Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit kronis merupakan ancaman serius bagi kesehatan di negara-negara
berkembang. Pada negara-negara berkembang lainnya, kematian dan kecacatan dari
penyakit kronis sekarang persentasenya melebihi dari penyakit-penyakit menular yang
terdiri dari 49%, dibandingkan dengan sekitar 40% untuk penyakit menular dan 11%
untuk cedera. Dominasi penyakit kronis di Negara berkembang ini tidak juga diakui
kalangan ahli kesehatan (Nugent, 2008).
Salah satu penyakit kronik yaitu gastritis, gastritis atau yang secara umum dikenal
dengan penyakit maag merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sering kita
dengar dalam kehidupan sehari-hari. Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau
perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut dan kronis. Gejala gastritis antara
lain adalah rasa terbakar diperut bagian atas, kembung, sering bersendawa, mual-mual
dan muntah.
Badan penelitian kesehatan dunia WHO pada tahun 2012, mengadakan tinjauan
terhadap beberapa Negara di dunia dan mendapatkan hasil persentase dari angka
kejadian gastritis di dunia, diantaranya Inggris 22%, China 31%, Jepang 14,5%, Kanada
35%, dan Perancis 29,5%. Di dunia, insiden gastritis sekitar 1,8-2,1 juta dari jumlah
penduduk setiap tahun. Insiden terjadinya gastritis di Asia Tenggara sekitar 583.635 dari
jumlah penduduk setiap tahunnya. Prevalensi gastritis yang dikonfirmasi melalui
endoskopi pada populasi di Shanghai sekitar 17,2% yang secara substantial lebih tinggi
daripada populasi di barat yang berkisar 4,1% dan bersifat Penyakit gastritis yang
merupakan penyakit pencernaan sehingga pengaturan zat makan yang masuk merupakan
faktor utama untuk menghindari gastritis.
Persentase dari angka kejadian gastritis di Indonesia menurut WHO didapatkan
mencapai angka 40,8%. Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2010, gastritis
merupakan peringkat ke lima dari 10 besar penyakit terbanyak pasien rawat inap yaitu
24,716 kasus dan peringkat ke enam dari 10 besar penyakit terbanyak rawat jalan di
Rumah Sakit di Indonesia yaitu 88,599 kasus(6,7). Angka kejadian gastritis pada
beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 274,396 kasus dari

1
238,452,952 jiwa penduduk.Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan yang
dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI dan angka kejadian gastritis tertinggi mencapai
91,6% yaitu di kota Medan, lalu di beberapa kota lainnya seperti Surabaya 31,2%,
Denpasar 46%,Jakarta 50%, Bandung 32,5%,Palembang 35,35%,Aceh 31,7%, dan
Pontianak 31,2%(8). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat
tahun 2013 dan data tahun 2014 menurut urutan 10 besar penyakit terbanyak diSumatera
Barat gastritis menempati urutan ke 2 (dua) dengan jumlah penderita sebesar 202.138
kasus.
Penyebab dari gastritis menurut Herlan tahun 2001 yaitu asupan alcohol berlebihan
(20%), merokok (5%), makanan berbumbu (15%), obat-obatan (18%) dan terapi radiasi
(2%), sedangkan menurut Hasna dan Hurih tahun 2009 gastritis bisa juga disebabkan
karena, infeksi bakteri, stress, penyakit autoimun, radiasi dan Chron’s Disease. Kasus
dengan gastritis merupakan salah satu jenis kasus yang umumnya diderita oleh kalangan
remaja, khususnya penyakit ini meningkat pada kalangan mahasiswa. disebabkan oleh
berbagai faktor misalnya tidak teraturnya pola makan, gaya hidup yang salah dan
meningkatnya aktivitas (tugas perkuliahan) sehingga mahasiswa tersebut tidak sempat
untuk mengatur pola makannya dan malas untuk makan (Fahrur, 2009).

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa pengertian penyakit kronik ?
b. Apa saja jenis-jenis penyakit kronik ?
c. Bagaimana konsep medis penyakit gastritis ?
d. Bagaimana konsep keperawatan penyakit gastritis ?
e. Bagaimana asuhan keperawatan penyakit gastritis ?

1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian penyakit kronik
b. Untuk mengetahui jenis-jenis penyakit kronik
c. Untuk mengetahui konsep medis penyakit gastritis
d. Untuk mengetahui konsep keperawatan penyakit gastritis
e. Untuk mengetahui asuhan keperawatan penyakit gastritis

2
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Penyakit Kronik


Penyakit kronik merupakan jenis penyakit degeneratif yang berkembang atau
bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama, yakni lebih dari enam bulan. Orang yang
menderita penyakit kronis cenderung memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dan
cenderung mengembangkan perasaan hopelessness dan helplessness karena berbagai
macam pengobatan tidak dapat membantunya sembuh dari penyakit kronis (Sarafino,
2006). Rasa sakit yang diderita akan mengganggu aktivitasnya sehari-hari, tujuan dalam
hidup, dan kualitas tidurnya (Affleck et al. dalam Sarafino, 2006).

2.2 Jenis-jenis Penyakit Kronik


1. Hipertensi
Hipertensi adalah kondisi di mana tekanan darah Anda selalu berada di atas
140/90 milimeter merkuri (mmHG). Tekanan darah itu sendiri adalah kekuatan aliran
darah dari jantung yang mendorong dinding pembuluh darah. Kekuatan tekanan darah
ini idealnya selalu berubah, dipengaruhi oleh aktivitas yang dilakukan jantung
(misalnya sedang berolahraga atau dalam keadaan normal/istirahat) dan daya tahan
pembuluh darahnya. Normalnya, tekanan darah manusia biasanya berada di angka
120/80 mmHg.
Hipertensi yang penyebabnya tidak jelas disebut hipertensi primer. Namun,
tekanan darah tinggi juga bisa disebabkan oleh gaya hidup dan pola makan yang
buruk. Penyakit ini sering disebut dengan silent killer disease atau pembunuh diam-
diam, karena gejala penyakit ini cenderung samar. Jika tekanan darah dibiarkan tinggi
terus-menerus, kondisi ini dapat memicu berbagai komplikasi yang mengancam
nyawa layaknya penyakit jantung yang tidak diobati dengan baik. Beberapa
komplikasi serius akibat penyakit hipertensi adalah penyakit jantung koroner, gagal
jantung, stroke, gagal ginjal, kebutaan, diabetes, dan banyak penyakit berbahaya
lainnya.

3
2. Tuberkulosis
Tuberkulosis (TB atau TBC) yang juga sering disebut “flek paru” adalah
gangguan pernapasan kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium
tuberculosis. Penyakit TBC merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting
di dunia. Menurut WHO, setiap detik ada satu orang yang terinfeksi tuberkulosis di
dunia. Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis. Sekitar 33%
dari total kasus penyakit TBC di dunia ditemukan di negara-negara Asia.
Saat ini Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan penderita
tuberkulosis terbanyak setelah India. Data terbaru dari Profil Kesehatan Indonesia
keluaran Kemenkes melaporkan bahwa ada 351.893 kasus TBC di Indonesia per
tahun 2016, meningkat dari tahun 2015 sebesar 330.729 kasus. TB menjadi infeksi
penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Sayangnya, masih banyak yang tidak
menyadari atau bahkan tidak tahu tentang bahaya TB dan bagaimana pengobatannya.
Berikut informasi lengkap seputar penyakit TBC yang wajib Anda ketahui.

3. Hepatitis
Hepatitis kronis adalah peradangan hati yang berlangsung setidaknya selama 6
bulan. Banyak penderita hepatitis kronis tidak mengalami gejala, tetapi sebagian
mengalami gejala yang samar, seperti perasaan tidak enak badan, nafsu makan yang
buruk, dan kelelahan. Hepatitis kronis dapat menyebabkan sirosis dengan pembesaran
limpa, penumpukan cairan dalam perut, dan penurunan fungsi otak. Hepatitis kronis
dapat mengenai pasien pada usia berapapun. Ini dapat diatasi dengan mengurangi
faktor risiko Anda.
Hepatitis kronis biasanya disebabkan oleh salah satu virus hepatitis. Obat-obatan
tertentu dapat menyebabkan hepatitis kronis, terutama jika obat tersebut digunakan
untuk waktu yang lama, obat ini termasuk isoniazid, methyldopa, dan nitrofurantoin.
Pada banyak orang dengan hepatitis kronis, penyebab yang jelas tidak dapat
diidentifikasi. Pada sebagian orang ini, peradangan kronisnya menyerupai peradangan
yang disebabkan oleh tubuh yang menyerang jaringannya sendiri (suatu reaksi
autoimun). Jenis peradangan ini disebut hepatitis autoimun lebih sering terjadi pada
wanita daripada pria.

4
4. Diabetes Mellitus
Diabetes adalah penyakit yang berlangsung lama atau kronis serta ditandai
dengan kadar gula (glukosa) darah yang tinggi atau di atas nilai normal. Glukosa yang
menumpuk di dalam darah akibat tidak diserap sel tubuh dengan baik dapat
menimbulkan berbagai gangguan organ tubuh. Jika diabetes tidak dikontrol dengan
baik, dapat timbul berbagai komplikasi yang membahayakan nyawa penderita.
Glukosa merupakan sumber energi utama bagi sel tubuh manusia. Kadar gula dalam
darah dikendalikan oleh hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas, yaitu organ
yang terletak di belakang lambung. Pada penderita diabetes, pankreas tidak mampu
memproduksi insulin sesuai kebutuhan tubuh. Tanpa insulin, sel-sel tubuh tidak dapat
menyerap dan mengolah glukosa menjadi energi.
Secara umum, diabetes dibedakan menjadi dua jenis, yaitu diabetes tipe 1 dan tipe
2. Diabetes tipe 1 terjadi karena sistem kekebalan tubuh penderita menyerang dan
menghancurkan sel-sel pankreas yang memproduksi insulin. Hal ini mengakibatkan
peningkatan kadar glukosa darah, sehingga terjadi kerusakan pada organ-organ tubuh.
Diabetes tipe 1 dikenal juga dengan diabetes autoimun. Pemicu timbulnya keadaan
autoimun ini masih belum diketahui dengan pasti. Diabetes tipe 2 merupakan jenis
diabetes yang lebih sering terjadi. Diabetes jenis ini disebabkan oleh sel-sel tubuh
yang menjadi kurang sensitif terhadap insulin, sehingga insulin yang dihasilkan tidak
dapat dipergunakan dengan baik (resistensi sel tubuh terhadap insulin). Sekitar 90-
95% persen penderita diabetes di dunia menderita diabetes tipe ini. Selain kedua jenis
diabetes tersebut, terdapat jenis diabetes khusus pada ibu hamil yang dinamakan
diabetes gestasional. Diabetes pada kehamilan disebabkan oleh perubahan hormone
dan gula darah akan kembali normal setelah ibu hamil menjalani persalinan.

5. Stroke
Penyakit stroke adalah penyakit yang terjadi ketika pasokan darah menuju otak
terganggu atau sama sekali berkurang, sehingga jaringan otak kekurangan oksigen dan
nutrisi. Dalam beberapa menit, sel-sel otak mulai mati. Penyakit ini merupakan
kondisi yang dapat mengancam hidup seseorang dan dapat menimbulkan kerusakan
permanen. Ada 3 jenis stroke yaitu :
a. Stroke iskemik
Penyakit stroke iskemik adalah kondisi yang terjadi ketika pembuluh darah
yang menyuplai darah ke area otak terhalang oleh bekuan darah. Jenis penyakit ini
5
bertanggung jawab atas 87 persen dari total kasus penyakit ini. Bekuan darah
sering diakibatkan oleh aterosklerosis, yang merupakan penumpukan.
b. Stroke hemoragik
Penyakit stroke hemoragik terjadi saat pembuluh darah di otak mengalami
kebocoran atau pecah. Stroke hemoragik menyumbang sekitar 13 persen dari total
kasus penyakit ini. Kondisi ini berawal dari pembuluh darah yang melemah,
kemudian pecah dan menumpahkan darah ke sekitarnya. Darah yang bocor jadi
menumpuk dan menghambat jaringan otak di sekitarnya. Kematian atau koma
panjang akan terjadi jika pendarahan berlanjut.
c. Stroke ringan
Transient ischemic attack (TIA) atau sering disebut stroke ringan adalah
kekurangan darah pada sistem saraf yang berlangsung singkat, biasanya kurang
dari 24 jam atau bahkan hanya dalam beberapa menit. Penyakit stroke dapat terjadi
pada golongan usia berapapun. Obat stroke umumnya dapat dilakukan dengan
beberapa metode pengobatan. Namun, penderita dapat bertahan jika sesegera
mungkin dibawa ke ruang gawat darurat di rumah sakit.
Jika gejala stroke yang terjadi dialami disebabkan oleh gumpalan darah, obat
stroke yang dapat digunakan adalah obat untuk mencairkan darah. Agar efektif,
perawatan obat stroke ini harus segera dilakukan dalam jangka waktu 3 sampai 4 ½
jam setelah adanya gejala pertama yang muncul. Selain itu, dokter juga bisa
memberikan obat stroke lainnya yang dapat mencairkan darah seperti Heparin,
Warfarin (Coumadin), Aspirin atau Klopidogrel (Plavix).

6. Gastritis
Gastritis (penyakit maag) adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya asam
lambung yang berlebih atau meningkatnya asam lambung sehingga mengakibatkan
imflamasi atau peradangan dari mukosa lambung seperti teriris atau nyeri pada ulu
hati. Gastritis merupakan kumpulan gejala yang dirasakan sebagai nyeri ulu hati,
orang yang terserang penyakit ini biasanya sering mual, muntah, rasa penuh, dan rasa
tidak nyaman (Misnadiarly. 2009).
Penyebab pasti dari gastritis kronik belum diketahui, tapi ada dua predisposisi
penting yang bisa meningkatkan kejadian gastritis kronik, yaitu infeksi dan non-
infeksi (Wehbi, 2008).

6
2.3 Konsep Medis
2.3.1 Pengertian Gastritis
Gastritis (penyakit maag) adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya asam
lambung yang berlebih atau meningkatnya asam lambung sehingga mengakibatkan
imflamasi atau peradangan dari mukosa lambung seperti teriris atau nyeri pada ulu
hati. Gastritis merupakan kumpulan gejala yang dirasakan sebagai nyeri ulu hati,
orang yang terserang penyakit ini biasanya sering mual, muntah, rasa penuh, dan
rasa tidak nyaman (Misnadiarly. 2009).
Gastritis kronik adalah Suatu peradangan bagian permukaan mukosa lambung
yang menahun yang disebabkan oleh ulkus lambung jinak maupun ganas atau
bakteri Helicobacter pylori. Bakteri ini berkoloni pada tempat dengan asam
lambung yang pekat. Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Kapita
Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga Hal 492). Gastritis adalah segala radang mukosa
lambung (Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisihal 749).

2.3.2 Etiologi
Penyebab pasti dari gastritis kronik belum diketahui, tapi ada dua predisposisi
penting yang bisa meningkatkan kejadian gastritis kronik, yaitu infeksi dan non-
infeksi (Wehbi, 2008). Sedangkan menurut Mansjoer (2001), penyebab utama dari
gastritis yaitu :
1. Infeksi Helicobakter pylori, bakteri ini mengakibatkan perubahan pada dinding
lambung.
2. Iritasi, mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit (aspirin, ibuprofen, naproxen).
Penggunaan berlebihan terhadap obat ini dapat melemahkan proteksi dinding
lambung.
3. Reaksi autoimun
Penyebab lain yang berpengaruh pada timbulnya gastritis yaitu pengeluaran
asam lambung yang berlebihan, dan pertahanan dinding lambung yang lema
4. Penyakit empedu yang dapat menyebabkan cairan empedu masuk dan
mengiritasi mukosa lambung.

7
2.3.3 Patofisiologi
Obat-obatan, alkohol, garam empedu, zat iritan lainnya dapat merusak mukosa
lambung (gastritis erosif). Mukosa lambung berperan penting dalam melindungi
lambung dari autodigesti oleh HCl dan pepsin. Bila mukosa lambung rusak maka
terjadi difusi HCl ke mukosa dan HCl akan merusak mukosa. Kehadiran HCl di
mukosa lambung menstimulasi perubahan pepsinogen menjadi pepsin. Pepsin
merangsang pelepasan histamine dari sel mast. Histamine akan menyebabkan
peningkatan pemeabilitas kapiler sehingga terjadi perpindahan cairan dari intra sel ke
ekstrasel dan meyebabkan edema dan kerusakan kapiler sehingga timbul perdarahan
pada lambung. Lambung dapat melakukan regenerasi mukosa oleh karena itu
gangguan tersebut menghilang dengan sendirinya.
Bila lambung sering terpapar dengan zat iritan maka inflamasi akan terjadi terus
menerus. Jaringan yang meradang akan diisi oleh jaringan fibrin sehingga lapisan
mukosa lambung dapat hilang dan terjadi atropi sel mukasa lambung. Faktor intrinsik
yang dihasilkan oleh sel mukosa lambung akan menurun atau hilang sehingga
cobalamin (vitamin B12) tidak dapat diserap diusus halus. Sementara vitamin B12 ini
berperan penting dalam pertumbuhan dan maturasi sel darah merah. Selain itu dinding
lambung menipis rentan terhadap perforasi lambung dan perdarahan (Suratum, 2010).
Selain itu gastritis juga disebabkan oleh helicobacter pylori merupakan bakteri
gram negatif. Organisme ini menyerang sel permukaan gaster, memperberat
timbulnya desquamasi sel dan muncullah respon radang kronis pada gaster yaitu:
destruksi kelenjar dan metaplasia. Metaplasia adalah salah satu mekanisme
pertahanan tubuh terhadap iritasi, yaitu dengan mengganti sel mukosa gaster,
misalnya dengan sel desquamosa yang lebih kuat. Karena sel desquamosa lebih
kuat maka elastisitasnya juga berkurang. Pada saat mencerna makanan, lambung
melakukan gerakan peristaltik tetapi karena sel penggantinya tidak elastis maka
akan timbul kekakuan yang pada akhirnya menimbulkan rasa nyeri. Metaplasia ini
juga menyebabkan hilangnya sel mukosa pada lapisan lambung, sehingga akan
menyebabkan kerusakan pembuluh darah lapisan mukosa. Kerusakan pembuluh
darah ini akan menimbulkan perdarahan (Price, Sylvia dan Wilson, Lorraine).

2.3.4 Manifestasi Klinis


Bagi sebagian orang gastritis kronis tidak menyebabkan gejala apapun
(Jackson, 2006). Hanya sebagian kecil mengeluh nyeri ulu hati, anoreksia, nyeri

8
yang menetap pada daerah epigastrium, nausea sampai muntah empedu, dyspepsia,
berat badan menurun, keluhan yang berhubungan dengan anemia dan pada
pemeriksaan fisik tidak dijumpai kelainan. Gastritis kronis yang berkembang
secara bertahap biasanya menimbulkan gejala seperti sakit yang tumpul atau ringan
(dull pain) pada perut bagian atas dan terasa penuh atau kehilangan selera setelah
makan beberapa gigitan.

2.3.5 Pemeriksaan Penunjang


1. EGD (Esofagogastriduodenoskopi)
Tes diagnostik kunci untukperdarahan GI atas, dilakukan untuk melihat sisi
perdarahan / derajat ulkus jaringan / cedera.
2. Minum barium dengan foto rontgen
Dilakukan untuk membedakan diganosa penyebab / sisi lesi.
3. Analisa gaster
Dapat dilakukan untuk menentukan adanya darah, mengkaji aktivitas
sekretori mukosa gaster, contoh peningkatan asam hidroklorik dan pembentukan
asam nokturnal penyebab ulkus duodenal. Penurunan atau jumlah normal
diduga ulkus gaster, dipersekresi berat dan asiditas menunjukkan sindrom
Zollinger-Ellison.
4. Angiografi
Vaskularisasi GI dapat dilihat bila endoskopi tidak dapat disimpulkan atau
tidak dapat dilakukan. Menunjukkan sirkulasi kolatera dan kemungkinan isi
perdarahan.
5. Amilase serum
Meningkat dengan ulkus duodenal, kadar rendah diduga gastritis.

2.3.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan/pengobatan gastritis meliputi :
1. Dapat diatasi dengan memodifikasi diet pasien, diet makan lunak diberikan
sedikit tapi lebih sering.
2. Mengurangi stress
3. H. Pylori diatasi dengan antiobiotik (seperti tetraciklin ¼, amoxillin) dan gram
bismuth (pepto-bismol).

9
2.3.7 Komplikasi
Komplikasinya yaitu perdarahan saluran cerna bagian atas, ulkus, perforasi
dan anemia (Mansjoer, 2001). Selain itu komplikasi yang timbul gastritis kronik,
yaitu gangguan penyerapan, vitamin B 12, akibat kurang pencerapan, B12
menyebabkan anemia pernesiosa, penyerapan besi terganggu dan penyempitan
daerah antrum pylorus.

2.4 Konsep Keperawatan


2.4.1 Pengkajian
1. Core/ inti komunitas
a. Histori
Histori merupakan suatu gambaran terkait sejarah yang berkaitan dengan
kondisi perkembangan suatu wilayah tertentu yang mencakup semua
komponen yang terdapat dalam wilayah tersebut termasuk di dalamnya
adalah perbatasan wilayah.
b. Demographic
Demografi berasal dari kata demos yang berarti rakyat atau penduduk
dan grafein yang berarti menulia. Jadi, demografi adalah tulisan-tulisan atau
karangan-karangan mengenai penduduk.(Mubarak Wahit dan Nurul Chayatin
2009).
c. Ethnicitic
Etnik adalah seperangkat kondisi spesifik yang dimiliki oleh kelompok
tertentu (kelompok etnik). Sekelompok etnik adalah sekumpulan individu
yang mempunyai budaya dan sosial yang unik serta menurunkannya kepada
generasi berikutnya. Etnik berbeda dengan ras. Ras merupakan sistim
pengklasifikasian manusia berdasarkan karakteristik visik, pegmentasi,
bentuk tubuh, bentuk wajah, bulu pada tubuh, dan bentuk kepala. Sedangkan
budaya merupakan keyakinan dan perilaku yang diturunkan atau yang
diajarkan manusia kepada generasi berikutnya. (Efendi ferry dan Makhfudli
,2009).
d. Values and beliefs
Nilai adalah konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia, mengenal
apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Nilai budaya adalah
sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya baik atau
10
buruk. Sedangkan, norma budaya adalah aturan sosial atau patokan perilaku
yang dianggap pantas. Norma budaya merupakan sesuatu kaidah yang
memiliki sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Nilai dan
norma yang diyakini oleh individu tampak di dalam masyarakat sebagai gaya
hidup sehari-hari. (Efendi ferry dan Makhfudli ,2009).

2. Subsistem
a. Lingkungan Fisik
Perumahan : rumah yang dihuni oleh penduduk, penerangan, sirkulasi,
dan kepadatan.
b. Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan yang tersedia untuk melakukan deteksi dini
gangguan atau merawat atau memantau apabila gangguan sudah terjadi.
c. Ekonomi
Tingkat social ekonomi komunitas secara keseluruhan apakah sesuai
dengan upah minimum regional (UMR), dibawah UMR atau diatas UMR
sehingga upaya kesehatan yang diberikan dapat terjangkau, misalnya
anjuaran untuk konsumsi jenis makanan sesuai status ekonomi tersebut.
d. Transportasi dan Keamanan
Keamanan dan keselamatan lingkungan tempat tinggal : apakah tidak
menimbulkan stress.
e. Politik dan pemerintahan
Politik dan kebijakan pemerintah terkait dengan kesehatan : apakah
cukup menunjang sehingga memudahkan komunitas mendapat pelayanan
diberbagai bidang termasuk kesehatan.
f. Komunikasi
Sarana komunikasi apa saja yang dimanfaatkan di komuitas tersebut
untuk meningkatkan pengetahuan terkait dengan gangguan nutrisi misalnya
televisi, radio, koran atau leaf let yang diberikan kepada komunitas.
g. Education/pendidikan
Apakah ada sarana pendidikan yang dapat digunakan untuk meingkatkan
pengetahuan.

11
h. Rekreasi
Apakah tersedia sarananya, kapan saja dibuka dan apakah biayanya
terjangkau oleh komunitas. Rekreasi ini hendaknya dapat digunakan
komunitas untuk megurangi stress. ( R. Fallen & R Budi Dwi K, 2010 ).

2.4.2 Diagnosa Keperawatan


Setelah dilakukan pengkajian yang sesuai dengan data-data yang dicari, maka
kemudian dikelompokkan dan dianalisa seberapa besar stressor yang mengancam
masyarakat dan seberapa berat reaksi yang imbul pada masyarakat tersebut.
Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disusun diagnose keperawatan komunitas
dimana terdiri dari : masalah kesehatan, karakteristik populasi, dan karakteristik
lingkungan. ( R. Fallen & R Budi Dwi K, 2010 ).

2.4.3 Intervensi/Rencana Keperawatan


Tahap kedua dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan apa
yang harus dilakukan untuk membantu sasaran dalam upaya promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif. Langkah pertama dalam tahap perencanaan adalah
menetapkan tujuan dan sasaran kegiatan untuk mengatasi masalah yang telah
ditetapkan sesuai dengan diagnose keperawatan. Dalam menentukan tahap
berikutnya yaitu rencana pelaksanaan kegiatan maka ada 2 faktor yang
mempengaruhi dan dipertimbangkan dalam menyusun rencana tersebut yaitu sifat
masalah dan sumber atau potensi masyarakat seperti dana, sarana, tenaga yang
tersedia.

2.4.4 Implementasi
Pada tahap ini rencana yang telah disusun dilaksanakan dengan melibatkan
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat sepenuhnya dalam mengatasi
masalah kesehatan dan keperawat yang dihadapi. Hal-hal yang yang perlu
dipertimbangkan dalam pelaksaan kegiatan keperawatan kesehatan masyarakat
adalah:
a. Melaksanakan kerja sama lintas program dan linytas sektoral dengan instansi
terkait.
b. Mengikut sertakan partisipasi aktif individu, keluarga, masyarakat dan
kelompok dan kelompok masyarakat dalam menghatasi masalah kesehatannya.
12
c. Memanfaatkan potensi dan sumbar daya yang ada di masyarakat
Level pencagahan dalam pelaksanaan praktek keperawatan komunitas
terdiri atas:
1. Pencegahan primer
Pencegahan yang terjadi sebelum sakit atau ketidak fungsian dan
diaplikasikannya kedalam populasi sehat pada umumnya dan perlindungan
khusus terhadap penyakit.
2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder menekankan diagnosa diri dan intervensi yang tepat
untuk menghambat proses patologis, sehingga memperpendek waktu sakit dan
tingkatb keparahan.
3. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier dimulai pada saat cacat atau terjadi ketidak mampuan
sambil stabil atau menetap, atau tidak dapat diperbaiki sama sekali. Rehabilitasi
sebagai pencegahan primer lebih dari upaya penghambat proses penyakit
sendiri, yaitu mengembalikan individu pada tingkat berfungsi yang optoimal
dari ketidak mampuannya.

2.4.5 Evaluasi
Evaluasi di dilakukan atas respons komunitas terhadap program kesehatan.
Hal-hal yang dievaluasi adalah masukan (input), pelaksanaan (proses),dan akhir
(output). Penilaian yang dilakukan berkaitan dengan tujuan yang akan dicapai
sesuai dengan perencanaan yang telah disusun semula. Adapun dalam evaluasi
difokuskan dalam :
a. Relevansi atau hubungan antara kenyataan yang ada dengan pelaksanaan
b. Perkembangan atau kemajuan proses
c. Efensiensi biaya
d. Efektifitas kerja
e. Dampak yaitu apakah status kesehatan meningkat/menurun, dalam rangka
waktu berapa.

13
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

“DENGAN GASTRITIS”

Di kelurahan Jajartunggal Dusun Gemol kecamatan Wiyung dengan melakukan


pengkajian dengan cara data sekunder yang didapat dari Kader Dusun. Gemol. Pada remaja
yang terkena penyakit Maag (Gastritis). Jumlah penduduknya adalah 400 orang, pada usia
remaja jumlah keseluruhannya adalah 100 remaja, tetapi yang terkena 25 remaja yang terdiri
dari 7 perempuan dan 18 laki-laki.

3.1 Pengkajian
1. Core/ inti komunitas
a. Geografis
1) Wilayah : Gemol 1
2) Luas : 1234 km²
3) Jumlah RW :1
4) Batas wilayah : Bogor, gemol kali
b. Demografi
1) Jumlah Rumah Tangga : 68KK
2) Jumlah penduduk : 400 orang
3) Jumlah penduduk laki-laki : 120
4) Jumlah penduduk perempuan : 180
5) Jumlah remaja : 100
6) Sasaran remaja dengan Maag : 25 oramg
c. Demografi fokus pada kelompok remaja
Tabel 1. Distribusi frekuensi demografi pada agregat remaja dengan gastritis/maag
di kelurahan Jajartunggal Dsn. Gemol kecamatan Wiyung September 2017.
Variabel Kategori Frekuensi Persentase Total
Jenis Laki-laki 120 30 % 75%
Kelamin Perempuan 180 45%

Betawi 0 0% 100 %
Sunda 0 0%

14
Suku Jawa 375 93,7%
Lainnya 25 6,3%
Agama Islam 400 100% 100%

Tabel 2. Distribusi frekuensi demografi responden pada agregat remaja dengan


gastritis/maag di kelurahan Jajartunggal Dsn. Gemol kecamatan Wiyung
September 2017.
Variabel Kategori Frekuensi Persentase Total
Jenis Laki-laki 18 48 %
100 %
kelamin Perempuan 7 52 %
Betawi 0 0%
Suku Sunda 0 0%
100 %
Jawa 22 88 %
Lainnya 3 12 %
Agama Islam 25 100 % 100

d. Statistik vital
Tabel Distribusi frekuensi pada agregat remaja dengan Gastritis/maag. Berdasarkan
statistik vital di kelurahan Jajartunggal Dsn. Gemol kecamatan Wiyung September
2017.
Variabel Kategori Frekuensi Persentase Total
Keluhan utama - Nyeri perut 18
- Rasa perih / 12
panas pada
perut
Biasa saja 3
Perasaan Sedih 10
responden Cemas 15
Kecewa 2
Status Ya 20
kesehatan 3
bulan yang lalu

15
2. Data subsistem
a. Lingkungan fisik
1) Perumahan
a) Tipe perumahan
No Tipe rumah Frekuensi Persentase
1. Permanen 68 100%
2. Semi permanen 0% 0%
3. Tidak permanen 0% 0%
Jumlah 100%

b) Sistem ventilasi rumah


No Jendela Frekuensi Persentase
1. Ada 68 100%
2. Tidak ada 0 0%
Jumlah 100%

c) Sistem pencahayaan rumah pada siang hari


No Pencahayaan Frekuensi Persentase
1. Terang 68 100%
2. Remang-remang 0 0%
3. Gelap 0%
Jumlah 100%

d) Jarak rumah dengan tetangga


No Jarak rumah Frekuensi Persentase
1. Bersatu 0 0%
2. Dekat 68 100%
3. Terpisah 0 0%
Jumlah 100%

16
e) Pemanfaatan pekarangan rumah
No Pemanfaatan pekarangan Frekuensi Persentase
1. Kebun 2 3%
2. Kolam 0 0%
3. Kandang 0 0%
4. Tidak dimanfaatkan 66 97%
Jumlah 100%

2) Sumber air bersih


a) Sumber air untuk masak dan minum
No Sumber air Frekuensi Persentase
1. PAM 63 93%
2. Sumur 5 7%
3. Air mineral 0 0%
Jumlah 100%

b) Sistem pengolahan air minum


No Pengolahan Frekuensi Persentase
1. Dimasak 20 29%
2. Tidak dimasak 48 71%
Jumlah 100%

c) Jarak sumber air dengan septic tank


No Jarak Frekuensi Persentase
1. Kurang dari 10 meter 5
2. Lebih dari 10 meter 53
Jumlah

d) Tempat penampungan air sementara


No Penampungan Frekuensi Persentase
1. Bak 35 51%
2. Ember 20 30%
3. Gentong 13 19%

17
4. Lain-lain 0 0%
Jumlah 100%

e) Kondisi tempat penampungan air


No Kondisi tempat Frekuensi Persentase
1. Tertutup 58 85%
2. Terbuka 10 15%
Jumlah 100%

f) Kondisi air
No Kondisi air Frekuensi Jumlah
1. Berwarna 15 22%
2. Berbau 25 37%
3. Berasa 8 12%
4. Tidak berasa/tidak berwarna 20 29%
Jumlah 100%

3) Makanan
a) Kualitas makanan: 70% sehat, dari semua warung ada sebagian yang menjual
makanan yang kurang bersih, dalam kondisi terbuka dan mudah dihinggapi
lalat, sebagian remaja yang tidak sempat makan dirumah mereka sering
membeli makanan di warung, sebelum makan sebagian remaja langsung
menyantap makanan tanpa cuci tangan yang benar terlebih dahulu.
b) Makanan yang sering dikonsumsi sebagian remaja adalah sambal, mereka
berpendapat bahwa makan tanpa sambal rasanya kurang nikmat.

4) Sistem pembuangan sampah


a) Pembuangan sampah
No Sistem pembuangan Frekuensi Persentase
1. Tempat pembuangan umum 15 22%
2. Di sungai 25 37%
3. Ditimbun 0 0%
4. Dibakar 20 29%

18
5. Disembarang tempat 8 12%
Jumlah 100%

b) Tempat penampungan sampah sementara


No Penampungan sementara Frekuensi Persentase
1. Ada 68 100%
2. Tidak ada/sembarang 0 0%
Jumlah 100%

c) Kondisi tempat penampungan sampah dengan rumah


No Kondisi penampungan Frekuensi Persentase
1. Terbuka 5 7%
2. Tertutup 63 93%
Jumlah 100%

d) Jarak tempat penampungan sampah dengan rumah


No Jarak dengan rumah Frekuensi Persentase
1. Kurang dari 5 meter 15
2. Lebih dari 5 meter 53
Jumlah

5) Hewan peliharaan
a) Letak kandang
No Letak kandang Frekuensi Persentase
1. Dalam rumah 2
2. Luar rumah 0
Jumlah
b) Kondisi kandang
No Kondisi kandang Frekuensi Persentase
1. Terawat 2
2. Tidak terawatt 0
Jumlah

19
b. Pelayanan kesehatan dan social
Distribusi frekuensi fasilitas kesehatan dan pelayanan sosial.
1) Rumah sakit : Terdapat satu rumah sakit
2) Puskesmas : Terdapat satu puskesmas
3) Rumah bersalin swasta : Bidan 1 dalam satu RW
4) Balai pengobatan klinik : Terdapat 2 klinik
5) Praktek dokter bersama : Tidak Ada
6) Apotek swasta : Terdapat 3 Apotek
7) Toko obat : Terdapat 5 toko
8) Industri obat tradisional : Tidak Ada
9) Posyandu : Terdapat 1 Posyandu dalam satu RW

c. Ekonomi
Tabel Distribusi frekuensi pada agregat remaja dengan maag/gastritis berdasarkan
penghasilan dalam sebulan di kelurahan Jajartunggal Dsn. Gemol kecamatan
Wiyung September 2017
No Kebutuhan keluarga dalam Frekuensi Persentase
sebulan
1. < Rp 2.400.000 25
2. ≥ Rp 2.400.000 43
Jumlah

d. Transportasi
Tabel Distribusi frekuensi pada agregat remaja dengan Maag berdasarkan
transportasi yang digunakan ke tempat yankes di kelurahan Jajartunggal Dsn.
Gemol kecamatan Wiyung September 2017.
No Transportasi yang digunakan Frekuensi Persentase
ke tempat pelayanan kesehatan
1. Kendaraan pribadi 58
2. Angkutan umum 10
Jumlah

20
e. Politik dan pemerintahan
1) Kegiatan pemerintah : Tidak ada aturan pemerintahan didesa gemol yang
mempersulit warganya
2) Aturan pemerintah : Baik

f. Komunikasi
Tabel Distribusi frekuensi pada agregat remaja dengan Maag berdasarkan
informasi kesehatan tentang Maag yang pernah diperoleh di kelurahan Jajartunggal
Dsn. Gemol kecamatan Wiyung September 2017
No Pernah memperoleh informasi Frekuensi Persentase
kesehatan
1. Ya 78
2. Tidak 22
Jumlah

Tabel Distribusi frekuensi pada agregat remaja dengan Maag berdasarkan sumber
informasi kesehatan di kelurahan Jajartunggal Dsn. Gemol kecamatan Wiyung
September 2017.
No Sumber informasi tentang Frekuensi Persentase
kesehatan
1. Media elektronik 27
2. Media cetak 21
3. Tenaga kesehatan 18
4. Teman / tetangga / keluarga 13
5. Lainnya 21
Jumlah 100
Tabel Distribusi frekuensi pada agregat remaja dengan maag berdasarkan metode
informasi kesehatan yang diperoleh di kelurahan Jajartunggal Dsn. Gemol
kecamatan Wiyung September 2017
No Metode informasi kesehatan Frekuensi Persentase
yang diperoleh
1. Penyuluhan
2. Poster / leaflet

21
3. Pemutaran video / film
4. Lainnya
Jumlah

g. Rekreasi
1) Luas tempat rekreasi : Tidak terdapat tempat rekreasi di daerah gemol
2) Jarak antara tempat rekreasi dengan tempat tinggal : 15 km
3) Seberapa sering masyarakat pergi ke tempat rekreasi : 1-2 bulan sekali
4) Tiket masuk : 50.000-100.000
5) Jam buka dan tutup : 08.00-18.00
6) Banyaknya pengunjung per hari : ± 200 pengunjung

h. Pendidikan
Tabel Distribusi frekuensi pada agregat remaja dengan maag/gastritis berdasarkan
fasilitas pendidikan di kelurahan Jajartunggal Dsn. Gemol kecamatan Wiyung
September 2017
No Fasilitas pendidikan Jumlah
1. TK 100
2. SD 17
3. SMP / MTsN 68
4. SMA 10
5. PT 5

3. Analisa Data
Data Masalah
Jumlah responden : Pada usia remaja
jumlah keseluruhannya adalah 100 remaja,
tetapi yang terkena 25 remaja yang terdiri
dari 7 perempuan dan 18 laki-laki. Nyeri
48 % Laki-laki yang terkena penyakit
maag/gastritis. Sedangkan 52 %
perempuan yang terkena penyakit

22
gastritis/maag.
Dari hasil penelitian makanan yang sering
dikonsumsi sebagian remaja adalah sambal,
mereka berpendapat bahwa makan tanpa
sambal rasanya kurang nikmat.
Makanan 70% sehat, ada sebagian warung
yang menjual makanan yang kurang bersih,
dalam kondisi terbuka dan mudah
dihinggapi lalat, sebagian remaja yang
tidak sempat makan dirumah mereka sering
membeli makanan di warung, sebelum
makan sebagian remaja langsung Resiko Penularan Penyakit Diare
menyantap makanan tanpa cuci tangan
yang benar terlebih dahulu.
Kondisi airnya yaitu :
Berwarna 22%
Berbau 37%
Berasa 12%
Tidak berasa/tidak berwarna 29%
Pengetahuan masyarakat/para remaja
tentang penyakit gastritis/maag kurang
hanya sekitar 60% dan mengalami Kurangnya Pengetahuan
peningkatan pengetahuan tentang penyakit
gastritis/maag hanya sebesar 20 %.

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri penyakit gastritis/maag di Kelurahan Jajartunggal Dusun Gemol Kecamatan
Wiyung berhubungan dengan makanan yang sering dikonsumsi remaja yaitu sambal.
2. Resiko penularan penyakit diare di Kelurahan Jajartunggal Dusun Gemol Kecamatan
Wiyung berhubungan dengan kurangnya pengetahuan masyarakat/remaja.
3. Kurangnya pengetahuan di Kelurahan Jajartunggal Dusun Gemol Kecamatan Wiyung
berhubungan dengan kesehatan/penyakit gastritis atau maag.

23
3.3 Intervensi
No Tujuan jangka pendek Tujuan jangka panjang Intervensi
1 Setelah dilakukan Setelah dilakukan tindakan 1. Identifikasi penyebab
tindakan keperawatan keperawatan masyarakat timbulnya nyeri pada
selama 2 minggu dapat: masyarakat/para remaja
diharakan tidak terjadi 1. Semua penduduk yang menderita penyakit
nyeri pada penyakit khususnya para remaja gastritis.
gastritis/maag. yang menderita 2. Jelaskan pada
penyakit gastritis/maag masyarakat/para remaja
memeriksakan yang menderita
kesehatannya ke gastritis/maag agar
puskesmas terdekat. mengatur posisi yang
2. Masyarakat dapat nyaman ketika
mengambil obat merasakan nyeri.
gastritis/maag di 3. Anjurkan
puskesmas ketika obat masyarakat/remaja untuk
yang diberikan habis. menjaga pola makan
3. Masyarakat/para remaja yang baik dan benar.
yang menderita
gastritis/maag nyerinya
berkurang setelah
minum obat.
2 Setelah dilakukan Setalah dilakukan tindakan 1. Berikan penyuluhan
tindakan keperawatan keperawatan masyarakat tentang penyakit
selama 2 minggu dapat: tersebut.
diharapkan tidak 1. Masyarakat dapat 2. Jelaskan kepada
terjadi penularan memenuhi kebutuhan masyarakat pentingnya
penyakit. individual dengan baik menjaga kebersihan
dan benar. terutama makanan.
2. Masyarakat dapat 3. Anjurkan masyarakat
memeriksakan diri ke untuk mencuci tangan
puskesmas. terlebih dahulu sebelum
makan.

24
3. Masyarakat/para
remaja yang menderita
penyakit gastritis/maag
dapat menjaga
kebersihan makanan.
3 Setelah dilakukan Setalah dilakukan tindakan 1. Identifikasi
tindakan keperawatan keperawatan masyarakat pengetahuan
selama 2 minggu dapat: masyarakat tentang
diharapkan 1. Pengetahuan penyakit gastritis/maag.
pengetahuan masyarakat tentang 2. Lakukan penyuluhan
masyarakat meningkat gastritis mengalami kesehatan tentang
tentang penyakit peningkatan. gastritis/maag
gastritis/maag. 2. Masyarakat mengetahui (pengertian, penyebab,
tentang penyakit dan cara pencegahan.)
gastritis/maag, 3. Anjurkan untuk
penyebab dan cara meningkatkan fasilitas
pencegahan. pelayanan kesehatan
3. Adanya penyuluhan dari
tenaga kesehatan
tentang gastritis/maag.

25
3.4 Implementasi

Rencana Kerja (Plan Of Action / POA) Agregat Remaja Dengan Penyakit Gastritis/Maag
Di Kelurahan Jajartunggal Dsn. Gemol kecamatan Wiyung September tahun 2017

No Kegiatan Tujuan Sasaran Waktu dan Media Pelaksana Dana


tempat
1. Talkshow Setelah dilakukan - Agregat September - LCD Mahasiswa - Mahasiswa
kesehatan penyuluhan kesehatan remaja 2017 - Laptop - Institusi
tentang diharapkan pengetahuan - Agregat - Balai Desa - Sound
maagdan masyarakat tentang maag remaja - Sekolah system
demonstrasi khususnya remaja dapat dengan maag - Leaflet
tentang meningkat dan dapat - Masyarakat - Poster
penanganan melakukan penanganan umum
awal pada awal apabila terjadi maag
maag secara tiba-tiba
2. Skrining pola Setelah dilaukan skrining - Agregat September - Kertas - - Puskesmas - Mahasiswa
makan pola makan dengan tes uji remaja 2017 lakmus - - Mahasiswa - Institusi
dengan tes pH asam lambung - Agregat - Puskesmas - Ph meter - Swadaya
uji pH asam diharapkan terdeteksi remaja masyarakat
lambung maag pada remaja dengan maag
3. Puzzle game Setelah dilakukan - Agregat September - Buku tulis Mahasiswa - Mahasiswa

26
tentang manajemen pola makan remaja 2017 - Alat tulis - Institusi
jadwal dan diharapkan masyarakat - Agregat - Balai Desa - Kertas
pola makan khususnya remaja dapat remaja - Sekolah manila
membuat jadwal pola dengan maag
makan secara teratur, dan - Masyarakat
dapat meningkatkan umum
kebersihan lingkungan ke
arah yang lebih sehat

27
Rancangan Implementasi

No Kegiatan Tujuan Sasaran Indikator Hasil Media Pelaksana


1. Talkshow Setelah dilakukan - Agregat remaja - Dihadiri oleh 60 % - LCD - Mahasiswa
kesehatan penyuluhan kesehatan - Agregat remaja sasaran - Leaflet praktek
tentang maag diharapkan pengetahuan dengan maag - 60 % masyarakat - Poster
dan masyarakat tentang - Masyarakat khususnya remaja
demonstrasi gastritis/maag khususnya umum memahami masalah
tentang remaja dapat meningkat dan maag dengan
penanganan dapat melakukan menjawab pertanyaan
awal pada penanganan awal apabila tentang maag
maag terjadi maag secara tiba-tiba - Peningkatan
pengetahuan tentang
maag sebesar 20 %
2. Skrining pola Setelah dilakukan skrining - Agregat remaja Diikuti oleh 60 % - Kertas lakmus - Mahasiswa
makan dengan pola makan dengan tes pH - Agregat remaja sasaran di Kelurahan - Ph meter praktek
tes pH asam asam lambung diharapkan dengan maag kelurahan Jajartunggal.
lambung terdeteksi maag pada remaja
untuk pencegahan sekunder
3. Puzzle game Setelah dilakukan - Agregat remaja - Pola makan - Buku tulis Mahasiswa
tentang jadwal manajemen pola makan - Agregat remaja masyarakat - Alat tulis praktek
dan pola diharapkan masyarakat dengan maag khususnya remaja

28
makan khususnya remaja dapat teratur
membuat jadwal pola makan - Kebersihan
secara teratur, dan dapat lingkungan
meningkatkan kebersihan meningkat 20 %
lingkungan ke arah yang
lebih sehat

29
3.5 Evaluasi
1. Kriteria keberhasilan kegiatan
a. Aspek yang dipantau
1) Input
Jumlah tenaga pelasana, ketersediaan dana, metode pemantauan yang
digunakan dan kesinambungan pelaksanaan.
2) Proses
a) Kehadiran masyarakat khususnya remaja dalam penyuluhan kesehatan.
b) Kehadiran masyarakat khususnya remaja dalam skrining pH asam lambung.
3) Output
a) Peningkatan pengetahuan pasien.
b) Pravelensi masalah maag.
b. Pelaksanaan pemantauan
Pemantauan dapat dilaukan oleh mahasiswa dan lintas sektor terkait seperti
RW.
c. Waktu pemantauan
Waktu pemantauan dapat dilakukan tergantung dari kegiatan yang dilaukan.
d. Evaluasi hasil pemantauan
Hasil pemantauan dibahas oleh tim untuk menetukan langkah-langkah
penyempurnaan kegiatan; menentukan apakah ada perubahan status maag pada
remaja; menentukan tindak lanjut kegiatan; mendukung upaya penurunan
kesakitan.
e. Indikator keberhasilan
Menurunnya angka kejadian gastritis dan meningkatnya pengetahuan pasien
akan penanganan awal pada gastritis.

2. Kriteria Evaluasi
a. Kriteria Evaluasi Struktur
1) Adanya tenaga pelaksana kegiatan implementasi (mahasiswa)
2) Terjalinnya kerja sama dengan lintas sektor dan lintas program dalam
pelaksanaan kegiatan implementasi
3) Tersedianya undangan untuk masyarakat terkait dengan pelaksanaan kegiatan
implementasi.

30
4) Keikutsertaan kelompok remaja dan masyarakat dalam pelaksanaan pendidikan
kesehatan.
5) Tersedianya dana untuk pelaksanaan kegiatan implementasi.
6) Tersedianya tempat pelaksanaan kegiatan yang telah ditetapkan antara
mahasiswa dan masyarakat.
7) Keadaan lingkungan yang nyaman dan mendukung saat pelaksanaan kegiatan
implementasi.
8) Tersedianya alat dan media yang akan digunakan dalam kegiatan implementasi
9) Tersedianya metode pemantauab atau instrumen evaluasi yang digunakan saat
kegiatan implementasi.

b. Kriteria Evaluasi Proses


1) Dapat melaksanakan kegiatan sesuai dengan perencanaan
2) Bekerja sama dengan lintas program dalam pelaksanaan kegiatan
3) Mampu memberikan pendidikan kesehatan terkait masalah maag dan
penanganannya kepada kelompok remaja dan masyarakat.
4) Masyarakat dapat menghadiri semua kegiatan yang telah direncanakan
5) Masyarakat antusias dalam mengikuti kegiatan implementasi keperawatan
6) Kelompok remaja mampu melakukan penanganan gastritis/maag pada dirinya
sendiri dan orang lain
7) Penyebaran leaflet dan poster tentang maag merata kepada setiap masyarakat.
8) Media yang digunakan dalam kegiatan mampu memberikan pemahaman kepada
masyarakat
9) Instrumen evaluasi yang digunakan mampu menilai keberhasilan kegiatan
implementasi.
10) Kegiatan terlaksana secara sistematis dan sesuai dengan tujuan

c. Kriteria Evaluasi Hasil


1) Kegiatan pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang gastritis/maag dan
demonstrasi kepada masyarakat tentang penanganan awal pada maag:
a) Dihadiri oleh 60 % sasaran.
b) 60% masyarakat khususnya remaja memahami masalah gastritis/maag
dengan menjawab pertanyaan tentang gastritis/maag.60 % masyarakat

31
khususnya remaja mampu memahami tentang penanganan awal maag dengan
melakukan tindakan untuk menangani maag.
c) Peningkatan pengetahuan tentang maag sebesar 20 %.
2) Skrining pola makan dengan tes uji pH asam lambung
a) Diikuti oleh 60 % sasaran di kelurahan Jajartunggal Dsn. Gemol kecamatan
Wiyung
b) Pravelensi penderita baru dengan maag terdeteksi
3) Puzzle game tentang jadwal makan
a) Pola makan masyarakat khususnya remaja teratur
b) Kebersihan lingkungan meningkat 20 %
4) Pravelensi masalah maag pada usia remaja di kelurahan Jajartunggal Dsn.
Gemol kecamatan Wiyung menjadi berkurang.

3. Instrumen Evaluasi

No Alat Ukur / Metode Evaluasi Kegiatan


1. a. Daftar hadir Kegiatan talkshow kesehatan
b. Panduan pertanyaan pre dan kepada masyarakat tentang
post test gastritis/maag dan demonstrasi
kepada masyarakat tentang
penanganan awal maag
2. a. Daftar hadir Skrining pola makan dengan tes uji
b. Daftar hasil pemeriksaan pH asam lambung
asam lambung
3. Daftar pembuatan jadwal Puzzle game tentang jadwal dan
makan pola makan

32
BAB IV

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Penyakit kronik merupakan jenis penyakit degeneratif yang berkembang atau
bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama, yakni lebih dari enam bulan. Orang yang
menderita penyakit kronis cenderung memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dan
cenderung mengembangkan perasaan hopelessness dan helplessness karena berbagai
macam pengobatan tidak dapat membantunya sembuh dari penyakit kronis (Sarafino,
2006). Jenis-jenis penyakit kronik yaitu hipertensi, tuberculosis (TBC), hepatitis,
diabetes Mellitus, stroke, dan gastritis.
Gastritis (penyakit maag) adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya asam
lambung yang berlebih atau meningkatnya asam lambung sehingga mengakibatkan
imflamasi atau peradangan dari mukosa lambung seperti teriris atau nyeri pada ulu hati.
Gastritis merupakan kumpulan gejala yang dirasakan sebagai nyeri ulu hati, orang yang
terserang penyakit ini biasanya sering mual, muntah, rasa penuh, dan rasa tidak nyaman
(Misnadiarly. 2009). Penyebab utama dari gastritis yaitu Infeksi Helicobakter pylori,
bakteri ini mengakibatkan perubahan pada dinding lambung dan iritasi, mengkonsumsi
obat penghilang rasa sakit (aspirin, ibuprofen, naproxen) penggunaan berlebihan
terhadap obat ini dapat melemahkan proteksi dinding lambung.

3.2 Saran
1. Untuk puskesmas
a. Lebih memaksimalkan program pelayanan kesehatan
b. Adanya pembinaan pola hidup bersih dan sehat
2. Untuk masyarakat
Masyarakat hendaknya lebih menyadari akan pentingnya kesehatan dan
pendidikan bagi kelangsungan masa depan putra-putrinya. Selain itu masyarakat juga
lebih meningkatkan partisipasinya dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh
pemerintah desa, termasuk program yang berhubungan dengan kesehatan dan
pendidikan.

33
DAFTAR PUSTAKA

Efendi Ferry, Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas. Salemba Medika :


Jakarta

Fallen R., Dwi Budi R. 2010. Keperawatan Kommunitas. Nuha Medika : Yogyakarta
Mubarak

Faisalado Candra widyanto. 2014. Keperawatan komunitas dengan pendekatan praktis Nuha
medika : Yogyakarta

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol 3. Jakarta: EGC

Suratun, L. 2010. Asuhan Keperawatan klien gangguan Sistem Gastrointestinal. Jakarta :


Trans Info Media.

Rudi H. 2012. Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan. Yogyakarta : Gosyen


Publising.

34
35