Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS PERBANDINGAN PERLAKUAN AKUNTANSI ASET BIOLOGIS

PADA PERUSAHAAN AGRIBISNIS

(Studi Kasus PT Sampoerna Agro Tbk dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk)

Oleh:
Medeleen Florencia Kawilarang (15 13 075)

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi


Universitas Atma Jaya Makassar
Jl. Tanjung Alang No 23, Makassar
Email: medeleenflorencia@yahoo.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan gambaran yang berkaitan dengan perbedaan
pendekatan pada aset biologis dengan membandingkan perlakuan laporan aset biologis di
antara perusahaan-perusahaan perkebunan. PT Sampoerna Agro Tbk dipilih karena telah
menerapkan Agrikultur IAS 41, walaupun belum sepenuhnya. Ini merupakan fakta dari
laporan manajemen yang menetapkan bahwa dalam menentukan harga pasar dari CPO,
perusahaan menggunakan kurs spot. Sementara itu, sebagai perbandingan perusahaan,
dipilih PT Dharma Satya Nusantara Tbk berdasarkan kesamaan nilai dari aset biologis dan
kinerja perusahaaan yang tidak jauh berbeda. Metode yang digunakan adalah penelitian
deskriptif. Data diperoleh dari laporan tahunan masing-masing perusahaan. Analisis yang
digunakan meliputi lima aspek: jangkauan pelaporan, deskripsi aset biologis, pengakuan
dan pengukuran aset bilogis, pengakuan nilai wajar, dan bantuan pemerintah. Hasil dari
penelitian ini menunjukkan bahwa kedua perusahaan masih tidak menerapkan nilai wajar
aset biologis sebagai metode pengukuran. Walaupun begitu, dalam menentukan umur dari
tanaman, kedua perusahaan mempunyai pengukuran umur yang berbeda yang
memengaruhi nilai aset. Berdasarkan Agrikultur IAS 41, hasil dari penelitian ini adalah
mencoba menunjukkan perusahaan publik, khususnya perusahaan perkebunan, untuk mulai
belajar menerapkan nilai wajar. Ini bermaksud agar di masa depan dapat menghasilkan
informasi akuntansi yang relevan dan dapat dipercaya.

Kata Kunci: Aset Biologis, Laporan Keuangan, IAS 41

1
PENDAHULUAN

Agrikultur menjadi salah satu kunci utama dalam roda perekonomian rakyat di
Indonesia. Luas lahan yang mencapai 45.000.000 hektar (Kementrian Pertanian 2012) ini
menyumbang PDB negara sebesar 14,44 persen pada tahun 2012. Sektor ini sendiri juga
mampu menyumbang jumlah tenaga kerja yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan sektor
yang lainnya, sebesar 38,9 juta jiwa pada tahun 2012.

Sebagai salah satu pengembangan dari sektor agrikultur, industri perkebunan,


khususnya kelapa sawit memiliki grafik pertumbuhan yang baik dan masa depan yang
menguntungkan. Seperti yang ungkapkan oleh Dradjat (2007: 6), mulai tahun 1980 hingga
2005 ekspor minyak sawit nasional terus meningkat sebesar 12,9 persen pertahun. Di tahun
2005, Indonesia bahkan sudah mampu memenuhi 39,35 persen dari kebutuhan ekspor minyak
sawit dunia Untuk konsumsi minyak sawit domestik sebesar 25 sampai 30 persen dari total
produksi nasional, dengan dengan perkiraan 80 hingga 85 persennya digunakan sebagai bahan
baku industri pangan dan sisanya dalam industri non-pangan.

Tidak hanya sebagai salah satu faktor yang menopang industri pangan, keberadaan
industri perkebunan juga mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan. Selain
karena lokasi perkebunan yang sebagian berada di area pedesaan. Syahza (2014,1-2)
membuktikan bahwa industri perkebunan khususnya kelapa sawit telah memberikan
perubahan ekonomi yang signifikan bagi daerah Riau. Tidak hanya meningkatnya lapangan
kerja dalam lingkup industri kelapa sawit semata, namun juga mampu menumbuhkan industri
industri baru seperti toko-toko, jasa transportasi, industri rumah tangga dan perbankan yang
mampu meningkatkan kesejahteraan daerah.

Namun tahun 2012 merupakan masa yang suram bagi industri kelapa sawit. Gabungan
Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia menilai bahwa hal ini tidak hanya dipengaruhi oleh
perekonomian global yang terpuruk, namun juga faktor internal seperti kepastian hukum,
moratorium izin hutan baru dan infrastruktur yang minim (Portal BUMN: 2013). Selain
itu faktor cuaca juga menjadi kendala untama dalam pengembangan kelapa sawit, PT
Sampoerna Agro dalam laporan manajemennya menilai bahwa tahun 2012 merupakan tahun
yang sangat kering bagi industri kelapa sawit dan membawa pengaruh yang cukup signifikan
pada tahun setelahnya. Tahun 2013, harga pasar crude palm oil mengalami penurunan sebesar
tiga persen dari tahun sebelumnya. Tiga perusahaan perkebunan yang listed mengakui adanya

2
rugi bersih dalam laporan laba rugi komprehensifnya. Bahkan yang lebih mengejutkan, PT
Bakrie Sumatra Plantation mencatat rugi komprehensifnya mencapai tiga triliun rupiah.

Sektor agrikultur yang hampir sepenuhnya dijalankan oleh rakyat mungkin dapat
menjadi salah satu penyebab lemahnya sektor ini. Latar belakang pendidikan yang masih
kurang, menyebabkan masyarakat biasa kurang mampu untuk beradaptasi dan menghadapi
perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia ekonomi. Untuk itu manajemen yang baik
sangat perlu untuk membantu pergerakan dan perkembangan dari perekonomian rakyat ini.
Seperti yang diungkapkan oleh Argilés dan Slof (2000: 27), giving a man a fish will feed him
for one day, while giving him a cane will allow him to feed himself every day. Yang berarti
bahwa, jika memberikan subsidi bagi petani hanya akan melindunginya dari kerugian, namun
memberinya alat manajemen (salah satunya adalah standar akuntansi) akan memberikan
kelangsungan bisnis baginya.

Salah satu alat menajemen yang umum diketahui adalah laporan keuangan. Saat ini,
permintaan publik terhadap informasi laporan keuangan juga semakin tinggi. Menurut PSAK
No. 1 (2009: 5), laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi mengenai posisi
keungan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar
kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Pentingnya porsi laporan
keuangan dalam pengelolaan sebuah industri membuat keberadaan laporan keuangan sangat
dibutuhkan, tentunya ditunjang dengan output kualitas informasi yang baik pula.

Dalam menyusun laporan keuangan, metode akuntansi menjadi salah satu hal yang
harus diperhatikan. Berbeda dengan perusahaan manufaktur pada umumnya, perusahaan yang
bergerak di bidang agrikultur memiliki aset yang berbentuk mahluk hidup (tumbuhan dan
hewan). Proses pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan atas aset yang dikenal
dengan nama aset biologis ini juga sangat berbeda dengan aset tetap yang umumnya benda
mati. Dibutuhkan pemahaman yang lebih detail, karena aset biologis akan mengalami
klasifikasi yang berulang di sepanjang umur ekonomisnya akibat transformasi bentuk aset
tersebut.

Dalam aplikasinya, aset biologis dapat diukur menggunakan biaya historis dan nilai
wajar. Biaya historis didasarkan pada harga perolehan awal dari aset tersebut. Namun
sayangnya, metode biaya historis dianggap kurang mampu menyampaikan informasi yang
wajar terkait nilai aset terkini. Sebaliknya, metode nilai wajar memungkinan bagi setiap

3
entitas untuk merevaluasi aset biologisnya pada setiap periode. Metode ini muncul karena
pemikiran bahwa aset biologis tumbuh dan dapat mengalami perubahan nilai setiap waktu,
yang biasa dikenal dengan transformasi biologis. Sayangnya, metode ini juga memiliki
kelemahan, selain memakan biaya yang cukup tinggi dalam aplikasinya, terkadang untuk
beberapa aset biologis nilainya tidak tersedia di pasar, sehingga sulit untuk menentukan
nilainya.

Dalam memenuhi kebutuhan informasi akuntansi global, International Accounting


Standard (IAS) 41 “agriculture” muncul untuk menjawab keberagaman yang terjadi dalam
pengungkapan aset biologis. Dikeluarkan oleh Internasional Accounting Standard Board
(IASB), IAS 41 memperkenalkan metode fair value sebagai dasar pengukuran aset biologis.
Klasifikasi terhadap aset biologis juga dijelaskan dalam peraturan yang dikeluarkan
Desember 2000 ini. Selain itu, standar akuntansi untuk sektor pertanian sudah mulai
berkembang sedemikian rupa. IPSAS 27, European Farm Accountancy Data Network
(FADN), dan Proposed International Accounting Standard on Agricultural (PIASA), juga
turut mengatur perlakuan akuntansi aset biologis yang dimiliki oleh negara maju.

Berbeda dengan apa yang kita lihat di luar, Indonesia belum mengatur secara spesifik
terkait pencatatan dan pengungkapan dalam sektor agrikultur. Sampai saat ini, acuan
pelaporan keuangan dalam sektor agrikultur hanya mengacu pada Surat Edaran Ketua Badan
Pengawas Pasar Modal (Bapepam) No: SE-02/PM/2002 tentang Pedoman Penyajian dan
Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Perkebunan,
Pedoman Akuntansi Perkebunan BUMN Berbasis IFRS yang dekeluarkan oleh PT.
Perkebunan Nusantara I-IV dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) tahun 2011, PSAK 16
tentang Aset Tetap, PSAK 48 tentang Penurunan Nilai Aktiva, dan SAK ETAP untuk
perusahaan yang tidak memiliki akuntabilitas publik.

Pada kenyataannya, saat ini banyak entitas usaha agrikultur di Indonesia yang hanya
mengacu pada PSAK 16 dan 48 dalam menilai aset biologis yang mereka miliki (Kurniawan,
2012: 3). PSAK 16 dan 48 sendiri tidak secara spesifik mengatur masalah aset biologis,
hanya aset secara umum. Kurniawan juga menilai bahwa hal ini dapat menimbulkan distorsi
akuntansi yang dampaknya akan membuat laporan keuangan menjadi tidak andal. Bias yang
terjadi pada pelaporan akuntansi, akan berdampak besar pada keakuratan pengambilan
keputusan oleh pengguna laporan keuangan. Seperti yang diungkapkan Tang dan Gao (2013:
14), tidak adanya keseragaman dalam standar pelaporan akuntansi biologis akan

4
menimbulkan keberagaman pengungkapan, perusahaan terdaftar yang sejenis tidak dapat
diperbandingkan dan menyesatkan pengguna laporan keuangan.

Melihat betapa pentingnya menyampaikan informasi akuntansi yang andal dan


relevan, penulis tertarik untuk menganalisis perlakuan akuntansi terhadap aset biologis pada
entitas perkebunan yang sudah mulai mengaplikasikan IAS 41 Agriculture atau sudah
mendekati nilai-nilai yang diperintahkan dalam IAS 41 Agriculture. Untuk itu PT Sampoerna
Agro dipilih untuk dianalisis perlakuan akuntansi aset biologisnya yang kemudian
dibandingkan dengan entitas sejenis untuk melihat variasi dalam pelaporan akuntansi aset
biologis.

PT Sampoerna Agro Tbk adalah perusahaan perkebunan yang sudah berdiri sejak
tahun 1989 dan sudah mulai mendaftarkan dirinya pada pasar saham sejak tahun 2007. Selain
bergerak dalam industri kelapa sawit, Sampoerna juga mengelola perkebunan karet, sagu, dan
pengembangan bibit kelapa sawit yang kegiatan operasinya berlokasi di Sumatra, Kalimantan
dan Papua.

Sebagai entitas, PT Dharma Satya Nusantara Tbk dipilih berdasarkan kemiripan nilai
aset biologis dan kinerja perusahaan yang tidak jauh berbeda. Walau sudah berdiri sejak
tahun 1980, perusahaan ini masih sangat muda dalam bursa saham karna baru saja terdaftar
pada tahun 2013. Sama seperti PT Sampoerna Agro, perusahaan ini menggantungkan
sebagian besar penghasilannya pada perkebunan sawit dengan persentase sebesar 64 persen
dari seluruh kegiatan operasinal.

PT Sampoerna Agro dan PT Dharma Satya Nusantara kemudian dianalisis untuk


menghasilkan gambaran variasi yang muncul dalam pelaporan aset. Serta sebagai tambahan,
penulis memberikan pandangan berdasarkan IAS 41 Agriculture terhadap perlakuan
akuntansi aset biologis pada kedua perusahaan.

KAJIAN PUSTAKA

Aset biologis menurut IAS 41 Agriculture (PWC, 2009: 2) adalah sebagai berikut,
“Biological assets is a living animal or plant.” Karakteristik khusus yang membedakan aset
biologis dengan aset lainnya yaitu bahwa aset biologis mengalami transformasi biologis.
Menurut Ridwan (2011: 9), transformasi biologis merupakan proses pertumbuhan,
degenerasi, produksi, dan prokresai yang disebabkan perubahan kualitatif pada makhluk

5
hidup dan menghasilkan aset baru dalam bentuk produk agrikultur atau aset biologis
tambahan pada jenis yang sama.

Karena karakteristiknya yang berbeda denga aset pada umumnya, aset biologis
memiliki cara pandang pengukuran yang berbeda-beda. Yang paling menjadi perdebatan saat
ini adalah penggunaan metode biaya historis dan nilai wajar dalam menentukan materialitas
dari aset biologis. Organisasi akuntansi dunia seperti International Accounting Standard
Board (IASB), U.S.A. Financial Accounting Standard Board (FASB), Accounting
Regulatory Committee (ARC), dan European Financial Reporting Advisory Group (EFRAG)
mendorong konvergensi standar akuntansi internasional berdasarkan harga pasar, bukan
menggunakan metode tradisional yang biasa di kenal dengan biaya historis (Argilés, Blandón
dan Monllau, 2005: 1).

Biaya historis sendiri perlahan sudah mulai ditinggalkan karna dalam beberapa
kondisi tidak lagi relevan untuk menilai aset biologis. Seperti yang diungkapkan oleh Argilés
dan Slof (2000; 5) bahwa kuantitas aset biologis tidak hanya berdasarkan aktivitas jual beli
semata, tetapi berdasarkan proses pembentukan, pertumbuhan dan kematian yang nilainya
tidak dapat dihasilkan dengan menggunakan nilai historis.

Untuk itulah IAS 41 “agriculture” muncul dengan membawa konsep fair value dalam
menghitung aset biologis. Walau mendapat cukup banyak kritikan karna terlalu akademis,
sampai saat ini IAS 41 masih dinilai paling relevan untuk menghasilkan valuasi yang relevan.
Fair value sendiri menururt IAS 41 yang dikutip dari Maria dan Azevedo (2004: 8) adalah,
“The amount for which an assets could be exchanged, or a liability settled, between
knowledgeable, willing parties in an arm’s length transaction, being independent from each
other.”

Dalam mengukur nilai asetnya IAS 41 menggunakan beberapa tingkatan pendekatan


(Feleagă, Feleagă, dan Răileanu, 2012: 7). Pertama, fair value dicocokkan berdasarkan harga
yang terdapat dalam pasar aktif. Pasar aktif sendiri adalah pasar dengan (i) barang yang dijual
di dalamnya bersifat homogeny dan (ii) kemauan pembeli dan penjual pada setiap waktu dan
harga tersedia secara publik.

Kedua, jika pasar aktif tidak tersedia, fair value bisa diestimasi dengan beberapa cara:
dalam kaitannya dengan harga transaksi terakhir, dalam kaitannya dengan harga pasar dari

6
aset sejenis, disesuaikan untuk memperhitungkan perbedaan; dengan mengacu pada kriteria
yang umum digunakan dalam industri masing-masing.

Ketiga, jika harga atau nilai yang ditentukan oleh pasar tidak tersedia untuk aset
biologis, entitas dapat menentukan nilai wajar dengan mendiskontokan arus kas yang
diharapkan dari aset, dengan menggunakan tingkat pra-pajak yang ditentukan pasar saat ini.
Untuk menghitung nilai ini IAS memberikan aturan berikut: (i) berbagai penambahan dalam
nilai aset biologis sebgai hasil dari trasformasi biologis dan aktivitas mendatang dari entitas
harus dikeluarkan, seperti mempertinggi transformasi biologis kedepannya, pemanenan, dan
penjualan; (ii) arus kas untuk menguangkan aset, pajak atauperbaikan dari aset biologis
setelah panen harus dimasukkan; (iii) estimasi dari kemungkinan variasi dalam arus kas akan
dimasukkan dalam estimasi arus kas atau dalam persentase diskon atau kombinasi keduanya.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini mengambil jenis penelitian studi kasus deskriptif. Di antara enam jenis
penelitian studi kasus, Baxter dan Jack (2008: 548) menjelaskan bahwa studi kasus deskriptif
adalah, “case study types that is used to describe an intervention or phenomenon and the
real-life context in which it occurred.”

Dari 11 perusahaan perkebunan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia, PT


Sampoerna Agro Tbk dipilih sebagai sampel utama dalam penelitian ini dan akan diteliti
terkait perlakuan akuntansi aset biologisnya. PT Sampoerna Agro Tbk dianggap sudah mulai
melakukan perubahan menuju kea rah penerapan IAS 41 Agriculture. Hal ini terbukti dalam
pernyataan manajemen yang menyebutkan bahwa dalam menentukan harga pasar crude palm
oil perusahaan menggunakan harga spot.

Sebagai sampel pembanding, PT Dharma Satya Nusantara Tbkdipilih berdasarkan


informasi yang tertera dalam laporan keuangan. Setelah membandingkan dengan kesembilan
perusahaan lainnya, PT Dharma Satya Nusantara dinilai memiliki kemiripan dengan PT
Sampoerna Agro Tbk dalam hal jumlah aset biologis dan kinerja perusahaan.

Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan tujuan untuk memberikan gambaran
awal mengenai pengukuran, pengakuan, dan pengungkapan aset biologis pada laporan
keuangan PT Sampoerna Agro Tbk dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk yang menjadi objek
penilitian. Berdasarkan teori Miles dan Huberman (1994: 10-12) analisis data kualitatif dibagi

7
menjadi tiga tahapan, yaitu reduksi data, display data dan gambaran kesimpulan dan
verifikasi.

HASIL PENELITIAN
Dari hasil penelitian yang dilakukan pada PT Sampoerna Agro Tbk dan PT Dharma
Satya Nusantara, analisis dilihat berdasarkan lima indikator yaitu ruang lingkup pelaporan,
deskripsi aset biologis, pengakuan dan pengukuran aset biologis, pengakuan nilai wajar, dan
government grants. Dari kelima indikator tersebut ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Tabel 1 Analisis Perbandingan Perlakuan Akuntansi Aset Biologis Antara PT


Sampoerna Agro dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk

No Indikator PT Sampoerna Agro PT Dharma Satya Analisis


Nusantara
1. Ruang Tidak hanya mengatur Aset biologisnya Keduanya memiliki
lingkup dan mengungkapkan tidak hanya diatur ruang lingkup
pelaporan aset biologis saja, sampai titik panen pelaporan aset biologis
tetapi juga sampai saja, namun sampai yang hampir sama.
menjadi produk jadi. menjadi produk Mulai dari pengakuan
Produk yang sampai agrikultur yang dapat aset biologisn hingga
pada titik panen adalah dikonsumsi. menjadi persediaan.
produk sawit berupa Transformasi produk
CPO dan inti sawit. agrikultur tidak
dijabarkan secara
jelas dalam laporan
keuangan, sehingga
sulit untuk melihat
nilai dari masing-
masingnya.

8
2. Deskripsi Tanaman perkebunan Tanaman perkebunan Tanaman perkebunan
tentang aset merupakan tanaman hanya berupa kelapa Keduanya sama-sama
biologis kelapa sawit dan karet sawit yang mengakuinya sebagai
yang diklasifikasikan diklasifikasi ke dalam tanaman perkebunan
ke dalam tanaman tanaman belum yang diklasifikasikan
belum menghasilkan mengahasilkan dan ke dalam tanaman
dan tanaman tanaman belum menghasilkan
menghasilkan. menghasilkan. Selain dan tanaman
Hutan tanaman itu juga dijabarkan menghasilkan. Namun
industri bersarkan lokasi area. PT Dharma Satya
Dicatat untuk Hutan tanaman Nusantara juga
mengakui tanaman industri menjabarkannya
sagu dan karet yang Dicatat untuk berdasarkan lokasi
diklasifikasi ke dalam mengakui tanman area.
hutan tanaman industri pengahasil kayu yang Hutan tanaman industri
dalam pengembangan diklasifikasi ke dalam Keduanya mencatat
dan hutan tanaman hutan tanaman hutan tanaman industri
industri siap panen. industri dalam untuk jenis tanaman
pengembangan dan yang berbeda. Namun
hutan tanaman klasifikasinya tidak
industri. jauh berbeda.
3. Pengakuan Tanaman perkebunan Tanaman perkebunan Tanaman perkebunan
dan Tanaman belum TBM diakui sebesar Keduanya sama-sama
pengukuran menghasilkan (TBM) harga perolehannya mencatat tanaman
aset biologis dinilai sebagai yang di dapat dari perkebunannya dalam
tanaman yang belum kapitalisasi biaya TBM dan TM, namun
mampu berproduksi langsung dan tidak yang membedakan
dan masih dalam langsung yang adalah pengukuran
pengembangan. TBM berkaitan dengan usia tanaman yang
diakui sebesar harga pengembangan TBM. ditentukan oleh
perolehan yang Tanaman kelapa masing-masing
merupakan kapitalisasi sawit akan mencapai perusahaan.
biaya langsung dan masa produktif saat

9
biaya tidak langsung menginak tahun ke-3 Hutan tanaman industri
yang berkaitan dengan yang kemudian di Hutan tanaman industri
pengembangan TBM. reklasifikasi ke (HTI) sangat
Tanaman kelapa sawit menjadi TM. dipengaruhi oleh
memasuki masa Amortisasi selama 20 perjanian sewa guna
produktif selama 4 tahun. Dalam lahan yang dilakukan
tahun dan karet selama menentukan usia, oleh perusahaan
5-6 tahun yang entitas menggunakan terhadap pihak
kemudian di perhitungan tengah bersangkutan. Kedua
reklasifikasi ke dalam tahun. perusahaan juga
tanaman menghasilkan Hutan tanaman mengakui HTI untuk
(TM). Amortasi kedua industri jenis tanaman dan
tanaman tersebut Berupa tanaman lokasi yang berbeda.
selama 20 tahun. penghasil kayu yang Hal ini sangat
Hutan tanaman sebagian besar menyulitkan untuk
industri belokasi di membandingkan
Dicatat untuk Kalimantanan. Tidak pengukuran dari
mengakui tanaman dijelaskan secara masing-masing
sagu yang berlokasi di terperinci pula, perusahaan.
Papua. Tidak ditulis namun usia dihitung
secara rinci berdasarkan hak
perhitungan usia konsesi lahan.
hutan, namun
dijelaskan bahwa usia
dihitung berdasarkan
hak guna lahan.

10
4. Pengakuan Nilai wajar crude palm Walau hanya sebatas Pada dasarnya kedua
nilai wajar oil (CPO) diakui ditampilkan, perusahaan sama-sama
berdasarkan harga perusahaan sudah belum menggunakan
spot. Harga spor dalah berupaya nilai wajar dalam
harga yang berlaku menyampaikan nilai mengukur nilai aset
pada tanggal transaksi. wajar dari tanaman biologisnya. Namun
perkebunan dan hutan PT Sampoerna Agro
tanaman industri perlahan sudah mulai
dalam laporan menggunakan nilai
keuangannya. wajar menggunakan
harga spot untuk CPO.

5. Government Tanaman kemitraan - Karna hanya PT


grants berupa perjanjian Sampoerna yang
Sungai Rangit dengan memiliki govermen
petani setempat dan grants, maka tidak
didanai oleh Sungai dapat dibandingkan
Rangit. Selama 11 antara keduanya.
tahun sejak TM,Sungai
Rangit berkewajiban
untuk mengelola
tanaman tersebut dan
15% dari hasil panen
didistribusikan kepada
petani. Setelah tahun
ke-11 tanaman
kemitraan akan
diserahkan kepada
petani setempat.

11
Sebagai pandangan IAS 41 Agriculture digunakan untuk memberi masukan terkait
perlakuan akuntansi aset biologis bagi kedua perusahaan. Di mana diantara PT Sampoerna
Agro tbk dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk belum secara tepat memperlakukan aset
biologisnya jika dilihat dari kacamata IAS 41 Agriculture.

Ruang lingkup pelaporan dalam International Accounting Standard (IAS) 41


Agriculture hanya sebatas perlakuan akuntansi dan pengungkapan yang berhubungan dengan
kegiatan pertanian saja, selebih dari titik panen diatur dalam IAS 2 Inventories. Karena
setelah titik panen, kedua perusahaan masih mengolah produk agrikulturnya menjadi produk
lain yang lebih mudah di konsumsi, maka perusahaan mengungkapkannya hingga mengga
menjadi produk jadi. Pengaturan terkait persediaan nantinya akan diatur berdasarkan PSAK
14 Persediaan.

Dalam mendeskripsikan aset biologis, IAS 41 Agriculture menganjurkan setiap entitas


yang bergerak dalam industri agrikultur untuk memberikan deskripsi yang dihitung
berdasarkan kelompok aset biologisnya. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran
yang jelas terkait variasi dalam aset biologis dan mempermudah dalam menentukan nilai
wajar dari aset biologis tersebut. Pengelompokan tidak hanya berdasarkan jenis tanamannya
saja, namun bisa lebih rijit lagi, seperti umur, luas, wilayah dan produksinya.

Dalam pengakuan dan pengukuran, jika berkiblat pada IAS 41 Agriculture, nilai wajar
diukur berdasarkan nilai aset biologis pada pasar. Jika tidak terdapat pasar aktif, maka
penilaian aset biologis dapat didasarkan pada: (1) Harga pasar terkini atas transaksi pada aset
biologis, (2) Harga pasar untuk aset biologis yang sejenis setelah dilakukan penyesuaian yang
menunjukkan perbedaan dari aset biologis tersebut, atau (3) Harga yang menjadi nilai
patokan dari aset biologis dalam sektor agrikultur. Jika tidak ditemukan harga pasar yang
memastikan nilai dari aset biologis, menggunakan nilai arus kas bersih yang diharapkan dari
aset setelah didiskontokan dengan tarif pajak yang berlaku pada saat itu.

12
Tabel 2 Rekomendasi Jurnal Menurut IAS 41 Agriculture
No Aktivitas Jurnal Menurut IAS 41 Keterangan
Operasional
1 Persiapan TBM xxx Jika terjadi selisih antara nilai
lahan Kas/Utang usaha xxx wajar dan harga perolehan, perlu
diakui laba/rugi penilaian aset
biologis.
2 Reklasifikasi TM xxx
TBM ke TM TBM xxx
3 Revaluasi aset TM/TBM xxx Jika nilai wajar lebih tinggi dari
biologis Laba atas penilaian aset xxx nilai buku maka diakui laba atas
Rugi atas penilaian aset xxx penilaian aset. Jika sebaliknya,
TM/TBM xxx maka diakui rugi atas penilaian
aset.

Pengakuan nilai wajar berdasarkan IAS 41 Agriculture diukur berdasarkan nilai aset
biologis pada pasar. Jika tidak terdapat pasar aktif, maka penilaian aset biologis dapat
didasarkan pada: (1) Harga pasar terkini atas transaksi pada aset biologis, (2) Harga pasar
untuk aset biologis yang sejenis setelah dilakukan penyesuaian yang menunjukkan perbedaan
dari aset biologis tersebut, atau (3) Harga yang menjadi nilai patokan dari aset biologis dalam
sektor agrikultur. Jika tidak ditemukan harga pasar yang memastikan nilai dari aset biologis,
menggunakan nilai arus kas bersih yang diharapkan dari aset setelah didiskontokan dengan
tarif pajak yang berlaku pada saat itu.

Untuk government grants, pada saat tanaman kelapa sawit dikembalikan kepada
petani, perusahaan akan mengakui laba atau rugi perjanjian karena nilainya pada tahun
kesebelas akan ditentukan oleh pemerintah setempat. Jika harga yang ditetapkan pemerintah
lebih rendah dari nilai aset biologis perusahaan maka perusahaan mengakui kerugian
penghapusan nilai aset. Jika sebaliknya, makan perusahaan mengakui laba penghapusan nlai
aset.

13
KESIMPULAN DAN SARAN
Antara PT Sampoerna Agro Tbk dan PT Dharma Satya Nusantara, keduanya memiliki
ruang lingkup pelaporan aset bilogis yang hampir sama. Mulai dari pengakuan aset
biologisnya hingga menjadi persediaan. Produk yang sampai pada titik panen PT Sampoerna
Agro adalah produk sawit berupa CPO dan inti sawit. Sedangkan untuk PT Dharma Satya
Nusantara tidak menjabarkan secara jelas terkait transformasi produk agrikuturnya, sehingga
sulit untuk melihat nilai dari masing-masingnya.

Kedua perusahaan juga sama-sama mendeskripsikan aset biologisnya dalam tanaman


perkebunan dan hutan tanaman industri. Walau digunakan untuk mengakui jenis tanaman
yang berbeda (selain kelapa sawit), tanaman perkebunan diklasifikasikan ke dalam TBM dan
TM. Sedangkan untuk hutan tanaman menghasilkan diklasifikasi dalam HTI dalam
pengembangan dan HTI siap panen, kecuali untuk PT Dharma Satya Nusantara hanya hutan
tanaman industri.

Dalam pengakuan dan pengukuran aset biologisnya, memiliki pengukuran usia


tanaman yang berbeda dan memperngaruhi nilai dari aset tersebut. Begitu juga dengan hutan
tanaman industri yang nilai dan usianya sangat dipengaruhi oleh jenis perjanjian yang
dilakukan oleh masing-masing perusahaan.

Sedangkan untuk pengakuan nilai wajarnya, kedua perudahaan sama-sama belum


menggunakan fair value dalam mengukur nilai aset biologisnya. Namun PT Samporna Agro
perlahan sudah mulai menggunakan nilai wajar menggunakan harga spot untuk menilai CPO.
Begitu juga untuk government grants, hanya PT Sapoerna yang memiliki dan mencatatnya,
sehingga tidak dapat dibandingkan di antara keduanya.

Berdasarkan dari kesimpulan tersebut dan melihat IAS 41 Agriculture yang sudah
mulai diterapkan di luar negeri mulai 2003, sepertinya pengguanaan nilai wajar dapat
perlahan-lahan diterapkan. Perkembangan ilmu appraiasal saat ini pun sudah cukup baik dan
bisa menjadi alternatif pemecahan masalah dari kesulitan yang dihadapi perusahaan
agrikultur. Selain itu, kedua perusahaan telah memiliki akuntabilitas publik yang mana
laporan keuangannya telah menjadi konsumsi masyarakat luas. Untuk itu tanggung jawab
untuk menyampaikan informasi yang relevan dan andal juga semakin tinggi.

14
Melalui penelitian ini, penulis mengharapkan kepada PT Sampoerna Agro Tbk dan
PT Dharma Satya Nusantara Tbk agar dapat terus meningkatkan kualitas informasi laporan
keuangnya, khususnya pada aset biologisnya. Selain telah menjadi konsumsi publik, laporan
keuangan dapat dikatan baik jika dapat memberikan informasi yang relevan, andal, dapat
dibandingkan dan lengkap. Selain itu untuk penelitian kedepannya, penulis sangat
mengharapkan adanya perbaikan sehingga dapat memberikan kontribusi yang positif
terhadap perkembangan ilmu akuntansi, khususnya dalam aset biologis.

DAFTAR PUSTAKA
Asri, Marselinus. 2017. Pengaruh Konservatisma Akuntansi terhadap Kualitas Laba
dimoderasi Good Corporate Governance. Artikel. www.academia.edu diakses pada tanggal 7
Juli 2017.

Amanah, Dian Martha Nurul. 2014. Analisis Perlakuan Aset Biologis pada Industri
Perkebunan. Artikel. www.repository.ub.ac.id diakses pada tanggal 30 Juni 2017.

Argilés, Josep Maria; Blandón, Josep Garcia; Monllau, Teresa. 2005. Fair Value and Historic
Cost Accounting of Biological Assets. Artikel. www.scopus.com diakses pada tanggal 22
Maret 2014.

Argilés, Josep Maria; Slof, Eric John. 2000. New Opportunities for Farm Accounting.
Artikel. www.paper.ssrn.com diakses pada tanggal 1 April 2014.

Baxter, Pamela; Jack, Susan. 2008. Qualitative Case Study Methodology: Study Design and
Implementation for Novice Researchers. Artikel. www.nova.edu diakses pada tanggal 14
Agustus 2014.

Dradjat, Bambang. 2007. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol. 29.
Perkebunan Sawit Indonesia Masih Berpotensi Dikembangkan. Artikel.
www.pustaka.litbang.deptan.go.id diakses pada tanggal 2 Oktober 2014.

Feleagă, Liliana; Feleagă, Niculae; Răileanu, Vasile. 2012. IAS 41 Implementation


Challenges – The Case of Romania. Artikel. International Journal of Social, Human Science
and Engineering Volume 6 Number 3. www.waset.org diakses pada tanggal 4 April 2014.

15
Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 1 Revisi 2013
Lanjutan Penyajian Laporan Keuangan. Jakarta.

Kurniawan, Rendra. 2012. Valuasi Aset Biologis: Kajian Atas IAS 41 Mengenai Akuntansi
Pertanian. Skripsi. Malang: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya.

Maria, Graça; Azevedo, Carmo. 2004. The Impact of International Accounting Standard 41
“Agriculture” in the Wine Industry. Artikel. www.paper.ssrn.com diakses pada tanggal 4
April 2014.

Portal BUMN. 2013. Permasalahan Industri Kelapa Sawit di Tahun 2012. Artikel.
www.BUMN.go.id diakses pada tanggal 2 Oktober 2014.

Priece Waterhouse Coopers. 2009. A Practical Guide to Accounting for Agricultural Assets.
www.pwc.com diakses pada tanggal 22 Maret 2014.

Ridwan, Achmad. 2011. Perlakuan Akuntansi Aset Biologis PT. Perkebunan Nusantara XIV
Makassar (Persero). Skripsi. Makassar: Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin.

Syahza, Almahdi. 2014. Potensi Pengembangan Industri Kelapa Sawit. Artikel.


www.almasdi.staff.unri.ac.id diakses pada tanggal 2 Oktober 2014

Tang, Qing-wan; Gao, Peng. 2013. Research on Information Disclosure of Biological Assets
of Agricultural Listed Company in China. Artikel. Interdisiplinary Journal of Contemporary
Research in Business Number 11 Volume 4 March 2013. www.ijcrb.webs.com diakses pada
tanggal 01 April 2014.

16