Anda di halaman 1dari 5

1.

Arti Petroleum Wax

Petroleum Waxes adalah termasuk paraffin wax (bahan kristal hidrokarbon yang putih atau
kuning terang) diperoleh sebagai sisa pada penyulingan minyak mentah.

Produk yang diperoleh dari hidrokarbon parafin, rantai lurus atau cabang dengan berat molekul
cukup tinggi, berbentuk padat pada temperatur kamar.

Dalam bentuk aslinya, paraffin wax adalah lilin, tidak memiliki rasa, tidak berbau dan berwarna
putih solid yang mudah terbakar.

Awalnya merupakan hasil samping (by product) proses dewaxing dari pengolahan gasoil dan
base oil.

2. Fungsi dan Aplikasi Petroleum Wax

Paraffin digunakan dalam berbagai industri termasuk:

a) Pertanian – Paraffin dan campuran khusus digunakan dalam industri pupuk sebagai aditif
anti-caking (mencegah penggumpalan) untuk mempermudah dosis, penanganan, dan
transportasi pupuk tersebut.
b) Makanan – Paraffin membentuk pelapis penting untuk makanan seperti keju, buah jeruk,
permen karet dan lainnya.
c) Karet – Paraffin digunakan dalam produksi ban yang membantu mengisolasi mereka dari
ozon dan melindunginya dari pecah dan retak.
d) Peralatan listrik – Paraffin digunakan untuk mengisolasi simpul listrik dan peralatannya.
e) Farmasi dan Kosmetik – Paraffin digunakan untuk melapisi tablet yang dapat melindungi
permukaannya dan juga merupakan bahan penting dalam berbagai macam lipstik, krim, pasta,
dan lotion.
f) Korek api – Meskipun penggunaanya dalam jumlah kecil tetapi aplikasi paraffin pada kotak
korek api dapat membantu mempermudah nyala api.
g) Kain – Semua kain mengandung lapisan wax yang memberikan kelembutan, elastisitas dan
fleksibilitas. Namun, dampak dari paparan lingkungan dan penggunaan yang berulang dapat
mengurangi tekstur lilin pada kain dan perlu diulangi proses pelapisannya.
h) Kertas – Kertas biasa digunakan untuk mengisolasi berbagai jenis makanan. Namun, karena
kertas itu sendiri tidak dapat memberikan sifat isolasi yang baik, ia harus dilapisi dengan
parrafin wax untuk mencegah masuknya bau, mikro-organisme dan kelembaban.

Selain manfaat diatas, paraffin digunakan dalam industri lain seperti dalam pembuatan lilin, cat
dan pernis, chipboard, ski , peralatan selancar dan lainnya.

3. Klasifikasi
a. Paraffin wax
produk macrocrystallin, pada suhu kamar berbentuk padat. Diperoleh dari petroleum distillates.
• Berwarna putih, transparan, tidak berbau, tidak berasa, berbentuk padat, meleleh
pada suhu 47 – 65 °C

• Tidak larut dalam air tetapi larut dalam ether, benzene dan esther
• Parafin dengan berat molekul tinggi dengan C22 – C27
Karakter utama dari macrocrystallin :
• Bersifat kristalinitas
• Bersifat isolasi, tahan terhadap air, lemak dan gas
• Range temperatur peleburannya sangat lebar

 Softer paraffin waxes (e.g., slack waxes)


 Intermediate paraffin waxes (e.g., scale waxes)
 Harder paraffins (e.g., fully refined waxes)

b. Microcrystallin wax
produk microcrystallin, pada suhu kamar berbentuk padat. Diperoleh dari petroleum
distillates. Struktur molekul utamanya adalah iso dan siklo parafin, yang berbentuk kecil
dan kristalnya tidak beraturan, mempunyai titik lebur lebih tinggi dari pada paraffin wax.
• Karakter dari microcrystallin wax :
Mengandung resin, bersifat fleksibel dan daya rekat tetap dan permukaan area lebih
porous
Berwarna antara putih dan yellow
TiTik lebur > 65 °C

 Medium soft (e.g., “Petrowax”)


 Medium hard (e.g., “Petrosene A”)
 Hard (e.g., “Be Square 190/195”)

c. Petrolatum
Berbentuk semi padat seperti jelly, yang terdiri dari microcrystallin wax dan
minyak.Diperoleh dari petroleum distillates berat atau residu.
Petrolatum disebut juga plastic wax atau soft wax banyak mengandung iso dan cyclo
parafin, dengan melting point 71 – 88 °C, pada suhu kamar bersifat sangat lembek.
Digunakan sebagai bahan dasar pembuatan vaseline
4. Spesifikasi

5. Proses Pembuatan
Tahapan proses pembuatan Wax

a) Proses Dewaxing
Proses pemisahan wax dari minyak dengan cara mengkristalkan Paraffine Oil Distillate
melalui pendinginan. Wax yang terkandung dalam POD akan mengkristal lebih dahulu
dibanding minyak. Kristal wax dipisahkan dari cairan menggunakan Filter Press. Kristal
wax dari proses dewaxing disebut Slack wax.

b) Proses Sweating
Proses pemisahan minyak dan wax berdasarkan titik lebur (melting point) dengan
pendinginan sampai mencapai titik beku kemudian dipanaskan secara perlahan dlm
Vertical Tubes Stove. Fraksi minyak yang mempunyai titik lebur lebih rendah akan
mencair lebih dahulu. Pada proses sweating kandungan minyak dapat diturunkan hingga
1 – 2 % wt, dan disebut Sweat wax.

c) Proses Treating
Proses memperbaiki warna dan menghilangkan bau dari produk sweat wax dengan
menghilangkan senyawa hidrokarbon yang tidak diinginkan (cyclo, aromat dan olefin)
dengan menggunakan bahan kimia sbb :
• H2SO4 dgn konsentrasi 98 %, berfungsi melarutkan seny. cyclo, aromat dan olefin
membentuk sulphonate (SO2OH ) yg akan mengendap.
• Kapur (CaO), untuk mengikat H2SO4 yg tdk bereaksi/berlebih.
• Clay, sbg adsorbent dan mengikat kelebihan H2SO4.
Selain bahan kimia tersebut diatas, juga menggunakan Polyethylene untuk memperbaiki
elastisitas ready wax dan NaOH untuk menetralkan sludge asam sebelum dibuang ke
sewer.

d) Proses moulding
Proses pencetakan lilin cair menjadi slab, selanjutnya bisa dimasukkan kedalam plastik
dan karung.

Beberapa parameter yang diuji dalam memenuhi syarat spesifikasi wax :


• Appearance Test, JIS K8001
• Color Saybolt, ASTM D-156
• Melting point, ASTM D-87
• Oil Content of Waxes, ASTM D-721-97
• Needle Penetrasi of Petroleum Wax, ASTM D-1321-97
• Reaction of Petroleum Wax, ASTM D-1093
• Thermal Stability, Metode : Modified Appearance Test, JIS K8001