Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU DENGAN MIOMA UTERI

DI RUANG SAKINAH RS MUHAMMADIYAH LAMONGAN

DI SUSUN OLEH :

DIAH HANDAYANI

201820461011094

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2019
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

DENGAN PASIEN MIOMA UTERI

A. Definisi Mioma Uteri


Mioma uteri adalah suatu tumor jinak berbatas tegas tidak berkapsul yang berasal
dari otot polos dan jaringan ikat fibrous. Biasa juga disebut fibromioma uteri, leiomioma
uteri atau uterine fibroid. Tumor jinak ini merupakan neoplasma jinak yang sering
ditemukan pada traktus genitalia wanita, terutama wanita sesudah produktif (menopouse).
Mioma uteri jarang ditemukan pada wanita usia produktif tetapi kerusakan reproduksi
dapat berdampak karena mioma uteri pada usia produktif berupa infertilitas, abortus
spontan, persalinan prematur dan malpresentasi (Aspiani, 2017).
B. Etiologi
Mioma uteri belum ditemukan penyebab yang pasti terjadinya namun hasil penelitian
mengatakan bahwa mioma uteri terjadi tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat
pada “Cell Nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh hormon estrogen.
Mioma biasanya membesar pada saat kehamilan dan mengecil setelah menopause namun
jarang ditemukan.
C. Tanda dan Gejala
Gejala yang timbul sangat tergantung pada tempat mioma, besarnya tumor, perubahan
dan komplikasi yang terjadi. Gejala yang mungkin timbul diantaranya pendarahan
abnormal berupa hipermenore, menoragia dan metroragia. Faktor-faktor yang
menyebabkan perdarahan antara lain :
a. Terjadinya hyperplasia endometrium sampai adenokarsioma endometrium karena
pengaruh ovarium.
b. Permukaan endometrium yang lebih luas dari pada biasanya
c. Atrofi endometrium di atas mioma submukosum
d. Moimetrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya mioma di antara serabut
moimetrium
e. Rasa nyeri yang mungkin timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma,
yang disertai nerkosis setempat dan peradangan. Nyeri terutama saat menstruasi.
f. Pembesaran perut bagian bawah
g. Uterus membesar merata
h. Infertilitas
i. Perdarahan setelah bersenggama
j. Dismenore
k. Abortus berulang
l. Poliuri, retention urine, konstipasi serta edema tungkai dan nyeri panggul.
D. Faktor Resiko
Menurut Aspiani ada beberapa faktor yang diduga kuat merupakan faktor predisposisi
terjadinya mioma uteri.
1) Umur
Mioma uteri ditemukan sekitar 20% pada wanita usia produktif dan sekitar 40%-50%
pada wanita usia di atas 40 tahun. Mioma uteri jarang ditemukan sebelum menarche
(sebelum mendapatkan haid).
2) Hormon Endogen (endogenous hormonal)
Konsentrasi estrogen pada jaringan mioma uteri lebih tinggi dari pada jaringan
miometrium normal.
3) Riwayat keluarga
Wanita dengan garis keturunan dengan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri
mempunyai 2,5 kali kemungkinan untuk menderita mioma dibandingkan dengan
wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri.
4) Makanan
Makanan di laporkan bahwah daging sapi, daging setengah matang (red meat), dan
daging babi meningkatkan insiden mioma uteri, namun sayuran hijau menurunkan
insiden menurunkan mioma uteri.
5) Indeks masa tubuh
Obesitas juga berperan dalam terjadinya mioma uteri.
6) Kehamilan
Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri karena tingginya kadar estrogen dalam
kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi ke uterus. Hal ini mempercepat pembesaran
mioma uteri. Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan dengan
respon dan faktor pertumbuhan lain. Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor
progesteron, dan faktor pertumbuhan epidermal.
7) Paritas
Mioma uteri lebih sering terjadi pada wanita multipara dibandingkan dengan wanita
yang mempunyai riwayat melahirkan 1 (satu) kali atau 2 (2) kali.
E. Klasifikasi Mioma Uteri
Mioma umunya digolongkan berdasarkan lokasi dan kearah mana mioma tumbuh. Mioma
ini dibagi menjadi tiga jenis.
a. Mioma Uteri Intramural
Mioma uteri merupakan yang paling banyak ditemukan. Sebagian besar tumbuh
diantara lapisan uterus yang paling tebal dan paling tengah (miometrium).
Pertumbuhan tumor dapat menekan otot disekitarnya dan terbentuk sampai
mengelilingi tumor sehingga akan membentuk tonjolan dengan konsistensi padat.
Mioma yaang terletak pada dinding depan uterus dalam pertumbuhannya akan
menekan dan mendorong kandung kemih ke atas, sehingga dapat menimbulkan
keluhan miksi.
b. Mioma Uteri Subserosa
Mioma uteri ini tumbuh keluar dari lapisan uterus yang paling luar yaitu serosa dan
tumbuh ke arah peritonium. Jenis mioma ini bertangkai atau memiliki dasar lebar.
Apa bila mioma tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol kepermukaan
uterus diliputi oleh serosa. Mioma serosa dapat tumbuh di antara kedua lapisan
ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter. Mioma subserosa yang tumbuh
menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligamentum atau omentum kemudian
membebaskan diri dari uterus sehingga disebut wandering parasitis fibroid.
c. Mioma Uteri Submukosa
Mioma ini terletak di dinding uterus yang paling dalam sehingga menonjol ke
dalam uterus. Jenis ini juga dapat bertangkai atau berdasarkan lebar. Dapat tumbuh
bertangkai menjadi polip, kemudian di keluarkan melalui saluran seviks yang
disebut mioma geburt. Mioma jenis lain meskipun besar mungkin belum
memberikan keluhan perdarahan, tetapi mioma submukosa walaupun kecil sering
memberikan keluhan gangguan perdarahan. Tumor jenis ini sering mengalami
infeksi, terutama pada mioma submukosa pedinkulata. Mioma submukosa
pedinkulata adalah jenis mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Tumor ini
dapat keluar dari rongga rahim ke vagina, dikenal dengan nama mioma geburt atau
mioma yang dilahirkan.
F. Patofisologi

Faktor predisposisi :

a. Usia penderita
b. Hormon endogen
c. Riwayat keluarga
d. Makanan, kehamilan dan paritas.

Mioma uteri

Mioma Mioma Mioma


intramural submukosa subserosa

Tumbuh Berada dibawah endometrium & Tumbuh keluar


didinding uterus menonjol kedalam rongga uterus didinding uterus

Tanda atau gejala

Anemia Perdarahan Pembesaran uterus

Suplai darah Gangguan Kurang Gangguan Penekanan


menurun hematologi pengetahuan sirkulasi syaraf

Dx: Gangguan Penurunan Nekrosis


perfusi jaringan respon imun
perifer

Radang Nyeri
Dx : Resiko
infeksi

Post op Dx: Nyeri akut


atau kronis
G. Penatalaksanaan
1. Farmakologi
a. Terapi konservatif : Umumnya pasien mioma uteri tidak membutuhkan pengobatan.
Hal ini terutama untuk pasien yang tidak ada keluhan atau mendekati menopause.
Mioma uteri dengan ukuran tidak lebih dari usia kehamilan tiga bulan akan
mengecil sendii pada menopause, namun perlu pengawasan yang ketat akan
terjadinya degenerasi benigna atau maligna. Tindakan konservatif terutama
dilakukan untuk wanita yang masih mempunyai anak dan ukuran mioma masih
kecil. Tindakan konservatif tidak dilakukan bila terdapat gejala-gejala yang
merupakan indikasi pembedahan atau radiasi seperti nyeri abdomen atau
pelvicdistorsio abdomen karena tumor-tumor besar dan pertumbuhan tumor yang
cepat.
b. Pengobatan penunjang : Khusus sebagai penunjang pengobatan bagi pasien dengan
anemia karena hiperminore dapat diberikan ferum, tranfusi darah, diet kaya protein,
kalsium.
c. Pembedahan : Pada pasien mioma uteri dapat dilakukan tindakan pembedahan antara
lain miomektomi dan histerektomi.
a) Miomektomi
Yaitu operasi pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus.
Tindakan ini dapat dilakukan pada mioma submukosa yang bertangkai atau
jika fungsi uterus masih ingin dipertahankan karena keinginan mempunyai
anak, maka kemungkinan akan terjadi kehamilan 30-50 % setelah dilakukan
miomektomi untuk menyelamatkan fetus. Miomektomi bisa kambuh lagi
15-30 % untuk dilakukan miomektomi yang kedua.
b) Histerektomi.
Sekitar 25-35% pasien mioma uteri masih memerlukan histerektomi.
Histerektomi adalah operasi pengangkatan uterus yang umumnya
merupakan tindakan terpilih.Histerektomi dapat dilakukan lewat abdomen
maupun vagina. Pada histerektomi lewat vagiona ini jarang dilakukan
Karena uterus harus lebih kecil dari telur angsadan tidak ada perlekatan
dengan sekitar uterus. Macam-macam histerektomiabdomen antara lain:
1) Histerektomi subtotalis
Operasi yang mengangkat rahim atau uterus saja.
2) Histerektomi totalis
Operasi yang mengangkat.
3) Histerektomi totalis dengan salpingo oforektomi bilateral
Operasi yang mengangkat rahim, leher rahim, saluran telur, indung telur,
bagianhulu vagina, ligament, kelenjar getah bening dan jaringan lemah dari
dalam rongga pinggul. Histerektomi totalis biasanya dilakukan dengan
alasan mencegah timbulnya karsinoma servik uteri.
2. Non farmakologi
a) Kontrasepsi oral (pil KB). Obat ini berfungsi dengan cara menghambat sel telur
agar tidak dilepaskan dari ovarium untuk mencegah kehamilan. Selain itu, pil
KB bisa meringankan pendarahan berlebih dan membantu mengurangi rasa sakit
saat menstruasi.
b) Asam traneksamat. Bagi yang masih menginginkan untuk bisa hamil, Anda bisa
mengonsumsi obat asam traneksamat. Fungsi obat ini menyebabkan terjadinya
penggumpalan darah di dalam rahim. Obat ini bukan alat kontrasepsi dan tidak
bisa mencegah kehamilan. Penggunaan obat ini bisa menimbulkan efek samping
berupa gangguan pencernaan dan diare.
c) Obat anti inflamasi non steroid (OAINS). Obat ini bisa dikonsumsi untuk
menghentikan atau mengurangi pendarahan. Obat ini dapat menghalangi tubuh
dalam menghasilkan senyawa prostaglandin, yang terkait dengan menstruasi
berlebih. OAINS termasuk golongan obat pereda rasa sakit. Penggunaan obat ini
bisa menimbulkan efek samping berupa gangguan pencernaan dan diare.
d) Progesteron oral. Obat ini adalah penghasil hormon progesteron buatan manusia
untuk mengurangi menstruasi berlebih. Obat ini berfungsi mencegah dinding
rahim tumbuh dengan cepat.
e) Progesteron suntik. Metode ini berfungsi menghambat dinding rahim agar tidak
tumbuh dengan cepat dan mengatasi menstruasi berlebih. Obat ini juga berfungsi
sebagai alat kontrasepsi. Metode ini bisa menimbulkan efek samping seperti
pertambahan berat badan, pendarahan pada vagina, siklus menstruasi terganggu,
dan muncul gejala-gejala pra menstruasi.
f) Gonadotropin releasing hormone (GnRH). Obat ini akan membuat tubuh
menghasilkan lebih sedikit hormon estrogen, yang akhirnya akan menyusutkan
miom yang ada di dalam tubuh. Obat ini juga membantu meredakan menstruasi
berlebih serta mengurangi tekanan dan rasa nyeri pada perut. Selain itu, gejala
sering buang air kecil dan konstipasi juga bisa diatasi dengan bantuan obat ini.
Efek samping yang ditimbulkan obat ini berupa sensasi rasa panas, berkeringat,
dan jantung berdebar (hot flushes), peningkatan produksi keringat, otot kaku,
dan vagina menjadi kering.
g) Ulipristal acetate. Metode ini merupakan metode baru untuk mengatasi miom.
Pengobatan jenis ini bisa dilakukan selama tiga bulan, yang dimulai saat minggu
pertama menstruasi. Metode ini hanya direkomendasikan untuk perempuan di
atas 18 tahun. Ulipristal acetate tidak bisa digunakan bersamaan dengan
beberapa metode kontrasepsi hormonal seperti pil progestogen, intrauterine
device (IUD), dan pil kb.
H. Komplikasi
1. Pertumbuhan Leimiosarkoma
Mioma dicurigai sabagi sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar atau bisa
menjadi besar apabila hal itu terjadi saat menopaus.
2. Torsi (putaran tangkai)
Adanya tangkai pada mioma uteri subserosum yang mengalami putaran, proses ini akan
terjadi mendadak dan tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis
jaringan dan akan tampak gambaran klinik pada abdomen.
3. Nekrosis dan infeksi
Pada mioma subserosum yang menjadi polip, ujung tumor, kadang-kadang dapat
memulai kanalis servikalis dan dilahirkan dari vagina dan hal ini akan memungkinkan
gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder.
I. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan fisik : Hand to toe
2. Pemeriksaan darah lengkap : Hb, Albumin, Lekosit, Eritrosit.
3. USG : Terlihat masa pada uterus
4. Vagina Touscher : Terdapat pendarahan pervaginam, teraba massa, konsistensi dan
ukurannya.
5. Sitologis : Menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.
J. Pengkajian
1. Aktivitas / istirahat
Gejala:
a. Kelemahan atau keletihan
b. Perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur pada malam hari; adanya
faktor-faktor yang mempengaruhi tidur, mis: nyeri, ansietas, berkeringat
malam.
c. Keterbatasan partisipasi dalam hobi, latihan.
d. Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat
stresstinggi
2. Sirkulasi
Gejala: Palpitasi, nyeri dada.
Tanda: Perubahan pada TD.
3. Integritas ego
Gejala: Faktor stress (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stress
(mis: merokok, minum alkohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan religius
/spiritual).
4. Masalah tentang perubahan dalam penampilan, mis: alopesia, lesi cacat, pembedahan.
5. Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, rasa bersalah, kehilangan
kontrol, depresi.
Tanda: Menyangkal, menarik diri, marah.
6. Eliminasi
Gejala: Perubahan pada pola defekasi, mis: darah pada feses, nyeri pada
defekasi, perubahan eliminasi urinarius, mis: nyeri atau rasa terbakar pada saat berke
mih,hematuria, sering berkemih.
Tanda: Perubahan pada bising usus, distensi abdomen.
7. Makanan / cairan
Gejala: Kebiasaan diet buruk (mis: rendah serat, tinggi lemak, aditif, bahan
pengawet),anoreksia, mual atau muntah, intoleransi makanan, perubahan pada berat
badan; penurunan berat badan hebat, kakeksia berkurangnya massa otot.
Tanda: Perubahan pada kelembaban atau turgor kulit, edema.
8. Neurosensori
Gejala: Pusing, sinkope.
9. Nyeri / Kenyamanan
Gejala: Tidak ada nyeri atau derajat nyeri bervariasi mis: ketidaknyamanan
ringansampai nyeri berat (dihubungkan dengan proses penyakit).
10. Pernapasan
Gejala: Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang
merokok),Pemajanan asbes.
11. Keamanan
Gejala: Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama /
berlebihan.
Tanda: Demam, ruam kulit, ulserasi.
12. Seksualitas
Gejala: Masalah seksual mis: dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat
kepuasan, nuligravida lebih besar dari usia 30 tahun, multigravida, pasangan seks
multipel,aktivitas seksual dini, herpes genital
DAFTAR PUSTAKA

Apriyani, Yosi. (2013). Analisa Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Mioma Uteri
di RSUD dr. Adhyatma Semarang. Jurnal Kebidanan. Vol. 2 No. 5

Aspiani, Y, R. (2017 ). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: TIM

Manuaba. (2009 ). Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Edisi 2. Jakarta: EGC

NANDA. (2018). Diagnosa Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2018-2020 edisi 11 (Budi Anna
Keliat dkk, penerjemah). Jakarta: EGC

Bulechek G., Butcher H., Dochterman J., & Wagner C. (2016). Nursing intervention classification
(NIC) edisi 6. Elsevier

Bulechek G., Butcher H., Dochterman J., & Wagner C. (2016). Nursing outcomes classification
(NOC) edisi 6. Elsevier

Nugroho, T. (2012). Obstetri dan Ginekologi. Yokyakarta: Nuha Medika