Anda di halaman 1dari 3

BAB 4

PEMBAHASAN

Berdasarkan pada kasus yang dikelola dengan masalah keperawatan jiwa “DPD”
pada Tn. S menunjukkan kurangnya kemampuan terutama dalam perawatan diri,
yaitu mandi, berhias. Defisit perawatan diri adalah kemampuan dasar yang dimiliki
manusia dalam melengkapi kebutuhannya dalam kelangsungan hidupnya sesuai kondisi
kesehatannya.
Defisit perawatan diri merupakan salah satu penyakit kejiwaan dimana seseorang
tidak mampu untuk merawat diri sendiri. Penyebabnya menurut Menurut Depkes
(2000), terbagi menjadi faktor predisposisi (Faktor perkembangan, faktor biologis,
faktor kemampuan, dan faktor sosial) dan faktor presipitasi (body image/ citra tubuh,
faktor praktik sosial, faktor status sosial ekonomi, pengethuan, budaya, kebiasaan
seseorang, kondisi fisik/psikis, dan pengetahuan). Berdasarkan pada kasus yang
terjadi pada Tn. S, salah satu penyebab terjadinya DPD berdasar pada data pengkajian
adalah karena tidak ada kemauan untuk mandi. Tn. S merasa dirinya bahwa nantinya
akan ada orang yang memandikannya. Berdasarkan status rekam medik dan hasil
wawancara dengan klien, klien terakhir di rawat tahun 2017. Selain itu, penyebabnya
masuk yaitu karena dulu mengancam ibunya kalo keinginan tidak dipenuhi dan
terkadang melempar.
Berdasarkan klasifikasi menurut Damaiyanti (2012), terdapat beberapa jenis
defisit perawatan diri yaitu lihat, mandi, berpakaian, makan, eliminasi. Pada kasus
Tn. S dengan gejala yang ditimbulkan yaitu pasien tidak mampu mandi sendiri dan
BAK sembarangan. Berdasarkan penjelasan diatas kelompok menyimpulkan Tn. S
masuk pada klasifikasi defisit perawatan diri mandi dan eliminasi. Defisit perawatan
diri menurut Damaiyanti (2012) adalah kurangnya perawatan diri pada pasien dengan
gangguan jiwa terjadi akibat adanya perubahan proses pikir sehingga kemampuan
untuk melakukan aktivitas perawatan diri menurun. Kurang perawatan diri terlihat

21
22

dari ketidakmampuan merawat kebersihan diri antaranya mandi, makan minum


secara mandiri, berhias secara mandiri, toileting (BAK/BAB). Defisit perawatan diri :
mandi yaitu hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan
mandi/beraktivitas perawatan diri sendiri, sedangkan defisit perawatan diri : eliminasi
yaitu hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas eliminasi
sendiri.
Rentang respons yang paling adaptif adalah adanya pola perawatan diri yang
seimbang , sedangkan rentang respons yang paling maladaptif adalah tidak
melakukan perawatan dirisaat stres (Ade, 2011). Berdasarkan kasus yang dikelola
dan merujuk pada tanda-tanda yang ditimbulkan, dalam proses rentang respon, Tn. S
berada pada rentang mal adaptif dengan ciri-ciri menurut Ade (2011) yaitu tidak
melakukan perawatan diri pada saat stres.
Berdasarkan pohon masalah mengenai defisit perawatan diri penyebab timbulnya
defisit perawatan diri adalah harga diri rendah, hal ini sesuai dengan kasus. Efek yang
ditimbulkan oleh DPD berdasarkan teori adalah isolasi sosial, namun pada kasus efek
yang terjadi yaitu halusinasi. Hal ini terjadi ketika pasien tidak diberikan apa yang
diinginkannya, pasien bercakap-cakap sendiri.
Diagnosa berdasarkan teori ada 3 yaitu, isolasi sosial, DPD, dan HDR. Pada kasus
juga terdapat 3 diagnosa hanya saja pada kasus tidak ditemukannya isolasi social
melainkan halusinasi..
Dari segi intervensi keperawatan jiwa yang diberikan pada klien-klien dengan
masalah kejiwaan “DPD” adalah dengan cara menjaga kebersihan diri (mandi,
keramas, sikat gigi), berdandan (berpakaian ra[i dan berhias diri), makan dan minum
dengna benar, BAB/BAK pada tempatnya. Dalam perkembangannya, Tn. S masih
sulit untuk diterapkan intervensi pertama yaitu menjaga kebersihan diri, hal ini
berkemungkinan disebabkan oleh banyak hal, salah satunya Tn. S tidak mempu
mandi sendiri karena bingung atau stress, sehingga perlu intervensi berulang dari
tenaga kesehatan yang merawat. Kemudian untuk intervensi kedua yaitu berpakaian
rapi juga masih sulit di terapkan, hal ini terlihat dari cara berpakaian Tn. S yang
23

selalu terbalik. Selanjutnya untuk intervensi yang ketiga tentang cara makan dan
minum dengan benar sudah mampu dilakukan. Yang terakhir yaitu BAB/BAK pada
tempatnya, hal ini belum diterapkan sempurna karena terkadang pasien masih
bingung untuk tempat BAK yang benar dan pasien terkadang masih BAK di lantai.
Menurut Ade (2011) salah satu penentu keberhasilan penanganan pada klien
dengan masalah kejiwaan defisit perawatan diri yaitu membimbing dan menolong
klien merawat diri. Hal ini telah dilakukan oleh kelompok terhadap pasien seperti
mengajarkan cara mandi yang benar dan menunjukkan tempat BAB/BAK yang benar.
Secara umum, proses keperawatan telah berjalan sesuai dengan koridornya,
namun masalah-masalah yang menghambat dalam proses penyembuhan pasti akan
selalu ada. Sehingga, sebagai tenaga kesehatan perlu mempertimbangkan masalah
tersebut, dan untuk saat ini lebih fokus kepada klien yaitu Tn. S