempercepat proses

penguraian.11

b. Langkah-langkah pembuatan MOL

1) Siapkan bahan berupa 1 kg bonggol pisang, 0,25 kg gula merah,

dan 2 liter air cucian beras.


23

2) Potong kecil-kecil bonggol pisang, dan mengiris gula merah.

3) Bonggol pisang dan gula merah dimasukkan kedalam air beras

dan aduk hingga merata atau homogen.

4) Semua bahan yang telah dicampur dimasukkanke dalam botol/

jerigen kemudian ditutup rapatdengan platik dan difermentasi

selama 15 hari.

5) MOL atau bioaktivator yang sudah jadi ditandai dengan bau

alkohol yang tajam.

c. Keunggulan MOL

1) Bahan untuk pembuatannya mudah didapatkan.

2) Menghemat biaya untuk pembuatannya.

3) Dapat mempercepat proses pengomposan.

4) Dapat meminimalisir sampah organik.

D. Kerangka Konsep

Aktivator MOL bonggol 1. Kualitas fisik kompos


pisang yang ditambahkan (suhu dan kelembaban )
pada sampah organik 2. Kualitas kimia kompos
(rasio C/N)

E. Definisi Operasional

No Variabel Defenisi Cara ukur Alat ukur Hasil Skala


ukur
1 Sampah Sampah yang berasal dari Penimbangan Timbangan Kg Rasio
organik rumah tangga seperti sisa
sayur-sayuran, buah-
buahan, daun-daunan dan
sisa- sisa makanan yang
membusuk dengan mudah
24

2 Aktivator Bahan yang digunakan Pengukuran Gelas ukur Ml Ordinal


MOL bonggol adalah bonggol pisang
pisang dicampur dengan air cucian
beras dan gula merah.

0
3 Suhu Temperatur kompos dalam Pengukuran Thermo C Interval
0
C yang memungkinkan Meter
mikroorganime hidup di
dalamnya.
4 Kelembaban Kadar air yang terdapat Pengukuran Hygro % Interval
dalam sampah organik Meter
selama proses
pengomposan.
5 Rasio C/N Perbandingan antara kadar Uji Perhitungan C/N Rasio
karbon (C) dengan Nitrogen laboratorium
(N) kompos.
25

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini bersifat eksperimen yaitu mengetahui kadar C/N sampah

organik yang menggunakan aktivator mol bonggol pisang.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Canduang Kabupaten Agam pada bulan

Desember–Mei tahun 2018 dan pemeriksaan dilakukan di Laboratorium

Pertanian Universitas Andalas.

C. Objek Penelitian

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sampah organik

sedangkan parameter yang akan dianalisa kadar C/N dari kompos dengan

konsentrasi 25 ml, 50 ml dan kontrol.

D. Alat, Bahan dan Cara Kerja

1. Alat dan Bahan Pembuatan MOL

a. Alat

1. Ember

2. Jerigen 5L

3. Sendok

4. Corong

b. Bahan

1. Air cucian beras 2L

2. Bonggol pisang 1 kg

3. Gula merah 0,25 kg

25
26

2. Alat dan Bahan Pengomposan

a. Alat

1. Keranjang atau wadah pengomposan

2. Timbangan

3. Perlengkapan untuk mencacah (pisau dan parang)

4. Sekop atau sendok pengaduk

5. Masker

6. Sarung tangan

b. Bahan

1. MOL bonggol pisang

2. Sampah organik rumah tangga sebanyak 30 kg yang akan

digunakan untuk :

a. 10 kg sampah organik rumah tangga yang ditambahkan

aktivator mol bonggo pisang dengan konsentrasi 25 ml terdiri

dari :

1) 5 kg sampah organik rumah tangga yang ditambahkan

aktivator mol bonggo pisang 25 ml.

2) 5 kg sampah organik rumah tangga yang ditambahkan

aktivator mol bonggo pisang 25 ml.

b. 10 kg sampah organik rumah tangga yang ditambahkan

aktivator mol bonggo pisang dengan konsentrasi 50 ml terdiri

dari :

1) 5 kg sampah organik rumah tangga yang ditambahkan

aktivator mol bonggo pisang 50 ml.


27

2) 5 kg sampah organik rumah tangga yang ditambahkan

aktivator mol bonggo pisang 50 ml.

c. 10 kg sampah organik rumah tangga yang dijadikan untuk

kontrol terdiri dari :

1) 5 kg sampah organik rumah.

2) 5 kg sampah organik rumah tangga.

c. Cara kerja

3) Pembuatan MOL bonggol pisang

a) Siapkan bahan berupa 1 kg bonggol pisang, 0,25 kg gula

merah, dan 2 liter air cucian beras.

b) Potong kecil-kecil bonggol pisang, dan mengiris gula merah.

c) Bonggol pisang dan gula merah dimasukkan kedalam air beras

dan aduk hingga merata atau homogen.

d) Semua bahan yang telah dicampur dimasukkan ke dalam botol

/ jerigen kemudian ditutup rapatdengan plastik dan

difermentasi selama 15 hari.

d) MOL atau aktivator yang sudah jadi ditandai dengan bau

alkohol yang tajam danberwarna kecoklatan.


28

Bagan Alur Pembuatan MOL bonggol Pisang

+ 0,25 kg gula merah + 2L air cucian beras

1 kg Bonggol
Pisang (dicacah)

Homogenkan

Fermentasi selama 15
hari hingga berbau
alkohol dan berwarna
kecoklatan

MOL Bonggol Pisang


siap digunakan.

4) Pembuatan Kompos

a) Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan

kompos.

b) Lakukan pencacahan sampah organik sampai halus, untuk

memudahkan pengomposan.

c) Masukkan 5 kg sampah organik ke dalam masing-masing

wadah/tempat pengomposan untuk tiga perlakuan dengan

konsentrasi 25 ml, 50 ml dan kontrol.

d) Tambahkan MOL untuk perlakuan 25 ml dan 50 ml.

e) Aduk hingga rata.

f) Lakukan perhitungan dan pengamatan setiap hari dengan cara

diaduk, dibalik serta ditambahkan MOL bonggol pisang.


29

g) Ukur suhu kompos menggunakan thermometer, catat

perubahan suhunya.

h) Ukur kelembaban dengan termohygrometer, kemudian catat.

i) Lakukan pengontrolan setiap hari sampai kompos jadi.

j) Lakukan pemeriksaan C/N di laboratorium terhadap kompos.

Bagan Alur Proses Pengomposan

Timbang sampah kontrol


organik masing- Cacah
masing 5 kg untuk sampah 25 ml
tiga perlakuan organik MOL
50 ml

Proses pengomposan
dilakukan hingga kompos
berwarana kecoklatan,
berbau seperti tanah dan
tidak lengket saat
diremas.

Pemeriksaan kadar
C/N kompos

E. Analisa Data

Data disajikan dengan menggunakan uji anova yang bertujuan untuk

mengetahui rata-rata kualitas C/N dari kompos yang menggunakan aktivator

mol bonggol pisang.