Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN INFERTILITAS

(PRIA DAN WANITA)

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah


KeperawatanMaternitas II
Dosen pengampu: Desmawati,Skp.Mkep.Sp.Mat,PhD

Disusun oleh:
KELAS TUTORIAL F

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2019
Indah Nopiyanti
1610711023

Pengertian Infertilitas
Menurut World Health Organization (2012), infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil,
ketidakmampuan mempertahankan kehamilan, ketidakmampuan untuk membawa kehamilan
kepada kelahiran hidup.

Infertilitas atau kemandulan adalah ketidakmampuan secara biologis dari pasangan suami-
istri untuk menghasilkan keturunan yang lahir hidup.

Infertilitas adalah kegagalan dari pasangan suami-istri untuk mengalami kehamilan setelah
melakukan hubungan seksual, tanpa kontrasepsi, selama satu tahun.(Sarwono,497)

Infertilitas dapat bersifat primer dimana pasangan yang gagal untuk mendapatkan kehamilan
sekurang-kurangnya dalam satu tahun berhubungan seksual secara teratur tanpa
kontrasepsidengan angka kejadian sebanyak 62,0% dan infertilitas sekunderyaitu
ketidakmampuan seseorang memiliki anak atau mempertahankan kehamilannya dengan
angka kejadian sebanyak 38,0% (Alhassan et al., 2014).

Infertilitas adalah masalah penting yang mempengaruhi kualitas hidup dan merupakan
masalah dari 10-15 % pasangan usia produktif (American Society for Reproductive Medicine
[ASRM], 2009a; Nelson dan Marshall, 2007).

Prevalensi Infertilitas
Prevalensi infertilitas relatif stabil pada populasi namun meningkat seiring usia pada wanita,
terutama pada wanita yang lebih tua dari 40 tahun (Lobo,2007). Penyebab yang mungkin
termasuk tren untuk menunda kehamilan sampai usia lebih lanjut, ketika kesuburan
berkurang secara alami dan prevalensi penyakit seperti endometriosis dan disfungsi ovulasi
meningkat.

WHO (2012), memperkirakan sekitar 50-80 juta pasangan mengalami infertilitas di dunia.
Infertilitas di negara berkembang terjadi lebih tinggi yaitu sekitar 30%, dibandingkan
negaramajuhanya 5 – 8% (Masoumi et al., 2013).Prevalensi infertilitas di Asia yaitu 30,8% di
Kamboja, 10% di Kazakhtan, 43,7% di Turkmenistan, dan 21,3% di Indonesia (Konsensus
Penanganan Infertilitas, 2013).

Dari 39,8 juta Pasangan Usia Subur (PUS) di Indonesia, 10 – 15% diantaranya dinyatakan
=infertile dan diperkirakan 4 – 6 juta pasangan memerlukan pengobatan infertilitas untuk
mendapatkan keturunan (Bennett,2014). Penelitian terbaru telah menunjukkan bahwa
pasangan yang mencoba untuk memiliki anak melalui pengobatan medis seperti pengobatan
hormonal, inseminasi ataupun bayi tabung dinyatakan telah mengalami kecemasan
(Hashemiehet al., 2013).

NOER AENI ZAM ZAM MIA


1610711016
FAKTOR RESIKO

1. Umur
Kemampuan reprodukai wanita menurun drastis setelah umur 35 tahun. Hal ini
dikarenakan cadangan sel telur yang makin sedikit. Fase reproduksi wanita adalah masa
sistem reprodukai wanita berjalan optimal srhingga wanita berkemampuan untuk hamil. Fase
ini dimulai setelah masa pubertas sampai sebelum menopause.
Fase pubertas wanita adalah fase di saat wanita mulai dapat bereproduksi, yang
ditandai dengan haid untuk pertama kalinya. Pada umur 35 tahun simpanan sel telur menipis
dan mulai terjadi perubahan keseimbangan hormon sehingga kesempatan wanita untuk bisa
hamil menurun secara drastis. Kualitas sel telur yang dihasilkanpun menurun sehingga tingkat
keguguran meningkat.
2. Lama infertilitas
Terlambat dalam artian umur makin tua, penyakit pada prgan reproduksi yang makin parah,
dan makin terbatasnya jenis pengobatan yang sesuai dengan pasangan tersebut.
3. Stress
Stress meemicu pengeluaran hormon kortisol yang mempengaruhi bormon reprodukai.
Terjadi kenaikan tekanan darah dan denyut nadi, karena stress dapat menyebabkan
penyempitan aliran darah ke organ-organ panggul.
4. Lingkungan
Paparan terhadap racun seperti lem, bahan pelarut organik, yang mudah menguap, silikon,
pestisida, obat obatan (misalnya: obat pelangsing) dan obat reaksional (rokok, kafein, dan
alkohol) dapat mempengaruhi sistem reproduksi.
5. Konsumsi alkohol
Alkohol dapat berdampak pada sel Leydig dengan mengurangi sintesis testosteron dan
menyebabkan kerusakan pada membran basalis. Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat
menyebabkan gangguan pada fungsi hipotalamus dan hipofisis.
6. Merokok
Rokok mengandung zat berbahaya bagi oosit (menyebabkan kerusakan oksidatif terhadap
mitokondria), sperma (menyebabkan tingginya kerusakan morfologi), dan embrio
(menyebabkan keguguran).
7. Berat badan
Perempuan yang memiliki indeks masa tubuh (IMT) lebih dari 29, cenderung memiliki waktu
yang lebih lama untuk mendapatkan kehamilan. Laki-laki yang memiliki IMT > 29 akan
mengalami gangguan fertilitas.
8. Olahraga
Olahraga ringan-sedang akan meningkatkan fertilitas karena akan meningkatkan aliran darah
dan status anti oksidan.
9. Obat-obatan
 Spironolakton akan merusak produksi testosteron dan sperma.
 Sulfasalazin mempengaruhi perkembangan sperma normal (dapat digantikan dengan
mesalamin).
 Kolkisin dan allopurinol dapat mengakibatkan penurunan sperma untuk membuahi oosit.
 Antibiotik tetrasiklin, gentamisin, neomisin, eritromisin, dan notrofurantoin pada dosis
yang tinggi berdampak negatif pada pergerakan dan jumlah sperma.
 Simetidin terjadang menyebabkan impotensi dan sperma yang abnormal.
 Siklosporin juga dapat menurunkan fertilitas pria.
Bentuk lain penyalahgunaan zat juga dapat mempengaruhi infertilitas. Marijuana
menghambat sekresi dari GnRH dan dapat menekan fungsi reproduksi pada pria dan wanita.
10. Pekerjaan
Terdapat beberapa pekerjaan yang melibatkan paparan bahan berbahaya bagi kesuburan
wanita dan pria. Bahan yang telah teridentifikasi dapat mempengaruhi kesuburan diantaranya
panas, radiasi sinar X, logam, dan pestisida.
11. Hubungan seksual
Peenyebab infertilitas ditinjau dari segi hubungan seksual, meliputi:
 Frekuennsi
Hubungan intim (koitus) atau onani (masturbasi) yang dilakukan setiap hari akan
mengurangi jumlah dan kepadatan sperma. Frekuensi yang dianjurkan adalah 2-3 kali
seminggu sehingga memberi waktu testis memproduksi sperma dalam jumlah yang cukul
dan matang
 Posisi
Infertilitas dipeengaruhi oleh hubungan seksual yang berkualitas, yang dilakukan dengan
frekuensi 2-3 kali seminggu terjadi penetrassi tanpa kpmtrasepsi. Penetrasi yang optimal
dilakukan dengan cara posisi pria di atas, wanita di bawah. Sebagai tambahan, dibawah
pantat wanita diberi bantal agar sperma dapat tertampung. Dianjurkan setelah wanita
menerima sperma, wanita berbaring selama 10 menit sampai 1 jam bertujuan memberi
waktu pada sperma bergerak menuju saluran telur untuk bertemu sel telur.
 Masa subur
Satu sel telur dilepaskan oleh indung telur dalam setiap menstruasi, yaitu 14 hari sebelum
menstruasi. Peristiwa itu disebut ovulasi. Sel telur kemudian menunggu sperma di saluran
telur (tuba falopi) selama kurang lebih 48 jam masa tersebut disebut masa subur.
12. Gangguan reproduksi wanita
Kelainan terbanyak pada orgam reprodukai wanita penyebab infertilitas adalah entrometriosis
dan infeksi panggul, sedangkan kelainan lainnya yang lebih jarang kejadiannya adalah miomi
uteri, polip, kista dan saluran telur tersumbat (bisa 1 / 2 yang tersumbat).
Gangguan pada wanita
 Masalah vagina
Masalah vagina yang dapat menghambat penyampaian adalahadanya
sumbatan/peradangan. Sumbatan psikogen disebut vaginismus atau disparenia, sedangkan
sumbatan anatomik dapat karena bawaan/perolehan.
 Masalah serviks
Masalah serviks yang berpotensi mengakibatkan fertilitas adalah terdapat bagian kelainan
anatomi serviks yang berperan seperti terjadi cacat bawaan (atresia), polip serviks,
stenosis akibat trauma, peradangan dan sineksia.
 Masalah uterus
 Masalah penyebab infertilitas yang dapat terjadi di uterus adalah distorsia kavum uteri
karena sineksia, miomi/polip, peradangan endpmetrium, dan gangguan kontraksi uterus.
13. Kondisi reproduksi pria
Gangguan yang terjadi pada pria
 Gangguan di daerah sebelum testis (pretesticular)
Gangguan biasanya terjadi pada bagian otak, yaitu hipofisis yang bertugas mengeluarkan
hormon FSH dan LH. Kedua hormon tersebut mempengaruhi testis dalam menghasilkan
hormon testosteron, akibatnya produksi sperma dapat terganggu. Tetapi yang bisa
dilakukan adalah dengan terapi hormon.
 Gangguan di daerah testis (testicular)
Kerrja testis dapat terganggu bila terkena trauma pukulan, gangguan fisik, atau infeksi.
Bisa juga terjadi, selama pubertas testis tidak berkembang dengan baik, sehingga
produksi sperma menjadi terganggu
 Gangguan di daerah setelah testis (posttesticular)
Gangguan terjadi di saluran sperma sehingga sperma tidak dapat disalurkan dengan
lancar, biasanya karena salurannya buntu. Penyebabnya bisa jadi bawaan sejak lahir,
terkena infeksi penyakit, seperti tuberculosis (TB)
Penyakit penyebab infertilitas
 Endometriosis
Endometriosis adalah jaringan endometrium yang semestinya berada di lapisan paling
dalam rahim (lapisan endometrium) terletak dan tumbuh di tempat lain. Endometriosis
bisa terletak di lapisan tengah dinding rahim (lapisan myometrium) yang disebut juga
adenomyosis, atau bisa juga terletak di indung telur, saluran telur, atau bahkan dalam
rongga perut.
 Infeksi Panggul
Infeksi panggul adalah suatu kumpulan penyakit pada saluran reproduksi wanita bagian
atas, meliputi radang pada rahim, saluran telur, indung telur, atau dinding dalam panggul.
 Mioma Uteri
Mioma uteri adalah tumor (tumor jinak) atau pembesaran jaringan otot yang ada di rahim.
Tergantung dari lokasinya, mioma dapat terletak di lapisan luar, lapisan tengah, atau
lapisan dalam rahim. Biasanya mioma uteri yang sering menimbulkan infertilitas adalah
mioma uteri yang terletak di lapisan dalam (lapisan endometrium).
 Polip
Polip adalah suatu jaringan yang membesar dan menjulur yang biasanya diakibatkan oleh
mioma uteri yang membesar dan teremas-remas oleh kontraksi rahim. Polip dapat
menjulur keluar ke vagina. Polip menyebabkan pertemuan sperma-sel telur dan
lingkungan uterus terganggu, sehingga bakal janin akan susah tumbuh.
 Kista
Kista adalah suatu kantong tertutup yang dilapisi oleh selaput (membran) yang tumbuh
tidak normal di rongga maupun struktur tubuh manusia. Terdapat berbagai macam jenis
kista, dan pengaruhnya yang berbeda terhadap kesuburan. Hal penting lainnya adalah
mengenai ukuran kista. Tidak semua kista harus dioperasi mengingat ukuran juga menjadi
standar untuk tindakan operasi. Jenis kista yang paling sering menyebabkan infertilitas
adalah sindrom ovarium polikistik.
 Saluran Telur yang Tersumbat
Saluran telur yang tersumbat menyebabkan sperma tidak bisa bertemu dengan sel telur
sehingga pembuahan tidak terjadi alias tidak terjadi kehamilan.
 Sel Telur
Kelainan pada sel telur dapat mengakibatkan infertilitas yang umumnya merupakan
manifestasi dari gangguan proses pelepasan sel telur (ovulasi). Delapan puluh persen
penyebab gangguan ovulasi adalah sindrom ovarium polikistik. Gangguan ovulasi
biasanya direfleksikan dengan gangguan haid. Haid yang normal memiliki siklus antara
26-35 hari, dengan jumlah darah haid 80 cc dan lama haid antara 3-7 hari. Bila haid pada
seorang wanita terjadi di luar itu semua, maka sebaiknya untuk periksa ke dokter.
MANIFESTASI KLINIK
1. Perempuan
 Terjadi kelainan system endokrin
 Hipominore dan amenore
 Diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat menunjukkan masalah
pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau aberasi genetik
 Wanita dengan sindrom turner biasanya pendek, memiliki payudara yang tidak
berkembang,dan gonatnya abnormal
 Wanita infertil dapat memiliki uterus
 Motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat infeksi, adhesi,
atau tumor
 Traktus reproduksi internal yang abnormal
2. Laki-laki
 Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas, radiasi,
rokok, narkotik, alkohol, infeksi)
 Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu
 Riwayat infeksi genitorurinaria
 Hipertiroidisme dan hipotiroid
 Tumor hipofisis atau prolactinoma
 Disfungsi ereksi berat
 Ejakulasi retrograt
 Hypo/epispadia
 Mikropenis
 Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha
 Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla, bentuk dan motilitas sperma)
 Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis )
 Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis)
 Abnormalitas cairan semen
ETIOLOGI

1. Pria
a. Gangguan produksi sperma
Misaalnya akibat kegagalan testis primer (hipergonadotropik hipogonadisme) yang
disebabkan oleh faktor genetik (syndrom klinefelter, mikrodelesi kromosom Y) atau
kerusakan langsung lainnya terkait anatomi, infeksi (mumps orchitis), atau
gonadotoksin.
b. Gangguan fungsi sperma
Misalnya akibat antibodi, antisperma, radang saluran genital (prostatitis), varikokel,
kegagalan reaksi akrosom, ketidaknormalan biokimia atau gangguan dengan
perlengketan sperma (ke zona pelusida) ataau penetrasi.
c. Sumbatan pada duktus
Miisalnya akibat vasektomi, tidak adanya vas deferens bilateral, atau sumbatan
kongenital atau ynag di dapat pada epididimis atau duktus ejakulatorius.
d. Kelainan urogenital
e. Infeksi saluran urogenital
f. Kelainan endokrin
g. Kelainan genetik
h. Faktor imunologi
2. Wanita
a. Gangguan ovulasi
Gangguan ovulasi seperti SOPK, gangguan pada siklus haid, insufiensi ovarium
primer. WHO membagi kelainan ovulasi dalam 3 kelas, yaitu:
 Kelas 1: Kegagalan pada hipotalamus – hipofisis (hipogonadotropin –
hipogonadisme)
 Kelas 2: Gangguan fungsi ovarium (normogonafotropin – normogonafisme)
 Kelas 3: Kegagalan ovarium (hipergonadotropin – hipogonadisme)
 Kelas 4: Hiperprolaktinemia
b. Gangguuan tuba dan pelvis
Kerusakan tuba dapat disebabkan oleh infeksi (Chlamidia, Gonorrhoea, TBC)
maupun endometriosis. Klasifikasi kerusakan tuba, yaitu:
 Ringan/Grade 1: Oklusi tuba proksimal tanpa adanya fibrosis atau oklusi tiba
distal tanpa distensi. Mukosa tampak baik. Perlekatan ringan (perituba-
ovarium)
 Sedang/Grade 2: kerusakan tuba berat unilateral
 Berat/Grade 3: kerusakkan tuba berat bilateral. Fibrosis tuba luas. Distensi
tuba > 1,5cm. Mukosa tampak abnormal. Oklusi tuba bilateral. Perlekatan
berat dan luas.
c. Gangguan uterus
Kelainan uterus yang menyebabkan infertilitas antara lain
 Septum uteri : hal ini dapat menghambat maturasi normal embrio karena
kapasitas uterus yang kecil. Septum uteri berdasarkan ukuran dibagi menjadi
3 kelompok:
 Stadium I : 0-1 cm
 Stadium II : 1-3 cm
 Stadium III : >3 cm
 Mioma uteri
Mioma khususnya mioma submukosa mempengaruhi transportasi gamet
dengan cara menghalangi ostium tuba. Pembesaran dari rahim dan distorsi
dari kontur uterus mungkin mempengaruhi implantasi, menyebabkan
disfungsional kontraktilitas uterus, yang pada gilirannya bisa mengganggu
dengan migrasi sperma, transportasi sel telur atau mengganggu migrasi.

Nessa Ishmah M.

1610711083

Pemeriksaan Penunjang

1. Penilaian ovulasi.
Penilaian ovulasi dapat dilakukan dengan:
a) Frekuensi dan keteraturan menstuasi harus ditanyakan kepada seorang perempuan.
b) Perempuan yang mempunyai siklus dan frekuensi haid yang teratur setiap bulannya,
kemungkinan mengalami ovulasi.
c) Perempuan yang memiliki siklus haid teratur dan telah mengalami infertilitas selama 1 tahun,
dianjurkan untuk mengkonfirmasi terjadinya ovulasi dengan cara mengukur kadar
progesteron serum fase luteal madya (hari ke 21-28).
d) Pemeriksaan kadar progesteron serum perlu dilakukan pada perempuan yang memiliki siklus
haid panjang (oligomenorea). Pemeriksaan dilakukan pada akhir siklus (hari ke 28-35) dan
dapat diulang tiap minggu sampai siklus haid berikutnya terjadi.
e) Pengukuran temperatur basal tubuh tidak direkomendasikan untuk mengkonfirmasi terjadinya
ovulasi.
f) Perempuan dengan siklus haid yang tidak teratur disarankan untuk melakukan pemeriksaan
darah untuk mengukur kadar hormon gonadotropin (FSH dan LH).
g) Pemeriksaan kadar hormon prolaktin dapat dilakukan untuk melihat apakah ada gangguan
ovulasi, galaktorea, atau tumor hipofisis.
h) Pemeriksaan fungsi tiroid pada pasien dengan infertilitas hanya dilakukan jika pasien
memiliki gejala.

2. Analisis Hormonal
- Dilakukan untuk mengkaji fungsi endokrin pada aksis ovarium hipofisis hipotalamus.
- Spesimen darah diambil pada berbagai waktu selama siklus menstruasi untuk menentukan
kadar progesteron, estrogen, FSH dan LH.
- Spesimen urine diambil untuk memberi informasi tentang kadar ketosteroid-17 dan
hidroksikortikosteroid-17.
- Spesimen darah diambil pada tahap lanjut siklus menstruasi untuk mengkaji fungsi korpus
luteum.
- Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk menentukan apakah kadar plasma progesteron
berkolerasi baik dengan BBT wanita dan karakteristik lendir serviks.

3. Biopsi Endometrium Terjadwal


- Biopsi Endometrium dijadwalkan setelah ovulasi selama fase luteum siklus menstruasi.
- Pada tahap lanjut siklus menstruasi yaitu 3-4 hari sebeleum menstruasi selanjutnya diambil
sampel endometrium untuk penelitian histologi sehingga fungsi korpus luteum dan
kemampuan endometrium untuk menerima implantasi dapat dikaji.
- Ada dua metode untuk melakukan biopsi endometrium terjadwal, keduanya tidak
memerlukan hospitalisasi.
- Metode yang pertama diimplementasi 3-4 hari setelah menstruasi berikutnya. Dengan wanita
ditutupi selimut dan dalam posisi litotomi, spekulum vagina diinsersi ke dalam vagina.
Dengan menggunakan aspirator vabra berlumen kecil lalu diambil sampel endometrium.
- Metode kedua dilakukan dengan cara berikut:
a) Pasangan dianjurkan tidak melakukan hubungan seksual selama periode”fertil” yang
pertama agar embrio tidak keluar setelah prosedur.
b) Serviks dilatasi menggunakan laminaria 4 – 24 jam sebelum prosedur yang tidak
membutuhkan analgesia dilakukan.(Laminaria merupakan insersi rumput laut kemasan
berbentuk tipis dan berukuran kecial atau dilator osmotik sintesis yang jika diinsersi ke
dalam serviks, menyerap kelembapan, mengembang dan membuat serviks berdilatasi).
c) Wanita berbaring dalam posisi litotomi dan diselimuti kemudian spekulum diinsersi.
d) Laminaria diangkat.
e) Apabila sebelumnya tidak dilatasi dengan laminaria, serviks didilatasi pada saat ini
dengan dilator rad logam. Pada tahap ini analgesia atau anestesia sering kali dibutuhkan.
f) Sebuah spesimen kecil endometrium diambil dari dinding samping di dalam fundus
supaya embrio tidak terlepas jika konsepsi telah terjadi. (Jika implantasi terjadi, biasanya
terjadi di bagian atas fundus, baik di bagian posterior maupun di bagian anterior).

4. Histerosalpinografi
- Infertilitas tuba didiagnosa sekitar 15%- 50% pada pasangan subfertil. Histerosalpingografi
sinar (HSG) memberikan gambar rongga uterus dan tuba Fallopi. HSG merupakan uji
pendahuluan yang paling sederhana untuk menggambarkan rongga uterus dan tuba Fallopi
dan sedikit komplikasi.Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan HSG untuk menilai patensi
tuba.
- Adalah mungkin untuk melihat kelainan uterus, seperti defek kongenital atau defek yang
disebabkan mioma submukosa dan polip endometrium.
- Histerosalpinografi dijadwalkan 2-5 hari setelah menstruasi untuk menghindari pengeluaran
ovum yang berpotensi untuk dibuahi dari tuba fallopi ke dalam rongga peritoneum. Pada
waktu ini juga tidak ada pembuluh darah yang terbuka dan semua debris menstruasi telah
dikeluarkan. Hal ini menurunkan resiko embolisme atau resiko pengeluaran debris menstruasi
dari tuba ke dalam rongga peritoneum.
- Prosedur ini dapat menstimulasi silia didalam lapisan tuba untuk memfasilitasi transpor
ovum.

5. Laparoskopi
- Laparoskopi biasanya dijadwalkan pada awal siklus menstruasi
- Laparoskopi dianggap cara terbaik untuk menilai fungsi tuba falopi. Dengan memberikan
gambaran panoramik terhadap anatomi reproduktif panggul dan pembesaran dari permukaan
uterus, ovarium, tuba, dan peritoneum. Oleh karenanya, laparoskopi dapat mengidentifikasi
penyakit oklusif tuba yang lebih ringan (aglutinasi fimbria, fimosis), adhesi pelvis atau
adneksa, serta endometriosis yang dapat mempengaruhi fertilitas yang tidak terdeteksi oleh
HSG.
- Selama prosedur, sebuah teleskop kecil diinsersi melalui insisi kecil di dinding abdomen
anterior. Sumber cahaya fiberoptik dingin memungkinkan visualisasi superior struktur
internal.
- Sebelum pembedahan klien menjalani puasa selama 8 jam dan defekasi.
- Klien mangambil posisi litotomi dan anestesi umum biasanya diberikan .
- Sebuah jarum diinsersi dan gas karbon dioksida dipompakan ke dalam peritoneum untuk
mengangkat dinding abdomen dari organ , sehingga terbentuk suatu ruang kosong yang
memungkinkan visualisasi dan eksplorasi menggunakan laparoskop.
- Apabila kepatenan tuba dikaji lalu digunakan untuk memasukkan medium kontras berwarna
melalui serviks.
- Visualisasi kavum peritoneum pada wanita infertil dapat menunjukkan endometriosis, adesi
pelvis, okulasi tuba.
6. Pemeriksaan Pelvis Ultrasound
- Ultrasound transvaginal atau ultrasound abdomen juga digunakan untuk mengkaji struktur
pelvis.
- Prosedur ini digunakan untuk memvisualisasi jaringan pelvis guna mengidentifikasi kelainan,
memastikan perkembangan dan maturitas folikuler atau mengkonfirmasi kehamilan
intrauterin.

7. Analisa Sperma

- Sperma diperiksa dan ditampung setelah pasangan tidak melakukan senggama selama 3 hari dan
diperiksa segera setelah dikeluarkan.

- Penilaian sperma meliputi : Makroskopis : warna,volume, pH, bau, juga secara


Mikroskopis:jumlah,bentuk,motilitas, morfologi.

8. Pemeriksaan lendir servik dengan menilai Kekentalan lendir servik.

- Pada stadium proliferasi lendir servik agak cair karena pengaruh estrogen, sedangkan pada
stadium sekresi lendir servik kental karena pengaruh progesteron.Adapun kondisinya adalah
untuk pH lendir servik: Lendir servik bersifat alkalis dengan pH 9 ,Enzim Proteolitik
(mempengaruhi viskositas lendir servik),Immunoglobulin(dapat menimbulkan aglutinasi dari
sperma).
- Pada pemeriksaan lendir serviks dengan menggunakan:Sim Huhner Test. Test ini adalah uji
pasca senggama pada pertengahan siklus haid, dilakukan 2 jam setelah senggama untuk
menilai ketahanan hidup sperma dalam lendir servik.
- Selain itu juga bisa dengan Kurzrock Miller Test Adalah uji sederhana untuk mengukur
kemampuan sperma masuk kedalam lendir servik
Penatalaksanaan

Medikasi

1. Obat stimulasi ovarium (Induksi ovulasi)


Klomifen sitrat
a. Meningkatkan pelepasan gonadotropin FSH & LH
b. Diberikan pd hari ke-5 siklus haid
c. 1 x 50 mg selama 5 hari
d. Ovulasi 5 - 10 hari setelah obat terakhir
e. Koitus 3 x seminggu atau berdasarkan USG transvaginal
f. Dosis bisa ditingkatkan menjadi 150 - 200 mg/hari

2. Epimestrol
Memicu pelepasan FSH dan LH, Hari ke 5 - 14 siklus haid, 5 - 10 mg/hari

3. Terapi hormonal pada endometriosis


Supresif ovarium sehingga terjadi atrofi Endometriosis

4. Progesteron
Desidualisasi endometrium pada Atrofi jaringan Endometritik

Tindakan Operasi Rekontruksi


o Kelainan Uterus
o Kelainan Tuba
o Miomektomi
o Kistektomi
o Salpingolisis
o Laparoskopi operatif dan Terapi hormonal untuk kasus endometriosis + infertilitas
o Tindakan operatif pada pria : Rekanalisasi dan Operasi Varicokel.

Rekayasa Teknologi Reproduksi

1. Inseminasi Intra Uterin (IIU)


Metode ini merupakan rekayasa teknologi reproduksi yang paling sederhana. Sperma yang telah
dipreparasi diinseminasi kedalam
kavum uteri saat ovulasi. Syarat : tidak ada hambatan mekanik : kebuntuan tuba Falopii,
Peritoneum/endometriosis
Indikasi Infertilitas oleh karena faktor :
a) Serviks
b) Gangguan ovulasi
c) Endometriosis ringan
d) Infertilitas Idiopatik
e) Angka kehamilan 7 - 24 % siklus

2. Fertilisasi Invitro (FIV)


Fertilisasi diluar tubuh dengan suasana mendekati alamiah.Metode ini menjadi alternatif atau pilihan
terakhir
Syarat :
a) Uterus & endometrium normal
b) Ovarium mampu menghasilkan sel telur
c) Mortilitas sperma minimal. 50.000/ml
d) Angka kehamilan : 30 - 35 %
3. Intracytoplasmic Ssperm Injection (ICSI)

- Injeksi sperma intra-sitoplasmik (intracytoplasmic sperm injection = ICSI) merupakan teknik


mikromanipulasi yang menyuntikkan satu spermatozoon ke dalam sitoplasma oosit mature
telah digunakan untuk penanganan infertilitas pria sejak lebih dari satu dekade ini (Palermo et
al, 1992).
- Segera setelah itu diikuti dengan keberhasilan teknik ini pada pria azoospermia dengan
menyuntikkan spermatozoa dari testis dan epididymis. Teknik ini memberikan harapan yang
nyata pada pria infertil dengan oligo-astheno-teratozoospermia berat maupun
azoospermia, dengan penyebab apapun. Dengan berkembangnya teknologi dimana ICSI dapat
dilaksanakan dengan tidak terlalu rumit, maka ketersediaan sarana yang melaksanakan ICSI
berkembang dengan sangat pesat (Hinting, 2009).
- Hasil-hasil ini tidak berbeda antara sperma ejakulat, epididymis maupun testis (Palermo et al,
2001; Hinting et al, 2001).

Daftar pustaka

Bobak, Lowdermilk, dkk. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4.

THE INDONESIAN JOURNAL OF HEALTH SCIENCE, Vol. 1, No. 2, Juni 2011. KONSELING
INFERTILITAS. Diyan Indriyani
*Staf Pengajar Prodi Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan,
Universitas Muhammadiyah Jember*

Patofisiologi Infertilitas
a. Wanita
Beberapa penyebab dari gangguan infertilitas dari wanita diantaranya gangguan stimulasi hipofisis hipotalamus
yang mengakibatkan pembentukan FSH dan LH tidak adekuat sehingga terjadi gangguan dalam pembentukan
folikel di ovarium. Penyebab lain yaitu radiasi dan toksik yang mengakibatkan gangguan pada ovulasi.
Gangguan bentuk anatomi sistem reproduksi juga penyebab mayor dari infertilitas, diantaranya cidera tuba dan
perlekatan tuba sehingga ovum tidak dapat lewat dan tidak terjadi fertilisasi dari ovum dan sperma. Kelainan
bentuk uterus menyebabkan hasil konsepsi tidak berkembang normal walaupun sebelumnya terjadi fertilisasi.
Abnormalitas ovarium mempengaruhi pembentukan folikel. Abnormalitas servik mempengaruhi proses
pemasukan sperma. Faktor lain yang mempengaruhi infertilitas adalah aberasi genetik yang menyebabkan
kromosom seks tidak berkembang dengan baik.
Beberapa infeksi menyebabkan infertilitas dengan melibatkan reaksi imun sehingga terjadi gangguan interaksi
sperma sehingga sperma tidak bisa bertahan, infeksi juga menyebabkan inflamasi zigot yang berujung pada
abortus.
b. Pria
Abnormalitas androgen dan testosteron diawali dengan disfungsi hipotalamus dan hipofisis yang
mengakibatkan kelainan status fungsional testis. Gaya hidup memberikan peran yang besar dalam
mempengaruhi infertilitas diantaranya merokok, penggunaan obat-obatan dan zat adiktif yang berdampak pada
abnormalitas sperma dan penurunan libido. Konsumsi alkohol mempengaruhi masalah ereksi yang
mengakibatkan berkurangnya pancaran sperma. Suhu disekitar areal testis juga mempengaruhi abnormalitas
spermatogenesis. Terjadinya ejakulasi retrograt misalnya akibat pembedahan sehingga menyebabkan sperma
masuk ke vesika urinaria yang mengakibatkan komposisi sperma terganggu.

Sumber:
Jurnal Fakultas Kedokteran Infertilitas,Universitas Lampung
HERVINA

MENTARI FAJRI

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas klien
Nama, jenis kelamin, suku bangsa/latar belakang kebudayaan, agama, status sipil,
pendidikan, pekerjaan dan alamat
2. Riwayat kesehatan
 Wanita
a. Riwayat kesehatan dahulu\
1. Riwayat terpajan benda-benda yang membahayakan reproduksi
2. Riwayat infeksi genitorurinaria
3. Hipertiroidisme dan hipotiroid
4. Infesi bakteri dan virus (contoh toxoplasma)
5. Adanya tumor
6. Riwayat menular sexual
7. Adanya kista
b. Riwayat kesehatan sekarang
1. Endometriosis dan endometrits
2. Vaginismus (kejang pada otot vagina)
3. Gangguan ovulasi
4. Abnormal tuba falopi, ovarium, uterus dan servik
c. Riwayat kesehatan keluarga
Memiliki riwayat saudara/ keluarga dengan aberas genetik
d. Riwayat obstetri
1. Tidak hamil dan melahirkan selama satu tahun tanpa alat
kontrasepsi
2. Mengalami aborsi berulang
3. Sudah pernah melahirkan tetapi tidak hamil selama satu tahun
tanpa alat kontrasepsi
 Pria
a. Riwayat kesehatan dahulu
1. Riwayat terpajan benda-benda tajan yang membahayakan
reproduksi
2. Status gizi terutama protein dan vitamin
3. Riwayat infeksi genetorurinaria
4. Hipertiroidisme dan hipotiroid
5. Tumor hipofisis
6. Trauma, kecelakaan yang merusak testis
7. Konsumsi obat-obatan yang mengganggu spermatogenesis
8. Pernah menjalani operasi yang berefek mengganggu organ
reproduksi (ex: operasi prostat, operasi tumor saluran kemih)
b. Riwayat kesehatan sekarang
1. Disfungsi ereksi berat
2. Mikropenis
3. Andensus testis (testis masih dalam perut atau dalam liat paha)
4. Gangguan spermatogenesis
5. Saluran sperma tersumbat
6. Hernia scrotalis (hernia berat sampai kekantung testis)
7. Varikhoel (varises pembuluh vena pada testis)
c. Riwayat kesehatan keluarga
Mempunyai riwayat keluarga dengan aberasi genetik

B. Diagnosa
1. Ansietas berhubungan dengan status kesehatan dan fungsi peran (NANDA ed.10
hal 343)
2. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan gangguan citra tubuh dan
gangguan fungsi(NANDA ed.10 hal 290)
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan fungsi tubuh (NANDA
ed.10 hal 294)
C. Intervensi
Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil Intervensi dan rasional
Keperawatan

Ansietas berhubungan Setelah dilakukan 1. Berikan informasi yang


dengan status intervensi keperawatan faktual terkait diagnosis
kesehatan dan fungsi selama ..x24 jam, dan perawatan
peran ansietas pada klien dapat R : untuk mengurangi
berkurang atau teratasi cemas dan takut terhadap
dengan kriteria hasil : diagnosis dan prognosis
1. Klien dapat
menerima status 2. Identifikasi perubahan
kesehatannya tingkat kecemasan
2. Klien dapat R: Untuk mengetahui
menahan diri bertambahnya kecemasan
dari agresif pada klien

3. Bantu klien
mengidentifikasi situasi
yang memicu kecemasan
R: agar klien dapat
mengontrol
kecemasannya
(NOC ed.5 hal 598)
4. Dukung mekanisme
koping yang sesuai
R: agar klien dapat
menghadapi situasi ini
dengan baik

5. Dorong keluarga untuk


mendampingi klien dan
menerima keadaan klien
R : meyakinkan bahwa
peran dalam keluarga
tidak akan berubah

6. Kolaborasi pemberian
obat obatan untuk
mengurangi kecemasan
secara tepat (berikan
sedative, tranquilizer)
R: membantu pasien rilex
sampai mampu membuat
strategi koping yang
adekuat

(NIC. Ed.6 hal 319)


Harga diri rendah Setelah dilakukan 1. Bantu pasien untuk
situasional asuhan keperawatan menemukan
berhubungan dengan selama ..x24 jam, penerimaan diri
gangguan citra tubuh diharapkan klien bisa R: agar pasien bisa
dan gangguan fungsi meningkatkan harga menerima
dirinya dengan kriteria keterbatasan dirinya
hasil :
1. Klien 2. Bantu pasien untuk
mendapatkan mengidentifikasi
kepuasan dengan respon positif dari
fungsi tubuhnya orang lain
saat ini R: agar klien bisa
2. Klien bisa meningkatkan
menyesuaikan kepercayaan dirinya
dirinya terhadap
perubahan fungsi 3. Mendiskusikan
tubuh dan status pandangan pasien
kesehatannya terhadap citra diri dan
3. Klien dapat efek yang ditimbulkan
menerima dari penyakit atau
keterbatasan kondisi
dirinya R: untuk mengetahui
4. Klien bisa presepsi pasien
meningkatkan tentang dirinya\
kepercayaan
dirinya 4. Dorong keluarga klien
untuk tidak
mengkritisi klien
secaran negatif
(NOC ed.5 hal 101) R: agar kepercayaan
diri klien tidak
semakin menurun

5. Bantu klien untuk


mengatur tujuan yang
realistic dalam
meningkatkan harga
diri
R: agar klien dapat
mencapai tujuannya
dan dapat
meningkatkan
kepercayaan dirinya

6. Monitor frekuensi
verbalisasi negative
terhadap diri
R: agar pasien tidak
meniilai dirinya buruk

(NIC ed.6 hal 326)


Gangguan citra Setelah dilakukan 4. Gunakan bimbingan
tubuh berhubungan asuhan keperawatan antisipatif menyiapkan
dengan fungsi selama ..x24 jam, pasien terkait dengan
tubuh diharapkan klien tidak perubahan-perubahan
mengalami gangguan citra tubuh yang telah
citra tubuh dengan diprediksikan
kriteria hasil : R: agar pasien tahu
1. Klien dapat mengenai perubahan
menyesuaikan fungsi tubuhnya
diri terhadap
perubahan yang 5. Tentukan jika terdapat
dialaminya perasaan tidak suka pada
2. Klien dapat pasien akan perubahan
menyesuaikan fungsi tubuhnya
diri terhadap R: untuk membantu
perubahan status pasien menerima dirinya
kesehatannya
3. Klien menerima
6. bantu pasien untuk
fungsi tubuhnya
mendiskusikan stressor
dan puas akan
terkait dengan infertilitas
fungsi tubuhnya
R: agar klien dapat
menyesuaikan perubahan
(NOC ed. 5 hal
fungsi tubuhnya
79)
7. tentukan ppresepsi pasien
dan keluarga terkait
dengan perubahan citra
diri yang realistis
R: untuk mengetahui
penerimaan klien
terhadap keadaannya saat
ini
8. tentukan apakah
perubahan citra tubuh
berkontribusi pada isolasi
social
R: untuk memprediksi
dan mencegah timbulnya
isolasi social pada klien

(NIC ed.6 hal 324)

D. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan dari intervensi keperawatan dimana
awalan kata dari intervensi ditambah dengan kata kerja, misalnya pada intervensi
keperawatan kaji TTV maka pada implementasi menjadi mengkaji TTV (Judith M.W
2007).

E. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap penilaian untuk menentukan dan mengukur keberhasilan dari
intervensi dan implementasi tindakan keperawatan yang dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan klien
Contoh :

NO TANGGAL DAN WAKTU EVALUASI

1. 10 febuari 2017 S : -Klien mengatakan sudah bisa


menerima keadaannya saat ini
- Keluarga klien mengatakan bahwa
mereka menerima klien dengan
perubahan fungsi tubuhnya yang
sekarang
-
O : -klien tampak lebih tenang dalam
menerima keadaannya saat ini
- Klien terlihat sudah dapat
mengontrol kecemasannya

A: masalah teratasi
P : intervensi dihentikan