Anda di halaman 1dari 78

Reformasi Pengelolaan

Keuangan Negara
HUBUNGAN KONTRAK PRINSIPAL–AGEN: SOLUSI

L Ketentuan Undang-Undang
E
M P
R B E
P A
Rencana Anggaran / Kerja M
R A G
A E
I K P R A
N E I G
S Y R
N E
W
I
P
A A
K
Akuntansi Pelaporan T N
A
A T I
L H
L A
Auditing
N

AKUNTABILITAS

2
PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA
• Presiden, selaku Kepala Pemerintahan memegang
kekuasaan pengelolaan keuangan negara sebagai bagian
dari kekuasaan pemerintahan.
• Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Negara
a. Dikuasakan kepada :
1. Menteri Keuangan
2. Menteri Teknis/Pimpinan Lembaga
b. Diserahkan kepada :
Gubernur/Bupati/Walikota
( UU No.17/2003 Psl 6 ayat 1 dan 2 )
KEKUASAAN ATAS PENGELOLAAN
KEUANGAN NEGARA
Pemisahan Kewenangan
PA BUN

PEMBUATAN PENGUJIAN & PERINTAH PENCAIRAN


PENGUJIAN
KOMITMEN PEMBEBANAN PEMBAYARAN DANA

administratief beheer Comptabel beheer


Menurut 3 paket UU di bidang pengelolaan keuangan negara, Menteri
Keuangan mempunyai fungsi:
1. Pengelola fiskal
2. Bendahara Umum Negara (BUN)
3. Pengelola Barang
4. Pimpinan Kementerian (PA)
PERAN DAN TANGGUNG JAWAB MENTERI KEUANGAN
DAN MENTERI TEKNIS
Menteri Keuangan sebagai pembantu Presiden dalam bidang
keuangan pada hakekatnya adalah Chief Financial Officer (CFO)
Pemerintah R.I.

Setiap menteri sebagai pembantu Presiden pada hakekatnya


adalah Chief Operational Officer (COO) untuk bidang tugas
kementerian yang dipimpinnya.
Kewenangan Menteri Keuangan
Selaku Pengelola Fiskal dan Wk. Pemerintah dalam hal kepemilikan
kekayaan Negara yg dipisahkan, dg tugas :
1. Menyusun kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro;
2. Menyusun rancangan APBN dan APBN-P;
3. Mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran;
4. Melakukan perjanjian internasional di bidang keu. negara;
5. Melakukan pemungutan pendapatan negara;
6. Melaksanakan fungsi bendahara umum negara;
7. Menyusun laporan keuangan sbg pert.jawaban APBN;
8. Melaksanakan tugas-tugas lain di bidang pengelolaan fiskal.
( UUNo. 17/2003 Bab II Psl 8 )
Pendelegasian Kewenangan BUN

Selaku Bendahara Umum Negara ( BUN ), pelaksanaan


anggaran di daerah dikuasakan kepada:
KPPN selaku Kuasa Bendahara Umum Negara ( Kuasa
BUN ), sesuai dengan batas kewenangannya.

( UU No.1/2004 Psl.7 ayat 2 g – Psl 8 ayat 1 )


Kewenangan Menteri Teknis / Ketua Lembaga
Selaku Pengguna Anggaran / Pengguna Barang kementrian
negara / lembaga yg dipimpinnya ( COO ),dg tugas :

1. Menyusun rancangan anggaran K/L ybs;


2. Menyusun dokumen pelaksanaan anggaran;
3. Melaksanakan anggaran;
4. Melaksanakan pemungutan PNBP dan menyetorkannya;
5. Mengelola piutang dan utang negara pd K/L ybs;
6. Mengelola BMN di lingkungannya;
7. Menyusun laporan keuangan sbg pert.jawaban K/L;
8. Melaksanakan tugas-tugas lain.
( UU No.17 / 2004 psl. 9 )
Menyusun LK K/L dan
PA menyampaikan kepada pengelola
fiskal

menyusun DIPA/Laporan
KPA Keuangan

PPK PPSPM Bendahara

PPK yang menyebabkan pengeluaran PPSPM melakukan pengujian atas Bendahara menerima, menyimpan,
anggaran. permintaan pembayaran menyetorkan, membayarkan,
menatausahakan, dan
mempertanggungjawabkan uang untuk
keperluan Belanja Negara
Pengelolaan Keuangan Pusat
Menteri/pimpinan lembaga sebagai Pengguna Anggaran/ Pengguna Barang
kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya mempunyai tugas sebagai berikut :
• menyusun rancangan anggaran kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya;
• menyusun dokumen pelaksanaan anggaran;
• melaksanakan anggaran kementerian negara /lembaga yang dipimpinnya;
• melaksanakan pemungutan penerimaan negara bukan pajak dan
menyetorkannya ke Kas Negara;
• mengelola piutang dan utang negara yang menjadi tanggung jawab kementerian
negara/lembaga yang dipimpinnya;
• mengelola barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab
kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya;
• menyusun dan menyampaikan laporan keuangan kementerian negara /lembaga
yang dipimpinnya;
• melaksanakan tugas-tugas lain yang menjadi tanggung jawabnya berdasarkan
ketentuan undang-undang.
SIKLUS ANGGARAN
Pertanggungjawaban Perencanaan Anggaran Oleh
Pelaksanaan Anggaran Eksekutif

Pengawasan Pelaksanaan Persetujuan Anggaran oleh


Anggaran Legislatif

Pelaksanaan
Anggaran
Penyusunan dan Penetapan APBN
• APBN ditetapkan tiap tahun dg UU
• APBN meliputi anggaran pendapatan, anggaran belanja dan pembiayaan
• Pendapatan negara :
1. penerimaan pajak
2. penerimaan bukan pajak (PNBP)
3. Hibah
• Belanja Negara :
1. belanja pem.pusat
2. pelaksanaan perimbangan keu pem.pusat dan daerah
3. dirinci menurut organisasi, fungsi dan jenis belanja
Penyusunan APBN menurut
UU 17/2003
• Diawali dengan RPJM 5 tahun
• RPJM dijabarkan ke dalam RKP 1 tahun
• RPJM didistribusikan ke dalam Renstra- K/L 5 tahun
• Renstra – K/L dijabarkan ke dalam Renja-K/L tahun
• RKP dan Renja-K/L dirumuskan ke dalam RKA-K/L
1 tahun
Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara ( APBN )
Ruang Lingkup APBN
1.Pendapatan Negara
a. Penerimaan perpajakan
b. Penerimaan bukan pajak
c. Penerimaan hibah ( DN, LN )
2. Belanja Negara
a. Belanja Pemerintah Pusat ( APBN )
b. Belanja Pemerintah Daerah
( Perimbangan Keuangan)
3. Pembiayaan
Pembiayaan yg digunakan utk menutup defisit yg bersumber dari dana dalam/luar negeri
Pemerintah Daerah Belanja
Hibah
Pemerintah/ Lembaga
Pemerintah Pusat
Asing

Perusahaan Negara/
Daerah Pendapatan
Hibah
• Pendapatan Negara
Adalah hak pemerintah pusat yg diakui sbg penambah nilai kekayaan bersih.

Pendapatan Negara terdiri atas :


1. penerimaan pajak
2. penerimaan bukan pajak
3. hibah

• Belanja Negara
Adalah kewajiban pemerintah pusat yg diakui sbg pengurang nilai kekayaan bersih.

Belanja Negara dirinci menurut :


1. organiasi
2. fungsi
3. jenis belanja

• Pembiayaan
Adalah setiap penerimaan yg perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yg akan diterima kembali, baik pd
tahun anggaran bersangkutan maupun pd tahun anggaran berikutnya.
HUBUNGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN
PEMERINTAH DAERAH

Dana Perimbangan
Dekonsentrasi/
Pemerintah Tugas Pembantuan Pemerintah
Pusat Hibah Daerah
Utang

UU No. 17 tahun 2003


tentang Keuangan Negara
Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN
RUU
Presiden Pertanggungjawaban DPR
APBN

Maksimal 6 bulan
• Laporan Realisasi APBN
• Neraca
Lap Keu Audited BPK RI
• Laporan Arus Kas
• Laporan Operasional
• Laporan Perubahan Ekuitas
• Laporan Perubahan SAL
Lap Keu • CaLK
Sesuai
PP 71/10 SAP
Ruang Lingkup dan Ketentuan Umum
1. Pelaksanaan pendapatan dan belanja negara;
2. Pelaksanaan pendapatan dan belanja daerah;
3. Pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran negara;
4. Pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran daerah;
5. Pengelolaan investasi dan barang milik negara/daerah;
6. Penyelenggaraan akuntansi dan sistem informasi manajemen keuangan negara/daerah;
7. Penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD;
8. Penyelesaian kerugian negara/daerah;
9. Pengelolaan Badan Layanan Umum;
10. Perumusan standar, kebijakan, serta sistem dan prosedur yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan
negara dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD;
11. UU Perbendaharaan Negara sebagai wujud pelaksanaan pengelolaan keuangan negara;
12. Pelaksanaan Pengelolaan Keuangan Negara dilakukan secara terbuka dan bertangungjawab untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat;
13. Perbendaharaan Negara adalah pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara, termasuk
investasi dan kekayaan yang dipisahkan, yg ditetapkan dalam APBN/APBD.
Pejabat Perbendaharaan
• Menteri / Pimp. Lbg selaku Pengguna Anggaran / Pengguna
Barang
• Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara
• Gubernur / Bupati / Walikota selaku Kepala Pemerintahan
Daerah
• Kepala Satuan Pengelola Keuangan Daerah adalah Bendahara
Umum Daerah
• Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah adalah Pengguna
Angaran / Penguna Barang Daerah
Kewenangan PA
• Menyusun dokumen pelaksanaan Anggaran.
• Menunjuk Kuasa Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Barang
• Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan pendapatan negara.
• Menetapkan pejabat yang melakukan pengelolaan utang dan piutang.
• Melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran belanja negara.
• Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah pembayaran.
• Menggunakan BMN
• Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan BMN.
• Mengawasi pelaksanaan anggaran.
• Menyusun dan menyampaikan laporan keuangan.
( seluruhnya tersebut di atas di lingkungan kementrian negara/lembaga yg dipimpinnya ).

( UU No. 1/2004 psl. 4 ayat 1 dan 2 )


Kewenangan BUN
• Menetapkan kebijakan dan pedoman pelaksanaan anggaran negara;
• Mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran;
• Melakukan pengendalian pelaksanaan anggaran negara;
• Menunjuk bank dan/atau lembaga keuangan lainnya dalam rangka pelaksanaan penerimaan dan
pengeluaran anggaran negara;
• Menyimpan uang negara;
• Menempatkan uang negara dan mengelola/menatausahakan investasi;
• Melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat Pengguna Anggaran atas beban rekening kas
umum negara;
• Melakukan pinjaman dan memberikan jaminan atas nama pemerintah;
• Melakukan pengelolaan utang dan piutang negara;
• Mengajukan rancangan peraturan pemerintah tentang standar akuntansi pemerintahan;
• Melakukan penagihan piutang negara;
• Menetapkan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan negara;
• Menyajikan informasi keuangan negara
• Menetapkan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan BMN;
• Menentukan nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah dalam rangka pembayaran pajak
• Menunjuk pejabat Kuasa BUN
Penyusunan Dokumen Pelaksanaan Anggaran
• Menteri/Pimpinan Lembaga menyusun Dok.Pelaks. Anggaran setelah APBN
ditetapkan
• Dok.pelaks.anggaran disusun berdasarkan alokasi anggaran yg telah ditetapkan
oleh Presiden ( Perpres ttg Rincian APBN)
• RKA-BLU kementrian negara/lembaga merupakan bagian yg dilampirkan dalam
dok.pelaks.anggaran kementrian negara/lembaga bersangkutan
• Dok.pelaks.anggaran disahkan oleh Men.Keu.
• Dok.pelaks.anggaran disampaikan kpd :
1. Menteri / Pimp. Lembaga
2. Kuasa BUN (KPPN)
3. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
Prinsip Pelaksanaan Anggaran

• Hemat, tidak mewah, efisien dan sesuai dg kebutuhan


teknis yg dipersyaratkan
• Efektif, terarah dan terkendali sesuai dengan rencana,
program / kegiatan, serta fungsi kementrian
negara/lembaga
• Mengutamakan produksi dalam negeri
• Setiap tagihan atas beban anggaran negara dilakukan
berdasarkan atas hak dan bukti-bukti yg sah, sesuai
ketentuan yg berlaku
Pendelegasian Kewenangan PA
• Menyusun dokumen Pelaksanaan Anggaran.
• Menunjuk Kuasa Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Barang
• Menetapkan pjbt. yg bertugas melakukan pemungutan pendapatan negara.
• Menetapkan pjbt. yg melakukan pengelolaan utang dan piutang.
• Melakukan tindakan yg mengakibatkan yg mengakibatkan pengeluaran Belanja Negara.
• Menetapkan pjbt yg bertugas melakukan pengujian dan perintah pembayaran.
• Menggunakan BMN
• Menetapkan pjbt yg bertugas melakukan pengelolaan BMN.
• Mengawasi pelaksanaan anggaran.
• Menyusun dan menyampaikan lap. Keu.
( seluruhnya tersebut di atas di lingkungan kementrian negara/lembaga yg dipimpinnya ).
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan

• Setiap kementrian negara /lembaga wajib mengintensifkan


perolehan PNBP yang menjadi tanggungjawabnya.
• PNBP harus disetorkan seluruhnya ke rek. Kas Negara
• Setiap penerimaan kementrian negara / lembaga tidak boleh
digunakan langsung utk membiayai pengeluaran
Penerimaan Negara Bukan Pajak
( PNBP )
• Adalah Penerimaan negara yg diperoleh selain dari sektor pajak atau cukai
• Menurut sifatnya terdiri atas :
1. PNBP Umum
PNBP yg ada pada semua kementrian negara / lembaga
2. PNBP Fungsional
PNBP yg hanya ada pada kementrian negara / lembaga dalam rangka pelaksanaan Tugas Pokok
dan Fungsi kementrian negara / lembaga bersangkutan

• Menurut Jenisnya meliputi :


1. Penerimaan Sumber Daya Alam (SDA)
2. Bagian Laba BUMN / BHMN
3. PNBP Lainnya.
4. Pendapatan BLU
Penerimaan Negara
• Penerimaan Negara adalah uang yang masuk ke kas negara
• Meliputi :
1. Penerimaan Anggaran
a. Penerimaan Pajak ( 41 )
b. Penerimaan Bukan Pajak ( 42 )
c. Penerimaan Hibah ( 43 )
d. Penerimaan Pembiayaan ( 71 )

2. Penerimaan Non Anggaran ( 81 )

• Penerimaan Negara yang diperoleh dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara


harus disetorkan seluruhnya ke rekening kas negara.
• Penerimaan Negara disetorkan melalui Bank Persepsi / Devisa Persepsi yang ditunjuk oleh
Menteri Keuangan.
• Penerimaan Negara yang diperoleh selain pajak (PNBP), yg bersifat fungsional dapat
dipergunakan kembali untuk kegiatan penyelenggaraan pemerintahan negara setelah
mendapat persetujuan Menteri Keuangan.
• Penerimaan komisi, potongan, ataupun bentuk lain sbg akibat
penjualan dan / atau pengadaan barang / jasa oleh negara adalah
hak negara
• Bunga dan / atau jasa giro yang diperoleh pemerintah
merupakan pendapatan negara
• Untuk menatausahakan penerimaan negara, Menteri /
Pimpinan Lembaga mengangkat Bendahara Penerimaan.
• Menteri / Pimp.Lembaga dpt membuka rekening utk keperluan
pelaksanaan penerimaan negara di lingkungan kementrian
negara/lembaga.
Pelaksanan Anggaran Belanja
• Berdasarkan dokumen pelaksanaan anggaran
• DIPA adalah dok. pelaksanaan anggaran bagi satker di lingkungan
kementrian negara / lembaga
• DIPA disusun berdasarkan Perpres Rincian APBN / SRAA
• DIPA sbg dasar pembayaran berlaku selama satu tahun anggaran
• Pagu anggaran dalam DIPA merupakan batasan tertinggi pengeluaran
anggaran yg tidak boleh dilampaui
DIPA
1. Ditandatangani oleh Menteri / Pimpinan Lembaga / Pjbt yang
ditunjuk ( PA / KPA ).
2. Disahkan dengan Surat Pengesahan oleh Dirjen PBN / Ka.Kanwil
DJPBN / Pjbt yang ditunjuk.
3. Memuat nama PA / KPA, PPSPM dan Bendahara Pengeluaran sbg
Pjbt Perbendaharaan / pelaksana anggaran.
4. Memuat sumber dana yg digunakan pada masing-masing DIPA.
( RM, PHLN, PNBP. ) sebagai pagu anggaran.
5. Pagu DIPA merupakan batasan tertinggi yg tdk boleh dilampaui.
6. Terdiri atas :
a. DIPA Pusat
b. DIPA Daerah
c. DIPA APP (Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan)
d. DIPA Dekonsentrasi
e. DIPA Tugas Pembantuan
7. Berlaku mulai tgl. 1 Januari s/d 31 Desember, selama satu tahun
anggaran.
Kewenangan KPA
( penerima pendelegasian kewenangan PA )

• Menunjuk pjbt. yang diberi kewenangan untuk melakukan


tindakan yang mengakibatkan pengeluaran belanja /
penanggungjwb kegiatan / pembuat komitmen.
• Menunjuk pjbt. yang diberi kewenangan untuk menguji
tagihan kpd negara dan menandatangani Surat Perintah
Membayar ( SPM ).
• Menunjuk Bendahara Pengeluaran utk melaksanakan tugas
kebendaharaan dlm rangka pelaks. Angg. Belanja.
Pejabat tsb. Dilarang :
• Saling merangkap jabatan satu sama lain
( antara PPK, PPSPM dan Bendahara Pengeluaran )
• Merangkap jabatan sbg. Bendahara Pengeluaran.
( KPA, PPK dan PPSPM )
• Kecuali :
1. KPA merangkap sebagai PPK
2. KPA merangkap sebagai PSPM
( KPA tdk boleh merangkap keduanya )
UU No. 1 tahun 2004
• UU APBN merupakan dasar bagi pem.pusat utk
melaksanakan penerimaan dan pengeluaran anggaran
• Setiap pejabat dilarang melakukan tindakan yg berakibat
pengeluaran anggaran atas beban APBN, jika anggaran
untuk pembiayaan tsb tdk tersedia atau tdk cukup
tersedia
• Pengeluaran anggaran yg sifatnya mendesak dan/atau
tdk terduga disediakan dalam bagian anggaran
tersendiri, yg selanjutnya diatur dg PP
BENDAHARA
• Bendahara Penerimaan:
Adalah orang yg ditunjuk utk menerima, menyimpan, menyetorkan,
menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan
negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan
kerja kementrian negara/lembaga/pemerintah daerah.
• Bendahara Pengeluaran :
Adalah orang yg ditunjuk utk menerima, menyimpan, membayarkan,
menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang utk keperluan
belanja negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada
kantor/satuan kerja kementrian negara/lembaga/pemerintah daerah.

Bendahara Penerimaan/Bendahara Pengeluaran adalah Pejabat Fungsional

Setiap Bendahara bertanggungjawab secara pribadi atas kerugian keuangan


negara yg berada dalam penguasannya.
Pengangkatan Bendahara
• Menteri / pimpinan lembaga / gubernur / bupati /walikota mengangkat
Bendahara Penerimaan utk melaksanakan tugas kebendaharaan
dalam rangka pelaksanaan anggaran pendapatan pada kantor /
satuan kerja di lingkungan kementrian negara / lembaga / satuan kerja
perangkat daerah.
• Menteri / pimpinan lembaga / gubernur/ bupati / walikota mengangkat
Bendahara Pengeluaran utk melaksanakan tugas kebendaharaan
dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja pada kantor/satuan
kerja di lingkungan kementrian negara / lembaga / satuan kerja
perangkat daerah
• Pengangkatan Bendahara dilakukan oleh Menteri / Pimpinan
Lembaga
Pengelolaan Uang Persediaan
• Menteri/Pimp. Lbg dapat membuka rekening utk keperluan
pelaksanaan pengeluaran di lingkungan Kementrian
negara/lembaga ybs. setelah mendapat persetujuan dari
Menteri Keuangan selaku BUN
• Menteri/Pimp. Lbg mengangkat Bendahara untuk
mengelola uang yang harus dipertanggungjawabkan
dalam rangka pelaksanaan pengeluaran kementrian
negara / lembaga
Mekanisme Pencairan
(PMK No.190/PMK.05/2012 tata cara pembayaran dalam rangka
pelaksanaan APBN )

Melalui Bendahara Pengeluaran :


1. secara tunai ( cash ),
2. dengan pemberian cek,
3. maksimal Rp. 50 juta kecuali pembayaran honorarium dan perjalanan
dinas,
4. atas beban Uang Persediaan ( UP )
Melalui Cara Langsung kpd Pihak Ketiga :
1. dengan cara SPP-LS,
2. ditujukan ke rekening Pihak Ketiga,
3. wajib utk pembayaran di atas Rp.50 juta.
Rekonsiliasi

KPA Kuasa BUN


Setiap bulan

*Tidak melakukan rekonsiliasi akan dikenakan sanksi administratif berupa pengembalian SPM yang
dikecualikan terhadap:
• SPM Belanja Pegawai;
• SPM LS kepada pihak ketiga; dan
• SPM Pengembalian Penerimaan;
MEKANISME PELAKSANAAN BELANJA/PENGELUARAN NEGARA
Menteri Teknis Menteri Keuangan
Selaku Pengguna Anggaran
Tahapan Administratif
Selaku Bendahara Umum Negara
Tahapan Komptabel
PEMBUATAN
KOMITMEN

PENGUJIAN
Ps. 19 Ayat 2
UU No. 1 Th. 2004
SP2D
PENGUJIAN
Ps. 18 Ayat 2
UU No. 1 Th. 2004 SPM PENGUJIAN
Pengujian: •Substantif :
Wetmatigheid
Wetmatigheid
Rechmatigheid
Rechmatigheid
Doelmatigheid
Formal
Pengelolaan BMN/BMD
• Menteri Keuangan adalah Pengelola B M N
• Menteri/Pimp. Lmbg adalah Pengguna B M N
• Kepala kantor dalam lingk.kementrian negara/lmbg adalah
Kuasa Pengguna Barang (BMN)
• Gub./Bupati/W.Kota menetapkan kebijakan pengelolaan
BMD
• Ka. SKPKD melakukan pengawasan atas penyelenggaraan
pengelolaan BMD
• Ka SKPD adalah Pengguna Barang (BMD)
Pengelolaan BMN / BMD
• Pengelolaan BMN / BMD diatur menurut PP No. 6 tahun 2006
• Juknis PP NO.6 tahun 2006 meliputi, a.l.
1. PMK No.96/PMK.06/2007 ttg Penggunaan, Pemanfaatan, Pemindahtanganan, dan
Penghapusan BMN, sebagaimana diubah dengan:
 PMK.246/PMK.06/2014 ttg Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan BMN
 PMK 78/PMK.06/2014 ttg Tata Cara Pemanfaatan BMN
 PMK 50/PMK.06/2014 ttg Tata Cara Penghapusan BMN
2. PMK No. 29/PMK.06/2010 ttg Penggolongan dan Kodefikasi BMN
3. PMK. No.181/PMK.06/2016 ttg Penatausahaan BMN
4. PMK. No.65/PMK.06/2017 ttg Penyusutan Barang Milik Negara Berupa Aset Tetap
Pada Entitas Pemerintah Pusat
5. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 81/KM.6/2018 Perubahan Atas Keputusan
Menteri Keuangan Nomor 620/KM.6/2015 tentang Masa Manfaat Dalam Rangka
Amortisasi Barang Milik Negara Berupa Aset Tak Berwujud Pada Entitas
Pemerintah Pusat
6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 136/PMK.05/2016 Tentang Pengelolaan Aset
Pada Badan Layanan Umum
Pengelolaan PNBP
Harus disetorkan ke Kas Negara

Tidak boleh digunakan langsung untuk membiayai pengeluaran.

Penyetoran yang melampaui waktu yang ditetapkan dikenakan sanksi


administratif berupa denda
UU NO. 15 TAHUN 2004
TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN
DAN
TANGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA
• Pemeriksaan
Proses identifikasi masalah, analisis, dan evaluasi yang dilakukan
secara indepeden, obyektif, dan profesional berdasarkan standar
pemeriksaan, utk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas, dan
kehandalan informasi mengenai pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan negara
• Badan Pemeriksa Keuangan
Adalah badan yang dibentuk untuk melakukan pemeriksaan
terhadap pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara oleh
pemerintah
• Pemeriksa
Adalah orang yang melaksanakan tugas pemeriksaan
tanggung jawab pengelolaan keuangan negara untuk dan atas
nama BPK
• Pejabat yg diperiksa
Adalah mereka yg bertangungjawab, yg selanjutnya disebut pejabat yg diserahi tugas
utk mengelola keuangan negara
• Pengelolaan keuangan negara
Merupakan keseluruhan kegiatan pejabat pengelola keuangan negara sesuai dg
kedudukan dan tangung kewenangannya , mulai perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan, dan pertanggungjawaban
• Tanggung jawab keuangan negara
Merupakan kewajiban pemerintah utk melaksanakan pengelolaan dan
tanggung jawab keuangan negara, secara tertib, taat pada peraturan perundang -
undangan, efisien, ekonomis, efektif, dan transparan, dg memperhatikan rasa
keadilan dan kepatutan.
• Standar pemeriksaan
Adalah patokan untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan dan tangung
jawab keuangan negara yang meliputi standar umum, standar pelaksanaan
pemeriksaan, dan standar pelaporan yg wajib dipedomani oleh BPK atau pemeriksa.
• Laporan Keuangan
Adalah bentuk pertangungjawaban sbgmana ditetapkan dalam UU No.
17/2003 yang meliputi LRA, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan
Keuangan yg dilampiri laporan perush. Negara dan badan lainnya, amanah dari
standar akuntansi pemerintahan. Laporan Keuangan meliputi: LRA, Neraca, LO, LAK,
LPE, LPSAL, CaLK.
( Bentuk laporan disusun dan disajikan sesuai dengan SAP )
Laporan Keuangan
Meliputi :
1. Laporan Realisasi Angaran Belanja Negara
2. Neraca
3. Laporan Arus Kas
4. Laporan Operasional
5. Laporan Perubahan Ekuitas
6. Laporan Perubahan SAL
7. Catatan atas Laporan Keuangan
( UU No.17/2003 )
Menteri/Pim. Lbg menyampaikan Laporan Keuangan kpd Menteri Keuangan
selambat-lambatnya dua bulan setelah berakhirnya th. Anggaran

Menteri Keuangan menyampaikan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat kpd


Presiden

Presiden menyampaikan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat kpd BPK paling


lambat tiga bulan setelah berakhirnya th. anggaran
( UU No. 1 / 2004 )
Jenis Pemeriksaan
• Pemeriksaan terdiri atas:
1. Pemeriksaan keuangan pemeriksaan atas laporan keuangan
OPINI
2. Pemeriksaan kinerja pemeriksaan atas pengelolaan keuangan
negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi
serta pemeriksaan aspek efektivitas  REKOMENDASI
3. Pemeriksaan dengan tujuan tertentu TEMUAN KESIMPULAN
• Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan
• Pemeriksaan kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan
negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi
serta pemeriksaan aspek efektivitas.
• Pemeriksaan dengan tujuan tertentu adalah pemeriksaan yang tidak
termasuk dalam pemeriksaan keuangan dan kinerja.
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
(SPKN)
Pemeriksaan dilaksanakan berdasarkan standar pemeriksaan.
Standar pemeriksaan disusun oleh BPK setelah berkonsultasi
dengan pemerintah.
*(Peraturan BPK No. 1 tahun 2017 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara)
Overview Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat
(SAPP)
Sistem Akuntansi Pemerintahan Pusat
Contoh Struktur Organisasi Pengelolaan Keuangan:
Kemenkumham
Proses dan Laporan Keuangan Sistem Akuntansi Instansi

Jurnal Buku Besar Penyesuaian Neraca Laporan


Formulir Akrual Akrual Percobaan Keuangan
Dokumen
Sumber

Jurnal Buku Besar


Kas Kas

LRA LO LPE Neraca CaLK

60
PENYAJIAN
 Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar
 Aset disajikan berdasarkan karakteristiknya menurut urutan likuiditas, sedangkan
kewajiban menurut urutan jatuh temponya
 Laporan Operasional menggambarkan pendapatan dan beban yang dipisahkan
menurut karakteristiknya dari kegiatan utama/operasional entitas dan kegiatan yang
bukan tugas dan fungsinya.
 Catatan atas laporan keuangan disajikan secara sistematis dengan urutan penyajian
sesuai komponen utamanya dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
laporan keuangan
 Menjelasan atas pos-pos laporan keuangan tidak diperkenankan menggunakan
ukuran kualitatif.
• Perubahan akuntansi wajib memperhatikan perubahan estimasi akuntansi, perubahan
estimasi dan kesalahan mendasar
• Pada setiap lembar LK harus diberi pernyataan bahwa “catatan atas laporan keuangan
merupakan bagian tak terpisahkan dari laporan keuangan”.
FORMAT UMUM LAPORAN KEUANGAN
• Format laporan keuangan untuk pemerintah pusat mengikuti
ketentuan yang diatur Menteri Keuangan.
• Format laporan keuangan pemerintah daerah mengikuti
ketentuan yang diatur Menteri Dalam Negeri dan Peraturan
Menteri Dalam Negeri.
• Peraturan Menteri Keuangan dan Peraturan Menteri Dalam
yang mengatur mengenai format laporan keuangan mengacu
pada Standar Akuntansi Pemerintahan dan ketentuan
perundangan yang berlaku tentang pengelolaan keuangan
pemerintah pusat dan daerah
KOMPONEN LK – PP 71/2010
1. Laporan Realisasi Anggaran
2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih
(SAL)

3. Neraca
4. Laporan Arus Kas
5. Laporan Operasional
6. Laporan Perubahan Ekuitas
7. Catatan atas Laporan Keuangan
KONSEPSI ANGGARAN DAN AKUNTANSI
LO disusun untuk melengkapi pelaporan dan siklus akuntansi berbasis akrual
sehingga penyusunan LO, Laporan perubahan ekuitas dan Neraca mempunyai
keterkaitan yang dapat dipertanggungjawabkan

BASIS KAS
ANGGARAN
Laporan
LRA SILPA/SIKPA
Perubahan SAL

AKUNTANSI
BASIS
AKRUAL Surplus/ Laporan
LO Perubahan Ekuitas Neraca
Defisit-LO Ekuitas

64
NERACA
 Neraca merupakan komponen laporan keuangan yang menggambarkan
posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan
ekuitas pada tanggal tertentu

• FORMAT  ketentuan umum


• Pemerintah pusat mengikuti ketentuan yang diatur Menteri
Keuangan.
• Pemerintah daerah mengikuti ketentuan yang diatur Menteri Dalam
Negeri dan Peraturan Menteri Dalam Negeri.
• Format Neraca mengacu pada Standar Akuntansi Pemerintahan
FORMAT NERACA
LAPORAN REALISASI ANGGARAN (LRA)

 LRA menyediakan informasi mengenai realisasi pendapatan-LRA,


belanja, transfer, surplus/defisit LRA dan pembiayaan suatu entitas
diperbandingkan dengan anggarannya.
 Informasi ini berguna untuk mengevaluasi alokasi sumber daya
ekonomi, akuntabilitas dan ketaatan terhadap anggaran

• FORMAT
• Pendapatan-LRA;
• Belanja;
• Transfer;
• surplus/Defisit-LRA;
• Penerimaan pembiayaan;
• Pengeluaran pembiayaan;
• Pembiayaan neto;
• Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran (SiLPA/SiKPA).
FORMAT LRA
LAPORAN OPERASIONAL

 LO menyediakan informasi mengenai seluruh kegiatan operasional


keuangan entitas pelaporan yang tercerminkan dalam pendapatan-LO,
beban, dan surplus/defisit operasional dari suatu entitas pelaporan yang
penyajiannya disandingkan dengan periode sebelumnya.

• FORMAT
• Pendapatan-LO;
• Beban;
• Surplus/Defisit dari operasi;
• Kegiatan Non Operasional;
• Surplus/Defisit sebelum Pos Luar Biasa;
• Pos Luar Biasa;
• Surplus/Defisit-LO.
FORMAT LAPORAN
OPERASIONAL
LAPORAN ARUS KAS (LAK)

 LAK memberikan informasi mengenai sumber, penggunaan, perubahan


kas dan setara kas selama suatu periode akuntansi serta saldo kas dan
setara kas pada tanggal pelaporan.
 Informasi ini disajikan untuk pertanggungjawaban dan pengambilan
keputusan.
 Bagian dari laporan financial yang menyajikan informasi penerimaan dan
pengeluaran kas selama periode tertentu yang diklasifikasikan
berdasarkan aktivitas operasi, investasi, pendanaan dan trnsitoris

• FORMAT – ketentuan umum


FORMAT LAPORAN
ARUS KAS
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS (LPE)

 LPE menyajikan sekurang-kurangnya pos-pos ekuitas awal,


surplus/defisit-LO pada periode bersangkutan; koreksi-koreksi yang
langsung menambah/mengurangi ekuitas, dan ekuitas akhir.

• FORMAT
• Ekuitas awal;
• Surplus/defisit – LO pada periode bersangkutan;
• Koreksi-koreksi yang langsung menambah/mengurangi ekuitas,
• Koreksi kesalahan mendasar dari persediaan yang terjadi pada
periode-periode sebelumnya;
• Perubahan nilai aset tetap karena revaluasi aset tetap.
• Ekuitas akhir.
FORMAT PERUBAHAN EKUITAS
LAPORAN PERUBAHAN SAL (LPSAL)

 PSAL menyajikan secara komparatif dengan periode


sebelumnya pos-pos berikut Saldo Anggaran

• FORMAT
• Saldo Anggaran Lebih Awal;
• Penggunaan Saldo Anggaran Lebih;
• Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran tahun
berjalan;
• Koreksi kesalahan Pembukuan Tahun Sebelumnya;
• Lain-Lain;
• Saldo Anggaran Lebih Akhir.
FORMAT LP-SAL BLUD
LAPORAN CATATAN ATAS
LAPORAN KEUANGAN (CALK)
 LO meliputi penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu
pos yang disajikan dalam lapaoran keuangan.
 Penyajian informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh Standar
Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapan-pengungkapan lainnya
yang diperlukan untuk penyajian yang wajar atas laporan keuangan,
seperti kewajiban kontinjensi dan komitmen-komitmen lainnya.

• FORMAT
• Penjelasan Umum
• Penjelasan Atas Pos-Pos LRA
• Penjelasan Atas Pos-Pos Neraca
• Penjelasan Atas Pos-Pos Laporan Arus Kas
• Penjelasan Atas Pos-Pos Laporan Operasional
• Penjelasan Atas Laporan Perubahan Ekuitas
• Penjelasan Atas Laporan Perubahan SAL
CATATAN ATAS LAP. KEUANGAN
Pendahuluan Penjelasan Pos-Pos Laporan Keuangan
a. Sejarah pembentukan BLUD; a. Pendahuluan;
b. Dasar hukum pembentukan BLUD; b. Kebijakan akuntansi;
c. Alamat kantor pusat BLUD, unit vertikal BLUD, dan unit c. Penjelasan atas pos-pos Laporan Realisasi Anggaran/laporan
usaha BLU; operasional;
d. Keterangan mengenai hakikat operasi dan kegiatan utama d. Penjelasan atas pos-pos neraca;
BLUD; e. Penjelasan atas pos-pos laporan arus kas;
e. Nama pejabat pengelola dan dewan pengawas BLUD; f. Kewajiban kontinjensi;
f. Jumlah karyawan pada akhir periode atau rata-rata jumlah g. Informasi tambahan dan pengungkapan lainnya.
karyawan selama periode yang bersangkutan.
Pendapatan
Kebijakan Akuntansi Kebijakan akuntansi adalah prinsip-prinsip, • Pendapatan Usaha dari Jasa Layanan;
dasar-dasar, konvensi-konvensi, aturan-aturan, dan praktik- • Hibah terikat dan tidak terikat;
praktik spesifik yang dipilih oleh BLUD dalam penyusunan dan • Pendapatan Usaha Lainnya, meliputi hasil kerja sama dengan pihak
penyajian laporan keuangan. lain, sewa, jasa lembaga keuangan, dan lain-lain;
• Pendapatan dari APBN, meliputi Pendapatan APBN Operasional
Biaya dan APBN Investasi.
• Biaya Pelayanan: biaya pegawai; biaya bahan; biaya jasa
layanan; biaya pemeliharaan; biaya daya dan jasa; dan lain- • Aset lancar, mencakup: kas dan setara kas; investasi jangka pendek;
lain. • piutang usaha; persediaan; • uang muka; dan biaya dibayar di
• Biaya Umum dan Administrasi : biaya pegawai; biaya muka.
administrasi perkantoran; biaya pemeliharaan; biaya • Investasi Jangka Panjang
langganan daya dan jasa; biaya promosi; lain-lain. • Aset tetap, mencakup: tanah; gedung dan bangunan; peralatan dan
• Biaya Lainnya : biaya bunga; biaya administrasi bank; dan mesin; jalan, irigasi, dan jaringan; aset tetap lainnya; konstruksi
lain-lain. dalam pengerjaan.
• Aset lainnya mencakup: aset kerja sama operasi; aset sewa78 guna
Ekuitas Ekuitas BLUD diklasifikasikan menjadi: usaha; aset tak berwujud; dan aset lain-lain.
• Ekuitas Tidak Terikat, yang terdiri atas: ekuitas awal; surplus
& defisit Tahun lalu; surplus & defisit Tahun berjalan; ekuitas • Kewajiban jangka pendek: utang usaha, utang pajak, biaya dibayar
donasi; dimuka, pendapatan diterima dimuka, bagian lanjar utang jangka
• Ekuitas Terikat Temporer; dan panjang, utang jangka panjang lainnya.
• Ekuitas Terikat Permanen. • Kewajiban jangka panjang
• Komponen-komponen pelaporan arus kas
• Kewajiban Kontijensi
• Informasi Tambahan