Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN SOLIDA


PENGARUH UKURAN PARTIKEL PADA FLUIDITAS GRANUL

Disusun Oleh :

KELOMPOK 7
Muhammad Rizky Rais (F.16.064)
Shofia Maulidza (F.16.076)
Shopa Handayani (F.16.077)
Suvana Devi (F.16.078)
Talitha Cresentia Rahma (F.16.079)

Program Studi Farmasi


Sekolah Tinggi Ilmu kesehatan Sari Mulia
Banjarmasin
2019
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
....................................................................................................................................
ii
BAB I PENDAHULUAN
....................................................................................................................................
1
A. Latar Belakang
......................................................................................................................
1
B. Tujuan Praktikum
......................................................................................................................
2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
....................................................................................................................................
3
A. Granulasi
basah
......................................................................................................................
3
B. Uji Sifat
Alir
......................................................................................................................
3
C. Uji Sudut
Diam
......................................................................................................................
3
D. Uji
Pengetapan
......................................................................................................................
4

ii
BAB III METODE PRAKTIKUM
....................................................................................................................................
5
A. Alat dan
Bahan
......................................................................................................................
5
B. Formulasi
......................................................................................................................
5
C. Prosedur
Kerja
......................................................................................................................
6
BAB IV HASIL DAN
PEMBAHASAN
....................................................................................................................................
7
A. Hasil
......................................................................................................................
7
B. Pembahasan
......................................................................................................................
8
BAB V
KESIMPULAN
....................................................................................................................................
10
DAFTAR
PUSTAKA
....................................................................................................................................
11

iii
PERTANYAAN
....................................................................................................................................
12

iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Granulasi adalah pembentukan partikel-partikel besar dengan mekanisme
pengikatan tertentu. Granul dapat diproses lebih lanjut menjadi bentuk sediaan
granul terbagi, kapsul, maupun tablet. Berbagai proses granulasi telah
dikembangkan, dari metode konvensional seperti slugging dan granulasi
dengan bahan pengikat musilago amili hingga embentukan granul dengan
peralatan terkini seperti spray dry dan freeze dry.
Untuk meningkatkan granulasi secara efisien, tujuan granulasi benar-benar
dipahami. Alasan granulasi yang paling umum adalah agar bahan memiliki
sifat alir yang baik sehingga mesin tablet dan alat pengisi kapsul terisi dengan
baik dan dapat dipertahankan bobot tablet atau kapsul yang seragam, agar
kepadatan serbuk meningkat dan agar penyebaran ukuran pertikel berubah,
sehingga daya ikat pada pemampatan dapat diperbaiki.
Alat-alat tertentu ternyata lebih sesuai daripada yang lainnya untuk
membantu mengembangkan sifat-sifat yang diinginkan dari granulasi yang
sudah jadi. Menurut kebiasaan, granulasi basah dilakukan dengan
menggunakan mixer pisau sigma atau berputar dengan kekuatan besar. Bahan-
bahan pengikat digunakan pada formulasi tablet untuk membuat serbuk-serbuk
menjadi lebih mudah ditekan dan membuat tablet yang lebih tahan pecah
selama penanganan. Beberapa ditambahkan dalam keadaan kering dan
memberikan sifat-sifat pengikatnya pada waktu kontak dengan cairan
penggranulasi. Lainnya dilarutkan atau didispersi dalam cairan formulasi.
Dalam beberapa hal bahan pengikat memberikan viskositas yang besar pada
larutan penggranulasi, sehingga pemindahan cairan dengan memompa atau
menuang menjadi sulit.
Suatu bulk serbuk ada analoginnya dengan cairan non-Newton yang
memperlihatkan aliran plastis dan kadang-kadang aliran dilatan, pertikel-
partikelnya dipengaruhi oleh gaya tarik menarik sampai derajat bermacam-
macam. Oleh karena itu serbuk dapat mengalir bebas atau mampat. Faktor-

1
faktor yang mempengaruhi sifat alir dari serbuk, terutama yang jelas adalah
ukuran partikel, bentuk, porositas, kerepatan dan pola permukaan.
B. Tujuan
Tujuan percobaan ini untuk mengetahui pengaruh ukuran partikel pada
fluiditas garnul.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Granulasi Basah
Metode granulasi basah dilakukan dengan mencampurkan terlebih dahulu
zat aktif dengan bahan pengisi. Kemudiaan ditambah dengan bahan pengikat dan
dicampurkan sampai homogen sehingga terbentuk masa yang kempal yang
disebut granul (Lachman,1989).
B. Uji Sifat Alir
Uji sifat alir Uji sifat alir bertujuan untuk mengetahui sifat alir dari granul
yang dinyatakan dalam kecepatan alirnya (v). sifat alir memiliki peranan penting
dalam pembuatan tablet yaitu berkaitan dengan keseragaman bobot dan dosis,
granul dengan sifat alir baik akan mudah mengisi lubang matris dengan volume
yang tetap, sehingga tidak terjadi perbedaan bobot dan dosisnya dapat seragam.
Pengukuran sifat alir dapat dilakukan melalui 2 macam metode, yaitu metode
langsung dan metode tidak langsung, metode langsung yang digunakan pada
praktikum kali ini adalah metode corong, dengan menuangkan sebanyak 100 g
granul ke dalam corong yang telah ditutup bagian bawahnya, pengisian melalui
bagian tepi corong untuk menghindari adanya gaya tekan yang dapat
memadatkan granul dan mempengaruhi sifat alirnya. Waktu yang dibutuhkan
granul untuk mengalir jatuh seluruhnya digunakan untuk mengetahui kecepatan
alirnya.
C. Uji Sudut Diam
Uji sudut diam merupakan salah satu metode untuk mengevaluasi fluiditas
granul secara tidak langsung, menggunakan alat silinder tetap dengan penyangga
dengan cara memasukan sejumlah granul ke dalam silinder dalam keadaan
lubang bagian bawah ditutup kemudian setelah pengisian selesai penutup dibuka
dan granul dibiarkan mengalir. Sudut diam yang diukur merupakan tinggi
gundukan granul yang terdapat di atas penyangga dibagi dengan diameter
penyangga. Nilai sudut diam dapat menggambarkan seberapa baik fluiditas
granul yang diukur, dimana jika granul memiliki fluiditas yang kurang baik
maka akan sulit mengalir melalui lubang di bagian dasar silinder sehingga akan
membentuk gundukan yang tinggi di atas penyangga. Sebaliknya jika granul

3
memiliki fluiditas baik akan lebih mudah mengalir melalui lubang silinder
sehingga gundukan yang tersisa di atas penyangga tidak terlalu banyak. Menurut
granul dengan fluiditas baik jika sudut diamnya kurang dari 40. Dari ketiga
formula yang diukur, dengan masing masing formula 3 kali replikasi tidak
diperoleh hasil pengukuran sudut diam dikarenakan granul tidak dapat mengalir
melalui lubang di bagian dasar silinder. hal ini dapat disebabkan oleh pemilihan
metode yang kurang tepat, sebab pada pengukuran waktu alir granul yang sama
digunakan dapat mengalir melalui corong. Pengukuran sudut diam lebih baik
digunakan silinder tanpa penyangga sehingga pengukuran dapat dilakukan lebih
mudah.
D. Uji Pengetapan
Metode evaluasi yang ketiga terhadap fluiditas granul adalah uji
pengetapan. Uji ini menggunakan alat volume nometer yang didasarkan pada
penataan kembali partikel penyusun dalam suatu wadah setelah diberi getaran
mekanik dalam jumlah dan waktu tertentu. Dilakukan dengan cara mengisi gelas
ukur berskala dengan granul melalui dinding gelas ukur, sampai volume 100 ml
sebagai Vo, kemudian diberi getaran sebanyak 5, 10, 25, 50, dan 100 hentakan
secara berurutan. Setiap kali hentakan selesai, diamati penurunan volume granul
yang terjadi sebagai nilai Vt. Tujuan pengisian granul lewat dinding untuk
menghindari adanya rongga/celah sehingga volume granul tepat 100 ml. setelah
100 hentakan diberikan, hentakan dilanjutkan sampai volume granul tidak
mengalami penurunan konstan (Voight, 1984).

4
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Volumenometer
b. Cawan petri
c. Sendok tanduk
d. Corong
e. Busur derajat
f. Penggaris
2. Bahan
a. Paracetamol 50 gram
b. Amilum 3 gram
c. Sol. Gelatin 10% 1,8 gram untuk pembuatan granul
d. Amilum kering 0,3 gram
e. Talkum
f. Ganulatura simplek dengan ukuran 18/25 Mesh
B. Formulasi
1. Paracetamol : sebagai bahan aktif yang digunakan untuk pembuatan tablet.
2. Amilum maydish : sebagai zat penghancur dan zat tambahan untuk sediaan
obat.
3. Talkum : sebagai lubrikan pada formulasi tablet dan sebagai adsorben.
Inkompabilitas terhadap komponen amonium.
4. Gelatin 10% : sebagai pengikat antara partikel zat aktif berfungsi
memberikan daya adisi pada massa serbuk pada saat granulasi.

5
C. Cara Kerja
1. Pengamatan sudut diam

Menimbang granul yang sebelumnya sudah dibuat

kemudian masukkan secara pelan-pelan lewat lubang bagian atas


corong, sementara bagian bawah ditutup

Buka penutupnya, dan biarkan serbuk mengalir keluar

Ukur tinggi kerucut yang terbentuk

Ulangi percobaan sebanyak 3 kali

2. Uji pengetapan

Tuangkan granul secara perlahan ke dalam gelas ukur, dan uku


volumenya sebagai Vo

Pasang gelas ukur pada alat, dan hidupkan motor

Catat perubahan volume setelah (Vt) bila t = 5,10, dan 15 menit

Teruskan pengetapan sampai permukaan granul tidak turun lagi


(volume sudah konstan, dan sebagai Vk)

6
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Uji Kecepatan Alir
No. Replikasi Kecepatan Alir
1. I 25 detik
2. II 20,13 detik
3. III 17,12 detik
2. Pengamatan Sudut Diam
No. Replikasi Tinggi Kerucut h (cm) Diameter Sudut
1. I 2,5 cm 40˚
2. II 2,7 cm 40˚
3. III 2,7 cm 45˚
Rata - rata 2,63 cm 41,6o
3. Uji Pengetapan
No. Waktu Vo Vt T (%)
1. 5 menit 81 ml 69 ml 81 ml −69 ml
T (%) = x 100%
81 ml

= 14,81%

2. 10 menit 81 ml 68 ml 81 ml −68 ml
T (%) = x 100%
81 ml

= 16,04%

3. 15 menit 81 ml 67 ml 81 ml −67 ml
T (%) = x 100%
81 ml

= 17,28%

7
B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan pengaruh ukuran partikel pada
fluiditas granul. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran
partikel pada fluiditas granul. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan
bahan yaitu granul yang sebelumnya sudah dikeringkan dengan suhu 60oC dan
diperoleh granul sebanyak 29,19 gram.
Untuk mengetahui pengaruh ukuran partikel pada fluiditas granul dilakukan
3 macam uji yaitu mengamati kecepatan sifat alir, mengukur sudut diam dan uji
pengetapan. Pada uji pengamatan kecepatan sifat alir granul yang sebelumnya
diperoleh lalu dimasukan ke gelas ukur pada alat density tester untuk dilakukan
pengetapan dengan waktu 5 menit, 10 menit dan 15 menit. Dari hasil T(%) yang
diperoleh serbuk mempunyai serbuk alir yang baik karena pemampatannya
kurang dari 20%. Semakin besar harga T(%), maka sifat alirnya semakin kecil.
Pada uji sudut diam, granul dituang ke dalam corong ukur melalui tepi
corong agar granul mengalir dan merata. Buka tutup corong dan catat waktunya.
Lakukan sebanyak 3 kali replikasi. Hasil yang diperoleh untuk replikasi pertama
: 25 detik, replikasi kedua : 20,13 detik, replikasi ketiga : 17,12 detik. Rata – rata
dari tiga kali replikasi adalah 20,75 detik. Berdasarkan literatur seharusnya
dalam uji kecepatan sifat alir dalam 2,242 gram/detik sehingga dalam 29,19
gram diperoleh waktu kecepatan alir sebanyak 20,75 detik, jadi kecepatan sifat
alir dinyatakan mudah mengalir. Kecepatan alir dari granul dikatakan baik
karena semakin kecil ukuran granul kecepatan alir dari granul dikatakan baik
karena semakin kecil ukuran granul maka kecepatan alir semakin cepat.
Pada uji mengukur sudut diam mengukur tinggi dan diameter kerucut yang
terbentuk, dengan jangka sorong sebanyak 3 kali replikasi. Replikasi pertama :
diperoleh tinggi 2,5 cm dan sudut : 40º, replikasi kedua : tinggi 2,7 cm dan sudut
40º, replikasi ketiga : diperoleh tinggi 2,7cm dan sudut 45º. Hasil rata – rata yang
diperoleh adalah tinggi 2,63cm dengan sudut 41,6º. Dari hasil percobaan granul
dengan uji mengukur sudut diam lebih dari 45º menandakan bahwa sifat alir
granul tidak baik atau buruk. Karena pada literatur sifat alir granul dikatakan
baik apabila sudut diamnya kurang dari 45º pada hasil yang praktikan dapatkan
granul sudah sesuai literatur yaitu kurang dari 45 º.

8
Dari hasil praktikum secara keseluruhan pada uji kecepatan sifat alir dan
mengukur sudut diam diperoleh hasil yang menunjukan kecepatan sifat alir yang
baik karena kurang dari 14,22 detik dalam 21,19 gram granul. Sedangkan untuk
sudut diam yaitu kurang dari 45°. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan sifat
alir kurang baik adalah kerapatan granul, ukuran partikel, kandungan lembab
dari granul.

9
BAB V
KESIMPULAN

Pada percobaan kali ini berdasarkan dari uji pra formulasi yang dilakukan
berdasarkan uji kecepatan sifat alir dan mengukur sudut diam diperoleh hasil
kecepatan sifar alir granul rata-rata adalah 41,6o yang menandakan sifat alir yang
baik karena berdasarkan literatur dikatakan baik apabila sudut diamnya kurang dari
45o, sedangkan untuk uji pengetapan telah diperoleh hasil yang baik yaitu nilai
T(%) kurang dari 20 %.

10
DAFTAR PUSTAKA

Voight,R,1984, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh


Soewandhi,S.N.,Edisi 2, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Lachman,L,Lieberman,H.A.,dan Kanig,J.L.,1989,Teori dan Praktek Farmasi


Industri,Universitas Indonesia, Jakarta.

11
JAWABAN PERTANYAAN
1. Apa yang dimaksud dengan sudut diam?
Sudut yang terbentuk oleh setumpuk partikel terhadap bidang datar pada
kondisi stabil.
2. Jelaskan metode yang dapat mengukur sudut diam!
a. Metode Sudut Istirahat
Metode sudut istirahat digunakan sebagai metode untuk mengukur
mampu alir serbuk karena hubungannya dengan kohesi antarpartikel .
Banyak metode yang berbeda untuk menetapkan sudut istirahat dan salah
satunya yang sering digunakan adalah metode corong. Serbuk seberat 100 g
dilewatkan melalui corong, dan jatuh ke atas sehel grafik Setelah onggokan
serbuk membentuk kerucut stabil, sudut istirabhatnya diukur. Metode ini
disebut "uji sudut jatuh'. Untuk kebanyakan serbuk farmasetik (massa
tablet), nilai sudut istirahat 25° sampai 45° dengan nilai yang rendah
menunjukkan karakteristik yang lebih baik. Suatu serbuk yang tidak kohesif
mengalir baik, menyebat, membentuk timbunan yang rendah. Bahan yang
lebih kohesif membentuk timbunan yang lebih tinggi yang kurang
menyebar, Definisi sudut istirahat adalah sudut permukaan bebas dar
tumpukan serbuk dengan bidang horizontal.

b. Metode Pengetapan

Metode ini menggunakan cara dengan mengamati pengurangan


volume granul atau serbuk yang terajdi saat pengamatan. Alat yang
digunakan yaitu volumenometer yang terdiri dari sebuah gelas ukur yang
diletakkan pada suatu alas yang dapat bergerak naik turun secara mekanis
dengan bantuan penggerak.

12

Anda mungkin juga menyukai