Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

FIKSASI NITROGEN SECARA SIMBIOTIK DAN NON SIMBIOTIK

Disusun Oleh :

ANDI ALFIANI

G012182005

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2019
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (2010), mekanisme diartikan sebagai


cara kerja atau proses, fiksasi diartikan sebagai reaksi atau proses pengikatan,
sedangkan metabolisme diartikan sebagai pertukaran zat atau unsur pada organisme
yang meliputi proses fisika dan kimia (proses pembentukan dan penguraian zat di
dalam organisme yang memungkinan berlangsungnya hidup.
Nitrogen adalah unsur yang diperlukan untuk membentuk senyawa penting di
dalam sel, termasuk protein, DNA dan RNA. Tanaman harus
mengekstraksi kebutuhan nitrogennya dari dalam tanah. Nitrogen adalah unsur
yang paling berlimpah di atmosfer (78% gas di atmosfer adalah nitrogen). Meskipun
demikian, penggunaan nitrogen pada bidang biologis sangatlah terbatas. Siklus
nitrogen sendiri adalah suatu proses konversi senyawa yang mengandung unsur
nitrogen menjadi berbagai macam bentuk kimiawi yang lain. Transformasi ini dapat
terjadi secara biologis maupun non-biologis. Siklus nitrogen secara khusus sangat
dibutuhkan dalam ekologi karena ketersediaan nitrogen dapat mempengaruhi tingkat
proses ekosistem kunci, termasuk produksi primer dan dekomposisi. Aktivitas manusia
seperti pembakaran bahan bakar fosil, penggunaan pupuk nitrogen buatan, dan
pelepasan nitrogen dalam air limbah telah secara dramatis mengubah siklus nitrogen
global.
Sejumlah jazad mikro tanah dan air mampu menggunakan molekul nitrogen
dalam atmosfer sebagai sumber N. Jazad mikro ini dibagi menjadi dua kelompok
menurut cara penambatan N yang dilakukan yaitu penambatan N secara simbiotik dan
penambatan N secara non-simbiotik. Penambatan N non-simbiotik, yaitu jasad mikro
yang mampu mengubah molekul N menjadi nitrogen sel secara bebas tanpa
tergantung pada organisme hidup lainnya. Jazad mikro penambat N itu secara
enzimatis menggabungkan N atmosfer dengan unsur-unsur lain untuk membentuk
senyawa N-organik dalam sel hidup. Dalam bentuk organik ini kemudian N dilepaskan
kedalam bentuk terlambat, tersedia bagi tanaman baik secara langsung dengan
ditranslokasikan melalui xilem ke seluruh bagian tanaman atau melalui aktivitas jasad
mikro. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman
leguminose saja, tetapi mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk
semua jenis tanaman.
Penambatan N non-simbiotik dapat juga terjadi di atmosfer akibat halilintar dan
nitrogen oksida yan terbentuk oleh pembakaran mesin dapat mengalami fotokimia dan
nitrogen yang terikat dengan cara ini jatuh ke tanah bersama air hujan. Penambatan
nitrogen secara hayati yang non simbiotik dilakukan oleh jasad mikro yang hidup
bebas. Menurut Tedja Imas dkk. (1989), beberapa jasad mikro yang dapat menambat
N2 secara non simbiotik adalah Azotobacter. Bakteri ini bersifat mesofilik dan aerob
obligat dengan laju respirasi yang sangat tinggi. Dalam makalah ini akan dijelaskan
lebih lanjut mengenai fiksani nitrogen secara simbiotik dan non simbiotik.

1.2 Rumusan Masalah

1) Bagaimana mekanisme dari fiksasi nitrogen?


2) Bagaimana mekanisme fiksasi nitrogen secara simbiotik dan non simbiotik?

1.3 Tujuan
1) Mahasiswa dapat mengetahui mekanisme dari fiksasi nitrogen
2) Mahasiswa dapat menambah wawasan mengenai mekanisme fiksasi nitrogen
secara simbiotik dan non simbiotik.
II. PEMBAHASAN

2.1 Mekanisme fiksasi nitrogen


Fiksasi nitrogen adalah proses alam, biologis atau abiotik yang mengubah
nitrogen di udara menjadi ammonia (NH3). Mikroorganisme yang mem-fiksasi nitrogen
disebut diazotrof. Mikroorganisme ini memiliki enzim nitrogenaze yang dapat
menggabungkan hidrogen dan nitrogen. Reaksi untuk fiksasi nitrogen biologis ini dapat
ditulis sebagai berikut :
N2 + 8 H+ + 8 e− → 2 NH3 + H2

Mikro organisme yang melakukan fiksasi nitrogen antara lain : Cyanobacteria,


Azotobacteraceae, Rhizobia, Clostridium, dan Frankia. Selain itu ganggang hijau biru
juga dapat memfiksasi nitrogen. Beberapa tanaman yang lebih tinggi, dan beberapa
hewan (rayap), telah membentuk asosiasi (simbiosis) dengan diazotrof. Selain
dilakukan oleh mikroorganisme, fiksasi nitrogen juga terjadi pada proses non-biologis,
contohnya sambaran petir. Lebih jauh, ada empat cara yang dapat mengkonversi
unsur nitrogen di atmosfer menjadi bentuk yang lebih reaktif :
a. Fiksasi biologis: beberapa bakteri simbiotik (paling sering dikaitkan dengan tanaman
polongan) dan beberapa bakteri yang hidup bebas dapat memperbaiki nitrogen
sebagai nitrogen organik. Sebuah contoh dari bakteri pengikat nitrogen adalah
bakteri Rhizobium mutualistik, yang hidup dalam nodul akar kacang-kacangan.
Spesies ini diazotrophs. Sebuah contoh dari hidup bebas bakteri Azotobacter.
b. Industri fiksasi nitrogen : Di bawah tekanan besar, pada suhu 600 C, dan dengan
penggunaan katalis besi, nitrogen atmosfer dan hidrogen (biasanya berasal dari gas
alam atau minyak bumi) dapat dikombinasikan untuk membentuk amonia (NH3).
Dalam proses Haber-Bosch, N2 adalah diubah bersamaan dengan gas hidrogen
(H2) menjadi amonia (NH3), yang digunakan untuk membuat pupuk dan bahan
peledak.
c. Pembakaran bahan bakar fosil : mesin mobil dan pembangkit listrik termal, yang
melepaskan berbagai nitrogen oksida (NOx).
d. Proses lain: Selain itu, pembentukan NO dari N2 dan O2 karena foton dan terutama
petir, dapat memfiksasi nitrogen.
2.2 Asimilasi
Tanaman mendapatkan nitrogen dari tanah melalui absorbsi akar baik dalam
bentuk ion nitrat atau ion amonium. Sedangkan hewan memperoleh nitrogen dari
tanaman yang mereka makan.
Tanaman dapat menyerap ion nitrat atau amonium dari tanah melalui rambut
akarnya. Jika nitrat diserap, pertama-tama direduksi menjadi ion nitrit dan kemudian
ion amonium untuk dimasukkan ke dalam asam amino, asam nukleat, dan klorofil.
Pada tanaman yang memiliki hubungan mutualistik dengan rhizobia, nitrogen dapat
berasimilasi dalam bentuk ion amonium langsung dari nodul. Hewan, jamur, dan
organisme heterotrof lain mendapatkan nitrogen sebagai asam amino, nukleotida dan
molekul organik kecil.
2.2.1 Amonifikasi
Jika tumbuhan atau hewan mati, nitrogen organik diubah menjadi amonium
(NH4+) oleh bakteri dan jamur.
2.2.2 Nitrifikasi
Konversi amonium menjadi nitrat dilakukan terutama oleh bakteri yang hidup di
dalam tanah dan bakteri nitrifikasi lainnya. Tahap utama nitrifikasi, bakteri
nitrifikasi seperti spesies Nitrosomonas mengoksidasi amonium (NH4 +) dan
mengubah amonia menjadi nitrit (NO2-). Spesies bakteri lain, seperti Nitrobacter,
bertanggung jawab untuk oksidasi nitrit menjadi dari nitrat (NO3-). Proses konversi
nitrit menjadi nitrat sangat penting karena nitrit merupakan racun bagi kehidupan
tanaman.
Proses nitrifikasi dapat ditulis dengan reaksi berikut ini :

1. NH3 + CO2 + 1.5 O2 + Nitrosomonas → NO2- + H2O + H+


2. NO2- + CO2 + 0.5 O2 + Nitrobacter → NO3-
3. NH3 + O2 → NO2− + 3H+ + 2e−
4. NO2− + H2O → NO3− + 2H+ + 2e
Karena kelarutannya yang sangat tinggi, nitrat dapat memasukkan air tanah.
Peningkatan nitrat dalam air tanah merupakan masalah bagi air minum, karena nitrat
dapat mengganggu tingkat oksigen darah pada bayi dan menyebabkan sindrom
methemoglobinemia atau bayi biru. Ketika air tanah mengisi aliran sungai, nitrat yang
memperkaya air tanah dapat berkontribusi untuk eutrofikasi, sebuah proses dimana
populasi alga meledak, terutama populasi alga biru-hijau. Hal ini juga dapat
menyebabkan kematian kehidupan akuatik karena permintaan yang berlebihan untuk
oksigen. Meskipun tidak secara langsung beracun untuk ikan hidup (seperti amonia),
nitrat dapat memiliki efek tidak langsung pada ikan jika berkontribusi untuk eutrofikasi
ini.

2.2.3 Denitrifikasi
Denitrifikasi adalah proses reduksi nitrat untuk kembali menjadi gas nitrogen
(N2), untuk menyelesaikan siklus nitrogen. Proses ini dilakukan oleh spesies bakteri
seperti Pseudomonas dan Clostridium dalam kondisi anaerobik. Mereka menggunakan
nitrat sebagai akseptor elektron di tempat oksigen selama respirasi. Fakultatif anaerob
bakteri ini juga dapat hidup dalam kondisi aerobik.
Denitrifikasi umumnya berlangsung melalui beberapa kombinasi dari bentuk
peralihan sebagai berikut:
NO3− → NO2− → NO + N2O → N2 (g)

Proses denitrifikasi lengkap dapat dinyatakan sebagai reaksi redoks:


2 NO3− + 10 e− + 12 H+ → N2 + 6 H2O

2.2.4. Oksidasi Amonia Anaerobik


Dalam proses biologis, nitrit dan amonium dikonversi langsung ke elemen (N2)
gas nitrogen. Proses ini membentuk sebagian besar dari konversi nitrogen unsur di
lautan. Reduksi dalam kondisi anoxic juga dapat terjadi melalui proses yang disebut
oksidasi amonia anaerobik
NH4+ + NO2− → N2 + 2 H2O

2.3 Mekanisme Fiksasi Nitrogen Secara Simbiotik dan Non Simbiotik


Fenomena fiksasi nitrogen atmosfer dikenal sebagai diazotrofi (diazotrophy)
atau penambatan nitrogen secara biologis (biological nitrogen fixation) sehingga
mikrobia yang mampu melakukan fiksasi nitrogen disebut sebagai diazotrof
(diazotroph) atau penambat nitrogen (Yuwono. T, 2006).

Proses pengikatan nitrogen ini merupakan salah satu dari banyak proses
biokimiawi didalam tanah yang memainkan salah satu peranan penting, yaitu
mengubah nitrogen atmosfer (N2 atau nitrogen bebas) menjadi nitrogen dalam
persenyawaan (nitrogen terikat). Dua organisme terlibat dalam proses ini :
1. Mikroorganisme nonsimbiotik, yaitu yang hidup bebas dan mandiri di dalam tanah
2. Mikroorganisme simbiotik, yaitu yang hidup pada akar tanaman kacang – kacangan.
Menurut Waksman (1961), bakteri fiksasi nitrogen memerlukan sumber-sumber
energi, yang dapat diperoleh dengan kemampuannya dari senyawa-senyawa organik
karbon tertentu yang digunakannya bagi sintesa sel. Organisme ini dapat digolongkan
dengan berdasar pada basis kemampuannya untuk memanfaatkan sumber-sumber
energi yang tersedia dalam suatu persoalan non-simbiotik. Organisme-organisme
lainnya berkemampuan memperoleh karbon bagi energinya dan bagi sintesa sel dari
tanaman-tanaman yang tumbuh dan secara simbiotis. Organisme-organisme yang
hidup bebas dan memiliki kemampuan untuk memfikasasi nitrogen molekuler dapat
dibedakan menjadi organisme aerob obligat, aerob fakultatif, dan anaerob.
a. Organisme aerob obligat-fiksasi nitogen non-simbiotik. Bakteri penambat nitrogen
non simbiotik, termasuk dalam famili Azotobacteriaceae yang terdiri dari:
1. Genus Azotobacter terdiri dari empat spesies ,yaitu A. crhoococcum, A.
beijerinkii, A. vinelandii dan A. paspali.
2. Genus Azomonas terdiri dari A. agilis, A. insigne, dan A. macrocytogenese.
3. Genus Beijerinkia terdiri dari B. indica, B. mobilis, B.fluminensis dan B.derxii.
4. Genus Derxia yang terdiri dari satu spesies yaitu D.gumnosa
5. Genus Archromobacter, Bacillus, Mycobacterium, dan Arthrobacter (Hamdi,
1982).
b. Bakteri aerob fakultatif antara lain termasuk dalam genus-genus Aerobacter,
Klebseilla, dan pseudomonas.
c. Organisme anaerobik-fiksasi nitrogen non-simbiotik
1. Genus Clostridium pasteurianum, meliputi golongan tidak fermentasi tepung
tipe clostridia
2. Genus Chlorobium
3. Genus Chromatium
4. Genus Rhodomicrobium
5. Genus Rhodopseudomonas
6. Genus Rhodospirilium
7. Genus Desulfovibrio
8. Genus Methanobacterium
Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi tanah atau benih
dengan Azotobacter efektif dapat meningkatkan hasil tanaman. Di daerah-daerah
empat musim (temperate regions) jumlah nitrogen yang ditambat oleh Azotobacter
berkisar antara 10-15 kg ha (Subba-Rao, 1999). Secara umum, jumlah N yang
dihasilkan oleh kelompok bakteri ini adalah 10 kg N ha-1 tahun-1 (Tenuta, 2006).
Penambatan N2 lebih besar, yakni sekitar 46 kg N ha-1 (30% dari kebutuhan total N)
dilaporkan oleh Malik et al. (1997) pada tanaman padi yang diinokulasi dengan
inokulan campuran dari beberapa jenis bakteri penambat N2 hidup bebas dan pemacu
tumbuh tanaman, Azospirillum lipoferum N-4, Azospirillum brasilense Wb-3, Azoarcus
K-1, Pseudomonas 96-51, dan Zoogloea Ky-1 (Tabel 5). Kelima jenis bakteri tersebut,
selain mampu menambat N2 dari udara (kecuali Pseudomonas), juga mampu
memproduksi AIA, sehingga memiliki peran ganda: penyedia N dan pemacu
perkembangan tanaman.
Tabel 1. Pengaruh inokulasi bakteri penambat N2 hidup bebas terhadap biomassa padi
dan penambatan N2 pada percobaan plot mini

Penambatan N2 pada lahan sawah seperti dipublikasikan sebelum tahun 1980,


rata-rata 27 kg ha-1. Menurut Ito (1977), berdasarkan studi neraca N selama >70 tahun
diperoleh rata-rata pengkayaan N pada permukaan tanah 38,5 kg N ha-1 tahun-1 pada
plot tanpa pemupukan, dan 39,6 kg N ha-1tahun-1 pada plot yang dikapur. Roger dan
Ladha (1992) mengemukakan bahwa kandungan N pada lahan sawah irigasi, 80-110
kg N ha-1 diperoleh dari penambatan N2, air irigasi dan presipitasi, sedangkan 10-20 kg
N ha -1tertinggal di akar pada biji dan jerami.

2.3.1 Fiksasi nitrogen secara nonsimbiotik.

a) Azotobacter
Azotobacter merupakan bakteri gram negatif yang dapat memfiksasi
N2 secara bebas (non-simbiotik) dengan rata-rata fiksasi setara 20 kg
N/ha/tahun (Jnawali et al 2015). Bakteri ini tergolong bakteri yang aktif
bergerak (memiliki motilitas tinggi), dan secara visual memiliki pigmen
berwarna kuning kehijauan atau coklat (Aziez et al 2014). Chennapa et al
(2013) menyebutkan bahwa Azotobacter yang telah diisolasi dari rhizosfer
padi merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang, cyst forming,
mempunyai koloni berwarna coklat hingga kehitaman, glistening, slimy, dan
halus pada media agar Ashby’s. Uji biokimia yang dilakukan pada bakteri
ini menunjukkan bahwa bakteri ini mampu menghasilkan Indoleaccetic
acid, dan asam sitrat. Kemampuan bakteri ini dalam melakukan penambatan
N2 di udara disebabkan oleh adanya enzim nitrogenase yang dimiliki
oleh bakteri tersebut. Enzim nitrogenase di dalam Azotobacter sp. sangat
sensitif terhadap O2 yang akan menurunkan kapasitas fiksasi N2. Nosrati
(2012) menyebutkan bahwa Azotobacter sp. diketahui menggunakan dua
mekanisme untuk melindungi sistem nitrogenase terhadap keberadaan
oksigen, yaitu: (1) Respirasi yang tinggi sehingga menyebabkan jarangnya
kegiatan pemanfaatan oksigen seluler yang dapat mencegah difusi oksigen
ke dalam sel dan nitrogenase, (2) perlindungan konformasi enzim atau switch
off aktivitas nitrogenase oleh shethna atau protein FeSII. Baru-baru ini,
pembentukan alginat dianggap sebagai mekanisme perlindungan baru bagi
nitrogenase terhadap oksigen.
Jnawali et al (2015) melaporkan bahwa Azotobacter merupakan bakteri
penambat N2 bebas (free-living) yang mampu memfiksasi N2 rata-rata 20
kg N/ha/tahun. Adanya keberadaan bakteri tersebut dapat membantu
meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman serta meningkatkan
kandungan nitrogen dalam tanah melalui fiksasi N2. Pemanfaatan
Azotobacter untuk kegiatan budidaya pertanian memiliki beberapa efek yang
menguntungkan selain membantu proses fiksasi N2 diantaranya yaitu
sebagai penghasil zat pengatur tumbuh, melindungi tanaman dari patogen,
meningkatkan serapan hara tanaman, dan mampu mengurangi penggunaan
pupuk kimia sehingga dapat memperbaiki kondisi lingkungan dan
meningkatkan kesehatan tanah.

Gambar 1. Azotobacter

Jafari et al (2012) melakukan penelitian untuk mengetahui


pengaruh Azotobacter terhadap aktivitas mikrobiologi di rhizosfer dan
pertumbuhan tanaman jagung hibrida pada sistem produksi organik. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil tanaman pada
perlakuan yang diinokulasi dengan Azotobacter. Hal ini disebabkan oleh
adanya Azotobacter pada perlakuan tersebut diduga dapat merangsang
proses perkecambahan biji, ketahanan biji terhadap kondisi stress, membantu
fiksasi nitrogen, dan memproduksi fitohormon.

Singh et al (2013) melakukan penelitian aplikasi Azotobacter dan


kombinasinya dengan pupuk urea pada tanaman gandum. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kombinasi aplikasi Azotobacter dengan pupuk urea
menunjukkan berat kering tanaman dan akar gandum yang lebih tinggi
dibandingkan dengan hanya aplikasi pupuk urea atau Azotobacter secara
terpisah (Tabel 1). Hal ini disebabkan oleh adanya bantuan penambatan N2
yang dilakukan oleh Azotobacter sehingga dapat meningkatkan ketersediaan
dan serapan hara nitrogen bagi tanaman dan memperoleh hasil tanaman yang
lebih tinggi. Peneliti ini mengatakan penggunaan Azotobacter dapat
mengurangi penggunaan pupuk urea hingga 20 kg/ha dengan tanpa
mengurangi hasil dari tanaman gandum. Ilyas et al (2012) menyatakan bahwa
inokulasi 5 kg/ha Azotobacter pada lahan pertanian dapat mengurangi dosis
pemberian pupuk kimia hingga 50 kg/ha dengan peningkatan hasil tanaman
sebesar 5-10%.

Tabel 2. Pupuk hayati Azotobacter terhadap pertumbuhan tanaman gandum


pada lahan kering (Singh et al 2013)

Kemampuan penambatan N2 yang dimiliki oleh Azotobacter dapat


berasal dari enzim nitrogenase yang dihasilkan oleh bakteri tersebut, namun
enzim ini sangat sensitif terhadap keberadaan oksigen. Aktivitas nitrogenase
dalam melakukan penambatan N2 meningkat dengan semakin rendahnya
jumlah oksigen dalam sel. Nosrati et al (2012) mengatakan bahwa laju
transfer oksigen kedalam sel berkurang dengan meningkatnya konsentrasi
alginat selama proses kultur Azotobacter vinelandii. Fenomena ini memberikan
oksigen didalam sel menjadi rendah sehingga proses penambatan N2 dapat
berlangsung secara optimal. Alginat adalah keluarga kopolimer linear terdiri
dari sejumlah jumlah variabel (1-4)-β-D- asam manuronat dan epimernya
seperti asam α-L-guluronat. Alginat penting dalam berbagai aplikasi
bioteknologi dan biomedis, misalnya untuk melumpuhkan sel-sel dalam
farmasi atau sebagai menstabilkan, penebalan dan pembentuk gel dalam
produksi pangan. Berikut merupakan hasil penelitian Nosrati et al (2012) yang
menunjukkan bahwa penambatan N2 semakin meningkat dengan
meningkatnya konsentrasi alginat yang di produksi oleh bakteri tersebut
(Gambar 2).

Gambar 2. Kurva pertumbuhan (Panel A), fiksasi nitrogen (Panel B) dan produksi
alginat (Panel C) oleh A3 dan A21 isolat. Pengambilan sampel dilakukan
dalam waktu 120 jam. Setelah 96 jam, kedua strain tiba di fase stasioner
serta tingkat maksimum produksi alginat dan fiksasi nitrogen. Semua titik
data adalah sarana tiga ulangan. kesalahan standar ditunjukkan oleh bar
vertikal (Nosrati et al 2012).

b) Azospirillum sp.
Azospirillum sp. merupakan bakteri gram negatif berbentuk spiral yang dapat
memfiksasi N2 di atmosfer dan hidup berasosiasi dengan
tanaman dengan cara mengkolonisasi perakaran tanaman serta
memanfaatkan eksudat yang dikeluarkan oleh perakaran tersebut. Bakteri ini
bersifat mikroaerofilik saat ditumbuhkan dalam media bebas N (N-free
medium) dan berubah menjadi aerob saat mendapatkan nitrogen. Aktivitas
dan pertumbuhan Azospirillum sp. akan optimal pada kondisi pH yang

masam dan temperatur sekitar 32 hingga 40 oC. Bakteri ini akan tumbuh
seperti cincin tipis saat ditumbuhkan dalam media semi-solid dengan sumber
karbon dan energi yang cocok. Bakteri ini hanya mengikat nitrogen dalam
kondisi mikroaerofilik karena nitrogenase yang sensitif terhadap oksigen
(Baliah et al 2015).
Azospirillum sp. merupakan salah satu mikroorganisme pemfiksasi N2
yang paling efisien di lapangan ketika semua kondisi yang diperlukan untuk
fiksasi nitrogen secara biologis terpenuhi. Berbagai hasil penelitian terkait
inokulasi Azospirillum sp. telah menyarankan bahwa fiksasi nitrogen adalah
mekanisme utama dalam pertumbuhan tanaman. Azospirillum sp. dapat
hidup secara bebas atau dapat bersimbiosis dalam memfiksasi N2 dari
atmosfer dan mengubah N2 menjadi NH3, proses ini disebut sebagai
biological nitrogen fixation (BNF) dengan dikatalisasi oleh enzim
nitrogenase yang sensitif terhadap oksigen di dalam bakteri (Saikia et al
2012). Reaksi penambatan N2 dan perubahannya menjadi NH3 yang di
katalisasi oleh nitrogenase ditunjukkan oleh Gambar 8.

Gambar 8. Reaksi penambatan N2 oleh


nitrogenase (Saikia et al 2012).
Moghaddam et al (2012) melakukan isolasi Azospirillum dari rhizosfer
padi dan gandum. Setelah diidentifikasi terdapat dua spesies Azospirillum
yang telah diisolasi dari rhizosfer tersebut diantaranya A. lipoferum dan A.
brasilense. Kedua spesies tersebut terbukti mampu memfiksasi N2 dibawah
kondisi mikroaerofilik dan membentuk pellicle pada media semisolid.
Davaran-Hagh et al (2015) melakukan penelitian dengan
menginokulasi Azospirillum lipoferum dan berbagai konsentrasi pupuk N pada
tanaman jagung. Dosis pupuk N yang diberikan pada penelitian ini yaitu setara
dengan 150 kg N/ha dan diberikan pada beberapa konsentrasi yang berbeda
yaitu 0, 25, 50, 75, dan 100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya
pengaruh yang signifikan dari pupuk N dan inokulasi A. lipoferum pada
sebagian besar variabel (Tabel 5). Inokulasi A. lipoferum bisa menjadi
alternatif untuk mengatasi tingginya harga pupuk N, meningkatkan
kesuburan tanah dan mempertahankan dan/atau meningkatkan hasil jagung
di pertanian berkelanjutan
Tabel 3. Pengaruh A. lipoferum terhadap pertumbuhan tanaman jagung

Keterangan: Nilai dalam kolom yang sama dengan huruf yang berbeda secara
statistik berbeda (p≤0.05). B0 = tanpa inokulasi; B1 = Diinokulasi dengan
Azospirillum sp. lipoferum. N0 = kontrol; N25 = 25%; N50 = 50%; N75 = 75%;
N100 = 100% dari dosis yang dianjurkan 150 kg N/ha (Davaran-Hagh et al
2015).

Hasil penelitian pada Tabel 3 menunjukkan bahwa inokulasi A.


lipoferum (B1) secara tunggal dan kombinasinya dengan pupuk N pada
berbagai konsentrasi memiliki hasil panen, bobot 1000 benih, biological
yield, klorofil, dan protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa
diinokulasi oleh A. lipoferum (B0). Kombinasi A. lipoferum dan N75 secara
statistika memiliki hasil panen, bobot 1000 benih, biological yield, klorofil, dan
protein sama bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian dosis
pupuk N 100%. Artinya dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian
A. lipoferum dapat menghemat penggunaan dan biaya yang dikeluarkan
petani untuk membeli pupuk N hingga 25%.

Gambar 3. Azospirillum sp.

Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi tanah atau


benih dengan Azotobacter efektif dapat meningkatkan hasil tanaman. Di
daerah-daerah empat musim (temperate regions) jumlah nitrogen yang

ditambat oleh Azotobacter berkisar antara 10-15 kg ha-1 tahun-1 (Subba-Rao,


1999). Secara umum, jumlah N yang dihasilkan oleh kelompok bakteri ini

adalah 10 kg N ha-1 (Tenuta, 2006). Penambatan N lebih besar, yakni

sekitar 46 kg N ha-1 (30% dari kebutuhan total N) dilaporkan oleh Malik et al.
(1997) pada tanaman padi yang diinokulasi dengan inokulan campuran dari
beberapa jenis bakteri penambat N2 hidup bebas dan pemacu tumbuh
tanaman, Azospirillum lipoferum N-4, Azospirillum brasilense Wb-3,
Azoarcus K-1, Pseudomonas 96-51, dan Zoogloea Ky-1 (Tabel 5). Kelima
jenis bakteri tersebut, selain mampu menambat N2 dari udara (kecuali
Pseudomonas), juga mampu memproduksi AIA, sehingga memiliki peran
ganda: penyedia N dan pemacu perkembangan tanaman
Tabel 4. Pengaruh inokulasi bakteri penambat N2 hidup bebas terhadap
biomassa padi dan penambatan N2 pada percobaat plot mini.

Penambatan 2 N2 pada lahan sawah seperti dipublikasikan sebelum

tahun 1980, rata-rata 27 kg ha-1. Menurut Ito (1977), berdasarkan studi


neraca N selama >70 tahun diperoleh rata-rata pengkayaan N pada

permukaan tanah 38,5 kg N ha-1 tahun-1 pada plot tanpa pemupukan, dan

39,6 kg N ha-1 tahun-1 pada plot yang dikapur. Roger dan Ladha (1992)
mengemukakan bahwa kandungan N pada lahan sawah irigasi, 80-110 kg N

ha-1 diperoleh dari penambatan N , air irigasi dan presipitasi, sedangkan 10-

20 kg N ha-1 tertinggal di akar pada biji dan jerami.


c) Clostridium pasteurianum
Bakteri Clostridium pasteurianum memiliki peranan dalam penambatan
nitrogen dan kemampuan dalam perombakan bahan organik di dalam tanah.
Bakteri merupakan salah satu mikroorganisme yang berperan sangat penting
dalam kesuburan tanah, walaupun bentuknya yang sangat kecil bahkan tidak
kasat mata namun memberikan peranan dan pengaruh besar dalam
kesuburan tanah. Clostridium pasteurianum merupakan bakteri anaerob yang
dapat mengikat nitrogen yang hidup bebas di udara. bakteri yang mampu
mengikat [[nitrogen]] bebas dari udara dan mengubahnya menjadi suatu
senyawa yang dapat diserap oleh tumbuhan. Karena kemampuannya
mengikat nitrogen di udara, bakteri-bakteri tersebut berpengaruh terhadap nilai
ekonomi tanah pertanian. Yaitu pada proses denitrifikasi, merupakan proses
reduksi nitrat untuk kembali menjadi gas nitrogen (N2), untuk menyelesaikan
siklus nitrogen. Proses ini dilakukan oleh spesies
bakteri Clostridium pasteurianum dalam kondisi anaerobik. Mereka
menggunakan nitrat sebagai akseptor elektron di tempat oksigen selama
respirasi. Fakultatif anaerob bakteri ini juga dapat hidup dalam kondisi aerobik.
Proses denitrifikasi lengkap dapat dinyatakan sebagai reaksi redoks:
2 NO3− + 10 e− + 12 H+ → N2 + 6 H2O

Gambar 4. bakteri Clostridium pasteurianum


d) Cyanobacteria
Menurut Vessey (2003), pupuk hayati adalah substansi yang mengandung
mikroorganisme hidup yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman.
Pupuk hayati berperan dalam mempengaruhi ketersediaan unsur hara
makro dan mikro, efisiensi hara, kinerja sistem enzim, meningkatkan
metabolisme, pertumbuhan, dan hasil tanaman. Cyanobacteria digunakan
sebagai pupuk hayati yang dapat memberikan unsur hara nitrogen, fosfor,
dan kalium. Kemampuan Cyanobacteria menambat N2 dari udara bebas
mempunyai peranan untuk mempertahankan kesuburan ekosistem pada
kondisi alami lahan pertanian (Simanungkalit et al. 2006). Azolla merupakan
tanaman jenis paku air yang hidupnya bersimbiosis dengan Cyanobacteria
yang dapat memfiksasi N2 (Gunawan dan Kartina, 2012). Cyanobacteria
berhubungan dengan gimnosperm membetnuk bintil akar pada permukaan
akar tanaman (Gardner, Pearce, dan Mitchell, 2008). Peran Cyanobackteria
sebagai bakteri penambat nitrogen dan kemampuan Cyanobacteria yang
mampu menunjang nitrogen dalam tanah dan menjaga nitrogen tanah tetap
tersedia. Cyanobacteria menambat unsur hara nitrogen sekitar 20 – 40 kg N
ha-1 per musim tanam (Simanungkalit et al. 2006). Berdasarkan data
neraca N, Cyanobacteria menyumbangkan ratarata 30 kg N per ha per
musim tanam dan bila diinokulasikan pada rizosfer akan menghasilkan rata-
rata 337 kg N ha-1 (Simanungkalit et al. 2006).
2.3.2. Fiksasi nitrogen secara simbiotik

2.3.2.1 Fiksasi nitrogen secara simbiotik oleh Rhizobium

Bakteri Rhizobium secara umum termasuk golongan heterotrof yaitu sumber


energinya berasal dari oksidasi senyawa-senyawa organik seperti sukrose dan glukose
(Foyer dan Noctor, 2004; Werner dan Newton, 2005; Dakora et al., 2008; Lichtfouse,
2010). Dengan demikian, untuk mendapatkan senyawa organik tersebut, bakteri
membutuhkan tanaman inang. Bagaimana mekanisme bakteri Rhizobium menginfeksi
tanaman jenis legume sampai dengan tahun 2000-an belum diketahui dengan pasti.
Diinformasikan bahwa di daerah rizosfer, merupakan tempat ideal bagi tempat
berkumpulnya mikroba karena di daerah ini terdapat banyak jenis substrat organik
yang dikeluarkan tanaman seperti hormon, lektin dan enzim-enzim perombak senyawa
organik (Battisti et al., 1992; Singh et al., 2008). Semakin tinggi jumlah bahan organik,
populasi mikroorganisme juga semakin tinggi. Dugaan bahwa sebelum sel bakteri
menginfeksi tanaman inang didahului oleh adanya senyawa protein spesifik yang
disebut inducer yang dikeluarkan tanaman sebagai signal yang dikenal bakteri (Battisti
et al., 1992; Long, 1995; Singh et al., 2008). Selanjutnya, bakteri mengeluarkan
senyawa lipo-oligosakarida atau selanjutnya disebut nod factor. untuk perintah
pembelahan sel inang. Oleh karena itu, diduga simbiosis dapat terjadi ditentukan oleh
kecocokan masing-masing substrat yang dihasilkan (Long, 1995; Foyer dan Noctor,
2004; Werner dan Newton, 2005). Diinformasikan bahwa apabila terjadi kecocokan,
maka selanjutnya bakteri memperbanyak diri, membentuk hypa-hypa untuk melakukan
penetrasi ke dalam akar. Selanjutnya, bakteri memperbanyak diri di dalam sel akar
yang disebut bakteroid. Sel akar yang terinfeksi kemudian membengkak, membentuk
bintil-bintil, dimana struktur dalamnya, antara sel inang dan bakteroid dilapisi oleh
leghemoglobin dengan penampakan warna ungu kemerahan. Mekanisme infeksi akar
tanaman oleh mikroba ditampilkan pada gambar dibawah.
Tabel 5. Simbiosis antara spesis bakteri rhizobium sebagai tanaman inang yang
bersifat spesifik

Lintasan reaksi amonia menjadi nitrogen organik diperankan oleh aktivitas dua
jenis enzim yaitu glutamin sintetase (GS) dan glutaminamida (2-oksoglutarat
aminotransferase)- oksidoreduktase NADP (Gambar 2). Reaksi ini terjadi di dalam
sel tanaman. Di dalam sel tanaman, terdapat inti yang bertanggung jawab
terhadap terlaksananya sintesis protein. Senyawa nitrogen organik yang menjadi
dasar penyusun protein adalah gugus asam amino (Goodwin dan Mercer, 1983).
Kemampuan bakteri Rhizobium menambat nitrogen telah banyak dilaporkan.
Diperkirakan dalam setahun, bakteri ini mampu menambat N udara antara 50-600
kg/ha (Schlegel, 1994). Angka sebesar itu, jika disetarakan dengan pupuk urea
menjadi sekitar 100-1300 kg/ha.

Gambar 5 . Rumus molekul asam amino (Goodwin dan Mercer, 1983)

Formulasi biakan bakteri yang selanjutnya disebut dengan pupuk organik


adalah formulasi biakan murni bakteri Rhizobium. Fisik biakan biasanya dibuat
dalam bentuk padatan berupa tepung. Formulasi biakan murni ini telah
dikomersialkan sebagai produk industri. Di lapangan, berbagai kemasan merek
dagang untuk formulasi biakan bakteri telah umum dipasarkan. Cara pemberian
pupuk bakteri dapat disebar atau disemprotkan ke dalam tanah sebagaimana
pemberian pupuk mineral pada umumnya. Selain itu, aplikasi juga dapat dilakukan
dengan cara mencampur formulasi biakan bakteri dengan benih kedelai sebelum
ditanam. Penelitian memanfaatkan formulasi bakteri sebagai pupuk pada
beberapa jenis tanaman telah dilakukan di beberapa stasiun percobaan pertanian.
Hasil tanaman kedelai dapat ditingkatkan sebesar 25- 30 % di lahan masam
Sumatera (Noortasiah, 2005). Hasil tanaman gandum dapat ditingkatkan antara
20-40 % (Afsal dan Bano, 2008).

2.3.2.1 Fiksasi nitrogen secara simbiotik oleh Azolla pinnata

Azolla merupakan tanaman jenis paku air yang hidupnya bersimbiosis


dengan Cyanobacteria yang dapat memfiksasi N2. Tanaman ini secara tidak langsung
mampu mengikat nitrogen bebas yang ada di udara dan dengan bantuan
mikroorganisme Anabaena azollae, nitrogen bebas yang diikat dari udara akan
diubah menjadi bentuk yang tersedia bagi tumbuhan. Simbiosis ini menyebabkan
Azolla mempunyai kualitas nutrisi yang baik. Spesies ini relatif banyak pada areal
persawahan di Indonesia. Dengan memanfaatkan Azolla sebagai pupuk organik
yang memiliki kemampuan untuk menyediakan kebutuhan hara bagi tanaman,
khususnya kebutuhan akan unsur N, maka kebutuhan N bagi tanaman dapat
terpenuhi tidak hanya dari pupuk anorganik dan pada akhirnya diharapkan dapat
mengurangi konsumsi terhadap pupuk anorganik. Penggunaan Azolla sebagai
bahan pembuatan pupuk organik telah dilakukan untuk budi daya tanaman padi di
Vietnam utara. Kelebihan dari pembuatan pupuk organik ini adalah bahwa tanaman
ini cepat berkembangbiak dan memberikan hasil panen kompos hijau yang lebih tinggi
(200-300 t ha/tahun) dibandingkan tanaman pupuk hijau seperti Sesbania, Crotalaria,
dan Tephrosia yang diketahui menghasilkan 30-50 t ha/tahun (Rao, 2007)

Gambar 6. Azolla pinnata

Pada kelangsungan hidupnya, Azolla bersimbiosis dengan endofitik


Cyanobacteria yang dikenal dengan nama Anabaena azollae, simbiosis tersebut
terdapat di dalam rongga daun Azolla. Di dalam rongga daun Azolla terdapat
rambut-rambut epidermal yang berperan dalam kegiatan metabolisme Azolla dengan
Anabaena azollae. Anabaena berada pada posisi ventral lobus dorsal setiap daun
vegetatif. Endofit mengfiksasi nitrogen atmosfer dan terdapat disebelah dalam
jaringan dari paku air tersebut.

Anabaena azollae mempunyai dua macam sel, yaitu sel vegetatif dan heterosis.
Di dalam sel heterosis yang mengandung enzim nitrogenase Anabaena azollae
akan memfiksasi N2 udara melalui ATP yang berasal dari peredaran fosforilasi,
dengan enzim ini maka Anabaena azollae dapat mengubah nitrogen menjadi

ammonia (NH4+) yang selanjutnya diangkut ke inang (Azolla). Inang


menginkorporasikan hasil fiksasi N2 menjadi asam- asam amino. Jika pada daun
Azolla tidak terdapat Anabaena maka unsur N yang diserap dari air sawah bersama
fosfat tidak bisa diubah menjadi ammonia, sehingga dalam tubuh Azolla terjadi
penumpukan N. Apabila terjadi akumulasi N dalam tubuh Azolla yang melewati batas
kemampuan daya tampung N dalam tubuhnya, maka sel-sel tubuh Azolla akan
mengalami lisis akibat keracunan N, dengan adanya simbiosis antara Anabaena
dengan Azolla sehingga akan menghasilkan Anabaena azolla yang mampunyai
enzim nitrogenase sehingga mampu mengubah N2 dari udara bebas menjadi
ammonia. (Suarsana, 2011)

Gambar 7. Laju nitrifikasi N2 diudara oleh Anabaena azollae

Hubungan yang terjadi antara Azolla dengan Anabaena telah menciptakan


suatu simbiosis yang bersifat mutualisme. Simbiosis yang terjadi antara Azolla dan
Anabaena dapat memberikan keuntungan, yakni dapat melakukan fiksasi N2 di
udara. Pada asosiasi Azolla-Anabaena, proses fiksasi N2 terjadi pada simbion
Anabaena azollae, dengan sebagian besar energi berasal dari Azolla pinnata.
Nitrogen diikat oleh mikrosimbion dan diberikan kepada tanaman inang, selanjutnya
tanaman inang mengubah N tersebut dalam bentuk asam amino, hal tersebut diduga
sebagian asam amino tersebut dimanfaatkan kembali oleh simbionnya (Maftuchah
dan Winaya, 2000)

Upaya penambatan N2 diudara bergantung pada bakteri penambat N, salah


satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan cara penggunaan pupuk
organik sebagai inang bagi bakteri penambat N2 salah satunya adalah dari jenis
gangganng yaitu Azolla pinnata yang merupakan penyumbang N tertinggi pada
lahan padi sawah (Ladha dan Reddy, 1995). Teknologi pengelolaan sawah dengan
menggunaan Azolla Pinnata dilakukan dengan 3 tahapan, yaitu (1) mempertahankan
tersedianya inoculum diantara dua musim tanam, (2) penanaman untuk memperoleh
jumlah yang diharapkan dilapangan (3) penggunaan agronimis sebagai pupuk
organik. Ketiga tahap tersebut tentunya telah melewati tahap seleksi terhadap
tanaman Azolla itu sendiri.

Terdapat 3 sistem cara bertaman Azolla, yaitu: 1. Penanaman secara tunggal


yang kemudian dibenamkan kedalam sawah sebelum taam. Variasi dari metode ini
adalah menanam Azolla kemudian membenamkannya dalam kondisi kering. Metode
ini kurang memberikan dampak yang maksimal karena proses mineralisasi berjalan
lambat dan input N hanya setengah dari Azolla segar 2. Penanaman Azolla sebagai
tanaman penutup tanah, pada proses ini Azolla dibiarkan mati dan membusuk
dengan sendirinya. 3. Kombinasi antara system monocroping dan intercropping,
dengan sistem ini ketersediaan N dalam tanah untuk tanaman padi akan senantiasa
terjaga. Kelemahan pada system ini adalah membutuhkan tenaga kerja yang
banyak. Laju pembusukan Azolla dapat secara nyata memperngaruhi tanaman padi.
Ketebalan dari Azolla harus dipertimbangkan karena berkaitan dengan suhu dan C/N
ratio dalam tanah. Waktu dan metode aplikasi pembenaman Azolla kedalam tanah
berpengaruh terhadap efektifitas Azolla sebagai pupuk organik.

Pemeliharaan Azolla diantara musim tanaman merupakan masalah yang


penting bagi petani, sehingga biasanya dilakukan pembibitan dikolam atau bak-bak
terlebih dahulu. Azolla segar yang dipelihara tergantung pada musim dan sistem
bertanam petani setempat. Masalah yang dihadapi untuk tetap memelihara Azolla
sebagai bibit dalam bentuk vegetative dapat teratasi bila jumlah spora dapat
dihasilkan. Perkecambahan spora Azolla terhitung lambat dan hal ini berkaitan
dengan jadwal waktu tanam. Pada umumnya untuk mempercepat pertumbuhan
Azolla diperlukan tambahan hara P. pemeliharaan Azolla memerlukan pengeloalaan
yang terkoordinasi untuk memperoleh inoculum yang cepat di tanah sawah.
Kerapatan yang rendah dapat merangsung tumbunya tanaman pengganggu. Jumlah
inoculum yang diperlukan bervariasi mulai dari 300-500 kg per ha sampai 2-5 ton per
ha berat basah.

Di China perkecambahan dan pematangan spora memerlukan waktu


sedikitnya 1 bulan sedangkan di Philiphina spora yang ditingal dilapangan
memerlukan waktu 40-40 hari untuk dapat bertunas (Rogger dan Ladha, 1992). Di
Vietnam petani mengunakan metode half saturation dimana Azolla ditanaman pada
satu areal yang terbagi atas beberapa bagian, bila satu bagian telah tertutupi penuh
oleh Azolla, maka setengah dari biomassa tersebut akan dipindahkan ke bagian lain
yang baru. Proses tersebut terus diulangulang hinggi seluruh area tertutupi oleh
Azolla. Alternatif lain yang dapat dilakukan adalah dengan cara membenamkan
setengah dari Azolla yang dipanen (Rogger dan Ladha, 1992). Jumlah Azolla segar
sebanyak 20 ton/ha yang dibenamkan setara dengan pemberian 60 kg N dari pupuk
urea (Prihatin et al, 1980). Jumlah 20 ton/ha Azolla yang diperlukan untuk budidaya
tanaman padi tentunya memberatkan petani hal tersebut dikarenakan keterbatasan
lahan dan waktu yang dimiliki, oleh sebab itu cara yang lebih mudah adalah dengan
menanam Azolla bersamaan dengan penanaman padi di sawah. Azolla yang
dihasilkan dengan cara ini bisa mencapai 1,25 ton/ha. Azolla dapat mensubstitusi
sebagian besar kebutuhan N tanaman, meningkatkan KTK dan kandungan bahan
organik tanah.

Tabel 6. Pengaruh Azolla pinnata sp terhadap hasil tanaman padi, KTK dan
kandungan bahan organik pada tanah inseptisol Jawa Barat (Prihatin dan Komariah,
1988)
III. KESIMPULAN

1. Fiksasi nitrogen adalah proses alam, biologis atau abiotik yang mengubah
nitrogen di udara menjadi ammonia (NH3). Mikroorganisme yang mem-fiksasi
nitrogen disebut diazotrof. Mikro organisme yang melakukan fiksasi nitrogen
antara lain : Cyanobacteria, Azotobacteraceae, Rhizobia, Clostridium, dan
Frankia. Selain itu ganggang hijau biru juga dapat memfiksasi nitrogen.
Beberapa tanaman yang lebih tinggi, dan beberapa hewan (rayap), telah
membentuk asosiasi (simbiosis) dengan diazotrof. Selain dilakukan oleh
mikroorganisme, fiksasi nitrogen juga terjadi pada proses non-biologis,
contohnya sambaran petir. Lebih jauh, ada empat cara yang dapat
mengkonversi unsur nitrogen di atmosfer menjadi bentuk yang lebih reaktif :
Fiksasi biologis, industri fiksasi nitrogen, pembakaran bahan bakar fosil dan
proses lain: Selain itu, pembentukan NO dari N2 dan O2 karena foton dan
terutama petir, dapat memfiksasi nitrogen.
2. Proses pengikatan nitrogen ini merupakan salah satu dari banyak proses
biokimiawi didalam tanah yang memainkan salah satu peranan penting, yaitu
mengubah nitrogen atmosfer (N2atau nitrogen bebas) menjadi nitrogen dalam
persenyawaan (nitrogen terikat). Dua organisme terlibat dalam proses ini :
1. Mikroorganisme nonsimbiotik, yaitu yang hidup bebas dan mandiri di dalam
tanah
2. Mikroorganisme simbiotik, yaitu yang hidup pada akar tanaman kacang –
kacangan.
DAFTAR PUSTAKA

Adnyana, G. M. 2012. Mekanisme Penambatan Nitrogen Udara oleh Bakteri


Rhizobium Menginspirasi Perkembangan Teknologi Pemupukan Organik yang
Ramah Lingkungan. AGROTROP, 2(2): 145-149 (2012) ISSN: 2088-155X.
Dakora, F.D., S.B.M. Chimpango; A.J. Valentine, C. Elmerich, and W.E. Newton. 2008.
Biological Nitrogen Fixation: Towards Poverty Alleviation through Sustainable
Agriculture.
Fitter, A.H. and R.K.M. Hay. 1987. Environmental Physiology of Plants. Second
Edition. London: Academic Press.
Foyer, C.H. and G. Noctor. 2004. Photosynthetic Nitrogen Assimilation and Associated
Carbon and Respiratory Metabolism. London. Kluwer Academic Publisher.
Gita Maiza. 2012. Fiksasi N. https://www.scribd.com/doc/91904989/fiksasi-N. Diakses
29 Maret 2019
Goodwin, T.W. and E.I. Mercer. 1983. Introduction to Plant Biochemistry. Second
Edition. Oxford: Pergamon Press.
Justa, N. S. 2016. Penambat Nitrogen (N) Non-Simbiotik.
http://www.academia.edu/27156502/PENAMBAT_NITROGEN_N_NON-
SIMBIOTIK_MAKALAH_BIOTEKNOLOGI_. Diakses 4 April 2019.
Ladha, J.K and P.M. Reddy. 1995. Extention of Nitrogen Fixation of Rice: Necessity
and Posibilities.Geojurnal. 35:363-372
Ladha, J.K., A. Tirol-Padre, C.K. Reddy. And W. Ventura. 1993. Prospect and Problem
of Biologycal Nitrogen. In Rice Production: a critical assasment. In Pallacios.
R., Mora J., Newton W.E editors. New Horizon in Nitrogen Fixation.
Dordrecht (Netherlands): Kluwer Academic Publisher. p.677-682
Lawn, R.J. Some physiological processes and plant growth. In Matheson, E.M., J.V.
Lovett, G.J. Blair and R.J. Lawn (eds.) 1975. Annual Crop Production.
Brisbane: academy Press.
Lichtfouse, E. 2010. Sustainable Agriculture Reviews 3. Sociology, Organic Farming,
Climate Change, and Soil Science. Netherlands.
Maftuchah dan Winaya, A. 2000. Komposisi Media Tumbuh Untuk Asosiasi Azolla-
Anabaena azollae. Vol.7, No.1, Hal 1-5. Pusat Bioteknologi Pertanian,
Universitas Muhammadiyah Malang.
Netherland. Dart, P.J. 1977. Host-symbiont relationships in nodule development and
nitrogen fixation. In Ayanaba, A. and P.J. Dart (eds). 1977. Biological Nitrogen
Fixation in Farming Systems of the Tropics. New York: John Wiley and Sons.
Noortasiah, 2005. Pemanfaatan Bakteri Rhizobium pada tanaman kedelai di lahan
lebak. Buletin Teknik Pertanian, 10 (2): 57-60.
Nosa, T. P Dan Indah A. 2016. Tugas Mata Kuliah Teknologi Pupuk Hayati (Tsl 646)
Pemanfaatan Azotobacter Dan Azospirillum Sebagai Pupuk Hayati Untuk
Mendukung Pertanian Berkelanjutan. Program Studi Bioteknologi Tanah Dan
Lingkungan. Fakultas Pertanian Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian
Bogor
Okon, J., Sarig, S., and Blum A. 1989. Promotor of Roots Growth on Sorgum bicolor
Inoculated with Azospirilum braziliens. P. 196-200.
Pelczar, Michael J dan Chan, E. C. S. 1998. Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid II. Jakarta:
UI Press.
Prihatin T., S. Brotonegoro., S. Abdulkadir, dan Harmastini. 1980. Pengaruh
Pemberian Azolla pinnata Terhadap Produksi Tanaman Padi IR-36 Pada
Tanah Latosol Cibinong. hal 75-82. dalam Pross. No.1/pen. Tanah Cipayung
7-10 Oktober, Pusat Penelitian Tanah. Bogor.
Prihatin, T dan S. Komariah. 1988. Pemanfaatan Azolla spp. dalam budidaya Padi
Sawah. hlm 217227 dalam Prossiding Pertemuan Teknis Penelitian Tanah.
Pusat Penelitian Tanah dan Agrokloimat. Bogor.
Purwaningsih, S. 2005. Rhizobium dari tanah kebun biologi Wamena. Biodiversitas.
6(2): 82-84.
Quispel, A. 1974. General Introduction. pp. 1-8 in The Biology of Nitrogen Fixation,
Nort-Holland. Res, Monographs. Vol. 33 (Cited from Kawaguci. K. ED). 1987.
Paddy Soil Science. Kodansha. Tokyo in Japaness.
Rao, S. 2007. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Penerbit
Universitas Indonesia. Jakarta.
Roger, P.A and I. Watanabe. 1986. Technologies for Utilizing Biological Nitrogen
Fixation in Wetland Rice: potentialities, current usage, & limiting
factors.Fertilizer Research.9:39-77.
Roger, P.A and J.K Ladha. 1992. Biological N2 Fixation in Wetland Rice Field:
estimation and contribution to Nitrogen Balance. Plant Soil 141: 41-55.
Roger, P.A and S.A. Kulasaooriya. 1980. Blue-Green Algae and Rice. International
Research Rice od Institute. Los Banos.
Saifuddin Sarif. 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana:
Bandung
Schlegel, H.G. 1994. Mikrobiologi Umum (diterjemahkan oleh R.M. Tedjo Baskoro).
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Singh, B., R. Kaur, and K. Singh. 2008. Characterization of Rhizobium Strain Isolated
from the Roots of Trigonella foenumgraecum (fenugreek). African Journal of
Biotechnology. 7 (20): 3671- 3676.
Springer. Long, S.R. 1996. Rhizobium Symbiosis: Nod Factors in Perspective. The
Plant Cell. Vol 8: 1895-1898. Lovett, J.V. Climate and plant growth. In
Matheson, E.M., J.V. Lovett, G.J. Blair and R.J. Lawn (eds.) 1975. Annual
Crop Production. Brisbane: academy Press.
Suarsana, M. 2011. Habitat dan Niche Paku Air Tawar (Azolla pinnata Linn.) (Suatu
Kajian Komponen Penyusun Ekosistem). Vol.11, No. 2. Fakultas Pertanian
UNIPAS Singaraja. Medan.
Sudjana, B. 2014. Pengunaan Azolla Untuk Pertanian Berkelanjutan . Jurnal Ilmiah
Solusi Vol. 1 No. 2 April-Juni 2014: 72-81
Sullivan, P. 2003. Applying the Principles of Sustainable Farming. Fundamental of
Sustainable Agriculture. ATTRA.
Werner, D. and W.E. Newton. 2005. Nitrogen Fixation in Agriculture, Forestry, Ecology
and the Environment. Netherlands. Springer.
Yuwono. T. 2006. Kecepatan dekomposisi dan Kualitas Kompos Sampah Organik.
Jurnal Inovasi Pertanian Vol 4. 29 Maret 2019.

Anda mungkin juga menyukai