Anda di halaman 1dari 10

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KETERGANTUNGAN PASIEN DAN MOBILITAS

DENGAN KEJADIAN DECUBITUS PADA PASIEN STROKE

Andriana Sevya Anggraini1), Indanah2), Yulisetyaningrum3)


1) Mahasiswa Prodi S1 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Kudus
2,3) Dosen Prodi S1 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Kudus

ABSTRAK

Dekubitus adalah kerusakan jaringan yang terjadi apabila kulit dan jaringan lunak di bawahnya
tertekan oleh tonjolan tulang dan permukaan eksternal dalam jangka waktu yang lama. Faktor
risiko seseorang terkena dekubitus salah satunya adalah penyakit stroke. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui Hubungan Antara Tingkat Ketergantungan Pasien Dan Mobilitas
Dengan Kejadian Dekubitus Pada Pasien Stroke.
Variabel independentnya tingkat ketergantungan pasien dan mobilitas pada pasien stroke.
Variabel dependentnya kejadian dekubitus pada pasien stroke. Desain penelitian analitik
korelasional, pendekatan waktunya cross sectional, populasinya sebanyak 302 pasien, sampel
60 pasien, tehnik sampling simple random sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar
observasi. Pengolahan data dengan editing, coding, scoring, dan tabulating. Analisa data
dengan Uji Rank Spearman.
Hasil penelitian didapatkan hasil dari 60 pasien stroke yang diteliti terdapat sebagian besar
(66,7%) dengan tingkat ketergantungan berat, sebagian besar (55%) dengan mobilitas
sebagian permanen, terdapat sebagian besar (73,3%) tidak mengalami decubitus, dan hasil uji
Rank Spearman diperoleh ada hubungan antara tingkat ketergantungan pasien dengan
kejadian dekubitus pada pasien stroke (p value 0,000; r 0,611), serta ada hubungan antara
mobilitas pasien dengan kejadian dekubitus pada pasien stroke (p value 0,000; r 0,449).
Pencegahan terjadinya dekubitus pada pasien stroke, yaitu dengan memberikan pendidikan
kesehatan pada pasien berupa pembelajaran tentang perawatan diri dan kebersihan diri
(personal hygiene) pada pasien dengan harapan pasien mampu melakukan perawatan secara
mandiri (supportive dan educative).
.
Kata kunci: Tingkat Ketergantungan Pasien, Mobilitas, Dekubitus, Stroke.

ABSTRACT

Decubitus is tissue damage that occurs when the skin and soft tissues underneath are
compressed by bone protrusions and external surfaces for long periods of time. One of the risk
factors for someone suffering from pressure sores is stroke. The purpose of this study was to
determine the relationship between the level of dependence of patients and mobility with the
incidence of pressure sores in stroke patients.
The independent variable is the level of patient dependence and mobility in stroke patients.
Dependent variable is the incidence of pressure sores in stroke patients. Correlational analytic
research design, cross sectional time approach, population of 302 patients, sample of 60
patients, simple random sampling sampling technique. Data collection using observation sheets.
Processing data with editing, coding, scoring, and tabulating. Data analysis with Spearman
Rank Test.
The results showed that of the 60 stroke patients studied there were most (66.7%) with severe
dependence, most (55%) with partially permanent mobility, there were most (73.3%) not
experiencing decubitus, and the results Spearman Rank test found that there was a relationship
between the level of dependence of patients with the incidence of pressure sores in stroke
patients (p value 0,000; r 0,611), and there was a relationship between the mobility of patients
with pressure sores in stroke patients (p value 0,000; r 0,449).
Prevention of the occurrence of pressure sores in stroke patients, namely by providing health
education to patients in the form of learning about self-care and personal hygiene in patients
with the hope that patients are able to perform care independently (supportive and educative).
.
Keywords: Level of Patient Dependence, Mobility, Decubitus, Stroke.

1
PENDAHULUAN 2010 di Inggris adalah dari 265 orang
Dekubitus merupakan lesi atau pasien stroke 56 orang (21%) mengalami
kerusakanstruktur anatomis dan fungsi dekubitus.
kulit normal yang disebabkan oleh Terjadinya dekubitus secara
tekananeksternal yang terjadi secara langsung berhubungan dengan lamanya
terus-menerus pada daerah yang ada immobilitas dan tingkat ketergantungan
penonjolantulang sehingga merusak pasien. Jika penekanan berlanjut lama,
jaringan yang ada dibawahnya dan tidak akan terjadi thrombosis pembuluh
sembuhdengan urutan dan waktu yang darahkecil dan nekrosis jaringan.
biasa (Kozier, Erb, Berman, & Snyder, Dekubitus sering ditemukan pada orang
2010). dengan pergerakanyang terbatas karena
Dekubitus adalah kerusakan tidak mampu mengubah posisi untuk
jaringan yang terjadi apabila kulit dan menghilangkan tekanan. Pasien kritis
jaringan lunak di bawahnya tertekan oleh dengan gangguanhemodinamik dalam
tonjolan tulang dan permukaan eksternal waktu 2 – 6 jam sudahdapat menunjukan
dalam jangka waktu yang lama. tanda – tanda dekubitus (Ignatavicius &
Dekubitusini bisa terjadi pada pasien Workman, 2008).
yang berada dalam suatu posisi dalam Menurut Ropyanto, 2010, barthel
jangka waktu lama baik posisi duduk index merupakan instrumen pengukuran
maupun berbaring (LeMone & statusfungsional yang digunakan pada
Burke,2008). Untuk mempertahankan dewasayang sedang dalam perawatan
integritas kulit pada pasien klinis maupundalam area rehabilitasi dan
seringkaliterabaikan karena perawat lebih bukan instrumenuntuk mengkaji risiko
berfokus pada masalah yang mengancam dekubitus.Padadomain perawatan kulit
kehidupan dan hal itu dinilai sebagai sebagian besarperawat memiliki peran
masalah yang lebih prioritas. Banyaknya yang baik 9 (60,0%) dan 6 (40,0%)
tindakan invasif dan terapi yang harus perawat memiliki peran yangcukup
diberikan juga menjadi dengan skor terendah (1,3333) pada
alasanterabaikannya perawatan integritas pernyataan mengganti diapers pasien
kulit .pada pasien 1xsehari. Menurut penelitian Schindler
Kejadian dekubitus secara 2010, kejadian dekubitus di ruang
global di seluruh dunia di unit perawatan perawatan stroke mencapai10,2 % tetapi
berkisar dari 1%-56%. Selanjutnya, hal ini dapat dicegah denganbeberapa
dilaporkan juga prevalensi dekubitus yang cara, jika pasien menggunakan diapers,
terjadi di unit perawatandari negara dan maka gunakan diapers yangmempunyai
benua lain yaitu 49% di Eropa Barat, 22% daya serap tinggi dan pastikan diapers
di Amerika Utara,50% di Australia, dan dalam keadaan kering, gunakan tempat
29% di Yordania (Tayyib, Lewis dan tidur yang khusus, penuhi kebutuhan
Coyer.,2013). nutrisi, gunakan bantalan busa, gunakan
Faktor risiko seseorang terkena body lotion, dan lakukan perubahan
dekubitus salah satunya adalah penyakit posisisetiap 2-4 jam.
stroke. Menurut Muttaqin (2008), stroke Dari hasil Penelitian Yetiana Tahun
merupakan penyakit yang paling sering 2013 di ruang Anggrek II RSUD Dr.
menyebabkan kecacatan terutama Moewardi Surakrta untuk mengetahui
kelumpuhan anggota gerak sebagai hubungan antara mobilitas dengan risiko
akibat gangguan fungsi otak. Data dari terjadinya dekubitus pada pasien stroke di
Kemenkes RI (2009), insiden stroke di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Jenis
Indonesia sebesar 8,3 per 1000 penelitian ini adalah deskriptif korelatif
penduduk. Sedangkan Data dari Dinas dan desain kuantitatif. Sedangkan
Kesehatan pemerintah provinsi Jawa rancangan penelitian menggunakan studi
Tengah (2011), Prevalensi stroke cross sectional. Populasi penelitian
hemoragik di Jawa Tengah adalah 0,03%. adalah pasien stroke yang menjalani
Sedangkan untuk stroke non hemoragik rawat inap di ruang Anggrek II RSUD Dr.
prevalensinya sebesar 0,09%. Prevalensi Moewardi Surakrta pada bulan April-Mei
kejadian dekubitus pada pasien stroke 2013. Jumlah sampel penelitian sebanyak
berdasarkan penelitian yang dilakukan 80 pasien, menggunakan tehnik
oleh Langhorne dan kawan-kawan tahun accidental sampling. Instrumen penelitian

2
menggunakan check list dan lembar Variabel independentnya tingkat
observasi. Uji hipotesis menggunakan uji ketergantungan pasien dan mobilitas
Chi-Square. Kesimpulan dari penelitian ini pada pasien stroke.
adalah: Ada hubungan antara mobilitas Variabel dependentnya kejadian
dengan risiko terjadinya dekubitus pada dekubitus pada pasien stroke.
pasien stroke di RSUD Dr. Pengumpulan data menggunakan
MoewardiSurakarta. lembar observasi. Instrumen lembar
Rumah Sakit Umum Daerah observasi data digunakan untuk
dr.Zainoel Abidin Banda Aceh sebagai mengetahui tingkat ketergantungan
rumah sakit tipe A terbesar di Provinsi pasien stroke (dengan indeks barthel),
Aceh dan merupakan tempat rujukan mobilitas pasien stroke (dengan skala
pasien gangguan neurologis ROM), dan kejadian decubitus pada
menunjukkan data bahwa angka kejadian pasien stroke (dengan instrument
pasien stroke sejak Januari tahun 2010 DESIGN), merupakan singkatan dari:
sampai 18 November 2011 adalah D : Deep / Kedalaman
sebanyak 667 pasien. Pasien stroke yang E : Exudates / eksudat atau pus
mengalami dekubitus sejak Januari S : Size / Ukuran
sampai Desember tahun 2010 adalah I : Inflamation / Inflamasi
sebanyak 23 pasien sedangkan pada G : Granulation / Granulasi
tahun 2011 sejak Januari sampai 18 N : Necrosis / Nekrotik
November tercatat ada 2 pasien ( Marlina Metode analisis data yang
dan Elva Mumtazia, 2011 ). digunakan pada penelitian ini adalah
Data yang di dapat dari Rekam analisis bivariat dilakukan terhadap lebih
Medis RS PKU Muhammdiyah Cepu dari dua variabel yang diduga
jumlah pasien dengan stroke yang berhubungan atau berkolerasi, yang
tercatat pada tahun 2017 adalah 302 meliputi variabel bebas yaitu tingkat
orang, akibat stroke terjadi kelumpuhan ketergantungan (X1) dan mobilitas (X2),
sehingga menimbulkan rendahnya dan varibel terikatnya yaitu kejadian
kemampuan mobilitas pasien dan tingkat decubitus (Y). Analisa data dilakukan
ketergantungan pasien sehingga berisiko dengan bantuan program SPSS (Statistic
terjadinya dekubitus. Kejadian dekubitus Package for Social Science) metode uji
sendiri pada tahun 2017 sebanyak 34 statistik korelasi Spearman’s Rho untuk
orang. mengetahui hubungan variabel
Hasil survai penelitian awal dari independen dengan variabel dependen
wawancara perawat Bulan Mei 2018 di (Arikunto, 2014).
RS PKU Muhammadiyah Cepu, perawat
ruangan mengatakan terdapat 24 pasien HASIL PENELITIAN
dengan stroke, pasien yang mengalami Tabel 1 Distribusi umur responden
dekubitus 3 orang, yang disebabkan
ketidakmampuan pasien dalam
Variabel Mean SD Minimal - maksimal 95% CI
melakukan alih baring, mobilisasi dan Umur 50,33 5,414 40 - 63 48,93 – 51,73
tingkat ketergantungan 3 Pasien. Dan dari
hasil wawancara dengan 3 keluarga Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa
pasien dengan stroke mengatakan rata-rata umur pasien stroke adalah 50,33
sampai hari ketiga perawat belum tahun (95% CI: 48,93 – 51,73), dengan
mengajarkan alih baring atau cara standar deviasi 5,414 tahun. Umur
membantu pasien mobilisasi. termuda 40 tahun dan umur tertua 63
tahun. Dari hasil estimasi interval dapat
METODE PENELITIAN disimpulkan bahwa 95% diyakini bahwa
Jenis penelitian analitik korelasional rata-rata umur pasien stroke adalah
(hubungan/asosiasi) yaitu suatu penelitian diantara 48,93 sampai dengan 51,73
yang mengkaji hubungan antar variabel. tahun.
Dengan pendekatan waktunya cross
sectional, populasinya sebanyak 302
pasien, sampel 60 pasien, tehnik
sampling simple random sampling.

3
Tabel 2 Distribusi jenis kelamin Tabel 6 Mobilitas pasien
No Mobilitas pasien stroke Jumlah Persentase
No Jenis Kelamin Jumlah Persentase 1 Mobilitas sebagian permanen 33 55%

1 Laki-laki 52 86,7% 2 Mobilitas sebagian temporer 27 45%

3 Mobilitas Penuh 0 0
2 Perempuan 8 13,3%
TOTAL 60 100%
TOTAL 60 100%
Berdasarkan tabel 6 diketahui bahwa dari
Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa dari 60 pasien stroke terdapat sebagian besar
60 responden didapatkan hampir (55%) dengan mobilitas sebagian
seluruhnya (86,7%) dengan jenis kelamin permanen dan hampir separuhnya (45%)
laki-laki dan sebagian kecil (13,3%) dengan mobilitas sebagian temporer.
dengan jenis kelamin perempuan.
Tabel 7 Kejadian dekubitus
No Kejadian dekubitus Jumlah Persentase
Tabel 3 Distribusi pekerjaan
No Pekerjaan Jumlah Persentase 1 Derajat IV 0 0
1 Tidak bekerja 4 6,7% 2 Derajat III 0 0
2 PNS 1 1,7%
3 Derajat II 1 1,7%
3 Wiraswasta 40 66,7%
4 Derajat I 15 25%
4 Tani 12 20%
5 Tidak mengalami dekubitus 44 73,3%
5 Buruh 3 5%

TOTAL 60 100% TOTAL 60 100%

Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa dari Berdasarkan tabel 7 diketahui bahwa dari
60 responden didapatkan sebagian besar 60 pasien stroke terdapat sebagian besar
(66,7%) dengan pekerjaan wiraswasta (73,3%) tidak mengalami dekubitus dan
dan sebagian kecil (1,7%) dengan sebagian kecil mengalami dekubitus
pekerjaan PNS. derajat I (25%), dekubitus derajat II
(1,7%).
Tabel 4 Distribusi pendidikan
No Pendidikan Jumlah Persentase
PEMBAHASAN
1 Tidak sekolah 1 1,7% Tingkat Ketergantungan Pasien Stroke
2 SD 3 5% Berdasarkan hasil penelitian yang
3 SMP 11 18,3% ditunjukkan pada tabel 5 diketahui bahwa
4 SMA 40 66,7% dari 60 pasien stroke terdapat sebagian
5 Perguruan Tinggi 5 8,3% besar (66,7%) dengan tingkat
TOTAL 60 100% ketergantungan berat dan sebagian kecil
Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa dari (15%) dengan tingkat ketergantungan
60 responden didapatkan sebagian besar moderat.
(66,7%) dengan pendidikan SMA dan Menurut Hardywinoto (Darmojo,
sebagian kecil (1,7%) tidak sekolah. 2015), kemauan dan kemampuan untuk
melakukan Activity of Daily Living
Tabel 5 Tingkat ketergantungan pasien tergantung pada beberapa faktor, yaitu:
No Tingkat ketergantungan Jumlah Persentase Umur dan status perkembangan,
1 Penuh 11 18,3% Kesehatan fisiologis, Fungsi Kognitif,
2 Berat 40 66,7%
Fungsi Psikososial, Tingkat stress, Ritme
3 Moderat 9 15%
biologi, dan Status mental. Pada pasien
stroke, kemampuan untuk melakukan
4 Ringan 0 0
Activity of Daily Living tergantung
5 Mandiri 0 0
terutama dipengaruhi oleh faktor
TOTAL 60 100%
kesehatan fisiologis. Kesehatan fisiologis
Berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa dari seseorang dapat mempengaruhi
60 pasien stroke terdapat sebagian besar kemampuan partisipasi dalam Activity of
(66,7%) dengan tingkat ketergantungan Daily Living, contoh sistem nervous
berat dan sebagian kecil (15%) dengan mengumpulkan, menghantarkan dan
tingkat ketergantungan moderat mengolah informasi dari lingkungan.
Sistem muskuloskeletal
mengkoordinasikan dengan sistem
4
nervous sehingga dapat merespon Mobilitas Pasien Stroke
sensori yang masuk dengan cara Berdasarkan hasil penelitian yang
melakukan gerakan. Gangguan pada ditunjukkan pada tabel 6 diketahui bahwa
sistem ini misalnya karena penyakit, atau dari 60 pasien stroke terdapat sebagian
trauma injuri dapat mengganggu besar (55%) dengan mobilitas sebagian
pemenuhan Activity of Daily Living. Padila permanen dan hampir separuhnya (45%)
(2012), menjelaskan bahwa manisfestasi dengan mobilitas sebagian temporer.
stroke yaitu: jika terjadi peningkatan TIK Menurut Potter & Perry (2010),
maka dijumpai tanda dan gejala mobilitas merupakan suatu pergerakan
perubahan tingkat kesadaran, perubahan yang merupakan aspek kehidupan
kemampuan gerak ektrimitas, perubahan manusia yang digunakan untuk
ukuran pupil, perubahan tanda vital, menunjukkan pertahanan diri dalam
keluhan kepala pusing, muntah projectile melakukan aktivitas kehidupan sehari-
(tanpa ada rangsangan). Pada pasien hari. Sedangkan menurut Hidayat &
stroke juga akan terjadi kelumpuhan dan Uliyah (2014), mobilitas merupakan
kelemahan, penurunan penglihatan, kemampuan individu untuk bergerak
defisit kognitif dan bahasa (komunikasi), secara bebas, mudah, dan teratur dengan
Pelo/disartria, Kerusakan nervus kranialis, tujuan untuk memenuhi kebutuhan
Inkontinensia alvi dan uri. aktivitas guna mempertahankan
Berdasarkan hasil penelitian ini, kesehatannya.
diketahui bahwa pada pasien stroke Menurut Hidayat & Uliyah (2014),
terdapat sebagian besar dengan tingkat mobilisasi seseorang dapat dipengaruhi
ketergantungan berat, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: 1)
oleh adanya kelumpuhan dan kelemahan Gaya hidup. Perubahan gaya hidup dapat
sehingga mengakibatkan perubahan mempengaruhi mobilitas seseorang
kemampuan gerak ektrimitas pada pasien karena berdampak pada kebiasaan atau
stroke. Menurut Pinzon (2010) dan Lingga perilaku sehari-hari. 2) Proses
(2013) bahwa pasien stroke hemoragik Penyakit/Cidera. Hal dapat
maupun iskemik memasuki masa – masa mempengaruhi mobilitas karena dapat
kritis dalam perburukan kondisi stroke berpengaruh pada fungsi sistem tubuh.
saat 48 – 72 jam pertama, sehingga Seperti, orang yang menderita fraktur
kondisi klinis stroke paling buruk berada femur akan mengalami keterbatasan
pada hari – hari pertama paska serangan pergerakan dalam ekstremitas bagian
stroke. Hal tersebut ditandai dengan bawah. 3) Kebudayaan. Kemampuan
adanya penurunan kesadaran dan melakukan mobilitas dapat juga
kelumpuhan motorik yang merupakan dipengaruhi oleh kebudayaan. Sebagai
dampak terbesar dari penyakit stroke. contoh, orang yang memiliki budaya
Kelumpuhan yang dialami penderita sering berjalan jauh memiliki kemampuan
stroke dapat berupa hemiplegia maupun mobiltas yang kuat. Begitu juga
hemiparesis (Sylvia, 2005). Keadaan sebagliknya, ada orang yang mengalami
tersebut merupakan akibat dari gangguan mobilitas (sakit) karena adat
terputusnya aliran darah di jaringan otak dan budaya yang dilarang untuk
yang memperdarahi bagian otak yang beraktivitas. 4) Tingkat Energi untuk
bertanggung jawab terhadap aktivitas melakukan mobilitas diperlukan energi
motorik sehingga, pasien stroke yang cukup. 5) Usia dan Status
mengalami kesulitan dalam Perkembangan. Terdapat kemampuan
menggerakkan ekstremitas dan mobilitas pada tingkat usia yang berbeda.
membutuhkan bantuan dalam Hal ini dikarenakan kemampuan atau
melaksanakan ADL (Miller et al, 2010). kematangan fungsi alat gerak sejalan
Penelitian yang dilakukan oleh dengan perkembangan usia.
Rachmawati (2013), Fandri (2014), dan Berdasarkan hasil penelitian ini,
Marjoko (2012) mendapatkan hasil yang diketahui bahwa pada pasien stroke
serupa dengan penelitian ini yakni, pasien terdapat sebagian besar dengan mobilitas
stroke dengan tingkat ketergantungan sebagian permanen, hal ini dikarenakan
berat merupakan kelompok pasien pada pasien stroke terjadi penurunan
dengan jumlah paling banyak pada saat kekuatan otot dan gangguan
masuk rumah sakit. neuromuscular. Kekuatan otot sangat

5
berhubungan dengan sistem Kejadian Dekubitus Pada Pasien
neuromuscular yaitu besarnya Stroke
kemampuan sistem saraf mengaktivasi Berdasarkan hasil penelitian yang
otot untuk melakukan kontraksi. Semakin ditunjukkan pada tabel 7 diketahui bahwa
banyak serabut otot yang teraktivasi, dari 60 pasien stroke terdapat sebagian
maka semakin besar pula kekuatan yang besar (73,3%) tidak mengalami dekubitus
dihasilkan oleh otot tersebut. dan sebagian kecil mengalami dekubitus
Penurunan kekuatan otot merupakan derajat I (25%), dekubitus derajat II
manifestasi dari hemiparesis (kelemahan (1,7%).
pada salah satu sisi tubuh) yang Dekubitus adalah area kemerahan,
paling sering ditemukan pada pasien luka atau ulkus pada kulit di atas
stroke. Defisit motorik pada pasien stroke penonjolan tulang. Dekubitus merupakan
berupa hemiparesis atau hemiplegia kerusakan kulit yang terjadi akibat
biasanya disebabkan karena kerusakan kekurangan aliran darah dan iritasi pada
pembuluh darah bagian anterior atau kulit yang menutupi tulang yang menonjol,
arteri serebral medial yang dimana kulit tersebut mendapatkan
mengakibatkan infark pada korteks tekanan dari tempat tidur, kursi roda, gips,
motorik frontalis. Saraf yang pembidaian atau benda keras lainnya
mengendalikan otot-otot tulang pada dalam jangka panjang (Kozier & Erb,
manusia adalah sekelompok neuron 2009). Dekubitus merupakan dampak dari
sepanjang korteks motorik primer. tekanan yang terlalu lama pada area
Perintah dari otak melalui basal permukaan tulang yang menonjol dan
ganglia akan dimodifikasi oleh sinyal mengakibatkan berkurangnya sirkulasi
dari serebelum dan kemudian darah pada area yang tertekan dan lama-
disampaikan melalui saluran piramidal kelamaan jaringan setempat mengalami
ke medulla spinalis sampai ke ujung iskemik, hipoksia dan berkembang
saraf motorik pada otot. Stoke yang menjadi nekrosis. Tekanan yang normal
merupakan kondisi patologis otak dimana pada kapiler melebihi dari tekanan darah
terjadi peningkatan produksi eikosanoid, dan struktur pembuluh darah pada kulit,
dijumpai adanya produksi oksigen maka akan terjadi kolap. Dengan
radikal bebas dan lipid peroksidase terjadinya kolap akan menghalangi
yang mempunyai efek merusak oksigenisasi dan nutrisi ke jaringan, selain
terhadap struktur otak dan itu area yang tertekan menyebabkan
fungsinya. Hal inilah yang menyebabkan terhambatnya aliran darah. Dengan
terjadinya penurunan kekuatan otot dan adanya peningkatan arteri kepiler terjadi
gangguan neuromuskular pada pasien perpindahan cairan ke kapiler, ini akan
stroke. Penurunan kekuatan otot dan menyokong untuk terjadinya edema dan
gangguan neuromuskular ini selanjutnya konsekuensinya akan terjadi autolisis
menyebabkan pasien stroke (Ekaputra, 2013).
mengalami gangguan mobilisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Sesuai dengan teori yang sebagian besar pasien stroke tidak
dikemukakan oleh Hidayat & Uliyah mengalami dekubitus dan terdapat
(2014), mobilisasi seseorang dapat sebagian kecil pasien stroke mengalami
dipengaruhi oleh beberapa faktor, dekubitus derajat I. Dengan masih
diantaranya faktor usia dan status adanya kejadian dekubitus pada pasien
perkembangan. Pada penelitian ini stroke pada penelitian ini menunjukkan
diketahui bahwa rata-rata umur pasien bahwa pada penderita stroke berisiko
stroke adalah 50,33 tahun. Terdapat terjadinya dekubitus akibat keterbatasan
kemampuan mobilitas pada tingkat usia kemampuan dalam melakukan kegiatan
yang berbeda. Hal ini dikarenakan sehari-hari sehingga pasien cenderung
kemampuan atau kematangan fungsi alat lebih banyak berada di tempat tidur
gerak sejalan dengan perkembangan ataupun di kursi. Hal ini selaras dengan
usia. Pada penelitian ini diketahui bahwa teori (Ekaputra, 2013) yang menyebutkan
bahwa ada dua hal utama yang
berhubungan dengan risiko terjadinya
dekubitus, yaitu faktor tekanan dan
toleransi jaringan. Faktor yang

6
mempengaruhi durasi dan intensitas hampir seluruhnya tidak memiliki risiko
tekanan di atas tulang yang menonjol untuk terjadinya dekubitus, partial care
adalah imobilisasi, inaktifitas dan sebesar 45,95% atau hampir
penurunan sensori persepsi. Sedangkan setengahnya yang berisiko terjadinya
faktor yang mempengaruhi toleransi dekubitus dan total care sebesar 44,12%
jaringan dibedakan menjadi dua yaitu atau hampir setengahnya yang memiliki
faktor ekstrinsik dan faktor instrinsik. risiko tinggi terjadinya dekubitus.
Faktor instrinsik yaitu faktor yang berasal Selanjutnya berdasarkan hasil uji
dari pasien, sedangkan yang dimaksud dengan menggunakan uji Spearman’s
faktor ekstrinsik yaitu faktor-faktor dari Rho didapatkan nilai signifikansi (p)
luar yang mempunyai efek deteriorasi sebesar 0,000 yang berarti lebih kecil dari
pada lapisan eksternal dari kulit. alpha 0,05; maka H1 diterima yang
Berdasarkan hasil penelitian artinya ada hubungan antara tingkat
diketahui bahwa rata-rata umur pasien ketergantungan pasien dengan kejadian
stroke adalah 50,33 tahun. Pada usia dekubitus pada pasien stroke. Serta
tersebut termasuk dalam usia pralansia, dengan tingkat keeratan hubungan
dimana dengan usia tersebut menjadikan sedang (moderat). CVA atau Cerebro
seseorang lebih berisiko terhadap Vaskuler Accident biasa dikenal oleh
terjadinya decubitus. Hal ini sesuai masyarakat dengan istilah stroke.
dengan teori yang menyebutkan bahwa Kelainan ini terjadi pada organ otak. Lebih
Pasien yang sudah tua memiliki risiko tepatnya adalah gangguan pembuluh
yang tinggi untuk terkena dekubitus darah otak. Berupa penurunan kualitas
karena kulit dan jaringan akan berubah pembuluh darah otak. Jika terjadi
seiring dengan penuaan. Penuaan peningkatan TIK maka dijumpai tanda
mengakibatkan kehilangan otot, dan gejala : perubahan tingkat kesadaran
penurunan kadar serum albumin, (penurunan orientasi dan respons
penurunan respon inflamatori, penurunan terhadap stimulus), perubahan
elastisitas kulit serta penurunan kohesi kemampuan gerak ektrimitas (kelemahan
antara epidermis dan dermis. Perubahan sampai paralysis), perubahan ukuran
ini beserta faktor penuaan lain akan pupil (Bilateral atau unilateral dilatasi.
membuat toleransi kulit terhadap tekanan, Unilateral tanda dari perdarahan
pergesekan dan tenaga yang merobek cerebral), perubahan tanda vital (nadi
menjadi kurang (Nurarif, 2013). rendah, tekanan nadi melebar, nafas
irregular, peningkatan suhu tubuh),
Hubungan antara tingkat keluhan kepala pusing, muntah projectile
ketergantungan pasien dengan (tanpa ada rangsangan), kelumpuhan dan
kejadian dekubitus pada pasien stroke kelemahan, penurunan penglihatan,
Berdasarkan hasil tabel silang defisit kognitif dan bahasa (komunikasi),
didapatkan bahwa pada pasien stroke pelo/disartria, kerusakan nervus kranialis,
dengan tingkat ketergantungan penuh, inkontinensia alvi dan uri (Padila, 2012).
hampir seluruhnya mengalami dekubitus Komplikasi pada penderita stroke yaitu
derajat I yaitu sebanyak 10 orang risiko terjadinya dekubitus akibat
(90,9%). Sedangkan pada pasien stroke keterbatasan kemampuan dalam
dengan tingkat ketergantungan berat, melakukan kegiatan sehari-hari seperti
hampir seluruhnya tidak mengalami makan, berpakaian dan kebersihan diri
dekubitus yaitu sebanyak 34 orang (85%). dan lainnya (Kozier & Erb, 2009).
Sementara pada pasien stroke dengan Kelumpuhan yang dialami penderita
tingkat ketergantungan moderat, stroke dapat berupa hemiplegia maupun
seluruhnya tidak mengalami dekubitus hemiparesis (Sylvia, 2005). Keadaan
yaitu sebanyak 9 orang (100%). Hal ini tersebut merupakan akibat dari
menunjukkan bahwa tingkat terputusnya aliran darah di jaringan otak
ketergantungan pasien memiliki pengaruh yang memperdarahi bagian otak yang
terhadap terjadinya dekubitus. bertanggung jawab terhadap aktivitas
Hasil penelitian ini serupa dengan motorik sehingga, pasien stroke
penelitian Okatiranti (2013), yaitu dengan mengalami kesulitan dalam
hasil tingkat ketergantungan pasien menggerakkan ekstremitas dan
minimal care sebesar 88,24% atau

7
membutuhkan bantuan dalam rutinitas sehari-hari.Oleh karena itu
melaksanakan ADL (Miller et al, 2010). standar perubahanposisi dengan interval
Sebagai upaya untuk mencegah 1 ½ sampai 2 jam mungkin tidak dapat
terjadinya dekubitus pada pasien stroke, mencegah terjadinya dekubitus pada
yaitu dengan memberikan pendidikan beberapa klien.Telah direkomendasikan
kesehatan pada pasien berupa penggunaan jadwal tertulis untuk
pembelajaran tentang perawatan diri dan mengubah dan menentukan posisi tubuh
kebersihan diri (personal hygiene) pada klien minimal setiap 2 jam.Saat
pasien dengan harapan pasien mampu melakukan perubahan posisi, alat bantu
melakukan perawatan secara mandiri untuk posisi harus digunakan untuk
(supportive dan educative). melindungi tonjolan tulang.Untuk
mencegah cidera akibat friksi, ketika
Hubungan antara mobilitas pasien mengubah posisi, lebih baik diangkat
dengan kejadian dekubitus pada daripada diseret.Pada klien yang mampu
pasien stroke duduk di atas kursi tidak dianjurkan duduk
Berdasarkan hasil penelitian yang lebih dari 2 jam.
ditunjukkan pada tabel 4.9 didapatkan Selanjutnya berdasarkan hasil uji
bahwa pada pasien stroke dengan dengan menggunakan uji Spearman’s
mobilitas sebagian permanen, hampir Rho didapatkan nilai signifikansi (p)
separuhnya mengalami dekubitus derajat sebesar 0,000 yang berarti lebih kecil dari
I yaitu sebanyak 15 orang (45,5%). alpha 0,05; maka H1 diterima yang
Sedangkan pada pasien stroke dengan artinya ada hubungan antara mobilitas
mobilitas sebagian temporer, hampir pasien dengan kejadian dekubitus pada
seluruhnya tidak mengalami dekubitus pasien stroke. Serta dengan tingkat
yaitu sebanyak 26 orang (96,3%). Hal ini keeratan hubungan sedang (moderat).
menjelaskan bahwa mobilitas memiliki Menurut Smeltzer & Bare (2015), faktor
pengaruh terhadap terjadinya dekubitus. penunjang terjadinya dekubitus adalah
Semakin rendah mobilitas fisik pasien, imobilitas, kerusakan persepsi sensori,
maka semakin tinggi risiko terjadinya penurunan perfusi jaringan, penurunan
dekubitus pada pasien stroke. status nutrisi, friksi dan gaya tarikan,
Ketidakmampuan pasien stroke dalam peningkatan kelembaban, dan
melakukan mobilitas fisik disebabkan oleh pertimbangan gerontologi. Mobilitas
lemahnya kekuatan otot. Kekuatan otot merupakan kemampuan individu untuk
yang normal meliputi kontraksi otot yang bergerak secara bebas, mudah, dan
membuat tubuh dapat bergerak melawan teratur dengan tujuan untuk memenuhi
gravitasi. Pada pasien dengan kerusakan kebutuhan aktivitas guna
otak yang bermakna, kekuatan otot akan mempertahankan kesehatannya (Hidayat
menjadi sangat lemah sehingga & Uliyah, 2014). Imobilitas dan
menyebabkan pergerakan sangat ketidakaktifan berdampak pada
terbatas. Salah satu penyebab terjadinya kemampuan seseorang menghindari
dekubitus adalah immobilisasi (pasien tekanan, mengubah posisi secara
tidak bergerak). Bila pasien tidak aktif mandiri, dan rentan terhadap tarikan serta
bergerak, jaringan kulit dan subkutan gesekan (Smeltzer & Bare, 2015).
mengalami penekanan oleh benda Upaya dapat dilakukan untuk
dimana pasien beristirahat, seperti kasur, mencegah terjadinya dekubitus pada
tempat duduk atau traksi. Immobilitas pasien stroke yaitu dengan intervensi
yang lama menjadi penyebab terjadinya keperawatan berupa mengubah posisi
dekubitus (Smeltzer & Bare, 2015). pasien yang bertirah baring (paling sedikit
Hasil penelitian ini serupa dengan setiap 2 jam). Asupan kalori harus
penelitian Hastuti (2013), yaitu dengan dipertahankan tetap tinggi untuk
hasil uji statistik diperoleh ada hubungan merangsang fungsi imun dan
mobilisasi dengan kejadian dekubitus di mempertahankan kesehatan.
Ruang Perawatan Intensive Care Unit Menghilangkan tekanan pada kulit yang
Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar memerah dan penempatan pembalut
(p=0,003). Posisi klien immobilisasi harus yang bersih, rata dan tipis apabila telah
diubah sesuai dengan tingkat terbentuk ulkus dekubitus (Corwin, 2009).
aktivitas,kemampuan persepsi, dan

8
KESIMPULAN 4. Bagi Peneliti Selanjutnya
1. Pada sebagian besar (66,7%) pasien Diharapkan pada peneliti
stroke dengan tingkat ketergantungan selanjutnya dapat menyempurnakan
berat. penelitian mengenai faktor-faktor
2. Pada sebagian besar (55%) pasien penyebab terjadinya dekubitus pada
stroke dengan mobilitas sebagian pasien stroke yang meliputi faktor
permanen. ekstrinsik dan faktor instrinsik. Pada
3. Pada sebagian besar (73,3%) pasien faktor penyebab terjadinya dekubitus
stroke tidak mengalami decubitus. dapat dilakukan penelitian lanjutan
4. Ada hubungan antara tingkat yang meliputi faktor mobilitas dan
ketergantungan pasien dengan aktivitas, kelembapan, tenaga yang
kejadian dekubitus pada pasien stroke merobek (shear), pergesekan
di RS PKU Muhammadiyah Cepu (frinction), nutrisi, usia, tekanan
Tahun 2018, dengan hasil uji arteriolar yang rendah, stres
Spearman’s Rho didapatkan nilai emosional, merokok, dan temperatur
signifikansi (p) sebesar 0,000 dan nilai kulit. Dengan penelitian lanjutan
korelasi sebesar 0,611. diharapkan dapat diperoleh hasil yang
5. Ada hubungan antara mobilitas lebih baik lagi.
pasien dengan kejadian dekubitus
pada pasien stroke di RS PKU DAFTAR PUSTAKA
Muhammadiyah Cepu Tahun 2018,
dengan hasil uji Spearman’s Rho Adib, M. 2009. Cara Mudah Memahami &
didapatkan nilai signifikansi (p) Menghindari Hipertensi Jantung &
sebesar 0,000 dan nilai korelasi Stroke. Yogyakarta : Dianloka.
sebesar 0,499.
Andrian, S. 2011. Pencegahan Luka
Dekubitus. https://andriansetyo.
SARAN
wordpress.com/. Diakses 18 Mei
1. Bagi Perawat
2018.
Hasil penelitian ini diharapkan
menjadi masukan dan sarana Arikunto S. 2014. Prosedur Penelitian
informasi bagi perawat di rumah sakit (Suatu Pendekatan Praktik).
sehingga tidak hanya memperhatikan Jakarta : Rineka Cipta.
tindakan yang bersifat kuratif saat Arisanty, Irma Puspita. 2014. Manajemen
merawat pasien tetapi juga Perawatan Luka. Jakarta : EGC.
melakukan kegiatan pencegahan atau
preventif. Budiarto E. 2015. Biostatistika untuk
2. Bagi Institusi Rumah Sakit Kedokteran dan Kesehatan
Hasil penelitian dapat Masyarakat. Jakarta : EGC.
dijadikan bahan pertimbangan dan Budiarto, Eko. 2015. Metodologi
masukan untuk meningkatkan mutu Penelitian Kedokteran. Jakarta:
dan kualitas pelayanan rumah sakit, EGC.
khususnya dalam hal menekan angka
kejadian ulkus dekubitus pada pasien Corwin, Elizabeth J. 2009. Patofisiologi.
stroke melalui tindakan preventif. Jakarta : EGC.Padila. 2012. Buku
3. Bagi Institusi Pendidikan Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Diharapkan dari hasil Yogyakarta : Nuha Medika.
penelitian ini dapat menjadi bahan Darmojo. 2015. Buku ajar Boedhi-
tambahan informasi dasar dan Darmojo Geriatric (Ilmu Kesehatan
memberikan wawasan tentang pasien Usia Lanjut) edisi ke-5. Jakarta:
stroke terutama yang berkaitan Balai Penerbit FKUI.
dengan hubungan antara tingkat
ketergantungan pasien dan mobilitas Ekaputra, E. 2013. Evolusi Manajemen
dengan kejadian dekubitus pada Luka. Jakarta : Trans Info Media.
pasien stroke. Hidayat, A. Aziz Alimul & Musrifatul
Uliyah. 2014. Pengantar
Kebutuhan Dasar Manusia.
Jakarta : Salemba Medika.

9
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2014. Metode Sugiyono. 2012. Statistik Untuk
Penelitian Keperawatan Dan Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Tehnik Analisa Data. Jakarta:
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian
Salemba Medika.
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Kozier & Erb. 2009. Buku Ajar Praktik Bandung: Alfabeta.
Keperawatan Klinis. Jakarta :
Suratun, dkk. 2012. Seri Asuhan
EGC.
Keperawatan Klien Gangguan
Muhith, A., dan Siyoto, S. 2016. Sistem Muskuloskeletal. Jakarta:
Pendidikan Keperawatan EGC.
Gerontik. Yogyakarta: Andi.
Suyanto, B. dan Sutinah. 2011. Metode
Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2008. Penelitian Sosial (Berbagai
Asuhan Keperawatan Klien Alternatif Pendekatan). Jakarta :
dengan Gangguan sistem Kencana.
Persyarafan. Jakarta : Salemba
Medika.
Nurarif, AH. 2013. Aplikasi Asuhan
Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan NANDA
(North American Nursing
Diagnosis Association) NIC-NOC
Jilid 1 dan Jilid 2. Yogyakarta :
Media Action Publishing.
Nursalam. 2016. Metodologi Penelitian
Ilmu Keperawatan Pendekatan
Praktis. Jakarta : Salemba
Medika.
Potter & Perry. 2011. Buku Ajar
Fundamental Keperawatan.
Jakarta: EGC.
Priharjo, 2012. Mobilisasi.
http://asuhankeperawatan4u.blogs
pot.com. Diakses 5 Mei 2018.
Pudjiastuti, S.S., & Utomo, B.2008.
Fisioterapi pada lansia. Jakarta:
EGC.
Purnomo, Windu. 2013. Pengolahan dan
Analisis Data pada Riset
Kuantitatif. Surabaya : PPNI.
Sanada H, Suriadi, Junko S, Thigpen B,
Subuh M. 2008. Development of a
new risk assessment scale for
predicting pressure ulcers in an
intensive care unit. Journal British
Association of Critical Care Nurse,
Nursing in Critical Care (13):34-43
Smeltzer, Susan C. 2015. Keperawatan
Medikal Bedah – Brunner &
Suddarth Edisi 12. Jakarta: EGC.
Suarti, I Made. 2009. Panduan Praktik
Keperawatan Lansia. Yogyakarta :
PT. Citra Aji Parama.

10