Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP)

SELULITIS NASAL
DI RUANG RAWAT INAP THT
RSAM BUKITTINGGI

OLEH :

Mien Elfianingsih, S.Kep NIM 1614901186


Nice Foresa, S.Kep NIM 1614901187

PEMBIMBING

KLINIK AKADEMIK

( ) ( )

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES FORT DE KOCK BUKITTINGGI
TAHUN 2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Istilah "selulitis" biasanya digunakan untuk menunjukkan suatu peradangan non-
nekrotik pada lapisan dermis dan hypodermis kulit. Selulitis dapat disebabkan oleh
bakteri dan organisme yang normal ada di kulit. Selulitis biasa terjadi apabila
sebelumnya terdapat gangguan yang menyebabkan kulit terbuka, seperti luka, terbakar,
gigitan serangga atau luka operasi.
Selulitis dapat terjadi di seluruh bagian tubuh, namun bagian tersering yang terkena
selulitis adalah kulit di wajah dan kaki. Selulitis bisa hanya menyerang kulit bagian atas,
tapi bila tidak diobati dan infeksi semakin berat, dapat menyebar ke pembuluh darah
dan kelenjar getah bening. Selulitis merupakan kelainan kulit berupa infiltrat yang difus
di subkutan dengan tanda – tanda radang akut.
Sebuah studi pada tahun 2006 menemukan tingkat kejadian 24,6 kasus per 1.000
orang/tahun. Selulitis merupakan infeksi pada kulit dan disebabkan oleh bakteri. Pada
orang dewasa dengan immunocompetent, selulitis biasanya disebabkan oleh
Staphylococcus pyogenes dan, kadang-kadang, Staphylococcus aureus. Pada anak-anak,
yang paling umum menyebabkan selulitis adalah S.aureus.
Gejala klinis yang dapat terlihat adalah terdapatnya nyeri lokal, bengkak, nyeri,
eritema, dan suhu lebih tinggi pada bagian yang terinfeksi. Tempat predileksi yang
paling umum terinfeksi adalah daerah ekstremitas inferior. Diagnosis ditegakkan hanya
dari pemeriksaan fisik, riwayat penyakit (anamnesa), dan pemeriksaan penunjang.
Pasien dengan kasus selulitis ringan dapat diobati sebagai pasien rawat jalan.

B. TUJUAN
1. Tujuan instruksional Umum
Setelah mendapatkan pendidikan kesehatan diharapkan pasien dan keluarga
dapat mengetahui dan memahami tentang penyakit selulitis nasal.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mendapatkan pendidikan kesehatan selama 1 x 30 menit, pasien dan
keluarga mampu :
a. Mengetahui tentang pengertian selulitis nasal
b. Mengetahui penyebab selulitis nasal
c. Mengetahui faktor resiko terjadinya selulitis nasal
d. Mengetahui tanda dan gejala selulitis nasal
e. Mengetahui penatalaksanaan selulitis nasal
f. Mengetahui komplikasi selulitis nasal
g. Mengetahui pencegahan selulitis nasal
BAB II
MATERI PENYULUHAN

A. PENGERTIAN
Selulitis adalah suatu infeksi yang menyerang kulit dan jaringan subkutan. Tempat
yang paling sering terkena adalah ekstremitas, tetapi juga dapat terjadi di kulit kepala,
kepala, dan leher (Cecily, Lynn Betz., 2009). Selulitis merupakan infeksi bakteri pada
jaringan subkutan yang pada orang-orang dengan imunitas normal, biasanya
disebabkan oleh Streptococcus pyrogenes (Graham & Robin., 2005). Selulitis adalah
infeksi lapisan dermis atau subkutis oleh bakteri. Selulitis biasanya terjadi setelah luka,
gigitan di kulit atau karbunkel atau furunkel yang tidak teratasi (Corwin, Elizabeth J.,
2009).

B. PENYEBAB
Organisme penyebab selulitis adalah Staphylococcus aureus, streptokokus grup A,
dan Streptococcus pneumoniae (Cecily, Lynn Betz., 2009). Organisme penyebab bisa
masuk ke dalam kulit melalui lecet-lecet ringan atau retakan kulit pada jari kaki yang
terkena tinea pedis, dan pada banyak kasus, ulkus pada tungkai merupakan pintu masuk
bakteri. Faktor predisposisi yang sering adalah edema tungkai, dan selulitis banyak
didapatkan pada orang tua yang sering mengalami edema tungkai yang berasal dari
jantung, vena dan limfe (Graham & Robin., 2005).

C. FAKTOR RISIKO
1. Usia
Semakin tua usia, kefektifan sistem sirkulasi dalam menghantarkan darah
berkurang pada bagian tubuh tertentu. Sehingga abrasi kulit potensi mengalami
infeksi seperti selulitis pada bagian yang sirkulasi darahnya kurang.
2. Melemahnya sistem immun (Immunodeficiency)
Dengan sistem imun yang lemah maka semakin mempermudah terjadinya infeksi.
Contoh pada penderita leukemia lymphotik kronis dan infeksi HIV.
3. Diabetes mellitus
Tidak hanya gula darah meningkat dalam darah namun juga mengurangi sistem
immun tubuh dan menambah resiko infeksi. Diabetes mengurangi sirkulasi darah
pada ekstremitas bawah dan potensial membuat luka pada kaki dan menjadi jalan
masuk bagi bakteri.
4. Cacar dan ruam saraf
Karena penyakit ini menimbulkan luka terbuka yang dapat menjadi jalan masuk
bakteri.
5. Pembangkakan kronis pada lengan dan tungkai (lymphedema)
Pembengkakan jaringan membuat kulit terbuka dan menjadi jalan masuk bagi
bakteri.
6. Gigitan & sengat serangga, hewan, atau gigitan manusia
7. Malnutrisi
Sedangkan lingkungan tropis, panas, banyak debu dan kotoran, mempermudah
timbulnya penyakit ini.

D. TANDA DAN GEJALA


Tempat infeksi ditandai dengan pembengkakan dengan batas tidak tegas disertai
nyeri tekan dan hangat. Infeksi dapat meluas ke jaringan yang lebih dalam atau
menyebar secara sistemik.
1. Reaksi lokal
a. Lesi dengan batas tidak jelas
b. Area selulit biasanya nyeri, merah, dan hangat
c. Jaringan mengeras
2. Reaksi sistemik
a. Demam
b. Malaise menggigil
c. Garis merah sepanjang jalur drainase limfatik
d. Kelenjar getah bening membesar dan nyeri
(Cecily, Lynn Betz., 2009)
Daerah yang terkena menjadi eritema, terasa panas dan bengkak serta terdapat
lepuhan-lepuhan dan daerah nekrosis. Pasien menjadi demam dan merasa tidak enak
badan. Bisa terjadi kekakuan, dan pada orang tua dapat terjadi penurunan kesadaran
(Graham & Robin., 2005).
Gambaran klinis dari selulitis antara lain: daerah kemerahan yang bengkak di kulit
serta terasa hangat dan nyeri bila dipegang. Pus serosa atau purulen dapat ditemukan.
Serta demam (Corwin, Elizabeth J., 2009).
Menurut Mansjoer (2000) manifestasi klinis selulitis adalah kerusakan kronik pada
kulit sistem vena dan limfatik pada kedua ekstremitas,kelainan kulit berupa infiltrat
difus subkutan, eritema lokal, nyeri yang cepat menyebar dan infiltratif ke jaringan
dibawahnya, bengkak, merah, hangat, dan nyeri tekan, supurasi, dan lekositosis.

E. PENATALAKSANAAN
1. Air dan sabun serta antibiotik topikal
2. Mungkin diperlukan kompres hangat dan insisi lesi
3. Antibiotik sistemik
(Corwin, Elizabeth J., 2009)
Perawatan lebih lajut bagi pasien rawat inap :
1. Beberapa pasien membutuhkan terapi antibiotik intravenous. Diberikan penicillin
atau obat sejenis penicillin (misalnya cloxacillin)
2. Jika infeksinya ringan, diberikan sediaan per-oral (ditelan).
3. Biasanya sebelum diberikan sediaan per-oral, terlebih dahulu diberikan suntikan
antibiotik jika: penderita berusia lanjut, selulitis menyebar dengan segera ke bagian
tubuh lainnya, demam tinggi.
4. Jika selulitis menyerang tungkai, sebaiknya tungkai dibiarkan dalam posisi
terangkat dan dikompresdingin untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan.
5. Pelepasan antibiotic parenteral pada pasien rawat jalan menunjukan bahwa dia telah
sembuh dari infeksi
Perawatan lebih lanjut bagi pasien rawat jalan : perlindungan penyakit cellulites bagi
pasien rawat jalan dapat dilakukan dengan cara memberikan erythromycin atau oral
penicillin dua kali sehari atau intramuscular benzathine penicillin.

F. KOMPLIKASI
1. Gangguan sistemik
2. Osteomielitis
3. Artritis septik
4. Hilangnya ketajaman penglihatan (selulitis orbital)
5. Potensial abses otak (selulitis orbital, periorbital)
(Cecily, Lynn Betz., 2009)

G. PENCEGAHAN
Jika selulitis berulang, dokter dapat merekomendasikan antibiotik pencegahan.
Untuk membantu mencegah selulitis dan infeksi lain, lakukan tindakan pencegahan ini
ketika memiliki kulit yang luka:
 Mencuci luka sehari-hari dengan sabun dan air. Lakukan ini dengan lembut
sebagai bagian dari mandi.
 Mengoleskan krim atau salep perlindungan. Untuk kebanyakan luka-luka
permukaan, salep antibiotik tanpa resep (Neosporin, Polysporin, lain)
memberikan perlindungan yang memadai.
 Menutupi luka dengan perban. Mengubah perban setidaknya satu kali sehari.
 Perhatikan tanda-tanda infeksi. Kemerahan, nyeri dan drainase semua sinyal
infeksi yang mungkin dan kebutuhan untuk evaluasi medis.
Penderita diabetes dan orang-orang dengan sirkulasi yang buruk perlu mengambil
tindakan pencegahan ekstra untuk mencegah cedera kulit. Langkah-langkah perawatan
kulit yang baik meliputi:
 Memeriksa kaki dan bagian tubuh lain setiap hari. Periksa secara berkala kaki
dan anggota tubuh lainnya untuk tanda-tanda cedera sehingga Anda dapat
menangkap infeksi lebih awal.
 Melembabkan kulit secara teratur. Pelumas kulit (body lotion) membantu
mencegah retak dan mengupas.
 Memotong kuku tangan dan kuku kaki dengan hati-hati. Berhati-hati untuk tidak
melukai kulit di sekitarnya.
 Melindungi tangan dan kaki. Mengenakan alas kaki yang tepat dan sarung
tangan.
 Segera mengobati infeksi pada permukaan kulit (dangkal), seperti kaki atlet.
Infeksi kulit dangkal dapat dengan mudah menyebar dari orang ke orang.
Jangan menunggu untuk memulai pengobatan.
BAB III
METODE PELAKSANAAN DAN
KEGIATAN PENYULUHAN

Topik : Selulitis Nasal


Sub Topik : Pengertian selulitis nasal, penyebab, tanda dan gejala, perawatan dan
pencegahan
Sasaran : Pasien dan keluarga
Tempat : Ruang Rawat Inap Jantung RSAM Bukittinggi
Hari / Tanggal : Sabtu, 3 Juni 2017
Waktu : Pukul 90.00-09.30 WIB

A. Metode
1. Ceramah dan tanya jawab
Metode ini digunakan untuk penyampaian materi melalui penjelasan kepada keluarga
pasien dengan cara tatap muka dan mempertahankan kontak mata.
2. Diskusi
Metode ini digunakan untuk saling tukar pendapat, dan dimaksudkan untuk
mengetahui sejauh mana audiens mampu menyerap tentang materi yang telah
disampaikan.

B. Media
1. Laptop dan infokus
2. Leaflet yang berisi tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala serta perawtan
pasien selulitis nasal

C. Materi Pembelajaran
1. Pengertian selulitis nasal
2. Penyebab selulitis nasal
3. Faktor resiko selulitis nasal
4. Tanda dan gejala selulitis nasal
5. Penatalaksanaan selulitis nasal
6. Komplikasi selulitis nasal
7. Pencegahan selulitis nasal
D. Penyaji
Moderator, Observer & Notulen : Mien Elvianingsih
Penyaji : Nice Foresa

E. Setting Tempat

Keterangan :

: penyaji

: moderator, observer & notulen

: audiens

F. Strategi Pembelajaran
KEGIATAN KEGIATAN
TAHAP WAKTU
PENYULUHAN PESERTA

Pendahuluan 5 menit 1. Memberikan salam - Menjawab salam


2. Memperkenalkan diri - Mendengarkan dan
memperhatikan
3. Menjelaskan tujuan - Mendengarkan dan
pembelajaran memperhatikan
4. Membuat persetujuan dan - Mendengarkan dan
kontrak waktu menyetujui
5. Menyebutkan materi atau - Mendengarkan dan
pokok bahasan yang di memperhatikan
sampaikan

Penyajian 15 menit 1. Menanyakan kepada peserta - Menjawab pertanyaan


tentang materi yang akan penyaji
disampaikan
2. Memberikan pujian terhadap
jawaban yang telah
disampaikan peserta
3. Menjelaskan materi - Menyimak dan
penyuluhan secara berurutan memperhatikan
dan teratur
Materi:
a. Pengertian selulitis nasal
b. Penyebab penyebab
selulitis nasal
c. Faktor resiko selulitis
nasal
d. Tanda dan gejala selulitis
nasal
e. Penatalaksanaan selulitis
nasal
f. Komplikasi selulitis nasal
g. Pencegahan selulitis nasal

Penutup 10 menit 1. Melontarkan pertanyaan - Menjawab pertanyaan


kepada peserta untuk
mengetahui sejauh mana
peserta menyimak
pembelajaran
2. Memberikan pujian
3. Memberi kesempatan kepada - Bertanya
peserta untuk bertanya
4. Memberikan kesempatan
kepada peserta lain untuk - Menjawab pertanyaan
menjawab pertanyaan yang
dilontarkan
5. Menyimpulkan materi
pembelajaran - Mendengarkan
6. Mengucapkan terima kasih
dan mengucapkan salam - Menjawab salam

G. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Apakah peserta sudah hadir sebelum kegiatan penyuluhan dimulai ?
b. Di mana tempat pelaksanaan, berapa jumlah peserta yang hadir ?
2. Evaluasi Proses
a. Bagaimana respon audiens terhadap pembelajaran yang diberikan ?
b. Apakah semua peserta mengikuti kegiatan pembelajaran dari awal sampai akhir ?
c. Apakah peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar ?
3. Evaluasi Hasil
a. Berapa orang peserta yang mampu menjawab pertanyaan yang diajukan
moderator dan seberapa memahami peserta tentang materi selulitis nasal ?
b. Bagaimana perasaan peserta setelah diberikan materi selulitis nasal ?
DAFTAR PUSTAKA

Arif, Mansjoer, dkk. (2000). Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3. Medica. Aesculpalus,
FKUI, Jakarta.

Brunner & Suddarth. (2002). Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta

Cecily, Lynn Betz.(2009).Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC.

Corwin, Elizabeth J. (2009). Patofisiologi: Buku Saku. Jakarta: EGC.

Graham & Robin. (2005). Dermatologi:Catatan Kuliah. Jakarta: Erlangga.

http://www.sehatfresh.com/selulitis/ diakses tanggal 1 Juni 2017 pukul 21.30 WIB