Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM PEMISAHAN DAN PENGUKURAN

PENENTUAN KADAR Fe(II) DALAM SAMPEL DENGAN ALAT


SPEKTROSKOPI UV-Vis
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah
Praktikum Pemisahan dan Pengukuran

Dosen Pengampu : Dr. Wiji, M.Si

Tanggal Praktikum Awal : 21 Maret 2019


Tanggal Praktikum Akhir : 21 Maret 2019

Disusun oleh :
Najdin Aqmarina (17011567)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2019
A. Tujuan Praktikum :

Menentukan kadar besi dalam obat (sangobion) menggunakan spektrofotometer UV-Vis.

B. Tinjauan Pustaka :

Spektroskopi UV-Vis didasarkan pada serapan sinar UV tampak yang menyebabkan terjadinya
transisi diantara tingkat energi elektronik molekul. Transisi ini dapat terjadi antara orbital ikatan
(bonding) atau orbital anti ikatan (anti bonding). Panjang gelombang sinar yang diserap sebanding dengan
perbedaan tingkat energi orbital (∆E).
(Tri, Panji. 2012 : 1 dan 5)
Penyerapan sinar tampak atau ultraviolet oleh suatu molekul dapat menyebabkan terjadinya
Eksitasi molekul tersebut dari tingkat energy dasar (ground stated) ke tingkat energy yang lebih tinggi
(excited stated). Proses ini melalui 2 tahap:
Tahap 1 : M + hv → M*
Tahap 2 : M* → M + heat
Proses diatas disebut reaksi fasa kimia. Ada tiga jenis transisi electron yaitu transisi yang melibatkan (1)
electron-elektron π, σ, n. (2) electron-elektron d dan f. (3) charge transfer electron.

 Zat Pengabsorbsi yang Mengandung Electron π, σ, n.

Meliputi molekul / ion organic juga sejumlah anion anorganik. Semua senyawa organic mampu
mengabsorbsi cahaya, sebab semua senyawa organic mengandung electron valensi yang dapat dieksitasi
ke tingkat energy yang lebih tinggi. Energy eksitasi untuk electron pembentukan ikatan tunggal adalah
cukup tinggi sehingga pengabsorbsiannya terbatas pada daerah ultraviolet vakum (λ < 185 nm).

· Jenis electron pengabsorbsi

Electron-elektron yang bertanggung jawab pada pengabsorbsian cahaya oleh suatu molekul
organic adalah: (1) electron-elektron yang terlibat langsung di dalam pembentukan ikatan diantara atom-
atom. (2) electron-elektron bebas / tak berpasangan seperti pada atom-atom oksigan, halogen, belerang,
dan nitrogen.
1. Transisi σ – σ*
Jauh, energinya besar, dan λ mask kecil < 150 nm, didaerah UV vakum, sukar diamati.
Contoh : CH4, C – C, C – H λ mask 125 nm.
2. Transisi n – σ *
Senyawa jenuh yang mengandung PEB, energinya kecil, λ 150 – 250 nm.
Contoh : methanol λ maks 185 nm.
3. Transisi n – π*
Energinya kecil, λ panjang, ɛ 10 – 100 L/ cm mol.
4. Transisi π – π*
Senyawa organic tak jenuh, ɛ 1000 – 10.000 L/ cmmol.

Pergeseran panjang gelombang dipengaruhi oleh beberapa hal: (1) pelarut, (2) konjunggasi, (3)
aukrosom.

1. Pelarut, dalam pelarut polar, transisi n – π* terjadi pada λ yang lebih pendek (pergeseran biru
atau hipsokhromik). Transisi π – π* terjadi pada λ yang lebih panjang (pergeseran merah atau
batokhromik).
2. Konjunggasi, menyebabkan tingkat energy orbital π* turun, energy kecil, dan λ maks besar
(pergeseran batokhormik).
3. Auksokhormik, (pergeseran merah) gugus fungsi yang tidak menyerap di daerah ultraviolet
tapi dapat menggeser puncak kromofor.
 Absorbs yang Melibatkan Elektron d dan f.

Kebanyakan ion-ion logam transisi mengabsorbsi radiasi di daerah spectrum ultraviolet/ sinar
tampak. Untuk deret lantanida dan aktinida, proses pengabsorbsian menyebabkan transisi electron 4f dan
5f. Sedangkan untukderet pertama dan kedua logam transisi menyababkan transisi 3d, 4d.

· Absorbsi oleh ion-ion lantanida dan aktinida

Kebanyakan pengabsorbsian anorganik dan pengabsorbsi organic, spectra ion-ion lantanida dan
aktinida, meruncing, jelas, dan khas, yang sedikit dipengaruhi oleh jenis ligan yang bergabung dengan ion
logam. Hal ini disebabkan karena orbital-orbital dalam dihalangi oleh pengaruh luar electron-elektron
yang menempati bilangan kuantum utama yang lebih tinggi.

· Absorbsi oleh deret pertama dan kedua logam transisi

Ion-ion dan komplek-komplek dari 18 unsur transisi deret pertama dan kedua cenderung
mengabsorbansi sinar tampak. Berbeda dengan unsur-unsur aktinida dan lantanida, unsur-unsur transisi
ini sering mempunyai pita abrorbsi yang lebar dan sangat dipengaruhi oleh factor lingkungan.

 Charge Transfer Absorption.

Komplek anorgaik memperlihatkan absorbs perpindahan muatan dan karenanya disebut komplek
perpindahan muatan (charge transfer complexes). Contoh yang umum dari komplek tersebut adalah
komplek besi (III) tiosianat dan fenolat, besi (II) o-penantrolina, komplek molekul yodium yodida, dan
komplek molekul fero-feri sianida yang berwarna biru Prussia.

Suatu komplek memperhatikan spectrum perpindahan muatan, kalau salah satu komponennya
mempunyai sifat penyumbang electron (electron donor), maka komponen lain yang sifatnya penerima
electron (electron acceptor).

Absorbansi radiasi menyebabkan perpindahan electron dan donor ke aseptor. Akibatnya, terbentuk
tereksitasi merupakan hasil proses oksidasi reduksi internal. Sifat ini berbeda dengan sifat kromofor
organic, dimana electron dalam keadaan tereksitasi berada dalam orbital molekul yang dibentuk oleh dua
atom atau lebih.

Semakin besar kecenderungan perpindahan electron, semakin kecil energy yang dibutuhkan pada
proses perpindahan electron, dan menyebabkan komplek mengabsorbansi radiasi pada panjang
gelombang yang lebih besar.
Cahaya saat mengenai larutan jernih (bening) akan mengalami dua hal yaitu :

1. Transmisi
- Transmitan larutan T merupakan bagian dari cahaya yang diteruskan melalui larutan.
𝑝
- Nilai transmitasi berbanding terbalik dengan absorbansi T = 𝑝𝑜

2. Absorbansi
- Cahaya akan diserap jika energy cahaya tersebut sesuai dengan energy yang dibutuhkan
untuk mengalami perubahan dalam molekul.
- Absorbansi larutan bertambah dengan pengutangan kekuatan sinar.
- Nilai absorbansi berbanding lurus dengan ketebalan dan konsentrasi.
- Nilai absorbansi berbanding terbalik dengan trasnmitan.

Hukum Lambert Beer :

A=abc

1
A = - Log T atau A = Log 𝑇

- Energy maksimum yang diserap oleh larutan ditunjukan pada panjang gelombang yang
memiliki nilai absorbansi tertinggi dan % trasnmitan terrendah.
- Energy maksimum dinyatakan :
𝑐
E = h f atau E = h
λ

Hukum Lambert Beer “jika suatu cahaya monokromatis dengan kekuatan Po dilewatkan pada
balok yang tegak lurus pada permukaan dengan ketebalan b dan mengandung n partikel pengabsorbsian,
maka kekuatan cahaya menurun menjadi P” Syarat hokum lambert beer yaitu, konsentrasi harus rendah,
zat yang diukur harus stabil, cahaya yang dipakai harus monokromatis, larutan yang diukur harus jernih.

Tabung nessler
konvensional
Kolorimetri Dubosq
Instrumentasi
Fotokolorimetri
Modern
Spektrofotometer
A. Tabung nessler

Persyaratan larutan yang harus dipenuhi adalah larutan


harus berwarna. Oleh karena itu metode spektroskopi sinar
tampak disebut juga metode kolorimetri, dan alatnya
kolorometer. Metode kolorimetri didasarkan pada keadaan
dimana perubahan warna larutan bergantung pada konsentrasi
komponen pembentukan larutan. Larutan cuplikan yang tak
berwarna atau berwarna lemah dapat dibuat berwarna dengan
mereaksikannya dengan suatu preaksi yang dapat
menghasilkan suatu zat berwarna.

Tabung nessler berupa tabung gelas besar yang dasarnya rata, ukuran tinggi 175 – 220 mm dan garis
tengah 25 – 32 mm. penentuan konsentrasi cuplikan dilakukan dengan membandingkan warna larutan
analit dengan warna larutan standar.

B. Kolorimeter Dubosq

Merupakan prinsip yang serupa dengan tabung nessler yaitu


membandingkan warna larutan analit denagan warna larutan standar. Akan
tetapi, suatu alat pembanding yang dilengkapi teropong digunakan di dalam
kolorimeter dubosq. Penentuan konsentrasi analit dilakukan dengan hokum
lambert beer, A1 = A2 sehingga :

ε1 b1 c1 = ε2 b2 c2

C. Fotokolorimetri

Untuk penentuan konsentrasi larutan


berwarna, tetapi alat yang digunakan
disini mempunyai komponen yang
lebih rumit dari kolorimetri dubosq.
Komponen dari fotokolorimeter adalah
sumber sinar, filter, sel tempat larutan,
detector, dan galvanometer. Sinar
monokromatis ditangkap oleh detector
dan diubah menjadi isyarat listrik yang dapat dibaca pada meter.
D. Spekroforometer

Spektrofotometer terdiri dari :


Sumber cahaya, monokromator, komportemen sampel, detector dan pengukur intensitas cahaya.
Syarat pelarut dalam spektrofotometer yaitu, dapat melarutkan cuplikan, tidak menyerap sinar
yang digunakan, dan tidak beraksi dengan cuplikan.

Jenis – jenis spektrofotometer :

 Berdasarkan pada daerah spectrum yang akan dieksporasi :

· Spektrofotometer Sinar Tampak (Vis)


- Sumber cahaya yang digunakan adalah lampu tungsten halogen.
- Lampu tungsten halogen menghasilkan cahaya tampak dalam daerah panjang
gelombang 350 – 800 nm.
- Lampu tersebut terbuat dari tabung kuarsa yang berisi filamen tungsten dan
sejumlah kecil iodine.
- Lampu ini mirip dengan lampu yang terdapat dalam perumahan dan perkantoran.
· Spektrofotometer Sinar Tampak (Vis) dan ultraviolet (UV)
- Sumber cahaya yang digunakan adalah kombinasi antara lampu tungsten halodan
dan lampu deuterium (D2).
- Lampu deuterium dapat menghasilkan cahaya dalam daerah 160 – 380 nm.
 Berdasarkan teknik optic sinar, terdiri dari :

· Double Beams Optic


- Cahaya terbagi ke dalam dua arah / bebas.
- Berkas cahaya pertama melewati sel pembanding, dan cahaya lainnya melewati
sampel.
- Berkas cahaya kemudian bergabung kembali masuk ke detector.
- Detector meresap cahaya netto dari kedua arah.
- Beberapa alat double beam memiliki dua detector, sampel dan sinar penghubung
diukur pada waktu yang sama.
· Single Beams Optic
- Semua cahaya melewati seluruh sel sampel.
- Contoh alat spektrofotometer single beams spektrotonik-20
- Alat ini merupakan desain paling awal tetapi masih banyak digunakan.

Berikut diagram dan keterangan spektrofotometer :


 Sumber Cahaya

Sumber cahaya pada spektrofotometer harus memiliki panacaran radiasi yang stabil dan
intensitasnya tinggi. Sumber cahaya pada spektrofotometer UV-Vis ada dua macam :
a. Lampu Tungsten (Wolfram), Lampu ini digunakan untuk mengukur sampel pada daerah tampak.
Bentuk lampu ini mirip dengna bola lampu pijar biasa. Memiliki panjang gelombang antara 350-
2200 nm. Spektrum radiasianya berupa garis lengkung. Umumnya memiliki waktu 1000jam
pemakaian.
b. Lampu DeuteriumLampu ini dipakai pada panjang gelombang 190-380 nm. Spektrum energy
radiasinya lurus, dan digunakan untuk mengukur sampel yang terletak pada daerah uv. Memiliki
waktu 500 jam pemakaian.

 Wadah Sampel

kebanyakan spektrofotometri melibatkan larutan dan karenanyan kebanyakan wadah sampel


adalah sel untuk menaruh cairan ke dalam berkas cahaya spektrofotometer. Sel itu haruslah meneruskan
energy cahaya dalam daerah spektral yang diminati: jadi sel kaca melayani daerah tampak, sel kuarsa atau
kaca silica tinggi istimewa untuk daerah ultraviolet. Dalam instrument, tabung reaksi silindris kadang-
kadang diginakan sebagai wadah sampel. Penting bahwa tabung-tabung semacam itu diletakkan secara
reprodusibel dengan membubuhkan tanda pada salah satu sisi tabunga dan tanda itu selalu tetaparahnya
tiap kali ditaruh dalam instrument. Sel-sel lebih baik bila permukaan
optisnya datar. Sel-sel harus diisi sedemikian rupa sehingga berkas
cahaya menembus larutan, dengan meniscus terletak seluruhnya diatas
berkas. Umumnya sel-sel ditahan pada posisinya dengan desain
kinematik dari pemegangnya atau dengan jepitan berpegas yang
memastikan bahwa posisi tabung dalam ruang sel (dari) instrument itu
reprodusibel.
 Monokromator

Monokromator adalah alat yang akan memecah cahaya polikromatis menjadi cahaya tunggal
(monokromatis) dengan komponen panjang gelombang tertentu. Bagian-bagian monokromator, yaitu :
a. Prisma
Prisma akan mendispersikan radiasi elektromagnetik sebesar mungkin supaya di dapatkan resolusi yang
baik dari radiasi polikromatis.
b. Grating (kisi difraksi)
Kisi difraksi memberi keuntungan lebih bagi proses spektroskopi. Dispersi sinar akan disebarkan
merata, dengan pendispersi yang sama, hasil dispersi akan lebih baik. Selain itu kisi difraksi dapat
digunakan dalam seluruh jangkauan spektrum.
c. Celah optis
Celah ini digunakan untuk mengarahkan sinar monokromatis yang diharapkan dari sumber radiasi.
Apabila celah berada pada posisi yang tepat, maka radiasi akan dirotasikan melalui prisma, sehingga
diperoleh panjang gelombang yang diharapkan.
d. Filter
Berfungsi untuk menyerap warna komplementer sehingga cahaya yang diteruskan merupakan cahaya
berwarna yang sesuai dengan panjang gelombang yang dipilih.

 Detektor
Detektor akan menangkap sinar yang diteruskan oleh larutan. Sinar kemudian diubah menjadi
sinyal listrik oleh amplifier dan dalam rekorder dan ditampilkan dalam bentuk angka-angka pada reader
(komputer). Detector dapat memberikan respons terhadap radiasi pada berbagai panjang gelombang Ada
beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang telah melewati kolom. Metode umum yang mudah
dipakai untuk menjelaskan yaitu penggunaan serapan ultra-violet. Banyak senyawa-senyawa organik
menyerap sinar UV dari beberapa panjang gelombang. Jika anda menyinarkan sinar UV pada larutan
yang keluar melalui kolom dan sebuah detektor pada sisi yang berlawanan, anda akan mendapatkan
pembacaan langsung berapa besar sinar yang diserap. Jumlah cahaya yang diserap akan bergantung pada
jumlah senyawa tertentu yang melewati melalui berkas pada waktu itu. Anda akan heran mengapa pelarut
yang digunakan tidak mengabsorbsi sinar UV. Pelarut menyerapnya! Tetapi berbeda, senyawa-senyawa
akan menyerap dengan sangat kuat bagian-bagian yang berbeda dari specktrum UV. Misalnya, metanol,
menyerap pada panjang gelombang dibawah 205 nm dan air pada gelombang dibawah 190 nm. Jika anda
menggunakan campuran metanol-air sebagai pelarut, anda sebaiknya menggunakan panjang gelombang
yang lebih besar dari 205 nm untuk mencegah pembacaan yang salah dari pelarut.

 Visual display/recorder
Merupakan system baca yang memperagakan besarnya isyarat listrik, menyatakan dalam bentuk
% Transmitan maupun Absorbansi.

Analisis Kuantitatif Dengan Pengukuran Absorbansi :

 Pengukuran pada zat pengabsorbansi


Analisis spektrofotometer berguna untuk senyawa organic yang mengandung satu / lebih gugus
kromoform. Sejumlah zat organic juga mengabsorbsi dan secara langsung dapat ditentukan
dengan baik seperti contoh logam – logam transisi.
 Penggunaan pada zat bukan pengabsorbansi
Zat pengomplek berguna untuk menentukan zat anorganik. Contoh,pereaksi anorganik tiosianat
untuk besi, kobal, dan molibat.
 Cara kerja
Dengan pembuatan kurva kalibrasi yang menghubungkan konsentrasi dengan absorbansi.
 Factor yang mempengaruhi absorbansi
Jenis pelarut, pH larutan, suhu, konsentrasi elektrolit yang tinggi dan adanya zat pengganggu.

Kurva kalibrasi : larutan standar mempunyai komposisi yang


sama dengan komposisi cuplikan.

Metode

Kurva adisi standar : menambahkan larutan standar ke dalam


cuplikan dan pengukuran absorbansi terhadap cuplikan/ cuplikan
dan standar.
Aplikasi spektrofotometer UV-Vis :

 Aplikasi kuantitatif
Penetapan Fe(II) sebagai kompleks dengan o-fenantrolin (Vis)
Penetapan nitrat dalam makanan daging olahan
Penetapan kafein dalam berbagai keasaman minuman kaleng
 Titrasi fotometri
Mendeteksi titik ekivalen titrasi, dimana analit, preaksi, atau hasil titrasi mengabsorbsi radiasi.

(Hendayana, 1994: 155 - 174)

C. Alat dan Bahan


 Alat :
1) Spektronik-20 D 1 set
2) Labu takar 100 ml 1 buah
3) Labu takar 25 ml 7 buah
4) Gelas kimia 100 ml 2 buah
5) Botol semprot 1 buah
6) Spatula 1 buah
7) Pipet volumetri 1 buah
8) Pipet gondok 10ml 1 buah
9) Pipet tetes 1 buah
10) Batang pengaduk 1 buah

 Bahan :
1) Garam Fe(NH4)2.6H2O 0,0702 gram
2) Hidroksilamin-HCl 5% ± 7 ml
3) CH3COONa 5% ± 56 ml
4) 1,10-fenantrolin 0,1% ± 35 ml
5) Aquades Secukupnya
6) Asam sulfat 2 M 5 ml

D. Prosedur Kerja
a. Pembuatan Larutan Induk Fe (II) 100 ppm
Garam Fe(NH4)2.6H2O ditimbang sebanyak 0,0700 gram, kemudian dilarutkan menggunakan
aquades. Setelah itu, larutan tersebut dimasukkan dalam labu ukur 100 ml. Sebanyak 5 ml H2SO4 2 M
ditambahkan dalam labu ukur, lalu ditambahkan aquades sampai tanda batas. Dihomogenkan.

b. Pembuatan Larutan Standar Fe (II) 10 ppm


10 ml larutan induk Fe (II) 100 ppm dipipet kedalam labu ukur 100 ml. Kemudian, ditambahkan
aquades hingga tanda batas. Dihomogenkan.

c. Preparasi Deret Standar


1) Ada 5 larutan standar dengan konsentrasi berbeda dibuat dari larutan standar Fe (II) 10
ppm yang telah dipersiapkan. Diantara yaitu :
- Larutan standar Fe (II) 1 ppm.
Larutan standar Fe (II) 10 ppm di pipet sebanyak 2,5 ml kedalam labu ukur 25 ml.
- Larutan standar Fe (II) 1,5 ppm.
Larutan standar Fe (II) 10 ppm di pipet sebanyak 3,75 ml kedalam labu ukur 25 ml.
- Larutan standar Fe (II) 2 ppm.
Larutan standar Fe (II) 10 ppm di pipet sebanyak 5 ml kedalam labu ukur 25 ml.
- Larutan standar Fe (II) 2,5 ppm.
Larutan standar Fe (II) 10 ppm di pipet sebanyak 6,25 ml kedalam labu ukur 25 ml.
- Larutan standar Fe (II) 3 ppm.
Larutan standar Fe (II) 10 ppm di pipet sebanyak 7,5 ml kedalam labu ukur 25 ml.
2) Tiap-tiap labu ukur ditambahkan 1 ml hidroksilamin-HCl 5%, 8 ml CH3COONa, dan 5
ml 1,10-fenantrolin 0,1 %. Kemudian ditambahkan aquades hingga tanda batas, dan
terakhir dihomogenkan.
d. Preparasi Sampel
Sampel dipipet sebanyak 5 ml kedalam labu ukur 25 ml. Ditambahkan 1 ml hidroksilamin-HCl
5%, 8 ml CH3COONa, dan 5 ml 1,10-fenantrolin 0,1 %. Kemudian ditambahkan aquades hingga
tanda batas, dan terakhir dihomogenkan.

e. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum


Larutan standar Fe (II) dengan konsentrasi 2 ppm di ukur absorbansinya pada rentang l = 400-600
nm, dengan jarak rentang 10 nm. Dari data hasil pengukuran dicari l dengan nilai absorbansi tertinggi.

f. Pengukuran Deret Standar dan Sampel


Pengukuran absorbansi larutan standar dan sampel dilakukan pada l maksimum yang telah
didapat. Jika serapan sampel berada diluar rentang deret standar, maka sampel diencerkan. Data hasil
pengukuran dibuat dalam bentuk kurva antara konsentrasi dan serapan deret standar.

g. Preparasi Larutan Blanko


Larutan blanko dibuat dari 1 ml hidroksilamin-HCl 5%, 8 ml CH3COONa, dan 5 ml 1,10-
fenantrolin 0,1 %. Kemudian ditambahkan aquades hingga tanda batas, dan terakhir dihomogenkan.

h. Matching Kuvet
Kuvet yang diuji sebanyak 5 buah. Masing-masing kuvet diisi dengan larutan CoCl2. Kemudian,
diukur absorbansinya menggunakan larutan blanko aquades sebagai pembanding. Dari data
pengukuran yang didapat, diambil 2 kuvet yang nilai absorbansi larutan CoCl2 nya tidak terlalu
berbeda jauh.

E. Hasil dan Analisis Data


Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kadar Fe dalam sampel air menggunakan alat
spektrofotometer UV-VIS. Prinsip kerja dari alat spektrofotometer UV-VIS adalah penyerapan
cahaya oleh suatu molekul dengan panjang gelombang tertentu pada daerah sinar tampak dan ultra
violet. Hukum yang mendasari percobaan ini adalah hukum Lambert-Beer yaitu : A = a b c
Maka untuk memenuhi hukum Lambert-Beer tersebut, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
sampel harus jernih, konsentrasinya rendah, larutannya stabil, dan sinar yang digunakan merupakan
sinar monokromatis.
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adah M-106, daerah analisis dari alat ini hanya pada
rentang sinar tampak, tidak bisa digunakan untuk daerah ultraviolet. Panjang gelombang yang
digunakan untuk analisis antara 380-750 nm.
Tahapan pertama yang dilakukan dalam percobaan ini adalah pembuatan larutan induk Fe(II) 100
ppm. Larutan dibuat dengan cara melarutkan garam Fe(NH4)2(SO4)2.6H2O dengan aquades dan
ditambahkan asam. Tujuan penambahan asam adalah untuk menghindari hidrolisis, sehingga
mencegah terbentuknya endapan Fe(OH)2. Dalam keadaan basa, ion Fe2+ bisa bereaksi dengan ion
OH- membentuk endapan Fe(OH)2.
Asam yang digunakan adalah H2SO4, tujuannya untuk menghindari penambahan matriks, karena
garam Fe yang digunakan sudah mengandung SO4, maka asam yang paling sesuai digunakan adalah
H2SO4.
Selanjutnya, dilakukan pembuatan larutan standar Fe(II) 10 ppm, caranya dengan mengencerkan
larutan induk. Dari larutan standar Fe(II) 10 ppm, dibuat lagi larutan deret standar dengan konsentrasi
1 ppm, 1,5ppm, 2 ppm, 2,5ppm, dan 3ppm. Pada proses pembuatan larutan deret standar dilakukan
penambahan hidroksilamin - HCl 5%. Tujuannya adalah untuk mereduksi Fe(III) menjadi Fe(II). Hal
ini bertujuan untuk pembentukan kompleks yang lebih stabil. Selanjutnya ditambahkan bufer
CH3COONa 5% yang bertujuan untuk menjaga pH larutan sekitar pH 6-9. pH ini berkaitan dengan
pembentukan senyawa kompleks, jika pH terlalu basa ( > 9 ) dikhawatirkan akan terbentuk endapan
Fe(OH)2 sedangkan jika pH terlalu asam ( < 6 ) dikhawatirkan tidak terbentuk komplek dari Fe(II).
Tahap selanjutnya adalah penambahan 1,10 – Fenantrolin 0,1% yang berperan sebagai ligan
dalam pembentukan komplek Fe(II)fenantrolin. Pembentukan kompleks ditandai dengan perubahan
warna larutan, dari tidak berwarna menjadi berwarna jingga.
Setelah pembuatan larutan deret standar, dilakukan juga preparasi sampel. tahap preparasi sampel
sama dengan pembuatan deret standar, yaitu sampel ditambahkan hidroksilamin-HCl 5%,
CH3COONa 5%, dan 1,10 – Fenantrolin 0,1%. Penambahan hidroksilamin-HCl 5% bertujuan untuk
mengubah semua ion Fe menjadi Fe(II). Karena ketika pengujian absorbansi, yang teruji dengan alat
spektrovotometer visibel adalah komplek Fe(II) yang stabil, maka agar diperoleh hasil pengukuran
yang akurat maka harus dipastikan semua ion Fe dalam bentuk ion Fe(II). Setelah ditambahkan 1,10 –
Fenantrolin 0,1%, sampel masih tetap tidak berwarna, maka ditambahkan larutan standar Fe(II) 10
ppm, metode ini merupakan metode standar adisi.
Sebelum dilakukan pengukuran absorbansi terhadap deret standar dan sampel, terlebih dahulu
dilakukan matching kuvet dan pengukuran lamda maksimum. Matching kuvet bertujuan untuk
menemukan dua buah kuvet yang memiliki nilai absorbansi yang samahampir mirip, agar pengukuran
absorbansi dari blanko dan sampel lebih akurat. Pengukuran λ maksimum bertujuan untuk
menentukan panjang gelombang yang sesuai untuk pengukuran, agar diperoleh nilai absorbansi yang
maksimum. λ maksimum diperoleh pada 509,5 nm.

Pengukuran absorbansi deret standar dimulai dari konsentrasi yang terendah hingga tertinggi
setelah diperoleh nilai absorbansi dari masing-masing konsentrasi, kemudian data tersebut diplotkan
kedalam grafik kurva kalibrasi. Dari grafik tersebut diperoleh persamaan garis y = 0,2213x + 0,0001
dengan r2 = 0,9916.

Grafik Kalibrasi Standar


0.8
y = 0.2213x + 0.0001
0.6 R² = 0.9916
Absorbansi

0.4

0.2

0
0 1 2 3 4
Konsentrasi (ppm)
Berdasarkan data hasil pengukuran terhadap sampel diperoleh absorbansi sampel sebesar 0,455.
Dengan konsentrasi 2,0555 ppm.

F. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum penentuan kadar Fe(II) dalam sampel dengan menggunakan spekrofotometer
UV-Vis diperoleh kadar Fe(II) dalam sampel sebesar 51,4177% dengan %kesalahan sebesar 13,85 %
LAMPIRAN
 Pembuatan larutan
1. Pembuatan larutan baku Fe(II) 100 ml air dengan garam Fe(NH4OH) 2SO
Dik :
Mm Fe : 56 g/mol
Mm (NH4) 2 Fe(SO4) 2 . 6H2O : 392 g/mol
V 100 ml : 0,1 L
Dit : massa yang ditimbang?
𝑚𝑔 (NH4) 2 Fe(SO4) 2 .6H2O 𝑣 𝑙𝑎𝑏𝑢
Mg = 𝐴𝑟 𝐹𝑒
x ppm x 1000
392,14 100
Mg = x 100ppm x
56 1000

Mg = 70,025 = 0,07 gram


2. Pembuatan larutan standar Fe(II) dalam 25 mL
𝐴𝑟 𝐹𝑒 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚 𝑚𝑜ℎ𝑟 (𝑚𝑔)
Konsentrasi larutan baku Fe (II) = x
𝑀𝑟 𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚 𝑚𝑜ℎ𝑟 𝑉 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 (𝐿)
56 7,025
Konsentrasi larutan baku Fe (II) = x
392,14 0,1

Konsentrasi larutan baku Fe (II) = 10,0357 ppm ≈ 10 ppm


3. Menentukan V1 dengan rumus : M1 V1 = M2 V2
M2 V2
V1 = M1
1 pmm.25 mL
- 1 ppm : V1 = 10 ppm
= 2,5 mL
1,5 pmm.25 mL
- 1,5 ppm : V1 = = 3,75 mL
10 ppm
2 pmm.25 mL
- 2 ppm : V1 = = 5 mL
10 ppm
2,5 pmm.25 mL
- 2,5 ppm : V1 = 10 ppm
= 6,25 mL
3 pmm.25 mL
- 3 ppm : V1 = = 7,5 mL
10 ppm

 Perhitungan konsentrasu Fe sampel


y = 0,2213x + 0,0001
0,455 = 0,2213x + 0,0001
0,2213x = 0,455 – 0,0001
0,4549
x = 0,2213

x = 2,0555 ppm , jadi didapatkan konsentrasi sampel sebesar 2,0555 ppm.

1. Berikut menghitung massa Fe dalam sampel 25 ml


25
Massa sampel = x 2,055 ppm = 0,0514 mg
1000

2. Menghitung massa Fe dalam sampel 250 ml

250
Massa Fe = 2
x 0,0514 mg = 6,4250 mg

Diketahui massa 1 kapsul obat rata-rata : 418,87 mg, Mr Fe glukonat = 448,156 g/mol

3. Menghitung massa Fe dalam 1 kapsul obat

418,87 𝑚𝑔
Massa Fe (1 kapsul) : x 6,4250 mg = 26,9123 mg
100 𝑚𝑔

448,156 g/mol
Fe glukonat : x 26,9123 mg = 215,3734 mg
56 𝑔/𝑚𝑜𝑙

215,3734
% kadar Fe = x 100% = 51,4177 %
418,87

215,3734−250
% kesalahan = 250
x 100% = 13,85 %