Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN SISTEM

MUSKULOSKELETAL : FRAKTUR

I. KONSEP DASAR SISTEM MUSKULOSKELETAL


1. Definisi
Tulang dan otot merupakan jaringan yang paling banyak mengisi tubuh
manusia. Tulang merupakan jaringan tubuh yang berfungsi untuk
menopang tubuh dan bagian-bagiannnya. Tulang dan otot mempunyai
struktur yang saling berhubungan. Keduanya mempunyai serat collagen
yang merupakan serabut sangat kuat. Perbedaannya terletak pada sifat
jaringan yang berada di sekitar serat collagen itu. Tulang dibentuk jaringan
utama yang terdiri dari calcium yang kaku, sednagkan otor diisi sel atau
serabut otot yang dapat berkontraksi (Wibowo, 2010).
2. Sistem Penyusun Muskuloskeletal
Menurut Wibowo (2010), sistem penggerak pada tubuh manusia terdiri
dari :
a. Tulang
Tulang manusia terdiri dari tulang panjang atau tulang pipa, tulang
pendek, tulang pipih, dan tulang tak beraturan. Tulang pendek
contohnya pada tulang-tulang karpila di tangan dan tarsila di kaki.
Tulang pipih contohnya tulang tengkorak dan tulang panggul. Tulang
tak beraturan contohnya vertebra dantulang wajah. Tulang panjang
atau tulang pipa dijumpai dalam anggota gerak (Pearce, 2009)..
b. Sendi
Sendi adalah bagian tubuh tempat dua tulang saling berhubungan.
Sendi merupakan suatu hubungan yang dapat bergerak atau yang tidak
dapat bergerak. Sendi tak bergerak terdapat pada tulang tengkorak .
Tengkorak dibentuk oleh banya tulang sendi yang dinamakan sutura.
Contoh lain terdapat pada panggul.
c. Otot
Otot manusia terdiri atas otot bercorak, otot polos, dan otot jantung.
Otot polos mempunyai gambaran yang berbeda dengan otot bercorak.
Otot polos mempunyai sel menyerupai butir beras, dan fungsinya
diatur oleh sistem saraf tak sadar. Otot jantung mempunyai gambaran
mikroskopis mirip dengan otot bercorak, kecuali inti selnya terdapat di
bagian tengah.Kontraksi otot jantung terjadi akibat rangsangan yang
berasal dari bagian tertentu jantung. Dengan dmeikian, jantung
mempunyai kemampuan untuk mengatur kontraksinya sendiri. Otot
bercorak mempunyai perlekatan pada tulang dan fungsi utamanya
adalah menjadi penggerak tulang. Dalam menjalankan fungsinya
menggerakkan tulang, ada bagian yang melekat pada tulang yang diam
(punctum fixum) dan ujung lainnya yang bergerak (punctum mobilis.
Satu sel otot bercorak aau serabut otot dapat mempunyai panjang 4
mm, dan setiap serabut mempunyai serabut saraf yang mengatur
gerakannya.
3. Fungsi Tulang
Fungsi tulang secara umum Menurut Drs. H. Syaifuddin, AMK 2010 :
a. Formasi kerangka: tulang membentuk rangka tubuh untuk menentukan
bentuk dan ukuran tubuh. Tulang-tulang menyokong struktur tubuh
yang lain.
b. Formasi sendi: tulang-tualng membentuk persendian yang bergerak
atau yang tidak bergerak bergantung pada kebutuhan fungsional. sendi
yang bergerak menghasilkan bermacam-macam pergerakan.
c. Perlekatan otot : Tulang- tulang menyediakan permukaan untuk tempat
melekatnya otot, tendon, dan ligamentum.
d. Sebagai pengungkit untuk bermacam-macam aktivitas pergerakan.
e. enyokong berat badan : Memelihara sikap tegak tubuh manusia dan
menahan gaya tarikan dan gaya tekanan yang terjadi pada tulang
sehingga dapat menjadi kaku dan lentur.
f. Proteksi : tulang membentuk rongga yang mengandung dan
melindungi struktur-struktur yang halus seperti otak, medula spinalis,
jantung, paru, alat- alat dalam perut dan panggul.
g. Hemopoiesis : Sumsum tulang tempat pembentukan sel darah.
h. Fungsi imunologi : Limfosit “B” dan makrofag-makrofag dibentuk
dalam sistem retikuloendotel sumsum tulang. Limfosit B diubah dalam
sel-sel plasma membentuk antibodi guna kekebalan kimiawi,
sedangkan makrofag merupakan fagositotik.
i. Penyimpanan kalsium : Tulang mengandung 97% kalsium yang
terdapat dalam tubuh baik dalam bentuk anorganik maupun garam-
garam terutama kalsium fosfat. Sebagian besar fosfor disimpan dalam
tulang dan kalsium dilepas dalam darah bila dibutuhkan.

II. KONSEP DASAR GANGGUAN MOBILITAS FISIK


1. Definisi
Mobilisasi merupakan kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu
untuk bergerak/melakukan aktivitas didalam lingkungan sekitarnya, dari
pengertian tersebut, adanya kemampuan yang dimiliki oleh individu agar
dapat melakukan aktivitas sehari-hari (ADL) dalam memenuhi kebutuhan
dasarnya seperti makan, minum, mandi dan berpakaian tanpa harus
memerlukan bantuan orang lain. Demikian juga kegiatan lain yang
menyangkut pekerjaan yang ditekuninya serta peran sosial
kemasyarakatan yang diembannya dapat dilaksanakan secara adekuat. Hal
ini dapat dicapai bilamana terjadi keseimbangan fisiologis dari beberapa
fungsi sistem terutama struktur tulang dan sendi sebagai tempat
melekatnya otot dan tendon serta dukungan sistem syaraf baik saraf pusat
maupun perifer (Black dan Hawks, 2005).
2. Pengkajian ADL dengan Indeks Barthel
Indeks Barthel merupakan suatu instrument pengkajian yang berfungsi
mengukur kemandirian fungsional dalam hal perawatan diri dan mobilitas
serta dapat juga digunakan sebagai kriteria dalam menilai kemampuan
fungsional bagi pasien-pasien yang mengalami gangguan keseimbangan.
Menggunakan 10 indikator, yaitu :
Item yang
No Skor Nilai
dinilai
1 Makan (feeding) 0 = tidak mampu
1 = butuh bantuan memotong, mengoles mentega
dan lain-lain
2 = mandiri
2 Mandi (bathing) 0 = tergantung orang lain
1 = mandiri
3 Perawatan diri 0 = membutuhkan bantuan orang lain
(grooming) 1 = mandiri dalam perawatan muka, rambut, gigi,
dan bercukur
4 Berpakaian 0 = tergantung orang lain
(dressing) 1 = sebagian dibantu (misal : mengancing baju
2 = mandiri
5 Buang air kecil 0 = inkontinensia atau pakai kateter dan tidak
(bowel) terkontrol
1 = kadang inkotinensia (maks 1 x 24 jam)
2 = kotinensia (teratur untuk lebih dari 7 hari)
6 Buang air besar 0 = inkontinensia (tidak teratur atau perlu enema)
(bladder) 1 = kadan inkontinensia (sekali seminggu)
2 = Kontinensia (teratur)
7 Penggunaan 0 = tergantung butuh bantuan orang lain
toilet 1 = membutuhkan bantuan, tapi dapat melakukan
beberapa hal sendiri
2 = mandiri
8 Transfer 0 = tidak mampu
1 = butuh bantuan untuk bisa duduk (2 orang)
2 = bantuan kecil (1 orang)
3 = mandiri
9 Mobilitas 0 = tidak mampu (immobile)
1 = menggunakan kursi roda
2 = berjalan dengan bantuan satu orang
3 = mandiri (meskipun menggunakan alat bantu
seperti tongkat)
10 Naik turun 0 = tidak mampu
tangga 1 = membutuhkan bantuan (alat bantu)
2 = mandiri
Jumlah Skor
Keterangan :
20 : mandiri
12-19 : ketergantungan ringan
9-11 : ketergantungan sedang
5-8 : ketergantungan berat
0-4 : ketergantungan total

III. KONSEP DASAR FRAKTUR


1. Definisi Fraktur
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga
fisik (Price & Wilson, 2006). Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang,
tulang rawan, baik yang bersifat total maupun sebagian (Helmi, 2012).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis
dan luasnya (Bruner & Suddarth, 2013).
2. Etiologi Fraktur
Menurut Sjamsuhidajat (2010), fraktur disebabkan oleh:
a. Trauma langsung
Trauma langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya
benturan. Fraktur demikian sering bersifat terbuka dengan garis patah
melintang atau miring.
b. Trauma tidak langsung
Trauma tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat yang jauh
dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian
yang paling lemah dalam jalur hambatan vector kekerasan.
c. Proses penyakit
Contohnya kanker dan riketsia.
d. Compression force
Klien yang melompat dari tempat ketinggian dapat mengakibatkan
fraktur kompresi tulang belakang.
e. Muscle (otot)
Akibat injuri/sakit terjadi regangan otot yang kuat sehingga dapat
menyebabkan fraktur (misal; elektrik shock dan tetani).
3. Klasifikasi Fraktur
Penampilan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang
praktis, di bagi menjadi beberapa kelompok yaitu :
a. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan)
1) Fraktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara
fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih
(karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
2) Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara
fragmen dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit. Fraktur
terbuka ini dibagi menjadi tiga berdasarkan tingkat keperahan:
a) Derajat I : robekan kulit kurang dari 1 cm dengan kerusakan
kulit/jaringan minimal.
b) Derajat II : luka lebih dari 1 cm, kerusakan jaringan sedang,
potensial infeksi lebih besar, fraktur merobek kulit dan otot.
c) Derajat III : kerusakan/robekan lebih dari 6-8 cm dengan
kerusakan jaringan otot, saraf dan tendon, kontaminasi sangat
besar dan harus segera diatasi.
b. Berdasarkan komplit atau ketidakkomplitan fraktur
1) Fraktur komplit bila garis patah melalui seluruh penampang tulang
atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
2) Fraktur inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh
penampang tulang seperti:
a) Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)
b) Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks
dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya.
c) Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi
korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang.
c. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme
trauma
1) Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang
dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
2) Fraktur Oblik: fraktur yang arah garisnya membentuk sudut
terdapat sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasi juga.
3) Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral
yang disebabkan trauma trauma rotasi.
4) Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi
yang mendorong tulang kea rah permukaan lain.
5) Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan
atau traksi otot pada inersinya pada tulang.
d. Berdasarkan jumlah garis patah
1) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan
saling berhubungan.
2) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi
tidak berhubungan.
3) Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi
tidak pada tulang yang sama.
e. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang
1) Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap tetapi
kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
2) Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang
yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas:
a) Dislokasi ad longitudinal curn contractionum (pergeseran
searah sumbu dan overlapping).
b) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk subut).
c) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana keda fragmen saling
menjauh).
f. Berdasarkan posisi fraktur
Sebatang tulang dibagi menjadi tiga bagian:
1) 1/3 proksimal
2) 1/3 medial
3) 1/3 distal
4. Tanda dan Gejala Fraktur
Menurut Mansjoer (2010) tanda dangejala fraktur adalah sebagai berikut:
a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi, hematoma, dan edema.
b. Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah.
c. Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot
yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur.
d. Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya.
e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit.
5. Tahap Penyembuhan Pada Fraktur
Tahapan penyembuhan tulang terdiri atas 5 yaitu (Lukman dkk, 2009) :
a. Tahap inflamasi
Tahap inflamasi berlangsung dan akan hilang dengan berkurangnya
pembengkakan dan nyeri.
b. Tahap poliferasi sel
Kira-kira 5 hari hematoma akan mengalami organisasi, terbentuknya
benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan
untuk revaskularisasi, dan invasi vibroblas dan osteoblas.
c. Tahap pembentukan kalus
Hari ke 10 hingga sebelum minggu ke 7. Aktivitas osteoblas-osteoclas
muncul, hingga terbentuk kalus.
d. Tahap penulangan kalus (osifikasi)
Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam dua sampai
tiga minggu patah tulang. Mulai proses penulangan endokondral.
e. Tahap menjadi tulang dewasa (remodeling)
Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan
mati dan reorgenasi tulang baru kesusunan struktural sebelumnya.
6. Komplikasi Fraktur
a. Komplikasi awal
1) Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya
nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar,
dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan
emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan
reduksi, dan pembedahan.
2) Shock Hipovolemik/traumatik
Fraktur (ekstrimitas, vertebra, pelvis, femur) → perdarahan dan
kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak → shock
hipovolemi.
3) Emboli lemak
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang
sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena
sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran
darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang
ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi,
tachypnea, demam.
4) Sindrom kompartemen
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi
karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam
jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang
menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena
tekanan dari luar seperti gips dan embebatan yang terlalu kuat.
5) Tromboemboli vena
Berhubungan dengan penurunan aktivitas/kontraksi otot/bedrest.
6) Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan
masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka,
tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan
seperti pin dan plat. Fraktur terbuka : kontaminasi infeksi sehingga
perlu monitor tanda infeksi dan terapi antibiotik
b. Komplikasi lambat
1) Delayed union
Proses penyembuhan fraktur sangat lambat dari yang diharapkan
biasanya lebih dari 4 bulan. Proses ini berhubungan dengan proses
infeksi. Distraksi/tarikan bagian fragmen tulang
2) Non union
Proses penyembuhan gagal meskipun sudah diberi pengobatan. Hal
ini disebabkan oleh fobrous union atau pseudoarthrosis. Nonunion
merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan memproduksi
sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan.
Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada
sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini
juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
3) Mal union
Proses penyembuhan terjadi tetapi tidak memuaskan (ada
perubahan bentuk). Malunion merupakan penyembuhan tulang
ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan
bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan pembedahan dan
reimobilisasi yang baik.
4) Nekrosis avaskuler di tulang
Karena suplai darah menurun sehingga menurunkan fungsi tulang.
7. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan Rontgen: menentukan lokasi/luasnya fraktur/luasnya
trauma, scan tulang, temo gram, scan CI: memperlihatkan fraktur juga
dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
b. Hitung darah lengkap : HB mungkin meningkat/menurun.
c. Peningkatan jumlah SDP adalah respons stres normal setelah trauma.
d. Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal.
e. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan sarah,
transfuse multiple, atau cedera hati.
8. Penatalaksanaan
Menurut Mutaqqin (2008) penatalaksanaan fraktur yaitu:
a. Penatalaksanaan Konservatif
1) Proteksi adalah proteksi fraktur terutama untuk mencegah
traumalebih lanjut dengan cara sling (mitela) pada anggota gerak
atas atau tongkat pada anggota gerak bawah.
2) Imobilisasi dengan bidai eksterna. Imobilisasi pada fraktur dengan
bidai eksterna hannya memberikan imobilisasi. Biasanya
menggunakan gips atau macam-macam bidai dari plastik atau
metal.
3) Reduksi tertutup dengan menggunakan manipulasi dan imobilisasi
eksterna dengan menggunakan gips. Reduksi tertutup yang
diartikan manipulasi dilakukan dengan pembiusan umum dan
lokal.
4) Reduksi tertutup dengan traksi kontinu dan kounter traksi.
Tindakan ini mempunyai tujuan utama , yaitu beberapa reduksi
yang bertahap dan imobilisasi.
b. Penatalaksanaan Pembedahan
Penatalaksanaan ini sangatlah penting diketahui oleh perawat, jika ada
keputusan klien diindikasikan untuk menjalani pembedahan, perawat
mulai berperan dalam asuhan keperawatan tersebut.
1) Reduksi tertutup dengan fiksasi eksternal perkutan atau K-Wire.
2) Reduksi terbuka dan fiksasi internal atau fiksasi ekternal tulang
yaitu :
a) Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) atau reduksi
terbuka dengan fiksasi internal. Orif akan mengimobilisasi
fraktur dengan melakukan pembedahan untuk memasukan
paku, scrup atau pen ke dalam tempat fraktur untuk
mengfiksasi bagian tulang pada fraktur secara bersamaan.
Fiksasi internal sering digunakan untuk merawat fraktur pada
tulang pinggul yang sering terjadi pada orang tua.
b) Open Reduction Terbuka dengan fiksasi eksternal. Tindakan ini
merupakan pilihan bagi sebagian besar fraktur. Fiksasi
eksternal dapat menggunakan konselosascrew atau dengan
metilmetaklirat (akrilik gigi) atau fiksasi eksterna dengan jenis-
jenis lain seperti gips.
IV. PATHWAY
V. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses
keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan keletihan tentang
masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan
keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantung pada
tahap ini. Tahap ini terbagi atas:
a. Pengumpulan Data
1) Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, alamat, agama, bahasa yang dipakai,
status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, no. registrasi, tanggal
MRS, dan diagnose medis.
2) Keluhan utama
Pada umumnya keluhan utama pada fraktur adalah rasa nyeri.
Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya
serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang
rasa nyeri klien digunakan:
a) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi faktor
presipitasi nyeri.
b) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau
digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau
menusuk.
c) Region: radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah
rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit
terjadi.
d) Severity (Scale) of pain: seberapa jauh rasa nyeri yang
dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien
menerangkaan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi
kemampuan fungsinya.
e) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah
bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.
3) Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari
fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan
terhadap klien.
4) Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang
dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta
respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya.
5) Pola-Pola Fungsi Kesehatan
a) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pengkajian meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan
obat steroid yang dapat mengganggu metabolism kalsium,
pengkonsumsian alcohol yang bisa mengganggu
keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau
tidak.
b) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi
kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit.
C dan yang lainnya untuk membantu penyembuhan tulang.
c) Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola
eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi,
konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi.
Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi,
kepekatannya, warna, bau, dan jumlah.
d) Pola Istirahat Tidur
Pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana
lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta
penggunaan obat tidur (Doengos, Marilynn E, 2002).
e) Pola Aktivitas
Dikaji kegiatan atau bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan
klien.
f) Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam
masyarakat, karena klien harus menjalani rawat inap.
g) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketakutan
akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa
ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal,
dan pandangan terhadap dirinya yang salah.
h) Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada
bagian distal fraktur.
i) Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan
hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan
keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialaminya.
j) Pola penanggulangan Stress
Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya,
yaitu ketakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi
tubuhnya.
k) Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan
beribadah dengan baik.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Kaji seluruh sistem tubuh yang besar, kepala, dada, abdomen
inspeksi perubahan bentuk tulang, lokasi, fraktur, gerakan pasien
2) Integritas kulit (lacerasi kulit, keutuhan, perubahan warna,
perdarahan, pembengkakan lokal)
3) Nyeri berat dan tiba-tiba saat cidera, spasme (kram otot)
4) Neurosensasi
2. Analisa Data
No. Data Fokus Masalah Keperawatan
1. DS : Nyeri akut
 Klien menyatakan ketidaknyamanan.
 Klien melaporkan nyeri.
 Klien menyatakan skala nyeri 1-10
DO :
 Terkadang klien meringis bahkan
menangis.
 Klien tampak melindungi bagian tubuh
yang nyeri.
 Terkadang pasien tidak fokus pada
pembicaraan.
 Pupil berdilatasi.
 Perubahan vital sign.
2. DS : Gangguan pola tidur
 Klien menyatakan ada perubahan pola
tidur.
 Klien menyatakan kesulitan dalam
kaktifitas sehari-hari.
 Klien menyatakan kesulitan memulai
tidur.
 Klien menyatakan tidur tidak nyenyak.
 Klien menyatakan lelah.
 Klien menyatakan sering terbangun.
DO :
 Klien tampak lelah.
 Kantung mata hitam.
3. DS : Intoleransi aktifitas
 Klien menyatakan lelah saat
beraktifitas
DO :
 Adanya ketidaknormalan tekanan darah
saat beraktivitas
 Adanya ketidaknormalan frekuensi
nadi saat beraktivitas
 Perubahan ECG (aritmia, iskemia)
 Dyspnea
 Klien tampak lelah
 Adanya kelemahan umum
4. DS : Hambatan mobilitas fisik
 Klien menyatakan ketidaknyamanan
 Klien menyatakan kesulitan merubah
posisi
DO :
 Adanya perubahan dalam gaya berjalan
 Adanya penurunan motorik halus
 Adanya penurunan motorik kasar
 Adanya penurunan Range of Motion
(ROM)
 Adanya penurunan waktu reaksi
 Kesulitan berpindah atau merubah
posisi
 Ketidakstabilan postur tubuh
 Tremor
 Pergerakan lambat
 Gerakan yang tidak terkordinasi
5. Adanya faktor risiko: Risiko infeksi
 Prosedur invasif
 Penurunan hemoglobin
 Kerusakan integritas kulit
VI. RUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik.
2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan posisi.
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal.
4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan dan kelelahan.
5. Risiko infeksi ditandai dengan adanya kerusakan jaringan dan peningkatan paparan lingkungan, prosedur invasif.
VII. PERENCANAAN (NCP)
Diagnosa
No. Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) Intervensi (NIC)
Keperawatan
1. Nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 NIC :
cedera fisik x 24 jam diharapkan pasien mampu mengontrol Pain Management
nyeri (NOC: Pain Level, Pain control, Comfort 1. Kaji tingkat nyeri secara komprehensif pada
level) pasien
dengan kriteria hasil yaitu : 2. Observasi reaksi non verbal dari
1. Mampu mengontrol nyeri ketidaknyamanan
2. Menurunnya intensitas nyeri. 3. Gali bersama pasien faktor yang dapat
3. Pasien mampu mengenali rasa nyeri yang menurunkan dan meningkatkan nyeri
dialaminya 4. Berikan informasi mengenai nyeri
4. Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 5. Anjurkan tentang teknik non farmakologi.
5. Pasien mengatakan nyaman setelah nyeri 6. Kendalikan faktor lingkungan yang
berkurang. mempengaruhi kenyamanan pasien
Analgesic Administration
6. Kolaborasi dengan dokter mengenai pemberian
analgetik
2. Gangguan pola tidur Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama Peningkatan Tidur
berhubungan dengan 3x24 jam diharapkan pasien mampu memenuhi 1. Jelaskan pentingnya tidur yang cukup.
kendala lingkungan kriteria hasil yaitu : 2. Monitor / catat pola tidur pasien dan jumlah jam
1. Jumlah jam tidur dalam batas normal 6-8 tidur.
jam/hari. 3. Sesuaikan lingkungan untuk meningkatkan tidur.
2. Perasaan segar setelah tidur atau istirahat. 4. Dorong pasien untuk menetapkan rutinitas tidur
3. Mampu mengidentifikasi hal-hal yang untuk memfasilitasi perpindahan dari terjaga
meningkatkan tidur. menuju tidur.
3. Hambatan mobilitas Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam 3 Activity Therapy
fisik b.d gangguan x 24 jam, klien akan menunjukkan peningkatan 1. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang
muskuloskeletal aktifitas (Energy Conservation, Self Care : mampu dilakukan.
ADLs) dengan kriteria hasil : 2. Bantu pasien melakukan aktivitas secara bertahap.
1. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa 3. Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri
disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan dan penguatan.
RR
2. Mampu melakukan aktivitas sehari hari
(ADLs) secara mandiri
4. Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 1. Observasi adanya pembatasan klien dalam
b.d kelelahan x 24 jam, klien bertoleransi terhadap aktivitas melakukan aktivitas.
(Energy Conservation, Self Care : ADLs) 2. Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan
dengan kriteria hasil : 3. Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat
1. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa 4. Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan
disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan emosi secara berlebihan
RR. 5. Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas
2. Mampu melakukan aktivitas sehari hari (takikardi, disritmia, sesak nafas, diaporesis,
(ADLs) secara mandiri. pucat, perubahan hemodinamik)
3. Keseimbangan aktivitas dan istirahat. 6. Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat
pasien
7. Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik
dalam merencanakan progran terapi yang tepat.
8. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang
mampu dilakukan
9. Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang
sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan
sosial
10. Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan
sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang
diinginkan
11. Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas
seperti kursi roda, krek
12. Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang
disukai
13. Bantu klien untuk membuat jadwal latihan
diwaktu luang
14. Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi
kekurangan dalam beraktivitas
15. Sediakan penguatan positif bagi yang aktif
beraktivitas
16. Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri
dan penguatan
17. Monitor respon fisik, emosi, sosial dan spiritual
5. Risiko infeksi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 NIC :
x 24 jam diharapkan infeksi tidak terjadi (NOC : Infection Control
Immune Status, Knowledge : Infection control, 1. Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci
Risk control) dengan kriteria hasil tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung
1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi meninggalkan pasien
2. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah 2. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
timbulnya infeksi keperawatan
3. Jumlah leukosit dalam batas normal 3. Pertahankan lingkungan aseptik
4. Berikan terapi antibiotik bila perlu
Infection Protection
5. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan
lokal
6. Monitor hitung granulosit, WBC
Aplikasi pemikiran kritis dalam asuhan keperawatan
Tulang dan otot adalah dua komponen utama sebgai alat
penggerak pada manusia. Apabila salah satu dari kedua organ
tersebut mengalami masalah, maka akan mempengaruhi satu sama
lain dan menyebabkan gangguan pada mobilitas. Salah satu
masalah yang cukup sering muncul misalnya fraktur. Fraktur
adalah terputusnya kontinuitas tulang yang ditentukan sesuai jenis,
luas dan lokasinya. Seusai dengan definisi tersebut, pemahaman
mengenai luas dan lokasi dari fraktur sangatlah penting bagi
perawat. Contohnya pada kasus fraktur yang terjadi pada anggota
gerak atas yaitu pada os. humerus. Akibat dari fraktur tersebut
maka akan menyebabkan juga kerusakan dalam perlekatan otot-
otot tricep bracii. Sehingga hal ini akan menyebabkan gangguan
pada mobilitas fisik.
Dalam fraktur, tahap-tahap penyembuhan juga sangat
penting untuk dipahami. Karena dari tahap-tahap tersebut kita
dapat mendeteksi apabila terjadi komplikasi pada fraktur misalnya
Delayed Union (penyembuhan lebih dari 4 bulan). Selain itu
mengetahui tahap-tahap dari penyembuhan fraktur juga dapat
membantu dalam penerapan intervensi keperawatan terkait
mobilisasi. Misalnya pada kasus fraktur humerus, seharusnya
dalam waktu kurang lebih 1 bulan, tangan sudah mulai dapat
digerakkan dan sudah bisa mengangkat benda ringan.
Salah satu tindakan pembedahan yang paling sering
dilakukan adalah tindakan ORIF (Open Redcuction and Internal
Fixation). Menurut Chang (2005), pembedaha ORIF bisa diberikan
pada pasien dengan fraktur yang sudah diketahui pasti luas dan
beratnya. ORIF akan mengimobilisasi fraktur dengan melakukan
pembedahan untuk memasukan paku, scrup atau pen ke dalam
tempat fraktur untuk mengfiksasi bagian tulang pada fraktur secara
bersamaan. Berdasarkan dari pengertian tersebut, seharusnya pada
pasien post pembedahan ORIF, bisa dilakukan mobilisasi dini
tanpa fiksasi luar karna ORIF dapat mempertahankan posisi
fragmen tulang agar tetap menyatu dan tidak mengalami
pergerakan.
Perawatan pasca operasi juga sangat penting. Terkadang
akibat dari rasa nyeri pasien akan mengalami kecemasan sehingga
pasien cenderung tidak mau melakukan pergerakan. Pengecilan
massa otot dapat terjadi apabila pergerakan tidak mau dilakukan
secara terus-menerus. Selain itu, pada pasien yang menggunakan
general anastesi saat dioperasi, perlu dipertimbangkan akan
pentingnya mobilisasi dini, karena pada pasien yang menggunakan
general anestesi akan mengalami kelemahan saraf termasuk saraf
di abdomen, dan mobilisasi dini dapat membantu mempercepat
pemulihan dengan merangsang gerakan peristaltic usus yang
menunjukkan bahwa sistem pencernaan siap bekerja lagi. Hal ini
juga menunjukkan bahwa pasien siap memenuhi kebutuhan
aktivitasnya secara bertahap. Untuk memenuhi kebutuhan
mobilisasi, disini perawat memiliki peran untuk memotivasi dan
memberi pengertian pada pasien agar mau melakukan aktivitas
secara bertahap.
DAFTAR PUSTAKA

Wulansari, N. M. A., Ismonah, & Shobirun. (2015). Pengaruh Ambulansi Dini


Terhadap Peningkatan Pemenuhan Activity Daily Living (ADL) Pada Pasien
Post Operasi Fraktur Ekstermitas di RSUD Ambarawa.
Black M. Joycen dan Hawks H. Jane. Keperawatan Medikal Bedah Manajemen
Klinis Untuk Hasil Yang Diharapkan Edisi 8. Jakarta: EGC
Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. 2013.
Nursing Interventions Classification (NIC) 6th Edition. United Kindom:
Elsevier

Brunner & Suddarth. 2013. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:EGC

Chang, Thomas J. 2005. Master Techniques in Podiatric Surgery: The Foot and
Ankle. United States: Lippincott Williams & Wilkins

Helmi N.Z. 2012. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta: Salemba


Medika

Lukman, Ningsih, dan Nurma. 2009. Asuhan Keperawatan Klien Dengan


Gangguan Sistem Musculoskeletal. Jakarta: Salemba Medika

Mansjoer, Arif. 2010. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius

Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. 2013. Nursing
Outcomes Classification (NOC) 5th Edition. United Kingdom: Elsevier

Mutaqqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan SIstem
Muskuloskeletal. Jakarta: EGC

NANDA Internasional. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2018-


2020 Edisi 11. Jakarta: EGC

Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta:


Gramedia Pustaka Utama

Price, S. A dan Wilson, L. M. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit, Edisi 6, Volume 1. Jakarta: EGC

Sjamsuhidajat dan Wim de jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC

Syaifuddin. 2010. Anatomi Tubuh Manusia untuk Keperawatan. Jakarta: Salemba


Medika
Wibowo, Daniel S. 2010. Anatomi Tubuh Manusia. Jakarta: Grasindo
Wulansari, N. M. A., Ismonah, & Shobirun. (2015). Pengaruh Ambulansi Dini
Terhadap Peningkatan Pemenuhan Activity Daily Living (ADL) Pada Pasien
Post Operasi Fraktur Ekstermitas di RSUD Ambarawa. STIKES Telogorejo
LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL : FRAKTUR

DISUSUN OLEH :

NI MADE SRI WAHYUNI


P1337420918089

PRODI PROFESI NERS JURUSAN KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2018