Anda di halaman 1dari 21

Keturunan dari Orang Tua Depresi: 30 Tahun Kemudian

Tujuan: Penulis menyajikan suatu follow-up 30 tahun dari keturunan (rerata usia

= 47 tahun) dari orang tua yang depresi (risiko-tinggi) dan tidak depresi (risiko

rendah), untuk melihat psikopatologi jangka panjang dari keturunan orang tua

yang mengalami depresi.

Metode: Seratus empat puluh tujuh keturunan dari orang tua yang mengalami

depresi sedang-berat atau tidak depresi dipilih dari komunitas yang sama dan di-

follow up selama 30 tahun. Penilaian diagnostik dilakukan secara blind terhadap

status klinis orang tua begitupun diagnosis akhir dibuat oleh seorang M.D. atau

Ph.D. yang juga blind.

Hasil: Risiko depresi mayor sekitar tiga kali lebih tinggi pada keturunan risiko

tinggi. Periode risiko tertinggi untuk onset pertama terjadi antara usia 15 dan 25

tahun pada kedua kelompok. Pada onset prapubertas jarang dijumpai, namun

keturunan risiko tinggi memiliki peningkatan risiko 10 kali lipat. Onset dini dari

depresi mayor yang terlihat pada keturunan dari orang tua depresi, tidak sama

dengan onset pertama pada kelompok risiko rendah. Peningkatan tingkat depresi

pada kelompok risiko tinggi umumnya disebabkan oleh onset dini penyakit,

namun rekurensi lanjutan pada kelompok risiko tinggi terbukti meningkat secara

signifikan. Keturunan risiko tinggi memiliki rerata fungsi yang lebih jelek dan

mendapat lebih banyak terapi dalam masalah emosional. Terdapat peningkatan

mortalitas pada kelompok risiko tinggi (5.5% dibandingkan 2.5%), dengan

perbedaan rerata usia kematian sekitar 8 tahun (38.8 tahun dibandingkan dengan

46.5 tahun).
Kesimpulan: Keturunan dari orang tua depresi berisiko tinggi mengalami depresi,

morbiditas, dan mortalitas yang bertahan hingga pertengahan hidup mereka.

Walau masa remaja merupakan periode utama untuk onset depresi mayor pada

kedua kelompok, keturunan dengan riwayat keluarga yang depresi lanjut memiliki

rekurensi dan keluaran yang buruk seiring mereka dewasa. Saat ini, penilaian

sederhana dari riwayat keluarga untuk depresi mayor dapat menjadi prediktor

untuk risiko jangka panjang.

Peningkatan risiko psikopatologi pada keturunan dari orang tua depresi telah

diketahui, namun konsekuensi jangka panjangnya belum dipahami. Pada

percobaan ini melaporkan hasil dari follow-up selama 30 tahun dari keturunan

orang tua yang mengalami depresi dan tidak mengalami depresi. Dimana

sebelumnya juga telah dilakukan follow-up 10 dan 20 tahun saat mereka masih

remaja (1) atau dewasa muda (2), dengan tujuan untuk menentukan apakah risiko

psikopatologi, morbiditas, dan mortalitas dari keturunan orang tua depresi dapat

terus berlanjut hingga mereka dewasa.

Tingginya tingkat psikopatologi dan gangguan fungsi pada keturunan dari

orang tua yang depresi dibandingkan dengan yang tidak depresi merupakan salah

satu temuan terbaik dalam psikiatri (3-9), yang menunjukkan adanya peningkatan

risiko 2-3 kali lipat untuk terjadnya depresi mayor. Dalam studi ini juga terdapat

follow-up untuk menentukan kontinuitas. Studi yang paling lama sekitar 16 dan 20

tahun (10,11). Namun, keturunan tersebut diteliti dari sejak mereka lahir sehingga

keluaran yang dihasilkan tidak mencakup risiko untuk semua kelompok usia.
Juga terdapat studi longitudinal untuk pasien depresi atau ansietas, terlepas

dari diagnosis orang tua (12-15), dengan studi terlama sepanjang 44 tahun (16).

Namun, berdasarkan pengetahuan kami, tidak ada studi yang dirilis mengenai

risiko tinggi yang mem-follow-up keturunan hingga masa dewasa. Follow-up yang

lebih panjang hingga dewasa memungkinkan perkiraan tingkat gangguan

psikiatrik, morbiditas, dan mortalitas yang spesifik terhadap usia pada sampel

yang berisiko.

METODE

Dalam studi orisinil, probandus (generasi 1 = G1) dengan gangguan

depresi mayor unipolar sedang-berat dipilih dari pasien rawat jalan untuk terapi

psikofarmakologis gangguan mood. Pasien tidak depresi dipilih pada waktu yang

sama, dari sampel epidemiologis dewasa dari komunitas yang sama. Mereka tidak

boleh memiliki riwayat penyakit psikiatrik seumur hidup mereka berdasarkan

berbagai wawancara. Rincian penuh mengenai hal ini didiskusikan di laporan lain

(1,2,17,18). Kami melaporkan data dari gelombang5 dan 6 (sekitar 30 tahun

setelah gelombang pertama dan kedua). Prosedur dijaga serupa pada semua

gelombang, dengan sedikit perbedaan, untuk mencegah bias metode. Pada semua

gelombang, probandus, pasangan, dan keturunan diwawancara oleh pewawancara

independen yang blind terhadap status klinis dari generasi sebelumnya dan

riwayat pasien sebelumnya. Dua pasanagan dari probandus (G1) pada kelompok

risiko rendah menderita depresi mayor antara gelombang 1 dan 2. Keluarga

tersebut dikelompokkan ulang sebaga probandus depresi. Semua subjek


merupakan Eropa Kaukasian untuk menurunkan heterogenitas studi genetik di

masa depan.

Kelompok studi

Studi dimulai pada 1982, dan wawancara terakhir dilakukan pada 2015

(sekitar 33 tahun kemudian). Terdapat enam gelombang wawancara, pada 2, 10,

20, 25 dan 30 tahun. Pada wawancara 25 tahun, terdapat beberapa sampel yang

diambil untuk studi MRI. Untuk mendapat sampel yang banyak, kami

memasukkan keturunan biologis (generasi 2 = G2) yang mengikuti studi pada

gelombang 1 atau 2 dan dinilai pada gelombang 5 atau 6.

Dua ratus enam puluh tiga keturunan dari 91 keluarga diwawancara pada

gelombang 1 atau 2 dan menjadi kohort untuk analisis. Selama perjalanan studi,

kami memahami bahwa satu keturunan merupakan anak adopsi, satu keturunan

tidak layak dalam studi akibat sindrom Down, dan 12 keturunan meninggal dunia.

Dua keturunan yang tidak layak studi dikeluarkan. Data mengenai keluaran 30

tahun tersedia untuk 159 keturunan (159/261 [61%]). Responden (N = 147) tidak

berbeda dengan nonresponden (N = 104) yang terlihat pada gelombang 1 atau 2,

dan masih hidup hingga gelombang 6, berdasarkan usia, jenis kelamin, kelompok

risiko, atau depresi mayor pada wawancara terakhir.

Semua wawancara disetujui oleh badan kajian institusi di Institut Psikiatri

Negeri New York/Universitas Kolombia. Persetujuan tertulis didapat dari pasien

dewasa dan dari orang tua pasien yang masih muda.


Penilaian

Teknik penilaian telah dijelaskan sebelumnya (1,2). Wawancara

diagnostik pada semua gelombang menggunakan Schedule for Affective Disorders

and Schizophrenia-Lifetime Version (SADS-L) untuk dewasa dan versi anak

(Schedule for Affective Disorders and Schizophrenia for School-Age Children [K-

SADS-E]) yang dimodifikasi untuk DSM-IV bila subjek berusia antara 6 dan 17

tahun (19,20). Global Assessment Scale(GAS) dinilai dengan perkiraan terbaik

pada tiap gelombang (21). Penilaian ini, dibuat dengan skala 0 – 100, memberikan

rerata estimasi dari fungsi terkini seseorang berdasarkan informasi yang tersedia.

Versi anak dari skala ini, C-GAS, digunakan bila keturunan berusia 6 dan 17

tahun (22). Skor yang lebih rendah pada GAS atau C-GAS mengindikasikan

rerata gangguan. Data mengenai penyakit medis dikumpulkan menggunakan

daftar medis standar yang meliputi 57 kondisi dan menanyakan apakah mereka

mengetahui kondisi mereka atau mendapatkan terapi untuk kondisi mereka.

Informasi ini dikumpulkan pada tiap gelombang dari subjek dan/atau

keturunannya. Data dari semua gelombang dikumpulkan untuk membuat riwayat

hidup kondisi medis. Laporan masalah medis dikode oleh seorang dokter.

Informasi mengenai mortalitas didapat dari satu atau lebih relatif dan

dikonfirmasi dengan Social Security Death Master File(https://www.ssdmf.com)

dan/atau suatu mesin pencari online(tributes.com, genealogybank.com, dan/atau

legacy.com). Penyebab kematian didapat dari informasi keluarga, dan bila tidak

diketahui, dari sertifikat kematian atau artikel surat kabar. Tidak ada informasi
yang didapat pada 3 dari 261 subjek. Ketiga subjek tersebut merupakan keturunan

risiko tinggi.

Pewawancara dan Prosedur Perkiraan Terbaik

Penilaian diagnostik dilakukan oleh professional kesehatan mental dengan

gelar doktoral atau master yang blind terhadap status klinis orang tua dan riwayat

informasi sebelumnya. Prosedur pelatihan masih sama di semua gelombang (1,2).

Berbagai sumber informasi didapat, termasuk wawancara langsung dan rekam

medis bila tersedia. Diagnosis akhir dari semua generasi berdasarkan prosedur

perkiraan terbaik (23). Pada gelombang 5, dua klinis berpengalaman (D. P. dan H.

W.) yang tidak terlibat dalam proses wawancara, secara independen dan blind

mengkaji semua bahan dan menilai diagnosis DSM-IV dan skor GAS atau C-

GAS. Dua ahli diagnostik menilai 178 kasus dari semua generasi. Skor Kappa

untuk reliabilitas antarpenilai baik hingga sangat baik: gangguan depresi mayor,

0.82; distimia, 0.89; gangguan ansietas, 0.65; penyalahgunaan/ketergantungan

alkohol, 0.94; dan penyalahgunaan/ketergantungan obat-obatan, 1.00. Pada

gelombang 6, semua diagnosis dilakukan oleh D. P.

Analisis Statistik

Analisis pendahuluan dari perbedaan rerata nilai kelompok berdasarkan

depresi orang tua untuk variabel kontinyu diuji menggunakan uji t; variabel

ordinal diuji dengan uji Kruskal-Wallis chi-square; dan variabel kategorik

dibandingkan dengan uji chi-square. variabel kontinyu dianalisis menggunakan

regresi linear dengan variabel keturunan, seperti skor C-GAS, sebagai variabel

dependen dan depresi orang tua sebagai variabel prediktor (24). Variabel
kategorik potong-lintang (variabel terapi) dianalisis menggunakan regresi logistik.

Usia dan jenis kelamin dari keturunan dianggap sebagai variabel penyerta dan

dipertahankan dalam setiap model. Analisis ini dilakukan dengan dengan

menggunakan pehitungan perkiraan umum (25) dengan prosedur GENMOD

dalam peranti lunak SAS (26), untuk mengestimasi parameter dan untuk

menyesuaikan variabel nonindependen untuk keturunan dari keluarga yang sama.

Teknik analisis survival untuk waktu korelasi survival digunakan untuk estimasi

1) tingkat insidens spesifik usia dari gangguan psikiatrik pada interval 10 tahun

menggunakan metode tabel riwayat dan 2) tingkat kumulatif seumur hidup dari

gangguan depresi mayor pada keturunan risiko tinggi vs. rendah berdasarkan jenis

kelamin dengan metode Kaplan-Meier (27). Cox proportional hazards regression

models(28) dimodifikasi untuk menyesuaikan data kluster, mengikuti pendekatan

yang dijelaskan oleh Lin dan Wei (29). Pendekatan ini menggunakan estimasi

robust sandwich covariance matrix untuk menghitung dependensi intrakluster dan

digunakan untuk mengestimasi risiko relatif gangguan berdasarkan status depresi

orang tua dengan mengontrol variabel penyerta, dengan menggunakan peratnti

lunak SUDAAN. Penyesuain untuk data kluster diperlukan untuk menghitung

nonindependensi dari variabel untuk keturunan dari keluarga yang sama. Rerata

jumlah keturunan per keluarga sebesar 2.1 (SD = 1.0), median 2, dan rentang 1-5.

Tidak ada data deskriptif yang berbeda berdasarkan kelompok risiko.


HASIL

Karakteristik Keturunan

Pada follow-up 30 tahun, keturunan dari probandus depresi dan tidak depresi (G1)

tidak berbeda berdasarkan jenis kelamin (57% wanita), rerata usia wawancara

pertama (19.4 tahun [SD = 6.9]) atau terakhir (47.4 tahun [SD = 7,1]), rerata

jumlah wawancara (rerata = 5.0 [SD = 0.9]), atau tingkat respons pada gelombang

3 atau 4 (Tabel 1). Studi dilakukan dalam 33 tahun (1982-2015), dan rerata

jumlah tahun dalam studi sebesar 28.1 (rentang = 20.0-32.3).

TABEL 1. Karakteristik Demografis dan Tingkat Respons Spesifik Gelombang

dari 147 Keturunan (G2) yang Diwawancara pada Gelombang 1 dan/atau 2 dan

Diwawancara ulang pada Gelombang 5 dan/atau 6 dengan Status Depresi Orang

Tua (G1)

Karakteristik Semua Keturunan (N = Keturunan dengan Satu atau Lebih Keturunan tanpa Orang Tua dengan Perbandingan Kelompok
147) Orang Tua dengan Gangguan Depresi Gangguan Depresi Mayor (N = 44)
mayor (N = 103)

N % N % N % X2 Df p

Wanita 84 57.1 61 59.2 23 52.3 0.61 1 0.44

Rerata SD Rentang Rerata SD Rentang Rerata SD Rentang F Df p

Usia (tahun)

Wawancara 19.4 6.9 6.4– 19.7 7.2 6.4–35.4 18.5 6.2 6.4–32.3 0.94 1,145 0.34
pertama 35.4
Wawancara 47.4 7.1 29.4– 47.9 7.3 29.4–62.5 46.3 6.4 33.7–59.2 1.56 1,145 0.21
terakhir 62.5
Jumlah tahun 28.1 2.8 20.0– 28.2 2.5 20.0–32.3 27.8 3.3 20.9–31.8 0.59 1,145 0.44
antara 32.3
wawancara
pertama dan
terakhir
Rerata SD Rentang Rerata SD Rentang Rerata SD Rentang F Df p

Jumlah total 5.0 0.9 2-6 5.0 0.8 3-6 4.8 1.1 2-6 0.78a 1 0.38
wawancara
N % N % N % X2 Df p
Tingkat respons

Gelombang 3 140 95.2 100 97.1 40 90.9 2.59 1 0.20b

Gelombang 4 130 88.4 94 91.3 36 81.8 2.69 1 0.10

a
Uji Kruskal-Wallis, b Uji Fisher

Tingkat Gangguan Psikiatrik Kumulatif dan Spesifik Usia

Selama follow-up 30 tahun, keturunan dari orang tua depresi, dibandingkan

dengan orang tua tidak depresi, memiliki peningkatan risiko 2 kali lipat untuk

gangguan mood dan ansietas, umumnya depresi mayor (risiko 3 kali lipat) dan

fobia (Tabel 2).

TABEL 2. Tingkat Kumulatif dari Gangguan Psikiatrik pada Keturunan (G2) dari

Orang Tua (G1) Depresi dan Tidak Depresi.

Diagnosis pada Tingkat Kumulatif Analisis


Keturunan Keturunan dengan Satu Keturunan tanpa Orang
atau Lebih Orang Tua Tua dengan Gangguan
dengan Gangguan Depresi Mayor (N = 44)
Depresi mayor (N = 103)
N % N % Risiko 95% CI P
Relatifa
Gangguan mood apapun 88 85.4 27 61.4 2.02 1.26–3.22 0.004
Gangguan depresi berat 76 73.8 15 34.1 3.18 2.00–5.05 <0.0001
Gangguan bipolar I atau 17 16.5 3 6.8 2.60 0.72–9.35 0.14
II
Gangguan distimik 41 39.8 14 31.8 1.36 0.71–2.60 0.36
Gangguan ansietas apapun 74 71.8 21 47.7 2.02 1.26–3.25 0.004
Fobia 53 51.5 12 27.3 2.47 1.19–5.13 0.02
Gangguan panik 15 14.6 3 6.8 2.37 0.68–8.24 0.17
Gangguan obsesif- 5 4.9 0 0.0 -b - -
kompulsif
Gangguan cemas 16 15.5 4 9.1 0.38 0.06–2.43 0.30
menyeluruhc
Penyalahgunaan zat 13 12.6 9 20.5 0.57 0.24–1.34 0.19
apapun
Ketergantungan zat apapun 26 25.2 7 15.9 1.73 0.71–4.24 0.23
Ketergantungan alkohol 19 18.5 6 13.6 1.41 0.53–3.74 0.49
Ketergantungan obat- 13 12.6 1 2.3 5.91 0.76–46.07 0.09
obatan
Skizofrenia 2 1.9 0 0.0 -b - -
Apapun jenis gangguan di 96 93.2 34 77.3 1.54 0.97–2.43 0.06
atas
a
Penyesuaian untuk jenis kelamin dan usia pada wawancara terakhir dari keturunan
menggunakan Cox proportional hazards regression model; kemungkinan
nonindependensi dari variabel anggota keluarga disesuaikan menggunakan peranti lunak
SUDAAN.
b
Tidak dapat dihitung secara reliabel.
c
Termasuk gangguan cemas berlebih pada masa kanak.

Fobia umumnya fobia spesifik (74% pada kelompok risiko tinggi dan 89% pada

kelompok risiko rendah). Banyak yang memiliki lebih dari satu jenis fobia. Tidak

ada gangguan keturunan lain yang berbeda signifikan berdasarkan kelompok

risiko. Tingkat ketergantungan obat (p = 0.09) dan gangguan lain (p = 0.06) lebih

tinggi pada kelompok risiko tinggi namun secara statistik tidak signifikan. Tingkat

gangguan ini digabungkan dari wawancara dan prosedur perkiraan terbaik yang

dilakukan dalam beberapa tahun, dimana kriteria yang sama tidak selalu

digunakan. Karena itu, tingkat ini mungkin mengikutsertakan gangguan yang

lebih ringan dan kurang mengganggu. Untuk menjawab kemungkinan ini, kami

menggunakan skor GAS pada semua gelombang untuk mengidentifikasi subjek

dengan gangguan yang mengganggu. Tabel S1, S2, dan S3 dalam suplemen data

yang disertakan dalam versi onlineartikel ini menunjukkan tingkat gangguan

berdasarkan kelompok risiko setelah menggunakan cutoff skor GAS sebesar 70,

75, dan 80. Penerapan kriteria ini menurunkan tingkat gangguan, namun risiko

relatif masih sama terlepas dari gangguan (< 75 atau < 80), sekitar tiga kali lipat

untuk depresi mayor dan ansietas. Jumlah keturunan risiko rendah dengan skor

GAS < 70 (seperti gangguan yang sangat mengganggu) terlalu sedikit untuk

dianalisis. Meskipun begitu, dengan menggunakan skor GAS < 70, risiko relatif

untuk gangguan mood di atas 10 kali lipat pada kelompok risiko tinggi vs. rendah
(p = 0.03). Tingkat absolut dari gangguan tidak bisa didapatkan dari studi kasus

konrol. Tingkat relatif antarkelompok penting. Risiko relatif gangguan antara

keturunan risiko tinggi dan rendah serupa, terlepas dari kriteria gangguan.

Gambar 1 menunjukkan bahwa bahkan dengan follow-up 30 tahun,

insidens puncak untuk depresi mayor masih sama pada masa akhir remaja (rerata

usia = 19.5 tahun [SD 10.2]), dengan pola serupa dari onset pada kelompok risiko

tinggi dan rendah, dan peningkatan 3 kali lipat pada kelompok risiko tinggi, seperi

yang ditemukan pada follow-up 20 tahun.

GAMBAR 1. Tingkat Spesifik Usia dari Gangguan Depresi Mayor Lebih Dalam

Kurun 30 Tahun pada Keturunan dari Orang Tua Depresi dan Tidak Depresi.

Onset prapubertas depresi mayor (sebelum usia 13 tahun) jarang terjadi. Walau

risiko kumulatif untuk depresi mayor untuk keturunan risiko tinggi hampir tiga

kali lipat dibandingkan kelompok risiko rendah, risiko relatif untuk depresi mayor

onset prapubertas sebesar 10 kali lipat (risiko relatif = 10.7, 95% CI – 1.5-76.4).

Follow-up yang lebih lama menunjukkan sedikit peningkatan onset depresi mayor
pada sekitar 45 tahun pada keturunan orang tua risiko rendah, dimana semuanya

wanita. Akibat jumlah yang sedikit, kami tidak melakukan uji signifikansi.

Karena tingkat seumur hidup dari depresi mayor berdasarkan kelompok

risiko sangat dipengaruhi oleh onset dini, kami membandingkan kelompok risiko

dengan onset depresi antara usia 20 dan 40 tahun dan antara usia 40 dan 60 tahun.

Pada tiap analisis, kami mengeksklusi keturunan yang pernah mengalami onset

depresi sebelum rentang usia yang diperiksa. Gambar S1 dalam suplemen data

online menunjukkan bahwa kurva kegagalan berbeda secara signifikan (log-rank

chi-square = 9.49, df = 1, p = 0.002), dengan kelompok risiko tinggi menunjukkan

risiko yang secara signifikan lebih besar untuk depresi pertama pada usia 20-40

tahun dibandingkan dengan kelompok risiko rendah. Namun, pada usia 40-60

tahun, termasuk keturunan yang tidak pernah mengalami episode depresi sebelum

usia 40 tahun, kurva kegagalan untuk dua kelompok risiko tidak berbeda

signifikan (lihat Gambar S2 dalam suplemen data).

Kami juga memeriksa risiko rekurensi pada keturunan dengan depresi

mayor onset dini (< 20 tahun) berdasarkan kelompok risiko. Kami menemukan

bahwa keturunan risiko tinggi dengan depresi mayor onset dini memiliki

peningkatan risiko rekurensi setelah usia 20 tahun (p = 0.0013), namun tidak pada

keturunan risiko rendah. Temuan ini, walau berdasarkan sampel yang sedikit,

mengesankan bahwa hampir semua dari risiko familial untuk depresi mayor

didasari pada kasus onset dini dan bahwa risiko rekurensi pada keturunan risiko

tinggi juga meningkat signifikan.


Gambar 2 menunjukkan tingkat kumulatif dari depresi mayor berdasarkan

usia onset dan jenis kelamin.

GAMBAR 2. Tingkat Kumulatif dari Gangguan Depresi Mayor Dalam Kurun 30

Tahun pada Keturunan Perempuan dan Laki-Laki dari Orang Tua Depresi dan

Tidak Depresi.

Tingkat depresi mayor secara umum lebih tinggi pada perempuan dibandingkan

pada laki-laki. Namun, di antara keturunan risiko tinggi, tidak terdapat perbedaan

signifikan pada tingkat kumulatif depresi berdasarkan jenis kelamin (F = 0.88, df

= 1.54, p = 0.35). Sebaliknya, pada keturunan risiko rendah, tingkat kumulatif

depresi secara signifikan lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki,

dengan peningkatan lebih dari 4 kali lipat dari tingkat kumulatif pada wanita usia

65 tahun (risiko relatif = 4.89, 95% CI = 1.33-17.94).


Usia dini untuk onset gangguan ansietas dibandingkan dengan depresi

mayor ditunjukkan dalam Gambar 3.

GAMBAR 3. Tingkat Spesifik Usia dari Berbagai Gangguan Ansietas Dalam 30

Tahun pada Keturunan dari Orang Tua Depresi dan Tidak Depresi.

Seperti yang kami temukan dalam follow-up 20 tahun, insidens puncak untuk

gangguan ansietas (fobia, gangguan obsesif kompulsif, gangguan cemas

menyeluruh, gangguan cemas spesifik, gangguan panik) sebelum pubertas atau

pada awal remaja dan lebih cepat dibandingkan depresi mayor, khususnya pada

keturunan dari orang tua depresi. Tidak terdapat bukti peningkatan onset dini.

Fobia memiliki onset paling dini, dan gangguan panik memiliki onset pada masa

awal dewasa.

Seperti yang diperlihatkan dalam Gambar 4, onset puncak untuk

ketergantungan obat juga ditemukan pada masa remaja atau dewasa muda, lebih

tinggi pada keturunan risiko tinggi pada periode yang sama dan secara umum

terjadi pada laki-laki.


GAMBAR 4. Tingkat Spesifik Usia dari Ketergantungan Obat Dalam Kurun 30

Tahun pada Keturunan dari Orang Tua Depresi dan Tidak Depresi.

Gangguan dan Terapi

Berdasarkan follow-up 30 tahun, keturunan dari orang tua depresi lebih

cenderung berpisah atau cerai dan secara signifikan lebih cenderung memiliki

sedikit anak (Tabel 3).

TABEL 3. Karakteristik Demografis, Terapi Kesehatan Mental, dan Rerata

Fungsi dari 147 Keturunan (G2) pada Wawancara Terakhir (Gelombang 5 atau 6),

berdasarkan Status Depresi Orang Tua (G1).

Variabel Tingkat Kumulatif dalam Kurun 30 Tahun Analisis


Keturunan dengan Satu Keturunan tanpa Orang
atau Lebih Orang Tua Tua dengan Gangguan
dengan Gangguan Depresi Mayor (N = 44)
Depresi mayor (N = 103)
N % N % X2 df P
a
Karakteristik demografis
Status pernikahan 5.87 2 0.053
Pernah berpisah atau 30 29.7 8 18.6
bercerai
Masih menikah atau 51 50.5 31 72.1
janda
Tidak pernah menikah 20 19.8 4 9.3
Rerata SD Rerata SD X2 df P
Jumlah anak 1.5 1.1 2.1 1.3 6.24b 1 0.01
N % N % X2 df P
Edukasi 2.85 3 0.42
Sekolah tinggi diploma 35 35.0 13 29.6
atau kurang
Kuliah kurang dari 4 21 21.0 15 34.1
tahun
Undergraduate degree 26 26.0 10 22.7
Graduatedegree 18 18.0 6 13.6
Status pekerjaan 0.14 1 0.71
Pekerja tetap 68 67.3 31 70.5
Paruh waktu atau tidak 33 32.7 13 29.6
ada pekerjaan
Rerata SD Rerata SD X2 df P
Pendapatan
Individual $51,000 29,000 $58,000 26,000 1.89b 1 0.17
Rumah tangga $69,000 26,000 $72,000 526,000 0.68b 1 0.41
N % N % X2 df P
Terapi kesehatan mental
Rawat jalan 6.16b 1 0.01
Tidak ada 40 46.5 25 71.4
Periode singkat 8 9.3 5 14.3
Berlanjut kurang dari 6 12 14.0 1 2.9
bulan
Berlanjut untuk 26 30.2 4 11.4
beberapa tahun
Terapi rawat jalan 46 53.5 10 28.6 6.21 1 0.01
apapun (persentase)
Rawat inap apapun 13 13.6 2 4.6 2.60 1 0.11c
(persentase)
Penggunaan obat 65 63.1 20 45.5 3.94 1 0.047
psikotropik apapun
(persentase)
Salah satu di atas 74 76.3 21 52.5 7.54 1 0.006
(persentase)
Rerata SD Rerata SD F df P
Rerata fungsi
Skor Global Assessment 77.5 9.6 83.3 6.4 13.45 1.145 0.0003
Scale (GAS)d
a
Semua data demografis adalah yang terbaru kecuali status pernikahan, dimana kategori
pertama (“pernah berpisah atau bercerai”) adalah riwayat informasi.
b
Data ditentukan menggunakan uji Kruskal-Wallis.
c
Data ditentukan menggunakan uji Fisher.
d
Rerata skor GAS subjek; tiap rerata skor GAS subjek dikalkulasi sebagai rerata dari
semua skor GAS berdasarkan perkiraan terbaik dari subjek pada tiap gelombang dimana
subjek diwawancara; skor lebih tinggi menunjukkan rerata fungsi yang lebih baik.
Mereka juga secara signifikan mendapat terapi lebih banyak dan lama untuk

masalah emosional, terapi lebih sering, dan lebih banyak obat-obatan untuk

masalah emosional dan rerata fungsi yang lebih jelek (p = 0.0003). Keturunan

berdasarkan kelompok risiko tidak berbeda berdasarkan edukasi, status pekerjaan,

atau pendapatan. Kami juga membandingkan skor gangguan (GAS) dari

keturunan depresi berdasarkan kelompok risiko. Didapatkan keturunan depresi

dari orang tua depresi memiliki rerata fungsi yang lebih jelek (rerata = 76.1 [SD =

9.2], N = 76) daripada keturunan depresi dari orang tua tidak depresi (rerata =

79.6 [SD = 7.2], N = 15) (Z = -1.75, p = 0.08) yang hampir bermakna secara

statistik.

Kondisi Medis dan Mortalitas

Pada follow-up 20 tahun, kami melihat lebih banyak kondisi medis pada

keturunan risiko tinggi, khususnya gangguan kardiovaskular dan neuromuskular.

Pada follow-up 30 tahun, tidak terdapat perbedaan antara kelompok risiko (lihat

Tabel S4 dalam suplemen data online). Hal ini cenderung diakibatkan kelompok

risiko rendah mengalami lebih banyak penyakit pada usia pertengahan.

Tingkat mortalitas didasari pada kohort dari keturunan yang berpartisipasi

dalam gelombang 1 atau 2 (N = 261). Rerata tingkat mortalitas sebesar 5.5% (10

dari 181) pada keturunan risiko tinggi dan 2.5% (2 dari 80) pada keturunan risiko

rendah. Kematian akibat penyebab alami serupa pada kedua kelompok keturunan

(2.8% dibandingkan dengan 2.5%). Namun, perbedaan mortalitas antara


keturunan risiko tinggi dan rendah ada pada kematian akibat penyebab tak alami,

yaitu 2.8% dari keturunan risiko tinggi dan tidak ada dari keturunan risiko rendah

meninggal akibat penyebab tak alami (bunuh diri, N = 2; kecelakaan bermotor, N

= 1; overdosis, N = 2). Empat dari lima kematian pada laki-laki; satu kematian

terjadi pada usia 16 tahun, dan lainnya pada usia 30, 39, 42, dan 42 tahun. Rerata

usia kematian dari semua penyebab adalah 38.8 tahun SD = 10.2) pada keturunan

risiko tinggi dan 46.5 tahun (SD = 4.9) pada keturunan risiko rendah, yang

bermakna secara statistik (Z = 1.87, p = 0.06). Walau perbedaan tingkat mortalitas

keturunan cukup bermakna, uji statistik tidak signifikan, kemungkinan akibat

secara umum kematian relatif jarang dan membuat uji kurang bermakna.

Contohnya, uji yang membandingkan tingkat 5.5% dibandingkan dengan 2.5%

memiliki power observasi hanya 0.123. Hal ini berhubungan dengan tingkat

kesalahan tipe II yaitu 0.876 (1 – power), atau probabilitas 87% untuk gagal

menolak hipotesis null yang tidak tepat dari tidak adanya perbedaan mortalitas

antara keturunan risiko tinggi dan rendah.

DISKUSI

Follow-up 30 tahun memperluas apa yang ditemukan dari follow-up 20

tahun: peningkatan risiko lebih dari 3 kali lipat untuk gangguan depresi mayor dan

ansietas pada keturunan dari orang tua depresi dibandingkan dengan tidak depresi;

onset depresi mayor pada remaja dan dewasa muda terlepas dari risiko; rendahnya

prevalensi namun peningkatan tinggi (10 kali lipat) pada depresi mayor onset

prapubertas; onset gangguan ansietas sebelum pubertas atau pada awal remaja;
dan peningkatan ketergantungan obat pada remaja dan dewasa muda pada

keturunan risiko tinggi.

Usia onset depresi mayor, gangguan ansietas, dan ketergantungan obat

konsisten pada kedua kelompok risiko dan dengan pola usia onset di populasi

umum (30). Tidak ada puncak onset baru pada kelompok risiko tinggi. Sedikit

peningkatan onset pertama depresi mayor pada wanita risiko rendah sekitar usia

45 tahun mewakilkan depresi mayor perimenopause, seperti yang dijelaskan

sebelumnya (31,32).

Follow-up juga menunjukkan peningkatan morbiditas dan terapi kesehatan

mental pada keturunan risiko tinggi, lebih banyak perceraian, lebih sedikit anak,

dan rerata fungsi yang lebih jelek. Penurunan fertilitas pada pasien depresi,

khususnya pria, telah ditunjukkan dalam studi sebelumnya dari Swedia pada 2.3

juta individu antara 1950 dan 1970 (33). Kami tidak menemukan perbedaan jenis

kelamin pada tingkat kesuburan. Pria dan wanita pada kelompok risiko tinggi

dibandingkan risiko rendah, terlepas apakah mereka memiliki depresi mayor atau

tidak, memiliki lebih sedikit anak.

Peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan neuromuskular pada

keturunan risiko tinggi yang terlihat pada 20 tahun telah menghilang,

kemungkinan diakibatkan keturunan dari kelompok risiko rendah mulai

“menyusul”. Masalah medis telah meningkat pada kedua kelompok seiring

mereka bertambah usia.

Keturunan risiko tinggi, yang umumnya kulit putih dan setengah baya,

memiliki usia dini untuk kematian akibat penyebab tak alami, khususnya pada
pria. Serupa, peningkatan mortalitas pada paruh baya pada pria non-Hispanik,

sebagian besar akibat bunuh diri dan ketergantungan obat, telah dilaporkan (34).

Metaanalisis lain mengenai mortalitas pada subjek dengan gangguan mental

menemukan bahwa 17.5% kematian diakibatkan penyebab tak alami, dengan

median kehilangan usia sebanyak 10 tahun (35).

Studi kami memiliki beberapa keterbatasan. Jumlah sampe tidak

memungkinkan perbandingan rinci berdasarkan jenis kelamin, gangguan spesifik,

atau faktor pejamu dan lingkungan. Sampel underpowered untuk mencapai

tingkat signifikansi pada mortalitas. Hanya terdapat satu kelompok pembanding,

dan probandus dipilih dari suatu klinik terapi, memiliki depresi sedang-berat, dan

semuanya berkulit putih. Walau terdapat 6 gelombang wawancara dalam kurun 30

tahun, penilaian dengan rentang yang lebih berdekatan dapat memberikan

penjelasan risiko, rekurensi, atau terapi yang lebih baik.

Studi kami mengidentifikasi populasi keturunan orang tua depresi dengan

dengan risiko sangat tinggi dan jangka panjang. Secara klinis, temuan ini

menunjukkan kemungkinan pencegahan disabilitas dengan menargetkan, pada

awal remaja, keturunan dari orang tua depresi yang mengalami gejala depresi.

Walau keturunan risiko tinggi dan rendah memiliki onset puncak untuk depresi

mayor pada masa mudanya, keturunan risiko tinggi memiliki rekurensi dan

keluaran jangka panjang yang lebih jelek. Temuan menunjukkan potensi penilaian

riwayat keluarga. Pada era kedokteran yang presisi, riwayat keluarga, suatu alat

klinis sederhana ini, untuk menargetkan populasi risiko tinggi (keturunan dan

orang tua depresi) tidak boleh dipandang sebelah mata. Perbedaan dalam genom
manusia untuk penyakit umum seringkali tidak sesuai dalamtindakan klinis atau

kesehatan publik (36). Alat klinis dan intervensi sederhana dapat berguna hingga

pemahaman yang lebih mendalam ditemukan. Kami serta yang lainnya juga telah

menunjukkan potensi dampak pada keturunan dari penanganan orang tua depresi

hingga remisi, baik dengan obat-obatan (37-39) atau psikoterapi (40). Bahkan

program pencegahan yang sangat efektif untuk remaja dengan riwayat depresi pun

kurang efektif bila orang tuanya depresi (41). Kami tidak mengetahui dampak

jangka panjang untuk keturunan, namun dalam jangka pendek, keberhasilan terapi

orang tua depresi dapat menurunkan morbiditas keturunannya pada usia yang

rentan depresi.