Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS

DOKTER INTERNSHIP

Seminoma

Disusun Oleh :
Nama : dr. Reynaldo Rizky Alexander
Wahana : RS Tk. IV Wirasakti Kupang
Periode : Februari 2018 – Februari 2019

Dokter Pendamping :
dr. Stephanie Hellen Hartoyo
dr. Cyrilus Clive Steward Susilo

Konsulen :
Dr. Dedy Yulidar, Sp.B(K)Onk

RUMAH SAKIT Tk. IV WIRASAKTI


KOTA KUPANG
2018
0
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. A Agama : Kristen
Umur : 25 tahun No. RM : 057200
Jenis Kelamin : Laki-Laki Status : Belum menikah
Pekerjaan : Pegawai swasta Ruang : Wijaya Kusuma
Alamat : Sikumana MRS : 27-05-2018

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal di 27-05-2018.
Keluhan Utama : testis membesar sejak ± 1 tahun.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien sebelumnya merupakan pasien rujukan dari dr. Dedy Yulidar, SpB(K)Onk dengan
keluhan pembesaran pada buah zakar kanan sejak ± 1 tahun. Selain itu pasien juga mengatakan
adanya rasa mengganjal dan nyeri yang hilang timbul pada buah zakar kanan yang kadang disertai
kembung dan mual. Pasien juga mengatakan bahwa ia merasa adanya penurunan nafsu makan
disertai penurunan berat badan badan sekitar ± 3 kg selama 1 tahun belakangan ini. Menurut
pengakuan pasien benjolan tersebut tidak mengecil pada saat pasien tidur maupun pada saat kaki
diangkat dan juga tidak membesar pada saat pasien batuk ataupun mengejan. Pasien juga tidak
mengeluhkan adanya demam serta rasa panas pada buah zakar maupun kelamin sekarang maupun
sebelumnya. BAK dan BAB normal.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien mengatakan sebelumnya tidak pernah ada riwayat keluhan seperti ini sebelumnya.
Pasien juga mengatakan tidak mempunyai riwayat hipertensi, penyakit jantung dan riwayat DM.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Pasien mengatakan di keluarga pasien tidak ada riwayat penyakit serupa dan juga pada
keluarga tidak mempunyai riwayat penyakit DM, riwayat penyakit jantung dan riwayat hipertensi.
Riwayat Sehari-hari :
Pasien mengatakan sehari-harinya ia bekerja sebegai petugas kelistrikan dan hampir selalu
mengangkat barang-barang berat. Sehari-harinya pasien makan teratur 3x sehari. Pasien juga
mengkonsusmsi rokok dan kadang mengkonsumsi alkohol.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 27-05-2018 pkl. 13:45 WITA.
a. Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang
b. Kesadaran : Compos Mentis
1
c. GCS : E4M6V5
d. Tanda-tanda Vital :
- TD : 130/80 mmHg
- HR : 80 x/menit
- RR : 19 x/menit
- T : 36,7oC
e. Kepala : normocephal, rambut berwarna hitam
f. Mata : CA -/-, SI -/-
g. Telinga : liang telinga lapang, sekret (-/-), membran timpani intak (+/+)
h. Hidung : nafas cuping hidung -/-, sekret -/-
i. Mulut : tonsil T1-T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis, uvula di tengah.
j. Paru-Paru
Paru Depan Paru Belakang
Inspeksi  Bentuk dada bagian depan  Bentuk dada bagian belakang
simetris normal, letak dan bentuk skapula
 Pengembangan toraks paru normal, letak dan bentuk
kanan dan kiri simetris. kolumna vertebralis normal.
 Tidak terlihat adanya retraksi  Pada pengembangan toraks paru
sela iga. kanan dann kiri simetris.
 Tidak terlihat adanya lesi kulit.  Tidak terlihat adanya lesi kulit.
Palpasi  Tidak teraba adanya benjolan  Tidak teraba adanya benjolan
dan tidak terdapat nyeri tekan dan tidak terdapat nyeri tekan
pada toraks kanan dan kiri. pada toraks bagian belakang
 Fokal fremitus kanan dan kiri kanan dan kiri.
sama kuat.  Fokal fremitus kanan dan kiri
sama kuat.
Perkusi Sonor di seluruh lapang paru. Sonor di seluruh lapang paru.
Auskultasi  Vesikuler (+/+)  Vesikuler (+/+)
 Rhonki (-/-)  Rhonki (-/-)
 Wheezing (-/-)  Wheezing (-/-)

k. Jantung
Inspeksi : Pulsasi ictus cordis tampak pada line midklavikularis sinistra.
Palpasi : Ictus cordis teraba ICS IV linea midklavikularis sinistra, kuat angkat.
Perkusi : Batas atas pada ICS II linea parasternal sinistra
2
Batas kanan pada ICS V linea parasternal dextra.
Batas kiri pada ICS V linea aksilaris anterior sinistra.
Auskultasi : Bunyi Jantung I-II murni reguler, murmur (-), gallop (-).
l. Abdomen
Inspeksi : tampak datar, tidak terlihat adanya lesi kulit dan bekas luka operasi.
Palpasi : tidak terdapat adanya nyeri tekan dan juga tidak teraba adanya pembesaran organ
seperti hepar, lien dan ginjal.
Perkusi : timpani (+), nyeri ketuk CVA -/-.
Auskultasi : bising usus (+) normal.
m. Ekstremitas : CRT ≤ 2 detik, akral hangat +/+
n. Status Lokalis :

Tampak adanya pembesaran pada testis kanan.


Nyeri (-).
Tanda-tanda peradangan (-).
Pemeriksaan transluminasi (-).

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


a. Laboratorium
Pemeriksaan Hasil Satuan Rujukan
WBC 12.5 103/µl 5.00-10.00
LYM 1.1 103/µl 1.30-4.00
MID 0.7 103/µl 0.16-0.70
GRA 10.7 103/µl 2.50-7.50
LYM% 9.0 % 25.0-40.0
MID% 5.2 % 3.00-7.00
GRA% 85.8 % 50.0-75.0
RBC 4.74 106/µl 4.00-5.50
HGB 12.5 g/dl 12.0-17.4

3
HCT 38.3 % 36.0-52.0
MCV 80.9 Fl 76.0-96.0
MCH 26.3 Pg 27.0-32.0
MCHC 32.6 g/dl 30.0-35.0
RDWc 14.6 %
RDWs 41.7 Fl 20-42
PLT 350 103/µl 150-400
PCV 0.269 %
MPV 7.7 Fl 8.00-15.0
PDWc 15.5 %
Clotting Time 11 menit 30 detik 6-14 menit
Bleeding Time 2 menit 0 detik 1-3 menit
Ureum 26 mg/dl 15-39
Kreatinin 1.10 mg/dl 0.5-1.3
GDS 106 mg/dl 70.00-105.00

b. EKG
Kesan :
- Irama : Sinus.
- HR : 90 x/menit.
- Aksis : Normal.
- Gelombang P, Kompleks QRS, Gelombang T : Normal.
c. Rontgen Toraks
Jantung : Besar dan bentuk normal.
Hilus : tidak menebal.
Paru : tidak tampak infiltrat atau nodul.
Sinus costofrenikus : kanan dan kiri tajam.
Kesimpulan : Cor dan Pulmo tidak tampak kelainan.

4
d. USG Skrotum

Kesan :
- Pembesaran testis kanan ± 6 x 9 cm, dengan parenkim yang heteroechoic (solid disertai
multifokal area kistik nekrosis) yang pada doppler vasikularisasi (+) intra solid part :
suspect malignancy testis kanan.
- Testis dan Epididymis kiri tak tampak kelainan.
- Inguinal kanan dan kiri tak tampak pembesaran KGB.
V. RESUME
Tn. A / 25 tahun dengan keluhan pembesaran pada buah zakar kanan sejak ± 1 tahun. Selain
itu pasien juga mengatakan adanya rasa mengganjal dan nyeri yang hilang timbul pada buah zakar
kanan. Pasien juga mengatakan adanya penurunan nafsu makan disertai penurunan berat badan
badan sekitar ± 3 kg selama 1 tahun. Benjolan tidak mengecil saat tidur maupun saat kaki
diangkat dan tidak membesar saat batuk/mengejan. Pasien mengatakan sehari-hari sering
mengangkat barang berat. Riwayat rokok (+), riwayat konsumsi alkohol (+).
Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya pembesaran testis kanan yang tidak nyeri dan tidak
ditemukan adanya tanda peradangan. Hasil pemeriksaan USG menunjukan kesan suspect
malignancy testis kanan.

VI. DIAGNOSIS
Suspect Seminoma Testis Dextra.

VII.TERAPI
Konsul dr. Dedy Yulidar, SpB(K)Onk via telp, adv :
a. IVFD RL 20 tpm.
b. Rencana operasi tgl 30-05-2018 pkl. 14:00 WITA.
c. Konsul Interna, Konsul Anestesi.
d. Cek DL, CT/BT, GDS, Ureum/Kreatinin.

5
VIII. FOLLOW UP
1. Follow Up tgl 28-05-2018.
S : Pasien mengeluh rasa tidak nyaman pada kelamin.
O : KU : TSS, Kes : CM, GCS : E4M6V5
TTV : TD : 130/90 mmHg, HR : 88 x/menit, RR : 20x/menit, T : 36,5oC.
Mata: CA -/-, SI -/-.
Toraks : cor/pulmo dalam batas normal.
Abdomen : Supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal.
Ekstremitas : CRT ≤ 2 detik, akral hangat.
Status lokalis : pembesarn testis kanan (+), nyeri (+).
A : Suspect Seminoma Testis.
P : Konsul dr. Dedy Yulidar, SpB(K)Onk via WA adv : terapi lanjut.
Konsul dr. Olivia, SpAn via WA adv : puasakan, makan terakhir pkl 08:00 WITA pada
tanggal 30-05-2018, injeksi ranitidine 50 mg 1 jam pre-op, injeksi vit K 1 ampul/12 jam,
injeksi dexametasone 3x5 mg.
2. Follow Up tanggal 29-05-2018.
S : Pasien mengeluh rasa tidak nyaman pada kelamin.
O : KU : TSS, Kes : CM, GCS : E4M6V5
TTV : TD : 120/90 mmHg, HR : 90 x/menit, RR : 20x/menit, T : 36,8oC.
Mata: CA -/-, SI -/-.
Toraks : cor/pulmo dalam batas normal.
Abdomen : Supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal.
Ekstremitas : CRT ≤ 2 detik, akral hangat.
Status lokalis : pembesarn testis kanan (+), nyeri (+).
A : Suspect Seminoma Testis
P : Terapi Lanjut.
3. Follow Up tanggal 30-05-2018.
S : Nyeri pada bagian kemaluan setelah operasi.
O : KU : TSS, Kes : CM, GCS : E4M6V5
TTV : TD : 130/80 mmHg, HR : 88 x/menit, RR : 20x/menit, T : 37,3oC.
Mata: CA -/-, SI -/-.
Toraks : cor/pulmo dalam batas normal.
Abdomen : Supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal.
Ekstremitas : CRT ≤ 2 detik, akral hangat.
Status lokalis : testis tertutup kassa (+), nyeri (+).

6
A : Post Op Orchidectomy Dextra.
P : IVFD RL 20 tpm
Injeksi Ceftriaxone 2x1 gram (IV).
Injeksi Ketrorolac 3x30 mg (IV).
Kalnex 3x500 mg (PO).
4. Follow Up tanggal 31-05-2018.
S : Nyeri pada bagian kemaluan setelah operasi.
O : KU : TSS, Kes : CM, GCS : E4M6V5
TTV : TD : 120/70 mmHg, HR : 80 x/menit, RR : 20x/menit, T : 37,0oC.
Mata: CA -/-, SI -/-.
Toraks : cor/pulmo dalam batas normal.
Abdomen : Supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal.
Ekstremitas : CRT ≤ 2 detik, akral hangat.
Status lokalis : testis tertutup kassa (+), nyeri (+).
A : Post Op H+1 Orchidectomy Dextra.
P : Terapi lanjut.
5. Follow Up tanggal 01-06-2018.
S : Nyeri pada bagian kemaluan setelah operasi.
O : KU : TSS, Kes : CM, GCS : E4M6V5
TTV : TD : 120/80 mmHg, HR : 80 x/menit, RR : 20x/menit, T : 37,4oC.
Mata: CA -/-, SI -/-.
Toraks : cor/pulmo dalam batas normal.
Abdomen : Supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal.
Ekstremitas : CRT ≤ 2 detik, akral hangat.
Status lokalis : testis tertutup kassa (+), nyeri (+).
A : Post Op H+2 Orchidectomy Dextra.
P : Konsul dr. Dedy, SpB(K)Onk via WA adv ganti vaccum drain, mobilisasi bertahap, terapi
lanjut.
6. Follow Up tanggal 02-06-2018.
S : Pasien mengatakan terasa sedikit pusing.
O : KU : TSS, Kes : CM, GCS : E4M6V5
TTV : TD : 120/80 mmHg, HR : 88 x/menit, RR : 20x/menit, T : 37,4oC.
Mata: CA -/-, SI -/-.
Toraks : cor/pulmo dalam batas normal.
Abdomen : Supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal.

7
Ekstremitas : CRT ≤ 2 detik, akral hangat.
Status lokalis : testis tertutup kassa (+), nyeri (+), terpasang drain ± 10 ml darah.
A : Post Op H+3 Orchidectomy Dextra.
P : Konsul dr. Dedy, SpB(K)Onk via WA adv aff drain, rawat luka, obat injeksi ganti obat
oral yakni ciprofloksasin 2x500 mg, coditam 3x1 tab, kalnex 3x500 mg.
7. Follow Up tanggal 03-06-2018.
S : Nyeri pada bagian kemaluan setelah operasi.
O : KU : TSS, Kes : CM, GCS : E4M6V5
TTV : TD : 120/90 mmHg, HR : 88 x/menit, RR : 19x/menit, T : 36,8oC.
Mata: CA -/-, SI -/-.
Toraks : cor/pulmo dalam batas normal.
Abdomen : Supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal.
Ekstremitas : CRT ≤ 2 detik, akral hangat.
Status lokalis : testis tertutup kassa (+), nyeri (+).
A : Post Op H+4 Orchidectomy Dextra.
P : BPL, rencana kontrol tanggal 06-06-2018.

8
BAB I
PENDAHULUAN

Tumor testis adalah penyakit keganasan yang banyak di temukan pada pria, Mayoritas pria
yang terkena berusia antara 15-35 tahun. Penyakit ini jarang terjadi pada ras Afrika asli daripada kulit
putih atau Afrika Amerika di Amerika. Perbandingan rasio kematian akibat kanker testis menjadi 1
banding 500. Kejadian kanker testis berbeda beda pada tiap negara. Orang dengan sosioekonomi
tinggi cenderung dua kali lebih berisiko terhadap yang sosioekonomi rendah.
Kanker testis mempunyai kecenderungan berasal dari sisi kanan dari kedua testis, hanya 1-2%
yang bilateral. 95% dari semua kanker testis adalah tumor sel germinal (GCT), dengan pembagian
kira-kira sama antara seminoma dan nonseminoma GCT (NSGCT). Perkembangan yang pesat dalam
hal tehnik diagnosis, perkembangan pemeriksaan penanda tumor, pengobatan dengan regimen
kemoterapi dan modifikasi tehnik operasi, berakibat pada penurunan angka mortalitas penderita
kanker testis.

1.1. EMBRIOLOGI TESTIS


Testis berasal dari ductus mesonefrik dan ductus paramesonefrik yang muncul pada minggu
keempat. Diawali dengan struktur yang dinamakan genital ridge, testis akan berkembang. Jika
janin akan berkembang menjadi kelamin laki-laki ductus mesonefrik akan bertahan dan akan
berhubungan dengan banyak tubulus.
Duktus akan menjadi duktus deferens dan berhubungan dengan tubulus-tubulus matang yang
akan menjadi rete testis. Dalam perjalanan pembentukannya sel-sel sex menggunakan jalur urin.
Sel sex yang turun di belakang buli akan menjadi prostat. Gonad turun dan membesar sepanjang
lingkar uretra. Sruktur lain yang berjalan dari kutub kaudal testis adalah gubernakulum yaitu
pemadatan mesenkim yang kaya matriks ekstraseluar. Selama proses penurunannya, testis
diselubungi oleh perpanjangan peritoneum (prosessus vaginalis) yang mengarah ke skrotum fetal.
Testis turun ke bawah di belakang prosessus vaginalis yang normalnya terobliterasi pada saat
kelahiran membentuk pelapis testis paling dalam (tunica vaginalis).

Gambar 1. Perkembangan Embriologi Organ Urogenital


(Hartwig WC. 2008. Fundamental Anatomy. 1st ed. Lippincott and Wilkins. Chapter 5 : Urinary and
Reproductive System. p. 163.)

9
Gambar 2. Perkembangan Embriologi Testis
(Hartwig WC. 2008. Fundamental Anatomy. 1st ed. Lippincott and Wilkins. Chapter 5 : Urinary and
Reproductive System. p. 163.)

Gambar 3. Perkembangan Embriologi Testis


(Hartwig WC. 2008. Fundamental Anatomy. 1st ed. Lippincott and Wilkins. Chapter 5 : Urinary and
Reproductive System. p. 163.)

Gambar 4. Differensiasi fungsi reproduksi.


(Tanagho, Emil A. 2008. Smith’s General Urology. 17th ed. McGraw-Hill Companies. Chapter 43 :
Abnormalities of sexual determination and differentiation. p. 649-90.)

1.2. ANATOMI TESTIS


Testis adalah organ genitalia pria yang terletak di scrotum. Ukuran testis pada orang dewasa
adalah 4x3x2,5 cm, dengan volume 15-25 ml berbentuk ovoid. Testis ditutup oleh kapsul keras
yang terdiri dari tunika vaginalis viseral, tunika albuginea dengan unsur otot dan jaringan
kolagen, dan tunika vaskulosa.
10
Jaringan Tunika albuginea yang melekat pada testis ditutup oleh Tunika vaginalis yang terdiri
atas lapisan viseralis dan parietalis, serta Tunika dartos. Testis bagian dalam terbagi atas lobulus
yang terdiri dari Tubulus seminiferus, sel-sel Sertoli dan sel-sel Leydig. Sel-sel Leydig
mensekresi testosteron.
Secara histopatologis , testis terdiri atas ± 250 lobuli dan tiap lobulus terdiri atas Tubuli
seminiferi. Di dalam Tubulus seminiferus terdapat sel-sel Spermatogonia dan sel Sertoli, sedang
diantara Tubuli seminiferi terdapat sel-sel Leydig. Organ ini diliputi oleh suatu lapisan yang
disebut dengan tunika albuginea. Pada bagian anterior dan lateral testis dibungkus oleh suatu
lapisan serosa yang disebut dengan tunika vaginalis yang meneruskan diri menjadi lapisan
parietal, lapisan ini langsung berhubungan dengan kulit skrotum. Di sebelah posterolateral testis
berhubungan dengan epididimis.
Testis berada di dalam skrotum yang merupakan lapisan kulit yang tidak rata dimana di
bawahnya terdapat suatu lapisan yang disebut tunika dartos yang terdiri dari serabut-serabut otot.
Testis mendapatkan darah dari beberapa cabang arteri, yaitu arteri spermatika interna yang
merupakan cabang dari aorta, arteri deferensialis cabang dari arteri vesikalis inferior, dan arteri
kremasterika yang merupakan cabang arteri epigastrika. Pembuluh vena yang meninggalkan testis
membentuk pleksus Pampiniformis.

Gambar 5. Gambar Pembuluh Arteri Testis.


(Wein AJ. 2007. Campbell-Walsh Urology. 9th ed. Chapter 2 : Anatomy of lower urinary tract and male
genitalia. p. 349.)

Gambar 6. Gambar Pembuluh Vena.


(Wein AJ. 2007. Campbell-Walsh Urology. 9th ed. Chapter 2 : Anatomy of lower urinary tract and male
genitalia. p. 349.)

11
Gambar 7. Gambar Nodus Limfa Testis.
(Wein AJ. 2007. Campbell-Walsh Urology. 9th ed. Chapter 2 : Anatomy of lower urinary tract and male
genitalia. p. 350.)

Gambar 8. Gambar Pleksus Pampiniformis.


(Wein AJ. 2007. Campbell-Walsh Urology. 9th ed. Chapter 2 : Anatomy of lower urinary tract and male
genitalia. p. 350.)

Pembuluh darah arteri ke testis berasal dari aorta yang beranastomosis di funikulus
spermatikus dengan arteri dari vasa deferensia yang merupakan cabang dari arteri iliaka interna.
Testis mendapat persarafan dari nervus testicularis yang berasal dari segmen kesepuluh dan
kesebelas dari pleksus otonom ginjal dan aorta. Saluran limfe mengikuti korda spermatik menuju
akhir nodus limfe pada nodus limfe paraaorta.

Gambar 9. Gambar Potongan Testis.


(Hartwig WC. 2008. Fundamental Anatomy. 1st ed. Lippincott and Wilkins. Chapter 5 : Urinary and
Reproductive System. p. 165.)

12
Gambar 10. Gambar Testis Utuh.
(Standring S. 2008. Gray’s Anatomy the anatomical basis of clinical practice. 39th ed. Elsevier
Churchill Livingstone. Chapter 97 : Testes and Epididymis. p.1303.)

1.3. FISIOLOGI TESTIS


Testis mempunyai fungsi eksokrin dalam spermatogenesis dan fungsi endokrin untuk
mensekresi hormon-hormon seks yang mengendalikan perkembangan dan fungsi seksual. Pusat
pengendalian hormonal dari sistem reproduksi adalah sumbu hipotalamus-hipofisis. Hipotalamus
memproduksi Gonadotropin Hormone Releasing Hormone (GnRH). Hormon-hormon ini adalah
Follicle Stimulating Hormone Releasing Hormone (FSHRH) dan Luteinizing Hormone Releasing
Hormone (LHRH). Hormon-hormon ini dibawa ke hipofisis anterior untuk merangsang sekresi
Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH), yang pada pria lebih umum
dikenal sebagai Interstitial Cell Stimulating Hormone (ICSH). Sekresi ICSH dan FSH oleh
hipofisis anterior, sehingga terjadi sistem umpan balik yang mengatur kadar testosteron dalam
sirkulasi darah. Hormon androgen dan estrogen juga diproduksi oleh testis. Kadar estrogen yang
diproduksi tidak sebanyak wanita.

13
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. DEFINISI
Kanker Testis adalah tumor ganas yang jarang dan biasanya berasal dari sel germinal dan sel
non germinal.

Gambar 11. Gambar Tumor Testis.


(Nachtsheim D. 2005. Vademecum Urological Oncology. Chapter 10: Testicular Tumors. p. 110.)

2.2. EPIDEMIOLOGI
Kanker testis merupakan keganasan yang jarang dan merupakan kanker yang paling umum
pada pria muda (usia 15-35 tahun) dan menimbulkan morbiditas pada usia tersebut sebagai
populasi terbanyak di seluruh dunia, 95% dari semua kanker testis adalah tumor sel germinal
(GCT), dengan pembagian kira-kira sama antara seminoma dan nonseminoma GCT (NSGCT).
Usia puncak pria dengan bawaan seminoma adalah 30-40 tahun, dibandingkan dengan 20-30
tahun untuk NSGCT.

2.3. ETIOLOGI
Penyebab tumor testis belum diketahui dengan pasti, tetapi terdapat beberapa faktor yang erat
kaitannya dengan peningkatan kejadian tumor testis, antara lain maldesensus testis, trauma testis,
atrofi atau infeksi testis dan pengaruh hormon. Penderita kriptorkismus atau bekas kriptorkismus
mempunyai resiko lebih tinggi terjadinya tumor testis ganas. Kebanyakan kanker testis terjadi
pada usia di bawah 40 tahun.

2.4. PATOGENESIS
Selama perkembangan embrio, sel sel lapisan totipotensial yang berkembang secara abnormal
maka akan menjadi seminoma atau karsinoma embryonal. Jika sel sel embrio berdiferensiasi pada
jalur intraembrional maka akan menjadi teratoma. Jika sel sel embrio berdifferensiasi pada jalur
ekstraembrional maka koriokarsinoma atau tumor yolk sac akan terbentuk. Perubahan ganas yang
meliputi pertumbuhan sel kanker menembus membran basal dan menggantikan jaringan
parenkim.

14
Sel kanker yang menembus tunika albuginea dapat menyebabkan metastasis secara hematogen
atau limfatik sedangkan sel kanker yang menembus epididymis atau korda spermatik dapat
menyebabkan metastasis pelvis dan nodus inguinal.
Sebagian besar (± 95%) tumor testis primer, berasal dari sel germinal, sedangkan isinya
berasal dari non germinal. Tumor germinal testis terdiri atas seminoma dan non seminoma.
Seminoma berbeda sifatnya dengan non-seminoma, antara lain sifat keganasannya, respon
terhadap radioterapi dan prognosis tumor.

2.5. KLASIFIKASI
Tumor testis terbagi menjadi dua jenis utama:
1. Tumor sel germinal
a. Seminoma
b. Non-Seminoma
- Embryonal Carcinoma
- Tumor Yolk Sac
- Teratoma
- Koriokarsinoma
- Tipe Sel Campuran
2. Tumor Non Sel Germinal
a. Tumor Sel Leydig
b. Tumor Sel Sertoli
c. Gonadoblastoma
2.5.1. Tumor Sel Germinal (GCT)
Tumor Sel Germinal (GCT) yang berasal dari sel-sel yang memproduksi sperma dan dibatasi
oleh tubulus seminiferus, dengan jumlah 95%. GTC secara luas dibagi dalam subtipe seminoma
dan nonseminoma.
a. Seminoma
Seminoma merupakan tumor sel germinal yang paling sering. Terdapat tiga jenis tipe
seminoma yaitu : klasik, anaplastik, dan spermatositik. Seminoma biasanya terjadi pada
dewasa muda, penampakannya nodular, tidak nyeri saat dipalpasi. Sedangkan penampakan
mikroskopiknya akan tampak sel besar dengan sitoplasma jernih dan terdapat stroma fibrosa
atau septa, limfosit atau granuloma.
Tumor Marker menggunakan PLAP (Placental Alkaline Phosphatase). Seminoma
bersifat radiosensitif dan prognosis baik. Seminoma terjadi dalam testis dan jarang dalam
mediastinum selama atau sesudah remaja. Seminoma adalah tipe GCT yang paling sering

15
30-40% dari semua jenis tumor testis. Biasanya ditemukan pada pria berusia 30 sampai 40
tahun dan terbatas pada testis.

Gambar 12. Gambar Seminoma.


(Nachtsheim D. 2005. Vademecum Urological Oncology. Chapter 10: Testicular Tumors. p. 110.)

b. Non-seminoma
Tumor jenis ini tidak bersifat radiosensitif. Dapat bermetastasis dan bersifat agresif.
Penanganannya adalah menggunakan kemoterapi. Bisa menjadi ca embryo dan
koriokarsinoma yang bersifat agresif. Tidak seperti seminoma, tumor ini sering terjadi
sebelum pubertas.

2.6. MANIFESTASI KLINIS


Gejala timbul sangat bertahap dengan massa atau benjolan pada testis dan secara umum
pembesaran testis yang tidak nyeri . Tanda pertamanya adalah seperti sebagai berikut :
a. Pembesaran tanpa rasa sakit.
b. Adanya massa pada testis dengan berbagai ukuran dan kadang menghasilkan testis yang
berat.
c. Benjolan atau pembengkakan pada salah satu atau kedua testis.
d. Rasa sesak pada skrotum, area inguinal, atau abdomen.
e. Nyeri tumpul di punggung atau perut bagian bawah.
Sedangkan pada stadium lanjut tanda dan gejalanya adalah:
a. Adanya massa abnormal dalam perut
b. Batuk hingga hemoptoe
c. Sesak nafas
d. Letih, pucat dan malas
e. Sakit pinggang (akibat perluasan nodus retroperineal)
f. Penurunan berat badan
g. Kelemahan umum diakibatkan oleh metastase
h. Rasa tidak nyaman/rasa nyeri di testis

16
2.7. DIAGNOSA
Anamnesa, Transiluminasi, ultrasonografi, dan orkiedoktomi radikal sangat berguna untuk
membedakan tumor dari kelainan lain. Sebaiknya diagnostik laboratorium dikerjakan dulu
sebelum menjalankan orkidektomi. Diantara semua cara diagnosa, orkiodoktomi radikal menjadi
pilihan definitif.
2.7.1. Anamnesa
Penderita yang datang biasanya datang dengan keluhan dengan adanya masa pada buah
zakar yang tidak nyeri. Seringkali benjolan tidak nyeri itu tidak dihiraukan penderita yang
menyebabkan terlambatnya terdiagnosis. Hampir 20% pasien datang dengan gejala penyakit
metastasis seperti nyeri punggung, penurunan berat badan, massa pada leher. Anamnesa
apakah massa itu nyeri atau tidak sangatlah penting mengingat banyaknya diagnosa banding
pada penyakit ini.
2.7.2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Bimanual harusnya dilakukan pada pasien dengan posisi berdiri dan
pasien harus dengan posisi supinasi. Testis normal yang berada kontralateral harus diperiksa
dahulu. Ukuran, kontur dan konsistensi secara relative dibandingkan.
Testis normal konsistensinya homogeny, bisa bergerak bebas, dan dapat dipisahkan
dari epididymis. Jika merasakan massa keras di sekitar tunika albuginea patut dicurigai
adanya keganasan. Kulit skrotum dan korda spermatik harus diperiksa. Pemeriksaan fisik
harusnya meliputi pemeriksaan abdomen, payudara, dan supraventricular untuk melihat
apakah sudah terjadi metastase atau tidak.

Gambar 13. Pemeriksaan Bimanual.


(Emil A. 2008. Smith’s General Urology. 17th ed. Chapter 43 : Abnormalities of sexual determination and
differentiation. p. 690.)

2.7.3. Pemeriksaan Penunjang


a. X-Ray
Pemeriksaan toraks rutin dengan posisi anteroposterior dan lateral dipakai untuk
melihat apakah terdapat metastasis pada lapangan mediastinum dan parenkim paru.

17
b. Tumor Marker
Tumor marker mempunyai peranan penting dalam tahap identifikasi diagnosis kanker
testis. Diantara tumor marker adalah AFP (Alfa Fetoprotein), PLAP (Placental Alkaline
Phosphatase), GGT (Gamma Glutamyl Transpeptidase), β-HCG, dan LDH (Laktat
Dehidrogenase). Cara ini melibatkan penggunaan tehnik radioimmunoassay yang tingkat
sensitivitas sangat tinggi.
Penanda tumor yang paling sering diperiksa pada tumor testis adalah AFP dan β-HCG.
Nilai normal AFP adalah 1000-10000 ng/ml, sedangkan nilai normal β-HCG adalah
5000 – 10000 ng/ml.
c. Ultrasonografi
Pemeriksa ultrasonografi yang berpengalaman dapat membedakan dengan jelas lesi
intra atau ekstratestikuler dan masa padat atau kistik, namun ultrasonografi tidak dapat
dipakai untuk menentukan penderajatan tumor testis. Gambaran hipoekoik pada tunika
albuginea harus dicurigai sebagai tumor testis.

Gambar 14. Gambar USG Kanker Testis.


(Nachtsheim D. 2005. Vademecum Urological Oncology. Chapter 10: Testicular Tumors. p. 110-4.)

d. MRI
Berbeda halnya dengan ultrasonografi, MRI dapat mengenali tunika albuginea secara
terperinci sehingga dapat dipakai untuk menentukan luas ekstensi tumor testis. CT Scan
masih lebih unggul dari MRI dikarenakan MRI tidak dapat dipercaya mengidentifikasi
tumor. Pada penggambaran MRI, tumor biasanya bersifat hipointens.
e. CT-Scan
Pemakaian CT-scan berguna untuk menentukan ada tidaknya metastasis pada
retroperitoneum. Sayangnya pemeriksaan CT tidak mampu mendeteksi mikrometastasis
pada kelenjar limfe retroperitoneal. CT-Scan dirasa kurang akurat dalam menentukan
jenis tumor apakah itu fibrosis, teratoma, atau keganasan

18
Gambar 15. CT Scan pada testis.
(Tanagho, Emil A. 2008. Smith’s General Urology. 17th ed. McGraw-Hill Companies. Chapter 25 :
Radiotherapy of urologic tumors. p. 417.)

Gambar 16. Gambar CT Scan


(Nachtsheim D. 2005. Vademecum Urological Oncology. Chapter 10: Testicular Tumors. p. 110.)

2.8. DIAGNOSIS BANDING


Diagnosis diferensial meliputi setiap benjolan didalam skrotum yang berhubungan dengan
testis dan keluhan-keluhan pada daerah testis, seperti orkitis (nyeri dan gejala-gejala inflamasi),
hidrokel (kemungkinan hidrokel simtomatik terdapat sebagai akibat tumor testis, diperlukan
pungsi dan palpasi) hernia skrotalis.

2.9. STAGING
Pengklasifikasian stadium klinis dibagi menjadi dua yaitu berdasarkan daerah metastase yang
menggunakan Boden/Gibb dan yang berdasarkan sistem TNM. Kedua klasifikasi ini dipakai oleh
AJCC (American Joint Committee on Cancer).
Pengklasifikasian stadium klinis berdasarkan daerah metastase menggunakan Boden/Gibb :
a. A(I) tumor terbatas di testis
b. B(II) menyebar ke nodus regional
c. C (III) menyebar melewati nodus retroperitoneal

19
Gambar 17. Staging Metastasis TNM AJCC.
(Reynard J, Brewster S, Biers S. 2006. Oxford Handbook of Urology. 1st edition. Oxford University Press.
Chapter 19 : Urological Neoplasia. p. 297.)
Standar staging secara klinis pada kanker testis menurut AJCC, yaitu :
a. T (Tumor primer)
- Tx : Tumor primer tidak dapat di nilai
- T0 : Tidak ditemukan adanya tumor primer
- Tis : kanker intratubular (karsinoma in situ)
- T1 : Tumor terbatas pada testis dan epididimis, tidak terdapat invasi ke pembuluh darah
- T2 : Tumor melewati tunika albugenia atau terdapat invasi ke pembuluh darah
- T3 : Tumor mencapai funikulus spermatikus
- T4 : Tumor mencapai kulit skrotum
b. N (Kelenjar getah bening regional)
- Nx : Adanya metastase ke kelenjar getah bening tidak dapat ditentukan
- N0 : Tidak terdapat metastase ke kelenjar getah bening
- N1 : Terdapat metastase ke kelenjar getah bening dengan ukuran lesi
- N2 : massa nodus >2 cm dan ≤5 cm. atau ≥6 positif nodus N3: massa nodus >5 cm. ≤ 2
cm dan melibatkan ≤ 5 kelenjar geatah bening N2 : Metastase > 5 kelenjar, ukuran
massa 2-5 cm.
- N3 : Ukuran massa > 5 cm
c. M (metastase jauh)
- Mx : Adanya metastase jauh tidak dapat ditentukan
- M0 : Tidak terdapat metastase jauh
- M1 : Ditemukan adanya metastase jauh di nodus limfa non regional atau paru
- M2 : metastasis visceral nonpulmoner
d. S (Tumor marker pada serum)
- Sx : Tumor marker tidak tersedia

20
- S0 : Nilai kadar tumor marker pada serum dalam batas normal
- S1 : Nilai kadar Lactic dehydrogenase (LDH) < 10 x normal atau BHCG > 50.000
mlU/ml atau AFP > 10.000ng/ml
- S2: LDH 1.5–10 x normal or BHCG 5000–50,000 mIU/mL or AFP 1000– 10,000
ng/mL
- S3: LDH >10 × normal or BHCG >50,000 mIU/mL atau AFP >10,000 ng/mL.

2.10. TERAPI
Tumor testis secara klinis 99,9% merupakan jenis ganas dan jika diketahui lebih awal
dibutuhkan tindakan orkidektomi radikal. Pilihan terapi pada kanker testis meliputi empat hal
yaitu observasi, orchiektomi, radiasi, dan kemoterapi. Observasi juga diperlukan untuk
mendapatkan prognosis yang baik.
a. Orkidektomi Radikal
Orkidektomi radikal merupakan tindakan mengambil seluruh bagian yang terdiri dari
testis, epididymis, dan funiculus spermatikus. Funikulus Spermatikus meliputi vas
deferens, arteri, vena, nervus, fasciae transversalis, dan musculus cremasterica. Indikasi
dilakukannya orkidektomi radikal adalah pasien dengan kecurigaan adanya tumor testis.
Kecurigaan tumor testis apabila pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya massa yang
irreguler yang berasal dari testis, tidak terdapat keluhan nyeri.

Gambar 18. Orkidektomi Radikal.


(Wein AJ. 2007. Campbell-Walsh Urology. 9th ed. Chapter 2 : Anatomy of lower urinary tract and male
genitalia. p. 450.)

Gambar 19. Orkidektomi radikal.


(Wein AJ. 2007. Campbell-Walsh Urology. 9th ed. Chapter 2 : Anatomy of lower urinary tract and male
genitalia. p. 450.)

21
Penanganan ini 80% berhasil. Komplikasi Orkidektomi biasanya adalah perdarahan
postoperative. Adapun komplikasi lain meliputi kehilangan fertilitas,penyebaran kanker
lanjutan, infeksi, kosmetik, dan adanya implant yang menyebabkan rasa tidak nyaman.
b. Biopsi
Tindakan biopsi ini bersifat diagnostik. Biopsi melalui skrotum atau membuka testis
harus dihindari. Penatalaksanaan selanjutnya tergantung pada hasil pemeriksaan
histopatologi dan staging tumor secara patologi. Pada dugaan tumor testis tidak
diperbolehkan melakukan biopsi testis, karena itu untuk penegakan diagnosis patologi
anatomi, bahan jaringan harus diambil dari orkidektomi.
c. Radiasi
Terapi radiasi menggunakan sinar-X atau sinar dengan energi tinggi untuk membunuh
sel kanker dan mengecilkan tumor. Radiasi dapat digunakan tunggal atau dilakukan
sebelum/sesudah terapi pembedahan. Pasien bila mungkin dapat ditawarkan untuk
menjalani penyimpanan sperma sperma beku sebelum menjalani penyinaran. Komplikasi
radiasi dibagi menjadi dua fase berdasarkan lamanya terapi. Fase awal biasanya terjadi
myelosupresi, mual, muntah dan rambut rontok. Pada fase lanjut yang berkisar minimal
satu tahun dapat berupa keganasan sekunder, toksisitas paru, vaskuler, dan ginjal.
d. Kemoterapi
Terapi kemoterapi meliputi penggunaan obat-obatan yang dapat membunuh sel kanker.
Kemoterapi dapat diberikan secara per-oral atau secara intra vena maupun intra muskuler.
Kemoterapi dikatakan sebagai terapi sistemik karena obat masuk kedalam aliran darah
dalam tubuh dan membunuh sel kanker dalam tubuh. Kemoterapi dapat diberikan tunggal
atau diberikan setelah terapi pembedahan. Terapi yang diberikan setelah dilakukannya
operasi tapi tidak ditemukan sel kanker disebut terapi adjuvant. Tujuan dari terapi dengan
obat-obatan adalah untuk menurunkan morbiditas, mencegah komplikasi, dan
menyembuhkan penyakit. Zat sitotoksik dapat menyebabkan lisisnya tumor. Carboplatin,
paclitaxel, dan etoposide dapat dipakai bersamaan. Cisplatin, etoposide, dan bleomycin
digunakan dalam terapi kombinasi. Terapi radiasi dan kemoterapi hanya dipilih jika
terdapat metastase lanjut dari tumor.

22
2.11. PROGNOSIS
Prognosis umumnya memuaskan, kecuali pada penderita dengan metastasis banyak di paru
atau bila terdapat kekambuhan dengan kadar petanda tumor yang tinggi. Prognosis tumor testis
bukan hanya bergantung kepada sifat histologiknya tetapi juga pada stadium tumor. Semakin
dini ditemukan semakin baik prognosisnya. Mengingat bahwa dengan berkembangnya metode
diagnostik pada skrining penyakit ini menurunkan angka mortalitas dan morbiditas.

23
BAB III
KESIMPULAN

Testis merupakan organ sexual laki-laki yang berbentuk ovoid dan berfungsi sebagai organ
kelamin dan hormonal. Kanker testis meskipun kasus yang relatif jarang, merupakan keganasan
tersering pada pria kelompok usia 15-35 tahun. Kanker ini berasal dari sel germinal dan sel non
germinal. Insidensi munculnya kanker testis juga dipengaruhi oleh ras. Kanker testis tinggi pada ras
kulit putih dan Eropa namun insidensinya lebih rendah pada ras Afrika dan Asia.
Perkembangan yang pesat dalam hal teknik diagnosis, perkembangan pemeriksaan penanda
tumor, pengobatan dengan regimen kemoterapi dan modifikasi tehnik operasi, berakibat pada
penurunan angka mortalitas penderita kanker testis.
Prinsip penanganan pasien dengan tumor sel germinal adalah merujuk pada riwayat alamiah
dari tumor, staging klinis dan efektifitas pengobatan. Tindakan orkidektomi radikal adalah tindakan
bedah yang harus dilakukan. Apabila dari serangkaian pemeriksaan adanya kanker testis tidak dapat di
singkirkan maka tindakan ini dapat dikerjakan.

24
Daftar Pustaka

1. Price, Wilson M. Lorraine, Patofisiologi Konsep Klinis Profesi-profesi Penyakit, Gangguan


Pertumbuhan, Proliferasi dan Diferensiasi Sel, Buku 1, Edisi 4, Jakarta : EGC. Hal. 111-26.
2. Price, Wilson M. Lorraine, Patofisiologi Konsep Klinis Profesi-profesi Penyakit, Gangguan
Sistem Reproduksi Pria, Buku 2, Edisi 4, Jakarta : EGC. Halaman 1146.
3. Sjamsjulhidayat R; Jong W. D; Buku Ajar Ilmu Bedah, Tumor Ganas Testis, Edisi revisi,
Jakarta : EGC. Hal. 181-5.
4. Schrock R. Thedore, Handbook of Surgery, Urology, Edisi 7, Jakarta : EGC. Hal. 324-41
5. Van de Velde C.J.H; Bosman F.T; Wagener D.J; Onkologi, Tumor Testis, Edisi 5 revisi,
Panitia Kanker RSUP Sardjito Yogyakarta, Alih Bahasa : Arjonno. Hal 556-63.
6. Purnomo B; Dasar-dasar Urologi, Tumor Urogenitalia, Edisi 2, Jakarta : CV. Sagung Seto,
Hal. 181-5.

25