Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan di dalam kebudayaan masyarakat banyak
membawaperubahanyang tidak kecil di dalam segi kehidupan
manusia.Perubahansituasi individu baik yang positif maupun negatif dapat
mempengaruhikeseimbangan fisik, mental dan sosial.Individu yang sehat jiwa
inimeliputi menyadari kemampuan dirinya secara penuh. Mampumenghadapi
problem maupun situasi yang berat dan mampu beradadengan orang lain
(Keliat,dkk.2007).
Data statistik yang dikemukakan oleh (WHO) (2012) menyebutkan
bahwasekitar 450 juta orang di dunia mengalami masalah gangguan kesehatan
jiwa.Sepertiga diantaranya terjadi di Negara berkembang. Data yang ditemukan
olehpeneliti di Harvard University dan University College London,
mengatakanpenyakit kejiwaan pada tahun 2016 meliputi 32% dari semua jenis
kecacatan diseluruh dunia. Angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya
(VOA Indonesia,2016).
Menurut WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60juta
orang terkena bipolar, 21 juta orang terkena skizofrenia, serta 47,5 jutaterkena
dimensia. Jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia saat ini adalah236 juta
orang, dengan kategori gangguan jiwa ringan 6% dari populasi dan0,17%
menderita gangguan jiwa berat, 14,3% diantaranya mengalami pasung.Tercatat
sebanyak 6% penduduk berusia 15-24 tahun mengalami gangguan jiwa, dari 34
provinsi di Indonesia, Sumatera Barat merupakan peringkat ke 9 denganjumlah
gangguan jiwa sebanyak 50.608 jiwa dan prevalensi masalah skizofreniapada
urutan ke-2 sebanyak 1,9 permil. Peningkatan gangguan jiwa yang terjadisaat ini
akan menimbulkan masalah baru yang disebabkan ketidakmampuan dangejala-
gejala yang ditimbulkan oleh penderita (Riskesdas 2013).
Dalam pasien dengan gangguan jiwa kurangnya keperawatan diri akibat adanya
perubahan proses pikir sehingga dalam kemampuan melakukan aktifitas perawatan
diri menurun.Pemeliharaan hygiene perorangan diperlukan untuk kenyamanan
individu, keamanan, dan kesehatan.Seperti pada orang sehat dapat memenuhi
kebutuhan personal hygienenya sendiri.Cara perawatan diri menjadi rumit
dikarenakan kondisi fisik atau keadaan emosional klien. Selain itu,beragam
faktor pribadi dan sosial budaya mempengaruhi praktik hygiene klien.
Karena perawatan hygiene seringkali memerlukan kontak yang dekat
dengan klien maka perawat menggunakan ketrampilan komunikasi untuk
meningkatkan hubungan terapeutik dan belajar tentang kebutuhan emosional
klien.Oleh karena itu penulis membahas makalah ini untuk mempelajari
tentang defisit perawatan diri dan mengkaji pasien dengan gangguan perawatan
diri.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Konsep Asuhan Keperawatan Defisit Perawatan diri ?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan defisit perawatan diri.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui definisi defisit perawatan diri.
b. Untuk mengetahui etiologi defisit perawatan diri.
c. Untuk mengetahui tanda dan gejala defisit perawatan diri.
d. Untuk mengetahui jenis defisit perawatan diri.
e. Untuk mengetahui rentang respon defisit perawatan diri.
f. Untuk mengetahui proses terjadiya masalah defisit perawatan diri.
g. Untuk mengetahui pohon masalah defisit perawatan diri.
h. Untuk mengetahui mekanisme koping defisit perawatan diri.
i. Untuk mengetahui penatalaksanaan defisit perawatan diri.
j. Untuk mengetahui akibat defisit perawatan diri.
k. Untuk mengetahui masalah keperawatan yang mungkin muncul.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Defisit perawatan diri adalah kurangnya perawatan diri pada pasien dengan
gangguan jiwa terjadi akibat adanya perubahan proses pikir sehingga
kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri menurun. Kurang
perawatan diri terlihat dari ketidakmampuan merawat kebersihan diri antaranya
mandi, makan minum secara mandiri, berhias secara mandiri, toileting
(BAK/BAB) (Damaiyanti, 2012).
Defisit perawatan diri adalah kemampuandasar yang dimiliki manusia
dalam melengkapi kebutuhannya dalamkelangsungan hidupnya sesuai kondisi
kesehatannya.(Damaiyanti, 2012). Defisit perawatan diri adalah gangguan
kemampuan melakukanaktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan serta
toileting) kegiatan ituharus bisa dilakukan secara mandiri (Herman, 2011).

B. Etiologi
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2000), penyebab kurang perawatan diri
adalah kelelahan fisik dan penurunan kesadaran. Menurut Depkes (2000),
penyebab kurang perawatan diri adalah:
1. Factor predisposisi
a) Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga
perkembangan inisiatif terganggu.
b) Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan
perawatan diri.
c) Kemampuan
realitas turun Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas
yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan
termasuk perawatan diri.

d) Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
lingkungannya.Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan
dalam perawatan diri.
2. Faktor presivitasi
Faktor presivitasi defisit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi,
kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah yang dialami
individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan
perawatan diri.
Menurut Depkes (2000) Faktor – faktor yang mempengaruhi personal
hygiene adalah:
a) Body Image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan
diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak
peduli dengan kebersihan dirinya.
b) Praktik Sosial
Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka
kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
c) Status Sosial Ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi,
sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk
menyediakannya.
d) Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang
baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita
diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
e) Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh
dimandikan.
f) Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam
perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain – lain.

g) Kondisi fisik atau psikis


Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang
dan perlu bantuan untuk melakukannya.
C. Tanda dan Gejala
Menurut Depkes (2000) tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri
adalah:
1. Fisik
a) Badan bau, pakaian kotor.
b) Rambut dan kulit kotor.
c) Kuku panjang dan kotor.
d) Gigi kotor disertai mulut bau.
e) Penampilan tidak rapi.
2. Psikologis
a) Malas, tidak ada inisiatif.
b) Menarik diri, isolasi diri.
c) Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
3. Social
a) Interaksi kurang.
b) Kegiatan kurang.
c) Tidak mampu berperilaku sesuai norma.
d) Cara makan tidak teratur.
e) BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu
mandiri.

D. Jenis – Jenis
Menurut (Damayanti, 2012) jenis perawatan diri terdiri dari :
1. Defisit perawatan diri : mandi
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan
mandi/beraktivitas perawatan diri sendiri.
2. Defisit perawatan diri : berpakaian
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas
berpakaian dan berhias untuk diri sendiri.
3. Defisit perawatan diri : makan
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas
sendiri.
4. Defisit perawatan diri : eliminasi
Hambatn kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas
eliminasi sendiri.

E. Rentang Respon
Adaptif Maladaptif

Pola perawatan diri Kadang perawatan diri, Tidak melakukan


seimbang kadang tidak perawatan diri pada saat
stres

1. Pola perawatan diri seimbang: saat pasien mendapatkan stressor dan mampu
untuk berperilaku adaptif maka pola perawatan yang dilakukan klien
seimbang, klien masih melakukan perawatan diri.
2. Kadang melakukan perawatan diri kadang tidak: saat pasien mendapatan
stressor kadang-kadang pasien tidak menperhatikan perawatan dirinya.
3. Tidak melakukan perawatan diri: klien mengatakan dia tidak perduli dan
tidak bisa melakukan perawatan saat stress (Ade, 2011).

F. Proses Terjadinya Masalah


Defisit perawatan diri terjadi diawali dengan proses terjadinya gangguan
jiwa yang dialami oleh klien sehingga menyebabkan munculnya gangguan
defisit perawatan diri pada klien. Pada klien skizofrenia dapat mengalami
defisit perawatan diri yang signifikan.Tidak memerhatikan kebutuhan higiene
dan berhias biasa terjadi terutama selama episode psikotik. Klien dapat menjadi
sangat preokupasi dengan ide-ide waham atau halusinasi sehingga ia gagal
melaksanakan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari (Stuart&Laraia, 2005).
Faktor biologis terkait dengan adanya neuropatologi dan ketidakseimbangan
dari neurotransmiternya.Dampak yang dapat dinilai sebagai manifestasi adanya
gangguan adalah pada perilaku maladaptif pasien (Townsend, 2005).Secara
biologi riset neurobiologikal mempunyai fokus pada tiga area otak yang
dipercaya dapat melibatkan perilaku agresi yaitu sistem limbik, lobus frontalis
dan hypothalamus.
Sistem Limbik merupakan cicin kortek yang berlokasi dipermukaan medial
masing-masing hemisfer dan mengelilingi pusat kutup serebrum. Fungsinya
adalah mengatur persyarafan otonom dan emosi (Suliswati,et al, 2002: Struat &
Laraia, 2005). Menyimpan dan menyatukan informasi berhubungan dengan
emosi, tempat penyimpanan memori dan pengolahan informasi. Disfungsi pada
sistem ini akan menghadirkan beberapa gejala klinik seperti hambatan emosi
dan perubahan kebribadian (Kaplan, Saddock & Grebb, 2002).
Lobus Frontal berperan penting menjadi media yang sangat berarti dalam
perilaku dan berpikir rasional, yang saling berhubungan dengan sistem limbik
(Suliswati,et al, 2002: Struat & Laraia, 2005). Lobus frontal terlibat dalam dua
fungsi serebral utama yaitu kontrol motorik gerakan voluntir termasuk fungsi
bicara, fungsi fikir dan kontrol berbagai ekspresi emosi. Kerusakan pada
daerah lobus frontal dapat menyebabkan gangguan berfikir, dan gagguan dalam
bicara/disorganisasi pembicaraan serta tidak mampu mengontrol emosi
sehingga berperilaku maladaptif seperti tidak mau merawat diri : mandi,
berpakaian/berhias, makan, toileting. Kondisi ini menunjukkan gejala defisit
perawatan diri (Townsend 2005).
Hypotalamus adalah bagian dari diensefalon yaitu bagian dalam dari
serebrum yang menghubungkan otak tengah dengan hemisfer serebrum.Fungsi
utamanya adalah sebagai respon tingkah laku terhadap emosi dan juga
mengatur mood dan motivasi.Kerusakan hipotalamus membuat seseorang
kehilangan mood dan motivasi sehingga kurang aktivitas dan dan malas
melakukan sesuatu. Kondisi seperti ini sering kita temui pada klien dengan
defisit perawatan diri , dimana klien butuh lebih banyak motivasi dan
dukungan untuk dapat merawat dirinya (Suliswati, 2002; Stuart & Laraia,
2005).
Gangguan defisit perawatan diri juga dapat terjadi karena
ketidakseimbangan dari beberapa neurotransmitter.misalnya : Dopamine
fungsinya mencakup regulasi gerak dan koordinasi, emosi, kemampuan
pemecahan masalah secara volunter (Boyd & Nihart,1998 ; Suliswati, 2002).
Transmisi dopamin berimplikasi pada penyebab gangguan emosi tertentu.Pada
klien skizoprenia dopamin dapat mempengaruhi fungsi kognitif (alam pikir),
afektif (alam perasaan) dan psikomotor (perilaku) kondisi ini pada klien
dengan defisit perawatan diri memiliki perilaku yang menyimpang seperti tidak
berkeinginan untuk melakukan perawatan diri (Hawari, 2001).
Serotonin berperan sebagai pengontrol nafsu makan, tidur, alam perasaan,
halusinasi, persepsi nyeri, muntah.Serotonin dapat mempengaruhi fungsi
kognitif (alam pikir), afektif (alam perasaan) dan psikomotor (perilaku)
(Hawari, 2001). Jika terjadi penurunan serotonin akan mengakibatkan
kecenderungan perilaku yang kearah maladaptif. Pada klien dengan defisit
perawatan diri perilaku yang maladaptif dapat terlihat dengan tidak adanya
aktifitas dalam melakukan perawatan diri seperti : mandi, berganti pakaian,
makan dan toileting (Wilkinson,2007).
Norepinephrin berfungsi untuk kesiagaan, pusat perhatian dan orientasi;
proses pembelajaran dan memori. Jika terjadi penurunan kadar norepinephrine
akan dapat mengakibatkan kelemahan sehingga perilaku yang ditampilkan
klien cendrung negatif seperti tidak mau mandi, tidak mau makan maupun
tidak mau berhias dan toileting (Boyd & Nihart, 1998; Suliswati, 2002).

G. Pohon Masalah

Isolasi Sosial : Menarik Diri Effect

Defisit Perawatan Diri: mandi, berdandan Core Problem

Harga Diri Rendah Kronis Causa

H. Mekanisme Koping
Mekanisme koping berdasarkan penggolongan di bagi menjadi 2 menurut
Damaiyanti 2012 yaitu:
1. Mekanisme koping adaptif Mekanisme koping yang mendukung fungsi
integrasi pertumbuhan belajar dan mencapai tujuan. Kategori ini adalah
klien bisa memenuhi kebutuhan perawatan diri secara mandiri.
2. Mekanisme koping maladaptif Mekanisme koping yang menghambat fungsi
integrasi, memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung
menguasai lingkungan. Kategorinya adalah tidak mau merawat diri.

I. Penatalaksanaan
1. Farmakologi
a. Obat anti psikosis : Penotizin.
b. Obat anti depresi : Amitripilin.
c. Obat antu ansietas : Diasepam, bromozepam, clobozam.
d. Obat anti insomia : phnebarbital.
2. Terapi
a. Terapi Keluarga
Berfokus pada keluarga dimana keluarga membantu mengatasi masalah
klien dengan memberikan perhatian :
1) Jangan memancing emosi klien.
2) Libatkan klien dalam kegiatan yang berhubungan dengan keluarga.
3) Berikan kesempatan klien mengemukakan pendapat.
4) Dengarkan, bantu, dan anjurkan pasien untuk mengemukakan
masalah yang dialaminya.
b. Terapi Aktivitas Kelompok
Berfokus pada dukungan dan perkembangan, keterampilan sosial, atau
aktivitas lainnya, dengan berdiskusi serta bermain untuk
mengembalikan keadaan klien karena maslah sebagian orang
merupakan perasaan dan tingkah laku pada orang lain. Ada 5 sesi yang
harus dilakukan :
1) Manfaat perawatan diri.
2) Menjaga kebersihan diri.
3) Tata cara makan dan minum.
4) Tata cara eliminasi.
5) Tata cara berhias.

c. Terapi Musik
Dengan musik klien bisa terhibur, rileks, dan bermain untuk
mengembalikan kesadaran pasien.
Penatalaksanaan manurut Ade (2011) adalah sebagai berikut.
1. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri.
2. Membimbing dan menolong klien merawat diri.
3. Ciptakan lingkungan yang mendukung.

J. Akibat
Akibat dari Defisit Perawatan Diri Menurut Damiyanti (2012) sebagai berikut.
a. Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak tidak
terpeliharanya kebersihan perorangandengan baik, gangguan 12 fisik yang
seering terjadi adalah: gangguan integritas kulit, gangguan membrane
mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.
b. Dampak psikososial Masalah sosial yang berhubungan dengan personal
hygine adalah gangguan kebutuhan aman nyaman , kebutuhan cinta
mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi
sosial.

K. Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul


1. Defisit perawatan diri
2. Isolasi sosial
3. Harga diri rendah
BAB III
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS KLIEN
Inisial : Tn. S
RM : 072447
Tanggal Pengkajian : 11 April 2019
Tanggal Lahir/Umur : 07 Januari 1972/47 tahun
Status Perkawinan : Belum Menikah
Pendidikan Terakhir : SMP
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Sumber Informasi : Pasien dan Buku Status

II. ALASAN MASUK


Pasien mengancam ibunya, kadang melempar ibunya jika keinginannya tidak
dipenuhi, BAB dan BAK disembarang tempat, pasien sering bicara-bicara
sendiri dan tertawa sendiri.
KELUHAN UTAMA SAAT PENGKAJIAN
Pasien BAK disembarang tempat, memakai baju terbalik, gelisah, suka
mondar – mandir dan terlihat bingung, komunikasi tidak nyambung dan
sering bicara-bicara sendiri.

III. FAKTOR PREDISPOSISI


1. Pasien pernah mengalami gangguan jiwa sebelumnya?
(YA)
2. Pengobatan sebelumnya: (kurang berhasil)
3. Trauma yang pernag dialami:
a. Aniaya fisik : belum terkaji
b. Aniaya seksual: belum terkaji
c. Penolakan: belum terkaji
d. Kekerasan dalam keluarga: pasien memukul ibunya apabila keinginan
pasien tidak dipenuhi.
e. Tindakan criminal: belum terkaji
4. Anggota keluarga yang pernah mengalami gangguan jiwa: tidak ada
5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
a. Kegagalan: belum terkaji
b. Kehilangan: pasien kehilangan ayahnya
c. Perpisahan/Kematian : pasien mengatakan ayahnya sudah meninggal
d. Trauma selama tumbuh kembang: tidak terkaji
6. Latar belakang budaya dan social
a. Faktor-faktor lingkungan (pengaturan tempat tinggal keluarga, tipe
keluarga, kondisi kerja khusus) : belum terkaji
b. Keyakinan dan praktik kesehatan (tanggung jawab pribadi untuk
kesehatan): belum terkaji
c. Praktek dan keyakinan religious : pasien mengatakan beragama islam
7. Pola koping sebelumnya terhadap stress : pasien mengatakan masih
memukul-mukul

IV. PEMERIKSAAN FISIK


1. Tanda-tanda vital: TD: 90/70 mmHg, HR: 82 x/menit, RR: 20 x/menit,
Suhu: 36°C
2. Antropemetri: TB: 158 cm, BB: 34 kg
3. Keluhan fisik: pasien mengatakan sakit tenggorokan

V. PSIKOSOSIAL
1. Genogram :

Keterangan:
: Laki-laki

: Perempuan

: Meninggal

: Pasien
a. Masalah yang terkait dengan komunikasi : pasien bingung apabila
diajak bicara
b. Pengambilan keputusan: yang mengambil keputusan dalam keluarga
adalah ibu dan abang kandung
c. Pola asuh: tidak terkaji
2. Konsep diri:
a. Citra tubuh: belum terkaji
b. Ideal diri: belum terkaji
c. Harga diri: pasien terlihat menutup diri dengan orang lain
d. Peran: pasien selama ini berperan sebagai anak
e. Identitas diri: pasien mengatakan berjenis kelamin laki-laki.
3. Hubungan social:
a. Orang yang berarti: pasien mengatakan orang yang berarti adalah
ibunya
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok masyarakat: tidak ada
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain: pasien tidak mau
berkomunikasi dengan orang lain
4. Spiritual:
a. Nilai dan keyakinan: pasien mengatakan beragama islam
b. Kegiatan ibadah: selama di RSJ pasien tidak pernah melakukan ibadah
VI.STATUS MENTAL
1. Penampilan umum:
a. Penampilan: pasien berjenis kelamin laki-laki, pasien sering memakai
baju terbalik
b. Perilaku umum: sering mondar-mandir, sering bicara-bicara sendiri,
tidur diatas lantai tidak mau tidur diatas kasur.
2. Pembicaraan:
a. Cepat, keras, gagap: pasien berbicara pelan, kadang-kadang bicara
gagap
b. Apatis, tegang, membisu: lambat mengungkapkan kata
c. Tidak mampu memulai bicara: sulit memulai bicara
d. Inkohenerensi: tidak nyambung saat diajak komunikasi
3. Aktivitas motorik
a. Lesu, tegang, gelisah: sering mondar-mandir
b. Agitasi: gelisah dan tidak bisa diam
c. TIK: tidak ada
d. Grimasen:tidak ada
e. Tremor: pasien tampak tremor
f. Konvulsif: tidak ada
4. Alam perasaan:
a. Sedih, putus asa, gembira: pasien terlihat murung
b. Ketakutan: pasien tidak tampak ketakutan
c. Khawatir: pasien tidak tampak khawatir
5. Afek:
a. Datar: tidak ada afek datar
b. Tumpul: pasien berekspresi apabila ada stimulus yang kuat
c. Labil: tidak ada
d. Tidak sesuai: tidak ada
6. Interaksi selama wawancara:
a. Bermusuhan: pasien tidak ada menunjukkan ekspresi bermusuhan
b. Kontak mata kurang: iya, kontak mata kurang
c. Tidak kooperatif: pasien tidak kooperatif
d. Mudah tersinggung: tidak ada
e. Defensive: iya, pasien tertutup saat diwawancara
f. Curiga: tidak ada
7. Persepsi
a. Halusinasi: pasien tampak bicara-bicara sendiri saat ditanya apa yang
dibicarakan pasien hanya diam.
b. Ilusi: tidak ada
8. Proses pikir
a. Sirkumsial: tidak ada
b. Tangensial: tidak ada
c. Kehilangan asosiasi: iya
d. Flight of idea: tidak ada
e. Blocking: iya
f. Perseverasi: tidak ada
9. Isi pikir
a. Obsesi: tidak ada
b. Fobia: tidak ada
c. Hipokondria: tidak ada
d. Depersonalisasi: iya, pasien merasa asing terhadap lingkungan
e. Ide yang terkait: tidak ada
f. Pikiran magis: tidak ada
10. Tingkat kesadaran
a. Bingung: pasien tampak bingung
b. Sedasi: tidak ada
c. Stupor: cara berjalan pasien kaku
11. Disorentasi
a. Waktu: pasien tampak bingung dalam menjelaskan waktu
b. Tempat: pasien tampak bingung dalam menjelaskan tempat
c. Orang: pasien sering lupa nama orang lain dan tidak kenal lagi
12. Memori daya ingat
a. Gangguan daya ingat jangka panjang: pasien tidak ingat apa-apa
b. Gangguan daya ingat jangka pendek:pasien sering lupa dengan hal-hal
yang terjadi dalam waktu yang singkat
c. Gangguan daya ingat saat ini: lupa semua hal
13. Tingkat konsentrasi dan berhitung
a. Mudah beralih:iya, pasien sering menghentikan pembicaraan secara
tiba-tiba
b. Tidak mampu berkonsentrasi: pasien tidak mampu berkonsentrasi
c. Tidak mampu berhitung sederhana: pasien tidak mampu berhitung
14. Kemampuan penilaian
a. Gangguan ringan: tidak mampu mengambil keputusan
b. Gangguan bermakna: tidak mampu mengambil keputusan
15. Daya titik diri
a. Mengingkari penyakit yang diderita: iya, pasien menyangkal bahwa
dia mengalami gangguan jiwa
b. Menyalahkan hal-hal diluar dirinya: tidak ada

VII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG


1. Kemampuan memenuhi kebutuhan
a. Makan: pasien makan berantakan
b. Keamanan:tidak terkaji
c. Perawatan kesehatan: tidak terkaji
d. Pakaian: pasien tidak mampu berpakaian dengan benar
e. Transformasi: tidak terkaji
f. Tempat tinggal: pasien tinggal bersama ibu
g. Uang belanja: uang belanja pasien ditanggung oleh ibunya
2. Kebutuhan hidup sehari-hari
a. Perawatan diri:
- Mandi: pasien tidak tahu pengertian mandi, kegunaan mandi dan
cara mandi tidak tahu. Selama ini pasien mandi apabila ada orang
yang memandikan
- Kebersihan: kadamg- kadang pasien kotor dan pasien berbau
pesing
- Makan: makan 3x sehari tetapi berantakan
- Buang air besar/kecil: pesien buang air kecil disembarang tempat
- Berpakaian: tidak berpakaian dengan benar. Sering mamakai baju
terbalik
b. Nutrisi
- Pola makan: pasien makan sesuai dengan jadwal rumah sakit
- Apakah makan memisahkan diri: tidak
- Selera makan: kadang tidak mau karna tenggorokan sakit
c. Istirahat dan tidur
- Tidur siang, lama: tidur jam 13.00-14.00
- Tidur malam,lama: 20.00-05.00
- Aktivitas sebelum dan sesudah tidur:tidak ada
- Masalah tidur: tidak ada
3. Kemampuan klien dalam:
a. Mengantisipasi kebutuhan sendiri: tidak
b. Membuat keputusan berdasarkan keinginan sendiri: tidak, pasien sulit
untuk membuat keputusan sendiri bahkan pada hal yang
sedang( mandi)
c. Mengatur penggunaan obat:pasien tidak mengetahui mengenai obat
yang digunakan pada saat ini
d. Melakukan pemeriksaan kesehatan: ya
4. System pendukung klien:
a. Keluarga: ibu pasien
b. Terapis: perawat dan dokter
c. Teman sejawat: tidak ada
d. Kelompok social: tidak ada
5. Apakah klien menikmati kegiatan saat bekerja, kegiatan produktif atau
hobbi:tidak terkaji

VIII. MEKANISME KOPING


1. Adaptif:
a. Bicara dengan orang lain: mengalami kesulitan
b. Mampu menyelesaikan masalah:tidak mampu
c. Teknik relokasi: tidak ada
d. Aktivitas konstruktif: tidak ada
e. Olahraga: pasien tidak pernah berolahraga
2. Maladaptive:
a. Minum alcohol: tidak ada
b. Reaksi lambat atau berlebihan: pasien lambat saat bicara
c. Bekerja berlebihan: tidak ada
d. Menghindar:sering menghindar dari perawat saat diajak bicara
e. Mencederai diri: tidak ada

IX. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


1. Masalah dengan lingkungan kelompok: pasien enggan berkomunikasi
dengan orang lain
2. Masalah berhubungan dengan lingkungan: pasien tidak berbaur dengan
lingkungan
3. Masalah dengan pendidikan: pasien hanya sekolah sampai SMP
4. Masalah dengan pekerjaan: pasien tidak bekerja
5. Masalah dengan perumahan: tidak terkaji
6. Masalah dengan ekonomi: tidak terkaji
7. Masalah dengan layanan kesehatan:tidak ada

X. KURANG PENGETAHUAN TENTANG


1. Penyakit jiwa: pasien tidak mengerti dengan penyakit jiwa
2. Faktor predisposisi: keinginan tidak terpenuhi
3. Koping: tidak efektif
4. System pendukung:keluarga
5. Penyakit fisik:bronchitis
6. Obat-obatan:HLP

ANALISA DATA
NO DATA MASALAH
1 Ds:- Deficit perawatan diri
Do:
Pasien gelisah, mandi jika ada
orang yang memandikan, BAK
disembarang tempat
2 Ds:- Gangguan persepsi
Do:
sensori:halusinasi
Pasien tampak bicara-bicara
sendiri, mondar-mandir dan
gelisah
XI. ASPEK MEDIK
Diagnose medic: gangguan psikotik non organic
Terapi medic: haloperidol 1.5mg 2x1
Clozapine 1x1/2
Tfp 2x1/2
Curcuma 2x1
Heximer 1x1

XII. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN


a. Defisit perawatan diri :mandi, berhias,eleminasi
b. Perubahan persepsi sensori:halusinasi
c. Harga diri rendah

XIII. INTERVENSI
Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosis Kriteria
Tujuan Tindakan Keperawatan Rasional
Hasil
Defisit Tujuan umum: 1. Menjelaskan
- Klien mampu
perawatan pengertian dan
melakukan
diri tanda-tanda
perawatan diri
kebersihan diri
Tujuan khusus: 2. Membicarakan
- Pasien mampu dengan klien
menyebutkan penyebab tidak
pengertian dan mau menjaga
tanda-tanda kebersihan diri
3. Diskusikan akibat
kebersihan diri
- Pasien mampu tidak menjaga
menyebutkan kebersihan diri
4. Diskusikan
manfaat
manfaat
personal
kebersihan diri
hygiene
5. Bantu klien
- Klien mampu
mengidentifikasi
menyebutkan
kemampuan untuk
cara
menjaga
menjagakebersi
kebersihan diri
han diri
6. Diskusikan
- Klien mampu
dengan klien cara
melaksanakan
menjaga
perawatan diri
kebersihan diri:
tanpa bantuan
mandi minimal 2x
(mandiri) sehari dengan
menggunakan
sabun mandi.
Gosok gigi
minimal 2x sehari
dengan
menggunakan
odol, mencuci
rambut minimal
2x seminggu
dengan sampo.
Memotong kuku
minimal 1x
sebulan dan
memotong rambut
dan mencukur
kumis minimal 1x
sebulan
7. Dorong klien
melakukan
kebersihan diri
secara mandiri.

XIV. IMPLEMENTASI
Hari, tanggal Diagnosa Implementasi SOAP
Keperawatan
Kamis, Defisit BHSP LAH
11 April 2019 perawatan diri POKOKNYA
GAYS
Gangguan BHSP LAH
Presepsi POKOKNYA
Sensori : GAYS
Halusinasi
Harga diri BHSP LAH
rendah POKOKNYA
GAYS
Jumat, Defisit D: S: -
12 April 2019 perawatan diri -Pasien O:
menggunakan baju pasien tampak
terbalik bingung, bicara
-Mandi jika hanya tidak jelas, adl
dimandikan diarahkan,memakai
-BAK sembarangan baju terbalik
tempat sehingga A: pasien belum
menimbulkan bau mampu melakukan
yang tidak sedap personal hygiene,
Dx: DPD sp 1 belum tercapai
T: SP1: P: latih mandi
Mengajarkan pasien secara mandiri
mandi
RTL: mengajarkan
sp 2 berdandan
Gangguan
presepsi sensori :
Halusinasi
Harga diri
rendah
Sabtu, Defisit
13 April 2019 perawatan diri
Gangguan
presepsi sensori :
Halusinasi
Harga diri
rendah
Senin, Defisit
15 April 2019 perawatan diri
Gangguan
presepsi sensori :
Halusinasi
Harga diri
rendah
Selasa, Defisit
16 April 2019 perawatan diri
Gangguan
presepsi sensori :
Halusinasi
Harga diri
rendah
BAB IV

PEMBAHASAN

Berdasarkan pada kasus yang dikelola dengan masalah keperawatan jiwa


“DPD” pada Tn. S menunjukkan kurangnya kemampuan terutama dalam
perawatan diri, yaitu mandi, berhias. Defisit perawatan diri adalah
kemampuandasar yang dimiliki manusia dalam melengkapi kebutuhannya
dalamkelangsungan hidupnya sesuai kondisi kesehatannya.
Defisit perawatan diri merupakan salah satu penyakit kejiwaan dimana
seseorang tidak mampu untuk merawat diri sendiri. Penyebabnya menurut
Menurut Depkes (2000), terbagi menjadi faktor predisposisi (Faktor
perkembangan, faktor biologis, faktor kemampuan, dan faktor sosial) dan faktor
presipitasi (body image/ citra tubuh, faktor praktik sosial, faktor status sosial
ekonomi, pengethuan, budaya, kebiasaan seseorang, kondisi fisik/psikis, dan
pengetahuan). Berdasarkan pada kasus yang terjadi pada Tn. S, salah satu
penyebab terjadinya DPD berdasar pada data pengkajian adalah karena tidak ada
kemauan untuk mandi. Tn. S merasa dirinya bahwa nantinya akan ada orang yang
memandikannya. Berdasarkan status rekam medik dan hasil wawancara dengan
klien, klien terakhir di rawat tahun 2017. Selain itu, penyebabnya masuk yaitu
karena dulu mengancam ibunya kalo keinginan tidak dipenuhi dan terkadang
melempar.
Berdasarkan klasifikasi menurut Damaiyanti (2012), terdapat beberapa jenis
defisit perawatan diri yaitu lihat, mandi, berpakaian, makan, eliminasi.Pada kasus
Tn. S dengan gejala yang ditimbulkan yaitu pasien tidak mampu mandi sendiri
dan BAK sembarangan.Berdasarkan penjelasan diatas kelompok menyimpulkan
Tn. S masuk pada klasifikasi defisit perawatan diri mandi dan eliminasi. Defisit
perawatan diri menurut Damaiyanti (2012) adalah kurangnya perawatan diri pada
pasien dengan gangguan jiwa terjadi akibat adanya perubahan proses pikir
sehingga kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri menurun. Kurang
perawatan diri terlihat dari ketidakmampuan merawat kebersihan diri antaranya
mandi, makan minum secara mandiri, berhias secara mandiri, toileting
(BAK/BAB).Defisit perawatan diri : mandi yaitu hambatan kemampuan untuk
melakukan atau menyelesaikan mandi/beraktivitas perawatan diri sendiri,
sedangkan defisit perawatan diri : eliminasi yaitu hambatan kemampuan untuk
melakukan atau menyelesaikan aktivitas eliminasi sendiri.
Rentang respons yang paling adaptif adalah adanya pola perawatan diri yang
seimbang, sedangkan rentang respons yang paling maladaptif adalah tidak
melakukan perawatan dirisaat stres (Ade, 2011). Berdasarkan kasus yang dikelola
dan merujuk pada tanda-tanda yang ditimbulkan, dalam proses rentang respon,
Tn. S berada pada rentang mal adaptif dengan ciri-ciri menurut Ade (2011) yaitu
tidak melakukan perawatan diri pada saat stres.
Berdasarkan pohon masalah mengenai defisit perawatan diri penyebab
timbulnya defisit perawatan diri adalah harga diri rendah, hal ini sesuai dengan
kasus.Efek yang ditimbulkan oleh DPD berdasarkan teori adalah isolasi sosial,
namun pada kasus efek yang terjadi yaitu halusinasi. Hal ini terjadi ketika pasien
tidak diberikan apa yang diinginkannya, pasien bercakap-cakap sendiri. Diagnosa
berdasarkan teori ada 3 yaitu, isolasi sosial, DPD, dan HDR. Pada kasus juga
terdapat 3 diagnosa hanya saja pada kasus tidak ditemukannya isolasi social
melainkan halusinasi.
Dari segi intervensi keperawatan jiwa yang diberikan pada klien-klien dengan
masalah kejiwaan “DPD” adalah dengan cara menjaga kebersihan diri (mandi,
keramas, sikat gigi), berdandan (berpakaian ra[i dan berhias diri), makan dan
minum dengna benar, BAB/BAK pada tempatnya. Dalam perkembangannya, Tn.
S masih sulit untuk diterapkan intervensi pertama yaitu menjaga kebersihan diri,
hal ini berkemungkinan disebabkan oleh banyak hal, salah satunya Tn. S tidak
mempu mandi sendiri karena bingung atau stress, sehingga perlu intervensi
berulang dari tenaga kesehatan yang merawat. Kemudian untuk intervensi kedua
yaitu berpakaian rapi juga masih sulit di terapkan, hal ini terlihat dari cara
berpakaian Tn. S yang selalu terbalik. Selanjutnya untuk intervensi yang ketiga
tentang cara makan dan minum dengan benar sudah mampu dilakukan. Yang
terakhir yaitu BAB/BAK pada tempatnya, hal ini belum diterapkan sempurna
karena terkadang pasien masih bingung untuk tempat BAK yang benar dan pasien
terkadang masih BAK di lantai.
Menurut Ade (2011) salah satu penentu keberhasilan penanganan pada klien
dengan masalah kejiwaan defisit perawatan diri yaitu membimbing dan menolong
klien merawat diri. Hal ini telah dilakukan oleh kelompok terhadap pasien seperti
mengajarkan cara mandi yang benar dan menunjukkan tempat BAB/BAK yang
benar. Secara umum, proses keperawatan telah berjalan sesuai dengan koridornya,
namun masalah-masalah yang menghambat dalam proses penyembuhan pasti
akan selalu ada. Sehingga, sebagai tenaga kesehatan perlu mempertimbangkan
masalah tersebut, dan untuk saat ini lebih fokus kepada klien yaitu Tn. S.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
.1 Pengkajian pada Tn. S dimulai pada tanggal 11 April 2019
.2 Diagnosa keperawatan jiwa yang di temukan berdasarkan analisa data
adalah defisit perawatan diri :mandi, berhias,eleminasi, Perubahan persepsi
sensori:halusinasi, dan harga diri rendah. Dengan diagnosa keperawatan
utama yang dibahas pada makalah ini adalah Defisit Perawatan Diri.
.3 Rencana asuhan keperawatan yang dilakukan pada Tn.S adalah untuk
mengatasi Defisit Perawatan Diri.
.4 Implementasi yang dilakukan pada diagnosa defisit perawatan diri ini
adalah SP 1 (mandi sendiri), SP 2 (Berhias), SP 3 (makan minum yang
benar) dan SP 4 (BAB/BAK yang benar).
.5 Evaluasi
Hasil implementasi selama proses keperawatan klien tenang, kurang
kooperatif, masih kurang mampu untuk melakukan aktivitas sehari-hari
secara mandiri karena masih perlu diarahkan.
.6 Kendala yang di dapatkan selama perawatan yaitu klien kurang kooperatif,
sulit diajak berkomunikasi, dan mudah lupa pada perawat yang
merawatnya.
5.2 Saran
1. Bagi perawat
Diharapkan perawat lebih mengoptimalkan pengkajian secara tepat
dan benar, sehingga dalam menegakkan diagnosa bisa lebih akurat dan
penangannnya lebih cepat dan dapat dalam mengatasi pasien dengan
defisit perawatan diri.
2. Bagi Mahasiswa
Diharapkan makalah ini dapat menambah wawasan mahasiswa
sehingga lebih peka terhadap kebutuhan pasien, serta memberikan asuhan
keperawatan yang sesui dengan teori yang didapat di perkuliahan.

DAFTAR PUSTAKA
Ade, H. S. D. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta. Nuha
Medika.

Anna Keliat, Budi. 2010. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta :
Buku Kedokteran EGC.

Damayanti, M & Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika


Aditama.

Faisal, Deny. 2014. “Asuhan Keperawatan Jiwa pada Tn.J dengan Gangguan
Defisit Perawatan diri : Kebersihan Diri dan Pakaian/Berhias di Ruangan
Abimanyu RSJ Daerah Surakarta”. Skripsi.Fakultas Ilmu Kesehatan,
Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Ellya. 2014. Keperawatan Jiwa: Landasan Teori Defisit Perawatan


Diri.https://ellya70.wordpress.com/2014/04/21/keperawatan-
jiwa.Diakses pada tanggal 09 Oktober 2017.