Anda di halaman 1dari 97

MODEL PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI

( PRAKERIN ) PADA BIDANG KEAHLIAN KRIYA KAYU


SMK N 2 JEPARA TAHUN AJARAN 2006 / 2007

SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
pada Universitas Negeri Semarang

oleh
PUJI ASTUTI
5101402009
PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2007
ABSTRAK

Puji Astuti, 2007. Model Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) Pada
Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara Tahun Ajaran 2006 /2007.
Skripsi. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri
Semarang.

Kata Kunci : Model Pelaksanaan, Praktik Kerja Industri, Institusi Pasangan.

Tujuan penelitian ini adalah : (1) menjelaskan persiapan pelaksanaan


Prakerin baik di sekolah maupun di industri; (2) menjelaskan model pelaksanaan
pendidikan pada bidang keahlian kriya kayu SMK N 2 Jepara; (3) menjelaskan
model pelaksanaan pelatihan di industri pada bidang keahlian kriya kayu SMK N
2 Jepara; (4) menjelaskan bagaimana persepsi tentang kemanfaatan pelaksanaan
Prakerin bagi industri, bagi sekolah dan bagi peserta didik (siswa).
Proses pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara,
observasi dan dokumentasi. Tidak ada kriteria baku mengenai berapa jumlah
responden yang harus diwawancarai, sebagai aturan umum, peneliti berhenti
melakukan wawancara sampai data menjadi jenuh, artinya peneliti tidak
menemukan aspek baru dalam fenomena yang diteliti. Setelah data terkumpul,
data tersebut disusun, dianalisis dan disimpulkan kemudian disajikan dalam
bentuk laporan. Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa dengan
menggunakan teknik triangulasi sumber dan perpanjangan keikut sertaan peneliti
pada kegiatan Prakerin. Teknik triangulasi sumber meliputi : (1) membandingkan
data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara; (2) membandingkan hasil
wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan; (3) membandingkan
keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang
seperti guru dengan siswa.
Persiapan yang dilaksanakan SMK N 2 Jepara dalam rangka pelaksanaan
Prakerin khususnya untuk mengkoordinasikan tempat pelaksaan Prakerin dan
administrasinya sudah cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan adanya dua tahap
yang terorganisir yaitu tahap perencanaan dan tahap persiapan. Industri sebagai
institusi mitra dalam pelaksanaan Prakerin sudah cukup baik dalam melaksankan
persiapan dengan mempersiapkan pembimbing lapangan dan sistem kerja serta
pembagian kerja untuk siswa. Model pelaksanaan pendidikan pada bidang Kriya
Kayu harus dibenahi terutama untuk pembelajaran pembentukan sikap dan sopan
santun. Kepercayaan industri tentang keahlian siswa melalui pembelajaran
disekolah dan “ngenger”sudah cukup baik. Hal ini terbukti dengan keleluasaan
untuk mengerjakan suatu pekerjaan dari proses awal sampai menjadi suatu barang
jadi. Manfaat yang dirasakan siswa adalah mendapatkan pengalaman baru dan
mendapat pengakuan masyarakat tentang skill yang dimiliki, bagi sekolah bisa
melaksankan kebijakan link and match dan sebagai tolok ukur pelaksanaan
Prakerin tahun yang akan datang, sedang bagi industri selain dapat membantu
sekolah mencetak lulusan yang berkualitas juga mendapatkan kemudahan untuk
mencari tenaga kerja terdidik dengan skill yang bagus

ii
PENGESAHAN SKRIPSI

“Model Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) Pada Bidang Keahlian


Kriya Kayu SMK N 2 Jepara Tahun Ajaran 2006/2007”

oleh :
Puji Astuti
5101402009

Telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Fakultas Teknik UNNES


pada :
Hari : Senin
Tanggal : 28 Mei 2007

Panitia Ujian Skripsi :

Ketua Sekretaris

Drs. Lashari, MT Drs. Supriyono


NIP.131 471 402 NIP. 131 571 560

Anggota Dewan Penguji,

Pembimbing I, Penguji I

Drs. Yeri Sutopo, M.Pd, MT. Drs. M. Pujo Siswoyo, M.Pd.


NIP.131 658 244 NIP.131 931 830

Pembimbing II, Penguji II

Drs. Supriyono Drs. Yeri Sutopo, M.Pd, MT.


NIP.131 571 560 NIP.131 658 244

Penguji III

Drs. Supriyono
NIP. 131 571 560

iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

1. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang

berilmu pengetahuan dengan beberapa derajat “ (Q.S. Al Mujadalah : 11)

2. “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak

berupaya mengubahnya “ ( Q.S. Ar Ra’du : 11)

3. Jangan pernah menunda suatu niatan yang baik dan dimulyakan Allah.

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan untuk :

1. Ayah (Alm) dan Bunda Tercinta atas cinta

dan fasilitas yang diberikan.

2. Kakak dan Keponakan atas semangat yang

berikan.

3. Seseorang yang memberikan rasa aman,

kasih yang tulus dan semangat untuk maju.

4. Anak Flamboyan Kost dan teman-teman

PTB - Sipil UNNES.

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya sehingga peneliti

dapat menyelesaikan skripsi ini, pada kesempatan ini penulis dengan kerendahan

hati mengucapkan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. Soesanto, Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang yang

telah memberikan ijin mengadakan penelitian untuk penyusunan skripsi ini;

2. Drs. Lashari, M.T, Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas

Negeri Semarang;

3. Drs. M. Pujo Siswoyo, M.Pd, Penguji Utama yang telah memberikan arahan

dalam penyusunan skripsi ini :

4. Drs. Yeri Sutopo, M.Pd, M.T, Pembimbing I yang telah memberikan

bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini;

5. Drs. Supriyono, Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan

pengarahan dalam penyusunan skripsi ini;

6. Drs. Ismoyo Joko Saptono, Kepala Sekolah SMK N 2 Jepara yang telah

memberikan ijin penelitian untuk penyusunan skripsi ini;

7. Semua pihak yang telah memberikan motivasi, bantuan dan masukan dalam

penyusunan skripsi yang tidak dapat penulis sebut satu persatu.

Masih disadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu

peneliti mengharapkan kritik dan saran membangun dari semua pihak. Peneliti

berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti dan pembaca, Amin.

Semarang, Mei 2007

Penulis

v
DAFTAR ISI

halaman

HALAMAN JUDUL i

ABSTRAK ...................................................................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................................................. iv

KATA PENGANTAR .................................................................................... v

DAFTAR ISI ................................................................................................... vi

DAFTAR TABEL ........................................................................................... ix

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... x

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xi

BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ....................................................................... 1

1.2 Fokus Penelitian .................................................................... 4

1.3 Pertanyaan Penelitian ............................................................ 6

1.4 Tujuan Penelitian ................................................................... 7

1.5 Manfaat Penelitian .................................................................. 7

1.6 Sistematika Skripsi ................................................................ 8

BAB II KAJIAN PUSTAKA ........................................................................ 10

2.1 Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ) ................................... 10

2.1.1 Pengertian Pendidikan Kejuruan ............................................ 10

2.1.2 Tujuan Pendidikan Menengah Kejuruan ................................ 10

vi
2.1.3 Struktur Kurikulum SMK ...................................................... 11

2.2 Kurikulum SMK Bidang Keahlian Kriya Kayu .................... 12

2.2.1 Pengertian Bidang Keahlian Kriya Kayu ............................ 12

2.2.2 Tujuan SMK Bidang Keahlian Kriya Kayu ......................... 12

2.2.3 Kurikulum SMK Bidang Keahlian Kriya Kayu ................... 13

2.3 Silabus Dalam Kriya Kayu .................................................. 14

2.4 Praktik Kerja Industri ( Prakerin ) ....................................... 15

2.4.1 Tinjauan Tentang Prakerin ................................................... 15

2.4.1.1 Pengertian Prakerin ............................................................. 15

2.4.1.2 Landasan Hukum Prakerin .................................................... 15

2.4.1.3 Tujuan Pelaksanaan Prakerin ................................................ 16

2.4.2 Kelembagaan Kerja Sama ………………………………….. 16

2.4.2.1 Majelis Sekolah …………………………………………..... 16

2.4.2.2 Wakil Kepala Sekolah Hubungan Masyarakat dan Industri

( Wakasek Humasind ) …………………………………….. 17

2.4.3 Model Pelaksanaan Prakerin ………………………………. 18

2.4.4 Standar Profesi ( Standar Keahlian Tamatan ) ……………. 22

2.4.5 Model Pelaksanaan Pendidikan di Sekolah ……………….. 23

2.4.6 Model Pelaksanaan Pelatihan di Industri ………………….. 24

2.4.7 Jenis Penilaian ……………………………………………… 25

2.4.8 Jenis Sertifikasi …………………………………………… 26

2.5 Persepsi Terhadap Kemanfaatan Pelaksanaan Prakerin ….... 27

vii
BAB III METODE PENELITIAN ................................................................. 30

3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian .......................................... 30

3.2 Lokasi Penelitian ................................................................. 31

3.3 Sumber dan informan .......................................................... 31

3.4 Prosedur Pengumpulan Data ............................................... 32

3.4.1 Wawancara .......................................................................... 33

3.4.2 Observasi ........................................................................... 35

3.4.3 Dokumentasi ........................................................................ 36

3.5 Analisis Data ........................................................................ 37

3.6 Pengecekkan Keabsahan Data ............................................. 40

3.7 Memperpanjang Keikutsertaan Peneliti ............................... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................... 43

4.1 Hasil Penelitian ................................................................... 43

4.1.1 Persiapan Pelaksanaan Prakerin baik di Sekolah maupun

di Industri ............................................................................ 43

4.1.2 Pelaksanaan Pendidikan di Sekolah .................................... 46

4.1.3 Pelaksanaan Pelatihan di Industri ....................................... 55

4.1.4 Kemanfaatan Pelaksanaan Prakerin .................................... 63

4.2 Pembahasan ......................................................................... 65

BAB V PENUTUP......................................................................................... 80

5.1 Simpulan ............................................................................ 80

5.2 Saran ................................................................................... 82

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 84


LAMPIRAN – LAMPIRAN

viii
DAFTAR TABEL

halaman

Tabel 4.1 Model 1 Menurut Konsep Prakerin ........................................ 76

Tabel 4.2 Model Prakerin SMK N 2 Jepara ............................................ 77

ix
DAFTAR GAMBAR

halaman

Gambar 2.1 Bagan Hubungan Majelis Sekolah dengan Dunia Industri ........ 17

Gambar 2.2 Model Pelaksanaan Prakerin ...................................................... 21

Gambar 2.3 Bagan Pembentukan Kerja Profesi.............................................. 23

Gambar 3.1 Teknik Analisis Data .................................................................. 40

Gambar 3.2 Pengujian Validitas dengan Sumber Sama Teknik Beda ........... 41

Gambar 3.3 Pengujian Validitas dengan Teknik Sama Sumber Beda ............ 41

Gambar 4.1 Proses Pembelajaran di SMK N 2 Jepara.................................... 54

Gambar 4.2 Pola Pelaksanaan Prakerin yang Diterapakan SMK N 2 Jepara 57

Gambar 4.3 Siswa Kriya Kayu Saat Pelaksanaan Prakerin ............................ 59

Gambar 4.4 Kegiatan Siswa Selama Pelaksanaan Prakerin di Industri .......... 59

Gambar 4.5 Ukiran Meja Bundar Hasil Siswa selama Prakerin ..................... 60

Gambar 4.6 Proses Monitoring Siswa di Industri oleh Tim Monitoring dari

Sekolah......................................................................................... 62

Gambar 4.7 Hubungan Ngenger dengan Pelaksanaan Kurikulum 2004 ......... 73

x
DAFTAR LAMPIRAN

halaman

Lampiran 1. Lembar Observasi di Sekolah .................................................. 86

Lampiran 2. Lembar Observasi di Industri ................................................. 87

Lampiran 3. Hasil Wawancara dengan Guru Pengajar ............................... 88

Lampiran 4. Hasil Wawancara dengan Wakasek Kurikulum ........................ 95

Lampiran 5. Hasil Wawancara dengan Ketua Pokja Prakerin ...................... 99

Lampiran 6. Hasil Wawancara dengan Industri .......................................... 102

Lampiran 7. Hasil Wawancara dengan Siswa ............................................. 106

Lampiran 8. Struktur Kurikulum SMK N 2 Jepara ..................................... 118

Lampiran 9. Standar Kompetensi Keahlian ................................................ 130

Lampiran 11. Sertifikat Akreditasi Sekolah .................................................. 134

Lampiran 12. Jadual Kegiatan Prakerin Siswa ............................................. 135

Lampiran 13. Daftar Perusahaan Tempat Prakerin Siswa ............................ 136

Lampiran 14. Akta Perjanjian Kerjasama ..................................................... 140

Lampiran 15. Sertifikat Prakerin ................................................................... 148

Lampiran 16. Surat Undangan Tutor Prmbekalan Prakerin........................... 149

Lampiran 17. Jadual Pembekalan Prakerin ................................................... 150

Lampiran 18. Materi Pembekalan Prakerin .................................................. 151

Lampiran 19. Tata Tertib Peserta Prakerin ................................................... 152

Lampiran 20. Surat Tugas Monitoring Siswa Prakerin ................................. 154

Lampiran 21. Surat Perintah Perjalanan Dinas ............................................. 155

xi
Lampiran 22. Daftar Nilai Prakerin Siswa ................................................... 156

Lampiran 23. Karya Siswa Kriya Kayu Dalam Gelar Karya

Tugas Akhir Tahun Ajaran 2006/2007 ………………………. 158

xii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan nasional berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan

berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Undang-Undang Dasar

1945 mengamanatkan upaya untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa serta agar

pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan

nasional yang diatur dengan undang-undang yaitu Undang-Undang Nomor 20

tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Pemerintah melalui Depdiknas menetapkan kebijaksanaan link and match

yang berlaku pada semua jenis dan jenjang pendidikan di Indonesia. Direktorat

Pendidikan Menengah Kejuruan mendapat tugas langsung dari Menteri

Pendidikan Nasional untuk mengembangkan dan melaksanakan penyelenggaraan

pendidikan SMK dilaksanakan dalam 2 (dua) jalur yaitu pendidikan sekolah dan

pendidikan luar sekolah.

Pelaksanaan pendidikan yang dilaksanakan dalam 2 (dua) jalur sebagai

kajian tak terpisahkan dari kebijakan link and match dijadikan pola utama dan

menjadi acuan dalam penyusunan kurikulum SMK 2004 dan dalam teknis

pelaksanaannya disebut dengan Praktik Kerja Industri (Prakerin).

Hasil penelitian Sunaryo (1996) menunjukkan bahwa tanggapan dunia

industri dalam rangka program link and match pada indikator penyusunan

program, penyusunan kurikulum, dan pelaksanaan pendidikan adalah cukup

1
2

positif dan cenderung bersedia terlibat langsung. Namun, kesediaan dunia industri

dalam melakukan evaluasi dan pemasaran lulusan cenderung kurang karena

mereka menganggap tidak memiliki keahlian pada bidang ini, sedangkan

pemasaran lulusan merupakan suatu masalah rumit karena terjadi

ketidakseimbangan antara besarnya lulusan dengan daya tampung dunia industri

untuk tenaga kerja.

Menyikapi perkembangan dewasa ini muncul sinyalemen terjadi

ketimpangan hubungan antara dunia kerja atau industri dengan sekolah. SMK

disinyalir dalam melakukan proses pendidikan terhadap peserta didik kurang

maksimal sehingga menghasilkan tamatan dengan kualitas rendah. Siswa

dianggap kurang memahami kompleksitas masalah yang ada di industri.

Sementara dunia kerja atau industri kurang optimal dalam menyerap tenaga kerja

tamatan SMK, dunia industri lebih berminat mempekerjakan tenaga kerja yang

sudah mempunyai pengalaman kerja yang bagus, sehingga tenaga kerja lulusan

SMK tidak terpakai dan menganggur. Hal inilah yang memicu terjadinya

ketimpangan antara dunia industri dengan dunia pendidikan, untuk itu diperlukan

chek and balance. Sebagai upaya chek and balance antara dunia industri dan

dunia pendidikan maka dilaksanakan praktik kerja industri (Prakerin) dengan

tujuan untuk memperkenalkan siswa secara lebih mendalam tentang industri

dengan tingkat kompleksitas masalah yang ada di dalamnya.

Meski demikian, pelaksanaan Prakerin tidak luput dari masalah dan

kendala yang sering didapati oleh industri di lapangan, yaitu : (1) ketidaksesuaian

antara latar belakang disiplin ilmu siswa dengan dunia usaha tujuan bekerja,
3

(2) adanya proses penyesuaian diri oleh siswa pada tahap awal, dan (3) monitoring

dari sekolah masih relatif kurang (Surunuddin, 1997).

Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka peran serta dunia

usaha dalam program Prakerin sangat diharapkan melalui aspek : (1) perencanaan

Program Penyusunan Kurikulum; (2) penyelenggaraan Pendidikan; (3) evaluasi

program dan hasil; serta (4) pemasaran Lulusan (Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan, 1993).

Untuk model penyelenggaraan Prakerin itu sendiri secara garis besar yang

berhasil disepakati antara sekolah dengan industri / perusahaan, yaitu : model day

release, model block release, model hour release, atau kombinasi dari ketiganya.

SMK N 2 Jepara merupakan Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ) Kelompok

Teknologi dan Industri dengan beberapa Bidang Keahlian yang terdapat di

dalamnya, salah satunya Bidang Keahlian Kriya Kayu yang telah cukup lama

melaksanakan Prakerin yaitu sejak tahun pelajaran 1994 / 1995.

Sesuai dengan sejarahnya, sekitar tahun 1962 di Jepara terdapat Sekolah

Menengah dengan nama STM Dekorasi Ukir Jepara. Terhitung mulai tanggal 26

Mei 1979 dengan Surat Perintah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.

:090/0/79 berdirilah SMIK ( Sekolah Menengah Industri Kerajianan ) dengan 3

(tiga) program studi yaitu ukir kayu, batik, logam, dan pogram studi keramik

sudah disiapkan. Pada tanggal 13 Agustus 1983 dengan Surat Perintah Menteri

Pendidiakan dan Kebudaayan No. : 136/Dirpt/83 SMIK berubah menjadi Sekolah

Negeri dengan nama SMK N 2 di Jepara dengan jurusan : (1) logam, (2) kayu, (3)

tektil, (4) keramik. Pada tanggal 28 April 2004, Ketua Badan Akreditasi Sekolah
4

Profinsi Jawa Tengah menetapkan bahwa SMK N 2 Jepara memperoleh akreditasi

dengan predikat Akreditasi A ( Amat Baik ) dengan skor 86.

Seiring dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, maka

terhitung tanggal 1 Juli 2004 menambah Jurusan Busana dan Animasi dengan

Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan, Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan Republik Indonesia No. : 306/Set/DDT/04 tanggal 13 Juli 2004.

Sesuai dengan disiplin ilmu yang peneliti miliki yaitu Teknik Bangunan

yang kajiannya meliputi teknik perkayuan, maka timbul keinginan peneliti untuk

mengetahui lebih jauh mengenai bagaimana pelaksanaan pendidikan pada Bidang

Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara terutama dalam pelaksanaan Prakerin pada

tahun pelajaran 2006 / 2007.

1.2 Fokus Penelitian

Penentuan fokus suatu penelitian memiliki dua tujuan. Pertama, penetapan

fokus dapat membatasi studi, jadi dalam hal ini fokus akan membatasi bidang

inkuiri. Kedua, penetapan fokus ini berfungsi untuk memenuhi kriteria inklusi-

eksklusi atau memasukkan mengeluarkan suatu informasi yang baru diperoleh

(Moleong, 2005 : 94). Adapun fokus dari penelitian ini adalah Model Pelaksanaan

Praktik Kerja Industri (Prakerin) di SMK Bidang Keahlian Kriya Kayu.

Karakteristik praktik kerja industri sebagai sistem penyelenggaraan

pendidikan dan pelatihan kejuruan, didukung oleh beberapa faktor yang menjadi

komponen-komponennya, yaitu Institusi Pasangan, Program Pendidikan dan

Pelatihan Bersama, Kelembagaan Kerjasama, Nilai Tambah/ Kemanfaatan, dan

Jaminan Keberlangsungan (Sustainability).


5

Institusi pasangan. Prakerin hanya mungkin dilaksanakan apabila terdapat

kerjasama dan kesepakatan antara institusi pendidikan pelatihan kejuruan (dalam

hal ini SMK Negeri 2 Jepara) dan institusi lain (industri/ perusahaan atau institusi

lain yang berhubungan dengan lapangan) yang memiliki sumber daya untuk

mengembangkan keahlian kejuruan, untuk bersama-sama menyelenggarakan

pendidikan dan pelatihan keahlian kejuruan. Institusi lain yang meningkatkan diri

untuk bekerjasama dengan lembaga pendidikan-pelatihan kejuruan itu disebut

Institusi Pasangan.

Program pendidikan dan pelatihan bersama. Dalam Keputusan Mendikbud

No.060 / U / 1993 tentang penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan dalam dua

jalur yaitu pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Dan karena Prakerin

pada dasarnya merupakan milik dan tanggung jawab bersama antara lembaga

pendidikan-pelatihan kejuruan dan institusi pasangannya, maka program

pendidikan yang akan digunakan harus merupakan program yang dirancang dan

disepakati bersama oleh kedua belah-pihak. Program pendidikan dan pelatihan

yang harus disepakati bersama, paling tidak meliputi : Standar Profesi (standar

keahlian tamatan), Standar Pendidikan dan Pelatihan (materi, waktu dan pola

pelaksanaan) dan sistem penilaian dan sertifikasi (jenis penilaian dan jenis

sertifikat).

Kelembagaan kerjasama. Prakerin pada dasarnya merupakan program

bersama antara sekolah dan institusi pasangannya (dunia usaha / industri). Dengan

keputusan bersama Mendikbud dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri

Indonesia No. 0267a/U/1994 dan No. 84/KU/X/1994 tanggal 17 Oktober 1994,


6

kebersamaan tersebut diatur dalam organisasi tingkat pusat di sebut Majelis

Pendidikan Kejuruan Nasional, tingkat wilayah disebut Majelis Pendidikan

Kejuruan Propinsi, dan tingkat sekolah disebut Majelis Sekolah. Kelembagaan

kerjasama dalam penelitian ini hanya difokuskan pada kelembagaan kerja sama

yang ada didalam sekolah (SMK N 2 Jepara), karena kelembagaan tersebut yang

lebih mengetahui secara detail mengenai keseluruhan pelaksanaan Praktik Kerja

Industri (Prakerin) di SMK N 2 Jepara khususnya pada Bidang Keahlian Kriya

Kayu.

Nilai tambah / kemanfaatan. Kerjasama antara SMK dan Dunia Usaha /

Industri khususnya dalam pelaksanaan Prakerin dikembangkan dengan prinsip

saling membantu, saling mengisi, dan saling melengkapi untuk kepentingan

bersama. Berdasarkan prinsip ini, pelaksanaan Prakerin akan memberi nilai

tambah bagi pihak-pihak yang bekerjasama (Industri/ Perusahaan, Sekolah dan

Siswa).

Jaminan keberlangsungan. Pelaksanaan Prakerin melibatkan banyak pihak-

pihak yang berkaitan dengan ketenagakerjaan, maka seharusnya dibuat pegangan

untuk pelaksanaannya. Pelaksaaan tersebut disepakati melalui suatu Naskah

Kerjasama Penyelenggaraan Prakerin antara organisasi Depdiknas dan industri/

perusahaan atau organisasi lain yang bersedia menjadi Institusi Pasangan.

1.3 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang permasalahan dan fokus penelitian maka

diperoleh permasalahan sebagai berikut :


7

1. Bagaimanakah Persiapan Pelaksanaan Prakerin baik di Sekolah maupun di

Industri / Perusahaan ?

2. Bagaimanakah Model Pelaksanaan Pendidikan pada Bidang Keahlian Kriya

Kayu SMK N 2 Jepara?

3. Bagaimanakah Model Pelaksanaan Pelatihan di Industri / Perusahaan pada

kegiatan Prakerin Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara ?

4. Bagaimanakah Persepsi Tentang Kemanfaatan Pelaksanaan Prakerin bagi

Industri / Perusahaan, bagi Sekolah dan bagi Siswa ?

1.4 Tujuan Penelitian

Dalam penelitian ini tujuan yang hendak dicapai adalah :

1. Menjelaskan persiapan pelaksanaan Prakerin baik di sekolah maupun di

industri / perusahaan;

2. Menjelaskan model pelaksanaan pendidikan pada Bidang Keahlian Kriya

Kayu SMK N 2 Jepara dalam pelaksanaan Prakerin;

3. Menjelaskan model pelaksanaan pelatihan di Industri / Perusahaan pada

Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara dalam pelaksanaan Prakerin;

4. Menjelaskan bagaimana persepsi tentang kemanfaatan pelaksanaan Prakerin

bagi Industri / Perusahaan, bagi Sekolah dan bagi Peserta Didik (Siswa).

1.5 Manfaat Penelitian

Dengan penelitian ini diharapkan dapat memperoleh manfaat sebagai

berikut :
8

1.5.1 Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat mendukung pengembangan konsep link

and match antara SMK dengan DUDI sebagai Institusi Mitra dalam pelaksanaan

Prakerin.

1.5.2 Manfaat praktis

1. Bagi Sekolah

Sebagai refleksi diri terhadap pelaksanaan Prakerin dan dijadikan sebagai

acuan pelaksanaan diwaktu mendatang agar pelaksanaan yang sudah baik untuk

dipertahankan dan untuk mengeliminir kemungkinan kesalahan dari pelaksanaan

Prakerin yang akan datang.

2. Bagi Industri

Dapat dijadikan sebagai dokumentasi penting terhadap pelaksanaan

Prakerin dan industri akan lebih memahami tentang manfaat yang diperoleh dari

pelaksanaan Prakerin tersebut.

3. Bagi Siswa

Siswa jadi lebih memahami dan mengetahui hal yang harus mereka

lakukan dalam pelaksanaan Prakerin tersebut serta manfaat yang akan mereka

peroleh.

1.6 Sistematika Skripsi

Skripsi ini berisi tiga bagian, yaitu bagian pendahuluan, bagian isi skripsi,

dan bagian akhir skripsi.


9

1.6.1 Bagian pendahuluan skripsi terdiri atas halaman judul, halaman pengesahan,

abstrak, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar

gambar, dan daftar lampiran

1.6.2 Bagian kedua adalah bagian isi skripsi yang terdiri atas 5 bagian :

BAB I : Pendahuluan, yang berisi latar belakang, fokus penelitian,

pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat

penelitian, dan sistematika skripsi.

BAB II : Kajian pustaka, dalam kajian pustaka ini berisi tentang

uraian teoritis atau pendapat para ahli tentang masalah

yang berhubungan dengan judul skripsi, yaitu

hubungannya dengan Praktik Kerja Industri ( Prakerin ).

BAB III : Metode penelitian, yang berisi : pendekatkan dan jenis

penelitian, lokasi penelitian, subjek dan informan,

prosedur pengumpulan data, analisis data dan pengecekan

keabsahan data.

BAB IV : Hasil penelitian dan pembahasan, yang berisi tentang hasil

– hasil penelitian dan pembahasan.

BAB V : Penutup, yang berisi simpulan penelitian dan saran – saran.

1.6.3 Pada bagian akhir skripsi berisi tentang daftar pustaka dan lampiran-

lampiran yang mendukung skripsi.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

2.1.1 Pengertian Pendidikan Kejuruan

Pendidikan kejuruan adalah suatu program pendidikan di berbagai jenjang

yang bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan potensi awal kearah suatu

pekerjaan atau karier ( Imam Budi S., 2005).

Pendidikan kejuruan juga merupakan pendidikan yang mempersiapkan

siswa untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Dalam konteks ini pengertian

pendidikan nasional ditekankan pada lulusan yang mampu bekerja pada bidang

tertentu sesuai dengan jurusannya.

Masa pendidikan di SMK pada prinsipnya sama dengan masa pendidikan


tingkat menengah lainnya yaitu 3 (tiga) tahun. Dengan mempertimbangkan
keluasan dan jumlah kompetensi yang harus dipelajari, jika SKKNI menuntut
masa pendidikan lebih dari tiga tahun, maka masa pendidikan dapat diperpanjang
paling banyak 2 (dua) semester atau sampai dengan 4 (empat) tahun (Dikmenjur,
2004).

2.1.2 Tujuan Pendidikan Menengah Kejuruan

Pendidikan kejuruan bertujuan untuk : (1) memenuhi kebutuhan

masyarakat akan tenaga kerja; (2) meningkatkan pilihan pendidikan bagi tiap

individu; (3) mendorong motifasi untuk belajar terus.

SMK sebagai bentuk satuan pendidikan kejuruan sebagaimana ditegaskan

dalam penjelasan pasal (15) UU Sisdiknas, merupakan pendidikan menengah

yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu.

10
11

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 29 tahun 1990 merumuskan bahwa

pendidikan menengah kejuruan bertujuan mengutamakan penyiapan siswa untuk

memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesional.

2.1.3 Struktur Kurikulum SMK

SMK menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (diklat) berbagai

program keahlian yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan kerja. Program

keahlian tersebut dikelompokkan menjadi bidang keahlian sesuai dengan

kelompok bidang industri/usaha/profesi. Penamaan bidang keahlian dan program

keahlian pada Kurikulum SMK 2004 dikembangkan mengacu pada nama bidang

dan program keahlian yang berlaku pada Kurikulum SMK 1999. Jenis keahlian

baru diwadahi dengan jenis program keahlian baru atau spesialisasi baru pada

program keahlian yang relevan. Jenis bidang dan program keahlian ditetapkan

oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

Substansi atau materi yang diajarkan di SMK disajikan dalam bentuk

berbagai kompetensi yang dinilai penting dan perlu bagi peserta didik dalam

menjalani kehidupan sesuai dengan zamannya.

Kompetensi dimaksud meliputi kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan

untuk menjadi manusia Indonesia yang cerdas dan pekerja yang kompeten, sesuai

dengan standar kompetensi yang ditetapkan oleh industri/dunia usaha/asosiasi

profesi.

Untuk mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan oleh industri /

dunia usaha / asosiasi profesi, substansi diklat dikemas dalam berbagai mata diklat
12

yang dikelompokkan dan diorganisasikan menjadi program normatif, adaptif, dan

produktif (Dikmenjur, 2004).

2.2 Kurikulum SMK Bidang Keahlian Kriya Kayu

2.2.1 Pengertian Bidang Keahlian Kriya Kayu

Bidang keahlian Kriya Kayu adalah bidang keahlian yang membekali

peserta didiknya dengan keterampilan, pengetahuan dan sikap agar berkompeten

dalam bidang mengolah bahan dasar dan terampil menggunakan permesinan.

2.2.2 Tujuan SMK Bidang Keahlian Kriya Kayu

Tujuan Program Keahlian Kriya Kayu secara umum mengacu pada isi

Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) pasal 3 mengenai

Tujuan Pendidikan Nasional dan penjelasan pasal (15) yang menyebutkan bahwa

pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan

peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu.

Secara khusus tujuan Program Keahlian Kriya Kayu adalah membekali

peserta didik dengan keterampilan, pengetahuan dan sikap agar kompeten dalam :

a. mengolah bahan dasar atau material kayu menjadi suatu produk baru melalui

proses pengerjaan, pembahanan, pengolahan dan penyelesaian akhir atau

finishing,

b. terampil menggunakan permesinan yang dipakai dalam membuat produk

kerajinan kayu,

c. mencetak perajin terampil yang berorientasi pada pemenuhan produk ekspor.


13

2.2.3 Kurikulum SMK Bidang Keahlian Kriya Kayu

Kurikulum adalah substansi pembelajaran yang dirancang secara

terstruktur dan dikemas dalam berbagai mata diklat yang dikelompokkan dalam

program normatif, adaptif dan produktif. Pengorganisasian materi program

normatif dan adaptif mengacu pada UU Sisdiknas No 20 tahun 2003 pasal 37,

berupa nama mata diklat, sedangkan program produktif berupa nama kompetensi

yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja nasional (SKKNI).

Kurikulum adalah segala pengalaman yang diberikan oleh sekolah kepada

seluruh anak didiknya, baik dilakukan di dalam sekolah maupun di luar sekolah

(Suryosubroto,2004:32)

Kurikulum yang digunakan peseta didik kelas III SMK N 2 Jepara adalah

kurikulum 2004. Standar kompetensi yang digunakan sebagai acuan

pengembangan kurikulum Program Keahlian Kriya Kayu adalah Standar

Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) pada Bidang Kriya Kayu.

Waktu pembelajaran efektif per tahun untuk tingkat I dan II minimum 40

minggu dan untuk tingkat III minimum 36 minggu, jam pembelajaran per minggu

maksimum 50 jam @ 45 menit. Untuk jam pembelajaran disini merupakan alokasi

waktu untuk pelaksanaan pembelajaran termasuk eveluasi sumatif. Evaluasi

sumatif yang dimaksud adalah tes uuntuk satu atau beberapa pokok bahasan

dalam program normatif dan adaptif, dan tes untuk setiap pencapaian suatu

kompetensi tertentu dalam program produktif. Pelaporan administratif dan

akademik kemajuan program pendidikan dilakukan setiap semester atau minimal

2 kali setiap tahun pembelajaran. Alokasi waktu pembelajaran praktik dalam


14

program produktif minimum 70 % dan untuk teorinya maksimum 30 %. Untuk

pengaturan waktu pembelajaran dalam bentuk jadwal mingguan dalam 1 tahun

dilakukan dengan memperhatikan;(1) keutuhan dan ketuntasan penguasaan

kompetensi; (2) kesinambungan proses pembelajaran; dan (3) efisiensi

penggunaan sumber daya pendidikan. Struktur kurikulum yang digunakan SMK N

2 Jepara Bidang Keahlian Kriya Kayu dapat dilihat pada lampiran 8.

2.3 Silabus Dalam Kriya Kayu

Untuk siswa kelas III Kriya Kayu ada dua macam silabus. Untuk mata

pelajaran normatif dan adatif mengacu pada UU Sisdiknas no 20 tahun 2003

pasal 37 berupa mata diklat, sedangkan untuk mata program produktif berupa

nama kompetensi yang mengacu pada SKKNI yang disesuaikan dengan industri

tempat siswa melaksanakan Prakerin dan tempat pelaksanaan mata diklat

produktif saat siswa berada di industri dengan mengunakan alokasi waktu mata

pelajaran produktif.

Hal-hal yang harus ada dalam penyusunan silabus kriya kayu adalah :

a. jenis kompetensi kerja,

b. kode kompetensi

c. durasi pembelajaran

d. kondisi kerja

e. sub kompetensi

f. kriteria kinerja

g. lingkup belajar
15

h. materi pokok pembelajaran yang di dalamnya terdiri dari sikap, pengetahuan

dan keterampilan.

Silabus yang digunakan saat prakerin disesuaikan dengan jenis produksi

perusahaan tempat siswa melaksanakan Prakerin.

2.4 Praktik Kerja Industri (Prakerin)

2.4.1 Tinjauan Tentang Prakerin

2.4.1.1 Pengertian Praktik Kerja Industri

Praktik kerja industri (Prakerin) merupakan bagian dari program bersama

antara SMK dan Industri yang dilaksanakan di dunia industri.

Praktik Kerja Industri (Prakerin) dapat diartikan sebagai suatu saat di mana

seseorang bekerja dibawah bimbingan orang yang sudah berpengalaman dalam

rangka untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yamg diperlukan

untuk memperoleh lapangan pekerjaan dalam jangka waku yang telah ditentukan.

2.4.1.2 Landasan Hukum Prakerin

Dalam pelaksanaan pendidikan yang berlaku di Indonesia harus

mempertimbangkan nilai kemanfaatan bagi lingkungan pendidikan khususnya

bagi peserta didik. Untuk menunjang tujuan dari pendidikan itu sendiri maka

harus ada landasan hukum yang menjadi acuan atau patokan dalam pelaksanaan

pendidikan.

Dalam pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) didasarkan pada


ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang
Sisdiknas, Kepmen Pendidikan dan Kebudayaan No. 323/U/1997tentang
penyelenggaraan Prakerin SMK, PP No.29 tahun 1990 tentang pendidikan
Pendidikan Menengah, Kepmen Pendidikan dan Kebudayaan No. 080/U/1993
tentang Kurikulum SMK (UNNES.2006:126)
16

2.4.1.3 Tujuan Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin)

Praktik kerja industri (Prakerin) sebagai usaha peningkatan kualitas lulusan

mempunyai tujuan agar siswa dapat :

a. meningkatkan, memperluas dan menetapkan keterampilan yang membentuk

kemampuan siswa sebagai bekal untuk memasuki lapangan yang sesuai

dengan program studi yang dipilihnya;

b. menumbuh kembangkan dan memantapkan sikap profesional yang diperlukan

siswa untuk memasuki lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidang

keahlian masing-masing;

c. meningkatkan pengalaman siswa pada aspek-aspek usaha yang potensial

dalam lapangan kerja;

d. memberikan kesempatan pada siswa untuk memasyarakatkan diri pada

suasana lingkungan kerja yang sesungguhnya, baik sebagai pekerja, penerima

upah, jenjang karier, manajemen usaha;

e. meningkatkan, memperluas dan memantapkan proses penyerapan teknologi

dari lapangan kerja ke sekolah;

f. memperoleh masukan dan umpan balik guna memperbaiki dan

mengembangkan kesesuaian pendidikan kejuruan;

g. memberikan peluang masuk penempatan tamatan dan kerja sama.

2.4.2 Kelembagaan Kerja Sama

2.4.2.1 Majelis Sekolah

Praktik Kerja Industri (Prakerin) sebagai program kerja sama antara sekolah

sebagai penyelenggara lembaga pendidikan kejuruan dengan dunia usaha sebagai


17

mitra usaha dalam membentuk peserta didiknya supaya menguasai keahlian

profesi. Pola hubungan ini dikoordinasikan melalui Majelis Sekolah. Secara lebih

jelas pola hubungan antara Sekolah, Majelis Sekolah dan dunia usaha (perhatikan

gambar 2.1)

MAJELIS SEKOLAH
1. Dep. Perindustrian
2. Dep. Pendidikan Nasional
3. Kamar Dagang Industri
4. Dep. Tenaga Kerja
5. Dep. Koperasi
6. Pemerintah Daerah
7. Asosiasi Profesi
8. Organisasi Pekerja
INDUSTRI
PASANGAN

PRAKTIK KERJA INDUSTRI


1. Standar Profesi / Silabus
2. Pelaksanaan
SMK 3. Pengawasan Mutu
4. Uji profesi
5. Sertifikasi
6. Pemasaran

TAMATAN
BERKUALITAS
PROFESIONAL
Sumber : Lembaran Ilmu Kependidikan

Gambar 2.1
Bagan Hubungan Majelis Sekolah Dengan Dunia Industri

2.4.2.2 Wakil Kepala Sekolah Hubungan Masyarakat dan Industri

( Wakasek Humasind )

Wakasek Humasind bertanggung jawab kepada Kepala Sekolah atas

terlaksananya kerjasama dengan industri/ masyarakat dalam mendukung

pelaksanaan Prakerin dan unit produksi, dengan tugas-tugas sebagai berikut; (1)
18

menyusun program kerja hubungan masyarakat dan industri dan

mengkoordinasikan pelaksanaannya, (2) mengkoordinasikan kegiatan dalam

menjalin dan membina kerjasama sekolah dengan industri, masyarakat ataupun

instansi pemerintah sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap sekolah, (3)

mengarahkan Pokja agar berfungsi sebagaimana mestinya, (4) mengarahkan unit

produksi agar usahanya dapat berkembang, (5) mempromosikan sekolah dan

lulusannya kepada industri/ masyarakat, dan (6) memonitor dan mengevaluasi

pelaksanaan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya.

2.4.3 Model Pelaksanaan Prakerin

Model pelaksanaan Prakerin adalah pola yang menyangkut tentang tata

cara pelaksanaan Prakerin mulai dari tahapan persiapan, pelaksanan dan tahap

penarikan siswa dari industri dengan alokasi waktu yang telah terstruktur.

Model pengaturan penyelenggaraan program, khususnya yang menyangkut


tentang kapan dilaksanakan di lembaga pendidikan (di SMK) dan kapan di
institusi pasangannya. Secara garis besar model atau pola penyelenggaraan itu
dapat berbentuk day release, berbentuk block release, berbentuk hour release,
atau kombinasi dari ketiganya. (Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 1996)

Dalam bentuk penyelenggaraan day release disepakati bersama dari 6 hari

belajar dalam satu minggu, 5 hari di institusi pasangan dan 1 hari di sekolah.

Dalam penyelenggaraan block release disepakati bersama bulan / semester mana

di institusi pasangan, dan bulan / semester mana di sekolah. Dalam

penyelenggaraan hour release disepakati jam-jam belajar yang harus dibagi dua

antara jam belajar di sekolah dengan jam bekerja di industri. Keistimewaan model

day release adalah selain melaksanakan praktik di industri, siswa juga masih bisa

mendapatkan materi sesuai tuntutan kurikulum walaupun prosentasenya rendah.


19

Model block release mempunyai keistimewaan yang hampir sama demgan day

release sama-sama mempunyai waktu yang dibagi antara di sekolah dan di

industri, namun jangka waktu diberikan pada siswa berada di industri untuk

berkonsentrasi dalam Prakerin lebih besar. Sedangkan model hour release

mempunyai kelebihan siswa tidak melupakan materi di sekolah dan tetap dapat

mengikuti Prakerin di industri.

Namun ketiga model pelaksanaan Prakerin tersebut mempunyai

kelemahan. Dalam bentuk penyelenggaraan day release mempunyai kekurangan

yaitu konsentrasi siswa akan terbagi antara kegiatan Prakerin di industri dengan

pembelajaran di sekolah. Dalam betuk penyelenggaraan block release siswa

difokuskan melaksanakan praktik di indusri 6 hari dalam seminggu dengan waktu

pelaksanaan 8 bulan. Bentuk block release tidak cocok diterapkan karena materi

yang sesuai dengan tuntutan kurikulum tidak tercapai dan pelaksanaan evaluasi

secara tatap muka oleh sekolah juga sulit dilakukan. Sedangkan untuk model hour

release akan konsentrasi siswa akan terbagi karena proses pembelajaran yang

terbagi dengan Prakerin di industri dalam hari yang sama.

Maka untuk menyelenggarakan Prakerin, sekolah harus

mempertimbangkan beberapa hal. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam

menentukan dan menyepakati pola penyelenggaraan ini, yaitu: (1) komponen

pendidikan normatif , komponen pendidikan adaptif, dan sub komponen teori

kejuruan, pada umumnya dapat dilaksanakan sepenuhnya di sekolah; (2) sub

komponen praktik dasar kejuruan, dapat dilaksanakan di sekolah, dan dapat pula

dilaksanakan di institusi pasangan (industri / perusahaan) sejauh memiliki fasilitas


20

yang memungkinkan keterlaksanaannya, atau di kedua tempat tersebut sesuai

dengan ketersediaan sumber daya yang diperlukan di kedua-belah pihak; (3) sub

komponen praktik keahlian produktif, hanya dapat dilaksanakan di institusi

pasangan (industri / perusahaan) dimana proses bekerja yang sesungguhnya

berlangsung. Pada batas-batas tertentu, kegiatan ini dapat dilaksanakan di Unit

Produksi SMK yang telah beroperasi secara professional (perhatikan gambar 2.2).

Model Block Release

I II III
(1) (1) (1) Dalam penyelenggaraan block release disepakati
bersama bulan / semester mana di industri dan
(2) (2) bulan / semester mana ada di sekolah pada saat
(3c)
(3c) kelas III.
(3a) (3a)

(3b) (3b)

Model Day Release

I II III Per Minggu Dalam Satu Bulan


(1) (1) (1) 1 2 1 2

(2) (2) (2)


3c 3c 3c 3c
(3a) (3a) (3c)
(3c) 3c 3c 3c 3c

(3b) (3b) (3c)


(3c) 3c 3c 3c 3c

3c 3c 3c 3c

Prakerin model day release 3c 3c 3c 3c


pelaksanaannya pada saat
kelas III. Dalam penyelenggaraan day release
disepakati bersama dari 6 hari dalam
satu minggu, 1 hari di sekolah dan 5
hari di industri.
21

Model Hour Release

I II III Per Hari Dalam Satu minggu

(1) (1) (1)


1 2 1 2
(2) (2) (2)
3c 3c 3c 3c
(3a) (3a) (3c)
1 2 1 2
(3b) (3b) (3c)
3c 3c 3c 3c
1 2 1 2

Prakerin model hour 3c 3c 3c 3c


release dilaksanakan
pada tahun ketiga. 1 2 1 2

3c 3c 3c 3c
1 2 1 2

3c 3c 3c 3c
1 2 1 2

3c 3c 3c 3c

Dalam penyelenggaraan hour release


disepakati dengan industri bahwa
pengunaan jam pembelajaran di sekolah
dibagi dengan Prakerin di industri.
Keterangan

(1) Kemampuan Normatif, (2) Kemampuan Adaptif, (3a) Teori


Kejuruan, (3b) Praktik Dasar Kejuruan dan (3c) Praktik Keahlian
Produktif,

: Sekolah : Industri/ Dunia Usaha

Gambar 2.2
Gambar Model Pelaksanaan Prakerin
22

Catatan :
Model day release, block release, dan hour release tersebut di atas dapat
dikembangkan sesuai dengan kesepakatan antara SMK dengan institusi
pasangannya, dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Program pendidikan komponen 1, 2 dan 3 (3a, 3b dan 3c) pada dasarnya
merupakan program bersama antara SMK dan institusi pasangannya. Dalam
Pelaksanaan Prakerin, isi program ketiga komponen tersebut dibahas dan
disepakati bersama, termasuk cara penyelenggaraannya; bagian mana yang
diselenggarakan di sekolah dan bagian mana yang diselenggarakan di institusi
pasangan (industri / perusahaan).
2. Program pendidikan subkomponen (3a) dan (3b), harus betul-betul diperkuat
pada tahun I dan tahun II, agar pada tahun III siswa benar-benar dalam
keadaan siapun untuk memasuki kegiatan produks / bekerja langsung di
industri / dunia usaha.
3. Program pendidikan subkomponen (3c) dalam bentuk bekerja langsung pada
lini produksi, pada dasarnya dilaksanakan sepenuhnya di institusi pasangan
sesuai dengan jumlah waktu yang ditetapkan untuk menguasai keahlian
produktif. Apabila industri / perusahaan yang menjadi pasangan hanya siap
menerima siswa untuk sebagian waktu yang dipersyaratkan, maka sisa
sebagian waktu yang lainnya harus diusahakan digunakan untuk praktik/
bekerja di industri/ perusahaan lain, setidak-tidaknya dalam kegiatan unit
produksi di sekolah.
(Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 1996)

2.4.4 Standar Profesi (Standar Keahlian Tamatan)

Untuk memberlakukan Prakerin dalam dunia industri juga mampunyai

standar tertentu yang harus dipatuhi agar tujuan dari pelaksanaanya dapat tercapai.

Standar tersebut mengandung nilai-nilai tentang profesionalitas dengan artian

bahwa program pendidiakn kejuruan harus jelas mengacu pada tercapainya

keahlian peserta didik sesuai dengan bidangnya yang selaras dengan tuntutan yang

diharapkan dalam dunia industri. Standar yang dimaksud mencakup 4 point dasar

yaitu : (1) aspek pendidikan umum yang membentuk kemampuan peserta didik

agar menjadi warga negara yang baik dan memiliki karakteristik sebagai bangsa

Indonesia; (2) aspek pendidikan dasar yang menunjang pembentukan kemampuan

adaptif, yaitu memberi bekal penunjang untuk menguasai keahlian profesi dan
23

bekal kemampuan untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi; (3) aspek pendidikan dasar profesi, yatu membentuk peserta didik

untuk menguasai pengetahuan dan teknik dasar keahlian profesi; (4) aspek

pelatihan keahlian dengan cara bekerja langsung di dunia industri secara

terprogram untuk membentuk kemampuan profesi yang diminati.

Dari keempat point dasar tersebut dapat digambarkan dalam bagan alur

pembentukan kerja profesi (perhatikan gambar 2.3)

Pendidikan Umum
Kemampuan

Pendidikan
dasar profesi :
Kemampuan Kemampuan Pendidikan
Teknik Dasar dan Profesiaonal Dasar
Keahlian Profesi (Keterampilan produktif) Penunjang
( di sekolah atau
DUDI )

Pelatihan Keahlian
Kemampuan

Sumber : Lembaran Ilmu Kependidikan

Gambar 2.3
Bagan Pembentukan Kerja Profesi

2.4.5 Model Pelaksanaan Pendidikan di Sekolah

Materi pendidikan yang dipelajari di sekolah meliputi: (1) komponen

Pendidikan Umum (Normatif), dimaksudkan untuk membentuk peserta didik

menjadi warga negara yang baik, yang memiliki watak dan kepribadian sebagai

warga Negara dan bangsa Indonesia; (2) komponen Pendidikan Dasar (Adaptif),
24

untuk memberi bekal penunjang bagi penguasaan keahlian profesi dan bekal

kemampuan pengembangan diri untuk mengikuti perekembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi; (3) komponen Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan,

berisi materi yang berkaitan dengan pembentukan kemampuan keahlian tertentu

sesuai program keahlian masing-masing untuk bekal memasuki dunia kerja,

dengan subkomponen : Teori Kejuruan; untuk membekali pengetahuan tentang

teori kejuruan bidang keahlian yang bersangkutan, dan Praktik Dasar Kejuruan;

yaitu berupa latihan dasar untuk menguasai dasar-dasar teknik bekerja secara baik

dan benar sesuai dengan persyaratan keahlian profesi. (Majelis Pendidikan

Kejuruan Nasional, 1996)

Media dan metode yang digunakan pada tiap-tiap bentuk pembelajaran

seharusnya mengikuti kebutuhan dari pembelajaran tersebut yang bertujuan untuk

memberi kemudahan bagi pelaksana (guru) dalam menyampaikan materi

pembelajaran maupun bagi penerima (siswa) dalam menyerap materi

pembelajaran.

2.4.6 Model Pelaksanaan Pelatihan di Industri

Materi pelatihan di industri tidak terlepas dari pertimbangan isi atau materi

kurikulum yang berlaku secara utuh yang berupa ; Komponen Pendidikan dan

Pelatihan Kejuruan; berisi materi yang berkaitan dengan pembentukan

kemampuan keahlian tertentu sesuai program studi masing-masing untuk bekal

memasuki dunia kerja yang sebenarnya, dengan sub komponen yang berupa

Praktik Keahlian Produktif; yaitu berupa kegiatan bekerja langsung secara


25

terprogram dalam situasi sebenarnya, untuk mencapai tingkat keahlian dan sikap

kerja professional (Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 1996).

Untuk waktu praktik kerja di industri diatur sebagai berikut : (1) minimum

3 bulan kerja, mengikuti minggu dan jam kerja industri; (2) boleh lebih dari 3

bulan kerja jika kegiatan bekerja di industri memberi nilai tambah yang lebih

tinggi bagi industri maupun bagi siswa yang bersangkutan; (3) kegiatan di industri

dapat dimulai dari tingkat I dengan catatan industri yang bersangkutan mampu

memberi keterampilan dasar dan sebaiknya tidak langsung kerja di dunia

produksi.

2.4.7 Jenis Penilaian

Pada pelaksanaan Prakerin di SMK, terdapat 2 (dua) jenis penilaian yang

paling dominan dan dituntut harus terjadi, yaitu : Penilaian Hasil Belajar dan

Penilaian Penguasaan Keahlian. (1) Penilaian Hasil Belajar, adalah penilaian yang

dilakukan untuk mengetahui tingkat pencapaian penguasaan hasil belajar siswa

berdasarkan program (kurikulum) yang berlaku, biasanya dilaksanakan pada akhir

satuan waktu tertentu.

Penilaian hasil belajar terutama dimaksudkan untuk mempertimbangkan

dan menetapkan berhasil atau tidaknya siswa dalam menempuh mata pelajaran.

Penilaian ini dapat dilaksanakan secara bertahap berdasarkan satuan-satuan (unit)

materi yang dipelajari, atau dapat pula dilaksanakan secara menyeluruh

(comprehensive) terhadap penguasaan kinerja (performance) tertentu. (2)

Penilaian Penguasaan Keahlian, adalah penilaian yang dilakukan untuk

mengetahui tingkat penguasaan seseorang terhadap kemampuan-kemampuan


26

(competencies) yang dipersyaratkan untuk dinyatakan ahli dan berwenang

melaksanakan tugas/ pekerjaan tertentu, berdasarkan ketentuan atau standar yang

berlaku di lapangan kerja.

Berdasarkan standar yang digunakan dan proses pengukurannya, penilaian

penguasaan keahlian digolongkan menjadi: (1) ujian kompetensi, yaitu suatu

proses pengukuran dan penilaian penguasaan keahlian seseorang berdasarkan

penguasaannya terhadap kemampuan-kemampuan (competencies) dipersyaratkan

dan berlaku di perusahaan/ industri tertentu (enterprise standard) dan atau atas

dasar tuntutan kebutuhan lapangan kerja tertentu. (2) uji profesi, yaitu suatu

proses pengukuran dan penilaian penguasaan keahlian seseorang, berdasarkan

penguasaannya terhadap standar kemampuan (competencies) yang dipersyaratkan

untuk dinyatakan ahli dan berwenang (profesional) pada bidang pekerjaan

tertentu, sesuai dengan standar resmi (baku) yang berlaku pada suatu jenis

keahlian (profesi) tertentu. (Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 1996)

2.4.8 Jenis Sertifikat

Sesuai dengan pengelompokkan jenis penilaian di atas maka jenis-jenis

sertifikat dalam pelaksanaan prakerin pada SMK dibagi menjadi : (1) ijazah atau

Surat Tanda Tamat Belajar (STTB), yaitu keterangan yang menjelaskan bahwa

pemiliknya telah selesai mengikuti pendidikan pada Sekolah Menengah Kejuruan

(SMK). Ijazah atau STTB ini diberikan kepada setiap siswa SMK sesuai dengan

ketentuan aturan persekolahan yang berlaku, oleh karena itu kewenangan untuk

mengeluarkan STTB sepenuhnya berada pada pihak SMK, dan institusi pasangan

tidak ikut terlibat; (2) sertifikat, yaitu keterangan yang menjelaskan bahwa
27

pemiliknya telah berhasil menguasai kemampuan/ keahlian tertentu. Sertifikat ini

ada dua macam, yaitu sertifikat Praktik Kerja Industri (Prakerin) dan sertifikat

kompetensi. Sertifikat Prakerin diberikan kepada setiap siswa SMK sesuai dengan

aturan industri/ perusahaan tertentu, oleh karena itu kewenangan untuk

mengeluarkan sertifikat sepenuhnya berada pada pihak industri/ perusahaan, dan

pihak SMK tidak ikut terlibat. Sertifikat kompetensi diberikan kepada setiap siswa

SMK yang mengacu pada standar kompetensi nasional Indonesia dan/atau

Internasional. (Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 1996)

Sertifikat kompetensi diberikan oleh penyelenggara pendidikan dan

lembaga pelatihan kepada peserta didik dan warga masyarakat sebagai pengakuan

terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji

kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau

lembaga sertifikasi.(Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun

2004 Tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi).

2.5 Persepsi Terhadap Kemanfaatan Pelaksanaan Prakerin

Dalam rangka mensukseskan pembangunan perlu adanya kerjasama yang

erat dan permanen antara dunia pendidikan kejuruan dan dunia usaha pada

umumnya dalam rangka memenuhi tenaga kerja yang cakap dan terampil bagi

keperluan pembangunan di berbagai bidang tanpa merugikan dunia usaha. Bahkan

dengan kerjasama ini diharapkan memiliki nilai tambah segi tiga antara dunia

usaha, sekolah dan peserta didik itu sendiri. Kerjasama antara SMK dan Dunia

Usaha / Industri, khususnya dalam pelaksanaan Prakerin, dikembangkan dengan

prinsip saling membantu, saling mengisi, dan saling melengkapi untuk


28

keuntungan bersama. Berdasarkan prinsip ini, pelaksanaan Prakerin akan memberi

nilai tambah bagi pihak-pihak yang bekerjasama.

Nilai tambah bagi dunia usaha adalah, (1) institusi pasangan dapat

mengetahui secara tepat kualitas peserta didik yang belajar dan bekerja di

perusahaannya, bila perusahaan menilainya bisa menjadi asset, dapat direkrut

menjadi tenaga kerja di perusahaan tersebut, bila tidak perusahaan dapat

melepasnya, karena tidak ada keharusan bagi institusi pasangan untuk

mempekerjakan peserta didik di perusahaan / industri yang bersangkutan setelah

mereka tamat, (2) pada umumnya peserta didik telah aktif ikut dalam proses

produksi, sehingga pada batas-batas tertentu selama masa pendidikan, peserta

didik adalah tenaga kerja yang dapat memberikan keuntungan, (3) selama proses

pendidikan melalui bekerja di industri, peserta didik lebih mudah diatur dalam

disiplin, seperti kepatuhan terhadap aturan perusahaan, karena itu sikap dan

perilaku kerja peserta didik dapat dibentuk sesuai dengan ciri khas dan tuntutan

Institusi pasangan, (4) institusi pasangan dapat memberi tugas kepada peserta

didik untuk mencari ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang relevan, dan (5)

memberi kepuasan bagi dunia usaha karena ikut serta menentukan hari depan

bangsa melalui Praktik Kerja Industri.

Nilai tambah bagi sekolah adalah lebih terjaminnya pencapaian: (1) tujuan

utama pendidikan kejuruan untuk memberi keahlian professional bagi peserta

didik (siswa) dalam memasuki dunia kerja, (2) permasalahan biaya, sarana, dan

prasarana pendidikan yang selama ini menjadi keluhan dalam upaya peningkatan

mutu, dapat diatasi bersama oleh sekolah dan peranserta masyarakat, khususnya
29

Institusi Pasangan, (3) terdapat kesesuaian dan kesepadanan yang pas, antara

program pendidikan dan kebutuhan lapangan kerja (sesuai dengan prinsip link and

match), dan (4) memberi kepuasan bagi penyelenggara pendidikan kejuruan

(SMK dan para pelaku lainnya), karena tamatannya lebih terjamin memperoleh

bekal keahlian yang bermakna; baik untuk kepentingan tamatan yang

bersangkutan, untuk kepentingan dunia kerja maupun untuk kepentingan

pembangunan bangsa pada umumnya.

Nilai tambah bagi peserta didik adalah : (1) hasil belajar akan lebih

bermakna, karena setelah tamat akan betul-betul memiliki bekal keahlian

professional untuk terjun ke lapangan kerja sehingga dapat meningkatkan taraf

kehidupannya, dan mereka memiliki keahlian sebagai bekal untuk

mengembangkan diri secara berkelanjutan, (2) rentang waktu (Lead-time) untuk

mencapai keahlian professional menjadi singkat, karena setelah tamat Prakerin

tidak memerlukan waktu latihan lanjutan untuk mencapai tingkat keahlian siap

pakai, (3) keahlian professional yang diperoleh melalui Prakerin dapat

mengangkat harga dan percaya diri tamatan, yang selanjutnya dapat mendorong

mereka untuk meningkatkan keahlian profesionalnya pada tingkat yang lebih

tinggi (Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional, 1996).


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian

Sebelum penelitian dilaksanakan terlebih dahulu ditetapkan langkah-

langkah pendekatan penelitian. Langkah pendekatan penelitian ini ditetapkan

sebagai acuan atau pedoman dalam pelaksanaan di lapangan, sehingga data yang

diambil sesuai dengan tujuan penelitian.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, pendekatan


kualitatif bertujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala secara holistik-
kontekstual (menyeluruh dan sesuai konteks) melalui pengumpulan data dari latar
alami sebagai sumber instrumen kunci peneliti itu sendiri (Suyitno, 1996 : 5).

Hal-hal yang menyangkut penelitian kualitatif adalah sebagai berikut: (1)


bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan
induktif; (2) proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan; dan (3)
laporan berbentuk narasi, kreatif, mendalam dan menunjukkan ciri naturalistik
yang penuh keotentikan. (Suyitno, 1996 : 4).

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus.

Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana model pelaksanaan dari Prakerin

pada Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara Tahun Ajaran 2006 / 2007,

dari segi Persiapan Pelaksanaan di sekolah dan di Industri, Program Pendidikan

dan Pelatihan bersama, Kelembagaan Kerjasama, Nilai Tambah/ Kemanfaatan,

dan Jaminan Keberlangsungan (Sustainability).

Setelah data terkumpul, data tersebut disusun, dianalisis dan disimpulkan

kemudian disajikan dalam bentuk laporan. Pendekatan kualitatif diharapkan dapat

mengetahui, memahami, menjelaskan serta dapat mendeskripsikan tentang proses

30
31

dan hasil yang telah dicapai, sehingga data yang berupa uraian dapat disajikan

secara mendalam dan menyeluruh.

3.2 Lokasi Penelitian

Penetapan lokasi penelitian sangat penting dalam rangka mempertang-

gungjawabkan data yang diperoleh. Maka lokasi penelitian perlu ditetapkan

terlebih dahulu. Adapun dalam penelitian ini mengambil lokasi di SMK N 2

Jepara Jln. Sosrokartono No. 1 Jepara 59415.

Denah lokasi SMK N 2 Jepara yang digunakan sebagai objek penelitian :

Jalan Jepara - Bangsri


SMK N 2
Musium Jepara Radio Kartini JEPARA

Alun
alun Kantor Bupati

Masjid

Jln Pemuda Jalan Jepara - Kudus

SMU N 1 JEPARA Pos Polisi Dari Semarang

3.3 Sumber dan Informan

Sumber adalah pelaku, sebagai subyek dalam penelitian ini adalah sekolah

(SMK) sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan pendidikan di

sekolah dan institusi mitra (industri / perusahaan) sebagai pihak yang

bertanggungjawab terhadap pelaksanaan pelatihan kerja yang sesungguhnya bagi

siswa dalam pelaksanaan Prakerin.


32

Informan adalah sumber data yang berupa orang. Orang yang dalam

penelitian ini diharapkan dapat memberikan keterangan yang diperlukan untuk

melengkapi atau memperjelas jawaban dari responden. Dalam penelitian ini

informan yang dimaksud kadang juga bertindak sebagai responden. Untuk

keabsahan informasi maka tidak cukup bila informasi didapat dari satu informan

saja, untuk itu perlu diambil informasi dari beberapa informan yang memahami

tentang subjek yang dimaksud.

Informan utama dalam penelitian ini yaitu Drs. Suyoto sebagai Ketua

Pokja Prakerin SMK N 2 Jepara, Drs. Sunarto sebagai Wakil Kepala Sekolah

bagian Hubungan Industri (Waka Hubind) dan Drs.Asy Ari sebagai Wakil Kepala

Sekolah Kurikulum. Kemudian untuk informan pendukung adalah Muh Zaidi,

SPd. sebagai Bendahara Pokja Prakerin SMK N 2 Jepara, Drs. Basuki sebagai

Sekretaris, Guru-guru pengajar pembelajaran normatif, adaptif dan produktif pada

Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara, Petugas Monitoring, Pembimbing

Lapangan siswa di lokasi pelaksanaan Prakerin serta siswa tahap satu dan tahap

dua.

3.4 Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam rangka

penelitian. Pengumpulan data akan berpengaruh pada langkah-langkah berikutnya

sampai pada penarikan kesimpulan. Sangat pentingnya proses pengumpulan data

ini, maka diperlukan teknik yang benar untuk memperoleh data-data yang akurat,

relevan dan dapat dipercaya kebenarannya.

Dalam penelitian guna mendapatkan informasi yang diharapkan, pengumpulan

data dilakukan melalui :


33

3.4.1 Wawancara (interview)

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan ini

dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan

pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewer) yang memberi jawaban atas

pertanyaan (Moleong, 2005 : 186).

Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tak

terstruktur atau wawancara bebas terpimpin, yaitu wawancara dengan membuat

pedoman pertanyaan yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang menghendaki

jawaban yang luas. Wawancara ini dapat dikembangkan apabila dianggap perlu

agar mendapat informasi yang lebih lengkap, atau dapat pula dihentikan apabila

dirasakan telah cukup informasi yang didapatkan atau diharapkan.

Seperti yang dituliskan Mulyana, 2001:181, metode ini bertujuan


memperoleh bentuk-bentuk tertentu informasi dari semua responden, tetapi
susunan kata dan urutannya disesuaikan dengan ciri-ciri setiap responden.
Wawancara tak terstruktur bersifat luwes, susunan pertanyaan dan susunan kata-
kata dalam setiap pertanyaan dapat diubah pada saat wawancara, disesuaikan
dengan kebutuhan dan kondisi saat wawancara.

Tidak ada kriteria baku mengenai berapa jumlah responden yang harus

diwawancarai, sebagai aturan umum, peneliti berhenti melakukan wawancara

sampai data menjadi jenuh, artinya peneliti tidak menemukan aspek baru dalam

fenomena yang diteliti. Dengan kata lain, sebagaimana ditegaskan Mulyana,

peneliti berhenti mewawancarai, hingga mereka bertindak dan berpikir sebagai

anggota-anggota dari kelompok yang sedang diteliti.

Menurut Douglas dalam bukunya Mulyana, begitu pewawancara merasa


mereka menemukan pandangan yang memadai, mereka harus aktif mencari
contoh-contoh negatif, yaitu kasus-kasus yang tidak sesuai dengan pola-pola yang
anda temukan.
34

Dalam wawancara tak terstruktur ini dimulai dengan kata tanya bersifat

terbuka, seperti “bagaimana”, “apakah”, dan “mengapa” (pertanyaan bahkan dapat

diajukan dalam bahasa sehari-hari, bila diyakini bahwa responden akan lebih

terbuka).

Wawancara dengan Waka Hubin Drs. Sunarto dilakukan pada tanggal 25

dan 29 November 2006, 2 dan 7 Desember 2006 dan 2 Januari 2007 mengenai

kinerja urusan Hubungan Industri, kinerja Pokja Prakerin dan persiapan serta

pelaksanaan Prakerin. Wawancara dengan Waka Kurikulum Drs. Asy Ari

dilakukan pada tanggal 27 Desember 2006, 3 dan 5 Januari 2007 mengenai

pelaksanaan pendidikan di sekolah dan proses IHT Kurikulum, pelaksanaan

pembelajran di sekolah dan persiapan Prakerin.

Wawancara dengan Ketua Pokja Prakerin SMK N 2 Jepara Drs. Suyoto

dilakukan pada tanggal 25 November 2006, 1 Januari 2007 mengenai

Kelembagaan Prakerin di sekolah dan kinerjanya, proses In House Training (IHT)

Kurikulum serta pelaksanaan pelatihan di Industri / Perusahaan.

Wawancara dengan Bendahara Pokja Prakerin SMK N 2 Jepara Muh. Zaidi,

S.Pd. dilakukan pada tanggal 30 November 2006 dan 1 Desember 2006 mengenai

Program Kerja Prakerin.

Wawancara dengan Sekretaris Pokja Prakerin Drs. Basuki dilakukan pada

tanggal 30 November 2006 dan 3 Desember 2006 mengenai Program Kerja

Prakerin. Wawancara dengan guru-guru pembelajaran normatif dilakukan pada

tanggal 29 Desember 2006 dan 2 Januari 2007 mengenai pelaksanaan pendidikan

di sekolah dan proses IHT Kurikulum. Wawancara dengan guru-guru

pembelajaran adaptif dilakukan pada tanggal 29 Desember 2006 dan 2 Januari


35

2007 mengenai pelaksanaan pendidikan di sekolah dan proses IHT Kurikulum.

Wawancara dengan guru-guru pembelajaran produktif dilakukan pada tanggal 1

Desember 2006 dan 2 Januari 2007 mengenai palaksanaan pendidikan di sekolah

dan proses IHT Kurikulum.

Wawancara dengan tim monitoring dilakukan pada tanggal 1 dan 4

Desember 2006 mengenai kinerja petugas monitoring. Wawancara dengan

pembimbing-pembimbing lapangan dilakukan pada tanggal 4, 6, dan 12 Desember

2006 mengenai pelaksanaan pelatihan di Industri / Perusahaan (Prakerin).

Wawancara dengan siswa peserta Prakerin dilakukan pada tanggal 4, 6, 12, 14 dan

15 Desember 2006 mengenai pelaksanaan pendidikan di sekolah dan pelaksanaan

pelatihan di Industri/ Perusahaan (pelaksanaan Prakerin).

Melalui wawancara tersebut diharapkan mendapatkan gambaran dan

pengertian yang nyata dari model pelaksanaan Prakerin pada Bidang Keahlian

Kriya Kayu SMK N 2 Jepara pada Tahun Ajaran 2006/2007. Wawancara ini dapat

juga berguna untuk mendeskripsikan suatu objek penelitian disamping data atau

suatu informasi pendukung lain.

3.4.2 Observasi

Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling tepat adalah

melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen

(Arikunto, 2002 : 204).

Dalam penelitian ini menggunakan metode observasi langsung yaitu di

SMK N 2 Jepara pada Bidang Keahlian Kriya Kayu dan pada Institusi Mitra yang

menjadi tempat siswa melakukan praktek pelaksanaan Prakerin. Pengamatan

dilakukan sendiri secara langsung ditempat yang menjadi objek penelitian. Objek
36

yang diamati adalah model pelaksanaan prakerin dari segi pelaksanaan pendidikan

di sekolah dan pelatihan di Industri / Perusahaan serta faktor-faktor yang

mempengaruhi adanya kegiatan tersebut.

Observasi terhadap pelaksanaan pendidikan di sekolah dilakukan pada

tanggal 23 dan 25 November 2006. Untuk observasi terhadap pelaksanaan

pelatihan di Industri/ Perusahaan dilakukan pada tanggal 1 dan 4 Desember 2006.

3.4.3 Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah cara memperoleh data mengenai hal-hal yang

berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, paper,

lager, agenda dan sebagainya. (Arikunto, 2002 : 206).

Metode dokumentasi digunakan dalam penelitian karena beberapa alasan,

antara lain : (1) dokumen merupakan sumber yang stabil, kaya dan mendorong;

(2) berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian; (3) berguna dan sesuai dengan

penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah; dan (4) hasil pengkajian isi

akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas ilmu pengetahuan terhadap

yang diselidiki. Metode dokumentasi dilakukan dengan cara atau metode dimana

melakukan kegiatan pengumpulan dan pencatatan terhadap data-data yang ada di

SMK N 2 Jepara dan institusi mitra yang menjadi pasangannya sehubungan

dengan pelaksanaan praktik kerja industri (Prakerin).

Data tersebut berupa ; (1) kurikulum SMK untuk Bidang Keahlian Kriya

Kayu, (2) naskah perjanjian kerja sama tentang pelaksanaan Prakerin antara

Institusi Pasangan dengan SMK N 2 Jepara, (3) analisis program diklat normatif,

adaptif dan produktif, (4) daftar distribusi siswa peserta Prakerin Tahun Pelajaran
37

2006/ 2007 paket keahlian Kriya Kayu pada Gtahap satu dan dua, (5) jurnal

kegiatan dan laporan siswa Prakerin, (6) surat tugas bagi petugas monitoring

terhadap pelaksanaan Prakerin tahap satu dan dua, (7) Job sheet, (8) sertifikat

kompetensi dan sertifikat prakerin yang pernah diberikan, (9) Satuan Acara

Pembelajaran (SAP) untuk pembelajaran normatif dan adaptif, (10) laporan

Pelaksanaan In House Training Kurikulum (IHT), (11) program pembelajaran

bersama dan (12) soal evaluasi sumatif. Data yang didapat tersebut selanjutnya

ditafsirkan dan digunakan untuk memperkuat apa yang terjadi di lapangan saat

wawancara dan observasi.

3.5 Analisis Data

Analisis data menurut Patton dalam bukunya Moleong (2005 : 280),

adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola,

kategori, dan satuan uraian dasar. Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2005 :

280), mendefinisikan bahwa analisis data merupakan proses merintisi usaha

secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti

disarankan oleh data-data sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema

dan hipotesis itu.

Jika dikaji, pada dasarnya definisi pertama lebih menitikberatkan pada


pengorganisasian data, sedang yang ke dua menekankan maksud dan tujuan
analisis data. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa analisis adalah proses
pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, dan satuan uraian dasar
sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang
disarankan oleh data. (Moleong, 2005 : 280).

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif analisis

yang merupakan proses penggambaran lokasi penelitian. Dalam penelitian

diperoleh gambaran tentang model pelaksanaan praktik kerja industri pada Bidang
38

Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara, yang ditinjau dari segi Institusi Pasangan,

Program Pendidikan dan Pelatihan Bersama, Kelembagaan Kerjasama, Nilai

Tambah/ Kemanfaatan, dan Jaminan Keberlangsungan (Sustainability).

Adapun pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan 4 tahap,

yaitu : (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) sajian data, dan (4) kesimpulan

data (verifikasi data). Dengan uraian dari masing-masing tahap tersebut adalah

sebagai berikut :

Pengumpulan data. Peneliti mencatat semua data secara objektif dan apa

adanya sesuai dengan hasil observasi dan wawancara di lapangan mengenai

pelaksanaan prakerin pada Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara yang

ditinjau dari segi Institusi Pasangan, Program Pendidikan dan Pelatihan Bersama,

Kelembagaan Kerjasama, Nilai Tambah/ Kemanfaatan, dan Jaminan

Keberlangsungan (Sustainability).

Reduksi data. Menurut Matte B. Milles (dalam Soedjadi, 1992 : 6),


reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada
penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari
catatan-catatan tertulis dilapangan.

Reduksi data dilakukan terhadap data kasar hasil observasi dan wawancara

di lapangan mengenai pelaksanaan prakerin pada Bidang Keahlian Kriya Kayu

SMK N 2 Jepara yang ditinjau dari segi Institusi Pasangan, Program Pendidikan

dan Pelatihan Bersama, Kelembagaan Kerjasama, Nilai Tambah/ Kemanfaatan,

dan Jaminan Keberlangsungan (Sustainability).

Sajian data. Menurut Matte B. Milles (dalam Soedjadi, 1992 : 17), sajian

data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan


39

adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Sajian data dapat dibagi

menjadi dua, yaitu sajian data emik dan sajian data etik.

Sajian data emik merupakan sajian data berdasarkan hasil asli yang

diperoleh di lapangan sesuai dengan hasil wawancara dan observasi mengenai

pelaksanaan prakerin pada Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara yang

ditinjau dari segi Institusi Pasangan, Program Pendidikan dan Pelatihan Bersama,

Kelembagaan Kerjasama, Nilai Tambah/ Kemanfaatan, dan Jaminan

Keberlangsungan (Sustainability). Sajian data etik, merupakan sajian data emik

yang telah dianalisis berdasarkan kajian pustaka yang bersangkutan dengan data

emik tersebut.

Kesimpulan data (verifikasi data). Penarikan kesimpulan hanyalah

sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan

juga diverifikasikan selama penelitian berlangsung (Matte B. Milles ,dalam

Soedjadi, 1992 : 19).

Dalam penarikan kesimpulan ini, didasarkan pada reduksi data dan sajian

data yang merupakan jawaban atas masalah yang bersangkutan dengan Institusi

Pasangan, Program Pendidikan dan Pelatihan Bersama, Kelembagaan Kerjasama,

Nilai Tambah/ Kemanfaatan, dan Jaminan Keberlangsungan (Sustainability) dari

pelaksanaan prakerin pada Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara.

Dari keempat tahapan analisis data tersebut dapat digambarkan dengan

bentuk alur kerja seperti gambar 3.1


40

Pengumpulan Data

Sajian Data
Reduksi Data Emik dan Etik

Penarikan Kesimpulan /
Verifikasi Data

Gambar 3.1
Teknik Analisis data

3.6 Pengecekan Keabsahan Data

Keabsahan data sangat mendukung dalam menentukan hasil akhir

penelitian. Oleh sebab itu suatu teknik untuk memeriksa keabsahan data

memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau

perbandingan terhadap data itu (Moleong, 2005 : 198).

Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa dengan menggunakan

teknik triangulasi sumber. Menurut Patton dalam bukunya Moleong, triangulasi

dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan

suatu informasi yang diperoleh melalui alat dan waktu yang berbeda dalam

metode kualitatif. Hal ini dapat dicapai dengan jalan: (1) membandingkan data

hasil pengamatan dengan data hasil wawancara; (2) membandingkan apa yang

dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi; (3)

membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian

dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu; (4) membandingkan keadaan

perspektif seseorang dengan berbagai pandangan orang sebagai rakyat biasa,

orang – orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang
41

pemerintah; (5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang

berkaitan (Moleong, 2005:331).

Bagan triangulasi pada pengujian validitas data dapat dilihat pada gambar

3.2 dan gambar 3.3

Pengamatan/ Observasi

Sumber Data

Wawancara

Dokumentasi

Sumber Data

Wawancara

Gambar 3.2
Sumber sama, teknik berbeda

Informan A

Wawancara

Informan B

Gambar 3.3
Teknik sama, sumber berbeda
42

3.7 Memperpanjang Keikutsertaan Peneliti

Dalam pengumpulan data, keikutsertaan peneliti menjadi suatu hal yang

sangat penting dan menentukan dalam pengumpulan data. Keikutsertaan peneliti

membutuhkan waktu yang relatif lama dengan tujuan mendapatkan data yang

diperoleh menjadi jenuh.

Perpanjangan keikut-sertaan berarti peneliti tinggal dilapangan penelitian

samapi kejenuhan pengumpulan data tercapai. Jika hal itu dilakukan maka akan

membatasi: (1) membatasi gangguan dari dampak peneliti pada konteks, (2)

membatasi kekeliruan (biases) peneliti, (3) mengkonsepsikan pengaruh dari

kejadian-kejadian yang tidak biasa atau pengaruh sesat (Moleong, 2005:327).


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Persiapan Pelaksanaan Prakerin baik di Sekolah maupun di Industri

4.1.1.1 Persiapan Pelaksanaan Prakerin di SMK N 2 Jepara

Dalam persiapan pelaksanaan Prakerin SMK N 2 Jepara membuat dua

tahapan yaitu tahap perencanaan dan tahap persiapan.

Pada tahap perencanaan, SMK N 2 Jepara mengumpulkan data-data yang

merupakan komponen penting dalam persiapan pelaksanaan yang meliputi : (1)

data tentang tempat yang potensial untuk pelaksanaan Prakerin, (2) data tentang

Institusi yang potensial dengan program studi yang ada di sekolah untuk

pelaksanaan Prakerin, (3) persiapan blangko untuk mencari tempat Prakerin di

DU/DI yang meliputi surat permohonan, lembar ketersediaan DU/DI, kelompok

peserta Prakerin, (4) penyerahan kembali blangko-blangko tersebut yang sudah

lengkap ditanda tangani oleh ketua program studi dan pimpinan / yang mewakili

dari dunia industri, serta (5) perencanaan dan kemungkinan penempatan peserta

Prakerin di masing-masing industri dipimpin oleh guru pembimbing.

Setelah tahap perencanaan selesai maka dilanjutkan dengan tahap

persiapan. Sebelum melaksanakan Prakerin berkas administrasi yang perlu

dipersiapkan antara lain : (1) pembekalan siswa peserta Prakerin yang dipandu

oleh kelompok kerja Prakerin dan penyampai materi dari perwakilan industri, (2)

pengadaaan buku panduan dan laporan kegiatan untuk siswa, (3) pembuatan surat-

43
44

surat pemberitahuan yang meliputi surat penitipan siswa Prakerin di industri, surat

pengantar kepada institusi tempat praktik, surat keterangan perjalanan dinas, dan

pemberitahuan kepada guru pembimbing, (4) surat tugas untuk kepala sekolah

atau tim pelaksana, (5) jurnal pelaksanaan Prakerin, (6) tata tertib , dan (7) format

sertifikasi dan kelengkapan administrasi kegiatan Prakerin.

Drs. Sunarto menjelaskan “untuk kelancaran pelaksanaan Prakerin periode


2006/2007 pihak sekolah membuat dua tahapan yaitu tahap perencanaan dan
tahap persiapan. Untuk tahap perencanaan menitik beratkan pada penyiapan data-
data tentang tempat Prakerin siswa , surat permohonan ke DUDI, dan lembar
ketersediaan pihak industri untuk menerima siswa Prakerin. Sedangkan untuk
tahap persiapan dimulai dengan pengadaan buku panduan untuk siswa,
pembekalan pra pelaksanaan Prakerin, sampai pembuatan surat tugas untuk guru
yang terlibat dengan pelaksanaan Prakerin tahun 2006/2007”.

Ditambahkan oleh Drs. Suyoto “rapat koordinasi pelaksanaan Prakerin dan


mendata tempat Prakerin yang didapat siswa merupakan serangkaian kegiatan
yang masuk dalam tahap perencanaan. Sedangkan untuk pembekalan Prakerin dan
pengadaan buku panduan dan laporan kegiatan siswa selama Prakerin menjadi
bagian dari tahap persiapan”.

Drs. Basuki menjelaskan “ pada dasarnya persiapan utama untuk pelaksanaan


Prakerin adalah penyiapan diri peserta didik sebagai subjek dari program Prakerin
ini, ini berhubungan dengan sikap, sopan santun dan kecakapan serta keterampilan
yang dimiliki siswa, untuk hal ini pihak sekolah sudah membekali dari kegiatan
belajar mengajar sejak kelas satu tentunya”.

Saat pembekalan siswa peserta Prakerin diberikan materi-materi yang

berkaitan dengan pelaksanaan teknis Prakerin. Adapun materi yang diberikan saat

pembekalan meliputi dua hal utama yang disampaikan oleh perwakilan industri

dan wali kelas masing-masing program studi kriya.

Materi yang disampaikan oleh industri saat pembekalan Prakerin siswa

antara lain : produk yang dihasilkan, konsumen / pengguna produk, bahan baku,

alat dan peralatan, pemasaran dan modal. Sedangkan materi yang disampaikan
45

oleh wali kelas masing-masing kriya meliputi etika dan tata tertib, serta panduan

pengisian jurnal atau administrasi Prakerin secara lengkap.

Drs. Suyoto menjelaskan “siswa saat pembekalan diberikan materi yang


disampaikan oleh pihak perusahaan dan dari pihak sekolah yang diwakili oleh
wali kelas”.

Ditambahkan oleh Drs. Sunarto “untuk materi yang disampaikan oleh pihak
industri meliputi manajemen perusahaan dan keselamatan kerja yang ada di
lingkungan kerja di perusahaan, sedangkan materi yang disampaikan oleh pihak
sekolah melalui wali kelas sehubungan dengan etika dan tata tertib serta
penjelasan tentang panduan pengisian jurnal dan laporan”.

Drs. Suyoto menambahkan “untuk materi yang disampaikan wali kelas meliputi
dua hal yaitu (1) etika dan tata tertib yang meliputi ucapan dan sikap, rambu-
rambu / hukum dan sanksi yang diberikan bila siswa melanggar, (2) panduan
pengisian jurnal dan laporan siswa dengan menunjukkan format penulisan laporan
dan pengisian jurnal tahun dan penjelasan pengisian”.

4.1.1.2 Persiapan Pelaksanaan Prakerin di Industri

Persiapan yang dilakukan oleh pihak industri untuk pelaksanaan Prakerin

dimulai dari menyiapkan pembimbing lapangan yang akan membantu siswa

peserta Prakerin selama pelaksanaan Prakerin di perusahaannya, dan persiapan

untuk pembagian kerja serta sistem kerja yang akan diterapkan untuk siswa

peserta Prakerin.

H.Wasiun pimpinan Cipta Antiq menjelaskan “untuk tahap persiapan kami


menyiapakan satu pembimbing lapangan yang bertugas untuk memebantu siswa
dalam pelaksanaan Prakerin ditempat kami, kami juga sudah menetapakn jadwal
kerja untuk siswa yang kami samakan dengan pegawai yang ada di perusahaan
kami”.

Purwanto dari Oval Jati menuturkan “ untuk tahun ini kami terlibat dengan proses
pembekalan siswa di SMK dan untuk kesiapan kami menyiapkan pembimbing
lapangan yang bertugas untuk membimbing dan mengecek ulang pekerjaan
siswa, yang nantinya juga mengevaluasi kerja siswa selama pelaksanaan
Prakerin”.
46

Ditambahkan oleh Purwanto “saat pembekalan Prakerin di sekolah kami selaku


perwakilan dari pihak industri menyampaikan tentang manajemen perusahaan
yang meliputi produk yang dihasilkan, bahan baku dan semua hal yang
menyangkut perusahaan dan keselamatan kerja yang harus diperhatikan
perusahaan dan tenaga kerjanya”.

N. Sandi dari Dian Jati Antika menjelaskan bahwa “sebelum siswa peserta
Prakerin diserahkan pihak sekolah kepada kami, kami sudah menyiapkan satu
pembimbing lapangan yang akan menjelaskan sistem kerja dan pembagian kerja
untuk siswa serta membantu siswa bila mengalami kesulitan dalam menyelesaikan
tugasnya selama ia praktik di sini”.

Pembimbing lapangan mempunyai peranan yang sangat penting dalam

membantu siswa peserta Prakerin untuk mengembangkan potensi dan skill yang

dimiliki siswa. Selain itu, pembimbing lapangan juga berperan dalam membantu

siswa saat menemui kesulitan dalam mengerjakan tugas yang diberikan.

4.1.2 Pelaksanaan Pendidikan di Sekolah

Bidang Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara dalam pelaksanan

pendidikan menggunakan kurikulum tahun 2004 dengan struktur kurikulum yang

terbagi menjadi 3 (tiga) mata diklat, yaitu :

1. Program Normatif

Program normatif adalah kelompok mata diklat yang berfungsi

membentuk peserta didik menjadi pribadi utuh, yang memiliki norma-norma

kehidupan sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial (anggota

masyarakat) baik sebagai warga negara Indonesia maupun sebagai warga dunia.

Program normatif diberikan agar peserta didik bisa hidup dan berkembang selaras

dalam kehidupan pribadi, sosial, dan bernegara. Program ini berisi mata diklat

yang lebih menitikberatkan pada norma, sikap, dan perilaku yang harus diajarkan,

ditanamkan, dan dilatihkan pada peserta didik, di samping kandungan


47

pengetahuan dan keterampilan yang ada di dalamnya. Mata diklat pada kelompok

normatif berlaku sama untuk semua program keahlian.

Pada pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan untuk mendidik siswa agar

dapat bersikap positif , bertutur bahasa yang halus serta menghargai orang lain.

Bersikap positif adalah bersikap yang berguna untuk kepentingan orang lain dan

terbuku untuk menerima masukan / kritik yang membangun. Bertutur bahasa

yang halus adalah bertutur kata yang tidak menyinggung perasaan orang yang

sedang kita ajak berbicara. Menghargai orang lain adalah sikap yang tidak

menganggap diri kita paling baik dan bisa menerima masukan dari orang lain.

Dhian S, S.Pd. menjelaskan bahwa “pelajaran Bahasa Indonesia memang perlu


diberikan pada siswa termasuk pada siswa SMK, ini bertujuan agar siswa
memiliki tata karma dan dan sopan santun dalam berbicara dan bertutur kata
kepada siapa saja termasuk ketika ia harus berada di lingkungan industri”

Media yang digunakan untuk menunjang kelancaran pembelajaran mata

pelajaran Bahas Indonesia adalah buku cetak, CD pembelajaran, ruang

perpustakaan, papan tulis, kapur tulis dan penghapus. Buku cetak adalah buku

yang berisikan materi pelajaran guna menunjang proses transfer ilmu dari guru

kepada siswa. CD pembelajaran untuk pelajaran Bahasa Indonesia berisi tentang

materi pelajaran yang ditampilkan dalam bentuk tampilan materi-materi inti, dan

untuk penjelasannya akan disampaikan oleh guru pengajar. Contoh materi yang

disampaikan adalah cara pembuatan surat permohonan / surat ijin melaksanakan

Prakerin di industri. Ruang perpustakaan selain memberikan fasilitas untuk

peminjaman buku-buku paket juga menyediakan satu ruangan yang dilengkapai

TV yang digunakan untuk menanyangkan CD pembelajaran yang akan

disampaikan oleh guru.


48

Drs. Asy Ari mengemukakan “ media yang digunakan untuk menunjang pelajaran
Bahasa Indonesia adalah CD pembelajaran yang biasanya disediakan oleh guru
mata diklat dan diperlihatkan pada siswa di ruang perpustakaan dan buku cetak
yang dapat dipinjam dari perpustakaan saat pelajaran dan dikembalikan lagi
setelah pelajaran selesai agar bisa dipinjam siswa lainnya. Media lain adalah
ruang kelas beserta kapur tulis dan penghapus. Penggunaan media bertujuan agar
siswa dapat memahami materi secara maksimum dan menyenangkan.“

Metode yang digunakan untuk menunjang kelancaran pembelajaran mata

diklat Bahasa Indonesia adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi, dan tugas

baik bersifat tugas kelompok, tugas mandiri maupun tugas rumah. Metode

ceramah digunakan untuk menjelaskan suatu materi oleh guru kepada siswa.

Metode tanya jawab digunakan saat materi diberikan dan ada pertanyaan dari

siswa tentang materi yang diberikan guru. Metode pemberian tugas diberikan pada

siswa untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap materi

yang telah disampaikan guru.

Budi N, S.Pd. menambahkan, “pelaksanaan metode tersebut adalah sebagai


berikut; untuk metode ceramah, guru menjelaskan materi pelajaran di depan kelas
dan siswa memperhatikan dengan baik, metode tanya jawab : guru
mempersilahkan siswa untuk menanyakan terhadap hal-hal yang belum paham/
belum jelas tentang materi pelajaran yang diberikan kemudian guru menjawab dan
menjelaskannya atau guru yang bertanya kepada siswa tentang materi yang baru
saja disampaikan kemudian siswa menjawabnya, metode diskusi kelompok : guru
memberikan suatu permasalahan kepada siswa dan harus dipecahkan secara
kelompok, metode tugas mandiri : guru memberikan soal kepada siswa dan harus
dikerjakan sendiri, dan metode tugas rumah : siswa diberi soal yang harus
diselesaikan dirumah baik kelompok maupun perorangan, adapun tujuan dari
penggunaan metode tersebut yaitu untuk mempermudah siswa dalam menyerap
dan menguasai materi pelajaran yang diberikan”.

Pada pembelajaran Bahasa Indonesia, kegiatan evaluasi dilakukan pada

akhir pertemuan dari tiap satu atau beberapa pokok bahasan tergantung dari

banyak sedikitnya materi yang ada dan juga dilakukan di akhir semester dengan

bentuk tes tertulis yang berupa essay dan atau pilihan ganda, tes lesan yaitu tanya
49

jawab secara langsung antara guru dan siswa. Dari kegiatan evaluasi tersebut nilai

minimal yang harus diperoleh siswa adalah 7.00 untuk dinyatakan lulus dalam

pelajaran yang diberikan. Bila siswa mendapatkan nilai kurang dari 7.00 maka

siswa yang bersangkutan akan diberikan tugas tambahan yang bertujuan untuk

memperbaiki nilai yang didapatkan sebelumnya.

Budi N, S.Pd. mengemukakan bahwa “ ada kegiatan evaluasi dari pelajaran


Bahasa Indonesia dengan tujuan untuk mengukur tingkat pemahaman materi oleh
siswa yang dilaksanakan saat pelajaran dilaksanakan atau saat akhir semester dan
ini ada nilai minimum yang harus dicapai siswa yaitu tujuh bila kurang dari tujuh
maka siswa wajib mengikuti remidi atau mendapatkan tugas tambahan”.

Kurikulum yang digunakan untuk seluruh mata diklat Bahasa Indonesia

pada siswa kelas III adalah kurikulum 2004 yang telah disempurnakan.

Penyempurnaan dilaksankan bersama DUDI melalui program In House Training

(IHT) kurikulum.

2. Program Adaptif

Program adaptif adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membentuk

peserta didik sebagai individu agar memiliki dasar pengetahuan yang luas dan

kuat untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di

lingkungan sosial, lingkungan kerja, serta mampu mengembangkan diri sesuai

dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Program adaptif

berisi mata diklat yang lebih menitikberatkan pada pemberian kesempatan kepada

peserta didik untuk memahami dan menguasai konsep dan prinsip dasar ilmu dan

teknologi yang dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari dan atau melandasi

kompetensi untuk bekerja.


50

Program adaptif diberikan agar peserta didik tidak hanya memahami dan

menguasai “apa” dan “bagaimana” suatu pekerjaan dilakukan, tetapi memberi

juga pemahaman dan penguasaan tentang “mengapa” hal tersebut harus

dilakukan. Program adaptif terdiri dari kelompok mata diklat yang berlaku sama

bagi semua program keahlian dan mata diklat yang hanya berlaku bagi program

keahlian tertentu sesuai dengan kebutuhan masing-masing program keahlian.

Selain itu, pembelajaran adaptif juga perlu diberikan dengan tujuan untuk

memberi bekal penunjang bagi penguasaan keahlian profesi dan bekal

kemampuan pengembangan diri untuk mengikuti perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi.

Pada mata pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengolahan Informasi

(KKPI) bertujuan untuk membekali siswa agar bisa menggunakan teknologi

komputer dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki kemampuan aplikasi

Komputer sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI) pada bidang Kriya

Kayu.

Drs. Suyoto mengemukakan bahwa “pelajaran Keterampilan Komputer dan


Pengolahan Informasi (KKPI) sangat di perlukan dengan tujuan agar siswa
mempunyai bekal penunjang untuk menguasai suatu keahlian tertentu yang
nantinya bisa mengikuti perkembangan teknologi “.

Ditambahkan oleh Drs. Sunarto “pelajaran KKPI perlu sekali diberikan pada
siswa SMK agar siswa mempunyai bekal penunjang untuk penguasaan keahlian
tertentu yang nantinya saat ia harus bekerja “.

Media yang dipakai dalam pembelajaran ini berupa buku cetak, kapur,

papan tulis, buku panduan / modul, dan audio visual (berupa perangkat

komputer). Buku cetak pinjam di perpustakaan, modul diberikan dari guru sebagai

panduan saat pelaksanaan pelajaran yang berisi tentang teknik / cara pengoprasian
51

komputer, sedangkan komputer disediakan di laboratorium komputer digunakan

saat pelajaran berlangsung.

Drs. Basuki mengatakan, “media yang digunakan dalam pembelajaran KKPI


berupa buku cetak yang bisa siswa pinjam di perpustakaan sekolah atau buku lain
yang memiliki materi yang sama lalu kapur, papan tulis, cd pembelajaran, buku
panduan (modul) serta komputer“.

Metode yang digunakan dalam pembelajaran Keterampilan Komputer dan

Pengolahan Informasi (KKPI) ini yaitu metode caramah, metode tanya jawab, dan

kerja mandiri. Metode ceramah digunakan saat guru menjelaskan langkah kerja

sebelum pelaksanaan praktik pengoprasian komputer. Metode tanya jawab

digunakan saat siswa menemukan kesulitan dalam memahami ceramah yang

diberikan guru dan saat siswa menghadapi kesulitan dalam mengoprasikan

komputer. Metode kerja mandiri digunakan saat siswa diberikan tugas untuk

mengoprasikan komputer sesuai langkah kerja dalam buku panduan.

Drs. Basuki menjelaskan bahwa “metode yang digunakan pada mata diklat KKPI
adalah ceramah yang diberikan oleh guru untuk mengawali pelajaran dan
memberikan wacana awal pada siswa, tanya jawab setelah ceramah diberikan
untuk meningkatkan pemahaman siswa dan praktik sesuai bimbingan dan arahan
dari guru pengajar atau sesuai dengan buku panduan / modul.”

Tujuan dari penggunaan media dan metode dalam pembelajaraan pelajaran

KKPI adalah agar siswa mudah dalam memahami pelajaran dan dapat

menerapkannya secara maksimal saat praktik. Untuk mata diklat Keterampilan

Komputer dan Pengolahan Informasi (KKPI) menggunakan kurikulum 2004.

Drs. Sunarto menjelaskan “tujuan penggunaan media adalah agar siswa mudah
memahami suatu pemahaman dan bisa menerapkan dengan benar saat mereka
praktik. Sedangkan tujuan penggunaan media, agar siswa mampu memehami
materi yang diberikan oleh guru pengajar secara efektif”.

Drs. Suyoto menambahkan “evaluasi yang diberikan pada siswa dari pelajaran
Keterampilan Komputer dan Pengolahan Informasi (KKPI) dilihat dari proses
52

sampai hasil praktik (out put). Untuk kurikulum yang digunakan untuk kelas III
kriya kayu adalah kurikulum 2004 yang telah disempurnakan bersama industri”.

3. Program Produktif

Program produktif adalah kelompok mata diklat yang berfungsi

membekali peserta didik agar memiliki kompetensi kerja sesuai standar

Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), standar kompetensi dan level

kualifikasi dapat dilihat pada lampiran 22. Program produktif bersifat melayani

permintaan pasar kerja, karena itu lebih banyak ditentukan oleh dunia

usaha/industri atau asosiasi profesi. Program produktif diajarkan secara spesifik

sesuai dengan kebutuhan tiap program keahlian.

Pada mata pelajaran membuat gambar pola dengan acuan gambar kerja

bertujuan untuk mempersiapkan pekerjaan kerja bangku berupa kemampuan

menggambar ulang pola yang bersumber dari gambar kerja. Gambar pola dibuat

untuk memudahkan pemotongan bahan kayu dan pencapaian bentuk yang presisi.

Gambar kerja dapat dijiplak pada bidang kerja ataupun dipindahkan ukurannya

pada bidang kerja. Contoh pola ukiran yang akan dipindahkan pada bidang kerja

berupa papan yang akan diukir.

Drs. Sunarto menjelaskan bahwa “untuk siswa SMK harus mendapatkan teori
kejuruan dan praktik ini bertujuan untuk memberikan bekal tentang teori
kejuaruan dan praktik langsung untuk mengembangkan kreatifitas dan
kemampuan siswa dalam merancang suatu bahan menjadi barang jadi dengan
kualitas maksimal”.

Drs. Sunarto menambahkan “untuk dapat melaksanakan praktik di industri siswa


harus dibekali dengan praktik dasar yang di dalamnya akan membarikan teknik-
teknik dan metode dalam menyelesaikan suatu bahan mentah menjadi barang
setengah jadi ataupun bahan jadi, sedangkan praktik keahlian produktif adalah
kegiatan siswa saat siswa berada di industri untuk mengembangkan bekal yang ia
dapat dari sekolah di industri tempat dia praktik”.
53

Media tersebut dipakai dengan tujuan untuk mempermudah siswa dalam

pelaksanaan prakteknya dan membantu siswa dalam penguasaan keahlian yang

diberikan. Metode yang dipakai yaitu metode ceramah dan tanya jawab untuk

pembelajaran teorinya dan metode praktek langsung untuk prakteknya. Pada

metode ceramah guru memberikan instruksi dan target pekerjaan, ukuran standar

yang lazim digunakan untuk suatu produk jadi, dan waktu penyelesaian pekerjaan.

Metode tanya jawab digunakan saat berlangsungnya praktik dan siswa menemui

kesulitan menyelesaikan pekerjaan yang diberikan.

Drs. Suyoto mengemukakan, “media pembelajaran praktek seperti membuat


gambar pola dengan acuan gambar kerja yaitu berupa job sheet gambar kerja,
buku panduan, bentuk-bentuk sambungan, contoh kuda-kuda kayu dalam ukuran
kecil serta macam-macam jenis kayu, serta macam-macam jenis kerajinan”.

Evaluasi dalam pembelajaran ini dilakukan pada tiap satu pokok bahasan

atau setiap jenis pekerjaan yang diberikan selesai dikerjakan dengan tujuan untuk

mengukur atau mengetahui sejauh mana siswa dalam menguasai bidang keahlian

yang diajarkan dengan target kelulusan.

Drs. Sunarto mengemukakan “dalam segala jenis kegiatan harus ada evaluasi
dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan dari kegiatan
tersebut, termasuk juga pada pelajaran membuat gambar pola contohmya pada
pola ukiran dengan acuan gambar kerja. Untuk pelajaran ini evaluasi dilakukan
pada tiap jenis praktik dan unsur yang dinilai mulai dari proses pembuatan pola
ukiran sampai output yang dihasilkan siswa berupa hasil ukir. Dan siswa
diharapkan lulus dengan nilai minimal 7 (tujuh), bila nilai yang didapat kurang
dari tujuh maka siswa yang bersangkutan harus melaksanakan remidi atau tugas
tambahan untuk perbaikan”.

Pada pembuatan pola membuat ukiran ragam hias ada siswa yang

mendapatkan nilai kurang dari 7.00 maka siswa yang bersangkutan diwajibkan

membuat gambar pola lagi sebagai penambah nilai agar nilai mereka menjadi

7.00.
54

Untuk kurikulum yang digunakan pada siswa kelas III Kriya Kayu adalah

kurikulum 2004 yang telah disempurnakan. Kurikulum yang telah disempurnakan

bersama DUDI melalui In House Training (IHT). Adapun kegiatan IHT adalah

kegitan penyusunan dan standarisasi kurikulum atau analisis kurikulum.

Gambar 4.1
Proses Pelaksanaan Pendidikan di SMK N 2 Jepara
55

4.1.3 Pelaksanaan Pelatihan di Dunia Usaha / Industri

Pelaksanaan Prakerin pada Keahlian Kriya Kayu SMK N 2 Jepara dilakukan

pada semester pertama di kelas tiga selama dua bulan kerja penuh di industri /

perusahaan, dilakukan dalam dua tahap (tahap I, Juli – September 2006), (tahap II,

November – Januari 2007) untuk pengaturan hari dan jam kerja dipercayakan

sepenuhnya kepada pihak industri / perusahaan yang ditempati siswa Prakerin.

H.Wasiun mengemukakan tentang jam kerja siswa yang Prakerin di Cipta Antiq “
jadual libur dan kerja mengikuti jadual yang ada diperusahaan kami, yatu anak
masuk enam hari kerja, libur hari jumat. Untuk jam masuk dan istirahat juga kami
samakan dengan tenaga kerja yang ada di perusahaan kami yaitu 07.30-15.00
dengan waktu istirahat jam 12.00-12.30 untuk sholat dan makan siang”.

Purwanto mengemukakan tentang jam kerja siswa yang ada di Oval Jati “ mereka
(siswa) kami samakan dengan pekerja kami di sini dengan tujuan membentuk
kedisiplinan dan tanggung jawab mereka dalam bekerja. Kami menerapkan jam
kerja mulai jam 08.00-16.00 dengan jam istirahat jam12.00-13.00 untuk makan
siang dan sholat. Untuk hari libur hari minggu selebihnya masuk sesuai jadual jam
kerja “.

N. Sandi menjelaskan tentang pelaksanaan Prakerin siswa SMK N 2 Jepara di


Dian Jati Antika “ jadual kerja siswa sama dengan karyawan kami lainnya agar
mereka terbiasa dengan lingkungan kerja yang akan mereka hadapi saat mereka
lulus dan bekerja nantinya. Hari libur minggu selebihnya mereka masuk sesuai
jam kerja. Untuk jam kerja mulai dari jam 08.00-16.00 dengan jam istirahat siang
jam 12.00-13.00”.

Sebelum pelaksanaan Prakerin di industri, siswa kelas III kriya kayu

memperoleh pembekalan Prakerin yang berisi tentang materi-materi dengan

tujuan untuk memberikan gambaran tentang kegiatan mereka saat di industri dan

juga tentang norma-norma dan aturan selama pelaksanaan serta manajen

perusahaan dan keselamatan kerja. Pembekalan dilaksanakan di sekolah dalam

dua hari dengan materi dari perwakilan industri yang ditunjuk dan guru pengajar.

Purwanto mengemukakan “meteri yang diberikan pada siswa saat pembekalan


Prakerin bertujuan memberitahukan pada siswa tentang aturan dan norma yang
56

berlaku selama mereka (siswa) melaksanakan Prakerin di industri dan mengetahui


sanksi bila aturan tersebut dilanggar serta manajemen dan keselamatan kerja di
industri”.

Drs. Basuki menambahkan “pembekalan dilaksankan selama dua hari sebelum


siswa diberangkatkan ke industri, pihak sekolah mendatangkan tutor dari
perwakilan industri yang tahun ini diwakili oleh Oval Jati dengan materi seputar
gambaran tentang pelaksanaan Prakerin di industri dan cara pengisian laporan
kegiatan selama Prakerin”.

Setelah memperoleh pembekalan di sekolah siswa Kriya Kayu

diberangkatkan ke industri atau perusahaan tempat mereka melaksanakan

Prakerin. Pada tahun 2007 ada 31 DUDI yang menjalin kerja sama dengan SMK

N 2 Jepara diantaranya Dhian Jati Antika, Oval Jati dan Cipta Antiq. Daftar

industri yang bekerja sama dalam pelaksanaan Prakerin tahun ajaran 2006/2007

dapat dilihat pada lampiran.

Pelaksanaan Prakerin di SMK N 2 Jepara menggunakan sistem separo-

separo yang diadopsi dari sistem blok release. Penggunaan sistem separo-separo

bertujuan untuk memperoleh tingkat ketercapain penguasaan materi yang sesuai

tuntutan kurikulum. Sistem separo-separo dilaksanakan dengan mengikuti jam

kerja perusahaan / industri yang mereka tempati selama Prakerin selama dua bulan

penuh, setelah masa tersebut selasai maka siswa dikembalikan pada pihak

sekolah. Pada tahun ini SMK N 2 Jepara membagi siswa Prakerin dalam dua

tahap pemberangkatan dengan pola pelaksanaan (perhatikan gambar 4.2)


57

I II III
(1) (1) (1)

(2) (2) (2)

(3a) (3a) (3a)

(3b) (3b)
(3b)
(3c)
(3c)

Pembekalan Kemampuan Produktif di Dunia Usaha/ Industri dilaksanakan


mulai tahun ketiga yaitu pada semester pertama, tahap I (24 juli – 23
September 2006), tahap II (2 Novemberber – 2 Januari 2007) sedang
Kemampuan Dasar Kejuruan sepenuhnya dilaksanakan di sekolah.

Gambar 4.2
Pola Pelaksanaan Prakerin yang diterapkan SMK N 2 Jepara

Keterangan : (1) kemampuan normatif, (2) kemampuan adaptif, (3a) teori


kejuruan, (3b) praktik dasar kejuruan dan (3c) praktik keahlian
produktif,

: Sekolah : Industri/ Dunia Usaha

Drs. Sunarto menjelaskan “Prakerin dilaksanakan dengan sistem separo-separo


yang mengacu pada sistem block hal ini dikarenakan siswa dibuat dari dua tahap
dimana dibagi antara pelaksanaaan pembelajaran di sekolah dengan Prakerin di
Industri, pada masing-masing tahap melaksanakan Prakerin selama 2 (dua) bulan
penuh di perusahaan. “

Siswa mulai melaksanakan Prakerin mulai kelas III pada semerter awal,

yang terbagi menjadi dua tahap. Siswa tahap I diberangkatkan ke industri untuk

melaksanakan Prakerin dan siswa tahap II masih di sekolah untuk mengikuti

pembelajaran seperti biasa, demikian juga sebaliknya siswa tahap I kembali ke

sekolah untuk mengikuti pembelajaran sedangkan siswa tahap II berangkat

Prakerin di Industri. Untuk siswa tahap I diberangkatkan ke industri tanggal 24


58

Juli 2006 dan ditarik pada tanggal 23 September 2006, sedangkan untuk siswa

tahap II diterjunkan tanggal 2 November 2006 dan ditarik kembali ke sekolah

tanggal 2 Januari 2007. Achmad Abid dan Afif Januri diberangkatkan ke Cipta

Antiq tanggal 24 Juli 2006 dan ditarik tanggal 23 September 2006, sedangkan Ali

R dan Ardiana F.R. diberangkatkan ke Cipta Antiq tanggal 2 November 2007 dan

ditarik kembali ke SMK tanggal 2 Januari 2007.

Siswa mulai bekerja sejak hari pertama mereka berada di industri dengan

bimbingan dan arahan dari pembimbing lapangan yang telah disediakan pihak

industri dimana siswa melaksanakan Prakerin. Pembimbing lapangan di Oval Jati

adalah Purwanto yang membimbing Budi Ari dan Miftahul A. pada tahap II,

untuk tahap I Oval Jati tidak membimbing siswa SMK karena tidak ada siswa

yang Prakerin

H. Wasiun menjelaskan “ setelah siswa datang ditempat kami, kami sudah siap
dengan pembimbing lapangan yan professional yan bertugas untuk mengarahkan
kerja siswa dan membantu mengatasi masalah dalam bekerja siswa selama siswa
berada di industri melaksanakan Prakerin”.

Purwanto mengemukakan “dalam melaksanakan tugasnya siswa di tempat kami


bekerja sendiri-sendiri, namun tidak menutup kemungkinan sekiranya siswa
mengalami kesulitan dalam mengerjakan pekerjaannya maka ia bisa dibantu oleh
temannya ataupun dari pihak pembimbing lapangan”.
59

Gambar 4.3
Siswa Kriya Kayu Saat Pelaksanaan Prakerin

Tempat pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) siswa keahlian

Kriya Kayu SMK N 2 Jepara bergerak di bidang mebel dan furniture serta ukir /

pahat. Mereka diberikan kesempatan untuk mengikuti semua kegiatan selama

mereka di industri jadi siswa tidak hanya melakukan pekerjaan diproses finishing

kasar atau mengamplas saja.

Gambar 4.4
Kegiatan Siswa Selama Pelaksanaan Prakerin
60

Gambar 4.5
Ukiran Meja Bundar Hasil Karya Siswa Selama Prakerin

N. Sandi mengungkapkan “siswa yang melaksanakan Prakerin dilibatkan dalam


segala kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak industri walaupun keikut sertaan
mereka pada suatu proses pekerjaan terbilang kecil, namun mereka tetap
dilibatkan dengan tujuan siswa mendapakan pengalaman”.

Bapak Purwanto menambahkan “siswa yang berada ditempat kami, kami berikan
tugas dan keluasaan untuk mendesain ukiran sampai proses finising. Kami percaya
karena sebelum pelaksanaan Prakerin siswa yang ada di sini sudah bekerja di sini
pada kegiatan ngenger yang sifatnya sebagai ektra dari sekolah”.

Dalam pelaksanaan Prakerin siswa tidak ditarjetkan harus menyelesaikan

pekerjaan, namun mereka disarankan dan dibimbing oleh pembimbing lapangan

untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan. Ini bertujuan agar siswa

mempunyai tanggung jawab dalam bekerja dan tidak menyepelekan suatu

pekerjaan yang diberikan padanya.

Hambatan yang terjadi selama pelaksanaan Prakerin adalah adaptasi siswa

dengan lingkungan industri yang baru ditenpati, namun tidak terlalu dirasakan

oleh pihak industri maupun siswa yang sudah mengenal dunia industri dengan

kegiatan ngenger. Kegiatan ini diwajibkan oleh SMK N 2 Jepara pada siswa sejak

mereka kelas I dengan tujuan untuk mendidik dan menambah pengalaman siswa,
61

namun walaupun bersifat wajib ngenger tidak masuk dalam draf kurikulum SMK.

Dengan siswa mengikuti ngenger, saat siswa melaksanakan Prakerin maka

hambatan yang terjadi saat pelaksanaan Prakerin tidak terlalu dirasakan oleh siswa

dan pihak industri.

Purwanto mengemukakan “kami merasa tidak ada hambatan yang menggangu


pelakasanaan Prakerin, karena siswa sudah bisa beradaptasi di industri dengan
ngenger. Disini kami membimbing dua orang siswa yang hasil ukirannya sudah
terbilang bagus karena sejak kelas I mereka sudah ngenger di sini”.

H.Wasiun menjelaskan “tidak ada hambatan dalam segi kemampuan siswa


mengerjakan tugas yang kami berikan, hambatan yang terbesar adalah adaptasi
awal siswa di sini karena siswa yang Prakerin disini dulu tidak melaksanakan
ngenger disini”.

Bapak H.Wasiun menambahkan”walau demikian hanya dalam hitungan hari saja


siswa sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja disini, kejadian seperti itu
wajar dan tidak menjadikan hambatan yang berarti selama pelaksanaan Prakerin”.

Kegiatan monitoring yang dilakukan oleh pihak sekolah selama

pelaksanaan Prakerin hanya satu kali pada tiap tahapnya.

N. Sandi menjelaskan “selama pelaksanaan Prakerin ada guru yang memonitoring


siswa, namun itu hanya satu kali pada tiap-tiap tahapnya dan biasanya di
pertengahan waktu pelaksanaan Prakerin. Guru tersebut mengecek daftar hadir
siswa dan kondisi siswa serta menyerahkan format sertifikasi siswa kepada kami”.

Afif mengungkapkan “sejak kami diterjunkan ke industri, baru kali ini ada guru
yang datang untuk mengecek kondisi kami dan mengarahkan pengisian laporan
kegiatan dan jurnal”.
62

Gambar 4.6
Proses Monitoring Siswa di Industri oleh Tim Monitoring Sekolah

Evaluasi siswa dilaksanakan oleh pembimbing lapangan di industri tempat

pelaksanaan Prakerin. Bentuk evaluasi yang dilaksanakan di industri bukan

tertulis namun dalam bentuk penilaian kinerja siswa dalam mengerjakan suatu

bahan menjadi produk jadi. Kompetensi yang dinilai disesuaikan dengan proses

produksi yang dijalankan oleh suatu perudahaan. Misal untuk perusahaan yang

bergerak dibidang mebel, kompetensi yang dinilai antara lain adalah kerja bangku

dan kerja mesin.

Budi Ari menjelaskan “evaluasi dilakukan pada setiap hasil dan sikap kerja siswa
selama bekerja di industri / perusahaan yang dicantumkan pada jurnal kegiatan
yang siswa miliki, jurnal tersebut diisi setiap harinya oleh siswa mengenai
pekerjaan yang mereka kerjakan kemudian menjelang pulang dikumpulkan pada
pembimbing lapangan untuk diperiksa dan dilakukan penilaian dari pekerjaan
yang telah siswa lakukan kemudian dievaluasi secara keseluruhan pada waktu
akan penarikan”.

Dari hasil evaluasi tersebut nantinya akan dimasukan ke dalam sertifikat dari

pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin).


63

Drs. Sunarto mengatakan, “nilai yang ada disertifikat tersebut diberikan oleh
industri / perusahaan yang siswa tempati dengan ditandatangani oleh Majelis
Sekolah dan pihak industri / perusahaan itu sendiri, adapun maksud dari
pemberian sertifikasi ini yaitu agar siswa mendapat pengakuan dari masyarakat
tentang keahlian yang mereka miliki”.

4.1.4 Kemanfaatan Pelaksanaan Prakerin

Manfaat yang dirasakan oleh siswa selama pelaksanaan Prakerin adalah

tambahan pengalaman, peningkatan kualitas karya mereka dan yang paling

penting pada akhirnya setelah uji kompetensi mereka mendapatkan sertifikat

tentang keahlian yang mereka miliki. Tambahan pengalaman dirasakan siswa

yang dulu ngenger di industri yang bergerak dibidang berbeda dengan industri

yang digunakan untuk Prakerin, misalnya yang terjadi pada Krisyadi yang dulu

ngenger di industri ukir sekarang melaksanakan Prakerin di Cipta Antiq yang

bergerak dibidang mebel dan furniture. Untuk Hanif siswa yang melaksanakan

ngenger dan Prakerin di Oval Jati, peningkatan kualitas karya yang dihasilkan

jelas dirasakan karena sudah terlatih untuk menghasilkan suatu produk ukir yang

semakin berkualitas. Uji kompetensi akan dilaksanakan setelah siswa kembali ke

SMK N 2 Jepara dan harus mampu menghasilkan suatu produk jadi.

Budi Ari siswa yang melaksanakan Prakerin di Oval Jati mengungkapkan “selama
pelaksanaaan Prakerin kami mendapatkan tambahan pengalaman ya walaupun
kami sudah dapatkan saat kami ngenger disini, namun saat kami ngenger tidak ada
nilai yang kami dapat karena ngenger sifatnya jam tambahan diluar sekolah. Di
pelaksanaan Prakerin setelah uji kompetensi kami akan mendapakan pengakuan
dari masyarakat tentang keahlian yang kami miliki dalam bentuk sertifikat yang
penilainya melibatkan industri yang bonavit di masyarakat”.

Afif Januri mengungkapkan “kami merasa mendapatkan tambahan pengalaman


selama kami berada di Cipta Antiq terutama mengenai meubel, sebab dulu kami
ngenger di ukir jadi ya jelas kami dapat pengalaman yang sangat berharga disini”.
64

Ardian siswa yang Prakerin di Dian Jati Antika menambahkan “selain


pengalaman yang baru dengan dunia kerja yang baru kami juga akan mendapatkan
sertifikat setelah pelaksanaan Prakerin dan uji kompetensi”.

Bagi pihak sekolah selain dapat melaksanakan program link and match

yang dianjurkan pemerintah untuk pelaksanaan pendidikan di Indunesia juga

menjadi tolak ukur untuk pelaksanaan Prakerin ditahun-tahun yang akan datang.

Program link and match dianjurkan oleh pemerintah untuk semua jenjang

pendidikan di Indonesia denga tujuan untuk menjalin kerja sama antara dunia

pendidikan dan dunia kerja yang nantinya akan menyerap lulusan dari dunia

pendidikan. Dengan adanya pelaksanaan Prakerin tahun 2007 akan menjadi tolok

ukur kesuksesan pelaksanaan Prakerin di tahun-tahun yang akan datang. Pada

pelaksanaan Prakerin tahun 2007 untuk proses monitoring siswa yang dilakukan

dari pihak sekolah hanya dilakukan satu kali pada setiap tahapnya, ini akan

menjadi perhatian khusus pada tahun-tahun yang akan datang.

Drs. Sunarto menjelaskan “dengan dilaksanakan Prakerin selain kami bisa


mewujudkan program link and match yang dicanangkan pemerintah, kami juga
dapat mempersiapkan untuk pelaksanaan prakerin pada tahun-tahunyang akan
dating dengan tolok ukur pelaksanaan Prakerin tahun ini”.

Drs. Sunarto menambahkan “dengan pelaksanaan Prakerin diharapakan akan


mencetak lulusan SMK yang berkualitas dan mempunyai skill yang baik”.

Drs. Suyoto menuturkan “pelaksanaan Prakerin dari tahun ke tahun jelas


membawa dampak yang positif untuk semua pihak, untuk anak-anak mereka
mendapatkan mengalaman secara langsung kerja di sebuah industri dengan
tanggung jawab yang harus dipenuhi, dan di akhir pelaksanaan Prakerin siswa
akan mendapatkan sertifikat yang bertujuan untuk memberikan pengakuan hasil
karya dan skill yang dimiliki siswa. Untuk industri dengan semakin banyak tenaga
terdidik dengan skill yang bagus hasil dari pelatihan-pelatihan (salah satunya
dengan pelaksanaan Prakerin) maka pihak industri tidak sulit mendapatkan tenaga
keja yang berkualitas tinggi, selain itu industri bisa membantu meningkatkan
SDM dengan memberikan tambahan untuk penyusunan kurikulum yang sesuai
dengan kebutuhan pasar industri. Sedangkan untuk pihak sekolah, dengan
65

pelaksanaan Prakerin tahun ini akan menjadikan tolok ukur ksuksesan


pelaksanaan Prakerin tahun depan”.

Drs. Asy Ari menjelaskan “ selain untuk terjapainya tujuan dari link and match
yang ditetapkan Diknas, dengan pelaksanaan Prakerin pihak sekolah bisa menjadi
fasilitator bagi siswa kami dalam hal berkarya dan mendapatkan pengakuan public
tentang kualitas yang dimiliki oleh siswa”.

Bagi dunia usaha / industri pelaksanaan Prakerin selain untuk membentuk

lulusan yang berkualitas juga untuk mendapatkan tenaga kerja yang siap dan

terampil yang bisa diperoleh dari lulusan SMK yang berpengalaman setidaknya

sudah pernah bekerja dan beradaptasi dengan lingkungan kerja.

H. Wasiun dari Cipta Antiq menjelaskan “kami merasa senang bisa membantu
pelaksanaan pendidikan di Indonesia khususnya SMK dalam menghasilkan
lulusan yang berkualitas yang siap terjun di dunia industri denagn skill yang ia
miliki”.

Ditambahkan oleh H. Wasiun “selain bisa membantu pihak SMK dalam hal mutu
pendidikan, kami pihak industri pun nantinya akan diuntungkan karena
mendapatkan tenaga kerja dengan kualitas pendidikan dan skill yang bagus
sehingga bisa meningkatkan mutu dan kualitas dari hasil produk perusahaan”.

N. Sandi dari Dian Jati Antika mengutarakan “kami merasa senang bisa
membantu pihak SMK mencetak lulusan yang berkualitas dan punya keterampilan
yang bagus”.

Purwanto pemilik Oval Jati menjelaskan “selain ikut membantu mencetak lulusan
yang berkualitas, kami juga nantinya yang akan di untungkan karena mendapatkan
tenaga kerja lulusan SMK yang berpendidikan dan mempunyai keterampilan yang
bagus yang nantinya membawa keuntungan dalam proses produksi”.

4.2 PEMBAHASAN

Dalam pelaksanaan pendidikan di SMK sepenuhnya menjadi kewenangan

dari pihak sekolah sebagai penanggung jawab dari hasil pelaksanaan pendidikan,

namun peranan industri juga menjadi hal yang patut dipertimbangkan. Peranan

dunia usaha dan industri berkaitan dengan materi / kurikulum yang diterapkan
66

dengan tujuan akhir memberikan materi pada siswa sesuai kebutuhan tenaga kerja

yang ada di industri (pasaran). Pada kurikulum SMK tahun 2004 yang diterapkan

pada siswa kelas III keahlian Kriya Kayu SMK Negeri 2 Jepara meliputi pelajaran

normatif, adaptif, produktif yang di dalamnya terdapat pelajaran praktik. Dalam

setiap jenis materi pembelajaran di dalamnya mempunyai tujuan, untuk

pembelajaran normatif bertujuan agar siswa dapat bersikap positif, bertutur

bahasa yang halus serta menghargai orang lain. Pembelajaran adaptif bertujuan

untuk membentuk peserta didik sebagai indifidu yang memikili dasar pengetahuan

yang luas dan kuat untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan perubahan

yang terjadi di lingkungan sosial, lingkungan kerja, serta mampu mengembangkan

diri sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Pembelajaran produktif yang meliputi teori dasar dan praktik mempunyai tujuan

membekali siswa secara teori tentang bidang keahlian yang dipelajari dan

memberikan pengalaman pada siswa karena tanpa praktik siswa tidak akan pernah

tahu bagaimana prases pangolahan suatu bahan menjadi barang yang berkualitas

untuk menjadi bekal ketika masuk ke dunia industri nantinya.

Hal tersebut sudah sesuai dengan konsep Prakerin pada SMK di Indonesia

mengenai materi pembelajaran yang dipelajari di sekolah meliputi;

(1) komponen Pendidikan Umum (Normatif ); dimaksudkan untuk membentuk

peserta didik menjadi warga negara yang baik, yang memiliki watak dan

kepribadian sebagai warga Negara dan Bangsa Indonesia; (2) komponen

Pendidikan Dasar (Adaptif); untuk memberi bekal penunjang bagi penguasaan

keahlian profesi dan bekal kemampuan pengembangan diri untuk mengikuti


67

perekembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; dan (3) komponen Pendidikan

dan Pelatihan Kejuruan; berisi materi yang berkaitan dengan pembentukan

kemampuan keahlian tertentu sesuai program keahlian masing-masing untuk

bekal memasuki dunia kerja, dengan subkomponen : (a) teori kejuruan; untuk

membekali pengetahuan tentang teori kejuruan bidang keahlian yang

bersangkutan, dan (b) praktik dasar kejuruan; yaitu berupa latihan dasar untuk

menguasai dasar-dasar teknik bekerja secara baik dan benar sesuai dengan

persyaratan keahlian profesi.

Selain pembelajaran yang bersifat kejuruan yang mencetak lulusan

berkualitas dan mempunyai skill yang tinggi, disisi lain siswa juga diharapkan

mempunyai etika dan moral yang baik untuk mendukung kelancaran dalam

beradaptasi dengan lingkungan. Jadi dalam hal ini bukan hanya proses dan hasil

kerjanya yang berkualitas namun siswa juga harus pandai beradaptasi dan santun

dalam tutur kata. Sebagaimana kita jumpai dalam lingkungan modern sekarang

ini, banyak orang berkulitas / pandai namun tata krama dan sopan santun dalam

berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya sangat rendah. Oleh karena itu

faktor kesopanan dalam berbahasa memegang peranan yang sangat penting untuk

pembentukan karakter dan adaptasi dengan lingkungan. Ini perlu mendapatkan

prioritas utama dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah yang berhubungan

langsung dengan siswa. Pembinaan dan pendidikan moral menjadi hal yang harus

diperhatikan dan diberikan pada siswa disegala jenjang pendidikan di Indonesia.

Pembinaan melalui pendidikan etika dan moral dalam lingkungan

pendidikan menjadi tanggung jawab bagi semua komponen pengajar mulai dari
68

Kepala Sekolah, guru BP, guru-guru pengajar bahkan tenaga administrasi yang

bertugas memberikan pelayanan bagi siswa. Dalam kurikulum 2004 untuk

pendidikan moral dan etika sudah menjadi bagian dari kurikulum itu sendiri,

namun pada prinsipnya peranan yang sangat penting adalah contoh konkret yang

diberikan oleh semua komponen pengajar beserta tenaga administrasi dalam sikap

dan tingkah laku serta ucapan yang santun dan baik dalam keseharian.

Sekolah sebagai pihak yang bertanggung jawab akan kualitas dari lulusan,

selain memberikan pendidikan moral dan etika juga memberikan pendidikan yang

sifatnya penunjang kemampuan produktif bagi siswa. Untuk kriya kayu menerima

pelajaran mempersiapkan suatu program untuk mendesain suatu produk dalam 2

dan 3 dimensi, sebagai penunjang siswa harus menguasai teknik pengoprasian

komputer, dalam hal ini sebagai penunjang adalah pelajaran KKPI (Keterampilan

Komputer dan Pengolahan Informasi).

Media dan metode pengajaran yang digunakan dalam pembelajaran

tersebut menurut hasil penelitian yaitu; untuk pembelajaran normatif memakai

media berupa buku cetak, CD pembelajaran, kapur, papan tulis, serta memakai

metode ceramah, tanya jawab, diskusi kelompok, mendengarkan suatu

pembahasan dan pekerjaan rumah.

Media dan metode yang diterapkan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia

masih kurang efektif. Ketika menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskusi

kelompok, penugasan mandiri dan mendengarkan suatu pembahasan tidak akan

membentuk karakter sopan santun siswa dalam berkomunikasi dengan

lingkungannya tanpa adanya praktik langsung yang berjalan di lingkungan


69

pendidikan. Hal ini sebenarnya bisa terbentuk jika ada penugasan mandiri yang

harus dikerjakan siswa dengan menggunakan tata bahasa yang baik, benar dan

sopan, misalanya dengan pemberian tugas untuk membuat surat permohonan

melaksanakan ngenger di industri dengan pertimbangan dari guru atau pembuatan

karya tulis ilmiah dengan bahasa baku yang sesuai dengan Ejaan Yang

Disempurnakan (EYD).

Pembelajaran adaptif pada pelajaran Keterampilan Komputer dan

Pengolahan Informasi (KKPI), media yang digunakan hampir sama dengan

pembelajaran normatif yaitu; buku cetak, kapur, papan tulis, audio visual,

peralatan praktikum dan modul dengan metode ceramah, tanya jawab, praktikum,

kerja kelompok dan mandiri. Adapun pada pembelajaran produktif mata pelajaran

membuat pola dengan acuan gambar kerja memakai media job sheet, gambar

kerja, buku panduan, bentuk-bentuk sambungan kayu, contoh hasil kerajinan serta

macam-macam jenis kayu dengan metode pembelajaran ceramah dan tanya jawab

pada teori dan praktek langsung pada praktiknya. Adapun tujuan dari penggunaan

media dan metode dari pembelajaran-pembelajaran tersebut yaitu untuk

mempermudah siswa dalam menyerap dan menguasai materi pelajaran yang

diberikan.

Tujuan utama dari proses pendidikan adalah transfer ilmu dan nilai-nilai

dari guru kepada peserta didik. Dalam pentransferan ini harus ada media dan

metode dimana proses transfer ilmu tersebut dapat dijalankan secara mudah.

Untuk SMK N 2 Jepara berdasarkan hasil penelitian sudah menyediakan sarana

untuk transfer ilmu tersebut berjalan dengan relatif mudah dan cepat walaupun
70

belum maksimal. Hal ini terjadi ketika siswa diajak ke perpustakaan saat jam

pelajaran berlangsung untuk memperhatikan CD pembelajaran yang

dipertontonkan oleh guru tentang bahan ajar yang akan dibahas. Melalui

tanyangan yang dipertontonkan tersebut sebuah proses belajar-mengajar menjadi

lebih mudah dan efisien. Bahkan siswa merasa lebih senang dan tidak

membosankan karena belajar dengan sistem audiovisual lebih menarik untuk

dikaji dan mudah dimengerti. Dengan sistem ini pun guru merasa lebih ringan

dalam menyampaikan suatu materi. Namun pada SMK N 2 Jepara belum semua

guru menggunakan media dan metode tersebut.

Kegiatan evaluasi atau penilaian dari pembelajaran tersebut sesuai dengan

hasil penelitian yaitu; untuk pembelajaran normatif dan adaptif evaluasi dilakukan

pada tiap satu atau beberapa pokok bahasan tergantung banyak sedikitnya materi

yang diberikan dan di akhir semester dengan berbagai model yang berupa tes

tertulis dengan bentuk pilihan ganda (multiple choice) dan atau essay, tes lisan, tes

perbuatan (performance) dengan standar kelulusan yang telah ditetapkan, bahwa

siswa tersebut dinyatakan lulus dalam menempuh pembelajaran normatif dan

adaptif jika nilai yang diperoleh minimal 7.00. Jika masih kurang dari nilai

minimal tersebut maka siswa yang bersangkutan akan diberi remidi berupa

pekerjaan rumah atau pekerjaan tambahan lainnya dengan tujuan untuk

menambah nilai yang kurang dari nilai minimal. Evaluasi pembelajaran produktif

hanya dilakukan pada tiap satu pokok bahasan dengan penilaian dilakukan

terhadap proses sampai hasil kerja / praktek siswa, kemudian di akhir semester

dirata-rata untuk mendapatkan nilai akhir dengan standar minimal nilai yang harus
71

diperoleh yaitu 7.00. Bila ada siswa yang mendapat nilai kurang dari 7.00 maka

siswa yang bersangkutan diharuskan membuat tugas mandiri hingga didapat nilai

minimal tersebut.

Kegiatan pelaksanaan evaluasi tersebut sudah sesuai dengan konsep

evaluasi pada pelaksanaan pendidikan di sekolah yaitu; evaluasi yang dimaksud

adalah tes untuk satu atau beberapa pokok bahasan dalam program normatif dan

adaptif, dan tes untuk setiap pencapaian suatu kompetensi tertentu dalam program

produktif. Kurikulum yang digunakan dari keseluruhan pembelajaran di atas yaitu

kurikulum SMK 2004 yang telah disempurnakan / dianalisis bersama DUDI

melalui kegiatan In House Training (IHT) kurikulum.

Tes pencapaian yang paling banyak digunakan adalah mengukur belajar

individu siswa. Tetapi untuk tujuan lain dapat juga digunakan untuk mengukur

efektifitas metode pembelajaran, materi dan instruktur. Dalam evaluasi formatif,

kita dapat menentukan materi apa yang telah dikuasai siswa, kesalahan apa yang

dibuat siswa, dan problem belajar apa yang dialami siswa. Karena tujuan utama

dari evaluasi formatif adalah mengidentifikasi problem belajar dan memodifikasi

pembelajaran untuk membantu siswa belajar, penugasan dan tes harus mengacu

pada content refference / citerion refference. Hal ini difokuskan pada penguasaan

siswa terhadap materi tujuan khusus, tidak membandingkan siswa dengan siswa

lain.

Untuk menunjang terlaksananya pendidikan di SMK yang diharapkan

mampu mencetak tenaga terdidik yang terampil maka selain pembelajaran yang

dilaksanakan di sekolah, SMK N 2 Jepara mewajibkan siswanya khususnya Kriya


72

Kayu untuk melaksanakan ngenger diluar jam pelajaran. Adapun sifat kegiatan

ngenger adalah ektrakulikuler yang wajib dilaksanakan siswa. Pada pelaksanaan

ngenger siswa tidak mendapatkan nilai dari segi pendidikan di sekolah karena

ngenger tidak masuk dalam kurikulum. Namun dengan pengalaman yang

didapatkan saat pelaksanaan ngenger siswa diharapkan dapat mengembangkan

pengetahuan yang didapat di sekolah untuk dikembangkan menjadi suatu karya

kreatifitas dan mendapatkan pengalaman bekerja di suatu industri.

Ngenger sebagai ekrakurikuler wajib bagi siswa Kriya Kayu SMK N 2

Jepara mempunyai pengaruh besar dalam pelaksanaan Prakerin di industri. Saat

pelaksanaan ngenger siswa mendapatkan pembimbingan dari pihak industri

tempat mereka melaksanakan ngenger. Proses pembimbingan mempunyai

peranan yang besar terhadap peningkatan kualitas skill siswa. Ketika siswa yang

mendapatkan pembimbingan yang bagus dari industri tempat mereka ngenger

maka tingkat kreatifitas siswa akan tercapai secara cepat dan maksimum. Namun

siswa yang mendapatkan pembimbingan yang kurang maksimal akan mengalami

peningkatan kualitas berkarya relatif lambat dan kurang maksimal. Walau

demikian tujuan utama dari pelaksanaan ngenger untuk memperkenalkan lebih

awal tentang dunia industri dan masalah yang terjadi di dalamnya kepada siswa

sudah tercapai. Jadi ketika siswa diberangkatkan ke industri untuk kegiatan

Prakerin siswa sudah mempunyai skill yang terarah dan pengetahuan cara-cara

bekerja di bawah bimbingan seorang pembimbing di industri.


73

Pembelajaran di SMK
1. Normatif Ekstrakulikuler Wajib
2. Adaptif Ngenger di Industri saat
3. Produktif kelas I dan II

Prakerin di Industri
saat kelas III semester I ( 3 Bulan)

Tamatan SMK yang


berkualitas

Gambar 4.7
Hubungan Ngenger dengan Pelaksanaan Kurikulum 2004

Selain pelaksanaan ngenger yang sifatnya ektrakulikuler wajib bagi siswa

saat kelas I dan II, SMK N 2 Jepara juga mengadakan pelitihan di dunia industri

yang disebut dengan pelaksanaan Prakerin (Praktik Kerja Industri) yang masuk

dalam kurikulum 2004 yang dilaksanakan pada saat siswa kelas III semester 1

(satu) selama kurang lebih 2 bulan. Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin)

akan berjalan lancar dengan hasil yang memuaskan membutuhkan suatu persiapan

yang matang baik dari sekolah sebagai penyelenggara kegiatan, industri sebagai

institusi mitra tempat pelaksanaan kegiatan Prakerin dan siswa sebagai subjek

yang melaksanakan kegiatan.

Untuk persiapan yang dilaksanakan SMK N 2 Jepara dalam pelaksanaan

Prakerin khususnya untuk mengkoordinasikan tempat pelaksanaan Prakerin sudah


74

cukup baik. Hal ini terbukti dengan adanya dua tahap yang terorganisir sebelum

pelaksanaan Prakerin siswa SMK N 2 Jepara yaitu tahap perencanaan dan tahap

persiapan yang telah terjadual ( dapat dilihat pada lampiran 9 ).

Pada pelaksanaan tahap perencanaan, SMK selaku penyelenggara kegiatan

Prakerin mengumpulkan data-data : (1) data potensial untuk tempat Prakerin

siswa, (2) lembar ketersediaan DUDI untuk bekerja sama, (3) lembar kesediaan

DUDI menerima siswa peserta Prakerin, (4) surat undangan sebagai tutor dalam

pembekalan Prakerin dapat dilihat pada lampiran.

Setelah data-data pada tahap perencanaan didapatkan, maka tahap

selanjutnya adalah tahap persiapan. Pada tahap persiapan SMK N 2 Jepara

mempersiapkan jadwal untuk terlaksananya pembekalan Prakerin yang bertujuan

untuk memberikan pengetahuan dasar saat siswa melaksanakan Prakerin di

industri (dapat dilihat pada lampiran 16). Saat pelaksanaan pembekalan

perwakilan dari DUDI menyampaikan materi tentang manajemenkerja dan

keselamatan kerja. Selain dari perwakilan dari industri, wali kelas sebagai wakil

dari SMK juga memberikan materi tentang etika dan tata tertib serta panduan

pengisian jurnal dan laporan kegiatan siswa selama Prakerin (dapat dilihat pada

lampiran). Sekolah juga menyiapkan surat tugas dan surat perjalanan dinas untuk

proses monitoring siswa oleh guru SMK (dapat dilihat pada lampiran). Pihak

SMK juga sudah menyiapkan format sertifikasi yang nantinya akan dibubuhi nilai

keterampilan siswa selama pelaksanaan Prakerin di industri, bentuk format

sertifikasi yang pernah diberikan (dapat dilihat pada lampiran). Selain

menyiapkan format sertifikasi, pihak SMK juga sudah merancang pelaksanaan uji
75

kompetensi yang melibatkan pihak industri yang dinilai bonafite oleh masyarakat

yang pelaksanaannya setelah siswa tahap I dan tahap II selesai melaksanakan

Prakerin di industri.

Selain SMK N 2 Japara, pihak industri yang sudah menjalin kerja sama

dan bersedia ditempati pelaksanaan Prakerin juga melakukan persiapan.

Walaupun hampir setiap tahunnya pihak industri sudah terlibat dalam pelaksanaan

Prakerin yang diselenggarakan pihak SMK N 2 Jepara, namun pihak industri tetap

mempersiapkan secara optimal untuk menerima siswa yang akan praktik di

perusahaannya. Hal ini berhubungan dengan hasil kerja siswa selama Prakerin di

perusahaan yang mereka kelola. Siswa akan berkembang kemampuanya jika

diberikan fasilitas yang bagus termasuk seorang pembimbing lapangan yang baik

dan berkualitas yang nantinya akan membantu mengarahkan segala aktifitas siswa

selama praktik di industri dan kepercayaan untuk berkreasi sesuai arahan yang

diberikan seorang pembimbing lapangan.

Setelah tahap perencanaan dan persiapan selesai maka siswa peserta

Prakerin akan diberangkatkan ke industri didampingi pembimbing dari sekolah.

Seperti yang terdapat dalam hasil penelitian, kegiatan ini dilaksanakan pada awal

semester satu kelas tiga selama waktu kerja dua bulan penuh di industri/

perusahaan atau disebut juga dengan sistem block (perhatikan tabel 4.1).

Pelaksanaan Prakerin di SMK N 2 Jepara Tahun 2006 / 2007 menggunakan sistem

separo-separo yang mengadaopsi sistem block release selama waktu dua bulan

penuh di industri/ perusahaan.


76

Sistem block mendekati ideal untuk diterapkan karena siswa akan lebih

berkonsentrasi pada pekerjaan mereka di lokasi Prakerin dan setelah dikembalikan

pada Sekolah mereka akan berkonsentrasi pada materi pembelajaran. Pengaturan

waktu kerja, waktu libur dan waktu istirahat diserahkan sepenuhnya ke pihak

industri/ perusahaan yang ditempati siswa peserta Prakerin. Pelaksanaan Prakerin

tahun pelajaran 2006 / 2007 ini dibagi dalam dua tahap pemberangkatan, tahap

pertama melaksanakan Prakerin di industri dan yang lainnya mengikuti pelajaran

di sekolah, setelah tahap pertama selesai lalu mengikuti pelajaran di sekolah,

kemudian tahap kedua melaksanakan Prakerin di industri / perusahaan ini dengan

tujuan agar pencapaian materi yang termasuk dalam draf kurikum tetap bisa

tersampaikan. Hal tersebut sedikit berbeda dengan beberapa pola pelaksanaan

yang terdapat dalam Konsep Pelaksanaan Prakerin pada SMK di Indonesia (lihat

tabel 4.1).

I II III
(1) (1) Pembekalan Kemampuan Produktif di Dunia
(1)
Usaha/ Industri dilaksanakan mulai tahun ketiga,
(2) (2) sedang Kemampuan Dasar Kejuruan sepenuhnya
dilaksanakan di sekolah.
(3a) (3a) (3c)

(3b) (3b)

Tabel 4.1
Model 1 Menurut Konsep Prakerin
77

I II III
(1) (1) (1) Pembekalan Kemampuan Produktif di Dunia Usaha/
Industri dilaksanakan mulai tahun ketiga yaitu pada
(2) (2) (2) semester pertama, ( tahap 1, 24 Juli – 23 September
2006 ), ( tahap 2, 2 November – 2 Januari 2007)
sedang Kemampuan Dasar Kejuruan sepenuhnya
(3a) (3a) (3a) dilaksanakan di sekolah.

(3b) (3b)
(3b)
(3c)
(3c)

Tabel 4.2
Model Prakerin SMK N 2 Jepara Tahun Ajaran 2006 / 2007

Keterangan : (1) Kemampuan Normatif, (2) Kemampuan Adaptif, (3a) Teori Kejuruan,
(3b)PraktikDasar Kejuruan dan (3c) Praktik Keahlian Produktif,

: Sekolah : Industri/ Dunia Usaha

Pada tabel 4.1 merupakan model pelaksanaan menurut konsep Prakerin

yang dikeluarkan oleh Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional (MPKN) yang

hampir sama dengan pola pelaksanaan Prakerin SMK N 2 Jepara pada tabel 4.2.

Pola tersebut (tabel 4.1) pada dasarnya kurang ideal diterapkan pada SMK N 2

Jepara karena bila diterapkan maka konsentrasi siswa pada pelaksanaan Ujian

Akhir Nasional (UAN) akan hilang sehingga nilai hasil UAN siswa akan jelek.

Hal tersebut disebabkan oleh waktu belajar mereka yang dihabiskan di industri/

perusahaan untuk menyelesaikan Prakerin. Menurut tabel 4.2, siswa

melaksanakan pelatihan di industri hanya pada sebagian waktu yang ada pada

tahun ketiga, sehingga sebagian waktu lagi bisa digunakan mereka untuk

mempersiapkan diri menghadapi UAN.


78

Dalam pelaksanaan Prakerin di industri, siswa SMK N 2 Jepara diberikan

kesempatan untuk berkreasi dan mengerjakan semua hal yang menyangkut proses

produksi walaupun dalam prosentase yang kecil dengan pengawasan dari

pembimbing lapangan.

Dari hasil penelitian membuktikan bahwa dalam pelaksanaan Prakerin di

industri sudah cukup baik karena materi pelatihan yang diberikan di industri sudah

sesuai dengan sebagian besar (lebih dari 75 %) dari materi pembelajaran yang

diberikan di sekolah walaupun tidak secara keseluruhan. Hal tersebut dikarenakan

pekerjaan yang diberikan menyesuaikan dengan kondisi industri tempat siswa

bekerja dan bidang usaha yang dijalankan industri.

Saat pelaksanaan Prakerin di industri, hambatan yang dirasakan adalah

proses adaptasi awal siswa dengan lingkungan industri dan proses monitoring

yang dilaksanakan pihak sekolah selama pelaksanaan Prakerin. Adaptasi siswa

dengan lingkungan industri tidak menggangu aktifitas produksi di industri karena

hanya terjadi pada hari-hari pertama siswa datang di industri dan hal tersebut tidak

menjadi kendala yang berarti dalam pelaksanaan Prakerin. Memonitor atau

monitoring adalah mengikuti atau mengawasi suatu kegiatan yang bertujuan

sebagai pengecekan (Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1976 : 654). Selama

pelaksanaan Prakerin, SMK N 2 Jepara hanya melakukan satu kali kegiatan

monitoring. Saat kegiatan monitoring, guru perwakilan dari sekolah melakukan

pengecekan keadaan siswa dan mengecek materi kegiatan siswa serta laporan

harian yang harus disusun siswa selama pelaksanaan Prakerin di industri.


79

Sedangkan pada saat penerjunan dan penarikan siswa guru hanya menyerahkan

dan menarik kembali siswa untuk dibawa ke sekolah. Dalam hal ini kegiatan

penerjunan dan penarikan tidak bisa dianggap sebagai suatu proses monitoring.

Dari pelaksanan Prakerin di industri siswa harus menyusun laporan

kegiatan dan membuat suatu produk yang sifatnya tugas akhir (TA). Pembuatan

tugas akhir (TA) dikerjakan dibengkel sekolah setelah jam-jam pembelajaran

melalui pengawasan guru mata diklat produktif dengan alokasi dana dari siswa

yang sudah terkumpul sejak siswa kelas I. karya siswa kan dipamerkan dengan

adanya gelar karya yang diadakan pihak sekolah untuk semua bidang keahlian

kriya yang ada di SMK N 2 Jepara. Untuk mengetahui hasil karya siswa Program

Keahlian Kriya kayu dapat diperhatikan pada lampiran.

Praktik Kerja Industri (Prakerin) yang dilaksanakan SMK N 2 Jepara

tahun ajaran 2006 / 2007 membawa manfaat baik untuk siswa, sekolah maupun

industri. Dari hasil penelitian, manfaat yang dirasakan siswa setelah pelaksanaan

Prakerin adalah pengalaman yang baru dan tambahan pengetahuan tentang

furnitur, meubel dan seni ukir serta ilmu-ilmu lain tentang kerajinan kayu yang

disesuaikan dengan bidang usaha industri tempat siswa melaksanakan Prakerin.

Bagi sekolah, pelaksanaan Prakerin selain menyelenggarakan kebijakan link and

macth, juga sebagai tolak ukur untuk pelaksanaan Prakerin tahun-tahun yang akan

datang. Bagi industri selain membantu SMK mencetak lulusan yang berkualitas,

juga memberikan kemudahan untuk mendapatkan tenaga kerja terdidik dengan

skill yang bagus.


BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Pembekalan kepada siswa mengenai ketrampilan praktek maupun teori

sebelum pelaksanaan Prakerin dilaksanakan melalui kerja sama antara SMK N 2

Jepara dengan dunia usaha dan industri. Demikian pula dengan kegiatan

identifikasi dan sosialisasi keterampilan yang dibutuhkan kepada siswa sebelum

pelaksanaan Prakerin. Hanya saja, materi dan bahan ajar dan metode penyampaian

masih harus dibenahi terutama untuk mata pelajaran pembentukan sikap dan

sopan santun. Bahan ajar yang berhasil adalah bahan ajar yang membuat siswa

bisa menerapkan dengan sikap dan sopan santun bahan yang diajarkan. Selain

pembelajaran yang ada di sekolah, ngenger juga mempunyai peranan dalam

pembentukan sikap dan sopan santun siswa khususnya saat berada di dunia

industri. Sikap dan sopan santun yang dimiliki siswa akan mempengaruhi tingkat

kedisiplinan dan kemampuan siswa dalam berkarya.

Persiapan yang dilaksanakan SMK N 2 Jepara dalam rangka pelaksanaan

Prakerin khususnya untuk mengkoordinasikan tempat pelaksanaan Prakerin dan

administrasinya sudah cukup baik. Hal ini terbukti dengan adanya dua tahap yang

terorganisir yaitu tahap perencanaan dan tahap persiapan. Pada tahap perencanaan,

SMK N 2 Jepara mengumpulkan data-data yang merupakan komponen penting

dalam persiapan pelaksanaan Prakerin. Pada tahap persiapan, SMK N 2 Jeparan

mempersiapkan untuk terlaksananya pembekalan siswa yang melibatkan pihak

80
81

industri dan termasuk mempersiapkan format sertifikasi yang akan diberikan

kepada siswa setelah pelaksanaan Prakerin. Selain SMK, industri sebagai institusi

mitra dalam pelaksanaan Prakerin juga melaksanakan persiapan. Persiapan yang

dilakukan indusri dimulai dari menyiapkan pembimbing lapangan dan pembagian

kerja serta sistem kerja yang akan diterapkan untuk siswa peserta Prakerin.

Persiapan yang dilakukan industri cukup baik.

Kepercayaan industri tentang keahlian siswa melalui kegiatan

pembelajaran di sekolah dan ektrakurikuler wajib ngenger sudah cukup baik, hal

ini terbukti dengan keleluasaan untuk mengerjakan suatu pekerjaan dari proses

awal sampai bahan menjadi suatu barang jadi walaupun kesemua kegiatan yang

dilaksanakan siswa masih dalam pengawasan dari pembimbing lapangan yang

disediakan DUDI. Kepercayaan industri kepada siswa juga dapat dibuktikan

dengan perekrutan siswa peserta Prakerin menjadi tenaga kerja di perusahaan

yang mereka pimpin setelah siswa lulus.

Pelaksanaan Prakerin di industri sudah cukup baik karena materi pelatihan

yang diberikan di industri sudah sesuai dengan sebagian besar (lebih dari 75 %)

dari materi pembelajaran yang diberikan di sekolah walaupun tidak sama persis.

Hal tersebut dikarenakan pekerjaan yang diberikan menyesuaikan dengan kondisi

industri tempat siswa bekerja dan bidang usaha yang dijalankan industri. Saat

pelaksanaan Prakerin di industri tidak ada kendala yang berarti, namun untuk

monitoring dari sekolah terhadap pelaksanaan praktik kerja siswa relatif kurang

yaitu hanya dilakukan sekali saja selama pelaksanaan Prakerin. Di samping itu

tidak adanya pembimbing siswa dari guru sekolah yang mengarahkan sekaligus

mengevaluasi siswa dalam pelaksanaan Prakerin di institusi pasangan.


82

Pelaksanaan Prakerin di SMK N 2 Jepara mempunyai nilai lebih bila

dibandingkan dengan SMK lainnya. Pada SMK lain setelah pelaksanaan Prakerin,

siswa hanya diwajibkan membuat laporan tetang kegiatan siswa selama Prakerin

di industri. Sedangkan pada SMK N 2 Jepara selain penyusunan laporan kegiatan

selama Prakerin, siswa juga diwajibkan menyelesaikan tugas akhir (TA) secara

individu dengan membuat suatu produk yang penyelesaiaannya di bengkel

sekolah setelah selesai pembelajaran. Manfaat yang dirasakan siswa setelah

pelaksanaan Prakerin adalah pengalaman yang baru dan tambahan pengetahuan

tentang furnitur, meubel dan seni ukir serta ilmu-ilmu lain tentang kerajinan kayu

yang disesuaikan dengan bidang usaha industri tempat siswa melaksanakan

Prakerin. Bagi sekolah, pelaksanaan Prakerin selain menyelenggarakan kebijakan

link and macth, juga sebagai tolok ukur untuk pelaksanaan Prakerin tahun-tahun

yang akan datang. Bagi industri selain membantu SMK mencetak lulusan yang

berkualitas, juga memberikan kemudahan untuk mendapatkan tenaga kerja

terdidik dengan skill yang bagus.

5.1 Saran

Untuk pihak SMK peneliti menyarankan untuk melakukan pembenahan

metode mengajar guru. Untuk metode ceramah, tanya jawab, tugas kelompok

tidak akan efektif bila tidak ada penugasan dimana siswa harus mengembangkan

pengetahuan yang dimiliki siswa. Selain menyangkut metode belajar juga

disarankan agar frekuensi monitoring terhadap pelaksanaan Prakerin di industri/

perusahaan ditingkatkan. Di samping itu ada perlu pembimbing siswa dari SMK
83

dalam pelaksanaan Prakerin, hal ini bertujuan agar siswa lebih merasa

diperhatikan oleh pihak sekolah, sehingga mereka dapat dengan mudah

beradaptasi dan termotivasi untuk menguasai keterampilan sesuai dengan

kebutuhan lapangan.

Disarankan juga kedua belah pihak yang bekerjasama dalam pelaksanaan

Prakerin (SMK N 2 Jepara dan DUDI) perlunya pembenahan kurikulum dan

perangkatnya sebelum program Prakerin dan tetap menjaga keharmonisan dalam

rangka melaksanakan kebijakan link and macth yang menjadi kebijakan

pemerintah khususnya Dinas Pendidikan Nasional. Selain itu, disarankan agar

SMK N 2 Jepara tetap menerapkan ektrakulikuler wajib ngenger pada siswa setiap

angkatan. Hal ini dikarenakan ngenger mempunyai peranan yang besar untuk

mendukung terlaksananya Prakerin dan pembentukan karakter serta kreatifitas

siswa.
84

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. “ Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik “.


Jakarta : Rineka Cipta.

Bungin, Burhan. 2005. “ Analilisis Data Penelitian Kualitatif “. Jakarta : Raja


Grafindo Persada.

Dikmenjur. 2004. “ Kurikulum SMK Edisi 2004 “. Jakarta : Dikmenjur,


Depdiknas.

Depdiknas. 2007. “ Uji Kompetensi dan Sertifikasi Siswa SMK Pada Ujian
Nasional 2007 “. http://www.dikti.org. (diunduh 14 Mei 2007)

Depdikbud. 1993. Link and Match. http://www.pp2004.htm.(diunduh 11 Juni


2007)

Depdikbud. 1994. “ Konsep Sistem Ganda pada Pendidikan Menengah Kejuruan


di Indonesia “. http://www.smkn1cm.tripod.com/psg. (diunduh 15 Juni
2007)

Depdikbud. 1995. “ Pendidikan Sistem Ganda Strategi Operasional Link and


match pada Sekolah Menengah Kejuruan “.http://www.smkn22-jkt-sch-id.
(diunduh 16 Juni. 2007)

Moleong, Lexy J. 2005. “ Metodologi Penelitian Kualitatif “. Bandung : PT


Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Deddy. 2001. “ Metodologi Penelitian Kualitatif “. Bandung : PT


Remaja Rosdakarya.

Menteri Pendidikan Nasional. 2003. “ Undang-Undang Republik Indonesia


Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional “. Bandung :
CV. Citra Umbara.

Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional. 1996. “ Konsep Pendidikan Sistem Ganda


Pada Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia “. Jakarta : Depdikbud.

Sudjana, D. 2000. “ Strategi Pembelajaran Dalam Pendidikan Luar Sekolah “.


Bandung : Falah Production.
85

Santoso, Imam Budi. 2004. “ Persepsi Siswa Kelas III Terhadap Pelaksanaan
Pendidikan Sistem Ganda (PSG) Pada SMK Negeri 3 Semarang Tahun
Ajaran 2003/2004 “. Skripsi. Semarang : Fakultas Teknik Universitas
Negeri Semarang.

Sunaryo. 1996. “ Persepsi Dunia Industri Dalam Pelaksanaan Program Link And
Macth Pada Indikator Penyusunan Program, Penyusunan kurikulum, dan
Pelaksanaan Pendidikan SMK di Semarang ”. Skripsi. Semarang : Fakultas
Teknik Universitas Negeri Semarang.

Tim Penyusun. 2006. “ Panduan Penulisan Karya Ilmiah “. Semarang :


Universitas Negeri Semarang.

Team Pokja Prakerin. 2006. “ Buku Panduan Prakerin SMK N 2 Jepara Tahun
Pelajaran 2006/2007 “. Jepara: Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2
Jepara

UPT Program Pengalaman Lapangan. 2006. “Pedoman PPL Universitas Negeri


Semarang “. Semarang : Universitas Negeri Semarang.