Anda di halaman 1dari 22

BAB 3

PEMBAHASAN

3.1 Identitas Umum


Pengkajian data umum keluarga mencakup: nama kepala keluarga, alamat
dan nomor telepon, komposisi keluarga, tipe keluarga, latar belakang budaya
(suku), religiusitas, dan status sosial ekonomi keluarga, serta aktifitas rekreasi
atau mobilisasi sosial keluarga.
1. Nama kepala keluarga
Berdasarkan UU No 1 tahun 1974 tentang perkawinan, pasal 31 ayat 3
berbunyi: Suami adalah Kepala Keluarga dan Istri adalah Ibu rumah
tangga. Hal ini merupakan definisi kepala keluarga secara harfiah,
bagaimana ketika kita mengkaji keluarga yang memiliki lansia? Dalam
pengkajian keluarga kepala keluarga merupakan orang yang memiliki
pengaruh luas dan pengambil keputusan keluarga tersebut. Jika ada satu
keluarga besar yang di dalamnya ada 1 keluarga ditambah sepasang lansia
yang merupakan ibu mereka, kita bisa melakukan pengkajian dengan
menanyakan siapa yang pengambil keputusan utama dalam keluarga. Bis
2. Alamat dan nomor telepon
Alamat klien dan keluarganya tinggal serta nomor telpon yang bisa
dihubungi
3. Komposisi keluarga
Pengkajian komposisi keluarga sebaiknya ditampilkan dalam bentuk
sebuah genogram. Anggota keluarga yang diidentifikasi tidak hanya
keluarga yang tinggal dengan lansia tetapi juga garis keturunannya,
disarankan mengkaji hingga 3 generasi, hal ini bertujuan untuk mengetahui
riwayat penyakit keluarga. Komposisi keluarga dapat ditampilkan dalam
bentuk genogram ataupun tabel.
Contoh dalam bentuk tabel:

Tabel 1. Ilustrasi komposisi keluarga Tn. B


No Nama Hubungan Usia
1 Bambang Suami (Kepala keluarga) 39 tahun
2 Ayu Sekar Istri 34 tahun

13 Universitas Indonesia
14

Tn.
Z Ny. Y
Hipertensi

Tn. T
Tn. Ny. W (70 tahun) Ny. Y
K
(1920 – 1999) (1925 – 2000) GGK
Hipertensi DM Hipertensi

Menikah 2002
Tn. Y Tn. B Ny. A Ny. Z
45 (th) (39 th) (34 th) (40 th)

Laki-laki
Perempuan An. J An. S
10 (th) (5 th)
Meninggal
Klien
Keluarga binaan (tinggal satu rumah)

Diagram 1. Ilustrasi komposisi keluarga Tn. B

4. Tipe keluarga
Pada diagram 1 tipe keluarganya adalah Extended family: yaitu tipe keluarga
yang berbagi pengaturan rumah tangga dan pengeluaran keuangan dengan
orang tua.
5. Budaya
Pada pengkajian budaya diantara yang bisa didapatkan antara lain data suku
bangsa. Pertanyaan yang bisa ditanyakan saat mengkaji adalah dari
manakah daerah asal bapak? Apa suku bapak dan ibunya? Sebelum tinggal
disini dimana kah sebelumnya bapak tinggal? Apakah orang sekitar tempat
tinggal berasal dari suku yang sama? Bahasa apakah yang biasa digunakan
keluarga untuk berinteraksi di rumah? Adakah pantangan atau anjuran suku
atau budaya yang berhubungan dengan kesehatan?
6. Agama
Pengkajian agama bukan hanya agama apa yang dianut oleh keluarga, tapi
juga kebiasaan melaksanakan ritual agama, serta ajaran agama yang
mempengaruhi kesehatan pantangan maupun perintah. Pertanyaan yang bisa
ditanyakan saat pengkajian adalah apa agama anggota keluarga? Apa ritual
keagamaan yang dilakukan keluarga? Adakah anjuran atau pantangan
agama yang mempengaruhi atau berhubungan dengan kesehatan? Apakah
bapak T biasa ikut pengajiak di sekitar rumah?

Universitas Indonesia
15

7. Status sosial ekonomi keluarga


Status sosial ekonomi keluarga melalui pengkajian penghasilan, pendidikan,
pemenuhan kebutuhan, dan kepemilikan asuransi kesehatan. Pertanyaan bisa
diajukan ke kepala keluarga di rumah tersebut yaitu Bp. B. Pertanyaan yang
bisa diajukan adalah apakah pekerjaan bapak dan ibu? Adakah diantara
anggota keluarga yang juga bekerja selain bapak dan ibu? Berapa
pengeluaran rata-rata keluarga setiap bulan? Berapa penghasilan keluarga
per bulan? Apakah keluarga memiliki asuransi kesehatan?.

3.2 Riwayat perkembangan keluarga


Riwayat keluarga adalah sebuah proses perubahan yang dinamis terjadi
sepanjang keberlangsungan keluarga. Setiap individu mempunyai tugas
perkembangan masing-masing yang harus mereka capai. Menurut Friedman
(2003), tahap perkembangan keluarga pada lansia mempunyai tugas yaitu:
1. Mempertahankan penataan kehidupan yang memuaskan.
2. Menyesuaikan terhadap penghasilan yang berkurang.
3. Mempertahankan hubungan pernikahan.
4. Menyesuaikan terhadap kehilangan pasangan.
5. Mempertahankan ikatan keluarga antargenerasi.
6. Melanjutkan untuk merasionalisasi kehilangan keberadaan anggota
keluarga (peninjauan dan integrasi kehidupan)

Stressor terbesar pada tahap ini adalah hal ekonomi, perumahan, masalah
sosial, pekerjaan, dan kesehatan. Perhatian pelayanan kesehatan yang dapat
difokuskan pada tahap ini adalah:
1. Disabilitas fungsional meningkat.
2. Gangguan mobilitas
3. Penyakit kronik
4. Kekuatan dan fungsi fisik menghilang
5. Layanan perawatan dalam jangka panjang
6. Gangguan kognitif, berduka/depresi, dan isolasi sosial

Universitas Indonesia
16

Jika diaplikasikan kepada lansia dengan hipertensi, maka hal yang terkait
pengkajian pada tahap riwayat perkembangan keluarga lansia adalah:
1. Sesuai dengan pengkajian riwayat perkembangan friedman, hal pertama
dikaji adalah riwayat kedua orang tua dari keluarga asal masing-masing
pasangan lansia.
a. Apakah kedua orang tua keluarga asal mempunyai riwayat hipertensi?
b. Bagaimana pola makan, hidup, olahraga keluarga asal?
c. Bagaimana persepsi keluarga asal mengenai hipertensi? Bagaimana
mencari perawatan dan perawatan selama dirumah.
2. Tahapan perkembangan lansia berada pada tahap perkembangan ke VIII
yaitu keluarga lansia dan pensiunan, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan saat melakukan pengkajian
a. Pandangan lansia terhadap pencapaian hidup mereka? Apakah menjadi
tahun terbaik atau terburuk. Karena hal ini dapat menjadi faktor stressor
pada hipertensi.
b. Pandangan lansia mengenai proses menua? Pandangan lansia mengenai
perubahan fungsi fisik, keterbatasan fisik? Pandangan lansia mengenai
kesehatan dan proses penyakit?
c. Ekonomi: Adaptasi dengan penghasilan, terutama bagi lansia
pensiunan. Bagaimana mereka beradaptasi dengan penghasilan yang
berkurang? Apakah ada sokongan dana selain gaji pensiunan? Apakah
mereka puas dengan penghasilan pensiunan? Apakah penghasilan
dijadikan pengganggu dalam memenuhi kebutuhan kesehatan lansia?
Bagaimana adaptasi dengan kehilangan pekerjaan? Apa yang lansia
lakukan setelah pensiun?
d. Perumahan: lansia tinggal sendiri? Dengan pasangan? Apakah fasilitas
dimiliki sendiri? Tinggal dipanti werdha? Siapa yang memenuhi
kebutuhan sandang, pangan dan papan?
e. Kepuasaan dalam memepertahankan hubungan pernikahan: bagaimana
hubungan lansia dengan pasangan? Bagaimana lansia menerima
perubahan fisik dan kesehatan pasangannya?

Universitas Indonesia
17

f. Kehilangan pasangan: sejak kapan ditinggal pasangan? Bagaimana


pandangan lansia setelah ditinggal pasangan? Mendapat dukungan
emosional dari mana? Bagaimana cara beradaptasi dengan kesepian?
g. Adaptasi dengan ikatan antar generasi: bagaimana interaksi dengan
keluarga? Bagaimana komunikasi dengan pasangan?
h. Kesehatan dan sosial: bagaimana hubungan sosial lansia dengan
masyarakat sekitar? Apakah lansia aktif dengan aktifitas sosial
masyarakat? siapa yang melakukan perawatan kesehatan pada lansia?
Apakah di susah menemukan pelayanan kesehatan di daerah lansia
tinggal? Apakah lansia kesusahan mencapai tempat pelayanan
kesehatan?

3.3 Data Lingkungan


Lingkungan merupakan salah satu konsep sentral dalam keperawatan.
Lingkungan adalah bagian dari empat konsep sentral ilmu keperawatan yang
dikenal dengan metaparadigma yaitu lingkungan, keperawatan, kesehatan,
dan manusia (Fawcett, 2005). Proposisi utama tentang hubungan keempat
konsep adalah bahwa keperawatan mempelajari keseluruhan atau kesehatan
manusia, mengingat bahwa manusia berada dalam interaksi secara
berkesinambungan dengan lingkungannya (Donaldson & Crowley, 1978
dalam Friedman, et.al, 2003).

Faktor lingkungan utama yang berhubungan dengan kesehatan keluarga


berfokus pada mikrosistem, makrosistem, dan suprasistem keluarga. Ketiga
dimensi tersebut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan
keluarga. Mikrosistem misalnya pertemuan antar anggota keluarga, atau
dengan masyarakat. Pada tingkat yang lebih luas, keluarga berada di
makrosistem lingkungan, misalnya sistem pendidikan, pekerjaan, dan
pelayanan sosial. Suprasistem mencakup konteks sosiopolitik secara nasional
dan global untuk fungsi makrosistem dan mikrosistem (Meleis, 2007). Faktor
lingkungan sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang, misal
keluarga dengan lansia. Hipertensi yang saat ini prevalensinya mencapai 30%

Universitas Indonesia
18

pada lansia, ternyata faktor penyebab terbanyak selain genetik adalah faktor
lingkungan (Gavras, 2009). Misal dalam mikrosistem, pengaruh hubungan
komunikasi, keharmonisan dengan anggota keluarga mempengaruhi
terjadinya hipertensi. Di lingkungan makrosistem, seperti stressor pekerjaan,
pendidikan, dan lingkungan luar yang saat ini telah banyak dibuktikan dapat
mempengaruhi terjadinya hipertensi. Begitu juga dengan lingkungan sosial
politik yang nyata mempengaruhi kondisi psikologis sehingga mampu
menjadi pemicu naiknya tekanan darah. Berikut beberapa hal yang perlu
diperhatikan oleh perawat dalam mengkaji keluarga lansia dengan hipertensi.
A. Karakteristik lingkungan rumah
1. Pemukiman: struktur, keamanan, dan bahaya kesehatan
Lingkungan rumah memiliki dampak yang signifikan bagi anggota
keluarga baik kesehatan fisik maupun jiwa keluarga dan anggotanya.
Secara psikologis, rumah seseorang menjadi bagian identitas keluarga.
Melalui kunjungan rumah, perawat mengobservasi tatanan fisik rumah
dan penataan ruang keluarga. Pada keluarga lansia dengan hipertensi,
pengaruh pemukiman dapat dilihat dari dua aspek. Pertama, aspek
psikologis yang mempengaruhi persepsi diri dan kepuasan hidup. Jika
aspek ini negatif, dapat menjadi stressor dan faktor yang dapat
menimbulkan penyakit hipertensi (Campbell, 2014). Kedua, pengaruh
kemungkinan bahaya fisik berhubungan dengan kondisi rumah yang
sedang diperbaiki, fasilitas, dan penataannya. Lansia dengan hipertensi
rentan mengalami cedera berhubungan dengan kondisi rumah yang
sedang diperbaiki. Selain itu, perlu juga dikaji teritoial rumah yaitu area
tempat keluarga mempunyai lebih banyak kebebasan berperilaku baik
di area anggota keluarga maupun di komunitas. Kepadatan pemukiman
juga penting dikaji, mengingat ini juga menjadi stresor bagi lansia
dengan hipertensi, kemudian kondisi keamanan dan bahaya fisik yang
nyata atau potensial di dalam dan di luar rumah.
2. Sumber informasi di lingkungan rumah
Evaluasi sumber untuk mendukung kesehatan optimal dari anggota
keluarga. Pada lansia, misalkan terjadi penurunan fungsi dari beberapa

Universitas Indonesia
19

organ tubuhnya akibat hipertensi, perlu adanya alat bantu sederhana,


seperti amplifier telepon untuk pendengarannya, atau alat bantu untuk
mengidentifikasi keberadaan lansia yang sekarang sedang
dikembangkan. Selain itu, teknologi juga penting dikaji, misal akses
untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi dengan keluarga.

Panduan pengkajian lingkungan rumah pada lansia dengan hipertensi


menurut Friedman (2003) meliputi:
1. Uraikan jenis tempat tinggal (rumah, apartemen, atau rumah
kontrakan). Apakah rumah milik keluarga sendiri atau sewaan? Apakah
kondisi tersebut mempengaruhi psikologis lansia sehingga juga menjadi
faktor pemicu terjadinya hipertensi?
2. Uraikan kondisi rumah (interior dan eksterior rumah). Interior rumah
meliputi jumlah ruangan dan tipe ruangan (kamar tamu, kamar tidur,
dll), penggunaannya, dan bagaimana melengkapinya. Bagaimana
kondisi dan kelayakan perabotan rumah tangga? Apakah ada pengatur
suhu, ventilasi dan penerangan yang memadai? Apakah lantai, tangga,
pegangan tangga, dan struktur lain dalam keadaan baik? Ini penting
dikaji pada lansia dengan hipertensi, mengingat risiko cedera atau
serangan mendadak bisa terjadi. Apakah ada telepon di rumah atau
terdapat jangkauan telepon? Alat bantu dengar dan pendeteksi
keberadaan lansia? Eksterior rumah misalkan bagaimana kondisi
halaman rumah?
3. Di dapur, dikaji akses terhadap pasokan air, sanitasi, dan keadekuatan
lemari pendingin serta fasilitas dapur. Apakah lansia mudah
menjangkau dapur? Keamanan dapur bagi lansia khususnya dengan
hipertensi?
4. Di kamar mandi, amati sanitasi, pasokan air, fasilitas toilet,
ketersediaan handuk dan sabun. Apakah tiap anggota keluarga memakai
handuk sendiri? apakah ada tempat pegangan untuk lansia di kamar
mandi. Kondisi lantai licin atau tidak, penggunaan sandal karet bagi
lansia jika di kamar mandi?

Universitas Indonesia
20

5. Kaji pengaturan tidur di rumah. Apakah cukup bagi lansia jika masih
ada suami atau istri, hubungan dan kebutuhan khusus mereka
terpenuhi? Apakah lansia tidur sendiri? bila ya, apakah kondisi tersebut
berpengaruh, misal kesepian?
6. Evaluasi ada atau tidaknya bahaya keamanan di area rumah. Tanyakan
tentang penyimpanan obat dan substansi yang mengandung racun.
Apakah zat tersebut disimpan secara aman? Pantau adanya objek
berbahaya yang dapat menciderai lansia. Apakah ada pintu masuk dan
keluar yang bebas rintangan, ruang dan penerangan yang memadai serta
aman untuk bergerak di rumah? Apakah ada kabel listrik yang terurai
dan terpapar, atau karpet yang longgar di lantai? Apakah ada
perlengkapan untuk keadaan darurat (detektor asap, nomor telepon
darurat)? Hal ini penting dikaji, mengingat lansia biasanya mengalami
penurunan persepsi sensori, untuk menghindari cedera.
7. Kaji perasaan dan kepuasan anggota keluarga secara menyeluruh
dengan penataan rumah mereka. Lingkungan rumah bisa menjadi
stressor bagi lansia dengan hipertensi.
B. Karakteristik lingkungan dan komunitas
Lingkungan dan komunitas dimana keluarga tinggal sangat mempengaruhi
keluarga (Allender, et.al, 2010). Dalam lingkungan yang homogen baik
pola perilaku, nilai dan minat yang sama, secara alamiah mereka
cenderung membentuk persahabatan satu dengan yang lainnya
(Jaiyungyuen, 2012). Pengkajian lingkungan dan komunitas pada lansia
dengan hipertensi menurut Friedman (2003) meliputi:
1. Bagaimana karakteristik lingkungan dan komunitas
a. Tipe lingkungan dan komunitas (pedesaan, suburban, perkotaan,
pusat kota). Lansia dengan hipertensi membutuhkan lingkungan
yang tenang seperti di pedesaan. Hal tersebut akan berpengaruh
karena kepadatan penduduk di perkotaan, polusi, kemacetan, dapat
menjadi stressor bagi lansia dalam kehidupannya sehari-hari.
b. Masalah kemacetan di jalan. Lansia dengan hipertensi sebaiknya
tinggal di lingkungan yang tenang, terhindar dari kemacetan karena

Universitas Indonesia
21

lingkungan yang tenang mampu menjadi stimulus psikologis yang


dapat menghindari naiknya tekanan darah. Kemacetan juga menjadi
stressor luar yang juga mempengaruhi hipertensi.
2. Sejauh mana anggota keluarga terpapar dengan bahaya lingkungan yang
ada di tanah, udara, dan air? Apakah berada di lingkungan yang bising?
Hipertensi membutuhkan lingkungan yang tenang sehingga ini penting
untuk dikaji.
3. Bagaimana karakteristik etnis, pekerjaan dan minat keluarga, kepadatan
penduduk? Adakah etnis yang bertentang dengan kesehatan, khususnya
terkait hipertensi? Pekerjaan sebelumnya mungkin berhubungan dengan
terjadinya hipertensi.
4. Apa saja pelayanan kesehatan dan pelayanan dasar lain serta fasilitas
yang tersedia di lingkungan sekitar dan komunitas? Fasilitas pasar,
pelayanan kesehatan, pelayanan sosial, organisasi keagamaan, fasilitas
rekreasi, transportasi umum serta keterjangkauannya. Lansia dengan
hipertensi sebaiknya mudah menjangkau pelayanan kesehatan. Adanya
organisasi keagamaan juga berpengaruh terhadap psikologis lansia
sehingga perlu dikaji apakah lansia menggunakannya.
5. Sudah berapa lama keluarga tinggal di lingkungan sekitar atau
komunitas? Bagaimana riwayat mobilitas geografis keluarga? Dari
mana mereka pindah atau bermigrasi? Ini penting dikaji pada lansia
dengan hipertensi, karena histori mobilitas keluarga sebelumnya
mungkin berkaitan dengan penyakitnya.
6. Siapakah anggota keluarga yang sering menggunakan layanan
komunitas, jenis layanan apa yang sering digunakan? Lansia dengan
hipertensi, misal mengunjungi konselor, organisasi keagamaan, dll.
7. Seberapa sering menggunakan pelayananan tersebut? Lansia dengan
hipertensi penting untuk rutin memeriksakan kesehatannya.
C. Lingkungan sosiopolitik dan kesehatan keluarga
Lingkungan sosiopolitik berpengaruh terhadap kebijakan kesehatan,
terutama kesehatan keluarga. Misal kurangnya dukungan dari pemerintah
terkait pendanaan kesehatan, secara tidak langsung dapat mempengaruhi

Universitas Indonesia
22

kesehatan keluarga. Lingkungan sosiopolitik termasuk dalam suprasistem


lingkungan keluarga yang penting untuk dikaji. Panduan pengkajian
lingkungan sosiopolitik khususnya pada lansia dengan hipertensi menurut
Friedman (2003) yaitu:
1. Apa yang keluarga rasakan tentang kelompok/organisasi yang
memberikan bantuan kepada keluarga? Kaji persepsi dan perasaan
keluarga mengenai hubungan dengan kelompok atau organisasi
tersebut. Lansia dengan hipertensi mungkin sudah tidak produktif
sehingga banyak ketergantungan dengan orang lain, termasuk dengan
kelompok atau organisasi tertentu. Sehingga ini penting dikaji untuk
dijadikan kemungkinan positif yang bisa membantu lansia mengatasi
penyakitnya.
2. Apakah ada pendanaan dari pemerintahan di komunitas terkait fasilitas
yang ada, misal pelayanan kesehatan, pelayanan sosial, dll yang
didukung oleh pemerintah kota atau kabupaten? Apakah lansia
mengetahui fasilitas khususnya pelayanan kesehatan yang diberikan
pemerintah?

3.4 Struktur Keluarga


Struktur keluarga menganalisis karakteristik struktural keluarga, pengaturan
bagian – bagiannya yang membentuk keseluruhan, dan fungsi yang dilakukan
baik untuk masyarakat maupun subsistemnya. Struktur keluarga ini
menunjukkan cara pengaturan keluarga, cara pengaturan unit – unit, dan
bagaimana unit – unit ini saling mempengaruhi. Empat dimensi struktural
dasar ddalam struktur keluarga ada 4 yaitu pola komunikasi, struktur
kekuasaan dan pengambilan keputusan, struktur peran keluarga, dan struktur
nilai.
A. Pola komunikasi
Komunikasi adalah proses pertukaran perasaan, keinginan, kebutuhan,
informasi, dan pendapat (McCubbin & Dahl, 1985, dalam Friedman,
2003). Komunikasi keluarga adalah sebagai suatu simbolis, proses
transaksional menciptakan dan membagi arti dalam keluarga. Komunikasi

Universitas Indonesia
23

dibagi menjadi 2 yaitu komunikasi fungsional dan komunikasi


disfungsional. Komunikasi yang jelas dan fungsional antara anggota
keluarga merupakan alat yang penting untuk mempertahankan lingkungan
yang kondusif yang diperlukan untuk mengembangkan perasaan berharga
dan harga diri serta menginternalisasikannya. Sebaliknya komunikasi yang
tidak jelas diyakini sebagai penyebab utama fungsi keluarga yang buruk.
Pengkajian komunikasi pada keluarga lansia dengan hipertensi yaitu:
1. Bagaimana lansia berkomunikasi dengan pasangan di dalam keluarga?
2. Apakah pasangan mengutarakan kebutuhan dan perasaan mereka
tentang hipertensi?
3. Apakah anggota keluarga memberikan respon dengan baik terhadap
umpan balik terhadap isu hipertensi?
4. Apakah pasangan menjadi pendengar yang baik ketika lansia
menyampaikan keluhan tentang hipertensi?
5. Apakah anggota keluarga mencari informasi dari orang lain tentang
hipertensi?
6. Observasi komunikasi emosional yang tampak pada lansia? Keluarga
yang menggunakan komunikasi fungsional akan menampakkan
ekspresi emosional misal marah, sedih, atau gembira dengan kondisi
penyakitnya.
7. Seberapa sering pesan emosional disampaikan di dalam keluarga
lansia dengan hipertensi?
8. Apakah pesan emosi yang disampaikan bersifat negatif, positif atau
keduanya?
9. Apakah komunikasi emosional dapat memicu hipertensi lansia
tersebut?
10. Bagaimana frekuensi dan kualitas komunikasi yang berlangsung
dalam keluarga?
11. Siapa yang sering berbicara dalam keluarga dengan lansia?
12. Dengan sikap seperti apa cara berbicaranya dalam keluarga dengan
lansia?
13. Apakah ada perantara untuk komunikasi dengan lansia?

Universitas Indonesia
24

14. Observasi proses disfungsional apa yang terlihat dalam pola


komunikasi dalam keluarga lansia dengan hipertensi?
B. Struktur kekuasaan dan pengambilan keputusan
Merupakan kemampuan potensial atau aktual dari anggota keluarga
untuk mengendalikan, mempengaruhi, merubah perilaku keluarga.
Pengkajian struktur kekuasaan pada keluarga lansia dengan hipertensi
yaitu:
1. Hasil akhir kekuasaan
a. Siapakah yang membuat keputusan dalam semua kegiatan
keluarga?
b. Apakah pasangan dilibatkan dalam pengambilan keputusan?
c. Seberapa penting keputusan keluarga terkait penanganan
hipertensi?
d. Siapa yang mengontrol keuangan di keluarga?
2. Proses pengambilan keputusan
a. Teknik apa yang digunakan untuk membuat keputusan di dalam
keluarga?
b. Sejauh mana teknik ini efektif digunakan, seperti musyawarah di
dalam keluarga?
c. Bagaimana cara keluarga lansia membuat keputusan?
C. Struktur peran
Sebuah peran didefinisikan sebagai kumpulan dari perilaku yang secara
relatif homogen dibatasi secara normatif dan diharapkan dari seorang
yang menempati posisi sosial yang diberikan. Peran dibedakan menjadi 2
yaitu peran formal dan informal. Peran formal keluarga misalkan peran
dan hubungan pernikahan, peran wanita dan pria dalam keluarga , peran
kakek/nenek dalam keluarga, dan perubahan peran keluarga. Sedangkan
peran informal keluarga misalkan sebagai pendorong, penyelaras,
insiator, kontributor, negosiator, penghalang, penyalah, pengikut, pencari
pengakuan, sahabat, pendamai, dan penonton. Panduan pengkajian
struktur peran yaitu:
1. Struktur peran formal

Universitas Indonesia
25

a. Apakah keluarga menjalankan peran masing-masing?


b. Apakah peran ini dapat diterima dan konsisten dengan harapan
anggota keluarga?
c. Apakah ada ketegangan atau konflik peran dalam keluarga lansia?
d. Seberapa kompeten anggota keluarga mereka melakukan peran
mereka?
2. Struktur peran informal
a. Peran informal seperti apa yang dilakukan keluarga? Misal,
menjadi sahabat untuk pasangan yang sedang sakit
b. Apakah ada pengaruh bagi pasangan dengan menjalankan peran
tersebut?
3. Analisis model peran (kapan masalah peran muncul)
a. Siapa yang menjadi model yang mempengaruhi seorang anggota
keluarga lansia dalam kehidupan awalnya?
b. Siapakah yang memberikan nilai – nilai tentang pertumbuhan,
pengalaman baru, peran dan teknik komunikasi dalam keluarga
lansia?
c. Siapakah yang bertindak sebagai model peran bagi pasangan dalam
peran mereka sebagi pasangan suami – istri ?
4. Variabel yang mempengaruhi struktur peran
a. Bagaimana latar belakang sosial dapat mempengaruhi struktur
peran informal dan formal di dalam keluarga lansia dengan
hipertensi?
b. Bagaimana struktur peran keluarga dipengaruhi oleh latar belakang
keluarga agama atau etnik?
c. Apakah perilaku peran anggota keluarga lansia saat ini sesuai
dengan tahap perkembangan?
d. Bagaimana masalah kesehatan yang mempengaruhi peran keluarga
lansia?
e. Relokasi peran atau tugas apa yang telah dilakukan keluarga?
f. Bagaimana pasangan suami istri yang telah menerima peran
barunya, apakah bisa menerima?

Universitas Indonesia
26

g. Apakah ada konflik akibat peran dalam keluarga lansia?


h. Bagaimana anggota keluarga lansia dengan masalah kesehatan
hipertensi terhadap perubahan atau hilangnya peran dalam
keluarga?
D. Nilai keluarga
Nilai keluarga merupakan suatu sistem ide, perilaku, dan keyakinan
tentang nilai suatu hal atau konsep yang secara sadar maupun tidak sadar
mengikat anggota keluarga dalam kebudayaan sehari – hari atau
kebudayaan umum. Pengkajian nilai keluarga meliputi:
1. Perbedaan dalam sistem nilai
a. Sejauh mana kesesuaian antara nilai keluarga dengan latar belakang
pendidikan dalam menggunakan pelayanan kesehatan?
b. Sejauh mana kesesuaian antara nilai keluarga lansia dan pasangan?
2. Nilai keluarga
a. Seberapa penting nilai – nilai yang diidentifikasi di dalam keluarga
lansia dengan hipertensi?
b. Nilai apa yang dianut secara disadari atau tidak disadari oleh
keluarga lansia?
c. Bagaimana kelas sosial, latar belakang kebudayaan dan derajat
akulturasi, perbedaan generasi, letak geografis apakah
mempengaruhi nilai – nilai keluarga lansia?
d. Bagaimana nilai – nilai keluarga mempengaruhi status kesehatan
keluarga lansia dengan hipertensi?

3.5 Fungsi Keluarga


Fungsi keluarga menurut Friedman (2003) ada tiga, yaitu:
1. Fungsi afektif
Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam memenuhi fungsi
afektif berhubungan dengan fungsi internal keluarga, perlindungan
psikologi dan dukungan terhadap anggotanya. Data fungsi afektif keluarga
bisa didapat dengan pengamatan mengenai hubungan dan ekspresi
perasaan pada anggota keluarganya misalnya memeluk ,mencium, kontak

Universitas Indonesia
27

mata, senyum, dll. Selain itu melalui wawancara dapat menggunakan


pertanyaan seperti seberapa dekat hubungan antar pasangan? Apakah
kebutuhan klien dengan hipertensi dipenuhi oleh keluarga? Jika iya sejauh
mana? seberapa dekat pasangan suami sitri?
2. Fungsi sosialisasi
Fungsi sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui
individu, yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam
lingkungan sosial (Friedman, 2003). Pertanyaan yang bisa diajukan adalah:
kegiatan apa yang biasa dilakukan keluarga sehari-hari? Apakah keluarga
ikut kelompok pengajian di lingkungan rumah? Apakah keluarga ikut
posbindu? Siapa tetangga yang sering diajak ngobrol?
3. Fungsi perawatan kesehatan keluarga
Keluarga juga berfungsi untuk perawatan kesehatan keluarga. Praktik
kesehatan dan pemanfaatan layanan perawatan kesehatan sangat bervariasi
dari keluarga ke keluarga. Data yang perlu didapatkan pada pengkajian
fungsi perawatan kesehatan keluarga antara lain:
a. Perbedaan konsep sehat dan sakit
Konsep sehat dan sakit sangat bervariasi luas dari budaya ke budaya,
wilayah ke wilayah, dan keluarga ke keluarga. Hal ini dipengaruhi
banyak faktor seperti: masalah kesehatan fakor gender dan kelas sosial,
perbedaan kelas sosial, dan perbedaan etnik. Pertanyaan yang dapat
diajukan seperti: bagaimana keluarga mendefeinisikan atau
menganggap sakitnya lansia? Apakah dengan hipertensi Bp. T dianggap
sakit atau sehat? Apakah keluarga mengetahui gejala dan perubahan
pada hipertensi yang diderita Bp.T? Dari mana sumber informasi
keluarga tentang hipertensi? Bagaimana dengan informasi hipertensi
yang diterima?
b. Keyakinan kesehatan tentang pencarian perawatan dan tindakan
kesehatan
Dua masalah yang terkait pada pengkajian ini yaitu faktor yang
menyebabkan kesiapan dan kehendak individu untuk mencari layanan
perawatan kesehatan dan memperbaiki gaya hidupnya misalnya

Universitas Indonesia
28

mengubah perilaku kesehatan personal pada lansia dengan hipertensi


dengan mengurangi konsumsi makanan yang bergaram seperti ikan
asin. Hal kedua yaitu hal-hal yang mempengaruhi promosi kesehatan
dan tindakan pencegahan itu sendiri. Misalnya ketika ada kondangan
disekitar rumah klien, klien masih belum mampu menahan diri untuk
membatasi diri makan menu yang ada, serta lansia dengan hipertensi
yang merasa kesulitan untuk menghentikan kebiasaan merokok.
Pertanyaan yang dapat diajukan seperti seberapa besar dukungan
keluarga terhadap lansia untuk mengubah perilaku kesehatan yang
berhubungan dengan hipertensi? Apakah keluarga mengingatkan lansia
untuk berhenti merokok? Apakah keluarga menyediakan makanan
khusus untuk lansia dengan hipertensi? Jika ada acara khusus
bagaimana dengan makanan lansia?

Friedman (2003) menyatakan ada 8 area utama praktik kesehatan pada


fungsi perawatan kesehatan keluarga, yaitu:
1) Praktik diet keluarga
Penyakit hipertensi erat kaitannya dengan makanan. Sehingga
pertanyaan yang bisa diajukan seperti: Siapa yang bertanggung jawab
merencanakan menu, belanja dan memasak? apakah keluarga
mengetahui makanan yang menjadi pantangan dan anjuran bagi lansia
dengan hipertensi? Apa makanan yang dimakan lansia 3 hari terakhir?
Bagaimana keluarga mengolah makanan? Berapa banyak makanan
yang dikonsumsi lansia dan keluarga setiap harinya? Apakah ada waktu
makan bersama dalam keluarga? Apa kebiasaan cemilan keluarga?
2) Praktik tidur dan istirahat keluarga
Pertanyaan yang bisa diajukan seperti: bagaimana kebiasaan tidur lansia
dan keluarga? (misalnya mati lampu, tidur larut malam), apakah
keluarga tidur teratur atau terserah siapa yang ngantuk tidur duluan?
Apakah lansia atau keluarga memiliki kebiasaan tidur siang? Dengan
siapakah lansia tidur? Seberapa jauh tempat tidur lansia dengan toilet?
Bagaimana pencahayaan tempat tidur lansia?

Universitas Indonesia
29

3) Praktik latihan dan rekreasi keluarga


Pertanyaan yang bisa diajukan antara lain: apakah keluarga mengetahui
bahwa latihan atau aktifitas fisik dapat mempengaruhi kesehatan lansia
dengan hipertensi? Apakah kegiatan lansia sehari-hari? Apa jenis
rekreasi iyang biasa dilakukan keluarga bersama lansia? apakah lansia
puas dengan kegiatan yang selama ini dijalaninya?
4) Praktik penggunaan obat terapeutik dan penenang, serta alkohol dan
tembakau
Pertanyaan yang dapat diajukan adalah: bagaimana penggunaan obat-
obatan untuk lansia di rumah? Apakah obat-obatan dibeli bebas atau
dengan resep dokter? Bagaimana dengan kebiasaan merokok lansia dan
keluarga? Siapa yang mengawasi obat-obatan yang dikonsumsi lansia
apakah masih dalam batas waktu atau sudah expired?
5) Praktik perawatan diri keluarga
Pertanyaan yang dapat diajukan antara lain: apa yang sudah dilakukan
keluarga untuk perawatan lansia dengan hipertensi? Apa yang
dilakukan keluarga untuk mencegah hipertensinya makin parah?
Apakah keluarga tahu akibat yang akan terjadi jika keluhan lansia tidak
ditangani? Siapa yang mengambil keputusan perawatan di rumah?
Sepberapa jauh keluarga mengenali tanda, gejala, dan terapi umum dari
hipertensi yang diderita lansia?
6) Praktik lingkungan dan higiene
Pertanyaan ini bisa tercakup di Lingkungan seperti apakah keluarga
selalu membersihkan lantai kamar mandi supaya tidak licin?
7) Praktik pencegahan berbasis pengobatan
Pengkajian ini diantaranya apakah keluarga memeriksakan kesehatan
lansia secara teratur? Kapan terakhir diperiksa tekanan darah atau
kolesterol lansia? bagaimana keluarga membatasi garam untuk lansia?
obat apa saja yang biasa dikonsumsi lansia?
8) Terapi alternatif
Pertanyaan yang dapat diajukan seperti: apakah ada perawatan lain
yang diberikan keluarga kepada lansia selain medis? Seberapa sering

Universitas Indonesia
30

keluarga terlibat dalam terapi tersebut? Apakah keluarga dan lansia


merasakan manfaat terapi tersebut? Apakah terapi tersebut ada
hubungannya dengan medis atau tidak?

Selain beberapa pertanyaan diatas, pertanyaan lain yang dapat diajukan


adalah: bagaimana riwayat kesehatan keluarga apakah ada yang
hipertensi sebelumnya? Bagaimana keluarga mendapatkan pelayanan
kesehatan baik yang rutin atau emergency? Bagaimana persepsi
keluarga tentang layanan kesehatan yang didapat lansia di pelayanan
kesehatan yang ada di sekitar tempat tinggal? Apakah ada UGD atau
layanan darurat disekitar tempat tinggal lansia? jika berobat apakah
lansia menggunakan asuransi atau biaya dari keluarga? Apakah biaya
kesehatan menjadi masalah bagi keluarga atau lansia? seberapa jauh
pelayanan kesehatan dari rumah? Apa transportasi yang dapat
digunakan menuju pelayanan kesehatan? Bagaimana jam pelayanan di
fasilitas kesehatan?

3.6 Stress, Koping dan Adaptasi Keluarga


Keluarga dengan tahap perkembangan lansia merupakan tahap akhir dari
siklus kehidupan keluarga. Duvall & Miller (1985 dalam Friedman 2003)
menyatakan tahap lansia dimulai dengan pensiun dari pekerjaan baik salah
satu atau kedua pasangan, penurunan fungsi fisik, berlanjut kehilangan
pasangan dan berakhir dengan kematian. Hal tersebut dapat memicu
terjadinya stres pada lansia. Berdasarkan hasil penelitian Assil& Zeiden
(2013) di Negara Sudan, prevalensi terjadinya stress pada lansia sekitar
47.5% dimana faktor yang paling berpengaruh adalah pensiun. Keluarga
dapat mengalami tiga periode waktu stres yaitu periode antestres, periode
stres aktual dan periode pasca stress. Setiap periode mempunyai karakteristik
dan menimbulkan dampak yang berbeda sehingga menuntut keluarga untuk
selalu siap menghadapinya.

Universitas Indonesia
31

Strategi koping merupakan usaha perubahan kognitif dan perilaku individu


secara terus menerus untuk mengelola tuntutan internal atau eksternal spesifik
yang dinilai berat atau melebihi sumber daya individu (Anna & Sami, 2009).
Ketersediaan sumber daya koping membuat individu lebih tahan terhadap
berbagai efek stres yang merugikan. Koping keluarga yang adaptif sangat
dibutuhkan oleh lansia, salah satunya adalah koping keluarga yang bersumber
dari internal keluarga yang merupakan sumber dukungan primer. Hubungan
yang harmonis dengan pasangan merupakan sumber kekuatan untuk
menghadapi stress yang timbul. Fleksibilitas peran juga merupakan bagian
yang penting agar lansia mudah beradaptasi dengan kondisi yang dapat
memicu stres. Strategi komunikasi yang efektif dapat menurunkan tingkat
stres pada lansia, misalnya dengan bersikap terbuka dan jujur dalam
mengungkapkan masalah. Komunikasi tidak selamanya bersifat formal,
komunikasi informal juga dibutuhkan untuk mencairkan suasana penuh
ketegangan.

Sumber dukungan tidak hanya diberikan oleh keluarga, melainkan


lingkungan sosial turut menentukan keberhasilan strategi koping. Teman,
tetangga, kelompok swabantu di lingkungan tempat tinggal merupakan
sumber dukungan sekunder bagi lansia. Mereka dapat berbagi informasi
tentang masalah atau pengalaman yang sama pernah dirasakan oleh lansia.
Sebagai contoh kelompok swabantu di wilayah tempat tinggal adalah
posyandu lansia. Dukungan kelompok swabantu bermanfaat secara kognitif
dan emosional sehingga diharapkan lansia dapat membantu dirinya sendiri
ketika menghadapi masalah. Dukungan spiritual juga diyakini dapat
memberikan kenyamanan pada lansia, dengan mengikuti pengajian di wilayah
tempat tinggal akan meningkatkan rasa kepercayaan terhadap Tuhan. Hal ini
didukung oleh penelitian Giaquinto & Spiridigliozzi (2007) bahwa
berdoa/beribadah merupakan koping strategi yang paling banyak dilakukan
pada lansia yang mengalami nyeri dan lebih banyak dilakukan oleh lansia
wanita. Doa maupun yoga memberikan kekuatan dan meningkatkan irama
jantung ketika dibaca 6x/menit serta keteraturan pernafasan yang berdampak

Universitas Indonesia
32

positif pada fisiologi dan psikologi. Pikiran yang tenang akan menurunkan
risiko hipertensi dan kematian.
Pengkajian pertanyaan tentang stres, koping, dan adaptasi keluarga lansia
dengan hipertensi.
A. Stresor, kekuatan dan persepsi keluarga
1. Masalah apa yang dirasakan sangat mengganggu keluarga saat ini atau
sebelumnya sehingga memerlukan penanganan segera?
2. Apakah masalah yang dihadapi keluarga merupakan salah satu
penyebab terjadinya hipertensi?
3. Apakah penyakit hipertensi yang diderita memicu stres lansia?
4. Kekuatan apa yang dimiliki keluarga untuk menyeimbangkan masalah
hipertensi?
5. Apakah keluarga mampu mengatasi stres dalam kehidupan sehari-
hari?
6. Sumber apa yang dimiliki oleh keluarga untuk mengatasi masalah
hipertensi?
7. Bagaimana pandangan keluarga terhadap masalah hipertensi yang
sedang dihadapi?
8. Apakah keluarga mengganggap masalah hipertensi sebagai tantangan
yang harus diselesaikan?
9. Apakah keluarga menganggap masalah hipertensi sebagai beban dan
harus dihindari?
10. Apakah keluarga mampu untuk bertindak berdasarkan penilaian yang
nyata mengenai peristiwa penuh stress?
B. Strategi Koping Keluarga
1. Bagaimana reaksi keluarga terhadap masalah hipertensi yang dialami?
2. Strategi koping/ upaya apa yang digunakan untuk mengatasi masalah
hipertensi?
3. Apakah pasangan memiliki cara yang berbeda dalam upaya mengatasi
masalah hipertensi? Jika ya, bagaimana mengatasi perbedaannya?
4. Sejauh mana keluarga menggunakan strategi koping internal untuk
mengatasi masalah hipertensi

Universitas Indonesia
33

a. Apakah keluarga mengandalkan hubungan dengan pasangan untuk


mengatasi masalah?
b. Apakah keluarga menceritakan masalah hipertensi yang diderita
dengan pasangan ?
c. Apakah keluarga dapat menjalankan peran masing-masing dalam
keluarga?
d. Apakah pasangan mampu menerima keadaan keluarga yang
mengalami hipertensi?
e. Apakah keluarga mendiskusikan masalah hipertensi dengan
pasangan?
f. Apakah keluarga berusaha mencari informasi tentang hipertensi
sebagai upaya untuk menyelesaikan masalah?
g. Apakah keluarga selalu bersikap jujur dan terbuka dengan
pasangan apabila mempunyai masalah?
h. Apakah keluarga tetap menyelipkan humor atau bersikap serius
untuk menyelesaikan masalah?
i. Apakah keluarga masih bisa tertawa ketika kondisi stres?
5. Sejauh mana keluarga menggunakan strategi koping eksternal
a. Apakah keluarga memiliki perkumpulan tertentu di masyarakat
sebagai tempat bercerita ketika mempunyai masalah?
b. Apakah keluarga berbagi kesulitan dengan kerabat/ teman/
tetangga? Jika ya siapa mereka? Bagaimana hubungan yang
terjalin?
c. Apakah keluarga meminta saran dari keluarga terkait masalah
hipertensi?
d. Apakah keluarga mencari informasi dari teman yang pernah
mengalami masalah hipertensi?
e. Apakah keluarga mencari informasi tentang hipertensi baik
pengertian, penyebab, tanda dan gejala, komplikasi serta
penanganan dirumah khususnya dari tenaga kesehatan?
f. Apakah keluarga selalu berdoa/ mendekatkan diri kepada Tuhan
apabila mengalami maupun tidak mengalami masalah?

Universitas Indonesia
34

g. Apakah keluarga pernah menggunakan cara/ upaya negatif untuk


menyelesaikan masalah? Jika ya seberapa sering digunakannya?
C. Adaptasi
1. Apakah keluarga sudah bisa beradaptasi dengan keluarga yang
mengalami hipertensi?
2. Apakah dampak yang ditimbulkan dari penyakit hipertensi pada
pasangan?
3. Bagaimana harapan keluarga terhadap anggota keluarga yang
mengalami hipertensi?
4. Sejauh mana dukungan yang diberikan oleh pasangan yang mengalami
hipertensi?
5. Upaya apakah yang telah dilakukan pasangan untuk beradaptasi dengan
penyakit hipertensi yang diderita lansia?

Universitas Indonesia