Anda di halaman 1dari 5

INFORMATION CONTENT OF PRICE

Information content atau signalling hypothesis merupakan teori yang menyatakan


bahwa investor menganggap perubahan yang terjadi pada dividen sebagai pertanda
bahwa perkiraan manajemen atas laba. pemegang saham umumnya tidak terlibat
aktif dalam manajemen. Akibatnya mereka menggunakan dividen sebagai indikator
prospek korporasi. Modigliani-Miller menyatakan bahwa; Reaksi investor terhadap
perubahan dividen tidak berarti sebagai indikasi bahwa investor lebih menyukai
dividen daripada laba ditahan (preference effect). Tetapi karena semata bahwa
investor percaya adanya information content pada kebijakan dividen. Menyadari
hal ini, manajemen berusaha “meratakan” dividen per-saham (dividend smoothing).
Mereka cenderung menghindari pemotongan dividen apalagi tidak membayar
dividen.

Terdapat kecenderungan harga saham akan naik jika ada pengumuman kenaikan
dividen. Perubahan harga saham dapat menyebabkan meningkatnya atau
menurunnya deviden tergantung prospek perusahaan itu sendiri dalam hal ini
pembagian deviden. Pendapat pertama mengatakan bahwa kebijakan dividen tidak
relevan, berarti bahwa tidak ada kebijakan dividen yang optimal karena kebijakan
dividen tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Pendapat kedua mengatakan bahwa
dividen lebih kecil resikonya dibandingkan dengan capital gain, sehingga
disarankan untuk meningkatkan dividen. Sedangkan pendapat ke tiga mengatakan,
bahwa dividen cenderung dikenakan pajak yang lebih tinggi dari pada capital gain,
sehingga lebih baik perusahaan menentukan dividen payout ratio yang rendah atau
bahkan tidak membagikan dividen sama sekali untuk memaksimumkan nilai
perusahaan

Terdapat ketidakkonsistenan pendapat tentang kebijakan deviden hal ini terjadi


karena kekurangan informasi, karakteristik dan waktu penelitian. Dapat di
simpulkan pendapat yang di jelaskan menguatkan pendapat yang di jelaskan
sebelumnya mengenai tiga pendapat tentang kebijakan dividen dalam persfektif
teori signaling.
Inkonsistensi logika

Efisiensi mengimplikasikan bahwa harga pasar dari sekuritas setiap waktu secara
tepat merefleksikan seluruh hal yang diketahui secara publik tentang sekuritas.
Apakah yang mendorong harga pasar untuk karakteristik “yang merefleksikan
secara tepat” ini? Adalah tindakan dari investor yang telah diberikan informasi yang
selalu berusaha untuk memperoleh dan memproses informasi untuk membuat
keputusan menjual/membeli terbaik.

Dengan definisi dari efisiensi pasar, seluruh informasi yang tersedia telah
terefleksikan dalam harga pasar. Yaitu harga sepenuhnya informatif ( fully
informative). Sejak perolehan informasi memerlukan biaya, dan investor tidak
dapat mengharapkan untuk melawan pasar ketika harga pasar telah
menggambarkan informasi yang telah diketahui secara publik, investor dapat
dengan mudah menghentikan pengumpulan informasi dan mempercayakan pada
harga pasar sebagai indikator terbaik dari tingkat pengambilan sekuritas masa
depan.

Inkonsistensi logika kemudian adalah jika harga sepenuhnya merefleksikan


informasi yang tersedia, tidak ada motivasi bagi para investor untuk memperoleh
informasi; sehingga harga tidak akan sepenuhnya menggambarkan informasi yang
tersedia. Yang menjadi masalah adalah apakah informasi laporan keuangan berguna
bagi investor. Hal ini juga bertentangan dengan SFAC 1 (bagian 3.8) yang
mengimplikasikan bahwa invaestor menemukan bahwa pelaporan keuangan
berguna. Bagaimanapun, terdapat cara mudah untuk keluar dari inkonsistensi ini
yaitu untuk mengakui bahwa terdapat sumber-sumber lain dari permintaan dan
penawaran untuk sekuritas daripada keputusan membeli/menjual dari investor
rasional yang telah diberikan informasi. Contoh, orang-orang mungkin
membeli/menjual sekuritas untuk berbagai alasan yang tidak dapat diprediksi –
mereka mungkin memutuskan untuk pensiun awal, mereka mungkin memerlukan
uang untuk membayar hutang-hutang judi, mereka mungkin menerima “uang
panas”, dan lain-lain. Orang-orang ini disebut pedagang likuiditas (liquidity traders)
atau pedagang bising (noise traders). Keputusan membeli/menjual mereka akan
mempengaruhi harga pasar sekuritas, tetapi keputusannya datang secara acak –
mereka tidak mendasarkan pada evaluasi rasional dari informasi yang relevan.

Sebuah poin yang penting untuk diperhatikan adalah investor sekarang memiliki
insentif untuk meningkatkan ketepatan keyakinan mereka dengan mengumpulkan
lebih banyak informasi. Jika mereka dapat menemukan informasi mana yang benar,
hal ini akan berbalik menjadi sebuah kesempatan investasi yang menguntungkan.
Ketika investor berperilaku seperti yang telah dijelaskan, mereka dapat dikatakan
memiliki harapan yang rasional (rational expectations). Harga sekuritas dikatakan
informatif secara parsial (partially informative) dengan hadirnya noise trading dan
harapan yang rasional. Harga pasar masih efisien dengan kehadiran noise trading,
tetapi jika harapan noise trading adalah nol, investor mengharapkan bahwa harga
pasar sekuritas sepenuhnya merefleksikan seluruh informasi yang diketahui secara
publik.

Pihak manajemen perusahaan mempunyai insentif untuk memenuhi keinginan


investor terhadap informasi yang jelas. Contoh, manajemen perusahaan memiliki
informasi dari dalam yang membawa pada keyakinan bahwa perusahaan dinilai
lebih rendah daripada yang seharusnya. Untuk meluruskan hal ini, manajemen
dapat terlibat pada pengungkapan sukarela (voluntary disclosure), yaitu
pengungkapan informasi yang melampaui persyaratan minimal dari GAAP dan
standar pelaporan lainnya. Pengungkapan seperti ini dapat memiliki kredibilitas
sekalipun tidak diaudit, sejak kewajiban legal menjatuhkan disiplin pada keputusan
pelaporan manajer. Sayangnya, terdapat batasan dalam pengungkapan sukarela
tidak hanya karena sistem legal yang mungkin tidak sanggup untuk memperkuat
kredibilitas secara lengkap, tetapi karena manajemen tidak akan mau memberikan
informasi yang akan

menjauhkan keuntungan kompetitif. Istilah “merefleksikan secara tepat” dalam


definisi pasar sekuritas efisien harus diinterprestasikan dengan hati-hati. Hal itu
tidak berarti bahwa harga sekuritas sepenuhnya informatif dalam hubungannya
dengan informasi yang tersedia setiap waktu. Jika tidak hal ini akan memiliki
implikasi yang sebaliknya terhadap kegunaan laporan keuangan.

Alasan Pasar Bereaksi terhadap Informasi


Terdapat beberapa alasan pasar bereaksi terhadap informasi keuangan,
yaitu:

1. Keyakinan sebelumnya (prior belief) investor yang didasarkan pada


informasi yang telah tersedia tidak sama. Ketidaksamaan tersebut
dipengaruhi oleh besar-kecilnya informasi yang diperoleh dan kemampuan
untuk menginterpretasi informasi.
2. Dengan masuknya informasi baru berupa laba, sebagian investor menjadi
lebih informed dan merevisi ekspektasinya (upward) dengan datangnya
berita baik ini. Namun sebagian investor lain yang sebelumnya memiliki
ekspektasi yang terlalu tinggi mungkin akan menginterpretasikan informasi
laba tersebut sebagai berita buruk (downward).
3. Investor yang merevisi ekspektasinya upward akan bersedia membeli
sekuritas pada harga sekarang, sedangkan investor yang merevisi
ekspektasinya downward akan melakukan sebaliknya.
Kita dapat mengobservasi jumlah sekuritas yang diperdagangkan dengan
munculnya informasi baru berupa laba ini. Seharusnya volume perdagangan akan
semakin besar dengan semakin besarnya perbedaan ekspektasi antara investor yang
bersikap upward dengan yang bersikap downward.

Pengertian Perspektif Informasi


Information perspective berkaitan dengan penyamaan kegunaan
(usefulness) informasi dengan kandungan informasi (information content).
Information perspective pada pelaporan keuangan adalah suatu pendekatan yang
mengakui tanggungjawab individual untuk memprediksi kinerja masa depan
perusahaan yang berkonsentrasi pada penyediaan informasi yang bermanfaat untuk
tujuan tersebut. Pendekatan ini mengakui bahwa pasar akan bereaksi terhadap
informasi yang bermanfaat dari manapun sumbernya, termasuk laporan keuangan.
Ada ungkapan yang menyatakan “the proof of the pudding is in the eating”
apabila teori pasar modal efisien dan teori keputusan yang mendasarinya
merupakan gambaran realitas, maka nilai sekuritas tentu dapat diprediksi dengan
adanya informasi baru. Untuk membuktikan ini diperlukan penelitian empiris
dalam akuntansi. Walapun sulit dalam perancangan riset eksperimen untuk menguji
hal ini, riset akuntansi telah menemukan bahwa pasar bereaksi setidaknya terhadap
komponen laba dalam informasi akuntansi. Bukti tentang hal ini pertama kali
ditemukan oleh Ball dan Brown (1968). Kalau pasar bereaksi, berarti bahwa
informasi digunakan untuk pengambilan keputusan. Inilah yang dinyatakan bahwa
“bukti enak tidaknya puding adalah dengan memakannya.” Akuntan dapat
membantu meningkatkan kegunaan (usefulness) dengan menggunakan pedoman
respon pasar sebagai dasar untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh
investor.