Anda di halaman 1dari 9

Tonsilektomi Panas (Hot) atau Darurat: Metode Aman dan Efektif untuk

Terapi Komplikasi Tonsilitis Akut

ABSTRAK

Tujuan: Tujuan dari studi ini adalah analisis retrospektif dari indikasi tonsilektomi

panas, efektivitas dan keamanannya. Abses peritonsil (PTA) adalah salah satu

komplikasi yang paling umum dari tonsilitis akut dan penyebab konsul laringologi

darurat. Pada beberapa kasus, perlu dilakukan tonsilektomi panas.

Bahan dan Metode: Antara tahun 2009-2015, 21 pasien (berusia 4-43 tahun)

dengan diagnosis awal abses peritonsil diikutsertakan. Di antara mereka, 11

merupakan wanita dan 10 merupakan pria. Semua pasien menjalani tonsilektomi

panas.

Hasil: Sebagian besar pasien berusia 20-40 tahun. Gejala yang paling umum adalah

nyeri tenggorokan, trismus, dan disfagia. Pada semua kasus dilakukan insisi abses,

pada 9 pasien ditemukan adanya duh purulen. Pada semua pasien tidak ada

perbaikan gejala setelah insisi dan terapi antibiotik. Pada 12 kasus tanpa drainase

setelah insisi awal, pus dikeluarkan setelah tonsilektomi. Pada sisa 9 kasus, terdapat

sisa pus, yang dikeluarkan setelah pembedahan pada 6 pasien. Pada 8 pasien

terdapat lebih dari satu lokalisasi abses. Tidak terdapat masalah dengan intubasi dan

tidak ada komplikasi paskaoperasi. Rerata waktu rawat inap selama 8 hari (5-12

hari).

Kesimpulan: Tidak adanya perbaikan setelah terapi awal PTA merupakan indikasi

untuk tonsilektomi panas. Prosedur ini tidak berkaitan dengan peningkatan risiko
komplikasi. Evakuasi isi purulen tidak menyingkirkan adanya abses lain, lokalisasi

yang tidak umum, atau abses rongga parafaring.

KATA KUNCI: Abses peritonsil (PTA); Tonsilektomi; Tonsilektomi panas;

Tonsilitis akut; Komplikasi; Abses rongga parafaring.

PENDAHULUAN

Abses peritonsil (PTA) adalah salah satu komplikasi paling umum dari tonsilitis

akut dan penyebab konsul laringologi darurat. Kondisi ini juga merupakan infeksi

leher dalam yang paling sering terjadi. Insidennya diperkirakan 30 dari 100.000

penduduk per tahun.1,2 Faktor predisposisi untuk abses peritonsil yaitu kondisi

periodontal yang jelek dan merokok.2,3 Terapi selalu berhubungan dengan insisi

abses, drainase isi purulen, rehidrasi4-10 dengan terapi antibiotik. Pada beberapa

kasus, penting untuk dilakukan tonsilektomi darurat.5,9,11 Bila tidak, infeksi dapat

menyebar ke jaringan sekitar seperti rongga parafaring. Prosedur ini berpotensi

meningkatkan risiko komplikasi, seperti masalah intubasi,8 perdarahan intra- dan

paska operasi, dan penyebaran infeksi ke jaringan sekitar khususnya rongga

parafaring.4,10 Tonsilektomi darurat juga telah dilaporkan pada kasus anak untuk

obturasi jalan nafas.12

BAHAN DAN METODE

Antara tahun 2009-2015 di Klinik Otolaringologi dan Onkologi Laringologi

Universitas Kedokteran Pomeranian, 21 pasien dengan diagnosis awal abses


peritonsil yang menjalani tonsilektomi panas diikutsertakan dalam penelitian. Usia

pasien berkisar dari 4-43 tahun (median 26 tahun), 11 wanita, dan 10 pria.

Analisis retrospektif dari data rekam medis, berdasarkan usia, gejala, tanda

dan metode terapi telah dilakukan. Kriteria inklusi yaitu abses peritonsil yang

dibuktikan dari pemeriksaan klinis yang memerlukan tonsilektomi dalam 48 jam

setelah datang ke rumah sakit. Gejala berupa orofaring dan arkus palatoglossal yang

asimetris, dislokasi tonsil.13 Usia, lama rawat, riwayat tonsilitis dan abses peritonsil

berulang, kadar protein C-reaktif (CRP), dan jenis terapi dianalisis. Hari dimana

pasien pulang dari rumah sakit dianggap sebagai akhir terapi. Pasien meninggalkan

rumah sakit setelah sembuh dan gejala lokal dan umum telah membaik.

HASIL

Rentang usia dari pasien ditampilkan dalam Gambar 1. Sebagian besar pasien

dalam studi berusia antara 21 hingga 40 tahun.

Jumlah pria dan wanita dalam studi ini serupa (L:P 57%/43%).

Gambar 1. Kelompok usia pasien.

Gejala yang dilaporkan oleh pasien ditampilkan dalam Tabel 1, gejala

paling umum adalah nyeri tenggorokan dan gangguan menelan.

Tabel 1: Gejala yang dilaporkan oleh pasien.

Gejala Jumlah Pasien Persentase


Demam 9 43%
Trismus 19 90%
Nyeri tenggorokan 21 100%
Disfagia 13 62%
Nyeri telinga 2 9.5%
≥ 3 tonsilitis akut dalam 1 10/21 48%
tahun sebelumnya
1-2 tonsilitis akut dalam 1 2/21 10%
tahun sebelumnya
Abses peritonsil (dalam 1 13(10) 62%(47%)
tahun sebelumnya)

Pada riwayat infeksi saluran nafas atas sebelumnya, lebih dari setengah

pasien setidaknya mengalami 3 episode tonsilitis akut dalam satu tahun sebelumnya

dan 13 mengalami abses peritonsil dalam 1 tahun sebelumnya.

Saat datang ke rumah sakit, kondisi umum pasien baik. Setelah pemeriksaan

laringologi, pembengkakan area peritonsil dan nyeri serta pembesaran limfonodus

pada sisi yang terserang diamati sebagai tanda tonsilitis akut.

Pemeriksaan darah dilakukan pada semua pasien pada saat dirawat dan

dipulangkan dari rumah sakit. Hasil pemeriksaan darah ditampilkan dalam Tabel 2.

Pada semua pasien, kadar parameter inflamasi menurun pada hari pemulangan.

Tabel 2: Hasil pemeriksaan darah.

Min Maks Rerata Deviasi


Standar
CRP (protein 82 241 123 67.7
C reaktif)
WBC 10.34 21.03 15.7 3.63
RBC 3.99 5.48 5.01 0.38
Kontrol CRP 5 69 35 20.03
Kontrol 7.05 11.34 9.56 1.24
WBC
Kontrol RBC 3.75 5.15 4.57 0.34

Semua pasien telah dilakukan insisi PTA pada saat dirawat. Pada 9 pasien,

terdapat drainase purulen (43%). Algoritma terapi ditamplkan dalam Gambar 2.

Gambar 2: Algoritma terapi untuk pasien dengan PTA.


Pada semua pasien, indikasi untuk pembedahan, tonsilektomi panas, adalah

tidak adanya perbaikan dalam kurun 48 jam, terlepas dari drainase purulen setelah

insisi awal.

Semua pasien dilakukan tonsilektomi darurat/panas. Pada 11 pasien

dilakukan pada satu sisi, dan 10 pasien dilakukan bilateral. indikasi untuk

tonsilektomi bilateral adalah tonsilitis akut berulang dan riwayat PTA dalam satu

tahun sebelumnya (7 kasus) dan tanda tonsilitis kronik (3 kasus). Selama

pembedahan, 86% isi purulen pasien dikeluarkan dan di antara kasus tersebut

setengah diantaranya adalah abses rongga parafaring. Tabel 3 memberikan

informasi rinci mengenai abses yang ditemui selama pembedahan.

Tabel 3: Diagnosis paskaoperasi.

Jumlah Persentase
PTA antero-superior 14 66%
PTA posterior 6 29%
Abses rongga parafaring 9 43%

Di antara semua pasien dengan abses rongga parafaring, hanya 2 kasus

ditemukan adanya pus saat drainase insisi awal. Pada 8 pasien terdapat lebih dari

satu lokalisasi abses. Ditemukan PTA di area antero-superior dan abses rongga

parafaring pada 4 pasien dan PTA posterior dan rongga parafaring pada 4 pasien.

Rerata perdarahan 150 ml. Rerata waktu pembedahan adalah 100 menit.

Tidak terdapat masalah saat intubasi, tidak ada komplikasi dini maupun

lanjut paska operasi.

Pasien diterapi dengan antibiotik dan biasanya amoksisilin dengan asam

klavulanat intravena (3 kali sehari, 1.2 g pada 19 dari 21 pasien), pada satu kasus
diberikan cefurixime dengan metronidazole, dan pada kasus lain digunakan

cefotaxim dengan klindamycin.

Rerata waktu rawat inap sebesar 8 hari (5-12 hari). Tidak ada pasien yang

memerlukan terapi ulang.

DISKUSI

PTA adalah suatu akumulasi purulen terlokalisir antara sfingter faring superior dan

tonsil yang merupakan komplikasi dari tonsilitis akut.3,12,14 Diagnosis ini

memerlukan terapi segera karena terdapat potensi penyebaran infeksi ke rongga

parafaring, rongga retrofaring, dan dasar mulut.15 Perlanjutan penyakit dapat

menyebabkan keterlibatan rongga leher dalam dan mediastinum, yang dapat

mengancam nyawa.14,15 Berdasarkan literatur, perkembangan infeksi dari

tenggorokan ke rongga leher dalam terjadi pada 1.8% pasien dan dari tongga

tersebut ke mediastinum pada 10%.16 Mortalitas pada mediastinitis akut masih

tinggi dan berkisar dari 30% hingga 40%.14,16

Pada kelompok pasien yang dianalisis dalam studi ini, sebagian besar pasien

merupakan dewasa muda berusia 21-40 tahun yang bekerja aktif. Data ini konsisten

dengan data dari literatur2,3,5-7,12 yang menjadikan terapi PTA berdampak pada

ekonomi. Gejala yang dilaporkan oleh pasien serupa dengan infeksi tenggorokan.

Dari keseluruhan kelompok, pada 8 pasien abses ditemukan pada lebih dari

satu lokalisasi, contohnya PTA dengan abses rongga parafaring. Hal ini berarti

walau dengan insisi awal dengan drainase pus dari area peritonsil memerlukan

kontrol lanjutan, khususnya pada kondisi tidak ada perbaikan pada status klinis
pasien atau gejala yang beruang setelah perbaikan awal. Terdapat data dalam

literatur mengenai penyebaran infeksi dari area peritonsil ke rongga leher dalam

pada kasus serupa.14,-17

Aspirasi jarm halus dari PTA atau insisi dengan drainase pus dengan terapi

antibiotik adalah terapi pilihan.2 Walaupun begitu, bila tidak terdapat perbaikan

klinis, perlu dipertimbangkan untuk tonsilektomi panas. Prosedur ini juga disebut

sebagai tonsilektomi “a chuad” atau tonsilektomi darurat dan diperkenalkan pada

awal abad ke 20 sebagai terapi PTA.5 Potensi peningkatan risiko prosedur dan

komplikasi intra-operasi dan paska operasi menyebabkan ditinggalkannya prosedur

ini oleh ahli bedah. Namun, berdasarkan hasil dalam studi ini, disertai dengan data

dari literatur, kami dapat menunjukkan bahwa prosedur ini tidak berhubungan

dengan peningkatan risiko komplikasi seperti perdarahan selaam pembedahan atau

perdarahan lanjut.5-7,9-11 18 Albertz dkk.13 melaporkan pengalaman mereka selama

10 tahun. Mereka menghadapi kasus perdarahan (3.6%) dan satu kasus edema,

diare, odinofagia persisten, serangan panik, ruam kulit.12 Tidak ada masalah dengan

intubasi atau komplikasi seperti perdarahan. Hasl ini membuktikan informasi dari

literatur berdasarkan Berry dkk.5 yang memperkirakan tonsilektomi panas lebih

mudah daripada tonsilektomi lanjut, khususnya pada sisi PTA. Johnson6

menunjukkan bahwa bila terdapat tonsilektomi yang terlambat setelah abses, hal ini

berhubungan dengan biaya terapi yang lebih tinggi dan mungkin memerlukan rawat

inap dan istirahat bekerja. Mereka juga merekomendasikan tonsilektomi panas pada

semua pasien dengan PTA berulang,6,7 karena dapat mencegah kekambuhan.2,12

Masih kontroversial apakah tonsilektomi ini harus dilakukan pada satu sisi saja atau
harus dilakukan bilateral. Pada studi ini, tonsilektomi bilateral dilakukan pada

semua pasien dengan indikasi untuk tonsilektomi, terlepas dari PTA. Berdasarkan

literatur, tampaknya hal ini merupakan praktik paling umum di pusat kesehatan

lain.11 Namun, Albertz dkk.13 merekomendasikan tonsilektomi bilateral pada semua

kasus sebagai pencegahan rekurensi, berdasarkan studi mereka. Tonsilektomi

darurat sangat efektif pada kasus abses intratonsil dan posterior,12 yang dibuktikan

dalam studi kami.

Direkomendasikan untuk memberikan antibiotik intravena sebelum

tonsilektomi panas dan untuk menghindari obat-obatan analgesik yang

menghambat agragasi platelet darah dan dapat mempengaruhi koagulasi darah.5,19

Pada semua pasien kami, perbaikan diamati setelah pembedahan dan terapi

antibiotik dengan amoksisilin dengan asam klavulanat. Pencitraan diagnostik dapat

meliputi tomografi komputer11,17,20 namun tampaknya indikasi utama untuk

tonsilektomi panas adalah tidak adanya perbaikan klinis setelah terapi adekuat

sebelumnya. Pencitraan diagnostik mungkin berguna pada kasus yang meragukan.

KESIMPULAN

Tidak adanya perbaikan setelah terapi awal PTA harus dipertimbangkan untuk

dilakukan tonsilektomi panas sebagai kondisi darurat. Prosedur ini tidak berkaitan

dengan peningkatan risiko komplikasi dan menunda keputusan dapat menyebabkan

penyebaran infeksi ke jaringan sekitar. Evakuasi isi purulen tidak menyingkirkan

adanya abses lain di lokasi berdekatan, lokalisasi yang tidak umum, atau abses

rongga parafaring.
PENGHARGAAN

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Nn. Ruth Danielski dalam membantuk

persiapan manuskrip dan editorial.

KONFLIK KEPENTINGAN

Peneliti menyatakan bahwa mereka tidak memiliki konflik kepentingan.

PERSETUJUAN

Karena artikel ini adalah studi retrospektif dan tidak memuat foto atau informasi

individu mengenai pasien dalam manuskrip, tidak diperlukan persetujuan untuk

publikasi artikel.