Anda di halaman 1dari 35

Makalah Sejarah Keperawatan Jiwa Di

Dunia dan Di Indonesia


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kecepatan informasi dan mobilitas manusia di era modernisasi saat ini begitu tinggi

sehingga terjadi hubungan social dan budaya. Hubungan social antar manusia dirasakan

menurun akhir – akhir ini, bahkan kadang- kadang hanya sebatas imitasi saja. Padahal bangsa

Indonesia yang mempunyai / menjunjung tinggi adat ketimuran sangat memperhatikan

hubungan social ini. Dengan demikian kita patut waspada dari kehilangan identitas diri

tersebut. Perubahan yang terjadi tadi dapat membuat rasa bingung karena muncul rasa tidak

pasti antara moral, norma,nilai – nilai dan etika bahkan juga hokum. Menurut Dadang Hawari

( 1996 ) hal – hal tersebut dapat menyebabkan perubahan psikososial, antara lain : pola hidup

social religious menjadi materialistis dan sekuler. Nilai agama dan tradisional diera modern

menjadi serba boleh dan seterusnya.

Perubahan – perubahan yang dirasakan dapat mempengaruhi tidak hanya fisik tapi

juga mental, seperti yang menjadi standar WHO ( 1984 ) yang dikatakan sehat tidak hanya

fisik tetapi juga mental,social dan spiritual. Standar sehat yang disampaikan oleh WHO

tersebut dapat menjadi peluang besar bagi perawat untuk berbuat banyak, karena perawat

mempunyai kesempatan kontak dengan klien selama 24 jam sehari. Olehnya itu dalam tulisan

ini kami bermaksud mebahas tentang dimensi spiritual, dimensi spiritual dalam kesehatan,

konsep dalam memberikan asuhan keperawatan spiritual dan proses keperawatan dalam

dimensi spiritual.
B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana penjelasan tentang Sejarah Singkat Perkembangan keperawatan jiwa di dunia dan

di Indonesia ?

2. Bagaimana penjelasan tentang model pendekatan keperawatan jiwa ?


BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah dan Perkembangan Keperawatan Jiwa Di Dunia

Sejarah keperawatan di dunia diawali pada zaman purbakala (Primitive Culture)

sampai pada munculnya Florence Nightingale sebagai pelopor keperawatan yang berasal dari

Inggris. Perkembangan keperwatan sangat dipengaruhi oleh perkembangan struktur dan

kemajuan peradaban manusia.

Perkembangan keperawatan diawali pada :

1. Zaman Purbakala (Primitive Culture)

Manusia diciptakan memiliki naluri untuk merawat diri sendiri (tercermin pada

seorang ibu). Harapan pada awal perkembangan keperawatan adalah perawat harus memiliki

naluri keibuan (Mother Instinc). Dari masa Mother Instic kemudian bergeser ke zaman

dimana orang masih percaya pada sesuatu tentang adanya kekuatan mistic yang dapat

mempengaruhi kehidupan manusia. Kepercayaan ini dikenal dengan nama Animisme.

Mereka meyakini bahwa sakitnya seseorang disebabkan karena kekuatan alam/pengaruh gaib

seperti batu-batu, pohon-pohon besar dan gunung-gunung tinggi.

Kemudian dilanjutkan dengan kepercayaan pada dewa-dewa dimana pada masa itu

mereka menganggap bahwa penyakit disebabkan karena kemarahan dewa, sehingga kuil-kuil

didirikan sebagai tempat pemujaan dan orang yang sakit meminta kesembuhan di kuil

tersebut. Setelah itu perkembangan keperawatan terus berubah dengan adanya Diakones &

Philantrop, yaitu suatu kelompok wanita tua dan janda yang membantu pendeta dalam

merawat orang sakit, sejak itu mulai berkembanglah ilmu keperawatan.


2. Zaman Keagamaan

Perkembangan keperawatan mulai bergeser kearah spiritual dimana seseorang yang

sakit dapat disebabkan karena adanya dosa/kutukan Tuhan. Pusat perawatan adalah tempat-

tempat ibadah sehingga pada waktu itu pemimpin agama disebut sebagai tabib yang

mengobati pasien. Perawat dianggap sebagai budak dan yang hanya membantu dan bekerja

atas perintah pemimpin agama.

3. Zaman Masehi

Keperawatan dimulai pada saat perkembangan agama Nasrani, dimana pada saat itu

banyak terbentuk Diakones yaitu suatu organisasi wanita yang bertujuan untuk

mengunjungiorang sakit sedangkan laki-laki diberi tugas dalam memberikan perawatan untuk

mengubur bagi yang meninggal.

Pada zaman pemerintahan Lord-Constantine, ia mendirikan Xenodhoecim atau hospes

yaitu tempat penampungan orang-orang sakit yang membutuhkan pertolongan. Pada zaman

ini berdirilah Rumah Sakit di Roma yaitu Monastic Hospital.

4. Pertengahan abad VI Masehi

Pada abad ini keperawatan berkembang di Asia Barat Daya yaitu Timur Tengah,

seiring dengan perkembangan agama Islam. Pengaruh agama Islam terhadap perkembangan

keperawatan tidak lepas dari keberhasilan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama

Islam.

Abad VII Masehi, di Jazirah Arab berkembang pesat ilmu pengetahuan seperti Ilmu

Pasti, Kimia, Hygiene dan obat-obatan. Pada masa ini mulai muncul prinsip-prinsip dasar

keperawatan kesehatan seperti pentingnya kebersihan diri, kebersihan makanan dan

lingkungan. Tokoh keperawatan yang terkenal dari Arab adalah Rufaidah.


5. Permulaan abad XVI

Pada masa ini, struktur dan orientasi masyarakat berubah dari agama menjadi

kekuasaan, yaitu perang, eksplorasi kekayaan dan semangat kolonial. Gereja dan tempat-

tempat ibadah ditutup, padahal tempat ini digunakan oleh orde-orde agama untuk merawat

orang sakit. Dengan adanya perubahan ini, sebagai dampak negatifnya bagi keperawatan

adalah berkurangnya tenaga perawat. Untuk memenuhi kurangnya perawat, bekas wanita

tuna susila yang sudah bertobat bekerja sebagai perawat. Dampak positif pada masa ini,

dengan adanya perang salib, untuk menolong korban perang dibutuhkan banyak tenaga

sukarela sebagai perawat, mereka terdiri dari orde-orde agama, wanita-wanita yang mengikuti

suami berperang dan tentara (pria) yang bertugas rangkap sebagai perawat.

Pengaruh perang salib terhadap keperawatan :

a. Mulai dikenal konsep P3K

b. Perawat mulai dibutuhkan dalam ketentaraan sehingga timbul peluang kerja bagi perawat

dibidang sosial.

Ada 3 Rumah Sakit yang berperan besar pada masa itu terhadap perkembangan

keperawatan :

a. Hotel Dieu di Lion

Awalnya pekerjaan perawat dilakukan oleh bekas WTS yang telah bertobat.

Selanjutnya pekerjaan perawat digantikan oleh perawat terdidik melalui pendidikan

keperawatan di RS ini.

b. Hotel Dieu di Paris

Pekerjaan perawat dilakukan oleh orde agama. Sesudah Revolusi Perancis, orde

agama dihapuskan dan pekerjaan perawat dilakukan oleh orang-orang bebas. Pelopor perawat

di RS ini adalah Genevieve Bouquet.


c. ST. Thomas Hospital (1123 M)

Pelopor perawat di RS ini adalah Florence Nightingale (1820). Pada masa ini perawat

mulai dipercaya banyak orang. Pada saat perang Crimean War, Florence ditunjuk oleh negara

Inggris untuk menata asuhan keperawatan di RS Militer di Turki. Hal tersebut memberi

peluang bagi Florence untuk meraih prestasi dan sekaligus meningkatkan status perawat.

Kemudian Florence dijuluki dengan nama “ The Lady of the Lamp”.

d. Perkembangan keperawatan di Inggris

Florence kembali ke Inggris setelah perang Crimean. Pada tahun 1840 Inggris

mengalami perubahan besar dimana sekolah-sekolah perawat mulai bermunculan dan

Florence membuka sekolah perawat modern. Konsep pendidikan Florence ini mempengaruhi

pendidikan keperawatan di dunia.

Kontribusi Florence bagi perkembangan keperawatan a. l :

 Nutrisi merupakan bagian terpenting dari asuhan keperawatan.

 Okupasi dan rekreasi merupakan terapi bagi orang sakit

 Manajemen RS

 Mengembangkan pendidikan keperawatan

 Perawatan berdiri sendiri berbeda dengan profesi kedokteran

 Pendidikan berlanjut bagi perawat.

Negara-negara yang berpengaruh dalam perkembangan keperawatan jiwa

1. Peru

Dari zaman purbakala telah terdapat tanda- tanda yang menunjukkan bahwa pada

waktu itu manusia sudah mengenal dan berusaha mengobati gangguan jiwa. Ditemukan

beberapa tengkorak yang di lubangi, mungkin pada penderita penyakit ayan atau yang

menunjukan perilaku kekerasan dengan maksud untuk mengeluarkan roh jahat. Kepercayaan
bahwa gangguan jiwa itu timbul karena masuknya roh nenek moyang ke dalam tubuh

seseorang lalu menguasainya merupakan suatu hal yang universal.

2. Mesir

Kira –kira dalam tahun 1500 SM terdapat tulisan tentang orang yang sudah tua,

sebagai berikut: “... hati menjadi berat dan tidak dapat mengingat lagi hari kemarin”. Dalam

tahun-tahun berikutnya di sana di dirikan beberapa buah kuil yang terkenal dengan nama

“Kuil Saturn” untuk merawat orang dengan gangguan jiwa

3. Yunani

Hippocrates (460-357 SM) yang sekarang di anggap sebagai bapak ilmu kedokteran

yang terkenal karena rumus sumpah dokternya telah menggambarkan gejala- gejala

melancholia dan berpendapat bahwa penyakit ayan itu bukanlah suatu penyakit keramat akan

tetapi mempunyai penyebab alamiah seperti penyakit lain.Dalam kuil-kuil yang di pakai

sebagai tempat perawatan pasien dengan gangguan jiwa di gunakan hawa segar, air murni

dan sinar matahari serta musik yang menarik dalam pengobatan para penderita itu. Dalam

jaman romawi pada waktu itu di lakukan “pengeluaran darah dan mandi belerang”. Setelah

jatuhnya kebudayaan yunani dan romawi, dan ilmu kedokteran mengalami kemunduran.

Penderita gangguan jiwa di ikat, di kurung, di pukuli atau dibiarkan kelaparan. Ada yang di

masukan ke dalam sebuah tong lalu di gulingkan dari atas bukit ke bawah ada yang di

cemplungkan ke dalam sungai secara mendadak dari atas jembatan.

4. Negara-negara Arab

Di pakai cara-cara yang lebih berprikemanusiaan. Mereka memakai tempat

pemandian, diit, obat-obatan , wangi-wangian, dan musik yang halus dalam suasana yang

santai.
5. Eropa

Pada abad ke -17 dan 18 di dirikan rumah perawatan penderita gangguan jiwa yang

dinamakan “rumah amal”, “ rumah kontrak” atau “suaka duniawi”. Cara pengobatan yang

populer pada waktu itu ialah “ pengeluaran darah “, penderita di pakaikan “ “pakaian gila”

dan di cambuk.

6. Prancis

Pada akhir revolusi abad ke- 18 terjadi perubahan dalam tempat penampungan

penderita gangguan jiwa. PHILLIPE PINEL (1745- 1826) menjadi pengawas rumah sakit

Bicetre ( untuk penderita pria) dan kemudian pada Salpetriere ( untuk penderita wanita).

Keduanya di huni oleh penjahat , penderita retradasi mental dan penderita gangguan jiwa.

Tindakan pertama pinel ialah melepaskan penderita gangguan jiwa dari belenggu mereka.

B. Sejarah dan Perkembangan Keperawatan Jiwa di Indonesia

Sejarah dan perkembangan keperawatan di Indonesia dimulai pada masa penjajahan

Belanda sampai pada masa kemerdekaan.

1. Masa Penjajahan Belanda

Perkembangam keperawatan di Indonesia dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi

yaitu pada saat penjajahan kolonial Belanda, Inggris dan Jepang. Pada masa pemerintahan

kolonial Belanda, perawat berasal dari penduduk pribumi yang disebut Velpeger dengan

dibantu Zieken Oppaser sebagai penjaga orang sakit.

Tahun 1799 didirikan rumah sakit Binen Hospital di Jakarta untuk memelihara

kesehatan staf dan tentara Belanda. Usaha pemerintah kolonial Belanda pada masa ini adalah

membentuk Dinas Kesehatan Tentara dan Dinas Kesehatan Rakyat. Daendels mendirikan

rumah sakit di Jakarta, Surabaya dan Semarang, tetapi tidak diikuti perkembangan profesi

keperawatan, karena tujuannya hanya untuk kepentingan tentara Belanda.


2. Masa Penjajahan Inggris (1812 – 1816)

Gurbernur Jenderal Inggris ketika VOC berkuasa yaitu Raffles sangat memperhatikan

kesehatan rakyat. Berangkat dari semboyannya yaitu kesehatan adalah milik manusia, ia

melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki derajat kesehatan penduduk pribumi antara

lain :

 pencacaran umum

 cara perawatan pasien dengan gangguan jiwa

 kesehatan para tahanan

Setelah pemerintahan kolonial kembali ke tangan Belanda, kesehatan penduduk lebih

maju. Pada tahun 1819 didirikan RS. Stadverband di Glodok Jakarta dan pada tahun 1919

dipindahkan ke Salemba yaitu RS. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Tahun 1816 – 1942

berdiri rumah sakit – rumah sakit hampir bersamaan yaitu RS. PGI Cikini Jakarta, RS. ST

Carollus Jakarta, RS. ST. Boromeus di Bandung, RS Elizabeth di Semarang. Bersamaan

dengan itu berdiri pula sekolah-sekolah perawat.

3. Zaman Penjajahan Jepang (1942 – 1945)

Pada masa ini perkembangan keperawatan mengalami kemunduran, dan dunia

keperawatan di Indonesia mengalami zaman kegelapan. Tugas keperawatan dilakukan oleh

orang-orang tidak terdidik, pimpinan rumah sakit diambil alih oleh Jepang, akhirnya terjadi

kekurangan obat sehingga timbul wabah.

4. Zaman Kemerdekaan

Tahun 1949 mulai adanya pembangunan dibidang kesehatan yaitu rumah sakit dan

balai pengobatan. Tahun 1952 didirikan Sekolah Guru Perawat dan sekolah perawat

setimgkat SMP. Pendidikan keperawatan profesional mulai didirikan tahun 1962 yaitu Akper

milik Departemen Kesehatan di Jakarta untuk menghasilkan perawat profesional pemula.

Pendirian Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) mulai bermunculan, tahun 1985 didirikan PSIK (
Program Studi Ilmu Keperawatan ) yang merupakan momentum kebangkitan keperawatan di

Indonesia. Tahun 1995 PSIK FK UI berubah status menjadi FIK UI. Kemudian muncul

PSIK-PSIK baru seperti di Undip, UGM, UNHAS dll.

C. Model Pendekatan Keperawatan Jiwa

Berdasarkan konseptual model keperawatan diatas, maka dapat dikelompokkan ke

dalam 6 model yaitu:

1. Psycoanalytical (Freud, Erickson)

Model ini menjelaskan bahwa gangguan jiwa dapt terjadi pada seseorang apabila

ego(akal) tidak berfungsi dalam mengontrol id (kehendak nafsu atau insting).

Ketidakmampuan seseorang dalam menggunakan akalnya (ego) untuk mematuhi tata tertib,

peraturan, norma, agama(super ego/das uber ich), akan mendorong terjadinya penyimpangan

perilaku (deviation of Behavioral).

Faktor penyebab lain gangguan jiwa dalam teori ini adalah adanya konflik intrapsikis

terutama pada masa anak-anak. Misalnya ketidakpuasan pada masa oral dimana anak tidak

mendapatkan air susu secara sempurna, tidak adanya stimulus untuk belajar berkata- kata,

dilarang dengan kekerasan untuk memasukkan benda pada mulutnya pada fase oral dan

sebagainya. Hal ini akan menyebabkan traumatic yang membekas pada masa dewasa.

Proses terapi pada model ini adalah menggunakan metode asosiasi bebas dan analisa

mimpi, transferen untuk memperbaiki traumatic masa lalu. Misalnya klien dibuat dalam

keadaan ngantuk yang sangat. Dalam keadaan tidak berdaya pengalaman alam bawah

sadarnya digali dengamn pertanyaan-pertanyaan untuk menggali traumatic masa lalu. Hal ini

lebih dikenal dengan metode hypnotic yang memerlukan keahlian dan latihan yang khusus.

Dengan cara demikian, klien akan mengungkapkan semua pikiran dan mimpinya,

sedangkan therapist berupaya untuk menginterpretasi pikiran dan mimpi pasien.


Peran perawat adalah berupaya melakukan assessment atau pengkajian mengenai

keadaan-keadaan traumatic atau stressor yang dianggap bermakna pada masa lalu misalnya (

pernah disiksa orang tua, pernah disodomi, diperlakukan secar kasar, diterlantarkan, diasuh

dengan kekerasan, diperkosa pada masa anak), dengan menggunakan pendekatan komunikasi

terapeutik setelah terjalin trust (saling percaya).

2. Interpersonal ( Sullivan, peplau)

Menurut konsep model ini, kelainan jiwa seseorang bias muncul akibat adanya

ancaman. Ancaman tersebut menimbulkan kecemasan (Anxiety). Ansietas timbul dan alami

seseorang akibat adanya konflik saat berhubungan dengan orang lain (interpersonal).

Menurut konsep ini perasaan takut seseorang didasari adnya ketakutan ditolak atau tidak

diterima oleh orang sekitarnya.

Proses terapi menurut konsep ini adalh Build Feeling Security (berupaya membangun

rasa aman pada klien), Trusting Relationship and interpersonal Satisfaction (menjalin

hubungan yang saling percaya) dan membina kepuasan dalam bergaul dengan orang lain

sehingga klien merasa berharga dan dihormati.

Peran perawat dalam terapi adalah share anxieties (berupaya melakukan sharing

mengenai apa-apa yang dirasakan klien, apa yang biasa dicemaskan oleh klien saat

berhubungan dengan orang lain), therapist use empathy and relationship ( perawat berupaya

bersikap empati dan turut merasakan apa-apa yang dirasakan oleh klien). Perawat

memberiakan respon verbal yang mendorong rasa aman klien dalam berhubungan dengan

orang lain.

3. Social ( Caplan, Szasz)

Menurut konsep ini seseorang akan mengalami gangguan jiwa atau penyimpangan

perilaku apabila banyaknya factor social dan factor lingkungan yang akan memicu
munculnya stress pada seseorang ( social and environmental factors create stress, which

cause anxiety and symptom).

Prinsip proses terapi yang sangat penting dalam konsep model ini adalah environment

manipulation and social support ( pentingnya modifikasi lingkungan dan adanya dukungan

sosial)

Peran perawat dalam memberikan terapi menurut model ini adalah pasien harus

menyampaikan masalah menggunakan sumber yang ada di masyarakat melibatkan teman

sejawat, atasan, keluarga atau suami-istri. Sedangkan therapist berupaya : menggali system

sosial klien seperti suasana dirumah, di kantor, di sekolah, di masyarakat atau tempat kerja.

4. Existensial ( Ellis, Rogers)

Menurut teori model ekistensial gangguan perilaku atau gangguan jiwa terjadi bila

individu gagal menemukan jati dirinya dan tujuan hidupnya. Individu tidak memiliki

kebanggan akan dirinya. Membenci diri sendiri dan mengalami gangguan dalam Bodi-image-

nya

Prinsip dalam proses terapinya adalah : mengupayakan individu agar berpengalaman

bergaul dengan orang lain, memahami riwayat hidup orang lain yang dianggap sukses atau

dapat dianggap sebagai panutan(experience in relationship), memperluas kesadaran diri

dengan cara introspeksi (self assessment), bergaul dengan kelompok sosial dan kemanusiaan

(conducted in group), mendorong untuk menerima jatidirinya sendiri dan menerima kritik

atau feedback tentang perilakunya dari orang lain (encouraged to accept self and control

behavior).

Prinsip keperawatannya adalah : klien dianjurkan untuk berperan serta dalam

memperoleh pengalaman yang berarti untuk memperlajari dirinya dan mendapatkan feed

back dari orang lain, misalnya melalui terapi aktivitas kelompok. Terapist berupaya untuk

memperluas kesadaran diri klien melalui feed back, kritik, saran atau reward & punishment.
5. Supportive Therapy ( Wermon, Rockland)

Penyebab gangguan jiwa dalam konsep ini adalah: factor biopsikososial dan respo

maladaptive saat ini. Aspek biologisnya menjadi masalah seperti: sering sakit maag,

migraine, batuk-batuk. Aspek psikologisnya mengalami banyak keluhan seperti : mudah

cemas, kurang percaya diri, perasaan bersalah, ragu-ragu, pemarah. Aspek sosialnya memiliki

masalah seperti : susah bergaul, menarik diri,tidak disukai, bermusuhan, tidak mampu

mendapatkan pekerjaan, dan sebagainya. Semua hal tersebut terakumulasi menjadi penyebab

gangguan jiwa. Fenomena tersebut muncul akibat ketidakmamupan dalam beradaptasi pada

masalah-masalah yang muncul saat ini dan tidak ada kaitannya dengan masa lalu.

Prinsip proses terapinya adalah menguatkan respon copinh adaptif, individu diupayakan

mengenal telebih dahulu kekuatan-kekuatan apa yang ada pada dirinya; kekuatan mana yang

dapat dipakai alternative pemecahan masalahnya.

Perawat harus membantu individu dalam melakukan identifikasi coping yang dimiliki

dan yang biasa digunakan klien. Terapist berupaya menjalin hubungan yang hangat dan

empatik dengan klien untuk menyiapkan coping klien yang adaptif.

6. Medica ( Meyer, Kraeplin)

Menurut konsep ini gangguan jiwa cenderung muncul akibat multifactor yang

kompleks meliputi: aspek fisik, genetic, lingkungan dan factor sosial. Sehingga focus

penatalaksanaannya harus lengkap melalui pemeriksaan diagnostic, terapi somatic,

farmakologik dan teknik interpersonal. Perawat berperan dalam berkolaborasi dengan tim

medis dalam melakukan prosedur diagnostic dan terapi jangka panjang, therapist berperan

dalam pemberian terapi, laporan mengenai dampak terapi, menentukan diagnose, dan

menentukan jenis pendekatan terapi yang digunakan.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Bahwa Perkembangam keperawatan di Indonesia dipengaruhi oleh kondisi sosial

ekonomi yaitu pada saat penjajahan kolonial Belanda, Inggris dan Jepang. Pada masa

pemerintahan kolonial Belanda, perawat berasal dari penduduk pribumi yang disebut

Velpeger dengan dibantu Zieken Oppaser sebagai penjaga orang sakit.

Dalam pendekatan keperawatn jiwa kita menggunakan beberapa model konseptual

yaitu Psycoanalytical (Freud, Erickson), Interpersonal ( Sullivan, peplau), Social ( Caplan,

Szasz), Existensial ( Ellis, Rogers), Supportive Therapy ( Wermon, Rockland), Medica (

Meyer, Kraeplin)

B. Saran

Kita sebagai perawat tidak boleh lupa akan sejarah perjuangan keperwatan jiwa yang

selalu dipandang sebalah mata terhdapa khalayak umum & harus terkobarkan semangat juang

membantu orang yang mengalami gangguan jiwa untuk sembuh seperti semula.
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zaidin. 2002. Dasar-Dasar Keperawatan Profesional. Jakarta : Widya Medika.

Hidayat, A Aziz Alimul. 2002. Pengantar Kosep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salemba

Medika.

Keliat, Budi Anna;Panjaitan;Helena. 2005. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Ed.2.

Jakarta: EGC.

Stuart, G.W., & Sundeen, S.J. (1995). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC

Stuart, Gail W.2007.Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.

Suliswati, 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC


MAKALAH PERSPEKTIF, RUANG LINGKUP, TREND DAN ISU KEPERAWATAN
JIWA

KATA PENGANTAR

Pujisyukurkehadirat Allah swt, yang memberikannikmat-Nya sehingga kami


dapatmenyusundanmenyelesaikanmakalahPerspektif, ruanglingkup,
trendanisukeperawatanjiwaini. ShalawatsertasalamtaklupakitakhaturkankepadaNabi
Muhammad saw, karenaberkatbeliaulahkitadapatmerasakanpendidikansepertisaatsekarangini.

Dalampenulisandanpenyelesaianmakalahinitidakterlepasdaribantuandandorongandariberbagai
pihakterutamadosenpembimbingyaitu Ns. AntoniEkaFajarMaulana, M.Kep. Olehkarenaitu,
Kami mengucapkanterimakasihkepadabeliaudanterimakasihjuga kami ucapkankepadateman-
teman yang terlibatdalampenyelesaianmakalahini.

Mudah-mudahansegalabantuandandorongan yang diberikanmendapatimbalandari Allah swt.


SemogaMakalahinibermanfaatbagikitasemuadanjugabagipenulis.

Mataram, 6 Mei 2016

Penyusun

KELOMPOK V
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR
………………………………………………………………………….. i

DAFTAR
ISI……………………………………………………………………………………….. ii

BAB I PENDAHULUAN

 LatarBelakang…………………………………………………………………………
……. 1
 Tujuan…………………………………………………………………………………
……….. 2
 RumusanMasalah………………………………………………………………………
….. 2

BAB II LANDASAN TEORI

 Pengertianperspektifdanfalsafahkeperawatanjiwa……………………………… 3
 Model-model keperawatanjiwa………………………………………………………..
4
 Ruanglingkupkeperawatanjiwa………………………………………………………..
6
 Trend danisukeperawatanjiwa………………………………………………………….
7
 Definisi Trend
danIssu…………………………………………………………………… 9

BAB III PENUTUP

 Kesimpulan……………………………………………………………………………
……… 17
 Saran……………………………………………………………………………………
………. 17

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………… 18


BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Falsafah ialah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab,
azas-azas, hukum,dan sebagainya daripada segala yang ada dalam alam semesta ataupun
mengenai kebenaran dan arti adanya sesuatu (WJS Poerwadarminta. Falsafah keperawatan
ialah pandangan dasar tentang hakikat manusia dan esensi keperawatan yang menjadikan
kerangka dasar dalam praktik keperawatan.

Falsafah Keperawatan bertujuan mengarahkan kegiatan keperawatan yang dilakukan..


Keperawatan menganut pandangan holistik terhadap manusia yaitu kebutuhan manusia bio-
psiko-sosial-spiritual. Kegiatan keperawatan dilakukan dengan pendekatan humanistik, dalam
arti menghargai dan menghormati martabat manusia, memberi perhatian kepada klien serta,
menjunjung cukup tinggi keadilan bagi sesama manusia. Keperawatan bersifat universal dlm
arti tidak membedakan atas ras, jenis kelamin, usia, warna kulit, etik, agama, aliran politik,
dan status sosial ekonomi. Keperawatan adalah Falsafah keperawatan mengkaji penyebab dan
hukum-hukum yang mendasari realitas, serta keingintahuan tentang gambaran sesuatu yang
lebih berdasakan pada alasan logis daripada metoda empiris.

Falsafah keperawatan menurut Roy (Mc Quiston, 1995) :Roy memiliki delapan
falsafah, empat berlandaskan falsafah prinsip humanisme dan empat berlandaskan prinsip
falsafah veritivity.falsafah humanism atau kemanusiaan “mengenali manusia & sisi subyektif
manusia dan pengalamannya sebagai pusat rasa ingin tahu dan rasa menghargai”. Falsafah
yang melandasi keperawatan komunitas mengacu pada falsafah atau paradigma keperawatan
secara umum yaitu manusia yang merupakan titik sentral dari setiap upaya pembangunan
kesehatan yang menjunjung cukup tinggi nilai kemanusiaan dan bertolak dari pandangan ini
disusunlah paradigma keperawatan komunitas yg tersusun 4 komponen dasar manusia,
kesehatan, lingkungan, keperawatan.

Teori perspektif banyak perspektif teoritis pada keluarga yang tersedia untuk membimbing
masyarakat praktik keperawatan keluarga dan komunitas. Tidak mengejutkan, model
keperawatan bagi keluarga mencerminkan dua pemikiran dalam komunitas atau keperawatan
( kesehatan) masyarakat hari ini. Beberapa pandangan mendukung bahwa keluarga ialah unit
perawatan, dan masyarakat ialah konteks, sedangkan yang lain fokus pada komunitas sebagai
klien dan melihat keluarga sebagai subunit. Zerwekh (1991) Model Keluarga sebagai pemberi
perawatan merupakan Perawatan Kesehatan yang menguraikan kerangka kerja yang
mendukung untuk menyediakan perawatan keluarga dalam sebuah masyarakat. Sedangkan
Model kesehatan masyarakat sebagai fungsi yaitu memberikan panduan dalam penyediaan
perawatan bagi keluarga dan pandangan keluarga sebagai klien dalam masyarakat dan
keluarga sebagai bagian dari masyarakat klien.

 Rumusan Masalah

2. Apa yang dimaksud dengan perspektif dan falsafah keperawatan jiwa ?


3. Apa saja model-model keperawatan jiwa ?
4. Apa saja ruang lingkup keperawatan jiwa ?
5. Apa saja isu dan tren keperawatan jiwa ?

1.3. Tujuan

1. Untuk bisa mengetahui apa itu perspektif dan falsafah keperawatan jiwa.
2. Untuk bisa mengetahui apa saja model-model keperawatan jiwa
3. Untuk bisa mengetahui apa saja ruang lingkup keperawatan jiwa
4. Untuk bisa mengetahui bagaimana tren dan isu keperawatan jiwa
BAB II

PEMBAHASAN

 Perspektif dan Falsafah Keperawatan Jiwa

1. Falsafah Keperawatan Jiwa

Individu memiliki harkat dan martabat sehingga masing-masing individu perlu dihargai.
Tujuan individu meliputi tumbuh,sehat,otonomi dan aktualisasi diri. Masing-masing individu
tersebut berpotensi untuk berubah, oleh kita tahu bahwa manusia ialah mahkluk holistik yang
mempunyai kebutuhan dasar yang sama. Semua individu perilakunya bermakna, perilaku
individu tersebut meliputi : persepsi,pikiran,perasaan dan tindakan.

2. Pengertian Keperawatan Jiwa

Keperawatan jiwa merupakan proses interpersonal yang berupaya untuk meningkatkan dan
mempertahankan fungsi yang terintegrasi. Keperawatan jiwa merupakan bidang spesialisasi
praktik keperawatan yg menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan
diri sendiri secara terapeutik sebagai kiatnya (ANA).

Menurut Dorothy , Cecilia : keperawatan kesehatan jiwa merupakan “proses dimana perawat
membantu individu / kelompok dalam mengembangkan konsep diri yang positif ,
meningkatkan pola hubungan antar pribadi yang lebih harmonis serta agar lebih berproduktif
di masyarakat.”

Menurut Stuart Sundeen : keperawatan mental ialah “ proses interpersonal dalam


meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang berpengaruh pada fungsi integrasi. Pasien
tersebut bisa individu, keluarga,kelompok,organisasi atau masyarakat. Tiga area praktik
keperawatan mental yaitu perawatan langsung , komunikasi , management.”
 Model-Model Keperawatan Jiwa

1. Model Psikoanalisa

1) Konsep

Merupakan model yang pertama yang dikemukakan oleh Sigmun Freud yang meyakini
bahwa penyimpangan perilaku pada usia dewasa berhubungan pada perkembangan pada
anak.

2) Proses terapi

1. a) Memakan waktu yang lama


2. b) Memanfaatkan tehnik asosiasi bebas dan analisa mimpi”

3) Peran pasien dan terapis

1. a) Pasien
2. b) Terapis
3. Model Interpersonal

1) Konsep

Model ini diperkenalkan oleh Hary Stack Sullivan. Sebagai tambahan Peplau
mengembangkan teori interpersonal keperawatan. Dalam proses interpersonal perawat klien
memiliki 4 tahap :

1. a) Orientasi
2. b) Identivikasi
3. c) Eksplorasi
4. d) Resolusi

2) Proses terapi

1. a) Mengeksplorasi proses perkembangan


2. b) mengoreksi pengalaman interpersonal
3. c) reduksi
4. d) mengembangkan hubungan saling percaya

3) peran pasien dengan terapis

1. a) pasien : menceritakan ansietas dan perasaan


2. b) terapis : menjalin hubungan akrab dengan pasien dengan memanfaatkan empati

1. Model Eksistensi

1) Konsep

Teori mengemukakan bahwa penyimpangan perilaku terjadi jika individu putus hubungan
dengan dirinya dan lingkungannya.

2) Proses terapi

1. a) Rational emotive therapy


2. b) Terapi logo
3. c) Terapi realitas

3) Peran pasien perawat

1. a) Pasien : bertanggung jawab terhadap perilakunya dan berperan serta dalam suatu
pengalaman berarti untuk mempelajari tentang dirinya yang sebenarnya
2. b) Terapis :

 Membantu pasien untuk mengenali diri


 Mengklarifikasi realita dari suatu situasi
 Mengenali pasien tentangperasaan tulus
 Memperluas kesadaran diri pasien
1. Model Komunikasi

1) Konsep

Teori ini menyatakan bahwa gangguan perilaku terjadi apabila pesan tidak dikomunikasikan
dengan jelas.

2) Proses terapi

1. a) Memberi umpan balik dan klarifikasi kasus


2. b) Memberi penguatan untuk komunikasi yg efektif
3. c) Memberi alternatif kolektif untuk komunikasi yg tidak efektif
4. d) Melakukan analisa proses interaksi

3) Peran pasien terapis

1. a) Pasien : memperhatikan pola komunikasi , bermain peran,bekerja untuk


mengklarifikasi komunikasinya sendiri , memvalidasi peran dari oarang lain.
2. b) Terapis : menginterpretasikan pola komunikasi kepada pasien dan mengajarklan
prinsip komunikasi yang baik.
3. Model Keperawatan

1) Konsep

Teori ini mempunyai pandangan bahwa asuhan keperawatan berfokus pada respon individu
terhadap kasus kesehatan yang actual dan potensial denagan model pendekatan berlandaskan
teori sistem , teori perkembangan , teori interaksi , pendekatan holistik & teori keperawatan.
Fokus pada :

1. a) Rentang sehat sakit


2. b) Teori dasar keperawatan
3. c) Tindakan keperawatan
4. d) Hasil tindakan

2) Proses terapi

1. a) Proses keperawatan
2. b) Terapi keperawatan : terapi modalitas

3) Peran pasien & terapis

1. a) Pasien : mengemukakan kasus


2. b) Terapis : memfasilitasi & membantu menyelesaikan

2.3. Ruang Lingkup Keperawatan Jiwa

Perawat jiwa memberikan perawatan sepanjang rentang asuhan. Perawatan ini meliputi
intervensi yang berhubungan dengan pencegahan primer, sukunder, dan tersier.

1. Pencegahan primer

pencegahan primer ialah intervensi biologi, social, psikologis yang bertujuan meningkatkan
kesehatan dan kesejahtraan, menurunkan insiden penyakit dimasyarakat dengan mengubah
factor-faktor penyebab sebelum membahayakan. Pengkajian kebutuhan mau tindakan
keperawatan preventif termasuk identifikasi :

1) Faktor resiko yang apabila ada pada diri seseorang membuatnya lebih cendrung
mengalami gangguan

2) Faktor pelindung yang meningkatkan respos individu terhadap stress

3) Populasi target individu yang rentan meengalami gangguan jiwa yang mumgkin
menunjukkan respon koping maladaptive terhadap stressor spesifik atau factor resiko.

1. Pencegahan sukunder

Pencegahan sukunder termasuk menurunkan prevalensi gangguan. Aktiviras pencegahan


sukunder meliputi penemuan kasus dini, skrining, dan pengobatan efektif yang cepat.
Intervebsi krisis ialah suatu modalitas yang terapi pencegahan sukunder yang penting.
1. Pencegahan Tersier

Aktivitas pencegahan tersier mencoba untuk mengurangi beratnya gangguan dan disabilitas
yang berkaitan.

1. Rehabilitasi
Ialah proses yang memungkinkan individu untuk kembali ketingkat fungsi setinggi
mungkin. Rehabilitasi jiwa berkembang dari kebutuhan untuk menciptakan
kesempatan bagi individu yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, agar bisa
hidup, belajar dan bekerja dilingkungan masyarakat yang mereka pilih. Rehabilitasi
mengajukan bahwa penderita gangguan jiwa harus dianggap sama seperti individu
yang mengalami disabilatasi. Sama seperti disabilitasi yang mengalami gangguan
fisik, individu yang mengalami disabilitas jiwa membutuhkan pelayanan dalam
rentang yang luas, sering kali dalam waktu yang lama. Rehabilitasi jiwa
memanfaatkan pendekatan berpusat pada individu, manusia ke manusia yang berbeda
dengan model pelayanan medis tradisioanal.

 Trend dan Isu Keperawatan Jiwa

Menjadikan kesehatan jiwa sebagai prioritas global dengan cara meningkatkan


pelayanan kesehatan jiwa lewat advokasi dan aksi masyarakat. Perkembangan teknologi
digital membuat dunia terasa semakin sempit, informasi dari aneka belahan dunia mampu di
akses dalam waktu yang sangat cepat, perkembangan pengetahuan, perkembangan terapi
menjadi sebuah media perubahan dalam proses penatalaksanaan gangguan jiwa, berlandaskan
isu diatas maka advokasi dan aksi masyarakat menjadi salah satu langkah awal untuk
menekan penderita gangguan jiwa di indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya.

Dua tindakan nyata diatas menjadi tanggung jawab kita semua, tuntutan material, tuntutan
hedonisme dan kesenangan duniawi mampu membuat beberapa manusia mengalami
goncangan dalam kehidupannya, ketika agama tidak lagi menjadi pegangan, ketika nafsu
duniawi menjadi tuhan maka mau banyak perilaku tidak wajar yang muncul, tekanan
ekonomi, tekanan sosial, tekanan psikologis dan tekanan – tekanan yang lain mampu
membuat ego defence mechanisme seseorang menjadi terganggu. Seseorang pada intinya
ingin dianggap penting, perilaku agar dianggap atau terlihat penting ini yang terkadang
merusak integritas pribadinya sendiri.

Trend dan Isu dalam keperawatan jiwa ialah kasus-kasus yang sedang hangat dibicarakan dan
dianggap penting. Kasus-kasus tersebut bisa dianggap ancaman atau tantangan yang mau
berdampak besar pada keperawatan jiwa baik dalam tatanan regional maupun global. Secara
umum ada beberapa tren penting yang menjadi perhatian dalam keperawatan jiwa di
antaranya ialah sebagai berikut :

1. Kesehatan jiwa dimulai masa konsepsi


2. Trend peningkatan kasus kesehatan jiwa
3. Kecenderungan dalam penyebab gangguan jiwa
4. Kecenderungan situasi di era global
5. Globalisasi dan perubahan orientasi sehat
6. Kecenderungan penyakit jiwa
7. Meningkatnya post traumatik sindrom
8. Meningkatnya kasus psikososial
9. Trend bunuh diri pada anak
10. Kasus AIDS & NAPZA
11. Pattern of parenting
12. Perspektif life span history
13. Kekerasan
14. Kasus ekonomi & kemiskinan
 Definisi Trend dan Issu

1. Definisi Trend

Trend adalah hal yang sanat mendasar dalam berbagai pendekatan analisa, tren juga dapat di
definisikan salah satu gambar ataupun informasi yang terjadi pada saat ini yang biasanya
sedang popular di kalangan masayarakat.

Trend adalah sesuatu yang sedang dibicarakan oleh banyak orang saat ini dan kejadiannya
berdasarkan fakta.

Beberpa contoh trend pada kesehatan jiwa, antara lain :

 Penggunaan Narkoba bagi generasi muda

Banyak alasan mengapa narkoba diantaranya agar dapat diterima oleh lingkungan,
mengurangi stres, mengurangi kecemasan, agar bebas dari murung, mengurangi keletihan,
dan mengatasi masalah pribadi. Akan tetapi, terlepas dari semua itu, remaja memakai
narkoba karena narkoba membuatnya merasa nikmat, enak, dan nyaman pada awal
pemakaian. Alasan remaja memakai narkoba dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Anticipatory beliefs, yaitu anggapan bahwa jika memakai narkoba, orang akan
menilai dirinya hebat, dewasa, mengikuti mode, dan sebagainya.
2. Relieving beliefs, yaitu keyakinan bahwa narkoba dapat digunakan untuk mengatasi
ketegangan, cemas, dan depresi akibat stresor psikososial.
3. Facilitative atau permissive beliefs, yaitu keyakinan bahwa pengguna narkoba
merupakan gaya hidup atau kebiasaan karena pengaruh zaman atau perubahan nilai,
sehingga dapat diterima.

Jadi, penggunaan narkoba berawal dari persepsi, anggapan, atau keyakinan keliru yang
tumbuh di masyarakat. Maka tidak mau memahami atau tidak mau menerima kenyataan dan
fakta yang dapat dibuktikan secara ilmiah dan sah menurut hukum.
Mengapa Remaja Menyalahgunakan Narkoba ?

1. Budaya Mencari Kenikmatan Sesaat (Hedonistik)

Dewasa ini masyarakat cenderung mudah memakai obat untuk mengubah suasana hati,
sehingga pemakaian jenis narkoba diterima dengan tangan terbuka. Contoh : rokok, alkohol,
dan juga obat penghilang rasa nyeri yang mudah dibeli. Pesta ulang tahun atau akhir
pekandilalui dengan minuman beralkohol, rokok, ganja, ekstasi, yang didukung pula faktor
kemudahan untuk memperolehnya.

Remaja mempunyai pola serupa dengan orang dewasa. Umumnya penyalahgunaan narkoba
pada remajabersifat hedonistik, yakni bertujuan mencari kesenangan. Alasan yang sering
dikemukakan adalah ingin tahu dan ingin mencari kesenangan atau kenikmatan.

1. Kepribadian Remaja

Masa romantisme remaja dan nostalgia orang dewasa terhadap masa itu berada sekitar
ekspoitasi masa remaja yang mengandung resiko. Contoh : berselancar, ngebut, dan mencoba
narkoba. Remaja berada diantara masa kanak – kanak dan dewasa, baik secara biologis
maupun psikologis. Di satu pihak, remaja memiliki kemampuan orang dewasa, tetapi di lain
pihak belum memiliki kewenangan untuk manggunakan kemampuan itu.

Keterbatasan perspektif remaja menyebabkan remaja sulit menunda pemuasan keinginan


seketika, sehingga remaja lebih mirip anak kecil yang berbadan besar

daripada orang dewasa. Penyalahgunaan narkoba memperburuk keadaan. Narkoba


memperlemah kemauan, mendorong pemuasan keinginan segera, dan melemahkan daya pikir
ke depan.

Narkoba memberikan pemuasan keinginan segera, melemahkan kemampuan untuk


berpartisipasi terhadap bahaya dan kemampuan untuk menangkal kenikmatan sesaat. Remaja
yang terlalu dikendalikan dengan orang tua akan gagal memenuhi fungsi kemandirian orang
dewasa, sehingga ia tidak mampu menghargai dirinya sebagai individu yang mendiri.
Berlainan dengan penampilan luarnya, remaja ini sangat rawan terhadap tekanan kelompok
sebaya. Mereka akan menyerahkan diri terhadap tuntutan orang lain. Mereka akan mevcari
kebebasan semu dan kepribadian semu pada teman sebayanya untuk menggantikan fungsi
orang tua.

1. Tekanan Kelompok Sebaya

Tekanan kelompok sebaya berpengaruh kuat terhadap terjadinya penyalahgunaan narkoba.


Semua orang pasti merasan cemas jika ditolak oleh lingkungan sehingga berusaha mencari
persetujuan kelompoknya. Konflik orang tua dan remaja sebenarnya adalah konflik loyalitas,
yaitu loyalitas terhadap orang tua dengan loyalitas terhadap teman sebaya.

Remaja sangat peka terhadap nilai – nilai kelompok sebaya dalam penampilan, perilaku, dan
sikap. Jarang seorang remaja yang memiliki kemauan ego kuat berdiri teguh, terpisah dari
nilai – nilai kelompok sebayanya. Suasana hatinya sebagian besar berasal dari perjuangan
terus – menerus untuk memenangkan peperangan itu dan untuk berada dalam persetujuan
dengan kelompok sebaya. Di kalangan remaja, penyalahgunaan narkoba digunakan untuk
maksud rekreasi atau bersenang – senang sebagai kegiatan sosial yang diterima remaja.
Karena itu, remaja rawan terhadap penyalahgunaan narkoba.

1. Keterasingan Remaja

Keterasingan adalah adanya hubungan antar remaja dan nilai orang tua dan masyarakat secara
cita – cita , tradisi, dan kerohanian. Keterasingan dapat diartikan sebagai dimensi spiritual,
karena meliputi penolakan terhadap nilai – nilai yang berharga, yang memotivasi atau
memimpin sesorang melalui keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ada juga komponen
emosional pada keterasingan. Remaja yang terasing adalah remaja yang marah, yang secara
tidak sadar meluapkan perasaan dikhianati karena merasa nilai – nilainya ditolak. Dengan
perkataan lain, remaja yang terasing adalah remaja yang diabaikan atau tidak dipedulikan
oleh keluarga atau masyarakat. Dari keterasingan itu, remaja memilih jalan untuk mencoba –
coba berteman dengan narkoba.

1. Sters

Banyak sekali sumber stres. Pengalaman terhadap stres itu sendiri merupakan interaksi faktor
luar sebagai penyebab stres (disebut stresor) dan faktor dalam yang disebut keterampilan
mengatasi masalah (coping skills). Orang dengan sejumlah besar stresor, seperti kehilangan,
penyakit, dan trauma dikatakan mengalami banyak stres. Di lain pihak, seseorang yang
kurang terampil mengatasi masalah menganggap dirinya ‘sangat stres’ dibandingkan orang
lain yang lebih terampil mengatasi masalah. Gejala stres termasuk gelisah dan cemas, mudah
tersinggung dan teragitasi, sulit tidur atau mengalami gangguang tidur, sulit berkonsentrasi,
mengalami gangguan dalam selera makan, dan penyalahgunaan narkoba.

Penelitian membuktikan bahwa lingkungan keluarga yang tidak berfungsi baik dan kejadian –
kejadian yang membuat stres, berkaitan erat dengan penyalahgunaan narkoba. Penelitian pada
sejumlah siswa penyalahguna yang mengikuti perawatan terapi, menunjukkan tingkat stres
yang tinggi, penilaian diri yang rendah, keluarga yang mereka nilai sebagai ‘penuh
permusuhan dan kebencian’, serta orang tua yang kurang komunitkatif dan terlalu banyak
menuntut.

Tidak semua penyalahguna narkoba datang dari keluarga yang tidak berfungsi baik. Namun,
faktor stres dirumah tidak boleh diabaikan. Umumnya remaja memakai narkoba guna
menghilangkan stres, sebagai cara untuk mengatasi masalah yang kronis dan tidak ada jalan
keluarga.

1. Rasa Tidak Aman dan Penilaian Diri Rendah

Penilaian diri negatif dipengaruhi oleh penyalahgunaan narkoba. Sebaliknya, penilaian diri
rendah mendorong terjadinya penyalahgunaan narkoba. Proses yang menyebabkan seseorang
memiliki penilaian diri rendah adalah dinamika yang dibangun sejak usia dini. Penilaian diri
dibangun karena keberhasilan seseorang mengatasi masalah dan memenangkan tantangan
dalam kehidupannya. Seperti halnya individuasi, motivasi terbentuknya penilaian diri berasal
dari dalam. Orang tua berperang penting dalam membangun penilaian diri. Bimbingan,
intruksi, dan bantuan orang tua yang efektif dan melibatkan diri dalam kehidupan anak, akan
mendukunga terbentuknya penilaian diri.

 Terjadinya perang, konflik, lilitan krisis ekonomi yang mengakibatkan peningkatan


masalah kesehatan jiwa .

Masalah jiwa akan meningkat di era globalisasi. Sebagai contoh jumlah penderita sakit jiwa
di propinsi lain dan daerah istimewa Yogyakarta terus meningkat. Penderita tidak lagi
didominasi masyarakat kelas bawah. Kalangan pejabat dan masyarakat lapisan menengah ke
atas, juga tersentuh gangguan psikotik dan depresif..Apalagi untuk individu yang rentan
terhadap kondisi lingkungan dengan timgkat kemiskinan terlalu menekan.Kasus-kasus
gangguan kejiwaan yang ditangani oleh para psikiater dan dokter di RSJ menunjukkan bahwa
penyakit jiwa tidak mengenal baik strata sosial maupun usia. Ada orang kaya yang
mengalami tekanan hebat, setelah kehilangan semua harta bendanya akibat kebakaran. Selain
itu kasus neurosis pada anak dan remaja, juga menunjukkan kecenderungan meningkat.
Neurosis adalah bentuk gangguan kejiwaan yang mengakibatkan penderitanya mengalami
stress, kecemasan yang berlebihan, gangguan tidur, dan keluhan penyakit fisik yang tidak
jelas penyebabnya. Neurosis menyebabkan merosotnya kinerja individu. Mereka yang
sebelumnya rajin bekerja, rajin belajar menjadi lesu, dan sifatnya menjadi emosional. Melihat
kecenderungan penyakit jiwa pada anak dan remaja kebanyakan adalah kasus trauma fisik
dan nonfisik. Trauma nonfisik bisa berbentuk musibah, kehilangan orang tua, atau masalah
keluarga.Tipe gangguan jiwa yang lebih berat, disebut gangguan psikotik. Klien yang
menunjukkan gejala perilaku yang abnormal secara kasat mata. Inilah orang yang kerap
mengoceh tidak karuan, dan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya dan orang
lain, seperti mengamuk.Terjadinya perang, konflik, lilitan krisis ekonomi berkepanjangan
merupakan salah satu pemicu yang memunculkan stress, depresi, dan berbagai gangguan
kesehatan jiwa pada manusia. Menurut data World Health Organization (WHO), masalah
gangguan kesehatan jiwa di seluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang sangat
serius. WHO (2001) menyataan, paling tidak, ada satu dari empat orang di dunia mengalami
masalah mental. WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia yang mengalami
gangguan kesehatan jiwa. Sementara itu, menurut Uton Muchtar Rafei, Direktur WHO
wilayah Asia Tenggara, hamper satu per tiga dari penduduk di wilayah ini pernah mengalami
gangguan neuropsikiatri. Buktinya, bisa kita cocokkan dan lihat sendiri dari data Survei
Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT); tahun 1995 saja, di Indonesia diperkirakan sebanyak 264
dari 1.000 anggota rumah tangga menderita gangguan kesehatan jiwa.

2. Definisi Issu

Issu adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan terjadi atau tidak terjadi
pada masa mendatang, yang menyangkut ekonomi, moneter, social, politik, hokum,
pembanguanan nasional, bencana alam, hari kiamat, kematian ataupun tentang krisis.
Issu adalah suatu yang sedang di bicarakan oleh banyak namun belum jelas faktanya atau
buktinya.

Beberapa contoh issu dalam keperawatan jiwa di antaranya, yaitu :

 Menjadikan kesehatan jiwa sebagai prioritas global dengan cara meningkatkan


pelayanan kesehatan jiwa melalui advokasi dan aksi masyarakatPerkembangan
teknologi digital membuat dunia terasa semakin sempit, informasi dari berbagai
belahan dunia mampu di akses dalam waktu yang sangat cepat, perkembangan
pengetahuan, perkembangan terapi menjadi sebuah media perubahan dalam proses
penatalaksanaan gangguan jiwa, berdasarkan isu diatas maka advokasi dan aksi
masyarakat menjadi salah satu langkah awal untuk menekan penderita gangguan jiwa
di indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya.

Dua tindakan nyata diatas menjadi tanggung jawab kita semua, tuntutan material, tuntutan
hedonisme dan kesenangan duniawi mampu membuat beberapa orang mengalami goncangan
dalam kehidupannya, ketika agama tidak lagi menjadi pegangan, ketika nafsu duniawi
menjadi tuhan maka akan banyak perilaku tidak wajar yang muncul, tekanan ekonomi,
tekanan sosial, tekanan psikologis dan tekanan – tekanan yang lain mampu membuat ego
defence mechanisme seseorang menjadi terganggu. Seseorang pada intinya ingin dianggap
penting, perilaku agar dianggap atau terlihat penting ini yang terkadang merusak integritas
pribadinya sendiri, contoh : “agar kelihatan kaya melakukan hutang dengan beban angsuran
diluar kemampuan, akhirnya harus gerilya dengan debt collector, setiap debt collector datang
harus bersembunyi atau bahkan melarikan diri agar hutangnya tidak ditagih, jika perlu pindah
rumah kontrakan”. Kejaran dari debt collector bisa membuat seseorang menjadi tertekan
secara psikologis.

 Pemasungan penderita gangguan jiwa .

Pemasungan penderita gangguan jiwa adalah tindakan masyarakat terhadap penderita


gangguan jiwa (biasanya yang berat) dengan cara dikurung, dirantai kakinya dimasukan
kedalam balok kayu dan lain-lain sehingga kebebasannya menjadi hilang. Pasung merupakan
salah satu perlakuan yang merampas kebebasan dan kesempatan mereka untuk mendapat
perawatan yang memadai dan sekaligus juga mengabaikan martabat mereka sebagai manusia.
Di Indonesia, kata pasung mengacu kepada pengekangan fisik atau pengurungan terhadap
pelaku kejahatan, orang-orang dengan gangguan jiwa dan yang melakukan tindak kekerasan
yang dianggap berbahaya (Broch, 2001, dalamMinas & Diatri, 2008). Pengekangan fisik
terhadap individu dengan gangguan jiwa mempunyai riwayat yang panjang dan memilukan.

Alasan seseorang malkukan pemasungan, yaitu :

1. Ketidaktahuan pihak keluarga, rasa malu pihak keluarga, penyakit yang tidak kunjung
sembuh, tidak adanya biaya pengobatan, dan tindakan keluaga untuk mengamankan
lingkungan merupakan penyebab keluarga melakukan pemasungan (Depkes, 2005).
2. Perawatan kasus psikiatri dikatakan mahal karena gangguannya bersifat jangka
panjang (Videbeck, 2008). Biaya berobat yang harus ditanggung pasien tidak hanya
meliputi biaya yang langsung berkaitan dengan pelayanan medik seperti harga obat,
jasa konsultasi tetapi juga biaya spesifik lainnya seperti biaya transportasi ke rumah
sakit dan biaya akomodasi lainnya (Djatmiko, 2007).

Dampak dari pemasungan, yaitu :

Salah satu bentuk pelanggaran hak asasi tersebut adalah masih adanya praktek pasung yang
dilakukan keluarga jika ada salah satu anggota keluarga yang mengidap gangguan jiwa.
Pasung merupakan suatu tindakan memasang sebuah balok kayu pada tangan atau kaki
seseorang, diikat atau dirantai lalu diasingkan pada suatu tempat tersendiri di dalam rumah
ataupun di hutan

1. Secara tidak sadar keluarga telah memasung fisik dan hak asasi penderita hingga
menambah beban mental dan penderitaannya.Tindakan tersebut mengakibatkan orang
yang terpasung tidak dapat
2. Tindakan tersebut mengakibatkan orang yang terpasung tidak dapat menggerakkan
anggota badannya dengan bebas sehingga terjadi atrofi.Tindakan ini sering dilakukan
pada seseorang dengan gangguan jiwa bilaorang tersebut dianggap berbahaya bagi
lingkungannya atau dirinya sendiri (Maramis, 2006).
BAB III

PENUTUP

3.1 SIMPULAN

Dapat di simpulkan bahwa dalam keperawatan jiwa terdapat trend dan issue keperawatan
jiwa yang semakin berkembang di masyarakat maka seperti penyakit HIV,NAPZA,dan
masalah ekonomi dan rumah tangga dan di sinilah tugas perawat mencegah terjadinya seperti
bunuh diri,stress,maka perawat perlu member pendidikan kesehatan dan pengarahan lainnya.

3.2 SARAN

Seluruh perawat agar meningkatkan pemahamannya terhadap berbagai trend dan isu
keperawatan jiwa di Indonesia sehingga dapat dikembeangkan dalam tatanan layanan
keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Yosep Iyus, S.Kp, M.Si. 2009. Keperawatan Jiwa,Edisi Revisi.Bandung. PT. Refika
Aditama.

Effendy. (1998). Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. (edisi 2).Jakarta: EGC.

Friedman. (1998). Keperawatan Keluarga,Teori dan Praktek Edisi 3. Jakarta: EGC.

Frisch & Frisch. (2002). Psychiatric Mental Health Nursing. (2nd ed). New York:n Thomson
Learning, Inc.

Anda mungkin juga menyukai