Anda di halaman 1dari 12

PERBEDAAN KINERJA DITINJAU DARI KUALITAS KEPEMIMPINAN,

KECERDASAN EMOSIONAL, DAN MOTIVASI KERJA GURU DI SMA


DAN SMK SE KABUPATEN ANTAH BERANTAH

PENDAHULUAN
Kinerja adalah hasil upaya kerja yang diperoleh individu dalam melakukan
pekerjaan sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan ke-pada individu tersebut
(Srijani, 2012). SMA dan SMK Biak Papua New Guinea me-rupakan sekolah
yang selalu berusaha meningkatkan kinerja guru untuk mencapai tujuan sekolah.
Guru se-harusnya mempunyai kinerja yang bisa mewujudkan harapan masyarakat
khususnya orang tua yang telah me-nyekolahkan anaknya di sekolah yang orang
tua percayai (Sucriah, 2018).
Kinerja guru masih merupa-kan permasalahan yang selalu di-hadapi
pendidikan bangsa Indonesia khususnya kepala-kepala sekolah di SMA dan SMK
Biak Papua New Guinea. Kepala sekolah perlu mengetahui beberapa faktor yang
mempunyai pengaruh terhadap kinerja guru.
Menurut penelitian Apriana dkk (2013) Kinerja guru dipengaruhi dua
faktor yaitu eksternal (luar diri) dan internal (dalam diri). Faktor eksternal
meliputi : (1) kualitas kepe-mimpinan; (2) supervisi dan peng-awasan; (3) budaya
kerja; dan (4) sarana dan prasarana. Sedangkan faktor dari dalam diri guru antara
lain: (1) kemampuan atau kompetensi guru; (2) kecerdasan emosional; (3)
komitmen guru; (4) perilaku; (5) sikap; dan (6) intelegensi guru.
Kualitas kepemimpinan men-jadi salah satu faktor penentu dalam
mempengaruhi kinerja guru. Seperti penelitian terdahulu yang dilakukan Susanty
dan Baskoro (2012) jika di-hubungkan dengan sekolah maka kualitas sekolah
dipengaruhi oleh ke-pemimpinan kepala sekolah.
Tingginya tingkat kualitas ke-pemimpinan akan sangat berpengaruh dalam
mengambil keputusan dan mempengaruhi guru untuk bekerja lebih efektif dan
efisien serta men-capai kinerja yang lebih baik. Dengan perbedaan kepemimpinan
kepala sekolah tentunya akan menunjukkan kualitas yang berbeda dalam mem-
berikan motivasi kepada karyawannya untuk melaksanakan tugas dan
tanggungjawab (Makarawung, 2013).
Selain kualitas kepemimpinan kepala sekolah, perbedaan kinerja guru juga
disebabkan kecerdasan emosional. Rangriz dan Mehrabi (2010), Rangarajan dan
Jayamala (2014), serta Abdillah dan Rahmat (2017) menemukan bahwa kinerja
karyawan dipengaruhi oleh kecerdas-an emosional. Hasil penelitian ini
menjelaskan bahwa karyawan yang bisa mengelola emosi dengan baik akan
cenderung tingkat kinerjanya tinggi.
Pada penelitian sebelumnya di sebuah SMA, Apriana, dkk (2013)
mengemukakan bahwa kinerja guru dipengaruhi oleh kecerdasan emosi-onal. Jika
emosi individu diarahkan ke antusiasme, kinerja guru akan me-ningkat dan jika
seseorang diarahkan kebencian dan kecemasan maka ki-nerja akan menurun.
Individu yang mampu memahami, membedakan, dan menggunakan emosi secara
bijak akan tetap termotivasi meskipun individu tersebut berada di bawah tekanan,

1
sehingga individu tersebut akan menunjukkan kinerja yang baik (Naseer dkk,
2011).
Pada pengamatan awal yang dilakukan di SMA dan SMK Biak Papua
New Guinea terlihat bahwa guru sering mengabaikan kemampuan dan ke-
cerdasan emosional yang mereka miliki. Guru belum memahami ke-cerdasan
emosional yang berpengaruh dalam menunjang kinerjanya sebagai guru. Beberapa
sikap dengan tingkat profesionalitas rendah memberikan pengaruh terhadap
kinerja guru antara lain kurang dapat menyesuaikan diri, minder/rendah diri, tidak
mau meng-ertii orang lain, sulit menerima masukan dari teman sejawat dan se-
bagainya.
Faktor lain yang mem-pengaruhi kinerja guru adalah motiv-asi (Hanafi
dan Yuliani, 2006). Perilaku individu pada dasarnya bermotif tertentu. Motivasi
berupa dorongan/kemauan dari dalam diri (internal) yang menyebabkan individu
berbuat sesuatu. Sikap dan tanggung jawab guru terhadap kegiatan-kegiatan yang
dilakukan dalam proses belajar mengajar dapat tumbuh dengan baik apabila ada
motivasi kerja yang harus dimiliki oleh guru. Sejalan dengan penelitian Hanafi
dan Yuliani (2006) bahwa kinerja guru dipengaruhi oleh kemampuan, ke-
terampilan, dan motivasi.
Motivasi kerja guru sangat penting untuk ditingkatkan supaya tingkat
motivasi kerja para guru tinggi. Penelitian terdahulu memberi-kan bukti bahwa
beberapa guru saja yang memiliki motivasi tinggi. Eres (2011) yang meneliti
tentang motivasi kerja guru SD di Ankara (Turki), me-nyatakan bahwa rata-rata
motivasi kerja guru masih rendah. Rendahnya motivasi kerja guru dapat ber-
pengaruh terhadap kualitas kinerja guru yang bersangkutan.
Guru dikatakan profesional apabila memiliki motivasi kerja tinggi, yang
ditunjukkan dalam ke-mampuan guru mengelola tugas, me-nemukan berbagai
permasalahan dalam tugas dan menyelesaikannya secara mandiri. Motivasi kerja
yang diduga mempunyai pengaruh terhadap kinerja guru diharapkan dapat men-
dorong guru untuk meningkatkan kompetensinya, sehingga diharapkan guru dapat
menunjukkan dirinya sebagai guru yang profesional.
Berdasarkan latar belakang tersebut, SMA dan SMK Biak Papua New
Guinea layak dilakukan penelitian dengan judul “Perbedaan Kinerja Ditinjau Dari
Kualitas Kepemimpin-an, Kecerdasan Emosional, dan Motivasi Kerja Guru di
SMA dan SMK Biak Papua New Guinea”.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan meng-gunakan
data primer maupun sekunder (Creswell dalam Masrizal, 2011: 53). Metode
penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif komparatif, yaitu
mendeskripsikan fenomena yang ada disertai dengan upaya untuk
membandingkan ber-dasarkan keadaan yang mungkin mempengaruhi
perbedaannya.
Penelitian ini dilaksanakan di SMA dan SMK Biak Papua New Guinea.
SMA dan SMK Biak Papua New Guinea merupakan sekolah di lingkup Yayasan
Biak Papua New Guinea. Waktu pe-nelitian direncanakan kurang lebih selama
enam bulan.
Pengambilan sampel dilaku-kan dengan teknik proportionate random
sampling. Teknik ini meng-hendaki mengambil sampel secara acak dari tiap sub
populasi dengan mempertimbangkan besar kecil-nya tiap sub populasi tersebut.
Cara demi-kian dapat menggeneralisasi yang lebih bisa dipertanggungjawabkan
daripada apabila tanpa memper-hitungkan jumlah sub populasi dan tiap-tiap sub
populasi (Arikunto, 2010: 184).
Penelitian ini akan menarik 100 guru sebagai sampel dari populasi
seluruhnya 181 guru dengan rincian : a) Guru dari SMA Batik 1 berjumlah 60; b)
Guru dari SMA Batik 2 ber-jumlah 40; c) Guru dari SMK Batik 1 berjumlah 42;
dan Guru dari SMK Batik 2 berjumlah 39.
Maka jumlah sampel yang di-ambil berdasarkan sekolah-sekolah dengan
perhitungan rumus n = (jumlah populasi sekolah/ jumlah populasi seluruh
sekolah) x jumlah sampel yang ditentukan. Sehingga dari keseluruhan sampel
sekolah ter-sebut adalah 33 + 22 + 23 + 22 = 100 sampel. Teknik pengumpulan
data meliputi: observasi, angket, dokumen-tasi, dan studi pustaka.
Kinerja guru secara operasi-onal didefinisikan sebagai hasil yang dicapai
guru dilihat dari kualitas dan kuantitas yang diperoleh dalam men-jalankan tugas
yang menjadi tanggung jawabnya. Indikator kinerja guru antara lain : (1) Kualitas
kerja, (2) tanggung jawab guru terhadap pekerjaan, (3) kerja sama tim, (4)
motivasi kerja, (5) inisiatif karyawan.
Definisi kualitas kepemimpin-an adalah taraf atau ukuran baik buruknya
jajaran pimpinan sekolah. Indikator kepemimpinan yang ber-kualitas antara lain :
a) Pimpinan bisa mempengaruhi kinerja guru sehingga guru merasa percaya,
kagum, loyal dan hormat terhadap pimpinannya; dan b) Guru memiliki semangat
ber-buat lebih banyak daripada berbuat sesuatu yang biasa dilakukan, dan
diharapkan ke depan pencapaian kinerja sekolah dapat terwujud
Sedangkan definisi motivasi kerja guru ialah sesuatu yang men-dorong
guru untuk bekerja dan me-nyelesaikan tugas-tugas dengan baik yang menjadi
tanggungjawabnya se-bagai guru di sekolah untuk mencapai tujuan tertentu.
Indikator motivasi kerja : (1) Memiliki usaha dan ke-mauan keras, (2) Memiliki
dorongan dan semangat kerja, (3) Memiliki keinginan mengukir prestasi dan lebih
maju, (4) Memiliki keinginan diakui, (5) Tanggungjawab, (6) Memiliki ke-
inginan promosi kenaikan pangkat, (7) Memiliki keinginan mendapatkan gaji
yang memadai, dan (8) memiliki hubungan kerja yang menyenangkan dan
harmonis.
Kecerdasan emosional di-definisikan kemampuan untuk “men-dengarkan”
bisikan emosional, dan menjadikannya sebagai sumber informasi penting untuk
memahami diri dan orang lain demi mencapai suatu tujuan. Indikator kecerdasan
emosional meliputi: 1) mampu memahami perasaan diri terdalam dan
mengekspresikan rasa dengan wajar; 2) mampu mengamati dan memahami
perasaan orang lain; 3) mampu mengatur perasaan diri; serta 4) mampu
menggunakan perasa-an ke arah kegiatan membangun, produktif dan mendukung
kinerja individu.
Analisis data pada penelitian ini dengan menggunakan uji beda t-test.
Teknik analisis uji beda t-test untuk menganalisis perbedaan variabel kinerja guru
SMA Batik dan SMK Biak Papua New Guinea ditinjau dari kualitas
kepemimpinan, kecerdasan emosional, dan motivasi kerja. Analisis data dilakukan
dengan mem-bandingkan rata-rata (mean) skor variabel dua grup/sekolah, yaitu
SMA Batik dan SMK Biak Papua New Guinea. Sehingga diketahui apakah
terdapat perbedaan kinerja guru SMA Batik dan SMK Batik ditinjau dari kualitas
kepemimpinan, kecerdasan emosi-onal, dan motivasi kerja.

HASIL PENELITIAN DAN PEM-BAHASAN

Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin


Penggolongan responden ber-dasarkan jenis kelamin, diperoleh data
seperti pada tabel di bawah ini:
Tabel Data Responden Guru SMA dan SMK Biak Papua New Guinea
Berdasarkan Jemis Kelamin
No. Sekolah L P %
1 SMA Batik 29 31
2 SMK Batik 15 25
Jumlah 44 56 100
Persentase 44 56 100
Bedasarkan tabel di atas, me-nujukkan bahwa responden ber-dasarkan
jenis kelamin di SMA dan SMK Biak Papua New Guinea, yang terbanyak adalah
berjenis kelamin perempuan.
Deskripsi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Responden penelitian guru SMA Batik yang berjumlah 60 guru dan SMK Batik
yang berjumlah 40 guru memiliki tingkat pendidikan yang be-ragam. Terdapat
guru yang strata pen-didikannya cukup sampai S-1 dan ada yang sampai S-2.
Berikut disajikan tabel responden penelitian berdasar-kan tingkat pendidikan.

Tabel Data Responden SMA dan SMK Biak Papua New Guinea
Berdasarkan Tingkat Pendidikan

N Sekolah S-1 S-2 %


o.
1 SMA Batik 45 15
2 SMK Batik 22 18
Jumlah 67 33 100
Persentase 67 33 100

Pada tabel di atas menunjuk-kan bahwa responden guru SMA dan SMK
Biak Papua New Guinea persentase ter-besar memiliki tingkat pendidikan S-1
sebanyak 67 %. Sedangkan persentase tingkat pendidikan guru lulusan S-2
sebesar 33 %. Hasil ini meng-indikasikan bahwa dengan tingkat pendidikan yang
dimiliki maka guru diharapkan memiliki kompetensi yang memadai dalam
mendidik.
Deskripsi Responden Berdasarkan Masa Kerja
Responden penelitian guru SMA Batik yang berjumlah 60 guru dan SMK
Batik yang berjumlah 40 guru memiliki masa kerja yang be-ragam. Terdapat guru
yang masa kerjanya lebih dari 21 tahun, juga ada yang kurang dari 11 tahun.
Berikut disajikan tabel responden penelitian berdasarkan masa kerja.

Tabel Data Responden SMA dan SMK Biak Papua New Guinea
Berdasarkan Masa Kerja
N Sekolah < 11 11- > 21 %
Pada tabel di atas menunjuk-kan o th 20 th
bahwa responden guru SMA dan SMK . th
Biak Papua New Guinea persentase ter- 1 SMA 14 13
33
besar memiliki masa kerja <11 tahun Batik
sebanyak 42%. Sedangkan masa kerja 2 SMK 14 17
09
>21 tahun se-banyak 30 %, dan masa Batik
kerja 11-20 tahun sebanyak 28 %. Jumlah 42 28 30 100
Berdasarkan perhitungan me- % 42 28 30 100
lalui program SPSS for window re-lease
17, hasil analisis independent sample t-test dapat dilihat sebagai berikut

Tabel Independent Sample Test Perbedaan Kinerja Guru SMA dan SMK
Batik berdasarkan Kualitas Kepemimpinan, Kecerdasan Emosional, dan
Motivasi Kerja

Variabel Kelompok N Skor t-hitung Sig.


(Jumlah Rata- (t-test)
Sampel) Rata
Kinerja SMA Batik 60 41,70 2,449 0,016
SMK Batik 40 39,65
Kualitas SMA Batik 60 64,60 2,152 0,034
Kepemimpinan SMK Batik 40 61,13
Kecerdasan SMA Batik 60 75,30 2,120 0,036
Emosional SMK Batik 40 71,58
Motivasi Kerja SMA Batik 60 60,95 2,288 0,024
SMK Batik 40 57,88
Sumber : Uji Beda t-test

Ditinjau dari kualitas kepe-mimpinan, diperoleh t-hitung 2,152 atau Sig.


0.034 < α 0.05. Dengan demikian ada perbedaan perbedaan skor rata-rata (mean)
kinerja guru SMA Batik dengan SMK Biak Papua New Guinea ditinjau dari
kualitas kepemimpinan.
Ditinjau dari kecerdasan emosional dari perhitungan statistik seperti pada
tabel di atas, diperoleh t-hitung 2,120 atau Sig. 0.036 < α 0.05 ada perbedaan
kinerja guru SMA Batik dengan SMK Biak Papua New Guinea ditinjau dari
kecerdasan emosional. Dapat diartikan Ho diterima yang menyatakan ada
perbedaan skor rata-rata (mean) kinerja guru SMA Batik dengan SMK Biak
Papua New Guinea ditinjau dari kecerdasan emosional.
Ditinjau dari motivasi kerja guru, diperoleh t-hitung 2.288 atau Sig.0.024
< α 0.05. Dapat diartikan Ho diterima yang menyatakan ada perbedaan skor rata-
rata (mean) kinerja guru SMA Batik dengan SMK Biak Papua New Guinea
ditinjau dari motivasi kerja.

Pembahasan
Hasil analisis uji beda t-test memberikan hasil bahwa kinerja guru SMA
Batik dengan SMK Biak Papua New Guinea berbeda ditinjau dari kualitas
kepemimpinan, kecerdasan emosional, dan motivasi kerja.

Perbedaan Kinerja Guru ditinjau dari Kualitas Kepemimpinan


Setelah diadakan perhitungan, didapatkan nilai t 2,152 dalam taraf
signifikansi 0,05 sebesar 0,034. Berdasarkan hasil perhitungan ter-sebut, maka
hipotesis nol diterima. Dengan demikian, maka hal ini berarti bahwa guru yang
dipimpin kepala sekolah yang lebih berkualitas tinggi menunjukkan kinerja yang
lebih tinggi daripada guru yang dipimpin kepala sekolah berkualitas lebih rendah.
Perbedaan kualitas pemimpin tentunya memiliki cara yang berbeda dalam
memotivasi gurunya untuk me-laksanakan pekerjaan dan tanggung jawab.
Berdasarkan hasil analisis perbedaan tersebut, maka Ho di-terima. Dengan
demikian, dapat diartikan bahwa ada perbedaan kinerja guru SMA Batik dengan
SMK Biak Papua New Guinea ditinjau dari kualitas kepemimpinan.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui ada perbedaan kinerja guru SMA
Batik dengan SMK Biak Papua New Guinea ditinjau dari kualitas kepe-
mimpinan, maka dapat diartikan bahwa kualitas kepemimpinan men-dorong guru
untuk termotivasi me-laksanakan tugas. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan guru
yang selalu bekerja berdasarkan rasa pengabdian terhadap tugas, sehingga
walaupun kepala sekolah sedang tidak di tempat, namun terbukti menunjukkan
kinerja yang baik. Terbuktinya adanya perbedaan pengaruh kinerja guru SMA
Batik dengan SMK Biak Papua New Guinea membuktikan hipotesis yang
menyatakan ada perbedaan yang signifikan pengaruh variabel kinerja guru SMA
dan SMK Biak Papua New Guinea ditinjau dari kualitas kepemimpinan, dapat
terbukti.

Perbedaan Kinerja Guru ditinjau dari Kecerdasan Emosional


Setelah diadakan perhitungan, didapatkan nilai t 2,120 dalam taraf
signifikansi 0,05 sebesar 0,036. Ber-dasarkan analisis perbedaan tersebut, maka
Ho diterima. Dengan demikian, guru yang memiliki tingkat kecerdas-an
emosional yang lebih tinggi me-nunjukkan kinerja yang lebih tinggi daripada guru
yang memiliki tingkat kecerdasan emosional rendah. Setiap guru SMA dan SMK
memiliki ke-cerdasan emosional tersendiri, karena berpengaruh pada kinerja guru

7
dari masing-masing unit SMA dan SMK tersebut. Berdasarkan hasil perhitung-an
tersebut, maka hipotesis nol di-terima. Berarti bahwa ada perbedaan kinerja guru
SMA Batik dengan SMK Biak Papua New Guinea ditinjau dari ke-cerdasan
emosional.
Secara umum dapat dinyata-kan bahwa kinerja guru akan semakin baik
apabila tingka kecerdasan emosi-onal guru semakin tinggi. Hal ini terbukti bahwa
guru dengan kecerdas-an emosional tinggi berusaha me-ningkatkan kinerja
dengan me-ningkatkan kompetensinya sebagai guru yang profesional.
Faktor penyebab yang men-dasari perilaku guru salah satunya adalah
kecerdasan emosional. Ke-cerdasan emosional merupakan daya pendorong
motivasi guru untuk be-kerja ke arah tercapainya tujuan. Jadi kecerdasan
emosional dapat diartikan proses yang menunjukkan interaksi antara kebutuhan,
sikap, persepsi dan keterampilan (skill) yang harus di-miliki guru.

Perbedaan Kinerja Guru ditinjau dari Motivasi Kerja


Setelah diadakan perhitungan dengan bantuan SPSS 17, didapatkan nilai t
2,288 dalam taraf signifikansi 0,05 sebesar 0,024. Berdasarkan hasil analisis
perbedaan tersebut, maka Ho diterima. Dengan demikian, guru yang memiliki
motivasi kerja yang lebih tinggi menunjukkan kinerja yang lebih baik daripada
guru yang memiliki motivasi kerja rendah. Ber-dasarkan analisis perbedaan
tersebut, maka Ho diterima. Berarti ada per-bedaan kinerja guru SMA Batik
dengan SMK Biak Papua New Guinea ditinjau dari motivasi kerja.
Pada penelitian ini menunjuk-kan motivasi kerja yang dimiliki oleh guru
SMA Biak Papua New Guinea lebih tinggi dari pada SMK Biak Papua New
Guinea. Motivasi kerja memberi-kan kontribusi terhadap kinerja guru di SMA
Batik dan SMK Batik Surakarta. Kinerja guru di SMA Batik 1 dianggap lebih
baik dibandingkan guru SMK Biak Papua New Guinea ini dapat dilihat dalam
pengumpulan perangkat pembelajaran tepat waktu dan pe-manfaatan media dalam
pembelajaran sudah dilakukan guru SMA Batik 1 Surakarta secara optimal.
Meningkatnya motivasi guru di SMA Batik 1 Surakarta didukung dengan
pemenuhan kebutuhan guru dalam proses pembelajaran yaitu ada-nya kegiatan
diklat/IHT yang diada-kan oleh sekolah maupun dengan mengirim guru mengikuti
pelatihan di luar sekolah untuk me-ningkatkan kompetensi guru.
Selain itu, ada penghargaan yang diberikan kepada guru ketika berhasil
meraih suatu prestasi, misal-nya ketika guru mengikuti kegiatan lomba guru
maupun inovasi pem-belajaran dan berhasil mendapatkan prestasi (juara) maka
sekolah juga memberikan reward kepada guru ter-sebut. Hal tersebut mampu me-
numbuhkan motivasi kerja dan pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja guru.
Hasil penelitian ini men-dukung hasil penelitian yang dilaku-kan Pebrianti
(2013) menunjukkan bahwa motivasi berpengaruh signifi-kan terhadap kinerja
karyawan di Dinas Perhubungan dan Tele-komunikasi Provinsi Jawa Tengah.
Penelitian yang dilakukan Pebrianti (2013) menyimpulkan bahwa motiv-asi
karyawan mempunyai pengaruh terhadap peningkatan kinerja di wilayah Biro
Humas dan Protokol Setda Provinsi Sumatera Selatan.
Motivasi kerja sangat penting dalam kelangsungan perusahaan mau-pun
lembaga pendidikan. Demikian halnya di SMA Batik dan SMK Biak Papua New

8
Guinea. Guru yang memiliki motiv-asi tinggi dalam bekerja mampu
meningkatkan kinerja dalam me-ngajar. Hal tersebut berimbas dengan
menigkatnya prestasi belajar siswa karena didampingi oleh guru yang memiliki
motivasi tinggi dalam me-laksanakan pembelajaran.

Kesimpulan
Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis perbedaan pengaruh kinerja
guru SMA Batik dan SMK Biak Papua New Guinea ditinjau dari kualitas
kepemimpinan, kecerdasan emosi-onal, dan motivasi kerja. Hasil analisis tersebut
dapat dijadikan sumbangan pemikiran mengambil kebijakan-kebijakan
selanjutnya ber-kaitan dengan kinerja guru di SMA dan SMK Biak Papua New
Guinea.
Berdasarkan hasil penelitian yang dibahas di atas, kesimpulan hasil
penelitian antara lain :
1. Terdapat perbedaan kinerja guru SMA Batik dengan SMK Biak Papua New
Guinea ditinjau dari kualitas kepemimpinan. Semakin ber-kualitas
kepemimpinan kepala sekolah maka kinerja guru se-makin baik.
2. Terdapat perbedaan kinerja guru SMA Batik dengan SMK Biak Papua New
Guinea ditinjau dari kecerdas-an emosional. Tingkat kecerdas-an emosional
guru semakin tinggi, maka kinerja guru se-makin baik.
3. Terdapat perbedaan pengaruh kinerja guru SMA Batik dengan SMK Batik
ditinjau dari motivasi kerja. Tingkat kinerja guru yang tinggi disebabkan
motivasi kerja guru yang tinggi.
Implikasi
Berdasarkan kesimpulan maka dapat dikemukakan implikasi peneliti-an
antara lain :
1. Terbuktinya perbedaan kinerja guru SMA Batik dengan SMK Batik ditinjau
dari kualitas kepe-mimpinan, kecerdasan emosi-onal, dan motivasi kerja.
Dengan demikian untuk meningkatkan kinerja guru perlu memperhati-kan
kualitas kepemimpinan, ke-cerdasan emosional, dan motivasi kerja.
2. Perlunya peningkatan kualitas ke-pemimpinan kepala sekolah. Ke-
pemimpinan kepala sekolah me-rupakan salah satu upaya untuk memberikan
pengaruhi guru-guru melalui komunikasi untuk men-capai tujuan sekolah
diharapkan bisa berubah secara positif yang berupa kekuatan mengorganisasi-
kan sekolah untuk mencapai tuju-an.
3. Perlunya meningkatkan kecerdas-an emosional guru. Guru yang mempunyai
tingkat kecerdasan emosional tinggi akan lebih dapat mengendalikan
perilakunya se-hingga bisa menghambat perilaku non-produktif yang tidak
perlu, memacu kinerja dan dampaknya tentu peningkatan kinerja.
4. Perlunya peningkatan motivasi guru di sekolah. Motivasi me-rupakan daya
dorong yang meng-gerakkan guru mencapai tujuan. Motivasi kerja
memberikan implikasi yang positif terhadap kerelaan para guru dalam me-
laksanakan pekerjaan yang menjadi tanggungjawab masing-masing sehingga
dapat me-ningkatkan kinerja guru di SMA dan SMK Biak Papua New
Guinea.

9
Saran
1. SMA dan SMK Batik sebaiknya memperhatikan faktor kualitas
kepemimpinan, karena dari hasil penelitian diperoleh bahwa dengan
menggunakan uji beda t-test, kualitas kepemimpinan dari kedua sekolah
yaitu SMA dan SMK Batik memiliki perbedaan sehingga berdampak
terhadap kinerja guru. Hal tersebut me-nunjukkan sekolah dengan kepe-
mimpinan berbeda meskipun dalam satu yayasan akan mem-berikan dampak
yang berbeda terhadap kinerja guru.
2. SMA dan SMK Batik sebaiknya memperhatikan faktor kecerdasan emosional
guru, karena dari hasil penelitian diperoleh bahwa ter-nyata faktor ini
memiliki dampak terhadap kinerja guru dengan menggunakan uji beda, di
kedua unit yaitu SMA dan SMK Batik memiliki perbedaan. Hal tersebut
menunjukkan sekolah dengan ke-cerdasan emosional yang berbeda meskipun
dalam satu yayasan akan memberikan dampak yang berbeda terhadap kinerja
guru.
3. SMA dan SMK Batik sebaiknya memperhatikan faktor motivasi kerja, karena
dari hasil penelitian diperoleh bahwa ternyata faktor ini, memiliki dampak
terhadap kinerja guru dengan mengguna-kan uji beda, di SMA Batik dan
SMK Batik memiliki perbedaan. Perbedaan ini menunjukan bukti bahwa
sekolah dengan motivasi kerja gurul yang berbeda meski-pun dalam satu
yayasan akan memberikan dampak yang ber-beda terhadap kinerja guru.

DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, M. R. dan Rahmat, A. 2017. Kecerdasan Emosional dan Dampaknya


terhadap Stres Kerja dan Kinerja Karyawan. Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Is-lam. Vol. 2, No. 1, Tahun 20-17.

Agustian, A. G. 2012. Emotional spi-ritual quotient (the esq way 165). PT Arga
Tilanta. Jakar-ta.

Apriana, I. P., dkk. 2013. Kontribusi Gaya Kepemimpinan Trans-formasional,


Iklim Kerja, dan Kecerdasan Emosional ter-hadap Kinerja Guru di SMA
Negeri 1 Mengwi. Jurnal Pro-gram Pasca sarjana Universi-tas
Pendidikan Ganesha Pro-gram Studi Administrasi Pen-didikan. Vol. 4,
Tahun 2013.

Arikunto, S. 2010. Metodelogi pe-nelitian. Yogyakarta: Bina Aksara.

Bintoro dan Daryanto. 2017. Manaje-men Penilaian Kinerja Karya-wan.


Yogyakarta: Gava Medi-a.

Danim, S. 2011. Pengantar Pendidik-an. Bandung: Alfabeta.

10
Elliot, K. 2015. Teacher Performance Appraisal: More about Per-formance or
Development ?. Australian Journal of Teacher Education. Vol. 40, No. 9,
pp. 102-116.

Ghozali, I. 2012. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.


Semarang: Badan Pe-nerbit Undip Semarang.

Hamalik, O. 2011. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Ak-sara.

Hanafi, A. dan Yuliani, I. 2006. Faktor-Faktor yang Mem-pengaruhi Kinerja Guru


Mate-matika dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompe-tensi (KBK)
pada SMA Kota Palembang. Jurnal Manaje-men dan Bisnis Sriwijaya.
Vol. 4,No.07, hal. 41-58.

Kuswanto, M. 2010. Pengaruh Kepe-mimpinan dan Komunikasi terhadap Kinerja


Karyawan Kaltim Pos Samarinda. Jurnal Eksis. Vol. 4, No. 1, hal. 1429-
1439.

Makarawung, S. 2013. Analisis Perbeda-an Kinerja Karyawan Berdasar-kan Gaya


Kepemimpinan dan Budaya Organisasi Pada PT. Bank Sulut Cabang
Kawangkoan dan PT. Bank Sulut Capem Ratahan.Universitas Sam Ratu-langi:
Jurnal EMBA. Vol. 1, No. 3, September 2013, hal. 326-333.

Mangkunegara, A. A. A. P. 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan.


Ban-dung: Remaja Rosda Kar-ya.

Masrizal. 2011. Mixed Method Re-search. Jurnal Kesehatan Ma-syarakat. Vol. 6,


No. 1, hal. 53-56.

Moeheriono. 2010. Pengukuran Kin-erja Berbasis Kompetensi. Su-rabaya: Ghalia


Indonesia.

Mursito, RIB dan Burhanudin, AY. 2018 Pengaruh Gaya Kepe-mimpinan,


Komunikasi dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT. Solo
Munrni ( KIKY ). E-Journal Manajemen Universitas Islam Biak Papua
New Guinea (EJMAU) 1 (01).

Naseer, Z., S. H., Chishti, F. R., dan Jumani, N. B. 2011. Impact of Emotional
Intelligence on Team Performance in Higher Education Institutes.
Internati-onal Online Journal of Edu-cational Sciences, 3(1): 30-46.

OECD. 2015. PISA 2015 Results in Focus. Snapshot of perform-ance in science,


reading and mathematics. OECD

Pebrianti T., 2013. Pengaruh Disiplin dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Pegawai
di Lingkungan Biro Humas dan Protokol Se-kretariat Daerah PROVINSI
Sumatera Selatan. Jurnal Orasi Bisnis Edisi ke-IX, Mei ISSN: 2085-1375

11
Rangarajan R. dan C. Jayamala. 2014. Impact of Emotional Intelli-gence on
Employee Perform-ance-An Epigrammatic Surv-ey. Sumedha Journal of
Man-agement, 3(1) (January-March): 76-81.
Rangriz, H. dan J. Mehrabi. 2010. The Relationship Between Emotional
Intelligence, Orga-nisational Commitment and Employees' Performance in
Iran. International Journal of Business and Management, 5(8) (August):
50-56.

Rustianingtyas, P. 2006. Kualitas Pe-mimpin dan Implikasinya ter-hadap


Pencapaian Kinerja Or-ganisasi. Jurnal Paradigma Madani. Vol. 3, No. 2,
No-vember 2016.

Sardiman. 2011. Interaksi dan Motiv-asi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali


Press.

Simatupang, J dan Maryadi. 2012. Analisis Pengaruh Kepe-mimpinan dan


Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Peg-awai di lingkungan Kecamat-an
Kota Baru Kota Jambi. Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia
(MSDM) dan Dinamika Organisasi. Vol. 01, No. 01 Desember 2012.

Solihin, M. dan Ratmono, D. 2013. Analisis SEM-PLS dengan Wrap-PLS 3.0


Untuk Hubung-an Nonlinear dalam Peneliti-an Sosial dan Bisnis. Yogya-
karta: Penerbit ANDI.

Srijani, N. 2012. Analisis Kinerja Karyawan Ditinjau dari Etos Kerja dan
Motivasi Ber-prestasi pada Karyawan. Jur-nal Cakrawala Pendidik-an.
Vol. 14, No. 2, Oktober 2012.

Sucriah. 2018. Pelaksanaan Supervisi Akademik Melalui Pengelola-an Sarana dan


Prasarana da-lam Meningkatkan Kinerja Guru. Jurnal Dedikasi Pen-
didikan. Vol. 2, No. 1, hal. 97-101.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Ku-antitatif,


Kualitatif, dan R & D. Bandung: CV. Alfabeta.

Suparni. 2014. Pengaruh Kepe-mimpinan yang Efektif. Jur-nal Administrasi


Pendidikan (Bahana Manajemen Pen-didikan). Vol. 2, No. 1, hal. 729-
831.

Susanty, A. dan Baskoro, S. W. 2012. Pengaruh Motivasi Ker-ja dan Gaya


Kepemimpinan terhadap Disiplin Kerja serta Dampaknya pada Kinerja
Kar-yawan (Studi Kasus pada PT. PLN APD Semarang). Jurnal Teknologi
Informasi. Vol. VII, No. 2.
Wibowo. 2011. Manajemen Kinerja. Jakarta: Rajawali Pers.

12
1