Anda di halaman 1dari 16

Bab I Penyediaan Air di Indonesia

I.1 Sistem Penyediaan Air minum

Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Indonesia didasari oleh UUD 1945
pasal 33 yang berbuni ”Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar
atas asas kekeluargaan” (Pasal 33 Ayat 1); ”Cabang-cabang produksi yang
penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh
negara” (Pasal 33 Ayat 2); ”Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat”.

Adapun penggunaan sumber daa air di indonesia pengusahaanna dapa berupa


produk air minum maupun produk selain air minum. Hal ini erera dalam PP
Nomor 121 Tahun 2015 tentang Pengusahaan Sumber Daya Air pada pasal 6.
Pengelolaan sumber daa air merupakan kewenangan bagi pemerintah pusat
maupun daerah. Hal ini tertuang dalam UU No. 11 Tahun 1974 tentang Sumber
Daya Air.

Penelenggaraan SPAM erdiri dari dua aiu spam dengan jaringan perpipaan dan
spam jaringan bukan perpipaan, hal ini diaur dalam pp 122 ahun 2015 mengenai
Pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum. Unuk spam dengan jaringan
perpipaan penelenggaraan dimulai dari unit air baku, unit produksi, unit distribusi
dan unit pelayanan (pasal 4). Semenara penelenggaraan spam dengan jaringan
bukan perpipaan dilakuka dengan pengambilan air melalui sumur dangkal, sumur
pompa, bak penampungan air hujan, terminal air dan bangunan penangkap mata
air (pasal 10). Kualias air baku ang digunakan dalam penediaan air minum harus
mengacu pada PP 82 Tahun 2001 yang mengaur baku muu air baku unuk air
minum pada kelar 1. Adapun dalam penelenggaraan spam ini insansi ang erliba
dianarana kemenerian pupr, pemerinah koa/daerah sera bumd.
Kualias daripada air ang diolah dari pdam diuji sesuai dengan perauran ang
berlaku aiu keputusan Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/PER /IV/2010
mengenai persyaratan kualitas air minum. Dalam perauran ini juga disebukan
bahwa pengawasan kualias air dari pdam dilakukan oleh dinas kesehaan,
pemerinah kota/kabupaten serta bpom.

I.2 Penggunaan Sumber Daya Air di Indusri Air Minum Dalam Kemasan

Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor 96/M-


IND/PER/12/2011 tentang Persyaratan Teknis Industri Air Minum Dalam
Kemasan pada pasal 1, Air Minum Dalam Kemasan, yang selanjutnya disebut
AMDK adalah air yang telah diproses, tanpa bahan pangan lainnya dan bahan
tambahan pangan, dikemas, serta aman untuk diminum. Air baku ang digunakan
dalam pelaku usaha amdk ini berdasarkan pasal 1 dapa memanfaakan air tanah, air
permukaan, air laut atau udara lembab, dengan beberapa tahapan proses sampai
dengan menjadi AMDK. Instansi ang terlibat dalam pembinaan Industri AMDK
aitu kementerian perindustrian. Selain iu pembinaan dan pengawasan juga
melibakan pemerinah koa/kabupaen. Dalam hal ini BPOM juga berperan dalam
pengawasan AMDK sebagai pangan olahan erenu. Hal ini sesuai dengan UU No.
18 Tahun 2012 tentang pangan (pasal 108) yaitu, persyaratan Keamanan Pangan,
Mutu Pangan, dan Gizi Pangan, serta persyaratan label dan iklan Pangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, untuk Pangan Olahan, dilaksanakan
oleh lembaga pemerintah yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang
pengawasan obat dan makanan.

Persyaratan kualias air minum dalam kemasan berdasarkan Peraturan Menteri


Perindustrian RI No. 78/M-IND/PER/11/2016 enang pemberlakukan sni bagi air
mineral, air demineral, air mineral alami dan air minum embun secara wajib
(pasal 4) dianarana

 Air mineral nomor sni 3553:2015


 Air demineral nomor 6241:2015
 Air mineral alami 6242:2015
 Air minum embun 7812:2013

I.3 Kegiatan Depot Air Minum

Kegiaan depo air minum ini penelenggaraanna diaur dalam Keputusan Menteri
Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor 651/MPP/
KEP/10/2004 tentang Persyaratan Teknis Depot Air Minum dan Perdagangannya
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia. Dalam perauran ini
air baku ang digunakan berdasarkan pasal 2, Depot Air Minum wajib memiliki
Surat Jaminan Pasok Air Baku dari PDAM atau perusahaan yang memiliki Izin
Pengambilan Air dari Instansi yang berwenang. Kualias dari muu air minum dari
kegiaan ini diuji menggunakan krieria air minum dalam perauran Keputusan
Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/PER /IV/2010 mengenai persyaratan
kualitas air minum. Semenrara pemeriksaan dilakukan oleh laboraorium milik
pemerinah kabupaen/koa. Sesuai dengan permenkes no.492/2010 ini, pengawasan
konsumsi air dari depo air minum dilakukan oleh dinas kesehaan dan bpom.

I.4 Aktivitas Penggunaan Air Pada Produksi Pangan

Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 75/MIND/PER/7/2010


tentang Pedoman Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (Good Manufacturing
Practices) penggunaan air minum/air bersih pada proses produksi pangan juga
kualitasna harus memenuhi syarat kesehatan. Secara garis besar hal ini unuk
meningkakan keamanan pangan. Proses produksi pangan olahan ini juga
melibakan bpom dimana bpom merupakan pihak ang pemberian serifikasi cara
produksi pangan olahan yang baik. Selain itu Peraturan Kepala Badan Pengawas
Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2014 Tentang Tata Cara
Sertifikasi Cara Produksi Pangan Olahan Yang Baik mengacu pada Peraturan
Menteri Perindustrian Nomor 75/MIND/PER/7/2010.
I.5 Penggunaan Tap Water

Regulasi mengenai kriteria mutu air dari tap water sebagai penedia kebutuhan air
minum secara umum saat ini belum tersedia. Namun, untuk kualitas air minum
sendiri sebenarna sudah diatur dalam peraturan Keputusan Menteri Kesehatan RI
No. 492/MENKES/PER /IV/2010 mengenai persyaratan kualitas air minum
dengan pengawasan yang melibakan dinas kesehatan, pemerintah kota/kabupaten
serta BPOM.
Pemerintah UUD 1945 pasal 33
Pusat/Daerah UU No. 11 Tahun 1974
PP Nomor 121 Tahun 2015
PP 82 Tahun 2001

Sumber daya air


Bab II Pengawasan Air di Luar Negeri

II.1 Pengawasan Air Minum Di Amerika

Dikuip dalam
https://www.cdc.gov/healthywater/drinking/public/water_quality.html tap water is
regulated by the United States Environmental Protection Agency (EPA)

The drinking water CCL is a list of contaminants that are currently not subject to
any proposed or promulgated national primary drinking water regulations, but are
known or anticipated to occur in public water systems. Contaminants listed on the
CCL may require future regulation under the Safe Drinking Water Act
(SDWA). SDWA requires EPA to publish the CCL every five years. SDWA
directs the Agency to consider the health effects and occurrence information for
unregulated contaminants as the Agency makes decisions to place contaminants
on the list. SDWA further specifies that the Agency place those contaminants on
the list that present the greatest public health concern related to exposure from
drinking water. EPA uses the CCL to identify priority contaminants for regulatory
decision making and information collection.

Sandar krieria air minum udah didownload

Kalo di amerika

FAOs work on water covers a broad range of issues with a particular focus on availability
and access for the food and agriculture sector. While water quality is a component of
that the primary focus is on quality as it relates to agriculture production rather than
from the perspective of the safety of the resulting food for human consumption

Note: The report states “may be at risk”. Water suppliers are obliged to do frequent
testing and provide an annual water quality report to consumers with measures versus
legal limits and guidelines by EPA.

Consumer Confidence Reports (CCR)


also known as an annual drinking water quality report from your water supplier.
Your CCR tells you where your water comes from and what's in it. You can find
out about levels of regulated contaminants in your treated water. (CCR) is another
way to find out about the water quality in your area. It provides information
regarding contaminants, possible health effects, and the water’s source.
Lampiran

Sandar Mutu Air berdasarkan kelas dalam PP 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran
Air
Parameter wajib sandar muu air berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan
RI No. 492/MENKES/PER /IV/2010 mengenai persyaratan kualitas air
minum

No. Jenis Parameter Satuan Kadar Maksimum


1 Parameter yang Berhubungan
Langsung Dengan Kesehatan

A. Parameter Mikrobiologi
1) E.Coli jumlah per 0
100 sampel
2) Toal Bakeri Koliform jumlah per 0
100 sampel

B. Kimia An-Organik
1) Arsen 0,01
2) Fluorida 1,5
3) Total Kadmium 0,05
4) Kadmium 0,003
5) Nitrit , (Sebagai NO2-) 3
6) Nitrat, (Sebagai NO3-) 50
7) Sianida 0,07
8) Selenium 0,01

2 Parameter yang Tidak


Langsung Berhubungan
Dengan Kesehatan
A. Parameter Fisik
1) Bau Tidak Berbau
2) Warna cu 15
3) Total Zat Pada Terlarut mg/l 500
(TDS)
4) Kekeruhan nu 5
5) Rasa Tidak Berasa
o
6) Suhu c Suhu Udara ±3
B. Parameter Kimiawi
1) Aluminium mg/l 0,2
2) Besi mg/l 0,3
3) Kesadahan mg/l 500
4) Khlorida mg/l 250
5) Mangan mg/l 0,4
6) Ph 6,5-8,5
7) Seng mg/l 3
8) Sulfat mg/l 250
9) Tembaga mg/l 2
10) Amonia mg/l 1,5