Anda di halaman 1dari 51

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keputihan (leucorrhrea/flour albus/vaginal discharge) adalah semua jenis

pengeluaran cairan dari alat genitalia yang tidak berupa darah. Keputihan bukanlah

suatu penyakit tersendiri, tetapi merupakan manifestasi gejala dari penyakit organ

reproduksi wanita.1 Keputihan bisa bersifat fisiologis (dalam keadaan normal) namun

bisa juga bersifat patologis (karena penyakit).2

Keputihan fisiologis berwarna bening, tidak berbau dan tidak menimbulkan

keluhan. Keputihan patologis biasanya berwarna kekuningan/kehijauan/keabu-abuan,

berbau amis/busuk, jumlah secret umumnya banyak dan menimbulkan keluhan

seperti gatal, kemerahan (eritema), edema, rasa terbakar pada daerah intim, nyeri

pada saat berhubungan seksual (dyspareunia) atau nyeri saat berkemih (dysuria).3

Menurut World Health Organization(WHO), sekitar 75% wanita yang ada di

seluruh dunia pernah mengalami keputihan. Di Indonesia, sekitar 90% wanita

berpotensi mengalami keputihan karena Negara Indonesia beriklim tropis, yang

menyebabkan organ reproduksi menjadi lembab dan basah sehingga jamur mudah

tumbuh dan berkembang. Data penelitian prevalensi wanita Indonesia yang

mengalami keputihan didapatkan data 75% wanita pernah mengalami keputihan

minimal sekali dalam seumur hidupnya dan 45% sisanya bisa mengalami keputihan

sebanyak dua kali atau lebih dalam seumur hidupnya.4,5


2

Keputihan yang berlangsung secara terus menerus dan dalam waktu yang

cukup lama, serta menimbulkan keluhan jika tidak segera ditangani akan berakibat

fatal. Kemandulan dan timbulnya penyakit kanker leher rahim yang dapat berujung

pada kematian merupakan akibat dari keputihan.6

Faktor penyebab keputihan dapat dipicu karena adanya bakteri, kuman, virus,

jamur, aktifitas yang terlalu lelah, pengaruh hormonal dan perilaku personal

hygiene.7. Keputihan yang berbahaya adalah keputihan patologis.Salah satu penyebab

terjadinya keputihan patologis adalah karena penggunaan alat

kontrasepsi.6,8Kontrasepsi yang berpengaruh terhadap terjadinya keputihan yaitu

kontrasepsi hormonal. Yang termasuk dalam kontrasepsi hormonal yaitu pil, suntik

dan implant.Kontrasepsi hormonal merupakan kontrasepsi yang mengandung

hormon estrogen dan progesteron.9

Keputihan paling banyak disebabkan oleh jamur Candida albicans.10

Keputihan yang ditemukan pada kontrasepsi hormonal dengan progresteron dalam

dosis yang tingggi disebabkan karena meningkatnya infeksi oleh jamur Candida

albicans.11

Pengaruh kontrasepsi hormonal dengan kejadian keputihan karena kontrasepsi

hormonal mengandung hormon sintetik (estrogen dan progesteron).12 Kontrasepsi

hormonal mengubah kondisi hormon yang berefek pada perubahan pH vagina.

Perubahan ini menyebabkan terjadinya pergeseran keseimbangan populasi flora

normal vagina. Karena peningkatan sekeresi normal vagina, penebalan mukus dalam

saluran leher rahim mempermudah perkembangan jamur, dikarenakan glikogen

dalam mukus vagina bertambah dan Lactobacillus memecah glikogen menjadi asam
3

laktat sehingga menyebabkan lingkungan menjadi asam dimana Candida albicans

tumbuh dengan subur.13Keputihan yang terjadi karena penggunaan alat kontrasepsi

hormonal akan meningkat 50% dibandingkan dengan wanita yang tidak

menggunakan kontrasepsi hormonal.9 Penelitian di Inggris menunjukan akseptor

metode kontrasepsi kombinasi mempunyai resiko 1,2 kali lebih besar untuk

mendapatkan infeksi jamur candidiasis dibandingkan tanpa KB. Maka, akseptor KB

kombinasi lebih beresiko terkena infeksi jamur candidiasis yang menyebabkan

keputihan patologis.10

Praktek personal hygiene yang tidak baik juga dapat menimbulkan keputihan

patologis.Perilaku yang tidak baik dalam menjaga kebersihan organ reproduksi,

seperti membersihkan organ kewanitaan dengan menggunakan air yang kotor,

menggunakan celana dalam yang tidak menyerap keringat, jarang mengganti celana

dalam, memakai sabun kewanitaan secara berlebihan dan tidak sering mengganti

pembalut dapat menjadi pencetus timbulnya infeksi bakteri, jamur, parasit, dan virus

yang bisa menyebabkan keputihan patologis.14

Perilaku yang kurang dalam menjaga kebersihan organ kewanitaan merupakan

faktor yang mengakibatkan keputihan, sehingga bakteri dan jamur akan tumbuh

dengan cepat pada tempat yang lembab dan menimbulkan infeksi yang kemudian

menyebabkan keputihan patologis. Ada beberapa faktor penghambat untuk

berperilaku sehat dalam upaya pencegahan dan penanganan keputihan patologis

diantaranya kurangnya pengetahuan dan kesadaran individu.15

Menurut penelitian Syahlani dkk. (2013), bahwa adanya hubungan antara

penggunaan kontrasepsi hormonal dan pengetahuan ibu mengenai perawatan organ


4

reproduksi dengan kejadian keputihan. Sebanyak 87 orang responden yang

menggunakan kontrasepsi hormonal mengalami keputihan.16

Penelitian yang dilakukan oleh Badaryati (2012), bahwa wanita lebih banyak

mengalami keputihan karena belum benarnya perilaku sehat dalam mencegah

keputihan, dan sikap wanita yang berpendidikan rendah kurang mengetahui gejala

keputihan. Selain itu wanita yang tinggal jauh dari pusat pelayanan memiliki akses

yang kurang dalam memperoleh informasi baik dari pelayanan kesehatan maupun

dari media massa.17

Berdasarkan data Profil Kesehatan Kota Padang tahun 2016 yang terdiri dari

jumlah akseptor KB aktif Metode Kontrasepsi Jangka Panjang sebanyak 17.485

dengan pembagian IUD (9.141), MOP (307) , MOW (1.725) implant (6.312) dan non

MKJP 95.296 dengan pembagian kondom (7.215), suntik (63.950), pil (24.131).

maka, peserta KB aktif di kota padang sebanyak 112.781.18

Dari beberapa puskesmas di Kota Padang, cakupan akseptor KB aktif yang

cukup tinggi yaitu Puskesmas Rawang Barat. Menurut cakupan akseptor KB aktif

untuk kontrasepsi hormonal yaitu 4.154 (90,59%) yang terdiri dari implant 16,79%,

suntik 64,36 % dan pil 9,44 %.18

Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan di Puskesmas Rawang Barat untuk

10 responden, sebanyak 7 responden merasakan cairan yang keluar lebih banyak

sehingga menimbulkan keputihan, kontrasepsi yang digunakan responden yaitu,

sebanyak 6 responden menggunakan jenis suntik, sebanyak 2 orang responden

menggunakan jenis pil, dan sebanyak 2 orang responden menggunakan jenis implant.

Berdasarkan pertanyaan seputar pengetahuan tentang keputihan 7 responden tidak


5

mengetahui efek dari kontrasepsi hormonal yang berpengaruh kepada keputihan.

Pertanyaan seputar sikap dalam menjaga kebersihan 5 responden selalu menjaga

kebersihan dan sisanya kurang dalam menjaga kebersihan daerah kewanitaan, saat

ditanyakan mengenai keterpaparan informasi 3 responden mendapatkan informasi

dari petugas dan selebihnya tidak. Untuk pertanyaan seputar perilaku 7 diantaranya

berperilaku tidak hygienis seperti menggunakan celana dalam yang ketat, jarang

mengganti celana dalam apabila tidak basah, dan menggunakan pembalut lebih dari 6

jam.

Dalam mencegah keputihan diperlukan pengetahuan, sikap yang baik dalam

melakukan tindakan pencegahan keputihan, serta didukung oleh adanya keterpaparan

informasi agar keputihan dapat dicegah dan diatasi. Dari fenomena diatas peneliti

tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang

berhubungan dengan perilaku pencegahan keputihan pada akseptor KB hormonal di

Puskesmas Rawang Barat tahun 2018.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan

pertanyaan adalah “Apa saja faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku

pencegahan keputihan pada akseptor KB hormonal di Puskesmas Rawang Barat

tahun 2018?”.
6

C. Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui “Faktor-faktor yang

Berhubungan dengan Perilaku Pencegahan Keputihan Pada Akseptor KB

Hormonal di Puskesmas Rawang Barat Tahun 2018”.

b. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya distribusi frekuensi pengetahuan dengan perilaku pencegahan

keputihan pada akseptor KB hormonal di Puskesmas Rawang Barat tahun 2018.

b. Diketahuinya distribusi frekuensi sikap dengan perilaku pencegahan keputihan

pada akseptor KB hormonal di Puskesmas Rawang Barat tahun 2018.

c. Diketahuinya distribusi frekuensi keterpaparan informasi dengan perilaku

pencegahan keputihan pada akseptor KB hormonal di Puskesmas Rawang Barat

tahun 2018.

d. Diketahuinya ditribusi frekuensi perilaku pencegahan keputihan pada akseptor KB

hormonal di Puskesmas Rawang Barat tahun 2018.

e. Diketahuinya hubungan pengetahuan dengan perilaku pencegahan keputihan pada

akseptor KB hormonal di Puskesmas Rawang Barat tahun 2018.

f. Diketahuinya hubungan sikap dengan perilaku pencegahan keputihan pada

akseptor KB hormonal di Puskesmas Rawang Barat tahun 2018

g. Diketahuinya hubungan keterpaparan informasi dengan perilaku pencegahan

keputihan pada akseptor KB hormonal di Puskesmas Rawang Barat tahun 2018


7

D. Manfaat Penelitian

a. Bagi Subjek Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat memberi informasi yang valid tentang apa

saja faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan keputihan pada

akseptor KB hormonal di Puskesmas Rawang Barat tahun 2018. Sehingga dapat

dilakukan tindakan promotif dan preventif dalam mencegah keputihan.

b. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi dan acuan dalam

meningkatkan ilmu pengetahuan.

c. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian diharapkan bisa menjadi data dan pedoman untuk penelitian

selanjutnya.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Lingkup materi pada penelitian ini adalah tentang apa saja “Faktor-faktor yang

berhubungan dengan perilaku pencegahan keputihan pada akseptor KB hormonal di

Puskesmas Rawang Barat tahun 2018”. Penelitian ini menggunakan desain penelitian

analitik dengan metode potong lintang (cross sectional), teknik pengambilan sampel

Accidental sampling. Untuk melihat hubungan variabel independen dibatasi pada

faktor pengetahuan, sikap dan keterpaparan informasi, sedangkan variabel dependen

yaitu perilaku pencegahan pada akseptor KB hormonal secara bersamaan. Penelitian

ini dilakukan di Puskesmas Rawang Barat Tahun 2018, populasi target pada

penelitian yaitu akseptor KB hormonal yang meliputi suntik, pil dan implant. Maka
8

dari jumlah populasi yaitu 3.150 akseptor KB hormonal, sebanyak 66 orang akseptor

KB hormonal yang menjadi sampel penelitiandengan kriteria yang telah ditetapkan.

Jenis data yaitu data primer yang diperoleh dari kuisioner, dan data sekunder dari

yang diperoleh dari puskesmas. Penelitian dilakukan selama 3 bulan mulai dari

Januari-Maret 2018. Analisis univariat disajikan dalam bentuk tabel untuk melihat

distribusi frekuensi dari masing-masing variabel, dan analisis bivariat pada penelitian

ini menggunakan uji Chi-square untuk mengetahui hubungan antar variabel dependen

dengan variabel independen.


9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.Keputihan

1. Definisi

Keputihan (flour albus) adalah cairan atau lendir yang keluar dari alat kelamin

wanita dan bukan merupakan darah. Keputihan (flour albus) adalah suatu nama gejala

yang diberikan kepada cairan yang dikeluarkan dari genitalia yang tidak berupa

darah.19

Keputihan terbagi atas 2 macam, yaitu keputihan fisiologis (normal) dan keputihan

patologis (abnormal).

a. Keputihan Fisiologis

Keputihan fisiologis terdiri dari cairan yang terkadang berupa mukus yang

mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang. Alat kelamin wanita

dipengaruhi oleh berbagai hormon yang dihasilkan berbagai organ yaitu:

hipotalamus, hipofisis, ovarium dan adrenal. Estrogen bisa mengakibatkan maturasi

epitel vagina, serviks, proliferasi stroma dan kelenjar sedangkan progesteron akan

mengakibatkan fungsi sekresi. Keputihan yang normal dapat terjadi pada masa

menjelang dan sesudah menstruasi, sekitar fase sekresi antara hari ke 10-16 siklus

menstruasi, saat terangsang, hamil, kelelahan, stress, dan sedang mengkonsumsi obat-

obat yang bersifat hormonal seperti pil KB. Keputihan fisiologis tidak berwarna atau

jernih, tidak berbau dan tidak menyebabkan rasa gatal.


10

b. Keputihan Patologis

Merupakan cairan eksudat dan cairan ini banyak mengandung leukosit. Cairan

eksudat terjadi karena reaksi tubuh terhadap adanya suatu jejas (luka). Jejas dapat

diakibatkan oleh infeksi mikroorganisme, benda asing, lesi, prakanker, neoplasma

jinak dan neoplasma ganas. Kuman yang menginfeksi vagina seperti jamur Kandida

Albican, parasit Tricomonas, E. Coli, Staphylococus, Treponema Pallidium,

Kandiloma aquiminata dan Herpes serta luka di daerah vagina, benda asing yang

tidak sengaja atau sengaja masuk ke dalam vagina dan kelainan serviks. Akibatnya,

timbul gejala yang sangat mengganggu, seperti berubahnya cairan yang berwarna

jernih menjadi kekuningan sampai kehijauan, jumlahnya berlebihan, kental, berbau

tidak sedap, terasa gatal atau panas dan menimbulkan luka pada daerah mulut vagina.

2. Etiologi Keputihan

Penyebab keputihan dibedakan menurut jenisnya :19-21

a. Keputihan fisiologis

1) Kondisi hormon yang tidak seimbang, seperti peningkatan hormon estrogen pada

saat menarche, masa pertengahan siklus menstruasi, saat hamil dan rangsangan

pada saat koitus sehingga menjelang persetubuhan seksual menghasilkan sekret,

karena adanya pelebaran pembuluh darah di vagina atau vulva, sekresi terjadi

pengeluaran transudasi dari dinding vagina. Hal ini diperlukan untuk melancarkan

koitus.

2) Adanya peningkatan produksi kelenjar-kelenjar pada mulut rahim saat masa

ovulasi.
11

3) Pengaruh sisa estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin sehingga

bayi baru lahir sampai berumur 10 hari mengeluarkan keputihan.

4) Mukus serviks yang padat pada saat masa kehamilan berfungsi untuk mencegah

kuman masuk ke rongga uterus.

Adapun faktor pendukung antara lain :

5) Aktifitas fisik yang sangat melelahkan

6) Menggenakan pakaian dalam yang ketat berbahan sintetis atau nylon, yang tidak

menyerap keringat, sehingga dapat menimbulkan iritasi di organ kewanitaan.

7) Penggunaan tissue yang terlalu sering untuk membersihkan organ kewanitaan.

8) Tidak menjaga kebersihan organ kewanitaan dengan baik.

9) Tidak membasuh organ kewanitaan yang benar yaitu membasuh dari arah

belakang (anus) ke arah depan (vagina).

b. Keputihan patologis

1) Infeksi akibat jamur, Jamur yang sering menyebabkan keputihan ialah jenis jamur

Kandida Albican. Biasanya juga disebut dengan Kandiasis Genetalia.

2) Infeksi akibat bakteri, Jenis-jenis bakteri yang sering menyebabkan keputihan

yaitu Gonokokus, Klamidia Trakomatis, Grandnerrella, Treponema Palladium,

Parasit Tricomonas Vaginalis, virus HPV dan Herpes Simplek.

3) Kelainan alat kelamin didapat atau bawaan. Seperti rektovaginalis atau fistel

vesikovaginal, cedera persalinan dan radiasi kanker genitalia atau kanker itu

sendiri.
12

4) Benda asing misalnya pesarium untuk penderita hernia, tampon, IUD, tertinggal

kondom atau prolaps uteri dapat mengakibatkan keluarnya secret vagina yang

berlebihan.

5) Neoplasma jinak yang ada pada lumen akan mengakibatkan peradangan dan

akhirnya mengalami keputihan.

6) Menopause, pada masa menopause terjadi penurunan pada hormon estrogen

sehingga vagina menjadi kering, dan juga disertai dengan penipisan pada lapisan

sel, ini mengakibatkan mudah terjadinya luka dan disertai dengan infeksi.

3. Patogenesis Keputihan

Keputihan merupakan gejala dimana terjadinya pengeluaran cairan dari alat

kelamin wanita yang tidak berupa darah. Keputihan fisiologis dapat menjadi

keputihan patologis karena terinfeksi kuman penyakit. Jika vagina terinfeksi oleh

kuman penyakit seperti jamur, bakteri, parasit, dan virus. Akibatnya, keseimbangan

ekosistem vagina akan terganggu, yang tadinya bakteri doderlein atau lactobacillus

memakan glikogen yang dihasilkan oleh estrogen pada dinding vagina untuk

pertumbuhannya dan menjadikan pH vagina menjadi asam, hal ini tidak dapat terjadi

apabila pH vagina basa. Keadaan pH vagina yang basa membuat kuman penyakit

berkembang dan hidup subur di dalam vagina.19

4. Tanda dan Gejala Keputihan

Menurut jenis nya terbagi menjadi dua macam yaitu :22

a. Keputihan fisiologis

Cairan ini berwarna bening, tidak berbau, tidak menimbulkan rasa gatal,

biasanya pengeluaran cairan ini sedikit.


13

b. Keputihan patologis

Berubahnya cairan yang berwarna jernih menjadi kekuningan, sampai

kehijauan, jumlahnya berlebihan, kental dan mengeluarkan bau yang tidak sedap,

terasa gatal atau panas dan menimbulkan luka di daerah mulut vagina.

5. Penyakit yang Menyebabkan Keputihan

Penyakit yang dapat menyebabkan keputihan antara lain: 19

a. Penyakit Kandida Albican

Biasanya penyakit ini disebut juga dengan sebutan Kandidiasis

Vulvovaginalis atau kandida vaginitis. Pada keadaan biasa tidak menimbulkan

keluhan dari gejalanya, tetapi pada keadaan tertentu dapat menimbulkan gejala

infeksi mulai dari yang ringan hingga berat. Pada pemeriksaan dengan spekulum

biasanya ditemukan bercak tebal dan putih, seperti keju, yang melekat pada

mukosa vagina yang pucat, kering, dan kadang kadang sianosis. Penyakit ini

muncul tidak selalu karena penyakit menular seksual (PMS) dan dapat juga

terjadi kepada wanita yang belum menikah.

Adapun faktor predisposisi untuk timbulnya kandida vaginitis antara lain :

1). Pemakaian obat antibiotika dan kortikosteroid yang lama.

2). Kontrasepsi hormonal.

3). Kehamilan.

4). Menurunya kekebalan tubuh seperti penyakit-penyakit kronis.

5). Kelainan endokrin seperti diabetes millitus.

6). Seringnya memakai pakaian dalam yang ketat dan terbuat dari bahan yang

tidak menyerap keringat.


14

Keluhan yang sering ditimbulkan adalah rasa gatal atau panas pada

alat kelamin lendir kental dan berwarna putih, bergumpal seperti butiran

tepung. Keluarnya cairan pada saat sebelum menstruasi dan kadang-kadang

disertai rasa nyeri pada waktu senggama. Saat dilakukan pemeriksaan klinis

akan terlihat vulva berwarna merah (eritem) dan terkadang dijumpai adanya

erosi akibat garukan.23,24

b. Penyakit Gonerrhoe

Penyebabnya adalah Neisseria gonorrhoeae, tergolong bakteri

diplokokus. Gonokokus yang purulen mempuyai silia yang dapat menempel

pada sel uretha dan mukosa vagina. Pada masa inkubasi (waktu sebelum

terjadinya gejala) berkisar antara 3-5 hari setelah infeksi. Pada pemeriksaan

serviks akan tampak berwarna merah, membengkak, perlukaan, dan tertutup

oleh lendir bernanah. Gejala infeksi yang ditimbulkan adalah demam sampai

menggigil dan rasa nyeri disekitar perut bagian bawah. 19,25

c. Penyakit Klamidia

Penyakit klamidia adalah penyakit yang terjadinya karena infeksi.

Infeksi yang sering disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis (CT),

masa inkubasi berkisar antara 1-3 minggu. Infeksi CT yang kronis atau

rekuren menyebabkan jaringan parut pada tuba. Komplikasi pada jangka

panjang dapat mengalami infertilitas akibat obstruksi. Gejala dari CT

keluarnya sekret vagina, perdarahan disuria, dan nyeri panggul. 25


15

d. Penyakit Bakterial Vaginosis

Grandnerela vaginalis merupakan bakteri penyebab vaginosis

bakterialis, vaginosis bakterialis terjadi karena adanya faktor yang

mengubah suasana asam normal pada vagina menjadi suasana yang lebih

basa. Gejala yang ditimbulkan adanya rasa gatal yang ringan, rasa terbakar

disertai keluarnya cairan atau sekret vagina yang berbau tidak sedap, encer,

putih sampai keabu-abuan dan disertai rasa tidak nyaman di bagian bawah

perut.25,26

e. Penyakit Herpes Genital

Penyakit ini disebabkan oleh virus herpes simplek. Penularan biasanya

melalui hubungan sexsual. Gejala yang biasanya ditimbulkan seperti adanya

gelembung-gelembung yang berisi cairan yang terasa perih dan panas.

Sebagian orang tidak mengalami hal seperti itu tapi justru mengalami gejala

lain seperti merasakan sakit ketika buang air kecil.26

f. Penyakit Candyloma Accuminata

Lesi yang ditularkan adalahh melalui hubungan sexsual dan disebakan

oleh Human Papilomavirus (HPV), adalah infeksi yang paling sering

ditularkan. HPV menyebabkan infeksi pada kulit dan mukosa, menimbulkan

terbentuknya kutil pada anogenital dan menyebabkan beberapa kanker

seperti kanker serviks, kanker vulva, dan kanker vagina. Penyakit timbul

pada tempat masuk virus setelah masa inkubasi 2-3 bulan. Kanker serviks

adalah kanker nomor kedua pada perempuan di seluruh dunia.27


16

g. Penyakit Tricomonas

Parasit yang sering menyebabkan keputihan adalah trikomonas

vaginalis. Trikomonas vaginalis umumnya menyebabkan infeksi pada

daerah vulva, vagina dan serviks. Trikomonas dapat menular dari hubungan

seksual dan juga bisa ditularkan melalui peralatan bilas, handuk, alat

pemeriksaan dan benda lain yang telah terkontaminasi. Penyakit yang sering

disebabkan dari parasit ini adalah vaginitis. Gejala klinis penyakit ini sering

disertai pengeluaran dari vagina yang berwarna kuning, agak berbau,

berbusa, gatal pada vulva dan menimbulkan rasa terbakar.25,27

h. Penyakit radang panggul (Pelvic Inflamation Discase)

Penyakit radang panggul (Pelvic Inflamation Disease [PID]).

Merupakan penyakit infeksi alat genital bagian atas wanita, terjadi akibat

hubungan sexsual. Penyakit ini juga terkadang disebut dengan Salpingitis.

Penyakit ini merupakan penyebab signifikan kemandulan atau infertilitas

dan 15% sampai 25% wanita menderita penyakit ini. Tanda-tandanya yaitu

nyeri menusuk-nusuk, mengeluarkan keputihan bercampur darah, suhu tubuh

dan nadi mengalami peningkatan, pernafasan meningkat.25,26

6. Perilaku Pencegahan Keputihan

Terdapat beberapa hal dalam mencegah keputihan yaitu :19,26

a. Pola hidup sehat meliputi diet seimbang, istirahat cukup, hindari rokok dan

alkohol, olahraga teratur serta hindari stress yang berkepanjangan.

b. Membasuh vagina dengan cara yang benar yaitu dari depan (vagina) ke

belakang (anus) tiap kali buang air.


17

c. Menjaga kebersihan diri, terutama kebersihan pada alat kelamin.

d. Tidak mengenakan pakaian yang berbahan sinstetis dan ketat, sehingga ruang

yang ada memadai dan tidak terjadi peningkatan kelembaban maupun iritasi.

e. Tidak menggunakan bedak atau bubuk yang bertujuan membuat vagina harum

dan kering. Bedak bertekstur halus dapat terselip dan sulit untuk dibersihkan,

sehingga mengundang datangnya jamur pada vagina.

f. Rutin mengganti pakaian dalam terutama jika berkeringat.

g. Mengurangi pemakaian pembersih vagina karena dapat membunuh

mikroorganisme normal dalam vagina.

h. Saat periode menstruasi sering mengganti pembalut minimal 3 kali sehari.

i. Penggunaan panty liner di gunakan saat dirasa perlu, jangan menggunakan

terlalu sering dan lama

j. Tidak berganti-ganti pasangan, untuk menghindari keputihan yang disebabkan

oleh infeksi yang menular melalui hubungan seksual.

k. Mengurangi aktifitas fisik yang sangat melelahkan sehingga daya tahan tubuh

menjadi melemah.

l. Hindari penggunaaan tissue pembersih organ kewanitaan terlalu sering.

7. Pengobatan Keputihan

Keputihan fisiologis tidak perlu diobati dengan obat-obatan tetapi dirawat

dengan menjaga kebersihan dan mencegah kelembaban yang berlebihan pada

daerah vagina dengan menggunakan tissue dan sering mengganti pakaian

dalam.22
18

Obat-obatan untuk penanganan keputihan di berikan sesuai dengan

penyebab terjadinya keputihan yaitu :19

a. Pedofilin 25% : digunakan untuk mengobati keputihan yang disebabkan oleh

Kandiloma

b. Metronidazole : digunakan untuk mengobati keputihan yang disebabkan oleh

bakteri Grandnerela dan Trikomonaniasi.

c. Mycostatin : digunakan untuk mengbati keputihan yang disebabkan oleh

kandidiasis.

d. Nistatin, klorimazol, mikonzole, dan fliconazole : digunakan untuk mengobati

keputihan yang disebabkan oleh Candida Albicans

e. Asiklovir : digunakan untuk mengobati keputihan yang disebabkan oleh virus

herpes.

Pengobatan juga bisa dilakukan dengan menggunakan larutan antiseptik

untuk membilas. Larutan ini hanya dapat untuk membersihkan tidak dapat

menyembuhkan keputihan yang disebabkan oleh infeksi atau akibat lainnya.

B. Kontrasepsi Hormonal

1. Definisi

Kontrasepsi yaitu pencegahan terbuahinya sel telur oleh sel sperma (konsepsi)

atau pencegahan menempelnya sel telur yang telah dibuahi ke dinding rahim.28

Kontrasepsi hormonal yaitu dimana estrogen dan progesteron memberikan umpan

balik terhadap kelenjar hipofisis melalui hipotalamus sehingga terjadi suatu hambatan

terhadap folikel dan proses ovulasi.29


19

2. Mekanisme Kerja Kontrasepsi Hormonal

Hormon estrogen dan progesteron memberikan umpan balik, terhadap

kelenjar hipofisis melalui hipotalamus sehingga terjadi suatu hambatan terhadap

perkembangan folikel dan proses ovulasi. Melalui hipotalamus dan hipofisis, estrogen

dapat menghambat pengeluaran Folicle Stimulating Hormone (FSH), sehingga

perkembangan dan kematangan Folicle De Graaf tidak akan terjadi. Selain itu

progesteron mampu menghambat terjadinya pengeluaran Hormone Luteinizing (LH).

Estrogen mempercepat proses peristaltik tuba sehingga hasil konsepsi mencapai

uterus endometrium yang belum siap untuk menerima implantasi.29

Kadar estrogen dan progesteron bervariasi dari hari ke hari selama siklus

tanpa kehamilan. Bila salah satu hormon mencapai puncaknya, suatu mekanisme

umpan balik (feedback) dapat menyebabkan hipotalamus kemudian kelenjar hipofisis

mengirimkan suatu isyarat kepada ovarium untuk mengurangi sekresi dari hormon

tersebut dan menambah sekresi dari hormon lainnya. Namun bila terjadi kehamilan,

maka hormon estrogen dan progesteron akan tetap dibuat bahkan dalam jumlah lebih

banyak tetapi tanpa adanya puncak-puncak siklus, sehingga akan mencegah ovulasi

selanjutnya. Hormon estrogen bekerja secara primer untuk membantu pengaturan

hormon realising factors of hipotalamus, membantu terjadinya pertumbuhan dan

pematangan dari ovum yang berada di dalam ovarium serta merangsang

perkembangan endometrium. Hormon Progesteron juga bekerja secara primer dengan

menekan dan melawan isyarat-isyarat dari hipotalamus, mencegah terjadinya

pelepasan ovum yang terlalu dini atau prematur dari ovarium, serta juga merangsang

perkembangan dari endometrium.30


20

Adapun efek samping akibat kelebihan hormon estrogen yaitu terjadi yaitu

rasa mual, retensi cairan, sakit kepala, nyeri pada payudara, dan fluor albus atau

keputihan. Rasa mual yang terkadang disertai muntah, diare, dan rasa perut kembung.

Retensi cairan disebabkan karena kurangnya pengeluaran air dan natrium, dan dapat

mengalami peningkatkan berat badan. Selain efek samping kelebihan hormon

estrogen, hormon progesteron juga memiliki efek samping jika dalam dosis yang

berlebihan dapat menyebabkan perdarahan yang tidak teratur, bertambahnya nafsu

makan disertai bertambahnya berat badan, acne (jerawat), alopsia, kadang-kadang

payudara mengecil,fluor albus (keputihan), hipomenorea. Fluor albus yang kadang-

kadang ditemukan pada kontrasepsi hormonal dengan progesteron dalam dosis tinggi,

disebabkan oleh meningkatnya infeksi oleh candida albicans.31

Komponen estrogen dapat menyebabkan menjadi mudah tersinggung, tegang,

retensi air, dan garam, berat badan menjadi bertambah, menimbulkan nyeri kepala,

perdarahan banyak saat menstruasi, meningkatkan pengeluaran leukorhea, dan

menimbulkan perlunakan serviks. Komponen progesteron menyebabkan payudara

tegang, acne (jerawat), kulit dan rambut kering, menstruasi berkurang, kaki dan

tangan sering kram.29

3. Macam-Macam Kontrasepsi Hormonal

a. Kontrasepsi Pil

1) Pengertian

Pil oral bekerja dengan cara menggantikan produksi normal hormon estrogen dan

progesteron oleh ovarium. Pil akan menekan hormon ovarium selama siklus haid

yang normal, sehingga juga akan menekan releasing factors di otak sehingga
21

mencegah ovulasi. Pemberian Pil juga dapat menimbulkan gejala-gejala pseudo

pregnancy (kehamilan palsu) seperti rasa mual, muntah, payudara membesar, dan

terasa nyeri. Efektivitas pada penggunaan pil yang sempurna adalah 99,599,9% dan

97%.15

2) Jenis KB Pil menurut Sulistyawati (2013) yaitu: 32

a) Monofasik: yaitu pil yang tersedia dalam bentuk kemasan 21 tablet yang

mengamdung hormon aktif estrogen atau progestin, dalam dosis yang sama,

dengan 7 tablet tanpa hormon aktif, jumlah dan porsi hormonnya konstan setiap

hari.

b) Bifasik: yaitu pil yang tersedia dalam bentuk kemasan 21 tablet yang mengandung

hormon aktif estrogen, progestin, dengan 2 dosis berbeda 7 tablet tanpa hormon

aktif, dan dosis hormon yang bervariasi.

c) Trifasik: yaitu pil yang tersedia dalam bentuk kemasan 21 tablet mengandung

hormon aktif estrogen atau progestin, dengan 3 dosis yang berbeda 7 tablet tanpa

hormon aktif, dan dosis hormon bervariasi setiap hari.

4) Cara kerja KB Pil menurut Saifuddin (2010) yaitu: 33

Cara kerja KB Pil yaitu dengan menekan ovulasi, mencegah terjadinya

implantasi,mengentalkan lendir serviks,dan akibat pergerakan tuba yang terganggu

sehingga transportasi ovum akan terganggu.

5) Keuntungan menurut Handayani (2010) yaitu: 15

Adapun keuntungan dari penggunaan Kb pil yaitu: tidak mengganggu aktifitas

hubungan seksual, siklus haid menjadi teratur, dapat digunakam sebagai metode

jangka panjang, dapat digunakan pada masa remaja hingga menopause, bisa
22

dihentikan setiap saat, kesuburan akan cepat kembali setelah penggunaan pil

dihentikan, dan membantu mencegah: kehamilan ektopik, kanker ovarium, kanker

endometrium, kista ovarium, acne, disminorhea.

6) Keterbatasan menurut Sinclair (2010) yaitu: 34

Adapun keterbatasan dari penggunaan KB Pil yaitu terjadinya amenorhea, perdarahan

haid yang berlangsung berat, perdarahan diantara siklus haid, depresi, memicu

kenaikan berat badan, mual dan muntah, hipertensi, perubahan libido, jerawat, nyeri

tekan pada payudara, sakit kepala, pusing, hirsutisme, leukorhea, mencetuskan

moniliasis, cloasma, pelumasan yang tidak mencukupi, disminorea, perubahan

lemak, infeksi pernafasan, dan hipertrofi atau ekropi serviks.

b. Kontrasepsi Suntik

1) Efektivitas.

Kontrasepsi jenis DMPA maupun NET EN sangat efektif sebagai metode

kontrasepsi, kedua jenis kontrasepsi suntik mempunyai efektivitas yang tinggi,

dengan 30% kehamilan per 100 perempuan per tahun, jika penyuntikannya dilakukan

secara teratur sesuai jadwal yang telah ditentukan.32

2) Jenis kontrasepsi Suntik

Terdapat dua jenis kontrasepsi suntikan yang hanya mengandung progestin,

yaitu : 32

a) Depo Mendroksi Progesteron (DMPA), mengandung 150 mg DMPA yang

diberikan setiap tiga bulan sekali yang di suntikan secara intramuscular (di

daerah pantat).
23

b) Depo Noretisteron Enantat (Depo Noristerat), mengandung 200 mg Noretindron

Enantat, diberikan setiap dua bulan sekali yang di suntikan secara intramuscular

(di daerah pantat atau bokong).

3) Cara kerja kontrasepsi Suntik yaitu: 32

Cara kerja dari kontrasepsi suntuk yaitu dengan mencegah

ovulasi,mengentalkan lendir serviks, menghambat transportasi gamet oleh tuba

fallopi, dan menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi.

4) Keuntungan

Keuntungan penggunaan KB suntik yaitu sangat efektif, pencegahan

kehamilan jangka panjang, tidak berpengaruh pada hubungan seksual, tidak

mengandung hormon estrogen yang dapat menimbulkan dampak terhadap penyakit

jantung dan gangguan pembekuan darah, tidak mempengaruhi produksi ASI, klien

tidak perlu menyimpan obat suntik, dapat digunakan oleh perempuan berusia lebih 35

tahun sampai perimenopause, membantu mencegah kanker endometrium dan

kehamilan ektopik, menurunkan angka kejadian tumor jinak payudara, dan mencegah

beberapa penyebab penyakit radang panggul.32

5) Keterbatasan

Adapun keterbatasan dari kontrasepsi Suntik yaitu:32

Terjadinya gangguan haid, leukorhea atau keputihan, galaktorea, timbulnya

jerawat, rambut rontok, perubahan berat badan, dan terjadinya perubahan libido.
24

c. Kontrasepsi Implant

1) Pengertian

Implant adalah salah satu jenis alat kontrasepsi yang berupa susuk dan terbuat

dari bahan sejenis karet silastik yang berisi hormon, dipasang pada lengan bagian

atas.26

2) Profil kontrasepsi Implant yaitu: 32

a) Efektif 5 tahun untuk norplant, 3 tahun untuk Jedena, Indoplant, atau Implanon

b) Nyaman

c) Dapat dipakai oleh semua ibu dalam usia reproduksi

d) Pemasangan dan pencabutan perlu pelatihan

e) Kesuburan segera kembali setelah implan dicabut

f) Efek samping utama berupa perdarahan tidak teratur, perdarahan bercak, dan

amenorea

g) Aman dipakai pada masa laktasi.

3) Jenis kontrasepsi Implant yaitu: 33

a) Norplant: terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 3,4 cm,

dengan diameter 2,4 mm, yang diisi dengan 3,6 mg levonorgestrel dan lama

kerjanya 5 tahun.

b) Implanon: terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kira-kira 40 mm,

dan diameter 2 mm, yang diisi dengan 68 mg 3Keto-desogestrel dan lama

kerjanya 3 tahun.

c) Jadena dan indoplant: terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75 mg

Levonorgestrel dan lama kerja 3 tahun.


25

4) Cara kerja kontrasepsi Implant yaitu: 33

Kontrasepsi implant bekerja yaitu dengan mengentalkan lendir serviks,

mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi,

mengurangi transportasi sperma, dan menekan ovulasi.

5) Keuntungan kontrasepsi Implant antara lain: 35

(a) Daya guna tinggi

b) Perlindungan jangka panjang

c) Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan

d) Tidak memerlukan pemeriksaan dalam

e) Tidak mengganggu kegiatan senggama

f) Tidak mengganggu ASI

g) Klien hanya kembali jika ada keluhan

h) Dapat dicabut sesuai dengan kebutuhan

i) Mengurangi nyeri haid

j) Mengurangi jumlah darah haid

k) Mengurangi dan memperbaiki anemia

l) Melindungi terjadinya kanker endometrium

m) Melindungi angka kejadian kelainan jinak payudara

n) Melindungi diri dari beberapa penyebab penyakit radang panggul

o) Menurunkan kejadian endometriosis.

5) Kerugian

Kerugian implant antara lain :36

a) Tidak memberikan efek terhadap penyakit menular seksual, termasuk AIDS.


26

b) Membutuhkan tindakan pembedahan minor untuk insersi dan pencabutan.

c) Akseptor tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi sesuai

keinginan, akan tetapi harus pergi ke klinik untuk pencabutan.

d) Dapat mempengaruhi penurunan ataupun kenaikan berat badan.

e) Memiliki semua resiko sebagai layaknya tindak pembedahan minor (infeksi,

hematoma, dan perdarahan).

f) Secara penilaian kosmetik susuk dapat terlihat dari luar..

g) Pada kebanyakan dari klien dapat menyebabkan terjadinya perubahan pola

haid:

(1). Perdarahan bercak (spotting) atau tidak teraturnya daur haid.

(2). Hipermenorea atau meningkatnya jumlah darah haid (lazimnya berkurang

dengan sendirinya setelah bulan pertama pada masa penggunaan).

(3). Amenorea (20%) untu beberapa bulan atau tahun.

h) Timbulnya keluhan yang mungkin berhubungan dengan pemakaian susuk

seperti:

(1). Nyeri kepala.

(2). Peningkatan/penuran berat badan.

(3). Nyeri pada payudara.

(4). Perasaan mual.

(5). Jerawat.

(6).Hirsutismus.

(7). Perubahan perasaan atau gelisah.


27

C. Teori Dasar Perilaku

1. Pengertian perilaku

Perilaku adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang dapat diamati

secara langsung, ataupun tidak dapat diamati oleh pihak luar. Secara operasional

perilaku juga dapat diartikan sebagai suatu respon organism atau seseorang

terhadap rangsangan dari luar subjek tersebut.37

2. Bentuk Perilaku

Menurut Notoatmodjo (2007), dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus,

perilaku dapat dibedakan menjadi dua macam:

a. Perilaku tertutup (covert behaviour)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tertutup. Respon terhadap

stimulus ini masih terbatas pada perhatian, pengetahuan, persepsi dan sikap

yang terjadi pada seseorang yang menerima stimulus tersebut, dan belum

dapat diamati secara jelas oleh orang lain.

b. Perilaku terbuka (overt behaviour)

Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau

praktik yang dengan mudah dapat untuk diamati dan dilihat oleh orang lain.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku

Menurut teori Lawrance Green (dalam Notoadmodjo,2007) menyatakan bahwa

perilaku terbentuk dari 3 faktor yaitu:

a. Faktor predisposisi (predisposing factors), yang mencakup pengetahuan,

sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.


28

b. Faktor pemungkin (enabling factor), yang mencakup lingkungan fisik,

tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana-sarana, misalnya ketersedian alat

pendukung dan sebagainya.

c. Faktor penguat (reinforcement factor), yang meliputi peraturan, pengawasan

dan sebagainya.

4. Pengukuran perilaku

Pengamatan perilaku dengan cara tidak langsung dapat dilakukan dengan

metode (recall) mengingat kembali. Metode ini dilakukan dengan memberikan

pertanyaan/pernyataan yang telah diujireabilitas dan validitasnya kepada subjek

yang berhubungan dengan objek tertentu. Respon yang diberikan subjek akan

dikategorikan selalu, sering, jarang, dan tidak pernah.38

Kategori penilaian perilaku menurut Nursalam yaitu : 39

a. Baik : 56-100%

b. Buruk : <56%

D. Variabel-variabel yang Berhubungan dengan Perilaku Pencegahan

Keputihan Pada Akseptor KB Hormonal

1. Pengetahuan

a. Pengertian

Pengetahuan adalah hasil dari pengindaraan manusia, atau hasil dari tahu

seseorang terhadap objek melalui indera yang dia miliki (mata, hidung, telinga, dan

sebagainya). Dengan sendirinya saat pengindraan sampai atau menghasilkan


29

pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan presepsi

terhadap objek. 40

b. Tingkat Pengetahuan

Menurut Kholid dan Notoadmodjo (2012) tedapat 6 tingkat pengetahuan, yaitu:41

1). Tahu (Know)

Tahu adalah mengingat kembali memori yang telah pernah ada sebelumnya

setelah mengamati sesuatu.

2). Memahami (Comprehension)

Dikatakan memahami jika suatu kemampuan untuk menjelaskan tentang

suatu objek yang diketahui dan diinterpretasikan secara benar

3). Aplikasi (Aplication)

Aplikasi adalah kemampuan seseorang untuk mempraktekkan materi atau

apa yang sudah dipelajari pada kondisi real (sebenarnya).

4). Analisis (Analysis)

Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan atau menjelaskan suatu

objek tetapi masih berada di dalam struktur organisasi tersebut dan masih

mempuyai kaitannya dengan satu sama lain.

5). Sintesis (Synthesis)

Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian di

dalam bentuk keseluruhan yang baru.

6). Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi adalah pengetahuan untuk melakukan suatu penilaian terhadap

materi atau objek.


30

c. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Budiman dan Riyanto (2013) faktor yang mempengaruhi pengetahuan

meliputi :42

1). Pendidikan

Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan perilaku seseorang atau

kelompok yang merupakan suatu usaha untuk mendewasakan manusia melalui

upaya pengajaran dan pelatihan. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan

semakin cepat menerima dan memahami suatu informasi yang diberikan sehingga

pengetahuan yang dimiliki juga semakin tinggi.

2). Informasi/ Media Massa

Informasi merupakan suatu teknik mengumpulkan, menyiapkan,

menyimpan, memanipulasi, mengumumkan, menganalisis dan menyebarkan

informasi dengan tujuan tertentu. Informasi diperoleh dari pendidikan yang formal

maupun nonformal yang bisa memberikan pengaruh jangka pendek sehingga

menghasilkan perubahan dan meningkatkan pengetahuan. Informasi akan

mempengaruhi pengetahuan jika orang tersebut sering mendapat informai tentang

pembelajaran yang dapat menambah wawasanya, sedangkan seseorang yang tidak

sering menerima informasi tidak akan menambah pengetahuan dan wawasannya.

3). Sosial, Budaya dan Ekonomi

Tradisi atau budaya seseorang yang dilakukan apakah itu baik ataupun

buruk akan menambah pengetahuan seseorang walaupun dia tidak melakukannya.

Status ekonomi juga akan menentukan ada atau tidaknya fasilitas yang dibutuhkan
31

untuk mendapatkan pengetahuan. Seseorang yang mempunyai sosial budaya yang

baik maka pengetahuan yang dia peroleh akan baik dan begitu juga sebaliknya.

4). Lingkungan

Lingkungan dikatakan mempengaruhi pengetahuan karena adanya interaksi

timbal balik ataupun tidak yang akan direspons sebagai pengetahuan oleh

seseorang. Lingkungan yang baik akan mendukung untuk mendapatkan

pengetahuan yang baik juga dan begitupun sebaliknya.

5). Pengalaman

Pengalaman yang diperoleh dari pengalaman orang lain maupun diri

sendiri akan meningkatkan pengetahuan seseorang. Pengalaman tentang suatu

permasalahan akan membuatnya mengerti cara menyelesaikan permasalahan dari

pengalaman sebelumnya yang telah dialaminya sehingga pengalaman yang didapat

bisa dijadikan sebagai pengetahuan apabila medapatkan permasalahan yang sama.

6). Usia

Semakin bertambahnya usia akan semakin berkembang pula daya tangkap

dan pola pikirnya sehingga mampu memperoleh pengetahuan yang lebih baik.

d. Pengukuran tingkat pengetahuan

Kategori tingkat pengetahuan dapat dikelompokkanmenjadi :40

1) Tingkat pengetahuan kategori tinggi jika nilainya > 60 %

2) Tingkat pengetahuan kategori rendah jika nilainya < 60


32

2. Sikap

a. Pengertian Sikap

Sikap (attitude) adalah merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari

seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek, baik yang bersifat intern maupun

ekstern, sehingga tidak dapat langsung dilihat, tetapi dapat ditafsirkan terlebih

dahulu dari perilaku yang tertutup tersebut.37

b. Tingkatan Sikap

Sikap juga terdiri dari beberapa tingkatan : 37

1). Menerima (receiving): sikap menerima dapat diartikan bahwa

seseorang(objek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan.

2). Merespon (responding): sikap merespon dapat diartikan bahwa adanya

interaksi balik yang diberikan. Misalnya seseorang (objek) memberikan

jawaban terhadap pertanyaan yang kita ajukan, ini merupakan bentuk bahwa

objek tersebut memiliki sikap merespon.

3). Menghargai (valuting): sikap menghargai dapat diartikan bahwa seseorang

(objek) ikut dan menjalankan stimulus yang diberikan.

4). Bertanggung jawab (responsible): sikap bertanggung jawab dapat diartikan

bahwa seseorang (objek) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah

dipilihnya dengan segala resiko yang ada.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dari sikap antara lain: 43

1). Pengalaman pribadi: suatu kejadian yang dialami seseorang yang akan

menimbulkan pengaruh langsung tehadap sikap yang akan diambil berikutnya.


33

2). Orang lain: biasanya seseorang akan memiliki sikap yang disesuaikan atau

terkadang sejalan dengan sikap yang dimiliki orang yang dianggap dekat dan

berpengaruh. Biasanya di dapat dari orang tua, teman dekat, teman sebaya,

rekan kerja, guru, suami atau istri, dll.

3). Kebudayaan: suatu aktifitas sehari-hari yang dilakukan dimana kita tinggal

dan menjadi kebiasaan dapat mempengaruhi pembentukan sikap seseorang.

4). Media massa: suatu sarana yang dibangun untuk berkomunikasi, berbagai

media massa seperti televisi, surat kabar, radio, sangat berperan dan

mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap pembentukan opini dan

kepercayaan seseorang. Dalam media massa terkandung pesan-pesan yang

berisi sugesti yang dapat mengarah pada opini yang nantinya dapat mementuk

sikap.

5). Lembaga pendidikan dan lembaga agama: kedua lembaga ini mempunyai

pengaruh dalam pembentukan sikap, dikarenakan keduanya meletakan dasar

dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman terhadap hal yang baik atau

buruk antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

6). Faktor emosional: tidak semua sikap terbentuk oleh lingkungannya,

terkadang sikap terbentuk didasari dari emosi, didalamnya terdapat penyaluran

frustasi atau pengalihan dalam bentuk mekanisme untuk mempertahankan ego.

d. Pengukuran Sikap

Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan cara langsung dan tidak langsung.

Secara langsung pengukuran dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau

pernyataan responden terhadap suatu objek. Secara tidak langsung pengukuran


34

dilakukan dengan pernyataan - pernyatan hipotetis yang jawabannya dapat berupa

pernyatan sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. 43

Skala likert dapat digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, persepsi

seseorang tentang gejala atau masalah yang ada dimasyarakat atau dialaminya.

Beberapa bentuk jawaban pertanyaan atau yang masuk dalam kategori pada skala

Likert adalah sebagai berikut: 43

Pernyataan positif

Sangat setuju (SS) : nilai 4

Setuju (S) : nilai 3

Kurang setuju (KS) : nilai 2

Tidak setuju (TS) : nilai 1

Pernyataan negatif

Sangat setuju (SS) : nilai 1

Setuju (S) : nilai 2

Kurang setuju (KS) : nilai 3

Tidak setuju (TS) : nilai 4

Skor total responden diperoleh dengan cara menjumlahkan skor reponden yang

ada pada setiap item pertanyaan. Untuk mengetahui arah sikap responden, maka

skor total yang diperoleh dari responden harus diubah terlebih dahulu menjadi skor

T dengan rumus : 43

Skor T = 50 + 10 [χ-̄χ]
Sd
35

Keterangan:

T = Skor responden yang telah diubah

χ = Skor total responden

χ̄ = Skor rata-rata seluruh responden

Sd = Standar deviasi

Sikap negatif : skor T ≤T rata-rata

Sikap positif : skor T >T rata-rata.43

3. Keterpaparan Informasi/ Media Massa

a. Pengertian

Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyanpaikan pesan dari

sumber kepada penerima dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanik

seperti televise, radio, film dan surat kabar atau majalah. Informasi dalam

suatu media lebih memusatkan suatu objek untuk menentukan sikap.

Hubungan antara media dengan sikap adalah merupakan suatu kecendrungan

untuk bertindak dengan cara positif atau negatif terhadap suatu objek,

pendekatan informasi melalui suatu media atau perantara bertujuan untuk

merubah sikap.

Informasi yang pernah atau tidaknya diterima oleh masyarakat akan

mempengaruhi kepada perilaku masyarakat itu sendiri. Informasi yang telah

diterima melalui petugas langsung dalam bentuk penyuluhan, pendidikan

kesehatan, dari perangkat desa melalui kelompok-kelompok dasawisma

ataupun kelompok yang lain, media massa, radio, leaflet, siaran televisi dan

lain-lain.44
36

b. Jenis Media Informasi

Banyak jenis dan bentuk media dalam pembelajaran:45

Tabel 2.2 Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku

pencegahan keputihan pada akseptor KB Hormonal

No Golongan media Contoh media


1 Audio Kaset audio, siaran radio, CD
2 Cetak Buku pelajaran, modul, gambar
3 Audio cetak Kaset audio yang dilengkapi bahan
tertulis
4 proyeksi visual diam OHT, Film bingkai (slide)
5 Proyeksi audiovisual diam film bingkai (slide) bersuara
6 Visual gerak Film bisu
7 Audiovisual gerak Film gerak bersuara, video, TV
8 Objek fisik Benda nyata, model, specimen
9 Manusia dan lingkungan Guru, pustakawan, laboran
10 Computer CAI (pembelajaran berbantuan
computer, CBI (pembelajaran
berbasis computer)

Sumber : Anderson (dalam Solihatin dan Raharjo, 2007)

c. Kategori tingkat keterpaparan informasi dapat dikelompokkan menjadi:46

1). Keterpaparan informasi baik jika pernah menerima informasi dalam 1

tahun terakhir sebanyak > 2 kali baik dari petugas kesehatan , kader, TV, radio,

leaflet, poster atau yang lain


37

2). Keterpaparan informasi kurang baik jika tidak pernah menerima

informasi dalam 1 tahun atau pernah hanya < terakhir sebanyak > 2 kali baik

dari petugas kesehatan , kader, TV, radio, leaflet, poster atau yang lain

E. Penelitian yang Relevan Dengan Faktor-faktor yang Berhubungan Perilaku

Pencegahan Keputihan Pada Akseptor KB Hormonal

Beberapa wanita tidak jarang mengeluhkan keputihan dan gatal-gatal selama

penggunaan kontrasepsi hormonal. Ketidakstabilan ekosistem pada vagina akan

menyebabkan keputihan, kestabilan ekosistem pada vagina dapat dipengaruhi oleh

sekresi (keluarnya lendir dari uterus), status hormonal (masa pubertas, menopause,

kehamilan), benda asing (IUD, tampon, dan obat yang dimasukan melalui vagina),

penyakit akibat hubungan seksual, pengaruh obat-obatan (kontrasepsi), diet

(kebanyakan karbohidrat, kurang vitamin). 47

Menurut penelitian Fhakidah (2014), menyimpulkan bahwa adanya hubungan

antara lama penggunaan kontrasepsi suntik 3 bulan dengan kejadian keputihan.

Pemberian hormon progesteron pada kontrasepsi suntik 3 bulan mengakibatkan

flora vagina berubah sehingga jamur mudah tumbuh dan menimbulkan keluhan

keputihan.48

Penelitian di Inggris menunjukan akseptor metode kontrasepsi kombinasi

(mengandung estrogen dan progesteron) mempunyai resiko 1,2 x lebih besar untuk

mendapatkan infeksi jamur Candidiasis dibandingkan tanpa KB.30

Menurut penelitian Syahlani dkk (2013), menyimpulkan bahwa penggunaan

kontrasepsi hormonal suntik, pil dan implant dapat menyebabkan keputihan karena
38

kandungan kadar estrogen dan progresteron yang terdapat didalamnya. Adanya

hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal dan pengetahuan ibu dengan

kejadian keputihan. Didapatkan sebagian besar responden yang menggunakan

kontrasepsi hormonal mengalami keputihan sebanyak 87 orang atau sekitar

(88,77%).16

Hasil Survey Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI)

menyimpulkan bahwa wanita yang tinggal dipedesaan tidak mengetahui gejala

keputihan patologis. Hal ini menunjukan bahwa sebanyak 78,8 % wanita akses

untuk memperoleh informasi masih kurang. Oleh karena itu pendekatan dan

pemberdayaan perempuan harus dilaksanakan melalui pemberian informasi

lengkap dan terkini guna melakukan pencegahan keputihan.49

Menurut penelitian Badaryati (2012), bahwa wanita yang tinggal didaerah

pedesaan lebih banyak mengalami gejala keputihan dari pada wanita yang tinggal

didaerah perkotaan karena belum benarnya perilaku sehat dalam mencegah

keputihan, dan sikap wanita yang berpendidikan rendah dan tinggal didaerah

pedesaan sedikit mengetahui gejala keputihan. Selain itu wanita yang tinggal jauh

dari pusat pelayanan memiliki akses yang kurang dalam memperoleh informasi

baik dari pelayanan kesehatan maupun dari media massa. 18


39

F. Kerangka Teori

Kerangka teori dalam penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:

Pengetahuan Sikap Keterpaparan


informasi

Kontrasepsi Perilaku
Hormonal
pencegahan
(Pil, Suntik, keputihan
dan Implant)

Estrogen Progresteron

Terjadinya Penebalan Media Jamur


perubahan mukus ↑ jamur ↑ tumbuh KEPUTIHAN
PH vagina subur

Sumber : Modifikasi Handayani (2010), Manuaba (2010), Winkjosastro (2007),


Notoatmodjo, Soekidjo. 2014.
Gambar 2. 1 Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan
keputihan dengan akseptor KB hormonal.
40

G. Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:

Variabel DependenVariabel Independen

Pengetahuan

Perilaku pencegahan
Sikap
keputihan pada
akseptor KB Hormonal

Keterpaparan Informasi

Gambar 2.2 Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku


pencegahan keputihan pada akseptor KB Hormonal
41

H. Definisi Operasional

Tabel 2.1 Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku


pencegahan keputihan pada akseptor KB Hormonal

N Variabel Definisi Alat Cara Hasil Ukur Skala


o Operasional Ukur Ukur Ukur
1 Pengetahuan Pemahaman Kuisioner Angket 1.Tinggi, jika Ordinal
segala sesuatu nilai > 60 % -
yang diketahui 2.Rendah,
responden jika < 60 %
tentang
keputihan
2 Sikap Respon dalam Kuisioner Angket 1.Sikap Ordinal
menanggapi positif
pernyataan jika skor T ≥
tentang segala T rata-rata
aspek yang 2.Sikap
mencakup negatif jika
keputihan skor T < T
rata-rata
3 Keterpaparan Segala Kuisioner Angket 1.Kurang Ordinal
informasi informasi baik, jika
tentang tidak pernah
pencegahan menerima
keputihan informasi,ata
telah diterima u pernah tapi
dalam 1 <2 kali
tahunterakhir 2.Baik, jika
dari media pernah
cetak, menerima
elektonik dan informasi > 2
petugas kali dari
kesehatan petugas, tv,
leaflet dll
4 Perilaku Bentuk Kuisioner Angket 1.Baik, jika Ordinal
pencegahan tindakan 56-100%
keputihan pencegahan 2.Buruk, jika
yang <56%
dilakukan
akseptor KB
dalam 1 tahun
terakhir
42

H. Hipotesis Penelitian

1. Ha : Ada hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan keputihan

pada akseptor KB Hormonal di Puskesmas Rawang Barat Tahun 2018

2. Ha : Ada hubungan sikap dengan perilaku pencegahan keputihan pada akseptor KB

Hormonal di Puskesmas Rawang Barat Tahun 2018

3. Ha : Ada hubungan keterpaparan informasi dengan perilaku pencegahan keputihan

pada akseptor KB Hormonal di Puskesmas Rawang Barat Tahun 2018


43

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik dengan metode potong

lintang (cross sectional).

B. Tempat dan Waktu penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Puskesmas Rawang Barat Kota Padang pada

bulan Januari sampai Maret Tahun 2018.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah akseptor KB Hormonal di Puskesmas

Rawang Barat Kota Padang pada bulan Januari sampai Maret Tahun 2018.

2. Sampel

Sampel adalah subjek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi.

Pengambilan sampel menggunakan teknik Accidental sampling.Penentuan besar

sampel pada penelitian ini menggunakan rumus Lameshow yaitu :

Rumus :

n= Z2i − α/2. p(1 − p)N


d2(N − 1) + Ziα/2. p(1 − p)

Maka,
n= (1,64)2.0,5(1-0,5).3150
(0,1)2.(7513-1)+(1,64)2.0,5(1-0,5)
n= 2,6896.0,25.3150
(0.01.3150)+(2,6896.0,25)
44

n= 2118,06
31,5+06724

n= 5,98

n= 60

Keterangan:

n= perkiraan besar sampel

N= umlah populasi

Z2i-α/2= 1,64 (tingkat kepercayaan)

P= target populasi

D= 5% (presisi)

Jadi, jumlah sampel minimal adalah 60 sampel dengan waktu

pengumpulan yang dilakukan pada bulan Januari sampai Maret Tahun 2018.

Sampel cadangan diambil sebanyak 10% dari jumlah sampel. Teknik

pengambilan sampel yang digunakan adalah Accidental sampling.

Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bersedia menjadi responden

Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Akseptor KB yang mengalamikanker serviks dan sedang dalam pengobatan

2. Akseptor KB baru

D. Alat/instrument pengumpulan data

Instrumen dari penelitian ini merupakan kuisioner baku yang telah digunakan

dalam penelitian sebelumnya.


45

1. Data Primer

Data diperoleh dengan wawancara langsung kepada responden untuk

mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan keterpaparan informasi dengan

menggunakan kuisioner.

2. Data Sekunder

Data diperoleh dari pencatatan dan laporan di Puskesmas Rawang Barat Kota

Padang.

E. Uji Validitas dan Reliabilitas

Alat ukur dalam penelitian ini adalah kuesioner tentang tingkat pengetahuan dan

sikap, kuesioner terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas.27

1. Uji Validitas

Untuk mengetahui validitas suatu instrumen (kuesioner) dilakukan dengan

cara melakukan korelasi antara skor masing-masing variabel dengan skor totalnya.

Suatu variabel dikatakan valid bila skor variabel tersebut berkorelasi secara signifikan

dengan skor totalnya. Teknik korelasi yang digunakan adalah korelasi pearson

product moment, dengan kriteria sebagai berikut :

a. Bila r hitung (r pearson) > r tabel, maka pertanyaan dikatakan valid

b. Bila r hitung (r pearson) < r tabel, maka pertanyaan dikatakan tidak valid

Berdasarkan uji validitas yang telah dilakukan terhadap 20 responden yaitu

10 responden di puskesmas Nanggalo dan 10 responden di puskesmas Kurao.

Pemilihan tempat dalam uji validitas didasari karna banyaknya akseptor KB yang

berada di kelurahan tersebut.


46

Hasil uji validitas menunjukan dari 20 pertanyaan pada variabel tingkat pengetahuan

didapatkan 1 pertanyaan yang tidak valid yaitu pertanyaan no 4 dengan r hitung < r

tabel (0,403). Sedangkan untuk kuisioner sikap dari 20 pernyataan didapatkan 3

pernyataan yang tidak valid yaitu pernyataan no 5 (r hitung= 0,131), no 11 (r hitung=

0,041), dan no 12 (r hitung=0,296). Meskipun demikian, penulis melakukan revisi

pada kuisioner yang tidak valid dengan mengubah narasi dari pertanyaan maupun

pernyataan sikap tersebut sehingga kuisioner tersebut tetap dimasukkan dalam

kuisioner penelitian.

2. Uji Reliabilitas

Pertanyaan dikatakan reliabel jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan

konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. pertanyaan yang sudah dinyatakan valid

dalam uji validitas akan ditentukan reliabilitasnya dengan kriteria sebagai berikut :

a. Bila nilai Cronbach's Alpha > konstanta (0,60), maka pertanyaan reliabel.

b. Bila nilai Cronbach's Alpha < konstanta (0,60), maka pertanyaan tidak reliabel.

Dari hasil uji reliabilitas yang dilakukan didapatkan nilai alpha pada variabel

tingkat pengetahuan maupun sikap dari 20 kuisioner didapatkan semua nilai alpha >

0,60. Sehingga instrumen dapat dikatakan reliabel untuk dijadikan instrumen

penelitian.

F. Prosedur Pengumpulan Data

1. Tahap Awal

a. Mengurus dan mendapatkan izin untuk melakukan penelitian

b. Melakukan survei pendahuluan

c. Menyusun instrumen penelitian


47

2. Tahap Proses

a. Menetapkan populasi dan sampel penelitian yang dilakukan

b. Pengisian lembar persetujuan / informed consent oleh responden penelitian

c. Melakukan wawancara dengan menggunakan kuisioner

3. Tahap Akhir

a. Melakukan pengolahan data

b. Melakukan pencatatan pelaporan dari data penelitian

c. Seminar hasil

G. Analisis Data

1. Cara pengolahan data

Pengelolaan dan analisis data pada penelitian ini menggunakan program SPSS

(Statistic Package for Sosial Sciences) versi 16.0. pengolahan data ini lakukan

dengan beberapa tahap yaitu :

a. Pemeriksaan data (editing)

Melakukan pemeriksaan kembali kebenaran dan kelengkapan data. Tahap ini

dilakukan setiap kali responden selesai mengisi kuisioner.

b. Pemberian kode (coding)

Memberikan kode pada setiap data yang telah terkumpul untuk memudahkan

pengolahan data sebagai berikut:

1). Tingkat Pengetahuan

1 = berpengetauhan tinggi jika nilai ≥ 60%

0 = berpengatahuan rendah jika nilai < 60 %


48

2). Sikap

1= Positif, jika skor T ≥ T rata-rata

0= Negatif, jika skor T < T rata-raata

3). Keterpaparan Informasi/media massa

1= Baik, jika pernah menerima informasi dari petugas, tv,leaflet dll tapi >2

kali

0=kurang baik, jika tidak pernah menerima informasi dari petugas,tv,leaflet,

dll atau pernah tapi < 2 kali

4). Perilaku Pencegahan

1. = Baik, jika nilai 56-100%

0. = Buruk, jika nilai <56%

c. Memasukkan data (entry)

Melakukan pemasukan data yang telah dikumpulkan ke dalam program SPSS.

d. Membersihkan data (clearning)

Data yang telah masuk diperiksa kembali guna melihat apakah ada kesalahan.

2. Analisis data

a. Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui hubungan masing-masing

variabel baik variabel independen maupun variabel dependen. Hasil analisis

disajikan dalam bentuk tabel, agar dapat dilihat distribusi frekuensi atau

besarnya proporsi masing-masing variabel yang diteliti, dan selanjutnya untuk

dianalisa.
49

b. Analisis Bivariat

Analisis bivariat pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan

antara variabel dependen dengan variabel independen. Analisa pada penelitian

ini menggunakan uji Chi-square (X²). Untuk melihat kemaknaan perhitungan

statistik batas kemaknaan atau Confident interval yang digunakan adalah 95%

(ɑ = 0,05). Jika nilai p > 0,05 maka hasil perhitungan statistik tidak bermakna

atau data sampel tidak mendukung adanya perbedaan kemaknaan. Tetapi

sebaliknya jika p ≤0,05 maka, hasil perhitungan statistik adalah bermakna atau

data sampel mendukung adanya perbedaan kemaknaan.


50

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Tempat Penelitian


Puskesmas Nanggalo merupakan salah satu Puskesmas yang berada di Kota

Padang dengan luas wilayah +15,7 KM2. Wilayah Kerja Puskesmas Nanggalo

memiliki 3 Kelurahan Kelurahan Surau Gadang, Kelurahan Kurao dan Kelurahan

Gurun Laweh. Wilayah Kerja Puskesmas Nanggalo memiliki batas wilayah sebagai

berikut :

a. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Koto Tangah

b. Sebelah selatan berbatasan dengan Wilayah Kerja Puskesmas Lapai

c. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Koto Tangah

d. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Kuranji

Wilayah Kerja Puskesmas Nanggalo memiliki jumlah penduduk

sebanyak 76.322 jiwa, dimana laki-laki berjumlah 38.216 jiwa dan perempuan

sebanyak 38.106 jiwa yang tersebar di 3 kelurahan. Kelurahan Surau Gadang

mempunyai penduduk terbanyak yaitu 21.967 jiwa dengan 9.878 laki-laki dan 12.089

perempuan. Kelurahan Kurao mempunyai 13.505 jiwa dengan 7.800 laki-laki dan

5.705 perempuan. Sedangkan Kelurahan Gurun Laweh mempunyai penduduk paling

sedikit yaitu 2.790 jiwa dengan 1.430 laki-laki dan 1.360 perempuan. Jika dilihat

dari keberadaannya, Puskesmas Nanggalo bisa dikatakan cukup strategis sehingga

masyarakat mudah memperoleh layanan kesehatan. Letaknya yang dekat dengan

pasar dan tempat tinggal warga membuat masyarakat dengan mudah mengunjunginya

jika membutuhkan pelayanan kesehatan.


51

Wilayah kerja Puskesmas Nanggalo terdiri dari 33 RW dan 134 RT yang

tersebar di 3 kelurahan yaitu 22 RW dan 96 RT di Kelurahan Surau Gadang, 8 RW

dan 27 RT di Kelurahan Kurao serta 3 RW dan 11 RT di Kelurahan Gurun Laweh.

Pada penelitian ini yang menjadi sasaran adalah wanita PUS di Wilayah kerja

Puskesmas Nanggalo sebanyak 7.516 pasangan yang tersebar di 3 kelurahan, yaitu

Kelurahan Kurao sebanyak 5281 pasang, Kelurahan Surau Gadang 1685 pasang dan

Kelurahan Gurun Laweh sebanyak 550 pasang

B. Karakteristik Responden