Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kanker adalah pertumbuhan sel-sel baru secara abnormal yang tumbuh
melampaui batas normal dan yang kemudian dapat menyerang bagian sebelah tubuh
dan menyebar ke organ lain (WHO, 2009). Kanker paru, hati, perut, kolorektal, dan
kanker payudara adalah penyebab terbesar kematian akibat kanker setiap tahunnya
(INFODATIN, 2015). Jenis kanker tertinggi pada perempuan di dunia adalah kanker
payudara (38 per 100.000 perempuan) dan kanker leher rahim (16 per 100.000
perempuan) (Globocan/IARC 2012). Kanker payudara adalah kanker yang paling
umum terjadi pada wanita. Di dunia kanker payudara merupakan penyakit kanker
dengan persentase kasus baru (dengan standarisasi umur) tertinggi, yaitu sebesar
40,35%. Sementara presentase kematian (dengan standarisasi umur) akibat kanker
payudara sebesar 16,6% (Globocan/IARC 2012).

Penyakit kanker serviks dan payudara merupakan penyakit kanker dengan


prevalensi tertinggi di Indonesia pada tahun 2013, yaitu kanker serviks sebesar 0,8%
dan kanker payudara sebesar 0,5% (Pusat Data Dan Informasi Kementerian
Kesehatan RI). Estimasi insidens kanker payudara di Indonesia sebesar 40 per
100.000 perempuan. Angka ini meningkat dari tahun 2002, dengan insidens kanker
payudara 26 per 100.000 perempuan (Globocan/IARC 2012). Sedangkan, prevalensi
kanker payudara tertinggi terdapat pada Provinsi D.I. Yogyakarta, yaitu sebesar 2,4%.
(Pusat Data Dan Informasi Kementerian Kesehatan RI).
Kasus kanker payudara dapat diobati dengan berbagai cara, diantaranya
melakukan kemoterapi, radioterapi maupun kombinasi terapi. Adapun beberapa kasus
kanker payudara yang dapat ditangani melalui terapi biologis atau hormon.
Dalam Islam, kondisi sakit merupakan sebuah cobaan atau ujian dari Allah
SWT yang diberikan kepada hamba yang dicintai-Nya untuk menguji keimanannya.
Ketika seseorang sakit disana terkandung pahala, ampunan dan akan
mengingatkannya kepada Allah SWT. Walau begitu, Allah SWT memberikan
keringanan pada hambaNya untuk melakukan pengobatan. Para fuqoha’ (ahli fiqih)
bersepakat bahwa berobat hukum asalnya dibolehkan. Tetapi hukumnya dibedakan
menurut perbedaan kondisi. Ada yang haram, makruh, mubah, sunnah bahkan ada
yang wajib. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW:

‫ِإ َّن هللاَ أ َ ْنزَ َل الدَّا َء َوالد ََّوا َء َو َج َع َل ِل ُك ِل دَاءٍ دَ َوا ًء فَتَدَ َاو ْوا َوالَ تَدَ َاو ْوا ِب َح َر ٍام‬
“Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obatnya, demikian pula
Allah menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah kalian dan
janganlah berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Dawud)

Kanker dan perawatannya seringkali memiliki dampak yang mendalam pada


pasien, baik secara fisik maupun psikis. Pasien mungkin mengalami masalah
kesehatan seperti rasa sakit, kelelahan dan masalah kognitif yang berkembang selama
perjalanan penyakit dan selama perawatan dan mungkin bertahan selama bertahun-
tahun. Perasaan-perasaan negatif ini membawa pasien pada kepercayaan diri yang
rendah dan keputusasaan. Pasien kanker seringkali tidak patuh terhadap pengobatan
dengan berbagai alasan, antar lain masalah biaya, ingin mencoba pengobatan
alternatif serta tidak tahan terhadap efek samping seperti kerontokan rambut, daya
tahan tubuh yang menurun, sariawan, mual dan muntah. Di samping itu, proses
pengobatan kanker yang memakan waktu lama, takut akan kematian serta tidak
adanya dukungan keluarga seringkali juga membuat pasien frustrasi dan akhirnya
berhenti berobat (drop-out). Komunikasi yang baik dengan perawat serta dukungan
keluarga dalam hal ini sangat dibutuhkan agar pasien mau patuh menjalani
pengobatan (Yahya, 2011, hal.1). Oleh karena itu, selama masa pengobatan dan
pemulihan, dukungan sosial dianggap berperan, terutama adanya dukungan dari
keluarga dan kerabat terdekat (M. J. Heins, et al, 2015).
Dukungan keluarga adalah suatu proses hubungan berupa sikap, tindakan, dan
penerimaan keluarga terhadap anggotanya yang bersifat mendukung dan memberikan
pertolongan kepada anggotanya (Friedman, 2010). Dukungan keluarga merupakan
faktor yang sangat penting untuk memotivasi dan meningkatkan semangat hidup
penderita kanker (Sari, 2012). Friedman (2010) menuliskan beberapa bentuk
dukungan keluarga, antara lain dukungan informasional, finansial, emosional, dan
instrumental.
Dalam Islam, pembentukan keluarga yang dilandaskan nilai-nilai Islam
diperlukan demi terpenuhinya kebutuhan rasa aman, tentram, dan kasih sayang
diantara sesama manusia sehingga terbina keluarga yang sakinah, mawaddah
warahmah. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

َ‫اجعَ ْلنَا ِل ْل ُمت َّ ِقين‬ ِ ‫َوالَّذِينَ يَقُولُونَ َربَّنَا هَبْ لَنَا ِم ْن أ َ ْز َو‬
ْ ‫اجنَا َوذ ُ ِريَّاتِنَا قُ َّرة َ أ َ ْعيُ ٍن َو‬
‫إِ َما ًما‬
“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada
kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan
jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan:74)

Dengan adanya dukungan keluarga yang baik, diharapkan pasien menjadi


lebih patuh menjalani pengobatan hingga tuntas. Berdasarkan hal tersebut, peneliti
tertarik untuk melakukan studi penelitian tentang “Hubungan Dukungan Keluarga
Terhadap Kepatuhan Berobat Pasien Kanker Payudara Ditinjau Dari Kedokteran
Islam”, Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai
kepatuhan berobat pada pasien kanker payudara, tidak hanya ditinjau dari sudut
pandang medis tetapi juga secara Islami.

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan diatas yaitu
dukungan keluarga terhadap pengobatan pasien kanker payudara sehingga rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada perbedaan antara pasien kanker
payudara yang mendapat dan tidak mendapat dukungan hubungan keluarga terhadap
kepatuhan berobat pasien serta apakah ada pengaruh pada pasien kanker payudara
yang mendapat dan tidak mendapat dukungan hubungan keluarga dengan kepatuhan
berobat pasien

1.2. Pertanyaan
Berdasarkan rumusan masalah maka dapat dibuat pertanyaan penelitian, yaitu:
1. Apakah ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan berobat
pasien kanker payudara?
2. Bagaimana gambaran dukungan keluarga pasien kanker payudara?
3. Bagaimana gambaran kepatuhan berobat pasien kanker payudara?

1.3. Tujuan penelitian:


Berdasarkan perumusan masalah diatas maka dapat diketahui tujuan dari penelitian
yaitu:

Tujuan umum:

1. Mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan berobat


pasien kanker payudara.

Tujuan khusus:

1. Mengetahui gambaran dukungan keluarga pasien kanker payudara.


2. Mengetahui gambaran kepatuhan berobat pasienkanker payudara.

1.4. Manfaat Penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:
1. Manfaat Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi penulis
mengenai pentingnya dukungan keluarga pada pasien kanker payudara serta
memberikan pengalaman belajar tersendiri, menumbuhkan rasa keinginan penulis
untuk memperdalam keterampilan dalam melakukan penelitian dan mempelajari
bidang yang dikaji.
2. Manfaat Bagi Masyarakat

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menyadarkan masyarakat pentingnya


dukungan keluarga pada kepatuhan berobat pasien kanker payudara. Dengan begitu
masyarakat dapat memahami dan ikut berkontribusi memberikan support dan peduli
pada pasien kanker payudara.

3. Manfaat Bagi Fakultas Kedokteran YARSI


Dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan untuk penelitian selanjutnya hasil
penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan pengetahuan serta memperkaya
ilmu bagi Fakultas Kedokteran Universitas YARSI.
BAB V

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN


BEROBAT PASIEN KANKER PAYUDARA DITINJAU DARI
KEDOKTERAN ISLAM

5.1. Pandangan Islam Mengenai Kanker Payudara

Hidup ini tidak terlepas dari cobaan dan ujian. Setiap manusia akan diuji
dalam menjalani kehidupannya, baik dari perkara yang menyulitkan atau perkara
yang menyenangkan. Hal ini dapat berupa kesenangan dan kesulitan, kesehatan dan
penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan,
petunjuk dan kesesatan. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

َ‫ش ِر َو ْال َخي ِْر فِتْنَةً ۖ َو ِإلَ ْينَا ت ُ ْر َجعُون‬ ِ ‫ُك ُّل نَ ْف ٍس ذَائِقَةُ ْال َم ْو‬
َّ ‫ت َونَ ْبلُو ُك ْم ِبال‬

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan
keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya
kepada Kami-lah kamu dikembalikan” (QS. Al Anbiyaa (21):35).

Kanker payudara merupakan penyakit yang berasal pertumbuhan yang tidak


normal dan tidak terkendali dari suatu sel. Kanker payudara disebabkan oleh tumor
ganas yang menyerang sel-sel lobulus dari kelenjar susu. (Kumar dan Robbins
2007; Tjindarbumi dalam Hawari, 2004).

Pasien kanker payudara akan mengalami kecemasan, stress dan takut pada
masa-masa awal ketika dirinya didiagnosa oleh dokter, terutama pada wanita. Hal ini
dapat menetap dalam jangka waktu satu tahun atau lebih. Selain itu, dapat
mempengaruhi kesehatan fisik dan mental mereka (Leventhal dkk, dalam Schou dkk,
2004).
Datangnya suatu penyakit merupakan sunnatullah (ketentuan-ketentuan Allah
Subhanallahu wa Ta’ala) kepada hamba-Nya. Dibalik datangnya suatu ujian, terdapat
hikmah bagi hamba-Nya. Hendaknya seorang hamba yang sedang sakit bersabar dan
memahami bahwa sakit merupakan suatu bentuk kasih sayang Allah SWT kepada
hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

،‫ َو ِإ َّن هللاَ ِإذَا أ َ َحبَّ قَ ْو ًما ا ْبتَالَ ُه ْم‬،‫ظ ِم ْال َبالَ ِء‬ ِ َ‫ظ َم ْال َجز‬
َ ‫اء َم َع ِع‬ َ ‫ِإ َّن ِع‬
ُ ‫س ْخ‬
‫ط‬ ُّ ‫ط فَلَهُ ال‬
َ ‫س ِخ‬
َ ‫ َو َم ْن‬،‫ضا‬ ِ ُ‫ي فَلَه‬
َ ‫الر‬ ِ ‫فَ َم ْن َر‬
َ ‫ض‬
“Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula.
Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan
kepadanya, barangsiapa yang ridho (menerimanya) maka Allah akan meridhoinya
dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.” (HR.
At-Tirmidzi no. 2396).

Adanya ujian dari Allah SWT dapat meringankan dosa dan menyucikan diri
seorang hamba. Selain itu Allah SWT akan mengangkat pula derajatnya. Allah SWT
berfirman:

ٍ ِ‫ت أ َ ْيدِي ُك ْم َويَ ْعفُو َع ْن َكث‬


‫ير‬ َ ‫صيبَ ٍة فَبِ َما َك‬
ْ َ‫سب‬ َ َ ‫َو َما أ‬
ِ ‫صابَ ُك ْم ِم ْن ُم‬
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-
kesalahanmu)” (QS. Asy-Syura (42):30)
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ْ ‫ت لَهُ ِب َها دَ َر َجةٌ َو ُم ِح َي‬


‫ت َع ْنهُ ِب َها‬ ْ ‫شاكُ ش َْو َكةً فَ َما فَ ْوقَ َها ِإ َّال ُك ِت َب‬
َ ُ‫َما ِم ْن ُم ْس ِل ٍم ي‬
ٌٌ‫َطيئَة‬
ِ ‫خ‬
“Tidak ada seorang muslim pun yang tertusuk duri dan ditimpa sakit yang lebih
besar dari itu, melainkan dengan sebab itu Allah akan mengangkatnya satu derajat
dan menghapus satu kesalahannya. ”(HR. Muslim no. 2572 dari Aisyah radhiallahu
‘anha)
Selain itu, apabila seorang hamba sakit maka akan tetap dicatat pahala
baginya atas amalan sunnah yang ia lakukan semasa ia sehat. Hal ini berlaku
walaupun seorang hamba tersebut tidak mengerjakan amalan sunnah tersebut karena
ia sakit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َ ‫ب لَهُ ِمثْ ُل َما َكانَ يَ ْع َم ُل ُم ِقي ًما‬


‫ص ِحي ًحا‬ َ ‫ض ْال َع ْبدُ أ َ ْو‬
َ ِ‫سافَ َر ُكت‬ َ ‫ِإذَا َم ِر‬

"Apabila seorang hamba sakit atau safar (bepergian jauh), dicatat untuknya amalan
semisal yang dia amalkan saat tidak safar dan sehat.” (HR. al-Bukhari no. 2996).

Penyakit kanker payudara merupakan salah satu ujian yang diberikan oleh
Allah SWT kepada hambanya. Walaupun begitu, hendaknya pasien kanker payudara
tetap husnudzan karena terdapat banyak hikmah yang dapat ia peroleh. Hal ini juga
senantiasa dapat semakin mengingatkan seorang hamba kepada Allah SWT. Semakin
seorang hamba sabar dan ridha menjalani ujian yang diberikan, semakin bertambah
kecintaan Allah kepada hamba-Nya tersebut. Allah SWT berfirman:

‫بقوم يحبهم ويحبونه‬


ٍ ُ‫فسوف يأتي هللا‬
“Maka Allah SWT akan mendatangkan suatu kaum yang Allah cintai dan merekapun
mencintai Allah ” (HR. Tirmidzi)

5.2. Pandangan Islam Mengenai Dukungan Keluarga

Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang yang masih memiliki


hubungan darah dan bersatu. Keluarga didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang
tinggal dalam satu rumah yang masih mempunyai hubungan kekerabatan/hubungan
darah karena perkawinan, kelahiran, adopsi dan lain sebagainya. (Soerjono, 2004:
23).

Keluarga dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah ahlun. Disamping kata
ahlun kata yang juga bisa memiliki pengertian keluarga adalah āli dan āsyir. Kata
ahlun berasal dari kata ahila yang berarti senang, suka, atau ramah. Menurut
pendapat lain, kata ahlun berasal dari kata pahala yang berarti menikah. Secara lebih
luas, ahlun adalah sekelompok orang yang disatukan oleh hubungan-hubungan
tertentu, seperti hubungan darah (keluarga), agama, pekerjaan, rumah atau negara.
Dalam Alquran kata ahlun disebut sebanyak 227 kali. Dari penyebutan sebanyak itu,
kata ahlun memiliki tiga pengertian, yaitu:

1. Yang menunjuk pada manusia yang memiliki pertalian darah atau


perkawinan, seperti ungkapan ahlu al-bait atau seperti dalam ayat yang di
bahas ini. Pengertian ini dalam bahasa indonesia disebut keluarga.
2. Menunjuk pada suatu penduduk yang mempunyai wilayah-geografis atau
tempat tinggal, seperti ucapan ahlu Al quran, ahli yatsrīb, ahlu al-balad dan
lain-lain. Dalam bahasa sehari-hari disebut warga atau penduduk.
3. Menunjukkan pada status manusia secara teologis seperti ahlu al-dzikr, ahlu
al-kitāb, ahlu al-nār, ahlu al-jannah dan sebagainya.

Meskipun tampak ada perbedaan, namun ketiganya sebenarnya terkait, yakni


ahlun yang berarti orang memiliki hubungan dekat, baik karena perkawinan, satu
kampung, kampus, negara, atau satu agama. Terjalinnya hubungan kedekatan itu
menjadikan pergaulan diantara mereka hidup dengan suka cita, senang dan damai
(Ghafur, 2006). Dalam hidup dan kehidupan seseorang tidak akan bisa lepas dari
keluarga, karena disinilah permulaan kehidupan sosial seseorang berlangsung.
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat. (Ahmadi, 1991)
Menurut konsep Islam, keluarga adalah satu kesatuan hubungan antara laki-
laki dan perempuan melalui akad nikah menurut ajaran Islam. Dengan adanya ikatan
akad pernikahan tersebut dimaksudkan anak dan keturunan yang dihasilkan menjadi
sah secara hukum agama (Faqih, 2001).
Islam sendiri menganggap keluarga merupakan milleniu pertama dan utama
bagi setiap individu dimanapun berinteraksi. Individu memerlukan keluarga bukan
hanya pada tingkat awal dalam kehidupannya semata, tetapi dalam sepanjang
hidupnya, dari kanak-kanak sampai tuanya untuk mendapatkan ketenangan dan
kebahagiaan.
Secara umum prinsip penataan keluarga yang digariskan dalam Islam adalah
sebagai berikut:
1. Prinsip kebebasan dalam memilih pasangan. Sebelum Islam datang, anak
perempuan sama sekali tidak mempunyai hak pilih, bahkan dirinya
sepenuhnya adalah milik ayah atau walinya. Tradisi ini dirubah oleh Nabi
Muhammad SAW. Dalam menentukan jodoh anak-anaknya, Nabi selalu
memberitahu serta meminta persetujuan mereka terlebih dahulu.
2. Prinsip mawaddah wa rahmah (cinta dan kasih sayang) prinsip ini sesuai
dengan surat ar-Rūm ayat 21. Ini terbentuk dari hati yang ikhlas dan rela
berkorban untuk pasangannya.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan


untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih
dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS ar-Rūm (30): 21)
3. Prinsip saling melengkapi dan melindungi. Prinsip ini mengisyaratkan bahwa
laki-laki dan perempuan masing-masing memiliki kekurangan serta kelebihan.
Karena itu dalam kehidupan keluarga, pasangan suami saling membutuhkan
dan melengkapi.

‫اس لَ ُه َّن‬ ٌ ‫اس لَ ُك ْم َوأ َ ْنت ُ ْم ِل َب‬


ٌ ‫سا ِئ ُك ْم ۚ ُه َّن ِل َب‬َ ‫ث ِإلَ ٰى ِن‬ ُ َ‫الرف‬ ِ َ‫أ ُ ِح َّل لَ ُك ْم لَ ْيلَة‬
َّ ‫الص َي ِام‬
َ‫اب َعلَ ْي ُك ْم َو َعفَا َع ْن ُك ْم ۖ فَ ْاْلن‬ َ ُ‫َّللاُ أَنَّ ُك ْم ُك ْنت ُ ْم ت َ ْختَانُونَ أ َ ْنف‬
َ َ ‫س ُك ْم فَت‬ َّ ‫َع ِل َم‬
‫َّللاُ لَ ُك ْم ۚ َو ُكلُوا َوا ْش َربُوا َحت َّ ٰى َيتَبَيَّنَ لَ ُك ُم‬ َّ ‫ب‬ َ َ ‫َبا ِش ُرو ُه َّن َوا ْبتَغُوا َما َكت‬
ۚ ‫ام ِإلَى اللَّ ْي ِل‬ َ ‫الص َي‬ ِ ‫ض ِمنَ ْال َخي ِْط ْاْل َ ْس َو ِد ِمنَ ْالفَ ْج ِر ۖ ث ُ َّم أ َ ِت ُّموا‬ ُ ‫ط ْاْل َ ْب َي‬ ُ ‫ْال َخ ْي‬
َّ ُ‫اج ِد تِ ْل َك ُحدُود‬
‫َّللاِ فَ َال ت َ ْق َربُوهَا‬ ِ ‫س‬َ ‫َو َال تُبَا ِش ُرو ُه َّن َوأ َ ْنت ُ ْم َعا ِكفُونَ فِي ْال َم‬
َ‫اس لَ َعلَّ ُه ْم يَتَّقُون‬ َّ ‫َك ٰذَ ِل َك يُبَيِ ُن‬
ِ َّ‫َّللاُ آيَاتِ ِه ِللن‬
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan
isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah
pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat
menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf
kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah
ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu
benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah
puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka
itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka
janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-
Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS. Al Baqarah 2:187)

4. Prinsip mu’āsyarah bi al-ma’rūf. Mu’āsyarah bi al-ma’rūf didefinisikan


sebagai pergaulan, pertemanan, persahabatan, kekeluargaan, dan
kekerabatan yang dibangun bersama (antara suami isteri) dengan cara-cara
yang baik. Dengan prinsip mu’asyarah bi al-ma’rūf, persoalan-persoalan
yang timbul dalam urusan rumah tangga bisa terselesaikan dengan baik
(Muhammad, Hussein. 2001).

Dukungan keluarga merupakan salah satu bentuk dukungan sosial. Dukungan


sosial pada umumnya menggambarkan mengenai perasaan atau pengaruh yang dapat
ditimbulkan oleh orang lain yang berarti seperti anggota keluarga, teman, saudara dan
rekan kerja. Dukungan sosial adalah pemberian bantuan seperti materi, emosi dan
informasi yang berpengaruh terhadap kesejahteraan manusia. Bentuk bantuan yang
dimaksud adalah bentuk bantuan yang terlibat dan pemberian rasa cinta, kasih sayang
dan kenyamanan kepada seseorang. Dukungan sosial juga dimaksudkan sebagai
keberadaan dan kesediaan orang-orang yang berarti, yang dapat dipercaya untuk
membantu, mendorong, menerima dan menjaga individu (Johnson and Johnson,
dalam Sulistiyani, 2003).
Dalam agama Islam, dukungan keluarga juga dikenal sebagai ta’awun atau
tolong menolong. Ta’awun sangat dianjurkan dalam agama Islam, mengingat bahwa
manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan
bantuan orang lain demi kelangsungan hidupnya. Hal ini tercantum dalam firman
Allah SWT :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Qs. al-Hujurat 49:
13).

Di dalam Al quran, hubungan sosial dibedakan menjadi tiga, yaitu:


1. Hubungan manusia dengan Tuhan (hablumminalllah)
2. Hubungan manusia dengan diri sendiri
3. Hubungan manusia dengan sesama manusia (hablumminannas).

Hablumminannas adalah salah satu bentuk perilaku seseorang kepada


seseorang yang lain berupa saling tolong menolong apabila ada yang mengalami
kesusahan sebagaimana Allah SWT berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan


jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah
kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al Maidah (5):2)
Perhatian Islam yang benar terhadap keluarga, baik dari segi masyarakat fisik
maupun dari segi material mempunyai pengaruh dan dampak yang sangat besar serta
berperan dalam pembentukan sosial masyarakat. Agama Islam memberikan perhatian
terhadap kepentingan kesejahteraan keluarga, dasar-dasar pembentukannya dan
segala faktor yang mendukung terwujudnya keluarga sejahtera. Adapun beberapa
aspek dukungan keluarga yang tercantum dalam Al quran demi membentuk keluarga
sejahtera diantaranya:

1. Saling Membutuhkan
Al quran menerangkan bahwa setiap individu saling melengkapi dan
menguatkan terhadap yang lain. Tak ada makhluk hidup yang dapat
melanjutkan hidupnya jika hanya hidup sebagian saja, dan harus hidup dengan
bagian lainnya. Ada beberapa ayat yang menerangkan hal ini, di antaranya :

‫احدَةٍ َو َجعَ َل ِم ْن َها زَ ْو َج َها ِليَ ْس ُكنَ إِلَ ْي َها ۖ فَلَ َّما‬ ِ ‫ُه َو الَّذِي َخلَقَ ُك ْم ِم ْن نَ ْف ٍس َو‬
‫َّللاَ َربَّ ُه َما لَ ِئ ْن‬
َّ ‫ت دَ َع َوا‬ ْ َ‫ت ِب ِه ۖ فَلَ َّما أَثْقَل‬
ْ ‫ت َح ْم ًال َخ ِفيفًا فَ َم َّر‬ْ َ‫شاهَا َح َمل‬َّ َ‫تَغ‬
َّ ‫صا ِل ًحا لَنَ ُكون ََّن ِمنَ ال‬
َ‫شا ِك ِرين‬ َ ‫آت َ ْيتَنَا‬
“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia
menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah
dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan
teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa
berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya
berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah
kami termasuk orang-orang yang bersyukur". (QS. Al A’raf (7): 189)

Berdasarkan ayat di atas menggambarkan adanya hubungan sosial


yang sangat kuat, lebih kuat dari hubungan intensif dan perasaan, baik pada
suami istri maupun keluarga. Oleh karena itu, adanya peran keluarga berperan
penting bagi tiap individu agar dapat melengkapi satu sama lain.
2. Hubungan dengan Perasaan
Adanya hubungan kasih sayang dapat menimbulkan perasaan tenang dalam
keluarga muslim. Hal itu sesuai dengan terbuat manusia dengan fitrahnya.
Perasaan kasih sayang antara suami istri merupakan perasaan simpati yang
lahir dari faktor insting dengan hubungan yang merupakan tanda-tanda
kekuasaan Allah SWT, seperti firman Allah SWT:

‫َو ِم ْن آيَاتِ ِه أ َ ْن َخلَقَ لَ ُك ْم ِم ْن أ َ ْنفُ ِس ُك ْم أ َ ْز َوا ًجا ِلت َ ْس ُكنُوا إِلَ ْي َها َو َجعَ َل بَ ْينَ ُك ْم‬
َ‫ت ِلقَ ْو ٍم يَتَفَ َّك ُرون‬ ٍ ‫َم َودَّة ً َو َر ْح َمةً ۚ ِإ َّن فِي ٰذَ ِل َك َْل َيا‬
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
kaum yang berfikir” (QS. ar-Rum (30): 21)

3. Saling Memberi Perhatian


Keutuhan keluarga muslim tercipta dengan adanya saling memberi perhatian
dalam anggota keluarga, seperti

ً َ ً َ ُ ْ َ ْ َ َ َ ُ ُ َْ َ ْ َ َ
ْ َ ٰ َ ْ ُ ُ ْ َ ٰ َ ‫ون ُه َو َق ْد َأ ْف‬
‫ض َوأخذن ِمنك ْم ِميثاقا غ ِليظا‬
ٍ ‫ض بعضكم ِإَل بع‬ ‫وكيف تأخذ‬

“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu


telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan
mereka (isteri- isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang
kuat.” (QS. An-Nisa’ (4): 21).
Dalam al quran terdapat ayat yang menjelaskan bahwa wanita
misalnya mendapat perhatian pada kehidupan sehari-hari, sehingga agama
Islam berbicara tentang hak-hak wanita terdapat dalam al-Quran yang
menggerakkan semangat laki-laki untuk mengasihi menyayangi wanita
dengan penuh kesungguhan. Islam memperingatkan baik laki-laki atau wanita
untuk saling mengasihi, menyayangi wanita dengan penuh kesungguhan.
Bahkan Islam memperingatkan baik laki-laki atau wanita dengan ciri-ciri
kehidupan keluarga yang lebih khusus lagi dan salah satu dari mere-ka
mempunyai rahasia yang harus dijaga oleh masing-masing yang tidak baik di
ketahui orang lain.

4. Pembiasaan dan Keteladanan


Pembiasaan tidak memerlukan keterangan atau argumen logis, karena
pembiasaan yang baik ditanamkan kepada anak, lahir dari pembinaan yang
dilakukan orang tuannya di rumah tangga seperti: membiasakan hidup bersih,
membiasakan berdoa sebelum mengerjakan sesuatu, membiasakan bangun
pagi, membiasakan hidup teratur dan lain-lain. Pembiasaan harus didukung
oleh keteladanan, sebab mustahil pembiasaan akan berhasil apabila
pembiasaan hanya diperintahkan saja kepada anak-anak sedang orang tuanya
tidak memberikan peneladanan sesuai dengan apa yang disuruh kepada anak-
anaknya.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa penting


untuk tiap individu membentuk keluarga yang harmonis dan berlandaskan
pondasi agama Islam yang kuat. Hal ini dapat membuat masing-masing
anggota keluarga merasa tentram, saling mengasihi dan melengkapi satu sama
lain. Dengan adanya dukungan keluarga yang baik, maka dapat memberikan
dampak positif bagi pasien kanker payudara sehingga ia dapat menjalankan
aktivitas sehari-hari dengan lancar. Selain itu, dengan terbentuknya keluarga
yang sakinah, mawaddah dan warrahmah dapat menjadikannya bahagia
dunia dan akhirat.

5.2. Pandangan Islam Mengenai Kepatuhan Berobat

Dalam bahasa arab, usaha untuk mendapatkan kesembuhan biasa disebut


dengan istilah At-Tadawi yang artinya menggunakan obat; diambil dari akar kata
dawa (mufrad) yang bentuk jamaknya adalah Adwiyah. Kalimat dawa yang biasa
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan arti obat; adalah segala yang
digunakan oleh manusia untuk menghilangkan penyakit yang mereka derita.
Sementara penyakit yang akan diobati, dalam bahasa arab biasa disebut dengan istilah
Daa-un, bentuk masdar dari kata Daa-un. Bentuk jamak dari kalimat “Adaa-u”
adalah “Adwaa-u”.

Pengertian kalimat Tadawi dalam sisi bahasa tidak jauh berbeda dengan
makna tadawi yang dipahami oleh para ahli fikih (pakar hukum Islam). kalimat
Tadawi diartikan oleh para pakar hukum Islam dengan makna; “menggunakan
sesuatu untuk penyembuhan penyakit dengan izin Allah SWT; baik pengobatan
tersebut bersifat jasmani ataupun alternatif. (Utsman Syabir. 2005)

Para ahli fikih dari berbagai mazhab; yaitu ulama mazhab Hanafi, Maliki,
Syafi’I dan ulama mazhab hambali sepakat tentang bolehnya seseorang mengobati
penyakit yang dideritanya. Pendapat para ulama tersebut didasari oleh banyaknya
dalil yang menunjukkan kebolehan mengobati penyakit. Di antara dalil-dalil tersebut
adalah:

Pertama, diriwayatkan oleh Imam Muslim:

‫ بَ َرأ َ بِإ ِ ْذ ِن هللاِ َع َّز َو َج َّل‬،‫اب الد ََّوا ُء الدَّا َء‬


َ ‫ص‬َ َ ‫ فَإِذَا أ‬،‫ِل ُك ِل دَاءٍ دَ َوا ٌء‬
“Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya
maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)
Hadits di atas mengisyaratkan diizinkannya seseorang Muslim mengobati
penyakit yang dideritanya. Sebab, setiap penyakit pasti ada obatnya. Jika obat yang
digunakan tepat mengenai sumber penyakit, maka dengan izin Allah SWT penyakit
tersebut akan hilang dan orang yang sakit akan mendapatkan kesembuhan. Meski
demikian, kesembumbuhan kadang terjadi dalam waktu yang agak lama, jika
penyebab penyakitnya belum diketahui atau obatnya belum ditemukan.
Kedua, diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Abu
Dawud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi:

،ِ‫س ْو َل هللا‬ ُ ‫ يَا َر‬:‫ فَقَا َل‬،‫اب‬ ُ ‫ت اْْلَع َْر‬ ِ ‫ َو َجا َء‬،‫سلَّ َم‬
َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬
َ ِ ‫ُك ْنتُ ِع ْندَ النَّبِي‬
َ َ‫ فَإ ِ َّن هللاَ َع َّز َو َج َّل لَ ْم ي‬،‫ تَدَ َاو ْوا‬،ِ‫ نَعَ ْم يَا ِعبَادَ هللا‬:‫أَنَتَدَ َاوى؟ فَقَا َل‬
َّ‫ض ْع دَا ًء إِال‬
‫ ْال َه َر ُم‬:‫ َما هُ َو؟ قَا َل‬:‫ قَالُوا‬.ٍ‫احد‬ ِ ‫ض َع لَهُ ِشفَا ًء َغي َْر دَاءٍ َو‬
َ ‫َو‬
“Aku pernah berada di samping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu datanglah serombongan Arab dusun. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah,
bolehkah kami berobat?” Beliau menjawab: “Iya, wahai para hamba Allah,
berobatlah. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah meletakkan sebuah penyakit
melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya:
“Penyakit apa itu?” Beliau menjawab: “Penyakit tua.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari
dalam Al-Adabul Mufrad, Abu 3 Ibid. 27 Dawud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi)
Hadits di atas menunjukkan bahwa setiap penyakit ada obatnya terkecuali
penyakit tua. Rasulullah Saw. menganggap tua sebagai penyakit. Sebab penyakit
tersebut merusak kondisi orang tersebut, sebagaimana penyakit- penyakit lain yang
biasanya mengakibatkan seseorang meninggal atau berat dalam menjalani hidup.

Ketiga, hadits riwayat Abu Daud:

“Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obatnya, demikian pula Allah
menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah kalian dan janganlah
berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Dawud).

Hadits ini menunjukkan bahwa seorang Muslim boleh mengobati


penyakitnya. Sebab, diturunkannya penyakit oleh Allah SWT.disertai dengan
diturunkan obatnya menunjukkan bahwa seorang Muslim diizinkan untuk mengobati
penyakit yang dideritanya. (Utsman Syabir. 2005).

Dalam Islam, diperbolehkan seseorang berobat untuk mengobati penyakit


yang dideritanya selama berobat tidak menggunakan bahan-bahan yang diharamkan
oleh Allah SWT. Apabila seseorang memilih untuk berobat, maka ada baiknya patuh
dalam menjalani pengobatannya agar mendapatkan mashlahah yang lebih banyak
dibandingkan mudharatnya.

Arifin (2012: 68) menyebutkan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kanker,
diantaranya faktor keturunan, lingkungan, makanan, virus, infeksi, perilaku,
gangguan hormonal, kejiwaan dan emosi. Faktor keturunan atau genetik
menyebabkan beberapa keluarga mengalami resiko lebih tinggi menderita kanker.

Schou, dkk. (2004). Pessimism as a Predictor of Emotional Morbidity

OneYearFollowing Breast Cancer Surgery. Psycho-oncology 1387

Hawari, D. (2004).
Kanker Payudara Dimensi
Psikoreligi. Balai Penerbit
FKUI,
Jakarta.
https://www.researchgate.net/publication/320922200_Hubungan_antara_Dukungan_
Sosial_dengan_Kecemasan_pada_Pasien_Kanker_Payudara

Dina, S. 2007. Depresi pada


Penderita Kanker Payudara
ditinjau dari Kedokteran dan
Islam. Skripsi Kedokteran
Universitas YARSI.