Anda di halaman 1dari 42

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan dunia industri di berbagai sektor telah memberikan kontribusi

dan kesejahteraan masyarakat, namun perkembangan dunia industri tersebut tanpa

disadari telah menimbulkan permasalahan lingkungan. Salah satu permasalahan

lingkungan yang ditimbulkan adalah berkaitan dengan limbah yang bersifat bahan

beracun dan berbahaya (B3). Pembuangan limbah yang bebas dan tidak terkontrol

dapat mengancam lingkungan hidup, menganggu kesehatan, dan kelangsungan

hidup manusia. Dengan bertambahnya kegiatan yang menghasilkan limbah

dengan kategori B3, maka risiko terjadinya pencemaran dan perusakan

lingkungan hidup semakin tinggi. Salah satu pencemaran yang terjadi adalah

pencemaran tanah.1

Pencemaran tanah adalah keadaan ketika bahan kimia buatan manusia masuk

dan mengubah lingkungan tanah alami. Salah satu pencemaran tanah adalah

disebabkan oleh aktivitas perbengkelan yang tidak memiliki dan menerapkan

pengelolaan serta menghasilkan limbah B3 seperti minyak pelumas.2

Dari salah satu jurnal yang dikutip dalam buku Nabil dkk tahun 2010 tentang

remediasi minyak pelumas bekas menggunakan lumpur aktif, menyatakan bahwa

limbah minyak pelumas memiliki tinggi nilai abu, residu karbon, bahan

asphaltenic, logam berat, air, dan bahan kotor lainnya yang dihasilkan selama

jalannya pelumasan dalam mesin. Limbah minyak pelumas mengandung sejumlah

zat yang bisa mengotori tanah seperti Polychlorinated Biphenyls (PCBs),

Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) dan logam berat Pb. Semakin


2

banyaknya perbengkelan yang tidak memiliki dan menerapkan pengelolaan

limbah minyak pelumas menyebabkan meningkatnya limbah minyak pelumas

yang dikeluarkan dari peralatan (mesin kendaraan) yang dibuang begitu saja tanpa

pengolahan terlebih dahulu.3

Limbah minyak pelumas jika dibuang secara langsung tanpa proses

pengolahan terlebih dahulu akan menimbulkan masalah lingkungan yang

berbahaya, terutama karena adanya kandungan logam berat timbal (Pb) yang tidak

dapat larut dalam air dan terakumulasi dalam tanah. Ketika logam berat timbal

telah mencemari permukaan tanah, maka timbal dapat tersapu air hujan dan

masuk ke dalam tanah. Timbal yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap

sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak

langsung kepada manusia dan dapat mencemari air tanah.4

Logam berat merupakan unsur logam yang berbahaya dipermukaan bumi,

sehingga kontaminasi logam berat di lingkungan merupakan masalah yang serius

saat ini. Akibat adanya tanah yang terkontaminasi oleh logam berat tersebut

kemungkinan dapat sampai pada rantai makanan yang pada akhirnya dapat

membahayakan kehidupan manusia.5

Timbal (Pb) adalah logam berat yang paling berbahaya setelah merkuri. Logam

berat ini termasuk ke dalam logam-logam golongan IV A yang mempunyai nomor

atom 82 dengan berat atom 207,2 g/mol. Logam berat Pb pada awalnya adalah

logam berat yang secara alami terdapat di dalam kerak bumi. Namun, timbal juga

berasal dari kegiatan manusia bahkan mampu mencapai jumlah 300 kali lebih

banyak dibandingkan timbal alami.6


3

Hubungan Pb dengan tanah sangat berkaitan pada tingkat pencemaran

lingkungan. Karena semakin besar kandungan Pb pada tanah maka

mengindikasikan tanah memiliki kualitas tanah yang tercemar.7 Pb dalam tanah

dapat merubah struktur dan fungsi tanah sehingga produktivitas tanah menurun

dan kehilangan unsur hara serta merupakan racun bagi manusia seperti gangguan

terhadap sistem syaraf, sistem reproduksi, saluran cerna dan anemia sedangkan

racun bagi hewan seperti populasi bakteri, cacing tanah dan jamur pada

permukaan daun serta kesuburan tanah juga akan berkurang atau hilang.8

Bengkel merupakan salah satu tempat yang berfungsi untuk memperbaiki dan

merawat kendaraan agar tetap memenuhi persyaratan teknik dan layak jalan.9

Sebuah bengkel harus memiliki sistem pengelolaan limbah minyak pelumas

(limbah B3) mulai dari pewadahan, penyimpanan, pengumpulan dan

pengangkutan.10 Beberapa contoh pencemaran lingkungan karena limbah minyak

pelumas dapat dilihat di media massa seperti pencemaran tanah dan air karena

volume limbah minyak pelumas di Kalimantan Timur yang melimpah sejalan

dengan meningkatnya volume kendaraan dan pencemaran terjadi karena tidak

adanya sistem yang baku mengenai pengelolaan limbah minyak pelumas dari

bengkel-bengkel kendaraan. Limbah minyak pelumas juga telah mencemari

daerah resapan air di wilayah Maluku Utara. Bahkan, di daerah Medan, media

setempat memberitakan bahwa pencemaran limbah minyak pelumas telah

meresahkan warga sekitar.11

Bengkel menghasilkan limbah minyak pelumas yang berasal dari kegiatan

penggantian minyak pelumas kendaraan. Limbah minyak pelumas dari bengkel

yang tidak memiliki pengelolaan limbah minyak pelumas ditampung dalam ember
4

dan dibuang langsung ke tanah disekitar bengkel bersama dengan limbah bengkel

lainnya seperti air aki, minyak diesel serta gasolin tanpa adanya pengolahan

terlebih dahulu, sehingga disekitar lokasi terdapat tanah yang padat, berwarna

hitam mengkilap, dan tidak adanya tanda-tanda kehidupan organisme tanah

seperti cacing tanah. Dengan melihat kondisi fisik seperti ini, menandakan tanah

tersebut sudah tercemar.12 Melihat kondisi tanah tersebut, diupayakan mencari

suatu alternatif pengolahan terhadap tanah, salah satunya dengan proses

remediasi.5

Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang

tercemar. Untuk Remediasi, ada beberapa proses yang dapat dilakukan yaitu:

Stimulasi aktivitas mikroorganisme asli, inokulasi (penanaman), penerapan

immobilized enzymes dan penggunaan tanaman (fitoremediasi). Dalam penelitian,

yang akan diambil adalah jenis fitoremediasi yaitu dengan menggunakan lidah

mertua (Sansevieria trifasciata prain). Fitoremediasi adalah teknologi

pembersihan, penghilangan atau pengurangan polutan berbahaya, seperti logam

berat, pestisida, dan senyawa organik beracun dalam tanah atau air dengan

menggunakan bantuan tanaman.13 Pada negara maju seperti Australia masih

memanfaatkan alternatif pengolahan tanah seperti fitoremediasi untuk

membersihkan tumpahan bahan kimia dan akan menggunakan alternatif tersebut

jika terjadi kecelakaan nuklir.14

Tanaman yang akan digunakan dalam proses fitoremediasi harus memiliki

beberapa syarat diantaranya yaitu tanaman tersebut memiliki kemampuan tumbuh

yang cepat dan toleran terhadap bahan kontaminan serta dapat beradaptasi dengan
5

lingkungan. Oleh karena itu, tidak semua tanaman dapat digunakan dalam proses

fitoremediasi.15

Pada penelitian ini tanaman fitoremediasi yang akan dimanfaatkan adalah

lidah mertua (Sansevieria trifasciata prain). Pemilihan tanaman lidah mertua

(Sansevieria trifasciata prain) pada penelitian ini berdasarkan pertimbangan-

pertimbangan seperti: memenuhi persyaratan tanaman fitoremediasi, mampu

bertahan hidup pada rentang waktu, suhu dan cahaya yang sangat luas, sangat

resisten terhadap polutan dan bahkan mampu menyerapnya. Hal itu karena

tanaman ini mengandung bahan aktif pregnane glikosid yang mampu mereduksi

polutan menjadi asam organik, gula dan beberapa senyawa asam amino

(Purwanto, 2006)16 dan pada bagian akar tanaman ditumbuhi dengan bulu-bulu

akar yang berfungsi untuk pegangan atau jangkar tanaman dan terdapat mikroba

rhizosfera yang mampu menyerap timbal dengan membawa logam berat tersebut

ke sekitar akar. Setelah itu, logam dibawa masuk ke dalam sel akar, selanjutnya

logam ditranslokasi di dalam tubuh tumbuhan melalui jaringan pengangkut, yaitu

xilem dan floem, ke bagian tumbuhan lain. Untuk meningkatkan efisiensi

pengangkutan, logam diikat oleh molekul khelat. Dengan pertimbangan-

pertimbangan ini, tanaman Sansevieria trifasciata prain cocok digunakan sebagai

tanaman untuk menurunkan kadar timbal.15

Penelitian tentang potensi tanaman lidah mertua telah dilakukan, Salah

satunya ditunjukkan dari penelitian yang dilakukan oleh Rizka Ulimma, dkk

(2015) di Pontianak tentang fitoremediasi logam berat Hg tanah tercemar

menggunakan tanaman Sansevieria trifasciata prain selama dua bulan mampu

menurunkan kadar Hg sebesar 57,36%.17 Penelitian lainnya yang pernah


6

dilakukan oleh Atika Rahmah, dkk (2017) di Kota Padang tentang penurunan

kadar logam berat Zn pada tanah industri menggunakan Sansevieria trifasciata

prain mampu menurunkan kadar Zn sebesar 21,69 mg/l.18 Penelitian yang juga

pernah dilakukan oleh Anthony Setyawan, dkk (2016) di Jawa Timur tentang

Pemanfaatan Tanaman sansevieria trifasciata) untuk absorbsi Cu selama 35 hari

mampu menurunkan kadar Cu sebesar 30,3% untuk 1000 mg/l, 33,4 untuk 800

mg/l, 38,7 untuk 600 mg/l, 57,3% untuk 400 mg/l, dan 35,4% untuk 200 mg/l.19

Standar baku mutu logam berat timbal dalam tanah yaitu 2 mg/l20 dan kadar

yang diperbolehkan pada manusia yaitu 1,70 mg/l.21

Berdasarkan uraian latar belakang diatas yaitu bengkel yang tidak memiliki

ataupun menerapkan pengelolaan limbah minyak pelumas, kemudian limbah

minyak pelumas termasuk limbah beracun dan berbahaya yang mengandung Pb

yang dihasilkan dari kegiatan bengkel dibuang langsung pada tanah sehingga

terjadilah pencemaran tanah yang jika dibiarkan dapat berbahaya bagi lingkungan

dan kesehatan makhluk hidup termasuk manusia, maka peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian mengenai “penurunan kadar timbal pada limbah bengkel

melalui fitoremediator lidah mertua (Sansevieria trifasciata prain)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan

masalah dari penelitian ini adalah bagaimana penurunan kadar timbal pada limbah

bengkel melalui fitoremediator lidah mertua (Sansevieria trifasciata prain).


7

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui penurunan kadar timbal pada limbah bengkel melalui

fitoremediator lidah mertua (Sansevieria trifasciata prain).

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui hasil kadar timbal pada tanah sebelum proses

fitoremediasi.

b. Mengetahui hasil kadar timbal pada tanah sesudah proses

fitoremediasi menggunakan lidah mertua (Sansevieria trifasciata

prain).

c. Mengetahui penurunan dari kadar timbal sebelum dan sesudah

fitoremediasi.

D. Manfaat Penelitian

a. Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam melakukan

penelitian khususnya dibidang tanah.

b. Sebagai salah satu alternatif dan teknologi tepat guna dalam penanganan

tanah yang tercemar logam berat Pb.

c. Sebagai pedoman untuk penelitian terkait selanjutnya.

E. Ruang Lingkup

Berdasarkan tujuan penelitian ini serta mengingat segala keterbatasan, maka

peneliti membatasi ruang lingkup : untuk mengetahui gambaran penurunan kadar

timbal pada limbah bengkel melalui fitoremediator lidah mertua (Sansevieria

trifasciata prain).
8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi dan Fungsi Tanah

1. Definisi Tanah

Secara umum tanah dapat didefinisikan sebagai suatu tubuh alam di

permukaan bumi yang terjadi akibat bekerjanya gaya-gaya alami terhadap bahan

alami (wesley, 1977). Sedangkan Foth (1984) mendefinisikan tanah sebagai bahan

mineral hasil evolusi yang dipengaruhi oleh faktor genesis (proses lahir atau

pembentukannya) dan faktor lingkungan, seperti batuan induk, iklim, makro- dan

mikroorganisme, serta kondisi topografi.22

Tanah juga merupakan salah satu komponen lahan, berupa lapisan teratas

kerak bumi yang terdiri dari bahan mineral dan bahan organik serta mempunyai

sifat fisik, kimia, biologi, dan mempunyai kemampuan menunjang kehidupan

manusia dan makhluk hidup lainnya.23

Tanah sebagai media tumbuh tanaman didefinisikan sebagai lapisan

permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh

berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan penyuplai

kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai

hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur

esensial seperti N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl, dan lain-lain); dan

secara biologis berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi

aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi)

bagi tanaman, secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk


9

menghasilkan biomassa dan produksi baik tanaman pangan, obat-obatan, industri

perkebunan, maupun kehutanan.24

2. Fungsi Tanah

Atas dasar definisi diatas maka tanah sebagai media tumbuh mempunyai

empat fungsi utama, yaitu sebagai:

a. Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran yang mempunyai dua

peran utama, yaitu:

a) Penyokong tegak tumbuhnya trubus (bagian atas) tetanaman, dan

b) Sebagai penyerap zat-zat yang dibutuhkan tetanaman.

b. Penyedia kebutuhan primer tanaman untuk melaksanakan aktivitas

metabolismenya, baik selama pertumbuhan maupun untuk berproduksi,

meliputi air, udara dan unsur-unsur hara.

c. Penyedia kebutuhan sekunder tanaman yang berfungsi dalam menunjang

aktivitasnya supaya berlangsung optimum, meliputi zat-zat aditif yang

diproduksi oleh biota terutama mikroflora tanah seperti:

a) Zat-zat pemacu tumbuh (hormon, vitamin dan asam-asam organik

khas).

b) Antibiotik dan toksin yang berfungsi sebagai anti hama penyakit

tanaman didalam tanah.

c) Senyawa-senyawa atau enzim yang berfungsi dalam penyediaan

kebutuhan primer tersebut atau transformasi zat-zat toksik eksternal

seperti pestisida dan limbah industri berbahaya.

d. Habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung

atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder


10

tanaman tersebut, maupun yang berdampak negatif karena merupakan

hama penyakit tanaman.24

B. Pencemaran Tanah

1. Definisi Pencemaran Tanah

Harus diakui bahwa tanah sebagai tempat buangan akhir bagi limbah

merupakan alternatif yang menarik dan mudah untuk dilakukan. Disamping itu,

cara ini juga telah dipraktikkan sejak adanya kehidupan manusia. Pencemaran

tanah telah terjadi di beberapa tempat, baik dalam skala kecil maupun regional.

Degradasi kualitas tanah dapat terjadi karena berbagai hal. Perkolasi dari efluen

tangki septik, rembesan aliran air permukaan yang telah tercemar, tempat

pembuangan akhir sampah, ataupun tumpahan dari zat pencemar merupakan

penyebab yang sering dijumpai.22

Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia

masuk dan merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi

karena kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial,

penggunaan pestisida, masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan

sub-permukaan, kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau

limbah, air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang

langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat.2

2. Penyebab Pencemaran Tanah

a. Limbah domestik

Limbah domestik dapat berasal dari daerah pemukiman penduduk,

perdagangan, pasar, tempat usaha, hotel, dan lain-lain. Kelembagaan


11

misalnya kantor pemerintahan dan swasta. Limbah domestik juga dapat

berupa :

a) Limbah padat : kantong plastik, bekas kaleng minuman, bekas

botol plastik air mineral.

b) Limbah cair : tinja, deterjen, oli, cat, jika meresap kedalam tanah

akan merusak kandungan air tanah bahkan dapat membunuh

mikroorganisme di dalam tanah.4

b. Limbah Industri

Limbah industri dapat berupa :

a) Limbah padat : sisa pengolahan pabrik gula, pulp, kertas, rayon,

plywood, pengawetan buah, ikan, dan daging.

b) Limbah cair : sisa-sisa pengolahan industri pelapisan logam dan

industri kimia lainnya. Tembaga, timbal, perak, khrom, arsen dan

boron adalah zat-zat yang dihasilkan dari proses industri pelapisan

logam.4

c. Limbah Pertanian

Limbah pertanian dapat berupa sisa-sisa pupuk sintetik untuk

menyuburkan tanah/tanaman, misalnya pupuk urea, pestisida

pemberantas hama tanaman seperti DDT.4

3. Dampak Pencemaran Tanah

a. Pada Kesehatan

Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung jalur

masuk ke dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena. Timbal

dapat menyebabkan gangguan sistem syaraf dan sangat berbahaya pada


12

anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan otak, kerusakan ginjal

pada seluruh populasi, gangguan pada sistem reproduksi, dapat

menurunkan IQ, dan menyebabkan anemia.25

b. Pada Ekosistem

Pencemaran tanah juga dapat memberikan dampak terhadap

ekosistem. Perubahan kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari

adanya bahan kimia beracun/berbahaya bahkan pada dosis yang rendah

sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan metabolisme

dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan

tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat memusnahkan beberapa spesies

primer dari rantai makanan yang dapat memberi akibat yang besar

terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan tersebut.

Bahkan jika efek kimia pada bentuk kehidupan terbawah tersebut

rendah, bagian bawah piramida makanan dapat menelan bahan kimia

asing yang lama kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-makhluk

penghuni piramida atas. Banyak dari efek-efek ini terlihat pada saat ini,

seperti konsentrasi Pb pada tanah menyebabkan kemungkinan

hilangnya spesies tersebut karena Pb merupakan logam berat yang

secara fisiologis tidak diperlukan tanaman maupun hewan.4

Sampah anorganik yang tidak terbiodegrasi menyebabkan lapisan

tanah tidak dapat ditembus oleh akar tanaman dan tidak tembus air

sehingga peresapan air dan mineral yang dapat menyuburkan tanah

hilang dan jumlah mikroorganisme di dalam tanahpun akan berkurang


13

akibatnya tanaman sulit tumbuh bahkan mati karena tidak memperoleh

makanan untuk berkembang.25

c. Dampak Pertanian

Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman

yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal

ini dapat menyebabkan dampak lanjutan pada konservasi tanaman

dimana tanaman tidak mampu menahan lapisan tanah dari erosi.

Beberapa bahan pencemar ini memiliki waktu paruh yang panjang dan

pada kasus lain bahan-bahan kimia derivative akan terbentuk dari bahan

pencemar tanah utama.4

C. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

Limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan kegiatan yang mengandung bahan

berbahaya atau beracun karena sifat dan konsentrasinya atau jumlahnya baik

secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan atau merusak

lingkungan hidup dan membahayakan lingkungan hidup, kesehatan kelangsungan

hidup manusia serta makhluk hidup lainnya (peraturan pemerintah no 85 tahun

1999).25

D. Logam Berat Pb

Logam adalah unsur alam yang dapat diperoleh dari laut, erosi batuan

tambang, vulkanis dan sebagainya. Untuk kepentingan biologi Clark (1986);

membagi logam ke dalam tiga kelompok, yaitu :

a. Logam ringan (seperti Na, K, Ca, dan lain-lain), biasanya diangkut sebagai

kation aktif didalam larutan yang encer.


14

b. Logam transisi (seperti Fe, Cu, Co dan Mn), diperlukan dalam konsentrasi

yang rendah, tetapi dapat menjadi racun dalam konsentrasi yang tinggi.

c. Logam berat dan metaloid (seperti Hg, Pb, Sn,, Se dan As), umumnya

tidak diperlukan dalam kegiatan metabolisme dan sebagai racun bagi sel

dalam konsentrasi rendah.25

Menurut Darmono (1995), faktor yang menyebabkan logam berat termasuk

dalam kelompok zat pencemar adalah karena adanya sifat-sifat logam berat yang

tidak dapat terurai (non degradable) dan mudah diabsorbsi. Babich dan Stotzky

(1978) mengemukakan bahwa berbagai faktor lingkungan berpengaruh terhadap

logam berat yaitu keasaman tanah, suhu, tekstur, kadar unsur lain dan lain-lain.

pH adalah faktor penting yang menentukan transformasi logam. Penurunan pH

secara umum meningkatkan ketersediaan logam berat kecuali Mo dan Se.27

Pada tanah, semakin halus teksturnya semakin tinggi kekuatannya untuk

mengikat logam berat. Oleh karena itu, tanah yang bertekstur liat memiliki

kemampuan untuk mengikat logam berat lebih tinggi daripada tanah berpasir.

Logam berat mungkin diabsorbsi dan diakumulasikan dalam jaringan hidup.

Kemampuan beberaa logam berat dalam berikatan dengan asam amino mengikuti

urutan sebagai berikut : Hg > Cu > Ni > Pb > Co > Cd (Hutagalung, 1991).27

Organisme yang pertama terpengaruh akibat penambahan polutan logam berat

ke tanah atau habitat lainnya adalah organisme dan tanaman yang tumbuh di tanah

atau habitat tersebut. Dalam ekosistem alam terdapat interaksi antar organisme

baik interaksi positif maupun negatif yang menggambarkan bentuk transfer energi

antar populasi dalam komunitas tersebut. Dengan demikian pengaruh logam berat

tersebut pada akhirnya akan sampai pada hierarki rantai makanan tertinggi yaitu
15

manusia. Logam berat diketahui mengumpul didalam tubuh suatu organisme dan

tetap tingga dalam tubuh untuk jangka waktu lama sebagai racun yang

terakumulasi (Saeni, 1997).27

Logam berat dapat menimbulkan efek gangguan terhadap kesehatan manusia,

tergantung pada bagian mana dari logam berat tersebut yang terikat dalam tubuh

serta besarnya dosis paparan. Efek toksis dari logam berat mampu menghalangi

kerja enzim sehingga mengganggu metabolisme tubuh, menyeabkan alergi,

bersifat mutagen, teratogen, atau karsinogen bagi manusia dan hewan. Urutan

toksisitas logam dari yang paling toksik terhadap manusia yaitu Hg, Cd, Pb, Ni,

As, Cr, Sn, dan Zn.28

Timbal (Pb) pada awalnya adalah logam berat yang secara alami terdapat

didalam kerak bumi. Pb memiliki titik lebur rendah, mudah dibentuk, memiliki

sifat kimia yang aktif, sehingga bisa digunakan untuk melapisi logam agar tidak

timbul perkaratan. Pencemaran Pb dapat terjadi di udara, air maupun tanah.28

Umumnya Pb dalam tanah disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti

penggunaan bahan bahan bakar mobil (TEL = tetra ethyl lead), peleburan dan

pertambangan timah, buangan limbah industri (baterai) maupun domestik.19

Pb adalah logam yang mendapat perhatian karena bersifat toksik melalui

makanan, minuman, udara, air, tanah serta debu yang tercemar Pb. Intoksikasi Pb

bisa terjadi melalui jalur oral, makanan, minuman, pernapasan, kontak lewat kulit,

serta kontak lewat mata.28

Timbal merupakan salah satu logam berat yang beracun bagi manusia.

Keracunan timbal biasanya diakibatkan oleh terjadinya akumulasi logam berat

tersebut didalam tubuh manusia yang akan menyebabkan penyakit anemia,


16

kerusakan syaraf pusat, dan kerusakan ginjal. Tanda klasik dari keracunan logam

timbal adalah ataxia, koma, dan gangguan pergerakan.28

Toksistas Pb bersifat kronis dan akut. toksistas akut bisa terjadi jika Pb masuk

kedalam tubuh melalui makanan atau menghirup gas Pb dalam waktu yang

relative pendek dengan dosis yang relative tinggi. Toksistas kronis sering

dijumpai pada pekerja tambang dan pabrik pemurnian logam, pabrik mobil,

pembuatan baterai, percetakan, pelapisan logam, dan pengecatan.28

E. Aktivitas Bengkel

Bengkel merupakan tempat di mana seseorang mekanik melakukan

pekerjaannya melayani jasa perbaikan dan perawatan kendaraan. Bengkel-bengkel

otomotif (mobil dan sepeda motor) memiliki beberapa potensi limbah Bahan

Berbahaya dan Beracun (B3). Limbah B3 adalah limbah yang sangat berbahaya,

karena bersifat korosif, mudah terbakar, mudah meledak, reaktif, beracun,

menyebabkan infeksi dan bersifat iritan. Aktivitas kerja di bengkel otomotif

melibatkan banyak bahan yang mengandung potensi ini. Salah satu bahan yang

termasuk kategori ini adalah minyak pelumas. Minyak pelumas yang digunakan

dalam pengoperasian kendaraan, perawatan dan dalam bentuk proses perbaikan

akan menghasilkan limbah yang sering disebut limbah minyak pelumas. Limbah

minyak pelumas mengandung sejumlah zat yang bisa mengotori udara, tanah, dan

air. Limbah minyak pelumas kemungkinan mengandung logam berat timbal,

larutan klorin, dan zat-zat pencemar lainnya. Satu liter limbah minyak pelumas

dapat merusak jutaan liter air segar dari sumber air dalam tanah. Apabila limbah

minyak pelumas tumpah di tanah akan mempengaruhi air tanah dan akan

berbahaya bagi lingkungan. Hal ini karena limbah minyak pelumas dapat
17

menyebabkan tanah kehilangan unsur hara. Pada prinsipnya pengelolaan limbah

B3, termasuk limbah minyak pelumas wajib dilakukan oleh penghasil limbah B3.

Kewajiban bengkel dalam mengelola limbah minyak pelumas, meliputi:

reduksi/pengurangan, penyimpanan, waktu penyimpanan, pewadahan, pelabelan

limbah B3.11

F. Limbah Minyak Pelumas

Limbah minyak pelumas merupakan minyak pelumas yang telah digunakan

dalam waktu cukup lama akan mengalami perubahan komposisi atau susunan

kimia, selain itu juga akan mengalami perubahan sifat fisis, maupun mekanis. Hal

ini disebabkan karena pengaruh tekanan dan suhu selama penggunaan dan juga

kotoran-kotoran yang masuk ke dalam minyak pelumas itu sendiri. Limbah

minyak pelumas yang dikeluarkan dari peralatan biasanya dibuang begitu saja

bahkan ada yang dimanfaatkan kembali tanpa melalui proses daur ulang yang

benar. Oleh karena itu akan lebih aman dan tepat apabila minyak pelumas bekas

dapat diolah kembali akan tetapi, memerlukan biaya yang tidak sedikit.29

Limbah minyak pelumas mengandung sejumlah zat yang bisa mengotori

udara, tanah, dan air. Limbah minyak pelumas mengandung logam berat seperti

Pb. Menurut Siswanti (2010), limbah minyak pelumas mengandung kotoran

logam-logam dengan kadar yang tinggi, bahan aditif, sisa bahan bakar dan kotoran

lain.29

Jenis limbah B3 minyak pelumas bekas termasuk dalam limbah B3 yang

mudah terbakar dan meledak. Minyak pelumas bekas memiliki tinggi nilai abu,

residu karbon, bahan asphaltenic, logam, air, dan bahan kotor lainnya yang

dihasilkan selama jalannya pelumasan dalam mesin (Nabil, 2010). Limbah


18

minyak pelumas mengandung Polychlorinated Biphenyls (PCBs), Polycyclic

Aromatic Hydrocarbons (PAHs), komponen-komponen tersebut mengandung

sifat beracun tinggi saat terlepas ke lingkungan terutama pada perairan.29

Menurut Subiyanto (1989) dalam Siswanti (2010), minyak pelumas bekas

mengandung logam-logam yang dapat menyebabkan terjadinya pencemaran

lingkungan. Logam-logam tersebut dapat berasal dari :

a. Aditif minyak pelumas

Agar minyak pelumas dapat memberikan pelayanan yang

memuaskan maka ditambahkan aditif, tetapi aditif tersebut mengandung

logam Zn, Al serta senyawa lain seperti Ba, Mg, Mo, K, Ca dan Na.

b. Bahan bakar

Bahan bakar yang digunakan dapat mengandung Pb, apabila

ditambahkan TEL untuk menaikkan angka oktannya, hasil

pembakarannya dapat masuk ke ruang karter dan bercampur dengan

minyak pelumas.

c. Debu dan kotoran dari udara

Bahan bakar dapat dibakar bila ada udara. Udara yang masuk ke

ruang bakar sudah disaring dengan filter, tetapi kemungkinan kotoran

masih dapat masuk ke ruang bakar bersama udara. Biasanya di dalam

debu mengandung Al dan Si.

d. Zat pendingin (coolant)

Zat pendingin yang dicampurkan dalam air pendingin mengandung

aditif anti korosif yang umumnya mengandung Na, K dan Cr. Apabila
19

gasket mesin rusak, air pendingin dapat masuk ke ruang bakar lalu ke

karter dan bercampur dengan minyak pelumas.

e. Keausan

Keausan adalah hilangnya zat padat dari induknya akibat adanya

permukaan yang bergesekan, sehingga dapat menyebabkan kerusakan.

Bagaimanapun tepatnya pemilihan minyak pelumas yang digunakan,

komponen mesin tersebut tetap akan mengalami keausan meskipun

kecil.28

Minyak pelumas bekas mengandung beberapa logam berat Pb

(timbal) dan senyawa Pb sukar larut dalam air.Pada proses pembakaran

mesin yang menggunakan bahan bakar bensin akan dihasilkan gugus

radikal bebas yang dapat menyebabkan letupan pada mesin, sehingga

mengakibatkan menurunnya efisiensi mesin. Untuk mengatasi hal

tersebut ditambahkan bahan berupa TEL atau TML. Penambahan TEL

atau TML dilakukan untuk mengikat radikal bebas yang terbentuk selama

proses pembakaran. Bahan tersebut akan bereaksi dengan gugus radikal

bebas, dan menghalangi terjadinya reaksi pembentukan PbO. Pb dalam

bensin akan bereaksi dengan oksigen dan bahan-bahan pengikat,

selanjutnya dikeluarkan melalui sistem pembuangan dalam bentuk

partikel. Hasil pembakarannya dapat masuk ke ruang karter dan

bercampur dengan minyak pelumas.29

Apabila limbah minyak pelumas tumpah di tanah, akan

mempengaruhi air tanah dan akan berbahaya bagi lingkungan.

Keberadaan senyawa Pb dalam minyak pelumas bekas sebagai polutan


20

dapat merubah struktur dan fungsi tanah sehingga produktivitas tanah

menurun dan kehilangan unsur hara. Minyak yang meresap ke dalam

tanah dapat menyebabkan tertutupnya suplai oksigen dan meracuni

mikroorganisme tanah sehingga mengakibatkan kematian

mikroorganisme tersebut. Tumpahan minyak di lingkungan juga dapat

mencemari tanah dan perairan hingga ke daerah sub-surface dan lapisan

aquifer air tanah (Pratiwi dan Hermana, 2014).29

G. Remediasi

Dengan semakin meningkatnya pencemaran tanah, yang umumnya berakibat

pada ekosistem dan air tanah, maka upaya perbaikan kualitas lahan yang tercemar

(soil remediasi) perlu dilakukan.19 Remediasi adalah kegiatan untuk

membersihkan permukaan tanah yang tercemar.Untuk Remediasi, ada beberapa

proses yang dapat dilakukan yaitu :

1. Stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan

penambahan nutrien, pengaturan kondisi redoks, optimasi pH, dan

sebagainya.

2. Inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu

mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus.

3. penerapan immobilized enzymes.

4. penggunaan tanaman (fitoremediasi)untuk menghilangkan atau mengubah

pencemar.13
21

H. Fitoremediasi

Fitoremediasi adalah teknologi pembersihan, penghilangan atau pengurangan

polutan berbahaya, seperti logam berat, pestisida, dan senyawa organik beracun

dalam tanah atau air dengan menggunakan bantuan tanaman.13

Konsep pemanfaatan tumbuhan dan mikroorganisme untuk meremediasi

tanah terkontaminasi bahan pencemar adalah pengembangan terbaru dalam teknik

pengolahan limbah. Fitoremediasi dapat diaplikasikan pada limbah organic

maupun anorganik juga unsure logam (As, Cd, Cr, Hg, Pb, Zn, Ni, dan Cu) dalam

bentuk padat, cair dan gas. Tumbuhan mempunyai kemampuan untuk menahan

substansi toksik dengan cara biokimia dan fisiologisnya serta menahan substansi

non nutritive organic yang dilakukan pada permukaan akar. Bahan pencemar

tersebut akan dimetabolisme atau dimobilisasi melalui sejumlah proses termasuk

reaksi oksidasi, reduksi dan hidrolisa enzimatis.19

Mekanisme fitoremediasi tanaman (Vetiver) berlangsung secara alami dengan

enam tahap proses secara serial yang dilakukan tumbuhan terhadap zat

kontaminan/pencemar yang berada di sekitarnya :

1. Phytoacumulation yaitu proses tumbuhan menarik zatkontaminan dari

media sehingga berak umulasi disekitar akar tumbuhan, proses ini

disebut juga hyperacumulation.

2. Rhizofiltration adalah proses adsorpsi atau pengendapan zat

kontaminan oleh akar untuk menempel pada akar.

3. Phytostabilization yaitu penempelan zat-zat contaminan tertentu pada

akaryang tidak mungkin terserap kedalam batang tumbuhan. Zat-zat


22

tersebut menempel erat (stabil) pada akar sehingga tidak akan terbawa

oleh aliran air dalam media.

4. Rhyzodegradetion yaitu penguraian zat-zat kontaminan oleh aktivitas

mikroba yang berada disekitar akar tumbuhan, misalnya ragi, fungi dan

bakteri.

5. Phytodegradation yaitu proses yang dilakukan tumbuhan untuk

menguraikan zat kontaminan yang mempunyai rantai molekul yang

kompleks menjadi bahan yang tidak berbahaya dengan dengan susunan

molekul yang lebih sederhana yang dapat berguna bagi pertumbuhan

tumbuhan itu sendiri. Proses ini dapat berlangsung pada daun, batang,

akar atau di luar sekitar akar dengan bantuan enzym yang dikeluarkan

oleh tumbuhan itu sendiri. Beberapa tumbuhan mengeluarkan enzym

berupa bahan kimia yang mempercepat proses degradasi.

6. Phytovolatization yaitu proses menarik dan transpirasi zat kontaminan

oleh tumbuhan dalam bentuk yang telah menjadi larutan terurai

sebagai bahan yang tidak berbahaya lagi untuk selanjutnya diuapkan

ke atmosfir. Beberapa tumbuhan dapat menguapkan 200 sampai

dengan 1000 liter perhari untuk setiap batang.30

Mekanisme Penyerapan Logam Berat Oleh Tumbuhan :

Menurut Priyanto dan Prayitno, 2007 dalam Hardiani, 2009 mekanisme

penyerapan dan akumulasi logam berat oleh tanaman dapat dibagi menjadi tiga

proses yang sinambung, sebagai berikut :

a. Penyerapan oleh akar. Agar tanaman dapat menyerap logam, maka logam

harus dibawa ke dalam larutan di sekitar akar (rizosfer) dengan beberapa


23

cara bergantung pada spesies tanaman. Senyawa-senyawa yang larut dalam

air biasanya diambil oleh akar bersama air, sedangkan senyawa-senyawa

hidrofobik diserap oleh permukaan akar.

b. Translokasi logam dari akar ke bagian tanaman lain. Setelah logam

menembus endodermis akar, logam atau senyawa asing lain mengikuti

aliran transpirasi ke bagian atas tanaman melalui jaringan pengangkut

(xilem dan floem) ke bagian tanaman lainnya.

c. Lokalisasi logam pada sel dan jaringan. Hal ini bertujuan untuk menjaga

agar logam tidak menghambat metabolisme tanaman. Sebagai upaya untuk

mencegah peracunan logam terhadap sel, tanaman mempunyai mekanisme

detoksifikasi, misalnya dengan menimbun logam di dalam organ tertentu

seperti akar.30

I. Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata prain)

Gambar 1. Lidah mertua (Sansevieria trifasciata prain)

(sumber : zeromind165.blogspot.co.id)
Klasifikasi lidah mertua adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisio : Spermatophyta

Divisio : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida
24

Sub-kelas : Liliidae

Ordo : Liliales

Familia : Agavaceae

Genus : Sansevieria

Spesies : Sansevieria trifasciata prain31

Sansevieria trifasciata prain merupakan tanaman hias yang mempunyai

keanekaragaman warna dan bentuk daun, serta mudah tumbuh di halaman rumah

tanpa banyak perawatan. Tanaman ini dibudidayakan karena keindahan struktur

dan warna daunnya. Dengan bentuk, warna, ukuran, dan corak daun yang

bervariasi menyebabkan tanaman ini bernilai ekonomi tinggi. Sansevieria

merupakan tumbuhan herba dengan akar rimpang horizontal berwarna merah

kuning dan mempunyai tinggi 0,4-1,8 m. Daun dari tanaman lidah mertua

berjumlah 2-6 helai per tanaman, berbentuk garis yang menyempit pada pangkal

dengan ujung runcing. Tanaman ini dapat ditemui dari dataran rendah hingga

ketinggian 1-1.000 meter di atas permukaan laut. Sanseviera trifasciata prain

telah lama dikenal oleh banyak orang sejak beberapa abad yang lalu dan mulai

dibudidayakan sebagai tanaman hias mulai abad 19. Pada tahun 2000 dan 2004.

Hingga tahun 2008 minat masyarakat terhadap Sanseviera trifasciata prain masih

tetap tinggi. Tanaman Sanseviera trifasciata prain merupakan tanaman hias

berkelas karena bentuknya yang unik dan perawatannya sangat mudah. Manfaat

Sanseviera trifasciata adalah sebagai bahan pembuat benang, kertas dan senar

pancing yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat tradisional di Afrika. Hal ini

dikarenakan adanya kandungan serat yang sangat kuat pada bagian daunnya.30

Selain itu Sanseviera trifasciata prain memiliki banyak kelebihan, seperti mampu
25

bertahan hidup pada rentang waktu suhu dan cahaya yang sangat luas, sangat

resisten terhadap polutan, dan mampu menyerap 107 jenis polutan di daerah padat

lalu lintas dan ruangan yang penuh asap rokok dan dapat menyerap radiasi barang

elektronik.31 Tanaman ini juga mudah beradaptasi dan tumbuh dengan baik

disegala tempat. Mulai dari dataran rendah, sedang dan tinggi. Indonesia secara

geografis merupakan tempat yang baik untuk pertumbuhan sansevieria. Iklimnya

yang tropis menyebabkan dataran di Indonesia mendapatkan pancaran sinar

matahari sepanjang tahun. Secara alami, sansevieria akan tumbuh subur jika

paparan sinar matahari dan sirkulasi udara baik.31

Tanaman ini berdaun tebal dan memiliki kandungan air sukulen, sehingga

tahan kekeringan. Namun dalam kondisi lembab atau basah, sanseviera bisa

tumbuh subur. Warna daun Sansevieria beragam, mulai hijau tua, hijau muda,

hijau abu-abu, perak, dan warna kombinasi putih kuning atau hijau kuning. Motif

alur atau garis-garis yang terdapat pada helai daun juga bervariasi, ada yang

mengikuti arah serat daun, tidak beraturan, dan ada juga yang zig-zag.

Keistimewaan lidah mertua adalah memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap

lingkungan. Penelitian NASA bekerja sama dengan ALCA telah menemukan

bukti-bukti bahwa tanaman ini secara alami mampu mengurangi polusi.32

J. Standar Baku Mutu Tanah

Penentuan standar baku mutu tanah secara umum sulit ditentukan, walaupun

rancangan baku mutu tanah telah diatur dalam rancangan Keputusan Menteri

Negara Lingkungan Hidup tahun 1994. Rancangan Kepmen ini menyebutkan

bahwa baku mutu tanah ditetapkan oleh masing-masing Gubernur dengan

berpedoman pada Baku Mutu Nasional. Penentuan baku mutu dilakukan


26

berdasarkan penelitian dan tetap menampung aspirasi dari masyarakat, pengusaha

dan pihak yang berkepentingan. Pusat Penelitian Tanah dari Departemen

Pertanian, 1983 telah mengajukan kriteria penilaian sifat kimia tanah berdasarkan

sifat umum tanah yang didapat secara empiris. Sedangkan standar baku mutu

untuk kadar logam berat yang terdapat di dalam tanah telah diteliti oleh Ferguson

(1990) mengemukakan standar baku mutu logam berat timbal dalam tanah yaitu 2

mg/l.20

K. Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)

Ompusunggu, M. (1982) menyatakan bahwa Spektrofotometri serapan atom

(SSA) atau Atomatic Absorption Spectrophotometry (AAS) adalah salah satu cara

analisis unsur-unsur kimia berdasarkan pada pengukuran absorpsi oleh suatu

media atau yang mengandung unsur yang sedang didekatkan terhadap cahaya

yang dihasilkan sumber cahaya pada panjang gelombang tertentu.32

Komponen utama dalam peralatan AAS :

1. Sumber sinar

Sumber sinar yang digunakan adalah lampu katoda berongga (Hallow

Cathode Lamp/HCL).

2. Pemenggal Cahaya (Chopper)

Pemenggal cahaya atau chopper bertujuan untuk menghindari

pengukuran serapan atom dari gangguan sinar yang berasal dari sumber

yang tidak diinginkan, seperti dari nyala atau tanur bahkan sedikit

kebocoran dari penerangan laboratorium.


27

3. Nyala

Syarat yang paling penting untuk nyala AAS adalah nyala tersebut

harus menghasilkan temperatur lebih dari 2000 Kelvin. Umumnya

persyaratan ini hanya dapat dipenuhi dengan membakar gas bahan bakar

dengan gas oksidanya yaitu udara atau dinitrogenoksida (NO2).

4. Sistem Pembakar-pengabut

Tujuan sistem ini adalah untuk mengubah larutan sampel menjadi

atom-atom gas. Fungsi pengabut adalah menghasilkan kabut atau aerosol

larutan sampel.

5. Sampel

Sampel yang akan dianalisa harus dalam bentuk larutan yang jernih

(tidak harus berwarna) dan tidak mengandung partikel padat atau endapan

dalam larutannya. Jika mengandung endapan akan menyebabkan

tersumbatnya pipa kapiler untuk menyedot sampel.

6. Monokromator

Tujuan monokromator adalah untuk memilih garis pancaran tertentu

dan memencilkannya dari garis-garis lain.

7. Detektor

Detektor yang digunakan adalah tipe PMT (Photo Multiplier Tube).

Detektor ini akan mendeteksi sinar yang berasal dari HCL dan diteruskan

oleh atom sampel.32

Prinsip Kerja :
Metode AAS berprinsip pada absorbsi cahaya oleh atom. Atom-atom
menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat
unsurnya. Dengan absorpsi energi, berarti memperoleh lebih banyak energi, suatu
28

atom pada keadaan dasar dinaikan tingkat energinya ketingkat eksitasi.


Keberhasilan analisis ini tergantung pada proses eksitasi dan memperoleh garis
resonansi yang tepat.32

L. Alur Penelitian

Fitoremediasi
Tanah Tercemar Pb sebelum Tanah sesudah proses
Menggunakan
fitoremediasi fitoremediasi
tanaman Sansevieria
trifasciata prain

Hasil pemeriksaan Pb tanah Hasil Pemeriksaan Pb tanah

Selisih dari kadar timbal sebelum


dan sesudah fitoremediasi

M. Definisi Operasional

Definisi Hasil Skala


No. Variabel Cara Ukur Alat Ukur
Operasional Ukur Ukur
1. Kadar Pb Pengukuran kadar Pemeriksaan Spektrofotometer mg/l Ratio
sebelum Pb pada tanah laboratorium serapan atom
proses aktivitas bengkel (SSA)
fitoremediasi sebelum
fitoremediasi
2. Kadar Pb Pengukuran kadar Pemeriksaan Spektrofotometer mg/l Ratio
sesudah Pb pada tanah laboratorium serapan atom
proses sesudah proses (SSA)
fitoremediasi fitoremediasi
3. Selisih kadar Selisih yang Perhitungan Alat hitung mg/l Ratio
timbal didapatkan dari hasil
pemeriksaan kadar
timbal sebelum dan
sesudah
fitoremediasi
29

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu mengetahui gambaran penurunan kadar

timbal pada limbah bengkel sebelum dan sesudah penanaman lidah mertua

(Sansevieria trifasciata prain) pada media tanah yang tercemar limbah minyak

pelumas.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari tahun 2018 sampai bulan Juni

tahun 2018 di kota Padang.

C. Objek Penelitian

Objek yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tanah yang tercemar minyak

pelumas.

D. Prosedur Kerja Penelitian

1. Pengambilan Sampel Tanah

1) Alat yang digunakan

a. Auger

b. Spidol

c. Plastik

d. Pisau cutter

e. Label

2) Cara Kerja

a. Siapkan alat yang akan digunakan.

b. Tentukan titik pengambilan sampel.


30

c. Lakukan pengambilan sampel menggunakan auger sampai kedalaman

20 cm.

d. Setelah bor belgi masuk kedalam tanah, keluarkan auger dengan cara

angkat dan putar searah jarum jam.

e. Bersihkan ujung bor dari sisa-sisa tanah menggunakan pisau cutter dan

ambil tanah yang ada didalam bor dialas dengan kertas.

f. Tanah tersebut dimasukkan ke dalam plastik dan beri label.

2. Proses Fitoremediasi

1) Alat dan bahan yang digunakan

a. Timbangan

b. shaker

c. Polybag

d. Kertas label

e. Alat tulis

f. Sampel tanah yang tercemar

g. Tanah kontrol (tanah yang tidak tercemar)

h. Tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata prain)

2) Langkah-langkah Penelitian

Langkah kerja pada penelitian dibagi menjadi beberapa tahapan, yaitu:

a. Persiapan Media Tanam

a) Penanaman tanaman 0 batang

- Persiapkan 1 buah polybag yang berisi tanah tidak tercemar.

- Masukkan media tanam pada polybag yang telah dipersiapkan,

aduk hingga homogen dan beri label polybag.


31

b) Penanaman tanaman 2, 4 dan 6 Batang

Tahap ini dilakukan penanaman tanaman 2, 4 dan 6 batang.

- Persiapkan polybag sebanyak 12 buah yang berisi tanah

tercemar.

- Masukkan sampel tanah pada masing-masing polybag yang

telah dipersiapkan dan aduk hingga homogen.

- Beri label polybag penanaman 2 batang untuk wadah

penanaman 1, 2, 3, dan 4.

- Beri label polybag penanaman 4 batang untuk wadah

penanaman 1, 2, 3, dan 4.

- Beri label polybag penanaman 6 batang untuk wadah

penanaman 1, 2, 3, dan 4.

b. Persiapan Tanaman Sansevieria trifasciata prain

a) Persiapkan tanaman Sansevieria trifasciata prain untuk polybag

penanaman tanaman 2, 4 dan 6 batang.

b) Bersihkan akar tanaman dari tanah dan tanaman yang masih melekat.

c. Pemeriksaan Awal Kadar Timbal (Sebelum Penanaman Tanaman)

pada Media Tanam

Tahap ini merupakan pemeriksaan tanah untuk penanaman tanaman 0

batang (tanah yang tidak tercemar) dan tanah yang tercemar sebelum tanah

ditanami tanaman Sansevieria trifasciata prain. Untuk pengambilan sampel

tanah dilakukan homogenisasi terlebih dahulu sebelum diperiksa kadar

timbalnya. Pemeriksaan pada media tanam dilakukan untuk mengetahui

kadar logam timbal yang terdapat di dalam tanah sebelum dilakukan


32

penanaman tanaman. Pemeriksaan dilakukan menurut petunjuk teknis

analisis kimia tanah.

d. Penanaman Tanaman Sansevieria trifasciata prain

a) Polybag yang telah berisi sampel tanah (media tanam) selanjutnya

ditanam tanaman Sansevieria trifasciata prain.

b) Tanaman dibiarkan selama 30 hari pada polybag.

c) Selama 30 hari tanaman disiram secara satu kali sehari.

e. Pemeriksaan Kadar Timbal Sesudah Penanaman Tanaman Pada

Media Tanam

a) Tahap ini merupakan pemeriksaan tanah tidak tercemar yang tidak

ditanami tanaman setelah dibiarkan 30 hari, sampel tanah tercemar

sesudah ditanami tanaman Sansevieria trifasciata prain selama 30

hari. Pengukuran pada media tanam sesudah penanaman tanaman

selama 30 hari dilakukan untuk mengetahui penurunan kadar timbal

yang terdapat di dalam tanah sesudah dilakukan penanaman

tanaman.

b) Untuk pengambilan sampel tanah dilakukan homogenisasi terlebih

dahulu.

c) Pemeriksaan dilakukan menurut petunjuk teknis analisis kimia

tanah.

E. Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperoleh merupakan data primer dari hasil pemeriksaan kadar

timbal yang diukur melalui pemeriksaan di Laboratorium Kopertis Wilayah X

Sumatera Barat.
33

F. Teknik Pengolahan Data

Data yang terkumpul dari hasil pemeriksaan kadar timbal di Laboratorium

Kopertis Wilayah X diolah secara manual.

G. Analisis Data dan Penyajian Data

1. Analisis Univariat

Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat yaitu untuk

mendapatkan penurunan kadar timbal pada limbah bengkel melalui

fitoremediator lidah mertua.

2. Penyajian Data

Data yang sudah didapatkan kemudian diubah menjadi sebuah tabel

dan narasi yang berasal dari hasil pemeriksaan kadar timbal.

H. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Spektrofotometer serapan atom dengan panjang gelombang 217.0 nm

2. Alat tulis

3. Tabel data hasil pemeriksaan kadar timbal (Pb)


34

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Lokasi pengambilan sampel yaitu dibengkel yang berada di Jalan By Pass,

Kelurahan Batung Taba, Kecamatan Lubuk Begalung. Bengkel ini berdiri pada

tahun 1999. Bengkel buka dari hari senin sampai sabtu dan mulai beraktivitas dari

jam 08.00-16.00 WIB. Kegiatan bengkel ini salah satunya yaitu mengganti

minyak pelumas kendaraan. Jumlah kendaraan yang masuk ke bengkel untuk

mengganti minyak pelumas rata-rata 1-2 kendaraan perhari. Limbah minyak

pelumas yang dihasilkan bengkel ini ditampung dalam satu wadah dan dibuang

langsung ke tanah disekitar bengkel bersamaan dengan limbah lainnya seperti

minyak diesel dan air aki sehingga disekitar bengkel terdapat tanah yang padat

dan berwarna hitam mengkilap.

2. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan melakukan penanaman pada tanah yang

menjadi objek penelitian menggunakan tanaman lidah mertua (Sansevieria

trifasciata prain) dan penanaman tanaman dengan jumlah tanaman yang berbeda,

yaitu 2 batang tanaman, 4 batang tanaman, dan 6 batang tanaman pada tanah yang

tercemar limbah minyak pelumas yang dihasilkan dari aktivitas bengkel.

Tanah yang tercemar limbah minyak pelumas dari aktivitas bengkel

dilakukan pemeriksaan kadar timbal terlebih dahulu yang dimulai pada tanggal 01

Februari 2018, kemudian tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata prain)

ditanam selama 30 hari, dimulai pada tanggal 04 Maret – 03 April 2018 dan pada
35

tanggal 06 April 2018 dilakukan pemeriksaan kadar timbal sesudah proses

fitoremediasi selama 30 hari.

a. Hasil Pemeriksaan Kadar Timbal Sebelum dan Sesudah Proses

Fitoremediasi

Hasil pemeriksaan kadar timbal sebelum dan sesudah proses fitoremediasi

menggunakan tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata prain), seperti

terlihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 1.
Hasil Pemeriksaan Kadar Timbal Sebelum dan Sesudah Proses
Fitoremediasi Menggunakan Tanaman Lidah Mertua Pada Tanah Yang
Tercemar Limbah Minyak Pelumas Bengkel
Kadar Timbal (mg/l)
Jumlah Tanaman Sebelum Proses Sesudah Proses
Fitoremediasi Fitoremediasi
Tanpa tanaman
Wadah 1 0,191 0,106
Wadah dengan
tanaman 2 batang
Wadah 1 9,406
Wadah 2 10,122
Wadah 3 9,482
Wadah 4 9,485
Wadah dengan
tanaman 4 batang
Wadah 1 8,015
12,103
Wadah 2 7,964
Wadah 3 7,968
Wadah 4 8,144
Wadah dengan
tanaman 6 batang
Wadah 1 5,006
Wadah 2 5,043
Wadah 3 5,015
Wadah 4 8,023
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa pemeriksaan kadar timbal pada tanah

tanpa penanaman tanaman didapatkan kadar timbal 0,191 mg/l dan pada tanah
36

yang tercemar sebelum proses fitoremediasi didapatkan kadar timbal 12,103 mg/l.

Sedangkan kadar timbal sesudah proses fitoremediasi yaitu pada tanah tanpa

penanaman tanaman didapatkan 0,106 mg/l dan pada tanah tercemar didapatkan

kadar timbal dengan penurunan terbesar yaitu pada tanah dengan penanaman

tanaman 6 batang 5,006 mg/l.

b. Selisih Kadar Timbal Sebelum dan Sesudah Proses Fitoremediasi

Selisih kadar timbal sesudah dilakukan proses fitoremediasi, seperti terlihat

pada tabel dibawah ini:

Tabel 2.
Selisih Kadar Timbal Sebelum dan Sesudah Proses Fitoremediasi
Menggunakan Tanaman Lidah Mertua Pada Tanah Yang Tercemar Limbah
Minyak Pelumas Bengkel
Kadar Timbal (mg/l) Rata-rata
Selisih Kadar
Sebelum Sesudah Selisih Kadar
Jumlah Tanaman Timbal
Proses Proses Timbal
(mg/l)
Fitoremediasi Fitoremediasi (mg/l)
Tanpa tanaman
Wadah 1 0,191 0,106 0,106 0,106
Wadah dengan
tanaman 2 batang
Wadah 1 9,406 2,697
Wadah 2 10,122 1,981
2,479
Wadah 3 9,482 2,621
Wadah 4 9,485 2,618
Wadah dengan
tanaman 4 batang
Wadah 1 8,015 4,088
12,103
Wadah 2 7,964 4,139
4,080
Wadah 3 7,968 4,135
Wadah 4 8,144 3,959
Wadah dengan
tanaman 6 batang
Wadah 1 5,006 7,097
Wadah 2 5,043 7,06
6,331
Wadah 3 5,015 7,088
Wadah 4 8,023 4,08
37

Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa selisih penurunan kadar timbal pada

tanah yang tercemar dengan penanaman tanaman 2 batang sebesar 2,479 mg/l,

pada penanaman tanaman 4 batang sebesar 4,080 mg/l, dan selisih terbesar

terdapat pada tanah dengan penanaman tanaman 6 batang sebesar 6,331 mg/l.

B. Pembahasan

Pada penelitian ini, penulis melakukan pemeriksaan kadar timbal pada tanah

yang tercemar limbah minyak pelumas dari aktivitas bengkel. Berdasarkan hasil

pemeriksaan yang telah dilakukan di laboratorium, didapatkan hasil kadar timbal

pada tanah tidak tercemar sebelum proses fitoremediasi adalah 0,191 mg/l.

Seharusnya pada tanah tidak tercemar tidak terdapat kadar timbal dan

kenyataannya kadar timbal didapatkan pada tanah dengan kadar yang tidak terlalu

besar. Hal ini disebabkan oleh faktor udara dan faktor alam karena logam berat Pb

pada awalnya merupakan logam berat yang secara alami terdapat di tanah.

Pada tanah yang tercemar sebelum proses fitoremediasi diperoleh kadar

timbal yang tinggi yaitu 12,103 mg/l. Hal ini menunjukkan bahwa hasilnya

melebihi standar baku mutu logam berat timbal dalam tanah yaitu 2 mg/l dan

tingginya kadar timbal yang dihasilkan pada tanah ini disebabkan karena tanah

telah tercemar limbah minyak pelumas dari aktivitas bengkel.

Dari hasil penelitian yang dilakukan selama 30 hari dapat dilihat bahwa kadar

timbal dari masing-masing perlakuan sebelum dan sesudah proses fitoremediasi

mengalami penurunan. Untuk sampel tanah yang ditanam tanaman dengan jumlah

2 dan 4 batang mengalami penurunan yang tidak terlalu besar, sedangkan untuk

yang ditanam tanaman dengan jumlah 6 batang mengalami penurunan yang cukup

besar. Hal ini disebabkan karena jumlah batang lidah mertua lebih banyak
38

sehingga kemampuan akarnya lebih tinggi untuk menyerap kadar timbal

dibandingkan 2 dan 4 batang.

Limbah Beracun dan berbahaya merupakan sisa suatu usaha dan kegiatan

yang mengandung bahan berbahaya atau beracun karena sifat dan konsentrasinya

atau jumlahnya baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan,

merusak, membahayakan lingkungan hidup, dan kesehatan kelangsungan hidup

manusia serta makhluk hidup lainnya. Salah satu limbah yang termasuk kedalam

limbah beracun dan berbahaya adalah limbah minyak pelumas.25

Limbah minyak pelumas merupakan limbah yang termasuk kedalam limbah

beracun dan berbahaya dan minyak pelumas yang telah digunakan dalam waktu

cukup lama akan mengalami perubahan komposisi atau susunan kimia. Limbah

minyak pelumas mengandung sejumlah zat seperti logam berat timbal yang bisa

mencemari tanah dan logam berat timbal sukar larut dalam air.27

Logam berat timbal dapat masuk kedalam semua strata lingkungan, baik pada

strata perairan, tanah atau udara (lapisan atmosfir). Timbal yang masuk ke dalam

strata lingkungan dapat datang dari bermacam-macam sumber. Sumber-sumber

masukan logam timbal ke dalam strata lingkungan adalah dari kegiatan-kegiatan

perindustrian seperti bengkel. Logam berat timbal dapat menimbulkan efek

gangguan terhadap kesehatan manusia seperti gangguan terhadap sistem syaraf,

sistem reproduksi, saluran cerna, anemia dan bersifat toksik melalui tanah yang

tercemar timbal. Adanya logam berat timbal dalam tanah telah diketahui dapat

menyebabkan beberapa kerusakan pada tanah dan mikroorganismenya karena

logam berat timbal mempunyai daya racun yang sangat tinggi.32


39

Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan penanggulangan secara biologi

yang bisa menjadi alternatif terhadap hal tersebut. Salah satu cara yang dapat

digunakan adalah dengan memanfaatkan tanaman untuk menurunkan dan

menghilangkan kadar timbal. Salah satu tanaman yang dapat digunakan adalah

lidah mertua (Sansevieria trifasciata prain).13

Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama 30 hari menggunakan tanaman

lidah mertua (Sanseviera trifasciata) diperoleh selisih kadar timbal terbesar yaitu

dengan penanaman tanaman 6 batang sebesar 6,331 mg/l. Beberapa penelitian

terdahulu tentang fitoremediasi menggunakan berbagai tanaman hiperakumulator

telah banyak dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh Asri Hayyu Rinpropadebi

(2011) tentang fitoremediasi tanah tercemar logam berat timbal dengan

menggunakan tumbuhan helikonia (Heliconia psittacorum) hanya mampu

menurunkan kadar timbal 50,99%. Selanjutnya Chonny Ornella D.R (2011)

tentang fitoremediasi tanah tercemar timbal dengan menggunakan bunga kana

(Canna indica) hanya mampu menurunkan kadar timbal 50,857%.

Sejalan dengan hal tersebut, penelitian tentang potensi tanaman lidah mertua

telah dilakukan, Salah satunya ditunjukkan dari penelitian yang dilakukan oleh

Rizka Ulimma, dkk (2015) di Pontianak tentang fitoremediasi logam berat Hg

tanah tercemar menggunakan tanaman Sansevieria trifasciata prain selama dua

bulan mampu menurunkan kadar Hg sebesar 57,36%. Penelitian lainnya yang

pernah dilakukan oleh Atika Rahmah, dkk (2017) di Kota Padang tentang

penurunan kadar logam berat Zn pada tanah industri menggunakan Sansevieria

trifasciata prain mampu menurunkan kadar Zn sebesar 21,69 mg/l. Penelitian

yang juga pernah dilakukan oleh Anthony Setyawan, dkk (2016) di Jawa Timur
40

tentang Pemanfaatan Tanaman sansevieria trifasciata) untuk absorbsi Cu selama

35 hari mampu menurunkan kadar Cu sebesar 30,3% untuk 1000 mg/l, 33,4 untuk

800 mg/l, 38,7 untuk 600 mg/l, 57,3% untuk 400 mg/l, dan 35,4% untuk 200 mg/l.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, penelitian ini belum maksimal,

karena kadar timbal pada tanah sesudah proses fitoremediasi masih melebihi

standar baku mutu timbal dalam tanah. Untuk memaksimalkan penelitian ini maka

disarankan kepada peneliti berikutnya untuk dapat melakukan penelitian lebih dari

6 batang tanaman lidah mertua sehingga jumlah akar lebih banyak dan penelitian

juga dilakukan lebih dari 30 hari, sehingga tanaman lidah mertua dapat menyerap

kadar timbal lebih besar dan kadar timbal yang didapatkan tidak melebihi standar

baku mutu. Dengan demikian pencemaran tanah yang disebabkan oleh limbah

bengkel (limbah minyak pelumas) yang mengandung logam berat timbal dan

termasuk kedalam limbah beracun dan berbahaya dapat diatasi dengan tanaman

lidah mertua sebagai fitoremediator yang dapat menurunkan kadar timbal.


41

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

Setelah pemeriksaan yang dilakukan terhadap sampel tanah yang tercemar

limbah minyak pelumas dari aktivitas bengkel sebelum dan sesudah proses

fitoremediasi menggunakan tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasiata prain)

yang dilakukan dengan jumlah tanaman yang berbeda, yaitu 2, 4 dan 6 batang

dapat disimpulkan bahwa :

1. Kadar timbal pada tanah tidak tercemar dengan penanaman tanaman 0

batang sebelum proses fitoremediasi sebesar 0,191 mg/l, sedangkan pada

tanah tercemar dengan penanaman tanaman 2, 4 dan 6 batang sebesar

12,103 mg/l.

2. Kadar timbal pada tanah dengan penanaman tanaman 0 batang sesudah

proses fitoremediasi sebesar 0,106 mg/l, sedangkan kadar timbal tertinggi

yang didapatkan pada tanah tercemar dengan penanaman tanaman 2

batang sebesar 10,122 mg/l, pada penanaman tanaman 4 batang sebesar

8,144 mg/l, dan penanaman tanaman 6 batang sebesar 8,023 mg/l.

3. Selisih penurunan kadar timbal pada tanah tercemar sebelum dan sesudah

penanaman tanaman 2 batang sebesar 2,479 mg/l, pada penanaman

tanaman 4 batang sebesar 4,080 mg/l, dan pada penanaman 6 batang

sebesar 6,331 mg/l.

B. Saran

1. Perlunya sosialisasi dari instansi pemerintah terkait kepada pengelola

bengkel tentang pentingnya pengelolaan limbah B3 dan bahaya limbah B3.


42

2. Sebaiknya pengelola bengkel yang menghasilkan limbah minyak pelumas

tidak membuang limbah tersebut kesekitar lokasi bengkel dan menanam

lidah mertua (Sansevieria trifasciata prain) disekitar bengkel agar logam

berat yang terkandung dalam limbah minyak pelumas tersebut tidak

terakumulasi didalam tanah sehingga tidak terjadi pencemaran tanah.

3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang tanaman lidah mertua

(Sansevieria trifasciata prain) yang dapat menurunkan kadar timbal pada

tanah yang tercemar limbah minyak pelumas dengan menambah jumlah

tanaman yang ditanam dan waktu penelitian.