Anda di halaman 1dari 44

124

Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

DOSEN
SEPTI MUHARNI M,Farm.APT

ISRA FAUZIA
NIM : 1800269

PROGRAM STUDI DIPLOMA III


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
YAYASAN UNIV. RIAU
2018
125
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

MATA KULIAH : FARMASI KLINIK


NAMA : ISRA FAUZIA
NIM : 1800269
KELAS : RPL SUMBAR

Farmasi Rumah Sakit dan Klinik 


Tentang Asuhan Kefarmasian
Tes 1
1. Penggunaan antibiotik harus diminum sampai habis selama satu kurum pengobatan,
meskipun gejala klinik sudah mereda atau menghilang sama sekali, adalah DRP yang
termasuk dalam klasifikasi ....
A. Durasi obat
B. Frekuensi obat
C. Indikasi obat
D. Keamanan

2 . Reaksi idiosinkratik atau reaksi imunologi yang ditimbulkan obat adalah kejadian ADR
tipe ....
A. Tipe A
B. Tipe B
C. Tipe C
D. Tipe D

3. Peristiwa di mana kerja obat dipengaruhi oleh obat lain atau makanan dan minuman
yang diberikan bersamaan atau hampir bersamaan disebut ....
A. Efek samping obat
B. Reaksi obat merugikan
C. Interaksi obat
D. Kejadian obat merugikan

4. Penggunaan …. harus diminum sampai habis selama satu kurun pengobatan, meskipun
gejala klinik sudah mereda atau menghilang sama sekali ....
A. Analgetika
B. Antihistamin
C. Antihipertensi
D. Antibiotik

5. sebagai suatu praktik pelayanan kefarmasian di mana farmasis bertanggung jawab


terhadap terapi obat yang digunakan pasien dan mempunyai komitmen dan integritas
terhadap praktik tersebut
A. Asuhan kefarmasian
B. Asuhan kebidanan
C. Asuhan keperawatan
D. Asuhan fisioterapi

6. Reaksi idiosinkratik atau reaksi imunologi yang termasuk reaksi tipe II adalah ....
A. Anafilaktik
B. Sitotoksik
C. Serum
126
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

D. Darah

7. Peristiwa atau keadaan yang menyertai terapi obat yang aktual atau potensial
bertentangan dengan kemampuan pasien untuk mencapai outcome medik yang
optimal disebut ....
A. DRP
B. ADR
C. MESO
D. ME

8. Jumlah obat yang diberikan lebih dari yang diperlukan untuk pengobatan penyakit dan
dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan disebut ....
A. Terapeutik
B. Polifarmasi
C. Asuhan kefarmasin
D. Subterapi

9. Yang bukan termasuk kategori DRP adalah ....


A. Ada indikasi yang tidak diterapi
B. Pemilihan obat yang salah
C. Dosis subterapi
D. Penggunaan obat indikasi

10. Asuhan kefarmasian (Pharmaceutical care) adalah tanggung jawab langsung farmasis
pada pelayanan yang berhubungan dengan pengobatan pasien dengan tujuan
mencapai hasil yang ditetapkan yang memperbaiki ....
A. Kualitas hidup pasien
B. Kualitas kesejahteraan pasien
C. Kualitas sakit pasien
D. Kualitas tempat tinggal pasien
127
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

Tes 2
1. Pemakaian obat untuk indikasi yang keliru, diagnosis tepat tetapi obatnya keliru,
pemberian obat ke pasien salah. Juga pemakaian obat tanpa memperhitungkan kondisi
lain yang diderita bersamaan disebut ....
A. Peresepan majemuk
B. Peresepan yang salah
C. Peresepan boros
D. Peresepan berlebihan

2. Dalam pengkajian resep, nama obat, bentuk dan kekuatan sediaan adalah bentuk
persyaratan ....
A. Persyaratan klinik
B. Persyaratan farmasetik
C. Persyaratan administrasi
D. Persyaratan laboratorium

3. Bagian yang termasuk dalam persyaratan klinik pada pengkajian resep adalah ....
A. Alamat pasien
B. Nama obat
C. Alergi dan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD)
D. Kekuatan sediaan

4. Penyerahan obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan cara yang baik dan
sopan, mengingat pasien dalam kondisi tidak sehat mungkin …. kurang stabil.
A. Etika
B. Perilaku
C. Sifat
D. Emosi

5. Peresepan …. yakni peresepan dengan obat yang lebih mahal padahal ada alternatif
yang lebih murah dengan manfaat dan keamanan yang sama
A. Peresepan majemuk
B. Peresepan yang salah
C. Peresepan boros
D. Peresepan berlebihan

6.Yang bukan faktor penyebab Medication Errors adalah sebagai berikut:


A. Kurangnya pengetahuan tentang obat
B. Kurangnya informasi tentang pasien
C. Kesalahan dan kehilangan arsip
D. Kesalahan pada pasien

7.Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat ke pasien
yang mengacu kepada ....
A. Pharmaceutical Care
B. Nurse Care
C. Home Care
D. Medical Care

8.Kesalahan yang terjadi bisa karena peresepan yang salah, dan itu terjadi karena
kesalahan dalam proses pengambilan keputusan disebut ....
128
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

A. Medication safety
B. Medication Error
C. Medication Incident
D. Side Effect

9. Pemakaian …. yang terdapat dalam resep memberikan manfaat yang didapat tidak
sebanding dengan kemungkinan risiko yang disandang pasien atau biaya yang harus
dikeluarkan
A. Obat tidak rasional
B. Obat rasional
C. Obat bebas
D. Obat keras

10. Pasien harus jelas tentang saat minum obat, cara minum obat, misalnya obat diminum
3 kali (pagi, siang dan malam, sesudah/sebelum makan), cara menyimpannya, apa
yang harus dilakukan bila ada masalah. Maka pasien tersebut harus diberikan ....
A. Instruksi/informasi
B. Peringatan
C. Kunjungan
D. Nasihat
129
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

1. Jelaskan pengertian efek samping obat!


Jawab :
Efek samping adalah efek obat yang tidak dikehendaki yang merugikan atau
membahayakan pasien (adverse drug reactions) dari suatu pengobatan. Efek samping
tidak mungkin dihindari/dihilangkan sama sekali, tetapi dapat ditekan atau dicegah
seminimal mungkin dengan menghindari faktor risiko yang sebagian besar sudah
diketahui.

2. Jelaskan bagaimana pemantauan dan evaluasi penggunaan obat secara langsung!


Jawab:
Pemantauan penggunaan obat dapat dilakukan secara langsung maupun tidak
langsung. Pemantauan Secara Langsung dilakukan dengan mengamati proses pengobatan
mulai dari anamnesis, pemeriksaan, peresepan, hingga penyerahan obat ke pasien.

3. Jelaskanbagaimana monitoring efek samping obat!


Jawab:
Efek samping yang tidak dapat diperkirakan merupakan efek samping yang sering
terjadi,dan terjadi akibat reaksi imunologik. Reaksi ini tidak dapat diperkirakan sebelumnya,
sering kali sama sekali tidak tergantung dosis, dan terjadi hanya pada sebagian kecil dari
populasi yang menggunakan suatu obat. Reaksinya dapat bervariasi dari bentuk yang
ringan seperti reaksi kulit eritema sampai yang paling berat berupa syok anafilaksi yang
bisa fatal.
130
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

Tes 3

1. Mekanisme terjadinya alergi yang disebabkan karena reaksi anafilaksis termasuk reaksi
alergi tipe ....
A. Tipe I
B. Tipe II
C. Tipe III
D. Tipe IV

2. Indikator peresepan yang akan dinilai dalam pemantauan dan evaluasi penggunaan
obat yang rasional adalah ....
A. Rata-rata jumlah obat per keluarga
B. Persentase penggunaan antibiotik
C. Persentase penggunaan alkes
D. Persentase penggunaan obat paten

3. Obat yang paling sering ditemukan menyebabkan iritasi pada lambung ....
A. Analgetik-antipiretik
B. Antihistamin
C. Rifampicin
D. Domperidon

4. Efek samping dari obat penisilin ....


A. Reaksi alergi akut
B. Hipoglikemia
C. osteoporosis
D. Fokomelia

5. Upaya pencegahan agar kejadian efek samping dapat ditekan serendah mungkin
adalah kecuali ....
A. Hindari pengobatan dengan berbagai jenis obat dan kombinasi sekaligus
B. Berikan perhatian khusus terhadap dosis dan respons pengobatan
C. segera hentikan obat bila dirasa tidak perlu lagi
D. Segera ke dokter

6. Penggunaan obat yang berlebih dalam resep disebut ....


A. Over prescribing
B. Under prescribing
C. Multiple prescribing
D. Incorrect prescribing

7. Cara pencatatan dan pelaporan pada status pasien yang akan dilakukan pemantauan
dan evaluasi penggunaan obat adalah ....
A. Kolom anamnesis/pemeriksaan
B. Kolom diagnosis
C. Kolom terapi
D. Kolom MESO
8. Manifestasi efek samping karena alergi yang akan dihadapi oleh klinisi berupa
eritema, urtikaria, vaskulitis kutaneus, purpura, eritroderma dan dermatitis eksfoliatif,
fotosensitifitas, erupsi termasuk dalam golongan pada ....
131
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

A. Demam
B. Ruam kulit (skin rashes)
C. Penyakit jaringan ikat
D. Gangguan sistem darah

9. Yang bukan komponen Pemantauan Penggunaan Obat ....


A. Kecocokan antara gejala/tanda-tanda
B. Kesesuaian antara pengobatan
C. Pemakaian obat tanpa indikasi
D. Pemakaian obat tunggal
10. Efek Samping Obat adalah kepanjangan dari ....
A. ESO
B. MESO
C. MOSE
D. ADR
132
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

Farmasi Rumah Sakit dan Klinik 


Tentang P I O

Tes 1
1. Yang bukan sasaran PIO adalah ....
A. Farmasis
B. Dokter
C. Sanitarian
D. Perawat
2. Pustaka utama yang digunakan sebagai sumber informasi obat adalah ....
A. Pustaka primer
B. Pustaka sekunder
C. Pustaka tersier
D. Pustaka quarter
3. Setelah terjadi interaksi antara penanya dan pemberi jawaban, maka kegiatan tersebut
harus ....
A. Dibuang saja
B. Dibagikan ke pasien tersebut
C. Disebarluaskan
D. Didokumentasikan
4. Yang tidak termasuk kegiatan PIO adalah ....
A. Mendistribusikan obat yang akan digunakan pasien rawat inap
B. Menjawab pertanyaan
C. Menerbitkan buletin, leaflet, poster, newsletter
D. Menyediakan informasi bagi Panitia Farmasi dan Terapi sehubungan dengan
penyusunan Formularium Rumah Sakit
5. Pelayanan informasi obat oleh farmasis pada hakikatnya adalah aplikasi dari ilmu ....
A. Etika
B. Komunikasi
C. Sosial
D. Manajemen
6. Yang bukan 3 pertanyaan dasar yang disampaikan kepada pasien sebelum melakukan
PIO adalah ....
A. apa yang telah dokter katakan tentang obat Anda?
B. apa yang dokter jelaskan tentang harapan setelah minum obat ini?
C. bagaimana penjelasan dokter tentang cara minum obat ini?
D. apa dokter jelaskan tentang harga obat yang Anda akan beli
7. Sumber informasi obat yang termasuk kategori pustaka primer adalah ....
A. Medline yang berisi abstrak-abstrak tentang terapi obat
B. Laporan kasus
C. International Pharmaceutikal Abstract yang berisi abstrak penelitian kefarmasian
D. Poster, leaflet
8. Pelayanan informasi obat (PIO) dilatarbelakangi oleh ....
A. sumber informasi obat yang kurang
B. banyaknya jumlah obat yang ada di pasaran
C. Terbatasnya jumlah tenaga kesehatan di RS
D. harga obat terlalu mahal
9. Yang tidak termasuk ruang lingkup PIO adalah ....
A. pelayanan informasi obat untuk mendukung kegiatan panitia farmasi dan terapi
B. pelayanan informasi obat dalam bentuk publikasi
C. pelayanan informasi obat untuk edukasi
D. pelayanan informasi obat untuk fasilitas ruangan di RS
133
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

10. Kegiatan penyediaan dan pemberian informasi, rekomendasi obat yang independen,
akurat, tidak bias, terkini dan komprehensif yang dilakukan oleh farmasis disebut ....
A. PIO
B. EPO
C. PKMRS
D. MESO
134
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

Farmasi Rumah Sakit dan Klinik 


Tentang Kepatuhan Pasien
Tes 2
1. Tingkat perilaku seseorang dalam menjalankan pengobatan sesuai dengan persetujuan
yang telah disepakati oleh pasien dan petugas kesehatan disebut ....
A. Adherence
B. Corcondance
C. Persistence
D. Compliance
2. Pengobatan yang terlalu lama mengakibatkan pasien lupa minum obat dan bosan,
sehingga kadar obat dalam darah tidak adekuat adalah pasien …. yang tidak patuh
minum obat
A. TBC
B. Infeksi
C. Epilepsi
D. Hipertensi
3. Cara mendeteksi ketidakpatuhan pasien secara tidak langsung dapat dilakukan
dengan ....
A. Pemantauan kadar obat dalam darah
B. Menghitung sisa obat
C. Pemantauan kadar metabolit obat atau senyawa pelacak dalam urin
D. Menghitung sisa harga obat yang belum diambil
4. Contoh ketidakpatuhan pasien kecuali ....
A. Penghentian obat sebelum waktunya, kasus penggunaan antibiotik
B. Melalaikan dosis, 3 × 1 menjadi 2 × 1
C. Kesalahan dosis, sendok makan (15 ml) diberikan “sendok untuk makan yang
biasa digunakan pada waktu makan “ (7-8 ml)
D. Harga obat terlalu murah jadi tidak berkualitas
5. Usia, jenis kelamin, suku bangsa, status sosioekonomi dan pendidikan merupakan
variabel …. yang mempengaruhi tingkat kepatuhan
A. Penyakit
B. Demografi
C. Program Terapeutik
D. Psikososial
6. Cara menanggulangi ketidakpatuhan pasien adalah ....
A. Kenali kebiasaan penderita
B. Kenali status keluarga
C. Kenali status sosialekonomi
D. Kenali kebiasaan hidup
7. Penggunaan obat yang paling sering mengakibatkan ketidakpatuhan adalah ....
A. Asam Mefenamat
B. Vitamin C
C. Parasetamol
D. Fenitoin
8. Penghentian obat sebelum waktunya, merupakan kasus ketidakpatuhan
penggunaan ....
A. Antihipertensi
B. Antibiotik
C. Antiemesis
D. Antiplatelet
9. Yang tidak termasuk faktor yang perlu diperhatikan untuk menghindari ketidak
patuhan pasien adalah ....
135
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

A. Penyakit pasien
B. Individu pasien
C. Sikap dokter
D. Harga obat
10. Pasien lupa minum obat merupakan jenis ketidakpatuhan ....
A. Disengaja
B. Ditolerir
C. Diabaikan
D. Tidak disengaja
136
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

Farmasi Rumah Sakit dan Klinik 


Tentang Skrining resep

Tes 2
1. Bukan merupakan unsur dari sebuah resep adalah ....
A. Signatura
B. Subcriptio
C. Inscriptio
D. abrubtio
2. Tanda buka penulisan resep dengan R/ disebut dengan ....
A. Invecatio
B. Ordinatio
C. Abrubtio
D. praescriptio
3. berikut ini merupakan pertimbangan klinis dalam skrining resep adalah ....
A. bentuk sediaan
B. inkompatibilitas
C. interaksi obat
D. dosis
4. Arti tanda statim dalam resep obat adalah ....
A. Segera
B. Penting
C. Penting sekali
D. Bahaya bila ditunda
5. Urutan yang didahulukan dalam resep dari yang paling penting adalah ....
A. Statim- Cito-PIM
B. PIM-Cito-Statim
C. PIM-Statim-Cito
D. Cito-PIM-Statim
6. Jangka waktu resep yang boleh dimusnahkan adalah ....
A. 1 tahun
B. 3 Tahun
C. 5 Tahun
D. 10 Tahun
7. peresepan yang jumlah, dosis dan lama pemberian obat melebihi ketentuan serta
peresepan obat yang secara medik tidak atau kurang diperlukan disebut dengan ....
A. over prescribing
B. Extravagant Prescribing
C. incorrect prescribing
D. multiple prescribing
8. obat yang diperlukan tidak diresepkan, dosis obat tidak cukup, dan lama pemberian
obat terlalu pendek waktunya disebut dengan ....
A. over prescribing
B. under prescribing
C. multiple prescribing
D. prescribing
9. komposisi resep yang ditulis sendiri oleh dokter berdasarkan pengetahuan dan
pengalamannya disebut sebagai ....
A. tipe magistralis
B. tipe officinalis
C. tipe misionalis
D. tipe Literalis
137
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

10. tanda Iter dalam resep berarti ....


A. resep megandung narkotika
B. dosis obat sengaja dilampaui
C. dosis obat sengaja dikurangi
D. resep dapat diulang
138
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

Farmasi Rumah Sakit dan Klinik 


Tentang Keselamatan Pasien

Tes 2
1. Kejadian yang tidak dapat dihindari dan menyebabkan proses penggunaan obat yang
tidak tepat, kejadian efek samping dan reaksi obat merugikan sehingga dapat
membahayakan kondisi pasien disebut ....
A. Kesalahan pengobatan
B. Keselamatan pasien
C. Kejadian pengobatan
D. Keamanan pengobatan
2. Proses terhindarnya atau jaminan masyarakat dari efek yang merugikan obat
disebut ....
A. Kesalahan pengobatan
B. Keselamatan pasien
C. Kejadian pengobatan
D. Keamanan pengobatan

3. Indeks kategori kesalahan pengobatan yang dibuat oleh NCCMERP yang


mengakibatkan terjadi kesalahan dan pasien harus dirawat lebih lama di rumah sakit
serta memberikan efek buruk yang sifatnya sementara ....
A. Kategori E
B. Kategori F
C. Kategori C
D. Kategori A
4. Sasaran yang berkaitan kesalahan yang mengakibatkan kecacatan atau kematian yang
ditinjau dari aspek keamanan obat yang perlu diwaspadai adalah ....
A. Sasaran 1
B. Sasaran 2
C. Sasaran 3
D. Sasaran 4
5. Kondisi yang bukan menjadi penyebab terjadinya kesalahan pemberian obat adalah ....
A. Kurangnya biaya pengobatan
B. Kesalahan membaca resep
C. Tidak cukup informasi
D. Salah dosis
6. Contoh obat yang tergolong Nama Obat Rupa Ucapan Mirip (NORUM) adalah ....
A. Losec dan Lasix
B. Antalgin dan parasetamol
C. Amoksisilin dan Ciprofoksasin
D. Asam mefenamat dan ibuprofen

7. Patient safety (keselamatan pasien) adalah pasien bebas dari …. yang termasuk di
dalamnya adalah penyakit, cedera fisik, psikologis, sosial, penderitaan, cacat,
kematian, dan lain-lain yang seharusnya tidak seharusnya terjadi atau cedera yang
potensial, terkait dengan pelayanan kesehatan ....
A. Administrasi
B. Biaya
C. Cedera
D. Luka
8. Semua kejadian yang terjadi berkaitan dengan pengobatan ....
A. Kesalahan pengobatan
139
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

B. Keselamatan pasien
C. Kejadian pengobatan
D. Keamanan pengobatan
9. Pengawasan aspek keamanan obat senantiasa dilakukan dengan pendekatan …. di
setiap tahap perjalanan atau siklus obat.
A. Manajemen risiko
B. Manajemen biaya
C. Manajemen efektivitas
D. Manajemen asuransi kesehatan
10. Efek yang tidak diinginkan dari obat yang sebelumnya sudah diramalkan sebelumnya
dan dalam batas dosis normal disebut ....
A. Penggunaan terapi obat
B. Evaluasi penggunaan obat
C. Efek terapi obat
D. Efek samping obat
140
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

DAFTAR TILIK SKRINING RESEP (DTSR)


NAMA APOTEK :Puskesmas Sirukam
ALAMAT APOTEK :Jln Lintas Solok alahan Panjang KM 23
Kubang Duo
APOTEKER/TTK :Isra Fauzia

Nomor Kode Resep/Skrining : .7 Tanggal : 12 Maret 2019


Skrining 1 (Asal-usul Resep) Fakta
1. Dari Dokter : Istiqomah √ Valid Invalid Meragukan
2. Alamat dokter : Puskesmas Sirukam √ Valid, clear Invalid Meragukan
3. SIP Dokter : 445/52/DR/SDK/XII/2018 √ Valid Invalid Meragukan
√ Masih berlaku Kadaluwarsa
4. Td tgn/Paraf dokter : Ada √ Valid Invalid Meragukan
5. Tanggal penulisan 12 Maret 2019√ √ Valid Invalid Meragukan
Keputusan Apoteker √ Lolos Tolak
Skrining 2 (Asal-usul Pasien) Fakta
6. Nama Pasien : Preston √ Valid Invalid Meragukan
7. Umur Pasien : 17 tahun √ Valid Invalid Meragukan
8. Jenis kelamin : Laki-laki / √ OKE
9. Berat Badan (tuliskan) : Valid √ Invalid Meragukan
10. Tinggi Badan : Valid √ Invalid Meragukan
(tuliskan)
11. Alamat Jelas : Kubang Duo (Barupindahkan ke PMR)
(tuliskan)
Keputusan Apoteker √ Lolos Tolak
Skrining 3 (Obat-obat yang diminta)
Btk. Dosis
12. Nama dagang Nama Generik Kekuatan Dosis Jumlah
Sediaan Terapi
Ranitidine tab 150 2x1 6
Antasida tab 3x1 10

Skrining 4 (Spesifikasi Permintaan) Fakta Permintaan


13. Permintaan Cara Pakai Obat Ranitidine tab diberikan oral
141
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

Antasida tab diberikan oral


14. Permintaan Aturan Pakai Obat Ranitidine tab dosis 2X1
Antasida tab dosis 3 X 1
15. Permintaan Cara penyiapan Obat
16. Informasi khusus/lainnya Tidak Ada √ Ada, sebutkan Antasida dikunyah 15- 30 menit sebelum makan

Skrining 5 (Analisis Kesesuaian Farmasetis)  Sesuaikan dengan Skrining 4


17. Kesesuaian bentuk sediaan dan stabilitas obat √ Sesuai Tidak sesuai
18. Kesesuaian antara potensi dan dosis √ Sesuai Tidak sesuai
19. Inkompatibilitas √ Kompatibel Inkompatibel
20. Cara Pakai Obat √ Benar Tidak benar
21. Aturan Pakai Obat dan Lama Pemberian √ Benar Tidak benar
Sikap Apoteker Hasil komunikasi
22. Konfirmasi ke dokter Ya, Perlu
23. Komunikasi ke pasien Ya, perlu
Keputusan Apoteker √ Lanjut Ditunda Ditolak
Skrining 6 (Analisis Pertimbangan Klinis)  Sandingkan dengan PMR Pasien pada kunjungan2 sebelumnya
24. Adanya riwayat alergi pada pasien Ada √ Tidak ada
25. Reaksi atas efek samping penggunaan Ada / Pernah √ Tdk Ada / Tdk Pernah
26. Interaksi antar komponen obat Ada masalah √ Tdk ada masalah
27. Kesesuaian dosis dengan kondisi pasien Sesuai √ Tidak sesuai
28. Hal-hal khusus terhadap pasien √ Tidak ada Ada, sebutkan
Sikap Apoteker Hasil komunikasi
29. Konfirmasi ke dokter Ya, Perlu
30. Komunikasi ke pasien Ya, perlu
Keputusan Apoteker √ Lanjut Ditunda Ditolak
Catatan
Tambahan

DAFTAR TILIK SKRINING RESEP (DTSR)


NAMA APOTEK :Puskesmas Sirukam
142
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

ALAMAT APOTEK :Jln Lintas Solok alahan Panjang KM 23


Kubang Duo
APOTEKER/TTK :Isra Fauzia

Nomor Kode Resep/Skrining : .5 Tanggal : 12 Maret 2019


Skrining 1 (Asal-usul Resep) Fakta
1. Dari Dokter : Istiqomah √ Valid Invalid Meragukan
2. Alamat dokter : Puskesmas Sirukam √ Valid, clear Invalid Meragukan
3. SIP Dokter : 445/52/DR/SDK/XII/2018 √ Valid Invalid Meragukan
√ Masih berlaku Kadaluwarsa
4. Td tgn/Paraf dokter : Ada √ Valid Invalid Meragukan
5. Tanggal penulisan 12 Maret 2019√ √ Valid Invalid Meragukan
Keputusan Apoteker √ Lolos Tolak
Skrining 2 (Asal-usul Pasien) Fakta
6. Nama Pasien : Susanti √ Valid Invalid Meragukan
7. Umur Pasien : 45 tahun √ Valid Invalid Meragukan
8. Jenis kelamin : Perempuan √ OKE
9. Berat Badan : Valid √ Invalid Meragukan
(tuliskan)
10. Tinggi Badan : Valid √ Invalid Meragukan
(tuliskan)
11. Alamat Jelas : Lubuak Pulai (Barupindahkan ke PMR)
(tuliskan)
Keputusan Apoteker √ Lolos Tolak
Skrining 3 (Obat-obat yang diminta)
Btk. Dosis
12. Nama dagang Nama Generik Kekuatan Dosis Jumlah
Sediaan Terapi
Acetyl sistein tab 2x1 6
Vitamin B Complek tab 3x1 10

Skrining 4 (Spesifikasi Permintaan) Fakta Permintaan


13. Permintaan Cara Pakai Obat Acetyl sistein tab diberikan oral
Vitamin B Complek tab diberikan oral
14. Permintaan Aturan Pakai Obat Acetyl sistein tab dosis 2X1
Vitamin B Complek tab dosis 3 X 1
15. Permintaan Cara penyiapan Obat
16. Informasi khusus/lainnya √ Tidak Ada Ada, sebutkan

Skrining 5 (Analisis Kesesuaian Farmasetis)  Sesuaikan dengan Skrining 4


143
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

17. Kesesuaian bentuk sediaan dan stabilitas obat √ Sesuai Tidak sesuai
18. Kesesuaian antara potensi dan dosis √ Sesuai Tidak sesuai
19. Inkompatibilitas √ Kompatibel Inkompatibel
20. Cara Pakai Obat √ Benar Tidak benar
21. Aturan Pakai Obat dan Lama Pemberian √ Benar Tidak benar
Sikap Apoteker Hasil komunikasi
22. Konfirmasi ke dokter Ya, Perlu
23. Komunikasi ke pasien Ya, perlu
Keputusan Apoteker √ Lanjut Ditunda Ditolak

Skrining 6 (Analisis Pertimbangan Klinis)  Sandingkan dengan PMR Pasien pada kunjungan2 sebelumnya
24. Adanya riwayat alergi pada pasien Ada √ Tidak ada
25. Reaksi atas efek samping penggunaan Ada / Pernah √ Tdk Ada / Tdk Pernah
26. Interaksi antar komponen obatg \ Ada masalah √ Tdk ada masalah
27. Kesesuaian dosis dengan kondisi pasien Sesuai √ Tidak sesuai
28. Hal-hal khusus terhadap pasien √ Tidak ada Ada, sebutkan
Sikap Apoteker Hasil komunikasi
29. Konfirmasi ke dokter Ya, Perlu
30. Komunikasi ke pasien Ya, perlu
Keputusan Apoteker √ Lanjut Ditunda Ditolak

Catatan
Tambahan

DAFTAR TILIK SKRINING RESEP (DTSR)


144
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

NAMA APOTEK :Puskesmas Sirukam


ALAMAT APOTEK :Jln Lintas Solok alahan Panjang KM 23
Kubang Duo
APOTEKER/TTK :Isra Fauzia

Nomor Kode Resep/Skrining : .3 Tanggal : 12 Maret 2019


145
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

Skrining 1 (Asal-usul Resep) Fakta


1. Dari Dokter : Istiqomah √ Valid Invalid Meragukan
2. Alamat dokter : Puskesmas Sirukam √ Valid, clear Invalid Meragukan
3. SIP Dokter : 445/52/DR/SDK/XII/2018 √ Valid Invalid Meragukan
√ Masih berlaku Kadaluwarsa
4. Td tgn/Paraf dokter : Ada √ Valid Invalid Meragukan
5. Tanggal penulisan 12 Maret 2019√ √ Valid Invalid Meragukan
Keputusan Apoteker √ Lolos Tolak
Skrining 2 (Asal-usul Pasien) Fakta
6. Nama Pasien : Yurni √ Valid Invalid Meragukan
7. Umur Pasien : 35 tahun √ Valid Invalid Meragukan
8. Jenis kelamin : Perempuan √ OKE
9. Berat Badan : Valid √ Invalid Meragukan
(tuliskan)
10. Tinggi Badan : Valid √ Invalid Meragukan
(tuliskan)
11. Alamat Jelas : Supayang (Barupindahkan ke PMR)
(tuliskan)
Keputusan Apoteker √ Lolos Tolak
Skrining 3 (Obat-obat yang diminta)
Btk. Dosis
12. Nama dagang Nama Generik Kekuatan Dosis Jumlah
Sediaan Terapi
Amoxicillin 500 mg tab 500 mg 3x1 15
Asam Mefenamat 500 mg tab 500 mg 3x1 10
Dexametason tab 3x1 10

Skrining 4 (Spesifikasi Permintaan) Fakta Permintaan


13. Permintaan Cara Pakai Obat Amoxicillin 500 mg tab diberikan oral
Asam Mefenamat 500 mg tab diberikan oral
Dexametason tab diberikan oral
14. Permintaan Aturan Pakai Obat Amoxicillin 500 mg tab dosis 2X1
Asam Mefenamat 500 mg tab dosis 3 X 1
Dexametason tab diberikan oral
15. Permintaan Cara penyiapan Obat
16. Informasi khusus/lainnya Tidak Ada √ Ada, sebutkan Amoxicillin 500 mg dimakan setiap 8 jam dianjurkan
minum jam 14.00 – 22.00- 06.00 dan dihabiskan
Skrining 5 (Analisis Kesesuaian Farmasetis)  Sesuaikan dengan Skrining 4
17. Kesesuaian bentuk sediaan dan stabilitas obat √ Sesuai Tidak sesuai
18. Kesesuaian antara potensi dan dosis √ Sesuai Tidak sesuai
19. Inkompatibilitas √ Kompatibel Inkompatibel
20. Cara Pakai Obat √ Benar Tidak benar
21. Aturan Pakai Obat dan Lama Pemberian √ Benar Tidak benar
Sikap Apoteker Hasil komunikasi
22. Konfirmasi ke dokter Ya, Perlu
23. Komunikasi ke pasien Ya, perlu
Keputusan Apoteker √ Lanjut Ditunda Ditolak

Skrining 6 (Analisis Pertimbangan Klinis)  Sandingkan dengan PMR Pasien pada kunjungan2 sebelumnya
24. Adanya riwayat alergi pada pasien Ada √ Tidak ada
25. Reaksi atas efek samping penggunaan Ada / Pernah √ Tdk Ada / Tdk Pernah
26. Interaksi antar komponen obat Ada masalah √ Tdk ada masalah
27. Kesesuaian dosis dengan kondisi pasien Sesuai √ Tidak sesuai
28. Hal-hal khusus terhadap pasien √ Tidak ada Ada, sebutkan
Sikap Apoteker Hasil komunikasi
29. Konfirmasi ke dokter Ya, Perlu
30. Komunikasi ke pasien Ya, perlu
Keputusan Apoteker √ Lanjut Ditunda Ditolak
Catatan
Tambahan
146
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

DAFTAR TILIK SKRINING RESEP (DTSR)


NAMA APOTEK :Puskesmas Sirukam
ALAMAT APOTEK :Jln Lintas Solok alahan Panjang KM 23
Kubang Duo
APOTEKER/TTK :Isra Fauzia

Nomor Kode Resep/Skrining : 10 Tanggal : 12 Maret 2019


Skrining 1 (Asal-usul Resep) Fakta
1. Dari Dokter : Istiqomah √ Valid Invalid Meragukan
2. Alamat dokter : Puskesmas Sirukam √ Valid, clear Invalid Meragukan
3. SIP Dokter : 445/52/DR/SDK/XII/2018 √ Valid Invalid Meragukan
√ Masih berlaku Kadaluwarsa
4. Td tgn/Paraf dokter : Ada √ Valid Invalid Meragukan
5. Tanggal penulisan 12 Maret 2019√ √ Valid Invalid Meragukan
Keputusan Apoteker √ Lolos Tolak
Skrining 2 (Asal-usul Pasien) Fakta
6. Nama Pasien : Reina √ Valid Invalid Meragukan
7. Umur Pasien : 4 tahun √ Valid Invalid Meragukan
8. Jenis kelamin : Perempuan √ OKE
9. Berat Badan : Valid √ Invalid Meragukan
(tuliskan)
10. Tinggi Badan : Valid √ Invalid Meragukan
(tuliskan)
11. Alamat Jelas : Ganting (Barupindahkan ke PMR)
(tuliskan)
Keputusan Apoteker √ Lolos Tolak
Skrining 3 (Obat-obat yang diminta)
Btk. Dosis
12. Nama dagang Nama Generik Kekuatan Dosis Jumlah
Sediaan Terapi
Paracetamol tab 500 mg 3x1 3
CTM tab 3x1 3
Amoxicillin syr 3x1 1
147
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

Skrining 4 (Spesifikasi Permintaan) Fakta Permintaan


13. Permintaan Cara Pakai Obat Paracetamol tab diberikan oral
CTM tab diberikan oral
Amoxicillin syr diberikan oral
14. Permintaan Aturan Pakai Obat Paracetamol tab dosis 3X1
CTM tab dosis 3 X 1
Amoxicillin syr diberikan oral dosis 3x1
15. Permintaan Cara penyiapan Obat
16. Informasi khusus/lainnya Tidak Ada √ Ada, sebutkan Amoxicillin syr dimakan setiap 8 jam dianjurkan
minum jam 14.00 – 22.00- 06.00 dan dihabiskan jika
lebih daari 1 minggu belum habis obatnya dibuang
Skrining 5 (Analisis Kesesuaian Farmasetis)  Sesuaikan dengan Skrining 4
17. Kesesuaian bentuk sediaan dan stabilitas obat √ Sesuai Tidak sesuai
18. Kesesuaian antara potensi dan dosis √ Sesuai Tidak sesuai
19. Inkompatibilitas √ Kompatibel Inkompatibel
20. Cara Pakai Obat √ Benar Tidak benar
21. Aturan Pakai Obat dan Lama Pemberian √ Benar Tidak benar
Sikap Apoteker Hasil komunikasi
22. Konfirmasi ke dokter Ya, Perlu
23. Komunikasi ke pasien Ya, perlu
Keputusan Apoteker √ Lanjut Ditunda Ditolak

Skrining 6 (Analisis Pertimbangan Klinis)  Sandingkan dengan PMR Pasien pada kunjungan2 sebelumnya
24. Adanya riwayat alergi pada pasien Ada √ Tidak ada
25. Reaksi atas efek samping penggunaan Ada / Pernah √ Tdk Ada / Tdk Pernah
26. Interaksi antar komponen obat Ada masalah √ Tdk ada masalah
27. Kesesuaian dosis dengan kondisi pasien Sesuai √ Tidak sesuai
28. Hal-hal khusus terhadap pasien √ Tidak ada Ada, sebutkan
Sikap Apoteker Hasil komunikasi
29. Konfirmasi ke dokter Ya, Perlu
30. Komunikasi ke pasien Ya, perlu
Keputusan Apoteker √ Lanjut Ditunda Ditolak

Catatan
Tambahan

DAFTAR TILIK SKRINING RESEP (DTSR)


NAMA APOTEK :Puskesmas Sirukam
148
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

ALAMAT APOTEK :Jln Lintas Solok alahan Panjang KM 23


Kubang Duo
APOTEKER/TTK :Isra Fauzia

Nomor Kode Resep/Skrining : 10 Tanggal : 12 Maret 2019


Skrining 1 (Asal-usul Resep) Fakta
1. Dari Dokter : Istiqomah √ Valid Invalid Meragukan
2. Alamat dokter : Puskesmas Sirukam √ Valid, clear Invalid Meragukan
3. SIP Dokter : 445/52/DR/SDK/XII/2018 √ Valid Invalid Meragukan
√ Masih berlaku Kadaluwarsa
4. Td tgn/Paraf dokter : Ada √ Valid Invalid Meragukan
5. Tanggal penulisan 12 Maret 2019√ √ Valid Invalid Meragukan
Keputusan Apoteker √ Lolos Tolak
Skrining 2 (Asal-usul Pasien) Fakta
6. Nama Pasien : Zubaidah √ Valid Invalid Meragukan
7. Umur Pasien : 55 tahun √ Valid Invalid Meragukan
8. Jenis kelamin : Perempuan √ OKE
9. Berat Badan : Valid √ Invalid Meragukan
(tuliskan)
10. Tinggi Badan : Valid √ Invalid Meragukan
(tuliskan)
11. Alamat Jelas : Kubang Duo (Barupindahkan ke PMR)
(tuliskan)
Keputusan Apoteker √ Lolos Tolak
Skrining 3 (Obat-obat yang diminta)
Btk. Dosis
12. Nama dagang Nama Generik Kekuatan Dosis Jumlah
Sediaan Terapi
Na Diclofenac tab 50 mg 1x1 4
Metil Prednison tab 3x1 9

Skrining 4 (Spesifikasi Permintaan) Fakta Permintaan


13. Permintaan Cara Pakai Obat Na Diclofenac tab diberikan oral
Metil Prednison tab diberikan oral

14. Permintaan Aturan Pakai Obat Na Diclofenac tab dosis 1X1


Metil Prednison tab dosis 3 X 1

15. Permintaan Cara penyiapan Obat


16. Informasi khusus/lainnya √ Tidak Ada Ada, sebutkan

Skrining 5 (Analisis Kesesuaian Farmasetis)  Sesuaikan dengan Skrining 4


149
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

17. Kesesuaian bentuk sediaan dan stabilitas obat √ Sesuai Tidak sesuai
18. Kesesuaian antara potensi dan dosis √ Sesuai Tidak sesuai
19. Inkompatibilitas √ Kompatibel Inkompatibel
20. Cara Pakai Obat √ Benar Tidak benar
21. Aturan Pakai Obat dan Lama Pemberian √ Benar Tidak benar
Sikap Apoteker Hasil komunikasi
22. Konfirmasi ke dokter Ya, Perlu
23. Komunikasi ke pasien Ya, perlu
Keputusan Apoteker √ Lanjut Ditunda Ditolak

Skrining 6 (Analisis Pertimbangan Klinis)  Sandingkan dengan PMR Pasien pada kunjungan2 sebelumnya
24. Adanya riwayat alergi pada pasien Ada √ Tidak ada
25. Reaksi atas efek samping penggunaan Ada / Pernah √ Tdk Ada / Tdk Pernah
26. Interaksi antar komponen obat Ada masalah √ Tdk ada masalah
27. Kesesuaian dosis dengan kondisi pasien Sesuai √ Tidak sesuai
28. Hal-hal khusus terhadap pasien √ Tidak ada Ada, sebutkan
Sikap Apoteker Hasil komunikasi
29. Konfirmasi ke dokter Ya, Perlu
30. Komunikasi ke pasien Ya, perlu
Keputusan Apoteker √ Lanjut Ditunda Ditolak
Catatan
Tambahan

ANTIBIOTIKA, RESISTENSI, DAN RASIONALITAS TERAPI

Eka Rahayu Utami


150
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

Fakultas Sains dan Tekhnologi UIN Maliki Malang.

Email: ekhoney_mom@yahoo.com

ABSTRACT

Bacterial resistance toward antibiotics has become international and serious problem.
Rasional therapy campaign has common recently, include correct medication, precise
dose, fix therapy periode and efficient cost. Microbes being resistance through some
different ways for live survival. Many things can cause this resistance. In the end, there
are a lot of harmful consequences in health, economic, also public health aspect.
Rational therapy, government regulation, and civil education become some crusial
point in bacterial resistance conquer strategy.

Keywords: antibiotics, resistance, rational therapy.

PENDAHULUAN masyarakat di Indonesia tidak

Antibiotika, yang pertama kali menggunakan antibiotika secara tepat.

ditemukan oleh Paul Ehlrich pada 1910, Ketika digunakan secara tepat,

sampai saat ini masih menjadi obat antibiotik memberikan manfaat yang

andalan dalam penanganan kasus-kasus tidak perlu diragukan lagi. Namun bila

penyakit infeksi. Pemakaiannya selama dipakai atau diresepkan secara tidak

5 dekade terakhir mengalami tepat (irrational prescribing) dapat

peningkatan yang luar biasa, hal ini menimbulkan kerugian yang luas dari

tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi segi kesehatan, ekonomi bahkan untuk

juga menjadi masalah di negara maju generasi mendatang.

seperti Amerika Serikat. The Center for Munculnya kuman-

Disease Control and Prevention in USA kuman patogen yang kebal terhadap

menyebutkan terdapat 50 juta peresepan satu (antimicrobacterial resistance)


antibiotik yang tidak diperlukan atau beberapa jenis antibiotika tertentu
(unnescecery prescribing) dari 150 juta (multiple drug resistance) sangat
peresepan setiap tahun (Akalin,2002). menyulitkan proses pengobatan.
Menurut Menteri Kesehatan Endang Pemakaian antibiotika lini pertama
Rahayu Sedyaningsih, sekitar 92 persen
dengan obat-obatan lini kedua atau berkembang jauh lebih cepat daripada
bahkan lini ketiga. Hal ini jelas akan penelitian dan penemuan antibiotika
merugikan pasien, karena antibiotika baru. Saat ini sedang digalakkan
lini kedua maupun lini ketiga masih kampanye dan sosialisasi pengobatan
sangat mahal harganya. Sayangnya, secara rasional yang meliputi
tidak tertutup kemungkinan juga terjadi pengobatan tepat, dosis tepat, lama
kekebalan kuman terhadap antibiotika penggunaan yang tepat serta biaya yang
lini kedua dan ketiga. Disisi lain, tepat. No action today, no cure
banyak penyakit infeksi yang merebak tomorrow.
karena pengaruh komunitas, baik
berupa epidemi yang berdiri sendiri di ANTIBIOTIKA DAN RESISTENSI
masyarakat (independent epidemic) Penemuan antibiotik diinisiasi
maupun sebagai sumber utama oleh Paul Ehrlich yang pertama kali
penularan di rumah sakit (nosocomial menemukan apa yang disebut “magic
infection). Apabila resistensi terhadap bullet’, yang dirancang untuk
pengobatan terus berlanjut tersebar menangani infeksi mikroba. Pada tahun
luas, dunia yang sangat telah maju dan 1910, Ehrlich menemukan antibiotika
canggih ini akan kembali ke masa-masa pertama, Salvarsan, yang digunakan
kegelapan kedokteran seperti sebelum untuk melawan syphilis. Ehrlich
ditemukannya antibiotika (APUA, kemudian diikuti oleh Alexander
2011). Fleming yang secara tidak sengaja
Hal-hal diatas telah menemukan penicillin pada tahun 1928.
menjadi permasalahan kesehatan di Tujuh tahun kemudian,Gerhard
seluruh dunia. Hingga akhirnya pada Domagk menemukan sulfa, yang
peringatan Hari Kesehatan membuka jalan penemuan obat anti TB,
Internasional tahun 2011, WHO isoniazid. Pada 1943, anti TB
menetapkan tema Antimicrobacterial pertama
Resistance and its Global Spread. ,streptomycin, ditemukan oleh Selkman
Sejalan dengan tema WHO, Indonesia Wakzman dan Albert Schatz. Wakzman
mengangkat tema “Gunakan Antibiotik pula orang pertama yang
Secara Tepat untuk Mencegah memperkenalkan
Kekebalan Kuman”. Resistensi kuman
terminologi antibiotik. Sejak saat itu
terhadap antibiotika
antibiotika ramai digunakan

SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-


2012 0699
klinisi untuk

SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-


2012 0699
126
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

menangani berbagai penyakit infeksi dari konsentrasi obat, spesies bakteri


(Zhang, 2007). dan fase perkembangannya. Manfaat
Antimikroba adalah obat yang dari pembagian ini berguna dalam hal
digunakan untuk memberantas infeksi pemilihan antibiotika, pada pasien
mikroba pada manusia. Sedang dengan status imunologi yang rendah
antibiotika adalah senyawa kimia yang (imunosuppressed) misalnya penderita
dihasilkan oleh mikroorganisme HIV-AIDS, pada pasien pembawa
(khususnya dihasilkan oleh fungi) atau kuman (carrier), pada pasien dengan
dihasilkan secara sintetik yang dapat kondisi sangat lemah (debilitated)
membunuh atau menghambat misalnya pada pasien-pasien end-stage,
perkembangan bakteri dan organisme maka harus dipilih antibiotika
lain (Munaf, 1994). bakterisid.
Secara garis besar antimikroba Terdapat pembagian lain dalam
dibagi menjadi dua jenis yaitu yang klasifikasi antibiotika, yaitu berdasar
membunuh kuman (bakterisid) dan yang cara kerja maupun spektrum kerjanya.
hanya menghambat pertumbuhan Penggunaan pembagian ini secara klinis
kuman (bakteriostatik). Antibiotik yang masih kurang bermanfaat. Dalam
termasuk golongan bakterisid antara prakteknya, klasifikasi yang paling
lain penisilin, sefalosporin, sering dipakai klinisi adalah berdasar
aminoglikosida (dosis besar), susunan senyawa kimia. Lebih sering
kotrimoksazol, rifampisin, isoniazid dipakai karena sifatnya yang praktis,
dan lain-lain. Sedangkan antibiotik nama obat yang dipakai langsung terkait
yang memiliki sifat bakteriostatik, dengan golongan senyawa kimia
dimana penggunaanya tergantung status masing-masing. Antibiotika yang dibagi
imunologi pasien, antara lain berdasar senyawa kimianya antara lain
sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, golongan penicillin, cephalosporin,
eritromisin, trimetropim, linkomisin, amfenikol, aminoglikosida, tetrasiklin,
klindamisin, asam paraaminosalisilat, makrolida, linkosamid, polipeptida, dan
dan lain-lain (Laurence & antimikobakterium.(kucers,use of
Bennet,1987). antibiotic)
Pembagian bakteriostatik dan Di samping antibiotika yang
bakterisid ini tidak absolut, tergantung telah disebutkan di atas, akhir-akhir ini

SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-


2012 0699
127
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

juga mulai diperkenalkan jenis-jenis menciptakan satu galur baru yang


baru dari golongan beta laktam resisten. Sayangnya, satu galur baru
misalnya kelompok monosiklik beta yang resisten ini bisa menyebar dari
laktam yakni aztreonam, yang terutama satu orang ke orang lain, memperbesar
aktif terhadap kuman Gram negatif, potensinya dalam proporsi epidemik.
termasuk pseudomonas. Juga antibiotika Penyebaran ini dipermudah oleh
karbapenem (misalnya imipenem) yang lemahnya control infeksi dan
dikatakan tahan terhadap penisilinase penggunaan antibiotika yang luas
dan aktif terhadap kuman-kuman Gram (Peterson, 2005)
positif dan Gram negatif. Resistensi didefinisikan sebagai
Antibiotika dapat ditemukan tidak terhambatnya pertumbuhan
dalam berbagai sediaan, dan bakteri dengan pemberian antibiotik
penggunaanya dapat melalui jalur secara sistemik dengan dosis normal
topical, oral, maupun intravena. yang seharusnya atau kadar hambat
Banyaknya jenis pembagian, minimalnya. Sedangkan multiple drugs
klasifikasi, pola kepekaan kuman, dan resistance didefinisikan sebagai
penemuan antibiotika baru seringkali resistensi terhadap daua atau lebih obat
menyulitkan klinisi dalam menentukan maupun klasifikasi obat. Sedangkan
pilihan antibiotika yang tepat ketika cross resistance adalah resistensi suatu
menangani suatu kasus penyakit. Hal ini obat yang diikuti dengan obat lain yang
juga merupakan salah satu faktor belum pernah dipaparkan (Tripathi,
pemicu terjadinya resistensi. 2003). Resistensi terjadi ketika bakteri
Tidak mengherankan apabila berubah dalam satu atau lain hal yang
bakteri dapat dengan mudah beradaptasi menyebabkan turun atau hilangnya
dengan paparan antibiotika, mengingat efektivitas obat, senyawa kimia atau
keberadaan dan perkembanganya telah bahan lainnya yang digunakan untuk
dimulai sejak kurang lebih 3,8 milyar mencegah atau mengobati infeksi.
tahun yang lalu. Resistensi pasti diawali Bakteri yang mampu bertahan hidup
adanya paparan antibiotika, dan dan berkembang biak, menimbulkan
meskipun hanya ada satu atau dua lebih banyak bahaya. Kepekaan bakteri
bakteri yang mampu bertahan hidup, terhadap kuman ditentukan oleh kadar
mereka punya peluang untuk hambat minimal yang dapat

SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-


2012 0699
128
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

menghentikan perkembangan bakteri tidak membutuhkan PABA

(Bari,2008). Timbulnya resistensi ekstraseluler,


terhadap suatu antibiotika terjadi
berdasarkan salah satu atau lebih
mekanisme berikut :
1. Bakteri mensintesis suatu enzim
inaktivator atau penghancur
antibiotika . Misalnya Stafilokoki,
resisten terhadap penisilin G
menghasilkan beta-laktamase, yang
merusak obat tersebut. Beta-
laktamase lain dihasilkan oleh bakteri
batang Gram-negatif.
2. Bakteri mengubah
permeabilitasnya terhadap obat.
Misalnya tetrasiklin, tertimbun dalam
bakteri yang rentan tetapi tidak pada
bakteri yang resisten. 3.Bakteri
mengembangkan suatu
perubahan struktur sasaran bagi obat.
Misalnya resistensi kromosom
terhadap aminoglikosida berhubungan
dengan hilangnya (atau perubahan)
protein spesifik pada subunit 30s
ribosom bakteri yang bertindak
sebagai reseptor pada organisme yang
rentan.
4. Bakteri mengembangkan perubahan

jalur metabolik yang langsung


dihambat oleh obat. Misalnya
beberapa bakteri yang resisten
terhadap sulfonamid

SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-


2012 0699
129
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

tetapi seperti sel mamalia dapat


menggunakan asam folat yang telah
dibentuk.
5. Bakteri mengembangkan perubahan

enzim yang tetap dapat melakukan


fungsi metabolismenya tetapi lebih
sedikit dipengaruhi oleh obat dari
pada enzim pada kuman yang
rentan. Misalnya beberapa bakteri
yang rentan terhadap sulfonamid,
dihidropteroat sintetase, mempunyai
afinitas yang jauh lebih tinggi
terhadap sulfonamid dari pada PABA
(Jawetz, 1997).

Penyebab utama resistensi


antibiotika adalah penggunaannya yang
meluas dan irasional. Lebih dari
separuh pasien dalam perawatan rumah
sakit menerima antibiotik sebagai
pengobatan ataupun profilaksis. Sekitar
80% konsumsi antibiotik dipakai untuk
kepentingan manusia dan sedikitnya
40% berdasar indikasi yang kurang
tepat, misalnya infeksi virus. Terdapat
beberapa factor yang mendukung
terjadinya resistensi,antara lain
1. Penggunaannya yang kurang tepat
(irrasional) : terlau singkat, dalam
dosis yang terlalu rendah, diagnose
awal yang salah, dalam potensi
yang tidak adekuat.

SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-


2012 0699
130
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

2. Faktor yang berhubungan dengan terapi kombinasi, penggunaan


pasien . Pasien dengan monoterapi lebih
pengetahuan yang salah akan mudah

cenderung menganggap wajib menimbulkan resistensi.

diberikan antibiotik dalam 5. Perilaku hidup sehat : terutama

penanganan penyakit meskipun bagi tenaga kesehatan, misalnya

disebabkan oleh virus, misalnya flu, mencuci tangan setelah memeriksa

batuk-pilek, demam yang banyak pasien atau desinfeksi alat-alat

dijumpai di masyarakat. Pasien yang akan dipakai untuk

dengan kemampuan financial yang memeriksa pasien.

baik akan meminta diberikan terapi 6. Penggunaan di rumah sakit :

antibiotik yang paling baru dan adanya infeksi endemic atau

mahal meskipun tidak diperlukan. epidemic memicu penggunaan

Bahkan pasien membeli antibiotika antibiotika yang lebih massif pada

sendiri tanpa peresepan dari dokter bangsal- bangsal rawat inap

(self medication). Sedangkan pasien terutama di intensive care unit.

dengan kemampuan financial yang Kombinasi antara pemakaian

rendah seringkali tidak mampu antibiotic yang lebih intensif dan

untuk menuntaskan regimen terapi. lebih lama dengan adanya pasien

3. Peresepan : dalam jumlah besar, yang sangat peka terhadap infeksi,

meningkatkan unnecessary health memudahkan terjadinya infeksi

care expenditure dan seleksi nosokomial.

resistensi terhadap obat-obatan 7. Penggunaannya untuk hewan dan

baru. Peresepan meningkat ketika binatang ternak : antibiotic juga

diagnose awal belum pasti. Klinisi dipakai untuk mencegah dan

sering kesulitan dalam menentukan mengobati penyakit infeksi pada

antibiotik yang tepat karena hewan ternak. Dalam jumlah besar

kurangnya pelatihan dalam hal antibiotic digunakan sebagai

penyakit infeksi dan tatalaksana suplemen rutin untuk profilaksis

antibiotiknya. atau merangsang pertumbuhan

4. Penggunaan monoterapi : hewan ternak. Bila dipakai dengan

dibandingkan dengan penggunaan dosis subterapeutik, akan

SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-


2012 0699
131
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

meningkatkan terjadinya resistensi. illness), meningkatnya resiko kematian


8. Promosi komersial dan penjualan (greater risk of death) dan semakin
besar-besaran oleh perusahaan

farmasi serta didukung pengaruh


globalisasi, memudahkan terjadinya
pertukaran barang sehingga jumlah
antibiotika yang beredar semakin
luas. Hal ini memudahkan akses
masyarakat luas terhadap antibiotika
9. Penelitian : kurangnya penelitian
yang dilakukan para ahli untuk
menemukan antibiotika baru (Bisht
et al, 2009)
10. Pengawasan : lemahnya
pengawasan yang dilakukan
pemerintah dalam distribusi dan
pemakaian antibiotika. Misalnya,
pasien dapat dengan mudah
mendapatkan antibiotika meskipun
tanpa peresepan dari dokter. Selain
itu juga kurangnya komitmen dari
instansi terkait baik untuk
meningkatkan mutu obat maupun
mengendalikan penyebaran infeksi
(Kemenkes RI, 2011).
Konsekuensi
Resistensi antibiotik terhadap
mikroba menimbulkan beberapa
konsekuensi yang fatal. Penyakit
infeksi yang disebabkan oleh bakteri
yang gagal berespon terhadap
pengobatan mengakibatkan
perpanjangan penyakit (prolonged
SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-
2012 0699
132
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

lamanya masa rawat inap di rumah


sakit (length of stay). Ketika respon
terhadap pengobatan menjadi lambat
bahkan gagal, pasien menjadi infeksius
untuk beberapa waktu yang lama
(carrier). Hal ini memberikan peluang
yang lebih besar bagi galur resisten
untuk menyebar kepada orang lain.
Kemudahan transportasi dan
globalisasi sangat memudahkan
penyebaran bakteri resisten antar
daerah, negara, bahkan lintas benua.
Semua hal tersebut pada akhirnya
meningkatkan jumlah orang yang
terinfeksi dalam komunitas
(Deshpande et al, 2011)
Ketika infeksi menjadi resisten
terhadap pengobatan antibiotika lini
pertama, maka harus digunakan
antibiotika lini kedua atau ketiga, yang
mana harganya lebih mahal dan
kadang kala pemakaiannya lebih
toksik. Di negara-negara miskin,
dimana antibiotika lini pertama
maupun kedua tidak tersedia,
menjadikan potensi resistensi terhadap
antibiotika lini pertama menjadi lebih
besar. Antibiotika di Negara miskin,
didapatkan dalam jumlah sangat
terbatas, bahkan antibiotika yang
seharusnya ada untuk mengatasi
penyakit infeksi yang disebabkan

SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-


2012 0699
133
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

bakteri pathogen resisten, tidak ampuh mengatasi masalah resistensi


terdaftar dalam daftar obat esensial (Bhatia & Narain, 2010)
(Bisht et al, 2009)
Konsekuensi lainnya adalah dari STRATEGI PENANGANAN
segi ekonomi baik untuk klinisi, pasien, Berdasarkan faktor pendukung
health care administrator, perusahaan yang telah diuraikan dalam bab
farmasi, dan masyarakat. Biaya sebelumnya, maka strategi penanganan
kesehatan akan semakin meningkat maupun pencegahan yang dapat
seiring dengan dibutuhkannya dilakukan yang pertama dan utama
antibiotika baru yang lebih kuat dan adalah terapi rasional. Penggunaan
tentunya lebih mahal. Sayangnya, tidak antibiotika secara rasional diartikan
semua lapisan masyarakat mampu sebagai pemberian antibiotika yang
menjangkau antibiotika generasi baru tepat indikasi, tepat penderita, tepat
tersebut. Semakin mahal antibiotik, obat, tepat dosis, dan waspada terhadap
semakin masyarakat tidak bisa efek samping antibiotika.
menjangkau, semakin banyak carrier di Kapan saat yang tepat memulai
masyarakat, semakin banyak galur baru terapi antibiotika? Secara klinik
bakteri yang bermutasi dan menjadi memang sangat sulit memastikan
resisten terhadap antibiotika. bakteri penyebab infeksi yang tepat
Sampai sekarang, faktanya sangat tanpa menunggu hasil pemeriksaan
sulit membayangkan adanya prosedur mikrobiologi. Secara umum, klinisi
yang efektif untuk menangani resistensi tidak boleh memberikan terapi secara
ini. Klinisi akan sangat kesulitan sembarangan tanpa mempertimbangkan
menentukan keputusan regimen terapi indikasi atau malah menunda pemberian
pada pasien-pasien dengan resiko antibiotika pada kasus infeksi yang
infeksi tinggi, misalnya pada pasien sudah tegak diagnosanya secara klinis
yang akan menjalani prosedur bedah, meskipun tanpa hasil pemeriksaan
transpalntasi, pasien dengan kemoterapi mikrobiologi. Kasus infeksi yang gawat
karena kanker, pasien-pasien kritis yang dapat berupa sepsis, demam dengan
berusia sangat muda atau sangat tua, neutropeni, meningitis bakterial
pasien HIV dalam masa pengobatan, (Leekha et al, 2011).
tanpa keberadaaan antibiotika yang

SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-


2012 0699
134
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

Berdasarkan ditemukannya antibiotika misalnya infeksi virus


kuman atau tidak, maka terapi saluran pernafasan atas, keracunan
antibiotika dapat dibagi dua, yakni makanan karena kontaminasi
terapi empiris dan terapi definitive. kuman-kuman enterik. Jika tidak
Terapi empiris adalah terapi yang perlu antibiotika, terapi alternatif
diberikan berdasar diagnose klinis apa yang dapat diberikan?
dengan pendekatan ilmiah dari klinisi. 4. Jika diperlukan antibiotika,
Sedangkan terapi definitive dilakukan pemilihan antibiotika yang sesuai
berdasarkan hasil pemeriksaan berdasarkan spektrum antikuman,
mikrobiologis yang sudah pasti jenis sifat farmakokinetika, ada tidaknya
kuman dan spectrum kepekaan kontra indikasi pada pasien, ada
antibiotikanya (Jawetz, 1997).
tidaknya interaksi yang merugikan,
Untuk menentukan penggunaan
bukti akan adanya manfaat klinik
antibiotika dalam menangani penyakit
dari masing-masing antibiotika
infeksi, secara garis besar dapat dipakai
untuk infeksi yang bersangkutan
prinsip-prinsip umum dibawah ini :
berdasarkan informasi ilmiah yang
1. Penegakan diagnosis infeksi. Hal ini
layak dipercaya. Dari sisi bakteri,
bisa dikerjakan secara klinis
pertimbangkan site of infection and
berdasar criteria diagnose ataupun
most likely colonizing, berdasar
pemeriksaan-pemeriksaan
pengalaman atau evidence based
tambahan lain yang diperlukan.
sebelumnya bakteri apa yang paling
Gejala panas sama sekali bukan
sering, pola kepekaan antibiotika yg
kriteria untuk diagnosis adanya
beredar local (Leekha et al, 2011).
infeksi.
5. Penentuan dosis, cara pemberian,
2. Kemungkinan kuman penyebabnya,
lama pemberian berdasarkan sifat-
dipertimbangkan dengan perkiraan
sifat kinetika masing-masing
ilmiah berdasarkan pengalaman
antibiotika dan fungsi fisiologis
setempat yang layak dipercaya atau
sistem tubuh (misalnya fungsi ginjal,
epidemiologi setempat atau dari
fungsi hepar dan lain-lain). Perlu
informasi-informasi ilmiah lain.
dipertimbangkan dengan cermat
3. Apakah antibiotika benar-benar
pemberian antibiotika
diperlukan? Sebagian infeksi
mungkin tidak memerlukan terapi

SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-


2012 0699
135
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

misalnya pada ibu hamil dan dokter baik dosis maupun rentang
menyusui, anak-anak, dan orang tua. terapinya. Pada penyakit-penyakit
6. Evaluasi efek obat. Apakah obat kronis seringkali pasien menghentikan
bermanfaat, kapan dinilai, kapan sendiri atau mengurangi terapinya
harus diganti atau dihentikan? ketika sudah merasakan perbaikan yang

Adakah efek samping yang terjadi? signifikan atas penyakitnya. Untuk

(Graham-Smith & Aronson, 1985) mengatasi hal ini, diciptakanlah obat


dalam fixed dose combinations untuk
mengurangi jumlah tablet atau kapsul
Selain hal-hal di atas, edukasi
yang harus diminum, kalender special,
pasien juga merupakan hal yang
kemasan blister, DOTS (directly
penting untuk dilakukan. Banyak
observed therapy system).
penelitian menunjukkan bahwa edukasi
Tenaga kesehatan harus lebih
atau training yang diberikan kepada
sadar terhadap personal and
kelompok besar maupun kecil,
environmental hygiene agar infeksi
menunjukkan peningkatan peresepan
bakteri tidak menyebar dari satu orang
antibiotic yang baik. Pesan akan
ke orang lain. Dokter misalnya, dapat
diterima dengan baik apabila
mencuci tangan terlebih dahulu setelah
disampaikan oleh pemimpin local atau
memeriksa pasien yang satu sebelum
orang yang dianggap berpengaruh
beralih ke pasien yang lain. Bidan wajib
(Bisht et al, 2009). Pesan dapat
menerapkan prinsip sepsis-asepsis
disampaikan melalui berbagai media
dalam memolong persalinan. Alat-alat
misalnya melalui iklan di televisi, radio,
operasi, KB, ataupun piranti rumah
koran. Tekhnologi komunikasi yang
sakit yang harus suci kuman wajib
baru juga memudahkan penyebaran
dusterilisasi terlebih dahulu.
informasi ini, misalnya internet,
Di Indonesia, juga telah dilakukan
jejaring sosial, bahkan lewat mobile
beberapa usaha untuk mengatasi
messenger.
dampak resistensi antibiotika akibat
Perlu disebarluaskan bahwa
pengobatan sendiri (self medication)
tidak semua jenis penyakit dapat
dengan regulasi perundang-undangan..
disembuhkan dengan pemberian
Salah satu dari usaha tersebut adalah di
antibiotik. Kalaupun perlu, pemakaian
berlakukannya undang-undang yang
antibiotic harus sesuai dengan instruksi

SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-


2012 0699
136
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

mengatur tentang penjualan antibiotika sediaan farmasi, pengamanan,


yang diatur di dalam undang-undang pengadaan, penyimpanan, dan
obat keras St. No. 419 tgl. 22 Desember pendistribusian obat, pelayanan obat
1949, pada pasal 3 ayat 1. Antibiotika atas resep dokter, pelayanan informasi
termasuk salah satu jenis obat-obat obat serta pengembangan obat,bahan
keras, hal ini terdapat dalam pasal 1 obat dan obat tradisional harus
ayat 1a yang berbunyi: “Obat-obat keras dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
yaitu obat-obatan yang tidak digunakan mempunyai keahlian dan kewenangan
untuk keperluan teknik, yang sesuai dengan ketentuan peraturan
mempunyai khasiat mengobati, perundang-undangan.
menguatkan, membaguskan, Peraturan mengenai distribusi obat
mendesinfeksikan, dan lain-lain tubuh tertulis dalam (Direktorat Jenderal
manusia, baik dalam bungkusan Pelayanan Kefarmasian dan Alat
maupun tidak , yang dtetapkan oleh Kesehatan) :
Secretaris Vaan Staat, Hoofd van het 1) Pasal 3 (1) Penyerahan persediaan
Departement van Gesondheid, menurut untuk penyerahan dan penawaran
ketentuan pasal 2 ayat (1) “Sec. V. St untuk penjualan dari bahan-bahan
mempunyai wewenang untuk G, demikian pula memiliki bahan –
menetapkan bahan-bahan sebagai obat- bahan ini dalam jumlah sedemikian
obat keras dan ayat (2) “ Penetapan ini
rupa sehingga secara normal tidak
dijalankan dengan menempatkan bahan-
dapat diterima bahwa bahan-bahan
bahan itu pada suatu daftar G (obat-obat
ini hanya diperuntukkan pemakain
berbahaya) atau daftar W (peringatan).
pribadi, adalah dilarang. Larangan
Dalam Pasal 107 UU No. 36/2009
ini tidak berlaku untuk pedagang-
tentang Kesehatan ada ketentuan lebih
pedagang besar yang diakui,
lanjut mengenai pengamanan sediaan
Apoteker-apoteker , yang
farmasi seperti obat antibiotik dan alat
kesehatan dilaksanakan sesuai dengan memimpin Apotek dan Dokter

ketentuan peraturan perundang- Hewan.

undangan. Pasal 108 (1) mengatur 2) (2) Penyerahan dari bahan –bahan G
praktik kefarmasian yang meliputi , yang menyimpang dari resep
pembuatan termasuk pengendalian mutu Dokter, Dokter Gigi, Dokter Hewan
dilarang, larangan ini tidak berlaku

SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-


2012 0699
137
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

bagi penyerahan-penyerahan kepada dalam menilai manfaat, peran serta


Pedagang –pedagang Besar yang resiko dari suatu jenis obat baru
diakui, Apoteker-apoteker, Dokter- dibandingkan dengan jenis-jenis yang
dokter Gigi dan Dokter-dokter sudah ada. Hal ini sering diperburuk
Hewan demikian juga tidak terhadap oleh kenyataan bahwa informasi yang
penyerahan-penyerahan menurut diberikan mengenai obat yang baru,
ketentuan pada pasal 7 ayat 5 lebih sering banyak menonjolkan segi
(Keputusan Menkes RI, 2004). manfaat dan kelebihannya, sedangkan
Selain peraturan perundang- efek samping dan kekurangan-
undangan, klinisi memerlukan guideline kekurangan lainnya cenderung
terapi antibiotika yang dapat digunakan diperkecilkan. Di lain pihak, informasi
sebagai dasar terapi empiris di klinik. ilmiah dalam bukubuku pustaka untuk
Pelaksanaan penggunaan guideline ini obat yang baru diperkenalkan umumnya
seyogyanya dievaluasi secara ketat oleh masih kurang lengkap. Menghadapi
pihak yang terkait misalnya rumah sakit kesulitan ini reaksi yang timbul dapat
atau dinas kesehetan. Dalam muncul secara ekstrim dalam dua
mengaplikasikan guideline ini, tentunya kemungkinan. Pertama, mengikuti saja
klinisi akan sangat terbantu dengan semua informasi dan anjuran yang
keberadaan laboratorium mikrobiologi diterima, walaupun informasinya belum
klinik yang mampu menyediakan hasil tentu sepenuhnya benar. Kedua, secara
pemeriksaan secepat mungkin dan apriori langsung menolak semua
mendiskusikan hasilnya dengan klinisi. informasi dan anjuran tanpa terlebih
Mutu obat sebaiknya diawasi dan dulu apakah ada kelebihan manfaat dari
dievaluasi secara berkala. Para obat baru yang diperkenalkan tersebut.
professional hendaknya mulai Menghadapi suatu jenis
menggalakkan penelitian untuk antibiotika baru yang diperkenalkan,
menemukan antibiotika baru yang lebih maka langkah-langkah penelaahan yang
poten dalam melawan bakteri resistan. dianjurkan adalah sebagai berikut,
Dengan cepatnya dan makin -
seringnya diperkenalkan berbagai jenis ermasuk jenis apakah antibiotika
antibiotika dan kemoterapetika baru, baru tersebut?
praktisi sering mendapatkan kesulitan - Bagaimanaspektrum antikumannya?

SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-


2012 0699
138
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

- Apa indikasi pemakaian kliniknya? - Apakah antibiotika baru tersebut


- Apa antibiotika pilihan utama dan dapat dipakai secara rutin, ataukah
pilihan alternatif untuk kondisi klinik hanya dipakai sebagai cadangan
atau infeksi yang dimaksud? atau simpanan (reserved
- Apakah antibiotika baru secara antibiotics) untuk menghadapi
mikrobiologik lebih aktif, atau lebih kasus-kasus khusus yang tidak
paten dibanding antibiotika yang dapat diatasi dengan antibiotika
sudah ada untuk infeksi yang sudah ada? (Petunjuk kuliah
bersangkutan? farmakoterapi, 2010).
- Apakah ada kelebihan lain secara
farmakologik, misalnya dalam sifat- KESIMPULAN
sifat kinetik, absorpsi, distribusi dan Masalah antibiotika dan

penetrasi jaringan, eliminasi, cara resistensinya menjadi perhatian seluruh

pemberian, dosis dan sebagainya? dunia. WHO bahkan menetapkan tema


Antimicrobacterial Resistance and its
- Apakah antibiotika
Global Spread untuk memperingati Hari
baru memberikan
Kesehatan Sedunia. Penanganan
manfaat klinik lebih baik dibanding
masalah ini memerlukan partisipasi dari
yang sudah ada? Dan apakah bukti
banyak pihak. Dokter sebagai klinisi,
manfaat klinik ini ditunjang oleh
masyarakat luas sebagai pengguna,
penelitian uji klinik yang dapat
pemerintah sebagai pemegang regulasi,
diterima, misalnya dengan
farmasi sebagai distributor, bahkan
rancangan randomized controlled calon tenaga kesehatan bisa berperan
trial? serta dalam menangani masalah
- Apakah antibiotika baru lebih aman, resistensi ini.
kurang toksik atau kurang efek DAFTAR PUSTAKA
sampingnya dibanding yang sudah
ada? Akalin, E. H. 2002. The evolution of
guidelines in an era of cost
- Apakah beaya pemakaian kliniknya
containment. Surgical
lebih murah dibandingkan dengan prophylaxis. J Hosp infect.
obat yang sudah ada dengan
APUA (Alliance for prudent use of
manfaat klinik dan keamanan yang antibiotics). 2011. What is
sebanding? antibiotic resistance and why is

SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-


2012 0699
139
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

it problem?. www.apua.org on Keputusan Menteri Kesehatan tentang


16-09-2011. standard pelayanan farmasi di
Rumah Sakit. 2004. No
Bari, S. B., Mahajan, B. M., Surana, S. 1197/MENKES/SK/X/2004.
J. 2008. Resistance to antibiotic
: A challenge in chemotherapy. Laurence, D. R., Bennet, P. N. 1987.
Indian journal of pharmaceutical Clinical Pharmacology. Sixth
education and research. edition. Churchill livingstone,
Edinburgh.
Bhatia, R., Narain, J. P. 2010. The
growing challenge of Leekha, S. , Terrel, C. L., Edson, R. S.
antimicrobial resistance in the 2011. General principles of
south east asia region- Are we antimicrobial therapy.
losing the battle?. Indian Journal Symposium on antimicrobial
of medical research. therapy. Februari.

Bisht, R., Katiyar, A., Singh, R., Mittal, Munaf, S., Chaidir, J. 1994. Obat
P. 2009. Antibiotic resistance- A antimikroba. Farmakologi
global issue of concern. Asian UNSRI. EGC, Jakarta.
journal of pharmaceutical and
clinical research. Volume 2. Peterson, L. R. 2005. Squeezing the
Issue 2. antibiotic balloon : The impact
of antimicrobial classes on
Deshpande, J. D., Joshi, M. 2011. ermerging resistance. European
Antimicrobial resistance : the society of clinical microbiology
global public health challenge. and infectious deseases. The
International journal of student Feinberg school of medicine,
research. Volume I. Issue 2. North Western University, USA.

Grahame-Smith, D. G., Aronson, S. K. Petunjuk kuliah/diskusi : Farmakoterapi


1985. Oxford textbook of antiinfeksi/antibiotika. 2010.
clinical pharmacology and drug Bagian farmakologi klinik
therapy. Oxford University Fakultas Kedokteran Universitas
press, Oxford. Gajah Mada.

Jawetz, E. 1997. Principle of Tripathi, K. D. 2003. Antimicrobial


antimicrobial drug action. Basic drugs : general consideration.
and clinical pharmacology. Essential of medical
Third edition. Appleton and pharmacology. Fifth edition.
Lange, Norwalk. Jaypee brothers medical
publishers.
Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia. 2011. Buku panduan Zhang, Y. 2007. Mechanisms of
hari kesehatan sedunia. antibiotic resistance in the

SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-


2012 0699
140
Antibioka, Resistensi, dan Rasionalitas Terapi

microbial world. Baltimore, USA.

Kesimpulan dari jurnal tersebut


“Masalah antibiotika dan resistensinya menjadi perhatian seluruh dunia.
Penanganan masalah ini memerlukan partisipasi dari banyak pihak. Dokter
sebagai klinisi, masyarakat luas sebagai pengguna, pemerintah sebagai pemegang
regulasi, farmasi sebagai distributor, bahkan calon tenaga kesehatan bisa
berperan serta dalam menangani masalah resistensi ini.”

SAINSTIS. VOLUME 1, NOMOR 1, APRIL – SEPTEMBER ISSN: 2089-


2012 0699