Anda di halaman 1dari 40

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kurikulum 2013 sudah diberlakukan terbatas pada tahun

pelajaran 2013/2014, diharapkan mampu membangun sumber daya manusia

Indonesia yang lebih berkarakter. Undang-undang Republik Indonesia Nomor

20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa

pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara

aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Selanjutnya dalam rangka mencapai tujuan tersebut disusun standar pendidikan

nasional, terdiri atas: standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses,

standar sarana prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar

pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun

2013 tentang Standar Proses disebutkan bahwa setiap pendidik pada satuan

pendidikan berkewajiban menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran

(RPP) secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran

berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,

memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan

1
2

ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian

sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta

psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan pendidikan perlu

melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta

penilaian proses pembelajaran dengan strategi yang benar untuk meningkatkan

efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan.

Lampiran IV Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor

81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum

Pembelajaran, menyebutkan bahwa Strategi pembelajaran sangat diperlukan

dalam menunjang terwujudnya seluruh kompetensi yang dimuat dalam

Kurikulum 2013. Kurikulum memuat apa yang seharusnya diajarkan kepada

peserta didik, sedangkan pembelajaran merupakan cara bagaimana apa yang

diajarkan bisa dikuasai oleh peserta didik. Pelaksanaan pembelajaran didahului

dengan penyiapan RPP yang dikembangkan oleh guru baik secara individual

maupun kelompok yang mengacu pada Silabus.

Sedangkan Strategi penilaian disiapkan untuk memfasilitasi guru dalam

mengembangkan pendekatan, teknik dan instrumen penilaian hasil belajar dengan

pendekatan autentik. Penilaian memungkinkan para pendidik mampu

menerapkan program remedial bagi peserta didik yang tergolong pebelajar

lambat dan program pengayaan bagi peserta didik yang termasuk kategori

pebelajar cepat.

Pemerintah telah menetapkan pelaksanaan kurikulum 2013 secara

terbatas pada 1.270 SMA di 33 provinsi pada 295 kabupaten/kota mulai tahun
3

pelajaran 2013/2014 untuk kelas X. Untuk mendukung implementasi pelaksanaan

kurikulum tersebut pemerintah telah melatih instruktur nasional (master teacher),

guru inti dan guru sasaran serta menyediakan silabus, buku guru, dan buku siswa

untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, dan Sejarah. Sedangkan

untuk mata pelajaran lainnya diharapkan dapat memanfaatkan buku-buku yang

ada (dari kurikulum 2006 dan buku sebelumnya), mulai menerapkan

kurikulum 2013 mengacu pada silabus yang telah disediakan.

Untuk menyiapkan kemampuan guru dalam merancang dan

melaksanakan pembelajaran saintifik serta melakukan penilaiain autentik dan

menggunakan silabus sebagai acuan, perlu penjabaran operasional antara lain

dalam mengembangkan materi pembelajaran, mengembangkan langkah

pembelajaran serta merancang dan melaksanakan penilaian autentik. Oleh karena

itu diperlukan rambu-rambu yang bisa memfasilitasi guru secara individual dan

kelompok dalam mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran dalam

berbagai modus, strategi, dan model untuk muatan dan/atau mata pelajaran

yang diampunya.

Kenyataan di lapangan, pemahaman guru Produktif dalam penyusunan

RPP masih jauh dari harapan sebagaimana yang telah digariskan pada Kurikulum

2013, di antaranya: (1) Kreativitas dan inovasi guru Produktif relatif rendah; (2)

semua guru masih mengadopsi contoh RPP dari KTSP 2006; dimana masih

ditemukan ada standar kompetensi yang ada dalam standar isi belum ada di

dalam silabus; (3) Tujuan pembelajaran belum disusun secara logis artinya belum

disusun dari yang mudah ke yang sukar dan belum menunjukkan audience,
4

behavior, condition dan degree; (4) pada alur rencana pelaksaanaan pembelajaran

yang disusun belum berbasis pendekatan saintifik dan belum menunjukkan

tahapan kegiatan eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi, sehingga RPP yang dibuat

kurang bermakna; dan (5) Rencana penilaian autentik belum nampak, dan

sebagainya. Dengan demikian, RPP berbasis pendekatan saintifik yang dibuat

oleh guru kualitasnya masih rendah sehingga membutuhkan upaya-upaya

peningkatan mutu dan butuh bimbingan, pemotivasian serta arahan dari

kepala sekolah dan pengawas Sekolah.

Untuk memecahkan masalah ini penulis melakukan kajian melalui

kegiatan supervisi akademik yang harus dilaksanakan oleh kepala sekolah dan

pengawas terhadap guru Produktif untuk meningkatkan mutu RPP berbasis

pendekatan saintifik yang diharapkan. Setelah pelaksanaan supervisi ini

diharapkan RPP yang dibuat oleh guru kualitasnya lebih meningkat sehingga

proses pembelajaran lebih berbobot dan hasil belajar peserta didik lebih

meningkat.

B. Identifikasi Masalah

1. Apakah supervisi secara kelompok dapat meningkatkan kualitas RPP

berbasis saintifik?

2. Apakah supervisi secara individu dapat meningkatkan kualitas RPP berbasis

saintifik?

3. Apakah melalui supervisi akademik dapat meningkatkan kualitas RPP

berbasis saintifik?
5

4. Bagaimana cara membuat RPP berbasis saintifik yang berkualitas?

C. Rumusan Masalah

Berdasar latar belakang dan identifikasi masalah di atas penulis

merumuskan masalah sebagai berikut : Berapa besar peningkatkan kualitas RPP

berbasis saintifik melalui supervisi akademik guru-guru Produktif SMK Negeri 1

Sumberwringin tahun pelajaran 2017/ 2018?

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini mempunyai tujuan umum dan tujuan khusus.

1. Tujuan Umum :

Untuk meningkatkan kualitas implementasi Kurikulum 2013.

2. Tujuan Khusus :

Untuk meningkatkan kemampuan guru Produktif SMK Negeri 1

Sumberwringin dalam penyusunan RPP berbasis pendekatan saintifik yang

berkualitas.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis :

a. Mendapatkan teori baru tentang meningkatkan kualitas membuat

membuat RPP melalui pembinaan terprogram

b. Sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya.


6

2. Manfaat Praktis

a. Bagi siswa : meningkatkan prestasi

b. Bagi Guru : Meningkatkan Kinerja

c. Bagi Sekolah : Meningkatkan Kinerja SDM

d. Bagi Perpustakaan : Menambah Daftar Sumber Belajar


7

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Supervisi Akademik

Piet A. Sahertian (2010) berpendapat bahwa supervisi merupakan

sebuah upaya pemberian layanan kepada guru-guru baik secara individual

maupun secara kelompok, dengan tujuan memperbaiki pengajaran, termasuk

menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru

serta merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran dan metode serta

evaluasi pengajaran. Adapun yang dimaksud dengan supervisor adalah orang

yang berperan dalam memberi bantuan kepada guru-guru dengan cara

menstimulir guru-guru untuk mempertahankan suasana belajar mengajar yang

lebih baik. Di sisi lain, Ngalim Supervisi Akademik untuk Meningkatkan

Kompetensi Guru di SD Laboratorium UKSW (Suhandi Astuti)

Purwanto (2014) mendefinisikan supervisi sebagai suatu aktivitas

pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah

lainnya dalam melakukan pekerjaan secara efektif. Supervisi diartikan

sebagai bantuan yang berupa dorongan, bimbingan, dan kesempatan bagi

pertumbuhan keahlian dan kecakapan guru-guru yang diberikan oleh pemimpin

sekolah.

Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan diatas supervisi memiliki

makna pemberian layanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas guru dalam

proses pembelajaran dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas belajar siswa

7
8

yang dimulai dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan kegiatan

pembelajaran, mengevaluasi pembelajaran sampai melakukan refleksi. Selain

untuk meningkatkan kualitas pembelajaran supervisi bertujuan untuk

pengembangan sumber daya guru.

Selanjutnya, Suharsimi (2004) mengartikan supervisi akademik sebagai

suatu kegiatan yang dilakukan oleh pengawas dan kepala sekolah untuk

mengawasi serta meninjau pekerjaan guru.

Menurut Sudjana Nana dkk (2011), Supervisi akademik merupakan

fungsi pengawas berkenaan dengan aspek pelaksanaan tugas pembinaan,

pemantauan, penilaian dan pelatihan professional guru dalam (1) merencanakan

pembelajaran; (2) melaksanakan pembelajaran; (3) menilai hasil pembelajaran;

(4) membimbing dan melatih peserta didik, dan(5) melaksanakan tugas tambahan

yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja guru.

Oleh karena itu dalam pelaksanaannya, supervisi harus dilakukan secara teratur

dan berkesinambungan sehingga kualitas pembelajaran dapat meningkat.

Berkaitan dengan ruang lingkup supervisi akademik, Permendiknas no.

39 tahun 2009 menyebutkan bahwa ruang lingkup supervisi akademik meliputi:

1) membina guru dalam merencanakan, melaksanakan dan menilai proses

pembelajaran, 2) memantau pelaksanaan standar isi, 3) memantau pelaksanaan

standar proses, 4) memantau pelaksanaan standar kompetensi kelulusan, 5)

memantau pelaksanaan standar tenaga pendidik dan 6) memantau pelaksanaan

standar penilaian.

Berkaitan dengan tujuan supervisi, tujuan umum supervisi


9

pendidikan adalah memperbaiki situasi belajar mengajar, baik belajar para

peserta didik, maupun situasi mengajar guru. Piet A. Sahertian (2010)

berpendapat bahwa tujuan supervisi pendidikan adalah memberikan layanan

untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang dilakukan guru di kelas.

Dengan demikian, tujuan supervisi adalah memberikan layanan dan bantuan

untuk meningkatkan kualitas mengajar guru di kelas sehingga kualitas belajar

siswa dapat meningkat. Adapun menurut Wiles dan W.H. Burton sebagaimana

dikutip oleh Burhanuddin (2002), tujuan supervisi pendidikan adalah untuk

membantu mengembangkan situasi belajar mengajar ke arah yang lebih baik

melalui pembinaan dan peningkatan profesi mengajar. Secara lebih rinci dapat

dijelaskan sebagai berikut: 1) Meningkatkan efektivitas dan efisiensi belajar

mengajar,2) Mengendalikan penyelenggaraan bidang teknis edukatif di sekolah

sesuai dengan ketentuan-ketentuan dan kebijakan yang telah ditetapkan,3)

Menjamin agar kegiatan sekolah berlangsung sesuai dengan ketentuan yang

berlaku, sehingga berjalan lancar dan memperoleh hasil optimal,4) Menilai

keberhasilan sekolah dalam pelaksanaan tugasnya,5) Memberikan bimbingan

langsung untuk memperbaiki kesalahan, kekurangan, dan kesulitan yang

dihadapi serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi sekolah

sehingga dapat dicegah kesalahan yang lebih jauh.

Tujuan supervisi tidak hanya memperbaiki mutu mengajar guru, tetapi

juga membina pertumbuhan profesi guru dalam arti luas termasuk pengadaan

fasilitas yang menunjang kelancaran pembelajaran, serta meningkatkan kualitas

guru dalam hal pengetahuan, ketrampilan, evaluasi pengajaran, pemilihan dan


10

penggunaan metode mengajar.

Menurut W.H. Burton dan Leo. J. Bruckner (1955) sebagaimana dikutip

oleh Piet A.Sahertian (2010) fungsi utama supervisi adalah menilai dan

memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran.

Menurut Swearingen dalam Piet A Sahertian (2010), terdapat 8 hal yang

menjadi fungsi supervisi yakni sebagai berikut:1) Mengkoordinasikan semua

usaha sekolah,2) Memperlengkapi kepemimpinan sekolah,3) Memperluas

pengalaman guru-guru,4) Menstimulasi usaha-usaha yang kreatif,5) Memberi

fasilitas dan penilaian yang terus menerus,6) Menganalisis situasi belajar

mengajar,7) Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada setiap anggota

staf, dan 8) Mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan

mengajar guru-guru.

Sesuai dengan fungsinya, supervisi harus bisa mengkoordinasikan

semua usaha-usaha yang ada di lingkungan sekolah yang bisa mencakup usaha

setiap guru dalam mengaktualisasikan diri dan ikut memperbaiki kegiatan-

kegiatan sekolah. Dengan demikian perlu dikoordinasikan secara terarah agar

benar-benar dapat mendukung kelancaran program secara keseluruhan. Supervisi

ditujukan untuk menghasilkan perubahan manusia kearah yang dikehendaki,

kemudian kegiatan supervisi harus disusun dalam suatu program yang merupakan

kesatuan yang direncanakan dengan teliti dan ditujukan kepada perbaikan

pembelajaran. Supervisi pendidikan menghendaki agar proses pendidikan dapat

berjalan lebih baik efektif dan optimal yaitu lebih mempercepat tercapainya

tujuan, lebih memantapkan penguasaan materi, lebih menarik minat belajar


11

peserta didik, lebih baik daya serapnya, lebih banyak jumlah peserta didik yang

mencapai ketuntasan belajar, Supervisi Akademik untuk Meningkatkan

Kompetensi Guru di SD LaboratoriumUKSW (Suhandi Astuti) lebih mantap

pengelolaan administrasinya, lebih mantap pemanfaatan media belajarnya.

Menurut Suharsimi (2004) supervisi memiliki tiga fungsi yaitu fungsi

meningkatkan mutu pembelajaran, fungsi memicu unsur yang terkait dengan

pembelajaran, fungsi membina dan memimpin. Fungsi supervisi dalam

bidang evaluasi menurut Ngalim Purwanto (2014) adalah menguasai dan

memahami tujuan pendidikan dan menyimpulkan hasil-hasil penilaian

untuk mendapat gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan dalam

mengadakan perbaikan. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, penulis dapat

menyimpulkan bahwa inti dari fungsi supervisi pendidikan ditujukan untuk

perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran yang membantu tugas guru

dalam mengajar untuk mencapai keprofesionalitasan guru dalam

menunjang tujuan pembelajaran dan tujuan pendidikan yang efektif.

Menurut Bambang (2008), langkah-langkah kepala sekolah dalam

melakukan supervisi pendidikan di sekolah dasar adalah sebagai berikut:1) Tahap

persiapan, meliputi menyiapkan instrumen, jadwal,2) Tahap pelaksanaan,

meliputi pelaksanaan observasi dari kepala sekolah, 3) Tahap pelaporan, meliputi

mengidentifikasi hasil pengamatan pada saat observasi di kelas, menganalisis

hasil supervisi, mengevaluasi bersama antara kepala sekolah dan guru, membuat

catatan hasil supervisi yang didokumentasikan sebagai laporan,4) Tahap tindak

lanjut, meliputi mendiskusikan dan membuat solusi bersama, memberitahukan


12

hasil pelaksanaan kunjungan kelas, mengkomunikasikan kepada guru.

Berdasarkan pendapat di atas, prosedur pelaksanaan supervisi meliputi tahapan

perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut supervisi.

B. Kurikulum 2013

Sedangkan Pengertian Kurikulum 2013 itu sendiri ialah, sebuah

kurikulum yang terintegrasi, maksaud dari integrasi ini adalah sebuah kurikulum

yang mengintegrasikan Skill, Theme, Concepts, And Topic baik dalam

bentuk Within Sigle disciplines, Acrous several disciplines and Within

and Acrous Learners. dengan kata lain bahwa kurikulum 2013 ialah kurikulum

yang terpadu sebagai suatu konsep dapat dikatakan sebagai sebuah sistem atau

pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa disiplin ilmu untuk

memberikan pengalaman yang bermakna dan luas kepada peserta didik.

Dikatakan bermakna karena dalam kurikulum konsep terpadu, peserta

didik akan memahami konsep-konsep yang akan mereka pelajari itu utuh dan

realistis. Dikatakan luas karena yang akan mereka peroleh tidak hanya dalam satu

ruang lingkup disiplin saja melainkan semua lintas disiplin karena di pandang

berkaitan satu sama lain. (E. Mulyasa, 2013) Kurikulum 2013 lebih ditekankan

pada pendidikan karakter, terutama pada tingkat dasar, yang akan menjadi

pondasi bagi tingkat berikutnya. Melalui pengembangan kurikulum 2013 yang

berbasis karakter dan kompetensi, kita berharap bangsa ini menjadi bangsa yang

bermartabat, dan masyarakatnya memiliki nilai tambah (added value), dan nilai

jual yang bisa ditawarkan kepada orang lain di dunia, sehingga kita bisa bersaing,
13

bersanding dan bahkan bertanding dengan bangsa-bangsa lain dalam pencaturan

global. Hal ini di mungkinkan, kalau implementasi kurikulum 2013 betul-betul

dapat menghasilkan insan yang produktif, kreatif, inovatif, dan berkarakter.

Pendidikan karakter dalam kurikulum 2013 bertujuan untuk

meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan, yang mengarah pada budi

pekerti dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai

dengan standar kompetesi lulusan pada setiap satuan pendidikan. Melalui

implementasi kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi sekaligus berbasis

karakter, dengan pendekatan tematik dan kontekstual diharapkan peserta didik

mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya,

mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karater dan

akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

Dalam implementasi kurikulum 2013, pendidikan karakter dapat di

integrasikan dalam seluruh pembelajaran pada setiap bidang studi yang teradapat

dalam kurikulum. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-

nilai pada setiap bidang studi perlu dikembangkan, di eksplisitkan, dihubungkan

dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pendidikan nilai, dan

pembentuknan karakter tidak hanya dilakukan pada tataran kognitif, tetapi

menyentuh internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidiak karakter pada tingkat satuan pendidikan mengarah pada pembentukan

budaya sekolah/madrasah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi,

kebiasaan sehari-hari, serta simbul-simbul yang dipraktikkan oleh semua warga

sekolah/madrasah, dan masyarakat sekitarnya. Budaya sekolah/madrasah


14

merupkan ciri khas, karakter/watak, dan citra sekolah/madrasah tersebut di mata

masyarakat luas.

Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan dari

pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi dan KTSP. Pengembangan

tersebut mencangkup aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Beberapa

elemen yang mengalami perubahan dalam pengembangan Kurikulum 2013

adalah kompetensi lulusan, isi, struktur, proses pembelajaran, proses

penilaian, silabus, dan buku (Kemendikbud, 2014). Beberapa perubahan elemen

tersebut diharapkan dapat menyeimbangkan antara hardskill dan softskill .

1. Kompetensi lulusan, Standar Kompetensi Lulusan dalam Kurikulum 2013

diturunkan dari kebutuhan. Hal tersebut berbeda dengan Standar

Kompetensi Lulusan pada KBK maupun KTSP yang diturunkan dari

standar isi.

2. Standar Isi, dalam Kurikulum 2013 strandar isi diturunkan dari Standar

Kompetensi Lulusan melalui Kompetensi Inti yang bebas mata pelajaran.

sedangkan pada dua kurikulum sebelumnya standar isi dirumuskan

berdasarkan mata pelajaran (standar kompetensi lulusan mata pelajaran)

yang dirinci menjadi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata

pelajaran.

3. Struktur kurikulum, dalam Kurikulum 2013 terdiri dari dua kelompok

mata pelajaran wajib yang diikuti oleh seluruh peserta didik dan

kelompok mata pelajaran peminatan yang diikuti oleh peserta didik

sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan.


15

4. Proses pembelajaran, dalam Kurikulum 2013 pembelajaran berpusat pada

peserta didik melalui pendekatan saintifik. Penggunaan pendekatan saintifik

bertujuan meningkatkan krea tivitas peserta didik dengan cara berpikir logis

dalam proses belajar

5. Proses penilaian, penilaian dalam Kurikulum 2013 dilakukan untuk

menilai proses dan hasil. Penilaian dilakukan secara terus menerus atau

penilaian otentik. Penilaian mencangkup seluruh as pek, aspek pengetahuan,

sikap, dan keterampilan.

6. Silabus, dalam Kurikulum 2013 guru tidak perlu membuat silabus. Silabus

pada Kurikulum 2013 disiapkan oleh pemerintah.

C. Pendekatan Pembelajaran Saintifik

Pendeketan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi,

menguatan, dan melatari pemikiran tentang bagaimana metode pembelajaran

diterapkan berdasarkan teori tertentu.(Hamruni.2012). Oleh karena itu banyak

pandangan yang menyatakan bahwa pendekatan sama artinya dengan metode.

Pendekatan ilmiah berarti konsep dasar yang menginspirasi atau

melatarbelakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik

yang ilmiah. Pendekatan pembelajaran ilmiah (scientific teaching) merupakan

bagian dari pendekatan pedagogis pada pelaksanaan pembelajaran dalam kelas

yang melandasai penerapan metode ilmiah.

Pengertian penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak

hanya fokus pada bagaimana mengembangkan kompetensi peserta didik dalam


16

melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana mengembangkan

pengetahuan dan ketrampilan berpikir sehingga dapat mendukung aktifitas kreatif

dalam berinovasi atau berkarya. Menurut majalah forum kebijakan ilmiah yang

terbit di Amerika pada tahn 2004 sebagimana dikutip Wikipedia menyatakan

bahwa pembelajaran ilmiah mencakup strategi pembelajaran peserta didik aktif

yang mengintegrasikan peserta didik dalam proses berpikir dan penggunaan

metode yang teruji secara ilmiah sehingga dapat membedakan kemampuan

peserta didik yang bervariasi. Penerapan metode ilmiah membantu guru

mengidentifikasi perbedaan kemampuan peserta didik.

Pada penerbitan majalah selanjutnya pada tahun 2007 tentang Scientific

Teaching dinyatakan terdapat tiga prinsip utama dalam menggunakan pendekatan

ilmiah; yaitu: belajar peserta didik aktif, dalam hal ini termasuk inqury-based

learning atau belajara berbasis penelitian, cooperative learning atau belajar

berkelompok, dan belajar berpusat pada peserta didik. Assesment berati

pengukuran kemajuan belajar peserta didik yang dibandingkan dengan target

pencapian tujuan belajar.

Metode ilmiah merupakan teknik merumuskan pertanyaan dan

menjawabnya melalui kegiatan observasi dan melaksanakan percobaan. Dalam

penerapan metode ilmiah teradpat aktivitas yang dapat diobservasi seperti

mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi dan mengkomunikasikan

(Kemendikbud:2013)

Jadi pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses

pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif
17

mengkonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati

(untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah,

mengajukan atau merumuskan hipotesis, menumpulkan data dengan berbagai

teknik, menganlisis data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep,

hukum atau prinsip yang “ditemukan”. Pendekatan saintifik dimaksudkan

untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal,

memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi

bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah

dari guru. Oleh karena itu kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta

diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai

sumber melalui observasi dan bukan hanya diberi tahu(Kemendikbud.2013)

Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan

ketrampilan proses seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan,

menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan proses proses tersebut,

bantuan guru diperlukan. Akan tetapi bantuan guru tersebut harus semakin

berkurang dengan semakin bertambah dewasanya peserta didik atau

semakin tingginya kelas peserta didik.

Dari penjabaran di atas, maka pembelajaran dengan pendekatan saintifik

memiliki karakteristik sebagai berikut

1. Berpusat pada peserta didik.

2. Melibatkan ketrampilan proses sains dalam mengkonstruksi konsep,

hkum atau prinsip.

3. Melibatkana proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang


18

perkembangan intelek, khsusnya keterampilan berpikir tingkat tinggi peserta

didik.

4. Dapat mengembangkan karakter peserta didik.

Pendekatan saintifik disebut juga sebagai pendekatan ilmiah. Proses

pembelajaran dapat dipadankan dengan dengan suatu proses ilmiah. Karena itu

kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan saintifik dalam

pembelajaran. Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas perkembangan

dan pengembangan sikap, ketrampilan, dan pengetahuan peserta didik. Dalam

pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuan lebih

mengedepankan penalaran induktif (inductive reasoning) ketimbang penalaran

deduktif (deductive reasoning). Penalaran deduktif melihat fenomena umum

untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. Sebaliknya, penalaran

induktif menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih

luas. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian

spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum.

Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu

atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau

mengoreksi dan memadukan pengetahan sebelumnya. Untuk dapat disebut

ilmiah, metode pencarian (methode of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti

dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip

penalaran yang spesifik. Karena itu, metode ilmiah umumnya memuat

serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau eksperimen,

mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian memformulasi, dan


19

menguji hipotesis.

Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya

dibandingkan dengan pembelajaran tradisional. Hasil penelitian membuktikan

bahwa pada pembelajaran tradisional, retensi informasi dari guru sebesar 10

persen setelah 15 menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25

persen. Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, retensi informasi dari

guru sebesar lebih dari 90 persen setelah dua hari dan perolehan pemahman

kontekstual sebesar 50-70 persen (Daryanto.2014)

Pada hakikatnya, sebuah proses pembelajaran yang dilakukan di

kelas-kelas bisa kita dipadankan sebagai sebuah proses ilmiah. Oleh sebab

itulah, dalam Kurikulum 2013 diamanatkan tentang apa sebenarnya esensi dari

pendekatan saintifik pada kegiatan pembelajaran. Ada sebuah keyakinan

bahwa pendekatan Ilmiah merupakan sebentuk titian emas perkembangan dan

pengembangan sikap (ranah afektif), keterampilan (ranah psikomotorik), dan

pengetahuan (ranah kognitif) siswa. Adapaun langkah – langkah pembelajaran

dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel 3.1 : Tahapan Pembelajaran Saintifik


20

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan penelitian ini adalah Pendekatan penelitian kualitatif.

Pendekatan kualitatif mempunyai karakteristik sebagaimana dilakukan oleh

Sugiano, (dalam Harmini:2004)

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan Sekolah karena penelitian

ini dilakukan untuk memecahkan masalah di sekolah dan dilakukan sesuai dengan

langkah – langkah pada penelitian tindakan sekolah

B. Lokasi Penelitian

Penelitian tindakan sekolah ini di laksanakan di SMK Negeri 1

Sumberwringin yang beralat di Jalan Bata Indah, Sukosari Kidul,

Kec. Sumberwringin Kabupaten Bondowoso Jawa Timur. Adapaun alasan

memlihh lokasi tersebut karena penelitia adalah kepala MK Negeri 1

Sumberwringin

C. Waktu Penelitian

Penelitian tindakan sekolah ini di laksanakan selama 3 bulan yaitu pada

bulan September sampai dengan Nopember 2017 . adapun jadwal penelitian

dapat dilihat dalam:

20
20
21

Tabel 3.1 : Jadwal pelaksanaan Penelitian


Bulan / Minggu ke
No Kegitaan September Oktober Nopember
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Penyusunan Proposal x x
2 Mengajukan Ijin x
3 Merancang Penelitian Pada Siklus I x
4 Pelaksanaan Penelitian Siklus I x x
5 Refleksi Pelaksnaan pada Siklus I x
6 Merancang Penelitian pada Siklus II x x
7 Pelaksanaan Penelitian Siklus I x x
8 Refleksi Pelaksnaan pada Siklus I x
9 Menyusun Laporan Penelitian x x

D. Subyek Penelitian

Adapaun suyek penielitian tindakan sekolah ini adalah semua guru

Produktif Multimedia SMK Negeri pada tahun pelajaran 2017/2018

E. Sumber data

Sumber Data dalam penelitian tindakan kelas (PTS) ini adalah rencana

pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Produktif yang disusun oleh guru Produktif

pada semester ganjil Tahun pelajaran 2017/2018.

F. Teknik dan Alat pegumpul data

Teknik pembahasan dilaksanakan dari hasil Pelaksanaan Supervisi terdiri

dari komponen : 1) Persiapan pelaksanaan pembelajaran, 2) Apersepsi, 3).

Relevansi Materi dengan tujuan pembelajaran, 4) Penguasaan Materi, 5). Strategi

Pembelajaran yang digunakan, 6) Metode Pembelajaran yang digunakan, 7).


22

Media Pembelajaran yang digunakan guru, 8). Manajemen pengelolaan kelas, 9).

Pemberian motivasi, 10). Nada Suara dalam pembelajaran 11). Penggunaan

Bahasa , dan 12). Gaya atau sikap prilaku dalam pembelajaran. Untuk lebih jelas

pelaksanaan supervisi pembelajaran bisa di lihat seperti berikut :

Tabel 3.2 : Instrumen Supervisi Pembelajaran


KRITERIA KETERANGAN/
No URAIAN NO.
KEGIATAN PENILAIAN DESKRIPTOR
1 2 3 4 YANG MUNCUL
1. Persiapan:
a. Masuk kelas tepat waktu.
b. Mengabsen siswa.
c. Mengecek kebersihan dan tempat
duduk siswa.
d. Memeriksa kelengkapan alat
pembelajaran.
2. Apersepsi:
a. Menjelaskan kompetensi dasar dan
tujuan pembelajaran.
b. Menyampaikan cakupan materi dan
keterkaitannya dengan materi
sebelumnya.
c. Menyampaikan uraian
kegiatan/langkah kegiatan sesuai
silabus.
d. Menyampaikan cakupan materi
kaitannya dengan kondisi nyata/riil.
3. Relevansi materi dengan tujuan
pembelajaran:
a. Materi sesuai dengan tujuan
pembelajaran.
b. Materi diperkaya dengan
perkembangan terkini yang relevan.
c. Tersedia peta konsep (mind
maping) tujuan pembelajaran dan
materi ajar atau sejenisnya.
d. Materi disampaikan secara
sistematis sesuai tujuan
pembelajaran.
4. Penguasaan materi:
a. Tidak terpaku pada buku teks.
b. Mampu menjawab pertanyaan
23

siswa dan/atau menyelesaikan soal


tanpa keraguan.
c. Tidak diam sejenak atau bahkan
lupa ketika menjelaskan materi.
d. Mampu mengaitkan materi dengan
contoh nyata.
5. Strategi Belajar (eksplorasi, elaborasi,
dan konfirmasi):
a. Guru melakukan aktivitas tanya
jawab/diskusi/memperagakan
sesuatu atau sejenisnya untuk
menemukan hakikat materi yang
akan/sedang dibahas. (eksplorasi)
b. Guru memperdalam materi dengan
mengaitkan satu/beberapa materi
dengan materi sejenis untuk
memperluas wawasan
siswa.(elaborasi)
c. Guru melakukan serangkaian post-
test atau sejenisnya untuk
memastikan bahwa siswa
memahami materi yang telah
disampaikan. (konfirmasi)
d. Guru secara konsisten
melaksanakan tahapan eksplorasi,
elaborasi, dan konfirmasi sampai
akhir pelajaran.
6. Metode:
a. Metode variatif.
b. Metode sesuai tujuan pembelajaran.
c. Metode mampu mempermudah
materi.
d. Metode mampu mencapai
target/tujuan kegiatan.
7. Media:
a. Menggunakan media dan alat
pembelajaran.
b. Penggunaan media tepat
sasaran/sesuai tujuan.
c. Menggunakan media tanpa
hambatan teknis.
d. Media menarik perhatian.
8. Manajemen Kelas:
a. Kelas dalam kendali guru,
terpelihara sampai pembelajaran
24

selesai.
b. Mengatur posisi tempat duduk
siswa sehingga suasana belajar
menjadi kondusif.
c. Membimbing siswa secara
individual/kelompok.
d. Memberikan banyak kesempatan
kepada siswa untuk berpartisipasi.
9. Pemberian motivasi kepada siswa:
a. Memberikan penguatan atau
penghargaan (reward) kepada siswa
baik berupa kata-kata, sentuhan,
atau bentuk lainnya.
b. Melaksanakan penilaian selama
kegiatan berlangsung.
c. Mampu memberikan motivasi
dengan tepat.
d. Respon terhadap keadaan motivasi
belajar siswa dengan melakukan
aktivitas yang dapat meningkatkan
motivasi (kisah inspiratif, simulasi,
games, dll yang relevan dengan
materi ajar).
10. Nada dan suara:
a. Suara dapat didengar oleh seluruh
siswa di dalam kelas.
b. Memberikan penekanan khusus
pada kata/kalimat penting.
c. Suara berintonasi (tidak datar).
d. Artikulasi suara jelas.
11. Penggunaan bahasa:
a. Menggunakan bahasa Indonesia
yang baku (EYD).
b. Menghindari pemotongan kata yang
tidak perlu.
c. Menghindari pengulangan kata
yang sama dan/atau tidak perlu.
d. Menggunakan bahasa yang singkat
dan padat (tidak bertele-tele).
12. Gaya dan sikap perilaku:
a. Bertutur kata santun dan edukatif.
b. Berdiri tepat di depan kelas serta
tidak monoton pada satu posisi
(misal; dengan berkeliling).
c. Menggunakan bahasa tubuh secara
25

tepat.
d. Menegur dan menyelesaikan
dengan baik segala bentuk
gangguan dalam belajar.
JUMLAH SKOR YANG DIPEROLEH ........... KRITERIA
JUMLAH SKOR MAKSIMAL ...........
PROSENTSE ...........

Adapun Teknik analisa data yang menjadi pedoman pengolahan data oleh

penulis, mengacu kepada pendapat M. Ngalim Purwanto (1987 : 172) dengan

rumus sebagai berikut:

P= R/T x 100

Keterangan :
P = Prosentase
R = Jumlah skor yang diperoleh
T = Jumlah total skor maksimal
100 = Konstanta

Dan untuk melihat interpertasi dengan menggunakan kriteria

interpertasi skor (Arikunto, 2009: 245) untuk memperkuat penafsiran dalam

kesimpulan sebagai berikut: Angka 80 - 100 = Baik Sekali (A)

Angka 66 - 79 = Baik (B)


Angka 56 - 65 = Cukup (C)
Angka 40 - 55 = Kurang (D)
Angka 0 - 39 = Kurang Skali (E)

G. Desain Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ada empat tahap yang

lazim dilalui yaitu: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) pengamatan, dan 4)


26

refleksi. Keempat tahap dalam penelitian tindakan tersebut di atas adalah unsur

untuk membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran kegiatan beruntun, yang

kembali ke langkah semula.

Jadi satu siklus adalah dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan

refleksi, yang tidak lain adalah evaluasi (Suharsimi Arikunto, dkk. 2012). Model

ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 3.1 : Racangan penelitian tindakan sekolah

1. Rencana : Tindakan apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan

kompetensi guru dalam menyusun RPP secara lengkap.

Solusinya yaitu dengan melakukan : a) wawancara dengan guru

dengan menyiapkan lembar wawancara, b) Diskusi dalam

suasana yang menyenangkan dan c) memberikan pendampingan

dalam menyusun RPP Kurikulum 2013 secara lengkap.

2. Pelaksanaan: Apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya meningkatkan

kompetensi guru dalam menyusun RPP Kurikulum 2013yang

lengkap yaitu dengan memberikan pendampingan pada guru

sekolah sendiri .
27

3. Observasi: Peneliti melakukan pengamatan terhadap RPP Kurikulum 2013

yang telah dibuat untuk memotret seberapa jauh kemampuan

guru dalam menyusun RPP Kurikulum 2013 dengan lengkap,

hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilaksanakan oleh

guru dalam mencapai sasaran. Selain itu juga peneliti mencatat

hal-hal yang terjadi dalam pertemuan dan wawancara. Rekaman

dari pertemuan dan wawancara akan digunakan untuk analisis

dan komentar kemudian.

4. Refleksi: Peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau

dampak dari tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil

dari refleksi ini, peneliti bersama guru melaksanakan revisi atau

perbaikan terhadap RPP Kurikulum 2013 yang telah disusun

agar sesuai dengan rencana awal yang mungkin saja masih bisa

sesuai dengan yang peneliti inginkan.

H. Indikator Keberhasilan Penelitian

Penelitian Tindakan sekolah dapat dikatakan berhasil apabila rata –rata

pelaksanaan supervisi pembelajaran mimiliki nilai prosentase sebesar 75% atau

kriteria Baik (B)


28

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Kegiatan Siklus 1

a. Perencanaan

1) Sosialiasi tujuan dan ruang lingkup penelitian kepada guru.

2) Penjelasan fokus penelitian tentang Supervisi Akademik.

3) Diskusi tentang pelaksanaan proses pembelajaran yang ideal.

b. Pelaksanaan

1) Pada Pertemuan awal, peneliti mengumpulkan seluruh guru.

2) Menjelaskan maksud dan tujuan Penelitian Tindakan Sekolah.

3) Penjelasan tentang kompetensi pedagogik guru difokuskan pada

perbaikan komponen proses pembelajaran. Berikut pula penjelasan

tentang aspek yang akan diamati melalui deskriptor setara.

4) Tanya jawab tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan penelitian.

c. Observasi

1) Penulis melakukan pengamatan sesuai rencana dengan menggunakan

lembar observasi.

2) Menilai tindakan dengan menggunakan format evaluasi.

3) Pada tahap ini seorang guru melakukan pembelajaran sesuai dengan

aspek dan deskriptor yang telah dijelaskan sebelumnya, penulis dan PKS

28
23
29

kurikulum melakukan supervisi kelas dengan menggunakan lembar

observasi yang telah disiapkan.

Secara umum, pertemuan pertama dengan guru-guru berjalan lancar,

walaupun menyita waktu yang agak lama, serta dari hasil diskusi ada beberapa

orang guru yang merasa belum siap dan keberatan untuk menyiapkan proses

pembelajaran yang memenuhi aspek dan deskriptor hanya dalam jangka waktu 1

(satu) minggu, tetapi setelah diberikan penjelasan mereka dapat mengikuti dan

memahami tujuan penelitian.

d. Refleksi

Pada siklus I ini, hasil observasi peneliti yang dibantu oleh

wakakurikulum dan diperoleh gambaran pelaksanaan supervisi pembelajaran

pada siklus I sebagai berikut (Lihat Lampiran 4)

Tabel 4.1 : Hasil Analisis Pelaksanaan Supervisi pada Siklus I

NILAI DAN SETIAP KOMPOTEN KEGIATAN


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

SKOR 148 156 158 149 158 149 148 148 143 139 142 142
66
70% 71% 67% 71% 67% 66% 66% 64% 62% 63% 63%
PROSENTASE %
KRITERIA C C B C B C C C C C C C
RATA2
66%
PROSENTASE
KRITERIA
C (Cukup)
RATA -RATA

Berdasarakan data analisis pelaksanaan supervisi pembelajaran pada

Siklus I dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Persiapan pelaksanaan pembelajaran, skor yang diperoleh sebesar 148

dengan prosentase sebesar 66% dan kriteria C (Cukup).


30

2. Apersepsi, skor yang diperoleh 156 dengan prosentase 70% dan kriteria

C(cukup)

3. Relevansi Materi dengan tujuan pembelajaran, diperoleh skor 158 dengan

prosentase 71% dan kriteria B(Baik)

4. Penguasaan Materi, skor yang diperoleh 149 dengan prosentase 67% dan

kriteria C (Cukup)

5. Strategi Pembelajaran yang digunakan, skor yang diperoleh 158 dengan

prosentase 71% dan kriteria B (Baik)

6. Metode Pembelajaran yang digunakan, skor yang diperoleh sebesar 149

dengan prosentase 67% dan kriteria C (Cukup).

7. Media Pembelajaran yang digunakan guru, skor yang diperoleh sebesar 148

dengan prosentase 66% dan kriteria C (Cukup)

8. Manajemen pengelolaan kelas, skor yang diperoleh sebesar 148 dengan

prosentase 66% dan kriteria C (Cukup)

9. Pemberian motivasi, skor yang diperoleh 143 dengan prosentase 64% dan

kriteria C (cukup)

10. Nada Suara dalam pembelajaran, skor yang diperoleh 139 dengan prosentase

62% dan kriteria C (cukup)

11. Penggunaan Bahasa , skor yang diperoleh 142 dengan prosentase 63% dan

kriteria C (cukup)

12. Gaya atau sikap prilaku dalam pembelajaran , skor yang diperoleh 142

dengan prosentase 63% dan kriteria C (cukup)


31

Pada siklus I rata – rata hasil supervisi pelaksanaan pembelajaran sebesar

66% dengan kriteria C (cukup).

2. Kegiatan Siklus 2

a. Perencanaan

1) Menginformasikan kepada guru tentang hasil siklus I.

2) Menyampaikan hasil observasi proses pembelajaran melalui deskriptor

yang telah muncul.

3) Mengadakan Tanya jawab tentang kelemahan proses pembelajaran yang

telah terjadi.

b. Pelaksanaan

1) Menginformasikan kepada guru, tentang kesesuaian dan kemajuan

(progress) hasil observasi.

2) Mengadakan diskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan

proses pembelajaran, jika masih ada yang belum dipahami.

3) Mengumpulkan dokumen-dokumen penilaian supervisi kunjungan kelas.

c. Observasi

Penulis melakukan pengamatan sesuai rencana dengan menggunakan

lembar observasi terutama pada aspek dan deskriptor yang belum muncul pada

siklus I. Pada siklus II ini akan dilihat apakah deskriptor yang telah muncul pada

siklus I dapat secara konsisten muncul kembali pada siklus II disertai dengan

penambahan deskriptor yang belum muncul sebelumnya.


32

d. Refleksi

Pada siklus II diperoleh data hasil pelaksanaan supervisi pembelajaran

sebagai berikut : ( Lihat Lampiran5)

Tabel 4.2 : Hasil Analisis Pelaksanaan Supervisi pada Siklus II


% NILAI SETIAP KOMPOTEN KEGIATAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

SKOR 174 161 169 171 170 170 161 184 184 181 157 155

PROSENTASE 78% 72% 75% 76% 76% 76% 72% 82% 82% 81% 70% 69%
KRITERIA B B B B B B B B B B C C
RATA - RATA
76%
PROSENTASE
KRITERIA
B (Baik)
RATA -RATA
Berdasarakan data analisis pelaksanaan supervisi pembelajaran pada

Siklus I dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Persiapan pelaksanaan pembelajaran, skor yang diperoleh sebesar 174

dengan prosentase sebesar 78% dan kriteria B (Baik)

2. Apersepsi, skor yang diperoleh 161 dengan prosentase 72% dan kriteria B

(Baik)

3. Relevansi Materi dengan tujuan pembelajaran, diperoleh skor 169 dengan

prosentase 75% dan kriteria B (Baik)

4. Penguasaan Materi, skor yang diperoleh 171 dengan prosentase 76% dan

kriteria B (Baik)

5. Strategi Pembelajaran yang digunakan, skor yang diperoleh 170 dengan

prosentase 76% dan kriteria B (Baik)

6. Metode Pembelajaran yang digunakan, skor yang diperoleh 170 dengan

prosentase 76% dan kriteria B (Baik)


33

7. Media Pembelajaran yang digunakan guru, skor yang diperoleh sebesar 161

dengan prosentase 72% dan kriteria B (Baik)

8. Manajemen pengelolaan kelas, skor yang diperoleh sebesar 184 dengan

prosentase 82% dan kriteria B (Baik)

9. Pemberian motivasi, , skor yang diperoleh sebesar 184 dengan prosentase

82% dan kriteria B (Baik)

10. Nada Suara dalam pembelajaran, skor yang diperoleh 181 dengan prosentase

81% dan kriteria B (Baik)

11. Penggunaan Bahasa , skor yang diperoleh 157 dengan prosentase 70% dan

kriteria C (cukup)

12. Gaya atau sikap prilaku dalam pembelajaran , skor yang diperoleh 155

dengan prosentase 69% dan kriteria C (cukup)

Pada siklus I rata – rata hasil supervisi pelaksanaan pembelajaran sebesar

76% dengan kriteria B (Baik).

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil siklus I dan siklus II, kemampuan guru secara umum

dalam pelaksanaan proses pembelajaran mengalami peningkatan prosentase pada

tiap tahapannya, (Lihat Lampiran 6)


34

Tabel 4.3: Rekapitulasi Prosentasi Pada Tiap Aspek


Siklus I Siklus Ii Pening
No. Uraian Aspek
Ketercapaian Kategori Ketercapaian Kategori katan

1. Persiapan 66% C 78% B 12%

2. Apersepsi 70% C 72% B 2%


Relevansi materi
3. dengan tujuan 71% B 75% B 5%
pembelajaran
Penguasaan
4. 67% C 76% B 10%
materi
Strategi Belajar
(eksplorasi,
5. 71% B 76% B 5%
elaborasi, dan
konfirmasi)
6. Metode 67% C 76% B 9%

7. Media 66% C 72% B 6%


Manajemen
8. 66% C 82% B 16%
kelas
Pemberian
9. motivasi kepada 64% C 82% B 18%
siswa
10. Nada dan Suara 62% C 81% B 19%
Penggunaan
11. 63% C 70% C 7%
Bahasa
Gaya dan Sikap
12. 63% C 69% C 6%
Perilaku
RATA - RATA
66% C 76% B 10%
PROSENTASE

Dari tabel rekapitulasi prosentasi pada tiap aspek dapat digambarkan

dalam grafik berikut ini :


35

REKAPITULASI HASIL SUPERVISI TIAP ASPEK

90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%

Siklus I Siklus Ii Peningkatan

Gambar 4.1 : Grafik Peningkatan pada tiap Aspek

Sedangkan perbandingan rata – rata pelaksanaan supervisi pada masing –

masing siklus ( siklus I dan siklus II) dapat digambarkan sebagai berikut :

PPROSENTASE RATA - RATA HASIL SUPERVISI PADA


TIAP SIKLUS

siklus I siklus II

66%
76%
36

Berdasarkan grafik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Persiapan pelaksanaan pembelajaran, pada siklus I diperoleh rata – rata

prosentase sebesar 66% , pada siklus II meningkat menjadi 78%

2. Apersepsi, pada siklus I diperoleh rata – rata prosentase sebesar 70% , pada

siklus II meningkat menjadi 72%.

3. Relevansi Materi dengan tujuan pembelajaran, pada siklus I diperoleh rata –

rata prosentase 71%, pada siklus II meningkat menjadi 75%.

4. Penguasaan Materi, pada siklus I diperoleh rata – rata prosentase 67% pada

Siklus II meningkat menjadi 76%

5. Strategi Pembelajaran yang digunakan, pada siklus I diperoleh rata – rata

prosentase 71% pada siklus II meningkat menjadi 76%

6. Metode Pembelajaran yang digunakan, pada siklus I diperoleh rata – rata

prosentase 67% pada siklus II meningkat menjadi 76%.

7. Media Pembelajaran yang digunakan guru, pada siklus I diperoleh rata – rata

prosentase 66% pada siklus II meningkat menjadi 72%.

8. Manajemen pengelolaan kelas, pada siklus I diperoleh rata – rata prosentase

66% pada siklus II meningkat menjadi 82%.

9. Pemberian motivasi, pada siklus I diperoleh rata – rata prosentase 64% pada

siklus II meningkat menjadi 82%.

10. Nada Suara dalam pembelajaran, pada siklus I diperoleh rata – rata

prosentase 62% pada siklus II menjadi 81%

11. Penggunaan Bahasa , pada siklus I diperoleh rata – rata prosentase 63% pada

siklus II berubah menjadi 70%


37

12. Gaya atau sikap prilaku dalam pembelajaran , pada siklus I diperoleh rata –

rata prosentase 63% pada siklus II berubah menjadi 69%.

Sedangkan kalau dihitung secara rata-rata pelaksanaan supervisi

pembelajaran pada siklus I sebesar 66% dengan kriteria C (cukup), pada siklus II

meningkat menjadi 76% dengan kriteria B (baik), atau pada pelaksanaan supervisi

pada siklus I meninngkat sebesar 10% pada siklus II.


38

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Kompetensi pedagogik guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran

mengalami peningkatan melalui supervisi akademik pada 2 (dua) siklus.

siklus I mencapai rata-rata 66% (cukup) dan pada siklus II mencapai rata-rata

76% (baik). Terdapat peningkatan kemampuan guru sebesar 10% dari siklus

I.

2. Terjadi peningkatan yang signifikan terhadap kondisi awal sekolah bila

dibandingkan dengan keadaan akhir pada siklus II. Ketepatan guru masuk ke

dalam kelas meningkat menjadi 78%, pemanfaatan media belajar meningkat

menjadi 72%, metode variatif meningkat menjadi 76%, dan strategi belajar

juga meningkat menjadi 76%.

B. Saran

1. Pengumpulan data pada penelitian ini hanya berfokus pada hasil observasi

guru pada proses pembelajaran di kelas. Adapun hasil wawancara guru dan

siswa baik sebelum dan sesudah pelaksanaan supervisi tidak menjadi bagian

dalam teknik pengumpulan data pada penelitian ini mengingat keterbatasan

waktu yang ada. Untuk itu perlunya adanya instrumen yang memasukan hasil

wawancara sebagai dasar analisis.

38
39

2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang langkah-langkah perbaikan pada

aspek yang berkategori kurang maupun cukup melalui siklus ketiga dan

seterusnya.

3. Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang tingkat konsistensi kemunculan

deskriptor pada setiap siklus yang menjadi masa rentang penelitian.


40

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto,Suharsimi.2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta : Bumi


Aksara.

Mukhtar dan Iskandar.2009. Orientasi Supervisi Pendidikan. Jakarta : GPP Press

Nawawi, Hadari.2006.Kepemimpinan Mengefektifkan Organsiasi.Yogyakarta :


Gadjah Mada University Press

Ngalim Purwanto. 2009. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Ba


ndung: Remaja Rosdakarya

Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005, Jakarta: Kementerian


Hukum dan HAM

Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Jakarta : Depdiknas.

PMPTK, Dirjen, Materi Supervisi Akademik Penguatan Kepala Sekolah dan


Pengawas, Jakarta: 2010.

Pidarta,Made.2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta : Rineka Cipta

Purwanto, M. Ngalim. 1987.Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.


Bandung : Remaja Rosdakarya.

Riduwan.2007. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-karyawan dan peneliti


muda,Bandung : Alfabeta.

Syaiful Sagala. 2010. Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidi


kan. Bandung: Alfabeta

Sukmadinata, Nana Saodih,2009. Landasan Psikologi Proses Pendidik


an. Bandung: Remaja Rosdakarya

Tim Dosen Administrasi Pendidikan. 2009. Manajemen Pendidikan. Bandung :


Alfabeta

40