Anda di halaman 1dari 13

MANDI WAJIB

Disusun Oleh:

Fahrurrozi ( 2018430039 )
Habib Kurniawan ( 2018430048 )
Rifky Sepriyadi ( 2018430070 )

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanallahu wa ta’ala, atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Mandi Junub (Wajib) ” ini dengan lancar. Makalah ini bertujuan untuk
memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Al Islam
2 Drs. Didi Sunardi, M.A.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada pengajar mata kuliah Al Islam 2
atas bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini. Juga kepada rekan-rekan
mahasiswa/i yang telah mendukung sehingga dapat diselesaikannya makalah ini.
Kami harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita
semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai Al Islam 2. Memang
makalah ini masih jauh dari sempurna, maka kami mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Jakarta, 21 Maret 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i


DAFTAR ISI ....................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah .......................................................................................... 1
1.3. Tujuan ...................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN .....................................................Error! Bookmark not defined.
2.1. Pengertian Mandi Wajib ....................................................................................... 2
2.2. Dasar Hukum Mandi Wajib ........................................................................... 2
2.3. Hal-Hal Yang Mewajibkan Mandi Wajib ...................................................... 3
2.4. Rukun Dan Sunnah Mandi Wajib .................................................................. 5
2.5. Tata Cara Mandi Wajib .................................................................................. 6
2.6. Hikmah Mandi Wajib ..................................................................................... 8
BAB III PENUTUP ............................................................................................................ 9
3.1. Kesimpulan ..................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 10

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Mandi besar, mandi junub atau mandi wajib adalah mandi dengan
menggunakan air suci dan bersih (air mutlak) yang mensucikan dengan
mengalirkan air tersebut ke seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai
ujung kaki. Tujuan mandi wajib adalah untuk menghilangkan hadas besar yang
harus dihilangkan sebelum melakukan ibadah sholat. Maka dari itu kita
sebagai ummat muslim sangat penting untuk mengetahui bagaimana tata cara
Mandi besar, mandi junub atau mandi wajib sesuai dengan tuntunan
Rosulullah SAW. Agar ibadah-ibadah yang kita lakukan bisa diterima dan
mendapatkan pahala
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan Mandi Wajib?
1.2.2 Apa dasar hukum Mandi Wajib?
1.2.3 Apa saja Hal-Hal Yang Mewajibkan Mandi Wajib?
1.2.4 Apa saja Rukun dan Sunnah-sunnah Mandi Wajib?
1.2.5 Bagaiamana Cara Melakukan Mandi Wajib?
1.2.6 Apa Hikmah Dari Melakukan Mandi Wajib?
1.3. Tujuan
Tujuan dalam menyusun makalah ini adalah untuk menambah wawasan
kita tentang mandi besar, mandi junub atau mandi wajib sesuai tuntunan
Rasulullah SAW. Apalagi mandi wajib merupakan salah satu kewajiban kita
sebagai ummat muslim yang harus kita lakukan karna keluarnya cairan atau
air mani melalui kemaluan kita baik secara sadar ataupun tidak sadar, jadi kita
perlu mengetahui dalil-dalil tentang tata cara mandi besar, mandi junub atau
mandi wajib.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Mandi Wajib


Mandi dalam bahasa Arab disebut dengan istilah al-ghusl ( ‫) الغسل‬. Kata
ini memiliki makna yaitu menuangkan air ke seluruh tubuh. Mandi menurut
bahasa yaitu mengalirnya air secara mutlak, baik di anggota badan atau lainnya.
Sedangkan menurut istilah Syara' ialah mengalirkan air mutlaq (‫ طاهر مطهر‬: air
yang suci mensucikan) ke seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai ujung
kaki dengan syarat-syarat tertentu dan disertai dengan niat. Mandi telah
disyariatkan agama, baik untuk kebersihan maupun menghilangkan hadast,
sebagai syarat suatu ibadah ataupun tidak.

2.2 Dasar Hukum Mandi Wajib

Dasar Al-Qur’an :
‫َو ِإن كُنت ُ ْم ُجنُبا ً فَا َّطه َُّر ْوا‬
Artinya : “Apabila kamu dalam keadaan junub, maka bersucilah.” (QS Al-
Maidah : 6)

َ ‫َارى َحتَّ َى ت َ ْعلَ ُمواْ َما تَقُولُونَ َوالَ ُجنُبا ً إِالَّ عَا ِب ِري‬
‫س ِبي ٍل‬ َ ‫سك‬ُ ‫صالَةَ َوأَنت ُ ْم‬
َّ ‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذينَ آ َمنُواْ الَ ت َ ْق َربُواْ ال‬
ْ‫سلُوا‬
ِ َ ‫َحت َّ َى ت َ ْغت‬
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang
kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu
ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub,
terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” ( QS An-Nisa' : 43)

Dasar Hadist :

‫ ثم يدخل أصابعه‬،‫ ثم يتوضأ كما يتوضأ للصالة‬،‫ بدأ فغسل يديه‬،‫ كان إذا اغتسل من الجنابة‬: ‫أن النبي‬
‫ ثم يفيض الماء على جلده‬،‫ ثم يصب على رأسه ثالث غرف بيديه‬،‫ فيخلل بها أصول شعره‬،‫في الماء‬
‫كله‬
Artinya: Bahwasanya Nabi Muhammad apabila mandi jinabah beliau
memulai dengan membasuh kedua tangannya kemudian wudhu seperti wudhu
untuk shalat lalu memasukkan jari-jarinya ke dalam air kemudian
menyisirkannya ke pangkal rambut kemudian mengalirkan air ke kepalanya

2
tiga cawukan dengan kedua tangannya kemudian meratakan air pada seluruh
kulit badannya. (HR. Bukhari)

2.3 Hal-Hal Yang Mewajibkan Mandi Wajib


Para ulama menetapkan paling tidak ada 6 hal yang mewajibkan
seseorang untuk mandi janabah.Tiga hal di antaranya dapat terjadi pada laki-
laki dan perempuan. Tiga lagi sisanya hanya terjadi pada perempuan.

1. Keluar Mani
Yakni keluarnya sperma dari alat kelamin, baik disengaja atau tidak disengaja.
Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW berikut ini :

Dari Abi Said Al-Khudhri ra berkata bahwa Rasulullah SAW


bersabda,"Sesungguhnya air itu (kewajiban mandi) dari sebab air
(keluarnya sperma). (HR. Bukhari dan Muslim).

Berikut dikemukakan beberapa kasus fiqih yang berkenaan dengan masalah


keluarnya sperma :

a. Jika sperma keluar tanpa ada syahwat , tetapi karena sakit atau cuaca
dingin, maka kondisi ini tidak mewajibkan mandi besar.
b. Jika seseorang mimpi basah namun tidak menemukan bekas seperma
pada pakaian atau tubuhnya, maka ia tidak diwajibkan mandi besar.

Dalam hadist, "Ummu Sulaim mengunjungi Nabi SAW, dia berkata;


'Wahai Rasulullah! Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah
seorang wanita wajib mandi bila dia bermimpi? ' Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Ya, apabila dia melihat air
(mani).'
c. Apabila seorang bangun dari tidurnya, lalu ia mendapai cairan
dipakaian, tetapi ia tidak ingat bahwa ia telah mimpi basah, maka ia
wajib mandi jika ia yakin bahwa cairan tersebut adalah sperma yang
keluar disebabkan oleh mimpi.
d. Jika seseorang merasakan memuncaknya syahwat dan sepermanya
akan keluar, lalu ia memegang kemaluannya dengan kuat hingga
sperma tidak kelua, maka ia tidak wajib mandi.
e. Jika seseorang melihat sperma pada pakaiannya, tetapi tidak
mengetahui kapan keluarnya, padahal ia sudah shalat, maka ia wajib
mengulangi semua shalatnya sejak waktu tidaknya yang terakhir.

3
2. Berhubungan Badan
Bertemunya dua kemaluan adalah kemaluan laki-laki dan kemaluan
wanita. Dan istilah ini disebutkan dengan maksud persetubuhan (jima').
Dan para ulama membuat batasan : dengan lenyapnya kemaluan
(masuknya) ke dalam faraj wanita, atau faraj apapun baik faraj hewan.
Termasuk juga bila dimasukkan ke dalam dubur, baik dubur wanita
ataupun dubur laki-laki, baik orang dewasa atau anak kecil. Baik dalam
keadaan hidup ataupun dalam keadaan mati. Semuanya mewajibkan
mandi, di luar larangan perilaku itu.
Hal yang sama berlaku juga untuk wanita, dimana bila farajnya
dimasuki oleh kemaluan laki-laki, baik dewasa atau anak kecil, baik
kemaluan manusia maupun kemaluan hewan, baik dalam keadaan hidup
atau dalam keadaan mati, termasuk juga bila yang dimasuki itu duburnya.
Semuanya mewajibkan mandi, di luar masalah larangan perilaku itu.
Semua yang disebutkan di atas termasuk hal-hal yang mewajibkan
mandi, meskipun tidak sampai keluar air mani.
3. Meninggal
Seseorang yang meninggal, maka wajib atas orang lain yang masih
hidup untuk memandikan jenazahnya. Dalilnya adalah sabda Nabi SAW
tentang orang yang sedang ihram tertimpa kematian :

Rasulullah SAW bersabda,"Mandikanlah dengan air dan daun bidara`.


(HR. Bukhari dan Muslim)
4. Haid
Haid atau menstruasi adalah kejadian alamiyah yang wajar terjadi
pada seorang wanita dan bersifat rutin bulanan. Keluarnya darah haid itu
justru menunjukkan bahwa tubuh wanita itu sehat. Dalilnya adalah firman
Allah SWT dan juga sabda Rasulullah SAW :

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: "Haid itu


adalah kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari
wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum
mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di
tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang
menyucikan diri. (QS. Al- Baqarah : 222)

4
Nabi SAW bersabda,`Apabila haidh tiba, tingalkan shalat, apabila telah
selesai (dari haidh), maka mandilah dan shalatlah. (HR Bukhari dan
Muslim)

5. Nifas
Nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan seorang wanita
setelah melahirkan. Nifas itu mewajibkan mandi janabah, meski bayi
yang dilahirkannya itu dalam keadaan mati. Begitu berhenti dari
keluarnya darah sesudah persalinan atau melahirkan, maka wajib atas
wanita itu untuk mandi janabah.
Hukum nifas dalam banyak hal, lebih sering mengikuti hukum
haidh. Sehingga seorang yang nifas tidak boleh shalat, puasa, thawaf di
baitullah, masuk masjid, membaca Al-Quran, menyentuhnya, bersetubuh
dan lain sebagainya.
6. Melahirkan
Seorang wanita yang melahirkan anak, meski anak itu dalam
keadaan mati, maka wajib atasnya untuk melakukan mandi janabah.
Bahkan meski saat melahirkan itu tidak ada darah yang keluar. Artinya,
meski seorang wanita tidak mengalami nifas, namun tetap wajib atasnya
untuk mandi janabah, lantaran persalinan yang dialaminya.
Sebagian ulama mengatakan bahwa 'illat atas wajib mandinya
wanita yang melahirkan adalah karena anak yang dilahirkan itu pada
hakikatnya adalah mani juga, meski sudah berubah wujud menjadi
manusia. Dengan dasar itu, maka bila yang lahir bukan bayi tapi janin
sekalipun, tetap diwajibkan mandi, lantaran janin itu pun asalnya dari
mani.

2.4 Rukun Dan Sunnah Mandi Wajib


1. Rukun Mandi Wajib
a. Niat
Maka niatnya orang junub itu untuk menghilangkan hadats
junub dan niatnya orang haid dan nifas itu untuk menghilangkan hadats
haid atau nifas. Niat dilakukan pada saat melakukan basuhan atau
siraman yang pertama kali, jika orang yang mandi melakukan niat
sesudah menyiram badan maka mandi nya harus diulang. Sebelum kita
mandi wajib, kita dianjurkan menghilangkan najis yang ada di badan
kita (menurut Imam Rofi’i), sedangkan menurut Imam Nawawi tidak
menghilangkan najis itu tidak apa apa.

5
b. Menyiram seluruh anggota badan (dari ujung rambut sampai ujung
jari-jari kaki) dan jika orang memakai gelung maka wajib untuk
melepas gelung tersebut. Serta wajib untuk membasuh perkara atau
bagian yang kelihatan seperti daun telinga, hidung, sela-sela badan
(kelamin laki-laki yang belum sunat), dan juga farajnya perempuan
yang kelihatan ketika jongkok.

2. Sunnah Sunnah Mandi Wajib


a. Membaca Basmalah (Bismillah).
b. Membersihkan najis terlebih dahulu.
c. Mengusap-usapkan tangan pada anggota badan.
d. Berwudhu sebelum memulai mandi.
e. Membaca do’a setelah wudhu.
f. Membasuh badan sebanyak 3 kali.
g. Pada saat mandi menghadap kiblat.
h. Mendahulukan anggota yang kanan daripada yang kiri.
i. Bersegera atau dilakukan sekaligus pada saat itu (Muamalah).

2.5 Tata Cara Mandi Wajib


Mandi dikatakan cukup apabila mencakup hal-hal yang diwajibkan
saja dan mandi dikatakan sempurna apabila mencakup hal-hal yang
diwajibkan, disunnahkan dan mencakup hal-hal yang dianjurkan.
Rasulullah SAW telah memberikan contoh hidup bagaimana sebuah
ritual mandi wajib / janabah pernah beliau lakukan.

Aisyah RA berkata,`Ketika mandi janabah, Nabi SAW memulainya dengan


mencuci kedua tangannya, kemudian ia menumpahkan air dari tangan
kanannya ke tangan kiri lalu ia mencuci kemaluannya kemudia berwudhu
seperti wudhu` orang shalat. Kemudian beliau mengambil air lalu memasukan
jari-jari tangannya ke sela-sela rambutnya, dan apabila ia yakin semua kulit
kepalanya telah basah beliau menyirami kepalnya 3 kali, kemudia beliau
membersihkan seluruh tubuhnya dengan air kemudia diakhir beliau mencuci
kakinya (HR Bukhari/248 dan Muslim/316)

Dari ’Aisyah radliyallahu anha dia berkata, ”Jika Rasulullah SAW mandi
karena janabah, maka beliau mencuci kedua tangan, kemudian wudhu’
sebagaimana wudhu beliau untuk sholat, kemudian beliau menyela-nyela
rambutnya dengan kedua tangan beliau, hingga ketika beliau menduga air

6
sudah sampai ke akar-akar rambut, beliau mengguyurnya dengan air tiga kali,
kemudian membasuh seluruh tubuhnya”. ’Aisyah berkata, ”Aku pernah mandi
bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dari satu bejana, kami
mencibuk dari bejana itu semuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari kedua hadits di atas, kita bisa rinci sebagai berikut :


1. Mencuci Kedua Tangan
Pertama sekali yang harus dilakukan ketika mandi wajib adalah
mencuci kedua tangan. Mencuci kedua tangan ini bisa dengan tanah atau
sabun, lalu dibilas sebelum dimasukkan ke wajan tempat air.
2. Mencuci Dua Kemaluan
Caranya dengan menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri
dan dengan tangan kiri itulah kemaluan dan dubur dicuci dan dibersihkan.
3. Membersihkan Najis
Selain dua kemaluan, juga disunnahkan terlebih dahulu untuk
membersihkan semua najis yang sekiranya masih melekat di badan.
4. Berwudhu
Setelah semua suci dan bersih dari najis, maka disunnahkan untuk
berwudhu sebagaimana wudhu' untuk shalat. Jumhur ulama mengatakan
bahwa disunnahkan untuk mengakhirkan mencuci kedua kaki. Maksudnya,
wudhu' itu tidak pakai cuci kaki, cuci kakinya nanti setelah mandi janabah
usai.
5. Sela-sela Jari
Di antara yang dianjurkan juga adalah memasukan jari-jari tangan yang
basah dengan air ke sela-sela rambut, sampai ia yakin bahwa kulit
kepalanya telah menjadi basah
6. Menyiram kepala
Sunnah juga untuk menyiram kepala dengan 3 kali siraman sebelum
membasahi semua anggota badan.
7. Membasahi Seluruh Badan
Ketika mandi dan membasahi semua bagian badan, ada keharusan
untuk meratakannya. Jangan sampai ada anggota badan yang tidak
terbasahi air. Misalnya, kalau ada orang yang memakai pewarna rambut
atau kuku yang sifatnya menghalangi tembusnya air, maka mandi itu
menjadi tidak sah. Tergantung jenis pewarnanya, kalau tembus air atau
menyatu menjadi bagian dari rambut atau kuku, tentu tidak mengapa.
Tetapi kalau tidak tembus dan menghalangi, maka mandinya tidak sah.
Sebelum mandi harus dihilangkan terlebih dahulu.

7
8. Mencuci kaki
Disunnahkan berwudhu di atas tanpa mencuci kaki, tetapi diakhirkan
mencuci kakinya. Dengan demikian, mandi wajib/janabah itu juga
mengandung wudhu yang sunnah. Walau pun tanpa berwudhu' sekalipun,
sebenarnya mandi wajib/janabah itu sudah mengangkat hadats besar dan
kecil sekaligus.
9. Tidak Berwudhu lagi setelah mandi

Aisyah radhiallaahu ‘anha mengabarkan :


“Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mandi dan setelahnya
shalat dua rakaat (qabliyyah shubuh) dan shalat shubuh dan aku tidak
melihat Beliau memperbaharui wudhu setelah mandi”. (HR. Abu Dawud
no.250, dishahihkan Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Dengan demikian bila seseorang hendak mengerjakan shalat setelah


mandi wajib / janabah maka wudhu yang dilakukan saat mandi telah
mencukupinya selama wudhu tersebut belum batal, sehingga ia tidak perlu
mengulangi wudhunya setelah mandi.

2.6 Hikmah Mandi Wajib


Mandi merupakan salah satu cara bersuci dalam rangkaian ibadah yang
secara umum mengandung hikmah bagi manusia sebagaimana dijelaskan
dalam Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 6 yang artinya :

“……. Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatnya


bagimu, agar kamu bersyukur”.

Adapun hikmah dari melakukan mandi wajib yaitu :


1. Dapat mendekatkan diri kepada allah, sebab mandi adalah ibadah dan
setelah itupun seseorang dapat menjalankan ibadah seperti Sholat,
membaca Al-Quran dan sebagainya.
2. Dapat menetralisasi pengaruh kejiwaan yang ditimbulkan akibat
pergaulan seksual.
3. Dapat memulihkan kekuatan, semangat, kesegaran, dan membersihkan
kotoran
4. Menambah kekhusukan dalam beribadah
5. Mendapatkan pahala, karena menjalankan perintah/syariat agama
6. Dapat memulihkan kesadaran, kesegaran dan ketenangan pikiran

8
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa mandi adalah mengalirkan air
ke seluruh tubuh dengan cara tertentu dan disertai denga niat. Di dalamnya
juga terdapat rukun-rukunnya, diantaranya niat dan meratakan air ke seluruh
tubuh. Kita dituntut untuk mengetahui dan menerapkannya dalam kehidupan.
Selain itu kita juga dapat mempelajari dan mengetahui sunah-sunah mandi
maupun hal-hal yang mengharuskan mandi.

Dengan demikian kita dapat mengambil manfaat dari apa yang kita yang
pelajari agar menambah keyakinan kita dalam beribadah dan senantiasa
membiasakan hidup bersih, baik jasmani maupun rohani.
Dengan adanya pemahaman serta kesadaran dalam diri, kita juga harus
memberikan pemahaman kepada yang lain untuk mengajak membiasakan
hidup bersih, agar umat Islam selalu dalam ketentrraman, itu semua akan
terwujud dan terlaksana apabila semua khalayak ikut serta dalam
menciptakan hidup bersih dan indah.

9
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Aziz Muhammad Azzam, Fiqih Ibadah,Jakarta: Amzah, 2013.

Abu Bakar Jabir A;-Jazai’ri, Pedoman Hidup Muslim, trj, Jakarta: Kencana, 1964.

Achmad sunarto, fiqih islam lengkap, Bandung : Husaini, 1995.

Ibnu Rusyd, Bidayatu Mujtahid, Jakarta : Amani, 2002.

10