Anda di halaman 1dari 3

Judul Penelitian : Korelasi antara Fraktur Vertebra pada Osteoporosis dan Singh Index Grading

Usia Lanjut di Indonesia

A. Latar Belakang
Osteoporosis merupakan penyakit metabolik tulang yang ditandai dengan menurunnya
massa tulang. Terminologi osteoporosis pertama kali dikemukakan seorang patolog
Jerman pada abad 19 untuk membedakan dengan penyakit tulang seperti osteomalasia,
osteoporosis dan osteitis fibrosa eystiea. Kerancuan muncul pada permulaan abad 20
sejak dipelajari secara radiologis. Pada tahun 1941, Fuller Albright dkk mendefinisikan
osteoporosis sebagai keadaan kekurangan massa tulang sedangkan osteomalasia sebagai
gagalnya mineralisasi matrix tulang karena kekurangan vitamin D atau gangguan
metabolisme. Osteoporosis menimbulkan masalah kesehatan masyarakat karena
penanganan dan komplikasinya membutuhkan biaya yang sangat besar. Pada tahun 2002
di Amerika Serikat tereatat 20 juta orang mengalami osteoporosis dan 1,2 juta mengalami
komplikasi fraktur. Biaya pengobatan yang diperlukan mencapai lebih dari 10 milyar
dollar Amerika.
Regio vertebra dan proximal femur merupakan lokasi utama simptom
osteoporosis vaitu berkurangnya tinggi dan nyeri pinggang karena fraktur kompresi
vertebra dan fraktur leher femur. Fraktur vertebra merupakan komplikasi fraktur
terbanyak pada pasien osteoporosis. Kebanyakan fraktur vertebra karena osteoporosis
tidak menimbulkan keluhan (asymptomatic). Jika sudah terjadi deformitas yang parah
dapat menimbulkan keluhan nyeri sehingga mengganggu aktivitas dan menurunkan
kualitas hidup. Jalava dkk melaporkan bahwa pasien-pasien dengan fraktur vertebra yang
teridentifikasi secara radiologis, memiliki resiko mortalitas 4 kali lipat dibanding pasien
tanpa fraktur vertebra. Ismail AA dkk melaporkan bahwa faktor-faktor resiko
osteoporosis seperti usia, aktivitas fisik, body mass index, obat-obatan berhubungan kuat
dengan adanya deformitas multipel vertebra. Nevitt dkk melakukan follow up studi
wanita lebih dari 65 tahun mendapatkan fraktur vertebra lebih banyak terjadi pada
kelompok yang sebelumnya sudah ada deformitas.
Fraktur panggul merupakan komplikasi yang sering terjadi disamping fraktur
vertebra pada osteoporosis. Urist melaporkan studi pada wanita dengan fraktur panggul
pada osteoporosis bahwa principle compressive trabeculae menjadi lebih jelas.
Selanjutnya ia meneliti korelasinya dengan vertebra thorax dan menemukan dengan
menghitung compressive trabeculae pada proximal femur sehingga ia dapat
memprediksikan pasien dengan collapsed vertebra. Pada studi Hall dkk menyatakan
bahwa compressive trabeculae pada proximal femur cadaver dengan osteoporosis menjadi
lebih jelas. Singh dan kawan-kawan pada tahun 1970 menyusun grading osteoporosis
dengan menilai pola trabekula tulang proksimal femur yang disebut Singh Index. Singh
index telah digunakan sebagai metode untuk menilai adanya osteoporosis dan derajat
beratnya osteoporosis. Pada studi yang dilakukan Dequeker dkk menyatakan bahwa pola
trabekula yang rendah berdasar Singh Index berhubungan dengan insidensi fraktur leher
femur.

Pasien osteoporosis sering kali datang dengan foto panggul atau foto vertebra saja
sehingga perlu diteliti korelasi antara fraktur vertebra pada osteoporosis dan Singh index
grading. Jika terdapat korelasi maka foto panggul yang dinilai grading Singh indexnya
dapat memperkirakan kemungkinan grade fraktur vertebra dan foto vertebra yang dinilai
grade fraktumya dapat memperkirakan kemungkinan grading Singh indexnya sehingga
dapat diantisipasi deformitas yang lebih berat sehingga tingkat morbiditas dan mortalitas
dapat diturunkan.

I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai
berikut :

1. Apakah terdapat korelasi antara fraktur vertebra pada osteoporosis dengan Singh index grading

I.3 Tujuan Penelitian

I.3.1 Tujuan Umum

Mendeteksi fracture vertebra pada osteoporosis dan menilai Singh index gradingnya

I.3.2 Tujuan Khusus

1. Menilai grading fraktur vertebra pada osteoporosis pada usia lanjut di Indonesia
2. Menilai Singh index grading pada usia lanjut di Indonesia
3. Menganalisis korelasi antara grade fraktur vertebra pada osteoporosis dengan Singh index
grading pada usia lanjut di Indonesia

I.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan akan memberi manfaat sebagai berikut :

a. Memperkirakan grade fracture vertebra pada osteoporosis berdasarkan grading singh index dapat
dilakukan penangana lebih awal untuk mencegah deformitas yang lebih berat dan menurunkan
morbiditas dan mortalitas
b. Memperkirakan kemungkinan grading Singh Index dengan menilai grade fraktur vertebra
sehingga kekuatan mekanik dapat diprediksi

I. 5 Hipotesis


Grading fraktur vertebra pada osteoporosis dapat dinilai menggunakan singh index di

Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar Tahun 2019.