Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU TEKNOLOGI PANGAN

Dosen Pembimbing : 1. Ir. Hj. Ermina Syainah, SP

2. Rahmani, STP., MP

3. Zulfiana Dewi, SKM., MP

DISUSUN OLEH :

ZAHRATUL HAYATI (P07131117128)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN INDONESIA

PROGRAM DIPLOMA III JURUSAN GIZI

2018/2019
Praktikum : Ilmu Teknologi Pangan

Pertemuan : 7 (ketujuh)

Judul Praktikum : Pengasapan Ayam

Hari/Tanggal : Rabu, 31 Oktober 2018

Tempat : Lab. ITP

Dosen Pembimbing : 1. Ir. Hj. Ermina Syainah, SP

2. Rahmani, STP., MP

3. Zulfiana Dewi, SKM., MP

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN INDONESIA

PROGRAM DIPLOMA III JURUSAN GIZI

2018/2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peningkatan jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun berdampak pada
peningkatan konsumsi produk peternakan (daging, telur, susu). Meningkatnya
kesejahteraan dan tingkat kesadaran masyarakat akan pemenuhan gizi khususnya protein
hewani juga turut meningkatkan angka perminataan produk peternakan. Daging banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat karena mempunyai rasa yang enak dan kandungan zat gizi
yang tinggi. Salah satu sumber daging yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat
Indonesia adalah ayam. Daging ayam yang sering dikonsumsi oleh masyarakat diperoleh
dari pemotongan ayam broiler, petelur afkir, dan ayam kampung.
Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk memperpanjang masa simpan daging ayam
broiller, seperti pengolahan dan pengawetan daging. Hal ini bertujuan selain untuk
memperpanjang masa simpan, juga untuk meningkatkan cita rasa yang sesuai dengan selera
konsumen, serta dapat mempertahankan nilai gizinya. Beberapa bentuk hasil pengolahan
daging diantaranya ialah sosis, kornet, dendeng, pindang, abon, bakso, nugget dll,
sedangkan beberapa cara pengawetan yang sering dilakukan ialah dengan cara pembekuan,
pelayuan, pengeringan, pengasinan, pengasapan dan pengalengan.
Upaya peningkatan konsumsi daging ayam sebagai sumber protein bisa ditempuh dengan
berbagai cara. Antara lain dengan mengolahnya sebagai daging ayam asap. Citarasa khas
dari ayam asap yang banyak diminati serta kandungan lemak dan kolesterol yang rendah
dari daging ayam. Pengasapan karkas ayam : Pertama, membuat daging ayam memiliki
citarasa yang gurih dan khas pada daging ayam asap yang dihasilkan. Ke dua, penyajian
ayam asap bisa langsung dengan atau tanpa saus. Atau bisa juga dibuat variasi-variasi
olahan lain seperti ditumis, dicampur dengan bawang bombay, paprika dan kecap Inggris.
Bisa juga menjadi campuran sop dan makaroni schotel. Manfaat lainnya, proses
pengasapan akan memperpanjang masa simpan (Anonim, 2010).
Teknik Pengawetan Makanan Berkualitas Tinggi bertujuan untuk Makanan akan
bertahan lebih lama, makanan akan mempertahankan lebih banyak vitamin dan mineralnya,
makanan tersedia untuk dimakan sepanjang tahun serta lebih sedikit makanan yang
membusuk Serta menjamin keamanan produk pangan merupakan hal yang kompleks,
mengingat faktor yang berpotensi sebagai pembawa risiko dapat muncul dalam setiap titik
pada rantai pangan, mulai dari produksi, distribusi dan pengolahan hingga siap untuk
dikonsumsi. Faktor keamanan pangan dapat dinilai dari sumber risiko dan dampaknya
terhadap kesehatan manusia, diantaranya: mikroba patogen (pembawa dan penyebab
penyakit), residu pestisida, bahan tambahan pangan dan residu obat-obatan dan hormon
pada peternakan dan perikanan, bahan beracun alami maupun toksin yang bersumber dari
lingkungan seperti logam-logam berat, agen pembawa yang tidak biasa (Anonim, 2008).
Salah satu jenis pengolahan yang dapat digunakan untuk menghambat kegiatan zat-
zat mikroorganisme adalah pengasapan, selain bertujuan memberikan manfaat untuk
mengawetkan, pengolahan dengan cara pengasapan juga memberi aroma yang sedap, warna
kecoklatan atau kehitaman, tekstur yang bagus serta cita rasa yang khas dan lezat pada
daging ikan yang diolah (Wibowo, 1996). Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi
konsumen untuk mengkonsumsi olahan tersebut, sehingga pengolahan dengan cara
pengasapa bisa menjadi usaha yang mempunyai prospek yang bagus dan menguntungkan
untuk ditekuni.

1.2 Tujuan Praktikum


1.2.1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami cara pengasapan pada ayam.
1.2.2. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa dapat memproduksi bahan makanan yang ada agar lebih beragam
mutunya dan bisa meningkatkan konsumsi konsumen terhadap makanan salah
satunya pada ayam asap.
2. Mahasiswa dapat lebih terampil dalam pembuatan ayam asap dan
memperhitungkan nilai gizinya.
3. Mahasiswa dapat melihat organoleptik produk ayam asap.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Pengasapan Ayam
Pengasapan dapat didefinisikan sebagai proses penetrasi senyawa volatil pada ikan
yang dihasilkan dari pembakaran kayu yang dapat menghasilkan produk dengan rasa dan
aroma spesifik umur simpan yang lama karena aktivitas anti bakteri, menghambat aktivitas
enzimatis pada ikan sehingga dapat mempengaruhi kualitas ikan asap. Senyawa kimia dari
asap kayu umumnya berupa fenol (yang berperan sebagai antioksidan), asam organik,
alkohol, karbonil, hidrokarbon dan senyawa nitrogen seperti nitro oksida, aldehid, keton,
ester, eter, yang menempel pada permukaan dan selanjutnya menembus ke dalam daging
ikan ( Isamu,2012).
Pengasapan merupakan perlakuan terhadap produk makanan dengan gas yang
dihasilkan dari pemanasan material tanaman seperti kayu(Yansen Perlaungan
2012). Sedangkan menurut Mareta & Awami (2011) dapat digunakan juga sabut, serbuk
gergaji atau sekam padi. Menurut Yanuar et al.(2015) pengasapan pangan merupakan salah
satu cara pengolahan yang bersifat mengawetkan dan mendukung diversifikasi pangan.
Pengasapan merupakan kombinasi penggaraman, pemanasan, pengeringan dan pelekatan
komponen asap pada bahan pangan. Dalam hal ini dalam asap terkandung senyawa-senyawa
yang mempunyai sifat mengawetkan, seperti senyawa phenol, formaldehyde dan lain-
lain (Mareta & Awami, 2011).
2.2. Prinsip Pengasapan
Pengasapan merupakan cara pengolahan atau pengawetan dengan memanfaatkan
kombinasi perlakuan pengeringan dan pemberian senyawa kimia alami dari hasil
pembakaran bahan bakar alami. Melalui pembakaran akan terbentuk senyawa asap dalam
bentuk uap dan butiran-butiran tar serta dihasilkan panas. Senyawa asap tersebut menempel
pada ikan dan terlarut dalam lapisan air yang ada di permukaan tubuh ikan, sehingga
terbentuk aroma dan rasa yang khas pada produk dan warnanya menjadi keemasan atau
kecoklatan (Wibowo, 1996).
Menurut Afrianto, dan Liviawati (1991) dalam proses pengasapan ikan, unsur yang
paling berperan adalah asap yang dihasilkan dari pembakaran kayu. Berdasarkan penelitian
laboratorium, asap mempunyai kandungan kimia sebagai berikut : air, asam asetat, alkohol,
aldehid, keton, asam formiat, phenol, karbon dioksida.
Ternyata yang dapat meningkatkan daya awet ikan dalam proses pengasapan bukan
asap, melainkan unsur–unsur kimia yang terkandung dalam asap. Unsur kimia itu dapat
berperan sebagai :
v Desinfektan yang menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme
penyebab pembusukan ikan yang terdapat dalam tubuh ikan.
v Pemberi warna pada tubuh ikan, sehingga ikan yang telah diawetkan dengan proses
pengasapan berwarna kuning keemasan dan dapat membangkitkan selera konsumen.
Menurut Oki dan Heru (2007) kulit ikan yang sudah diasapi biasanya akan menjadi
mengkilap. Hal ini disebabkan karena terjadinya reaksi-reaksi kimia di antara zat-zat yang
terdapat dalam asap, yaitu antara formaldehid dengan phenol yang menghasilkan lapisan
damar tiruan pada permukaan ikan sehingga menjadi mengkilap. Untuk berlangsungnya
reaksi ini diperlukan suasan asam dan asam ini telah tersedia di dalam asap itu sendiri.
v Bahan pengawet, karena unsur kimia yang terkandung dalam asap mampu
memberikan kekuatan pada tubuh ikan untuk melawan aktivitas bakteri penyebab
ketengikan.
 Prinsip Pengawetan Daging Ayam Dengan Cara Pengasapan

Asap kayu terdiri dari uap dan padatan yang berupa partikel-partikel yang amat kecil
yang keduanya mempunyai komposisi kimia yang sama tetapi dalam perbandingan yang
berbeda. Senyawa-senyawa kimia yang menguap diserap oleh daging terutama dalam
bentuk uap, senyawa tersebut memberikan warna dan rasa yang diinginkan pada daging.
Partikel-partikel padatan tidak begitu penting pada proses pengasapan dan asap akan
mengawetkan makanan karena adanya aksi desinfeksi dari formaldehid, asam asetat dan
phenol yang terkandung dalam asap.

Butiran-butiran asap mengambil peranan penting dalam pewarnaan. Pengeringan


mempunyai fungsi penting dalam pengawetan daging, kecepatan penyerapan asap kedalam
daging dan pengeringannnya tergantung kepada banyaknya asap yang terjadi, suhu dan
kandungan air dari daging yang diasapi. Bila kayu atau serbuk kayu dibakar, maka selulose
akan diuraikan menjadi alkohol-alkohol berantai lurus yang lebih pendek, aldehid-aldehid,
keton-keton dan asam-asam organic. Selain lignin diuraikan menjadi turunan-turunan
phenol, quinol, guaikol dan piragatol. Persentase setiap senyawa kimia pada asap yang
dihasilkan tergantung kepada jenis kayu yang digunakan. Untuk mendapatkan daging asap
yang bermutu tinggi maka harus digunakan jenis kayu keras ( non-resinous) atau sabut dan
tempurung kelapa, sebab kayu-kayu yang lunak akan menghasilkan asap yang mengandung
senyawa-senyawa yang dapat menyebabkan hal-hal dan bau yang tidak diinginkan
(Anonim, 2010).

Tinggi rendahnya efisiensi proses pengeringan dipengaruhi oleh kelembaban udara


sekelilingnya, bila udara dingin yang masuk kedalam unit pengasapan dipanasi, maka
beratnya kan manjadi lebih ringan daripada udara di luar, dan udara ini akan masuk atau
naik dengan cepat ke unit pengasapan dan melintasi daging-daging didalamnya. Banyaknya
uap air yang diserap oleh udara tergantung suhunya, jadi bila udara dingin dipanasi maka
kapasitas pengeringan akan lebih tinggi. Dalam keadaan lembab, udara jenuh yang telah
panas tidak dapat dipanasi lagi secara cepat untuk mengurangi kandungan uap airnya dan
oleh karena itu kapasitas menurun (Anonim, 2010).

Jadi pada tahap pengasapan, kecepatan penguapan air tergantung pada kapasitas
pengering udara dan asap juga kecepatan pengaliran asap. Pada tahap kedua, dimana
permukaan daging sudah agak kering suhu daging akan mendekati suhu udara dan asap.
Kecepatan pengeringan akan menjadi lambat karena air harus merembes dahulu dari lapisan
dalam daging ayam, bila pengeringan mula-mula dilakukan pada suhu yang terlalu tingi dan
terlalu cepat, maka permukaan daging akan menjadi keras dan akan menghambat penguapan
air selanjutnya dari lapisan dalam,sehingga kemungkinan daging ayam bagian dalam tidak
mengalami efek pengeringan.
2.3. Tujuan pengasapan
Menurut Wibowo (1996) pada dasarnya, ada dua tujuan utama dalam pengasapan ikan.
Tujuan pertama untuk mendapatkan daya awet yang dihasilkan asap. Tujuan kedua yaitu
untuk memberikan aroma yang khas tanpa peduli daya awetnya. Ketelitian pekerjaan dari
setiap tahap serta jenis dan kesegaran ikan akan menentukan mutu hasil asapan. Kesegaran
atau mutu bahan mentah perlu diperhatikan sebab akan menentukan mutu produk ikan asap
yang dihasilkan.
2.4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengasapan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengasapan (Wibowo, 1996), antara lain :
a. Suhu Pengasapan
Pada awal pengasapan, ikan masih basah dan permukaan kulitnya diselimuti lapisan air.
Dalam keadaan ini asap akan mudah menempel pada lapisan air permukaan ikan. Agar
penempelan dan pelarutan asap dapat berjalan efektif, suhu pengasapan awal sebaiknya
rendah. Jika dilakukan pada suhu tinggi, lapisan air pada permukaan tubuh ikan akan cepat
menguap dan daging ikan akan cepat matang. Kondisi ini akan menghambat proses
penempelan asap sehingga pembentukan warna dan aroma asap kurang baik. Setelah warna
dan aroma terbentuk dengan baik, suhu pengasapan dapat dinaikkan untuk membantu proses
pengeringan dan pematangan ikan.
b. Kelembaban Udara
Kisaran kelembaban udara (Rh) yang ideal untuk pengasapan adalah 60% - 70% dan
suhunya sekitar 29°C. Jika Rh yang lebih tinggi dan 79% proses pengeringan selama
pengasapan berjalan lambat karena panas dari hasil pembakaran masih belum mampu
mengurangi kelembaban.Sebaliknya jika Rh kurang dari 60%, permukaan ikan akan terlalu
cepat matang.
c. Jenis Kayu
Jenis kayu menentukan mutu asap yang dihasilkan dan pada akhirnya menentukan mutu
ikan asap. Untuk pengasapan dingin sebaiknya menggunakan serbuk gergaji dari jenis kayu
keras sedangkan untuk pengasapan panas menggunakan batang atau potongan kayu keras
dari jenis separo kayu jati. Jenis- jenis kayu yang mengandung resin atau damar seperti kayu
pinus kurang baik untuk pengasapan karena menghasilkan rasa pahit pada ikan, sehingga
tidak enak untuk dikonsumsi.
d. Perlakuan sebelum pengasapan
Biasanya dengan penggaraman ikut menentukan mutu pengasapan. Faktor lain
yang berpengaruh adalah mutu ikan yang akan diasap, jumlah asap dan ketebalan
asap. Mutu ikan akan berpengaruh karena bila ikan yang diasap sudah mengalami
kemunduran mutu maka produk yang dihasilkan juga akan tidak sesuai dengan harapan.
Sedangkan jumlah asap dan ketebalan asap akan berpengaruh pada cita rasa, bau dan warna.
Semakin tebal asap semakin baik pula produk yang akan dihasilkan.
2.5. Jenis-jenis pengasapan

Di bawah ini, ada lima jenis proses pengasapan yaitu, pengasapan dingin(cold
smoking), pengasapan hangat (warm smoking), pengasapan panas(hot smoking),
pengasapan cair (liquid smoke), dan pengasapan listrik (electric smoking).

a. Pengasapan panas (Hot smoking)


Pada pengasapan panas, suhu asap mencapai 120-140 oC dalam waktu 2-4
jam, dan suhu pada pusat ikan dapat mencapai 60 oC. Pada pengasapan panas ini di samping
terjadi penyerapan asap, ikan juga menjadi matang.
Rasa ikan asap ini sangat sedap dan berdaging lunak, tetapi tidak tahan lama, dengan
kata lain harus dikonsumsi secepatnya. Kecuali bila suhu ruang penyimpanan rendah. Hal
ini disebabkan oleh kadar air dalam daging ikan masih tinggi (>50%).

Menurut Horner (1992), untuk mengurangi akumulasi Polynuclear Aromatic


Hydrocarbon (PAH) pada ikan, maka selama pengasapan panas suhunya harus diturunkan
(70-80 oC).

b. Pengasapan hangat (warm smoking)


Bahan baku ikan, setelah direndam dalam larutan garam, diasap kering pada suhu
sekitar 30 oC, kemudian secara bertahap suhu dinaikkan. Bila telah mencapai suhu 90 oC,
proses pengasapan selesai. Proses ini menitikberatkan pada pentingnya aroma dan cita rasa
produk dan bertujuan menghasilkan produk yang diasap yang lembut dan kadar garam
kurang dari 5 persen serta kadar air sekitar 50 persen. Produk yang dihasilkan dari proses
ini mengandung kadar air yang relatif tinggi, sehingga mudah busuk, mutu produknya juga
cepat menurun selama proses penyimpanan, sehingga harus disimpan dalam suhu rendah.

c. Pengasapan dingin (cold smoking)


Pada pengasapan dingin suhu asap tidak boleh melebihi 20-40 oC dalam waktu 1-
3 minggu, kelembaban (RH) yang terbaik adalah antara 60-70 persen. Kelembaban di atas
70 persen menyebabkan proses pengeringan berlangsung sangat lambat. Bila di bawah 60
persen permukaan ikan mengering terlalu cepat, dan akan menghambat penguapan air dari
dalam daging. Selama pengasapan, ikan akan menyerap banyak asap dan menjadi kering,
sebab airnya terus menguap. Supaya tahan lama biasanya ikan diasapi dengan metode ini.
Produk asap dengan cara ini disebut ikan kayu, karena memang sangat keras seperti kayu.
Kadar airnya 20-40 persen. Produk dapat disimpan selama lebih dari satu bulan.

d. Pengasapan cair (liquid smoke)


Asap diartikan sebagai suatu suspensi partikel padat dan cair dalam medium gas
(Girard, 1992). Sedangkan asap cair merupakan campuran larutan dari dispersi asap kayu
dalam air yang dibuat dengan mengkondensasikan asap hasil pirolisis kayu. Cara yang
paling umum digunakan untuk menghasilkan asap pada pengasapan makanan adalah
dengan membakar serbuk gergaji kayu keras dalam suatu tempat yang disebut alat
pembangkit asap ( Maga, 1987). Kemudian asap tersebut dialirkan ke rumah asap dalam
kondisi sirkulasi udara dan temperatur yang terkontrol. Produksi asap cair merupakan hasil
pembakaran yang tidak sempurna yang melibatkan reaksi dekomposisi karena pengaruh
panas, polimerisasi, dan kondensasi (Girard, 1992).

Asap cair mengandung berbagai senyawa yang terbentuk karena terjadinya


pirolisis tiga komponen kayu yaitu : selulosa, hemiselulosa, dan ignin. Lebih dari 400
senyawa kimia dalam asap telah berhasil diidentifikasi.

Dalam proses pengasapan cair, aroma asap yang akan dihasilkan pada proses
pengasapan didapat tanpa melalui proses pengasapan, melainkan melalui penambahan
cairan bahan pengasap (smoking agent) ke dalam produk. Bahan baku ikan direndam dalam
wood acid, yang didapat dari hasil ekstrak penguapan kering unsur kayu atau dari hasil
ekstrak yang ditambahi pewangi kayu, yang hampir sama dengan aroma pada pengasapan,
setelah itu ikan dikeringkan dan menjadi produk akhir. Metode penambahan bahan
pengasap ke dalam ikan, dapat dilakukan melalui penuangan langsung, pengasapan,
pengolesan atau penyemprotan. Melalui proses ini tidak diperlukan lagi ruang tempat
pengasapan atau alat pengasap yang menjadi keuntungan dari proses ini, namun aroma
produk yang dihasilkan jauh di bawah dari aroma produk yang dilakukan dengan proses
pengasapan sesungguhnya.

e. Pengasapan listrik (electric smoking)


Metode pengasapan listrik, ikan diasapi dengan asap yang telah terkena pancaran
gelombang listrik, ikan diasapi dengan asap yang telah terkena pancaran gelombang
elektromagnetik yang berbentuk korona yang dihasilkan oleh tenaga listrik (asap yang
bermuatan listrik).

Pada metode ini asap yang bermuatan listrik tersebut dapat melekat ke permukaan
ikan lebih mudah daripada metode pengasapan panas atau dingin.

2.6. Gambaran Umum Daging Broiler

Daging ayam broiler adalah bahan makanan yang mengandung gizi tinggi, memiliki
rasa dan aoroma yang enak, tekstur yang lunak dan harga yang relatif murah, sehingga
disukai hamper semua orang. Komposisi kimia daging ayam terdiri dari protein 18,6%,
lemak 15,06%, air 65,95% dan abu 0,79% (Stadelman et al., 1988).

Daging didefinisikan sebagai semua jaringan hewan dan semua produk hasil
pengolahan jaringan-jaringan tersebut yang sesuai untuk dimakan serta tidak menimbulkan
gangguan kesehatan bagi yang memakannya . Lebih lanjut dijelaskan oleh Bintoro (2008)
bahwa karkas ayam adalah bagian ayam yang telah dipotong dan dibersihkan bulu dan
dikeluarkan jeroannya, tanpa leher dan kepala serta tanpa kaki bagian bawah (ceker).

Bagian-bagian karkas ayam meliputi : dada (breast), punggung (back), kaki


(paha/drumstick dan paha atas/thigh) dan sayap (wing). Komposisi kimia daging ayam
broiler adalah sebagai berikut : air sebanyak 73,7%, protein 20,0 – 23,0%, lemak 4,7%, dan
abu 1,0% (Bintoro, 2008).
BAB III

METODE PRAKTIKUM
3.1.Alat dan Bahan
3.1.1. Alat
 Lemari asap
 Pisau
 Baskom
 Serbet

3.1.2. Bahan
 Ayam
 Garam
 Arang, potongan kayu, atau serbuk gergaji secukupnya

3.2. Prosedur Kerja


1. Siangi ayam, cuci, dan kelompokkan menurut ukuran.
2. Masukan garam kedalam ½ liter air dan didihkan, kemudian dinginkan.
3. Rendam selama ±15-20 menit, tiriskan, dan angin-anginkan sampai permukaan
kering.
4. Ikat satu persatu
a. Gantungkan dalam ruang pengasapan, dengan jarak masing-masing ±1 cm
atau
b. Gantung dengan ekor kebawah dan kepala menghadap ke atas dengan
menggunakan kaitan kawat atau
c. Susu satu persatu di atas anyaman bambu, kemudian disusun dalam lemari
pengasapan secara berlapis-lapis. Antara masing-masing lapisan diberi jarak
kira-kira sama dengan rata-rata penjang ikan. Agar pengasapan merata harus
dibolak-balik.
5. Siapkan bahan bakar berupa arang dan potong-potong kayu dibawah ruang
pengasap, kemudian bakar.
6. Bubuhkan ampas tebu atau serbuk gergaji sedikit demi sedikit sampai timbul
asap
a. Panas diatur pada suhu ±70-80°C selama 2-3 jam (harus dijaga agar panas
merata dan tidak sampai hangus).
b. Panas diatur pada suhu ±30-40°C selama 4 jam terus menerus. Hasil
pengasapan ditandai dengan bau harum yang khas dari ayam asap.
7. Keluarkan ayam asap dari lemari pengasapan lalu bungkus atau kemas dalam
kantong plastik.

3.3. Diagram Alir

Siangi ayam lalu cuci sampai bersih

Masukan garam kedalam ½ liter air dan didihkan, kemudian dinginkan

Rendam ayam selama ±15-20 menit, tiriskan, dan angin-anginkan sampai permukaan kering.

Ikan diikat satu persatu, kemudian siapkan bahan bakar berupa arang. Setelah itu bubuhkan
serbuk sampai timbul asap.

Digantung dan disusun dilemari asap

Di asap dengan Di asap pada suhu


suhu ±70-80°C ±30-40°C selama 4
selama 2-3 jam jam terus menerus

Keluarkan ayam asap dari lemari asap


Daftar Pustaka

Hafizhatunnisa. 2017. Pengolahan dan pengawetan dengan Pengasapan.


http://hafizhacorner.blogspot.com/2017/02/laporan-praktikum-pengolahan-dan.html.
(Diakses pada 28 Oktober 2018)

Puspabuana, Ovilia Maya. 2013. Makalah pengolahan pengasapan ikan.


http://adecovilia.blogspot.com/2013/10/makalah-pengolahan-pengasapan-ikan.html.
(Diakses pada 28 Oktober 2018)

Hada, Ismail. 2012. Pengasapan ikan .


http://pengasapanikan.blogspot.com/2012/11/pengasapan-ikan.html. (Diakses pada 28
Oktober 2018)

Sandinana. 2011. Laporan pengasapan tongkol. http://curahan-


sandinana.blogspot.com/2011/09/laporan-pengasapan-tongkol_29.html. (Diakses pada
28 Oktober 2018)

Susanti, Ni Luh Putu Ari. 2013. Laporan praktikum pengasapan ikan.


http://zzhaan.blogspot.com/2013/11/laporan-praktikum-pengasapan-ikan.html.
(Diakses pada 28 Oktober 2018)

Sulistijowati Rieny. 2018. Mekanisme Pengasapan Ikan.


http://repository.ung.ac.id/get/karyailmiah/240/Mekanisme-Pengasapan-Ikan.pdf.
(Diakses pada 28 Oktober 2018)

Juwita, Irma. 2014. Laporan praktikum TPHT (pembuatan chicken nugget dan daging
asap). http://romantis95.blogspot.com/2014/04/laporan-praktikum-tphtpembuatan-
chicken.html?m=1 (Diakses pada 29 Oktober 2018)