Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS

DOKTER INTERNSHIP

Bronkopneumonia

Disusun Oleh :
Nama : dr. Vanya Genevieve Orapau
Wahana : RST Wirasakti Kupang
Periode : Februari 2018 – Februari 2019

Dokter Pendamping :
dr. Stephanie Hellen Hartoyo
dr. Cyrilus Clive Steward Susilo

Konsulen :
dr. Woro Indri Padmosiwi Purba, Sp.A

RUMAH SAKIT Tk. IV WIRASAKTI


KOTA KUPANG
2018
Laporan Kasus Bronkopneumonia | 0
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. AA Alamat : Alak
Tanggal Lahir : 7 Agustus 2016 No. Rekam Medis : 060516
Jenis Kelamin : Laki-laki Tanggal MRS : 5 September 2018
Agama : Kristen

II. IDENTITAS ORANG TUA


Nama Ayah : Tn. Y Nama Ibu : Ny. D
Usia : 37 tahun Usia : 32 tahun
Pendidikan Terakhir : S1 Pendidikan Terakhir : S1
Pekerjaan : PNS Pekerjaan : Guru

III. ANAMNESIS
Diambil dari alloanamnesis (ayah dan ibu kandung pasien) pada tanggal 5 September 2018 pkl
14:30 WITA.
Keluhan Utama : Sesak sejak 1 hari yang lalu.
Keluhan Tambahan : Demam, batuk dan pilek sejak 5 hari yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan sesak sejak 1 hari SMRS. Ibu pasien mengatakan sebelumnya
pasien sempat batuk dan pilek sejak 5 hari SMRS. Ibu pasien mengatakan batuk berdahak
berwarna kuning kehijauan disertai dengan pilek ingus kental. Selain itu, pasien juga demam
sejak 4 hari SMRS. Demam dirasakan sepanjang hari, naik dan turun apabila meminum
parasetamol. Ibu pasien juga mengatakan tidak terdapat adanya mimisan, bab berdarah, mual dan
muntah.
Empat hari yang lalu, pasien sudah berobat ke puskesmas terdekat dan telah diberikan obat
parasetamol yang diminum 3x1 sendok teh dan puyer batuk pilek 3x1. Satu hari SMRS, ibu
pasien mengatakan pasien tampak sesak sehingga pasien dibawa berobat ke puskesmas dan saat
itu dilakukan tindakan nebulisasi dan pemberian obat yang sama namun keluhan tidak membaik.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Sebelumnya OS pernah menderita tb paru pada usia 7 bulan dan telah menuntaskan
pengobatannya selama 6 bulan. Pasien juga tidak mempunyai riwayat asma dan alergi.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Menurut ibu pasien, anggota keluarga pasien di rumah banyak yang menderita batuk lama namun
tidak pernah berobat. Riwayat asma pada keluarga disangkal.

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 1


Riwayat Sosial Personal dan Lingkungan :
Pasien merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ibu pasien mengatakan anaknya aktif dan
makan 3x sehari. Ayah pasien tidak mengkonsumsi rokok.
Riwayat Kelahiran :
a. Kehamilan :
Ibu pasien mengatakan saat hamil rutin kontrol di bidan puskesmas.
b. Kelahiran
Tempat Kelahiran : Rumah Sakit
Penolong Persalinan : Bidan
Cara Persalinan : Pervaginam
Masa Gestasi : Cukup Bulan
c. Keadaan Bayi
Langsung Menangis : +
BBL : Tidak diketahui
PB : Tidak diketahui
Lingkar Kepala : Tidak diketahui
Pucat/biru/kuning : Tidak ada
Kelaianan Bawaan : Tidak ada
Riwayat Imunisasi :
Ibu pasien mengatakan pasien rutin imunisasi di puskesmas setempat dikarenakan
kepengetahuan orang tua tentang pentingnya imunisasi.

IV. PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 5 September 2018 pkl 14:30 WITA.
Pemeriksaan Umum :
Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran: Compos Mentis
Tanda-tanda Vital :
a. HR : 139 x/menit
b. RR : 28 x/menit (SpO2 : 96%)
c. T : 38,7oC
Antropometri :
a. BB : 9 Kg
b. TB : 73 cm
c. Status Gizi : Baik

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 2


Pemeriksaan Fisik :
a. Kepala : Normocephali, warna rambut hitam
b. Mata : CA -/-, SI -/-, Cekung -/-
c. Telinga : Bentuk normal, liang telinga lapang, pembesaran KGB preaurikular dan
retroaurikular (-)
d. Hidung : Bentuk normal, sekret (-)
e. Tenggorokan : Tonsil T1-T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis, uvula di tengah
f. Mulut : Bibir normal, kering (-)
g. Leher : Tidak teraba pembesaran KGB.
h. Thorax :
Inspeksi : Tidak tampak adanya lesi kulit, bekas luka operasi, retraksi sela iga -/+
Palpasi : sela iga normal tidak menyempit ataupun melebar, tidak teraba massa
Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi :
Pulmo : suara napas bronkovesikuler +/+, rhonki basah halus -/+, wheezing -/-
Cor : Bunyi Jantung I-II murni reguler, murmur (-), gallop (-)
i. Abdomen : datar, supel, turgor kulit baik, tidak teraba pembesaran organ seperti hepar dan
lien, bising usus (+) normal.
j. Ekstremitas : akral hangat, capillary refill time ≤ 2 detik.

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium :
Pemeriksaan Hasil Satuan Rujukan
WBC 17.6 103/µl 5.00-10.00
LYM 3.1 103/µl 1.30-4.00
MID 3.5 103/µl 0.16-0.70
GRA 11.0 103/µl 2.50-7.50
LYM% 17.8 % 25.0-40.0
MID% 19.9 % 3.00-7.00
GRA% 62.3 % 50.0-75.0
RBC 4.90 106/µl 4.00-5.50
HGB 10.3 g/dl 12.0-17.4
HCT 34.0 % 36.0-52.0
MCV 69.4 Fl 76.0-96.0

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 3


MCH 21.0 Pg 27.0-32.0
MCHC 30.2 g/dl 30.0-35.0
RDWc 17.0 %
RDWs 40.9 Fl 20-42
PLT 353 103/µl 150-400
PCV 0.275 %
MPV 7.8 Fl 8.00-15.0
PDWc 15.6 %
LED 18 mm/jam L : 0-10
P : 0-20

Pemeriksaan Rontgen Toraks Posisi AP/Lat :

Tampak infiltrat hampir di seluruh lapang paru.

VI. RESUME
An. AA berusia 2 tahun 1 bulan datang dengan keluhan sesak sejak 1 hari SMRS. Ibu pasien
mengatakan sebelumnya pasien sempat batuk dan pilek sejak 5 hari SMRS. Batuk berdahak
berwarna kuning kehijauan disertai dengan pilek ingus kental. Selain itu, pasien juga demam
sejak 4 hari SMRS. Demam dirasakan sepanjang hari, naik dan turun apabila meminum
parasetamol. Sebelumnya pasien sudah pernah berobat ke Puskesmas tapi keluhan tidak
membaik.
Pada pemeriksaan fisik dijumpai suhu 38,7oC, SpO2 : 96%, pada inspeksi toraks didapatkan
adanya retraksi sela iga -/+ dan pada auskultasi terdengar adanya rhonki basah halus -/+. Pada
pemeriksaan laboratorium dijumpai adanya leukositosis (17.600/µl) dan pada pemeriksaan
rontgen toraks tampak infiltrat hampir di seluruh lapangan paru.

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 4


VII. DIAGNSOSIS
WD/ Bronkopneumonia
DD/ Bronkiolitis, Tb Paru

VIII. TERAPI
a. O2 2 lpm
b. IVFD D5 1⁄4 NS 900 cc/24 jam
c. Pamol supp 125 mg / perrektal
d. Parasetamol sirup 3x1 cth / PO
e. Pulvis bapil 3x1 pulv / PO

IX. FOLLOW UP
1. Tanggal 5 September 2018 Pkl 18:00 WITA.
S : Pasien batuk berdahak, dahak berwarna kuning kehijauan dan pilek ingus kental. Demam
sudah mulai turun dan sesak mulai berkurang. Anak tampak lemas, tidak mau makan dan
minum. Mual (-), muntah (-), BAK dan BAB normal.
O : KU : Tampak Sakit Sedang. HR : 110 x/menit. RR : 26 x/menit.
Kesadaran : Compos Mentis. T : 37,9oC.
Mata : CA -/-, SI -/-, Cekung -/-.
Pulmo : Vesikuler +/+, rhonki -/+, wheezing -/-, retraksi sela iga -/+.
Cor : Bunyi Jantung I-II murni reguler, murmur (-), gallop (-).
Abdomen : Datar, supel, BU (+) normal.
Ekstremitas : Akral hangat, CRT ≤ 2 detik.
A : Bronkopneumonia
P : Terapi dari dr.Woro, Sp.A : Injeksi Cefotaxime 2x400 mg / IV, nebulisasi 2x1 (Combivent
1⁄ ampul : NaCl 0,9% 5 cc), lanjutkan pulvis batuk, lanjutkan parasetamol bila demam.
2
2. Tanggal 6 September 2018 Pkl 17:45 WITA.
S : Pasien masih batuk berdahak, dahak berwarna kuning kehijauan dan pilek ingus kental
berwarna kuning kehijauan. Pasien sudah tidak demam dan sesak sejak semalam. anak
tampak lemas dan masih tidak mau makan. Mual (-), muntah (-), BAK dan BAB normal.
O : KU : Tampak Sakit Sedang. HR : 100 x/menit. RR : 24 x/menit.
Kesadaran : Compos Mentis. T : 36,9oC.
Mata : CA -/-, SI -/-, Cekung -/-.
Pulmo : Vesikuler +/+, rhonki -/+, wheezing -/-, retraksi sela iga -/+.
Cor : Bunyi Jantung I-II murni reguler, murmur (-), gallop (-).
Laporan Kasus Bronkopneumonia | 5
Abdomen : Datar, supel, BU (+) normal.
Ekstremitas : Akral hangat, CRT ≤ 2 detik.
A : Bronkopneumonia
P : Terapi Lanjut
3. Tanggal 7 September 2018 Pkl 18:20 WITA.
S : Pasien masih batuk berdahak, dahak berwarna kuning kehijauan dan sudah tidak pilek.
Anak sudah mulai aktif namun masih susah untuk makan. Demam (-), sesak (-), mual (-),
muntah (-), BAK dan BAB normal.
O : KU : Baik. HR : 100 x/menit. RR : 20 x/menit.
Kesadaran : Compos Mentis. T : 36,8oC.
Mata : CA -/-, SI -/-, Cekung -/-.
Pulmo : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-, retraksi sela iga -/-.
Cor : Bunyi Jantung I-II murni reguler, murmur (-), gallop (-).
Abdomen : Datar, supel, BU (+) normal.
Ekstremitas : Akral hangat, CRT ≤ 2 detik.
A : Bronkopneumonia
P : Terapi Lanjut
4. Tanggal 8 September 2018 Pkl 17:00 WITA.
S : Anak aktif, makan dan minum sudah mau. Batuk (-), pilek (-), demam (-), sesak (-), mual
(-), muntah (-), BAK dan BAB normal.
O : KU : Tampak Sakit Sedang. HR : 100 x/menit. RR : 20 x/menit.
Kesadaran : Compos Mentis. T : 37,0oC.
Mata : CA -/-, SI -/-, Cekung -/-.
Pulmo : Vesikuler +/+, rhonki -/+, wheezing -/-, retraksi sela iga -/+.
Cor : Bunyi Jantung I-II murni reguler, murmur (-), gallop (-).
Abdomen : Datar, supel, BU (+) normal.
Ekstremitas : Akral hangat, CRT ≤ 2 detik.
A : Bronkopneumonia
P : Boleh pulang, obat pulang : Cefadroxyl syrup 2x5 ml, rencana kontrol tgl.

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 6


BAB I
PENDAHULUAN

Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu peradangan pada parenkim
paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya,
yang sering menimpa anak-anak dan balita, yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti
bakteri, virus, jamur dan benda asing.
Bronkopneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang melibatkan bronkus atau
bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk bercak-bercak (patchy distribution). Pneumonia
merupakan penyakit peradangan akut pada paru yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme dan
sebagian kecil disebabkan oleh penyebab non-infeksi yang akan menimbulkan konsolidasi jaringan
paru dan gangguan pertukaran gas setempat.
Prevalensi bronkopneumonia di negara berkembang yaitu 30-45 % per 1000 anak di bawah
usia 5 tahun, 16-22 % per 1000 anak pada usia 5-9 tahun, dan 7-16 % per 1000 anak pada usia di atas
9 tahun.

1.1. ANATOMI
Struktur tubuh yang berperan dalam sistem pernapasan :
a. Saluran pernapasan bagian atas, antara lain :
- Hidung (Nasal)
Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai dua lubang (cavum
nasi). Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu, dan
kotoran yang masuk ke dalam lubang hidung. Bagian-bagian hidung terdiri dari bagian
luar dinding hidung, lapisan tengah yang terdiri dari otot dan tulang rawan, dan juga
lapisan dalam yang terdiri dari selaput lendir yang berlipat-lipat dinamakan konka
nasalis yang berjumlah tiga buah yakni konka nasalis inferior, konka nasalis media,
konka nasalis superior. Konka ini terdiri dari tiga buah lekukan yakni meatus superior,
meatus mediais, meatus inferior. Meatus tersebut yang dilewati oleh udara pernapasan
sebelah dalam berhubungan dengan koana. Dasar dari rongga hidung adalah tulang
rahang atas, keatas rongga hidung berhubungan dengan beberapa rongga yang disebut
sinus paranasalis yakni sinus maksilaris, sinus frontalis, sinus sphenoidalis dan sinus
etmoidalis.
Pada hidung dibagian mukosa terdapat serabut-serabut saraf atau reseptor dari saraf
penciuman disebut nervus olfaktorius. Disebelah belakang konka bagian kiri, kanan
dan sebelah atas langit-langit terdapat satu lubang pembuluh yang menghubungkan

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 7


rongga faring dan pendengaran tengah, saluran ini disebut tuba eustachius yang
menghubungkan telinga tengah dengan faring dan laring. Fungsi dari hidung adalah
seperti sebagai penyaring udara pernapasan yang dilakukan oleh bulu hidung,
menghangatkan udara pernapasan, membunuh kuman-kuman yang masuk bersama
udara pernapasan oleh leukosit yang terdapat alam selapus lendir.
- Faring
Faring merupakan tempat persimpangan atara jalan pernapasan dan jalan makanan.
Hubungan faring dengan organ-organ lain adalah yakni ke atas berhubungan dengan
rongga hidung dengan perantaraan koana, ke depan berhubungan dengan rongga mulut,
ke bawah terdapat dua lubang, ke depat terdapat lubang laring, ke elakang berhubungan
dengan esofagus. Dibawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga beberapa tempat
terdapat folikel getah bening. Rongga faring dibagi menjadi tiga bagian yakni bagian
atas yang sama tingginya dengan koana disebut nasofaring, bagian tengah yang sama
tinggi dengan istmus fausium disebut orofaring, dan bagian bawah yang disebut
laringofaring.
- Laring
Laring terletak di depan bagian terendah faring yang memisahkannya dari kolumna
vertebra, berjalan dari faring sampai ketinggian vertebra servikalis. Laring terdiri dari
tulang rawan yang diikat bersama oleh ligamen. Yang terbesar diantaranya adalh tulang
rawan tiroid, dan disebelah depannya terdapat benjolan subkutaneus yang dikenal
sebagai jakun yaitu disebelah depan leher. Tulang rawan krikoid terletak dibawah
tiroid. Tulang rawan lainnyaa adalah kedua tulang rawan artenoid yang menjulang
disebelah krikoid, kanan dan kiri tulang rawan kuneiform dan tulang rawan kornikulata
yang sangat kecil. Pita suara terdapat di dalam laring, berjalan dari tulang rawan tiroid
disebelah depan sampai di kedua tulang rawan aritenoid. Dengan gerakan dari tulang
raan aritenoid yang ditimbulkan oleh otot laringeal, pita suara ditegangkan atau
dikendurkan. Dengan demikian lebar sela-sela antara pita-pita atau rima glotis berubah
sewaktu bernafas dan berbicara. Suara dihasilkan karena getaran pita yang disebabkan
udara yang melalui glottis. Berbagai otot yang terkait pada laring mengendalikan suara,
dan juga menutup lubang atas laring sewaktu menelan.
b. Saluran pernapasan bagian bawah :
- Trakea
Trakea mempunyai panjang yakni sekitar 9 cm. Trakea berjalan dari laring sampai
kira-kira setinga vertebra torakalis kelima dan ditempat ini bercabang menjadi 2
bronkus. Trakea tersusun atas 16-20 lingkaran tak lengkat berupa cincin tulang rawan

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 8


yang diikat bersama oleh jaringan fibrosadan yang melengkapi lingkaran di sebelah
belakang trakea, selain itu juga memuat berupa jaringan otot. Trakea dilapisi oleh
selaput lendir yang terdiri dari epitelium bersilia dan sel cangkir. Silia ini akan
bergerak menuju ke atas laring, maka dengan gerakan ini debu dan butir halus lainnya
yang masuk bersama saat bernapas akan dapat dikeluarkan. Tulang rawan berfungsi
mempertahankan trakea tetap terbuka karena itu, di sebelah belakangnya tidak
tersambung, yakni trakea menempel pada esofagus yang memisahkannya dari tulang
berlakang.
- Bronkus
Bronkus merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian
vertebra torakalis keempat dan kelima mempunyai struktur serupa dengan trakea dan
dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus berjalan kebawah dan kesamping. Bronkus
kanan lebih pendek dan lebih besar dari bronkus kiri sedangkan bronkus kiri lebih
panjang dan lebih ramping dibandingkan bronkus kanan. Bronkus bercabang-cabang
dan cabang yang paling kecil disebut bronkiolus. Pada bronkioli terdapat alveoli.
- Paru-paru
Paru-paru merupakan alat pernapasan utama, paru-paru mengisi ringga dada. Paru-
paru ada 2 bagian terletak di sebelah kanan dan kiri yang dipisahkan oleh jantung
beserta pembuluh darah besarnya dan struktur lainnya yang terletak dalam
mediatsinum. Paru-paru adalh organ berbentuk kerucut dengan apeks diatas dan
muncul sedikit lebih tinggi daripada klavikula di dalam dasar leher.
Paru kanan dibagi menjadi tiga lobus dan paru kiri dibagi menjadi dua lobus. Lobus-
lobus tersebut dibagi lagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen bronkusnya.
Tiap-tiap segmen masih terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang bernama lobules.
Didalam lobulus, bronkiolus ini bercabang-cabang banyak sekali, cabang ini disebut
duktus alveolus. Tiap duktus alveolus berakhir pada alveolus yang diameternya antara
0,2- 0,3 mm.
Letak paru dirongga dada di bungkus oleh selaput tipis yang bernama selaput pleura.
Pleura dibagi menjadi dua yakni pleura visceral (selaput dada pembungkus) yaitu
selaput paru yang langsung membungkus paru dan pleura parietal yaitu selaput yang
melapisi rongga dada sebelah luar. Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum)
yang disebut kavum pleura. Pada keadaan normal, kavum pleura ini vakum (hampa
udara) sehingga paru dapat berkembang kempis dan juga terdapat sedikit cairan
(eksudat) yang berguna untuk meminyaki permukaannya (pleura), menghindarkan
gesekan antara paru dan dinding sewaktu ada gerakan bernafas. Tekanan dalam rongga

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 9


pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir, sehingga mencegah kolaps paru kalau
terserang penyakit, pleura mengalami peradangan, atau udara atau cairan masuk ke
dalam rongga pleura, menyebabkan paru tertekan atau kolaps.
1.2. FISIOLOGI
Fungsi paru adalah pertukaran gas oksigen dan karbondioksida. Pada pernapasan melalui
paru-paru atau pernapasan eksterna, oksigen diambil melalui hidung dan mulut saat bernapas, lalu
masuk melalui trakea dan bronkus lalu menujuk bronkiolus dan alveolus dan dapat berhubungan
erat dengan darah didalam kapiler pulmonaris.
Hanya satu lapis membran yakni membran alveoli kapiler yang memisahkan oksigen dan darah.
Oksigen akan menembus membran ini dan diambil oleh hemoglobin sel darah merah dan dibawa
ke jantung. Dari sini di pompa di dalam arteri ke seluruh bagian tubuh. Darah meninggalkan paru
pada tekanan oksigen 100 mmHg dan pada tingkat ini hemoglobinnya 95% jenuh oksigen. Di
dalam paru, karbondioksida merupakan salah satu hasil buangan metabolisme menembus
membran alveolar-kapiler dan kapiler darah ke alveoli dan setelah melalui pipa bronkial dan
trakea, di napaskan keluar melalui hidung dan mulut. Empat proses yang berhubungan dengan
pernapasan pulmoner adalah :
a. Ventilai pulmoner atau gerak pernapasan yang menukar udara dalam alveoli darah melalui
paru
b. Arus darah melalui paru-paru
c. Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian sehingga dalam jumlah tepat dapat mencapai
semua bagain tubuh
d. Difusi gas menembus membran pemisah alveoli dan kapiler, CO2 lebih mudah berdifusi
dibandingkan dengan oksigen
Semua proses diatas diatur sedemikian sehingga darah yang meninggalkan paru-paru menerima
jumlah karbonsioksida dan oksigen yang tepat.

Gambar 1. Sistem Pernapasan

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 10


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. DEFINISI
Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu peradangan pada parenkim
paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus
disekitarnya, yang sering menimpa anak-anak dan balita, yang disebabkan oleh bermacam-macam
etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing.

2.2. EPIDEMIOLOGI
Bronkopneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak berusia di
bawah 5 tahun (balita). Diperkirakan hampir seperlima kematian anak diseluruh dunia, kurang
lebih 2 juta anak balita meninggal setiap tahun akibat pneumonia, sebagian besar terjadi di Afrika
dan Asia Tenggara. Insiden pneumonia di negara berkembang yaitu 30-45% per 1000 anak di
bawah usia 5 tahun, 16-22% per 1000 anak pada usia 5-9 tahun, dan 7-16% per 1000 anak pada
yang lebih tua.
Infeksi saluran napas bawah masih tetap merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan,
baik di negara yang sedang berkembang hampir 30% pada anak-anak di bawah umur 5 tahun
dengan resiko kematian yang tinggi. Berdasarkan survei demografi kesehatan Indonesia
prevalensi pneumonia balita di Indonesia meningkat dari 7,6% pada tahun 2002 menjadi 11,2%
pada tahun 2007. Penyebab utama virus pneumonia pada anak adalah Respiratory Syncytial Virus
(RSV) yang mencakup 15-40% kasus diikuti virus inflamasi A dan B, parainfluenza, human
metapneumovirus dan adenovirus.

2.3. ETIOLOGI
Sebagian besar penyebab bronkopneumonia adalah mikroorganisme (virus, bakteri, jamur) dan
sebgaian kecil oleh penyebab lain seperti hidrokarbon (minyak tanah, bensin atau sejenisnya) dan
masuknya makanan, minuman, susu, isi lambung ke dalam saluran pernapasan (aspirasi).
Berbagai penyebab bronkopneumonia tersebut dikelompokkan berdasarkan golongan umur, berat
ringannya penyakit dan penyulit yang menyertainya (komplikasi). Mikroorganisme tersering
penyebab bronkopneumonia adalah virus dan bakteri yakni Diplococcus pneuomoniae,
Streptococcus pneumoniae, virus influenza. Awalnya mikroorganisme masuk melalui percikan
ludah (droplet), kemudian terjadi penyebaran mikroorganisme dari saluran napas bagian atas ke
jaringan (parenkim) paru dan sebagian kecil karena penyebaran melalui aliran darah.

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 11


Penyebab bronkopneumonia yang biasa dijumpai adalah :
a. Faktor Infeksi :
Pada neonatus: Streptokokus group B, Respiratory Sincytial Virus (RSV).
Pada bayi : Virus: Virus parainfluensa, virus influenza, Adenovirus, RSV, Cytomegalovirus.
Organisme atipikal: Chlamidia trachomatis, Pneumocytis.
Pada anak-anak yaitu virus: Parainfluensa, Influensa Virus, Adenovirus, RSV. Organisme
atipikal: Mycoplasma pneumonia. Bakteri: Pneumokokus, Mycobakterium tuberculosi.
Pada anak besar hingga dewasa muda, Organisme atipikal: Mycoplasma pneumonia, C.
trachomatis. Bakteri: Pneumokokus, Bordetella pertusis, M. tuberculosis.
b. Faktor Non Infeksi :
Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks esophagus meliputi: Bronkopneumonia
hidrokarbon yang terjadi oleh karena aspirasi selama penelanan muntah atau sonde lambung
(zat hidrokarbon seperti pelitur, minyak tanah dan bensin). Bronkopneumonia lipoid biasa
terjadi akibat pemasukan obat yang mengandung minyak secara intranasal, termasuk jeli
petroleum. Setiap keadaan yang mengganggu mekanisme menelan seperti palatoskizis,
pemberian makanan dengan posisi horizontal, atau pemaksaan pemberian makanan seperti
minyak ikan pada anak yang sedang menangis. Keparahan penyakit tergantung pada jenis
minyak yang terinhalasi. Jenis minyak binatang yang mengandung asam lemak.

2.4. PATOGENESIS
Saluran pernapasan steril dari daerah sublaring sampai parenkim paru. Paru-paru dilindungi
dari infeksi bakteri melalui mekanisme pertahanan anatomis dan mekanis, dan faktor imun lokal
dan sistemik. Mekanisme pertahanan awal berupa filtrasi bulu hidung, refleks batuk dan
mukosilier aparatus. Mekanisme pertahanan lanjut berupa sekresi IgA lokal dan respon inflamasi
yang diperantarai leukosit, komplemen, sitokin, imunoglobulin, makrofag alveolar, dan imunitas
yang diperantarai sel.
Infeksi paru terjadi bila satu atau lebih mekanisme di atas terganggu, atau bila virulensi
organisme bertambah. Agen infeksius masuk ke saluran nafas bagian bawah melalui inhalasi atau
aspirasi flora komensal dari saluran nafas bagian atas, dan jarang melalui hematogen. Virus dapat
meningkatkan kemungkinan terjangkitnya infeksi saluran nafas bagian bawah dengan
mempengaruhi mekanisme pembersihan dan respon imun. Diperkirakan sekitar 25-75 % anak
dengan pneumonia bakteri didahului dengan infeksi virus.

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 12


Secara patologis, terdapat 4 stadium pneumonia, yaitu :
a. Stadium I (4-12 jam pertama atau stadium kongesti)
Yaitu hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung pada
daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan peningkatan aliran darah dan
permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-
mediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan ceder jaringan.
b. Stadium II (48 jam berikutnya)
Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah, eksudat
dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu (host) sebagai bagian dari reaksi peradangan.
Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit dan
cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar, pada stadium
ini udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan bertambah sesak,
stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48 jam.
c. Stadium III (3-8 hari berikutnya)
Disebut hepatisasi kelabu, yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi
daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah
yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai
diresorbsi, lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi
pucat kelabu dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti.
d. Stadium IV (7-11 hari berikutnya)
Disebut juga stadium resolusi, yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan
mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh makrofag sehingga jaringan
kembali ke strukturnya semula.

2.5. MANIFESTASI KLINIS


Bronkopneumonia ditegakkan berdasarkan gejala klinik. Gejala-gejala klinis tersebut antara lain:
a. Adanya retraksi epigastrik, interkostal, suprasternal
b. Adanya pernapasan yang cepat dan pernapasan cuping hidung
c. Biasanya didahului infeksi traktus respiratorius bagian atas selama beberapa hari
d. Demam, dispneu, kadang disertai muntah dan diare
e. Batuk biasanya tidak pada permulaan penyakit, mungkin terdapat batuk, beberapa hari
yang mula-mula kering kemudian menjadi produktif
f. Pada auskultasi ditemukan ronkhi basah halus nyaring
g. Pada pemeriksaan darah tepi ditemukan adanya leukositosis dengan predominan PMN.

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 13


h. Pada pemeriksaan rontgen thoraks ditemukan adanya konsolidasi atau infiltrat interstitial
dan infiltrat alveolar.

2.6. KLASIFIKASI
Gejala ISPA untuk golongan umur < 2 bulan :
a. Bronkopneumonia berat adalah adanya napas cepat yaitu frekuensi pernapasan sebanyak
60 kali per menit atau lebih, atau adanya tarikan kuat pada dinding dada bagian bawah ke
dalam.
b. Bukan bronkopneumonia yakni batuk tanpa pernapasan cepat atau penarikan dinding dada.
Gejala ISPA untuk golongan umur 2 bulan – 5 tahun :
a. Bronkopneumonia sangat berat yakni bila terjadi sianosis sentral dan anak tidak sanggup
minum, maka anak harus dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotik.
b. Bronkopneumonia berat yakni bila dijumpai retraksi tanpa sianosis dan masih sanggup
minum, maka anak harus dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotik.
c. Bronkopneumonia yakni bila tidak ada retraksi tetapi dijumpai pernafasan yang cepat
yakni >60 x/menit pada anak usia kurang dari dua bulan; >50 x/menit pada anak usia 2
bulan-1 tahun; >40 x/menit pada anak usia 1-5 tahun.
d. Bukan bronkopneumonia yakni hanya batuk tanpa adanya gejala dan tanda seperti di atas,
tidak perlu dirawat dan tidak perlu diberi antibiotik.

2.7. DIAGNOSIS
2.7.1. ANAMNESIS
Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas selama
beberapa hari. Suhu dapat naik secara mendadak sampai 39-40oC dan mungkin disertai
kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispneu, pernafasan cepat dan
dangkal disertai pernafasan cuping hidung dan sianosis di sekitar hidung dan mulut. Batuk
biasanya tidak dijumpai pada awal penyakit,anak akan mendapat batuk setelah beberapa
hari, di mana pada awalnya berupa batuk kering kemudian menjadi produktif.
2.7.2. PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan fisik didapatkan:
a. Inspeksi: pernafasan cuping hidung(+), sianosis sekitar hidung dan mulut, tampak
adanya retraksi sela iga.
b. Palpasi: Stem fremitus yang meningkat pada sisi yang sakit.
c. Perkusi: Sonor memendek sampai beda.

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 14


d. Auskultasi: Suara pernafasan mengeras (vesikuler mengeras) disertai ronki basah halus
sampai sedang.
Pada bronkopneumonia, hasil pemeriksaan fisik tergantung pada luasnya
daerah yang terkena. Pada perkusi toraks sering tidak dijumpai adanya kelainan. Pada
auskultasi mungkin hanya terdengar ronki basah halus sampai sedang. Bila sarang
bronkopneumonia menjadi satu (konfluens) mungkin pada perkusi terdengar suara
yang meredup dan suara pernafasan pada auskultasi terdengar mengeras. Pada
stadium resolusi ronki dapat terdengar lagi. Tanpa pengobatan biasanya proses
penyembuhan dapat terjadi antara 2-3 minggu.
2.7.3. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan terjadinya peningkatan jumlah leukosit.
Hitung leukosit dapat membantu membedakan pneumonia viral dan bakterial. Pada
infeksi virus maka leukosit normal atau meningkat (tidak melebihi 20.000/mm3 dengan
limfosit predominan) dan bakteri leukosit meningkat 15.000-40.000/mm3 dengan
neutrofil yang predominan. Pada hitung jenis leukosit terdapat pergeseran ke kiri serta
peningkatan LED. Analisa gas darah menunjukkan hipoksemia dan hiperkarbia, pada
stadium lanjut dapat terjadi asidosis respiratorik.
b. Pemeriksaan radiologi memberi gambaran bervariasi seperti infiltrat interstisial yang
ditandai dengan peningkatan corakan bronkovaskular, peribronchial cuffing, dan
hiperaerasi, infiltrat alveolar yakni konsolidasi paru dengan air bronchogram dan
konsolidasi dapat mengenai satu lobus disebut dengan pneumonia lobaris atau terlibat
sebagai lesi tunggal yang biasanya cukup besar berbentuk sferis berbatas yang tidak
terlalu tegas dan menyerupai lesi tumor paru yang dikenal sebagai round pneumonia
atau pada bronkopneumonia ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua paru
berupa bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga derah perifer paru, disertai
dengan peningkatan corakan peribronkial.
c. Pemeriksaan mikrobiologik yakni kultur sputum/bilasan cairan lambung, kultur
nasofaring atau kultur tenggorokan (throat swab). Pemeriksaan ini bersifat invasif
sehingga tidak rutin dilakukan.

2.7. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pneumonia khususnya bronkopneumonia pada anak terdiri dari 2 macam,
yaitu penatalaksanaan umum dan khusus.
a. Penatalaksaan umum yakni :
- Pemberian oksigen 2-4 lpm hingga sesak napas hilang.

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 15


- Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit.
b. Penatalaksanaan khusus yakni :
- Mukolitik, ekspektoran dan obat penurun panas sebaiknya tidak diberikan pada 72 jam
pertama karena akan mengaburkan interpretasi reaksi antibiotik awal.
- Obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu tinggi, takikardi, atau
penderita kelainan jantung.
- Pemberian antibiotika berdasarkan mikroorganisme penyebab dan manifestasi klinis.
Antibiotik intravena diberikan pada pasien pneumonia yang tidak dapat menerima antibiotik
peroral atau termasuk dalam derajat pneumonia berat. Antibiotik intravena yang dianjurkan
adalah ampisilin dan kloramfenikol, ceftriaxone dan cefotaxime. Biasanya antibiotik
parenteral diberikan sampai 48-72 jam setelah panas turun dan dilanjutkan dengan
pemberian antibiotik peroral selama 7-10 hari.

2.8. KOMPLIKASI
Dengan penggunaan antibiotik, komplikasi hampir tidak pernah dijumpai. Komplikasi yang
dapat dijumpai adalah seperti efusi pleura, empyema, otitis media akut. Komplikasi lainnya
seperti meningitis, perikarditis, osteomielitis, peritonitis lebih jarang terlihat.

2.9. PROGNOSIS
Dengan pemberian antibiotik yang tepat dan adekuat yang dimulai secara dini pada perjalanan
penyakit tersebut maka mortalitas selama masa bayi dan masa kanak-kanak dapat di turunkan
sampai kurang dari 1% dan sesuai dengan kenyataan ini morbiditas yang berlangsung lama juga
menjadi rendah. Anak dalam keadaan malnutrisi energi protein dan yang datangterlambat
menunjukkan mortalitas yang lebih tinggi.

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 16


BAB IV
KESIMPULAN

Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu peradangan pada parenkim
paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya,
yang sering menimpa anak-anak dan balita, yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti
bakteri, virus, jamur dan benda asing.
Infeksi saluran napas bawah masih tetap merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan,
baik di negara yang sedang berkembang hampir 30% pada anak-anak di bawah umur 5 tahun dengan
resiko kematian yang tinggi. Berdasarkan survei demografi kesehatan Indonesia prevalensi pneumonia
balita di Indonesia meningkat dari 7,6% pada tahun 2002 menjadi 11,2% pada tahun 2007.
Pada bronkopneumonia didapatkan adanya gejala demam tinggi disertai batuk/pilek serta sesak
napas. Pada hasil pemeriksaan laboratorium akan dijumpai peningkatan leukosit dan pada rontgen
toraks didapatkan infiltrat luat ataupun tampak adanya konsolidasi. Penanganannya adalah pemberian
oksigen, antipiretik, mukolitik dan antibiotik. Dengan pemberian antibiotik yang tepat dan adekuat
yang dimulai secara dini pada perjalanan penyakit tersebut maka mortalitas selama masa bayi
dan masa kanak-kanak dapat di turunkan sampai kurang dari 1%.

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 17


Daftar Pustaka

1. Behrman RE, Kliegman RM, Jenson B. Nelson textbook of Pediatrics, 17th ed. 2008.
Phiadelphia: WB Saunders. p. 433-5.
2. Staf Pengajar FKUI. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 3. Cetakan ke empat. Jakarta: BPFKUI.
3. Matondang C, Wahidayat I, Satroasmono S. Diagnosis Fisis pada Anak, Edisi ke dua. 2003.
Jakarta: Sagung Seto.
4. WHO. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit.
5. Rahajoe, Nastini N. Buku ajar respirologi anak. Edisi ke1. 2010. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
6. Samuel A. Bronkopneumonia on Pediatric Patient. Diakses dari :
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/agro/article/viewFile/1327/pdf. Diakses paada : 17
September 2018.

Laporan Kasus Bronkopneumonia | 18