Anda di halaman 1dari 17

Kerajaan Hindu

Pejuang atau tokoh kerajaan Hindu


Gajah Mada

Gajah Mada adalah patih mangkubumi (maha patih) Kerajaan Majapahit. Namanya
mulai dikenal setelah beliau berhasil memadamkan pemberontakan Kuti. Gajah Mada
muncul sebagai seorang pemuka kerajaan sejak masa pemerintahan Jayanegara (1309-
1328). Kariernya dimulai dengan menjadi anggota pasukan pengawal raja
(Bahanyangkari). Mula-mula, beliau menjadi Bekel Bahanyangkari (setingkat
komandan pasukan). Kariernya terus menanjak pada masa Kerajaan Majapahit dilanda
beberapa pemberontakan, seperti pemberontakan Ragga Lawe (1309), Lembu Sura
(1311), Nambi (1316), dan Kuti (1319).

Pada tahun 1328 Raja Jayanegara wafat. Beliau digantikan oleh Tribhuanatunggadewi.
Sadeng melakukan pemberontakan. Pemberontakan Sadeng dapat ditumpas oleh
pasukan Gajah Mada. Atas jasanya, Gajah Mada diangkat menjadi Maha Patih
Majapahit pada tahun 1334. Pada upacara pengangkatannya, beliau bersumpah untuk
menaklukkan seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Sumpah itu dikenal
dengan Sumpah Palapa.

Gajah Mada tetap menjadi Patih mangkubumi ketika Hayam Wuruk naik tahta. Beliau
mendampingi Hayam Wuruk menjalankan pemerintahan. Pada masa inilah Majapahit
mengalami masa Kejayaan. Wilayah Majapahit meliputi hampir seluruh Jawa, sebagian
besar Pulau Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, dan Indonesia bagian timur
hingga Papua.
Peninggalan Sejarah Kerajaan Hindu di Indonesia

Pada mulanya, nenek moyang kita belum mengenal agama. Mereka menganut
kepercayaan animisme dan dinamisme. Keduanya tidak diketahui mana yang lebih dulu
ada.

1. Animisme adalah kepercayaan pada roh-roh halus, sedangkan


2. Dinamisme adalah kepercayaan pada benda-benda yang dianggap mempunyai
kekuatan gaib.

Sampai akhirnya lahir agama Hindu dan Buddha. Agama Hindu-Buddha masuk ke
Indonesia dibawa oleh para pedagang dari India dan Cina.

Agama Hindu mengenal adanya Tri Murti, yaitu :

1. Dewa Brahma sebagai pencipta alam,


2. Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam, dan
3. Dewa Syiwa sebagai perusak alam.

Kitab agama Hindu adalah Weda. Di dalam tata kehidupan, masyarakat Hindu
menganut tingkatan yang disebut kasta. Ada empat kasta, yaitu :
1. kasta brahmana (kaum ahli agama),
2. kasta ksatria (golongan raja dan bangsawan),
3. kasta waisya (pedagang), dan
4. kasta sudra (rakyat biasa dan budak).

Kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia dan peninggalan sejarahnya, antara lain sebagai


berikut :
1. Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai adalah kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan ini berdiri pada
tahun 400 Masehi. Raja pertamanya adalah Kudungga, kemudian
digantikan Aswawarman. Raja terkenal dari Kutai adalah Mulawarman. Peninggalan
Kerajaan Kutai adalah Prasasti Kutai yang terpahat pada tiang batu yang disebut
yupa yang ditemukan di aliran Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Prasati tersebut
ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Prasasti tersebut menceritakan
tentang Raja Mulawarman yang baik budi. Pada masa pemerintahannya rakyat hidup
sejahtera dan makmur.Prasasti ini dibuat untuk memperingati Raja Mulawarman
yangtelah menghadiahkan 20.000 ekor sapi pada Brahmana. Selain itu,
peninggalan sejarah dari Kutai yang lain adalah arca-arca yang terbuat dari perunggu
dan emas.

2. Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan Hindu tertua di Jawa. Letaknya di Bogor, Jawa
Barat. Berdiri pada tahun 450 Masehi. Rajanya yang terkenal bernama Purnawarman.
Peninggalan sejarah berupa tujuh prasasti yang ditulis dalam bahasa
Sanskerta menggunakan huruf Pallawa, di antaranya Prasasti Ciaruteun (terdapat jejak
telapak kaki Purnawarman), Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu, Prasasti Muara
Cianten, Prasasti Tugu, Prasasti Pasir Awi, dan Prasasti Lebak. Peninggalan sejarah
yang lain adalah irigasi dari Sungai Gomati, arca Wisnu Cibuaya I dan II, dan arca
Rajarsi. Mata pencaharian sebagian besar penduduk adalah sebagai petani,
peternak, nelayan, dan pedagang. Raja Purnawarman berhasil membuat saluran air
untuk mengairi lahan pertanian dan mencegah banjir.

3. Kerajaan Mataram

Prasasti Canggal
Kerajaan Mataram terletak di daerah Yogyakarta. Raja yang pertama adalah
Raja Sanna, kemudian digantikan oleh Raja Sanjaya. Kerajaan ini dikenal
dari sebuah prasasti di desa Canggal, barat Magelang. Prasasti ini tertulis tahun 732
Masehi. Ditulis dengan huruf Pallawadan dalam bahasa Sanskerta. Prasasti ini
menceritakan tentang didirikannya sebuah lingga Syiwa di atas sebuah bukit di
Kuncarakunja oleh Raja Sanjaya. Wilayah kekuasaannya mencapai pulau Jawa dan
Bali.
4. Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri terletak di tepi sungai Brantas, Jawa Timur, beribu kota di Daha. Raja
yang pernah memerintah Kerajaan Kediri
adalah Bameswara, Jayabaya, Sarweswara, Aryyeswara, Gandra, Kameswara,
dan Kertajaya. Raja Bameswaramemerintah tahun 1115 – 1130. Ia dikenal
sebagai Raden Panji Asmarabangun dan permaisurinya Sri Kiranavatu atau Dewi
Candra Kirana. Ia menetapkan lambang kerajaan berupa Candrakapala(tengkorak
bertaring).
Kisah perjalanan hidup tersebut ditulis oleh Mpu Darmaja dalam
kitab Smaradahana. Kediri mencapai puncak kejayaan pada masa Jayabaya yang
terkenal dengan ramalannya. Karya sastra dan pujangga yang terkenal adalah Mpu
Sedah dan Mpu Panuluh dengan Kitab Bharatayuda, Kitab Hariwangsa, dan
Kitab Gatutkacasraya.

Peninggalan sejarah Kerajaan Kediri, antara lain Prasasti Pandeglang,


Prasasti Penumbangan, Prasasti Hantang, Prasasti Talan, Prasasti Jepun,
Prasasti Kahyunan, Prasasti Weleri, Prasasti Angin, dan Prasasti Semanding. Selain itu
juga ada Kitab Smaradahana, Bharatayudha, Hariwangsa, Gatotkacasraya, dan
Sumanasantaka.
Raja Kediri yang terakhir adalah Kertajaya yang memerintah sampai tahun 1222
Masehi. Kertajaya dikalahkan oleh Raja Ken Arok, yang menandai
berakhirnya kekuasaan Kediri.

5. Kerajaan Singasari
Kerajaan Singasari terletak di Tumapel, Malang, Jawa Timur. Didirikan oleh Ken
Arok tahun 1222 setelah mengalahkan Raja Kertajaya Kediri. Ken Arok dinobatkan
Brahmana sebagai penjelmaan Dewa Wisnu yang menunjukkan Singasari adalah
kerajaan Hindu. Kisah Ken Arok tertulis di dalam Kitab Pararaton.
Ken Arok memerintah sampai tahun 1227. Raja-raja yang pernah berkuasa antara
lain Sri Rajasa Sang Amurwahbumi (Ken Arok), Anusapati (1227 – 1248
M), Tohjaya (1248 M), Ranggawuni(1248 – 1268 M) dan Kertanegara (1268 – 1292
M).
Singasari mencapai puncak kejayaan pada masa Kertanegara. Ia pernah mengirimkan
tentara ke Melayu dalam usaha memperluas wilayah. Wilayah kekuasaannya
mencapai Pahang, Melayu, Kalimantan Barat, Maluku, dan Bali. Pengiriman tentara
ini dikenal dengan istilah Ekspedisi Pamalayu. Pada masa pemerintahannya,
Raja Kubilai Khan dari Cina pernah menyerang Kerajaan Singasari. Kertanegara tewas
dalam serangan Jayakatwang dari Kediri.

Candi Singasari
Peninggalan sejarah Kerajaan Singasari antara lain Candi
Singasari (makam Kertanegara), Candi Kidal (makam Anusapati), Candi Jago, Candi
Kangenan (makam Ken Arok), dan Candi Katang Lumbang (makam Tohjaya).

6. Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit terletak di selatan Sungai Brantas yang berpusat di Trowulan,


Mojokerto. Didirikan oleh Raden Wijaya tahun 1294, yang bergelar Kertarajasa
Jayawardhana. Raden Wijaya adalah keturunan dari Kertanegara yang dibunuh oleh
Jayakatwang. Atas bantuan Wirarajadari Madura, ia dipercaya Jayakatwang dan
dihadiahi tanah di Hutan Tarik, kemudian diberi nama Majapahit. Kertarajasa
memerintah dengan bijaksana sampai wafatnya tahun 1309 M, kemudian digantikan
oleh Jayanegara.
Semasa pemerintahan Jayanegara, keadaan menjadi kacau dan sering terjadi
pemberontakan, seperti pemberontakan Ranggalawe (1309),
pemberontakan Sora (1311), pemberontakan Nambi(1316), dan
pemberontakan Kuti (1319). Pada tahun 1328, Jayanegara wafat dan digantikan oleh
adiknya yaitu Bhre Kahuripan atau dikenal dengan gelar Tribhuwana Tunggadewi
Jayawisnuwardhani. Pada tahun 1350, beliau turun tahta dan digantikan oleh putranya
yaitu Hayam Wuruk.

Puncak kejayaan Kerajaan Majapahit adalah semasa Raja Hayam Wuruk dan
patihnya Gajah Mada. Hayam Wuruk artinya ayam muda, karena naik tahta pada
waktu usianya masih muda (umur 16 tahun) dan bergelar Rajasanegara.
Cita-cita Gajah Mada ingin mempersatukan wilayah Nusantara diucapkan
dalam Sumpah Amukti Palapa. Gajahmada seorang ahli hukum, dia menyusun Kitab
Kutara Manawa, yang berisi tentang tata pemerintahan dan perang. Gajah Mada wafat
tahun 1364 M dan Hayam Wuruk wafat pada tahun 1389 M. Kerajaan Majapahit
mendapat sebutan sebagai Kerajaan maritim dan agraris.
Selain itu, disebut sebagai Kerajaan Nusantara. Wilayah Kerajaan Majapahit
meliputi Nusantaraditambah Tumasik (Singapura) dan Semenanjung Melayu.
Kehancuran Kerajaan Majapahit disebabkan oleh adanya perang Paregreg (perang
saudara).

Candi Penataran di Blitar


Peninggalan sejarah Majapahit berupa karya sastra dan candi. Karya sastra yang
dihasilkannya, di antaranya Kitab Negarakertagama (Mpu
Prapanca), Kitab Arjunawiwaha (Mpu Kanwa), Kitab Sutasoma (Mpu Tantular).
Adapun Candi yang ditinggalkan antara lain Candi Panataran (Blitar), Candi
Sumberjati, Candi Sawentar, Candi Tikus di Trowulan, Candi Jabung, Candi
Tigawangi, dan Candi Surawana (Kediri).
Kerajaan Buddha
Pejuang atau tokoh kerajaan Buddha

Balaputradewa

Balaputradewa adalah raja Sriwijaya yang memerintah sekitar abad ke-9 atau ke-10
Masehi. Beliau berasal dari keluarga Syailendra, yang berkuasa di Pulau Jawa mulai
sekitar tahun 750. Ayah Balaputradewa bernama Samaragrawira dan ibunya bernama
Tara. Balaputradewa kemudian bergelar Sri Wirawairimathana.

Pada zaman pemerintahan Balaputradewa, Sriwijaya menjalin hubungan dagang dengan


kerajaan-kerajaan di Jawa, Semenanjung Malaya, dan Cina. Karena itu, nama
Balaputradewa juga dikenal di negeri lain. Di daerah Nalanda, India, nama
Balaputradewa terpahat pada prasasti di antara puing suatu wihara kuno. Di situ
tercantum Suwarnadwipa, sebutan lain bagi Pulau Sumatra atau Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Buddha di Indonesia dan Peninggalan Sejarahnya

borobudur

Agama Buddha masuk dari India ke Indonesia hampir bersamaan dengan masuknya
agama Hindu. Agama Hindu berkembang setelah agama Buddha. namun persebaran
agama Hindu lebih cepat daripada persebaran agama Buddha. Hal ini terbukti dari lebih
banyaknya kerajaan Hindu daripada kerajaan Buddha di Indonesia. Sementara pusat-
pusat kerajaan Buddha hanya terdapat di Sumatera dan beberapa daerah di Jawa.
Berikut kerajaan Buddha di Indonesia.
1. Kerajaan Kalinga
Kerajaan Kalinggan berdiri sekitar aban 6 Masehi di jawa Tengah. Kerajaan ini
dipimpin oleh seorang ratu bernama Ratu Shima. Peninggalan-peninggalan Kerajaan
Kalingga, antara lain Prasastin Tuk Mas yang ditemukan di desa Dakawu di Lereng
Gunung Merbabu, Jawa Tengah.
PENINGGALAN KERAJAAN KALINGGA

Prasasti Tukmas
 Ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa
Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang di Jawa Tengah.
 Bertuliskan huruf Pallawa yang berbahasa Sanskerta.
 Isi prasasti menceritakan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang
mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India.
 Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka,
cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan
dewa-dewa Hindu.

Prasasti Sojomerto
 Ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa
Tengah.
 Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno
 Berasal dari sekitar abad ke-7 masehi.
 Bersifat keagamaan Siwais.
 Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu
ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama
Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta
Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di
Kerajaan Mataram Hindu.
 Bahan prasasti ini adalah batu andesit dengan panjang 43 cm, tebal 7 cm, dan
tinggi 78 cm. Tulisannya terdiri dari 11 baris yang sebagian barisnya rusak terkikis usia.
Candi Angin
 Candi Angin terdapat di desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara.
Karena letaknya yang tinggi tapi tidak roboh terkena angin, maka dinamakan “Candi
Angin”.
 Menurut para penelitian Candi Angin lebih tua dari pada Candi Borobudur.
Bahkan ada yang beranggapan kalau candi ini buatan manusia purba di karenakan tidak
terdapat ornamen-ornamen Hindu-Budha.

Candi Bubrah, Jepara

 Candi Bubrah ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten


Jepara, Jawa Tengah.
 Candi Bubrah adalah salah satu candi Buddha yang berada di dalam kompleks
Taman Wisata Candi Prambanan, yaitu di antara Percandian Rara Jonggrang dan Candi
Sewu. Secara administratif, candi ini terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan,
Kecamatan Prambanan, KabupatenKlaten, Provinsi Jawa Tengah.
 Dinamakan ‘Bubrah’ karena keadaan candi ini rusak (bubrah dalam bahasa
Jawa) sejak ditemukan. Menurut perkiraan, candi ini dibangun pada abad ke-9 pada
zaman Kerajaan Mataram Kuno, satu periode dengan Candi Sewu.
 Candi ini mempunyai ukuran 12 m x 12 m terbuat dari jenis batu andesit, dengan
sisa reruntuhan setinggi 2 meter saja. Saat ditemukan masih terdapat beberapa arca
Buddha, walaupun tidak utuh lagi.

2. Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke-7 dengan raja pertaman Sri Jayanegara
dan berpusat di Palembang, Sumatera Selatan ( Muara Sungai Musi). Sriwijaya
mengalami zaman kekemasan pada saat diperintah oleh Raja Balaputradewa, putra dari
Samaratungga dari Jawa pada abad ke-9. Wilayah Sriwijaya meliputi hampir seluruh
Sumatera, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Semenanjung Melayu. Oleh karena itu,
Sriwijaya disebut juga Kerajaan Nusantara pertama.
Peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya sebagai berikut:
a. Candi

candi muara katus

 Candi Muara Takus


 Biara Bakal
b. Prasasti
 Prasati Kedukan Bukit ( 605 M) : Prasasti Kedukan Bukit ditemukan oleh M.
Batenburg pada tanggal 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35
Lir, Palembang, Sumatra Selatan di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi.
Prasasti ini berbentuk batu kecil berukuran 45 × 80cm, ditulis dalam aksara Pallawa,
menggunakan Bahasa Melayu Kuna. Prasasti ini sekarang disimpan di Musiun Nasional
 Indonesia dengan nomor D.146.
 Prasasti Kedudukan Bukit
 Prasati talang Tuo ( 648 M)
 Prasati Telaga Batu
 Prasasti Kota Kapur ( 686 M)
 Prasasti Karang Berahi ( 686)
3. Kerajaan Mataram Budha
Kerajaan Mataram Budha pada walanya merupakan kerajaan Hindu. Namus
sejak Dinasti Syailendra memerintah, Mataram berubah menjadi kerajaan Budha.
Peninggalan kerajaan Mataram Budha antara lain sebagai berikut:
a. Candi
 Candi Borobudur di Jawa tengah, didirikan tahun 770 M oleh Raja
Samaratungga
 Candi Kalasan di Jawa Tengah , merupakan candi Budha tertua di Pulau Jawa
yang didirikan tahun 778 M
 Candi Mendut di Jawa Tengah
 Candi Sewu di Jawa Tengah
 Candi Plaosan di Jawa Tengah

 Candi Plaosan
b. Prasasti
 Prasasti Sojomerto, isinya menyebutkan seseorang bernama Syailendra, yang
beragama Budha.
 Prasasti Sangkhara, isinya menerangkan Raja Hakai Panangkaran yang
berpindah agama dari Hindu ke Buddha.
 Prasasti Kalasan ( 778 M), isinya seoarang raja dari Dinasti Sanjaya berhasil
membujuk Raja Rakai Panaangkaran dari Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu untuk
membangun sebuah bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah wihara untuk para biksu
di Kalasan.
 Prasasti Kluraj (782 M), isinya tentang pembuatan arca Manjusri sebagai wujud
dari Buddha, Wisnu, dan Sanggha yang disamakan dengan Trimurti yaitu, Brahmana,
Wisnu dan Siwa.
 Prasasti Ratu Boko ( 856 M), isinya kekalahan Balaputradewa dalam perang
dengan kakak iparnya, Rakai Pikatan.
Kerajaan Islam

Pejuang atau tokoh kerajaan islam

Sultan Iskandar Muda (1606-1637)

Sultan Iskandar Muda adalah sultan Aceh yang ke-12. Beliau memerintah tahun 1606-
1637. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Aceh mengalami puncak
kemakmuran dan kejayaan. Aceh memperluas wilayahnya ke selatan dan memperoleh
kemajuan ekonomi melalui perdagangan di pesisir Sumatera Barat sampai Indrapura.
Aceh meneruskan perlawanan terhadap Portugis dan Johor untuk merebut Selat Malaka.

Sultan Iskandar Muda menaruh perhatian dalam bidang agama. Beliau mendirikan
sebuah masjid yang megah, yaitu Masjid Baiturrahman. Beliau juga mendirikan pusat
pendidikan Islam atau dayah. Pada masa inilah, di Aceh hidup seorang ulama yang
sangat terkenal, yaitu Hamzah Fansuri.

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, disusun sistem perundang-undangan


yang disebut Adat Mahkota Alam. Sultan Iskandar Muda juga menerapkan hukum
Islam dengan tegas. Bahkan beliau menghukum rajam puteranya sendiri. Ketika dicegah
melakukan hal tersebut, beliau mengatakan, “Mati anak ada makamnya, mati hukum ke
mana lagi akan dicari keadilan.” Setelah beliau wafat, Aceh mengalami kemunduran.

Peninggalan Kerajaan Islam di Indonesia

Masuknya agama dan kebudayaan Islam ke Nusantara secara langsung maupun tidak
langsung jelas berpengaruh besar terhadap kebudayaan dan cara hidup masyarakat
Tanah Air.

Adanya proses Islamisasi ini kontan membawa dampak dan perubahan di segala bidang
kehidupan, mulai dari bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan, bahkan budaya.

Seperti kita tahu, jauh sebelum Islam datang, masyarakat Indonesia masih sangat
dipengaruhi oleh ajaran Hindu-Budha, namun seiring masuknya Islam ke Nusantara,
proses percampuran budaya pun menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Pun dalam
kegiatan sehari-hari, pola hidup mereka mulai beralih dan sedikit demi sedikit
terpengaruh oleh budaya Islam.
Besarnya pengaruh budaya Islam ini bahkan sampai merambah ke setiap lapisan
masyarakat, tak terkecuali kerajaan-kerajaan Islam yang memerintah pada masa itu.

Alhasil, banyak peninggalan kerajaan bercorak islami yang hingga sekarang masih bisa
kita jumpai, di antaranya meliputi:

1. Keraton atau Istana

Keraton atau istana merupakan bangunan luas yang dipakai sebagai tempat tinggal raja
atau ratu yang sedang memerintah.

Selain itu, keraton juga biasanya difungsikan untuk menjalankan urusan-urusan


kerajaan. Keraton umumnya dikelilingi oleh tembok besar yang tinggi sebagai simbol
“pemisah” antara raja dengan rakyat biasa.

Nah, di Indonesia sendiri ada cukup banyak peninggalan kerajaan Islam berupa keraton
yang masih sangat terjaga sampai hari ini, seperti:

 Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Daerah Istimewa Yogyakarta)

Wikipedia.com
 Pura Pakualaman (Daerah Istimewa Yogyakarta)
 Keraton Surakarta Hadiningrat (Jawa Tengah)
 Pura Mangkunegaran (Jawa Tengah)
 Keraton Banten (Banten)
 Keraton Kasepuhan (Jawa Barat)
 Keraton Kanoman (Jawa Barat)
 Keraton Kacirebonan (Jawa Barat)
 Keraton Maimun (Sumatra Barat)
 Istana Bima (Nusa Tenggara Barat)
2. Masjid

Peninggalan kerajaan Islam yang kedua yang bisa dengan mudah kita temui adalah
masjid. Ya, sebagai tempat ibadah sudah tentu bangunan ini menjadi poin yang tidak
mungkin dilewatkan oleh para anggota kerajaan pada masanya.

Umumnya, masjid dibangun di alun-alun dekat dengan keraton. Di Indonesia, ada


banyak peninggalan kerajaan Islam yang berwujud masjid, antara lain:

 Masjid Agung Demak (Demak)

 Masjid Agung Surakarta (Surakarta)


 Masjid Kudus (Kudus)
 Masjid Agung Kasepuhan (Cirebon)
 Masjid Sunan Ampel (Surabaya)
 Masjid Agung Banten (Banten)
 Masjid Sendang Duwur (Tuban)
 Masjid Baiturrahman (Aceh)
 Masjid Agung Yogyakarta (Yogyakarta)
 Masjid Mantingan (Jepara)
3. Makam dan Batu Nisan

Ya, Anda tidak sedang salah membaca. Selain keraton dan masjid, makam lengkap
beserta batu nisannya yang bercorak Islam juga banyak ditemukan di Indonesia sebagai
bukti peninggalan sejarah kerajaan Islam.

Beberapa makam kuno bernapaskan Islam di antaranya:

 Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon (Jawa Barat)


 Makam Sunan Tembayat di Klaten (Jawa Tengah);
 Makam Troloyo di Mojokerto (Jawa Timur)
 Makam raja-raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta
 Kompleks makam Sultan Hasanuddin di Gowa (Sulawesi Selatan)
 Makam Sunan Bonang di Tuban (Jawa Timur)
 Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon (Jawa Barat)
Sedangkan batu nisan peninggalan kerajaan Islam biasanya ditandai dengan corak
tulisan Arab dengan desain kaligrafi pada permukaannya.

Beberapa nisan peninggalan kerajaan Islam di Indonesia yang bisa kita jumpai antara
lain:
 Batu nisam makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, Jawa Timur. Batu
nisan ini berangka tahun 1082 M atau 475 H.
 Batu nisan makam Sultan Malik al Saleh dari Samudra Pasai. Batu nisan ini
berangka tahun 1297 M atau 696 H.
 Batu nisan makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur. Batu nisan ini
berangka tahun 1419 M atau 822 H.
 Batu nisan makam berangka tahun 1380 M (781 H) dan 1389 M (789 H) di
Munje Tujoh, Aceh Utara.
4. Pesantren

Budaya Islam memang snagat kuat pengaruhnya di segala bidang, termasuk di bidang
pendidikan. Nah, salah satu bukti bahwa agama Islam memiliki pengaruh yang cukup
bisa diperhitungkan adalah berdirinya sekolah berbasis agama atau yang biasa disebut
dengan pesantren.

Lembaga pendidikan yang satu ini memang sudah ada sejak Islam mulai berkembang di
Indonesia.

Di Indonesia sendiri ada cukup banyak pesantren yang menjadi rujukan para pelajar
yang ingin menimba ilmu umum dan ilmu agama, seperti Pesantren Ampel Denta di
Surabaya dan Pesantren Prabu Giri Satmaka di Gresik. Pesantren Ampel Denta sendiri
didirikan oleh Sunan Ampel, salah seorang anggota Walisongo.
5. Seni dan Sastra

Tidak hanya pada bidang pendidikan, masuknya Islam ke Indonesia juga berpengaruh
besar terhadap perkembangan seni dan sastra di Tanah Air.

Ada cukup banyak peninggalan Islam di bidang sastra yang terkenal sampai sekarang,
seperti Hikayat Panji Inu Kertapati, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Bayan Budiman,
Hikayat Si Miskin, Hikayat Bahtiar, Hikayat Hang Tuah, Syair Abdul Muluk, serta
Gurindam Dua Belas.

6. Perayaan Keagamaan

Cukup banyak perayaan keagamaan peninggalan kerajaan Islam yang turun temurun
dilestarikan sampai hari in, di antaranya adalah Garebek Besar, Garebek Syawal, dan
Garebek Maulud atau Sekaten yang diadakan di Keraton Surakarta, Yogyakarta, dan
Cirebon.
Ada juga perayaan Tabuik yang dilaksanakan di Sumatera Barat. Festival Tabuik sendiri
merupakan perayaan untuk mengenang meninggalnya Hussein, putra Khalifah Ali bin
Abi Thalib yang tidak lain adalah cucu Nabi Muhammad SAW.